Anda di halaman 1dari 233

ALFRED HITCHCOCK

TRIO DETEKTIF

MISTERI
NAGA BATUK
Teks oleh Nick West
Berdasarkan tokoh-tokoh
ciptaan Robert Arthur
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Penerbit PT Gramedia
Jakarta, 1985
THE MYSTERY OF THE COUGHING DRAGON
by Alfred Hitchcock
Copyright (c) 1970 by Random House, Inc.
Text by Nick West. Based on characters created by Robert Arthur
This translation published by arrangement with Random House, Inc.
All rights reserved

MISTERI NAGA BATUK


Alihbahasa: Agus Setiadi
GM 85.094
Hak cipta terjemahan Indonesia
PT Gramedia, Jakarta
Hak cipta dilindungi oleh
undang-undang
Sampul digambar kembali oleh Nono S.
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia, Jakarta Mei 1985
Anggota IKAPI

Dilarang mengutip, menerjemahkan,


memfotokopi atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Dicetak oleh
Percetakan PT Gramedia
Jakarta
DAFTAR ISI

1. Awal yang Misterius 9


2. Horor dari Dalam Laut 21
3. Ujian Mental 39
4. Uluran Tangan yang Mangagetkan 48
5. Bahaya di Kaki Tebing 58
6. Terjebak! 64
7. Peringatan Misterius 73
8. Dua Sosok Misterius 82
9. Peringatan dari Hantu 94
10. Matinya Sebuah Kota 99
11. Kengerian di Malam Buta 111
12. Cengkeraman Kengerian 128
13. Kelakar Orang yang Suka Iseng 138
14. Berburu Naga 154
15. Pertanyaan d a n Jawabannya 163
16. Menghadang Bahaya Lagi 176
17. Misteri Terowongan Tua 189
18. Tertangkap! 207
19. Situasi Gawat 215
20. Uluran Tangan Mr. Hitchcock 229

5
KATA PENDAHULUAN

KATA pendahuluan ini semata-mata untuk mem-


perkenalkan Trio Detektif pada pembaca yang
baru sekali ini hendak mulai mengikuti kisah
petualangan mereka yang selalu mengasyikkan.
Jadi pembaca yang sudah tahu siapa mereka,
tentu saja tidak perlu lagi membaca halaman ini.
Trio Detektif merupakan sekelompok penyelidik
remaja yang gigih. Meski mereka amatir, tapi
sangat tangguh dalam mencapai tujuan mereka.
Dan tujuan mereka adalah menyelidiki misteri-
misteri.
Pemimpin mereka Jupiter Jones, la sendiri yang
mengatakan begitu. la pula yang merupakan
"otak" Trio Detektif. Pete Crenshaw, yang bertubuh
paling kekar di antara mereka bertiga, biasanya
melakukan tugas yang menghendaki ketangguhan
jasmani. Sedang Bob Andrews menangani bagian
Catatan dan Riset.
Ketiga remaja itu bertempat tinggal di Rocky
Beach, sebuah kota kecil di tepi Samudra Pasifik,
beberapa mil dari kota film terkenal di Amerika
Serikat, Hollywood. Mereka bermarkas di sebuah
karavan yang sudah diubah menjadi kantor.
Karavan itu tersembunyi letaknya di Jones Salvage

7
Yard, suatu tempat perjualbelian barang-barang
bekas, yang diusahakan oleh paman dan bibi
Jupiter. Dalam karavan tersembunyi itu ada kantor
dan laboratorium kecil, kamar gelap, serta
peralatan hasil rakitan ketiga remaja itu sendiri, dari
barang-barang bekas yang bertumpuk-tumpuk di
kompleks itu. Karavan itu hanya bisa dimasuki
lewat berbagai lorong rahasia. Hanya ketiga remaja
itu saja yang bisa melewati lorong-lorong itu, tanpa
tersangkut-sangkut.
Nan! Rasanya itu sudah cukup sebagai
perkenalan. Sekarang, silakan menikmati kisah
petualangan Trio Detektif yang terbaru.

Alfred Hitchcock

8
Bab I
AWAL YANG MISTERIUS

"AKU ingin tahu," kata Jupiter Jones pada suatu


pagi, "langkah-langkah mana yang kita ambil, jika
kita hendak melakukan perampokan terbesar yang
pernah terjadi di daerah sini."
Kedua temannya bereaksi dengan gerakan
kaget. Tumpukan kartu kecil-kecil yang saat itu
hendak dimasukkan oleh Bob Andrews ke dalam
mesin cetak tua milik ketiga remaja itu terlepas dari
tangannya, sehingga jatuh berhamburan. Pete
Crenshaw, yang sedang membetulkan sebuah
radio usang, tersentak. Obeng yang dipegangnya
melenceng ke samping.
"Apa katamu?" tanya Pete, sambil mengusap-
usap goresan yang ditinggalkan mata obeng pada
kayu penutup sisi belakang radio.
"Aku mengatakan, aku ingin tahu langkah mana
saja yang kita ambil, jika kita ingin melakukan
perampokan terbesar yang pernah terjadi di daerah
sini," kata Jupiter mengulangi kalimatnya. "Itu jika
kita ini penjahat ulung."
"Sementara kau sedang mereka-reka ha! itu,"
kata Pete, "coba kaupikirkan sekaligus apa yang
terjadi dengan diri kita, jika kita tertangkap. Aku
pernah mendengar — entah di mana — bahwa

9
kejahatan itu pada hakikatnya tidak membawa
faedah.
Bob Andrews memunguti kartu-kartu yang
berhamburan di tanah.
"Kurasa kita tidak berbakat menjadi penjahat
ulung, Lihat saja aku ini — memasukkan
kartu-kartu ke mesin cetak saja sudah tidak bisa!"
"Aku juga hanya mereka-reka kemungkinannya
saja," kata Jupiter. "Kita ini kan penyelidik! Tadi
tiba-tiba timbul pikiran, jika kita bisa mereka-
reka kejahatan yang terencana rapi, nanti jika
harus melakukan pengusutan, sedikit-banyak kita
kan sudah mengetahui liku-likunya. Kita hanya
perlu membalikkan cara berpikir kita, seolah-olah
kita ini penjahat ulung."
Pete mengangguk.
"Idemu itu bagus, Jupe," katanya. "Tapi aku
sekarang perlu membalikkan jalan pikiran pemiiik
terakhir dari radio ini terlebih dulu. la mencoba
membetulkan radio ini — tapi hasilnya malah tidak
keruan! Kalau ini sudah beres, aku mau saja main
ulung-ulungan bersamamu."
Ketiga remaja yang menamakan diri mereka
Trio Detektif itu sedang berada di bengkel Jupiter,
yang terdapat di dalam kompleks Jones Salvage
Yard. Bengkel itu terpencil letaknya, dan dinaungi
atap selebar kurang-lebih dua meter, yang
menjorok dari tepi atas pagar tinggi yang
mengelilingi kompleks. Mereka sedang sibuk
bekerja, memperbaiki barang-barang bekas yang
dibeli Paman Titus. Sebagian dari keuntungan hasil

10
kerja mereka dijadikan uang saku, sedang
selebihnya dipakai untuk melengkapi peralatan
kantor mereka, seperti pesawat telepon, misalnya.
Pete mengencangkan sebuah sekrup pada radio
yang sedang diperbaikinya. Setelah itu dengan
bangga diperlihatkannya hasil kerjanya pada
Jupiter, untuk dinilai.
"Hasil kerjaku ini pantasnya diimbali dengan
paling sedikit tiga dolar oleh pamanmu, Jupe,"
katanya. "Kini barang ini bisa dijualnya dalam
kondisi baik, dan bukan barang rongsokan lagi —
seperti sewaktu dibeli olehnya."
Jupiter tersenyum.
"Bukan kebiasaan Paman Titus, menghambur-
hamburkan uang tanpa pertimbangan," katanya.
"Coba kauuji dulu, untuk memastikan bahwa radio
itu benar-benar bisa berbunyi lagi."
Pete mengangkat bahu, lalu menyalakan
pesawat radio itu.
"Percaya deh — kutanggung sudah beres lagi,"
katanya. "Dengarkan saja sendiri!"
Terdengar bunyi dengung dan berkeretak
sesaat, disusul suara seorang penyiar yang
kedengarannya sedang membacakan warta berita.
"Pihak kepolisian masih tetap belum dapat
mengambil langkah-langkah kongkret sehubung-
an dengan peristiwa-peristiwa misterius yang
terjadi di Seaside," kata penyiar, membacakan
berita. "Selama minggu terakhir, lima ekor anjing
dilaporkan lenyap. Para pemilik kebingungan atas

11
lenyapnya anjing-anjing peliharaan mereka. —
Dan kini menyusul berita luar negeri. Di ..."
"Ya, cukuplah, Pete," kata Jupiter.
Pete mematikan pesawat radio.
"Bukan main," katanya. "Lima ekor anjing
hilang! Rupanya ada orang sinting sedang
gentayangan, menculik anjing."
"Kurasa dia itulah penjahat ulung yang
dibicarakan Jupe tadi," kata Bob sambil tertawa
nyengir. "Orang itu berniat mencuri semua anjing
yang bisa dicuri, untuk kemudian menguasai
pasaran anjing. Dengan begitu tidak ada pilihan
lain bagi para peminat, kecuali membayar harga
yang diminta. Saat itu semua anjing hasil
culikannya dilempar ke pasaran, dan ia akan
menjadi kaya-raya."
Jupiter duduk termenung, sambil memijit-mijit
bibir bawahnya. Itu merupakan tanda bahwa
otaknya sedang bekerja.
"Ganjil," katanya setelah beberapa saat.
"Apanya yang ganjil?" tanya Bob. "Maksudmu
jumlah anjing yang hilang? Lima memang angka
ganjil."
Jupiter menggeleng. Keningnya berkerut.
"Bukan itu maksudku! Yang kukatakan ganjil,
kenapa anjing sebanyak itu lenyap dalam seming-
gu. Laporan tentang anjing yang hilang biasanya
cuma sekali-sekali saja masuk — dan tidak
beruntun-runtun dalam batas waktu seminggu."
"Yah — kurasa seperti yang kukatakan tadi,"
kata Bob. "Ada penjahat ulung dengan gagasan

12
edan, yaitu hendak menguasai pasaran jual-beli
anjing. Mungkin ia ingin menekan harga daging
cacah, di samping menjual anjing-anjing curian
dengan keuritungan besar."
Jupiter tersenyum sekilas.
"Pemikiranmu itu boleh juga," katanya, "tapi
dengannya tidak terjawab pertanyaan yang timbul.
Kenapa sampai ada lima ekor yang hilang, dalam
waktu satu minggu? Pertanyaan lainnya, kenapa
kita tidak dihubungi untuk mengusut peristiwa-
peristiwa misterius ini?"
"Mungkin karena peristiwanya tidak begitu
misterius," kata Pete. "Anjing kan kadang-kadang
keluyuran, dan tidak dengan segera pulang. Itu
dugaanku."
"Aku sependapat dengan Pete," kata Bob.
"Berita tadi tidak menyebutkan apakah anjing-
anjing yang hilang itu berharga atau tidak.
Beritanya kan hanya tentang lima ekor anjing yang
dilaporkan hilang."
Jupiter mengangguk lambat-lambat. Tapi nam-
paknya ia masih tetap sangsi.
"Bisa juga kalian berdua benar," katanya
mengakui. "Mungkin saja segala peristiwa ini cuma
kebetulan yang aneh belaka — meski terus terang
saja, aku tidak suka menarik kesimpulan yang
begitu."
Kedua temannya tersenyum. Memang kebia-
saan Jupiter untuk berbicara dengan kalimat yang
panjang-panjang. Hal itu, ditambah kemampuan-
nya menarik kesimpulan dalam melakukan

13
pengusutan, menyebabkan remaja itu diterima
oleh kedua temannya selaku pemimpin mereka.
"Bagaimana ya caranya bisa mengusut misteri
ini, tanpa diminta oleh salah seorang dari para
pemilik anjing yang hilang itu?" kata Jupe sambil
merenung.
Bob dan Pete berpandang-pandangan dengan
alis terangkat.
"Misteri yang mana?" tanya Pete. "Kusangka kita
tadi sudah sependapat, hal itu merupakan peristiwa
yang kebetulan saja terjadi beruntun-runtun. Jadi
sama sekali tidak merupakan misteri."
"Bisa saja memang begitu halnya," kata Jupiter.
"Tapi kita ini kan penyelidik! Sebelum ini sudah
beberapa kali kita berhasil menemukan kembali
binatang yang hilang. Dan semuanya ada sangkut
pautnya dengan suatu misteri."
Pete dan Bob mengangguk, karena keduanya
teringat pada kegiatan mereka mencari kucing
abesinia milik Mrs. Banfry yang hilang. Ternyata
pencarian itu kemudian melibatkan mereka dalam
misteri mumi yang bisa berbisik. Lalu Billy
Shakespeare, burung nuri Mr. Malcolm Fentriss
yang juga hilang, ternyata membawa mereka ke
tengah Misteri Nuri Gagap.
"Seaside — hm, itu kan di selatan, dan tidak
begitu jauh dari sini," kata Jupiter lagi. "Ketenaran
kita selaku penyelidik rupanya tidak sehebat
perkiraan kita. Kita harus berbuat sesuatu
mengenainya."

14
Bob menuding tumpukan kartu yang sudah
ditaruhnya dalam mesin cetak.
"Itulah yang sedang kukerjakan, Jupe," katanya.
"Aku hendak mencetak kartu nama baru Trio
Detektif."
"Itu ide yang bagus, Bob," kata Jupiter. "Tapi
maksudku bukan itu. Kita harus lebih terkenal lagi,
agar jika ada kejadian aneh, orang akan langsung
ingat pada Trio Detektif dari Rocky Beach,
California."
Bob menggerakkan tangannya'dengan sikap
putus asa.
"Aduh, Jupe — bagaimana hal itu akan bisa kita
capai menurutmu? Kita kan tidak mampu membeli
waktu dalam siaran iklan di TV, atau menyewa;
pesawat terbang yang biasa membuat tulisan iklan
dengan asap di udara!"
"Ya, aku juga tahu," kata Jupiter. "Begini sajalah!
Sekarang ini juga kita mengadakan rapat di
markas, untuk merundingkan berbagai jalan yang
bisa ditempuh, agar Trio Detektif menjadi lebih
terkenal lagi."
Jupiter langsung berdiri, tanpa menunggu
jawaban lagi. Bob dan Pete saling be pandang-
pandangan.' Keduanya sama-sama mtngangkat
bahu, lalu menyusul.
"Caramu bertindak yang sangat demokratislah
yang kusenangi dari dirimu, Jupe," kata Pete
menyindir sambil tersenyum. "Maksudku, kita
selalu mengadakan pemungutan suara dulu,
sebelum diambil keputusan."

15
Mereka menggeser sepotong kisi-kisi besi yang
sudah karatan, yang tersandar di belakang mesin
cetak mereka. Kisi-kisi itu ternyata menutupi ujung
sebuah pipa seng yang panjang dan berukuran
besar. Ketiga remaja itu merangkak ke dalamnya.
Setelah mengembalikan kisi-kisi penutup ke
tempatnya semula, kemudian mereka merangkak
sejauh kira-kira sepuluh meter. Sebagian dari pipa
itu terbenam ke dalarh tanah, lalu menyusur di
antara batang-batang besi yang bermacam-ma-
cam bentuknya. Akhirnya mereka sampai di ujung
pipa, yang letaknya tepat di bawah karavan yang
telah diubah menjadi Markas Besar Trio Detektif.
Paman Titus mengizinkan Jupiter serta kedua
temannya memakai kendaraan bekas itu, setelah
selama beberapa waktu tak pemah berhasil
menjualnya.
Tingkap pada lantai karavan didorong ke atas,
dan ketiga remaja itu menyusup masuk ke dalam
kantor mereka. Kantor itu tidak besar, dan
dilengkapi dengan sebuah meja, beberapa kursi,
sebuah mesin tik, lemari arsip, dan pesawat
telepon. Jupiter menghubungkan sebuah mikro-
fon dan sebuah pengeras suara ke pesawat telepon
itu, sehingga semua bisa ikut berbicara dan
mendengar jika ada percakapan lewat telepon.
Selain itu karavan tersebut terdiri dari sebuah
kamar gelap yang sempit, laboratorium kecil, serta
kamar mandi.
Ruangan dalam karavan itu gelap, karena
kendaraan bekas itu dikelilingi barang-barang

16
rongsokan yang menumpuk tinggi di luar. Pete
menyalakan lampu yang tergantung di atas meja.
Saat itu terdengar deringan pesawat telepon.
Ketiga remaja itu , berpandang-pandangan.
Soalnya, boleh dibilang tidak pernah ada orang
menelepon mereka.
Sekali lagi telepon berdering. Jupiter meraih
gagangnya, sambil menyambung pesawat itu
dengan alat pengeras suara.
Ternyata yang menelepon seorang wanita, kalau
ditilik dari suarahya.
"Di situ Jupiter Jones? Mr. Alfred Hitchcock
ingin bicara."
"Wow!" kata Bob bersemangat. "Mungkin ia
punya kasus baru untuk kita."
Sejak mengenal Trio Detektif beberapa waktu
yang lalu, sutradara Hollywood yang kenamaan itu
sudah beberapa kali menugaskan mereka untuk
melakukan berbagai pengusutan.
"Halo, Jupiter!" Kini Mr. Hitchcock sendiri yang
berbicara. "Kau beserta kedua temanmu sedang
sibuk mengusut suatu kasus saat ini?"
"Tidak, Sir," kata Jupiter. "Tapi berdasarkan
teori probabilitas, kemungkinannya tidak lama lagi
kami akan menjumpai kasus yang cukup, me-
narik."
Mr. Hitchcock terkekeh.
"Jadi keyakinanmu itu berdasarkan teori menge-
nai kemungkinan, ya?" kata sutradara ternama itu.
"Kalau kalian tidak sedang sibuk, aku punya kasus

17
untuk kalian. Seorang sutradara teman lamaku
memerlukan bantuan mengenai suatu masalah."
"Dengan senang hati kami bersedia membantu,
Mr. Hitchcock," kata Jupiter. "Apakah masalah
teman Anda itu?"
Mr. Hitchcock diam sejenak, seakan-akan
sedang mencoba merumuskan situasi sulit
dengan beberapa patah kata saja.
"Masalah itu kelihatannya menyangkut anjing,"
katanya kemudian. "Maksudku, waktu menelepon
aku tadi, ia mengatakan bahwa anjingnya hilang."
Mata Jupiter langsung bersinar-sinar.
"Teman Anda itu barangkali kebetulan tinggal di
kota Seaside, Mr. Hitchcock?" tanyanya.
Sunyi lagi sesaat. Dan ketika Mr. Hitchcock
menjawab, suaranya jelas bernada heran.
"Ya, temanku itu memang tinggal di Seaside,
Jupiter. Tapi dari mana kau bisa menarik
kesimpulan itu?"
"Saya hanya menggabung-gaburigkan bebe-
rapa peristiwa ganjil," kata Jupiter.
"Luar biasa," kata Mr. Hitchcock. "Benar-benar
luar biasa. Aku senang mengetahui bahwa kau
masih tetap siaga, dan tidak membiarkan diri kalian
menjadi lamban karena kejenuhan serta bersikap
besar kepala."
Jupiter meringis.
"Itu takkan mungkin terjadi, Sir. Tapi kata Anda
tadi, teman Anda itu kelihatannya menghadapi
masalah yang menyangkut anjing. Dan Anda

18
memberi tekanan nada pada kata "kelihatannya",
Sir. Apakah itu Anda lakukan dengan sengaja?"
"Kau berhasil dengan tepat menafsirkan apa
yang hendak kusampaikan padamu," kata Mr.
Hitchcock. "Menurutku, ini bukan kasus yang
biasa-biasa saja — karena jika dipikir-pikir, kasus
yang melibatkan seekor naga, mana mungkin bisa
disebut biasa. Ya, 'kan?"
Jupiter merasa lehemya seperti tersumbat.
"Naga, Sir?" katanya.
"Ya, betul. Naga! Rumah temanku itu berada di
atas tebing, dan menghadap ke laut. Di kaki tebing
di bawah rumahnya ada liang-liang gua. Temanku
itu dengan yakin mengatakan bahwa saat malam
anjingnya hilang, ia melihat seekor naga besar
muncul dari dalam laut, lalu masuk ke dalam salah
satu gua di bawah rumahnya."
Ketiga remaja yang berada dalam kantor Trio
Detektif diam saja. Mereka tidak bisa mengatakan
apa-apa, karena terlalu kaget.
"Nah — bagaimana? Kalian mau mencoba
mengusut misteri ini?"
"A-a-anda b-b-berikan saja nama dan alamat
teman Anda itu, Sir," kata Jupiter tergagap-gagap,
karena sangat bergairah. "Kelihatannya, ini akan
menjadi kasus yang paling menarik yang pernah
kami tangani!"
Ditulisnya nama dan alamat yang disebutkan Mr.
Hitchcock, la juga berjanji akan melaporkan hasil
pengusutan mereka. Selesai menelepon, dipan-
dangnya Bob dan Pete dengan sikap menang.

19
"Hal mana pun juga, yang menyangkut seekor
naga yang hidup zaman sekarang ini, perlu kita
selidiki. Kalian sependapat, 'kan?"
Bob mengangguk. Sedang Pete hanya meng-
angkat bahu.
"Kau nampaknya kurang setuju, Pete," kata
Jupiter.
"Ada satu kekurangan dalam keteranganmu
tadi," kata Pete. "Kau mengatakan pada Mr.
Hitchcock, ini mungkin merupakan kasus kita yang
paling menarik."
"Ya, memanci begitu kukatakan tadi," kata
Jupiter. "Kau tidak sependapat?"
"Tidak sepenuhnya," kata Pete.
"Kalau begitu, apa yang akan kaukatakan pada
Mr. Hitchcock?"
"Karena ada naga terlibat di dalamnya," kata
Pete, "kalau aku yang ditanya, aku akan
mengatakan — ini akan merupakan kasus kita
yang penghabisan!"

20
Bab 2
H O R O R DARI DALAM LAUT

KOTA Seaside, di mana sutradara film teman Mr.


Hitchcock tinggal, letaknya sekitar dua puluh mil
dari Rocky Beach, lewat jalan raya bebas hambatan
yang bernama Pacific Coast Highway. Hans, satu
dari kedua pemuda bersaudara asal Jerman yang
bekerja di Jones Salvage Yard, kebetulan setelah
makan siang harus segera ke daerah sekitar situ,
untuk menjemput dan mengantar barang. Jupiter
diizinkan Bibi Mathilda membonceng truk kecil itu
ke sana, bersama teman-temannya.
Setelah menikmati hidangan bibi Jupiter, ketiga
remaja itu bergegas ke luar. Mereka beramai-ramai
di kabin depan, di samping Hans. Jupiter
menyebutkan alamat yang dituju, dan dengan
segera truk kecil yang mereka tumpangi sudah
meluncur di atas jalan raya pesisir yang mulus,
menuju ke selatan.
"Kau kan punya waktu untuk melakukan
penelitian sekedarnya, Bob," kata Jupiter. "Apa
yang bisa kauceritakan tentang makhluk naga?"
"Naga itu makhluk dongeng," kata Bob.
"Biasanya dilukiskan berupa binatang melata
berukuran raksasa, bersayap dan bercakar run-
cing, serta bisa menyemburkan api dan asap."

21
"Aku sama sekali tidak melakukan penelitian,"
kata Pete memotong, "tapi kurasa ada satu hal
penting yang dilupakan oleh Bob. Naga bukan
makhluk yang ramah."
"Itu memang juga bisa kukatakan tadi," kata
Bob. "Tapi Jupiter kan cuma berminat pada
fakta-fakta saja! Naga merupakan makhluk
dongeng —jadi dengan lain perkataan, sebenar-
nya tidak ada. Jadi sebenarnya, kita tidak perlu
repot-repot memikirkan apakah naga itu ramah
atau tidak."
"Tepat," kata Jupiter. "Naga merupakan ma-
khluk legenda masa silam. Katakanlah mereka
pernah ada — rasanya sekarang sudah punah
semuanya, sebagai akibat perkembangan evolusi."
"Bagiku, itu malah lebih baik," kata Pete. "Tapi
jika mereka kini sudah punah, lalu kenapa kita kini
berangkat untuk menyelidiki seekor naga?"
"Kita mendengar berita yang mengatakan ada
lima ekor anjing yang lenyap selama seminggu
belakangan ini, di kota Seaside yang biasanya
tentram," kata Jupiter. "Lalu Mr. Hitchcock
mengatakan pada kita bahwa seorang temannya
kehilangan seekor anjing, serta melihat seekor
naga di dekat rumahnya. Kau tidak merasa bahwa
itu ada apa-apanya bagi kita?"
"O ya — tentu saja ada," kata Pete. "Kabar-kabar
itu menimbulkan perasaan dalam diriku, bahwa
aku seharusnya tinggal saja di Rocky Beach dan
main selancar, dan bukan ikut denganmu untuk
menangkap naga."

22
"Jika Henry Allen, sutradara teman lama Mr.
Hitchcock itu memerlukan jasa kita, maka itu akan
merupakan petualangan yang menghasilkan
keuntungan bagi Trio Detektif," kata Jupiter.
"Kenapa tidak kaucoba melihatnya dari segi itu?"
"Sudah, sudah kucoba," kata Pete.
"Terlepas dari ada tidaknya naga," sambung
Jupiter, "yang jelas, ada sesuatu yang misterius di
sini. Sebentar lagi kita akan memperoleh fakta-
fakta, dan kita bisa memulai pengusutan. Semen-
tara itu, kasus ini harus kita pandang dengan sikap
terbuka."
Sementara itu truk kecil yang mereka tumpangi
sudah sampai di pinggiran kota Seaside. Hans
memperlambat jalan kendaraan itu, sambil men-
cari-cari nomor rumah yang disebutkan oleh
Jupiter padanya. Truk itu masih berjalan satu mil
lagi, lalu berhenti.
"Kurasa ini tempatnya, Jupe," kata Hans.
Yang nampak hanya pagar tanaman yang tinggi,
serta pohon-pohon palem. Rumah yang mestinya
ada di situ, seakan-akan bersembunyi. Yang jelas,
bangunan itu tidak kelihatan dari jalan.
Pete melihat tulisan nama berukuran kecil, pada
sebuah kotak surat yang dicat putih.
"H. H. Allen," katanya membaca tulisan itu.
"Mestinya memang inilah tempatnya."
Anak-anak turun dari truk.
"Penyelidikan pendahuluan ini kurasa akan
memakan waktu sekitar dua jam, Hans," kata
Jupiter. "Bisakah kau menjemput kami lagi di sini

23
saat itu, setelah kau selesai dengan tugasmu
mengantar dan menjemput barang?"
"Tentu saja, Jupe," kata pemuda Jerman
bertubuh kekar itu. la melambai, lalu menggerak-
kan kendaraannya ke suatu jalan terjal yang
menuju ke tengah kota.
"Sebelumnya, lebih baik kita melihat-lihat di
sekeliling sini dulu sebentar," kata Jupiter.
"Mungkin ada gunanya jika kita sudah tahu
keadaan sedikit-sedikit, jika nanti berbicara dengan
Mr. Allen."
Daerah itu memberikan kesan le'ngang dan sepi.
Rumah-rumah terpencar letaknya di atas tebing
tinggi yang berbatasan dengan Samudra Pasifik.
Anak-anak menuju ke tanah kosong yang
berbatasan letaknya dengan pekarangan rumah
sutradara yang akan mereka datangi, lalu meman-
dang ke bawah.
"Kelihatannya tenang dan tentram," kata Bob. la
memandang ke bawah, memperhatikan pantai
yang terbentang serta permukaan laut yang
kemilau.
"Ombaknya lumayan," gumam Pete. Ia mem-
perhatikan ombak yang bergulung-gulung menuju
pantai. "Tidak tinggi, tapi kalau semeter, pasti ada.
Kurasa saat malam merupakan waktu yang paling
baik untuk naga itu, saat pasang naik dan ombak
yang bergulung-gulung memecah di pantai.
Dengan begitu ia lebih terlindung."
"Kau benar, Pete," kata Jupiter sependapat, "itu
jika memang benar-benar ada naga." la menjulur-

24
kan kepala, memandang ke bawah. "Menurut Mr.
Hitchcock, di bawah sana ada iiang-liang gua. Tapi
dari atas sini tidak kelihatan. Nanti kita ke bawah
untuk meneliti ke sana, sehabis mewawancarai Mr.
Allen."
Bob memperhatikan hamparan pantai lengang
yang terbentang jauh di bawah.
"Bagaimana cara kita turun nanti?" tanyanya.
Pete menunjuk ke arah sejumlah papan bercat
putih yang kelihatannya tidak kokoh dan sudah
dimakan cuaca.
"Itu ada jenjang yang menuju ke bawah, Bob,"
katanya. "Mendingan lewat situ, daripada harus
payah-payah merangkak naik-turun dinding te-
bing."
Jupiter menggerakkan tangannya, menunjuk-
nunjuk gigir tebing.
"Di sana, dan di sana, juga ada beberapa tangga
lagi. Tapi kelihatannya tidak begitu banyak. — Yah,
kurasa kita kini sudah agak mengenal situasi
daerah ini. Sekarang kita dengar saja apa yang
akan diceritakan Mr. Allen pada kita."
la mendului berjalan kembali, menuju sebuah
pintu pada pagar semak. Pintu itu dibuka olehnya,
lalu ia masuk bersama kedua rekannya. Di depan
mereka ada jalan setapak yang berliku-liku. Di
ujung jalan itu nampak sebuah rumah berdinding
bata berwama kuning pudar. Di sekeliling rumah
itu tumbuh pohon-pohon palem, tanaman perdu,
serta semak liar yang berbunga. Kebun di
sekitarnya menunjukkan kesan tak terawat, sama

25
halnya dengan bangunan itu sendiri, yang
bertengger nyaris di tubir tebing yang selalu disapu
angin.
Jupiter mengangkat gagang pengetuk yang
terpasang di daun pintu, lalu melepaskannya lagi.
Pintu rumah terbuka. Seorang laki-laki bertubuh
pendek gemuk berdiri di ambangnya. Matanya
besar berwarna coklat, memandang dengan
sorotan sayu. Alisnya tebal, sedang rambutnya
yang putih tinggal sedikit, melingkari ubun-ubun
yang botak. Mukanya coklat terbakar sinar
matahari dan penuh kerut.
"Silakan masuk, Anak-anak," katanya sambil
mengajak bersalaman. "Kalian tentunya anak-
anak muda yang menurut sahabatku Alfred
Hitchcock mungkin bisa membantu aku. Kalian ini
penyelidik, 'kan?"
"Betul, Sir," kata Jupiter. Dengan cepat
disodorkannya sepucuk kartu bisnis Trio Detektif.
"Selama ini kami sudah beberapa kali berhasil
mengusut berbagai kasus sampai tuntas."
Laki-laki tua itu membaca tulisan yang tertera
pada kartu yang sedang dipegang.

TRIO DETEKTIF
"Kami Menyelidiki Apa Saja"
? ? ?
Penyelidik Satu — Jupiter Jones
Penyelidik Dua — Peter Crenshaw
Catatan dan Riset — Bob Andrews

26
"Ketiga tanda tanya itu lambang kami," kata
Jupiter menjelaskan. "Tanda pengenal kami.
Artinya, pertanyaan yang tak terjawab, teka-teki
yang tak terpecahkan, misteri yang tidak bisa
dijelaskan. Tujuan kami mengusut hal-hal begitu."
Laki-laki tua itu mengangguk, seperti merasa
puas. Kartu bisnis Trio Detektif dimasukkannya ke
dalam kantung.
"Kita bicara di dalam kamar kerjaku saja,"
katanya mengajak.
la mendului masuk ke sebuah kamar yang
lapang dan terang. Anak-anak memandang
berkeliling ruangan dengan sikap kagum. Dinding
kamar itu penuh dengan gambar yang bersesak-
sesak, dari langit-langit sampai nyaris menyentuh
lantai. Di samping sejumlah besar lukisan, banyak
pula foto para bintang film kenamaan serta
tokoh-tokoh termashur lainnya, semua dengan
tanda tangan orang-orang yang bersangkutan.
Meja kerja berukuran besar yang ada di situ
penuh dengan kertas-kertas serta patung-patung
kecil dari kayu. Rak-rak buku juga nampak penuh,
dengan berbagai benda kerajinan yang nampak
asing, patung-patung kecil buatan suku-suku
bangsa penghuni Benua Amerika dari masa
pra-Kolumbus, begitu pula patung-patung kecil
dari Afrika. Beberapa di antara patung-patung itu
memancarkan kesan bengis dan menakutkan.
Laki-laki tua itu menyilakan Jupiter beserta
kedua temannya duduk di tiga kursi yang ada di

27
situ. Sedang ia sendiri mengambil tempat di kursi
besar berukir-ukir, di belakang meja kerja.
"Silakan duduk, Anak-anak. Akan kuceritakan
dulu apa sebabnya aku menghubungi sahabat
lamaku, Alfred Hitchcock. Barangkali ia sudah
mengatakan pada kalian, bahwa aku ini sutradara
film."
"Ya, itu sudah dikatakan olehnya, Sir," kata
Jupiter.
Laki-laki tua itu tersenyum.
"Sebenarnya lebih tepat jika dikatakan dulu aku
ini sutradara. Sudah sejak bertahun-tahun aku
tidak pernah dikontrak lagi untuk membuat film.
Jauh sebelum masa Alfred, aku ini sudah
sutradara. Dan dalam golongan film seperti yang
kubuat, namaku waktu itu cukup termashur. Alfred
kini kan tersohor karena film-filmnya yang dtbuat
dengan gayanya yang khas. Aku juga begitu! Gaya
kami hampir sama, tapi ada sedikit perbedaan.
Alfred mengkhususkan diri dengan misteri-misteri
dunia yang seakan-akan tidak bisa dipecahkan.
Sedang minatku terarah lebih jauh lagi dari itu."
"Apa maksud Anda, Sir?" tanya Jupiter.
"Kalian nanti akan mengerti sendiri, apa
sebabnya masalah yang sedang kuhadapi tidak
bisa kulaporkan pada polisi, atau pihak-pihak
berwenang lainnya. Soalnya begini! Film-film
buatanku waktu itu selalu aneh-aneh. Ceritanya
bukan tentang dunia ini, melainkan tentang dunia
yang lain — tentang impian yang seram serta
kengerian. Film-filmku penuh dengan makhluk-

28
makhluk seram, jadi-jadian, makhluk-makhluk
aneh dan jelek, serta emosi yang bergejolak.
Singkatnya, kekhususanku membuat film horor!"
Jupiter mengangguk.
"Ya — sekarang nama Anda saya ingat lagi, Sir.
Saya sering melihatnya, di festival-festival film
bermutu di museum-museum."
"Baiklah," kata laki-laki tua itu. "Jadi jika seka-
rang kuceritakan apa yang kulihat muncul dari
dalam laut saat malam anjingku hilang, kalian tentu
akan bisa mengerti apa sebabnya aku merasa ragu
untuk berbicara mengenainya. Mengingat reputasi-
ku di masa lampau, ditambah kenyataan bahwa
aku sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi men-
dapat kontrak untuk membuat film baru, kurasa
lumrah jika orang-orang akan menyangka bahwa
aku cuma ingin menarik perhatian saja, untuk
menjadi populer lagi.
Riwayatku selaku sutradara sudah tamat. Itu
karena pengaruh kekuasaan yang ada waktu itu.
Tapi hartaku memadai bagiku, untuk bisa hidup
dengan tenang dan tentram. Tidak ada yang
merongrong ketenanganku — kecuali —"
"Kecuali naga yang kini hidup di dalam gua di
kaki tebing sini, Sir?" kata Jupiter menebak.
Mr. Allen mengernyitkan mukanya.
"Betul!" Ditatapnya anak-anak dengan pan-
dangan menyelidik. "Aku bercerita pada Alfred,
bahwa aku melihat makhluk itu muncul dari tengah
laut. Tapi satu hal tak kukatakan padanya. — Aku
juga mendengar suaranya!"

29
Kamar kerja itu langsung senyap.
"Jadi Anda mendengar suara naga itu, Sir," kata
Jupiter dengan tenang. "Apa tepatnya yang Anda
dengar? Dan saat itu Anda sedang di mana?"
Mr. Allen mengeluarkan selembar sapu tangan
berwarna dan berukuran lebar, lalu mengusap
keningnya.
"Ketika itu aku sedang berdiri di atas tebing di
luar rumah, sambil memandang ke arah laut," kata
laki-laki tua itu. "Bisa juga yang kulihat itu hanya
ilusi belaka. Jadi sebenarnya tidak ada apa-apa."
"Itu bisa juga," kata Jupiter. "Tapi sekarang
harap Anda katakan, apa tepatnya yang Anda
dengar waktu itu. Mungkin ini merupakan petunjuk
penting bagi pengusutan kami."
"Yah — bagaimana ya," kata Mr. Allen.
"Sepanjang yang kuketahui, naga katanya tidak
ada. Sudah sejak jutaan tahun tidak ada lagi! Tentu
saja aku sendiri membuat beberapa film tentang
makhluk-makhluk itu, dengan mempergunakan
naga tiruan yang digerakkan mesin. Untuk suara
naga, kami mempergunakan bunyi deaiman
mesin yang diredamkan, dan yang dikombinasikan
dengan lengkingan bunyi peluit. Keduanya dibaur-
kan dengan teknik tertentu, sehingga kesan yang
ingin kami ciptakan didapatkan — yaitu membuat
penonton merasa ngeri.
Tapi yang kudengar malam itu sama sekali tidak
seperti bunyi ciptaan kami. Bunyinya tinggi serak
— seperti bunyi napas yang sesak — atau suara
batuk."

30
"Lalu bagaimana dengan Hang gua yang
terdapat di bawah rumah Anda ini?" tanya Jupiter.
"Cukup lapangkah untuk dimasuki seekor naga,
atau makhluk lain yang cukup besar sehingga
dikira naga?"
"Ya," kata laki-laki tua itu. "Di bawah gigir tebing
sini ada sejumlah gua. Letaknya ke arah utara serta
selatan, dan begitu juga ke pedalaman. Zaman
dulu liang-liang gua itu dipakai oleh para
penembus blokade, sehubungan dengan peratur-
an yang melarang beredarnya minuman keras di
Amerika. Dan sebelum itu, dipakai oleh para
penyelundup serta bajak laut. Beberapa tahun yang
lalu pernah terjadi tanah runtuh, akibat erosi.
Sebagian besar dari tempat yang dulu dikenal
dengan nama Haggity's Point tertimbun karena-
nya. Tapi di bawah sini masih banyak terdapat
liang-liang gua."
"Hmm," gumam Jupiter. "— tapi baru sekali ini
Anda melihat dan mendengar naga, walau Anda
sudah bertahun-tahun tinggal di sini. Betulkah
demikian?"
Laki-laki tua itu mengangguk sambil tersenyum.
"Ya — dan satu kali saja sudah cukup. Dan yang
ini pun barangkali takkan terlihat olehku, jika aku
saat itu tidak sedang mencari-cari Red Rover
anjingku."
Ketiga remaja itu berpandang-pandangan sam-
bil tersenyum. Soalnya, salah satu jalan rahasia
untuk masuk ke markas, mereka beri nama Red
Gate Rover. Kelana Gerbang Merah!

