Anda di halaman 1dari 18

METODA PELAKSANAAN

PENGERUKAN PELABUHAN

UMUM

Dalam merencanakan pembangunan dan pengembangan Pelabuhan, masalah sedimentasi


atau pendangkalan harus diminimalisasi terutama pada kolam Pelabuhan guna
mengamankan dan melancarkan arus pelayaran. Setiap waktu sedimen di dasar laut akan
bertambah, sehubungan dengan hal tersebut, untuk mengurangi pendangkalan yang diakibatkan
oleh sedimentasi adalah dengan cara melakukan pengerukan sedimen pada kolam
Pelabuhan.

Sedimen didefenisikan sebagai kumpulan dari pertikel-partikel organik dan anorganik


yang berbentuk tidak beraturan dan terakumulasi secara luas di daerah pantai. Berdasarkan hasil
perhitungan uji sedimen yang didapat Laju sedimen rerata 2.176.071,364 m3/Th/m. Ini berarti,
dalam jangka waktu 1 tahun, luasan sedimen sebesar 2.176.071,364 m2. Dan waktu pada saat
tinggi maksimum sedimen yang diperbolehkan adalah 10,69 tahun, berarti setiap 10,69
tahun harus dilakukan pengerukan terhadap sedimen di dasar laut, khususnya di daerah kolam
pelabuhan.

I. PENDAHULUAN

Secara umum Pelabuhan adalah suatu perairan yang terlindung dari pengaruh
gelombang, badai, arus agar kapal-kapal dapat dengan mudah dan aman untuk berlabuh
dan berputar (turning basin), bersandar sehingga bongkar muat dan pengangkutan
penumpang dapat dilaksanakan dengan lancar. Pelabuhan mengalami berbagai hambatan
fisik antara lain masalah pendangkalan yang disebabkan oleh sedimentasi yang terjadi
pada kolam Pelabuhan dan alur pelayaran. Masalah pendangkalan ini akan semakin besar
dan kompleks jika Pelabuhan tersebut terletak di muara sungai (estuary). Maka dari itu,
pendangkalan harus diminimalisasi terutama pada kolam pelabuhan guna
mengamankan dan melancarkan arus pelayaran. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk
mengurangi pen- dangkalan yang diakibatkan oleh sedimentasi adalah dengan cara
melakukan pengerukan sedimen pada kolam Pelabuhan.Dengan demikian pembahasan
tentang masalah Analisa Transportasi Sedimen dan Pengaruhnya Terhadap Pengerukan
Kolam Pelabuhan Batubara di Kawasan Sukaraja Bandar Lampung merupakan hal yang perlu
dilakukan agar Pelabuhan dapat berfungsi dengan maksimal.

II. KEGIATAN PENGERUKAN

A. PEKERJAAN PENGERUKAN

1. Pekerjaan pengerukan meliputi dua jenis kegiatan, yaitu pekerjaan pengerukan


yang hasil material keruknya tidak dimanfaatkan atau dibuang dan pekerjaan
pengerukan yang hasil material keruknya dimanfaatkan.
2. Selain itu pengerukan dapat dikategorikan dalam dua pekerjaan yaitu pekerjaan
pengerukan awal dan pengerukan untuk pemeliharaan alur pelayaran dan atau
kolam pelabuhan.
3. Pekerjaan pengerukan terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pelaksanaan pengerukan,
transportasi material keruk ke lokasi pembuangan dan kegiatan pembuangan
material keruk di lokasi pembuangan material keruk (Dumping area).

B. PERENCANAAN PENGERUKAN

1. Perencanaan desain alur dan kolam pelabuhan yang berkaitan dengan pekerjaan
pengerukan, pembangunan dan pemeliharaan harus sepengetahuan Direktur
Jendral Perhubungan Laut yang meliputi :
2. Untuk pekerjaan pengerukan awal, harus didahului dengan penyelidikan tanah,
setidak-tidaknya meliputi test Spesific gravity dan Standard Penetration Test
(SPT) dan kadar garam (Salinity). Keadaan tanah dasar diperiksa untuk dua
keperluan, pertama kemudahannya untuk di keruk (Excavability) dan kedua
pengangkutannya (Transportability).
3. Penentuan/penetapan posisi alur pelayaran/kolam pelabuhan pada
Peta Sounding
4. Profil/potongan melintang, memanjang alur/kolam pelabuhan dengan
perhitungan volume keruk.
5. Jenis dan tipe serta kapasitas kapal keruk. Yang perlu diperhatikan dalam
menentukan jenis alat keruk berdasarkan jenis material tanah dasar adalah
sebagai berikut :
6. Pengerukan di daerah sekitarnya.

