Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PENGETAHUAN BAHAN PANGAN


ACARA II
DENSITAS DAN BOBOT JENIS

DISUSUN OLEH:
Kelompok 1
Agung Budi Prakoso H0915003
Fransisca Dwi Jayanti H0915026
Rika Alif Firda H0915068
Ririsia Febri Zahrotul H H0915069
Tiana Ayu Prima H0915082
Dinta Selma Petriani H1916006

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017
ACARA II
DENSITAS DAN BOBOT JENIS

A. Tujuan
Praktikum Acara II Densitas dan Bobot Jenis bertujuan agar :
1. Mahasiswa mampu menentukan densitas dan bobot jenis bahan pangan
berbentuk cairan.
2. Mahasiswa mampu menentukan bulk density dan bobot jenis biji-bijian
dan tepung-tepungan.
3. Mahasiswa mengetahui pengaruh tingkat kematangan terhadap densitas
dan bobot jenis bahan pangan.
B. Tinjauan Pustaka
Densitas atau kerapatan adalah kepadatan massa atau kepadatan
material didefinisikan sebagai massa per unit volume. Kepadatan massa
bahan bervariasi dengan suhu dan tekanan yang pengaruhnya kecil untuk
padatan dan cairan.

Rumus densitas adalah .

Berat jenis (specific gravity) adalah rasio kepadatan (massa dari


satuan volume) dari suatu zat kepadatan (massa satuan volume yang sama)
dari bahan referensi. Dalam sebagian besar kasus bahan referensi adalah air
untuk cairan atau udara untuk gas. Berat jenis merupakan rasio oleh karena
itu tidak berdimensi. Nilai-nilai numerik dari kepadatan dan berat jenis akan
sama jika suhu pengukuran air adalah 4C. Pada setiap suhu lain kepadatan
dan berat jenis akan sedikit berbeda (FAO/Infoods Density Database, 2012).
Densitas kamba adalah massa partikel yang menempati suatu unit
volume tertentu. Densitas kamba ditentukan oleh berat wadah yang
diketahui volumenya dan merupakan hasil pembagian dari berat bubuk
dengan volume wadah. Semakin tinggi nilai densitas kamba menunjukkan
produk semakin padat. Suatau bahan dinyatakan kamba apabila jika nilai
densitas kamba kecil, artinya untuk volume yang besar berat bahan ringan.
Densitas kamba dari berbagai produk bubuk umumnya berkisar antara 0,30-
0,80 g/mL. Perhitungan densitas kamba berhubungan dalam hal
pengemasan dan penyimpanan. Makanan dengan densitas kamba yang
tinggi menunjukkan kepadatan produk ruang yang kecil (Rohmah, 2012).
Bulk density bubuk adalah rasio massa sampel bubuk yang belum
dimanfaatkan dan volume termasuk kontribusi dari volume kosong
interparticulate. Oleh karena itu, bulk density tergantung pada kepadatan
partikel bubuk dan penataan ruang partikel dalam bubuk. Bulk density
dinyatakan dalam gram per mililiter (g/ml) meskipun dalam unit
internasional dinyatakan dalam kilogram per meter kubik (1 g/ml = 1000
kg/m3) karena pengukuran dilakukan dengan menggunakan silinder
(World Health Organization, 2012).
Kerapatan sebuah fluida, dilambangkan dengan huruf Yunani
(rho), didefinisikan sebagai massa fluida per satuan volume. Kerapatan
biasanya digunakan untuk mengkarakterisasi massa sebuah sistem fluida.
Dalam sistem BG, mempunyai satuan slugs/ft 3 dan dalam satuan SI adalah
kg/m3. Berat jenis dari sebuah fluida, dilambangkan dengan huruf Yunani
(gamma), didefinisikan sebagai berat fluida per satuan volume. Berat jenis
berhubungan dengan kerapatan melalui persamaan = g dimana g adalah
percepatan gravitasi lokal. Seperti halnya kerapatan yang digunakan untuk
mengkarakteristikkan massa sebuah sistem fluida, berat jenis digunakan
untuk mengkarakteristikkan berat dari sistem tersebut. Dalam sistem BG,
mempunyai satuan lb/ft3 dan satuan SI yaitu N/m3 (Munson dkk, 2004).
Bulk density yaitu massa dari suatu partikel yang menempati suatu
unit volume, dimana porositas ditetapkan sebagai volume dari wadah
kosong yang ditentukan dengan total volume dari wadah. Bulk density
ditentukan dengan rumus massa dibagi volume bahan. Fungsi mengetahui
bulk density, densitas dan bobot jenis yaitu digunakan oleh industri dalam
desain proses, penyimpanan, pengemasan dan distribusi produk yang
dihasilkan (Barbosa et al., 2005).
Piknometer adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur
massa jenis atau densitas fluida. Prinsip metode ini didasarkan atas
penentuan massa cairan dan penentun tuang, yaitu ditempati cairan ini.
Prinsip kerja dari piknometer dengan cara membandingkan massa zat
dengan volume zat (Koleske, 1972).
Minyak kedelai yang sudah dimurnikan dapat digunakan untuk
pembuatan minyak salad, minyak goreng (cooking oil) serta segala
keperluan pangan. Lebih dari 50 persen produk pangan dibuat dari minyak
kedelai, terutama margarine dan shortening. Hampir 90 persen dari produksi
minyak kedelai digunakan dibidang pangan. Pada minyak kedelai terdapat
pula vitamin vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh yang salah
satunya adalah vitamin E. Standar mutu bobot jenis minyak kedelai (25 0C)
adalah 0,924 0,928 (Thoha dkk., 2008). Minyak kedelai memiliki densitas
sebesar 0,927 g/ml (FAO, 2012).
Perubahan sifat fisik (ukuran, kerapatan partikel, kerapatan curah,
susut dan porositas) dan perilaku fluidisasi kacang hijau potong dengan
perubahan kadar air selama pengeringan diselidiki menggunakan pompa
