Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Jatinangor merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sumedang yang

dikembangkan menjadi kawasan pendidikan tinggi sejak tahun 1980. Diawali oleh

Rektor keenam Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Hindersah Wiraatmadja yang

menggagas Kota Akademis Manglayang, terletak di kawasan kaki Gunung

Manglayang yang terinspirasi oleh Kota Akademik Tsukuba di Jepang. Konsep

tersebut bermaksud untuk menjawab permasalahan beberapa kampus besar di

Bandung yang memiliki masalah terkait keterbatasan lahan. Maka pada tahun 1977

dirintislah pengadaan lahan yang memadai dan tahun 1979 baru disepakati dengan

adanya penunjukkan lahan bekas perkebunan karet di Jatinangor.

Secara hirarkis Jatinangor ditetapkan sebagai sub pusat yang mempunyai

fungsi sebagai pembangkit pertumbuhan lokal dan pusat pendidikan dalam

penataan Kawasan Metropolitan Bandung. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur

Jawa Barat No. 593/3590/1987, lahan seluas 3.285,5 hektar bekas perkebunan karet

di Jatinangor diubah fungsinya menjadi lahan untuk perguruan tinggi. Alokasi

penggunaan lahan bekas perkebunan karet itu antara lain untuk pembangunan

Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) 227 hektare, Institut Koperasi

Indonesia (Ikopin) 28 hektare, Universitas Winayamukti 53 hektare yang kini

menjadi lahan milik Institut Teknologi Bandung (ITB) seluas 46 hektare dan

Universitas Padjadjaran (Unpad) 175 hektare yang artinya perguruan tinggi

1
2

menduduki tanah sebesar 38% dari luas keseluruhan Jatinangor menurut Rencana

Tata Bangunan dan Lahan Jatinangor tahun 2012.

Berdasarkan Rencana Umum Tata Ruang Kawasan (RUTRK) Perguruan

Tinggi Jatinangor Tahun 2000 2010, kawasan pendidikan tinggi Jatinangor adalah

kawasan yang meliputi total sepuluh desa dengan delapan desa yang berada di

Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang yaitu:

1. Desa Cikeruh 5. Desa Sayang

2. Desa Hegarmanah 6. Desa Cipacing

3. Desa Cilayung 7. Desa Jatiroke

4. Desa Cibeusi 8. Desa Cileles

serta dua desa yang termasuk Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung, yaitu:

1. Desa Cileunyi Wetan

2. Desa Cileunyi Kulon

Penetapan Jatinangor menjadi kawasan pendidikan kini merubah status 10

Desa dengan dominasi pertanian tersebut menjadi suatu kawasan kota yang dipadati

oleh kawasan terbangun. Selain itu, hadirnya perguruan tinggi di Jatinangor beserta

para pegawai dan mahasiswa dengan jumlah peminat yang tinggi pada setiap

univesitas yaitu diperkirakan tambahan 17.000 mahasiswa baru setiap tahun

mempengaruhi meningkatnya permintaan akan keberadaan fasilitas penunjang

kegiatan pendidikan baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. Terbukti dalam

kurun waktu 1987 hingga 2016 pembangunan di Jatinangor kian meningkat akibat

turut hadirnya bangunan seperti kos-kosan, pertokoan, mall, hingga apartemen.


3

Dengan perguruan tinggi sebagai magnet pembangunan, Jatinangor

kini berubah menjadi daerah padat terbangun dengan tingginya jumlah

penduduk yang berdampak terhadap lingkungan di Jatinangor. Menurut

laporan jumlah penduduk WNI yang dikeluarkan oleh Kecamatan Jatinangor

pada tahun 2015 tercatat penduduk mencapai 102.140 jiwa belum termasuk

dengan perkiraan tambahan 17.000 mahasiswa baru setiap tahun. Tingginya

jumlah penduduk tentu terus mendorong pembangunan fasilitas fisik di Jatinangor,

sedangkan jumlah lahan yang ada tidak mengalami pertambahan. Akibatnya

muncul bangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan, tata letak

bangunan, garis sempadan jalan, ketersediaan lahan parkir yang akhirnya

menimbulkan kesan semrawut dan kumuh di Jatinangor. Bukan hanya itu, dampak

yang kemudian ditimbulkan adalah kemacetan, banjir, kesulitan air di musim

kemarau dan penumpukan sampah.

Ternyata cepatnya perkembangan kawasan Jatinangor tidak sebanding

dengan usaha penataan kawasan Jatinangor sebagai kawasan pendidikan yang

ideal. Menurut hasil evaluasi pengembangan Kawasan Jatinangor sebagai

perkotaan oleh Bappeda, perkembangan Kawasan Jatinangor yang kurang terarah

diperparah akibat belum diterapkannya konsep tata ruang kota yang ada secara

konsisten dan ketidaksesuaian perencanaan terhadap keadaan eksisting, meskipun

kawasan Jatinangor telah memiliki beberapa rencana tata ruang sejak tahun 1987.

