Anda di halaman 1dari 4

Latar belakang

Pengobatan kanker pada anak menggunakan obat kemoterapi yang memiliki efek
samping dapat menyebabkan mual dan muntah yang sangat parah( CINV Chemotherapy
Induced Nausea and Vomiting ). Sebanyak 60% pasien anak yang dilakukan kemoterapi,
melaporkan bahwa mereka mengalami mual dan muntah selama proses kemoterapi
berlangsung. Namun, frekuensi dan durasi kejadian mual / muntah tersebut belum di
dokumentasikan secara baik. Mual dan muntah merupakan salah satu efek kemoterapi yang
paling ditakuti dan memperparah efek samping dari pengobatan kemoterapi. Faktor yang
mempengaruhi mual / muntah selama kemoterapi adalah seperti faktor fisik dan psikososial,
termasuk anoreksia, malnutrisi, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, status fungsional
yang buruk, dan kecemasan. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan pasien anak memiliki
komplikasi , keterlambatan pengobatan, dan penurunan kualitas hidup. Selain itu kemoterapi
juga berdampak pada aspek finansial seperti tersita nya waktu untuk bekerja karena merawat
anak yang sakit, serta meningkat nya biaya untuk melakukan kunjungan medis.
Obat kemoterapi diklasifikasikan berdasarkan potensinya menyebabkan emesis. High
Emetogenic Chemotherapy (HEC) atau agen kemoterapi yang berpotensi tinggi
menyebabkan emesis, yaitu sekitar 90% berpotensi menyebabkan muntah. Moderate
Emetogenic Chemotherapy (MEC) atau agen kemoterapi yang berpotensi 30% - 90%
menyebabkan emesis. Untuk menghindari efek samping kemoterapi yang merugikan pada
anak-anak seperti mual dan muntah,startegi untuk meminimalkan atau menghilangkan efek
mual/muntah menjadi sangat penting. Namun sebagai perawat, juga harus memahami
pengalaman anak terhadap rasa mual dan muntah untuk memilih strategi yang efektif.
Kerangka Konseptual
Tiga komponen penting yang perlu di evaluasi yaitu: pengalaman simptom, menajemen
strategi mengatasi simptom dari mual/muntah, serta hasil / outcomes. Proses evaluasi dimulai
dari pengalaman merasakan mual/muntah yaitu mengkaji persepsi dan respon dari gejala
yang dirasakan, sehingga dapat ditentukan manajemen strategi yang efektif untuk hasil yang
positif. Penelitian ini mengevaluasi pengalaman mual/muntah dengan mengkaji persepsi dan
respon anak yang dilakukan kemoterapi MEC dan HEC. Persepsi anak mengenai gejala
mual/muntah dikaji dengan mengidentifikasi seberapa sering anak mengalami mual/muntah,
durasi, dan rasa sakit. Pemahaman yang komprehensif mengenai pengalaman mual/muntah
memungkinkan perawat dapat menggunakan manajemen strategi yang efektif untuk
mengurangi kejadian mual/muntah.
Tinjauan Pustaka
1. Kemoterapi menyebabkan mual dan muntah
Sebuah penelitian lain menunjukan bahwa sebanyak 83% dari 35 anak berumur 7-12
tahun yang menjalani kemoterapi mengalami mual, dan 41% mengalami muntah. Penelitian
lainnya juga menunjukan bahwa 100% dari 11 anak yang menjalani kemoterapi mengalami
mual, dan 36% mengalami muntah.
Sebuah studi penelitian mengevaluasi kejadian antisipasi mual dan penundaan kejadian
mual pada 66 orang anak yang menjalani kemoterapi, ditemukan bahwa 47 % pasien anak
tidak mengalami mual dan 80% pasien anak baru mengalami mual setelah 1 minggu
kemoterapi. Mual/muntah merupakan hal yang menyakitkan dari kemoterapi. Namun sugesti
dapat menyebabkan pengalaman mual/muntah selama kemoterapi tidak dirasakan oleh pasien
anak.
2. Koping anak
Koping didefinisikan sebagai cara untuk mengelola pengalaman - pengalaman yang
menantang dan dapat dikategorikan sebagai cara mengatasi maslah secara aktif/pasif atau
berorientasi pada penghindaran masalah. Penelitian mengenai koping pada pasien anak
dengan kanker berfokus pada mengatasi diagnosis penyakit mereka. Sebuah studi kualitatif
pada 14 pasien dewasa yang di diagnosa terkena kanker, dalam 2 bulan pertama strategi
koping yang dugunakan adalah strattegi koping aktif dengan dukungan sosial sebagai cara
utama untuk mengatasi penyakit dan pengobatan mereka.
Pada pasien anak, untuk mengatasi rasa mual 86% mereka menggunakan strategi koping
pasif yaitu berpikir positif dan strategi koping aktif dari regulasi emosional dan distraksi,
namun 83% yang lainnya menggunakan strategi koping aktif dengan dukungan sosial. Ketika
mengatasi muntah, 88% menggunakan koping pasif dan 83% menggunakan koping aktif.
Studi menunjukan bahwa pasien anak-anak biasanya menggunakan berbagai macam
koping (aktif dan pasif) dalam mengatasi mual/muntah. Namun koping aktif merupakan
strategi yang lebih sering digunakan dan dirasakan berhasil . Penelitian tambahan diperlukan
untuk mengidentifikasi jenis strategi koping yang lebih efektif.