panas dan pengering unggun terfluidisasi. Bulk density dari kacang hijau
berkisar 300 kg/m3 sampai 500 kg/m3. Sedangkan berat jenisnya sekitar
0,8098 gram/cm3 (Senadeera et al., 1998).
Tepung beras terdiri dari tepung beras pecah kulit dan tepung beras
sosoh. Tepung beras banyak digunakan sebagai bahan baku industri seperti
bihun dan bakmi, makaroni, aneka snacks, aneka kue kering (cookies),
biscuit, crackers, makanan bayi, makanan sapihan untuk Balita, tepung
campuran (composite flour) dan sebagainya. Tepung beras juga banyak
digunakan dalam pembuatan pudding mixture atau custard
(Koswara, 2009). Tepung beras memiliki bulk density sekitar 0,82 gram/cm3
dan berat jenis sekitar 753 kg/m3 (Bryant et al., 2001).
Tepung maizena berasal dari pati jagung. Pati jagung memiliki
prospek pengembangan menjadi produk-produk olahan bagi industri-
industri yang menghasilkan tepung maizena, dekstrin, dan gula jagung.
Tepung maizena potensial mensubstitusi terigu maupun tapioka dari 20-
100% (Maflahah, 2010).
Kacang kedelai mengandung 40% protin dan 20% minyak bebas
kolesterol, kacang kedelai popular sebagai biji yang melawan defisiensi
protein dan kalori. Salam mendeain peralatan pengolahan, penyimpanan
dan pemrosesan kacang kedelai, perlu untuk mengetahui karakteristik fisik
dari kacang kedelai. Kacang kedelai memiliki densitas 1216-1124kg/m3 dan
bulk density berkisar 735-708 kg/m3 (Deshpande et al., 1993)
Kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu
kacang-kacangan yang umum terdapat di Indonesia dan telah dikenal oleh
sebagian besar masyarakat Indonesia. Nilai gizi dari kacang merah cukup
baik dan merupakan sumber protein yang cukup potensial, dimana
kandungan proteinnya sekitar 23,1%. Pemanfaatan kacang merah pada saat
ini adalah sebagai pelengkap menu dalam konsumsi sehari-hari dan
digunakan untuk pembuatan roti, kue kering atau protein isolat (Teja, 1990).
Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu komoditas
tanaman kacang-kacangan yang banyak dikonsumsi rakyat Indonesia,
seperti: bubur kacang hijau dan isi onde-onde. Kecambahnya dikenal
sebagai tauge. Tanaman ini mengandung zat-zat gizi, antara lain: amilum,
protein, besi, belerang, kalsium, minyak lemak, mangan, magnesium,
niasin, vitamin (B1, A, dan E). Manfaat lain dari tanaman ini adalah dapat
melancarkan buang air besar dan menambah semangat hidup, juga
digunakan untuk pengobatan (Putra, 2012).
Buah-buahan merupakan sumber zat gizi terutama vitamin (A dan
C) dan mineral. Di samping itu, buah juga mengandung karbohidrat, lemak,
dan protein. Kandungan gizi buah-buahan lokal belum banyak diketahui.
Komposisi kimia (nilai gizi) buah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain faktor genetik, umur panen (tingkat kemasakan), dan lingkungan
tumbuh. Oleh karena itu, terdapat keragaman komposisi kimia buah
antarjenis dalam spesies yang sama, atau antarspesies dalam genus yang
sama. Buah dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu buah
klimakterik dan nonklimakterik. Untuk buah klimakterik, pematangannya
tidak perlu menunggu buah masak penuh di pohon. Walaupun demikian,
untuk menjaga kualitasnya maka buah harus dipetik pada tingkat
kematangan yang cukup. Buah nonklimakterik tidak dapat masak setelah
dipetik dan kualitasnya tetap seperti pada saat dipetik meskipun disimpan
beberapa lama. Secara umum kelompok buah klimakterik memiliki rasa
manis (total padatan terlarut >14oBrix) (Antarlina, 2009).
Alpukat merupakan buah musiman, alpukat merupakan sumber
vitamin K, serat pangan, vitamin B6, vitamin C, folat da tembaga. Alpukat
juga merupakan sumber potassium yang baik: karena lebih banyak
mengandung potassium disbanding pisang, selain itu juga mengandung
nutrisi esensial seperti karbohidrat, gula, serat larut dan tak larut, minyak
alpukat juga mengandung asam lemak tak jenuh rantai tunggal yang lebih
bervariasi dan kaya akan mineral. Alpukat memiliki densitas 1051kg/m3,
sedangkan densitas minyak alpukat adalah 0,9032g/cm 3. Sedangkan
dibandingkan dengan FAO (1997) densitas alpukat adalah 987kg/m3
(Orhevba dan Jinadu, 2011). Minyak ekstrak alpukat memiliki bobot jenis
pada suhu 25oC sebesar 0,915 (Maitera et al., 2014).
C. Metodologi
1. Alat
a. Gelas beker 250 ml
b. Gelas ukur 100 ml
c. Gelas ukur 1000 ml
d. Piknometer
e. Kuboid kecil
f. Pengaduk
g. Penggaris
h. Timbangan
2. Bahan
a. Alpukat
b. Alpukat mentah
c. Alpukat setengah matang
d. Apel matang
e. Apel mentah
f. Apel setengah matang
g. Aquadest
h. Belimbing matang
i. Belimbing mentah
j. Belimbing setengah matang
k. Beras
l. Kacang hijau
m. Kacang kedelai
n. Kacang merah
o. Ketan hitam
p. Lemon matang
q. Lemon mentah
r. Lemon setengah matang
s. Minyak jagung
t. Minyak kanola
u. Minyak kedelai
v. Minyak kelapa barco.
w. Minyak rosebrand
x. Tepung beras
y. Tepung maizena
z. Tepung sagu
aa. Tepung tapioka
bb. Tepung terigu
cc. Tomat matang
dd. Tomat mentah
ee. Tomat setengah matang
3. Cara Kerja
1. Menentukan densitas dan bobot jenis bahan pangan berbentuk cairan
a. Penentuan densitas air

