Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Irab dan Tanda-tanda Irab. Penyusunan
makalah adalah merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah Ilmu Nahwu di Universitas Islam Al Ihya
Cigugur Kuningan.
Dalam Penyusunan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis
penyusunan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran
dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada
pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Bapak Ustadz Iim
Suryahim, M.Pd.I sebagai dosen pengampu mata kuliah Ilmu Nahwu di semester ke II.
Akhirnya kami berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah
memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai amal ibadah, Amiin Yaa Rabbal
Alamiin.

Kuningan, Mei 2017

Kelompok
Dede Nuryaman

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Ilmu nahwu sangat berperan penting dalam pembelajaran kitab. Terutama untuk mendalami suatu
kitab. Kita harus faham betul bacaan-bacaan yang terkandung dalam kitab tersebut. Seperti pada
pembahasan kali ini. Kita akan menerangkan tentang irob.

Seperti halnya bahasa-bahasa yang lain, Bahasa Arab mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di dalam
mengungkapkan atau menuliskan sesuatu hal, baik berupa komunikasi atau informasi. Terutama dalam
memahami ilmu agama yang mana bersumber dari Al-quran dan Al-hadist yang mana diperlukan kaidah
nahwu yang mana di dalamnya terdapat kajian tentang Irob.

B. Rumusan Masalah.
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, sebagai berikut :
1. Apa pengertian irab ?
2. Apa saja pembagiannya ?
3. Apa saja tanda-tandairab?
C. Tujuan Masalah.

1. Untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Nahwu.


2. Untuk mengetahui pengertian dan latar belakang ilmu Nahwu.
3. Untuk mengetahui manfaat ilmu nahwu.
4. Untuk mengetahui sejarah lahirnya ilmu nahwu.
5. Untuk mengetahui cakupan ilmu nahwu.

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN IRAB.






"I'rab ialah perubahan akhir kalimah karena perbedaan amil yang memasukinya, baik secara lafazh
ataupun secara perkiraan."

Maksudnya: I'rab itu mengubah syakal tiap-tiap akhir kalimah disesuaikan dengan fungsi amil yang
memasukinya, baik perubahan itu tampak jelas lafazhnya atau hanya secara diperkirakan saja
keberadaannya.

perubahan
Maksudnya adalah perubahan dari dhommah ke fathah, dari fathah ke kasroh, dari dhommah ke
sukun, dst.
akhir kalimah

I'rob hanya membahas akhir kata saja, tidak di depan dan tidak di tengah kata.

karena perbedaan 'amil yang masuk ke dalam kalimat.


Perbedaan 'amil akan mengakibatkan perbedaan kedudukan suatu kata di dalam kalimat. Jadi
perubahan akhir kata disebabkan oleh kedudukannya (sebagai subjek, objek, dst) yang berbeda-
beda di dalam kalimat.

Lafazh


namanya amil, yang mengubah atau yang mempengaruhi akhir kalimah.

secara lafadz

Tanda akhir katanya jelas, terlihat, dan terbaca, seperti dhommah, fathah, kasroh.

atau muqoddaroh.

Tanda akhir katanya tidak terlihat dan tidak terbaca, dan ini dialami oleh kata-kata yang berakhiran
huruf 'illah (huruf berpenyakit). Huruf-huruf 'illah ada 3 : alif (/ ), ya (), dan wawu ().




I'rab menurut ahli Nahwu ialah perubahan akhir kalimah, baik secara perkiraan maupun secara
lafazh karena ada amil masuk yang dapat diketahui keberadaannya.
Contoh I'rob
Contoh perubahan secara lafadz

= zaidtelah datang;

Kata (Zaidun) berakhiran dhommah. Kenapa dhommah?

Karena 'amil dari kalimat ini (yaitu =telah datang) menyebabkan kedudukan Zaid menjadi
subjek (yang datang adalah si Zaid). bahwa subjek ber-i'rob rofa', dan tanda rofa' adalah
dhommah.