31
"Saya rasa kini sudah waktunya kita berbicara
tentang anjing Anda yang hilang itu, Sir — serta
keadaan waktu itu. Tolong kaucatat, Bob,'' kata
Jupiter.
Bob, yang mengelola bidang catatan dan
kegiatan riset, menyiapkan pensil dan buku
catatannya.
Mr. Allen terkejut. Kemudian ia tersenyum,
menyaksikan pameran kesigapan cara kerja Trio
Detektif.
"Selama dua bulan yang lewat, aku bepergian ke
luar negeri," kata laki-laki tua itu. "Walau aku tidak
aktif lagi dalam bidang perfilman, tapi aku masih
tetap sangat berminat terhadap film serta perkem-
bangannya. Aku biasanya setiap tahun berkeliling
di Eropa, menghadiri festival-festival film yang
termasuk penting, yang diselenggarakan di
berbagai kota. Tahun ini juga begitu. Aku
menghadiri festival di Roma, Venesia, Paris,
London, Berlin, serta Budapest. Di samping itu aku
juga mendatangi kawan-kawan lama di sana.
Seperti biasanya jika aku ke luar negeri, anjingku
kuserahkan pada tempat penitipan anjing di sini.
Aku kembali seminggu yang lalu. Red Rover
langsung kujemput. Anjingku itu jenis setter
Irlandia. Bulunya sangat indah. Dan ia sangat
ramah.
Red Rover suka berkeliaran sambil berlari-lari.
Aku kini tidak mampu lagi menemaninya. Karena
itu kalau malam ia kulepaskan, biar bisa berlari-lari
sebentar. Tapi dua malam yang lalu, ia tidak

32
kembali lagi. la sudah tiga tahun kupelihara.
Kusangka ia mengubah kebiasaan karena agak
lama kutinggal, bukan kembali kemari, tapi ke
tempat penitipan di mana ia tinggal selama ini.
Karenanya aku lantas menelepon ke sana. Tapi
Red Rover tidak muncul di sana. Aku menunggu-
nunggu — tapi ia tetap saja tidak kembali.
Lalu ketika aku keluar untuk mencarinya — saat
itulah aku melihat makhluk itu!"
"Tapi Anda tidak turun ke pantai?" tanya Jupiter.
Laki-laki tua itu menggeleng.
"Tidak! Seram sekali rasanya saat itu. Aku, yang
hampir seumur hidupku membuat film untuk
mengejutkan dan menakut-nakuti orang —
tahu-tahu aku sendiri mengalami kejadian begitu.
Tidak bisa kulukiskan dengan kata-kata, petesaan-
ku saat itu. Mula-mula panik, karena membayang-
kan kemungkinan bahwa anjingku diserang dan
dimakan makhluk yang menakutkan itu. Lalu
menyusul rasa ngeri, jangan-jangan aku ini sudah
gila. Tidak mudah rasanya, mengakui telah melihat
naga! Sungguh — percayalah!"
"Jadi Anda tidak mengambil langkah-langkah
lain," desak Jupiter, "kecuali menghubungi kawan
lama Anda, Alfred Hitchcock."
Sekali lagi laki-laki tua itu menyeka keningnya.
"Alfred teman lamaku yang sangat akrab, dan
banyak pengalamannya tentang soal-soal yang
misterius. Aku tahu, hanya dia saja yang mungkin
bisa menolong. Tapi sekarang terserah pada

33
kalian, Anak-anak. Urusan ini kuserahkan pada
kalian!"
"Terima kasih, Mr. Allen, atas kepercayaan Anda
pada kami," kata Jupiter. "Kecuali anjing Anda,
masih ada beberapa ekor lagi yang dilaporkan
hilang di kota ini. Menurut laporan terakhir, ada
lima ekor — belum termasuk anjing Anda."
Mr. Allen mengangguk.
"Aku juga mendengar kabar itu lewat siaran
warta berita, setelah anjingku hilang. Coba itu
sudah lebih dulu kuketahui, takkan kubiarkan Red
Rover berkeliaran sendiri malam itu."
"Anda sudah berhubungan dengan para pemilik
anjing-anjing lain yang juga hilang itu?" tanya
Jupiter.
Laki-laki tua itu menggeleng.
"Tidak. Belum. Aku tidak ingin menyebut-
nyebut apa yang kulihat malam itu."
"Orang-orang yang bertempat tinggal di sekitar
sini, apakah semuanya juga memelihara anjing?"
"Tidak semuanya," jawab Mr. Allen sambil
tersenyum. "Misalnya saja Mr. Carter, tetanggaku di
seberang jalan, ia tidak punya anjing. Begitu pula
tetanggaku di sebelah kanan, Arthur Shelby. Aku
tidak begitu tahu-menahu tentang para tetangga-
ku. Aku lebih suka hidup sendiri dengan tenang,
ditemani buku-buku serta koleksi lukisanku. Dan
anjingku."
Jupiter berdiri.
"Kalau begitu kami pergi saja sekarang, Mr.
Allen. Kami berjanji akan menyampaikan laporan

34
selengkapnya, kalau ada kemajuan dalam peng-
usutan kami."
Setelah bersalaman, Mr. Allen mengantarkan
ketiga remaja itu ke luar sambil mengucapkan
terima kasih sekali lagi. Anak-anak keluar lewat
pintu pagar semak, yang kemudian ditutup lagi
oleh Jupiter.
Pete tersenyum melihat Jupiter memasang kait
pengunci pintu.
"Biar naga tidak bisa masuk, Jupe?" katanya
mengganggu.
"Kurasa naga takkan merasa terhalang oleh
pintu pagar atau bahkan pintu rumah yang
terkunci, Pete," kata Jupiter.
Pete terteguk. Nampak jelas bahwa ia terkejut.
"Tidak enak rasanya mendengar caramu
mengatakan hal itu, Jupe," katanya. la meman-
dang ke arah jalan, lalu melirik arlojinya. "Mana
Hans? Kenapa belum kelihatan?"
"Memang belum waktunya," kata Jupiter.
"Waktu kita masih banyak tersisa."
Setelah itu ia menyeberang, dipandang oleh
Bob dan Pete.
"Waktu untuk apa?" tanya Bob.
"Untuk mendatangi Mr. Carter," jawab Jupiter.
"Dan setelah itu, Arthur Shelby. Kalian tidak ingin
tahu lebih banyak tentang orang-orang yang
tinggal di lingkungan sesepi ini, tapi tidak merasa
perlu memelihara anjing untuk dijadikan penjaga?"
"Tidak, aku sama sekali tidak ingin tahu," kata
Pete. "Aku malah heran sekarang, kenapa aku

35
belum membeli anjing untuk kujadikan penjagaku!
Seekor anjing besar, yang tidak takut pada naga!"
Jupiter tersenyum. Kedua temannya ikut
menyeberangi jalan sempit itu. Pekarangan Mr.
Carter nampak terawat, sedang dinding rumahnya
kelihatan baru saja dicat.
"Perhatikanlah," kata Jupiter pada kedua
temannya, sementara mereka menuju pintu depan
rumah lewat jalan masuk, "semak pagar di sini
dipangkas rata, dan rumput di halaman dipotong
rapi. Pohon-pohon dipangkas ranting-rantingnya,
sedang petak-petak bunga juga kelihatan terurus.
Mr. Carter pasti menyukai kerapian."
Jupiter menekan bel. Hampir seketika itu juga
pintu depan dibuka dengan cepat. Seorang
laki-laki bertubuh gempal menatap mereka
dengan kening berkerut.
"Ya? Kalian mau apa?" tanya orang itu dengan
suara keras.
"Maaf, Sir," kata Jupiter dengan sopan, "kami
baru saja dari tetangga Anda di seberang, Mr. Allen.
Mungkin Anda juga sudah tahu, anjingnya yang
bernama Red Rover hilang. Kami ingin bertanya,
mungkin Anda tahu apa-apa tentang kejadian itu."
Mata laki-laki itu menyempit. Alisnya yang tebal
terangkat, lalu dikerutkan kembali. Mulutnya
dicibirkan.
"Jadi Allen kehilangan anjingnya, ya? Seperti
orang-orang lainnya di blok ini? Syukur! Aku
senang segala binatang itu hilang, dan mudah-

36
mudahan hilang untuk selama-lamanya. Aku benci
pada anjing!"
la memandang anak-anak dengan mata melo-
tot, dengan sinar yang bisa dibilang tidak waras. la
mengepalkan tangannya. Sesaat anak-anak me-
nyangka ia akan menyerang mereka.
Tapi Jupiter bisa menjaga ketenangannya. Air
mukanya tetap polos.
"Anda tentu punya alasan kuat untuk tidak
menyukai anjing, Sir," katanya. "Barangkali jika
Anda mau mengatakan apa salah mereka —"
"Apa salah mereka?" ulang laki-laki itu dengan
nada pedas. "Mereka melakukan apa yang sudah
selalu dilakukan. Malam-malam menggonggong
dan melolong-lolong tak menentu. Menginjak-
injak tanaman bungaku. Rumputku rusak kena
kaki mereka. Tempat sampahku terguling, sehing-
ga trotoar kelihatan jorok! Bagaimana — itu sudah
cukup atau belum?"
"Maaf," kata Jupiter penuh pengertian. "Kami
bukan orang sini. Kami ini ditugaskan mencari
anjing Mr. Allen. Jika anjing itu merusak milik Anda,
saya yakin Mr. Allen pasti mau membayar ganti
rugi. Ia sangat kehilangan anjingnya, dan saya rasa
ia pasti mau berbuat apa saja untuk —"
"Ia mau berbuat apa saja, ya?" tukas laki-laki itu.
"Nah — aku juga begitu. Tunggu di sini!"
Orang itu masuk sebentar. Sementara ketiga
remaja itu berpandang-pandangan dengan sikap
bingung, pintu rumah sudah dibuka kembali.

37
Mr. Carter berdiri di ambangnya. la menggeng-
gam senapan berburu.
"lnilah yang akan kulakukan," katanya dengan
sengit. "Kujejal dia dengan mimis! Isi senapan ini
mimis ukuran terbesar untuk senapan jenis ini. Jika
aku sampai melihat anjing peliharaan Allen itu, atau
anjing sialan lainnya masuk lagi ke tanah milikku,
inilah yang akan kuhadiahkan pada mereka!"
Mr. Carter mengangkat laras senapannya
dengan sikap mengancam.

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

38
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 3
UJIAN MENTAL

JARI Mr. Carter yang memegang picu nampak


menegang.
"Aku ini penembak jitu! Tembakanku belum
pernah meleset. Ada pertanyaan lagi?"
Jupiter menggeleng. Dipaksanya dirinya agar
tidak nampak gentar menghadapi moncong
senapan yang terarah ke mukanya.
"Tidak, Sir," katanya. "Maaf, jika kami meng-
ganggu Anda. Permisi, Sir."
Bibir laki-laki itu menipis.
"Aku baru benar-benar senang, apabila anjing-
anjing sialan itu tak pernah kulihat berkeliaran di
sini lagi. Sekarang pergi!"
Kata-kata itu diiringi moncong senapan yang
disodokkan ke depan. Jupiter dan kedua temannya
mundur pelan-pelan.
"Ayo, putar tubuh!" bentak Mr. Carter. "Aku tidak
ingin kalian menginjak-injak rumputku!"
Jupiter memandang kedua temannya, lalu
mengangkat bahu. Ketiga remaja itu berpaling
dengan perasaan kecut, membelakangi laki-laki
pemarah yang mengacung-acungkan senapan
berburu. Mereka berjalan dengan langkah pelan.

39
"Pelan, jangan lari," bisik Jupiter pada kedua
temannya.
Jantung ketiga remaja itu seperti terlompat,
ketika tiba-tiba terdengar bunyi nyaring di belakang
mereka!
"Tenang, Teman-teman," kata Jupiter, "itu
cuma Mr. Carter yang membanting pintu."
Ketiga remaja itu menoleh ke belakang.
Ternyata Jupiter benar! Tanpa menunggu lagi,
ketiga-tiganya langsung lari.
Mereka baru berhenti ketika separuh jalan sudah
dilewati. Mereka menoleh lagi. Mereka tidak dikejar.
Pintu depan rumah Mr. Carter tetap tertutup.
"Uhh," desah Bob, "nyaris saja!"
"Pakai senapan buru dengan mimis segede
gajah lagi," kata Pete. Ia memeriksa apakah
keningnya berkeringat atau tidak. "Sedetik lagi,
habislah tubuh kita dirobek-robek mimis!"
"Kemungkinan itu kecil," kata Jupiter. "Geren-
del pengokang tidak ditarik, jadi senapan itu belum
siap untuk ditembakkan."
Bob dan Pete memandangnya dengan mata
melotot.
"Dan itu sejak semula sudah kauketahui," kata
Pete dengan nada menuduh. "Pantas kau
tenang-tenang saja."
"Kurasa Mr. Carter memang sama sekali tidak
berniat menembak kita," kata Jupiter. "la cuma
ingin melampiaskan kemarahannya saja. Dan
kemarahannya itu tercetus, karena aku kebetulan

40
I

menyinggung satu hal yang tidak disukainya. Aku


bertanya tentang anjing!"
"Dan kini ada satu tambahan lagi yang bisa
memancing kemarahannya," kata Pete. "Ma-
nusia!"
Jupiter memonyongkan bibirnya sambil mere-
nung.
"Lain kali kita perlu lebih berhati-hati, jika menda-
tangi Mr. Carter," katanya.
Pete menggeleng.
"Kau keliru! Lain kali kau saja yang berhati-hati,
jika datang lagi ke tempat Mr. Carter. Aku tidak
perlu kaupikirkan, karena aku takkan ikut. Aku lupa
bilang, kulitku ini sangat peka! Tidak tahan kena
mimis — apalagi yang ditembakkan dari senapan
berburu!"
"Aku juga begitu," kata Bob. "Jika harus ditem-
bak, aku memilih ditembak dengan pistol air,
dengan jarak sepuluh langkah."
"Tapi mungkin juga Mr. Carter tadi sangat
pandai bersandiwara—jauh lebih pandai dari yang
kuanggap mungkin," kata Jupiter. "Mungkin saja ia
terlibat dalam kasus lenyapnya anjing-anjing itu."
"Masuk akal juga," kata Bob.
"Sekarang merupakan soal mudah bagi kita,
untuk membandingkan tanggapan Mr. Carter yang
sengit, dengan sikap orang yang kini akan kita
datangi."
"Apa lagi yang dibicarakannya sekarang?" tanya
Pete pada Bob.
Jupiter menuding ke seberang jalan.

41
"Ada dua tetangga, yang menurut Mr. Allen tadi
tidak memelihara anjing. Tetangga yang satu, Mr.
Carter, sudah kita datangi. Kini kita akan
mengajukan beberapa-pertanyaan pada tetangga
yang satu lagi, Arthur Shelby."
Jalan masuk dirintangi oleh pintu pagar setinggi
dada, yang terbuat dari logam. Anak-anak
memandang lewat pintu itu, ke arah rumah besar
yang letaknya agak ke belakang dalam tanah milik
Mr. Arthur Shelby.
"Nampaknya aman," kata Bob. "Aku tidak
melihat kubu meriam di sini."
Pete maju sedikit, untuk memperhatikan jende-
la-jendela di tingkat bawah dan atas.
"Kelihatannya tidak ada yang memperhatikan
kita," katanya setelah beberapa saat. "Jangan-
jangan Mr. Shelby sedang keluar."
"Itu bisa kita ketahui dengan mudah," kata
Jupiter sambil melangkah maju. "Kita tinggal
melewati gerbang ini, lalu —"
la tertegun, sementara mulutnya ternganga.
Teman-temannya ikut melongo. Soalnya, pintu
gerbang dari logam itu terbuka dengan sendiri,
sebelum Jupiter sempat menyentuhnya.
"Bagaimana caramu melakukannya, Jupe?"
tanya Pete. "Kau belajar sihir, ya?"
"Mungkin karena tertiup angin," kata Bob
menebak.
Jupiter menggeleng. Ditahannya kedua teman-
nya yang sudah hendak maju, sedang ia sendiri
mundur selangkah. Pintu gerbang dari logam

42
menutup kembali.
Kini Jupiter maju lagi selangkah. Pintu gerbang
terbuka.
"Keterangannya mudah saja," katanya. "Pintu
pagar ini bekerja dengan sistem penginderaan
elektronik. Kalian pasti sudah pernah mengenal-
nya. Di pelabuhan udara, toko-toko serba ada, dan
bangunan-bangunan modern lainnya."
Pete menatap pintu gerbang itu dengan sikap
ragu.
Ya, tentu saja," katanya. "Tapi baru sekali ini
kulihat di rumah pribadi seseorang."
"Setiap tanda kemajuan dan kemodernan
merupakan hal yang baik bagi kita," kata Jupiter
dengan riang. "Kenyataan bahwa Mr. Shelby
memakai alat modem begini sebagai perlengkap-
an pintu gerbangnya, bagi kita berarti bahwa orang
itu tidak percaya pada takhyul, atau terikat pada
hal-hal yang lazim. Orang seperti dialah yang perlu
kita datangi, teristimewa jika urusannya me-
nyangkut hal-hal yang sulit diterima akal sehat,
seperti ada-tidaknya naga di sekitar sini, misalnya."
la melangkah masuk, diikuti kedua temannya.
Pada satu sisi jalan yang menuju ke rumah,
nampak perangkat jam matahari yang besar dan
penuh hiasan. Letaknya di tengah-tengah halaman
berumput. Sedang di depan anak-anak ada
semacam terali tergantung, tempat sangkutan
tanaman bunga. Mereka berjalan di bawah terali itu.
Tahu-tahu terali itu jatuh.
Langkah ketiga remaja itu terhenti dengan

43
tiba-tiba, sehingga mereka saling berbenturan.
Bagian depan dari terali tergantung itu meluncur
dan jatuh di depan mereka. Sedang bagian
belakangnya meluncur dengan bunyi dentangan
lembut di belakang mereka, sehingga mereka tidak
bisa kembali.
Mereka terjebak dalam semacam kandang
besar, yang dihiasi bunga-bungaan.
"Mudah-mudahan ini cuma lelucon saja," kata
Jupiter. la membasahi bibirnya, pertanda bahwa ia
merasa gugup. "Ini seakan-akan gapura luncur
saja."
"Gapura luncur? Apa itu?" tanya Pete ketakutan.
"Itu biasanya berupa pagar besi berukuran besar
dan berat, yang tergantung di atas gerbang puri
atau kota berbenteng, dan diturunkan dengan
bantuan rantai untuk mencegah kemungkinan
orang masuk," kata Jupiter menjelaskan.
"Aku pernah melihat gambar-gambarnya dalam
buku-buku kuno di perpustakaan," kata Bob.
"Biasanya itu merupakan sistem pertahanan
terakhir, apabila parit yang mengelilingi puri sudah
dilewati."
"Tapi seingatku, kita sama sekali tidak melewati
parit," kata Pete mengomel.
Saat itu terdengar bunyi desisan lembut.
Tahu-tahu terali yang merintangi jalan terangkat
lagi, kembali ke posisi semula di atas kepala
mereka.
Ketiga remaja itu berpandang-pandangan.
"Kelihatannya Mr. Arthur Shelby ini suka

44
berkelakar," kata Jupiter dengarl nada lega. "Yuk
— kita terus."
la melangkah maju. Tapi Pete cepat-cepat
menyambar lengannya.
"Arahmu keliru, Jupe," katanya. "Mungkin
orang di puri ini tidak menyukai kedatangan kita."
Jupiter menggeleng, sambil tersenyum.
"Mula-mula pintu gerbang yang terbuka dan
tertutup secara otomatik. Lalu terali tempat bunga
yang dikendalikan secara elektronik. Mr. Shelby ini
kelihatannya menggemari peralatan yang berbau
ilmiah. Sayang rasanya, jika orang seperti itu tidak
kita jumpai."
Teman-temannya mengikuti dengan langkah
segan, sementara Jupiter menghampiri pintu
depan rumah. Sambil tertawa nyengir ditekannya
tombol bel.
"Uuhh!" teriaknya sambil meloncat mundur.
Tangannya dikibas-kibaskan. "Tombol bel itu dialiri
arus listrik. Aku tersengat!"
"Nah — sekarang aku sudah benar-benar bosan
mengalami segala macam lelucon Mr. Shelby ini,"
kata Pete tandas. "Kuusulkan agar pembicaraan
kita dengan badut itu kita batalkan saja."
"Aku sependapat dengan Pete," kata Bob. "Aku
berperasaan bahwa Mr. Shelby secara tidak
langsung hendak mengatakan bahwa ia tidak
menginginkan kedatangan kita kemari."
"Kurasa bukan begitu," kata Jupiter. "Menurut-
ku, kita ini diuji olehnya. Kita dibuatnya melewati
tahap-tahap ujian, yang diperkirakan akan me-

45
nyebabkan kita gentar, lalu cepat-cepat pergi dari
sini."
Saat itu terdengar bunyi berdetik pelan. Pintu
depan terbuka sendiri, seakan-akan sebagai
jawaban atas penalaran Jupiter.
"Hebat," kata Bob dengan kagum. "Seluruh
tempat ini rupanya dipasangi alat-alat elektronik
olehnya."
Dengan hati-hati ketiga remaja itu melangkahi
ambang pintu. Ruangan sebelah dalam gelap dan
sunyi.
Jupiter mendeham-deham sebentar, seperti
hendak mengatur suara.
"Selamat siang, Mr. Shelby. Kami ini Trio
Detektif, dan kami datang atas saran tetangga
Anda di sebelah, Mr. Allen; Bolehkah kami masuk,
Sir?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu.
Kemudian terdengar kepakan pelan, tapi makin
lama makin jelas. Dan semakin mendekat
Kedengarannya seperti datang dari tempat tinggi,
dalam ruangan remang-remang itu. Tiba-tiba
ketiga remaja itu terkesiap. Suatu wujud gelap dan
besar meluncur laju ke arah mereka, diiringi bunyi
mendesing.
Seekor burung besar dan hitam, yang nampak-
nya seperti elang, menyambar ke arah mereka
sambil memekik marah. Paruhnya yang runcing
dingangakan, siap untuk mematuk. Cakarnya yang
mengerikan terjulur ke depan, sementara matanya
memancarkan sinar marah!

46
47
Bab 4
ULURAN TANGAN
YANG MENGAGETKAN

"TIARAP!" teriak Pete.


Ketiga remaja itu menjatuhkan diri ke lantai.
Sambil memperdengarkan pekikan meleng-
king, burung itu menghunjam ke arah mereka,
dengan cakar siap mencengkeram.
Tapi geraknya semakin melambat, dan akhirnya
mengambang tak sampai setengah meter di atas
kepala anak-anak.
Anehnya, burung itu tetap berada di satu tempat
saja.
Pekikannya yang melengking tidak terdengar
lagi.
Jupiter yang selama itu menutupi muka dengan
tangan guna melindungi matanya, kini mengintip
dengan hati-hati dari balik celah di antara
jari-jarinya. Setelah itu ia cepat-cepat duduk. Air
mukanya berubah, dari takut menjadi kesal
bercampur malu.
"Kita tidak perlu takut," katanya, "ternyata cuma
burung palsu."
"Apa?" seru Pete. Ia mendongak, dengan sikap
tak percaya. Bob melakukan hal serupa.
Burung hitam itu tergelantung tanpa bergerak

48
pada seutas kawat halus dari tembaga. Matanya
yang kuning menatap pudar ke arah mereka.
"Mainan," kata Jupiter. la menjulurkan tangan,
menyentuh burung itu. "Kelihatannya terbuat dari
plastik dan kawat kasa."
"Uhh!" dengus Pete sebal.
Dalam ruangan yang gelap itu terdengar suara
tertawa pelan. Bunyinya serak. Tiba-tiba ruangan
menjadi terang, karena nyala lampu-lampu di atas
kepala yang saat itu dihidupkan.
Seorang laki-laki bertubuh kurus jangkung
berdiri sambil memandang ketiga remaja itu. la
memakai baju montir berwarna gelap. Rambutnya
yang coklat kemerahan dipotong pendek.
"Selamat datang di Puri Misteri," kata orang itu
dengan suara berat dan dalam.
Setelah itu ia tertawa, sampai terbungkuk-
bungkuk. Gelaknya diselingi batuk-batuk.
"Perasaan humornya benar-benar hebat," kata
Pete menggumam.
Laki-laki jangkung berambut jagung itu mene-
gakkan tubuhnya lambat-lambat. Matanya yang
biru nampak cerah dan lembab.
"Aku Arthur Shelby. Lebih baik kuambil saja
burungku, sebelum kalian dipatuk olehnya."
Anak-anak bergegas bangun. Laki-laki itu
mendekat. la membungkuk, lalu melepaskan
kawat-kawat pada mana burung mainan itu
tergantung. Jupiter mendongak, menatap ke arah
langit-langit ruangan. Ia tersenyum.

49
"Burung itu diluncurkan pada rel yang terpa
sang di atas," katanya. "Persis seperti kereta
mainan listrik."
Bob dan Pete ikut memandang ke atas,
memperhatikan alur rel yang melintasi langit-
langit.
"Aku lebih suka kereta-keretaan listrik," kata
Pete, "karena tidak menyebabkan aku ketakutan."
Mr. Shelby tersenyum lebar.
"Kalian tertipu, ya? Maaf — tapi ini memang
kegemaranku, iseng-iseng membuat alat-alat
aneh." la melambaikan tangannya ke arah ruangan
yang ada di belakangnya. Anak-anak melihat
ruangan bengkel yang besar, penuh dengan
perkakas serta potongan-potongan kayu dan
kawat.
Mr. Shelby meletakkan burung mainannya di
atas bangku kerja. Suaranya sekarang sudah biasa.
Tidak lagi berat dan dalam. Tapi tetap serak.
"Ada keperluan apa kalian kemari?" tanyanya.
Jupiter menyodorkan sepucuk kartu nama Trio
Detektif padanya.
"Ini mungkin bisa menjelaskannya, Sir," kata
Jupiter. "Kegemaran kami mengusut misteri."
Laki-laki berambut merah itu meneliti kartu
nama yang disodorkan. la tidak mengatakan
apa-apa, tentang ketiga tanda tanya yang tertera di
situ. Sambil tersenyum dikembalikannya kartu itu.
"Kurasa misteri yang ada di sekitar sini pasti
anjing-anjing yang hilang itu, ya?"

50
"Jika kami sudah berhasil mengumpulkan
segala fakta mengenai kejadian-kejadian itu,
mungkin semua itu saling bertalian," kata Jupiter
dengan lambat "Kami dimintai bantuan oleh Mr.
Allen, untuk menemukan anjingnya yang hilang.
Tapi saya mempunyai firasat, kejadian itu ada
sangkut pautnya dengan hilangnya anjing-anjing
lain di Seaside sini."
"Itu mungkin saja," kata Mr. Shelby. "Aku boleh
dibilang tak pernah berurusan dengan para
tetangga — tapi aku mendengar tentang kejadian
itu lewat warta berita. Allen bepergian selama
beberapa waktu, dan aku sama sekali tidak tahu
bahwa ia sudah kembali, sampai kudengar bahwa
Red Rover juga lenyap. Mudah-mudahan kalian
berhasil menemukannya kembali."
"Itu memang tugas kami," kata Jupiter. "Tapi
untuk itu kami memerlukan informasi. Menurut
saya ada gunanya bercakap-cakap dengan bebe-
rapa tetangga Mr. Allen. Kami baru saja ke rumah
seberang, mendatangi Mr. Carter. Anda kenal
orang itu?"
Shelby tertawa.
"Siapa yang tidak kenal, di sekitar sini? Biasanya
kan dikatakan, orang berambut merah lekas naik
darah. Aku berambut merah, tapi yang cepat
marah malah Carter. Tentunya ia memamerkan
senapan burunya pada kalian tadi, ya?"
Jupiter mengangkat bahu, dengan sikap tak
peduli.

51
"la mencoba menakut-nakuti kami. Untungnya
saat ia mengancam, gerendel senapannya tidak
terkokang. Katanya tadi, anjing-anjing dari daerah
sekitar sini dengan seenaknya saja memasuki
pekarangannya. Ia mengatakan dengan tandas,
bahwa ia benci pada anjing."
Arthur Shelby tertawa nyengir.
"Apa sih — yang tidak dibenci olehnya?"
katanya.
"Anda menakut-nakuti orang dengan cara lain,"
sela Pete dengan tiba-tiba. "Gntuk apa segala
keisengan yang Anda pasang di sekeliling rumah
Anda ini?"
Arthur Shelby melirik Pete dengan pandangan
geli.
"Aku sudah menunggu-nunggu pertanyaan itu.
Aku tidak membenci orang. Aku benci jika
diganggu. Karenanya aku mereka-reka beberapa
cara guna menjauhkan penjual berkeliling serta
pengganggu-pengganggu lainnya, yang suka
muncul setiap hari. Kau tadi ketakutan, ya?"
"Bukan takut lagi namanya," gumam Pete.
Sekali lagi Shelby tertawa.
"Aku berpendidikan di bidang permesinan. Aku
ini pencipta amatiran. Aku paling suka membuat
alat-alat seperti itu. Tapi tidak ada ciptaanku yang
bisa menyebabkan orang cedera."
la memandang arlojinya sebentar.
"Nah — apa yang bisa kulakukan untuk
membantu kalian?"

52
"Tentang anjing-anjing yang lenyap itu," kata
Jupiter, "barangkali Anda tahu sesuatu, yang
mungkin ada gunanya bagi kami?"
Penghuni rumah itu menggeleng.
"Wah, kalau tentang itu, aku cuma tahu bahwa
mereka dilaporkan hilang. Lebih baik kalian
berbicara saja dengan para pemilik anjing-anjing
itu."
"Satu-satunya dengan siapa kami sudah berbi-
cara, hanya Mr. Allen di sebelah ini saja," kata
Jupiter. "Ada petunjuk yang diberikannya — tapi
sulit bisa diterima."
"O ya?" Alis orang berambut merah itu naik
sesenti. "Apa petunjuknya itu?"
Jupiter memonyongkan bibir, sementara ke-
ningnya berkerut.
"Sulitnya, saya tidak tahu apakah saya boleh
menceritakannya pada Anda."
"Kenapa tidak boleh?" kata Shelby mendesak.
"Karena saya rasa Mr. Allen mungkin akan
merasa tidak enak, apabila hal itu tersebar luas,"
kata Jupiter. "Maaf, Mr. Shelby."
Laki-laki jangkung itu menunjukkan sikap tak
peduli. la mengangkat bahu.
"Kurasa dalam urusan ini, kau harus bertindak
seperti pengacara hukum. Kau harus melindungi
kepercayaan klien yang telah dilimpahkan pada-
mu. Begitu, ya?"
Jupiter mengangguk.
"Betul! Tapi walau begitu, aneh — Anda tinggal
bertetangga dengan Mr. Allen. Rasanya tidak

53
mungkin ia melihat sesuatu yang, misterius di
sekitar sini, tapi Anda tidak melihatnya."
Mr. Shelby tertawa nyengir.
"Kau ini nampaknya pandai berbicara," katanya
pada Jupiter. "Kurasa, jika kau mau, kau
sebenarnya bisa mengatakan maksudmu dengan
lebih jelas."
"Ah, sudahlah!" kata Pete, yang sudah tidak
sabar lagi. "Yang tidak ingin dikatakan oleh Jupe ini
ialah bahwa Mr. Allen waktu itu melihat seekor naga
muncul dari dalam laut."
"Itu sebetulnya tidak boleh kauceritakan, Pete,"
kecam Jupiter. "Kita tidak boleh membeberkan
apa yang dipercayakan klien pada kita."
"Sorry," kata Pete menggumam. "Habis —
mengingatnya saja, aku sudah langsung gugup
lagi."
"Naga?" kata Mr. Shelby. "Jadi itu yang menurut
Allen dilihat olehnya?"
Jupiter kelihatan ragu sejenak. Kemudian ia
mengangkat bahu.
"Yah, apa boleh buat — karena sudah terlanjur
disebut! Saya rasa ia khawatir orang-orang akan
menyangka pikirannya sudah tidak waras lagi, jika
ia mengatakan melihat naga. Tapi menurut
katanya, itulah yang dilihatnya waktu itu."
"Mustahil!" kata Mr. Shelby sambil menggeleng-
geleng.
"Katanya, ia juga mendengar suaranya," sela
Bob. "Sewaktu makhluk itu masuk ke dalam gua
yang ada di bawah rumahnya."

54
Jupiter menggembungkan pipinya.
"Ternyata kami ini tidak bisa menyimpan
rahasia, Mr. Shelby. Tapi jika ternyata bahwa ada
naga — atau makhluk berbahaya lain seperti itu di
bawah sana, saya rasa Anda juga perlu mengeta-
huinya. Maksud saya, jika Anda punya kebiasaan,
sekali-sekali turun ke sana."
"Terima kasih atas peringatan kalian," kata Mr.
Shelby. "Tapi aku jarang sekali turun ke pantai. Aku
tidak begitu gemar berenang di laut Sedang
mengenai liang-liang gua yang ada di bawah,
sudah sejak lama aku tahu bahwa tempat-tempat
itu lebih baik jangan dimasuki. Berbahaya!"
"Kenapa Anda katakan berbahaya?" tanya Bob.
Mr. Shelby tersenyum.
"Liang-liang itu sudah berbahaya, jauh sebelum
ada desas-desus bahwa di dalamnya ada naga. Di
sepanjang pesisir sini sering terjadi tanah longsor.
Orang yang terjebak, bisa terkubur hidup-hidup."
"Saya dengar, gua-gua itu dulu dipakai oleh
penyelundup," kata Jupiter.
"Betul — tapi itu dulu," kata Shelby sambil
mengangguk. "Sedang mengenai tanah longsor,
cobalah berjalan-jalan menyusur tubir tebing.
Nanti akan nampak bagaimana tanah di daerah
sini merosot ke bawah. Kadang-kadang ada rumah
yang ikut terseret"
Orang itu menatap anak-anak. Matanya ber-
sinar-sinar.
"Aku tahu, bagaimana perasaan seorang
remaja. Kalau aku ini seumur kalian, dan

55
mendengar desas-desus tentang adanya seekor
naga, kurasa aku pun ingin turun ke bawah untuk
melihat dengan mata sendiri. Tapi jika kalian
melakukannya, jangan lupa bahwa liang-Iiang gua
itu merupakan tempat yang berbahaya."
"Terima kasih, Mr. Shelby," kata Jupiter. "Jadi
menurut pendapat Anda, cerita Mr. Allen tentang
naga itu tidak benar?"
Shelby tersenyum.
"Pendapat kalian sendiri bagaimana?"
"Yah —" Jupiter membentangkan kedua
lengannya.
Sekali lagi Shelby tertawa.
"Yah," kata Jupiter, "terima kasih atas kesediaan
Anda bercakap-cakap dengan kami. Mungkin
kami nanti akan bisa mengetahui dengan tepat,
apa sebetulnya yang dilihat oleh Mr. Allen."
"Mudah-mudahan saja," kata Mr. Shelby. "Aku
tahu, dulu ketika bintangnya masih cemerlang,
Allen banyak membuat film dengan tema horor.
Mungkin ada teman atau musuhnya, yang ingin
berbuat iseng terhadapnya."
"Kemungkinan itu ada saja," kata Jupiter
mengakui.
"Untuk berbuat iseng, orang kadang-kadang
bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Sayang
aku tidak bisa memberi keterangan yang berguna
bagi kalian. Marilah — kuantarkan kalian ke luar."
Mr. Shelby berjalan mendului ke pintu, lalu
membukakannya. Anak-anak melangkah, hendak

56
ke luar. Mr. Shelby menahan Jupiter, lalu
mengajak bersalaman.
"Semoga kalian berhasil, Nak," katanya.
"Terima kasih, Sir," balas Jupiter. Disambutnya
tangan Mr. Shelby yang diulurkan ke arahnya.
Pintu tertutup dengan pelan, meninggalkan
Jupiter yang tertegun di luar. Mulutnya ternganga,
sementara matanya terbelalak memandang ke
bawah. la bergidik.
Jupiter menggenggam lengan Mr. Shelby —
sedang orang itu sudah masuk ke dalam rumah.
Dan pintu sudah tertutup!

57
Bab 5
BAHAYA DI KAKI TEBING

"UHH!" Jupiter terkesiap, menatap tangan Mr.


Shelby. Kelihatannya seperti tangan yang benar.
Rasanya seperti benar-benar tangan manusia!
Jupiter, yang biasanya selalu berkepala dingin,
sekali ini tidak tahan lagi. Cepat-cepat dilepaskan-
nya tangan itu, sehingga terjatuh.
Kedua temannya berpaling dengan cepat,
karena mendengar dengusan Jupiter.
"Iiih! Apa itu?" seru Pete kaget.
"Astaga!" kata Bob sambil mendekat. "Itu kan
tangan?!"
Jupiter sudah agak pulih dari kekagetannya.
"l-tu ta-tangan M-mr. Shelby. Tahu-tahu terlepas,
ketika kami berjabatan tangan!"
"Bagaimana?" tanya Pete seakan tidak me-
ngerti.
"Terlepas," ulang Jupiter, yang masih agak
terpana. "Kalau soal bagaimana, entah!"
Saat itu terdengar suara tertawa menggema di
dalam rumah, disusul bunyi seperti tercekik,
terbatuk-batuk.
Wajah Jupiter memerah.
"Aku yang salah," katanya pada kedua rekannya.
"Aku lupa, Mr. Shelby kan orang yang suka iseng."

58
Tangan yang tergeletak dipungutnya dengan
hati-hati, lalu diacungkannya kearah Bob dan Pete.
Pete menggeleng. Akhirnya Bob yang menerima.
"Kelihatan seperti tangan yang sebenarnya,"
kata Bob. "Barangkali Mr. Shelby memakai tangan
palsu, dan tangan itu secara tak sengaja terlepas
ketika kalian bersalaman tadi."
Jupiter menggeleng.
"Kau kan baru saja mendengarnya tertawa di
dalam," katanya. "Tidak — ini pasti keisengannya
lagi. Aneh — caranya menakut-nakuti orang."
"Ya — sangat kocak!" kata Pete sengit. "Kita
cepat-cepat saja pergi dari sini, sebelum timbul lagi
keisengannya yang berikut."
Bob mencampakkan tangan palsu yang masih
dipegangnya. Ketiga remaja itu berpaling, lalu
cepat-cepat lari ke arah jalan.
"Awas — jebakan terali!" seru Pete meng-
ingatkan.
Mereka lari dengan gerak mengular, untuk
mengelakkan jebakan. Mereka baru melambatkan
langkah, ketika sudah menghampiri pintu pagar
yang tertutup.
Pintu itu terbuka tanpa bunyi, seperti yang terjadi
sewaktu mereka masuk. Trio Detektif bergegas
melewatinya.
"Setidak-tidaknya ia sportif," kata Bob, sambil
berlari bersama teman-temannya menyusur jalan.
"Pintu pagarnya tidak disuruh menggigit kita
sewaktu keluar."

59
"Jangan berhenti," gumam Pete. "Nanti saja aku
berterima kasih padanya, jika sudah cukup jauh."
Akhirnya mereka berhenti berlari, karena
kehabisan napas.
"Apa kerja kita sekarang?" tanya Bob. "Menung-
gu Hans datang menjemput?"
"Kalau aku boleh mengusulkan, kita lari saja
terus sampai ke Rocky Beach," kata Pete. "Apalah
arti jarak dua puluh mil, jika diingat betapa kita akan
jauh lebih aman jika sudah ada di sana?"
Jupiter menarik-narik bibir bawahnya. la melirik
arlojinya.
"Kita masih punya waktu sedikit. Bagaimana jika
kita melihat-lihat sebentar ke liang gua yang ada di
bawah, sebelum pulang?"
Pete memandang ke arah tubir tebing.
"Maksudmu, yang dikatakan dimasuki naga itu?
Kuberikan jawabanku dengan dua patah kata.
Tidak mau!"
Jupiter mengangguk.
"Kalau kau, bagaimana, Bob?"
"Sama seperti Pete," kata Bob. "Disamping itu,
kau kan dengar sendiri tadi kata Mr. Shelby, bahwa
liang-liang di bawah itu sangat berbahaya.
Entahlah kalau naga, tapi aku sendiri pasti tidak
senang kalau tertimbun tanah longsor."
Sementara itu Jupiter sudah berjalan sampai ke
tubir tebing. Dijamahnya pegangan tangga tua
yang sudah dimakan cuaca. Tangga itu sangat
terjal, menyusur dinding tebing.

60
"Kalau aku, aku menyarankan kita melihat
sebentar ke bawah," katanya. "Jadi kalau pulang
nanti, sudah ada gambaran yang lebih jelas tentang
apa yang kita hadapi."
Tanpa menunggu jawaban lagi, ia langsung
menuruni tangga. Dengan segera ia sudah lenyap
dari penglihatan kawan-kawannya.
Pete menatap Bob dengan sikap putus asa.
"Kenapa ia selalu saja bisa mengalahkan kita?
Padahal kan satu lawan dua!"
Bob mengangkat bahu.
"la lebih keras kepala, sih! Mungkin, kita berdua
ini lebih tahu diri."
"Yah — tapi itu tidak ada gunanya bagi kita,"
kata Pete mengomel. "Yuk — kita susul dia,
sebelum Mr. Shelby meluncurkan benda terbang
lagi untuk mengejar kita. Atau Mr. Carter yang
diseberang jalan tiba-tiba merasa perlu melatih
kejituannya menembak."
Setelah itu Pete memegang kayu sandaran
tangga, lalu mulai melangkah turun. Bob me-
nyusulnya. Jenjang-jenjang yang dilewati sudah
tua dan sempit. Dan sangat terjal! Pete dan Bob
yang lari menuruninya, mula-mula masih berpe-
gangan pada sandaran. Tapi lari mereka semakin
cepat. Keberanian pun bertambah. Akhirnya
sandaran hanya ditepuk-tepuk saja, sambil lewat.
Jupiter menangkap bunyi langkah berlari-lari di
belakangnya. Ia menoleh sebentar. la tertawa
nyengir, ketika melihat apa yang terjadi. Perlomba-
an lari ke bawah sudah dimulai!

61
Jupiter tidak selincah kedua temannya. Tapi jika
mau, ia bisa juga berlari. Langkahnya dipercepat,
sementara ia melonjak dari jenjang ke jenjang.
Jaraknya dari dasar tebing tinggal sekitar lima
meter lagi — tahu-tahu jenjang yang dipijaknya
patah! Jupiter terdorong terus ke bawah, karena
kecepatannya berlari. Jenjang berikut yang dipijak
berderak, lalu patah pula. Jupiter berusaha
menahan gerak tubuhnya. la menyambar kayu
sandaran.
Kayu sandaran itu ternyata sudah lapuk,
karena langsung terlepas. Jupiter berteriak, seren-
tak dengan gerak tubuhnya yang terpental ke
samping.
Bob dan Pete yang sudah berhasil menyusui
sampai dekat sekali, mendengar teriakan teman
mereka itu — tapi sudah terlambat! Seluruh
konstruksi tangga di sebelah bawah ambruk,
bagaikan rumah-rumahan yang dibangun dari
kartu-kartu. Bagian sandaran sebelah atas tempat
yang disambar oleh Jupiter tadi merupakan
satu-satunya kemungkinan bagi keduanya untuk
menyelamatkan diri. Mereka menyambar tempat
sandaran itu dengan perasaan panik.
Tapi kayu pada bagian itu juga sudah lapuk,
sehingga langsung terlepas.
Kedua remaja itu tidak berdaya lagi. Mereka
tersungkur ke bawah, disusul potongan-potongan
papan yang berjatuhan.
Dalam keadaan jatuh, otak Jupiter masih

62
sempat bekerja. Ada dua pikiran yang merong-
rongnya, sekejap sebelum ia terbanting di bawah.
Apakah yang dialaminya itu kecelakaan biasa?
Atau mungkinkah itu merupakan perbuatan
yang disengaja, agar Trio Detektif tidak bisa
melakukan pengusutan terhadap misteri naga di
pantai?
Waktu yang tersisa hanya cukup untuk memikir-
kan kedua hal itu.
la terbanting dengan keras, disusul tubuh dan
papan yang berjatuhan dekat kepalanya.
Setelah itu segala-galanya menjadi gelap!