Penimbangan pikno kosong (a gram)

25 ml aquades Pengisian ke dalam pikno

Penimbangan pikno+air (b gram)

Penghitungan berat air (b - a gram)


Penghitungan densitas ( = )

Gambar 2.1 Diagram alir cara penentuan densitas air

b. Penentuan densitas sampel berbentuk cairan

Penimbangan pikno kosong (b gram)


25 ml sampel
Minyak jagung, Minyak
kanola, Minyak kedelai, Pengisian ke dalam pikno
Minyak kelapa barco,
dan Minyak rosebrand
Penimbangan pikno+sampel (d gram)

Penghitungan berat sampel (d - c gram)

Penghitungan densitas sampel



( = ; v=volume air)

Penenentuan Bobot Jenis sampel

Gambar 2.2 Diagram alir cara penentuan densitas sampel


2. Menentukan bulk density dan bobot jenis biji-bijian dan tepung-
tepungan

sampel beras, kacang Penentuan berat dan volume wadah


hijau, kacang kedelai,
kacang merah, ketan Pemasukkan ke dalam wadah
hitam
sampel tepung beras,
tepung maizena, tepung Penimbangan wadah+sampel
sagu, tepung tapioka,

Penentuan Bulk density dan Bobot jenis

Gambar 2.3 Diagram alir cara penentuan bulk density dan bobot
jenis biji-bijian dan tepung-tepungan

3. Mengetahui pengaruh tingkat kematangan terhadap densitas dan


bobot jenis bahan pangan

Sampel buah alpukat, apel,


belimbing, lemon dan tomat pada
tingkat kematangan berbeda

Penimbangan

Pemasukkan ke dalam gelas ukur


1000ml yang telah berisi air
sebanyak 500ml
Pencatatan perubahan volume

Penentuan densitas dan bobot jenis

Pembandingan antara buah matang,


setengah matang dan mentah

Gambar 2.4 Diagram alir cara mengetahui pengaruh tingkat


kematangan terhadap densitas dan bobot jenis bahan
pangan
D. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan FAO/Infoods Density Database (2012) densitas atau
kerapatan adalah kepadatan massa atau material yang didefinisikan sebagai
massa per unit volume. Sedangkan menurut Giancoli (1997) kerapatan
adalah suatu sifat karakteristik setiap bahan murni. Benda tersusun atas
bahan murni yang dapat memiliki berbagai ukuran atau massa, tetapi
kerapatannya akan sama untuk semuanya. Berat jenis atau bobot jenis suatu
bahan didefinisikan sebagai perbandingan kerapatan bahan tersebut
terhadap kerapatan air pada suhu 4,0C. Berat jenis adalah besaran murni
tanpa dimensi ataupun satuan (Giancoli, 1997). Berat jenis (specific gravity)
adalah rasio kepadatan (massa dari satuan volume) dari suatu zat kepadatan
(massa satuan volume yang sama) dari bahan referensi. Berat jenis
merupakan rasio oleh karena itu tidak berdimensi. Dan bulk density bubuk
adalah rasio massa sampel bubuk yang belum dimanfaatkan dan volume
termasuk kontribusi dari volume kosong interparticulate. Oleh karena itu,
bulk density tergantung pada kepadatan partikel bubuk dan penataan ruang
partikel dalam bubuk. Bulk density dinyatakan dalam gram per mililiter
(g/ml) meskipun dalam unit internasional dinyatakan dalam kilogram per
meter kubik (1 g/ml = 1000 kg/m3) karena pengukuran dilakukan dengan
menggunakan silinder (World Health Organization, 2012).
Kerapatan sebuah fluida, dilambangkan dengan huruf Yunani
(rho), didefinisikan sebagai massa fluida per satuan volume,

dengan rumus :