3
= aku telah melihat Zaid;

Kata ( Zaidan) berakhiran fathah. Kenapa fathah?

Karena 'amil dari kalimat ini (yaitu =saya melihat) menyebabkan kedudukan Zaid menjadi
objek (yang dilihat adalah si Zaid). bahwa objek ber-i'rob nashob, dan tanda nashob adalah fathah.

= aku telah berpapasan dengan Zaid;

Kata ( Zaidin) berakhiran kasroh. Kenapa kasroh?

Karena 'amil dari kalimat ini adalah huruf jarr (yaitu :


( bi) = dengan), dan setiap kata benda
yang didahului oleh huruf jarr, maka i'robnya adalah jarr (khofadh), dan tandanya adalah dengan
kasroh.

Kata "Zaid" ( )pada ketiga kalimat di atas mengalami perubahan di akhir katanya
secara lafadz (jelas terlihat dhommah, fathah, dan kasrohnya). Jika kata "Zaid" ( )diganti
dengan "Musa" () , maka perubahannya tidak secara lafadz, tetapi secara muqoddaroh,
karena kata mengandung huruf 'illat di akhirnya , yaitu alif (). Maka kalimatnya akan
menjadi:

( jaa-a Muusaa) = Musa telah datang.

( ro-aitu Muusaa) = Saya melihat Musa.

( marortu bi Muusa) = Saya berpapasan dengan Musa.

Perhatikan, kata ( ) tidak terlihat mengalami perubahan, namun sebenarnya kata "Musa"
( ) pada ketiga kalimat di atas mengalami perubahan (dhommah, fathah, dan kasroh) seperti
yang dialami oleh kata "Zaid" , akan tetapi perubahannya secara muqoddaroh (tersembunyi).

Contoh perubahan secara diperkirakan keberadaannya:


= Dia merasa takut;


= dia tidak akan merasa takut;


= dia tidak merasa takut;

= telah datang seorang pemuda;

= aku telah melihat seorang pemuda.

4
2. PEMBAGIAN I'RAB.



I'rab terbagi menjadi empat macam, yaitu I'rab rafa', I'rab nashab, I'rab khafadh dan I'rab jazm.

Diantara contoh dari i'rab-i'rab tersebut ialah sebagai berikut:

1. I'rab rafa', seperti:

= Zaid berdiri
2. I'rab nashab, seperti:

= aku telah melihat Zaid

3. I'rab khafadh, seperti:

= aku telah berpapasan dengan Zaid


4. I'rab jazm, seperti:


= dia tidak memukul
Catatan :

Catatan pertama:
o isim (kata benda) hanya memiliki 3 jenis i'rob, yaitu rofa', nashob, dan jarr.
o fi'il mudhori' (kata kerja masa sekarang/akan datang), i'robnya juga 3, yaitu rofa', nashob, dan jazm.
o fi'il madhi (kata kerja masa lampau), i'robnya tidak ada, karena fi'il madhi tidak bisa mengalami
perubahan pada akhir katanya.
o huruf, i'robnya juga tidak ada, huruf dihukumi mabni seperti fi'il madhi, yaitu tidak bisa mengalami
perubahan pada akhir katanya.
Catatan kedua:
o Tidak semua isim memiliki i'rob.
Ada beberapa isim yang tidak bisa mengalami perubahan di akhir katanya, seperti (hadza) = ini,
(alladzi) = yang, (mataa) = kapan, dll.
Isim-isim ini dinamakan isim mabni, sementara isim-isim yang dapat mengalami perubahan di akhir
katanya (yang memiliki i'rob) dinamakan isim mu'rob.
Catatan ketiga:
o Tidak semua tanda rofa' itu dhommah, tanda nashob itu fathah, tanda jarr itu kasroh, tanda jazm itu
sukun.

