Anda di halaman 1dari 24

KEPERAWATAN KRITIS

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN


SISTEM ENDROKRIN : HIPOGLIKEMIA
Dosen Pengampu : Faridah Aini, S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Sp.KMB

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Kritis

Kelompok 10
Hari Anteng Lintang S. (010115A051)
I Ketut Wisma (010115A053)
I Putu Eka (010115A054)
Icha Oktaviani (010115A055)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO UNGARAN
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit tidak menular merupakan kelompok terbesar penyakit
penyebab kematian di indonesia. Salah satu penyakit tidak menular yang
menyebabkan kematian tinggi di Indonesia adalah hipoglikemia yang di
sebabkan oleh diabetes melitus. Diabetes melitus utamanya diakibatkan
karena pola hidup yang tidak sehat (Eko, 2012). Jumlah penderita
hipoglikemia sebesar 11 pasien dari 1169 pasien penderita diabetes tipe II di
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi tahun 2012 dari bulan
Januari sampai dengan bulan Juni.
Hipoglikemia merupakan suatu keadaan dimana kadar glukosa dalam
darah dibawah normal yaitu <70mg/dl (American Diabetes Assosiation,
2016). Rata-rata kejadian hipoglikemia meningkat 3.2 per 100 orang per
tahun menjadi 7.7 per 100 orang per tahun pada pennggunaan insulin.Pasien
yang menggunakan insulin atau obat hipoglikemik oral dapat mengalami
hipoglikemia ringan, yang dapat ditangani sendiri, dimana episode
hipoglikemiknya terjadi sekitar dua kali per minggu. Hipoglikemia berat yang
membutuhkan bantuan orang lain untuk mendapatkan kembali kadar gula
darah normal, minimal terjadi sekali per tahun sebesar 27% pada pasien yang
diobati regimen insulin intensif. Hipoglikemia merupakan penyebab kematian
pada sekitar 3% dari penderita diabetes mellitus yang bergantung pada insulin
(Self et al, 2013)

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Untuk dapat mengetahui dan memahami cara memberikan asuhan
keperawatan sistem endrokrin : Hipoglimekia dengan tepat dan benar.
2. Tujuan Khusus
a. Agar dapat mengetahui pengertian dari Hipoglimekia
b. Agar dapat mengetahui klasifikasi Hipoglimekia
c. Agar dapat mengetahui etiologi dari Hipoglimekia
d. Agar dapat mengetahui patofisiologi Hipoglimekia
e. Agar dapat mengetahui manifestasi klinis Hipoglikemia
f. Agar dapat menegetahui pemeriksaan diagnostik
Hipoglikemia
g. Agar dapat mengetahui penatalaksanaan yang dapat
diberikan pada penderita Hipoglimekia
h. Untuk mengetahui menegakkan diagnosa penyakit
Hipoglimekia

C. MANFAAT
Makalah ini dibuat untuk memberikan informasi kepada pembaca
tentang penyakit beserta konsep asuhan keperawatan dari hipoglikemia.
Penulis berharap dengan disusunnya makalah ini, para pembaca mampu
mengetahui tentang hipoglikemia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI HIPOGLIKEMIA
Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan
dimana kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi
karena ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan
obat-obatan yang digunakan. Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala
klinis antara lain penderita merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan
menjadi kabur dan gelap, berkeringat dingin, detak jantung meningkat dan
terkadang sampai hilang kesadaran (syok hipoglikemia). (Nabyl, 2009).
Hipoglikemia (kadar glukosa darah rendah secara abnormal) terjadi
ketika glukosa darah turun di bawah 50 sampai 60 mg/dl. Hal ini dapat terjadi
karena terlalu banyaknya insulin atau agens hipoglikemik oral, terlalu sedikit
mengkonsumsi makanan, atau berlebihannya aktivitas fisik. Hipoglikemia
dapat terjadi sepanjang waktu. Hipoglikemia sering kali terjadi sebelum
makan, terutama jika makan terlambat atau jika kudapan tidak di makan.
Hipoglikemia di tengah malam dapat terjadi karena memuncaknya insulin
NPH atau Lente di malam hari, terutama pada pasien yang tidak
mengkonsumsi kudapan menjelang tidur (Smeltzer, 2010)
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah
(glukosa) secara abnormal rendah. Dalam keadaannormal, tubuh
mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dL. Sementara pada
penderita diabetes, kadar gula darahnya tersebut berada pada tingkat terlalu
tinggi; dan pada penderita hipoglikemia, kadar gula darahnya berada pada
tingkat terlalu rendah.