Dalam sistem BG, mempunyai satuan slugs/ft 3 dan dalam satuan


SI adalah kg/m3. Berat jenis dari sebuah fluida, dilambangkan dengan huruf
Yunani (gamma), didefinisikan sebagai berat fluida per satuan volume.
Dengan rumus :
massa bahan
Bobot jenis = massa air yang isinya setara dengan isi bahan
densitas bahan
=
densitas air yang isinya setara dengan isi bahan
Dalam sistem BG, mempunyai satuan lb/ft 3 dan satuan SI yaitu
N/m3 (Munson dkk, 2004). Dan menurut Barbosa et al. (2005), Bulk density
ditentukan dengan rumus : massa dibagi volume bahan dengan satuan
g/cm3. Penentuan densitas, berat jenis dan bulk density dalam bidang pangan
khususnya di industri pangan yaitu untuk menentukan desain proses,
penyimpanan,pengemasan dan distribusi produk.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, penentuan bulk
density dan berat jenis tepung-tepungan dan biji-bijian dilakukan dengan
menimbang bahan yang telah diisikan penuh pada suatu wadah, yang
sebelumnya wadah tersebut telah diketahui berat dan volumenya. Wadah
dan bahan ditimbang, kemudian dapat dihitung berat jenis dan bulk
densitynya. Selain itu, untuk menentukan massa jenis suatu bahan, buah-
buahan menggunakan metode pemindahan air. Bahan sebelumnya
ditimbang, lalu dicelupkan ke dalam gelas ukur 1000 ml untuk menentukan
volumenya. Kemudian dihitung densitasnya menggunakan rumus. Dan
menggunakan metode piknometer untuk menentukan densitas bahan cair,
dengan mengisi piknometer dengan air, ditimbang untuk menentukan
densitas air. Kemudian bahan cairan yang ingin ditentukan densitasnya
dimasukkan ke dalam piknometer, ditimbang. Lalu hasil yang telah
didapatkan dihitung menggunakan rumus. Hasil perbandingan antara
densitas bahan dengan densitas air merupakan bobot jenis bahan tersebut.
Piknometer adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur
massa jenis atau densitas fluida. Prinsip metode ini didasarkan atas
penentuan massa cairan dan penentuan tuang, yaitu ditempati cairan ini.
Prinsip kerja dari piknometer dengan cara membandingkan massa zat
dengan volume zat, dengan mekanisme menimbang piknometer beserta
tutupnya dalam keadaan kosong, kemudian memasukkan fluida yang akan
diukur massa jenisnya ke dalam piknometer kemudian
menutup piknometer apabila volume sudah tepat. Dan menimbang fluida
yang berisi fluida tersebut, kemudian menghitung massa jenis
fluida (Koleske, 1972).
Tabel 2.1 Data Hasil Penentuan Densitas dan Bobot Jenis Bahan Pangan
Berbentuk Cairan
Kelompok Sampel Densitas (g/cm3) Bobot Jenis
1, 6 0.889 0.893
Minyak kedelai
11 0.898 0.902
2, 7 0.864 0.868
Minyak jagung
12 0.898 0.902
3, 8 0.906 0.910
Minyak kanola
13 0.870 0.873
4 0.901 0.905
Minyak rosebrand
9, 14 0.890 0.894
5 0.934 0.938
Minyak kelapa barco
10,15 0.915 0.918
Sumber : Laporan sementara
Berdasarkan hasil praktikum Penentuan Densitas dan Bobot Jenis
Bahan Pangan Berbentuk Cairan pada Tabel 2.1 bahwa setiap bahan untuk
masing-masing kelompok mempunyai nilai densitas dan bobot jenis yang
berbeda-beda. Nilai densitas yang dimiliki setiap bahan sebanding dengan
nilai bobot jenisnya, nilai densitas dan bobot jenis paling besar terdapat pada
bahan berupa minyak kelapa Barco sebesar 0,934 g/cm3 dan 0,938.
Sedangkan nilai densitas dan bobot jenis paling kecil terdapat pada bahan
berupa minyak kanola sebesar 0,870 g/cm3 dan 0,873. Pada sampel
kelompok 1 dan 6 yakni minyak kedelai diperoleh densitas sebesar 0,889
g/cm3 dan bobot jenisnya 0,893. Menurut FAO (2012) minyak kedelai
memiliki densitas sebesar 0,927 g/ml dan bobot jenis minyak kedelai (25
0
C) adalah 0,924 0,928 (Thoha dkk., 2008). Hasil yang diperoleh pada
praktikum sedikit mengalami penyimpangan dari teori, hal ini dapat terjadi
karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi seperti suhu. Adanya
perbedaan densitas setiap bahan berupa minyak tersebut karena pada proses
pengolahan saat pembuatan minyak tersebut, menurut Wahyuni dkk (2015),
bahwa faktor yang mempengaruhi densitas adalah suhu. Semakin tinggi
suhu menyebabkan gerakan molekul cepat atau energi kinetik yang dimiliki
molekul-molekul pereaksi semakin besar sehingga tumbukan antara
molekul pereaksi juga meningkat. Densitas erat kaitannya dengan kerapatan
molekul-molekul, minyak yang tidak mengalami pemanasan sehingga
molekul-molekulnya tidak mengalami perengganggan dan nilai kerapatan
yang lebih besar (Warsito, 2011). Sedangkan adanya perbedaan bobot jenis
setiap bahan berupa minyak tersebut karena dipengaruhi oleh besar kecilnya
fraksi berat komponen-komponen yang terkandung didalamnya
(Kristian dkk, 2016).
Tabel 2.2.1 Data Hasil Penentuan Bulk Density dan Bobot Jenis Tepung-