63
Bab 6
TERJEBAK !

"JUPE! Jupe! Kau tidak apa-apa, Jupe?"


Jupiter terkejap-kejap. Samar-samar dilihatnya
muka kedua temannya, yang sedang memperhati-
kan dirinya.
Jupiter mendengus, lalu duduk. Dibersihkannya
dulu mukanya yang penuh pasir, sebelum
menjawab.
"Tentu saja aku tidak apa-apa," katanya. "Tapi
itu bukan berarti bahwa aku tertolong oleh
kenyataan bahwa kalian berdua jatuh menimpa
aku. Di samping napasku terdesak ke luar, mukaku
juga terbenam dalam pasir karenanya."
"la tidak apa-apa," kata Pete sambil nyengir. "la
masih bisa mengoceh."
"Ya, aku mendengamya," kata Bob. "Dan
seperti biasa, ia berbuat seolah-olah kejadian tadi
itu karena kesalahan kita. Padahal tubuhnya yang
berat itulah yang menyebabkan anak tangga dan
sandaran patah. Lalu apa yang harus kita lakukan
tadi? Melayang, supaya ia jangan sampai ter-
tindih?"
Jupiter bangkit dengan pelan. Ditendanginya
patahan-patahan papan yang berserakan di
sekelilingnya. Salah-satu patahan itu dipungutnya,

64
lalu diteliti. la membungkuk dan memungut
sepotong lagi, lalu membandingkannya dengan
patahan yang pertama. la mengangguk, seakan-
akan puas.
"Pemyataanmu itu tepat, Bob," kata Jupiter.
"Berat badankulah yang menyebabkan anak
tangga patah. Tapi aku cenderung menduga,
patahnya bukan karena itu saja. Jenjang-jenjang ini
kelihatannya bekas diapa-apakan sebelumnya,
sehingga langsung patah jika ditekan sedikit saja.
Kedua patahan papan itu disodorkannya pada
Bob dan Pete.
"Coba kalian perhatikan baik-baik! Sisi atas
papan-papan itu pecah. Kalian lihat bahwa
pecahannya tidak teratur? Sedang sisi bawahnya
nampak lebih rata pecahnya. Mampaknya seperti
sudah digergaji sebagian, sebelum kita menuruni-
nya tadi."
Bob dan Pete memperhatikan kedua patahan itu
dengan seksama.
"Mungkin kau benar," kata Bob setelah
beberapa saat. "Tapi siapa yang tahu bahwa kita
akan turun?"
"Ya, betul," kata Pete. "Itu kan gagasanmu
sendiri, Jupe. Jika kita tadi tidak menuruni tangga,
kecelakaan itu bisa dialami siapa saja di daerah sini.
Selama ini kita baru bertemu dengan Mr. Carter,
Mr. Allen, dan Mr. Shelby. Tapi pasti masih banyak
lagi yang biasa turun-naik lewat tangga tadi.'
la menuding ke salah satu tempat di pantai.

65
"Tangga yang berikut, lumayan juga jauhnya.
Sedang tangga yang lain, masih lebih jauh lagi.
Jadi pasti cukup banyak yang biasa melewati
tangga yang ini."
Jupiter mendesah. Patahan-patahan papan
yang dipegangnya dicampakkan lagi ke pasir.
"Kita juga tidak memiliki perlengkapan untuk
memeriksa papan-papan ini, untuk memastikan
apakah memang digergaji atau tidak. Mungkin
juga aku keliru menarik kesimpulan."
Pete dan Bob berpandang-pandangan. Jarang
sekali Jupiter mau mengaku salah perkiraan,
tentang apa saja.
Jupiter merapatkan bibirnya.
"Walau begitu kita tidak boleh membiarkan
perhatian kita terpaling, karena kecelakaan di
tangga tadi," katanya. "Tujuan kita turun tadi untuk
memeriksa bidang pantai yang di sini serta liang
gua, untuk mencari tanda-tanda tentang adanya
naga. Kita selesaikan urusan itu sekarang."
Setelah itu Jupiter berjalan menuju ke tepi air,
tanpa menoleh lagi.
"Pertama-tama kita mencari jejak dari tepi air,
menuju ke liang gua. Makhluk yang menurut Mr.
Allen dilihat olehnya, menuju ke arah sana."
Bob dan Pete menggabungkan diri. Bertiga
mereka melangkah dengan lambat, menelusuri
tepi air. Pantai yang luas itu kelihatannya lengang
saat itu. Yang ada hanya beberapa ekor burung
camar saja, yang terbang berkeliling di atas kepala,
sambil memekik-mekik dengan suara parau.

66
Pete menuding ke arah seekor camar yang baru
saja turun ke pasir.
"Mungkin lebih baik jika kita tanyakan pada
seekor di antara mereka, apakah belakangan ini
pernah melihat naga di sini. Dengan begitu kita
tidak perlu repot-repot lagi."
"Bagus juga gagasanmu itu," kata Bob. "Dan
jika burung-burung itu tidak mau bicara, masih ada
kapal tunda dengan perlengkapan pengangkat
kapal yang ada di sana itu."
la menuding ke tengah laut, ke arah sebuah
kapal berpotongan buntek yang menggandeng
perlengkapan pengangkat kapal. Posisinya sekitar
satu mil di depan pantai.
"Mereka kelihatannya tidak sedang berlayar.
Mungkin mereka pun sedang berburu naga."
Jupiter memandang ke arah kapal itu, lalu
menggeleng.
"Apa yang ada sejauh itu, tidak perlu kita
pikirkan. Kita hanya perlu meneliti garis pantai di
sekitar sini saja."
Pandangannya bergerak, dari liang gua yang
nampak di kejauhan, sampai ke tepi air.
"Di sekitar sinilah kita seharusnya menemukan
jejak. Lebih baik jika melakukannya secara
berpencar."
Ketiga remaja itu memencar, lalu berjalan
lambat-lambat menyusur pantai. Pasir yang
terhampar diteliti dengan cermat.
"Aku cuma melihat rumput laut bertumpuk-
tumpuk," kata Bob.

67
"Aku juga," kata Pete, "ditambah dengan
kerang, serta kayu hanyut."
Akhirnya Bob menggeleng.
"Sama sekali tidak ada jejak di sini, Jupe,"
katanya. "Jangan-jangan sudah terhapus air, saat
laut pasang naik."
Jupiter menarik-narik bibir bawahnya.
"Kemungkinan itu bisa saja — di sini, dekat air,"
katanya kemudian. "Tapi lebih ke atas lagi masih
ada bidang pantai yang cukup lebar, sampai ke
mulut gua. Yuk — kita memeriksa ke sana."
"Apakah itu harus kita lakukan?" tanya Pete.
"Bagaimana jika naga itu ada di dalam gua? Kalau
begitu, apa yang harus kita lakukan? Kita lawan dia,
dengan kedua belah tangan kita saja?"
"Kurasa kita takkan perlu berkelahi melawan
apa pun juga, Pete," kata Jupiter. "Mulut gua akan
kita dekati dengan sangat berhati-hati. Dan kita
takkan masuk ke dalam, selama kita tidak bisa
memastikan bahwa hal itu tidak berbahaya."
Pete merengut. Kemudian ia membungkuk,
untuk memungut sepotong kayu hanyut yang
lumayan panjangnya.
"Yah — aku tidak tahu apakah ini akan ada
gunanya untuk membela diri nanti," katanya. "Tapi
aku merasa lebih aman, jika menggenggam
tongkat sebagai senjata."
Bob mengambil sepotong kayu lain, yang
kelihatannya merupakan bekas dayung yang
sudah patah.

68
"Katamu itu memang tepat, Pete," katanya.
"Aku ingat, pernah melihat gambar yang menam-
pilkan adegan pertarungan antara St. George
dengan naga. Jagoan hikayat kuno itu juga tidak
mempergunakan kayu hanyut sebagai senjata. St.
George itu orang pintar. la menggenggam pedang
panjang."
Bob mengayun-ayunkan gagang dayung yang
sudah patah, lalu melirik ke arah Jupiter.
"Kau tidak ingin membawa senjata pula, Jupe?
Kalau mau, bisa kita ambil sepotong sandaran
tangga yang patah tadi. Kulihat beberapa di
antaranya masih ada paku-pakunya. Asyik, pan-
jang-panjang."
Jupiter mengangkat bahu sambil tersenyum.
"Kurasa memang tidak ada salahnya memper-
senjatai diri."
la membungkuk, lalu memungut sepotong
papan panjang dan lembab dari tengah sampah
yang berserakan di sepanjang pantai. Di sandang-
nya papan itu, sambil menoleh ke arah kedua
temannya.
Bob dan Pete tersenyum hambar. Dengan air
muka teguh tapi berkeringat dingin, ketiga remaja
itu melangkah maju dengan hati-hati, menghampiri
mulut gua yang gelap di kaki tebing.
Mereka melintasi beting pasir rendah yang
terdapat di dekat batas air, sambil mengamat-
amati setiap jengkai yang mereka lewati. Tiba-tiba
Jupiter berhenti berjalan. Matanya bersinar.
"Ini ada sesuatu," katanya pelan.

69
Pete dan Bob memandang ke bawah. Pada pasir
yang lembab dan longgar nampak jelas semacam
alur memanjang.
"Wah! Naga ini rupanya dari jenis modern," kata
Bob setelah beberapa saat memperhatikan.
"Kelihatannya berjalan dengan roda."
Jupiter mengangguk. la memandang ke kanan
dan ke kiri, menyusuri garis pantai.
"Tidak ada apa-apa di sini. Tapi alur ini
kelihatannya seperti jejak salah satu kendaraan.
Mungkin mobil pantai. Penjaga keseiamatan di
pantai kadang-kadang memakai jip atau mobil
pantai untuk berpatroli di sepanjang daerah pantai
tempat ini."
"Itu mungkin saja," kata Bob. "Tapi jika sedang
berpatroli, alur jejak ini mestinya kan memanjang
ke utara dan selatan — sesuai dengan garis pantai.
Tapi jejak ini mengarah ke mulut gua."
"Benar juga katamu, Bob," kata Jupiter. la
berlutut, untuk meneliti alur cekung itu.
Bob memandang ke belakang, ke arah laut.
Keningnya berkerut.
"Aneh," katanya. "Jika jejak ini kelihatan di sini,
kenapa di dekat air tadi tidak?"
"Kurasa mungkin karena terhapus gerak air
pasang yang deras serta ombak yang memecah,"
kata Jupiter.
Pete meringis.
"Kurasa mata Mr. Allen yang sudah tua itu tidak
bisa terlalu diandalkan. Yang dilihatnya waktu itu

70
mungkin bukan naga, tapi jip — atau se-
bangsanya."
"Mungkin juga," kata Jupiter. "Pokoknya, itu
akan kita ketahui jika sudah sampai di gua."
Tapi ketika tinggal sekitar sepuluh meter dari
mulut gua, jejak berupa alur memanjang itu
tahu-tahu lenyap.
Ketiga remaja itu berpandang-pandangan.
"lni ada misteri lagi," kata Pete.
Mereka sampai di mulut gua. Kelihatannya tidak
ada apa-apa di dalamnya.
"Mulut gua ini sangat lebar. Bis pun hampir-
hampir bisa masuk ke dalamnya," kata Bob. "Aku
masuk saja sebentar, untuk melihat sampai
seberapa jauh masuknya ke perut tebing."
Jupiter menjenguk ke dalam.
"Baiklah, Bob. Tapi jangan terlalu jauh. Aku dan
Pete akan menyusul dengan segera, begitu kami
sudah meneliti ambang di sini, kalau-kalau ada
salah satu petunjuk."
Bob melangkah masuk ke dalam gua, sambil
mengacungkan senjatanya yang menyerupai
tombak.
"Kenapa ia tahu-tahu menjadi pemberani?"
tanya Pete.
Jupiter tersenyum.
"Begitu kita melihat bahwa jejak tadi berasal
dari salah satu kendaraan buatan tangan manusia,
dan bukan makhluk ajaib seperti naga, kurasa kita
semua langsung seperti mendapat suntikan
keberanian."

71
la menelengkan kepala, seperti sedang mende-
ngarkan.
"Mungkin bisa kita duga betapa luas gua di
dalam, dari gema suara Bob." Jupiter berseru ke
dalam, "Cuma untuk mengecek saja, Bob!
Bagaimana keadaan di dalam?"
Pete ikut menelengkan kepala dengan sikap
mendengar. Kedua remaja itu sama-sama mende-
ngar bunyi itu. Bunyi gedebuk.
Setelah itu mereka mendengar suara Bob. Bunyi
melengking tinggi. Hanya satu patah kata saja yang
diucapkannya. Tapi itu sudah cukup untuk
membuat mereka merasa ngeri.
"Tolooong!"

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

72
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 7
PERINGATAN MISTERIUS

JUPITER dan Pete memandang dengan mata


terbelalak ke dalam rongga gua yang hanya
nampak remang-remang. Saat itu terdengar lagi
suara Bob berteriak.
"Toloong! Tolong aku!"
"Ayo!" seru Pete. "Bob dalam bahaya!"
Pete, yang paling kekar tubuhnya di antara
mereka bertiga, melesat lari ke dalam gua. Jupiter
berusaha mengikuti langkahnya yang cepat.
"Jangan terlalu cepat, Pete," kata Jupiter, "la
tidak mungkin terlalu jauh, dan kita harus
berhati-hati agar jangan —"
la tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dalam
gua yang remang-remang gelap itu, tahu-tahu
napasnya terdengus — karena menubruk sesuatu
yang keras. la jatuh berlutut.
Kemudian didengarnya suara Pete berseru,
"Jangan masuk lebih jauh, Jupe! Aku sudah
menemukannya!"
"Di mana, Pete? Aku tidak bisa melihat
apa-apa!"
Jupiter terkejap-kejap beberapa kali, sampai
matanya sudah bisa disesuaikan dengan kere-
mangan gua. Setelah itu barulah ia melihat Pete.

73
Temannya itu ada di depannya, dalam posisi
seperti merangkak.
"la terjerumus ke dalam lubang," kata Pete.
"Untung saja aku masih sempat menahan
langkah."
"Aku tidak bisa melihat apa-apa," kata Jupiter.
Dicobanya memandang ke bawah, dari balik bahu
Pete. "Bob!" serunya memanggil. "Di mana kau?"
Jupiter terlompat ketika Bob menjawab, karena
begitu dekat kedengarannya.
"Di sini, di bawah!" seru Bob. "Aku terjerumus
ke dalam semacam sumur. Aku tersedot ke
bawah!"
"Aduh!" pekik Pete kaget. "Pasir apung!"
"Mustahil," kata Jupiter. "Itu hanya ada di
kawasan dekat khatulistiwa saja!"
la merangkak ke samping Pete, sambil meraba-
raba dasar gua dengan hati-hati.
"Aku masih tetap belum bisa melihatnya. He,
Bob! Kau bisa melihat kami?"
"Ya!" balas Bob. "Aku hampir lurus berada di
bawahmu!"
Jupiter menjulurkan badan ke bawah, lalu
mengulurkan tangannya.
"Raihkan tanganmu ke atas lalu pegang
tanganku, Bob. Nanti aku akan menarikmu ke atas,
bersama Pete."
Dari arah bawah terdengar bunyi berkecepuk
pelan.
"Ti-tidak bisa," kata Bob sesaat kemudian.

74
"Setiap kali kucoba, tubuhku terbenam semakin
dalam!"
"Acungkan tongkatmu ke atas," kata Pete. "Itu,
gagang dayung yang kaupegang tadi. Kami akan
dengan segera menarikmu ke luar."
"Tidak bisa," balas Bob dengan nada gugup.
"Tadi terlempar, ketika aku terjerumus kemari."
Pete memandang kayu hanyut yang dipegang-
nya. la mengeluh.
"Sedang tongkatku terlalu rapuh — takkan kuat
menahan berat badanmu."
Jupiter menggeleser dengan berhati-hati,
mengelilingi lubang itu.
"Tahan terus, Bob," katanya. "Aku kini sedang
menyusur tepi lubang, untuk menaksir ukurannya.
la menggeleser lagi.
"Cepat!" kata Bob berteriak dari bawah.
"Sekarang bukan waktunya untuk mengukur-
ukur."
"Tapi aku harus melakukannya," kata Jupiter
yang semakin menjauh. "Cuma dengan begitu aku
nanti bisa mencari akal untuk mengeluarkan
dirimu dari situ."
Jupiter merangkak terus. la sangat berhati-hati.
Walau begitu masih ada juga tanah berguguran ke
dalam lubang.
"Awas!" teriak Bob. "Nanti dindingnya runtuh!"
"Sorry!" balas Jupiter. "Tapi itu cuma tanah
longgar yang ada di pinggir atas."

75
Sesaat kemudian ia sudah kembali berada di
samping Pete.
"Kurasa kita bisa melakukannya." la berseru lagi
pada Bob, "He, Bob! Apakah ujung kakimu bisa
menyentuh dasar?"
Kedua remaja yang berada di atas mendengar
bunyi menggelepar-gelepar di bawah, disusul
bunyi seperti orang sedang meludah-ludah.
"Belum," jawab Bob dengan sebal. "Tapi
mungkin jika kalian berdua yang jenius akhirnya
berhasil menemukan akal untuk mengeluarkan
aku, aku akan sudah terbenam sampai ke dasar."
"Kalau kau memegang kakiku, aku akan bisa
meraih ke bawah," kata Pete. "Kita tidak punya
waktu lagi untuk memikirkan cara penyelamatan
yang macam-macam."
Tapi Jupiter menggeleng.
"Kurasa kita bisa mempergunakan papanku.
Bukan untuk menariknya ke atas secara langsung
— karena tumpuan untuk itu tidak cukup kokoh di
tanah pasir begini. Tapi papanku cukup panjang
untuk diletakkan melintang sampai ke seberang
lubang. Sedang ujung-ujungnya kita henyakkan ke
sisi."
"Tapi apa gunanya?" tanya Pete. "Bob tidak bisa
meraih setinggi itu ke atas."
"Bisa, jika papan kita letakkan dengan memben-
tuk sudut yang tepat," kata Jupiter. "Kurasa kita
bisa mengganjalnya dari sisi seberang."

76
Pete memandang papan tipis yang ada di
tangan Jupiter. Ia mengangguk, sambil memba-
sahi bibir.
"Bisa saja kita coba. Itu jika papanmu cukup
kuat menahan berat badannya."
Jupiter menjulurkan kepalanya ke dalam
lubang.
"Kami akan mengulurkan papan ke atas ke-
palamu, Bob," katanya menjelaskan. "Kauusa-
hakan agar ujungnya yang sebeiah bawah cukup
kokoh terbenam ke sisi lubang, sehingga mampu
menahan berat badanmu jika kaunaiki nanti." Ia
menyambung, "Karena jika sampai terlepas, yang
hilang bukan papan ini saja, tapi kau juga."
"Terima kasih," kata Bob. "Tapi cepatlah sedikit!
Aku sudah semakin dalam terbenam sekarang."
Jupiter meninggalkan Pete. Ia bergegas ke tepi
seberang. Dari situ ia mengulurkan papan ke
bawah, sambil menjulurkan tubuh.
"Papan sudah kuulurkan ke bawah sekarang,"
katanya pada kedua temannya. "Aku tidak tahu
apakah kau bisa melihatnya, Bob. Tapi mestinya
sebentar lagi akan lewat di atas kepalamu."
Papan diulurkannya sedikit" demi sedikit ke
bawah, sementara ia sendiri berbaring menelung-
kup di tanah. Akhirnya terdengar Bob berseru dari
bawah.
"Aku bisa melihatnya sekarang," seru Bob. Lalu
dengan suara meninggi bernada kecewa, "Tak bisa
kuraih! Terlalu tinggi!"

77
"Sekarang akan kugerakkan menurun," kata
Jupiter. "Aku sedang mereka-reka sudut yang
tepat supaya bisa pas."
Papan diulurkannya beberapa sentimeter lagi ke
bawah.
"Ya, ya — bagus, Jupe!" seru Bob. "Sudutnya
sudah benar. Sekarang tinggal beberapa senti
lagi!"
Bob menunggu Jupiter mengulurkan papan
lebih jauh ke bawah. Tiba-tiba terdengar bunyi
seperti menggeleser.
"Ayo, Jupe! Ke'napa kau tahu-tahu berhenti?"
Jupiter menjawab dengan suara parau,
"Badanku terjulur terlalu jauh ke dalam. A—aku
sendiri mulai tergelincir!"
"Aduh!" seru Pete, la bergegas bangkit, lalu lari
ke tepi seberang.
Kaki Jupiter bergerak-gerak liar, berusaha
mencari tumpuan di tanah yang licin. Sisa
tubuhnya sudah miring ke dalam lubang gelap.
Tanah berguguran di bawah badannya.
Seketika itu juga Pete menjatuhkan diri ke
depan, menindih tungkai Jupiter. Disambarnya ikat
pinggang temannya itu, lalu disentakkannya
kuat-kuat ke arah belakang.
"Tenang, Jupe," katanya dengan napas putus-
putus. "Kau sudah kupegang."
Sesaat kemudian sudah cukup jauh ditariknya
Jupiter ke belakang, sehingga anak gempal itu
bisa memulihkan keseimbangannya kembali.

78
"Terima kasih, Pete," kata Jupiter dengan napas
sesak. "Sekarang, jika kau terus menindih kakiku
selama beberapa saat lagi, sampai papan ini sudah
seluruhnya kuulurkan —"
Pete dan Jupiter mendengar Bob berseru
dengan gembira dari bawah,
"Ya — berhasil, Jupe!"
"Okay, Bob. Sekarang aku dan Pete akan
membenamkan ujung yang sebelah atas ke sisi
lubang sebelah sini. Setelah itu kau harus berusaha
memanjatnya ke atas. Bisakah kau meraihkan
tanganmu untuk mencapainya?"
"Ya, bisa!" jawab Bob setelah diam sesaat.
"Baiklah, Bob," kata Jupiter. "Sekarang kauco-
ba memanjat ke atas."
"Roger!" balas Bob.
Terdengar bunyi berderak. Papan tipis yang
mereka pegang bergetar.
"la datang!" seru Pete.
Papan tipis itu terayun dan bergetar, menahan
beban tubuh Bob yang merambat naik. Jupiter
menindih ujung sebelah atas dengan sekuat
tenaga.
"Kemungkinan patah masih ada," bisiknya pada
Pete. "Bersiaplah untuk menangkapnya."
Mereka mendengar bunyi napas Bob terengah-
engah.
"Oke," katanya, "aku sudah sampai di ujung
atas. Sekarang bagaimana?"
Pete menjulurkan badan ke dalam lubang.

79
"Pegang tanganku, Bob."
Dengan cepat Bobo menggerakkan tangannya
ke atas. Sesaat ia berhasil menggenggam tangan
Pete yang terulur ke bawah. Tapi kemudian
terlepas lagi. Bob bergerak dengan cepat karena
terdorong rasa panik. Tangannya dicengkeramkan
kembali ke papan yang basah.
"Sulit sekali memegangnya, karena tangannya
berlumpur," keluh Pete pada Jupiter. "Kau ingin
mencobanya?"
Jupiter menggeleng.
"Kurasa hasilnya akan sama saja. Kita hams
bersama-sama menariknya ke atas."
Bob melotot ke arah mereka dari bawah.
Kedudukannya sangat goyah, di atas papan yang
terayun-ayun.
"Sudahlah, jangan berunding macam-macam
lagi! Cepat, keluarkan aku dari sini! Aku sudah sulit
sekali bisa bertahan terus, karena badanku penuh
dengan lumpur. Aku tak mampu berpegang lebih
lama lagi —"
Mata Jupiter berkeliaran di dalam gua.
"Kita memerlukan tali," katanya. "Sesuatu yang
bisa dip?kai untuk menjerat —"
"Di sini tidak ada tali," kata Pete menggerutu,
"dan juga tidak ada waktu lagi. Kita cuma
kekurangan beberapa sentimeter saja. Mestinya
ada sesuatu —"
Tiba-tiba sinar mata Jupiter berubah, nampak
bersinar lagi.
"Aku tahu!"

80
Dengan cepat dibukanya ikat pinggangnya.
Sementara Pete memandang saja sambil melo-
ngo, temannya itu memasang ikat pinggangnya
lagi, sehingga di ujungnya terbentuk semacam
jerat.
Jerat dari ikat pinggang itu diulurkannya ke
dalam lubang.
"Aku membuat jerat dengan ikat pinggangku,
Bob," katanya. "Selipkan tanganmu ke dalamnya.
Berat tubuhmu akan menyebabkan jerat itu
mengencang dengan sendirinya. Setelah itu aku
dan Pete akan menarikmu ke atas."
Ikat pinggang diulurkan dengan pelan-pelan ke
dalam lubang, sementara ia sendiri bersiap-siap
menahan sentakan dari bawah.
"Ya! Tanganku sudah terjerat!" seru Bob.
"Tarik!"
Jupiter menghembuskan napas lega. Pete
meraih ujung ikat pinggang, sambil nyengir.
Setelah itu ia bersama Jupiter mencondongkan
tubuh ke belakang, lalu menarik kuat-kuat.
Sesuatu yang berlumur lumpur naik dengan
pelan dari dalam lubang.

81
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 8
D U A S O S O K MISTERIUS

SOSOK berlumpur itu merebahkan diri di samping


Jupe dan Pete. Napasnya tersengal-sengal.
"Trims!"
"Itu tadi ide Jupe," kata Pete, la memandang ikat
pinggangnya dengan sikap menyesali diri. "Pada-
hal aku juga memakai ikat pinggang. Cuma
pikiranku saja yang tidak sampai ke situ."
"Mungkin itu disebabkan karena kau tidak
begitu memikirkan berat tubuh, seperti aku," kata
Jupiter sambil tersenyum. "Di samping itu ukuran
pinggangku lebih besar, jadi dengan sendirinya ikat
pinggangku juga lebih panjang."
Bob membersihkan lumpur yang melumuri
mukanya.
"Pokoknya idemu itu berhasil, Jupe. Mulai
sekarang aku takkan lagi memperolokkan dirimu
bahwa kau terlalu gendut." la menoleh ke dalam
lubang, lalu mundur sambil bergidik. "Coba kau
tidak memakai ikat pinggang yang panjang,
kemungkinannya aku masih terbenam di bawah
sana sekarang."
"Pokoknya, sekarang semua sudah beres lagi,"
kata Pete. "Lalu selanjutnya bagaimana?"

82
"Kita pulang," kata Jupiter dengan tegas. "Bob
perlu cepat-cepat berganti pakaian, karena ia
basah kuyup. Sorry! Aku yang bersalah, karena
memaksa hendak memeriksa gua, tanpa memba-
wa senter."
"Kita tadi sebaiknya memang membawa
senter," kata Bob sependapat, "tapi kurasa aku
juga tolol, kenapa begitu saja bergegas masuk,
tanpa memperhatikan lingkungan."
Jupiter berdiri. Keningnya berkerut.
"Aneh juga, kenapa ada lubang yang begitu
berbahaya di dekat jalan masuk ke gua. Kurasa itu
menyebabkan banyak orang yang ingin tahu tidak
bisa masuk."
"Kecuali jika mereka bersikap seperti aku tadi,"
kata Bob sambil tersenyum hambar. "Lubang
berlumpur itu akan menyebabkan banyak dari
mereka tidak bisa keluar lagi!"
"Wah," kata Pete, setelah berpikir sejenak,
"mungkin itulah yang terjadi dengan anjing
peliharaan Mr. Allen, serta anjing-anjing lainnya
yang hilang. Mungkin saja mereka tercebur ke
dalam lubang, lalu tersedot ke bawah."
"Kemungkinan itu bisa saja," kata Jupiter sambil
mengangguk. "Tapi kita tadi kan sedang mencari-
cari jejak, sebelum Bob berteriak minta tolong. Kita
sama sekali tidak melihat jejak anjing di sekitar
mulut gua."
"O ya?" kata Pete dengan nada heran. "Itukah
yang kita kerjakan tadi?" la menoleh ke belakang
dengan cepat. "Yah — sekarang sebaiknya kita

83
lekas-Iekas saja keluar dari sini, sementara masih
bisa. Tempat ini menyeramkan."
Semuanya sependapat tentang hal itu. Mereka
cepat-cepat keluar.
Setiba di luar, Jupiter menoleh ke belakang.
Dilihatnya bongkah batu besar-besar di sisi
seberang mulut gua.
"Aku ingin tahu, sampai seberapa jauh Hang gua
itu menjorok masuk ke dalam," katanya. "Kita tadi
mendapat keterangan bahwa liang-liang di sini
dulu biasa dipakai para penyelundup."
"Ya, betul," kata Pete. "Lalu?"
"Liang yang baru saja kita tinggalkan, rasanya
tidak cocok untuk dijadikan tempat menyembunyi-
kan barang-barang selundupan, karena terlalu
terbuka dan mudah dimasuki orang."
"Mungkin saja sebenarnya masih ada lorong-
lorong lainnya," kata Bob. "Aus karena air bisa
menyebabkan batu yang termasuk lunak lama-
kelamaan habis, walau bisa memakan waktu jutaan
tahun. Mungkin daerah sini dulu terendam air. Jika
betul begitu, mestinya banyak liang-liang alamiah
di sekitar sini."
"Mungkin juga," kata Jupiter, "tapi kita tidak
punya waktu lagi untuk memeriksanya sekarang.
Kita harus mengundurkannya ke lain waktu."
"Aku setuju saja," kata Pete dengan gembira,
"pokoknya, asal jangan hari ini. Untuk sekarang,
aku sudah cukup banyak mengalami kejadian
yang menciutkan hati."

84
"Tentang itu kita semua sudah sependapat,"
kata Jupiter. "Tapi payahnya, sekarang ada lagi
yang datang."
"Apa maksudmu?" tanya Pete terkesiap.
Jupiter menuding ke arah laut. Kedua temannya
menoleh ke arah itu. Mata mereka terkejap karena
kaget.
Sesuatu yang gelap dan berkilat-kilat muncul
dari bawah air.
"Apa itu?" kata Bob dengan suara berbisik.
"Kepalanya berukuran kecil — seperti kepala
naga," kata Pete. Suaranya bergetar.
Saat itu datang ombak besar, menggulung ke
arah pantai, Sosok gelap yang baru muncul dilanda
dan diselubungi, sehingga tidak kelihatan lagi.
Anak-anak tetap berada di tempat mereka.
Dengan gugup, ketiganya menatap ke arah air
yang bergerak maju.
Ombak yang bergulung memecah di pantai,
disusul ombak berikutnya. Ketika air sudah surut
lagi, nampak kembali sosok gelap yang tadi.
Sosok itu berdiri tegak. Potongannya ramping
dan hitam berkilat, sampai ke bagian kaki yang
kelihatan bersirip, seperti kaki bebek. Sosok aneh
itu berjalan lambat-lambat, menuju pantai.
"Penyelam," kata Pete dengan lega. "la
memakai masker dan sirip renang di kaki. Aduh —
karena itu saja kita sudah takut setengah mati! Yuk,
kita pergi."
Ketiga remaja itu berpaling, hendak pergi.

85
Tiba-tiba Jupiter berbisik, "Awas! la membawa
senapan tombak!"
"Lalu?" kata Pete sambil tertawa. "la kan bisa
saja habis berburu ikan!"
Jupiter menggeleng.
"la menuju kemari," katanya.
Tiba-tiba orang yang bermasker dan berpakaian
selam serba hitam itu berlutut, dengan senapan
tombak teracung ke depan. Orang itu merebahkan
diri, sambil membidikkan senjatanya.
"Wah! — Awas! la membidik ke arah kita!" seru
Bob cemas.
"Eh!" kata Pete kaget. "Kenapa ia tahu-tahu
begitu?"
Matanya terpicing, sementara air mukanya
menjadi pucat.
"Ya — Bob benar!" la berbalik dengan cepat.
"Pasti kita yang dijadikan sasaran — di sekitar sini
tidak ada orang lain!"
Jupiter Jones memandang orang yang rebah di
pantai, sambil menghadap ke arah mereka. Jarak
yang memisahkan tidak sampai seratus meter.
Orang itu nampak jelas membidikkan senjatanya
ke arah mereka.
Otak Jupiter biasa berpikir logis, dan bekerja
dengan teramat cepat. Secepat kilat ditiliknya
situasi yang dihadapinya. Hasilnya membuat
keningnya berkerut. Situasi yang dihadapi tidak
masuk akal!
Tapi logis atau tidak, Jupiter masih tetap bisa

86
mengandalkan kemampuannya menyelamatkan
diri.
"Bahaya!" katanya. "Lari memencar!"
Ketiga remaja itu berpencaran secepat-cepat-
nya, lalu lari ke arah tangga yang menuju ke atas
tebing. Tapi ketika sudah dekat ke situ, barulah
mereka sadar bahwa itu tidak ada gunanya. Karena
kaget, mereka melupakan kecelakaan yang baru
saja mereka alami di tangga itu. Kini mereka sadar
kembali, begitu melihat patahan tangga yang
berserakan di pasir. Sedang dinding tebing
menjulang terjal, mustahil bisa didaki.
Jupiter menoleh ke tangga yang berikut.
Letaknya terlalu jauh dari tempat mereka berada
saat itu. Gntuk mencapainya, cukup jauh mereka
harus berlari di atas pasir lembab. Lari mereka
takkan mungkin bisa cepat. Dan di pantai terbuka
itu, mereka akan menjadi sasaran empuk.
Dengan cepat Jupiter mengambil keputusan.
"Hanya satu kemungkinan yang tinggal. Cepat
— kita kembali ke dalam gua!"
Ketiga remaja itu lari lagi, kini kembali ke mulut
gua. Mereka lari dengan perasaan panik, karena
memperhitungkan setiap saat akan mendengar
letusan senapan tombak di belakang mereka.
Atau bahkan merasa punggung mereka ditem-
bus tombak maut yang meluncur dari senjata itu.
Pasir di bawah kaki berhamburan ke belakang.
"Hampir sampai!" seru Jupiter dengan napas
putus-putus. "Cepat — cari perlindungan!"

87
Ketiga remaja itu menyeruduk serempak ke
dalam gua, lalu bergegas merangkak ke balik
batu-batu besar yang ada di depan.
"Selamat!" dengus Pete. "Sekarang bagai-
mana?"
"Kita bersembunyi," kata Jupiter, sambil berusa-
ha mengatur napas yang tersengal-sengal. "De-
ngannya kita akan mendapat waktu untuk
mengatur rencana selanjutnya."
"Mungkin sekarang inilah waktu yang terbaik
untuk mencari lorong-lorong yang lain itu," kata
Bob.
Jupiter mengangguk. Mukanya merah, karena
bersemangat. Tapi mungkin juga karena kepanas-
an sehabis berlari.
"Setuju!" katanya. "Tapi kita biarkan orang itu
berbuat sesuatu terlebih dulu. Jika ia ternyata
menuju kemari, maka akan kuakui bahwa situasi
yang kita hadapi menghendaki adanya tindakan
darurat — seperti masuk lebih Jauh ke dalam gua
ini, misalnya."
Pete memandang ke belakang punggung
Jupiter, ke arah pantai.
"Kita harus masuk lebih dalam, Jup," katanya
dengan suara tegang. "Ia kemari!"
"Aduh!" keluh Bob. "Bagaimana sekarang? Aku
tidak ingin tercebur lagi ke dalam sumur tadi!"
Jupiter bergerak mundur, ke dinding gua.
"Lihatlah!" serunya dengan tiba-tiba.
Pada dinding gua nampak lapisan papan

88
berderet-deret memanjang, sampai ke langit-
langit.
"Astaga!" kata Pete. "Kenapa kita tadi tidak
melihatnya?"
"Karena tersamar lapisan pasir dan debu," kata
Jupiter. la mengetuk-ngetuk papan berjejer itu.
Terdengar bunyi bergaung.
"Rupanya di belakang papan penutup ini ada
lorong tersembunyi," katanya. la mendorong-
dorong papan. "Kelihatannya terpasang longgar—
jadi bisa digeser. Coba kaulihat ke luar lagi
sebentar, Pete, apakah penyelam tadi masih
mengarah kemari."
Pete mengintip sebentar ke luar, lalu cepat-cepat
mengendap lagi.
"Bahaya menjadi berlipat dua," katanya dengan
suara gemetar. "Sekarang mereka berdua."
"Berdua?" Kening Jupiter berkerut. "Kalau
begitu, kita harus cepat-cepat. Tolong aku,
menggeser papan-papan ini."
Mereka mendorong dan menarik-narik papan
yang berjejer-jejer itu.
"Percuma!" kata Bob. "Terlalu kokoh pema-
sangannya!"
Jupiter menggeleng.
"Tidak — pasti ada satu cara untuk menggeser-
nya." Tiba-tiba ia tersenyum. "Ya, tentu saja! Aku ini
yang tolol!"
Ditendangnya pasir longgar yang terhampar di
sekitar deretan papan yang kelihatannya merupa-
kan semacam pintu.

89
"Kita cuma perlu menggali sedikit saja. Gali
pasir yang di sini, supaya longgar!"
Ketiga remaja itu berlutut lalu mulai menggali
pasir dengan tangan mereka. Tiba-tiba pintu
papan bergerak.
"Cukup!" kata Jupiter. "Sekarang, jika kita bisa
menggerakkannya sampai cukup lebar, sehingga
kita bisa menyusup masuk —"
Pintu papan kini dapat digerakkan dengan
mudah, karena kakinya tidak lagi terganjal pasir.
Bob dan Pete cepat-cepat menyusup masuk. Kini
giliran Jupiter untuk menyusul.
la beringsut-ingsut, berusaha meloloskan tubuh
lewat celah yang sempit.
"Ti — tidak bisa," dengusnya. "Terlalu —
gemuk!"
Bob dan Pete bergegas mengeduk pasir lagi,
kini dari sisi di belakang papan. Pintu itu bergerak
ke samping, dan dengan cepat Jupiter menyusup
masuk.
"Jangan terlalu rapat menutupnya kembali,"
katanya berbisik. "Biar kita bisa mengintip ke luar."
Papan berat itu mereka geser lagi ke tempat
semula. Tapi tidak sampai rata lagi dengan
papan-papan yang bersebelahan.
Ketiga remaja itu masih berlutut di dalam
rongga gelap itu, ketika kemudian terdengar orang
bercakap-cakap.
Salah seorang penyelam yang masuk menyala-
kan senter.

90
"Aku yakin sekali, anak-anak tadi lari kemari,
Harry. Coba kau tadi tidak roboh diterjang ombak,
sehingga perhatianku terpaling sesaat!"
"Kita akan segera menemukan mereka, jika
mereka memang masuk kemari," kata temannya
yang rupanya bernama Harry. "Tapi jika tidak, kita
bisa langsung mulai bekerja."
Anak-anak menahan napas, sementara pe-
nyelam yang pertama menyorotkan senternya,
menerangi segala penjuru gua. Jupiter merapat-
kan mukanya ke celah di antafa papan-papan yang
memanjang ke atas. la melakukannya dalam posisi
merangkak.
Bob dan Pete membungkuk di atasnya, ikut
mengintip ke luar.
Kedua orang yang berpakaian selam itu berjalan
semakin jauh ke dalam gua. Sinar senter semakin
meredup, begitu pula bunyi langkah kaki mereka
yang mengenakan sepatu renang.
Suara serak orang yang satu lagi terdengar
menggema. Datangnya seperti dari dekat lubang
tempat Bob tercebur tadi.
"Kurasa kau salah lihat tadi, Jack. Tidak ada
siapatsiapa di sini!"
"Kalau begitu mereka rupanya lari ke atas lewat
tangga yang satu lagi."
Terdengar bunyi berkecepak pelan. Setelah itu
sunyi. Jupiter merangkak mundur. la tidak
mendengar maupun melihat apa-apa lagi. Hidung-
nya gatal, karena kemasukan debu dan pasir.
Jangan-jangan Bob dan Pete mengalami kesulitan

91
92
serupa, katanya dalam hati. Kalau saat itu mereka
sampai bersin — wah, gawat!
"Tutup hidung kalian!" bisiknya. "Jangan
sampai ada yang bersin."
Kedua temannya menuruti sarannya. Mereka
menunggu dengan perasaan gugup. Ruangan gua
di luar tetap gelap dan sunyi. Akhirnya Jupiter
berdiri.
"Mereka sudah pergi," bisiknya. "Kita keluar
sekarang, mumpung masih ada peluang."
Pasir digali lagi. Setelah itu" dengan hati-hati
mereka mendorong papan yang berat, sehingga
tergeser sedikit.
"Kau dulu sekarang, Jupe," bisik Pete. "Kalau
kau bisa lewat, kami berdua pasti juga bisa."
Jupiter menanggapi usul itu dengan senyuman.
Ketiga remaja itu menyusup kembali ke luar,
memasuki ruang gua yang gelap. Mereka
memasang telinga sejenak. Masih tetap tidak
terdengar apa-apa di situ. Setelah itu mereka
bergegas mengembalikan papan tadi ke tempat-
nya semula. Pasir yang digali ditimbunkan lagi ke
dasarnya, sehingga papan itu tegak dengan kokoh
seperti sebelumnya.
Kini Jupiter berdiri. Jantungnya berdebar-debar.
la memandang arlojinya.
"Sudah lebih dari tiga jam," bisiknya. "Hans pasti
sudah menunggu di atas!"

