Anda di halaman 1dari 37

ANATOMI SISTEM PERNAFASAN

Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas dan paru-
paru beserta pembungkusnya ( pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Di
dalamrongga dada terdapat juga jantung di dalamnya. Rongga dada dipisahkan dengan
rongga perut oleh diafragma.

Hidung = Naso = Nasal


Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang( cavum
nasi), dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi). Didalam terdapat bulu-bulu yang
berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran-kotoran yang masuk kedalam lubang
hidung.
Bagian luar dinding terdiri dari kulit. Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan.
Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung
(konka nasalis), yang berjumlah 3 buah:
konka nasalis inferior ( karang hidup bagian bawah)
1
konka nasalis media(karang hidung bagian tengah)
konka nasalis superior(karang hidung bagian atas).
Diantara konka-konka ini terdapat 3 buah lekukan meatus yaitu meatus superior
(lekukan bagian atas), meatus medialis(lekukan bagian tengah dan meatus inferior (lekukan
bagian bawah). Meatus-meatus inilah yang dilewati oleh udara pernafasan, sebelah dalam
terdapat lubang yang berhubungan dengan tekak, lubang ini disebut koana.
Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, keatas rongga hidung
berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu sinus
maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang dahi, sinus
sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus etmodialis pada rongga tulang tapis. Pada
sinus etmodialis, keluar ujung-ujung saraf penciuman yang menuju ke konka nasalis. Pada
konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel tersebut terutama terdapat di bagianb atas.
Pada hidung di bagian mukosa terdapat serabut-serabut syaraf atau respektor dari saraf
penciuman disebut nervus olfaktorius. Disebelah belakang konka bagian kiri kanan dan
sebelah atas dari langit-langit terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga
tekak dengan rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba auditiva eustaki, yang
menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga berhubungan dengan
saluran air mata disebut tuba lakminaris.
Fungsi hidung, terdiri dari
1. bekerja sebagai saluran udara pernafasan
2. sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung
3. dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa
4. membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh
leukosit yang terdapat dalam selaput lendir (mukosa) atau hidung.

Tekak=Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan.
Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan
2
ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ lain keatas berhubungan dengan
rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana. Ke depan berhubungan
dengan rongga mulut, tempat hubungan ini bernama istmus fausium. Ke bawah terdapat
dua lubang, ke depan lubang laring, ke belakang lubang esofagus.
Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga dibeberapa tempat terdapat folikel
getah bening. Perkumpulan getah bening ini dinamakan adenoid. Disebelahnya terdapat 2
buah tonsilkiri dan kanan dari tekak. Di sebelah belakang terdapat epiglotis( empang
tenggorok) yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan makanan. Rongga tekak
dibagi dalam 3 bagian:
1. Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut nasofaring.
2. Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut orofaring
3. Bagian bawah sekali dinamakan laringgofaring.

Pangkal Tenggorokan(Laring)
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di
depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea
dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang
disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita
menelan makanan menutupi laring.
Laring terdiri dari 5 tulang rawan antara lain:
1. Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun sangat jelas terlihat pada pria.
2. Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk beker
3. Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk cincin
4. Kartilago epiglotis (1 buah).
Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang dilapisi
oleh sel epiteliumnberlapis. Proses pembentukan suara merupakan hasil kerjasama antara
rongga mulut, rongga hidung, laring, lidah dan bibir. Perbedaan suara seseorang

3
tergsantung pada tebal dan panjangnya pita suara. Pita suara pria jauh lebih tebal daripada
pita suara wanita.

Batang Tenggorokan (Trakea)


Merupakan lanjutan dari laring yang terbentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri dari
tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda. Sebelah dalam diliputi oleh selaput
lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia,hanya bergerak kearah luar.
Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot
polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk
bersama-sama dengan udara pernafasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri
dan kanan disebut karina.

Cabang Tenggorokan ( Bronkus)


Bronkus terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri, bronkus lobaris kanan ( 3 lobus)
dan bronkus lobaris kiri ( 2 bronkus). Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus
segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental. Bronkus
segmentalisini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh
jaringan ikat yang memiliki: arteri, limfatik dan saraf bronkiolus

Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus mengandung


kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus
untuk melapisi bagian dalam jalan nafas.
Bronkiolus terminalis
Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis( yang mempunyai
kelenjar lendir dan silia)
Bronkiolus respiratori

4
Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respirstori. Bronkiolus respiratori
dianggap sebagai saluran transisional antara lain jalan nafas konduksi dan jalan udara
pertukaran gas.
Duktus alveolar dan sakus alveolar
Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus
alveolar. Dan kemudian menjadi alvioli.

Alveoli
Merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Terdapat sekitar 300 juta
yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2.
Terdiri atas 3 tipe:
Sel-sel alveolar tipe I : sel epitel yang membentuk dinding alveoli.
Sel-sel alveolar tipe II: sel yang aktif secara metabolik dan mensekresikan surfaktan
( suatu fosfolifid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak
kolaps)
Sel-sel alveolar tipe III: makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja
sebagai mekanisme pertahanan.

Paru paru
Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut. Terletak dalam rongga dada atau
toraks. Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa
pembuluh dareah besar. Setiap paru mempunyai apeks dan basis, paru kanan lebih besar
dan terbagi menjadi 3 lobus dan fisura interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi
2 lobus. Lobus-lobus tersebut terbagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen
bronkusnya.

