Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH MANAJEMEN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT JIWA

BAB I

PENDAHULUAN

Pelayanan asuhan keperawatan yang optimal akan terus sebagai suatu tuntutan bagi organisasi
pelayanan kesehatan. Saat ini adanya suatu keinginan untuk merubah sistim pemberian pelayanan
kesehatan ke sistim desentralisasi. Dengan meningkatnya pendidikan bagi perawat, diharapkan
dapat memberikan arah terhadap pelayanan keperawatan berdasarkan pada issue di masyarakat.

Manajemen keperawatan di Indonesia perlu mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan


keperawatan dimasa depan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutsan global bahwa
setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan
memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di Indonesia.

Sebagai mana kita ketahui bahwa sistim pelayanan kesehatan mengalami perubahan mendasar
dalam memasuki abat ke 21 ini. Perubahan tersebut sebagai dampak dari perubahan sosial politik-
ekonomi, kependudukan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari ketiga
perubahan tersebut membawa implikasi terhadap perubahan sistim pelayanan kesehatan /
keperawatan sebagai tantangan bagi tenaga keperawatan Indonesia dalam proses profesionalisasi.
Keperawatan Indonesia sampai saat ini masih berada dalam proses mewujudkan keperawatan
sebagai profesi, yaitu suatu proses berjangka panjang yang ditujukan untuk memenuhi tuntutan dan
kebutuhan masyarakat Indinesia.

Pengembangan dalam berbagai aspek keperawatan bersifat saling berhubungan, saling bergantung,
saling mempengaruhi dan saling berkepentingan. Oleh karena itu inofasi dalam pendidikan
keperawatan, praktek keperawatan, ilmu keperawatan dan kehidupan keprofesian merupakan fokus
utama keperawatan Indonesia dalam prosesa profesionalisasi. Keadaan ini akan bisa dicapai apabila
perawat Indonesia menguasai pengelolaan keperawatan secara profdesional saat ini dan yang akan
datang.

Manajemen keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan pelayanan nyata, yaitu di rumah
sakit dan komunitas sehingga perawat perlu memahami konsep dan langkah-langkah operasional
dari manajemen keperawatan.

Dalam kesempatan ini akan dipaparkan tentang langkah-langkah pengelolaan manajemen


keperawatan pada tingkat ruang keperawatan sebagai ujung tombak pelayanan keperawatan di RSJ
Daerah dr. Amino Gondohutomo Semarang berdasarkan data-data yang sudah didapatkan.

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DATA GATHERING
1. Data gathering adalah kegiatan pengumpulan data yang merupakan kegiatan pertama yang
dilakukan dalam penetapan prioritas masalah. Sedangkan data adalah hasil dari suatu pengukuran
dan atau pengamatan.

2. Sumber data

- Sumber primer : misal hasil observasi dan wawancara langsung

- Sumber sekunder : misal data dari laporan atau dokumentasi

- Sumber tersier : hasil publikasi badan-badan resmi

3. Cara pengumpulan data

- Wawancara

- Inspeksi

- Observasi partisipatif

4. Jenis data

Jenis data yang dikumpulkan mencakup data-data dalam lingkup manajemen keperawatan

B. PLANNING

Planning atau perencanaan dimaksudkan untuk menysun sustu perencanaan yang strategis dalam
mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Perencanaan disini dimaksudkan ntuk
menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua pasien, menegakkan tujuan,
mengalokasikan semua anggaran belanja, memutuskan ukuran dan tipe tenaga keperawatn yang
dibutuhkan, membuat pola struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan efektifitas staff serta
menegakkan kebijaksanaan dan prosedur operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang
telah ditetapkan. (Nursalam, 2002).

C. ORGANIZING

1. Struktur Organisasi

Masing-masing organisasi memiliki struktur formal dan informal yang menentukan alur kerja dan
hubungan timbal balik antar pribadi. Struktur fotmal direncanakan dan dipublikasikan, struktur
informal tidak direncanakan dan samar. Seorang manajer perawatan harus mengerti dan memakai
keduanya secara efektif.

Struktur formal organisasi merupakan penyusunan resmi jabatan kedalam pola hubungan kerja yang
akan mengatur usaha banyak pekerja dari bermacam-macam kepentingan dan kemauan.

Struktur informal organisasi terdiri dari hubungan timbal balik pribadi yang tidak resmi diantara para
pekerja yang mempengaruhi efektifitas kerja mereka. Kualitas hubungan timbal balik seorang
manajer dengan lainnya langsung dikaitkan dengan kemampuan kepemimpinannya.

Mengingat struktur formal dan informal organisasi saling melengkapi, manajer perawat bisa
memakai struktur organisasi informal unttuk mengganti kerugian karena kekurangan atau kegagalan
dalam struktur formal.
2. Job Diskriptions

Merupakan suatu uraian pembagian tugas sesuai peran yang ia jalankan, misalnya sorang kepala
ruang maka tugas dan tanggung jawabnya, jadi antara satu dengan yang lainnya mempunyai tugas
dan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan perannya.

3. Metode Penugasan

Metode penugasan yang ditetapkan harus dapat memudahkan pembagian tugas perawat yang
disesuaikan dengan pengetahuan dan ketrampilan perawat dan sesuai dengan kebutuhan klien.
Apabila metode penugasan tidak diterapkan maka pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan
kepada klien menjadi tidak opimal.

Jenis model askep menurut Grant & Massey, 1997 dan Marquis & Houston, 1998 antara lain :

a. Model Fungsional

Metode fungsional dilakukan oleh perawat dalam pengelolaan askep sebagai pilihan utama pada
saat perang dunia ke II. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat
maka setiap perawat hanya melakukan 1 sampai 2 jenis intervensi (merawat luka kepada semua
pasien di bangsal).

b. Model Tim

Model ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep
terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi dalam group kecil yang saling membantu.

c. Model Primer

Model penugasan dimana 1 orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap askep
pasien mulai dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit.

d. Manajemen Kasus

Setiap perawat di tugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia dinas. Pasien akan
dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan
dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan 1
pasien 1 perawat, dan hal ini umumnya dilakukan untuk perawat privat atau keperawatan khusus
seperti isolasi dan intensive care.

e. Model Tim Primer.

Pada model ini digunakan kombinasi dari kedua sistem. Menurut Ratna S. Sudarsono (2000)
Penerapan model ini didasarkan pada beberapa alasan yaitu :

Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat primer harus
mempunyai latar belakang pendidikan S 1 keperawatan atau setara.

Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena tanggung jawab askep pasien
terfragmentasi pada berbagai tim.
Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas askep dan accountabilitas askep
terdapat pada primer.

Hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam penentuan pemilihan metode pemberian askep
(Marquis & Houston, 1998) yaitu:

1. Sesuai dengan visi dan misi institusi

2. Dapat diterapkannya proses keperawatan dalam askep

3. Efisien dan efektif dalam penggunaan biaya

4. Terpenuhinya kepuasan klie, keluarga dan masyarakat

5. Kepuasan kinerja perawat

6. Terlaksananya komunikasi yang adequate antara perawat dan tim kesehatan lainnya.

D. ACTUITING

1. Motivasi

Pengertian

1. Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yg memberi konstribusi pada tingkat komitmen
seseorang, hal ini termasuk faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah
laku manusia dalam arah tekad tertentu ( Stoner, Freman 11995 )

2. Motivasi ada;ah sesuatu yg mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. ( Ngalim, 2000).

Dari pengertian diatas dapat diambil 3 point penting yaitu : kebutuhan, dorongan dan tujuan.

Kebutuhan muncul apabila seseorang merasakan sesuatu yg kurang baik fisiologis maupun
psikologis, dorongan merupakan arahan untuk memenuhi kebutuhan tadi sedangkan tujuan adalah
akhir dari satu siklus motivasi ( Luthan)

Menurut bentuknya motivasi dibagi :

- Motivasi instrinsik

- Motivasi ekstrinsik

- Motivasi terdesak

2. Sistem Klasifikasi Pasien

Sistem klasifikasi pasien adalah metode pengelompokan pasien menurut jumlah dan kompleksitas
persyaratan perawatan mereka. Di dalam kebanyakan sistem klasifikasi, pasien dikelompokkan
sesuai dengan kebergantungan mereka pada pemberi perawatan atau sesuai dengan waktu
pemberian perawatan dan kemampuan yang diperlukan untuk memberikan perawatan. Tujuan
setiap sistem klasifikasi pasien adalah untuk mengkaji pasien dan menghargai masing-masing nilai
angkanya yang mengukur volume usaha yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perawatan
pasien.

