Anda di halaman 1dari 8

SAIFEDIA

Friday, 15 August 2014

Definisi dari Teori dan Kerangka Berfikir

Definisi Dari Teori Dan Kerangka Berfikir

Dalam Suatu Penelitian, Skripsi, Thesis

1) ARTI SEBUAH TEORI DALAM PENELITIAN

Dalam penulisan laporan penelitian baik skripsi maupun thesis harus menyertakan Teori dan Kerangka
Berfikir. Namun seringkali banyak orang masih salah dalam penulisan Teori, sehingga topiknya selalu
berputar-putar dan cenderung tidak kontekstual dengan hal yang diteliti. Untuk mengatasi persoalan
diatas maka hendaknya seorang peneliti harus memahami dasar pengertian sebuah Teori dan juga
Bagaimana Penulisan Dasar Teori yang benar dalam sebuah penelitian.

A. Pengertian Teori

Menurut Suryabrata (dalam Sugiyono, 2009:79) setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah
kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-
generelisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan
penelitian.Sedangkan Neumen (dalam Sugiyono, 2009:80) berpendapat Teori adalah seperangkap
konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik,
melalui spesifikasi hubungan antara variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan
meramalkan fenomena. Sitirahayu (1999) menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang
penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan dan meramalkan gejala yang ada. Mark
membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori ini berhubungan dengan data empiris. Dengan
demikian dapat dibedakan antara lain:

1. Teori yang deduktif: memberikan keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran
spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.

2. Teori yang induktif: adalah cara menerangkan dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik
pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist
3. Teori yang fungsional: di sini tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis,
yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.

Berdasarkan pernyataan di atas secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa, suatu teori adalah suatu
konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem pengertian ini diperoleh melalui, jalan yang
sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, maka dia bukan suatu teori. (Sugiyono,
2009:80)

B. Tingkat dan Fokus Teori

Numan mengemukakan tingkatan teori terbagi menjadi tiga, yaitu: Micro, Meso dan Macro. Selanjutnya
fokus teori dibedakan menjadi tiga yaitu: Teori Subtatif, Teori Formal, dan Midle Range Theory. Teori yang
digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah teori substantif,
karena teori ini lebih fokus berlaku untuk obyek yang akan diteliti. (Sugiyono, 2009:83)

C. Kegunaan Teori dalam Penelitian

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian
kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk
memperjelas masalah yang akan diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai
referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal
penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.

Teori-teori pendidikan dapat dibagi menjadi teori umum pendidikan dan teori khusus pendidikan. Teori
umum pendidikan dapat dibagi menjadi filsafat-filsafat pendidikan (filsafat ilmu pendidikan dan filsafat
praktek pendidikan) dan Ausland pedagogik. Teori khusus pendidikan dapat dibagi menjadi teknologi
pendidikan (manajemen pendidikan, pengembangan kurikulum, model-model belajar mengajar dan
evaluasi pendidikan) dan ilmu pendidikan (ilmu pendidikan makro dan mikro). Redja Mudyaharjo 2002
dalam (Sugiyono, 2009:88), mengemukakan bahwa, sebuah teori pendidikan adalah sebuah sistem
konsep yang terpadu, menerangkan dan prediktif tentang peristiwa-peristiwa pendidikan. Sebuah teori
ada yang berperan sebagai asumsi atau titi tolak pemikiran pendidikan, dan ada pula yang berperan
sebagai definisi atau keterangan yang menyatakan makna. Asumsi pokok pendidikan adalah sebagai
berikut:

1. Pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang
belajar dan lingkungan belajarnya

2. Pendidikan adalah normatif, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yang baik atau
norma-norma yang baik

3. Pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa serangkaian kegiatan
yang bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar, tertuju pada pencapaian individu
yang diharapkan.
Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunakan untuk
memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti. Fungsi teori
yang kedua adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena pada
dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Selanjutnya fungsi teori yang ketiga
digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk
memberikan saran dan upaya pemecahan masalah.

D. Deskripsi Teori

Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar
pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti.
Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan, akan tergantung pada luasnya permasalahan
dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga
variabel independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat
kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan dengan variabel independen dan satu dependen.
Oleh karena itu, semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang
dikemukakan.

Menurut Sugiyono, (2009:89) deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-
variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai dari
berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel
yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. Langkah-langkah untuk dapat melakukan
pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:

1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya.