Pleura

5
Merupakan lapisan tipisyang mengandung kolagen dan jaringan elastis. Terbagi
menjadi 2:
Pleura perietalis yaitu yang melapisi rongga dada.
Pleura viseralis yaitu yang menyelubungi setiap paru-paru.. Diantara pleura terdapat rongga
pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan
itu bergerak selama pernafsan. Juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru.
Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah
kolap paru-paru.

Mekanisme Pernafasan
Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan
tertidur sekalipun karma sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom.

Respirasi
1. Repirasi luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus
dengan darah dalam kapiler dan merupakan pertukaran O2 dan CO2 antara darah
dan udara.
2. Respirasi dalam adalah pernapasan yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan
sel-sel tubuh dan merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari aliran darah ke seluruh
tubuh.
6
Jenis Respirasi
Pernapasan Dada
Merupakan adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk.
Fase inspirasi
Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar,
akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan diluar sehingga
udara luar yang kaya oksigen masuk.
Fase ekspirasi.
Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi
semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil.
Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan
luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.

Pernapasan Perut
Merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot-otot diafragma
yang membatasi rongga perut dan rongga dada.
Fase Inspirasi.
Pada fase ini otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya rongga
dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk.
Fase Ekspirasi.
Fase ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi semula,
mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar, akibatnya
udara keluar dari paru-paru.
Volume Udara Pernafasan
Dalam keadaan normal, volume udara paru-paru manusia mencapai 4500 cc. Udara
ini dikenal sebagai kapasitas total udara pernapasan manusia. Besarnya volume udara

7
pernapasan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain ukuran alat
pernapasan, kemampuan dan kebiasaan bernapas, serta kondisi kesehatan.

Pertukaran O2 Dan CO2 Dalam Pernafasan


Jumlah oksigen yang diambil melalui udara pernapasan tergantung pada kebutuhan
dan hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, ukuran tubuh, serta jumlah
maupun jenis bahan makanan yang dimakan. Dalam keadaan biasa, manusia
membutuhkan sekitar 300 cc oksigen sehari (24 jam) atau sekitar 0,5 cc tiap menit.
Kebutuhan tersebut berbanding lurus dengan volume udara inspirasi dan ekspirasi biasa
kecuali dalam keadaan tertentu saat konsentrasi oksigen udara berkurang. Oksigen yang
dibutuhkan berdifusi masuk ke darah dalam kapiler darah yang menyelubungi alveolus.
Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat oleh zat warna darah atau pigmen darah
(hemoglobin) untuk diangkut ke sel-sel jaringan tubuh.

Proses Kimiawi Respirasi Pada Manusia


1. Pembuangan CO2 dari paru-paru : H + HCO3 H2+CO3 H2 + CO2
2. Pengikatan oksigen oleh hemoglobin : Hb + O2 Hb O2
3. Pemisahan oksigen dari hemoglobin ke cairan sel : : Hb O2 Hb O2
4. Pengangkutan karbohidrat di dalam tubuh : : CO2 + H2O H2+CO2

8
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
PNEUMONIA

PENGERTIAN
Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai napas sesak atau napas cepat
(Misnadiarly, 2008). Pneumonia dalah infeksi akut pada jaringan paru-paru (alveoli). (Devi
Indriasari, 2009). Pneumonia adalah penyakit yang menyebabkan konsolidasi pada
parenkim paru (Valentina L. Brashers, 2007). Pneumonia dalah inflamasi atau infeksi pada
parenkim pulmo (Irman Somantri, 2007)
Pneumonia dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara. Patolog awalnya diklasifikasikan
mereka sesuai dengan perubahan anatomi yang ditemukan di paru-paru selama otopsi.
Seperti lebih dikenal tentang mikroorganisme penyebab pneumonia, klasifikasi
mikrobiologis muncul, dan dengan munculnya x-ray, klasifikasi radiologi. Sistem lain yang
penting dari klasifikasi adalah klasifikasi klinis gabungan, yang menggabungkan faktor-
faktor seperti usia, faktor risiko untuk mikroorganisme tertentu, adanya penyakit paru yang
mendasari dan penyakit sistemik yang mendasari, dan apakah orang tersebut baru-baru ini
dirawat di rumah sakit.
Awal skema klasifikasi
Deskripsi awal pneumonia difokuskan pada penampilan patologis anatomi atau paru-paru,
baik dengan pemeriksaan langsung di otopsi atau dengan penampilan di bawah mikroskop.
Sebuah''''lobar pneumonia adalah infeksi yang hanya melibatkan lobus tunggal, atau
bagian, dari paru-paru. Lobar pneumonia sering disebabkan Streptococcus
pneumoniae''''(meskipun''Klebsiella pneumoniae''juga mungkin.)
''''Multilobar pneumonia melibatkan lebih dari satu lobus, dan sering menyebabkan
penyakit yang lebih parah.
9
Pneumonia bronkial mempengaruhi paru-paru di patch sekitar tabung (bronkus atau
bronkiolus).
''''Pneumonia interstisial melibatkan daerah di antara alveoli, dan dapat disebut
"pneumonitis interstisial." Hal ini lebih cenderung disebabkan oleh virus atau oleh
bakteri atipikal.
Penemuan x-ray memungkinkan untuk menentukan jenis anatomi pneumonia tanpa
pemeriksaan langsung dari paru-paru di otopsi dan menyebabkan pengembangan
klasifikasi radiologi. Awal peneliti membedakan antara pneumonia lobar tipikal dan atipikal
(misalnya Chlamydophila) atau pneumonia virus menggunakan lokasi, distribusi, dan
penampilan dari kekeruhan yang mereka lihat di rontgen dada. Beberapa x-ray temuan
dapat digunakan untuk membantu memprediksi perjalanan penyakit, meskipun tidak
mungkin untuk secara jelas menentukan penyebab mikrobiologis pneumonia dengan x-ray
saja.
Dengan munculnya mikrobiologi modern, klasifikasi berdasarkan mikroorganisme penyebab
menjadi mungkin. Menentukan mikroorganisme yang menyebabkan pneumonia individu
merupakan langkah penting dalam menentukan jenis pengobatan dan panjang. Dahak
budaya, kultur darah, tes pada sekresi pernafasan, dan tes darah khusus digunakan untuk
menentukan klasifikasi mikrobiologis. Karena pengujian laboratorium seperti biasanya
membutuhkan waktu beberapa hari, klasifikasi mikrobiologis biasanya tidak mungkin pada
saat diagnosis awal.
Gabungan klasifikasi klinis
Secara tradisional, dokter telah diklasifikasikan pneumonia oleh karakteristik klinis,
membagi mereka menjadi "akut" (kurang dari tiga minggu durasi) dan "kronis" pneumonia.
Hal ini berguna karena pneumonia kronis cenderung berupa infeksi bakteri non-menular,
atau mikobakteri, jamur, atau campuran yang disebabkan oleh obstruksi jalan napas.
Pneumonia akut selanjutnya dibagi ke dalam bronchopneumonias bakteri klasik
(seperti''''Streptococcus pneumoniae), dengan pneumonia atipikal (seperti pneumonitis