Untuk dapat mengembangkan sistem klasifikasi pasien yang akan dijalankan, manajer perawat harus
menentukan jumlah kategori pembagian pasien; karakteristik pasien di masing-masing kategori;
jumlah dan jenis prosedur perawatan yang akan dibutuhkan oleh jenis pasien di dalam masing-
masing kategori; dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan prosedur tersebut, memberikan
dukungan emosional serta memberikan pengajaran kesehatan kepada pasien masing-masing
kategori. Karena tujuan sistem klasifikasi pasien adalah menghasilkan informasi mengenai perkiraan
beban kerja keperawatan, masing-masing sistem membolehkan usaha kualifikasi waktu.

3. Ketenagaan Keperawatan dan Pasien

Pada suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang diperlukan tergantung pada jumlah
pasien dan derajat ketergantungan pasien. Menurut Douglas (1984). Loveridge & Cummings (1996)
klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi menjadi 3 (kategori), yaitu:

Perawatan minimal memerlukan waktu 1 2 jam/24 jam, Perawatan intermediet memerlukan


waktu 3 4 jam / 24 jam, dan Perawatan maksimal atau total memerlukan waktu 5-6 jam / 24 jam.

Dalam suatu penelitian Douglas, (1975) tentang jumlah tenaga perawat di rumah sakit, didapatkan
jumlah perawat yang dibutuhkan pada pagi, sore dan malam tergantung pada tingkat
ketergantungan pasien.

4. Penjadwalan

Penjadwalan adalah satu aspek dari fungsi kepegawaian. Kepegawaian adalah perhimpunan dan
persiapan pekerja yang dibutuhkan untuk melakukan misi dari sebuah organisasi, penjadwalan
adalah penentuan pola jam kerja masuk dan libur mendatang untuk pekerja dalam sebuah unit, seksi
atau divisi.

Kebijaksanaan Penjadwalan

Agar supervisor dan kepala perawat dapat mengatur jadwal waktu personil yang libur dan yang
masuk secara adil, harus ada departemen atau divisi luas kebijaksanaan penjadwalan untuk
memandu pembuatan keputusan. Apabila kebijaksanaan menyangkut persoalan berikut tidak ada,
maka manajer perawat harus bersatu sebagai sebuah kelompok untuk menyusun:

1. Orang dengan jabatan yang bertanggung jawab mempersiapkan jadwal waktu untuk personil
di masing-masing unit.

2. Periode waktu untuk diliputi oleh masing-masing jadwal masuk / libur.

3. Banyaknya pemberitahuan di muka yang diberikan para pekerja menyangkut jadwal


masuk/libur .

4. Waktu masuk/libur total yang diperlukan oleh masing-masing pekerja per hari, minggu atau
bulan.

5. Hari dimulainya minggu kerja

6. Dimulai dan diakhirinya waktu untuk masing-masing pergiliran tugas.

7. Jumlah pergiliran yang harus dipergilirkan diantara masing-masng pekerja.

8. Frekuensi yang diperlukan dari pergiliran pergantian.

9. Keperluan pergiliran dari satu unit ke lain unit dan frekuensi pergiliran tersebut.

10. Keperluan penjadwalan dua hari libur per minggu atau rata-rata dua hari libur per minggu.

11. Frekuensi libur akhir pekan untuk masing-masing kategori personil.


12. Definisi dari libur akhir pekan untuk personiltugas malam.

13. Perlunya perluasan hari libur yang berurutan dan yang tak berurutan.

14. Hari kerja berurutan maksimum yang diperbolehkan.

15. Jarak waktu minimum yang diharuskan antara urutan pergantian tugas

16. Jumlah hari libur yang dibayar untuk diberikan pada masing-masing pekerja.

17. Jumlah hari libur yang diharuskan per tahun saat pegawai harus dijadwalkan libur kerja.

18. Panjangnya pemberitahuan dimuka untuk diberikan pegawaimengenai jadwal tugas liburan
masuk / libur.

19. Prosedur yang harus diikuti dalam meminta libur kerja pada hari libur tertentu.

20. Jumlah hari-hari libur yang dibayar untuk di berikan pada masing-masing pekerja.

21. Lamanya waktu pemberitahuan di muka untuk diberikan pegawai mengenai jadwal liburan.

22. Prosedur yang diikuti dalam memohon waktu libur khusus.

23. Pembatasan pada penjadwalan liburan selama hari libur thanksgiving, natal, tahun baru.

24. Jumlah personil masing-masing kategori yang akan dijadwalkan untuk liburan atau hari libur
pada saat tertentu.

25. Prosedur penyelesaian perselisihan antar personil sehubungan dengan permintaan waktu
liburan dan hari libur.

26. Prosedur pemrosesan permintaan darurat untuk penyesuaian jadwal waktu.

Tanggung jawab penjadwalan

Biasanya, supervisor atau kepala perawat bertanggung jawab untuk menjadwalkan waktu masuk /
libur personil keperawatan. Karena jadwal kerja harus disiapkan beberapa minggu sebelumnya, dan
selanjutnya diperbaiki untuk penyesuaian perubahan di dalam sensus pasien, keadaan pasien yang
sakit, permintaan hari libur darurat, banyak waktu yang berkaitan dengan kegiatan supervisi
diluangkan dalam mempersiapkan dan menyesuaikan jadwal waktu.

5. Pengembangan Staff

Program pendidikan dan pelatihan dirancang untuk meningkatkan prestasi kerja, mengurangi
absensi dan perputaran, serta memperbaiki kepuasan kerja. Ada beberapa metode pendidikan dan
latihan yang akan digunakan untuk meningkatkan prestasi kerja (Moenir, 1994:162)

1. Metode Seminar atau Konferensi

Biasanya diselenggarakan bagi pegawai yang menduduki jabatan sebagai kepala atau pegawai yang
dalam waktu singkat akan diserahi jabatan sebagai kepala. Masalah-masalah baik yang menyangkut
segi manajemen maupun penyelenggaraannya atau proses dari kegiatan yang dipermasalahkan.

2. Metode Lokakarya (Workshop)


Penyelenggaraannya tidak jauh berbeda dengan seminar, letak perbedaannya dengan seminar
adalah pada materinya. Pada materi lokakarya bersifat teknis, administrative dan sedikit bersifat
manajerial.

3. Metode Sekolah atau Kursus

Metode ini digunakan sebagai usaha memberikan informasi adanya aturan-aturan atau hal hal
baru dalam organisasi yang harus dimengerti dan dilaksanakan oleh peserta.

Metode ini juga digunakan untuk menambah pengetahuan baru bagi peserta yang ada kaitannya
dengan pekerjaan peserta. Pada akhir sekolah atau kursus, biasanya diberikan ujian-ujian dengan
atau tanpa kriteria kelulusan.

4. Metode Belajar Sambil Bekerja (Learning by Doing)

Pada metode ini latihan ketrampilan menjadi tujuan utama sehingga mereka dapat menguasai
teknik dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepada mereka. Biasanya metode ini
dilakukan oleh atasan pada bawahan secara langsung dalam membimbing pegawai kantor.

Dalam prakteknya metode pendidikan dan latihan ini disesuaikan dengan pertimbangan tujuan,
fasilitas yang tersedia, biaya, waktu dan kegiatan instansi lainnya.

E. KONTROLLING

1. Definisi

Controling merupakan suatu upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis,


obyektif dan terpadu dalam menetapkan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standart
yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan
kemampuan yang tersedia, serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk
lebih meningkatkan mutu (Azwar, 1996)

Fungsi pengawasan (controling) merupakan fungsi yang terakhir dari proses manajemen. Fungsi ini
mempunyai kaitan erat dengan ketiga fungsi manajemen lainnya, terutama dengan fungsi
perencanaan. Melalui fungsi pengawasan dan pengendalian, standart keberhasilan (target, prosedur
kerja, dsb) selalu harus dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai atau yang mampu dikerjakan.
Jika ada kesenjanganatau penyimpangan diupayakan agar penyimpangannya dapat dideteksi secara
dini, dicegah, dikendalikan atau dikyrangi. Kegiatan fungsi pengawasan dan pengendalian bertujuan
agar efisiensi penggunaan sumber daya dapat lebih berkembang dan efektifitas tugas-tugas staf
untuk mencapai tujuan program dapat lebih terjamin.