Kadar gula darah yang rendah menyebabkan berbagai sistem organ


tubuh mengalami kelainan fungsi. Otak merupakan organ yang sangat peka
terhadap kadar gula darah yang rendah karena glukosa merupakan sumber
energi otak yang utama. Otak memberikan respon terhadap kadar gula darah
yang rendah dan melalui sistem saraf, merangsang kelenjar adrenal untuk
melepaskan epinefrin (adrenalin). Hal ini akan merangsang untuk melepaskan
gula agar kadar dalam darah tetap terjaga. Jika kadar gula turun, maka akan
terjadi gangguan fungsi otak.

B. KLASIFIKASI HIPOGLIKEMIA
Hipoglikemi digolongkan menjadi beberapa jenis yakni:
1. Transisi dini neonatus ( early transitional neonatal ) : ukuran bayi
yang besar ataupun normal yang mengalami kerusakan sistem produksi
pankreas sehingga terjadi hiperinsulin.
2. Hipoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal) : tarjadi
jika bayi mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan
lemak dan glikogen.
3. Sekunder (Scondary) : sebagai suatu respon stress dari neonatus
sehingga terjadi peningkatan metabolisme yang memerlukan banyak
cadangan glikogen.
4. Berulang ( Recurrent) : disebabkan oleh adanya kerusakan
enzimatis, atau metabolisme
Selain itu Hipoglikemia menurut Setyohadi (2012) dan Thompson
(2011) juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Hipoglikemi Ringan (glukosa darah 50-60 mg/dL)
Terjadi jika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik
akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan
gejala seperti tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.
2. Hipoglikemi Sedang (glukosa darah <50 mg/dL)
Penurunan kadar glukosa dapat menyebabkan sel- sel otak tidak
memperoleh bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda- tanda
gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup keetidakmampuan
berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, bicara
pelo, gerakan tidak terkoordinasi, penglihatan ganda dan perasaan ingin
pingsan.

3. Hipoglikemi Berat (glukosa darah <35 mg /dL)


Terjadi gangguan pada sistem saraf pusat sehingga pasien
memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikeminya.
Gejalanya mencakup disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan
bahkan kehilangan kesadaran.