10
interstitial Mycoplasma pneumoniae''''atau''''Chlamydia pneumoniae), dan pneumonia
aspirasi sindrom.
Pneumonia kronis, di sisi lain, terutama meliputi orang-orang Nocardia, Actinomyces dan
Blastomyces dermatitidis, serta pneumonia granulomatosa yang (Mycobacterium
tuberculosis dan mikobakteri atipikal, Histoplasma capsulatum dan immitis Coccidoide).
Klasifikasi klinis gabungan, sekarang skema klasifikasi yang paling umum digunakan,
mencoba untuk mengidentifikasi faktor risiko seseorang ketika ia pertama kali datang ke
perhatian medis. Keuntungan dari skema klasifikasi atas sistem sebelumnya adalah bahwa
hal itu dapat membantu membimbing pemilihan pengobatan awal yang tepat bahkan
sebelum penyebab mikrobiologis dari pneumonia diketahui. Ada dua kategori luas dari
pneumonia pada skema ini: komunitas-pneumonia dan hospital-acquired pneumonia.
Sebuah jenis baru diperkenalkan kesehatan terkait pneumonia (pada pasien yang tinggal di
luar rumah sakit yang baru saja di kontak dekat dengan sistem perawatan kesehatan)
terletak antara dua kategori.
Komunitas-acquired pneumonia
Komunitas-acquired pneumonia (CAP) adalah pneumonia menular pada orang yang belum
baru saja dirawat di rumah sakit. CAP adalah jenis yang paling umum pneumonia.
Penyebab paling umum dari CAP bervariasi tergantung pada usia seseorang, namun
mereka termasuk''Streptococcus pneumoniae'', virus, bakteri atipikal, dan Haemophilus
influenzae''''. Secara keseluruhan,''''Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab
paling umum pneumonia komunitas di seluruh dunia. Bakteri Gram-negatif menyebabkan
CAP di tertentu pada populasi berisiko. CAP adalah penyebab paling umum keempat
kematian di Inggris dan keenam di Amerika Serikat. Istilah "pneumonia berjalan" telah
digunakan untuk menggambarkan jenis komunitas-pneumonia keparahan kurang (karena
fakta bahwa penderita dapat terus "berjalan" daripada memerlukan rawat inap). Berjalan
pneumonia biasanya disebabkan oleh bakteri atipikal pneumonia Mycoplasma.

11
Hospital-acquired pneumonia
Hospital-acquired pneumonia, juga disebut pneumonia nosokomial, adalah pneumonia
diperoleh selama atau setelah rawat inap untuk penyakit lain atau prosedur dengan onset
setidaknya 72 jam setelah masuk. Penyebab, mikrobiologi, pengobatan dan prognosis
berbeda dari orang-orang dari komunitas-pneumonia. Sampai dengan 5% dari pasien
dirawat di rumah sakit untuk penyebab lain kemudian mengembangkan pneumonia. Pasien
rawat inap mungkin memiliki banyak faktor risiko pneumonia, termasuk ventilasi mekanik,
malnutrisi berkepanjangan, jantung dan paru-paru yang mendasari penyakit, penurunan
jumlah asam lambung, dan gangguan kekebalan. Selain itu, mikroorganisme seseorang
terkena di rumah sakit sering berbeda dari orang-orang di rumah. Didapat di rumah sakit
mikroorganisme termasuk bakteri resisten seperti MRSA, Pseudomonas'''',''Enterobacter'',
dan''''Serratia. Karena individu dengan pneumonia di rumah sakit biasanya memiliki
penyakit yang mendasari dan terkena bakteri berbahaya lagi, cenderung lebih mematikan
daripada komunitas-pneumonia. Ventilator terkait pneumonia (VAP) adalah bagian dari
hospital-acquired pneumonia. VAP adalah pneumonia yang terjadi setelah setidaknya 48
jam intubasi dan ventilasi mekanik.