2. Peran Leadhershifp Dalam Controling

a. Mendorong staf untuk aktif terlibat dalam pengawasan mutu

b. Mengkomunikasikan secara jelas standart yang diharapkan terhadap staf

c. Mendorong / memotivasi standart tertinggi untuk kualitas yang maksimal dengan menyediakan
standart keamanan minimum

d. Mengimplementasikan pengawasan mutu secara proaktif serta reaktif


e. Menggunakan pengawasan sebagai metode untuk menentukan mengapa tujuan tersebut tidak
dapat dicapai

f. Secara aktif mensyahkan hasil pengawasan mutu yang ditemukan yang mempunyai kesatuan
profesi dan kosumen

g. Menghargai antara standart klinis dengan standar menggunakan sumber-sumber yang


meyakinkan pasien untuk menerima perawatan sesuai yang diharapkan

h. Bertindak sebagai role model terhadap staf untuk menerima tanggung jawab dan tanggung
gugat terhadap tindakan keperawatan

i. Secara aktif berpartisipasi dalam usaha-usaha penelitian untuk mengidentifikasi dan mengukur
sensitifitas keperawatan sebagai hail pelayanan pasien

3. Fungsi Manajemen Dalam Controling

Menghubungi individu dalam organisasi, membentuk standart ukuran yang jelas terhadap
keperawatan dan menentukan metode yang paling tepat untuk mengukur standart yang ada.

4. Manfaat Controling

Apabila fungsi controling dapat dilaksanakan secara tepat, organisasi akan memperoleh manfaat
sebagai berikut :

a. Dapat diketahui apakah suatu kegiatan atau program telah dilaksanakan sesuai dengan
standart atau rencana kerja dengan menggunakan sumber daya yang telah ditetapkan.

b. Dapat diketahui adanya penyimpangan pada pengetahuan dan pengertian staf dalam
melaksanakan tugas-tugasnya.

c. Dapat diketahui apakah waktu dan sumber daya lainnya telah mencukupi kebutuhan dan
telah digunakan secara benar.

d. Dapat diketahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan

e. Dapat diketahui staf yang perlu diberikan penghargaan atau bentuk promosi dan latihan
lanjutan

5. Jenis Data

Jenis data yang dikumpulkan mencakup data dalam lingkup kontrolling, yang meliputi :

Evaluasi

- Evaluasi kepuasan pasien : Belum dilaksanakan, belum ada instrumen (questioner mengenai
kepuasan pasien), dulu pernah ada tetapi sekarang tidak berjalan. Evaluasi kepuasan pasien hanya
dilaksanakan dengan memasukkan saran atau kritik di kotak saran dari keluarga /pasien setelah
keluar dari RSJ yang sebelumnya sudah di berikan penjelasan pada saat klien masuk UGD. Namun
tetap tidak berjalan, karena kurang ditegaskan kembali pada saat pasien dirawat di ruangan oleh
perawat.

- Evaluasi kepuasan perawat : belum ada instrumen khusus untuk mengevaluasi kepuasan
perawat, namun evaluasi kepuasan perawat tersebut sudah dilaksanakan dengan mengaudit
perawat setiap satu bulan sekali pada saat arisan bulanan
- Evaluasi Kinerja perawat : Selain di lakukan oleh kabag kepegawaian setiap 6 bulan sekali
melalui DP3, di ruangan ada buku suci dengan masing-masing nama perawat ruangan, dimana dari
masing-masing perawat yang merasa melakukan kesalahan wajib menulis dibuku suci.

Kontrol Kualitas

Dilaksanakan dengan Gugus Kendali Mutu (GKM) dan diadakan pertemuan 1 bulan sekali apabila
permasalahan yang ada tidak mendesak, namun jika permasalahan tersebut dirasa mendesak dapat
juga dilaksanakan 1 minggu sekali atau bahkan ada saat itu juga dapat diadakan pertemuan GKM.

Sistem Informasi

- Informasi mendesak : dikomunikasikan langsung kepada yang bersangkutan dengan melalui


telepon atau melalui papan pengumuman

- Informasi tidak mendesak : dikomunikasikan melalui forum pertemuan bulanan

Hubungan dengan teman sejawat

Tidak ada konflik antara pegawai berkaitan dengan pelaksanaan tugas. Di ruangan di terapkan
dengan adanya tindakan saling memuji antar teman sejawat dalam sehari minimal 2 kali.

Audit Klien

Dilakukan secara multi disiplin ilmu (dokter, perawat, psikolog, residen) setiap hari selasa

D. CONTROLING

6. Definisi

Controling merupakan suatu upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis,


obyektif dan terpadu dalam menetapkan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standart
yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan
kemampuan yang tersedia, serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk
lebih meningkatkan mutu (Azwar, 1996)

7. Peran Leadhershifp Dalam Controling

j. Mendorong staf untuk aktif terlibat dalam pengawasan mutu

k. Mengkomunikasikan secara jelas standart yang diharapkan terhadap staf

l. Mendorong / memotivasi standart tertinggi untuk kualitas yang maksimal dengan


menyediakan standart keamanan minimum

m. Mengimplementasikan pengawasan mutu secara proaktif serta reaktif

n. Menggunakan pengawasan sebagai metode untuk menentukan mengapa tujuan tersebut tidak
dapat dicapai
o. Secara aktif mensyahkan hasil pengawasan mutu yang ditemukan yang mempunyai kesatuan
profesi dan kosumen

p. Menghargai antara standart klinis dengan standar menggunakan sumber-sumber yang


meyakinkan pasien untuk menerima perawatan sesuai yang diharapkan

q. Bertindak sebagai role model terhadap staf untuk menerima tanggung jawab dan tanggung
gugat terhadap tindakan keperawatan

r. Secara aktif berpartisipasi dalam usaha-usaha penelitian untuk mengidentifikasi dan mengukur
sensitifitas keperawatan sebagai hail pelayanan pasien

8. Fungsi Manajemen Dalam Controling

Menghubungi individu dalam organisasi, membentuk standart ukuran yang jelas terhadap
keperawatan dan menentukan metode yang paling tepat untuk mengukur standart yang ada.

9. Sumber Data

Sumber Primer

Misal : Hasil observasi, wawancara langsung, angket/quesioner

Sumber Sekunder

Misal : Data dari laporan / dokumenter

Sumber Tersier

Misal : Data dari hasil publikasi badan-badan resmi

10. Cara Pengumpulan Data

Wawancara

Inspeksi

Observasi partisipatif

11. Jenis Data

Jenis data yang dikumpulkan mencakup data dalam lingkup kontrolling, yang meliputi :

Evaluasi

- Evaluasi kepuasan pasien : Belum dilaksanakan, belum ada instrumen (questioner mengenai
kepuasan pasien), dulu pernah ada tetapi sekarang tidak berjalan. Evaluasi kepuasan pasien hanya
dilaksanakan dengan memasukkan saran atau kritik di kotak saran dari keluarga /pasien setelah
keluar dari RSJ yang sebelumnya sudah di berikan penjelasan pada saat klien masuk UGD. Namun
tetap tidak berjalan, karena kurang ditegaskan kembali pada saat pasien dirawat di ruangan oleh
perawat.
- Evaluasi kepuasan perawat : belum ada instrumen khusus untuk mengevaluasi kepuasan
perawat, namun evaluasi kepuasan perawat tersebut sudah dilaksanakan dengan mengaudit
perawat setiap satu bulan sekali pada saat arisan bulanan

- Evaluasi Kinerja perawat : Selain di lakukan oleh kabag kepegawaian setiap 6 bulan sekali
melalui DP3, di ruangan ada buku suci dengan masing-masing nama perawat ruangan, dimana dari
masing-masing perawat yang merasa melakukan kesalahan wajib menulis dibuku suci.

Kontrol Kualitas

Dilaksanakan dengan Gugus Kendali Mutu (GKM) dan diadakan pertemuan 1 bulan sekali apabila
permasalahan yang ada tidak mendesak, namun jika permasalahan tersebut dirasa mendesak dapat
juga dilaksanakan 1 minggu sekali atau bahkan ada saat itu juga dapat diadakan pertemuan GKM.