Klasifikasi Nilai N Jenis Tanah Slope


Tanah lempung <4 Lumpur 1 : 3-5
48 Lunak 1 : 2-3
8 20 Sedang 1 : 1,5-2
20 - 40 Keras 1 : 1-1,5
< 10 Lunak 1 : 2-3
Pasir 10 30 Sedang 1 : 1,5-2
30 - 50 Keras 1 : 1-1,5
Kerikil 1 : 1-1,5
Batu 1:1

C. LOKASI / AREA PEKERJAAN PENGERUKAN

1. Pekerjaan pengerukan dapat dilaksanakan di perairan yang meliputi : alur


laut bebas, alur angkutan perairan, alur pelayaran, alur masuk pelabuhan,anjir
atau terusan, kanal dan lokasi-lokasi lain.
2. Pekerjaan pengerukan dan atau penambangan harus memperhatikan
lokasi keruk dan atau tambang dengan memperhatikan zona-zona yang ada
antara lain zona keselamatan (Zafety zone), zona TSS (Trafficseparation
Scheme), zona STS (Ship to ship transfer) dan zona tempat labuh jangkar
(anchorage area), zona kabel laut, zona pipa instalasi bawah air, zona
pengeboran lepas pantai (Off shore drilling), zona pengambilan barang-barang
berharga, zona keamanan sarana bantu navigasi (SBNP), maupun zona-zona
lainnya yang diatur oleh ketentuan Internasional maupun instalasi Pemerintah
terkait.
3. Bagi pelaksana pekerjaan pengerukan/penambangan di zona
trafficseparation sheme atau lokasi lainnya yang merupakan alur pelayaran
yang ditentukan oleh pemerintah aupun IMO harus mematuhi segala
ketentuanantara lain yang telah diatur dalam Convention on Regulation for
Preventing Collition at Sea 1972 (colreg 1972).
D. LOKASI PEMBUANGAN HASIL PENGERUKAN

1. Tempat pembuangan material keruk yang lokasinya di perairan, idealnya


dibuang pada jarak 12 mil dari daratan danatau pada kedalaman lebih dari 20 m
ataulokasi lainnya setelah mendapat rekomendasi atau izin dari Direktorat
Jenderal perhubungan Laut,melalui ADPEL atau KAKANPEL setempat.
2. Tempat pembuangan material keruk di darat harus mendapat persetujuan dari
PEMDA setempat yang berkaitan dengan penguasaan lahan yang sesuai
RUTR.

E. KEGIATAN PEMERUMAN DAN PERHITUNGAN VOLUME KERUK

1. Kegiatan pemeruman yaitu pemeruman yang meliputi tiga tahap yakni


pemeruman awal (predredge sounding) untuk mengetahui kondisi awal
perairan yang akan dikeruk dan membuat desain atau perencanaan pekerjaan
pengerukan dan untuk memperhitungkan volume keruk, pemeruman
pelaksanaan pekerjaan pengerukan (progress sounding) untuk memantau
pelaksanaan pekerjaan pengerukan yang pemerumannya dilaksanakan berkala
dan pemeruman akhir (final sounding) untuk memperhitungkan volume keruk
yang telah dikerjakan.
2. Pelaksana pekerjaan pengerukan wajib mengirimkan hasil pemeruman final
pada DITJEN HUBLA untuk diteruskan/disiarkan pada Berita Maritim (Notice
to Marine)
3. Sebagai dasar pembuatan desain alur pelayaran/kolam pelabuhan dan atau
pekerjaan pengerukan lainnya, perhitungan volume keruk harus menggunakan
hasil pemeruman awal yang dilakukan dalam kurun waktu maksimum 2 (dua)
bulan setelah pelaksanaan pemeruman.
4. Pemeruman (Sounding) menggunakan Echo Sounder dengan frekuensi antara
200 KHz sampai 210 KHz.
5. Perhitungan volume keruk didasarkan pada luas penampang dikalikan panjang
pias ditambah volume pengendapan selama pekerjaan berlangsung dan atau
volume toleransi vertikal.
6. Besaran pengendapan atau tingkat pengendapan dan toleransi vertikal
sebagaimana ditentukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut untuk
masing-masing alur pelayaran dan atau kolam pelabuhan,

F. KEDALAMAN PERAIRAN KERUK

Pendalaman alur pelayaran atau kolam pelabuhan ditentukan berdasarkan permukaan


air,draft rencana angkutan perairan, pergerakan vertikal angkutanperairan,ruang
bebas lunas kapal, pasang surut dan kemudahan atau kelancaran masuknya angkutan
perairan atau lebar alur dalam 1 lajur atau 2 lajur.

G. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI

Dalam merencanakan biaya pengerukan, hal-hal yang perlu diperhatikan :


Pekerjaan persiapan (material yang harus dibersihkan)
Supervisi
BAB II
METODE PELAKSANAAN

2.1. UMUM

Aspek teknologi sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi. Umumnya,


aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode metode pelaksanaan
pekerjaan konstruksi. Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat dan aman, sangat
membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi.
Sehingga, target 3T yaitu tepat mutu/kualitas, tepat biaya/kuantitas dan tepat waktu
sebagaimana ditetapkan, dapat tercapai.
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, adakalanya juga diperlukan suatu
metode terobosan untuk menyelesaikan pekerjaan lapangan. Khususnya pada saat
menghadapi kendalakendala yang diakibatkan oleh kondisi lapangan yang tidak
sesuai dengan dugaan sebelumnya. Untuk itu, penerapan metode pelaksanaan
konstruksi yang sesuai kondisi lapangan, akan sangat membantu dalam penyelesaian
proyek konstruksi bersangkutan.
Konstruksi bangunan pantai memerlukan teknik khusus dalam pembuatannya.
Oleh sebab itu, maka metode pelaksanaan bangunan sangat diperlukan untuk
mengatasi masalahmasalah dalam pembangunan konstruksi bangunan tersebut.

Dalam pekerjaan pengerukan, sebelum dimulai terlebih dahulu harus diadakan


suatu penelitian, maksudnya agar pekerjaan pengerukan betul-betul berdaya guna dan
diusahakan se-ekonomis mungkin. Penelitian tersebut diantaranya:
1. Survey penampang
Survey ini dilakukan untuk mengetahui keadaan profil sungai pada saat sebelum
diadakan pengerukan, juga untuk mengetahui besar volume pengerukan yang
nanti akan dikerjakan. Survey penampang bias dilakukan dengan beberapa cara,
salah satunya dengan cara Echo Sounding. Echo Sounding yakni suatu cara
pengukuran kedalaman dengan menggunakan alat dengan getaran suara.
2. Survey keadaan tanah
Agar pemakaian jenis kapal keruk yang betul-betul tepat, maka harus dilakukan
penyelidikan tentang jenis tanah pada tempat-tempat yang bersangkutan.
Metode penyelidikan tanah biasa dilakukan antara lain:
a. Pengeboran
b. Jet Boring
Hasil dari methode-methode yang diatas didapatkan data-data tanah yang
diantaranya adalah jenis klasifikasi tanah, jenis butiran, kadar kelembaban, tebal
lapisan tanah, tebal lapisan lumpur,dll.
3. Penelitian tempat pembuangan
Agar diadapatkan suatu daerah pembuangan yang ekonomis dengan
memperhatikan beberapa faktor, maka perlu diteliti tempat untuk membuang hasil
pengerukan. Luas daerah pembuangan, kondisi topografi dan mengalirnya
kembali air sungai harus benar-benar diperhatikan.
4. Penelitian Hidrologi & Hidrometri
Yang dilakukan dalam penelitian hidrologi & hidrometri ini adalah untuk
menyelediki :
a. Tinggi air normal
b. Tinggi air maksimum
c. Tinggi air terendah
d. Kecepatan aliran air
e. Keadaan angin dan ombak
f. Pasang surut.
5. Lain-lain
Selain hal-hal yang telah disebut diatas, masih ada hal-hal yang perlu mendapat
perhatian antara lain:
a. Rintangan-rintangan yang ada, jembatan dan lain-lain yang akan menghambat
operasi kapal keruk.
b. Kedalaman air untuk operasi dan pemindahan kapal keruk.