2. Cari sumber-sumber bacaan yang banyak dan relevan dengan setiap variabel yang diteliti.

3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Untuk
referensi yang berbentuk laporan penelitian lihat penelitian permasalahan yang digunakan, tempat
penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis dan saran yang diberikan.

4. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, kemudian bandingkan
antara satu sumber dengan sumber lainnya dan dipilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan
dilakukan.

5. Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan variabel yang akan diteliti lakukan analisis renungkan, dan
buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.

2) ARTI KERANGKA BERFIKIR DALAM PENELITIAN

Suriasumantri, 1986 dalam (Sugiyono, 2009:92) mengemukakan bahwa seorang peneliti harus
menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis.
Kerangka pemikiran merupakan penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek
permasalahan. Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan ilmuwan, adalah alur-alur
pemikiran yang logis dalam membangun suatu berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa
hipotesis. Jadi kerangka berpikir merupakan sintesa tentang hubungan antara variabel yang disusun dari
berbagai teori yang telah dideskripsikan. Selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga
menghasilkan sintesa tentang hubungan antara variabel penelitian. Sintesa tentang hubungan variabel
tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.

A. Definisi Kerangka Pikir

Menurut Uma Sekaran dalam Sugiyono (2011 : 60) mengemukakan bahwa Kerangka berpikir
merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah
diidentifikasi sebagai hal yang penting jadi dengan demikian maka kerangka berpikir adalah sebuah
pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling
mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran atau suatu bentuk proses dari keseluruhan dari
penelitian yang akan dilakukan.

Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti.
Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dan dependen, bila dalam
penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu
diikutkan. Pertautan antar variabel tersebut tersebut selanjutnya dirumuskan kedalam bentuk paradigma
penelitian yang didasarkan pada kerangka berpikir.

Perlu diketahui bahwa tidak semua penelitian memiliki kerangka berpikir. Kerangka berpikir pada
umumnya hanya diperuntukkan pada jenis Penelitian Kuantatif. Untuk Penelitian Kualitatif kerangka
berpikirnya terletak pada kasus yang selama ini dilihat atau diamati secara langsung oleh penulis.
Sedangkan untuk Penelitian Tindakan Kelas kerangka berpikirnya terletak pada refleksi, baik pada
peneliti maupun pada partisipan. Hanya dengan kerangka berpikir yang tajam yang dapat digunakan
untuk menurunkan hipotesis.

Kerangka berpikir menerangkan :

1. Mengapa penelitian dilakukan?

Penelitian dilakukan untuk mencari suatu kebenaran dari data atau masalah yang ditemukan. seperti,
membandingkan hasil penelitian yang telah ada dengan penelitian yang sedang atau yang akan
dilakukan, membantah atau membenarkan hasil penelitian sebelumnya, atau menemukan suatu kajian
baru (ilmu baru) yang akan digunakan dalam menjawab masalah-masalah yang ada.

2. Bagaimana proses penelitian dilakukan ?

Proses penelitian dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kebutuhan yang akan diperlukan, ada
yang melakukan penelitian dengan metode sampling, olah literarute (studi pustaka), studi kasus dan lain
sebagainya.

3. Apa yang akan diperoleh dari penelitian tersebut?


Apa yang akan di peroleh dari sebuah penelitian tergantung dari pemikiran yang sebelumnya tercantum
dalam kerangka pemikiran, walaupun secara umum tidak semuanya apa yang di inginkan tidak sesuai
dengan apa yang dipikirkan sebelumnya.

4. Untuk apa hasil penelitian diperoleh ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas kita bisa kembali ke point satu mengapa penelitian itu dilakukan?
yakni untuk mencari kebenaran akan sesuatu masalah yang kontroversi di kalangan masyarakat atau
untuk membantah opini atau mitos yang tersebar sejak turun-temurun. Pada intinya hasil penelitian
yang diperoleh seharusnya bermanfaat bagi banyak kalangan masyarakat, sehingga penelitian itu tidak di
anggap sia-sia.