C. ETIOLOGI HIPOGLIKEMIA
Adapun penyebab Hipoglikemia yaitu :
1. Dosis suntikan insulin terlalu banyak.
Saat menyuntikan obat insulin, anda harus tahu dan paham dosis
obat yang anda suntik sesuai dengan kondisi gula darah saat itu.
Celakanya, terkadang pasien tidak dapat memantau kadar gula darahnya
sebelum disuntik, sehingga dosis yang disuntikan tidak sesuai dengan
kadar gula darah saat itu. Memang sebaiknya bila menggunakan insulin
suntik, pasien harus memiliki monitor atau alat pemeriksa gula darah
sendiri.
2. Lupa makan atau makan terlalu sedikit.
Penderita diabetes sebaiknya mengkonsumsi obat insulin dengan
kerja lambat dua kali sehari dan obat yang kerja cepat sesaat sebelum
makan. Kadar insulin dalam darah harus seimbang dengan makanan yang
dikonsumsi. Jika makanan yang anda konsumsi kurang maka
keseimbangan ini terganggu dan terjadilah hipoglikemia.
3. Aktifitas terlalu berat.
Olah raga atau aktifitas berat lainnya memiliki efek yang mirip
dengan insulin. Saat anda berolah raga, anda akan menggunakan glukosa
darah yang banyak sehingga kadar glukosa darah akan menurun. Maka
dari itu, olah raga merupakan cara terbaik untuk menurunkan kadar
glukosa darah tanpa menggunakan insulin.
4. Minum alkohol tanpa disertai makan.
Alkohol menganggu pengeluaran glukosa dari hati sehingga kadar
glukosa darah akan menurun.
5. Menggunakan tipe insulin yang salah pada malam hari.
Pengobatan diabetes yang intensif terkadang mengharuskan anda
mengkonsumsi obat diabetes pada malam hari terutama yang bekerja
secara lambat. Jika anda salah mengkonsumsi obat misalnya anda
meminum obat insulin kerja cepat di malam hari maka saat bangun pagi,
anda akan mengalami hipoglikemia.
6. Penebalan di lokasi suntikan.
Dianjurkan bagi mereka yang menggunakan suntikan insulin agar
merubah lokasi suntikan setiap beberapa hari. Menyuntikan obat dalam
waktu lama pada lokasi yang sama akan menyebabkan penebalan jaringan.
Penebalan ini akan menyebabkan penyerapan insulin menjadi lambat.
7. Kesalahan waktu pemberian obat dan makanan.
Tiap tiap obat insulin sebaiknya dikonsumsi menurut waktu yang
dianjurkan. Anda harus mengetahui dan mempelajari dengan baik kapan
obat sebaiknya disuntik atau diminum sehingga kadar glukosa darah
menjadi seimbang.
8. Penyakit yang menyebabkan gangguan penyerapan glukosa.
Beberapa penyakit seperti celiac disease dapat menurunkan
penyerapan glukosa oleh usus. Hal ini menyebabkan insulin lebih dulu ada
di aliran darah dibandingan dengan glukosa. Insulin yang kadung beredar
ini akan menyebabkan kadar glukosa darah menurun sebelum glukosa
yang baru menggantikannya.
9. Gangguan hormonal.
Orang dengan diabetes terkadang mengalami gangguan hormon
glukagon. Hormon ini berguna untuk meningkatkan kadar gula darah.
Tanpa hormon ini maka pengendalian kadar gula darah menjadi terganggu.
10. Pemakaian aspirin dosis tinggi.
Aspirin dapat menurunkan kadar gula darah bila dikonsumsi
melebihi dosis 80 mg.

11. Riwayat hipoglikemia sebelumnya.


Hipoglikemia yang terjadi sebelumnya mempunyai efek yang
masih terasa dalam beberapa waktu. Meskipun saat ini anda sudah merasa
baikan tetapi belum menjamin tidak akan mengalami hipoglikemia lagi.