tepungan
Volume Massa Bulk density Bobot Jenis
Kel Sampel
(cm3) (gram) (g/cm3)
1, 6 62.361 34.500 0.553 0.556
Tepung beras
11 64.343 30.000 0.466 0.468
2, 7 60.480 44.000 0.728 0.731
Tepung terigu
12 76.050 40.700 0.535 0.537
3, 8 76.800 41.100 0.535 0.537
Tepung maizena
13 70.756 41.200 0.582 0.585
4 53.991 36.600 0.678 0.681
Tepung tapioka
9, 14 80.000 38.600 0.483 0.485
5 84.800 48.100 0.567 0.570
Tepung sagu
10, 15 67.868 38.700 0.570 0.572
Sumber : Laporan sementara
Berdasarkan hasil praktikum Penentuan Bulk Density dan Bobot
Jenis Tepung-tepungan pada Tabel 2.2.1 bahwa setiap setiap bahan untuk
masing-masing kelompok mempunyai nilai bulk density dan bobot jenis
yang berbeda-beda. Nilai bulk density dan bobot jenis paling besar pada
tepung terigu sebesar 0,728 g/ cm3 dan 0,731, sedangkan nilai bulk density
dan bobot jenis paling kecil pada tepung beras kelompok11 sebesar 0,466
g/ cm3 dan 0,468. Hasil percobaan ini telah mendekati teori, dimana
menurut Astuti dkk. (2013) bulk density dari tepung terigu adalah 0,7421
g/ml atau 742,1 kg/m3. Sedangkan pada sampel tepung beras kelompok 1
dan 6 diperoleh hasil bulk density sebesar 0,553g/cm3 dan bobot jenisnya
0,556. tepung beras memiliki bulk density sekitar 0,82 gram/cm3 dan berat
jenis sekitar 753 kg/m3 (Bryant et al., 2001). Menurut Rohmah (2012)
densitas kamba dari berbagai produk bubuk umumnya berkisar antara 0,30-
0,80 g/mL.
Tabel 2.2.2 Data Hasil Pengamatan Bulk Density dan Bobot Jenis Biji-
Bijian
Volume Massa Bulk density Bobot Jenis
Kel Sampel
(cm3) (gram) (g/cm3)
1, 6 62.361 49.1 0.787 0.791
Kacang hijau
11 64.343 50.0 0.777 0.780
2, 7 64.800 51.6 0.796 0.800
Beras
12 76.050 56.7 0.745 0.748
3, 8 76.800 47.7 0.621 0.624
Kacang kedelai
13 76.800 47.7 0.621 0.624
4 53.991 45.2 0.837 0.841
Kacang merah
9, 14 72.200 47.1 0.652 0.655
5 84.800 52.3 0.617 0.619
Ketan hitam
10, 15 67.868 50.1 0.738 0.741
Sumber : Laporan sementara
Berdasarkan hasil praktikum Penentuan Bulk Density dan Bobot
Jenis Biji-bijian pada Berdasarkan hasil praktikum Penentuan Bulk Density
dan Bobot Jenis Biji-bijian pada Tabel 2.2.2 bahwa setiap setiap bahan
untuk masing-masing kelompok mempunyai nilai bulk density dan bobot
jenis yang berbeda-beda. Nilai bulk density dan bobot jenis paling besar
pada kacang merah sebesar 0,837 g/ c,m3 dan 0,841, sedangkan nilai bulk
density dan bobot jenis paling kecil pada kacang kedelai sebesar 0,621 g/
cm3 dan 0,624. Sedangkan menurut Deshpande et al. (1993) bulk density
dari kedelai adalah 735-708 kg/m3. Bulk density beras pada praktikum
diperoleh 0,796 dan 0,745 gr/cm3, sedangkan menurut Muchtadi (2011)
bulk density dari beras adalah 575-600 kg/m3. Pada data kelompok 1 dengan
sampel kacang hijau diperoleh bulk density sebesar 0.787 g/cm3 atau
787kg/m3 dan bobot jenis 0.791. Sedangkan menurut Senadeera et al.
(1998) bulk density dari kacang hijau berkisar 300 kg/m3 sampai 500 kg/m3.
Sedangkan berat jenisnya sekitar 0,8098 gram/cm3. Hasil yang diperoleh
mengalami sedikit penyimpangan, hal ini dapat dikarenakan kondisi bahan.
Menurut Baryeh dalam Mukhlis (2017) bulk density dipengaruhi oleh kadar
air bahan, peningkatan bulk density dipengaruhi oleh kadar air yang tinggi,
hal ini menyebabkan adanya struktur sel pada biji sampel dan karakteristik
peningkatan volume dan massa biji.
Adanya perbedaan tersebut dikarenakan adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi bulk density yakni kepadatan densitas, jumlah udara yang
terperangkap di dalam partikel (occluded air), dan jumlah udara yang ada
diantara partikel (interstitial air) (Putri dkk, 2016). Jenis ukuran bahan juga
berpengaruh terhadap nilai bulk density, dilihat dari hasil praktikum tersebut
bahwa nilai bulk density pada biji-bijian (0,837 g/ cm3) lebih besar dari nilai
bulk density pada tepung-tepungan (0,728 g/ cm3). Hal ini terkait dengan
daya mampu tekan antara volume seburk dengan volume benda yang
ditekan. Serbuk yang halus akan memiliki daya mampu tekan yang lebih
tinggi dari pada serbuk yang kasar, ini dipengaruhi oleh efek gesekan antar
partikel, sehingga daya mampu tekan yang tinggi tersebut menghasilkan
nilai bulk density yang semakin kecil.
Tabel 2.3 Data Hasil Penentuan Pengaruh Tingkat Kematangan terhadap
Densitas dan Bobot Jenis Buah-Buahan
Volume Massa Densitas Bobot
Kel Sampel jenis
(cm3) (gram) (g/cm3)
1 Alpukat mentah 220 221.3 1.006 1.010
2 Alpukat 1/2 matang 180 176.6 0.981 0.985
3 Alpukat matang 140 140.7 1.005 1.009
4 Belimbing mentah 110 110.2 1.002 1.006
5 Belimbing 1/2 matang 150 149.1 0.994 0.998
6 Belimbing matang 170 167.2 0.984 0.988
7 Lemon mentah 35 36.8 1.051 1.293