Bila dilihat dari sisi perencanaan kebijakan, Kawasan Jatinangor termasuk

dalam Kawasan Strategis Nasional (KSN) Perkotaan Cekungan Bandung menurut

Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 sekaligus Kawasan Strategis Provinsi


4

(KSP) Pendidikan Jatinangor menurut Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No.22

Tahun 2010. Adapun rencana pola ruang KSP Pendidikan Jatinangor adalah sebagai

berikut :

Tabel 1.1 Rencana Pola Ruang KSP Pendidikan Jatinangor

Rencana Pola Ruang Peruntukan Spesifik Luas (Ha)


Jalan Jalan 85,37
Sungai Sungai 14,52
Kawasan Lindung
Zona perlindungan Zona sempadan sungai 71,76
Zona RTH Zona RTH 570,29
Kawasan Budidaya
Zona perumahan Zona rumah kepadatan sangat tinggi 247,51
Zona rumah kepadatan tinggi 997,68
Zona rumah kepadatan sedang 153,77
Zona rumah kepadatan rendah 375,68
Zona perdagangan dan Zona perdagangan dan jasa deret 23,71
jasa
Zona perdagangan dan jasa tunggal 2,59
Zona perkantoran Zona pemerintahan 30,81
Zona sarana dan Zona kesehatan 1,34
pelayanan umum Zona olahraga 116,85
Zona pendidikan 336,86
Zona peribadatan 0,23
Zona sosial budaya 2,56
Zona transportasi 0,21

Zona perindustrian Zona industri 228,65


Zona industri kecil 2,47
Zona peruntukan khusus Zona pertahanan dan kemanan 0,003
Zona peruntukan lainnya Zona pariwisata 243,31
Total 3.496,21

(Sumber : Laporan Akhir Penyusunan RTR KSP Pendidikan Jatinangor


5

RTR tersebut berfungsi sebagai pedoman umum dalam menata Jatinangor

dengan penetapan zona-zona perutukan di wilayah Jatinangor. Namun nyatanya

meski sudah ditetapkan batasan luas zona, bangunan dan lingkungan di Jatinangor

masih terlihat tidak beraturan seperti bangunan mall Jatos, area toko dan hunian

yang menjorok ke arah Jalan Raya Bandung-Sumedang tanpa ketersediaan lahan

parkir yang menambah kemacetan.

Rencana Tata Ruang saja tidak cukup untuk menata suatu kawasan,

dibutuhkan peraturan pelaksana yang mengatur lebih rinci tentang tata bangunan

dan lingkungan di suatu wilayah, terlebih wilayah strategis seperti Jatianngor. Maka

disusunlah Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) sebagai peraturan

pelaksana dari penataan ruang tersebut. Untuk mengatur bangunan dan lingkungan

dilihat dari perkembangan yang terjadi sejak penetapan Jatinangor menjadi

Kawasan Pendidikan, Jatinangor termasuk dalam RTBL yang dilaksanakan pada

kawasan baru berkembang cepat. Menurut RTBL, visi pembangunan kawasan

Jatinangor adalah University Town, dengan beberapa sasaran yang ingin dicapai

seperti:

a. Mengatasi macet.

b. Menanggulangi banjir.

c. Pemenuhan air bersih.

d. Penanganan sistem persampahan.

e. Penataan koridor, bangunan dan lingkungan Jl. Jatinangor sebagai pintu gerbang

Kabupaten Sumedang.

f. Integrasi antar kampus.


6

g. Penanganan heritage jam loji & jembatan cincin.

h. Reaktivasi rel kereta api.

Sebagai suatu produk kajian, keberhasilan pengaturan bangunan dan

lingkungan melalui RTBL sangat tergantung pada kemampuan dari perencanaan

RTBL, kesungguhaln pelaksana RTBL, serta peran serta masyarakat dan investor.

Maka hal pertama yang menentukan keberhasilan pengaturan bangunan dan

lingkungan melalui RTBL adalah bagaimana proses penyusunan RTBL itu sendiri.

Dalam penyusunanya, RTBL Jatinangor di prakarsai awal oleh Badan

Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dalam hal ini yaitu Bappeda Kab.

Sumedang sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor

06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.