D. PATOFISIOLOGI HIPOGLIKEMIA
Seperti sebagian besar jaringan lainnya, matabolisme otak terutama
bergantung pada glukosa untuk digunakan sebagai bahan bakar. Saat jumlah
glukosa terbatas, otak dapat memperoleh glukosa dari penyimpanan glikogen
di astrosit, namun itu dipakai dalam beberapa menit saja. Untuk melakukan
kerja yang begitu banyak, otak sangat tergantung pada suplai glukosa secara
terus menerus dari darah ke dalam jaringan interstitial dalam system saraf
pusat dan saraf-saraf di dalam system saraf tersebut.
Oleh karena itu, jika jumlah glukosa yang di suplai oleh darah
menurun, maka akan mempengaruhi juga kerja otak. Pada kebanyakan kasus,
penurunan mental seseorang telah dapat dilihat ketika gula darahnya menurun
hingga di bawah 65 mg/dl (3.6 mM). Saat kadar glukosa darah menurun
hingga di bawah 10 mg/dl (0.55 mM), sebagian besar neuron menjadi tidak
berfungsi sehingga dapat menghasilkan koma.
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak
cukupnya jumlah insulin yang nyata, keadaan ini mengakibatkan gangguan
pada metabolisme karbohidrat, protein, lemak, ada tiga gambaran klinis yang
penting pada diabetes ketoasidosis.
1. Dehidrasi
2. Kehilangan elektrolit
3. Asidosis
Apabila jumlah insulin berkurang jumlah glukosa yang memasuki sel
akan berkurang pula, di samping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak
terkendali, kedua factor ini akan menimbulkan hipoglikemia. Dalam upaya
untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan dalam tubuh, ginjal akan
mengekskresikan glukosa bersama-sama air dan elektrolit (seperti natrium dan
kalium). Diuresis osmotic yang di tandai oleh urinaria berlebihan (poliuria) ini
akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. penderita ketoasidosis
diabetic yang berat dapat kehilangan kira-kira 6,5 liter air dan sampai 400
hingga mEq natrium, kalium serta klorida selama periode waktu 24 jam.
Akibat defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (liposis)
menjadi asam-asam lemak bebas dan gliseral, asam lemak bebas akan di ubah
menjadi badan keton oleh hati, pada keton asidosis diabetic terjadi produksi
badan keton yang berlebihan sebagai akibat dari kekurangan insulin yang
secara normal akan mencegah timbulnya keadaan tersebut, badan keton
bersifat asam, dan bila bertumpuk dalam sirkulasi darah, badan keton akan
menimbulkan asidosis metabolic.
Pada hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem
saraf simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah
menyebabkan gejala seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan
dan rasa lapar.
Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah
menyebabkan sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja
dengan baik. Tanda-tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup
ketidak mampuan berkonsentrasi, sakit kepala,vertigo, konfusi, penurunan
daya ingat, pati rasa di daerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak
terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional, penglihatan
ganda dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi dari gejala ini (di samping
gejala adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemia sedang.
Pada hipoglikemia berat fungsi sistem saraf pusat mengalami
gangguan yang sangat berat, sehingga pasien memerlukan pertolongan orang
lain untuk mengatasi hipoglikemia yang di deritanya. Gejalanya dapat
mencakup perilaku yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit di
bangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran (Smeltzer. 2001).
E. PATHWAY
F. MANIFESTASI KLINIS HIPOGLIKEMIA
Hipoglikemi terjadi karena adanya kelebihan insulin dalam darah
sehingga menyebabkan rendahnya kadar gula dalam darah. Kadar gula darah
yang dapat menimbulkan gejala-gejala hipoglikemi, bervariasi antara satu
dengan yang lain.
Pada awalnya tubuh memberikan respon terhadap rendahnya kadar
gula darah dengan melepasakan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal
dan beberapa ujung saraf. Epinefrin merangsang pelepasan gula dari
cadangan tubuh tetapi juga menyebabkan gejala yang menyerupai serangan
kecemasan (berkeringat, kegelisahan, gemetaran, pingsan, jantung berdebar-
debar dan kadang rasa lapar). Hipoglikemia yang lebih berat menyebabkan
berkurangnya glukosa ke otak dan menyebabkan pusing, bingung, lelah,
lemah, sakit kepala, perilaku yang tidak biasa, tidak mampu berkonsentrasi,
gangguan penglihatan, kejang dan koma. Hipoglikemia yang berlangsung
lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen. Gejala yang
menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bisa terjadi secara
perlahan maupun secara tiba-tiba. Hal ini paling sering terjadi pada orang
yang memakai insulin atau obat hipoglikemik per-oral. Pada penderita tumor
pankreas penghasil insulin, gejalanya terjadi pada pagi hari setelah puasa
semalaman, terutama jika cadangan gula darah habis karena melakukan olah
raga sebelum sarapan pagi. Pada mulanya hanya terjadi serangan
hipoglikemia sewaktu-waktu, tetapi lama-lama serangan lebih sering terjadi
dan lebih berat.
Tanda dan gejala dari hipoglikemia terdiri dari dua fase antara lain:
1. Fase pertama
yaitu gejala- gejala yang timbul akibat aktivasi pusat autonom di
hipotalamus sehingga dilepaskannya hormon epinefrin. Gejalanya berupa
palpitasi, keluar banyak keringat, tremor, ketakutan, rasa lapar dan mual
(glukosa turun 50 mg%)
2. Fase kedua
yaitu gejala- gejala yang terjadi akibat mulai terjadinya gangguan fungsi
otak, gejalanya berupa pusing, pandangan kabur, ketajaman mental
menurun, hilangnya ketrampilan motorik yang halus, penurunan
kesadaran, kejang- kejang dan koma (glukosa darah 20 mg%).
Adapun gejala- gejala hipoglikemi yang tidak khas adalah sebagai berikut:
1. Perubahan tingkah laku
2. Serangan sinkop yang mendadak
3. Pusing pagi hari yang hilang dengan makan pagi
4. Keringat berlebihan waktu tidur malam
5. Bangun malam untuk makan
6. Hemiplegi/ afasia sepintas
7. Angina pectoris tanpa kelainan arteri koronaria