8 Lemon 1/2 matang 70 68.1 0.973 0.977
9 Lemon matang 75 78.5 1.047 1.051
10 Tomat mentah 50 48.0 0.960 0.963
11 Tomat 1/2 matang 70 70.0 1.000 1.004
12 Tomat matang 70 65.7 0.939 0.942
13 Apel mentah 60 56.7 0.945 0.948
14 Apel 1/2 matang 70 77.3 1.104 1.108
15 Apel matang 110 87.9 0.799 0.802
Sumber : Laporan sementara
Berdasarkan hasil praktikum Penentuan Pengaruh Tingkat
Kematangan terhadap Densitas dan Bobot Jenis pada Tabel 2.3 bahwa
setiap setiap bahan untuk masing-masing kelompok mempunyai nilai
densitas dan bobot jenis bergantung pada tingkat kematangan. Nilai densitas
dan bobot jenis paling besar pada lemon mentah sebesar 1,288 g/ ml dan
1,293, sedangkan nilai densitas dan bobot jenis paling kecil sebesar apel
matang sebesar 0,799 g/ml dan 0,802. Pada hasil data kelompok 1 dengan
sampel buah alpukat mentah diperoleh hasil densitas sebesar 1,006 g/cm3
dan bobot jenisnya sebesar 1,010. Sedangkan menurut Maitera et al. (2014)
minyak ekstrak alpukat memiliki bobot jenis pada suhu 25 oC sebesar 0,915.
Densitas pada alpukat setengah matang dan mentah diperoleh 0,981 g/cm3
dan 1,005 g/cm3. Hasil yang diperoleh telah mendekati teori bahwa menurut
FAO dalam Orhevba dan Jinadu, (2011) densitas buah alpukat adalah
987kg/m3 atau sama dengan 0,987g/cm3. Namun secara keseluruhan data
yang diperoleh pada praktikum, belum sesuai teori bahwa semakin matang
akan menghasilkan nilai densitas dan bobot jenis semakin kecil. Dapat
dilihat bahwa hanya pada sampel buah belimbing yang semakin matang
menunjukkan penurunan berat jenis. Densitas dan bobot jenis erat kaitannya
dengan massa bahan atau berat bahan jenis buah-buahan, dimana berat
bahan tersebut akan dipengaruhi oleh tingkat kematangan suatu jenis buah-
buahan. Menurut Nair dan Singh dalam Murtadha dkk (2012), bahwa
tingkat kematangan memberikan pengaruh terhadap susut bobot. Susut
bobot buah berhubungan dengan kehilangan air dari daging buah yang
disebabkan karena proses respirasi. Selama pematangan akan terjadi
peningkatan laju respirasi yang menyebabkan terjadinya peningkatan susut
bobot.
Menurut Wahyuni dkk. (2015), bahwa faktor yang mempengaruhi
densitas adalah suhu. Semakin tinggi suhu menyebabkan gerakan molekul
cepat atau energi kinetik yang dimiliki molekul-molekul pereaksi semakin
besar sehingga tumbukan antara molekul pereaksi juga meningkat.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi bulk density adalah kepadatan
densitas, jumlah udara yang terperangkap di dalam partikel (occluded air),
dan jumlah udara yang ada diantara partiketl (interstitial air)
(Putri dkk, 2016). Menurut Kristian dkk. (2016), bahwa bobot jenis juga
dipengaruhi oleh besar kecilnya fraksi berat komponen-komponen yang
terkandung didalamnya. Densitas dan bobot jenis erat kaitannya dengan
massa bahan atau berat bahan jenis buah-buahan, dimana berat bahan
tersebut akan dipengaruhi oleh tingkat kematangan suatu jenis buah-buahan.
Menurut Nair dan Singh dalam Murtadha dkk. (2012), bahwa tingkat
kematangan memberikan pengaruh terhadap susut bobot. Susut bobot buah
berhubungan dengan kehilangan air dari daging buah yang disebabkan
karena proses respirasi. Selama pematangan akan terjadi peningkatan laju
respirasi yang menyebabkan terjadinya peningkatan susut bobot.
E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum Ilmu Pengetahuan Bahan Acara II
Densitas dan Bobot Jenis ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengukuran densitas dan bobot jenis pada bahan pangan berbentuk
cairan dilakukan dengan menggunakan piknometer. Densitas dan bobot
jenis pada minyak kedelai sebesar 0,889g/cm3 dan 0,893.
2. Penentuan bulk density dan berat jenis tepung-tepungan dan biji-bijian
dilakukan dengan menimbang bahan yang telah diisikan penuh pada
suatu wadah, yang sebelumnya wadah tersebut telah diketahui berat dan
volumenya. Wadah dan bahan ditimbang, kemudian dapat dihitung
berat jenis dan bulk densitynya. Diperoleh bulk density dan bobot jenis
pada tepung beras adalah 0,553 g/cm3 dan 0,556, serta kacang hijau
sebesar 0,787 g/cm3 dan 0,791.
3. Pengaruh tingkat kematangan bahan buah-buahan terhadap densitas dan
berat jenis menggunakan metode pemindahan air. Bahan sebelumnya
ditimbang, lalu dicelupkan ke dalam gelas ukur 1000 ml untuk
menentukan volumenya, kemudian dihitung densitasnya. Pada buah
alpukat mentah, setangah matang dan mentah diperoleh densitasnya
berturut-turut 1,006 g/cm3; 0,981 g/cm3; 1,005 g/cm3 dan bobot jenisnya
1,010; 0,985 dan 1,009. Semakin matang suatu buah maka densitas dan
berat jenisnya semakin kecil dibanding dengan densitas dan berat jenis
buah mentah.
DAFTAR PUSTAKA