Dalam peraturan disebutkan bahwa dokumen RTBL disusun oleh pemerintah

daerah dalam hal ini Bappeda atau berdasarkan kemitraan pemerintah daerah,

swasta, masyarakat, dan atau dengan dukungan fasilitasi oleh Pemerintah sesuai

dengan tingkat permasalahan lingkungan/kawasan yang bersangkutan. Maka jelas

dalam peraturan tersebut disampaikan bahwa Bappeda tidak bisa berdiri sendiri

dalam menyusun RTBL, menurut wawancara dan observasi awal peneliti, Bappeda

Kab.Sumedang dalam penyusunan RTBL Jatinangor yang baik akan melibatkan

pihak Kecamatan Jatinangor, Dinas Cipta Karya, Tata Ruang Perumahan dan

Permukiman Kab. Sumedang, perwakilan masyarakat Jatinangor dan tim ahli.

Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2007 tentang

Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan juga dijelaskan tentang

kedudukan RTBL, dimana seluruh rencana, rancangan, aturan, dan mekanisme


7

dalam penyusunan Dokumen RTBL merujuk pada pranata pembangunan yang

lebih tinggi, baik pada lingkup kawasan, kota, maupun wilayah. Adapun kedudukan

RTBL dengan peraturan perencanaan lain diatasnya dalah sebagi berikut:

Gambar 1.1 Kedudukan RTBL

Sumber : Permen PU No 6 Tahun 2007

Pada dasarnya penyusunan RTBL KSP Pendidikan Jatinangor disusun

setelah adanya Rencana Tata Ruang KSP Pendidikan Jatinangor yang sifatnya lebih

tinggi. Kenyataan di lapangan ternyata dalam penyusunan RTBL Jatinangor belum

sesuai dengan ketentuan yang dijelaskan diatas. Hal tersebut dibenarkan oleh

Kasubid Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, Bappeda Kab. Sumedang dimana

Pemerintah Kab. Sumedang telah menetapkan Peraturan Bupati tentang RTBL KSP

Pendidikan Jatinangor pada tahun 2013 padahal RTR KSP Pendidikan Jatinangor
8

sendiri masih dalam proses legislasi saat itu. Hal ini menyebabkan ketidaksesuaian

penetapan luas Kawasan Pendidikan Jatinangor pada perencanaan RTBL, RDTR

dan RTR KSP Pendidikan Jatinangor yang menunjukan masih terjadinya tarik

menarik kepentingan antara pihak-pihak yang terkait dalam penyusunan berbagai

kebijakan tersebut.

Selain itu, penyusunan RTBL Jatinangor merupakan kewenangan dari

pemerintah Kabupaten Sumedang, namun demikian pada kenyataannya kegiatan

penyusunan RTBL Jatinangor tersebut dilaksanakan oleh pemerintah pusat dalam

hal ini (Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementrian Pekerjaan Umum) dan

meminta kepada pemerintah Kabupaten Sumedang untuk mengesahkannya ke

dalam Peraturan Bupati. Pada tahun 2013 perbup RTBL pada akhirnya disahkan

begitu saja sesuai permintaan pusat sekalipun RTR KSP Pendidikan Jatinangor

belum dilaksanakan.

Penetapan RTBL yang lebih dahulu disusun dan ditetapkan dibanding

peraturan yang lebih tinggi taitu RTR berdampak pada kesulitan dalam

implementasinya kelak jika RTBL tidak sesuai dengan RTR. Sekretaris Camat yang

peneliti temui juga menyampaikan bahwa RTBL yang telah ditetapkan tersebut

tidak sesuai dengan kondisi eksisting yang ada di Kecamatan Jatinangor saat ini,

salah satunya adalah penetapan ketinggian maksimal bangunan dalam RTBL

Jatinangor yaitu hanya 12 lantai dengan alasan keamanan untuk daerah yang

dilewati pesawat, padahal daerah Jatinangor bukan termasuk daerah yang dekat

dengan bandara atau aktifitas penerbangan lainnya. Hal ini kemudian menyulitkan
9

investasi di Jatinangor khususnya dalam pembangunan apartemen yang berakibat

terhentinya investasi pada bidang tersebut hingga saat ini.

Menurut Tarigan dalam bukunya Perencanaan Pembangunan Wilayah, jika

dikaji dalam bentuk total investasi pembangunan di suatu wilayah, maka investasi

swasta termasuk mayarakat umum biasaya jauh lebih besar dibanding investasi

pemerintah. Maka dalam pembuatan perencanaan pembangunan wilayah,

pemerintah harus memperhatikan apa yang ingin atau akan dilakukan oleh pihak

swasta atau masyarakat umum. Namun hal ini tidak dilakukan dalam penyusunan

RTBL Jatinangor dimana pihak Kecamatan mengakui bahwa sampai saat ini

pihaknya belum dilibatkan langsung dalam penyusunan RTBL Jatinangor, baru

hanya mendapatkan sosialisasi saja padahal selama ini pihak Kecamatan Jatinangor

lah yang menghadapi keluhan dari warga terkait permasalahan bangunan dan

lingkungan di Jatinangor hal yang sama juga dirasakan oleh pihak Perguruan

Tinggi yang sebagian besar menempati luas wilayah Jatinangor yang peneliti

konfirmasi dari Humas Perguruan Tinggi terkait seperti Unpad, Ikopin dan ITB.