93
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.

nurulkariem@yahoo.com

Bab 9
PERINGATAN DARI HANTU

"NAH, bagaimana pendapatmu tentang kejadian


tadi?" tanya Jupiter.
Saat itu sejam setelah mereka pulang, ikut truk
kecil dengan mana Hans menjemput mereka lagi.
Bob sudah lebih dulu pulang ke rumahnya, untuk
mandi serta berganti pakaian. Dan itu memang
perlu! Kini, hanya Pete dan Jupiter saja yang ada di
kantor Trio Detektif.
Pete mengangkat bahu.
"Aku tidak bisa memahaminya. Aku tidak tahu
siapa kedua penyelam itu, kecuali bahwa nama
mereka masing-masing Harry dan Jack. Aku tidak
mengerti, apa sebabnya Harry — atau mungkin
juga itu Jack — membidikkan senapan tombaknya
ke arah kita. Aku tidak tahu, kenapa mereka
mengejar kita ke dalam gua. Aku tidak tahu ke
mana mereka kemudian menghilang, dan dengan
cara bagaimana. Aku bankan masih belum bisa
mengerti, bagaimana kita bisa lolos dari sana
dengan selamat."
Jupiter menarik-narik bibir bawahnya, lalu
mengangguk.
"Kalau ditambah lagi dengan kejadian robohnya
tangga tebing secara aneh, jelaslah bahwa kita

94
sudah menghadapi berbagai pertanyaan sebelum
kita bisa mulai mengusut misteri hilangnya anjing
Mr. Allen."
"Aku punya ide, yang mungkin bisa membantu
kita," kata Pete.
"O ya?" Jupiter memutar kursinya. Minat besar
terpancar dari matanya. "Apa idemu itu?"
Pete menggerakkan tangannya ke arah pesawat
telepon yang ada di meja.
"Kau menelepon Mr. Allen. Katakan padanya,
kita tidak jadi mencarikan anjingnya yang hilang
itu. Bilang padanya, kita sendiri tadi juga nyaris
hilang. Katakan, kita ingin membatalkan tawaran
bantuan kita padanya."
Saran itu sama sekali tak diacuhkan oleh Jupiter.
"Problem kita yang pertama ialah menyelidiki
siapa sebenarnya kedua penyelam itu," katanya,
"dan apa yang mereka lakukan di dalam gua."
Pete menggeleng.
"Apa peduli kita dengan kedua manusia kasar
itu?" tukasnya. "Kita sendiri pun tadi juga masuk ke
sana, dan aku sama sekali tidak tahu, untuk apa
sebetulnya hal itu kita lakukan."
"Kita mencari tanda-tanda adanya naga yang
diceritakan Mr. Allen," kata Jupiter. "Dan juga jejak
anjing setter Irlandianya, Red Rover."
"Yah — tapi nyatanya tidak banyak yang kita
jumpai di sana," tukas Pete. "Kecuali lubang tadi.
Bob yang menemukannya untuk kita."
"Kita juga menemukan lorong yang tersembu-
nyi di balik papan-papan tertutup," kata Jupiter.

95
"Mungkin itu lorong rahasia untuk masuk ke dalam
gua. Atau bisa juga salah satu tempat pe-
nyembunyian rahasia, yang dulu dipakai para
penyelundup."
"Apa hubungannya soal itu dengan kita," kata
Pete berkeras. "Anjing Mr. Allen kan tidak ada di
situ."
Kening Jupiter berkerut.
"Selaku penyelidik, kita harus kembali ke sana
dan memeriksa gua itu dengan lebih cermat. Masa
hal itu tidak kausadari sendiri?!"
"Ya, memang." Pete mengangguk, walau
dengan sikap segan. "Aku cuma heran, apa
sebabnya kedua penyelam itu tidak terjerumus ke
dalam lubang yang ditemukan oleh Bob! Bukan-
kah itu merupakan bukti bahwa mereka mengenal
tempat itu?!"
"Itu bisa saja — tapi jangan lupa, mereka
membawa senter," kata Jupiter. "Dan tentang
bagaimana dan kenapa keduanya kemudian
tahu-tahu lenyap — kurasa jika kita kembali ke
sana dengan berbekal senter, mungkin kita
akan —"
Saat itu telepon berdering, untuk kedua kalinya
hari itu.
Pete dan Jupiter tidak bergerak. Hanya mata
mereka saja yang menatap pesawat itu.
Telepon berdering sekali lagi.
"Terima dong," kata Pete.
"Baiklah." Jupiter meraih gagang telepon, lalu
mendekatkannya ke kepala.

96
"Halo?" Lalu sekali lagi, "Halo?"
Didekatkannya alat komunikasi itu ke mikrofon,
supaya Pete bisa mengikuti pembicaraan. Kedua-
nya mendengar bunyi gemerisik. Tapi tidak ada
yang berbicara.
"Halo?" kata Jupiter sekali lagi. Tetap saja tidak
ada yang berbicara.
"Mungkin salah sambung," kata Pete.
"Ku-kurasa tidak," kata Jupiter tergagap. "Coba
dengar baik-baik!"
Bunyi serak tadi terdengar lagi, seakan-akan
suara orang yang berusaha menarik napas dengan
susah payah.
Kemudian bunyi napas itu berganti, menjadi
suara orang yang sedang tercekik. Seakan-akan
sudah sekarat!
"Jangan —" kata orang itu dengan sulit — lalu
berkata lagi, seolah-olah dengan sisa-sisa suara
yang masih ada, "Jangan — ke — mari."
Kemudian menyusul lagi bunyi napas men-
desah.
"Kemari —- ke mana?" tanya Jupiter.
"Gua ... guaku," kata suara aneh itu. Terdengar
lagi bunyi, seperti napas tersentak. Setelah itu —
sunyi —
"Kenapa jangan?" tanya Jupiter. "Siapa yang
bicara ini?"
Suara yang menjawabnya menggaung.
"Orang... mati—," kata suara itu lambat-lambat,
"— tidak ... suka ... bicara!"

97
Kata-kata itu disusul desahan panjang dan
bergetar. Setelah itu sunyi lagi.
Jupiter mengembalikan gagang telepon ke
tempatnya. Sesaat ia hanya menatap pesawat itu,
tanpa mengatakan apa-apa. Pete juga begitu. Tapi
tiba-tiba ia meloncat dari tempatnya duduk selama
itu.
"Wah! — Untung teringat, malam ini kami
makan agak lebih sore dari biasanya," katanya.
"Aku pulang saja sekarang."
Jupiter ikut berdiri.
"Aku keluar juga, ah! Mungkin Bibi Mathilda
memerlukan aku, untuk merapikan pekarangan."
Kedua remaja itu bergegas ke luar.
Mereka langsung memahami pesan suara yang
menyeramkan tadi. Pesannya memang sederhana:
Jangan datangi g u a k u !
Orang mati tidak suka bicara!
Mr. Allen bercerita tentang naga, yang masuk ke
dalam gua.
Tapi ia tidak mengatakan apa-apa tentang orang
mati — atau hantu!

98
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 10
MATINYA S E B U A H KOTA

SEMENTARA itu Bob sudah mandi dan berganti


pakaian. Perasaannya sudah senang kembali saat
ia tiba di perpustakaan umum kota Rocky Beach, di
mana ia bekerja secara sambilan.
Miss Bennett, pengelola perpustakaan itu
menoleh sambil tersenyum ketika Bob masuk.
"Wah, Bob," sapanya, "hari ini aku sungguh-
sungguh senang melihat kau datang. Hari ini kita
sangat sibuk. Banyak sekali orang datang, dan
sekarang tentu saja banyak buku yang harus
dikembalikan ke tempat masing-masing. Bisakah
kau langsung mulai dengannya?"
"Tentu saja," jawab Bob.
Diambilnya setumpuk buku yang dikembalikan
hari itu, lalu ditaruhnya satu demi satu ke tempat
yang benar di rak. Setelah itu ia mendatangi
meja-meja di ruang baca. Banyak buku dibiarkan
tergeletak di situ. Semua dikumpulkan olehnya.
Buku yang terletak paling atas berjudul Hikayat
California. Iseng-iseng ia membalik-balik halaman
buku itu. Salah satu babnya berjudul, "Seaside:
Impian Kota yang Mati".
"Hmm," gumam Bob pada dirinya sendiri. "Ini
mungkin menarik untuk diketahui."

99
Sambil merenung, disisihkannya buku itu.
Setelah itu ia bergegas mengumpulkan buku-buku
yang berserakan, supaya pekerjaannya lekas
selesai. la sudah tidak sabar lagi, ingin cepat-cepat
mendalami buku yang menarik itu.
Setelah selesai mengembalikan buku-buku
yang dikumpulkannya, ia dipanggil oleh Miss
Bennett, yang memintanya untuk membetulkan
beberapa buku yang robek sampulnya. Buku-buku
yang rusak itu dibawa ke ruang gudang yang ada
di belakang, dan di situ ditambalnya dengan
cellotape. Tidak lama kemudian sudah selesai
segala tugas yang harus dilakukannya.
Bob kembali ke meja kerja Miss Bennett.
"Semua sudah beres, Miss Bennett. Masih ada
sesuatu yang perlu saya pelajari sekarang, jadi jika
tidak ada tugas lain —"
Miss Bennett menggeleng. Bob bergegas
kembali ke ruang baca, menuju meja di mana buku
tentang hikayat California tadi ditinggalkan oleh-
nya. Saat itu barulah ia sadar bahwa ia sehenarnya
tidak begitu tahu tentang Seaside. Begitu pula
halnya dengan Jupe dan Pete. Yang jelas, mereka
belum pernah mendengar bahwa kota itu mati!
Dengan cepat dibukanya buku itu, mencari
bagian yang berisi uraian tentang kota Seaside.
Karangan itu dimulai dengan kata-kata berikut:

Seperti halnya manusia, kota-kota ada


juga yang dirundung kesialan. Impian kota
kecil Seaside, yang ingin menjadi pusat

100
pertetirahan, akhirnya terburai bagaikan
asap, lima puluh tahun yang silam.
Gambaran kota yang cerah dan ramai,
seperti dibayangkan para perencananya,
dan untuk mana mereka telah memper-
taruhkan seluruh harta mereka, tidak
pernah menjelma menjadi kenyataan.
Kanal-kanal dan terusan-terusan yang
dibangun dengan penuh rasa seni untuk
menimbulkan suasana seperti kota Vene-
sia, sementara ini sudah ambruk dan
digantikan oleh deretan pabrik. Hotel-hotel
yang dulunya anggun, kini sudah ditutup.
Ada pula yang digusur, untuk memberi
tempat bagi jalan bebas hambatan, yang
akan dibangun dengan lihtasan utara-
selatan.
Kekecewaan yang mungkin paling di-
rasakan oleh kota Seaside adalah gagal-
nya rencana pembangunan rel kereta
bawah tanah, yang kalau jadi dibangun
akan merupakan yang pertama di pesisir
barat. Pihak pemilik modal, maupun
masyarakat umum bersikap dingin dalam
menanggapi rencana pembangunan suatu
sistem hubungan kilat, yang akan meng-
hubungkan kawasan pantai kota Seaside
dengan daerah bisnisnya, serta dengan
kota-kota kecil lainnya yang berdekatan.
Tanggapan dingin itu mengakibatkan
jaringan hubungan bawah tanah tersebut

101
tidak pernah selesai dibangun. Terowong-
an yang sudah dibangun sepanjang
beberapa mil ditutup dan kini sudah
dilupakan orang, suatu rahasia gang selalu
menghantui, serta kenang-kenangan ma-
hal tentang kota yang sudah mati sebelum
sempat mengalami pertumbuhan.

"Wow!" kata Bob pada dirinya sendiri. Kini kota


Seaside sudah lebih bermakna baginya. Kematian
kota itu terjadi lebih dari lima puluh tahun yang lalu
— karena buku yang dibaca merupakan terbitan
beberapa tahun yang lewat. Jika ia tadi tidak secara
kebetulan menemukannya, mungkin ia takkan
mengetahui kisah kota kecil yang didatanginya tadi
bersama Pete dan Jupiter.
Setelah mencatat beberapa fakta penting
tentang Seaside, dikembalikannya buku itu ke
tempatnya. Kemudian ia duduk lagi. la berpikir-
pikir. Banyak yang perlu dilaporkan pada Jupiter.
Tapi akhirnya ia memutuskan, bahwa itu bisa
dilakukannya nanti, sehabis makan malam. Saat itu
sudah hampir tiba. Dan Bob sudah lapar.
la meminta diri pada Miss Bennett, lalu
bersepeda pulang. Sesampainya di rumah dilihat-
nya ibunya sedang sibuk memasak. Sedang Ayah
membaca koran sambil mengisap pipa. Mr.
Andrews menyambut kedatangan anaknya dengan
senyuman.
"Hi, son," sapanya. "Kudengar kau tadi pulang
berlumur lumpur begitu tebal, sehingga pakaian

102
yang kaukenakan bisa dipakai untuk menguji
kehebatan mesih cuci kita, seperti yang selalu
dibangga-banggakan produsennya dalam siaran
iklan."
"Betul, Ayah," kata Bob. "Aku tercebur ke dalam
lubang. Mula-mula kukira yang ada di dalamnya
pasir apung. Tapi temyata lumpur dan air."
"Pasir apung? Sepanjang pengetahuanku, di
sekitar sini sama sekali tidak terdapat pasir apung."
"Memang bukan di Rocky Beach," kata Bob.
"Kejadiannya di Seaside. Kami sedang menangani
suatu kasus, yang menyebabkan kami harus ke
sana. Saat itu kami sedang memeriksa salah satu
liang gua yang terdapat di situ."
Mr. Andrews mengangguk. la meletakkan surat
kabarnya.
"Dulu liang-liang gua di sana itu bisa berarti
kematian bagi yang berani masuk ke dalamnya.
Waktu itu liang-liang gua di sekitar tempat yang
bernama Haggity's Point, banyak yang dipakai
penyelundup minuman keras. Dan sebelum itu,
oleh bajak laut."
"Begitulah yang kudengar," kata Bob mengia-
kan. "Dan ketika di perpustakaan tadi, aku secara
kebetulan menemukan sebuah buku tentang
hikayat California. Isinya antara lain karangan
tentang Seaside, yang dikatakan merupakan kota
yang sudah mati sebelum sempat tumbuh. Ayah
tahu itu?"
Ayah Bob wartawan. la kelihatannya memiliki

103
gudang rahasia dalam kepalanya, berisi segala
macam hal yang perlu diketahui. la mengangguk.
"Banyak orang yang kehilangan harta dan
bangkrut, karena keliru berspekulasi tentang kota
itu. Setelah terjadi kebakaran hebat di taman
hiburan, kota itu seakan-akan tidak hentinya
dirundung nasib malang."
"Tapi kelihatannya lumayan, Ayah," kata Bob.
"Besarnya kurang lebih sama dengan kota Rocky
Beach kita ini."
Mr. Andrews tersenyum.
"Sejak itu, Seaside mempunyai waktu lima
puluhan tahun untuk membangun kembali, dan
kini sudah menjadi kota yang sibuk dan
berkembang terus. Tapi tidak dalam wujud yang
semula diniatkan, yaitu pusat pertetirahan. Seka-
rang Seaside seperti kota lain-lainnya juga, tempat
pemukiman dan mencari nafkah."
"Dasar nasib sial," kata Bob. "Menurut yang
kubaca tadi, mereka bahkan sudah sempat mulai
membangun jaringan kereta bawah tanah — tapi
tidak pernah diselesaikan."
Mr. Andrews mencondongkan tubuhnya ke
depan.
"Keputusan yang menyangkut hal itu me-
nyebabkan kematian salah seorang tokoh perintis
perencanaan kota Seaside. la bunuh diri, setelah
seluruh hartanya habis, karena dilibatkan dalam
usaha membangun jaringan perhubungan bawah
tanah itu." Mr. Andrews mengerutkan kening,
sambil menyedot pipanya. "Aku tidak ingat

104
namanya sekarang — tapi orang itu merupakan
tokoh besar, dengan idam-idaman muluk. Sebe-
narnya jika cukup banyak orang mau mengikuti
keyakinan dan semangatnya, mungkin saja
Seaside bisa menjadi kota idam-idamannya —
yaitu kota santai yang paling besar."
Saat itu Mrs. Andrews datang menyela dengan
suara tegas,
"Makan malam sudah siap."
Bob sebenamya masih ingin mendengar lebih
banyak lagi. Tapi ayahnya sudah berdiri, lalu
berjalan ke meja makan. Bob menyusul, lalu
duduk. Banyak yang perlu diketahui oleh Jupiter,
katanya dalam hati.
*
Kalau menurutku, kita lupakan saja anjing Mr.
Allen yang hilang," kata Pete, menyatakan
pendapatnya dengan tegas. "CJrusannya bagi dia
mungkin cuma binatang kesayangan yang hilang.
Tapi bagiku, itu juga melibatkan naga, serta dua
penyelam bertampang galak dan bersenjata
senapan tombak, dan yang tidak suka pada
anak-anak. Belum lagi lubang berlumpur yang
menyedot orang ke dalamnya, serta tangga yang
ambruk begitu orang lari menuruninya. Ditambah
lagi entah apa yang menelepon untuk memberi
peringatan pada kita agar menjauhi guanya.
Bagiku, itu merupakan nasihat yang perlu dituruti
— apalagi karena yang mengatakan begitu orang
mati!"

105
Mata Bob langsung membesar.
"Apa maksudmu?"
Saat itu satu jam setelah saat makan malam.
Anak-anak berkumpul lagi di dalam kantor Trio
Detektif, untuk membicarakan rencana selan-
jutnya.
"Tadi, setelah kau pulang untuk mandi dan
berganti pakaian," kata Jupiter menjelaskan, "kami
mendapat peringatan yang misterius, lewat tele-
pon." la mengulangi peringatan itu, kata demi kata.
"Kedengarannya seperti ada yang hendak
mempermainkan kita," kata Bob kemudian. "Tapi
jika bukan begitu, maka ada seseorang yang
hendak mengatakan pada kita, bahwa kedatangan
kita ke gua itu tidak diingini."
Air muka Jupiter kini menampakkan sifat keras
kepalanya.
"Kita belum melihat apa-apa tentang naga
misterius itu," katanya. "Kuusulkan kita kembali ke
sana malam ini juga, untuk meneliti sekali lagi."
"Kita adakan pemungutan suara mengenainya,"
kata Pete buru-buru. "Aku mengusulkan agar kita
batalkan saja kasus itu. Siapa yang setuju? Yang
setuju, bifang, 'ya'!"
"Ya, ya, ya!" Kata itu diulang-ulang dengan suara
melengking oleh Blackbeard, burung yang pandai
bicara dari dalam sangkarnya yang tergantung di
dekat meja kantor Trio Detektif.
"Diam!" bentak Pete. "Kau bukan anggota resmi
perkumpulan ini. Kau cuma diizinkan tinggal di
sini."

106
"Orang mati tidak suka bicara!" teriak Black-
beard, lalu tertawa terkekeh-kekeh.
Bob menoleh ke arah Jupiter.
"Mungkin dia yang kalian dengar tadi," katanya.
"Blackbeard!"
Jupiter menggeleng.
"Bukan, Bob. Yang berbicara tadi seseorang —
atau sesuatu — yang terdengar sulit bernapas dan
berbicara. Jika suara itu disengaja, untuk menim-
bulkan kesan seolah-olah yang berbicara itu orang
dalam keadaan sekarat — atau bahkan hantu —
efeknya benar-benar meyakinkan. Pokoknya me-
nyeramkan. Ya kan, Pete?"
"Tidak lebih menyeramkan dari lain-lainnya
yang sudah terjadi selama ini," kata Pete sambil
mengangkat bahu. la menyingkapkan rambutnya
ke belakang. "Jika rambutku belum putih
sekarang, mungkin besok!"
Jupiter tertawa nyengir.
"Ah — kau tidak lebih takut daripada kami, Pete.
Kau cuma berlagak takut saja."
"Taruhan?" kata Pete menantang.
Jupiter tidak menanggapinya. la meraih gagang
telepon.
"Aku mau bertaruh, jika Worthington sebentar
lagi datang dengan Rolls-Royce untuk menjemput
kita, kau pasti ingin ikut," katanya.
*

Tidak sampai sejam kemudian, Pete sudah


memandang ke luar, dari balikjendela mobil kuno

107
itu, yang kelihatan mewah karena bagian-
bagiannya yang terbuat dari logam dilapisi emas.
Kendaraan itu meluncur dengan suara lembut
menyusur Pacific Coast Highway, menuju daerah
pinggiran kota Seaside."Pengemudinya Worthing-
ton, sopir berkebangsaan Inggris yang jangkung
dan selalu sopan. la menjalankan Rolls-Royce itu
dengan trampil, seperti biasanya.
"Kadang-kadang ada perasaan menyesal dalam
hatiku, kenapa kau memenangkan hak pemakaian
mobil ini dalam sayembara waktu itu, Jupe," kata
Pete setengah mengeluh. "Itu jika kuingat, ke
dalam bahaya mana saja kita terjerumus de-
ngannya."
"Jangan kaulupakan, juga untuk meloloskan
diri," kata Bob mengingatkan. "Dan ketika hak kita
untuk menggunakannya selama tiga puluh hari
habis, kuingat kau pun tidak bisa bergembira."
Pada saat yang kritis itu mereka sedang
membantu seorang remaja Inggris yang mengala-
mi kesulitan. Kemudian remaja itu membalas jasa.
la mengatur urusan keuangan yang diperlukan,
sehingga Trio Detektif dapat terus menikmati hak
penggunaan mobil mewah itu, termasuk sopirhya,
Worthington.
Pete merebahkan punggungnya ke sandaran
bangku yang berlapis kulit. la tersenyum.
"Harus kuakui, ini lebih nikmat daripada
membonceng truk. Apalagi jika dibandingkan
dengan berjalan kaki."

108
Jupiter sudah memberi petunjuk mengenai
jalan-jalan yang harus diambil untuk keluar dari
jalan raya bebas hambatan, menuju jalan kecil di
tepi tebing yang menaungi daerah pantai Seaside.
Kini ia menepuk bahu Worthington.
"Sampai di sini saja, Worthington," katanya.
"Anda menunggu kami di sini, ya."
"Baik, Master Jones," jawab sopir Inggris itu.
Mobil Rolls-Royce besar,dengan lampu depan
model kunonya yang besar dan terang berhenti di
pinggir jalan.
Ketiga remaja penumpangnya bergegas turun.
Jupiter mengambil peralatan yang mereka bawa.
"Senter, kamera foto, dan alat perekam suara,"
katanya sambil meneliti. "Sekarang kita sudah siap
menghadapi keadaan yang bagaimanapun —
serta merekamnya."
Ia menyerahkan alat perekam suara pada Bob.
"Ini, Bob — untuk merekam suara naga, atau
suara hantu yang sulit bernapas dan berbicara."
Pete mengambil satu dari ketiga senter yang
dibawa. Jupe meraih gulungan tali, lalu me-
nyandangkannya ke bahu.
"Untuk apa itu kaubawa Jupe?" tanya Pete.
"Tidak ada jeleknya, berjaga-jaga," kata Jupiter.
"Tali ini dari bahan plastik yang kuat, dan
panjangnya seratus meter. Dengannya kita nanti
bisa menuruni tebing, jika tangga-tangga lainnya
ternyata juga sudah diutik-utik."
Mereka menyusuri jalan yang sepi dan gelap itu.
Jupiter yang paling depan. Ia menuju ke tangga,

109
lewat mana ia hendak mengajak teman-temannya
turun ke pantai. Tangga itu beberapa meter lebih
jauh dari tangga yang roboh ketika sedang mereka
turuni pagi itu.
Ketiga remaja itu berhenti sebentar di tubir
tebing, lalu memandang ke bawah. Pantai nampak
lengang saat itu. Bulan yang belum lama muncul di
langit nampak meremang di balik lapisan awan
tipis. Desisan lembut ombak samudra yang
menyapu pasir pantai di bawah, sekali-sekali
digantikan deru gelombang besar yang memecah
agak jauh sedikit ke tengah.
Pete membasahi bibir dengan sikap gugup. Ia
memegang sandaran tangga yang sudah tua. la
tegak tanpa bergerak sejenak, sambil memasang
telinga. Bob dan Jupiter juga melakukannya.
Tapi yang terdengar hanya bunyi ombak
samar-samar, serta detak jantung mereka sendiri.
"Nah — mudah-mudahan saja selamat," kata
Pete dengan perasaan tegang.
Sementara ketiga remaja itu mulai melangkah
turun, mereka serasa mendengar deru ombak
samudra bertambah nyaring. Seakan-akan tidak
sabar lagi menanti kedatangan mereka!

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

110
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 11
KENGERIAN DI MALAM BUTA

KEADAAN di sekitar tangga gelap gulita. Angin


malam yang terasa asin menyengat muka. Dinding
tebing menjulang di atas pantai. Bayangannya
gelap dan suram di pasir yang diterangi sinar
bulan.
Tangga yang dituruni ternyata kokoh. Jenjang-
jenjang paling bawah mereka lewati dengan
langkah berlari. Akhirnya mereka melompat ke
pasir, diiringi desahan napas lega.
Jupiter menoleh ke atas. Di sana-sini nampak
cahaya lampu, di beberapa rumah yang terdapat di
sepanjang tubir tebing.
Ketiga remaja itu kemudian mulai berjalan, di
atas pasir lembab berwama gelap. Mereka lewat di
depan sisa-sisa tangga yang roboh ketika mereka
lalui pagi itu.
Kemudian mereka berhenti, ketika sudah dekat
ke mulut gua yang dituju. Mereka memasang
telinga, sambil memandang berkeliling dengan
hati-hati. Tapi mereka tidak melihat sesuatu yang
bergerak di dalam gua. Di sekitarnya juga tidak!
Jupiter mendongak lagi. Dinding tebing yang
menjorok ke depan, menyebabkan ia tidak bisa
melihat tubir yang di atas. Keningnya berkerut. Ia.

111
berperasaan bahwa kenyataan itu penting—walau
ia tidak tahu kenapa.
Akhirnya ia mengangguk.
"Aman!"
Dengan cepat ketiga remaja itu menyusup
masuk ke dalam gua. Sesampainya di situ Jupiter
berhenti lagi, lalu mendengarkan dengan cermat.
Pete heran melihat kelakuannya. Jupiter bersikap
seolah-olah mereka itu sedang hendak melancar-
kan aksi penyergapan.
"Kenapa kau begitu berhati-hati?" bisik Pete.
"Kusangka penyelidikan kita ini tidak memba-
hayakan."
"Walau begitu kita tidak boleh bersikap
ceroboh," balas Jupiter sambil berbisik pula.
Pete menyalakan senternya. Sinarnya ditelusur-
kan ke sepanjang dinding gua. Setelah itu
diturunkan arahnya, menerangi tanah di depan.
Napasnya tersentak, karena kaget.
"Kalian lihat itu?" katanya. "Liang gua ini
berakhir di sana — langsung di belakang lubang!
Kalau begitu, lewat mana kedua penyelam tadi
siang keluar?"
Jupiter maju lambat-lambat, sambil menyorot-
kan senternya berkeliling.
"Gua ini tidak sebesar perkiraanku," katanya
sambil memperhatikan. "Pertanyaanmu itu baik
sekali, Pete. Bagaimana kedua penyelam itu bisa
keluar dari sini? Lewat mana? Dan ke mana?"
Ketiga remaja itu berkeliling, memeriksa dinding
gua.

112
"Seluruhnya dari batu keras," kata Pete.
"Bagus!"
"Apa maksudmu, Pete?" tanya Bob.
"Kau tidak mengerti?" balas Pete. "Lihat saja,
betapa sempit gua ini! Begitu pula lubang ini.
Maksudku tadi, tidak mungkin ada naga bisa
masuk kemari!"
Jupiter kelihatan bingung.
"Tapi Mr. Allen mengatakan, ia melihat seekor
naga muncul dari dalam laut, lalu masuk ke gua di
bawah tebing ini." Ia memandang dengan cermat,
ke dalam lubang. "Kedua penyelam bermasker
tadi tidak mungkin menghilang begitu saja. Harus
kita anggap, di sekitar sini pasti ada liang gua yang
lain. Atau bisa juga lubang lain dalam gua yang ini.
Mungkin ada lorong-lorong lain yang lebih besar, di
dekat-dekat sini."
"Wow!" seru Bob dengan tiba-tiba. "Benar juga,
untung teringat lagi!"
Dengan cepat diceritakannya hal-hal yang
dibacanya di perpustakaan, serta yang didengar
dari ayahnya.
"Terowongan, katamu?" ulang Jupiter sambil
merenung.
Bob mengangguk dengan tegas.
"Menurut perencanaannya, terowongan itu
dimaksudkan sebagai tempat lintasan jaringan
kereta bawah tanah pertama di pesisir barat sini.
Yang selesai baru sebagian saja — dan sekarang
pun masih ada. Jadi bisa dibilang jaringan rel
mati."

113
"Menarik juga keteranganmu itu, Bob," kata
Jupiter. "Tapi letaknya mungkin jauh dari sini. Lagi
pula, kita tidak tahu apakah pembangunan
terowongan waktu itu sudah sampai ke sini, atau
dimulai dari sini."
Kegairahan Bob langsung lenyap.
"Benar juga katamu itu, Jupe."
"Karena kita sudah ada di sini, tidak ada
salahnya jika kita mencarinya," kata Jupiter lagi.
"Tapi cara terbaik untuk mencari terowongan,
adalah dengan melihat peta. Dan kemungkinannya
itu bisa diperoleh di kantor Badan Perencana Kota
Seaside."
"Sesudah lima puluh tahun lewat?" Pete tertawa.
"Pembuat peta itu mungkin sudah lama mati. Dan
jika peta itu masih ada, aku berani bertaruh bahwa
letaknya tertimbun di bawah tumpukan naskah tua
yang berdebu."
Jupiter mengangguk.
"Itu mungkin saja, Pete. Tapi karena sekarang
kita sudah ada di sini, kita cari saja terowongan itu,
sambil melakukan penyelidikan." la berpikir
sebentar. "Kurasa sebaiknya kita mulai dengan
lorong yang secara kebetulan kita temukan tadi
pagi, di balik papan-papan penutup."
Pete dan Bob mengangguk, tanda setuju.
Mereka mendatangi tempat di mana terdapat
papan-papan panjang berjejer-jejer. Jupiter meng-
hapus pasir dan debu yang menempel. Kini
nampak bidang papan yang lebar. Tiba-tiba Bob
melihat mata Jupiter berkilat-kilat.

114
"Ada apa, Jupe?" bisik Bob.
Kening Jupiter berkerut.
"Aku belum bisa memastikan," katanya.
"Tapi papan-papan kelihatannya terbuat dari kayu
lapis."
"Kayu lapis?" ulang Bob.
"Ya, kurasa begitu," kata Jupiter, sambil
meraba-raba permukaan papan di depannya.
"Tapi aku belum bisa memastikan, apa hubung-
annya dengan misteri kita. Sekarang sebaiknya
kita gali dulu pasir yang tertimbun di sini, supaya
papan-papan ini bisa digeser."
Dengan segera papan yang pernah mereka
geser sudah tergali lagi sisi bawahnya, lalu
didorong sehingga terbuka sedikit. Ketiga remaja
itu menyusup lewat celah sempit, yang kemudian
ditutup lagi. Setelah itu mereka menyalakan senter,
untuk melihat di mana mereka berada.
Jupiter beserta kedua temannya berada di
dalam gua kecil dan sempit. Langit-langitnya
rendah. Tapi mereka masih bisa berdiri tegak di
situ, tanpa perlu membungkuk. Ruangan itu
lembab. Bentuknya miring, dan ke arah belakang
berakhir pada dinding batu rendah.
"Buntu lagi," kata Pete menggerutu. "Ini cuma
rongga biasa, bukan lorong."
Jupiter mengangkat bahu.
"Walau begitu, merupakan persembunyian
yang baik sekali untuk penyelundup, atau bajak
laut. Kurasa tempat ini dulu sering dipakai.

115
Papan-papan yang menutupi menunjukkan bahwa
tempat ini hendak dirahasiakan dari orang luar."
"Bajak laut, katamu?" Bob menyorotkan senter-
nya ke dasar gua. "Mungkin saja ada keping-
keping uang emas yang tercecer di sini."
Dengan segera Pete menemaninya. Kedua
remaja itu merangkak-rangkak, sambil meraba-
raba lapisan pasir yang tipis.
Pete yang paling dulu berdiri lagi.
"Tidak ada apa-apa," katanya dengan nada
kecewa. "Jika tempat ini benar-benar pernah
dijadikan tempat menyembunyikan harta rampas-
an, yang jelas para bajak laut itu sangat teliti ketika
mengambil harta itu kembali."
Bob masih merangkak terus, sambil mencari-
cari. Akhirnya ia sampai di ujung belakang gua.
"Barangkali saja ada yang tercecer di sudut,"
bisiknya.
Sementara itu Jupiter mengarahkan sinar
senternya ke bagian yang ditutupi papan. la
meneliti permukaan papan, setelah dikeruknya
pasir dan debu yang menempel. Tiba-tiba
didengarnya Bob berteriak,
"Ada apa, Bob?" tanya Jupiter.
Mendengar bunyi sesuatu yang berat di
belakangnya, dengan cepat ia berpaling untuk
melihat.
Bob tidak ada lagi!
"Bob!" Jupiter melangkah ke arah belakang
rongga, tapi kemudian tertegun. la bingung.

116
"Ada apa?" tanya Pete, la berdiri sambil menatap
dengan heran.
Jupiter hanya bisa menuding ke arah dinding
gua yang ada di hadapan mereka.
"Baru saja ia masih ada di situ. Kau tidak
melihatnya? Tahu-tahu lenyap, seakan-akan terte-
lan dinding gua."
"Apa?" Pete menerjang dinding gua. Tapi
dinding itu tetap tegar. "Aneh," gumamnya. la
menyorotkan senternya ke tanah. "Sekali ini tidak
ada lubang yang menelannya."
la membungkuk, lalu 'meneliti dasar gua di
tempat itu. Tiba-tiba terdengar lagi bunyi berat.
Mata Pete terbelalak. Senter di tangannya digeng-
gam lebih erat. la menoleh ke arah Jupiter, la
heran, melihat temannya itu tersenyum.
"Tidak ada apa-apa," kata Jupiter. "Itu cuma
Bob, yang muncul kembali."
Pete berpaling kembali dengan cepat. la masih
sempat melihat sebagian dari dinding gua yang
sebelah belakang bergeser. Saat berikutnya
nampak lubang menganga. Bob merangkak ke
luar lewat lubang itu.
"Bukan main!" kata Bob. "Bayangkan — ada
sebagian dinding gua, yang sebenarnya pintu
rahasia! Aku tadi kebetulan saja bersandar ke sini
— lalu tahu-tahu terbuka!"
"Ada apa di belakang sana?" tanya Jupiter
bersemangat.
Bob kaget.

117
"Aduh — aku tidak sempat memperhatikan,
Jupe! Habis, kejadiannya begitu cepat, sih! Coba
kulihat, apakah aku bisa mendorongnya lagi
sehingga terbuka!"
la berjongkok, lalu menyandarkan diri ke
dinding rendah itu. Mula-mula tidak terjadi
apa-apa. Tapi ketika Bob menggeser letak
bahunya, tahu-tahu terdengar detakan keras.
Dinding batu itu tergeser dengan bunyi berat.
Tubuh Bob terdorong ke belakang.
"Aku masuk lagi!" setunya. "Cepat — sementa-
ra masih terbuka!"
Pete dan Jupiter menyusul Bob yang sudah
lebih dulu terpental masuk.
"Wow!" seru Pete bersemangat. "Ini baru lebih
pantas!"
Gua yang mereka masuki sangat lapang, dan
tinggi langit-langitnya. Ujung belakangnya tak
tercapai sinar senter. Arahnya ke darat, sejajar
dengan gua yang pertama-tama dimasuki.
Ketiga remaja itu berdiri, karena hendak
memeriksa rongga besar itu. Saat itu terdengar
bunyi benda berat tergeser. Mereka berpaling
dengan cepat.
Tapi terlambat.
Lubang yang menganga sudah tertutup kem-
bali!
"Wah — mati kita!" gumam Pete lesu.
"Itulah yang terjadi dengan Bob tadi. Aku yakin,
kita nanti pasti bisa mengetahui cara kerjanya,"
kata Jupiter dengan tenang. "Kemungkinannya

118
dengan sistem ungkit yang sederhana. Tapi itu
nanti saja, sekarang kita akan memeriksa gua ini
dulu."
Bob mendongak, memandang langit-langit
yang melengkung di atas kepala.
"Wow!" desahnya. "Coba kaulihat, Jupe, betapa
tingginya. Mungkin inilah terowongan yang disebut
dalam buku yang kubaca itu!"
Jupiter mengangguk.
"Itu bisa saja, Bob. Tapi coba kauperhatikan,
dinding dan langit-langit di sini, permukaannya
berupa lapisan batu alam yang kasar. Seperti Hang
gua biasa. Sedang terowongan yang kauceritakan
tadi, sudah selesai dibangun. Keadaannya pasti
tidak begini lagi. Mestinya dengan dinding beton,
serta lantai semen. Bahkan mungkin pula sudah
ada rel yang terpasang. Atau paling sedikit landa-
san untuk rel."
Jupiter menggelengkan kepala, lalu menyorot-
kan senternya berkeliling.
"Tidak — ini kelihatannya seperti gua alam
biasa, berukuran besar. Jalan masuk dari pantai
juga tidak ada. Dinding di sekitar sini kelihatannya
rata, tidak berlubang. Tapi coba kita telusuri terus,
ke arah darat. Siapa tahu, mungkin kita nanti
tahu-tahu sampai di lorong yang akan dijadikan
terowongan kereta bawah tanah."
"Satu hal yang kusenangi tentang tempat ini,
yaitu tidak ada hubungan dengan pantai di luar,"
kata Pete. "Itu berarti, tidak ada jalan masuk, untuk
naga misalnya!"

119
"Berarti kita bernasib baik," kata Jupiter sambil
tersenyum. "Pokoknya, satu hal sudah jelas
tentang gua ini. Gkurannya cukup lapang untuk
naga, atau makhluk lain sebesar itu."
"Terima kasih, atas kebaikan hatimu untuk
mengingatkan," kata Pete menggerutu. "Padahal
aku baru saja agak merasa lega di sini."
Lantai gua itu datar dan rata. Ketiga remaja itu
bisa berjalan dengan langkah tetap di situ. Namun
tiba-tiba mereka berhenti.
Langkah mereka terhalang dinding tinggi yang
lurus ke atas dan berwarna kelabu.
"Kita sampai di ujungnya," kata Pete. "Keli-
hatannya kita menemukan tempat parkir tak
terpakai, yang paling besar di dunia!"
Jupiter mencubiti bibir bawahnya. la kelihatan-
nya seperti bertanya-tanya dalam hati.
"Ada yang tidak beres, Jupe?" tanya Bob.
"Dinding di depan kita ini," kata Jupiter. "Ada
sesuatu mengenainya, yang tidak wajar."
Bob dan Pete menyinarkan senter mereka ke
arah dinding itu. Kemudian kedua-duanya meng-
geleng.
"Kelihatannya seperti dinding biasa saja, Jupe,"
kata Bob. "Tentu, aku pun ikut kecewa, seperti kau.
Aku ingin —"
Tapi Jupiter tidak memperhatikan kata-katanya.
Matanya agak terpejam, mengamat-amati dinding
yang ada di depannya. Diketuk-ketuknya suatu
bagian, lalu berpindah ke bagian lain, dengan
telinga dirapatkan ke permukaannya yang kelabu.

120
"Bunyinya ganjil, Jupe,"kata Bob.
Jupiter mengangguk. Keningnya berkerut. la
pergi ke dinding samping, lalu mengetuk-ngetuk
bagian itu.
"Berbeda," katanya kemudian. "Aku tidak bisa
menjelaskannya, tapi —"
"Ah — sudahlah, Jupe," kata Pete tidak sabaran,
"jika kau tidak bisa membuktikan bahwa itu bukan
dinding, maka itu dinding. Yuk, kita keluar lagi. Aku
kedinginan di sini."
Air muka Jupiter langsung berubah.
"Itu dial" serunya bersemangat. "Dingin!
Dinding itu tidak dingin, seperti dinding yang
sebelah pinggir. Coba kalian rasakan sendiri!"
Bob dan Pete bergegas membandingkan kedua
bagian dinding itu.
"Kau benar, Jupe," kata Pete mengakui.
"Dinding sebelah belakang tidak sedingin dinding
samping. Tapi apalah artinya kenyataan Jtu?!
Jangan lupa, gua ini terletak di bawah rumah-
rumah yang ada di tubir tebing. Bisa saja panas dari
atas merembes ke bawah, dan membuat dinding
belakang itu terasa agak hangat."
"Panas naik ke atas, Pete," kata Jupiter.
"Di belakangnya mungkin ada rongga atau
lorong lagi," kata Bob menduga. "Itu pun bisa
menyebabkannya terasa lebih hangat, Jupe."
Tapi Jupiter menggeleng. Bibirnya menipis,
seperti biasa jika ia tidak sependapat dengan kedua
temannya.