Antarlina, Sri S. 2009. Identifikasi Sifat Fisik dan Kimia Buah-Buahan Lokal
Kalimantan. Buletin Plasma Nutfah, Vol. 15, No. 2.
Astuti, Santi Dwi, Nuri W., Purwiyatno H. dan Friska C.A. 2013. Formulasi dan
Karakteristik Cake Berbasis Tepung Komposit Organik Kacang Merah,
Kedelai, dan Jagung. Jurnal Pembangunan Pedesaan, Vol. 13, No. 2: 79-
88.
Barbosa, Gustavo V., Enrique Oriega., Pablo Juliano., Hong Yan. 2005. Food
Powder: Physical Properties, Processing, Functionality. New York:
Plenum Publisher.
Bryant , Rolfe J., Ranjit S. Kadan, Elaine T. Champagne, Bryan T. Vinyard, dan
Debbie Boykin. 2001. Functional and Digestive Characteristics of Extruded
Rice Flour . Journal Cereal Chemistry, Vol. 78, No. 2: 131137.
Deshpande, S.D, Bal, S, dan Ojha, T.P. 1993. Physical Properties of Soybean.
Journal of Agricultural Engineering Research, Vol. 56, No. 2 : 89-98.
FAO/Infoods Databases. 2012. FAO/Infoods Density Database Version 2.0. New
York.
Giancoli, Douglas C. 1997. Fisika Jilid 1 Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta.
Jelantah. Jurnal Pillar Of Physics, Vol 6. : 33-40.
Koleske, Joseph V. 1972. Paint and Coating Testing Manual. Philadelphia: ASTM.
Koswara, Sutrisno. 2009. Teknologi Pengolahan Beras (Teori dan Praktek). eBook
Pangan.
Kristian, Jeremia, Sudaryanto Zain, Sarifah Nurjanah, Asri Widyasanti, dan Selly
Harnesabputri. 2016. Pengaruh Lama Ekstaksi Terhadap Rendemen Dan
Mutu Minyak Bunga Melati Putih Menggunakan Metode Ekstraksi Pelarut
Menguap (Solvent Extraction). Jurnal Tektonom, Vol. 10 No. 2: 34-43.
Maflahah, Iffan. 2010. Analisis Proses Pembuatan Pati Jagung (Maizena) Berbasis
Neraca Massa. Jurnal Embriyo, Vol. 7, No. 1.
Maitera, O.N., S.A. Osemeahon and H.L. Barnabas. 2014. Proximate And
Elemental Analysis Of Avocado Fruit Obtained From Taraba State, Nigeria.
Journal Science Research and Technology, Vol. 2, No.2: 67-73.
Muchtadi, Tien R, Sugiyono, dan Ayustaningwarno, Fitriyono. 2011. Ilmu
Pengetahuan Bahan Pangan. Bandung: Alfabeta.
Mukhlis, Andi Muhammad Akram, Edy Hartulistiyaso, dan Yohanes Aris
Purwanto. 2017. Pengaruh Kadar Air Terhadap Beberapa Sifat Fisik Biji
Lada Putih. Jurnal Agritech. Vo. 37, No. 1: 15-21.
Munson, Bruce R., Donald F. Young., Theodore H.O. 2004. Mekanika Fluida Edisi
Keempat. Jakarta: Erlangga.
Murtadha, A., Elisa Julianti, dan Ismed Suhaidi. 2012 Pengaruh Jenis Pemacu
Pematangan Teradap Mutu Buah Pisang Barangan (Musa Paradisiaca L.).
Jurnal Rekayasa Pangan Dan Pertanian, Vol. 1, No.1: 47-56.
Orhevba, B.A. and A.O. Jinadu. 2011. Determination Of Physico- Chemical
Properties And Nutritional Contents Of Avocado Pear (Persea americana
m.). Journal SAVAP International, Vol. 1, No. 3: 372-380.
Putra, A.S. 2012. Latar Belakang Kacang Hijau (Vigna radiata). Repository
Universitas Sumatera Utara.
Putri, Henita Listianing Raji, Addiena Hidayati, Tri Dewanti Widyaningsih, Novita
Wijayanti, dan Jaya Mahar Maligan. 2016. Pengendalian Kualitas Non
Dairy Creamer Pada Kondisi Proses Pengeringan Semprot Di Pt. Kievit
Indonesia, Salatiga: Kajian Pustaka. Jurnal Pangan Dan Agroindustri, Vol
4, No. 1: 443-448.
Rohmah, Miftakhur. 2012. Karakteristik Sifat Fisikokimia Tepung dan Pati Pisang
Kapas (Musa comiculata). Jurnal Teknologi Pertanian, Vol. 8, No. 1: 20-
24.
Senadeera, Wijitha, Bhesh R. Bhandari, Gordon Young, and Bandu Wijesinghe.
1998. Change of physical properties of green beans during drying and its
influence on fluidization. Proceedings 11th International Drying
Symposium B, pp: 1139-1146.
Teja, Maryanto. 1990. Pengaruh Pengupasan, Penambahan Susu Skim, dan
Gelatin terhadap Mutu Yoghurt Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.).
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Thoha, M.Y., Arfan Nazhri S, dan Nursallya. 2008. Pengaruh Suhu, Waktu Dan
Konsentrasi Pelarut Pada Ekstraksi Minyak Kacang Kedelai Sebagai
Penyedia Vitamin E. Jurnal Teknik Kimia, Vol. 15, No. 3:1-10.
Wahyuni, S., Ramli, dan Mahrizal. 2015. Pengaruh Proses dan Lama Pengendapan
Terhadap Kualitas Biodesel Dari Minyak. Jurnal Pillar of Physics, Vol. 6 :
33-40.
Warsito, Gurum Ahmad Pauzi, dan Miftahul Jannah. 2013. Analisis Pengaruh
Massa Jenis terhadap Kulaitas Minyak Goreng Kelapa Sawit Menggunakan
Alat Ukur Massa Jenis dan Akuisisinya pada Komputer. Prosiding Seminar
FMIPA Universitas Lampung: 35-41.
World Health Organization. 2012. Bulk Density and Tapped Density of Powder.
Final Text for Addition to the International Pharmacopoeia. New York.
LAMPIRAN PERHITUNGAN