Sistem Informasi

- Informasi mendesak : dikomunikasikan langsung kepada yang bersangkutan dengan melalui


telepon atau melalui papan pengumuman

- Informasi tidak mendesak : dikomunikasikan melalui forum pertemuan bulanan

Hubungan dengan teman sejawat

Tidak ada konflik antara pegawai berkaitan dengan pelaksanaan tugas. Di ruangan di terapkan
dengan adanya tindakan saling memuji antar teman sejawat dalam sehari minimal 2 kali.

Audit Klien

Dilakukan secara multi disiplin ilmu (dokter, perawat, psikolog, residen) setiap hari selasa

ANALISA SWOT

Strength Weakness Opportunity Threatened

- Sudah ada GKM - Belum ada - Adanya - Adanya tuntutan


instrumen evaluasi mahasiswa PSIK yang masyarakat untuk
- Sudah ada audit
kepuasan klien praktek manajemen mendapatkan
pasien
keperawatan di RSJ pelayanan yang lebih
- Sistem
- Sudah ada evaluasi profesional
informasi belum - Adanya GKM
kepuasan perawat
sentral sehingga yang terlaksana - Adanya
- Sudah ada data kurang up to dengan baik persaingan antar
instrumen evaluasi date rumah sakit
kinerja perawat

RUMUSAN MASALAH :
Evaluasi kepuasan pasien hanya dilaksanakan sebatas memasukkan sran ataupun kritik di kotak
saran (tidak ada questioner) sehingga pelaksanaan elum optimal

Sistem informasi belum sentral sehingga data kurang up to date

INTERVENSI

Menawarkan / mendiskusikan instrumen evaluasi kepuasan pasien / pelanggan

Menawarkan / mendiskusikan sistem informasi yang sentral dan up to date

BAB III

ANALISA SITUASI

I. ANALISA SITUASI RUANGAN

A. Data Gathering

1. Lingkungan Kerja

Lokasi penerapan proses manajerial keperawaatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran
manajemen keperawatan mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK UNDIP Semarang adalah
ruang Madrin ( XII ) RSJD Dr. Amino Gondo Hutomo Semarang dengan ruangan berkapasitas 15
tempat tidur khusus wanita. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada tanggal 13 Desember 2004
14 Desember 2004 tercatat data sebagai berikut :

Gambaran umum jumlah tempat tidur di ruang XII :

Tanggal 13 Desember 2004 :

Kelas VIP : 2 bed ( 1 bed kosong )

Kelas I : 3 bed ( 2 bed kosong )

Kelas 2 : 10 bed ( 5 bed kosong )

BOR = 7/15 x 100 = 46 %

Tanggal 14 Desember 2004

Kelas VIP : 2 bed ( 1 bed kosong )

Kelas 1 : 3 bed ( 2 bed kosong )

Kelas 2 : 10 bed ( 5 bed kosong )

BOR = 7/15 x 100 = 46 %

Dari data diatas, dapat disimpulkaan bahwa rata-rata jumlah pasien yang dirawat sebanyak 7 orang
dengan laju penggunaan tempat tidur / Bed Occupation Rate ( BOR ) sebesar 46 %.

a. Lokasi dan Denah Ruangan


Lokasi yang digunakan dalam penerapan proses penerapan manajerial adalah ruang Madrin ( XII )
RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang sebagai berikut :

Timur : Taman

Barat : Ruang Janoko ( IX )

Utara : Ruang Larasati ( XI ) dan taman

Selatan : Lapangan tenis

b. Fasilitas untuk Pasien

1). Tempat Tidur

Kelas VIP : 2 bed ( 1 kamar )

Kelas I : 3 bed ( 1 kamar )

Kelas II : 10 bed ( 2 kamar, 1 kamar berisi 5 bed )

2). Fasilitas Ruangan

Kelas VIP : Kursi sofa dan meja, 2 lemari meja, AC, jam dinding, 2 kamar mandi

Kelas I : Kursi sofa dan meja, 2 lemari meja, jam dinding, 2 kamar mandi

Kelas II : 2 lemari meja, 2 kamar mandi

3). Kipas angin 1 buah di tengah ruangan, termometer ruangan

4). Ruang isolasi, ruang tindakan dan ruang terapi keluarga belum ada

5). Peralatan makan

Meja makan dan kursi di ruang tengah

Gelas plastik : buah

Sendok : buah

Air minum tersedia

6). Sarana Audiovisual

TV 1 buah

Speaker

7). Peralatan mandi

Belum ada label nama

Masing-masing pasien belum terpisah

8). Lantai : Bersih, tidak licin

c. Fasilitas untuk Petugas Kesehatan

Ruang nurse station di ruang tengah


Ruang pertemuan perawat di bagian tengah

Ruang ganti perawat di sebelah barat

Kamar mandi dan WC 3 buah

Gudang 2 kamar

Ruang kepala ruang di dekat nurse station

Ruang dokter jaga di sebelah timur

d. Fasilitas Peralatan dan Bahan Kesehatan

Alat tidak habis pakai : ECT, O2, Tensimeter, Stetoskop, Linen

Alat habis pakai : NGT, spuit, urine bag, infus set dan abbocath

Obat emergensi :

Oral : Parasetamol, antalgin, entromycine, tetrsiklin, istisin,, CTM, antasid, dexametasone,


papaaverin, HCT, reserpin, gliserin guikolat

Injeksi : Diazepam, CPZ, SA, phenobarbitol, delladrl, vitamin B 12, vitamin K, dopamin,
dormicum, adrenalin

Cairan : D5%, RL, NaCl

2. Sumber

a. Sumber daya Manusia

1). Tenaga Perawat

Tenaga keperawatan di ruang XII RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang yang ada sejumlah 10
orang.

D III Keperawaatan : 9 orang

S1 Keperawatan : 1 orang

2). Tenaga non Keperawatan

Tenaga non keperwatan di ruang XII RSJD Dr. Amino Gondohutomo terdiri dari :

Pramu Husada : 1 orang

Cleaning Service : 1 orang

3). Ketenagaan Keperawatan dan Pasien

Klasifikasi pasien tidak berdasarkan tingkat ketergantungan, tetapi berdasarkan kelas yanag terdiri
dari kelas VIP, kelas 1 dan kelas 2. Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan berdasarkan analisa
jabatan. Jadwal dinas dibagi menjadi 3 shift yaitu pagi ( rata-rata 3 orang dengan karu ), siang ( 2
orang ), dan malam ( 2 orang )

b. Sumber Data

Sumber primer : Observasi dan wawancara langsung


Sumber Sekunder : Data dari laporan atau dokumentasi

Sumber Tersier : Data dari publikasi badan- badan resmi

B. Planning

1. Visi dan Misi

a. Visi

Menjadi Rumah Sakit Jiwa unggulan daaan pusat rujukan yang memberikan pelayanan kesehatan
menyeluruh, profesional dan terjangkau untuk mewujudkan masyarakat Indonesia sehat dan
produktif.

b. Misi

1. Meningkatkan penyuluhan kesehatan jiwa dengan melibatkan peran serta masyarakat untuk
meningkatkan kualitas hidup.

2. Mengembangkan pusat rujukan, layanan, informasi kesehatan jiwa dan penyalahgunaan zat.

3. Memberikan pelayanan kesehatan jiwa dan pelayanan umum.

4. Mengembangkan pendidikan, pelatihan, penelitian di bidang medik-psikiatri keperawatan,


administrasi dan mutu.

5. Mempertahankan RSJ Daerah Amono Gondohutomo Semarang tetap terakreditasi.

2. Standar

Di Ruang XII RSJ Daerah Amono Gondohutomo Semarang, sudah memiliki standar asuhan
keperawatan untuk masing masing kasus atau jenis gangguan jiwa yang dialami pasien, tertulis
lengkap, tersusun rapi dan mudah dibaca serta dipahami.

3. Budget

Sumber dana sebagian besar berasal dari rumah sakit ditambah dengan sumber dana dari
penjualan soft drink yang dikelola sendiri oleh ruangan. Dari ruangan sendiri belum ada sumber dana
untuk kesejahteraan pegawai / perawat ruangan.

4. Kebijakan atau prosedur

Di ruangan sudah ada kebijakan kebijakan atau prosedur untuk setiap tindakan yang akan
dilakukan pada pasien.