ETIOLOGI
Menurut Muttaqin (2008), Pneumonia terbilang penyakit berbahaya karena cara
penularannya yang sangat mudah. Penyakit pneumonia dapat menular melalui
percikan ludah yang menyebar lewat udara saat bersin batuk, ataupun bicara.
Pneumonia bukanlah penyakit tunggal.
Penyebabnya bisa bermacam macam dan diketahui 30 sumber infeksi, dengan 4
sumber utama yaitu :

12
1. Pneumonia oleh bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia
lanjut. Orang orang dengan gangguan pernafasan, sedang terinfeksi virus atau
menurun kekebalan tubuhnya, adalah orang yang paling beresiko. Sebenarnya
bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcos pneumonia
sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun
karena sakit, tua, atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan
menyebabkan kerusakan.

2. Pneumonia oleh virus


Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini
makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus ini kebanyakan
menyerang saluran pernafasan bagian atas terutama pada balita, gangguan ini bisa
memicu pneumonia.

3. Pneumonia Mikoplasma
Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda fisiknya bila dibandingkan dengan
pneumonia pada umumnya. Karena itu, pneumonia yang diduga disebabkan oleh
virus yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia yang tidak tipikal
atau atypical pneumonia.

4. Pneumonia jenis lain


Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pneumonia (PCP) yang diduga
disebabkan oleh jamur.

Sedangkan dari sudut pandang sosial, penyebab pneumonia menurut Depkes RI


(2005) antara lain :
1. Status gizi bayi
13
2. Imunisasi tidak lengkap
3. Lingkungan
4. Kondisi sosial ekonomi orang tua

PATOFISIOLOGI PNEUMONIA
Pneumonia yang dipicu oleh bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia
lanjut. Pecandu alcohol, pasien pasca operasi, orang-orang dengan gangguan penyakit
pernapasan, sedang terinfeksi virus atau menurun kekebalan tubuhnya , adalah yang paling
berisiko. Sebenarnya bakteri pneumonia itu ada dan hidup normal pada tenggorokan yang
sehat. Pada saat pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan
malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak organ
paru-paru. Kerusakan jaringan paru setelah kolonisasi suatu mikroorganisme paru banyak
disebabkan oleh reaksi imun dan peradangan yang dilakukan oleh pejamu. Selain itu,
toksin-toksin yang dikeluarkan oleh bakteri pada pneumonia bakterialis dapat secara
langsung merusak sel-sel system pernapasan bawah. Pneumonia bakterialis menimbulkan
respon imun dan peradangan yang paling mencolok. Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan
dari lobus paru-paru, ataupun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-
paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan
paru-paru, infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah.
Bakteri pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia
(Sipahutar, 2007)

KLASIFIKASI PNEUMONIA
Berdasarkan pedoman MTBS (2000), pneumonia dapat diklasifikasikan secara
sederhana berdasarkan gejala yang ada. Klasifikasi ini bukanlah merupakan
diagnose medis dan hanya bertujuan untuk membantu para petugas kesehatan yang

14
berada di lapangan untuk menentukan tindakan yang perlu diambil, sehingga anak
tidak terlambat penanganan. Klasifikasi tersebut adalah:

1. Pneumonia berat atau penyakit sangat berat, apabila terdapat gejala :


Ada tanda bahaya umum, seperti anak tidak bisa minum atau menetek, selalu
memuntahkan semuanya, kejang atau anak letargis/tidak sadar.
Terdapat tarikan dinding dada ke dalam.
Terdapat stridor ( suara napas bunyi grok-grok saat inspirasi )

2. Pneumonia, apabila terdapat gejala napas cepat, batasan nafas cepat adalah :
Anak usia 2 12 bulan apabila frekuensi napas 50 x/menit atau lebih.
Anak Usia 1 5 tahun apabila frekuensi napas 40 x/menit atau lebih.

3. Batuk bukan Pneumonia, apabila tidak ada tanda tanda atau penyakit sangat berat.

TANDA DAN GEJALA


Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi
sputum, napas cuping hidung, sesak napas, merintih dan sianosis. Anak yang lebih
besar dengan pneumonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan
lutut tertekuk karena nyeri dada. Tanda Pneuomonia berupa retraksi atau penarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernafas bersama dengan peningkatan
frekuensi nafas, perkusi pekak, fremitrus melemah. Suara napas melemah, dan
ronkhi. (Mansjoer,2000,hal 467 )
Gejala penyakit pneumonia berupa napas cepat dan sesak napas, karena paru
meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan
sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1
tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5

15
tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia.
Pneumonia berat ditandai dengan adanya batuk juga disertai kesukaran bernafas,
napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam pada anak usia
2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga pneumonia
sangat berat, dengan gejala pneumonia sangat berat, dengan gejala batuk,
kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum.
Menurut Muttaqin (2008) pada awalnya keluhan batuk tidak produktif, tapi
selanjutnya akan berkembang menjadi batuk produktif dengan mucus purulen
kekuningan, kehijauan, kecoklatan atau kemerahan, dan sering kali berbau busuk.
Klien biasanya mengeluh mengalami demam tinggi dan menggigil (onset mungkin
tiba tiba dan berbahaya ). Adanya keluhan nyeri dada pleuritis, sesak napas,
peningkatan frekuensi pernapasan, lemas dan nyeri kepala.