I'RAB ISIM






Diantara i'rab empat macam yang boleh memasuki isim hanyalah i'rab rafa', i'rab nashab dan i'rab
khafadh. Sedangkah i'rab jazm tidak boleh memasuki isim.
Maksudnya, i'rab-i'rab yang sering memasuki isim adalah sebagai berikut:

5
1. I'rab rafa' contoh:
= Salim seorang guru
2. I'rab nashab, contoh:
= aku telah melihat Salim
3. I'rab khafadh, contoh:
= aku telah berpapasan dengan Salim

I'RAB FIIL




Diantara irab empat macamyang boleh memasuki irab fiil adalah irab rafa, irab nashab, dan irab
jazm. Sedangkan irab khafadz tidak boleh memasuki fiil.
Maksudnya, diantara empat macam irab yang sering memasuki fiil ialah irab:

1. Rafa, contoh:
= dia menolong
= dia membaca
2. Nashab
= hendaknya dia menolong
= hendaknya dia membaca
3. Jazm
= dia tidak menolong
= dia tidak membaca
= dia tidak mengetahui

3. TANDA TANDA IRAB


a) Tanda irab rafa


Irab rafa mempunyai empat tanda, yaitu dhammah, wawu, alif dan nun.
Contohnya yaitu:
1) Dhammah
= zaid telah datang
= hindun seorang juru tulis
2) Wawu
= zaid-zaid itu berdiri

= orang-orang yang sakeh itu mendapat keberuntungan
3) Alif


= dua zaid itu berdiri
4) nun
= mereka berdua sedang melakukan ( sesuatu)
= kamu berdua sedang melakukan (sesuatu)

= kamu (seorang perempuan) sedang melakukan (sesuatu)
Lafazh yang di rafa kan dengan memakai dhammah

Dhammah menjadi alamat bagi irab rafa pada empat tempat, yaitu pada isim mufrod, jamak
taksir, jamak muannats salim, dan fiil mudhari yang pada akhirnya tidak bertemu dengan salah satu
pun ( dari alif tatsniyah, wawu jamak, atau ya muannats mukhatabah).

6
Contohnya :

1) isim mufrod
= ilmu itu cahaya
= zaid berdiri
2) jamak taksir

= kitab-kitab itu berisi ilmu

= zaid-zaid itu berdiri
3) jamak muannats salim
= Hindun-hindun itu berdiri

= wanita-wanita muslim itu menuntut ilmu

4) fiil mudhari yang pada akhirnya tidak bertemu alif dhamir tatsniyah
= dia mengetahui
= dia mermukul
Lafadz yang dirafakan dengan wawu

Wawu me menjadi tanda i'rab rafa' dalam 2 (dua) tempat: jamak mudzakkar salim (kata benda
jamak beraturan untuk laki-laki), asma'ul khamsah (kata benda yang lima).

Asmaul khomsah itu adalah yaitu


= ayahmu

= saudaramu
= iparmu atau mertuamu
= mulutmu
= yang mempunyai harta
Contohnya :
1) jamak mudzakkar salim
= sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman
= zaid-zaid itu telah berdiri
2) asmaul khomsah
= bahwasannya saudaramu yaitu murid yang mempunyai akhlak

yang mulia

Lafadz yang dirafakan dengan alif

Alif menjadi alamat bagi irab rafa khusus pada isism tatsniyah.
Contoh :

= dua zaid itu telah datang


= dua orang muslim itu telah datang


= ini adalah dua buah kitab
Lafadz yang dirafakan dengan nun

Huruf nun menjadi tanda i'rab rafa' pada fi'il (kata kerja) mudharik yang akhirnya bertemu dengan
dhamir tasniyah (kata ganti dua orang), dhamir jamak mudzakar(kata ganti jamak), dan dhamir
mu'annats mukhatabah (kata ganti perempuan tunggal).

Contoh :
1) dhamir tasniyah
= Mereka berdua (laki-laki) sedang malakukan (sesuatu)
= kamu berdua sedang malakukan (sesuatu)

7
2) dhamir jamak mudzakar
= mereka (laki-laki) sedang melakukan (sesuatu)

= kalian (laki-laki) sedang melakukan (sesuatu)
3) dhamir mu'annats mukhatabah
= kamu (seorang perempuan) sedang melakukan (sesuatu)

b) Tanda Irab Nasab.