121
la mengeluarkan pisau saku dari kantungnya,
lalu mengorek-ngorek permukaan dinding yang
kasar dan berwarna kelabu.
Pete tertawa.
"Paling-paling pisaumu yang rusak, jika kau
hendak mengorek lubang menembus dinding
batu itu, Jupe! (Jntuk itu kau memerlukan dinamit."
Jupiter tidak mengacuhkan ocehan Pete. la
terus saja mengorek-ngorek. Setelah itu diper-
hatikannya mata pisaunya. Ada gumpalan-gum-
palan kecil berwarna kelabu melekat di situ.
la berpaling, memandang teman-temannya.
Setengah tersenyum puas, ia membuka mulut —
seakan-akan hendak mengatakan sesuatu hal
yang penting. Tapi senyumannya lenyap lagi,
sementara matanya menatap sesuatu yang ada di
belakang Bob dan Pete.
"G-gua —" kata Jupiter dengan suara serak,
"e-entah dengan cara b-ba-bagaimana, t-tapi
dinding gua di belakang kalian t-terbuka!"
Kedua temannya berpaling dengan sikap tak
percaya. Tadi kan tidak ada apa-apa di situ. Mana
mungkin sekarang terbuka?
Dengan mata terbelalak, mereka memandang
hal yang mestinya tidak mungkin!
Gua terbuka dengan perlahan-lahan, makin
lama makin lebar. Ruangan di dalamnya menjadi
agak terang sekarang. Terasa angin menghem-
bus.
Ketiga remaja itu menatap terus dengan jantung
berdebar-debar, sementara gua terbuka semakin

122
lebar. Kini mereka dapat melihat pasir pantai yang
nampak samar, dan lebih jauh lagi, garis gelap
yang merupakan laut.
Jupiter yang paling dulu bisa berbicara lagi,
"Cepat! Kita harus kembali ke rongga yang
tadi!"
Ketiga remaja itu lari, lalu menubrukkan diri ke
bongkah batu yang tadi terbuka ketika Bob
bersandar ke situ.
Bob menekan-nekan batu itu dengan sikap
panik. Lalu dibentur-benturkan dengan r>ahunya.
Akhirnya ia menoleh ke arah Pete dan Jupiter.
"Tidak bisa," katanya dengan suara bergetar.
"A-aku lupa apa yang kulakukan tadi, sampai bisa
terbuka!"
"Sini, aku yang mencoba," kata Jupiter. "Pasti
memakai prinsip pengungkit. Kita mesti bisa
menemukan tempat tepat yang harus didorong."
la dibantu Pete mendorong dan memukul-
mukul permukaan batu yang tetap tegar, sementa-
ra Bob terus mencari-cari tempat yang terdorong
olehnya tadi.
Tiba-tiba mereka seakan-akan terpaku di
tempat masing-masing. Gua menjadi terang,
karena sudah terbuka lebar. Dan ada sesuatu yang
datang ke arah mereka. Sesuatu yang gelap dan
besar sekali. Datangnya dari arah laut!
Pete mencengkeram bahu Jupiter.
"Sedang mengkhayalkah aku ini?" katanya
dengan napas sesak.

123
Jupiter hanya bisa menggeleng. Mulutnya terasa
kering. Matanya terkejap-kejap cepat. la berusaha
berbicara.
"Tidak —" katanya kemudian, "— itu memang
naga!"
Makhluk dongeng yang menyeramkan itu
semakiri mendekat. Kini nampak jelas kulitnya
yang berkilat basah karena air laut. Kepalanya
hanya nampak samar, berukuran kecil dan
berbentuk segi tiga, di ujung leher panjang
melengkung yang bergerak-gerak terus. Matanya
yang kuning tertatap ke arah gua. Sinarnya
memancar ke dalam, seperti sepasang lampu
sorot. Makhluk itu bergerak maju, dengan bunyi
mendengung aneh.
Sesaat kemudian ia sudah begitu dekat, mulut
gua seakan-akan penuh terisi badannya. Makhluk
itu menundukkan kepala. Anak-anak melihat lidah
yang bercabang bergerak keluar-masuk dengan
cepat, seolah-olah hendak mencicip mereka. Naga
itu mendesis-desis. Bunyi dengungannya seperti
desahan rindu.
Ketiga remaja yang terkurung di dalam gua
semakin panik. Mereka berusaha terus membuka
tingkap rahasia yang tidak bisa digerakkan. Batu
keras itu ditubruk-tubruk dari berbagai sudut.
"U-u-ugh!" Makhluk menyeramkan itu sudah
masuk ke dalam gua. Anak-anak mendengar bunyi
napasnya yang mendesah kasar.
Mereka merapatkan diri ke dinding gua,
sementara kepala naga yang menakutkan itu

124
125
menjulang tinggi di atas mereka. Kemudian
lehernya yang panjang bergerak ke samping, lalu
ke bawah. Makhluk itu membuka mulutnya yang
basah berair. Nampak deretan giginya yang besar
dan berkilat. Terdengar lagi bunyi napas mende-
sah kasar, disusul oleh suara batuk.
Jupiter pernah membaca bahwa harimau yang
sedang berburu biasa batuk sesaat sebelum
menerkam mangsanya. Waktu itu ia membacanya
secara sambil lalu saja. Tapi kini ia bergidik, karena
teringat.
Matanya seperti terpaku, menatap kepala naga
yang kelihatan gelap. Kepala itu bergerak meng-
ayun-ayun, seperti hendak memukau — lalu
dengan tiba-tiba mengayun lagi, mendekati ketiga
remaja itu. Jupiter mundur, merapatkan diri pada
kedua temannya, sementara tangannya masih
sibuk meraba-raba, mencari tempat yang tepat
pada batu bandel itu supaya bisa didorong.
Rahang naga yang berkilat basah semakin
mendekat, lalu terbuka lagi. Anak-anak merasakan
napasnya yang panas dan beruap.
Tiba-tiba terdengar bunyi detakan di belakang
mereka. Batu yang disandari bergetar. Jupiter
berpaling dengan cepat. la melihat Bob terjungkir
ke rongga sebelah. Sedang Pete masih terpaku,
menatap naga seperti terpukau. Jupiter menyen-
takkan tangan anak itu dan mendorongnya masuk
ke dalam lubang yang kini terbuka. Setelah itu ia
sendiri menyusul, sambil mengecilkan perut.

126
Batu tingkap tertutup kembali dengan suara
berat, sementara anak-anak menghembuskan
napas lega. Tapi kelegaan mereka hanya sesaat.
Mereka mendengar suara naga memekik
marah. Dinding batu yang memisah terasa
bergetar, sementara ada sesuatu yang berat
menggaruk-garuk dan membenturnya dari sisi
sebaliknya.

127
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 12
CENGKERAMAN KENGERIAN

"KITA dikejar!" teriak Pete.


Raungan di gua sebelah terdengar bertambah
nyaring. Dinding batu yang memisahkan kedua
rongga bawah tanah bergetar keras karena
tumbukan yang bertubi-tubi. Pasir dan batu-batu
kecil mulai berguguran dari langit-langit rongga
sempit tempat anak-anak meringkuk ketakutan.
Debu kering bercampur pasir berhamburan
memenuhi ruangan.
"Tanah longsor!" kata Pete sambil terbatuk-
batuk.
"Kita terjebak!" seru Bob. "Kita tidak bisa
bemapas lagi nanti!"
Jupiter teringat pada keterangan Arthur Shelby
mengenai bahaya yang mengancam dalam gua —
tentang tanah longsor, serta tertimbun hidup-
hidup di dalamnya.
Ternyata Arthur Shelby tidak hanya hendak
menakut-nakuti saja.
Semakin banyak batu berguguran. Bunyi
benturan dan raungan bertambah nyaring terde-
ngar. Jupiter mengguncang-guncangkan kepala.
Dengan cara begitu hendak disingkirkannya rasa
ngeri yang mencengkam.

128
Kemudian disadarinya bahwa matanya tertatap
ke papan-papan yang berjejer-jejer di ujung
seberang rongga. Aduh, tentu saja! Aneh, betapa
rasa takut dapat membuat pikiran serasa lumpuh.
"Papan-papan di sana itu!" teriaknya sambil
menuding. "Kita keluar lewat situ lagi!"
Ketiga penyelidik remaja yang sedang dicengke-
ram kengerian itu berlompatan ke sisi rongga yang
dibatasi papan-papan. Dengan gugup Bob dan
Jupiter mulai menggali pasir di situ, sementara
Pete menggedor-gedor papan yang tebal, berusa-
ha menggesernya. Sesaat kemudian papan itu
sudah tergeser. Sesaat, tapi rasanya seperti
seumur hidup! Ketiga remaja itu menyusup ke luar
lewat celah yang terjadi.
Papan lebar mereka kembalikan ke tempat
semula. Pasir di sekitarnya dirapatkan lagi dengan
kaki, sehingga mengganjal papan itu. Kemudian
mereka berpandang-pandangan. Napas mereka
tersengal-sengal.
"Sekarang kita lari!" kata Jupiter, laiu mulai
bergerak.
la sebenarnya tidak berniat lari paling cepat.
Kakinyalah yang melakukannya. Kaki-kaki itu
membawa tubuhnya langsung ke mulut gua.
Kemudian ia berada di atas pasir pantai, masih
dalam keadaan berlari.
Pete berlari di sampingnya. Anak itu yang paling
kekar di antara mereka bertiga, dan biasanya yang
paling cepat larinya. Bob menyusul di belakang.

129
Biasanya mereka dengan mudah saja bisa
melewati Jupiter.
Gerak langkah mereka menyebabkan sinar
senter yang dipegang nampak bergerak-gerak liar.
Mereka melewati tangga yang sudah roboh.
Akhirnya mereka sampai ke jenjang terbawah dari
tangga berikut. Mereka tahu bahwa Worthington
ada di atas tebing, dengan mobil Rolls-Royce yang
dapat dengan cepat melarikan mereka ke tempat
yang aman. Sedang di belakang ada makhluk
meraung yang muncul dari dalam laut, dan yang
saat itu sedang mencari-cari mereka dengan
marah.
Dengan cepat mereka mendaki tangga yang
terjal. Mereka sudah separuh jalan ke atas. Makhluk
berahang ganas dan dengan napas panas beruap
yang kelihatannya ingin memangsa mereka, ma-
sih belum muncul juga di belakang. Akhirnya
mereka sampai di puncak tangga, dalam keadaan
tersengal-sengal.
Jauh di depan nampak kelap-kelip lampu-
lampu di kota Los Angeles. Dan tidak jauh dari
mereka ada mobil Rolls-Royce yang diparkir di
pinggir jalan, dengan Worthington yang pasti
sudah siap di belakang kemudi.
Ketiga remaja itu berpacu menuju Rolls-Royce
besar dan mulus, yang nampak berkilat karena
bagian-bagiannya yang terbuat dari logam kena
sinar rembulan. Pintu dibuka dengan cepat, dan
mereka berebut-rebut masuk.

130
"Kita pulang, Worthington!" kata Jupiter dengan
suara terputus-putus karena kepayahan berlari.
"Baik, Master Jones," kata sopir yang jangkung
dan berpenampilan anggun itu. Seketika itu juga
mesin dinyalakan. Mobil mewah itu mulai
meluncur, menuruni jalan yang berbelok panjang,
menuju Pacific Coast Highway. Jalannya makin
lama makin laju.
"Tak kusangka kau mampu berlari secepat tadi,
Jupe," kata Pete dengan napas masih tersengal-
sengal.
"Aku sendiri pun tidak menyangka," jawab
Jupiter sambil menghembus-hembus. "Mungkin
— itu karena aku — selama ini — belum pernah
melihat — naga."
"Bukan main!" keluh Bob, sambil merebahkan
punggung ke sandaran bangku yang berlapis kulit.
"Sekali ini aku benar-benar mengucap syukur,
mempunyai hak memakai mobil ini!"
"Aku juga," kata Pete. "Tapi menurut pendapat-
mu, kenapa naga tadi bisa tahu-tahu muncul,
padahal kita sudah memutuskan bahwa tidak
mungkin ada naga."
"Entahlah," kata Jupiter, la masih berusaha
mengatur napas.
"Nah, kalau kau kapan-kapan berhasil mengeta-
huinya, aku tidak perlu kauberi tahu," kata Pete.
"Yang kulihat tadi itu saja rasanya sudah sulit
kulupakan!"
"Bagaimana itu sampai bisa terjadi?" tanya Bob.
"Menurut keterangan dalam buku-buku yang

131
pernah kubaca, katanya naga sudah punah. Itu pun
bukan naga, tapi kadal raksasa! Dewasa ini
makhluk raksasa seperti tadi sudah tidak ada lagi!"
Jupiter menarik-narik bibir bawahnya.
"Entahlah — aku tidak tahu." la menggeleng,
sementara keningnya dikerutkan. "Jawaban yang
paling gampang ialah, bahwa kita tadi sama sekali
tidak melihat naga. Jika naga tidak ada, maka tidak
mungkin kita tadi melihatnya."
"Bagaimana sih, kau ini?" tukas Pete. "Jika kita
tadi tidak melihat naga, lalu apa yang masuk ke
dalam gua, lalu menghembuskan napasnya yang
panas ke arah kita?"
"Kelihatannya memang seperti naga," kata Bob.
Saat itu Worthington menoleh ke belakang.
"Maaf, tapi mau tidak mau saya ikut menangkap
pembicaraan kalian. Benarkah pendengaran saya,
bahwa kalian tadi melihat naga? Maga sungguh-
sungguhan, dan hidup?"
"Betul, Worthington," kata Pete, "la muncul dari
dalam laut, lalu langsung menuju ke gua yang
sedang kami periksa. Anda pernah melihat naga?"
Sopir berkebangsaan Inggris itu menggeleng.
"Tidak, nasib saya tidak semujur itu. Tapi di
Skotlandia ada makhluk yang juga menyeramkan,
dan hanya beberapa orang saja yang pernah
melihatnya. Seekor ular laut yang besar dan
panjang, yang gerakannya seperti berombak.
Makhluk itu disebut monster dari Loch Mess.
Kabarnya ia masih muncul, sekali-sekali."

132
"Anda pernah melihatnya, Worthington?" tanya
Jupiter.
"Belum pernah, Master Jones," jawab sopir itu.
"Tapi ketika saya masih remaja, saya pernah
berkelana dekat Loch Ness — yang berarti Danau
Ness, dalam logat Skot — karena tersiar kabar
bahwa ada yang melihat monster itu. Salah satu
kekecewaan yang paling besar dalam hidup saya
ialah bahwa saya tidak pernah melihat monster dari
Loch Ness. Kabarnya, makhluk itu panjangnya
sekitar seratus meter."
"Hmmm." Jupiter merenung. Kemudian ia
berkata, "Dan menurut Anda tadi, Anda juga belum
pernah melihat naga."
"Kalau naga yang sesungguhnya, belum," kata
Worthington sambil tersenyum. "Yang pernah saya
lihat hanya yang biasa muncul sebelum per-
tandingan football."
"Pertandingan football?" tanya Bob. la mengerti
bahwa yang dimaksudkan oleh Worthington bukan
pertandingan sepak bola, melainkan olahraga bola
khas Amerika yang mirip dengan rugby. Tapi naga,
yang muncul sebelum pertandingan football?
Sopir yang selalu bersikap sopan dan anggun itu
mengangguk.
"Ya — pawai tahunan saat Tahun Baru yang
biasa diadakan di dekat sini. Di Pasadena.
Mobil-mobil berhias bunga-bunga. Kalau tidak
salah, namanya Rose Bowl Parade."
"Tapi yang kami lihat tadi, tidak terbuat dari

133
bunga-bunga yang dirangkai," kata Pete dengan
cepat. "Sungguh! Ya kan, Jupe?"
"Hmm," jawab Jupiter. "Yang jelas, bukan
terbuat dari bunga-bunga yang dirangkum. Yang
tadi itu memang naga sungguhan." la berhenti
sebentar, lalu menyambung, "Setidak-tidaknya,
kita bertiga sependapat bahwa kelihatannya seperti
naga."
"Senang juga rasanya, sekali ini kau mau
sependapat dengan kami," kata Pete.
Jupiter merengut. Bibir bawahnya dicubit-cubit,
tanda bahwa ia sedang sibuk berpikir. la tidak
menjawab, melainkan memandang lewat jendela
Rolls-Royce ke luar. Bibir bawahnya ditarik-tarik
terus.

Beberapa waktu kemudian Rolls-Royce besar itu


masuk ke pekarangan Jones Salvage Yard.
Anak-anak turun. Jupiter mengucapkan terima
kasih pada Worthington, sambil mengatakan
bahwa ia akan menelepon lagi besok, jika ternyata
memerlukan kendaraan.
"Baik, Master Jones," kata Worthington. "Perlu
saya katakan bahwa tugas malam ini menyenang-
kan bagi saya. Senang juga rasanya, sekali-sekali
tidak menjadi sopir nyonya-nyonya tua yang
kaya-raya, atau pengusaha berada. Tapi sebelum
kita berpisah, saya harapkan bisa mendapat
jawaban atas satu pertanyaan yang timbul dalam
diri saya. Tentang naga itu tadi."

134
"Ya, tentu saja, Worthington. Ada apa de-
ngannya?"
"Begini," kata sopir itu, "kalian tadi dapat
dikatakan bernasib baik, dapat melihat naga yang
sebenarnya, katakanlah dalam keadaan hidup. Dan
dari jarak dekat?"
"Terlalu dekat," jawab Pete dengan cepat.
"Boleh dibilang sudah hampir menindih kami."
"Bagus!" Sekali ini Worthington tidak lagi
bersikap menahan diri, seperti biasanya. "Jadi
mestinya kalian sempat memperhatikan. Benarkah
makhluk raksasa itu menyemburkan asap dan api
dari mulutnya, seperti dikatakan dalam kisah-kisah
lama?"
Jupiter berpikir sebentar, lalu menggelengkan
kepalanya lambat-lambat.
"Tidak, Worthington, naga yang ini tidak
menyemburkan api. Setidak-tidaknya, kami tadi
hanya melihat asap."
"Ah, sayang!" kata Worthington. "Saya akan
senang sekali, jika kalian tadi melihat naga dalam
wujud seutuhnya!"
"Ya, Anda mungkin senang, Worthington," kata
Pete. "Tapi apa yang kami lihat tadi sudah lebih dari
cukup bagiku. Seumur hidupku aku ddak ingin
mengalaminya sekali lagi. Baru berbicara me-
ngenainya saja, aku sudah merinding."
Worthington mengangguk, lalu menjalankan
Rolls-Royce yang disopirinya, meninggalkan tern-
pat itu. Jupiter mengajak anak-anak masuk ke
kompleks tempat penimbunan barang bekas.

135
Paman Titus dan Bibi Mathilda sudah tidur di
rumah mungil yang terletak di sebelah kompleks.
Hanya satu lampu kecil saja yang dibiarkan
menyala, sebagai penerangan untuk Jupiter saat ia
akan masuk.
Jupiter berpaling pada Bob dan Pete.
"Aku tidak tahu apakah kalian berdua akan
menyukainya, tapi tidak peduli ada naga atau tidak,
kita harus kembali ke gua tadi."
"Apaaa?" teriak Pete. "Tidak sadarkah kau, kita
ini sudah mujur, bisa kembali dengan selamat?"
Jupiter mengangguk. la mengangkat ta-
ngannya, yang tidak memegang apa-apa.
"Senterku tergantung pada ikat pinggangku,
sama seperti punya kalian. Tapi karena panik ketika
tadi lari meninggalkan gua, kita melupakan segala
peralatan kita. Kameraku, alat perekam suara, tali
— semuanya tertinggal di sana. Itu satu alasan,
kenapa kita harus kembali ke sana."
"Baiklah," kata Pete menggerutu. "Alasan itu
bisa diterima, walau bukan merupakan alasan kuat.
Lalu apa alasanmu yang lain?"
"Naga itu sendiri," kata Jupiter lambat-lambat.
"Menurutku, naga itu bukan naga sungguhan!"
Kedua temannya menatap dengan mulut
ternganga.
"Bukan naga sungguhan?" tukas Pete. "Kau
hendak mengatakan, yang tadi menyebabkan kita
lari pontang-panting ketakutan itu bukan sung-
guhan?"
Jupiter mengangguk.

136
Bob menggeleng-geleng.
"Jika yang tadi itu bukan naga sungguhan, akan
kutelan kemejaku ini mentah-mentah!"
"Kuakui, kelihatannya memang seperti naga,"
ka,ta Jupiter.
Pete nampak jengkel mendengar ucapan itu.
"Kalau begitu apa sebetulnya yang kauoceh-
kan?" tukasnya.
"Kuakui, kelihatannya seperti naga," kata Jupiter
mengulangi. "Tapi perangainya tidak!"
"Soal itu jangan kita perdebatkan sekarang,
karena malam sudah larut," kata Jupiter. "Besok
pagi akan kupaparkan dasar-dasar pertimbangan-
ku, kenapa aku sampai mengatakan tidak percaya
bahwa yang tadi itu naga sungguhan. Dan jika aku
ternyata keliru apabila kita ke gua itu lagi, akan
kulakukan apa yang kauancamkan tadi, Bob —
akan kutelan kemejaku mentah-mentah."
"Kau tidak perlu repot-repot," kata Pete. "Naga
yang akan menelannya untukmu. Dan sekaligus
apa yang ada di dalam kemejamu itu."

137
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 13
KELAKAR O R A N G YANG S U K A ISENG

BOB tidak bisa tidur enak malam itu. Padahal ia


capek sekali, setelah mengalami rentetan kejadian
mengerikan di dalam gua di Seaside. Tapi begitu
matanya te'rpejam, ia langsung bermimpi dikejar-
kejar naga besar yang menyembur-nyemburkan
asap panas. Ia terbangun lagi, dengan jantung
berdebar-debar. Setiap kali mata terpejam, setiap
kali pula datang mimpi dikejar-kejar. Dalam mimpi
terakhir, ia dan kedua temannya nyaris saja
menjadi korban. Ia terbangun bersimbah keringat
dingin. Badannya masih gemetar ketakutan.
Kini ada waktu baginya untuk merenungkan
ucapan Jupiter, yang mengatakan bahwa makhluk
yang menyeramkan itu bukan naga benar. Bob
menggeleng-geleng. Tidak bisa dibayangkannya
sesuatu yang lebih benar lagi.
Akhirnya ia terlelap kembali, dan baru bangun
ketika ibunya memanggil-manggil, menyuruhnya
sarapan. Bob mengenakan pakaian dengan
gerakan lambat, sambil memikirkan kejadian yang
dialami malam sebelumnya. Ia berusaha meng-
ingat-ingat satu saat, waktu mana naga itu ternyata
bukan naga tulen. Tapi ia terpaksa menyerah.
Baginya, makhluk seram itu tetap naga tulen.

138
Wujudnya masih terbayang di mata, suaranya
terngiang di telinga, dan baunya pun masih
menusuk hidung. Naga palsu takkan mungkin
bisa meninggalkan kesan begitu, pikirnya. Ah —
mungkin Jupiter keliru!
Ketika Bob datang ke meja makan, ayahnya
baru saja selesai sarapan. Mr. Andrews mengang-
gukkan kepala ketika melihat Bob, lalu melirik
arlojinya.
"Selamat pagi! Nah — kau asyik tadi malam,
bersama teman-temanmu?"
"Ya, Ayah," jawab Bob. "Bisa dibilang begitu."
Ayahnya meletakkan serbet ke meja, lalu berdiri.
"Baguslah, kalau begitu. O ya — aku tidak tahu
apakah ini penting atau tidak, tapi kau kemarin
kelihatannya tertarik pada riwayat terowongan
kereta bawah tanah di Seaside. Ketika kau sudah
pergi, barulah aku secara kebetulan teringat pada
nama orang yang kehilangan hartanya, karena
terlibat dalam pembangunannya."
"O ya?" tanya Bob. "Siapa nama orang itu,
Ayah?"
"Labron Carter."
"Carter?" Bob langsung teringat pada Mr. Carter,
yang mereka jumpai kemarin. Laki-laki penaik
darah, yang memiliki senapan buru kaliber besar.
"Ya, betul! Dan setelah Badan Perencana Kota
Seaside menolak rancangannya untuk menjelma-
kan kota itu menjadi pusat pertetirahan seperti
yang diidam-idamkannya, kesehatannya yang
semula sangat baik, mengalami penurunan. la

139
mulai sakit-sakitan. Hal itu, di samping kehilangan
harta serta nama baik, ternyata merupakan beban
yang terlalu berat baginya. la melakukan tindakan
nekat, menghabisi nyawanya sendiri."
"Kasihan! Apakah ia berkeluarga?"
Mr. Andrews mengangguk.
"Istrinya meninggal dunia, tidak lama sesudah
dia. Satu-satunya yang tinggal, hanya putra
tunggalnya." Mr. Andrews berhenti sejenak. "Itu
pun, kalau ia masih hidup," tambahnya kemudian.
"Jangan lupa, kejadian itu sudah lebih dari
setengah abad yang lalu."
Kemudian ia berangkat ke kantor surat kabar
tempat ia bekerja. Bob menambahkan informasi
yang baru diperoleh itu pada catatannya yang
sudah ada sampai saat itu. la berpikir-pikir. Apa
kiranya yang akan dikatakan Jupiter nanti, jika ia
menyodorkan bukti-bukti dari pihaknya. Bukti
bahwa seseorang yang tahu tentang terowongan
yang dibangun sekitar lima puluh tahun, kini masih
hidup. Seseorang dengan dendam dalam hatinya
terhadap kota yang menyebabkan ayahnya patah
hati. Seseorang yang pemarah!
Bob tidak bisa membayangkan, dengan cara
bagaimana Mr. Carter yang sekarang akan
membalas dendam. Itu jika ia memang ingin
melakukannya! Bob mengantungi catatannya, lalu
bergegas pergi begitu selesai sarapan.
Mungkin Jupiter nanti mampu menarik kesim-
pulan jelas mengenainya.

140
"Wah," kata Pete. Suaranya bernada suram.
"Keterangan Bob mengenai keluarga Carter
masuk akal, Jupe. Lebih masuk akal daripada
anggapanmu, bahwa naga yang kemarin itu palsu,
bukan naga tulen," sambungnya.
Ketiga penyelidik dari Trio Detektif itu sudah
berkumpul lagi di ruang kantor mereka. Bob
membuka pertemuan kali itu dengan pembacaan
catatan, seperti yang biasa mereka lakukan. Pada
kesempatan itu ia menyebut nama Labron Carter.
Tapi kecuali itu masih ada lagi hal-hal yang baru
bagi kedua kawannya.
"Aku masih ingat, apa yang kaukatakan kemarin
malam tentang naga itu, Jupe," katanya. "Tadi
pagi, dari rumah aku langsung ke perpustakaan.
Cukup banyak penelitian yang kulakukan di situ
tadi."
"Kurasa akan sangat bermanfaat bagi pertemu-
an kita pagi ini, jika kau langsung saja mengutara-
kan hasil risetmu itu, Bob," kata Jupiter. "Jadi,
adakah naga pada zaman sekarang ini, atau tidak?"
Bob menggeleng.
"Tidak. Tidak ada naga! Tidak ada satu buku
pun yang membahas bahwa ada naga pada masa
sekarang ini."
"Itu kan gila!" tukas Pete. "Para pengarang
buku-buku itu saja yang tidak tahu, di mana
mereka harus mencari. Coba mereka mau
sebentar saja mendatangi sebuah gua tertentu di
Seaside saat malam hari, mereka pasti akan

141
menjumpai seekor. Seekor naga yang besarnya
tidak kepalang tanggung!"
Jupiter mengangkat tangannya, meminta Pete
berhenti bicara.
"Sebaiknya kita dengarkan dulu laporan Bob
Sesudah itu barulah kita berdiskusi mengenainya.
Silakan terus, Bob!"
Bob mempelajari catatannya sebentar.
"Satu-satunya informasi yang kutemukan ten-
tang makhlukyang paling mirip dengan naga, ialah
sebuah buku tentang kadal besar yang hidup di
Pulau Komodo, di Indonesia. Sejenis biawak, tapi
lebih besar lagi. Panjangnya bisa sampai tiga
meteran. Tapi masih jauh dari naga yang kita lihat
kemarin."
"Mungkin ada seekor di antaranya yang
kebanyakan vitamin," kata Pete. "Mungkin dia
itulah naga kita."
"Tidak mungkin," kata Bob. "Biawak Komodo
tidak menyemburkan api, dan hidupnya hanya di
Komodo serta beberapa pulau kecil lain di sekitar
situ. Wujudnya juga sama sekali tidak mirip
makhluk yang kita lihat itu. Kurasa kita bisa
mengatakan dengan pasti, tidak ada naga yang
hidup dewasa ini." la berhenti sebentar, lalu
menyambung, "Tapi tadi kutemukan berbagai
informasi tentang sejumlah besar makhluk yang
menyerang dan membunuh manusia, dan bahkan
memakannya!" la menoleh ke arah kedua
temannya. "Bagaimana — aku teruskan?"
Jupiter mengangguk.

142
"Ya, tentu saja! Kita harus mengenal musuh-
musuh kita daiam alam — dan begitu juga yang
pura-pura merupakan makhluk alam, untuk
mengelabui kita. Teruskan, Bob!"
"Baiklah," kata Bob. la menyirnak catatannya
sebentar. "Sejuta manusia tewas setiap tahunnya,
menjadi korban serangga pembawa penyakit;
40.000 mati kena gigitan ular; 2.000 karena
diterkam harimau; 1.000 orang setahun dimangsa
buaya, dan 1.000 lagi dilalap ikan hiu."
"Kau dengar itu, Pete," kata Jupiter, "sejauh ini
sama sekali tidak ada catatan statistik tentang
perjumpaan manusia dengan naga. Teruskan,
Bob."
"Yang tadi itu angka-angka korban yang
tergolong banyak," kata Bob. "Kecuali itu masih
banyak pula yang disebabkan oleh serangan gajah,
kuda nil, badak, serigala, singa, dubuk atau hiena,
dan macan kumbang. Kematian itu ada yang
merupakan kecelakaan. Tapi di antara satwa itu
ada juga yang merupakan pembunuh dan
pemangsa manusia. Banyak di antaranya yang
memang suka membunuh.
Tapi menurut buku karangan James Clarke —
yang berjudul Manusialah Mangsa Mereka —
keganasan beberapa binatang buas itu terlalu
dilebih-lebihkan. Misalnya saja beruang kutub,
puma, burung rajawali, dan juga buaya. Menurut
James Clarke, labah-Iabah raksasa yang bernama
tarantula, sebenarnya sama sekali tidak suka
menyerang orang. Beruang grizzly sebenarnya

143
tidak begitu banyak meminta korban, sedang
monyet-monyet besar terlalu cerdas, jadi cende-
rung menjauhi manusia. Dalam buku itu juga
dikatakan, jika ingin dimangsa binatang buas,
sebaiknya pergi ke Afrika Tengah, atau ke India.
Kawasan yang paling aman menurut buku itu,
Irlandia. Satwa yang paling berbahaya di sana,
hanyalah lebah besar!"
Bob melipat kertas-kertas catatannya. Ruang
kantor sempit itu hening sesaat.
"Kau mau memberi komentar?" tanya Jupe
pada Pete.
Pete menggeleng.
"Setelah mendengar catatan Bob, Seaside
masih tergolong tempat yang aman," katanya
sambil tersenyum. "Sekarang aku tinggal kauya-
kinkan saja, bahwa naga yang kemarin malam itu
palsu. Bukan naga tulen!"
"Pertama-tama," kata Jupiter. "Kita sama sekali
tidak melihat —"
Pesawat telepon berdering.
Tangan Jupiter sudah bergerak, hendak meraih.
Tapi tidak jadi.
"Ayo — terima saja," kata Pete. "Mungkin itu
orang mati — atau hantu — yang kemarin itu lagi.
Mungkin saja ia hendak mengatakan pada naga
kita, agar jangan berani-berani masuk ke guanya."
Jupiter tersenyum. Diangkatnya gagang te-
lepon.
"Halo?"

144
Seperti biasa, pesawat itu didekatkannya ke
mikrofon, agar Bob dan Pete bisa mengikuti
pembicaraan.
"Halo."
Anak-anak sudah sering mendengar suara itu.
"Di sini Alfred Hitchcock. Apakah aku bicara
dengan Jupiter Jones?"
"Betul, Mr. Hitchcock. Saya rasa Anda menele-
pon karena ingin mengetahui bagaimana perkem-
bangan penyelidikan yang kami lakukan untuk
kawan Anda, ya?"
"Betul," jawab Alfred Hitchcock. "Waktu itu
kukatakan pada Allen, bahwa kujamin kalian akan
berhasil mengusut teka-teki lenyapnya anjing
kesayangannya dengan cepat, berkat kecerdikan
kalian. Dan aku sekarang menelepon untuk
mengetahui apakah keyakinanku itu beralasan
atau tidak. Sudah kalian temukankah anjing yang
hilang itu?"
"Belum, Mr. Hitchcock," kata Jupiter. "Soalnya,
ada misteri lain yang perlu kami usut terlebih dulu.
Suatu misteri yang menyangkut naga. Naga
batuk!"
"Naga — yang batuk?" kata Mr. Hitchcock.
"Maksudmu, naga yang benar-benar naga? Dan
naga itu batuk, katamu? Aneh! Alam kehidupan
kita ini rupanya penuh dengan misteri. Walau
begitu, jika kemunculan naga itu membingungkan
kalian, kusarankan agar kalian sebaiknya membi-
carakannya dengan orang yang dianggap paling
ahli tentang hal-hal seperti itu."

145
"Siapa orang itu, Sir?" tanya Jupiter.
"Siapa lagi, kalau bukan kawan lamaku, Henry
Allen," kata Mr. Hitchcock. "Aneh — bahwa itu tidak
diceritakannya pada kalian! Dalam karya-karyanya
dulu, ia lebih banyak menampilkan naga, diban-
dingkan dengan siapa pun juga sebelum dan
sesudah zamannya."
"Ya, ia memang mengatakan bahwa ia menam-
pilkan wujud naga dalam beberapa filmnya," kata
Jupiter, "tapi walau demikian ia tetap saja kaget,
ketika melihat ada naga di pantai depan rumahnya.
Terima kasih atas pengecekan ini, Mr. Hitchcock.
Saya rasa sebaiknya kami menyampaikan laporan
tentang perkembangan penyelidikan kami pada
Mr. Allen. Saya akan meneleponnya sekarang."
"Itu tidak perlu," kata Mr. Hitchcock dengan
tidak disangka-sangka. "Ia ada di hubungan yang
satu lagi, di kantorku. Ia baru saja menelepon,
untuk mengatakan bahwa ia sangat terkesan
melihat penampilan kalian. Tunggu sebentar, ya —
akan kuminta sekretarisku menyambungkannya
dengan kalian."
Hubungan terputus sesaat. Kemudian terdengar
suara sutradara film yang sudah tua itu.
"Halo," kata Mr. Allen. "Kaukah ini, Jones?"
"Ya, Mr. Allen. Maaf, sampai sekarang kami
belum berhasil menemukan petunjuk apa pun,
mengenai anjing Anda yang hilang itu. Tapi kami
akan terus berusaha."
"Bagus!" kata Mr. Allen. "Aku sendiri, sebenar-
nya juga tidak mengharapkan hasil secepat ini.

146
Bisa saja anjingku itu diambil orang. Seperti sudah
kukatakan, ia sangat ramah."
"Kemungkinan itu sudah kami pertimbangkan,
Sir," kata Jupiter. "Bagaimana dengan tetangga-
tetangga Anda yang juga kehilangan anjing? Ada di
antara anjing-anjing itu yang sementara ini sudah
kembali?"
"Tidak," jawab Mr. Allen. "Kurasa aku mengerti
apa yang kaumaksudkan dengan pertanyaanmu
itu, Anak muda. Kau masih memperhitungkan
faktor kebetulan, ya? Yaitu bahwa anjing-anjing
kami itu semua lenyap pada waktu yang boleh
dibilang bersamaan."
"Ya," kata Jupiter.
"Kalian sudah berbicara dengan tetangga-
tetanggaku?"
"Baru dengan yang menurut Anda tidak
memelihara anjing," kata Jupiter. "Mr. Carter dan
Mr. Shelby."
"Lalu, apa kata mereka?"
"Kedua tetangga Anda itu orang-orang aneh,
Mr. Allen," kata Jupiter. "Mr. Carter marah-marah
karena merasa diganggu. la menggertak kami
dengan senapan burunya. Ia tidak suka pada
anjing. Rupanya kebunnya sering rusak karena
anjing-anjing yang berkeliaran di situ, la mengan-
cam akan menembak mati, jika ada yang masuk
lagi ke pekarangannya."
Mr. Allen tertawa.
"Itu cuma gertakan saja, Anak muda! Carter
memang suka ribut-ribut. Tapi kurasa ia takkan

147
sampai hati, menembak binatang yang tidak
apa-apa. Lalu bagaimana hasil perjumpaan kalian
dengan temanku, Arthur Shelby?"
"Yah —" kata Jupiter menjawab, "ia agak
mendingan, tapi tidak kalah anehnya. Ia mempu-
nyai caranya sendiri, untuk menakut-nakuti kami."
Sutradara film yang sudah tua itu tertawa lagi..
"Ah — maksudmu segala peralatan yang
terpasang di sekitar rumahnya, ya? Itu gunanya
untuk menakut-nakuti pedagang keliling dan
orang yang masuk tanpa izin, supaya tidak berani
datang lagi. Aku seharusnya memang memberi
tahu kalian, bahwa Arthur Shelby itu orang yang
suka iseng."
"Bilang padanya, itu kita alami sendiri," bisik
Bob.
"Mungkin ia hendak mengingatkan diriku,
bahwa aku bukan satu-satunya di sekitar sini yang
bisa menakut-nakuti orang," sambung Mr. Allen.
"Shelby mengenalfilm-film horor ciptaanku dulu,
dan mungkin saja ia membuat aku mengalami
bagaimana rasanya jika ditakut-takuti. " Mr. Allen
terkekeh. "Ngomong-ngomong, kegemaran Shel-
by berbuat iseng pernah menyebabkan ia
kehilangan posisinya yang cukup penting di
jawatan kotapraja. la waktu itu bekerja di Badan
Perencana Kota. la bisa dibilang mengenal
seluk-beluk kerja kota. Pada suatu hari timbul
niatnya untuk memanfaatkan pengetahuannya
itu."

148
"Dengan cara bagaimana?" tanya Jupiter. "Apa
yang dilakukan olehnya?"
Sekali lagi Mr. Allen terdengar tertawa geli.
"Hal itu terjadi pada had ulang tahunnya, dan
merupakan ide Shelby sendiri untuk berkelakar.
Peristiwa yang terjadi sebenarnya tidak bisa
dibilang terlalu serius. Dia itu insinyur. Karenanya ia
berhasil memadamkan semua lampu lalu lintas
dalam kota secara serempak. Katanya, itu seperti
kue ulang tahun, tapi tanpa lilin. Tidak perlu
kukatakan lagi, bagaimana situasi lalu lintas di
tengah kota saat itu. Kacau-balau! Orang-orang
bisnis terlambat datang untuk memenuhi perjanji-
an dengan nasabah serta rekan usaha. Para
pegawai terlambat datang ke kantor, dan terlambat
pula pulang ke rumah.
Pemadaman yang terjadi karena ulahnya itu
hanya sebentar — beberapa jam saja. Tapi
akibatnya, banyak yang marah-marah! Masa, hal
seperti itu bisa terjadi di kota kita yang modern dan
selalu sibuk. Tokoh-tokoh penting banyak yang
marah. Orang yang bertanggung jawab atas
kejadian itu langsung dicari. Anehnya, Shelby
mengakui perbuatannya. la mengatakan dengan
terang-terangan, hal itu dilakukannya untuk mera-
yakan hari ulang tahunnya. Hanya untuk iseng
belaka!"
"Lalu apa yang terjadi dengan dirinya?" tanya
Jupiter.
"Tentu saja ia langsung dipecat. Bukan itu saja,
pihak yang berkuasa yang menetapkan bahwa

149
Shelby tidak boleh lagi diberi pekerjaan yang ada
pertaliannya dengan kotapraja. la sedikit-banyak
senasib denganku, sama-sama tidak diberi kesem-
patan mencari nafkah."
"Maksud Anda, ia tidak diizinkan bekerja lagi
setelah itu?" tanya Jupiter.
"Hidupnya tidak bisa dibilang gampang," kata
laki-laki tua itu. "Sekali-sekali ia mendapat
pekerjaan sambilan di salah satu perusahaan
dagang, yang hendak melancarkan aksi promosi,
dalam wujud gambar dengan lampu-lampu listrik
yang bergerak-gerak untuk menarik perhatian
konsumen. Pokoknya hal-hal seperti itulah! Tapi itu
pun cuma sekali-sekali saja. Tidak sering! la harus
menebus dosa yang dilakukannya karena iseng
waktu itu."
"Bagaimana dengan pawai Rose Bowl?" tanya
Jupiter. "Apakah Mr. Shelby pernah membuat
dekorasi mobil hias yang ikut dalam arak-arakan
meriah itu?"
Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Ketika
Mr. Allen berbicara lagi, suaranya terdengar agak
ragu-ragu.
"Sepanjang pengetahuanku, tidak! Mobil-mobil
hias yang ikut dalam arak-arakan itu, hiasannya„
kan bunga-bunga yang dirangkum menjadi
dekorasi indah. Sedang Shelby lebih banyak
berurusan dengan dekorasi yang bercorak meka-
nik, jadi yang bisa bergerak-gerak. Kecuali itu, para
penyelenggara Rose Bowl bersikap sangat serius
mengenai pawai mereka. Banyak orang yang

150
membayar karcis untuk menonton pawai itu di
Pasadena, dan arak-arakan meriah itu juga
disiarkan lewat TV. Tidak, Anak muda, kurasa
orang yang suka iseng seperti Shelby takkan
mungkin mereka kontrak untuk ikut terlibat dalam
atraksi seserius itu. Apalagi karena reputasinya di
masa yang lalu."
"Sayang," kata Jupiter. "Yah — pokoknya
banyak yang dibuatnya sekarang untuk me-
nyenangkan hatinya sendiri, dan katanya segala
ciptaannya itu tidak berbahaya."
"Tapi ada saja orang yang tidak menyenangi
keisengannya. Begitulah kenyataannya. Nah, untuk
sekarang kurasa sudah cukup —"
"Satu pertanyaan lagi, Sir," kata Jupiter
buru-buru. "Naga yang Anda lihat waktu itu —
Anda tahu pasti bahwa ia batuk?"
"Pasti," kata sutradara tua itu. "Bunyinya seperti
batuk."
"Dan Anda melihatnya dari tubir tebing dekat
rumah Anda, ketika naga itu masuk ke dalam gua
yang terdapat di kaki tebing di bawah Anda?"
"Ya, betul! Tentang itu aku tahu pasti. Saat itu
malam sudah larut, tapi segala kemampuan
jasmaniku masih lengkap, biar belakangan ini tidak
ada yang mau menjadi sponsorku untuk membuat
film. Penglihatanku masih sempurna."
"Terima kasih, Mr. Allen. Kita akan tetap
berhubungan."
Jupiter mengembalikan gagang telepon ke

151
tempatnya. Kemudian ia berpaling, menatap
kedua temannya.
"Ada komentar?" tanyanya.
Bob mengangkat bahu, begitu pula Pete.
"Katanya tadi, Shelby suka berbuat iseng," kata
Pete. "Kalau itu, aku pun bisa mengatakannya. Aku
ketakutan setengah mati ketika burung-burungan-
nya tahu-tahu menyambar. Sama seperti ketika
naga masuk ke dalam gua."
"Nah — dengan komentarmu itu kita sampai
pada pengamatanku yang berikut," kata Jupiter.
"Aku menarik kesimpulan, bahwa Mr. Allen —
untuk siapa kita sebenarnya bekerja — ternyata
tidak bisa terlalu diandalkan pernyataannya, kalau
itu ditilik dari sudut benar-tidaknya."
"Hahh?" Pete memandang Jupiter dengan
kening berkerut.
"Dengan kalimat sederhana, Jupiter hendak
mengatakan bahwa Mr. Allen berbohong," kata
Bob menjelaskan.
"Kalau begitu, kenapa tidak begitu dikatakan-
nya?" tukas Pete dengan nada sebal. la meman-
dang Jupiter. "Coba kaukatakan dengan kalimat-
kalimat yang bisa kumengerti, tentang apa ia
berbohong."
Jupiter mengangguk.
"la mengatakan, ia sedang berdiri di tubir tebing,
ketika ia melihat naga itu masuk ke dalam gua di
bawahnya."
"Lalu, apakah itu tidak boleh?" tanya Pete
dengan air muka bingung.