KOMPLIKASI PNEUMONIA
Pada paru paru penderita pneumonia di penuhi sel radang dan cairan yang
sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman, tetapi karena adanya
dahak yang kental maka akibatnya fungsi paru terganggu sehingga penderita
mengalami kesulitan bernafas karena tidak adanya ruang untuk tempat oksigen.
Kekurangan oksigen membuat sel sel tubuh tidak bisa bekerja karena inilah, selain
penyebaran infeksi keseluruh tubuh, penderita pneumonia juga bisa meninggal
(Muttaqin, 2008).

Menurut Mansjoer (2000) komplikasi pneumonia yaitu :


1. Abses kulit
2. Abses jaringan lunak
3. Otitis media
4. Sinusitis
5. Meningitis purualenta
16
6. Perikarditis

PEMERIKSAAN PNEUMONIA

1) Pemeriksaan fisik
1.Inspeksi
Perlu diperhatikan adanya takipnea dispne, sianosis sirkumoral, pernapasan cuping
hidung, distensi abdomen, batuk semula nonproduktif menjadi produktif, serta nyeri
dada pada waktu menarik napas. Batasan takipnea pada anak berusia 12 bulan 5
tahun adalah 40 kali / menit atau lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding
dada ke dalam pada fase inspirasi. Pada pneumonia berat, tarikan dinding dada
kedalam akan tampak jelas.

2. Palpasi
Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar, fremitus raba mungkin
meningkat pada sisi yang sakit, dan nadi mungkin mengalami peningkatan atau
tachycardia.

3. Perkusi
Suara redup pada sisi yang sakit.

4. Auskultasi
Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara mendekatkan telinga ke hidung /
mulut bayi. Pada anak yang pneumonia akan terdengar stridor. Sementara dengan
stetoskop, akan terdengar suara napas berkurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit,
dan ronkhi basah pada masa resolusi. Pernapasan bronchial, egotomi, bronkofoni,
kadang terdengar bising gesek pleura (Mansjoer,2000).

17
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboraturium
Leukosit 18.000 40.000 / mm3
Hitung jenis didapatkan geseran ke kiri.
LED meningkat

2. X-foto dada
Terdapat bercak bercak infiltrate yang tersebar (bronco pneumonia) atau yang
meliputi satu/sebagian besar lobus/lobule (Mansjoer,2000).

PENANGANAN PNEUMONIA
Menurut Mansjoer (2000) Penanganan pneumonia berdasarkan klasifikasi
pneumonia :
1. Pneumonia berat atau pneumonia sangat berat harus dirawat di RS dan diberi
antibiotik.
2. Pneumonia tidak perlu dirawat dirumah sakit
3. Batuk bukan pneumonia tidak perlu dirawat tidak perlu antibiaotik.

Menurut Mansjoer (2000), Apabila anak diklasifikasikan menderita pneumonia berat


atau penyakit sangat berat di puskesmas / balai pengobatan, maka anak perlu
dirujuk segera setelah diberi dosis pertama antibiotik yang sesuai. Dosis pertama
antibiotika yang dimaksud adalah klorampenikol yan diberikan secara intramuscular
dengan dosis 40 mg/kg BB.
Jika anak diklasifikasikan menderita pneumonia, maka tindakan berikut ini
diperlukan :
1. Pemberian antibiotik yang sesuai selama 5 hari.
2. Beri pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman.
18
3. Berikan nasihat kepada orang tua kapan harus segera kembali.
4. Melakukan kunjungan ulang setelah 2 hari.

Sedangkan untuk anak dengan pneumonia yang dirawat di rumah sakit, diperlukan
rencana perawatan yang sesuai dengan masalahanya, yaitu :
1). Efektivitas pola napas, rencana perawatan yang diperlukan adalah :
Berikan oksigen yang dilembabkan sesuai takikardi.
Lakukan fisioterapi dada : kerjakan sesuai jadwal.
Observasi tanda vital
Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai advis.
Periksa dan catat hasil x-ray dada dan jumlah sel darah putih sesuai indikasi.
Lakukan suction bila perlu.
Kaji dan catat pengetahuan serta partisipasi keluarga dalam perawatan, misalnya,
pemberian obat serta pengenalan tanda dan gejala inefektivitas pola napas.
Ciptakan lingkungan yang nyaman.

2). Devisit volume cairan, intervensi yang diperlukan adalah :


1. Berikan cairan sesuai dengan kebutuhan.
2. Catat secara akurat intake dan output.
3. Kaji dan catat tanda vital serta gejala kekurangan cairan.
4. Periksa dan catat BJ urine tiap 4 jam atau sesuai advis.
5. Lakukan perawatan mulut sesuai dengan kebutuhan.
6. Kaji dan catat pengetahuan serta partisipasi keluarga dalam monitoring intake dan
output serta dalam mengenali tanda dan gejala kekurangan volume cairan.
7. Ciptakan situasi yang nyaman.

PENCEGAHAN PNEUMONIA

19
Menurut Theresia (2009), Pencegahan Pneumonia dapat dilakukan dengan cara
hidup bersih dan sehat dan memberikan nutrisi yang baik pada balita. Disamping itu,
perlu diberikan vaksin pneumokokus pada bayi dan anak sedini mungkin.
Menurut Raymondnelson dan bambang (2009), Pencegahan pneumonia dapat
dilakukan dengan cara :
1. Memberikan vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD.
2. Memberikan imunisasi pada anak sesuai waktunya.
3. Menjaga keseimbangan nutrisi anak.
4. Menjaga daya tahan tubuh anak dengan cara cukup istirahat dan juga banyak
olahraga.
5. Mengusahakan agar ruangan tempat tinggal mempunyai udara yang bersih dan
ventilasi yang cukup.