2.2.1 METODE PENGERUKAN


Pekerjaan pengerukan secara garis besar dapat di bagi dalam tiga proses utama,
yakni penggalian, pengangkutan dan pembuangan.
Kapal yang dipakai pada masing-masing proses ini adalah sebagai berikut :

Pekerjaan Pengerukan
Pengerukan dengan Alat :
Cutter suction dredger
Hopper barge
Kapal bantu
Grab bucket dredger
Dipper dredger
Rock breaker
Lain-lain

Tug boat
Pengangkutan
Pusher boat
Hopper
barger
Pembuangan

Kapal bantu

Gambar 1.1 Komponen Proses Pengerukan


1. Metode pekerjaan pengerukan dapat dilaksanakan dengan pengerukan
sistem hidraulik (Kapal Keruk Hopper dan Kapal Keruk Cutter), pengerukan
dengan cangkram, pengerukan dengan timba dan pengerukan dengan sistem
lainnya.

2. Untuk material keruk yang keras, semisal karang, pekerjaan pengerukan


dapat dilaksanakan dengan cara penggalian material karang dengan
metode mekanikal kemudian pemindahan material keruk dengan sistem
pengerukan yang normal, penggalian material karang dengan metode
peledakan karang kemudian pemindahan material keruk dengan sistem
pengerukan yang normal dan sistem lainnya seperti penggalian material
karang dengan metode pemecahan karang melalui gelombang pendek atau
microwave, pemotongan karang dengan menggunakan peralatan tekanan
tinggi atau sistem lainnya. Penggalian material keruk/karang dengan
metode peledakan ini harus mendapat rekomendasi dari institusi yang
berwenang.
3. Kegiatan pengerukan yang hasil material keruknya tidak dimanfaatkan,
adalah kegiatan pekerjaan pengerukan untuk pendalaman alur pelayaran dan
kolam pelabuhan atau untuk keperluan lainnya, antara lain adalah
:pembangunan pelabuhan/dermaga, penahan gelombang, saluran air masuk
untuk sistem pendinginan (Water intake), pendalaman galangan kapal dan
lain-lain.
4. Kegiatan pengerukan yang hasil material keruknya dimanfaatkan
adalah kegiatan pekerjaan pengerukan untuk pengurugan atau reklamasi dan
pekerjaan pengerukan untuk penambangan.

A. PEMILIHAN JENIS ALAT KERUK

Masing-masing jenis alat keruk memiliki kinerja berbeda untuk berbagai


keadaan cuaca dan material tanah dasarnya. Ada beberapa tipe kapal keruk,
yang biasa dioperasikan, bermesin penggerak sendiri maupaun tidak. Biasanya
kapasitas kapal keruk antara 200-1000 HP.

Tipenya adalah :
1. Grab Dredger
Grab bucket beroperasi memakai crane pristman, kurang baik untuk tana
yang keras tetapi baik dioperasikan pada daerah-daerah yang sempit,
dengan kapasitas bucket 0,5 4 m3
2. Bucket Dredger
Tipe ini mempunyai bucket berbentuk lingkaran diputarkan oleh dumbler,
jenis ini untuk kapasitas yang kecil tidak mempunyai mesin penggerak
sendiri (unnavigable), selain itu ada juga yang mempunyai mesin
penggerak sendiri. Hasil pengerukannya dimasukan ke dalam suatu barge
(tongkang), efisiensi dredger ini rata-rata 70%, tapi biasanya tergantung
pula pada keadaan tanah, dan factor lain.
3. Dipper Dredger
Kapal keruk ini dilengkapi dengan 3 buah spud, dengan spud-spud ini
kapal keruk bergerak untuk beroperasi, sehingga alat bantu seperti sauh dan
kabel baja tidak diperlukan. Dredger ini memepunyai efisiensi 50 %.
4. Rock Cutter
Untuk mengerjakan batuan yang keras, maka dipakai Rock Cutter, ada dua
jenis Rock Cutter, yaitu:
a. Weight Tipe : memecahkan batu dengan tumbukan akibat gaya berat
sendiri.
b. Percussion tipe : Memecahkan batu dengan rock hammer/pemukul
batu.
5. Suction Dredger
Suction dredger, dikatakan suction karena dredger ini dilengkapi dengan
pompa hisap tekan yang dipasang dalam ruang mesin. Pengerukan
dilakukan dengan cara menghisap sedimen yang dikeruk. Jenis-jenisnya
ada yang mempunyai penggerak sendiri (navigable) ada pula yang
unnavigable.
Untuk jenis yang Unnavigable, ada tipe dengan cutter yakni dilengkapi
pisau untuk menghancurkan materialnya, juga tipe tanpa cutter, tipe ini
sebagai pengganti pisau dilengkapi oleh jet watter (semprotan air) untuk
material-material lunak.