152
Jupiter menggeleng.
"Di tempat itu, dinding tebing sebelah atas
menjorok ke luar. Tidak mungkin orang yang
berdiri di tubir tebing bisa melihat gua, atau melihat
sesuatu yang masuk ke situ. Hal itu kualami sendiri,
kemarin malam."
Pete menggaruk-garuk kepala dengan sikap
bingung.
"Aku tidak tahu. Mungkin kau benar, dan ia
keliru. Bisakah kau membuktikannya?"
"Memang begitulah niatku," kata Jupiter serius.
"Malam ini, saat kita kembali mendatangi gua itu.
Mungkin saat itu aku bukan saja akan berhasil
membuktikan bahwa Mr. Allen tidak mengatakan
yang sebenarnya, tapi juga bahwa naga yang kita
lihat itu sebenarnya palsu, bikin-bikinan orang
saja!"
"Jangan lupa," katanya menyambung, "dalam
kasus ini ada sejumlah orang yang perlu kita
curigai, yaitu orang-orang yang tahu-menahu
tentang terowongan kereta bawah tanah yang tidak
jadi diselesaikan, serta yang menaruh dendam
pada orang lain. Mr. Allen dan Mr. Shelby,
kedua-duanya kehilangan pekerjaan, dan tidak
diberi kesempatan untuk bekerja kembali. Lalu Mr.
Carter—jika ia temyata memang putra orang yang
dulu mulai membangun terowongan itu —
tentunya juga tahu-menahu mengenainya. Dan
aku tidak heran jika ia menyimpan dendam, yang
ingin dilampiaskannya terhadap sekian banyak
orang yang dianggapnya ikut bersalah. Saat ini aku

153
belum tahu, apa hubungan segala hal ini dengan
naga, serta dengan gua yang kita temukan. Tapi
malam ini kita mungkin akan bisa menemukan
sesuatu di dalam gua itu."
"Maksudmu," kata Pete cemas, "kita akan
kembali ke gua itu? Malam ini? Ke tempat itu lagi?
Dengan kemungkinan si Itu ada di sana,
menunggu kita?"
Jupiter tidak menjawab. la sibuk menulis.
Setelah itu ia meraih gagang telepon.
"Pertama-tama, perlu terlebih dulu mengetahui
sesuatu," katanya. "Mestinya itu sebelumnya sudah
terpikir olehku."

154
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 14
B E R B U R U NAGA

"TOLONG sambungkan dengan Mr. Alfred Hitch-


cock," kata Jupiter lewat saluran telepon. "Katakan
saja, Jupiter Jones yang menelepon."
Bob dan Pete berpandang-pandangan dengan
sikap tidak mengerti. Setelah itu keduanya
menatap Jupiter. Tapi temannya itu tidak meng-
acuhkan pandangan mereka, yang seakan-akan
bertanya. la menulis terus, sambil menunggu
disambungkan dengan Alfred Hitchcock.
Sesaat kemudian didengarnya suara sutradara
termashur itu.
"Di sini Alfred Hitchcock. Apakah ini berarti
kalian baru saja berhasil mengusut teka-teki
anjing-anjing yang lenyap di Seaside?"
Jupiter tersenyum.
"Bukan begitu tepatnya, Sir," jawabnya. "Saya
menelepon ini, sehubungan dengan keterangan
Anda tadi. Anda mengatakan, teman Anda Mr.
Allen merupakan tokoh ahli tentang naga, serta
menampilkan wujud makhluk-makhluk itu dalam
film-film horornya yang dulu."
"Memang betul," jawab Mr. Hitchcock. "Dan
bukan cuma naga, tapi juga kelelawar, serigala,
jadi-jadian, vampir, hantu kubur, mayat hidup —

155
pokoknya semua yang menyebabkan orang akan
ketakutan setengah mati! Sayang film-filmnya
dibuat jauh sebelum kalian ada. Para penggemar
film-filmnya, sekarang pun masih gemetar dan
merinding, kalau teringat pada segala makhluk
menyeramkan ciptaannya!"
"Ya, kabamya memang begitu," jawab Jupiter.
"Saya rasa segala monster itu tentunya benar-
benar seperti hidup, sehingga Mr. Allen bisa
membangkitkan kesan yang begitu."
"Ya, tentu saja," kata Mr. Hitchcock mantap.
"Orang takkan bisa ditakut-takuti dengan tiruan
buruk dari makhluk-makhluk yang mestinya
menakutkan. Wujud-wujud itu hams nampak dan
bertingkah laku persis seperti aslinya."
Jupiter mengangguk.
"Dan siapakah yang membuat makhluk-
makhluk untuk filmnya itu, Sir?"
"Tentu saja kami memiliki tenaga-tenaga yang
sangattrampil di studio," kata Mr. Hitchcock sambil
tertawa. "Kadang-kadang, suatu makhluk me-
nyeramkan bisa bergerak-gerak karena di dalam-
nya ada semacam alat mekanis yang hebat. Alat itu
digerakkan dengan mesin, atau dengan sistem
roda gigi dan engkol. Dan kadang-kadang, jika
adegan yang ditampilkan menghendakinya, kami
memakai teknik lain. Makhluk seram itu kami buat
fotonya dalam posisi gerak yang setiap kali
berubah sedikit. Begitu terus, sampai seluruh
gerakan selesai diambil. Inilah yang disebut teknik
stop-motion. Jika foto-foto yang diambil beruntun-

156
runtun itu diputar dengan kecepatan film yang
biasa, maka akan timbul kesan seolah-olah
makhluk itu bergerak. Mengerti sekarang?"
"Ya, Sir," kata Jupiter. "Lalu apa yang terjadi
dengan monster-monster itu, setelah film selesai
dibuat?"
"Kedang-kadang disimpan, untuk dipakai lagi
pada kesempatan lain," kata Mr. Hitchcock
menjelaskan. "Ada juga yang dijual ke perusahaan
lelang. Atau kadang-kadang dimusnahkan saja.
Cukupkah jawaban itu?"
"Ya, Sir," kata Jupiter. "Tapi saya masih punya
satu pertanyaan lagi. Apakah Anda kebetulan
memiliki salah satu film karya Mr. Allen? Kami ingin
melihatnya, terutama jika ada rjaga tampil di
dalamnya."
"Aneh — kenapa justru sekarang kau mena-
nyakannya," kata sutradara terkenal itu, setelah
diam sejenak. "Aku baru saja membongkar arsip
film kami, untuk mencari sebuah film klasik
ciptaannya. Judul film itu, Makhluk Gua', yang
hampir seluruhnya menyangkut seekor naga. Aku
bermaksud mempelajarinya, untuk filmku yang
berikut. Bukannya aku hendak menjiplak ide-ide
Allen," sambungnya agak terburu-buru, "tapi agar
aku benar-benar sadar bahwa filmku harus
benar-benar bagus, apabila hendak mengalahkdh
ciptaannya itu."
"Bagi kami pun akan sangat bermanfaat jika
dapat melihat film itu, Mr. Hitchcock," kata Jupiter
dengan cepat. "Saya sendiri ingin sekali melihat,

157
bagaimana perangai naga yang sebenarnya.
Bisakah Anda mengatur agar kami bisa ikut
melihatnya, Sir?"
Alfred Hitchcock langsung memberi jawaban.
"Datanglah satu jam lagi ke studioku. Aku akan
ada di Ruang Proyeksi Empat."
Jupiter menaruh gagang telepon lambat-
lambat, ketika pembicaraan selesai. Kemudian ia
berpaling pada Pete dan Bob.
"Ingat," katanya, "wujud yang akan kita lihat
nanti, merupakan naga sejati menurut gambaran
yang lazim mengenainya. Jadi kalian perhatikan
baik-baik nanti. Barangkali saja kalian melihat
sesuatu, yang akan bisa menyelamatkan nyawa
kita."
"Apa maksudmu?" tanya Bob.
Jupiter berdiri, lalu menggeliat.
"Aku bersandar pada teoriku, bahwa naga di
Seaside itu palsu. Tapi mungkin juga aku keliru.
Dan jika begitu, kita menghadapi naga yang
benar-benar naga!"

Trio Detektif berangkat ke Hollywood naik


Rolls-Royce, yang seperti biasa dikemudikan oleh
Worthington. Tepat pada waktu yang ditentukan
mereka masuk ke kompleks perfilman, dan
berhenti di depan sebuah bungalow. Itulah Ruang
Proyeksi Empat, menurut tulisan yang tertera di
situ. Mereka langsung masuk. Mr. Hitchcock duduk
di belakang ruangan, bersama sekretarisnya. Ia

158
mengangguk, sebagai pengganti ucapan selamat
datang.
"Kalian duduk saja di depan," ujar sutradara itu
dengan suara berat. "Aku baru saja hendak
memberi isyarat pada juru proyeksi agar mulai."
la menekan sebuah tombol yang terdapat pada
kursi yang didudukinya. Ruangan menjadi gelap.
Saat itu juga ada sinar terang memancar dari
lubang kecil yang terdapat pada dinding bilik di
belakang kursi Mr. Hitchcock, diiringi bunyi
mendesir.
"Ingat — film ini sudah kuno," kata Mr.
Hitchcock memberi tahu. "Dan mungkin ini
merupakan satu-satunya copy yang masih ada.
Mutu pencuciannya kurang bagus. Pada beberapa
bagian nampak gelap dan buram. Tapi apa boleh
buat! — Nah, kurasa itu cukup, sebagai penjelasan.
Kita lihat saja sekarang, bersama-sama!"
Dengan segera ketiga remaja itu sudah
melupakan sekeliling mereka. Ternyata Mr. Hich-
cock tidak melebih-Iebihkan ketika menyatakan
bahwa film itu sangat tegang. Jupiter dan kedua
temannya seperti terpukau mengikuti jalan cerita
horor itu, yang diolah dengan sangat ahli oleh
sutradaranya.
Adegan yang nampak pada layar putih beralih.
Kini nampak sebuah gua. Detik itu juga, ketiga
remaja itu sudah merasa seperti benar-benar
berada di dalamnya. Dan sementara jantung
mereka sudah berdebar-debar lagi, mereka
melihatnya kembali — naga itu!

159
Makhluk seram yang masuk ke dalam gua,
seakan-akan mengisi layar sampai ke sudut-
sudutnya. Makhluk itu besar sekali, jelek dan
menakutkan. Sayapnya yang pendek terangkat,
menampakkan otot-otot panjang yang bergerak-
gerak seperti ular hidup di bawah selaput kulit yang
basah dan bersisik. Kemudian lehernya yang
panjang dan lentur bergerak — dan kepalanya
yang kecil dan nampak gelap menghadap ke arah
mereka.
Naga itu meraung, menampakkan rahang yang
panjang dan kuat.
"Iiih!" desah Pete. Tanpa disadari, duduknya
agak diringkukkan. "Itu naga sungguhan!"
Bob terpana, menatap makhluk seram yang
semakin maju di layar. Tangan remaja itu
mencengkeram sandaran kursinya.
Jupiter duduk dengan tenang, memperhatikan
setiap gerak-gerik naga yang nampak di layar film.
Enam pasang mata seperti terpaku menatap
layar, sampai film selesai. Ketika lampu ruangan
menyala lagi dengan tiba-tiba, mereka masih tetap
tegang, terkesan oleh film yang baru saja dilihat.
Dan ketika berjalan menuju ke belakang
ruangan, lutut mereka terasa lemas.
"Astaga — sekujur tubuhku lemas rasanya,"
kata Bob. "Rasanya seolah-olah pengalaman
kemarin malam berulang kembali. Aku sampai
lupa, bahwa kita sedang menonton film!"
Jupiter mengangguk.

160
"ltu merupakan bukti, betapa seorang ahli
pencipta kengerian bisa mencapai apa yang ingin
dikesankan. Mr. Allen memiliki keahlian untuk
membuat kita menerima dan mempercayai apa
saja yang hendak dikesankan olehnya. Kita
dibuatnya setengah mati ketakutan, dengan naga
bikin-bikinan yang muncul di atas layar film.
Memang kesan itulah yang hendak ditimbulkan-
nya, sedang kita membiarkan dia membuat kita
takut. Itu perlu selalu kita ingat."
"Nan?" kata Mr. Hitchcock, ketika ketiga remaja
itu sudah sampai di dekatnya. "Kalian mengerti
sekarang, apa sebabnya kawanku itu pernah
dipandang raja film-film horor?"
Jupiter mengangguk. Banyak pertanyaan yang
sebenarnya ingin diajukan olehnya. Tapi ia melihat
bahwa Mr. Hitchcock sedang sibuk, sedang
sekretarisnya sudah siap untuk mencatat. Karena-
nya, ia hanya mengucapkan terima kasih atas
kesempatan melihat film itu.
"Kalian sekarang sudah melihat naga yang di
film," kata Mr. Hitchcock. "Kini kutunggu hasil
pengusutan kalian terhadap misteri naga yang di
Seaside."
Anak-anak diantarnya ke luar. Ketiga remaja itu
langsung menuju ke Rolls-Royce mengkilat yang
menunggu di luar, dengan Worthington di
belakang kemudi.
Mereka duduk bersandar di jok belakang,
sementara kendaraan mewah itu meluncur
lambat-lambat ke arah pintu gerbang.

161
"Kau tadi menyuruh kami mengamat-amati
dengan teliti," kata Bob setelah beberapa saat,
"dan itu sudah kulakukan. Aku sama sekali tidak
melihat perbedaan antara naga yang di film tadi,
dengan naga kita yang di gua. Kau bagaimana,
Pete?"
Pete menggeleng.
"Satu-satunya perbedaan, naga film tadi lebih
dahsyat raungannya."
"Bukan lebih dahsyat," kata Bob, "tapi naga kita
rasanya sering terbatuk-batuk."
Jupiter tersenyum.
"Tepat," katanya singkat.
"Apa lagi maksudmu, Jupe?" tanya Pete.
"Kelihatannya naga yang di Seaside itu lebih
peka terhadap cuaca buruk, karena kedengaran-
nya seperti sedang pilek."
Bob memperhatikan Jupiter, yang duduk
bersandar dengan sikap puas. Bagi Bob, air muka
temannya itu merupakan pertanda buruk. Berda-
sarkan pengalaman selama mereka bergaul, air
muka yang begitu berarti bahwa Jupiter berhasil
mengetahui sesuatu. Sesuatu yang lolos dari
pengamatan Bob dan Pete.
"Mana mungkin, naga terserang pilek?" kata
Bob. "Naga, katanya kart biasa hidup dalam air dan
gua-gua lembab."
"Pendapatku juga begitu," kata Jupiter sambil
mengangguk. "Dan beberapa jam lagi, kalau kita
kembali ke sana, kita akan bisa menyibakkan
teka-teki tentang apa sebabnya naga kita batuk.

162
Jika teoriku benar, kita akan memperoleh jawaban
tentang apa sebabnya kita bisa lolos dari dalam gua
itu, dan sekarang masih hidup."
Pete memikirkan ucapan Jupiter.
"Itu boleh saja, Jupe," katanya sambil mengerut-
kan kening. "Tapi bagaimana jika teorimu ternyata
keliru?"
Jupiter menggembungkan pipinya.
"Teoriku harus benar," katanya. "Karena
bagaimanapun juga, itu menyangkut nyawa kita!"

163
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 15
PERTANYAAN DAN JAWABANNYA

TIBA-TIBA kejengkelan Pete meledak.


"Sudahlah, jangan sok misterius lagi, Jupe! Ayo
katakan, apa sebenarnya yang sedang kaurenca-
nakan. Kita membentuk Trio Detektif kan untuk
mengusut teka-teki serta misteri-misteri yang
tidak bisa dijelaskan. Waktu itu tidak dising-
gung-singgung tentang perbuatan berani mati.
Aku sayang pada nyawaku. Dan Bob pun kurasa
begitu juga. Bagaimana, Bob?"
Bob mengangguk, sambil tersenyum.
"Ya, tentu saja aku sayang pada nyawaku! Kalau
nyawaku hilang, lalu siapa yang melakukan riset
dan membuat catatan untuk kalian? Pete benar,
Jupe. Ada apa, sih?"
Jupiter hanya mengangkat bahu.
"Aku belum tahu pasti. Tentu saja aku tidak
berniat menyabung nyawa kita, tanpa perlu. Tapi
ada kalanya kita perlu mengambil risiko."
Pete menggeleng.
"Eh, eh, nanti dulu! Sebelumnya, aku perlu
kauyakinkan dulu. Beberapa malam yang lalu aku
menonton film yang dibawa ayahku pulang. Film
itu penuh dengan efek khusus, hasil buatannya.
Tokoh utamanya seorang ilmuwan yang berani

164
mengambil resiko. Tak perlu kuceritakan, apa yang
kemudian terjadi dengan dirinya."
Kening Jupiter berkerut.
"Aku lupa bahwa ayahmu ahli efek khusus untuk
film, Pete. Tentang apa cerita film yang kauiihat
itu?"
Pete tertawa nyengir.
"Tentang serangga."
"Serangga?"
"Tentang semut dan kumbang, yang mengua-
sai dunia," kata Pete menjelaskan. "Biasa, film fiksi
ilmiah. Percayalah — film itu sama seramnya
seperti film kuno dengan naga yang baru saja kita
lihat tadi. Serangga-serangga itu berukuran
raksasa — setinggi bangunan bertingkat banyak."
"Bagaimana cara mereka membuatnya?" tanya
Pete.
"Mereka memakai serangga sungguhan," jawab
Pete.
"Alaa, Pete," tukas Bob. "Serangga tulen, yang
besarnya sama dengan gedung bertingkat tinggi?"
Pete mengangguk.
"Ayah menjelaskannya padaku. Yang dipakai
proses yang berbeda dari yang tadi diterangkan
oleh Mr. Hitchcock.
Dalam film yang kulihat itu, serangga-serangga
difilm lewat lensa prisma. Setelah itu gambar-
gambarnya dibesarkan sampai sekian kali lipat, lalu
digabungkan dengan film yang menampakkan
gedung-gedung besar. Tentu saja mereka kelihat-
an asli dan menyeramkan — karena memang

165
serangga yang sebenarnya! Begitu teknik yang kini
biasa dipakai untuk membuat film-film tentang
makhluk-makhluk seram yang datang dari angka-
sa luar."
Jupiter merenung, sementara jari-jarinya sibuk
mencubiti bibir bawahnya.
"Film itu sekarang masih ada di rumahmu?"
"Ya — paling sedikit selama satu minggu lagi,"
kata Pete. "Ayahku bahkan menawarkan, kalau kau
dan Bob ingin melihatnya, kalian boleh datang
kapan saja, saat malam hari. Jadi silakan!"
Jupiter kelihatannya tidak sabar.
"Kurasa kita memerlukannya sebelum nanti
malam, Pete." la melirik arlojinya, lalu menoleh lagi
ke arah Pete. "Proyektormu bekerja dengan
baterai?"
Pete mengangguk.
"Pakai baterai bisa, pakai listrik pun boleh."
Jupiter memonyongkan mulutnya.
"Dan itu kepunyaan kalian sendiri? Bukan
pinjaman dari studio?"
"Ya, proyektor itu milik kami," kata Pete. "Atau
tepatnya, kepunyaan Ayah. Kenapa sih, kau
bertanya-tanya begitu?"
"Soalnya menyangkut nyawa kita — dan
mungkin juga sekaligus membongkar suatu
misteri. Menurutmu, mungkinkah ayahmu mau
meminjamkan proyektor serta film itu pada kita,
hanya untuk malam ini saja?"
Pete terkejap karena kaget.
"Maksudmu, untuk dibawa pergi?"

166
"Untuk dibawa pergi," kata Jupiter menegaskan.
"Film itu kurasa cocok untuk diperlihatkan pada
seseorang."
Pete mengusap-usap hidungnya, lalu mengang-
kat bahu.
"Tidak tahu, ya. Tapi kurasa bisa, Jupe. Tentu
saja aku harus menelepon Ayah dulu, untuk minta
izin."
"Bagus," kata Jupiter.
"Oke," kata Pete. "Tapi sebelum aku mencoba
meyakinkan ayahku, aku ingin tahu dulu, akan ke
mana kita malam ini — dan untuk apa. Aku sudah
bosan disuruh meraba-raba terus."
Bob mengangguk, tanda sependapat dengan
Pete.
Kedua remaja itu memandang Jupiter Jones,
yang selama beberapa saat mencoba tak meng-
acuhkan tatapan mata mereka. Akhirnya ia
mengangkat bahu, sambil membentangkan ta-
ngan.
"Ya deh, baiklah," katanya. "Aku sebenarnya
berharap bisa merahasiakan dulu kesimpulan-
kesimpulanku. Soalnya terutama karena aku
sendiri belum sepenuhnya yakin apakah semuanya
itu benar. Dan katakanlah kesimpulanku itu benar
— aku saat ini masih buta tentang maknanya.
Pengusutan kita ini diawali dengan usaha mencari
anjing yang hilang. Tapi sejak itu kita menemukan
berbagai misteri lainnya, yang satu pun kelihatan-
nya tidak ada sangkut pautnya dengan misteri
hilangnya anjing — atau tepatnya, anjing-anjing, di

167
Seaside. Mr. Allen menugaskan kita untuk
menemukan kembali anjingnya, Red Rover. Tapi
sejak semula aku sudah merasa bahwa misteri
hilangnya anjing-anjing lain yang juga hilang akan
terjawab, jika kita menemukan anjingnya. Itu
sebelum kita berjumpa dengan naga."
"Bagaimana dengan naga itu?" tanya Bob. "Kau
menandaskan bahwa menurut pendapatmu yang
kita lihat itu naga palsu. Kenapa kau sampai bisa
berpendapat begitu?"
"Ya, betul," kata Jupiter. "Walau aku juga ikut
panik dan lari seperti kalian, ada beberapa alasanku
untuk menyangsikan keaslian naga di dalam gua
itu."
"Coba kaukatakan satu saja," kata Pete. "Apa
yang menyebabkan kau merasa itu bukan naga
tulen?"
"Ada bermacam-macam hal yang me-
nyebabkannya. Gua yang kita masuki bukan gua
asli. Lorong yang kita masuki juga bukan lorong
alam. Lubang masuk ke situ juga tidak! Mengingat
segala kenyataan itu, tentu saja timbul kecende-
rungan untuk menyangsikan keaslian naga."
"Aku tidak menyadari segala yang kausebutkan
itu," kata Bob.
"Kita mulai saja dengan gua yang pertama-tama
kita masuki," kata Jupiter. "Di situ kita menemukan
papan yang berjejer-jejer, memanjang ke atas. Satu
di antaranya kita geser, supaya bisa masuk ke
rongga yang kita katakan tempat persembunyian
penyelundup."

168
"Aku ingat, kau mengamat-amatinya dengan
sikap aneh," kata Bob. "Apanya yang tidak asli
pada gua itu?"
"Itu kan mestinya gua yang sudah tua, tempat
para penyelundup dan bajak laut bersembunyi.
Papan-papan itu sudah tua — atau tepatnya,
beberapa di antaranya sudah tua."
"Beberapa di antaranya?" tanya Pete meng-
ulangi.
Jupiter mengangguk.
"Papan yang kita geser ke samping, misalnya.
Tapi di situ ada pula papan lebar, terbuat dari kayu
lapis. Kalian tentunya tidak perlu kuingatkan lagi,
bahwa kayu lapis merupakan produk pengolahan
kayu yang tergolong modern. Zaman bajak laut
belum ada. Para penyelundup zaman dulu pun
belum mengenal bahan itu."
"Kayu lapis?" ulang Pete. Keningnya berkerut,
lalu berkata lagi, "Yah, mungkin saja! Tapi itu kan
belum membuktikan apa-apa."
Jupiter melanjutkan penuturannya.
"Kita sekarang ke gua yang berikut. Maksudku
gua besar yang kita temukan, ketika Bob bersandar
ke batu yang ternyata bisa bergerak. Kita masih
belum tahu, apa yang menyebabkan hal itu
mungkin. Jika kalian masih ingat, sewaktu
memasuki gua itu kita mengarah ke darat, karena
tidak ada jalan lain kecuali itu. Tidak ada lubang di
luar. Tidak ada mulut gua, seperti yang pertama
kita masuki.

169
Kemudian langkah kita terhenti, karena terha-
lang apa yang kelihatannya merupakan dinding
padat di ujungnya. Kita mulanya berharap, gua itu
akan membawa kita ke terowongan tua yang
riwayatnya dibaca oleh Bob, ketika ia melakukan
riset di perpustakaan."
Kedua temannya mengangguk.
"Aku ingat, kau waktu itu kemudian mengorek-
ngorek dinding itu dengan pisau sakumu," kata
Pete sambil tersenyum. "Apa hasil yang kautemu-
kan, di samping kenyataan bahwa mata pisau yang
bagus bisa rusak jika dipakai mengorek-ngorek
permukaan batu?"
Jupiter merogoh kantungnya. Ia mengeluarkan
pisau sakunya, lalu membuka salah satu matanya.
"Perhatikan gumpalan-gumpalan kelabu yang
melekat pada mata pisau ini," katanya.
Pete dan Bob melakukan seperti yang diminta.
"Sekarang cium."
"Cat!" seru kedua remaja itu serempak, setelah
mengendus sebentar.
Jupiter mengangguk. la melipat pisau sakunya,
lalu memasukkannya lagi ke dalam kantung.
"Dinding gua yang sudah lama, tidak dicat,"
katanya. "Lalu ketika aku mengorek-ngorek cat
yang melapisinya, mata pisauku menyebabkan
permukaan di situ tergores. Menurut pendapatku,
itu sama sekali bukan dinding batu, tapi terbuat
dari semacam bahan gips — yang disemprot
dengan cat berwarna kelabu, serta ditaburi pasir
dan kerikil permukaannya, agar kelihatan seperti

170
batu asli. Dan kalian tentunya tahu, gips sebagai
bahan bangunan merupakan produk industri
modern, yang biasa dipakai untuk dinding pemisah
dalam rumah atau gedung perkantoran. Banyak
pula yang diproduksi dengan permukaan yang
dibuat seperti gabus, atau batu bata." Jupiter
berhenti sebentar, lalu meneruskan, "Kurasa orang
yang memasang dinding itu hendak menutupi
suatu temuan yang menarik—dan barangkali juga
berharga!"
"Seperti apa, misalnya?" desak Bob.
"Sesuatu yang lebih penting, di balik dinding
itu," kata Jupiter. "Pokoknya sesuatu. Dan menurut
dugaanku, seperti terowongan jaringan kereta
bawah tanah yang tidak diselesaikan pemba-
ngunannya itu, misalnya!"
"Itu dia!" seru Pete bersemangat. "Ada orang
yang menemukan terowongan tua itu, lalu
menyembunyikannya lagi, supaya tidak bisa
ditemukan orang lain! Dengan adanya dinding
palsu itu, diperkirakan orang yang bisa masuk
sampai ke situ akan berpaling dan ke luar lagi!"
"Kecuali," kata Bob, "jika itu memang sudah
merupakan penutupnya, sejak awal!"
"Lima puluh tahun yang lalu, belum ada bahan
bangunan seperti itu," kata Jupiter.
"Itu mungkin saja," kata Bob. "Tapi kita kan
tidak tahu, kapan tepatnya terowongan itu ditutup.
Mungkin baru kemudian dilakukan, untuk mence-
gah, supaya anak-anak dan binatang tidak masuk
ke dalamnya."

171
Kening Jupiter berkerut.
"Itu bisa saja, Bob. Tapi terus terang, aku sangsi!
Pokoknya, kita sekarang perlu merenungkan
kejadian misterius yang ketiga. Kita berada di
depan dinding. Aku sedang sibuk menelitinya.
Kemudian aku berpaling, untuk memperlihatkan
apa yang ada pada mata pisauku pada kalian. Saat
itu —"
Pete mengangguk, sambil meneguk ludah.
"Saat itu gua terbuka dan tahu-tahu menjadi
terang. Lalu naga itu masuk. Ya, aku mengerti
maksudmu." la menggaruk-garuk kepala. "Seti-
dak-tidaknya, kurasa aku mengerti. Sebaiknya kau
saja yang mengatakannya, supaya aku tahu
apakah aku memang mengerti atau tidak!"
"Baiklah," kata Jupiter. "Gua terbuka. Dengan
cara bagaimana? Kenapa gua itu sampai bisa
terbuka? Sewaktu di luar, kita sama sekali tidak
melihat adanya lubang di situ. Kalau ada, tentunya
itu yang kita masuki, dan bukan memasuki mulut
gua di mana Bob tercebur ke dalam lubang
beriumpur."
"Baiklah," kata Bob. "Jadi kita sama sekali tidak
melihat ada lubang di situ, pada mulanya. Tapi
naga itu rupa-rupanya tahu bahwa di situ ada
lubang. Soalnya, ia membukanya. Jangan-jangan
ia lebih pintar, dibandingkan dengan kita."
Jupiter mengangkat tangannya.

"Jangan lupa, teoriku didasarkan pada firasatku,


bahwa segala-galanya yang ada di situ palsu.
Bikinan manusia! Jadi, termasuk naga itu pula.

172
Dan jika naga itu lebih pintar dari kita, maka itu
hanya karena ia sebenarnya bukan naga, tapi
sesuatu yang dikendalikan oleh kemampuan otak
manusia."
Pete terkejap bingung, lalu menoleh ke arah
Bob.
"Apa katanya?"
Bob menggeleng.
"Kurasa ia hendak mengatakan, naga kita itu
sebenarnya bukan naga, melainkan robot. Betul-
kah begitu, Jupe?"
"Aku belum bisa memastikan," kata Jupiter
terus terang. "Mungkin robot, atau sesuatu
konstruksi yang mirip dengan naga yang dipakai
Mr. Allen dalam film horornya. Itu akan kita ketahui
juga, jika sudah tiba waktunya untuk itu.
Tapi tentang satu hal aku yakin seyakin-
yakinnya. Yaitu tentang mulut gua. Itu pun palsu!
Sayangnya, kita tidak sernpat memeriksanya dari
luar. Tapi aku yakin bila itu kita lakukan, kita akan
melihat bahwa mulut gua itu palsu — terbuat dari
bahan enteng, seperti berbagai properti yang
dipakai dalam film, yang dicat dan diberi lapisan
agar kelihatan seperti benda aslinya. Siapa pun bisa
membuat batu karang palsu. Dan orang yang
melakukannya, berbuat begitu untuk menutupi
mulut gua yang sebenarnya. Jika ia hendak masuk,
atau menghendaki naganya masuk, ambang gua
yang palsu digesernya ke samping." Ia berhenti
sebentar, lalu menyambung, "Kalian berdua tentu
sependapat denganku, jika kota Seaside ingin

173
menyumbat sebuah gua besar, atau sebuah
terowongan, mereka tentunya tidak memakai
bahan dari gips yang enteng dan dicat di sebelah
dalam, dan di luar mempergunakan batu karang
palsu. Mereka pasti menutupnya rapat-rapat —
dengan beton!"
Pete memandang ke luar, lewat jendela
Rolls-Royce yang meluncur dengan mulus di jalan
raya. la mengerutkan kening, lalu mengangguk.
"Mungkin kau benar, sampai sejauh ini. Jika kita
kembali ke sana malam nanti, akan kita periksa
batu-batu itu, yang di dekat lubang masuk ke gua
pertama. Tapi aku memang tidak takut pada batu.
Yang ingin kuketahui sekarang, ialah tentang naga
itu. Kenapa itu bukan naga tulen?"
Jupiter duduk bersandar sambil menyilangkan
lengan.
"Kita sama-sama melihatnya, secara serempak.
Jarak kita dari dia, kurang lebih sama jauhnya. Jadi
baik penglihatan maupun pendengaran kita,
kurasa sama saja. Nah — apa yang kita dengar
waktu itu? Apa yang kita lihat?"
Pete dan Bob berdiam diri sesaat. Mereka
berusaha mengingat-ingat.
"Aku mendengar dengungan," kata Bob ke-
mudian. "Setelah itu barulah aku melihatnya."
"Aku melihat cahaya terang — yang berasal dari
matanya yang bersinar," kata Pete. "Tentang bunyi
mendengung — ya, kurasa aku juga mendengar-
nya. Setidak-tidaknya sesaat sebelum ia meraung."
Jupiter mengangguk.

174
"Lalu bagaimana geraknya?"
"Bagaimana?" kata Pete. "Cepat sekali!"
"Kau bagaimana, Bob?" tanya Jupiter pada
temannya yang itu.
"Sebentar — kuingat-ingat dulu!" Bob meng-
usap keningnya. "Ya, aku sependapat dengan Pete.
la masuk dengan cepat sekali. Seakan-akan
meluncur!"
Jupiter memandangnya dengan penuh per-
hatian.
"Seperti naga yang kita lihat dalam film yang kita
lihat di tempat Mr. Hitchcock? Seperti itukah
geraknya?"
Bob menggeleng.
"Tidak! Naga dalam film buatan Mr. Allen
kelihatan seperti berjalan. Sedang yang ini
seakan-akan meluncur."
"Kesan yang kuperoleh juga begitu," kata
Jupiter. "Naga kita tidak terbang. Kakinya tidak
bergerak-gerak. la meluncur maju. Jadi menurut
kesimpulanku — yang kita lihat itu hanya dibuat
sehingga menyerupai naga. Sengaja dibuat begitu,
agar menimbulkan kesan yang mengagetkan, di
samping menakutkan.
"Sedang tentang geraknya yang meluncur,
keterangannya gampang saja. Naga kita bergerak
— atau digerakkan — dengan roda! Ingat tidak,
bahwa kita melihat jejak roda di atas pasir, ketika
kita pertama kali turun ke pantai?"
Pete dan Bob memandang Jupiter sambil
melongo.

175
"Naga dengan roda?" kata Pete, mengulangi
kata-kata Jupiter. "Maksudmu, itulah yang me-
nyebabkan kita setengah mati ketakutan?"
"Ada lagi yang kuingat," kata Bob. "Kita sudah
membicarakannya. Naga dalam film Mr. Allen
meraung. Sedang naga kita lebih banyak batuk-
batuk."
"Tepat!" Jupiter tersenyum. "Itulah yang ku-
maksudkan dengan kemampuan otak manusia di
belakangnya. Atau mungkin lebih tepat jika
kukatakan, di dalamnya."
"Apa lagi yang kaubicarakan sekarang?" tanya
Pete sambil mengeluh.
Jupiter tersenyum.
"Orang dalam naga kita itu sedang pilek,"
katanya menjelaskan.
Perembukan mereka terpotong oleh suara
Worthington yang selalu menjaga martabat.
"Kita sudah sampai di Jones Salvage Yard,
Master Jones. Perlukah saya menunggu?"
"Ya, Worthington," kata Jupiter sambil meng-
angguk. "Pete hanya perlu menelepon sebentar.
Setelah itu mudah-mudahan kita akan bisa
mampir di rumahnya, untuk mengambil sesuatu.
Dan malam ini, kita pergi lagi ke Seaside." la melirik
teman-temannya sebentar. "Betulkah aku sampai
sejauh ini?"
Pete tertawa nyengir.
"Mudah-mudahan kau betul pula nanti —"
katanya, "— saat kita kembali berhadap-hadapan
dengan naga yang suka batuk-batuk itu!"

176
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 16
MENGHADANG BAHAYA LAGI

JUPITER bertambah hormat terhadap Mr. Crenshaw,


ketika ayah Pete itu langsung mengizinkan
anak-anak meminjam proyektornya serta film baru
dari studio, tanpa mempertanyakan keperluan
mereka.
"la bahkan tidak menyuruh kita berhati-hati
dengannya," kata Jupiter. "Kurasa ia mempercayai
kematangan diri kita."
"Kalau soal itu, entahlah," kata Pete. "Aku yang
tinggal di sini. Jika ada sesuatu yang terjadi dengan
film itu — atau dengan proyektor Ayah, akulah
yang akan merasakan akibatnya!"
Saat itu mereka berada di rumah Pete, dalam
ruangan yang dipakai oleh Mr. Crenshaw untuk
memutar film-film buatannya sendiri. Pete sedang
sibuk bekerja. Film dalam tempat rol pemutar
digulungnya kembali. Jupiter ingin melihat film itu
dulu, agar bisa menilai efeknya.
"Siap!" seru Pete. "Padamkan lampu, Bob!"
Ia menekan tombol, ketika ruangan sudah
gelap. Film yang akan dipertunjukkan mulai
berputar. Dinding yang dijadikan tabir diterangi
cahaya yang memancar dari lubang proyektor.
Sesaat kemudian Bob dan Jupiter melihat sendiri

177
bahwa Pete memang tidak melebih-lebihkan.
Serangga-serangga yang diambil gambarnya
memang menyeramkan kelihatannya, jika dibesar-
kan berlipat ganda.
Suara yang mengiringi tiba-tiba berubah bunyi-
nya, lalu terhenti. Gambar yang nampak di tabir
lenyap. Ruangan gelap kembali, karena Pete
mematikan mesin proyektor.
"Tolong nyalakan lampu lagi, Bob!" serunya.
"Sorry — aku memutar rol yang keliru. Yang tadi
itu baru datang kemudian. Kurasa Ayah memutar-
nya lagi, untuk mengecek efek khusus yang
dibuatnya."
Tangannya sibuk mengaduk-aduk setumpuk
kaleng film yang diberi tanda nomor-nomor.
"Kurasa itu tidak begitu penting, Pete," kata
Jupiter. "Kita tidak perlu melihat seluruh film itu
sekarang. Bagian pada rol ini menampakkan
serangga-serangga itu di lingkungan aslinya. Tepat
itulah yang kucari."
"Tapi itu kan rol nomor enam," balas Pete. "Itu
merupakan flashback. Yang kelihatan cuma
semut-semut yang berkeliaran di perbukitan dan
sepanjang pantai, bersiap-siap untuk menyerbu ke
kota-kota." la mengambil sebuah kaleng lain.
"Nah, dalam rol pertama ini kita bisa melihat
mereka menyerang kota-kota. Pada bagian inilah
mereka kelihatan setinggi bangunan bertingkat."
Jupiter malah menggeleng.
"Kita tidak boleh menampakkan bangunan-
bangunan, atau kota-kota. Kita harus menimbul-

178
kan kesan, seolah-olah gua diserbu semut-semut
raksasa!"
Dengan cepat Bob dan Pete menoleh ke arah
Jupiter. Keduanya nampak heran.
"Di situkah kita akan memutar film ini?"
Jupiter mengangguk.
"Dengan speaker yang ada di proyektormu itu,
kita bisa menimbulkan efek suara yang kita
kehendaki. Lensa bersudut lebar itu juga akan
sangat menolong kita. Dan yang paling penting,
proyektormu bisa bekerja dengan baterai. Jadi kita
bisa memutarnya dalam gua."
"Untung saja," kata Pete. "Perlengkapan baterai-
nya dibuat khusus, sehingga Ayah bisa memper-
gunakannya jika sedang berada di lokasi pembuat-
an film."
"Sekarang kita lihat saja dulu rol film yang sudah
terpasang itu, Pete," kata Bob menyela. "Untuk
melihat seluruhnya, kami kan bisa datang
kapan-kapan."
"Terserah —jika kalian suka melihat film yang
berjalan mundur," kata Pete sambil mengangkat
bahu.
Bob memadamkan lampu, dan Pete melanjut-
kan pemutaran film yang sudah ada di proyektor.
Setelah itu anak-anak menonton dengan tekun.
Hanya sekali-sekali saja terdengar gumaman
kaget, atau ngeri.
"Astaga!" kata Bob ketika rol film itu habis. "Ini
baru film! Tidak sabar lagi rasanya, ingin melihat
keseluruhannya."