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Gula darah puasa
Digunakan untuk mengetahui kadar gula darah puasa (sebelum diberi
glukosa 75 gram oral) dan nilai normalnya antara 70- 110 mg/dl.
2. Gula darah 2 jam post prandial
Diperiksa 2 jam setelah diberi glukosa dengan nilai normal < 140 mg/dl/2
jam
3. HBA1c
Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah untuk memperoleh kadar
gula darah yang sesungguhnya karena pasien tidak dapat mengontrol hasil
tes dalam waktu 2- 3 bulan. HBA1c menunjukkan kadar hemoglobin
terglikosilasi yang pada orang normal antara 4- 6%. Semakin tinggi maka
akan menunjukkan bahwa orang tersebut menderita DM dan beresiko
terjadinya komplikasi.
4. Elektrolit, tejadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah terganggu
5. Leukosit, terjadi peningkatan jika sampai terjadi infeksi
a. Prosedur khusus: untuk hipoglikemia reaktif tes toleransi glukosa
postpradial oral 5 jam menunjukkan glukosa serum < 50 mg/dl setelah 5
jam.
b. Pengawasan di tempat tidur: peningkatan tekanan darah
c. Pemeriksaan laboratorium: glukosa serum < 50 mg/dl, spesimen
urine dua kali negatif terhadap diagnosa.
d. EKG : biasanya menunjukkan takikardia.

I. PENATALKSANAAN HIPOGLIKEMIA
1. Penatalaksanaan medis
a. Anjuran yang di berikan adalah 15 gram sumber karbohidrat pekat
yang bekerja cepat per oral (misalnya, 3 atau 4 tablet glukosa yang di
jual di pasaran, 4-6 ons jus buah atau soda regular, 6-10 permen keras,
2-3 sendok the gula atau madu)
b. Pasien tidak di perbolehkan menambahkan gula ke dalam jus,
sekalipun jus tanpa pemanis, yang dapat menyebabkan lonjakan kadar
glukosa, yang mengakibatkan hiperglikemia dalam beberapa jam
selanjutnya.
c. Terapi di alami ketika gejala tidak kunjung hilang dalam 10-15
menit setelah terapi awal, pasien di periksa kembali dalam 15 menit
dan terapi di lanjutkan kembali jika kadar glukosa darah kurang dari
70-75 mg/dl
d. Pasien harus mengkonsumsi kudapan yang mengandung protein
dan tepung (susu, keju dan biscuit)setrlah gejala teratasi atau harus
makan makanan atau kudapan dalam 30-60 menit.
2. Penatalaksaan keperawatan
a. Ajarkan pasien untuk mencegah hipoglikemia dengan
mengikutipola makan yang konsisten dan teratur, memberikan insulin
dan berolah raga
b. Tekankan agar pemeriksaan glukosa darah di lakukan secara
rutinsehingga dapat di perkirakan perlu/tidaknya mengganti insulin
dan menyesuaikan dosisnya.
c. Anjurkan pasien pengguna insulin untuk menggunakan gelang atau
kartu identifikasi yang mengindikasikan bahwa mereka adalah
penderita DM.
d. Informasikan pasien untuk member tahukan dokter setelah terjadi
hipoglikemia berat.
e. Informasikan pasien dan keluarga mengenai gejala hipoglikemia
dan penggunaan glucagon.
f. Jelaskan kepada keluarga bahwa hipoglikemia dapat menyebabkan
perilaku tak rasional dan tidak bertujuan.
g. Ingatkan pasien mengenai pentingnya melakukan pemantauan
glukosa darah mandiri secara sering dan teratur.
h. Ajarkan pasien penyandang diabetes tipe 2 yang mengonsumsi
agens sulfonilureaoral bahwa gejala hipoglikemia dapat juga terjadi.
i. Pasien diabetes harus membawa serta gulasederhana setiap waktu
j. Pasie dilarang untuk makan-makanan pencuci mulut yang tinggi
kalori dan tinggi lemak untuk mengatasi hipoglikemia, karena
kudapan tinggi lemak dapat memperlambat penyerapan glukosa.
(Smeltzer & Cheever, K.H, 2010)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA HIPOGLIKEMIA