5.1 Alat-alat yang penting:


a. Pompa Induk
Type pompa ini pada umumnya centrifugal single acting pump,
dihubungkan pada mesin dengan memakai kopling elastis.
b. Cutter dan Ujung pipa hisap.
Di ujung pipa hisap juga terdapat pisau yang dibuat dari baja cor,
demikian pula bagian ujung dari pipa hisap. Tipe cutter ini ada yang
terbuka juga tipe tertutup. Jenis terbuka terdiri dari pisau-pisau
biasa atau berbentuk sisir, sedangkan jenis cutter tertutup
mempunyai bentuk seperti spiral sehingga mempunyai daya hisap
yang besar. Tenaga yang dipakai untuk menggerakan cutter ini kira-
kira 1/5 hingga 1/3 dari tenaga pompa.
c. Ladder (tenaga penopang)
Ladder dipasang bersama-sama pipa hisap, pada kedalaman
maksimum pengerukan sudut ladder maksimum/kurang lebih 450
terhadap muka air.
d. Pipa-pipa
Pipa hisap (suction pipe) dihubungkan dengan pipa-pipa lainnya
yang ada dalam kapal melalui ladder. Pipa untuk membuang
dihubungkan dengan pipa apung dengan memakai pipa elastis
(karet), pipa apung ini ditopang oleh ponton-ponton.
e. Pompa pasir
Pompa pasir ini juga pompa centrifugal, debitnya dipengaruhi oleh
putaran impeller dan panjang pipa.

Secara umum, alat keruk dengan penggerak sendiri memiliki kelaikan laut yang
baik dan dapat digunakan di perairan laut terbuka. Sedangkan alat keruk tanpa
penngerak sendiri terutama jenis dengan jangkar tiang mudah dipengaruhi oleh
angin dan gelombang.
1. Oleh karena itu jenis alat keruk selain memperhatikan keadaan tanah
dasarnya ditetapkan setelah memperhatikan keadaan cuaca, sebagi berikut :
a. Gelombang, angin, arus, pasang surut dan daerah teduh
b. Hari kerja dan jam kerja
c. Volume kerukan dan kedalaman maksimum
d. Luas daerah keruk, tempat tambat dan volume lalu-lintas
e. Tempat berlindung alat keruk dan kapal serta fasilitas perbaikan.
f. Perlengkapan daya, suplai air dan fasilitas penjangkaran.
g. Gaya penjangkaran
h. Akomodasi untuk alat keruk dan kapal pendukung.

2. Pemilihan alat keruk harus disesuaikan dengan kondisi lapangan dan


jenis material dasar yang dikeruk sebagaimana tabel di bawah ini :
JENIS TANAH JENIS ALAT KERUK
Pump Hopper Grab Bucket Dipper Rock
Klasifikasi Keadaan N
Dredger Dredger Gredger Dredger Dredger Breaker
Sangat < 40 V V V
V
lunak

Lunak 4 V V V
V
Sedang 10 V V V
V
Tanah
Lempung Keras 10 V V
V
Lebih 20 V V V V
V
keras

Sangat 20 V V V V
V
keras
Lunak < 10 V V V V

Sedang 10 V V V V

Tanah Keras 20 V V V V
Kepasiran
Lebih 20 V V V V V
keras

Sangat 30 V V V V V
keras
Tanah Lunak < 30 V V V V V V
Lempung
Berkerikil Keras > 30 V V V V V V
Tanah Lunak < 30 V V V V V
Kepasiran
Berkerikil Keras > 30 V V V V V
Lebih 40 V V V V V
lunak
V V V V
Lunak 50 V
V V V V
Batu
Sedang 50
V V
Keras 60

Lebih 60 V V

2.2.2. Peralatan Kerja


Selain bahan bangunan, untuk pelaksanaan proyek ini juga diperlukan adanya
peralatan kerja sebagai sarana untuk membantu dan memudahkan
pelaksanaan pekerjaan. Sebagaimana halnya pengadaan barang, maka dalam
pengadaan dan pemilihan peralatan kerja harus dilakukan kiat khusus agar
pemilihan jenis peralatan kerja tersebut dapat menghasilkan efektifitas dan
produktifitas alat yang optimal, antara lain :
a. Merinci mengenai peralatan yang dibutuhkan.
b. Memperhitungkan banyaknya alat yang akan dipakai
sesuai dengan volume pekerjaan yang akan dilaksanaan.
c. Memperhitungkan kapasitas alat.
d. Memperhitungkan biaya alat (sewa/beli, pemeliharaan, dll).
e. Memperhitungkan daya tahan alat.