179
Pete menekan tombol pembalik putaran film,
lalu memandang sejenak ke arah Jupiter.
"Menurutmu, itu tadi sudah cukup?"
Jupiter tersenyum.
"Tepat sekali, untuk keperluan kita sekarang!"
"Baiklah," kata Pete. "Cuma, aku masih juga
belum mengerti apa maumu dengannya. Siapa-
kah yang kauinginkan akan melihatnya di dalam
gua? Orang mati — atau hantu — itu, yang
menelepon kita?"
"Mungkin," kata Jupiter. "Tapi tujuan utamaku
ialah mengetahui bagaimana reaksi orang yang
suka berbuat iseng, jika ia sendiri dipermainkan."
"Orang iseng?" kata Bob. "Kurasa Mr. Carter
tidak cuma iseng saja, ketika ia menggertak kita
dengan senapan burunya!"
"Bukan dia yang kumaksudkan," kata Jupiter
dengan tenang.
"Bukan dia?" tanya Bob. "Mungkin kau lupa, ia
mungkin keturunan Carter yang riwayat sedihnya
kubaca waktu itu! Labron Carter, yang hartanya
habis sama sekali karena semuanya dipertaruhkan
Untuk proyek pembangunan jaringan kereta bawah
tanah di Seaside, dan yang kemudian melakukan
tindakan bunuh diri sebagai akibatnya. Kau sendiri
yang mengatakan, ia rasanya pasti tahu tentang
terowongan tua itu, serta guanya. Dan bahwa ada
kemungkinannya ia ingin membalas dendam
terhadap penduduk kota Seaside, yang menyebab-
kan kehancuran ayahnya. Kalau diingat sifatnya

180
yang pemarah, ia memang bisa saja berbuat
begitu!"
Tapi Jupiter menggeleng.
"Bukan Mr. Carter yang kucurigai sebagai
pencipta naga dalam gua itu."
"Kenapa bukan dia?" sela Pete. "Apa yang
menyebabkan kau bisa begitu yakin?"
"Karena satu hal," jawab Jupiter. "Ketika kita
berjumpa dengan Mr. Carter, ia berteriak-teriak
marah. Tapi ia tidak pilek. Lalu kita berjumpa pula
dengan seseorang, yang pandai menciptakan
barang-barang yang menyebabkan orang ketakut-
an. Dan orang itu sedang pilek. Kurasa kalian juga
masih ingat. Aku mempertalikan dirinya dengan
naga itu, karena seperti kalian ingat, makhluk itu
batuk-batuk!"
Bob terkejap.
"Jadi kau beranggapan, Arthur Shelby itulah
orang iseng yang membuat naga kita? Maksudku
—jika naga itu memang buatan orang, dan bukan
naga asli!"
Jupiter mengangguk, lalu menambahkan,
"Tapi mungkin juga Mr. Allen. Pengetahuannya
banyak, tentang naga. Tapi aku lebih menduga
bahwa orang itu Mr. Shelby."
"Kenapa dia?" tanya Bob. "Ia menciptakan
alat-alat untuk menakut-nakuti orang yang suka
datang tanpa diundang. Apa urusannya dengan
gua itu? Gua itu kan bukan kepunyaannya!"
"Justru itulah yang perlu kita selidiki malam ini,"

181
kata Jupiter, la memandang arlojinya. "Kita
bersiap-siap saja sekarang."
"Ada orang yang kalian lupakan," kata Pete
menyela. "Kalian berdua selama ini hanya
membicarakan Carter, Allen, dan Shelby. Tapi
masih ada dua orang lagi di tempat itu, dan kita
sama-sama melihat mereka!"
"Ya, betul!" kata Bob. "Kedua penyelam
bermasker itu! Dan sebelum menghilang, mereka
masih berbicara tentang meneruskan pekerjaan!"
Pete menutup kotak tempat proyektor, lalu
memandang ke arah Jupiter.
"Nah, bagaimana dengan kedua orang itu?"
tanyanya. "Tidak mungkinkah mereka ada sangkut
pautnya dengan urusan ini?"
"Mungkin saja," kata Jupiter sambil mengang-
guk. "Dan jika mereka muncul lagi nanti, aku
menyarankan agar kita memutar film ini — sebagai
hiburan untuk mereka."
"Bagaimana dengan naga itu?" tanya Pete.
"Mungkin juga ia ada pula di situ."
Sekali lagi Jupiter mengangguk.
"Itu malah akan menyebabkan urusan kita
menjadi bertambah asyik! Kita mengenal kisah
tentang tikus kecil, yang menyebabkan gajah
ketakutan. Kita lihat saja nanti — apakah semut
bisa menyebabkan naga gemetar!"

Tubir tebing yang menaungi pantai di Seaside


diselubungi kegelapan. Jalan sempit dan terpencil

182
di situ sepi, ketika Worthington menepikan
Rolls-Royce ke pinggir jalan lalu menghentikannya.
Bob turun paling dulu. la memandang ke kanan
dan ke kiri dengan perasaan heran.
"Kenapa harus begini jauh kali ini, Jupe?"
tanyanya. "Kini kita harus berjalan jauh ke tangga."
"Ini cuma untuk berjaga-jaga saja," jawab
Jupiter. "Ada kemungkinan perhatian orang sudah
tertarik pada Rolls-Royce ini. Coba tadi ada Hans,
aku sebenarnya lebih senang pergi kemari naik
truknya, karena itu tidak menyolok mata."
Pete terhuyung-huyung turun dari mobil, sambil
menenteng kotak yang berisi proyektor. la
mengeluh, setelah memandang ke arah tangga
yang nampak agak jauh dari situ.
"Aduh — jika sampai di sana nanti dengan
beban ini, lenganku pasti akan sudah menyentuh
tanah. Tapi biarlah — memang sudah nasibku."
"Itu kan malah bagus," kata Bob sambil
tersenyum kecut. "Dengan begitu kau bisa
pura-pura menjadi manusia monyet. Siapa tahu,
barangkali saja naga kita nanti ketakutan meli-
hatmu!"
Pete tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya
mendengus, lalu memanggul kotak proyektor.
"Tunggu, Pete — biar kubantu," kata Jupiter
menawarkan diri.
Tapi temannya yang jangkung itu menggeleng.
"Terima kasih, tidak usahlah! Ini tanggung
jawabku. Kurasa aku takkan bisa lepas daripadanya
malam ini, kalau mengingat bahwa aku satu-

183
satunya di antara kita bertiga yang tahu bagaimana
cara menjalankannya."
Jupiter tersenyum.
"Perananmu mungkin akan merupakan faktor
penentu malam ini, Pete. Mudah-mudahan saja
rencana kita berhasil!"
Mereka meminta Worthington agar menunggu
dalam mobil. Setelah itu mereka berjaian dengan
langkah-langkah cepat, menyusuri jalan yang
sunyi. Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan
gelap. Dari arah bawah terdengar deru ombak
memecah di pantai.
"Aku lebih senang jika malam ini tidak begitu
gelap," kata Pete dengan nada gugup, setelah
mendongak sebentar, memandang langit.
"Kita semua agak gugup," kata Jupiter berterus
terang. "Tapi keadaan segelap ini malah mengun-
tungkan kita, karena dengannya kita tidak mudah
nampak."
Ketika mereka tinggal sekitar dua puluh langkah
lagi dari tangga yang akan dituruni untuk pergi ke
pantai, tiba-tiba mereka mendengar bunyi langkah
orang berjaian.
"Cepat' Tiarap!" desis Pete.
Seketika itu juga Trio Detektif menjatuhkan diri
ke samping, lalu berguling ke dalam semak yang
membatasi jalan dengan tanah kosong yang
berpasir.
Langkah yang terdengar itu semakin mendekat.
Langkah-langkah berat dan mantap. Tapi kemudi-
an berubah. Melambat, dan seperti menyelinap.

184
Ketiga remaja yang bersembunyi merapatkan diri.
Mereka merunduk semakin rendah. Ada orang
mengintai, mencari-cari mereka!
Dari tempat persembunyian yang gelap, mereka
bisa melihat sosok orang itu, yang semakin
mendekat. Kini sudah sejajar dengan posisi
mereka. Ketiga remaja itu menatap ke arahnya
dengan mata terbelalak ngeri.
Mereka sudah pernah melihat sosok tubuh
gempal itu. Mata mereka langsung menelusuri
tubuhnya, ke arah bawah. Mereka mengenali
benda yang dikepit di bawah lengan.
Senapan buru! Senapan kaliber besar, berisi
peluru mimis berukuran paling besar. Senapan
buru Mr. Carter, orang yang membenci anjing,
anak-anak — yang kelihatannya membenci
segala-galanya.
Laki-laki berwatak tidak menyenangkan dan
penaik darah itu semakin memperlambat langkah-
nya. Kini ia berhenti, pada posisi tepat di depan
mereka. Anak-anak melihat kepalanya dipalingkan
ke kiri dan ke kanan dengan sikap curiga. Terasa
bahwa orang itu memicingkan mata, berusaha
menembus kegelapan.
"Aneh," gumamnya, "aku yakin sekali bahwa
tadi nampak sesuatu bergerak-gerak di sini —"
Mr. Carter menggeleng-geleng, seakan-akan
bingung. Setelah itu ia meneruskan langkah.
Anak-anak yang bersembunyi masih menunggu
selama beberapa saat, sampai tak terdengar lagi

185
langkah orang itu. Setelah itu barulah mereka
berani meiihat lagi.
Mr. Carter tidak kelihatan lagi.
"Uhh!" desah Bob. "Untung ia tidak meiihat kita
di sini!"
"Ya, betul," kata Pete. "Kurasa saat tidur pun
senapan itu tidak dilepaskannya. Siapa ya, yang
dicarinya?"
"Yuk," bisik Jupiter mengajak. "la sudah cukup
jauh sekarang! lni kesempatan kita untuk menuru-
ni tangga tanpa ketahuan. Kita lari, tapi sambil tetap
merunduk!"
Mereka lari cepat-cepat, menuju tangga.
"Aman!" desis Pete, setelah mengamat-amati
sejenak.
Mereka menuruni tangga yang tinggi dengan
bergegas-gegas, tapi dengan langkah menyelinap.
Perasaan mereka baru agak tenang, ketika sudah
dekat ke pantai. Mereka sadar bahwa langkah
mereka takkan mungkin terdengar, karena dika-
lahkan bunyi ombak memecah.
Pete yang paling dulu mencecahkan kaki di atas
pasir.
"Oke," katanya. "Kita sudah sampai lagi. Aku
ingin meiihat, bagaimana tanggapan naga dalam
gua itu kalau meiihat film fiksi ilmiah!"
"Itu akan segera kita ketahui," kata Jupiter, "jika
ia ada di dalam."
"Jika tidak ada pun, aku tidak keberatan," kata
Bob. "Aku cuma ingin tahu tentang terowongan itu.

186
Biar kalian berdua saja yang berurusan dengan
naga."
Mereka sampai di gua yang pertama-tama
dimasuki waktu itu. Bob dan Pete tercengang,
karena Jupiter tidak masuk, melainkan berjalan
lewat.
"Ssst!" bisik Bob. "Gua itu sudah kaulewati!"
Jupe hanya menganggukkan kepala. Sambil
membisu, ia menuding ke arah dinding tebing di
depan, yang agak menjorok ke luar.
"Lubang masuk ke gua besar terdapat di balik
bagian yang menonjol ini. Sebaiknya kita periksa
dulu ke sana, apakah lubang masuk itu terbuka
atau tidak."
Mereka mengitari kaki tebing yang menonjol,
lalu tertegun. Mereka melihat tiga bongkah batu
besar-besar, tinggi menjulang di atas kepala.
Batu-batu itu merapat ke dinding tebing.
"Mungkin itulah batu karang palsu yang
menutupi mulut gua," bisik Jupiter. "Rupanya jalan
masuk ke situ tertutup sekarang."
Pete menghampiri batu yang paling besar, lalu
mengetuk-ngetuknya sambil mendekatkan telinga
ke situ.
Ketukannya menimbulkan bunyi yang terdengar
bengap.
Pete tersenyum.
"Kau benar, Jupe," katanya. "Ini bukan batu
tulen — tapi tiruan, seperti yang biasa dipakai di
studio film. Terbuat dari kerangka kayu balsa

187
ringan, atau mungkin juga semen yang dilaburkan
pada kawat ayam."
Jupiter mengangguk, lalu berpaling.
"Kita atur dulu posisimu dalam gua, Pete!
Setelah itu aku akan melihat-lihat, bersama Bob.''
"Apa?" Pete kaget. "Aku ditinggal sendiri di sana,
sementara kalian berdua —"
"Kau akan lebih aman di situ, daripada kami
berdua," kata Jupiter. la mendului berjalan ke gua
yang lebih kecil. "Kami nanti akan melakukan
penyelidikan yang bisa berbahaya. Sedang kau
cukup duduk diam-diam saja. Pokoknya kau harus
siap untuk memutar film kita."
Pete masih tetap bingung. la celingukan.
"Lalu siapa yang menontonnya?"
Jupiter sudah menggeser papan yang menutup
jalan masuk ke rongga tersembunyi. la merangkak
ke dalam, disusul oleh Bob dan Pete. Papan yang
digeser dikembalikan lagi ke posisi semula.
Jupiter bersiul pelan.
"Perlengkapan kita yang ketinggalan waktu itu
masih ada di sini! Coba kaucari tempat yang harus
didorong agar tingkap batu itu bisa bergerak, Bob.
Perlengkapan ini nanti saja diambil, saat kita pergi
lagi."
Bob membungkuk, mengamat-amati dinding
batu yang rendah di bagian belakang.
"Sudah kutemukan," katanya dengan gembira,
beberapa saat kemudian.
Batu yang merupakan tingkap rahasia bergerak,
diiringi bunyi berat tapi pelan.

188
"Kau tinggal di sini, Pete," kata Jupiter. "Dalam
rongga sempit ini. Kaupakai lubang di dinding itu
untuk memproyeksikan film kita. Tingkap ini kita
ganjal, agar tidak menutup kembali. Nanti begitu
ada isyarat dari kami, kauproyeksikan film ke
dinding kelabu yang ada di bagian belakang gua
besar yang di sebelah."
Pete mulai menyiapkan proyektor. Diambilnya
kaleng tempat rol film. Setelah itu ia menyalakan
senter.
"Siap," katanya. "Apa isyarat kalian nanti?"
Jupiter berpikir sebentar.
"Kurasa teriakan, Tolong!' " katanya.

189
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 17
MISTERI TEROWONGAN TUA

BOB dan Jupiter menyusup masuk ke gua besar di


sebelah, meninggalkan Pete seorang diri di dalam
rongga sempit. Mereka maju dengan hati-hati di
dalam gua yang lapang dan berlangit-langit
melengkung itu. Mereka gemetar, karena hawa di
situ lembab dan dingin.
Mereka belum begitu jauh berjalan, ketika Bob
tiba-tiba berbisik.
"Ada yang hilang!"
Jupiter terkejut.
"Apa?"
Bob menyorotkan senternya ke depan, lalu
menggerakkannya ke kiri dan ke kanan.
"Dinding besar itu — bagian tengahnya
terbuka!"
Jupiter mengikuti gerak sinar senter yang
dipegang oleh Bob dengan penuh minat. Lubang
di tengah dinding di depan mereka menganga, dari
dasar sampai langit-langit.
"Bob! Kurasa kita sudah menemukan tero-
wonganmu yang lenyap itu!" seru Jupiter dengan
suara tertahan.
Kedua remaja itu melangkah dengan hati-hati,
melewati lubang di tengah dinding.

190
Terowongan di mana mereka kini berada,
kemudian melebar. Nampaknya lurus dan menjo-
rok jauh ke dalam. Bob dan Jupiter berhenti. Bulu
tengkuk mereka meremang, sementara jantung
mereka berdebar keras.
Sesuatu yang sangat besar dan gelap nampak
berbaring, menghadap ke arah mereka. Nampak-
nya seakan-akan sedang menunggu mereka!
Bob dan Jupiter menjatuhkan diri dengan cepat.
Mereka tidak berani bergerak. Bahkan napas pun
ditahan-tahan.
Keduanya menunggu. Menunggu dan menung-
gu. Tapi tidak terjadi apa-apa. Naga di depan
mereka tetap berbaring merunduk. Sosok yang
panjang, gelap, berpunggung bungkuk. Mengeri-
kan! Kepalanya tertunduk, di ujung batang leher
yang panjang dan kekar.
"M—mungWn sedang tidur," kata Bob berbisik.
Jupiter menggeleng. la berusaha tetap tenang.
"Jangan lupa," bisiknya di telinga Bob, "itu
bukan naga sungguhan!"
Bob mengangguk singkat.
"Ya, aku tahu. Itu yang selalu kaukatakan pada
kami. Mudah-mudahan saja kau benar!"
Kedua remaja itu masih menunggu selama
beberapa waktu lagi. Akhirnya Jupiter menyalakan
senternya, dan menyorotkannya menyusur tanah.
Kini ia tersenyum lega.
"Perhatikan kaki naga itu, lalu katakan apa yang
kaulihat!"

191
Bob menyusuri jalur sinar senter dengan
matanya. Akhirnya ia terkejap.
"Rel," katanya. "Di bawah tubuh naga. Kelihat-
annya seperti rel kereta."
Jupiter menarik napas lega.
"Kita sama-sama benar. Aku benar, karena naga
ini ternyata memang palsu. Dan kau berhasil
menemukan jaringan rel kereta bawah tanah yang
mulai dibangun oleh Labron Carter, lebih dari
setengah abad yang silam! Tapi tentang satu hal
kau keliru, Bob. Kau mengatakan bahwa jaringan
ini belum pernah dipakai!"
"Apa maksudmu?"
"Naga kita memakainya," jawab Jupiter.
"Tapi untuk apa? Aku tidak mengerti," kata Bob.
Siapa yang mau-maunya membuat naga, yang
kemudian dibaringkan dalam terowongan rel
kereta bawah tanah yang tidak terpakai sejak lebih
dari lima puluh tahun? Rel yang tidak ada
hubungannya ke mana-mana, dan yang kemung-
kinannya takkan pernah dipakai. Suatu hal yang
tidak masuk akal!
Untuk apa? tanya Bob dalam hati.
"Itu akan kita selidiki sekarang," kata Jupiter, la
menarik lengan temannya. "Ayo — sebelum
mereka kembali."
Bob mengikuti Jupiter dengan langkah ragu.
"Siapa yang kembali?" tanyanya bingung.
Jupiter berjalan terus, tanpa memberi jawaban.
Kini mereka sampai di dekat sosok besar yang

Halaman : 193, 194, 199, 200 192


221, 222 master hilang/sobek
Tiba-tiba Bob terkejut, karena mendengar bunyi
berdebum di dalam.
Seolah-olah Jupiter tertelan naga, pikirnya
dengan gugup.
la memicingkan mata ke arah kegelapan yang
ada di depan. Dibantu sinar senter, dilihatnya
bahwa terowongan itu agak membelok sedikit di
kejauhan. Rel yang menjulur sejajar, lenyap di balik
tikungan itu. Sisi-sisi terowongan rata, menampak-
kan rusuk-rusuk dari baja yang memanjang
sampai ke langit-langit, dan di sana-sini dinding
beton.
Tiba-tiba Bob terlompat kaget, karena mende-
ngar bunyi gemerisik.
Tingkap yang tadi sudah tertutup, terbuka lagi.
"Yuk, melihat ke dalam," ajak Jupiter dengan
suara lirih.
Dengan cepat Bob memanjat ke atas, lalu
masuk ke dalam lubang. Kakinya menemukan
jenjang tangga sempit, sementara Jupiter sudah
lebih dulu turun. Anak itu menyalakan senternya
dan melihat ruangan yang ada di dalam, ketika Bob
sudah sampai di kaki tangga.
"Hebat, ya? Wujudnya seperti naga. Jalannya
seperti kereta, di atas rel. Tapi coba kaulihat ini —
periskop! Lalu tingkap bundar ini. Aku berani
bertaruh, Bob — naga ini sebenarnya kapal selam
kecil!"
Bob mengetuk-ngetuk dinding sisi yang me-
lengkung, lalu mengusap-usap buku jarinya.
"Entah dari apa — tapi yang jelas, keras sekali!"

195
Jupiter mengangguk.
"Mestinya dari besi atau baja, supaya bisa tetap
terbenam di dalam air. Tapi kurasa bukan. Yuk, kita
sekarang melihat ruang mesin."
Kedua remaja itu menuju ke bagian haluan,
lewat sebuah gang sempit.
"Tongkat perseneling, papan instrumen, rem,
dan seperangkat pedal!" seru Bob kagum. "Kapal
selam macam apa ini?"
Jupiter menjentikkan jari-jarinya.
"Aku ingat, pernah membaca tentang kapal
selam pertama. Jalannya di dasar laut, seperti
mobil. Penciptanya memasang jendela-jendela di
lambung kapalnya itu, supaya para penumpang
bisa memandang ke luar. la menarik bayaran dari
orang-orang yang ingin ikut. Di dalam kapal itu ada
sekat-sekat khusus berisi udara, yang gunanya
untuk menahan tekanan air.
Pembuat naga gadungan ini mungkin menjiplak
gagasan itu, atau mencontek ide mobil-mobil hias
dari pawai Rose Bowl. Di situ bentuk yang
bermacam-macam dipasang di atas kerangka
bawah mobil, lalu ditutupi bunga-bunga mawar.
Kendaraan-kendaraan itu bergerak lambat, diken-
dalikan pengemudi yang tersembunyi tempatnya,
di bagian bawah."
Kini Bob yang menjentikkan jari-jarinya dengan
bergairah.
"Jadi begitulah cara naga ini bergerak di atas
pasir, sehingga kelihatan seperti tidak bergerak.
Maksudku, kaki-kakinya tidak bergerak-gerak,

196
seperti naga dalam film yang kita lihat di tempat Mr.
Hitchcock."
"Itu dapat dimengerti," kata Jupiter. "Mr. Allen
memerlukan naga yang kelihatan asli, untuk film
yang disutradarainya. Sedang pembuat naga
gadungan ini cuma memerlukan wujud yang
kelihatannya seperti naga. Pokoknya cukup untuk
menimbulkan kesan terkejut dan takut, seperti
yang dikehendaki. Aku sekarang cuma ingin tahu
alasannya — dan siapa yang hendak ditakut-takuti
dengannya."
Tiba-tiba terdengar suara mengerikan dalam
tubuh naga palsu itu.
"Aaaaa ... uuuu!"
Kedua remaja itu terlompat.
"Suara apa itu?" tanya Bob berbisik.
Jupiter kelihatan agak ragu.
"Datangnya dari sebelah belakang."
Bob memandangnya dengan perasaan kecut.
"Kau tahu pasti? Aku tidak ingin berada dalam
kendaraan ini, jika sekarang tahu-tahu bergerak,
lalu menyelam ke dalam laut."
Suara melolong itu terdengar lagi. Panjang, dan
menegakkan bulu roma.
"Aaaaaaa ... uuuuuu!"
Bob merinding.
"Tidak enak hatiku mendengarnya."
la kaget, ketika tahu-tahu Jupiter berpaling lalu
beriari-lari kecil lewat gang sempit, menuju bagian
buritan. Kemudian ia berhenti, karena lolongan tadi

197
terdengar lagi. Jupiter mendengarkan baik-baik,
dengan kepala didekatkan ke lantai.
"A-apa itu?" tanya Bob dengan gugup, sambil
datang menghampiri.
Jupiter tidak menjawab. la membalikkan tubuh,
lalu menelusuri dinding dalam naga itu dengan
sinar senternya. Bob heran ketika Jupiter tiba-tiba
tersenyum.
"Kurasa akhirnya kita berhasil juga menyibak-
kan tabir misteri kita," katanya sambil tertawa kecil.
"Kita berhasil?" tanya Bob dengan alis ter-
angkat.
"Coba kaudengar," kata Jupiter, lalu mengetuk
dinding. Bunyi ketukannya disusul suara lolongan
panjang.
"Aaaaaaa ... uuuuuuuu!"
Bob menelengkan kepala, mendengarkan de-
ngan cermat.
"Ya, aku mendengarnya," katanya. "Dan hatiku
masih saja tidak enak karenanya."
"Itu karena kau membiarkan rasa takutmu
terhadap naga mengalahkan pikiran waras," kata
Jupiter sambil tersenyum. la membuka sebuah
pintu sempit, lalu mengarahkan sinar senternya ke
dalam lubang yang kelihatannya seperti lemari.
Suara lolongan terdengar bertambah jelas.
Mata Bob terkejap sekali, lalu terbuka lebar.
"Eh — nanti dulu! Itu kan suara —"
la menjenguk ke dalam lubang. Mulutnya
langsung temganga karena heran.

Halaman : 193, 194, 199, 200 198


221, 222 master hilang/sobek
Anjing itu menjulurkan kepala, sedang ekornya
bergerak-gerak dengan gembira.
"Pulang!" kata Jupiter mengulangi perintahnya,
sambil membentangkan lengan.
Anjing itu menggonggong dengan gembira.
Bunyi itu disambut lolongan dan dengkingan dari
dalam lemari. Anjing-anjing yang lain bermuncul-
an dengan langkah-langkah kaku, tapi dengan
ekor dikibas-kibaskan.
Bob tertawa nyengir.
"Astaga! Ada enam, kuhitung! Kita menemukan
semua anjing yang hilang!"
Jupiter mengangguk. la menyelipkan secarik
kertas yang sudah dilipat-lipat di balik kalung setiap
anjing yang terhuyung ke luar.
"Untuk apa itu?" tanya Bob.
"Aku sudah menyiapkan berita singkat yang
kutujukan pada masing-masing pemilik anjing,
untuk berjaga-jaga jika kita berhasil menemukan
anjing-anjing ini," jawab Jupiter. "Seperti halnya
pemsahaan lain-lainnya yang berhasil, kita pun
perlu mengadakan promosi untuk mendapat
nama baik, karena telah berjasa untuk kepentingan
umum."
Red Rover mendengking pelan.
"Baiklah, Red Rover." Jupiter berpaling, lalu
berlutut. "Kau yang paling dulu pulang."
Diangkatnya anjing besar itu, dibawanya menai-
ki tangga.
"Pulang, Red Rover! Pulanglah!" bisik Jupiter di
telinga anjing itu. Anjing setter itu mendengking

201
senang, lalu merangkak ke luar dan lari melompat-
lompat menuju lubang di tengah dinding.
Jupiter tertawa nyengir.
"la sudah segar-bugar lagi sekarang," katanya.
"Tolong junjungkan anjing-anjing yang lain itu
kemari, Bob. Mungkin mereka akan pulih kembali,
begitu menghirup udara segar di luar."
Bob menjunjung anjing-anjing itu satu demi
satu, yang kemudian dilepaskan oleh Jupiter yang
berdiri di ujung atas tangga. Dengan segera
kelemasan mereka lenyap, dan kelima anjing itu
berlari ke luar menyusul Red Rover.
Bob membersihkan bulu yang menempel pada
telapak tangannya.
"Biar Pete yang mengeluarkan mereka dari
rongga sebelah. Nah — tugas kita sudah selesai.
Aku pun sudah siap untuk meninggalkan tempat
ini."
la melongo, melihat Jupiter menutup tingkap
lalu turun ke bawah.
"Kita tidak bisa ke luar," kata Jupiter.
"Kenapa begitu?" tanya Bob ingin tahu.
"Aku baru saja melihat bayangan bergerak-
gerak di sepanjang dinding terowongan. Ada orang
kemari."
"Aduh!" keluh Bob. "Kita terjebak! Di manakah
kita bisa menyembunyikan diri?"
Jupiter melangkah, menyusuri gang yang
sempit. la membuka pintu lemari, yang semula
berisi keenam ekor anjing tadi.
*

202
Pete menggosok-gosok lengannya yang kedi-
nginan. la sudah selesai memasang proyektor.
Sebongkah batu kecil dipakai untuk mengganjal
batu besar yang merupakan pintu rahasia,
sehingga tidak bisa menutup lagi. Film sudah
dipasang di tempatnya. Kini ia berjongkok dengan
perasaan gugup, menunggu isyarat dari kedua
temannya. Begitu isyarat datang, akan dimulainya
pemutaran film.
la menggeser-geser pesawat itu, untuk me-
mastikan ketepatan pengarahannya lewat lubang
tingkap di dinding batu. Setelah itu ia menunggu
sambil berbaring menelungkup.
Tiba-tiba bulu tengkuknya merinding. Ia mende-
ngar bunyi sesuatu di belakangnya. Ia berbaring
diam-diam, sambil memasang telinga. Bunyi tadi
terdengar lagi.
Seseorang, atau sesuatu, ada dalam gua
dangkal yang pertama-tama mereka masuki. Ia
mendengar bunyinya dengan jelas, bergerak-gerak
di situ. Setelah menunggu agak lama, bunyi itu
kembali lagi.
Kini didengarnya bunyi pasir dikais-kais. Apa
yang dilihatnya setelah itu menyebabkan tubuhnya
semakin gemetar. Selembar papan lebar yang
menutupi rongga tempat ia berada, nampak
tergeser.
Pete menggigit-gigit bibirnya. Dengan segan-
segan diraihnya alat proyektor milik ayahnya, lalu
ditariknya ke belakang. Kini ia berlutut, sambil
memikirkan apa yang harus dikerjakan. Masih ada

203
waktu baginya untuk menyusup lewat lubang pintu
rahasia yang terganjal batu. la masih bisa
menggabungkan diri dengan Bob dan Jupiter di
dalam gua besar, sedang batu pengganjal akan
diangkatnya supaya pintu rahasia tertutup kembali.
Tapi ia teringat, bahwa kedua temannya itu
mengandalkan dirinya untuk tetap berada di
tempat tugas. Begitulah instruksi Jupe tadi.
Papan lebar itu tergeser perlahan-lahan ke
samping.
Pete beringsut-ingsut mundur, sampai pung-
gungnya menempel ke dinding rongga. la
menunggu di situ, sambil menatap celah yang
terbuka semakin lebar, membuka jalan bagi orang
yang menggeser papan.
Tangan Pete menggapai-gapai dasar rongga,
mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan senjata.
Kemudian ia teringat pada senternya. Digenggam-
nya benda itu erat-erat. Kegelapan yang me-
nyelubungi tempat sempit itu mungkin tidak
merupakan perlindungan yang memadai.
Sesosok tubuh gempal berdiri di tempat yang
semula tertutup papan lebar. Badan orang itu
begitu kekar, sehingga ia terpaksa menyusup
masuk dengan memiringkan tubuh.
Napas Pete tersentak. la mengenali orang yang
baru masuk itu. Mr. Carter yang pemarah, dengan
senapan burunya!
Langit-langit rongga itu rendah. Mr. Carter
terpaksa menunduk di dalamnya. la melangkah

204
maju dengan kepala tertunduk. Kemudian ia
berhenti, lalu mendengarkan.
Jantung Pete berdebar keras. Ia juga mendengar
suara itu.
"Aaaaa ... uuuuuuuuuuu!"
Pete merapatkan diri ke dinding. Kakinya ditarik,
sedang tangannya yang menggenggam senter
mengencang.
Kemudian terdengar bunyi lain. Bunyi langkah
berlari. Bunyi itu kian mendekat, diiringi suara
napas terengah-engah.
Bunyi itu diikuti bunyi-bunyi lain yang sejenis.
Dan suara yang seperti melolong berkumandang
kembali.
"Aaaa ... uuuuu!"
Itu pasti Bob dan Jupe, yang berlari-lari. Lari —
karena dikejar!
Pete meneguk ludah. Kini ia tidak bisa lagi
menutup pintu rahasia, karena itu satu-satunya
jalan bagi Bob dan Jupe, keluar dari gua besar.
Satu-satunya jalan bagi mereka untuk me-
nyelamatkan diri.
Tapi menyelamatkan diri ke mana? Pete merasa
bingung, sementara Mr. Carter yang pemarah
berdiri merunduk tak jauh dari tempatnya
meringkuk, dengan senapan siap ditembakkan.
Tiba-tiba terjadi keributan. Bunyi kaki terpeleset-
peleset, di susul munculnya sepasang mata kuning
kemilau di tengah lubang yang terbuka.
Ada sesuatu yang berbunyi seperti mengerang,
lalu melesat masuk lewat lubang yang terbuka. Dan

205
dengan segera disusul oleh sesuatu lagi, yang
menggeram-geram. Lalu satu lagi. Dan satu lagi!
Mulut Pete terpentang lebar, sementara ia
semakin menempelkan diri ke dinding rongga
yang dingin. Ia sudah bersiap-siap untuk mengha-
dapi naga. Tapi yang masuk berbondong-
bondong ini segerombolan binatang liar yang
berbulu.
Mr. Carter mendengus, ketika ada sesuatu
menubruknya. Ia terbanting.
Pete meneguk ludah. Setelah menyerang
laki-laki pemarah itu, pasti ia kini yang akan
diserang kawanan binatang liar itu!
Ia mengangkat senter yang dipegang.

206
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 18
TERTANGKAP!

B O B dan Jupiter meringkuk berdesak-desakan


dalam ruang lemari yang sempit. Keduanya
berusaha menajamkan pendengaran.
"Panjang juga jalur rel yang perlu diperiksa dan
dibersihkan tadi," kata seorang laki-laki dengan
nada mengomel. "Seolah-olah kita ini belum
cukup repot, dengan segala pengeboran itu. Tapi
sekarang semuanya sudah siap."
"Pokoknya, hasilnya nanti lumayan, Harry," kata
seseorang lagi, yang bersuara berat. "Yuk, kita
jalankan saja sekarang."
"Beres," kata laki-laki yang pertama. "Orang itu
sangat licin, Jack. Bisakah kita mempercayainya,
kalau menurutmu?"
Orang yang satu lagi tertawa.
"la kan cuma seorang diri, sedang kita berdua.
Dan kapalnya punya kita. la yang mestinya gelisah
memikirkan, apakah bisa mempercayai kita!"
Tingkap di atas punggung naga gadungan
terbuka. Kedua laki-laki yang datang itu menuruni
tangga. Bob dan Jupiter meringkuk di dalam
lemari, dengan telinga ditempelkan ke daun pintu.
Mereka mendengar satu dari kedua orang yang
masuk itu menuju ke haluan.

207
Kemudian terdengar desingan mesin yang
dihidupkan. Kedua remaja yang bersembunyi di
dalam lemari merasakan gerakan menyentak
dengan tiba-tiba, disusul suatu benturan. Tahu-
tahu naga gadungan itu sudah meluncur di atas rel.
Bob menjamah lutut Jupiter.
"Menilik suara mereka, kedua orang itu para
penyelam bermasker yang waktu itu. Apakah kita
sekarang menuju ke laut?" bisiknya.
"Kurasa tidak," jawab Jupiter lirih. "Naga ini
takkan bisa terbenam, karena belum cukup beban
pemberat di dalamnya!"
Bob mendesah lega.
Naga-nagaan itu meluncur terus. Bob dan
Jupiter hanya bisa mengetahui bahwa kendaraan
aneh itu bergerak, karena merasakan adanya
ayunan pelan.
"Kita bergerak mundur," bisik Jupiter, "masuk
ke dalam terowongan tua."
"Ya, aku tahu," balas Bob dengan berbisik pula.
"Tapi untuk apa? Mau apa kedua laki-laki itu?"
Jupiter hanya bisa mengangkat bahu.
"Pokoknya, kedengarannya merupakan urusan
penting."
Tiba-tiba naga palsu itu terhuyung ke depan, lalu
berhenti. Bob dan Jupiter terpelanting ke belakang,
membentur dinding yang tipis.
Laki-laki yang mengemudikan kendaraan itu
datang lagi ke buritan.
"Oke, Harry," katanya. "Sekarang kita harus
memuatnya. Tapi hati-hati!"

208
"Awas, kalau ia sampai menipu kita," kata yang
seorang lagi menggerutu. "Kuhajar kepalanya
dengan batang besi ini."
"Ya, betul," kata laki-laki yang pertama. "Tapi
itulah, risiko kita! Imbalannya juga tidak sedikit.
Bayangkan, sejuta dolar!"
Bob dan Jupiter terbelalak dalam kegelapan
ruang lemari yang sempit. Sejuta dollar? Mereka
ragu, jangan-jangan salah dengar. Satu juta dollar!
Kini kedua laki-laki itu terdengar menaiki tangga
panjat ke atas. Tingkap penutup dibuka, lalu
ditutup lagi dengan bunyi bantingan keras.
Jupiter menepuk bahu Bob.
"Yuk — kita lihat apa yang hendak mereka
kerjakan," bisiknya.
Dengan hati-hati pintu lemari dibuka.
Baru saja keduanya mulai berjalan, ketika
mereka tertegun. Mereka mendengar suara
seseorang lagi. Suara orang itu parau, diselingi
batuk-batuk.
"Ayo cepat," kata orang itu dengan nada
mendesak. "Penjaga malam sudah kubereskan,
dengan beberapa tetes obat bius. Paling sedikit
beberapa jam ia akan tetap pulas. Kita harus bisa
mengeluarkan paling sedikit 300 batang dari
dalam, sebelum ia siuman kembali."
Bob menyikut Jupiter.
"Kau benar, Jupe," bisiknya. "Itu memang
Arthur Shelby. Kukenali suaranya. Dan juga
batuknya."
"Itu misteri kedua yang berhasil kita selesaikan,"

209
bisik Jupiter. "Misteri naga yang suka batuk-batuk.
Sekarang tinggal satu lagi."
"Maksudmu yang sekarang ini — apa yang
mereka kerjakan di sini?" tanya Bob.
"Misteri tiga ratus batang," jawab Jupiter. "Tiga
ratus batang apa?"
Jupiter menepuk bahu Bob, lalu menyelinap
melewati gang sempit dalam perut naga palsu. la
memanjat tangga dengan hati-hati. Tingkap
penutup dibuka sedikit, lalu ia mengintip ke luar.
Jupiter melongo. Matanya menatap dinding
beton, yang terdapat di sisi naga-nagaan. Dinding
itu berlubang. Lubang hasil pengeboran! CJkuran-
nya cukup besar untuk dilalui orang yang berjalan.
Seorang laki-laki muncul dari balik lubang itu. la
menenteng sesuatu. Tubuhnya condong ke
belakang. Rupanya benda yang dibawa itu berat!
"Ghhh — beratnya," kata orang itu mengomel.
"Ya, tentu saja berat," jawab Arthur Shelby. "Kau
sangka kenapa kau beserta saudaramu kuajak,
Jack Morgan? Hanya karena kalian kebetulan
memiliki kapal? Untuk pekerjaan ini aku memerlu-
kan tenaga otot yang kekar. Kau serta saudaramu
kukontrak untuk melakukan pengeboran, dan
untuk memuatkannya ke kapal kalian.".
"Ya, ya — aku juga tidak memprotes," kata
laki-laki yang pertama sambil menggerutu. "Be-
rapa berat masing-masing batang ini?"
"Sekitar 70 pon," jawab Arthur Shelby. "Kalian
tumpukkan saja dulu di samping naga. Jika 300
batang itu sudah kita keluarkan semua, barulah

210
dimuat ke dalamnya. Sesudah itu kita menuju ke
laut."
Laki-Iaki kekar yang ternyata bernama Jack
Morgan itu meletakkan bawaannya di samping
naga, lalu kembali ke lubang di tengah dinding.
Saat itu saudaranya keluar, dengan badan
condong ke belakang. Mapasnya terengah-engah.
"Oke, Jack," dengusnya. "Tiga batang sudah
kita angkut."
Batang berat yang dibawanya diletakkan menu-
rut petunjuk Shelby. Setelah itu ia masuk lagi lewat
lubang di dinding.
Jupiter menurunkan tutup tingkap.
"Kata Mr. Shelby, masing-masing batang yang
diangkut itu beratnya sekitar tujuh puluh pon,"
bisiknya pada Bob. "Dan kedua Morgan bersauda-
ra tadi berbicara tentang nilai satu juta dollar.
Kurasa aku tahu, apa sebenarnya batang-batang
berat yang diangkut ke luar itu. Emas!"
"Emas?" seru Bob dengan suara tertahan.
"Emas dari mana?"
"Ukuran baku batang emas yang dibuat oleh
pemerintah, beratnya tujuh puluh pon!" kata
Jupiter. "Ukuran yang lebih kecil, dua puluh pon.
Itu saja, nilainya sudah $ 9.600! Arthur Shelby
rupanya sedang merampok salah satu bank
sentral!"
"Astaga!" seru Bob dengan suara tertahan.
"Lalu berapa nilai masing-masing batangan emas
tujuh puluh pon itu?"
Jupiter menghitung-hitung sebentar.