A. PENGKAJIAN PRIMER HIPOGLIKEMIA


1. Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bernafas dengan bebas,
ataukah ada secret yang menghalangi jalan nafas. Jika ada obstruksi,
lakukan :
a. Chin lift/ Jaw thrust
b. Suction
c. Guedel Airway
d. Intubasi Trakea
2. Breathing
Bila jalan nafas tidak memadai, lakukan :
a. Beri oksigen
b. Posisikan semi Flower
3. Circulation
Menilai sirkulasi / peredaran darah
a. Cek capillary refill
b. Auskultasi adanya suara nafas tambahan
c. Segera Berikan Bronkodilator, mukolitik.
d. Cek Frekuensi Pernafasan
e. Cek adanya tanda-tanda Sianosis, kegelisahan
f. Cek tekanan darah
Penilaian ulang ABC diperlukan bila kondisi pasien tidak stabil
4. Disability
Menilai kesadaran pasien dengan cepat, apakah pasien sadar,
hanya respon terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. Kaji pula
tingkat mobilisasi pasien. Posisikan pasien posisi semi fowler,
esktensikan kepala, untuk memaksimalkan ventilasi. Segera berikan
Oksigen sesuai dengan kebutuhan, atau instruksi dokter.
B. PENGKAJIAN SEKUNDER HIPOGLIKEMIA
Data dasar yang perlu dikaji adalah :
1. Keluhan utama :
Sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering hipoglikemi
merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain sebelumnya
seperti asfiksia, kejang, sepsis.
2. Data Fokus
a. Data subyektif :
1) Riwayat penyakit dahulu
2) Riwayat penyakit sekarang
3) Status metabolik : intake makanan yang melebihi
kebutuhan kalori,infeksi atau penyakit-penyakit akut lain, stress yang
berhubungandengan faktor-faktor psikologis dan social, obat-obatan
atau terapi lainyang mempengaruhi glikosa darah, penghentian
insulin atau obat antihiperglikemik oral.
b. Data Obyektif
1) Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot
menurun, gangguan istrahat/tidur
Tanda :Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat atau aktifitas,
letargi/disorientasi, koma
2) Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, kebas dan kesemutan pada
ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama,
takikardia.
Tanda : Perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yang
menurun/tidak ada, disritmia, krekels, distensi vena
jugularis, kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata
cekung

3) Integritas/ Ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang
berhubungan dengan kondisi
Tanda : Ansietas, peka rangsang
4) Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa
nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK
baru/berulang, nyeri tekan abdomen, diare.
Tanda : Urine encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembang
menjadi oliguria/anuria, jika terjadi hipovolemia berat),
urin berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras, adanya
asites, bising usus lemahdan menurun, hiperaktif (diare)
5) Nutrisi/Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet,
peningkatan masukan glukosa/karbohidrat, penurunan
berat badan lebih dari beberapa hari/minggu, haus,
penggunaan diuretik (Thiazid)
Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor jelek, kekakuan/distensi
abdomen, muntah, pembesaran tiroid (peningkatan
kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah), bau
halisitosis/manis, bau buah (napas aseton)
6) Neurosensori
Gejala : Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan
pada otot, parestesi, gangguan penglihatan
Tanda : Disorientasi, mengantuk, alergi, stupor/koma (tahap
lanjut),gangguan memori (baru, masa lalu), kacau mental,
refleks tendon dalam menurun (koma), aktifitas kejang
7) Nyeri/kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)
Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati

8) Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum
purulen (tergantung adanya infeksi/tidak)
Tanda : Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen, frekuensi
pernapasan meningkat
9) Integritas kulit
Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
Tanda : Demam, diaphoresis, kulit rusak, lesi/ulserasi, menurunnya
kekuatan umum/rentang gerak, parestesia/paralisis otot
termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun
dengan cukup tajam)
10) Seksualitas
Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi). Masalah impoten pada
pria, kesulitan orgasme pada wanita
11) Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga DM, jantung, stroke, hipertensi.
Penyembuhan yang lambat, penggunaan obat sepertii
steroid, diuretik (thiazid), dilantin dan fenobarbital (dapat
meningkatkan kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak
memerlukan obat diabetik sesuai pesanan. Rencana
pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam
pengaturan diit, pengobatan, perawatan diri, pemantauan
terhadap glukosa darah.
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d mucus yang berlebihan
(Domain 11. Keamanana/perlindungan. Kelas 2. Cedera fisik. 00031. Hal
406. Nanda 2015-2017)
2. Penurunan curah jantung b/d perubahan frekuensi jantung (Domain
4. Aktivitas/ istirahat. Kelas 4. Respon kardiovaskuler/pulmonal. 00029.
Nanda 2015-2017)
3. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak (Domain 4.
Aktivitas/ istirahat. Kelas 4. Respon kardiovaskuler/pulmonal. 00032.
Nanda 2015-2017)

NO DIAGNOSA NANDA NOC NIC

1 Ketidakefektifan Setelah diberikan tindakan manajemen jalan nafas


bersihan jalan nafas keperawatan selama 3 x (3140)
berhubungan dengan 24 jam diharapkan, - Posisikan pasien
mukus berlebihan dengan Keriteria Hasil : untuk
(Domain 11 : keamanan a. Status pernafasan, memaksimalkan
atau perlindungan, kelas kepatenan jalan nafas ventilasi.
- buang secret dengan
2 : cedera fisik (00031) (0410)
- 041004 frekuensi memotivasi untuk
pernafasan melakukan batuk atau
(Dipertahakan pada menyedot lendir.
- Auskultasi suara
skala 3, ditingkatkan
nafas, catat area yang
ke skala 5).
- 041012 kemampuan ventilasinya menurun
mengeluarkan secret atau tidak ada dan
(dipertahan pada skala adanya suara
4, ditingkatkan ke tambahan.
- Lakukan penyedotan
skala 5).
- 041007 suara nafas melalui endotrakea
tambahan atau
(dipertahankan pada nasotrakea,sebagaima
skala 4, ditingkatkan na mestinya
- Kelola udara atau
ke skala 5).
oksigen yang
dilembabkan,
sebagaimana
mestinya
- Posisikan untuk
meringankan sesak
nafas
- Monitor status
pernafasan dan
oksigenasi,
sebagaimana
mestinya.
2 Penurunan curah jantung Setelah diberikan tindakan Perawatan Jantung(4040)
Aktivitas-aktivitas :
b/d perubahan frekuensi keperawatan selama 3 x
- Evaluasi episode
jantung (Domain 4. 24 jam diharapkan,
nyeri dada
Aktivitas/ istirahat. Kelas dengan Keriteria Hasil : - Lakukan penilaian
4. Respon a. Keefektifan pompa komprehensif pada
kardiovaskuler/pulmonal. jantung (0400) sirulasi perifer
- 04001 tekanan darah - Monitor tanda-tanda
00029. Nanda 2015-
sistol (Dipertahakan vital secara rutin
2017)
- Catat tanda dan
pada skala 3,
gejala penurunan
ditingkatkan ke skala
curah jantung
5).
- Monitor abdomen
- 04019 tekanan darah
jika terdapat indikasi
diastole (Dipertahakan
indikasi penurunan
pada skala 3,
perfusi
ditingkatkan ke skala
- Monitor
5).
keseimbangan cairan
- 04002 denyut jantung
- Monitor nilai
apical (Dipertahakan
laboratorium yang
pada skala 3,
tepat
ditingkatkan ke skala - Monitor fungsi
5). pacemaker,
- 04006 denyut nadi
sebagaimana
ferifer diastole
mestinya
(Dipertahakan pada - Evaluasi perubahan
skala 3, ditingkatkan tekanan darah
- Monitor toleransi
ke skala 5).
- 04022 keseimbangan aktivitas pasien
- Monitor sesak nafas,
intake dan output
keletihan. Takipnea,
dalam 24 jam
dan orthopnea
(Dipertahakan pada
- Identifikasi metode
skala 3, ditingkatkan
pasien dalam
ke skala 5).
- 04011 suara jantung
abnormal menangani strees
- Berikan dukungan
(Dipertahakan pada
teknik yang efektif
skala 3, ditingkatkan
untuk mengurangi
ke skala 5).
stress