C. PENGORGANISASIAN

1. Struktur Organisasi

Di ruang XII sudah mempunyai struktur organisasi, yang terdiri dari seorang kepala ruang, seorang
penyelia tiga orang ketua tim, 2 orang perawat asosiatif untuk setiap tim. Namun ada beberapa
orang yang pindah tetapi belum diganti.

2. Job Diskription
Pembagian tugas di ruangan sudah ada namun tidak terdapat uraian yang jelas yang dituangkan
dalam suatu prosedur tetap dan dalam pelaksanaannya kadang terjadi tumpang tindih peran
misalnya kadang seorang ketua tim merangkap sebagai perawat asosiatif hal ini disebabkan karena
keterbatasan personil.

3. Metode Penugasan dan Dokumentasi

Metode penugasan yang digunakan adalah metode penugasan tim, namun dalam pelaksanaannya
belum bisa optimal karena tenaga keperawatan masih kurang sehingga terjadi konflik peran atau
peran ganda, kurangnya pemahaman tentang metode tim.

Dokumentasi proses keperawatan sudah dilakukan namun belum bisa optimal hal ini masih terlihat
pada catatan asuhan keperawatan pasien masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi.

D. ACTUITING

1. Pengembangan staf

Program pengembangan staf telah dilakukan dengan pembuatan Rencana Induk Pengembangan
yang dilaksanakan oleh Diklat RUMAH SAKIT JIWA DAERAH dr. AMINO GONDOHUTOMO
SEMARANG. Program pengembangan yang telah dilakukan oleh ruangan XII baru secara lesan dan
menginduk pada bidang keperawatan dan Diklat. Kontribusi kepala ruang dalam pengembangan staf
dengan cara memberikan motivasi dan kesempatan pada stafnya yang berminat untuk mengikuti
pendidikan berkelanjutan. Sedangkan program pelatihan dan seminar-seminar masih menginduk
pada bidang perawatan

2. Motivasi

Pemberian motivasi yang dilakukan di ruang XII dengan cara :

a. Kepala ruang memberikan reward berupa pengakuan dan penginformasian kepada karyawan
yang lain untuk karyawan yang berprestasi

b. Menciptakan suasana kerja yang kondusif, dengan mencanangkan program saling memuji
diantara teman minimal 2 kali sehari.

c. Pemberian perhatuian kepada berupa kartu ucaoan ulang tahun terhadap karyawan yang
berulang tahun, program ini menginduk pada bidang keperawatan.

d. Adanya pemberian insentif berupa jasa pelayanan yang diberikan tiap bulan mengacu pada
peraturan rumah sakit.

3. Jadual

Jadual dinas dibagi menjadi 3 shift, yaitu pagi rata-rata 2 orang staf 1 Karu, sore 2 orang dan malam
2 orang. Dinas malam selama 3 hari dengan siklus malam dalam 1 bulan sebanyak 2 siklus, dinas
sore 3 hari.

4. Delegasi

Pendelegasian tugas dilakukan antara Karu dan Katim, antara Katim dan Katim, antara katim dan PA
serta antara PA dan PA. Pendelegasian ini dilakukan baru secara lesan, belum ada prosedur tetap.
5. Pendokumentasian

Sampai saat ini sistem pendokumentasian yang berlaku di Ruang XII adalah sistem SOR (Source
Oriented Record) yaitu suatu sistem pendokumentasian yang berorientasi dari berbagai sumber
tenaga kesehatan, mkisalnya dari dokter, perawat, rehabilitas dll. Pendokumentasi selama ini sudah
dilaksanakan secara baik. Pendokumentasian setiap pasien menjadi satu set catatan medical record.

6. Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan dilakukan dengan cara musyawarah mufakat untuk mencapai suatu tujuan.
Staf dilibatkan secara aktif dalam perencanaan sampai evaluasi.

7. Perubahan

Perubahan telah dilaksanakan di Ruang XII dengan cara :

a. Adanya program penerapan Model Praktek Keperawatan Profesional yang akan dilaksanakan
pada bulan januari 2005.

b. Adanya program pendidikan berlanjut dimana semua perawat di Ruang XII sudah mengikuti
pendidikan DIII keperawatan.

c. Metode perubahan menggunakan change agent dari luar dengan mendatangkan pakar
keperawatan.

d. Adanya tehnik rekruitmen dengan beberapa seleksi secara bertahap : tertulis, wawancara,
membuat visi misi dan program kerja sampai evaluasi program ( untuk Katim dan Karu )

8. Supervisi

Supervisi dilakukan oleh Karu pada tiap pagi tetapi belum terstruktur, sedangkan supervisi yang
dilakukan pada sore dan malam hari dilaksanakan oleh supervisor / direktur berupa sidak.

E. CONTROLING

1. Evaluasi

a. Evaluasi Kepuasan Pasien :

Belum dilaksanakan (belum ada instrumen questioner kepuasan pasien). Ada kotak saran, tetapi
sosialisasi keberadaan kotak saran masih kurang. Saat pasien akan pulang, perawat ruangan tidak
menegaskan kembali adanya kotak saran.

b. Evaluasi Kepuasan Perawat

Belum ada instrumen khusus untuk mengevaluasi kepuasan perawat. Evaluasi kepuasan perawat
dilaksanakan dengan melakukan auidit perawat setiap satu bulan sekali pada saat arisan bulanan
oleh kepala ruang.

c. Evaluasi Kinerja Perawat

Selain dilakukan oleh kabag kepegawaian setiap 6 bulan sekali melalui DP3, diruangan ada buku
suci untuk mengevaluasi kinerja perawat. Bila ada perawat yang melakukan kesalahan, perawat
yang bersangkutan harus menuliskan sendiri di buku suci tentang bentuk kesalahan tersebut.
2. Kualitas kontrol

Dilaksanakan dengan Gugus Kendali Mutu (GKM). GKM mengadakan pertemuan 1 bulan sekali,
apabila permasalahan yang ada tidak mendesak, namun bila permasalahan dirasa mendesak dapat
juga dilaksankan pertemuan 1 minggu sekali atau sesuai dengan kepentingan.

Dalam pelaksanaannya, kualitas kontrol dilakukan oleh 12 komite yang ada :

1. Komite medik (SK Gubernur)

2. Komite Keperawatan (SK Gubernur)

3. Komite Mutu (SK Direktur)

4. Komite Rekam Medik (SK Direktur)

5. Komite Etika & Profesi (SK Direktur)

6. Komite Akreditasi (SK Direktur)

7. Komite Farmasi & Terapi (SK Direktur)

8. Komite Akuntabilitas (SK Direktur)

9. Komite Satuan Pengawasan Interna (SK Direktur)

10. Komite Muster Budget (SK Direktur)

11. Komite Tarif (SK Direktur)

12. Komite Inventori dan Pengelolaan Barang (SK Direktur)

3. Sistem Informasi

Informasi mendesak dikomunikasikan langsung pada yang bersangkutan melaui telepon ataupun
papan pengumunan. Informasi tidak mendesak, dikomunikasikan melalui forum pertemuan bulanan.

4. Hubungan dengan teman sejawat

Konflik antar teman sejawat diminimalkan dengan bimbingan kepala ruang dan dibudayakan untuk
saling memuji antar teman sejawat minimal 2 kali dalam sehari

5. Audit Klien

Dilakukan secara multi disiplin ilmu (dokter, perawat, psikolog, mahasiswa, residen, petugas gizi,
apoteker) setiap hari selasa, tetapi belum ada audit klien khusus dari tim keperawatan

II. ANALISA SWOT DAN PERUMUSAN MASALAH

Sebelum menerapkan suatu metode pemberian asuhan keperawatan maka perlu dikaji terlebih
dahulu beberapa hal. Fokus identifikasi bisa menggunakan pendekatan SWOT
:Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (kesempatan) dan Threatened(ancaman).
Dari hasil pengumpulan data yang sudah dilakukan di Ruang XII, dilakukan analisa dengan
menggunakan pendekatan analisa SWOT.
1. Ketenagaan

Streength Weakness Opportunity Threatened

-Tersedianya tenaga - Belum ada - Adanya - Adanya tuntutan


Kepera-watan yang rumusan kebijakan dari yang lebih tinggi dari
terdiri dari : penghitungan Kepala Bidang masyarakat untuk
jumlah kebutuhan Keperawatan dalam mendapatkan
D III : 9 orang
tenaga pengaturan jumlah pelayanan
S 1 : 1 orang tenaga di setiap kesehatan yang
- Belum ada job
ruang/ bangsal lebih profesional.
Pramu husada : 1 discirption yang jelas
keperawatan
orang - Adanya pasar
-
- Adanya bebas, sehingga
- Adanya struktur kebijakan dari tertuntut untuk
organisasi direktur rumah sakit bersaing.
- Adanya sistim dalam perekruitan
pelatihan & seminar tenaga

- Adanya
mahasiswa PSIK ysng
praktek manajemen
keperawatan

Rumusan masalah :

- Pemenuhan jumlah tenaga keperawatan di ruang XII belum sesuai dengan rumusan yang
baku.