I'rab nashab mempunyai lima alamat yaitu fathah, alif, kasrah, ya', membuang nun.
contohnya :
1) fathah
= aku telah mengenal bakar
= aku telah melihat zaid
2) alif
= aku telah mengenal saudaramu

= aku telah melihat ayahmu
3) kasrah
= aku telah mengenal guru-guru wanita

= aku telah melihat wanita-wanita muslim
4) ya
= aku telah melihat zaid-zaid

= aku telah melihat dua zaid

5) membuang nun
= kamu ( seorang perempuan) tidak akan dapat berbuat.

= kalian tidak akan dapat berbuat

= mereka tidak akan dapat berbuat
Lafadz yang di nasab kan dengan memakai fathah

Fathah menjadi alamat bagi irab nashab berada pada tiga tempat yaitu pada isim mufrod, jamak
taksir dan fiil mudhari bilamana kemasukan padanya amil yang menashabkan dan pada akhir
kalimatnya tidak bertemu dengan sesuatupun. (dari alif tatsniyah, wawu jamak,dan nun taukid).

Contoh :
1. Isim mufrod
= aku telah melihat zaid
= aku telah membeli sebuah kitab

2. Jamak taksir
= aku telah melihat zaid-zaid
= aku telah membali beberapa buah kitab
3. fiil mudhari bilamana kemasukan padanya amil yang menashabkan dan pada akhir kalimatnya
tidak bertemu dengan sesuatupun. (dari alif tatsniyah, wawu jamak,dan nun taukid).

= dia tidak akan dapat berbuat
= kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini.....(Thaha; 91)

Lafadz yang di nasab kan dengan memakai alif

Alif menjadi alamat bagi irab nashab berada pada asmaul khomsah,

Contoh :

8
Asmaul khomsah
= aku telah melihat ayahmu dan saudaramu
Lafadz yang di nasab kan dengan memakai kasrah

Kasrah menjadi alamat irab nashab hanya terdapat pada bentuk jamak muannats salim saja.

Contoh :
Jamak muannats salim
( bentuk jamak dari lafadh
)
( bentuk jamak dari lafadh )
Lafadz yang di nasab kan dengan memakai ya

Ya menjadi alamat bagi irab nashab pada isim tatsniyah dan jamak mudzakar salim.
Contoh:
1. Isim tatsniyah
= aku telah membaca dua buah kitab
Huruf ya di sukun kan dan huruf sebelumnya di fathah kan
2. Jamak mudzakaar salim
= aku telah melihat guru-guru
Huruf ya di sukun kan dan huruf sebelumnya di kasrah kan

Lafadz yang di nasab kan dengan membuang nun.

Membuang nun menjadi alamat pada irab nashb pada afaalul khomsah. Yang di rafa kan dengan
memakai nun itsbat.

Seperti lafadz:
= hendaknya mereka berdua mengetahui
= hendaknya kamu berdua mengetahui
= hendaknya mereka mengetahui
= hendaknya kalian mengetahui

= hendaknya engkau perempuan mengetahui

c) Tanda irab khafadh.

Irab khafadh mempunyai tiga alamat, yaitu kasroh, ya, dan fathah.
Contoh:
1. Kasroh
= aku telah bersua dengan zaid




= Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
2. Ya
= aku telah berjumpa dengan dua zaid
= aku telah berjumpa dengan aid-zaid itu
3. Fathah

= aku telah bersua dengan ahmad

= aku telah shalat di beberapa masjid
Lafadz yang di khafadh kan dengan mamakai kasroh

Kasroh menjadi alamat bagi irab khafadh pada tiga tempat, yakni pada isim mufrod yang
menerima tanwin, jamak taksir yang menerima tanwin, dan jamak muannats salim.