Hasil
Rekrutmen dilakukan sejak bulan mei 2009 sampai juni 2010. Empat orang pasien
yang diseleksi menolak menjadi partisipan penelitian dikarenakan berbagai alasan,
seperti menginginkan kompensasi finansial, dan tidak ingin membahas masalah efek
samping mual/muntah dari kemoterapi yang dijalani). Karakteristik 40 partisipan
penelitian ada di tabel 1. Umur pasien anak berkisar antara 7 12 tahun, namun
hampir semua partisipan penelitian merupakan laki-laki dan ras Caucasia. Pasien yang
menjalani kemoterapi MEC lebih banyak dari pada pasien yang menjalani HEC.
Meskipun begitu ada beberapa pasien juga menjalani terapi radiasi dan BMT.
Pengumpulan data diakukan pada 48 jam sebelum pasien menjalani kemoterapi MEC
atau HEC. 39 orang dari 40 pasien rawat jalan selama satu persatu. Anak lebih sering
dirawat dirumah sakit selama fase akut.pengumpulan data rata-rata dari mual/muntah
yang tertunda sekitar 4,9 hari, dengan kissaran 1 7 hari setelah kemoterapi.

Kemoterapi menyebabkan mual/muntah


Pasien melaporkan mual/muntah selama 3 periode waktu : 12 pasien (30%)tidak
mengalami mual/muntah, 22 pasien (55%)mengalami mual/muntah akut, dan 28
pasien (70%) mengalami mual/muntah beberapa waktu setelah menjalani kemoterapi.
Total skor mual/muntah (CINV) menunjukan frekuensi, tingkat keparahan, dan
distress mual/muntah yang meningkat dari waktu ke waktu. Pengukuran secara
berulang menggunakan ANOVA dengan mengukur total skor CINV (total skor
mual/muntah yang disebabkan kemoterapi) untuk mengevaluasi efek dari pasien yang
menerima BMT dibandingkan dengan pasien yang hanya menjalani kemoterapi saja
pada tiga periode penilaian. Namun tidak ada perbedaan skor total yang signifikan
antara kedua perbandingan tersebut.
Sebuah uji ANOVA dilakukan untuk mengevaluasi perubahan laporan pasien dari
mual/muntah antisipatif, akut, dan mual/muntah yang tertunda. Hasil analisis
menunjukkan perubahan signifikan secara statistik sepanjang waktu, L = 0,65, F (2,
38) = 10,243, p <0,001. Uji perbandingan Tindak lanjut berpasangan pendekatan
Bonferroni menunjukkan sada perubahan statistik signifikan antara antisipatif dan
akut skor CINV (p <0,05) dan antara antisipatif dan tertunda skor CINV (p <0,001).
CINV tertinggi setelah pemberian kemoterapi selama periode waktu tertunda.
Keandalan antisipatif, akut, dan tertunda skor CINV menggunakan ARINVc di antara
40 anak dalam sampel ini menunjukkan Cronbach alpha dari 0,84-0,92.

Mengatasi Frekuensi
Beberapa strategi coping yang dilaporkan selama jangka waktu antisipatif, akut, dan
tertunda (Gambar 3). Sebuah pengujian ANOVA berulang dilakukan dengan
frekuensi strategi coping untuk mengevaluasi efek dari pasien yang menerima BMT
dibandingkan kemoterapi saja pada tiga periode penilaian. Namun tidak ada pengaruh
yang signifikan antara perbandingan tersebut. Uji ANOVA menunjukkan tidak ada
perbedaan statistik yang signifikan dalam frekuensi dari strategi coping yang
digunakan selama tiga periode waktu (antisipatif, akut, dan tertunda). Jenis-jenis
strategi coping yang digunakan untuk antisipatif, akut, dan tertunda CINV adalah
sebanding. Strategi penanggulangan yang paling sering digunakan termasuk satu
strategi pasif dengan berpikir posotif dan tiga strategi coping aktif, regulasi
emosional, dan pemecahan maslah.
Strategi coping aktif digunakan dua kali lebih sering sebagai strategi
penyesuaian pasif. Yang paling umum digunakan strategi bertahan aktif adalah
dengan cara distraksi, seperti mencoba untuk melupakan mual/muntah yang
disebabkan kemoterapi atau melakukan kegiatan seperti menonton televisi atau
bermain. Strategi koping pasif yang paling umum digunakna adalah dengan berpikir
positif seperti menganggap bahwa mual/muntah merupakan hal yang biasa. Strategi
koping pasif terdiri dari sikap menghindar, dengan anak yang tidak menjadi aktif
dalam mengelola nya atau CINV nya.

Mengatasi Khasiat
Pasien yang menggunakan strategi coping diminta untuk menilai kemanjuran
dari setiap strategi pada skala Likert penilaian pada tiga titik. Sebuah uji ANOVA
berulang dilakukan dengan keberhasilan strategi coping mengevaluasi efek pasien
yang menerima BMT dibandingkan kemoterapi saja pada tiga periode penilaian.
Uji ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam
efektivitas setiap strategi penanggulangan dari waktu ke waktu. Strategi coping yang
menerima skor tertinggi termasuk dukungan sosial, gangguan, dan pemecahan
masalah, yang semua strategi coping aktif (lihat Gambar 4). Menyalahkan orang lain
untuk mual/muntah (CINV) yang tertunda adalah satu-satunya strategi untuk
menerima nilai tertinggi yang banyak mebantu, namun hanya satu anak dari sampel
dilaporkan menggunakan strategi ini.