2.2.2. Diagram Analisa P engerukan

Analisa Pelaksanaan
Pengerukan

Analisis Evaluasi Analisis Resiko Pelaksanaan Tahap


Pekerjaan Pengerukan Final Sounding
Analisis didasarkan
Analisis didasarkan pada pada pengaruh Penyajian peta
jumlah volume material ketelitian ukuran dalam batimetri alur
yang dikeruk di setiap perhitungan volume pelayaran yang
spot selama pekerjaan material yang dikeruk sudah mencapai
pengerukan desain kedalaman
sesuai dengan
ketentuan yang
berlaku bagi alur
pelayaran di
Pelabuhan.
Gambar 1.2 Diagram Analisis Pelaksanaan Pengerukan

2.2.3. Pekerjaan pengerukan dasar laut

Pekerjaan pengerukan dasar laut ini dilakukan untuk membuat alur


pelayaran dan sebagai lokasi pembuatan jetty. Pekerjaan ini menggunakan
dragline. Pekerjaan pengerukan yang lain adalah pengerukan untuk kolam
pelabuhan, pekerjaan ini dilakukan di darat karena letak layout pelabuhan yang
menjorok ke daratan. Pekerjaan ini menggunakan excavator.
Adapun materialmaterial hasil pengerukan yang berupa batu karang dan pasir
dibuang ketempat yang telah ditentukan dengan menggunakan dump truk.

Gambar 7.2. Pengerukan dasar laut

2.2.3. Pekerjaan Galian

Pekerjaan galian dilakukan untuk memperoleh kedalaman tertentu


dimana pelindung kaki dan lapis batu pelindung konstruksi seawall akan
ditempatkan. Pelaksanaan pekerjaan galian dilakukan dengan menggunakan
excavator.
II.2.4. Alat yang digunakan dalam pekerjaan Pengerukan

GPS ( Digunakan operator untuk melihat lokasi yang akan di keruk,


melihat loaksi pembuangan / Dumping material hasil kerukan )

Clamshell / Cengkram ( Digunakan operator keruk untuk mengeruk


material sedimen yang kemudian di tamping di tongkang lumpur ( Split
Barge ). dan untuk diam pada lokasi pengerukan menggunakan Spud
( digunakan pada kedalaman <12m) dan Jangkar ( digunakan pada
kedalaman >12)

Bak lumpur / Split Barge ( Digunakan untuk menampung material hasil


kerusakan )
Tug Boat ( Kapal yang berfungsi untuk menarik Clamshell Untuk
berpindah pindah tempat )

Spud ( tiang Pancang yang digunakan agar Kapal tidak bergrak pada saat
pengerukan berlangsung ). Spud hanya efektif digunakan pada kedalaman
<12m, jika kedalaman >12m maka harus menggunakan Jangkar.
Dumping Proses Pengerukan Proses Cengkram

Material Hasil Kerukan Proses Pengerukan


28 NOVE

MBER 2013
BAB III.
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan

a) Pengerukan adalah pekerjaan mengubah bentuk dasar perairan/ laut untuk mencapai
kedalam dan lebar yang dikehendaki atau mengambil material dasar laut/ perairan
yang digunakan untuk keperluan tertentu.
b) Pada proyek pengerukan alur dan kolam pelabuhan dimasuksudkan untuk
mengurangi sedimen pada alur dan kolam pelayaran kapal yang masuk ke pelabuhan
agar tidak karam/kandas.
c) Biaya Pengerukan Operasional sangat besar maka harus dilakukan perhitungan yang
sangat matang.

3.2. Saran

a) Penggunaan alat harus lebih di perhatikan, dalam pengerjaan pengerukan harus baik
dan berfungsi secara baik dalam pengerjaannya.
b) Survey sedimen yang masuk ke Pelabuhan harus di perhatikan dan di perhitungkan
agar pekerjaan pengerukan tidak berjalan sia sia.