Anda di halaman 1dari 3

A.

PENGERTIAN HIV AIDS

Epidemi AIDS di Indonesia sudah berlangsung hampir 20 tahun namun diperkirakan


masih akan berlangsung terus dan memberi dampak yang tidak mudah untuk di atasi. Menurut
Estimasi Nasional tahun 2006 di Indonesia terdapat 169.000 sampai 216.000 orang tertular virus
HIV, dan akan menjadi satu juta orang dalam 10 tahun jika tidak melakukan upaya penggulangan
yang serius serta didukung oleh semua pihak ( Komisi penanggulangan AIDS, 2006)

AIDS (acquired immune deficiency syndrome) adalah salah satu penyakit yang termasuk
katagori kronis, yang muncul sehubung dengan adanya infeksi yang disebabkan oleh masuknya
virus yang di sebut dengan HIV (human immunodeficiency virus). Dalam Bahasa Indonesia
AIDS disebut sindrom cacat kekebalan tubuh (Depkes,1997). Sedangkan menurut Weber (1986)
AIDS diartikan sebagai infeksi virus yang menyebabkan kerusakan parah dan tidak bisa diobati
pada sistem imunitas, sehingga mudak terjadi infeksi oportunistik.

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang dapat menyebabkan AIDS. Virus
ini ditemukan oleh Montagnier, seorang ilmuan Perancis (Institude Pasteur, Paris 1983). HIV
menyerang dan menurunkan fungsi kekebalan tubuh manusia, dapat masuk ke dalam tubuh
melalui pertukaran cairan tubuh. Virus ini secara bertahap membuat daya tahan tubuh semakin
berkurang dan mengarah kepada kematian. Sementara hingga saat ini belum ada vaksin yang
dapat menyembuhkan atau membunuh virus tersebut. Hal ini dapat membuat enderita Aids
mengalami stress yang tinggi, yang jika tidak di intervensi akan berdampak negative bagi
kesehatan sehubungan dengan semakin menurunnya fungsi kekebalan tubuh.

B. PENYEBAB VIRUS HIV AIDS


Menurut UNAIDS (2004), Individu dapat tertular virus HIV memalui 3 cara,
yaitu :
1. Kontak sensual tanpa pelindung
2. Darah yang terinfeksi pada transfuse darah
3. Penularan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya, selama kehamilan,
proses kelahiran atau pemberian ASI (Air susu ibu

C. Diagnosis HIV/AIDS

Diagnosis ditunjukan dua hal, yaitu keadaan terinfeksi HIV dan AIDS. Diagnosis
laboratorium dapat dilakukan dengan dua metode :

1. Metode Langsung yaitu isolasi virus dari sampel, umumnya dilakukan dengan
menggunakan mikroskop electron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara
deteksi antigen virus ialah Polymerase Chain Reaction (PCR)
2. Metode tidak langsung yaitu melihat respon zat anti bode spesifik, misalnya
dengan ELISA, immunoflurescent assay (IFA) atau radioimmunoprecipitation
(RIPA)
Untuk diagnosis HIV, yang lazim di pakai:

1. ELISA: sensitivitas tinggi, hingga 98-100%. Biasanya memberikan hasil positif 2-3
bulan sesudah infeksi. Fahulu, hasil positif dikonfirmasi dengan pemeriksaan Western
blot. Tetapi sekarang mengggunakan tes berulang dengan tingkat spesifisitas.
2. PCR (Polymerase Chain Reaction). Penggunaan PCR antara lain untuk tes HIV pada
bayi, menetapkan status onfeksi individu yang seronegatif pada keompok risiko
tinggi.

Keuntungan diagnosis ini :

- Interventasi pengobatan fase infeksi asimtomatik diperpanjang.


- Menghambat perjalanan penyakit kearah AIDS.
- Pencegahan infeksi oportunistik.
- Konseling dan pendidikan untuk kesehatan umum penderita.

D. Pencegahan HIV/AIDS

Dalam upaya menurunkan risiko terinfeksi HIV, berbagai organisasi kesehatan dunia
termasuk Indonesia menganjurkan pencegahan memalui pendekatan ABCD, yaitu :

1. A atau Abstinence, yaitu menunda kegiatan seksual, tidak melakukan kegiatan seksual
sebelum menikah.
2. B atau Be faithful, yaitu saling setia pada pasangan setelah menikah.
3. C atau Condom, yaitu menggunakan kondom bagi orang yang melakukan perilaku
seks berisiko.
4. D atau Drugs, yaitu menggunakan napza terutama suntik agar tidak menggunakan
jarum suntik bergantian dan secara bersama-sama.

Upaya pencegahan juga dilakukan dengan cara memberikan KIE (komunikasi, Informasi,
dan Edukasi) mengenai HIV/AIDS kepada masyarakat agar tidak melakukan perilaku berisiko,
khususnya ada remaja. Ada lima tingkat pencegahan (Five level prevention) Menurut Level dan
Clark, yaitu:

1. Promosi kesehatan.
2. Perlindungan khusus.
3. Diagnosis dini dan pengobatan segera.
4. Pembatasan cacat.
5. Rehabilitas.

E. Dukungan Sosial
1. Pengertian dukungan social
Menurut Jacobson (dalam Orford, 1992), dukungan social adalah salah satu
bentuk tingkah laku yang menumbuhkan perasaan nyaman dan membuat individu
percaya bahwa individu dihormati, dihargai, dicintai dan orang lain bersedia
memberikan perhatian dan keamanan.

2. Bentuk Dukungan Sosial

Ada lima bentuk dasar dukungan social yang dapat diberikan dan diterima oleh
individu (Orford, 1992 ; Sarafino, 2006; Sheridan, 1992), yaitu :