Penyusunan kerangka berpikir menurut Sugiyono (2011:62)

1. Menetapkan variabel yang diteliti

2. Membaca buku dan hasil penelitian

3. Mendeskripsikan teori dan hasil penelitian

4. Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian

5. Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian

6. Sintesa kesimpulann

7. Kerangka berpikir

8. Hipotesis

Contoh: yang akan diteliti adalah masalah Prestasi belajar dalam hubungannya dengan Gaya Belajar,
maka penyajiannya dimulai dari Prestasi belajar lalu dikaitkan dengan teori Belajar Keterkaitan dua
variabel tersebut sedapat mungkin dilengkapi dengan teori atau penelitian terdahulu yang dilakukan
seorang pakar/peneliti atau lebih yang menyatakan adanya hubungan atau pengaruh antar keduanya.
Pada bagian akhir kerangka berpikir umumnya disajikan hubungan antara keseluruhan variabel
dilengkapi dengan bagan yang menggambarkan hubungan antar variabel penelitian.

B. Bagaimanakah Menyusun Kerangka Berpikir Penelitian?

Kerangka pemikiran adalah narasi (uraian) atau pernyataan (proposisi) tentang kerangka konsep
pemecahan masalah yang telah diidentifikasi atau dirumuskan. Kerangka berpikir atau kerangka
pemikiran dalam sebuah penelitian kuantitatif, sangat menentukan kejelasan dan validitas proses
penelitian secara keseluruhan. Melalui uraian dalam kerangka berpikir, peneliti dapat menjelaskan secara
komprehensif variabel-variabel apa saja yang diteliti dan dari teori apa variabel-variabel itu diturunkan,
serta mengapa variabel-variabel itu saja yang diteliti.
Uraian dalam kerangka berpikir harus mampu menjelaskan dan menegaskan secara komprehensif asal-
usul variabel yang diteliti, sehingga variabel-variabel yang tercatum di dalam rumusan masalah dan
identifikasi masalah semakin jelas asal-usulnya. Pada dasarnya esensi kerangka pemikiran berisi: (1) Alur
jalan pikiran secara logis dalam menjawab masalah yang didasarkan pada landasan teoretik dan atau
hasil penelitian yang relevan. (2) Kerangka logika (logical construct) yang mampu menunjukan dan
menjelaskan masalah yang telah dirumuskan dalam kerangka teori. (3) Model penelitian yang dapat
disajikan secara skematis dalam bentuk gambar atau model matematis yang menyatakan hubungan-
hubungan variabel penelitian atau merupakan rangkuman dari kerangka pemikiran yang digambarkan
dalam suatu model. Sehingga pada akhir kerangka pemikiran ini terbentuklah hipotesis. Dengan
demikian, uraian atau paparan yang harus dilakukan dalam kerangka berpikir adalah perpaduan antara
asumsi-asumsi teoretis dan asumsi-asumsi logika dalam menjelaskan atau memunculkan variabel-
variabel yang diteliti serta bagaimana kaitan di antara variabel-variabel tersebut, ketika dihadapkan pada
kepentingan untuk mengungkapkan fenomena atau masalah yang diteliti.

Di dalam menulis kerangka berpikir, ada tiga kerangka yang perlu dijelaskan, yakni: kerangka teoritis,
kerangka konseptual, dan kerangka operasional. Kerangka teoritis atau paradigma adalah uraian yang
menegaskan tentang teori apa yang dijadikan landasan (grand theory) yang akan digunakan untuk
menjelaskan fenomena yang diteliti. Kerangka konseptual merupakan uraian yang menjelaskan konsep-
konsep apa saja yang terkandung di dalam asumsi teoretis yang akan digunakan untuk mengabstraksikan
(mengistilahkan) unsur-unsur yang terkandung di dalam fenomena yang akan diteliti dan bagaimana
hubungan di antara konsep-konsep tersebut. Kerangka operasional adalah penjelasan tentang variabel-
variabel apa saja yang diturunkan dari konsep-konsep terpilih tadi dan bagaimana hubungan di antara
variabel-variabel tersebut, serta hal-hal apa saja yang dijadikan indikator untuk mengukur variabel-
variabel yang bersangkutan.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka dalam menyusun kerangka berpikir kita
harus memulainya dengan menegaskan teori apa yang dijadikan landasan dan akan diuji atau
digambarkan dalam penelitian kita. Lalu dilanjutkan dengan penegasan tentang asumsi teoretis apa yang
akan diambil dari teori tersebut sehingga konsep-konsep dan variabel-variabel yang diteliti menjadi jelas.
Selanjutnya, kita menjelaskan bagaimana cara mengoperasionalisasikan konsep atau variabel-variabel
tersebut sehingga siap untuk diukur. Walaupun dalam kerangka berpikir itu harus terkandung kerangka
teoretis, kerangka konseptual, dan kerangka operasional, tetapi cara penguraian atau cara
pemaparannya tidak perlu kaku dibuat per sub bab masing-masing. Hal yang penting adalah bahwa isi
pemaparan kerangka berpikir merupakan alur logika berpikir kita mulai dari penegasan teori serta
asumsinya hingga munculnya konsep dan variabel-variabel yang diteliti.