1. Penentuan massa jenis air pada suhu 28C


Densitas air pada suhu 20C = 998,2 kg/m 3
Densitas air pada suhu 40C = 992,2 kg/m 3
1 1
= 21
21
998,2 992,2998,2
=
2820 4020
998,2 6
=
8 20

20X= 19916
y = 995,8 kg/m3=0,9958 g/cm3
2. Bobot jenis minyak kedelai
0,889 /3
= 0,9958 g/cm3 = 0,893

3. Bulk density dan bobot jenis tepung beras


- Volume kuboid kecil = 3,9 cm x 3,9 cm x 4,1 cm = 63,361 cm3
- Massa tepung beras = 34,5 gram
34,5
Bulk density = = = 0,553 gram/cm3
62,361 3

0,553
3
Bobot jenis = = = 0,556
0,9958
3

4. Bulk density dan bobot jenis kacang hijau


- Volume kuboid kecil = 3,9 cm x 3,9 cm x 4,1 cm = 63,361 cm3
- Massa tepung beras = 49,1 gram
49,1
Bulk density = = = 0,787 gram/cm3
62,361 3

0,787
3
Bobot jenis = = = 0,791
0,9958
3

5. Densitas dan bobot jenis alpukat mentah


- Massa alpukat mentah = 221,3 gram
- Volume alpukat mentah = 220 cm3
221,3
Densitas = = = 1,006 gram/cm3
220 3

1,006
3
Bobot jenis =
= = 1,01
0,9958
3
LAMPIRAN DOKUMENTASI

Gambar 2.5 Pemasukan beras dalam Gambar 2.6 Pemasukan beras dalam
kuboid kuboid

Gambar 2.8 Sampel minyak dan


Gambar 2.7 Pengisian air dalam gelas tepung
ukur 1000ml