PENGOBATAN PNEUMONIA
Menurut Mansjoer (2000), pengobatan pneumonia dapat dilakukan dengan cara
pemberian antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :

1. Untuk kasus pneumonia community base :


Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian
Klorampenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian

2. Untuk pneumoni hospital base :


Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian
Amikasin 10 15 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian

Top of Form

Virus Utama :
20
ISPA atas : Rino virus ,Corona Virus,Adeno virus,Entero Virus
ISPA bawah RSV,Parainfluensa,1,2,3 corona virus,adeno virus
Bakteri Utama
Streptococus pneumoniae, Haemophilus influenza, Staphylococcus aureus
Pada neonatus dan bayi muda Chlamidia trachomatis dan pada anak usia sekolah :
Mycoplasma pneumonia.

21
22
23
24
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Rontgen
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan kelainan sebelum hal ini dapat ditemukan secara
pemeriksaan fisik. Pada bronchopneumonia bercak bercak infiltrat didapatkan pada satu
atau beberapa lobus. Pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsosolidasi pada satu atau
beberapa lobus. Pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau
beberapa lobus. Foto rongent dapat juga menunjukkan adanya komplikasi pada satu atau
beberapa lobus. Foto rongent dapat juga menunjukkan adanya komplikasi seperti pleuritis,
abses paru, perikarditis dll.
Pemeriksaan laboratorium
Gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000 40.000/mm 3 dengan
pergeseran ke kiri. Kuman penyebab dapat dibiakkan dari usapan tenggorokan dan 30%
dari darah. Urine biasanya berwarna lebih tua, mungkin terdapat albuminuria ringan karena
suhu yang naik dan sedikit torak hialin.

FOKUS PENGKAJIAN
Hal-hal yang perlu dikaji :
1. Riwayat penyakit
Demam, batuk, pilek, anoreksia, badan lemah/tidak bergairah, riwayat penyakit
pernapasan, pengobatan yang dilakukan di rumah dan penyakit yang menyertai
2. Tanda fisik
Demam, dyspneu, tachipneu, menggunakan otot pernafasan tambahan, faring
hiperemis, pembesaran tonsil, sakit menelan.
3. Faktor perkembangan umum, tingkat perkembangan, kebiasaan sehari-hari,
mekanisme koping, kemampuan mengerti tindakan yang dilakukan.

25
26
27
4. Pengetahuan pasien/ keluarga pengalaman terkena penyakit pernafasan,
pengetahuan tentang penyakit pernafasan dan tindakan yang dilakukan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas tidak efektif kemungkinan b.d inflamasi trakeabranchial,
pembentukan edema, peningkatan produksi sputum
2. Gangguan pertukaran gas kemungkinan b.d perubahan membran alveolar-kapiler
3. Hipertermi kemungkinan b.d. proses infeksi
4. Resiko Infeksi kemungkinan b.d. ketidakadekuatan pertahanan utama ( penurunan
kerja silia, perlengketan sekret pernafasan), tidak adekuatnya pertahanan sekunder,
penyakit kronis
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan kemungkinan b.d. peningkatan
kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi
6. Resiko kekurangan volume cairan kemungkinan b.d. intake cairan oral tidak adekuat,
kehilangan cairan aktif
7. Intoleransi aktifitas kemungkinan b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen, kelemahan umum.
(NANDA Internasional 2012-2014 & Aplikasi NANDA NIC NOC 2013)

INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan yang lazim terjadi ( Aplikasi NANDA NIC NOC, 2013)

Diagnosa Keperawatan 1
Bersihan jalan nafas tak efektif kemungkinan berhubungan dengan inflamasi
trakeabranchial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan napas bersih
Kriteria hasil
28
a. RR batas normal 20-24x/m
b. Sesak (-)
c. Jalan napas aten dengan bunyi napas bersih
d. Batuk (-)
e. Pasien dapat mengeluarkan sputum
Tindakan / intervensi
Mandiri
a. Monitor dan auskultasi area paru, catat area penurunan/tak ada aliran udara dan
bunyi nafas, misalnya : krekels, mengi.
Rasional : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan, bunyi
nafas bronchial ( normal pada bronchus ) dapat juga terjadi pada area konsolidasi.
Krekels dan ronchi dan mengi terdengar pada inspirasi dan / atau ekspirasi pada
respon terhadap pengumpulan cairan, secret kental dan spasme jalan nafas /
obstruksi.
b. Bantu pasien latihan nafas sering. Tunjukkan / bantu pasien mempelajari melakukan
batuk, misal menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi.
Rasional : Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan nafas lebih
kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami, membantu silia untuk
mempertahankan jalan nafas paten.
c. Anjurkan pada keluarga untuk memberi pasien cairan hangat sedikitnya 2500 ml
ml/hari ( kecuali kontraindikasi ). Rasional : Cairan khususnya yang hangat
memobilisasi dan mengeluarkan sekret.
Kolaborasi
d. Pengisapan sesuai indikasi. Rasional : Merangsang batuk atau pembersihan jalan
nafas secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena batuk tak
efektif atau penurunan tingkat kesadaran.
e. Berikan obat sesuai indikasi, mukoliti, ekspentoran, bronchodilator & analgesik
Rasional : Alat untuk menurunkan spasme bronchus dengan mobilisasi sekret.
29
Analgesik untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyaman tapi harus
digunakan secara hati-hati karena dapat menekan pernafasan.