3 Resiko ketidakefektifan Setelah diberikan tindakan Peningkatan Perfusi


perfusi jaringan otak keperawatan selama 3 x Serebral (2550)
(Domain 4. Aktivitas/ 24 jam diharapkan, - Induksi Hipertensi
istirahat. Kelas 4. Respon dengan Keriteria Hasil : dengan peningkatan
kardiovaskuler/pulmonal. a. Perfusi jaringan volume atau agen
00032. Nanda 2015- serebral (0406). vasokontriksi atau
- 040602 tekanan
2017) inotropik , sesuai
intracranial
yang diperintahkan,
(Dipertahankan pada
untuk
skala 3, ditingkatkan
memepertahankan
ke 4).
parameter
- 040613 tekanan darah
hemodinamik da
sistol (Dipertahankan
mempertahankan /
pada skala 3,
mengoptimalkan
ditingkatkan ke 4).
- 040614 tekanan darah tekanan perfusi
diastole serebral ( CPP )
- Konsultasikan dengan
(Dipertahankan pada
dokter unuk
skala 3, ditingkatkan
ke 4). menentukan tinggi
- 040617 nilai rata-rata
kepala tempat tidur
tekanan darah
yang optimal
(Dipertahankan pada
( misalanya , 0,15
skala 3, ditingkatkan
atau 30 derajat ) dan
ke 4).
monitor respon pasien
- 040619 penurunan
terhadap pengaturan
tingkat kesadaran
posisi kepala.
(Dipertahankan pada
- HIndari fleksi leher
skala 3, ditingkatkan
atau fleksi panggul /
ke 4).
lutut yang ekstrim
- monitor status
neurologi
- monitor TIK , pasien
dan respon neurologi
terhadap aktivitas
perawatan
- monitor status
pernafasan

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah
(glukosa) secara abnormal rendah. Dalam keadaannormal, tubuh
mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dL. Sementara pada
penderita diabetes, kadar gula darahnya tersebut berada pada tingkat terlalu
tinggi; dan pada penderita hipoglikemia, kadar gula darahnya berada pada
tingkat terlalu rendah.
Hipoglikemi terjadi karena adanya kelebihan insulin dalam darah
sehingga menyebabkan rendahnya kadar gula dalam darah. Kadar gula darah
yang dapat menimbulkan gejala-gejala hipoglikemi, bervariasi antara satu
dengan yang lain.

B. SARAN
Saran kami sebagai pembuat makalah agar para tenaga kesehatan
maupun mahasiswa keperawatan serta bagi para pembaca lebih membuka
buku-buku yang berkaitan dengan segala jenis penyakit agar mengetahaui
berbagai jenis penyakit salah satunya penyakit hipoglikemia, dimana agar
dapat membuka wawasan pengetahuan dari pembaca mengenai penyakit.
DAFTAR PUSTAKA

Nanda Internasional Inc.Diagnosa Keperawatan : Definisi & Klasifikasi.2015-


2017.Ed 10.Jakarta EGC

Nike, Budhi Subekti (et al). 2013. Keperawatan kritis : pendekatan asuhan
holistic. Ed 8. Vol. 2. Jakarta : EGC.

Sue Moorhead, Mario Jonhson.Dkk.2016.Nursing Outcome Classification


(Noc).5th Edition.Cv.Mocomedia Elsevier Inc.

M.Bulechek Gloria, K. Butcher Howard.Dkk.2016.Nursing Interventions


Classification (Nic).6Th.Edition.Cv.Mocomedia Elsevier Inc.

Smeltzer, S. c.,Bare, B. & Cheever, K.H.Dkk. 2010. Brunner and suddarths


textbook of medical surgical nursing (12th ed). Philadelphia : Lippincott
Williams & Wilkins.

Anda mungkin juga menyukai