Intervensi :

- Memberikan presentasi tentang cara-cara penghitungan tenaga keperawatan

1. Metode Penugasan

Analisa SWOT :
Strength Weakness Opportunity Threatened

- Tersedianya - Adanya peran - Adanya - Adanya tuntutan


tenaga Kepera- ganda/ Double job kebijakan dari yang lebih tinggi
watan yang terdiri Discription(perawat Kepala Bidang dari masyarakat
dari : merangkap tugas Keperawatan dalam untuk mendapatkan
lain seperti pengaturan jumlah pelayanan yang
D III : 9 orang
administrasi, tenaga di setiap lebih profesional.
S 1 : 1 orang farmasi) ruang/ bangsal
- Adanya pasar
keperawatan
Pramu husada : 1 - Pelaksanaan bebas, sehingga
orang metode TIM yang - Adanya tertuntut untuk
belm optimal kebijakan dari bersaing.
- Adanya direktur rumah sakit
struktur organisasi dalam perekruitan
- Adanya tenaga
metode TIM

- Adanya
pelatihan-pelatihan
(MPKP)

Rumusan Masalah

- Penerapan metode penugasan keperawatan khususnya metode penugasan TIM belum


optimal atau perlu ditingkatkan dan belum adanya job deskripsion keperawatan.

Intervensi :

- Menawarkan pembuatan metode TIM yang benar

- Membuat uraian tugas dan struktur organisasi

3. Kendali Mutu

Strength Weakness Opportunity Threatned

a. Sudah ada GKM a. Belum a. Adanya mahasiswa a. Adanya tuntutan


yang bekerja dengan disosialisasikan PSIK yang praktek masyarakat untuk
baik keberadaan kotak manajemen mendapatkan
saran pada keperawatan di RSJ pelayanan yang
b. Sudah tersedianya
konsumen profesional
kotak saran b. Adanya wadah GKM
c. Jumlah tenaga b. Belum ada c. Ada kotak kritik dan b.Adanya persaingan
keperawatan 10 orang instrumen evaluasi saran antar rumah sakit
kepuasan konsumen

c. Tidak adanya alur


d. Adanya budaya
protap sosialisasi
saling memuji antar
teman sejawat

RUMUSAN MASALAH

- Belum optimalnya sosialisasi pada pelanggan tentang keberadaan kotak kritik & saran

- Belm ada instrumen evaluasi kepuasan konsumen

INTERVENSI

- Mendiskusikan sosialisasi pada pelanggan tentang keberadaan kotak kritik dan saran

- endiskusikan pembuatan instrumen evaluasi kepuasan konsumen

C. (POA) Plan Of Action

MASALAH RENC. TINDAKAN TUJUAN SASARAN TEMPAT WAKTU

1. Pemenuhan Menyelenggarakan Pemenuhan Perawat, Karu Ruang XII Minggu ke I


tenaga presentasi tentang tenaga dan Kabid.
keperawatan di cara-cara keperawatan di Perawatan
Ruang XII belum penghitungan Ruang XII sesuai
menggunakan tenaga keperawatan dengan
sistem kebutuhan
perumusan
yang baku

2. Belum
adanya metode
penugasan yang
jelas dan job Menawarkan
discription secara pembuatan metode Terlaksananya
tertulis bagi timyang benar metode
perawat penugasan yang
Membuat uraian jelas dan sesuai Perawat, Karu Ruang XII Minggu ke II
tugas dan struktur dengan kondisi dan Kabid.
3. Tidak
organisasi Ruang XII Perawatan
jelasnya alur
sosialisasi kotak Ada uraian tugas
saran & belum yang tertulis dan
ada instrumen dipahami oleh
evaluasi petugas
kepuasan
pelanggan
(khususnya
keluarga)
terhadap mutu Terciptanya alur
pelayanan sosialisasi kotak
Menawarkan / saran dan
keperawatan mendiskusikan alur terbentuknya
sosialisasi kotak instrumen
saran kepada evaluasi kepuasan
pelanggan pelanggan
(keluarga) dan Perawat, Karu,
(keluarga) Kabid. Perawatan, Ruang XII
menawarkan / Minggu ke III
tentang mutu komite mutu,
mendiskusikan pelayanan
evaluasi kepuasan komite
keperawatan keperawatan
pelanggan
(khususnya
keluarga) tentang
mutu pelayanan
keperawatan

D. PENYELESAIAN MASALAH

Sesuai dengan POA (Plan Of Action) yang telah disepakati bersama, maka pada tanggal 6 Januari
2005 telah dilaksanakan implementaasi dari POA tentang sistem pengorganisasian di ruang XII.

Secara rinci hasil implementasi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Ketenagaan
Dari hasil POA yang telah dibuat, kami mempresentasikan beberapa metode penghitungan
kebutuhan tenaga keperawatan pada tanggal 6 Januari 2005 dan akhirnya diperoleh kesepakatan
antara kelompok manajemen jiwa dengan Kepala ruang dan perawat ruang XII yaitu memilih metode
penghitungan kebutuhan tenaga perawat.

Tanggal 10 11 Januari 2005 , kelompok telah melakukan negosiasi dan diskusi dengan kepala
ruang dan perawat R.XII tentang solusi penghitungan tenaga keperawatan menurut Gillies untuk
memenuhi kebutuhan tenaga perawatnya dengan pertimbangan yaitu jumlah penghitungan tenaga
perawat ruang XII diperoleh hasil 16 orang perawat dengan alas an disamping melihat jumlah tenaga
perawat yang dibutuhkan setiap hari atu per shift (10 orang perawat), juga sudah terhitung
kebutuhan tenaga untuk yang libur, cuti tahunan, lepas malam yaitu sebanyak 6 orang.

2. Pengorganisasian

Dari hasil POA yang telah dibuat, kami mempresentasikan tentang penugasan metode tim,
membuat struktur organisasi, membuat uraian tugas pada tanggal 6 Januari 2005 dan akhirnya
diperoleh kesepakatan antara kelompok manajemen jiwa dengan Kepala ruang dan perawat ruang
XII yaitu menyederhanakan jumlah Tim menjadi 2 tim. .

Tanggal 10 01 Januari 2005 , kelompok telah melakukan negosiasi dan diskusi dengan kepala
ruang dan perawat R.XII tentang struktur organisasi dan kepala ruang menyetujui ditindaklanjuti
dengan pembuatan struktur organisasi dan uraian tugas.

3. Controlling

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, kami melakukan implementasi dengan pelaksanaan sebagai
berikut :

a. Pada tanggal 18 Desember 2004, kami menawarkan pembuatan alur sosialisasi kotak saran &
instrumen evaluasi kepuasan pelanggan (khususnya keluarga) tentang mutu pelayanan
keperawatan, dengan hasil disepakatinya pembuatan alur sosialisasi kotak saran & instrumen
evaluasi kepuasan pelanggan (khususnya keluarga) tentang mutu pelayanan keperawatan tersebut.

b. Pada tanggal 6 Januari 2005, kami mempresentasikan alur sosialisasi kotak saran & instrumen
evaluasi kepuasan pelanggan (khususnya keluarga) tentang mutu pelayanan keperawatan.
Instrumen evaluasi kepuasan pelanggan (khususnya keluarga) tentang mutu pelayanan
keperawatan terdiri dari 25 item pertanyaan dengan 3 variasi jawaban. Jawaban ya diberi skor 3,
jawaban tidak diberi skor 2, jawaban tidak tahu diberi skor 1. Interpretasi hasil dilakukan dengan
rentang nilai :