211
"Satu pon emas nilainya sekitar $ 480 ... jadi
tujuh puluh pon —" Jupiter bersiul pelan," — lebih
dari $ 30.000! Tepatnya, $ 33.600!"
"Wow!" sekali lagi Bob menyatakan keka-
gumannya. "Dan kata Shelby tadi, mereka akan
mengambil 300 batang!"
"Menurut taksiranku, nilainya sekitar sepuluh
juta, delapan puluh ribu dollar," kata Jupiter sambil
menghitung-hitung. "Lumayan juga!"
"Dengan begitu kita ini menjadi saksi peristiwa
perampokan bank yang cukup hebat," bisik Bob.
"Jika ingin selamat, kita harus lekas-lekas lari
dari sini!"
Jupiter setuju.
"Tapi bagaimana kita bisa lari," katanya dengan
suara parau karena tegang. "Tempat Mr. Shelby
berdiri terlalu dekat ke naga!"
Jupiter melangkah dengan lambat menuju
haluan, sambil berpikir-pikir. Tiba-tiba ia lari ke
depan, ke tempat kemudi.
Bob membuntuti, karena menyangka Jupiter
menemukan tempat persembunyian baru bagi
mereka.
Tahu-tahu Jupiter berhenti, sehingga Bob
membenturnya dari belakang.
"Sorry," gumam Bob. "Aku tak menyangka —"
Jupiter mendekatkan telunjuknya ke bibir,
menyuruhnya diam. Setelah itu ia menjulurkan
kepala ke depan. Matanya berkilat-kilat.
"Jangan ribut!" desisnya. "Kunci kontaknya
mereka biarkan terselip!"

212
Mulut Bob ternganga.
"Maksudmu — kau hendak mengemudikan —
kita lari dengan ini? Bisakah kau mengemudikan-
nya? Bagaimana caramu melihat jalan nanti? Aku
sama sekali tidak melihat jendela di sini!"
Jupe mengangkat bahu dengan sikap tak acuh.
"Kucoba saja! Aku yakin, cara menjalankan
naga-nagaan ini seperti mobil biasa, dan'aku tahu
cara mengemudikan mobil. Kulihat ada pedal
kopling, rem, tongkat perseneling, dan pedal gas.
Jalannya akan terus di atas rel, sampai di ujung
terowongan."
la duduk di bangku kemudi yang sempit.
"Nan — kita coba saja," kata Jupiter, lalu
memutar kunci kontak.
Mesin mendesing nyaring.
Lalu mendesing sekali lagi. Batuk-batuk seben-
tar. Setelah itu mati.
"Mesinnya batuk-batuk, Jupe!" seru Bob. "Jadi
yang batuk-batuk itu ternyata bukan Shelby."
Jupiter mengangguk, sambil menggigit bibir.
"Mogok," katanya getir. Kunci kontak diputarnya
sekali lagi.
Sekali lagi mesin mendesing. Tapi sekali ini
menyala, diiringi deruman nyaring.
Jupiter menghembuskan napas lega. Tongkat
perseneling dimasukkannya ke gigi satu, lalu
diangkatnya kaki dengan pelan dari pedal kopling.
Kendaraan berwujud naga itu melonjak maju,
terbatuk, lalu berhenti. Mesin mati.

213
"Mogok lagi!" seru Jupiter dengan sebal.
"Koplingnya —"
Kalimatnya tidak dilanjutkan. la berpaling
dengan cepat, diikuti oleh Bob dengan gerakan
serupa. Mereka mendengar sesuatu yang berat
berdebam-debam di sisi luar naga, disusul
benturan keras. Setelah itu mereka mendengar
sesuatu yang lebih menakutkan lagi.
Bunyi tutup tirigkap dibuka.
"Seharusnya kita kunci tadi!" bisik Bob.
Jupiter mengangguk. Dari matanya nampak
bahwa ia takut.
"Ya, aku tahu. Maaf— pikiranku tadi melantur."

214
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 19
SITUASI GAWAT

PETE gemetar ketakutan. la bersandar ke dinding


rongga, sambil menggenggam senter yang berat.
la tahu, seekor dari binatang-binatang berbulu itu
pasti bisa ditaklukkannya dengan alat itu. Tapi
jumlah mereka terlalu banyak.
Mr. Carter juga terlalu besar dan kuat baginya,
biarpun tanpa senapan buru penyebar mautnya.
Gntung saja saat itu Mr. Carter terkapar di dasar
rongga, di terjang binatang-binatang yang me-
nyerbu masuk. Pete hanya bisa menatap dengan
perasaan ngeri, sementara makhiuk-makhluk
seram itu me —
Pete terkejap kaget.
Binatang-binatang itu tidak menyerang. Mereka
berlompatan melewati Mr. Carter yang terkapar, lari
ke luar lewat celah di sela papan yang berjejer-jejer.
Pete terduduk. la merasa bingung. Detik
berikutnya ia berpaling dengan cepat, karena
mendengar suara erangan seram lagi. Seekor
binatang yang bertubuh kecil menyusul masuk ke
dalam rongga. Matanya menyala-nyala. Sebelum
Pete sempat bergerak, binatang itu sudah
meloncat, melewati kakinya yang terjulur, mengita-
ri tubuh Mr. Carter yang masih terkapar, lalu

215
menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu
keluar lewat celah di antara papan.
Kini Pete tidak menunggu lagi. Mr. Carter
nampaknya tidak mengalami cedera, cuma
pingsan saja. Sebentar lagi ia pasti pulih kembali,
dengan perangainya yang galak, dan dengan
senapan burunya yang lebih-lebih menakutkan.
Jupiter tadi menginstruksikan pada Pete agar
tetap berada di tempat tugas, siap untuk
menjalankan proyektor. Tapi Jupe tidak mengata-
kan apa-apa tentang tetap tinggal, dengan risiko
ditembak. Mungkin ada cara lain, dengan mana ia
bisa memberikan bantuan.
Pete melompat ke lubang di tengah batu.
Didorongnya proyektor ayahnya ke gua sebeiah.
Setelah itu ia sendiri menyusul. Setelah berada di
dalam gua besar, ia berhenti sebentar sambil
memasang telinga. Didengarnya suara Mr. Carter
mengerang.
Sudah tidak ada waktu lagi sekarang untuk
mengutik-utik batu pengganjal pintu rahasia. Pete
bergegas berdiri. Disambarnya pesawat proyektor,
lalu dibawanya lari.
Tiba-tiba dilihatnya lubang di dinding besar
berwarna kelabu yang ada di depannya, diterangi
sinar senternya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia
menyusup masuk lewat lubang itu.
Tiba-tiba didengarnya bunyi desiran aneh.
Datangnya dari arah belakang. Pete berpaling
dengan cepat. Darahnya terasa seperti membeku,

216
ketika melihat bahwa lubang di dinding tadi mulai
tertutup.
la meloncat dengan sikap ragu, hendak keluar
lagi. Tapi tak berhasil. Kedua sisi dinding sudah
merapat.
Kini Pete dikejutkan bunyi lain, la memandang
berkeliling dengan mata nyalang. Di depannya
nampak sebuah terowongan lebar. Terowongan itu
kelihatannya panjang sekali. Dan di kejauhan
nampak sosok besar dan jelek yang sudah pernah
dilihat olehnya. Sosok itu menuju ke tempatnya.
Matanya yang kuning menyala terang. Rahangnya
terbuka lebar.
Naga itu meraung!

Pete cepat-cepat memadamkan senternya. la


bergerak mundur, terdorong rasa ngeri. Tahu-tahu
punggungnya sudah membentur dinding. la tidak
bisa mundur lagi.
Pete menggeser pelan-pelan menuju sudut
paling gelap. Proyektor dijadikan tameng, dipe-
gang di depannya.
Pete menggigil ketakutan. Matanya seperti
terpaku, menatap naga yang maju dengan gerakan
melompat-lompat. la seperti terpukau oleh kepala
naga yang terayun-ayun, serta rahang yang
ternganga lebar. Bob dan Jupe tidak dilihatnya.
Pete menggigit bibir, lalu mengerang.
Kedua temannya itu pasti sudah masuk ke perut
naga. la terlambat, tidak bisa lagi menyelamatkan

217
mereka! Dalam hati Pete timbul pertanyaan
tentang nasibnya sendiri.
Sementara itu naga kian mendekat.

Suara Arthur Shelby menggaung dari lubang


tingkap yang terbuka, masuk ke dalam tubuh naga.
Kedengarannya tidak lagi seperti suara seseorang
yang gemar berkelakar. Bunyinya parau, dan
mengandung ancaman.
"Ayo keluar, jika masih ingin selamat!"
Bob memandang Jupiter. Jupiter menggeleng.
Bibirnya menipis.
Jarinya bergerak-gerak, menekan berbagai
tombol kendali.
"Ini satu-saturiya peluang kita untuk me-
nyelamatkan diri — asal aku bisa membuat naga
sialan ini berjalan!"
Mesin kendaraan itu hidup lagi. Kendaraan
berwujud naga itu terdorong ke depan, lalu mulai
bergerak maju. Tiba-tiba batang lehernya yang
besar terangkat.
"Jupe! Jupe! Lihat, Jupe!" Bob menunjuk-
nunjuk dengan gerakan ribut. "Salah satu tombol
yang kautekan itu rupanya menyebabkan lehernya
terangkat. Kita bisa melihat ke depan!"
Jupiter mengangguk. Kakinya menekan pedal
gas. Tahu-tahu naga itu tersentak, teriring bunyi
batuk-batuk. Mereka mendengar suara Mr. Shelby
berteriak. Di atas kepala mereka terdengar bunyi

218
seperti ada barang tergelincir, disusul debuman
berat.
"Kurasa Mr. Shelby terjatuh, Jupe. Jangan
berhenti!" desak Bob.
"Sudan kucoba — tapi ada sesuatu yang keliru
kulakukan. Kendaraan ini mogok-mogok terus!"
la memutar kunci kontak, sambil menekan
tombol starter. Di luar terdengar suara Mr. Shelby
berteriak-teriak memanggil kedua Morgan bersau-
dara.
Bob lari ke buritan, lalu menempelkan mukanya
ke lubang tingkap bundar yang ada di sisi.
"Mereka datang, Jupe! Kelihatannya marah
sekali. Ayo, lakukanlah sesuatu!"
Mesin berderum lagi. Jupiter menginjak pedal
kopling, menariktongkatperseneling, lalu mengin-
jak pedal gas.
Naga itu melakukan gerakan meloncat ke
depan.
Lalu mogok lagi.
Jupiter menghidupkan mesin dengan perasaan
geram. Naga itu melonjak maju. Lalu berhenti lagi
dengan gerakan menyentak.
"Ayo, terus saja!" desak Bob. "Setiap kali
kendaraan ini kaugerakkan, mereka tercecer di
belakang!"
Gntuk kesekian kalinya Jupiter menghidupkan
mesin.
"Sudah seberapa jauhkah mereka tertinggal?"
tanyanya.
Bob mengintip sebentar.

219
"Aduh, sudah dekat sekali!" serunya panik.
"Cepat, Jupe — jalankan lagi!"
Naga itu meloncat lagi ke depan, meluncur
beberapa meter, tahu-tahu terbatuk, lalu mogok.
Bob memandang ke belakang. Dilihatnya kedua
Morgan bersaudara lari mengejar dengan cepat.
Muka mereka tergerenyeng karena sangat marah.
Arthur Shelby berlari tidak jauh di belakang
mereka, sambil melakukan gerakan-gerakan ribut
dengan kedua lengannya.
"Tahan mereka, Goblok! Tanpa naga itu, kita
tidak berdaya!"
Jack dan Harry Morgan, kedua laki-laki
bersaudara yang bertubuh kekar itu, mempercepat
langkah mereka. Bob, yang semula sudah pucat,
kini bertambah lesi mukanya. Tangan kedua orang
itu sudah hampir berhasil menjamah ekor naga
yang panjang. Bob teringat, betapa dengan
gampang saja kedua laki-laki itu mengangkut
batang-batang emas yang berat. Jika mereka
berhasil menjangkau ekornya, naga pasti akan bisa
dengan mudah mereka tarik kembali!
Jupiter mendengar Bob berteriak tentang
adanya bahaya itu. Untuk kesekian kalinya ia
berhasil menghidupkan mesin, lalu menjalankan
naga. Tapi setelah melompat-lompat maju bebe-
rapa kali, kendaraan itu batuk-batuk, lalu mogok
lagi.
Tombol starter ditekan. Terdengar bunyi kipas
berdesir. Tapi mesin tidak mau hidup.

Halaman : 193, 194, 199, 200 220


221, 222 master hilang/sobek
Semut raksasa di dinding itu meraung,
seakan-akan menantang. Makhluk seram itu
semakin mendekat, diikuti seekor lagi yang datang
menyerbu dengan cepat. Ukuran kedua semut itu
benar-benar luar biasa. Hampir mengisi seluruh
dinding gua!
"la berhasil kutembak — tapi tidak apa-apa!"
seru Harry Morgan. la menembak lagi, berulang-
ulang.
Semut-semut meraung sambil bergerak maju.
Jumlah mereka semakin banyak. Seluruh dinding
penuh dengan semut.
Sementara itu Arthur Shelby sudah berhasil
menyusul. la menatap dinding, dengan air muka
aneh.
Kedua Morgan bersaudara melepaskan tem-
bakan tanpa henti.
"Semut-semut raksasa, bermunculan dari balik
dinding," teriak Morgan yang bertubuh lebih besar
pada Shelby. "Mereka tidak mempan peluru. Kita
harus lari dari sini, Shelby!"
Shelby hanya mengangkat bahu dengan sikap
tak acuh. la masih saja menatap gerombolan
semut yang nampak bergerak-gerak di dinding.
Morgan yang satu lagi mencengkeramnya, lalu
mengacungkan pistolnya.
"Buka dinding gua ini, Shelby, kalau kau masih
ingin selamat! Kita harus keluar dari sini!"
Shelby menatapnya dengan pandangan dingin.
Sekali lagi ia mengangkat bahu, lalu merogoh

223
kantung, mengambil suatu benda kecil langsing.
Ditempelkannya benda itu ke bibir.
Bob dan Jupiter mengira akan mendengar
bunyi peluit yang melengking tinggi.
Mereka tidak mendengar apa-apa. Tapi tahu-
tahu dinding di depan terbelah, bergerak me-
nyamping dengan perlahan-lahan.
"Ayo Jack!"
Kedua Morgan bersaudara lari pontang-panting
menuju dinding yang kini terbuka, sambil
menembak dengan membabi buta ke arah
semut-semut yang meraung di sepanjang dinding.
Saat berikutnya kedua laki-laki kasar itu sudah
keluar, lewat lubang di dinding.
"Larilah, Manusia-manusia tolol!" kata Arthur
Shelby dengan nada mengejek. la mendongak,
memandang ke arah Bob dan Jupiter yang berdiri
dekat lubang tingkap. Wajah laki-laki itu aneh,
seakan-akan sedang menaksir.,
"Pintar sekali," katanya dengan nada pintar.
"Sayangnya, agak terlalu pintar, Kawan-kawan
mudaku. Kalian menyebabkan harta terlepas dari
tanganku, dan karenanya kalian tidak bisa
kubiarkan lolos begitu saja."
Tangannya bergerak, meraih sesuatu dalam
kantungnya. Kali ini ia menggenggam suatu benda
yang lebih menakutkan. Mata Arthur Shelby
berkilat-kilat.
"Jangan tembak kami," kata Bob tergagap.
Arthur Shelby mengangguk dengan sikap
dingin.

224
"Ayo turun!" Dan sementara Jupiter turun,
disusul oleh Bob, orang itu menambahkan, "Lain
kali jika kalian hendak merampas kendaraan yang
besarnya seperti bis, kusarankan agar sebelumnya
belajar untuk menginjak pedal kopling dua kali,
saat mengganti gigi. Dengan begitu kendaraan
takkan mogok, tahu!"
Bob dan Jupiter turun ke tanah. Kini Shelby
berpaling, memandang ke arah sorotan sinar yang
datang dari sudut yang paling gelap. "Dan kau,
yang melayani proyektor di sana itu," serunya.
"Hentikan film, lalu datang segera kemari! Jangan
main-main — aku menggenggam senjata!"
Bunyi raungan yang membahana dalam gua,
berhenti dengan tiba-tiba. Semut-semut raksasa
bergerak-gerak kaku, lalu menghilang.
"Ja-jangan tembak!" seru Pete dari tempat
gelap. "Aku datang!"
Anak itu muncul dengan langkah berat. la
memandang Jupiter dan Bob, yang berdiri di
samping tubuh naga yang tidak bergerak.
"Benar-benar bukan naga asli?" tanyanya pada
Jupe.
Jupiter menggeleng.
"Sama tidak aslinya seperti semut-semut
raksasamu," bentak Shelby, la menatap ketiga
remaja itu, lalu memandang pistol di tangannya.
"Apa boleh buat, Anak-anak, tapi ini terpaksa
kulakukan. Kenapa kalian mencampuri —"
la tertegun. Tangannya yang teracung nampak

225
gemetar. Suara lolongan seram seakan-akan
mengambang dalam terowongan.
"Aaaa ... uuuuuuu!"
"Aduh — mereka lagi!" seru Shelby. Dengan
cepat dikeluarkan benda yang kecil langsing dari
kantungnya, yang tadi sudah dipergunakan.
Ditempelkannya benda itu ke bibir. Sekali lagi tak
terdengar apa-apa, tapi dinding besar yang semula
terbuka, kini bergerak menutup kembali dengan
pelan.
Jupiter tersenyum. Selama itu ia menelengkan
kepala, mendengarkan dengan cermat. la me-
nyalakan senter.
Diterangi sinarnya, nampak sejumlah sosok
besar berlompatan ke arah mereka, dengan mata
berkilat-kilat serta rahang ternganga menampak-
kan deretan gigi runcing mengancam.
"Awas! Kawanan binatang berbulu —" Pete
tersentak, lalu nyengir malu. "Maksudku, kawanan
anjing itu," katanya menyambung. "Aduh — aku ini
benar-benar tolol!"
Arthur Shelby ikut mengeluh.
"Terlambat!" desahnya.
Anjing yang paling depan menghampiri mereka,
sambil menggonggong-gonggong dengan gem-
bira. Ekornya yang panjang dan berbulu lebat
dikibaskan kian kemari. Bulunya yang coklat
kemerahan nampak kemilau.
"Red Rover!" seru Jupiter. "Dia datang lagi!"
Anjing setter besar itu tidak mengacuhkan
tangan Jupiter yang terulur ke arahnya. la

226
melompat ke arah Shelby. Laki-laki berambut
merah itu melangkah mundur, dengan pistol
teracung.
"Ayo pergi, Rover!" bentaknya. "Kuperingatkan
untuk terakhir kalinya — ayo pulang!"
Anjing itu menggeleng-gelengkan kepalanya
yang besar. la melonjak-lonjak, mengelilingi Arthur
Shelby. Anjing-anjing yang lain ikut berkerumun,
sehingga laki-laki itu terdesak ke dinding.
Kawanan anjing itu melonjak-lonjak dengan
gembira, menggeram dan menggonggong-gong-
gong, sambil mengibas-ngibaskan ekor. Sekali lagi
Arthur Shelby mengayun-ayunkan pistolnya ke
arah mereka. Mukanya yang pucat nampak
berkilat-kilat karena keringat.
"Percuma, Mr. Shelby," kata Jupiter. Anda
takkan sampai hati menembak mereka. Anda
terlalu sayang pada anjing. Dan mereka pun sangat
menyukai Anda."
Laki-laki kurus berambut merah itu memper-
hatikan kawanan anjing yang berlompatan me-
ngitarinya. la menurunkan tangannya yang meng-
genggam pistol.
"Ya," katanya menggerutu, "Ya, mereka sangat
menyukai aku. Ya — memang begitulah!"
Dipandangnya pistol yang masih digenggam-
nya dengan sikap merenung. la mengangkat bahu,
lalu mengantungi senjata itu. Tangannya bergerak
ke bawah, lalu mengelus-elus kepala seekor di
antara anjing-anjing yang masih mengerubungi-
nya dengan gembira.

227
"Bagaimana sekarang?" tanyanya, seakan-akan
berbicara pada dirinya sendiri.
"Saya punya ide, Sir — jika Anda sudi
mendengarkan," kata Jupiter.
"Kau punya ide?" Sepasang mata berwarna
pudar menatap remaja bertubuh montok itu.
Jupiter Jones mengangguk.
"Ya, Sir. Dan itu sedikit-banyak didasarkan pada
kenyataan bahwa Anda sebenarnya orang yang
suka berbuat iseng, dan bukan penjahatyang haus
harta. Sudikah Anda mendengar gagasan saya
itu?"
Laki-laki berambut merah itu menganggukkan
kepala dengan gerakan ketus.
"Kembalikanlah semua batangan emas yang
sudah dikeluarkan tadi. Kami mau membantu, jika
Anda mengingininya," kata Jupiter. "Mungkin juga
lubang di dinding hasil pengeboran tadi ingin Anda
biarkan begitu saja, tidak ditutup kembali. Itu akan
merupakan kelakar Anda terhadap kota Seaside.
Anda sebenarnya berpeluang untuk mengambil
semua batangan emas yang ada di sana, tapi Anda
tidak melakukannya. Kami takkan membuka
mulut, dan mereka takkan pernah bisa mengetahui
siapa yang melakukannya — atau tepatnya, siapa
yang nyaris saja melakukannya, Sir!"

228
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

Bab 2 0
ULURAN TANGAN MR. HITCHCOCK

DUA hari kemudian. Pete, Bob, dan Jupiter


memasuki ruang kantor Alfred Hitchcock. Sutrada-
ra terkenal itu sedang duduk di meja kerjanya,
sambil membaca surat kabar. la menyilakan ketiga
remaja itu duduk di hadapannya, di kursi yang
besar dan empuk.
"Silakan duduk," katanya. "Sebentar, ya —
kuselesaikan dulu membaca artikel yang menarik
ini."
Ketiga remaja itu duduk sambil menunggu
dengan sabar. Akhirnya Mr. Hitchcock melipat
surat kabar, dan meletakkannya ke samping.
"Nah!" kata Mr. Hitchcock dengan suaranya
yang berat dan dalam. "Waktu itu aku me-
nyarankan suatu kasus pada kalian, yang
menyangkut anjing seorang kawan lamaku yang
hilang. Lalu apa yang terjadi? Yang kembali bukan
anjingnya saja, tapi juga sejumlah anjing lain. Aku
juga melihat suatu artikel dalam surat kabar yang
terbit di Seaside, mengenai komplotan aneh yang
bermaksud merampok sebuah bank besar. Kepala
berita itu berbunyi begini. 'PARA PETUGAS BANK
DIBINGUNGKAN OLEH PENJAHAT YANG TIDAK

229
JADI MERAMPOK!' Hasil kerja kalian jugakah itu?
Terus terang, aku pun ikut binggung karenanya!"
Jupiter mendeham.
"Ya, Sir — itu memang hasil kerja kami. Mereka
— eh, maksud saya — Sir, bisa dibilang kamilah
penyebab kesemuanya itu!"
Mr. Hitchcock mengangkat tangannya.
"Kerendahan hatimu pantas dipuji. Tapi ku-
simpan dulu pujianku, sampai aku sudah benar-
benar tahu, dengan cara bagaimana kalian berhasil
memecahkan misteri anjing-anjing yang lenyap
itu."
"Begini, Sir," kata Jupiter. "Sebenarnya Anda
banyak membantu kami dalam mengusut misteri
itu — yaitu ketika Anda mengizinkan kami ikut
menonton film kuno tentang naga, yang dibuat
oleh Mr. Allen."
"O, begitu," kata Mr. Hitchcock. "Dan aku masih
ingat, kalian waktu itu menyinggung tentang
perjumpaan dengan seekor makhluk dongeng
itu."
"Betul, Sir," kata Pete dengan cepat. "Dan kami
boleh mengucap syukur bahwa kami bisa sela-
mat. Biarpun itu bukan naga sungguhan."
"Luar biasa!" gumam Mr. Hitchcock. "Ancaman
nyata, dari seekor naga yang bukan naga tulen. Aku
ingin sekali mendengar kisahnya."
Bob mengeluarkan buku catatannya, lalu mulai
membaca. la mulai dari awal, yaitu bagaimana
penyelidikan mereka langsung macet, tapi ke-
mudian mereka berhasil menemukan berbagai

230
petunjuk, yang akhirnya menyebabkan mereka
berhasil membongkar misted yang semula mereka
tangani. Mr. Hitchcock mengikuti uraian Bob
dengan penuh minat.
"Mr. Shelby kalian itu kedengarannya sangat
menarik, dan banyak akalnya," katanya. "Kalau aku
tidak salah tangkap, kau tadi mengatakan bahwa ia
memilih iebih baik melepaskan peluangnya yang
begitu besar untuk mencuri emas bernilai jutaan
dolar, daripada harus menembak kalian serta
beberapa ekor anjing?"
"Betul, Sir," kata Jupiter. "Dan selama itu,
anjing-anjing yang terkurung diberi makan dan
diurus olehnya. la terpaksa membius mereka
supaya jangan ribut dan merepotkannya. Menurut
katanya pada kami, anjing-anjing itu akan
dilepaskannya lagi, apabila ia meninggalkan gua
dengan emas hasil curiannya.
Ia sebenarnya bisa saja memaksa kita dengan
pistolnya, agar membantunya mengangkut ba-
tang-batang emas itu ke luar, setelah kedua
Morgan bersaudara melarikan diri. Ia bisa saja
mengambil emas dalam jumlah yang mencukupi,
untuk menjadi cukup kaya. Tidak perlu seluruh
timbunan yang bernilai sepuluh juta lebih itu
diambii."
Mr. Hitchcock mengetuk-ngetukkan jarinya ke
daun meja.
"Dan rencananya semula adalah lari malam-
malam dengan naga gadungan itu lewat dasar laut,

231
dengan dibantu oleh Morgan bersaudara yang
berwatak penjahat itu?"
Jupiter mengangguk.
"Menurut perkiraan saya, naga itu terlalu ringan.
Tapi rupanya ia telah mengkalkulasikan beban
pemberat yang diperlukan — dalam wujud
batang-batang emas yang berat. Sebelumnya ia
perlu melakukan uji-coba dulu dalam air, dengan
batu-batu sebagai pemberat. Saat itulah teman
Anda, Mr. Allen, secara kebetulan melihat naga itu.
Ia sedang mencari-cari Red Rover, ketika kendara-
an naga diuji kemampuannya dalam air."
"Dan petunjuk yang menyebabkan kalian tahu
bahwa Shelby terlibat, adalah kenyataan bahwa ia
sedang pilek?"
Jupiter tersenyum hambar.
"Ketika kami pertama kali mendatanginya, ia
sedang pilek. la terbatuk-batuk terus. Karenanya
saya lantas menghubungkan dirinya dengan naga,
yang juga batuk-batuk. Kemudian barulah saya
tahu, kendaraan naga itu batuk-batuk apabila
mogok. Hal itu disebabkan karena ada kabel yang
basah, karena sering dicoba dalam air."
"Tapi telepon misterius yang kalian terima —
suara hantu yang serak — itu sebenarnya Shelby?"
Jupiter mengangguk.
Mr. Hitchcock menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku mendapat kesan, Arthur Shelby ini
sebenarnya bukan penjahat yang biasa. Bagaima-
na ia sampai bisa terlibat dengan orang-orang

232
berwatak buruk, seperti kedua bersaudara Morgan
itu?"
"Kedua bersaudara ini memiliki kapal tunda,
serta perlengkapan pengangkat kapal karam.
Shelby tahu, kedua orang itu berwatak kasar, dan
mau disuruh melakukan apa saja — asal dibayar! la
memerlukan tenaga mereka untuk melakukan
pekerjaan dalam gua, mengebor dinding beton
dalam terowongan supaya bisa masuk ke ruang
penyimpan emas dalam bank, lalu mengangkut
batang-batang emas ke luar. Ternyata mereka
langsung mau, ketika ditawari pembayaran satu
juta dollar."
"Dan bagaimana rencana mereka untuk me-
mindahkan emas sebanyak itu, dari kapal selam
berbentuk naga ke kapal mereka?"
"Apabila naga-nagaan sudah berada di dalam
laut, kedua Morgan bersaudara dengan pakaian
selam mereka akan menghubungkan kapal selam
tersamar itu dengan kabel ke kapal tunda milik
mereka, lalu menyeretnya ke tengah laut. Jika
sudah cukup jauh, kapal selam akan diangkat ke
permukaan, lalu batang-batang emas dipindahkan
ke kapal tunda mereka. Setelah itu mereka akan
menuju ke Meksiko."
Mr. Hitchcock mengangguk.
"Tapi kenapa harus berbentuk naga?" tanyanya
ingin tahu.
"Itu karena Arthur Shelby mengenal Mr. Allen,
serta mengetahui latar belakangnya sebagai
sutradara film, yang menampilkan makhluk-

233
makhluk naga untuk membuat penonton ketakut-
an. Shelby mulanya menciptakan makhluk ga-
dungan itu karena iseng saja, ingin mengejutkan
para tetangga. Tapi kemudian timbul niatnya untuk
melakukan perampokan, ketika ia mendengar
tentang adanya kiriman emas beratus batang ke
bank yang kemudian dijadikan sasaran olehnya.
Menurut kalkulasinya, naga gadungan itu dengan
mudah diubah menjadi kapal selam yang mampu
bergerak di darat dan di dalam air. Hal itu cocok
dengan jalan pikirannya yang aneh — suatu cara
yang kocak dan tidak bisa meleset, untuk
mengangkut emas dari bank ke laut, lewat
terowongan tua yang sudah dilupakan orang. Tapi
rencananya itu gagal, karena justru keanehan naga
itulah yang menyebabkan kami tertarik untuk
mengusutnya."
"Kusangka Mr. Shelby tidak punya uang.
Bagaimana ia sampai bisa membangun konstruksi
sehebat naga itu?" kata Mr. Hitchcock dengan nada
menyelidik.
Bob membalik-balik catatannya.
"Saya tadi melewatkan selembar, Sir," katanya
menjelaskan. "Menurut keterangannya pada kami,
ada beberapa kawannya yang bekerja di perusaha-
an film. Mereka juga gemar mengutik-utik, seperti
dia — menciptakan berbagai peralatan. Mereka
bercerita padanya bahwa sebuah naga yang
pernah dipakai dalam salah satu film akan
dimusnahkan, karena tempatnya diperlukan untuk
menyimpan properti lain. Arthur Shelby mendata-

234
ngi tempat di mana naga itu disimpan, lalu
menawarkan jasa untuk membongkarnya. Sebagai
imbalan, bagian-bagian dari konstruksi itu boleh
dimilikinya. Potongan-potongan naga itu diangkut-
nya pulang, dan di situ disambung-sambung
kembali sehingga ia memperoleh naga seutuh-
nya."
"Dan naga itu sudah beroda?" tanya Mr.
Hitchcock sambil mengerutkan kening.
"Waktu itu belum, Sir," kata Bob. "la menemu-
kan kerangka landasan bekas kendaraan pawai
Rose Bowl, di Taman Hiburan Pasadena. Ia
diizinkan memiliki landasan yang tak terpakai itu,
asal ia sendiri yang membawa pergi. Naga-
nagaannya ditaruhnya di atas landasan itu."
"Hmm. Pintar juga orang itu," kata Mr.
Hitchcock. "Sekarang aku ingin tahu, bagaimana
mungkin Shelby tahu tentang gua besar dan
terowongan itu, sedang temanku Allen tidak?
Padahal rumah Allen, letaknya kan hampir tepat di
atasnya!"
"Yah — pertama-tama, Shelby sudah dari
semula tahu tentang adanya terowongan tua itu,
karena ia pernah bekerja di Badan Perencana Kota.
Tapi jalan masuk ke situ, hanya secara kebetulan
saja ditemukan olehnya," kata Jupiter menjelas-
kan. "Jalan masuk ke gua yang besar tertimbun
tanah longsor, bertahun-tahun sebelum Mr. Allen,
dan juga Shelby, pindah ke sana. Pada suatu hari,
ketika sedang berjalan-jalan di pantai, Shelby
melihat suatu retakan di dinding tebing. Retakan itu

235
digalinya. Dengan cara begitu ia menemukan gua
yang besar, dan kemudian terowongan yang ada di
bagian belakangnya. Hal itu kemudian diceritakan-
nya pada kedua Morgan bersaudara. Mereka yang
membantunya membuat dinding palsu di sebelah
dalam. Itu untuk mengelabui orang yang mung-
kin secara kebetulan masuk ke dalam gua,
supaya tidak ada yang bisa masuk ke dalam
terowongan."
"Kurasa kedua orang itu juga yang membantu-
nya membuat batu-batu palsu di luar, untuk
menutupi jalan masuk yang sebenarnya," kata Mr.
Hitchcock menduga.
"Betul, Sir," kata Jupiter. "Batu-batu palsu itu
menarik, dan dirancang dengan sangat baik.
Mereka harus bekerja di dalam gua, agar tidak
menarik perhatian orang lain. Setelah semuanya
selesai, barulah mereka bisa menyingkirkan
batu-batu yang ada di luar, lalu memasang batu
palsu bikinan mereka. Itu dilakukan saat malam
hari."
Mr Hitchcock mengangguk.
"Kedua Morgan bersaudara itu — merekakah
yang menyebabkan tangga ambruk, ketika kalian
untuk pertama kalinya turun ke paniai?"
Kini Pete yang memberi jawaban.
"Mereka tidak ingin ada orang lain muncul dan
mengganggu rencana mereka. Karenanya mereka
membuat tangga terasa goyah, sehingga tidak ada
yang berani turun lewat situ. Mereka melihat dari
kapal mereka, ketika kami turun lalu terjatuh.

236
Kemudian mereka datang dan mengancam kami
dengan senapan tombak, ketika melihat bahwa
kami ternyata tidak pergi lagi. Mereka menyangka
kami akan ketakutan dan tidak berani datang lagi
setelah itu."
"Begitu ya," kata Mr. Hitchcock. "Kurasa kalian
tadi sudah mengatakan, bahwa mereka kemudian
menghilang di dalam gua yang pertama-tama
kalian masuki."
Bob membalik-balik kertas catatannya.
"Mereka masuk ke sumur, tempat saya
sebelumnya tercebur. Sumur itu bukan berisi pasir
apung, tapi cuma air dan lumpur saja. Mereka
berperlengkapan untuk menyelam, jadi bisa
menyusup lewat situ, lalu melalui suatu Hang
bawah tanah, menembus ke gua satu lagi, di dekat
terowongan. Itu cara mereka masuk, saat siang
hari. Mereka tidak berani menggeser batu-batu
palsu yang besar-besar di luar, karena khawatir ada
yang melihat. Dan malam itu, ketika lari ketakutan
dari gua, mereka kemudian tidak kembali lagi.
Mungkin karena malu!"
"Tidak ada yang rugi karenanya," kata Mr.
Hitchcock dengan ketus. "O ya — tentang benda
kecil langsing yang ditiup oleh Shelby tanpa
berbunyi, tapi menyebabkan dinding gua yang
palsu terbuka dan menutup. Betulkah dugaanku,
bahwa itu suatu alat yang bekerja dengan
gelombang bunyi yang tak terdengar?"
Jupiter mengangguk.

237
"Alat itu pula yang dipakai untuk membuka batu
karang palsu yang menutup mulut gua di luar,
dengan tinggi nada yang berbeda. Tapi justru itulah
yang menyebabkan rencana Shelby akhirnya
menemui kegagalan!"
"O ya?" tanya Mr. Hitchcock. "Kenapa?"
"Eksperimennya dengan peluit tak berbunyi
itulah yang menyebabkan anjing-anjing berda-
tangan ke rumahnya. Seperti Anda ketahui, anjing
mampu menangkap bunyi dengan frekuensi yang
lebih tinggi daripada manusia. Anjing setter Mr.
Allen langsung datang ke tempatnya, begitu
kembali dari tempat penitipan. Shelby sama sekali
tidak menduga kemungkinan itu, karena me-
nyangka Mr. Allen masih ada di Eropa. Hal itu
berarti ia harus bertindak cepat. Anjing-anjing
lainnya di sekitar situ sudah lebih dulu berdatang-
an, karena mendengar peluitnya yang berfrekuensi
sangat tinggi. Mereka tidak mau pergi, ketika diusir.
Padahal pekerjaannya masih banyak, menyiapkan
naga-nagaan, mengebor lubang ke dalam ruangan
bank, serta membersihkan rel yang menuju ke
sana. Kedua Morgan bersaudara menghendaki
agar anjing-anjing itu dibunuh saja. Shelby
menolak. Mereka hanya ditidurkan olehnya,
dengan obat bius yang dicampurkan ke dalam
makanan."
Mr. Hitchcock merenung sebentar, lalu berbica-
ra lagi.
"Menurut kalian, naga itu meraung. Apakah itu
bukan menurut perasaan kalian saja?"

238
"Tidak, Sir," kata Bob sambil menggeleng.
"Raungan itu, serta berbagai hal lagi — seperti
lubang di depan untuk melihat — semuanya
dikendalikan dari papan instrumen yang ada di
dalam badan naga. Saat itu Jupiter sibuk
memencet-mencet segala tombol yang ada,
karena hendak menjalankan naga-nagaan itu."
"Sekarang tentang Mr. Carter," kata Mr.
Hitchcock. "Apakah ia berhasil menyelamatkan
diri, setelah diterjang anjing-anjing yang lari dari
dalam gua?"
"Ya, ia berhasil keluar," kata Pete. "Ia tidak ada
lagi di sana, ketika kami kembali untuk mengambil
peralatan yang tertinggal."
Mr. Hitchcock mengangguk, tanda mengerti.
"Dan ia betul-betul keturunan Carter yang
bangkrut karena gagal membangun terowongan
kereta bawah tanah di Seaside?"
"Ya," kata Jupiter sambil tersenyum. "Ia tahu,
bahwa di bawah tebing ada terowongan. Tapi
letaknya yang tepat, tidak diketahuinya. Itulah
sebabnya, kenapa ia tahu tentang gua yang
dangkal, serta papan-papan yang menutupi
rongga sempit di sebelahnya. Ia biasa berkeliaran
di sana, sambil mencari-cari. Ia lebih dirasakan
menganggu oleh Shelby serta komplotannya,
dibandingkan dengan kami. Saya rasa Mr. Carter
selalu membawa-bawa senapannya, karena mera-
sa ada sesuatu yang tidak beres di situ.
Kecurigaannya timbul lagi, setelah tangga di
dekat rumahnya roboh. Ia turun ke bawah, untuk

239
memeriksa. Saat itulah Pete nyaris tepergok
olehnya.
Menurut Mr. Shelby, papan-papan dalam gua
pertama rupanya ditaruh di situ oleh penyelundup,
atau bajak laut pada zaman dulu. la menduga
bahwa mereka pula yang membuat pintu rahasia
berupa batu yang bisa tergeser. la kebetulan saja
menemukannya, sama seperti kami. Papan-papan
tua yang sudah lapuk, digantinya dengan yang
baru, dari kayu lapis, la khawatir ada orang lain
menemukan batu yang bisa bergeser, dan dengan
begitu juga gua yang lebih besar serta terowongan
tua. Pintu batu yang bisa bergeser itu rupanya
hendak dijadikan jalan darurat, karena itu ia tidak
menceritakannya pada kedua Morgan bersau-
dara."
"Dan kalian kemudian membantu Arthur Shelby
mengembalikan batang-batang emas ke ruang
bank?" tanya Mr. Hitchock.
"Tidak," jawab Bob. "la mengucapkan terima
kasih atas tawaran kami itu, tapi katanya itu
merupakan tanggung jawabnya sendiri. Ia tidak
ingin kami ikut terlibat dalam tindakan kriminal.
Semua batang emas itu dikembalikan sendiri
olehnya. Tapi dibiarkannya berserakan. Supaya
orang banyak bingung, katanya iseng. Lubang di
dinding ditambal lagi. Saya rasa pihak bank
kapan-kapan pasti akan menemukan terowongan
yang ada di balik dinding ruang tempat pe-
nyimpanan emas mereka. Tapi kami tidak

240
bercerita mengenainya pada siapa pun juga. Pada
Mr. Allen juga tidak."
"Semuanya itu memang bisa saja," kata Mr.
Hitchcock sambil mengangguk, "mengingat bakat
Shelby yang hebat di bidang teknik. Dan semuanya
bisa terjadi, karena ia mengenal riwayat pemba-
ngunan terowongan bawah tanah di kota Seaside."
"Ya, Sir," kata Jupiter. "Dan sejarah pemba-
ngunannya masa kini! Karena itulah ia tahu, bank
yang mana saja yang bisa dimasuki lewat
terowongan-terowongan kuno itu!"
"Ada satu hal yang masih kupikirkan. Kalian
beranggapan bahwa Allen, kawan lamaku itu,
dengan sengaja berbohong, ketika mengatakan
bahwa ia melihat naga masuk ke dalam gua,
padahal itu tidak mungkin."
"Tentang itu saya perlu minta maaf, Sir," kata
Jupiter. "Kemudian kami baru tahu bahwa itu
terjadi karena kekeliruan. la saat itu sedang berada
di tengah tangga. Tapi kenyataan itu dilupakannya,
karena masih bingung kehilangan Red Rover.
Masih ada lagi, Sir?"
"Tidak! Tapi aku ingin berkenalan dengan Mr.
Arthur Shelby. Orang yang ketrampilannya sampai
bisa membuat kalian bertiga ketakutan, bisa
kupakai. Jangan lupa, bisnisku juga di bidang
horor!"
"Terima kasih, Sir!" seru Jupiter dengan
gembira, diikuti oleh Bob dan Pete. "Kami minta
permisi saja sekarang. Kami tidak ingin terlalu
banyak menyita waktu Anda yang berharga."

241
"Hmmm," gumam Mr. Hitchcock, ketika para
remaja itu sudah pergi. "Mungkin aku bisa
meminjam naga-nagaan hebat ciptaan Mr. Shelby
itu. Aku kan baru saja membeli karavan, untuk
kupakai berlibur. Prinsip menjalankannya kan
sama dengan bis. Sebaiknya aku berlatih menja-
lankan naga itu saja dulu dalam gua, sebelum
memberanikan diri berkeliaran di jalan raya Los
Angeles yang selalu ramai!"

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

242