Agar peneliti benar-benar dapat menyusun kerangka berpikir secara ilmiah (memadukan antara asumsi
teoretis dan asumsi logika dalam memunculkan variabel) dengan benar, maka peneliti harus intens dan
eksten menelurusi literatur-literarur yang relevan serta melakukan kajian terhadap hasil penelitian-
penelitian terdahulu yang relevan, sehingga uraian yang dibuatnya tidak semata-mata berdasarkan pada
pertimbangan logika. Untuk itu, dalam menjelaskan kerangka teoretisnya, peneliti mesti merujuk pada
literatur atau referensi serta laporan-laporan penelitian terdahulu. Selanjutnya secara sederhana
penyusunan kerangka berpikir dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut:
1. Menentukan paradigma atau kerangka teoretis yang akan digunakan, kerangka konseptual dan
kerangka operasional variabel yang akan diteliti.

2. Memberikan penjelasan secara deduktif mengenai hubungan antarvariabel penelitian. Tahapan


berpikir deduktif meliputi tiga hal yaitu: (a) Tahap penelaahan konsep (conceptioning), yaitu tahapan
menyusun konsepsi-konsepsi (mencari konsep-konsep atau variabel dari proposisi yang telah ada, yang
telah dinyatakan benar). (b) Tahap pertimbangan atau putusan (judgement), yaitu tahapan penyusunan
ketentuan-ketentuan (mendukung atau menentukan masalah akibat pada konsep atau variabel
dependen). (c) Tahapan penyimpulan (reasoning), yaitu pemikiran yang menyatakan hal-hal yang berlaku
pada teori, berlaku pula bagi hal-hal yang khusus.

3. Memberikan argumen teoritis mengenai hubungan antar variabel yang diteliti. Argumen teoritis
dalam kerangka pemikiran merupakan sebuah upaya untuk memperoleh jawaban atas rumusan
masalah. Dalam prakteknya, membuat argumen teoritis memerlukan kajian teoretis atau hasil-hasil
penelitian yang relavan. Hal ini dilakukan sebagai petunjuk atau arah bagi pelaksanaan penelitian. Hal
lain yang perlu diperhatikan adalah, oleh karena argumen teoritis sebagai upaya untuk memperoleh
jawaban atas rumusan masalah, maka hasil dari argumen teoritis ini adalah sebuah jawaban sementara
atas rumusan masalah penelitian. Sehingga pada akhirnya produk dari kerangka pemikiran adalah
sebuah jawaban sementara atas rumusan masalah (hipotesis).

4. Merumuskan model penelitian. Model adalah konstruksi kerangka pemikiran atau konstruksi
kerangka teoretis yang diragakan dalam bentuk diagram dan atau persamaan-persamaan matematik
tertentu. Esensinya menyatakan hipotesis penelitian. Sebagai suatu kontruksi kerangka pemikiran, suatu
model akan menampilkan: (a) jumlah variabel yang diteliti, (b) prediksi tentang pola hubungan antar
variabel, (c) dekomposisi hubungan antar variabel, dan (d) jumlah parameter yang diestimasi.

Akhirnya, semoga artikel diatas dapat bermanfaaat khususnya bagi calon peneliti studi ilmiah. Semoga
sukses dan selamat berjuang!

Sumber Pustaka:

Sambas Ali Muhidin. 2011. Panduan Praktis Memahami Penelitian. Bandung: Pustaka Setia.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif dan R&D. Jakarta: Alfabeta.

Furchon, A. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Referensi :

1. http://fisikadansains.blogspot.com/2013/12/definisi-dari-teori-dan-kerangka_6972.html

2. http://sambas.staf.upi.edu/category/berita-tri-dharma-pt/penelitian/
3. http://fkipunikamamuju.blogspot.com/2013/03/kerangka-pikir.html

andy saiful Musthofa at 11:01

Share

Home

View web version

Mengenai Saya

My photo

andy saiful Musthofa

View my complete profile

Powered by Blogger.