25-42 ; kategori : pelayanan tidak memuaskan

43-59 ; kategori : pelayanan cukup memuaskan

60-75 ; kategori : pelayanan sangat memuaskan

c. Pada tanggal 11 Januari 2005, kami melakukan negosiasi dengan ketua komite mutu tentang
diterima / tidaknya alur sosialisasi kotak saran & instrumen evaluasi kepuasan
pelanggan (khususnya keluarga) tentang mutu pelayanan keperawatan yang kami usulkan. Hasil
negosiasi : ketua komite mutu menyetujui alur sosialisasi kotak saran & instrumen evaluasi kepuasan
pelanggan (khususnya keluarga) tentang mutu pelayanan keperawatan dengan beberapa masukan :

Isi kotak saran ditindaklanjuti bukan hanya oleh komite mutu, melainkan juga oleh
bidang/komite keperawatan.
Item pertanyaan instrumen evaluasi kepuasan pelanggan (khususnya keluarga) tentang mutu
pelayanan keperawatan lebih difokuskan mengenai mutu pelayanan keperawatan (dieliminir item
pertanyaan mengenai fasilitas umum, administrasi keuangan dan pelayanan medis)

BAB IV

PEMBAHASAN

A. KETENAGAAN
B. PENGORGANISASIAN

1. Metode Penugasan

Sesuai dengan teori metode Tim, Metode Tim merupakan pengorganisasian pelayanan keperawatan
oleh sekelompok perawat pada sekelompok klien. Di impin oleh perawat yang berijazah dan
berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya (register nurse). Konsep metode tim
didasarkan pada falsafah bahwa sekelompok tenaga keperawatan bekerja bersama-sama secara
terkoordinasi dan kooperatif sehingga dapat berfungsi secara menyeluruh dalam memberikan
asuhan keperawatan terhadap setiap individu (Douglas 1984).

Metode tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota tim berkontribusi dalam
merencanakan asuhan keperawatan sehingga akan timbul motivasi yang tinggi dan rasa tanggung
jawab bersama serta setiap anggota tim merasakan kepuasan karena diakui kontribusinya didalam
mencapai tujuan bersama yaitu memberikan asuhan keperawatan yang bermutu, dengan harapan
kualitas asuhan keperawatan dapat meningkat (Kron & Gray 1987).

Didalam metode Tim memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

1. Dalam satu unit terdapat 3 katim

2. Masing-masing tim beranggotakan 4 7 orang

3. Perputaran dinas masing-masing tim minimal 3 bulan

4. Tingkat ketergantungan pasien diupayakan berimbang untuk masing-masing tim.

5. Anggota tim diupayakan merawat pasien sesuai spesialisasinya, sehingga mengupayakan agar
pasien dengan penyakit atau gangguan yang hampir sama berada dalam satu boks atau berdekatan.

Pada pelaksanaannya di ruang XII Di ruang XII RSJD dr. Amino Gondhoutomo, metode penugasan
yang digunakan adalah metode TIM, yang terdiri dari 1 kepala ruang dan 3 kepala tim (Katim) yang
dibantu oleh masing-masing dua staf perawat (anggota Tim).

Sesuai dengan hasil pengkajian maka didapatkan bahwa jumlah perawat yang sedikit (10 orang
termasuk kepala ruang), maka metode tim yang dijalankan menjadi kurang ideal karena dalam satu
tim hanya terdapat 3 orang perawat termasuk katim.

Untuk itu pada saat implementasi pada tanggal 6 Januari 2005, kelompok telah bernegosiasi dengan
kepala ruang dan staff perawatan untuk memodifikasi metode tim yang ada dengan mengubah
jumlah Tim menjadi lebih sedikit, namun dengan anggota tim yang lebih banyak. Dari hasil negosiasi
tersebut maka dihasilkan kesepakatan bahwa di ruang XII digunakan metode penugasan berupa
metode tim dengan jumlah tim menjadi 2 tim yang masing-masing beranggotakan 4 perawat
pelaksana dan 3 perawat pelaksana .

2. Struktur Organisasi

Sesuai dengan hasil implementasi tentang metode penugasan tim yang telah disederhanakan
menjadi 2 tim maka struktur organisasi yang baru di ruang XII adalah sebagai berikut :
TIM II

KATIM

Beberapa
pasien Beberapa

pasien

3. Uraian Tugas

Metode penugasan yang digunakan di ruang XII adalah metode Tim dengan uraian tugas sebagai
berikut :

Tanggung Jawab Ketua Tim

1. Mengkaji setiap klien dan menerangkan tindakan keperawatan yang tepat.

2. Mengkoordinasikan rencana keperawatan dan pengobatan.

3. Menyusun rencana keperawatan tepat waktu, membimbing anggota tim.


4. Menjamin evaluasi secara tercatat.

5. Menilai semua kemajuan klien dari hasil pengamatan langsung atau laporan anggota tim.

Tanggung Jawab Anggota Tim

1. Mengikuti instruksi keperawatan yang tertera dalam rencana keperawatan secara teliti
termasuk program pengobatan.

2. Bertanggung jawab untuk setiap klien di unit yang bersangkutan.

3. Melaporkan secara tepat dan akurat tentang asuhan keperawatan yang dilakukan maupun
respon klien.

4. Menerima bantuan dan bimbingan katim.

Tanggung Jawab Kapala Ruang

1. Menetapkan standar kinerja stafff

2. Membantu stafff menetapkan sasaran keperawatan pada unit yang dipimpinnya.

3. Memberikan kesempatan pada katim dan membantu untuk mengembangkan keterampilan


manajemen dan kepemimpinan.

4. Mengorientasikan staff baru tentang prosedur tim keperawatan.

5. Menjadi nara sumber bagi katim dan staff serta tempat berdiskusi.

6. Melakukan komunikasi terbuka untuk setiap staff yang dipimpinnya.

C. CONTROLLING

Berdasarkan permasalahan, rencana intervensi dan pelaksanaannya, maka dapat dibahas beberapa
hal yang berkaitan dengan permasalahan fungsi kontroling di ruang XII, antara lain :

1. Kotak saran

Menurut Azwar (1996), controling merupakan suatu upaya yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam menetapkan penyebab masalah mutu
pelayanan berdasarkan standart yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara
penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia, serta menilai hasil yang dicapai dan
menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu .

Dari data yang ada di RSJD dr. Amino Gondo Hutomo Semarang, ada kotak saran, namun belum
digunakan secara maksimal. Hal ini bisa dikarenakan kurangnya sosialisasi keberadaan kotak saran,
yang mungkin bisa disebabkan karena :

q Perawat kurang mensosialisasikan keberadaan kotak saran

q Tidak ada alur yang jelas tentang sosialisasi kotak saran

q Kurangnya feed back hasil kotak saran


Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi keberadaan kotak saran mulai dari UGD sampai ke komite
mutu dengan alur yang jelas (contoh bisa dilihat dilampiran ). Tanpa alur yang jelas, pelanggan
(keluarga) kurang mampu memanfaatkan kotak saran, karena kurang mengetahui fungsi dan cara
memanfaatkannya. Selain itu, petugas akan saling melempar tanggung jawab untuk
mensosialisasikan kotak saran kepada pelanggan (keluarga).

2. Instrumen evaluasi kepuasan pelanggan (khususnya keluarga) tentang mutu pelayanan


keperawatan.

Menurut Direktorat Jenderal Pelayanan Medik tahun 1995, untuk mengetahui tingkat keberhasilan
pelayanan perlu dilakukan penilaian secara obyektif dengan menggunakan metode dan instrumen
penilaian yang baku, salah satunya dengan angket evaluasi kepuasan pelanggan (pasien / keluarga).

Dari data yang ada di RSJD dr. Amino Gondo Hutomo Semarang, belum ada instrumen evaluasi
kepuasan pelanggan (khususnya keluarga) tentang mutu pelayanan keperawatan. Ada instrumen
evaluasi persepsi pasien terhadap mutu asuhan keperawatan, tetapi item pertanyaan belum
terfokus pada keluarga. Terjadi duplikasi sasaran item, yaitu keluarga dan / pasien. Seperti kita
ketahui, tidak ada jaminan bahwa pasien RSJ yang pulang ke rumah bisa memberikan jawaban
instrumen evaluasi kepuasan pelanggan secara valid. Bila sasaran instrumen evaluasi kepuasan
pelanggan adalah pasien RSJ, maka harus ada kriteria inklusi dari pasien tersebut. Sehingga petugas
perlu melakukan seleksi pasien terlebih dahulu. Hal ini dirasa kurang praktis. Oleh karena itu kami
menawarkan instrumen evaluasi kepuasan pelanggan tentang mutu asuhan keperawatan dengan
sasaran keluarga. (contoh : lihat lampiran ).