Berdasarkan fenomena diatas dan hasil wawancara serta obeservasi awal,

peneliti menemukan beberapa indikasi masalah yang muncul mengenai penyusunan

rencanaan tata bangunan dan lingkungan di Jatinangor yaitu :

1. Penyusunan RTBL KSP Jatinangor mengacu pada peraturan diatasnya hal

ini sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor

06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan

Lingkungan bahwa seluruh rencana, rancangan, aturan, dan mekanisme

dalam penyusunan Dokumen RTBL harus merujuk pada pranata


10

pembangunan yang lebih tinggi, baik pada lingkup kawasan, kota, maupun

wilayah. Namun kenyataanya Pemerintah Kab. Sumedang telah

mengesahkan Peraturan Bupati tentang RTBL KSP Pendidikan Jatinangor

pada tahun 2013 padahal RTR KSP Pendidikan Jatinangor sendiri masih

dalam proses legislasi saat itu.

2. Penyusunan dokumen RTBL yang diprakarsai oleh Pemerintah Daerah

dalam hal ini Bappeda justru disusun oleh Pemerintah Pusat, yaitu

Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementrian Pekerjaan Umum sehingga

terdapat beberapa peraturan yang tidak sesuai dengan keadaan di lapangan,

seperti penetapan ketinggian maksimal bangunan di RTBL Jatinangor yaitu

hanya 12 lantai dengan alasan keamanan untuk daerah yang dilewati

pesawat, padahal daerah Jatinangor bukan termasuk daerah yang dekat

dengan bandara atau aktifitas penerbangan lainnya.

3. Pihak kecamatan sebagai pihak pemerintah yang paling dekat dengan

masyarakat belum diikutsertakan dalam penyusunan RTBL Jatinangor,

padahal selama ini pihak Kecamatan lah yang mendapat pengaduan

langsung dari warga terkait permasalahan bangunan dan lingkungan yang

ada di Jatinangor.

Berdasarkan latar belakang dan indikasi masalah diatas, maka penulis tertarik

untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan perencanaan dengan judul

Perencanaan Tata Bangunan dan Lingkungan Kecamatan Jatinangor

Kabupaten Sumedang.
11

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah penulis tuliskan dan

jelaskan diatas, maka penulis mengemukakan identifikasi masalah sebagai berikut :

Bagaimana penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan Kecamatan

Jatinangor yang melibatkan Bappeda Kab. Sumedang, Kecamatan Jatinangor,

Dinas Cipta Karya, Tata Ruang Perumahan dan Permukiman Kab.

Sumedang, perwakilan masyarakat Jatinangor dan tim ahli ?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud

Adapun maksud dari penelitian ini adalah untuk meneliti dan menganalisis

perencanaan tata bangunan dan lingkungan di Jatinangor oleh Bappeda

Kab.Sumedang, Dinas Cipta Karya, Tata Ruang Perumahan dan Pemukiman Kab.

Sumedang dan pihak terkait lainnya. Selain itu, penelitian ini merupakan salah satu

syarat gelar sarjana pada jurusan Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Padjadjaran.

1.3.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan

menganalisis langkah dan hambatan pada penyusunan rencana tata bangunan dan

lingkungan Jatinangor.
12

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Akademis

1. Untuk memenuhi syarat dalam menempuh ujian sarjana pada jurusan

Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Padjadjaran.

2. Hasil penulisan ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu

administrasi publik khususnya mengenai perencanaan dan implementasi

RTBL Jatinangor.

3. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi pembelajaran perbandingan atas

teori yang dipelajari pada masa perkuliahan dengan kenyataan yang ada

dilapangan.

1.4.2 Kegunaan Praktis

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan dapat

memberikan manfaat, sumbangan pemikiran dan informasi bagi Bappeda

Kab.Sumedang, Dinas Cipta Karya, Tata Ruang Perumahan dan Pemukiman

Kab. Sumedang dan pihak terkait lainnya.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

sebagai bahan kajian dan masukan bagi pihak-pihak terkait dalam melakukan

penelitian yang mempuyai perhatian terhadap masalah perencanaan dan

pelaksanaan RTBL dalam upaya penataan lingkungan.