Diagnosa Keperawatan 2
Gangguan pertukaran gas dapat dihubungkan dengan ; perubahan membran alveolar
kapiler ( efek inflamasi ), gangguan kapasitas pembawa oksigen darah.
Tujuan : menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan kriteria hasil :
GDA dalam rentang normal, tak ada gejala distress pernafasan dan warna kulit tidak pucat.

Tindakan / intervensi :
Mandiri :
a. Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas. Rasional : manifestasi distress
pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan
umum.
b. Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku, catat adanya sianosis perifer
( kuku ) atau sianosis sentral. Rasional : Sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi
atau espon tubuh terhadap demam / menggigil.
c. Awasi suhu tubuh sesuai indikasi
Rasional : Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan
oksigen dan mengganggu oksigenasi selular.
d. Beri posisi yang nyaman misal semifowler atau fowler. Rasional : posisi yang nyaman
meningkatkan masuknya suplai O2 ke dalam tubuh.
Kolaborasi
e. Berikan terapi oksigen sesuai terapi dari dokter. Rasional: Tujuan terapi oksigen
adalah mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. Oksigen diberikan dengan metode
yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien.

30
Diagnosa Keperawatan 3
Hipertermi kemungkinan berhubungan dengan proses infeksi penyakit
Tujuan : Diharapkan termoregulasi pada pasien stabil dan dalam batas normal
Kriteria hasil :
a. Suhu tubuh pasien turun dan bertahan dalam batas normal 35,6 0-37,40C
b. Badan pasien teraba hanga
c. TTV dalam batas normal
Intervensi :
a. Kaji faktor pencetus kenaikan suhu tubuh.
b. Observasi TTV terutama suhu tiap 4 jam.
c. Beri minum yang cukup.
d. Libatkan keluarga untuk memberikan kompres air hangat.
e. Pakaikan baju yang tipis dan menyerap keringat.
f. Kolaborasi denagn dokter mengenai obat antipiretik penurun panas.
g. Kolaborasi dengan dokter mengenai pemberian cairan IV.

Diagnosa Keperawatan 4
Resiko Infeksi kemungkinan berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan utama
( penurunan kerja silia, perlengketan sekret pernafasan), tidak adekuatnya pertahanan
sekunder, penyakit kronis.
Tujuan : Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi, mengidentifikasi
intervensi untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi.

Tindakan / intervensi :
Mandiri
a. Pantau tanda vital dengan ketat, khusus selama awal terapi.
b. Rasional : selama periode waktu ini, potensial komplikasi fatal dapat terjadi.

31
c. Ubah posisi dengan sering dan berikan pembuangan paru yang baik. Rasional :
meningkatkan pengeluaran, pembersihan infeksi.
d. Batasi pengunjung sesuai indikasi. Rasional : menurunkan pemajanan terhadap
patogen infeksi lain.
e. Lakukan isolasi pencegahan sesuai individual. Rasional : mencegah penyebaran /
melindungi pasien dari proses infeksi lain.
f. Anjurkan pasien memperhatikan pengeluaran sekret dan melaporkan perubahan
warna, jumlah dan bau sekret. Rasional : Pengeluaran sputum amat penting,
perubahan karakteristik sputum menunjukkan perbaikan pneumonia atau terjadinya
infeksi sekunder.
g. Ajarkan tehnik mencuci tangan yang baik. Rasional : Efektif berarti menurunkan
penyebaran / tambahan infeksi
h. Kolaborasi pamberian antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum /
darah, misalnya penicillin, eritromisin, tetrasiklin, amikain, sepalosporin & amantadin.
Rasional : untuk membunuh kebanyakan microbial. Komplikasi antiviral dan antijamur
mungkin digunakan bila pneumonia diakibatkan oleh organisme campuran.

Diagnosa Keperawatan 5
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan kemungkinan berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
Tujuan : menunjukkan peningkatan nafsu makan, mempertahankan/meningkatkan berat
badan.

Tindakan / intervensi :
Mandiri
a. Indentifikasi factor yang menyebabkan mual / muntah misalnya : sputum banyak,
pengobatan aerosol, dispnoe berat, nyeri. Rasional : pilihan intervensi tergantung
pada penyebaran masalah
32
b. Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin Rasional :
Menghilangkan tanda bahaya, rasa, bau dari lingkungan pasien dan dapat
menurunkan mual.
c. Auskultasi bunyi usus , observasi / palpasi distensi abdomen. Rasional : Bunyi usus
mungkin menurun / tak ada bila proses infeksi berat/memanjang.
d. Berikan makan porsi kecil tapi sering termasuk makanan kering Rasional : Tindakan
ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk
kembali.