Dari hasil negosiasi dengan ketua komite mutu pada tanggal 11 Januari 2005, disepakati untuk
mengganti beberapa item pertanyaan yang kurang terfokus pada evaluasi mutu pelayanan
keperawatan, antara lain : item pertanyaan mengenai fasilitas umum, administrasi keuangan dan
pelayanan medis. Pertanyaan tersebut perlu dieliminir dan di rubah menjadi pertanyaan yang
befokus pada mutu pelayanan keperawatan.

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil pembahasan, maka dapat ditari kesimpulan :

1. Solusi yang ditawarkan oleh kelompok mengenai ketenagaan, struktur organisasi dan
Kontrolling telah disetujuai Kepala ruang XII.

2. Negosiasi yang dilakukan kelompok tanggal 10 dan 11 Januari tentang penghitungan


kebutuhan tenaga perawat, pengorganisasian dan Kontroling telah berhasil diperoleh kesepakatan
yaitu untuk ketenagaan memilih metode penghitungan tenaga menurut Gillies, untuk
pengorganisasian akan dibuat struktur organisasi yang baru beserta uraian tugas Karu, Katim,
perawat pelaksana.

3. Untuk mengetahui mutu pelayanan kesehatan di RSJD dr. Amino Gondo Hutomo Semarang,
perlu di lakukan sosialisasi keberadaan kotak saran dengan menetapkan alur yang jelas serta
pembuatan instrumen evaluasi kepuasan pelanggan mengenai mutu pelayanan keperawatan dengan
sasaran keluarga.

SARAN :

q Perawat RSJD dr. Amino Gondo Hutomo Semarang, hendaknya mensosialisasikan keberadaan
kotak saran, mulai dari saat pasien masuk di UGD sampai dengan pasien akan pulang.

q Komite mutu hendaknya menetapkan alur sosialisasi dan pengolahan hasil dari kotak saran secara
jelas.

q Komite mutu hendaknya membuat instrumen evaluasi kepuasan pelanggan mengenai mutu
pelayanan keperawatan dengan sasaran keluarga

REKOMENDASI :

Perawat perlu menindaklanjuti alur sosialasi kotak saran dan instrumen evaluasi kepuasan
pelanggan mengenai mutu pelayanan keperawatan dengan sasaran keluarga yang kami tawarkan,
dengan melakukan uji coba .
DAFTAR PUSTAKA

1. Nursalam, M Nurs, 2002, Manaajemen Keperawatan : Apikasi Dalam Praktek Keperawatan


Profesional, Edisi I, Salemba Medika, Jakarta.

2. Nasution, 2001, Manajemen Mutu Terpadu, Ghalia Indonesia, Jakarta.

3. Swansburg, Russel C, 2000, Pengaaantar Kepemimpinaan Dan Manajemen Keperawatan


Untuk Perawat Klinis, EGC, Jakarta.

4. Ratna Sitorus, 2002, Model Praktek Keperawatan Profesional, Seminar Nasional pada RAPIM
PPNI di Malang.

5. Wijono, Joko, 1997, Manajemen Kepemimpinaan dan Organisasi Kesehatan, Airlangga


Universitas Press, Jakarta.
6. Tim Depke RI, 1994, Instumen Evaluasi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan di Rumah
Sakit, Cetakan I, Jakarta : Depkes RI

Lampiran

INSTRUMEN EVALUASI KEPUASAN PELANGGAN (KELUARGA) TENTANG MUTU PELAYANAN


KEPERAWATAN

DI RSJD DR. AMINO GONDO HUTOMO SEMARANG

Kepada

Pengguna Jasa Pelayanan RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Semarang

Dengan hormat,

Sesuai misi RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang : menjadi rumah sakit jiwa unggulan dan
pusat rujukan yang memberikan pelayanan kesehatan menyeluruh, profesional dan terjangkau
untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dan produktif, maka kami para petugas akan
berusaha meningkatkan mutu pelayanan secara maksimal. Untuk itu kami mohon dengan hormat
agar para pelanggan/ keluarga pasien memberi jawaban terhadap angket yang kami ajukan, yang
hasilnya akan kami gunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kami.

Anda tidak perlu mencantumkan identitas dan kerahasiaan angket ini akan kami jaga.

Terima kasih.

A. Keluarga Anda dirawat di ruang :Kelas :

B. Lama perawatan.hari

C. Pendidikan Anda :

SD SLTP SLTA Perguruan Tinggi

D. Pekerjaan Anda :

PNS ABRI/POLRI Swasta Lain-lain

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan memberikan tanda check list ( ) pada jawaban yang telah
disediakan.

Apakah saat keluarga Anda pertama kali masuk ruang perawatan, diterima dengan baik oleh
petugas/perawat ?

ya tidak tidak tahu

Apakah saat keluarga Anda pertama kali masuk ruang perawatan, keluarga/Anda diberi informasi
tentang peraturan rumah sakit ?

ya tidak tidak tahu

Apakah keluarga Anda diberi informasi tentang fasilitas rumah sakit yang dapat dipergunakan
selama perawatan ? (contoh : kamar mandi, WC, alat panggil petugas, dll)

ya tidak tidak tahu

Selama keluarga Anda tidak dapat melakukan aktifitas karena sakit, apakah perawat membantu
semua kebutuhannya ? (contoh : mandi, buang air kecil, buang air besar)

ya tidak tidak tahu

Apakah saat perawat akan melakukan tindakan terhadap pasien, selalu

memberi tahu pasien ?

ya tidak tidak tahu

Apakah saat perawat akan melakukan tindakan terhadap pasien, selalu memberi tahu keluarga ?
ya tidak tidak tahu

Apakah saat perawat akan melakukan tindakan terhadap pasien, selalu minta persetujuan pasien
terlebih dahulu ?

ya tidak tidak tahu

Apakah saat perawat akan melakukan tindakan terhadap pasien, selalu minta persetujuan keluarga
terlebih dahulu ?

ya tidak tidak tahu

Apakah saat perawat melayani pasien, mengajak pasien berbicara dengan ramah ?

ya tidak tidak tahu

Apakah perawat segera datang saat dibutuhkan pasien ?

ya tidak tidak tahu

Apakah perawat memperkenalkan diri sebelum berinteraksi dengan pasien ?

ya tidak tidak tahu

12. Apakah perawat menjaga kebersihan dan kerapian alat-alat tenun ?

ya tidak tidak tahu

13. Apakah perawat menjelaskan kepada keluarga/pasien tentang masalah yang

dihadapi pasien ?

ya tidak tidak tahu

14. Apakah perawat memantau/menunggu saat pasien minum obat ?

ya tidak tidak tahu

15. Apakah perawat memantau atau mengobservasi keadaan pasien setiap hari ?

ya tidak tidak tahu

16. Apakah perawat menanyakan / memperhatikan jumlah makanan/minuman yang pasien


habiskan ?

ya tidak tidak tahu

17. Apakah perawat menanyakan kenyamanan tidur pasien selama di rawat di

rumah sakit ?

ya tidak tidak tahu

18. Apakah perawat melarang pasien/pengunjung merokok diruangan ?

ya tidak tidak tahu

19. Apakah perawat memantau / menunggu saat pasien minum obat ?

ya tidak tidak tahu


20. Apakah perawat menjelaskan kepada pasien/keluarga tentang perawatan/pengobatan setelah
pasien diperbolehkan pulang ?

ya tidak tidak tahu

Setelah mengisi check list di atas, apabila Anda ingin menuliskan kesan dan pesan selama dirawat di
RS, silakan Anda tuliskan dibawah ini !

1 .

.
.

Skoring :

1. Jawaban ya : skore 3

2. Jawaban tidak : skore 2

3. Jawaban tidak tahu : score 1

Interpretasi hasil :

1. Jumlahkan seluruh skore

2. Bila jumlah skore seluruhnya 20-33 : pelayanan tidak memuaskan

3. Bila jumlah skore seluruhnya 34-47 : pelayanan cukup memuaskan

4. Bila jumlah skore seluruhnya 48-60 : pelayanan sangat memuaskan


Lampiran :