9
Contoh:
1. isim mufrod yang menerima tanwin
= aku telah bersua dengan zaid
= akutelah menulis dengan pena.
2. jamak taksir yang menerima tanwin
= aku telah berjumpa dengan beberapa lelaki

= aku telah mengambil ilmu-ilmu itu dari beberapa kitab

3. jamak muannats salim

= aku telah berjumpa dengan wanita-wanita muslim


= sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi...( Ali Imran; 190)
Lafadz yang di khafadh kan dengan mamakai ya

Ya menjadi alamat irab khafadh pada tiga tempat, yaitu asmaul khomsah, isim tatsniyah, dan
jamak mudzakkar salim.

Contoh:
1. asmaul khomsah



= Aku telah bertemu dengan ayahmu, saudaramu, mertuamu dan pemilik harta
2. isim tatsniyah
= aku telah duduk di dua rumah

= aku telah bersua dengan dua zaid yang muslim
3. jamak mudzakar salim
= aku telah bersua dengan zaid-zaid yang muslim itu

Lafadz yang di khafadh kan dengan mamakai fathah

fathah menjadi alamat irab khafadh pada isim yang tidak menerima tanwin (ghair munsharif).
Isim yang tidak menerima tanwin itu banyak, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. isim alam yang berwazan afal,

= aku telah bertemu dengan ahmad dan akram
2. alam ajam yang hurufnya lebih dari tiga
= aku telah bertemu dengan yusuf dan zaid
3. bentuk shighat muntahal jumu

= aku telah shalat di beberapa masjid

= sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang
4. alam muannts yang memakai ta marbuthah
= aku telah bersua dengan thalhah dan fatimah

5. alam tarkib mazji
= aku telah bersua dengan balabak
6. alam dan adal
= aku telah bersua dengan umar dan zuhal

d) Tanda irab jazm


Irab jazm mempunyai dua alamat yaitu, sukun dan membuang huruf illat atau nun tanda rafa.
Contoh :
1. Sukun


10
2. Membuang huruf illat
menjadi
menjadi

3. Membuang nun tanda rafa





Lafadz yang di jazm kan dengan mamakai sukun

Sukun menjadi alamat irab jazm pada fiil mudhori yang shahih akhir.
Fiil mudhori yang shahih akhir adalah fiil mudhori yang pada bagian akhirnya tidak berhuruf illat,

yaitu alif, ya dan wawu. Seperti
Lafadz yang di jazm kan dengan membuang huruf illat dan nun tanda rafa.

Membuang itu menjadi tanda bagi irab jazm pada fiil mudhari yang mutal akhir dan pada fiil-
fiil yang di rafa kannya dengan nun tetap.

Contoh:
1. Yang mutal (berhuruf illat)
menjadi
menjadi
2. Yang tanda rafa nya dengan nun
menjadi

menjadi

menjadi

11
BAB III
KESIMPULAN

I'rab ialah perubahan akhir kalimah karena perbedaan amil yang memasukinya, baik secara lafazh
ataupun secara perkiraan. Maksudnya: I'rab itu mengubah syakal tiap-tiap akhir kalimah disesuaikan
dengan fungsi amil yang memasukinya, baik perubahan itu tampak jelas lafazhnya atau hanya secara
diperkirakan saja keberadaannya.

I'rab terbagi menjadi empat macam, yaitu I'rab rafa', I'rab nashab, I'rab khafadh dan I'rab jazm.
Tanda irab rafa yaitu dhammah, wawu, alif dan nun. Tanda Irab Nasab yaitu fathah, alif, kasrah,
ya', membuang nun. Tanda irab khafadh yaitu kasroh, ya, dan fathah. Dan tanda irab jazm yaitu,
sukun dan membuang huruf illat atau nun tanda rafa.

DAFTAR PUSTAKA

1. M. Sholihudin Shofwan, Pengantar atau Memahami Al-Ajurumiyyah,(Jombang:Darul Hikmah,1999).


2. K.H Moch. Anwar.1981. Revisi Ilmu Nahwu Terjemahan Matan Al- Jurumiyah dan Imrithy. Subang:
Sinar Baru Algensindo.
3. http://www.facebook.com/note.php?note_id=104455305985

12