Diagnosa Keperawatan 6
Resiko kekurangan volume cairan b.d intake cairan oral tidak adekuat, kehilangan cairan
aktif
Tujuan : Mempertahankan masukan cairan secara adekuat
Kriteria hasil :
a. Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal
b. Tanda-tanda vital normal
c. Tidak terlihat mata cekung, kulit lembab, membran mukosa lembab

Intervensi :
a. Kaji faktor penyebab resiko kekurangan cairan. Rasional : mengetahui penyebab akan
menentukan intervensi yang akan dilakukan selanjutnya.
b. Monitor status hidrasi (mukosa baik, nadi normal, tekanan darah normal). Rasional :
status hidrasi yang buruk menunjukkan tanda dan gejala terjadinya kekurangan
cairan.
c. Monitor hasil laborat yang tepat (BUN , HCl, kepekatan urine). Rasional :
menunjukkan tanda dan gejala terjadinya kekurangan cairan.
d. Berikan cairan yang disukai dalam batas diit. Rasional : cairan yang disukai
meningkatkan asupan cairan yang masuk dalam tubuh, intake cairan tercukupi.
33
e. Ajarkan pada keluarga bahwa kopi, teh, jus buah anggur menyebabkan diuresis dan
menambah kehilangan cairan. Rasional : keluarga paham meningkatkan kerjasama
untuk menghindari terjadinya kekurangan cairan pada pasien.
f. Kolaborasi pemberian cairan IV sesuai terapi dokter. Rasional : mencukupi cairan
yang tidak bisa masuk melalu oral.

Diagnosa Keperawatan 7
Intoleransi aktifitas kemungkinan berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum.
Tujuan : Melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat
diukur dengan tak adanya dispnoe, kelemahan berlebihan dan tanda vital dalam rentang
normal.

Tindakan / intervensi :
Mandiri
a. Monitor respons pasien terhadap aktivitas. Rasional : menetapkan kemampuan,
kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi.
b. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
Rasional : menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan
aktivitas dan istirahat. Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk
menurunkan kebutuhan metabolic, menghemat energi untuk penyembuhan.
d. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan / atau tidur Rasional : Pasien
mungkin nyaman dengan kepala lebih tinggi.
e. Kolaborasi dengan fisioterapi jika perlu. Rasional : Meningkatkan kemampuan
aktivitas pasien sesuai kemampuan maksimal.

34
EVALUASI KEPERAWATAN

DX 1 Bersihan jalan napas tidak efektif


Bersihan jalan nafas, menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada
dispnoe.
DX 2 Gangguan pertukaran gas
Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak
ada
gejala distress pernafasan.
DX 3 Hipertermi
Termoregulasi pada pasien stabil dan dalam batas normal
DX 4 Resiko Infeksi
Perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi
DX 5 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Menunjukkan peningkatan nafsu makan, mempertahankan/meningkatkan berat badan.
DX 6 Resiko
kekurangan volume cairan Mempertahankan masukan cairan secara adekuat
DX 7 Intoleransi aktivitas
Peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnoe,
kelemahan berlebihan dan tanda vital dalam rentang normal

35
DAFTAR PUSTAKA

Brashers, Valentina L. 2007. Aplikasi Klinis Patofisiologi : Pemeriksaan & Manajemen Edisi
2. Jakarta : EGC
Herdman, T. Heather. 2012. NANDA Internasional Diagnosa Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC
Indriasari, Devi. 2009. 100% Sembuh Tanpa Dokter A-Z Deteksi, Obati dan Cegah Penyakit .
Yogyakarta : Pustaka Grhatama
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak, Balita, Orang
Dewasa, Usia Lanjut. Pustaka Obor Populer : Jakarta
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi NANDA NIC NOC. Yogyakarta :
Media Action Publishing
Somantri, Irman. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Asuhan Keperawatan pada Pasien
dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika
Johnson M, Maas M, Moorhead S., Swanson, E. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing
Outcomes Classification (NOC). 4th ed. Missouri; Mosby, Inc
Mc Closkey, JC., Butcher, HK., Bulechek GM. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing
Interventions Classification (NIC). 5h ed.Missouri; Mosby, Inc
North American Nursing Diagnosis Association. 2010. Nursing Diagnoses : Definition &
Classification 2009-2011. Philadelphia
Kartasasmita, CB. 2010. Pneumonia Pembunuh Balita. Buletin jendela Epidemiologi; 3; 22-
26
Ngastiah. (2008). Perawatan anak sakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran: EGC Speirs,
A.L. (1992). Pediatrics for nurses. (Terj. Dr, Sidhartani Zain). Semarang: IKIP Semarang
Press

36
Aziz . 2003. Metode Penelitian Keperawatan dan Analisa Data. Jakarta :
Salemba Medika. Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik. Jakarta : Salemba Medika.
Anwar. 2002. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Pustaka Media.
Bengjay, 2009, Pengertian PHBS http://www.elisa.ugm.com di akses tanggal 3
Mei 2010 jam 20.00 wib
Choirunisa. 2009. Panduan Terpenting Merawat Bayi dan Balita. Yogyakarta :
Moncer Publisher
Depkes, 2008, Cakupan PHBS http://www.Depkes.co.id di akses tanggal 30 Mei
2010 jam 19.50 wib
Dinkes Jatim, 2008, Cakupan PHBS http://www.Dinkesjatim.co.id di akses
tanggal 30 Mei 2010 jam 19.25 wib
Effendy N, 2001, Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
EGC
Mansjoer, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : media aesculapius.
Markum, dkk. 2005. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: FKUI.
Muttaqin, 2008, Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan System
Pernapasan, Jakarta : Salemba Medika.
Mochfoedz, Irchan. 2005. Alat Ukur Penelitian Bidang Kesehatan Keperawatan
dan Kebidanan. Yogyakarta : Kayon.

37