Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kebijakan deviden merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dengan keputusan perusahaan. Deviden adalah keputusan apakah laba yang
diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham
dalam bentuk deviden atau akan ditahan untuk menambah modal guna
pembiayaan investasi dimasa yang akan datang.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan kebijakan deviden?
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi kebijakan deviden?
3. Kebijakan deviden dibagi menjadi berapa macam?

1.3. Tujuan
4. Untuk mengetahui ilmu tentang kebijakan deviden
5. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden
6. Untuk mengetahui tentang macam-macam kebijakan deviden

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kebijakan Deviden


Kebijakan deviden merupakan suatu keputusan apakah laba yang
diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai
deviden atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan
investasi dimasa yang akan datang.

2.2. Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Deviden


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya deviden yang
dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham antara lain :
1. Posisi Likuiditas Perusahaan
Likuiditas perusahaan sangat besar pengaruhnya terhadap investasi
perusahaan dan kebijakan pemenuhan kebutuhan dana. Deviden bagi
perusahaan merupakan kas keluar, maka semakin besar posisi kas dan
likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan
perusahaan untuk membayar deviden.
2. Kebutuhan Dana Untuk Membayar Hutang
Apabila perusahaan mengambil hutang untuk membiayai ekspansi atau
untuk mengganti jenis pembiayaan yang lain, perusahaan tersebut
menghadapi dua pilihak yaitu perusahaan membiayai hutang itu pada saat
jatuh tempo atau menggantikan dengan jenis surat berharga yang lain. Jika
keputusannya membayar hutang tersebut, maka biasanya perlu untuk
menahan laba.
3. Tingkat Ekspansi Aktiva
Semakin cepat suatu perusahaan berkembang, semakin besar kebutuhan
untuk membiayai ekspansi aktivanya, perusahaan cenderung untuk
menahan laba daripada membayarkannya dalam bentuk deviden.

2
4. Stabilitas Laba
Suatu perusahaan yang mempunyai laba stabil seringkali dapat
memperkirakan berapa besar laba dimasa yang akan datang. Perusahaan
seperti ini biasanya cenderung membayar DPR yang tinggi, daripada
perusahaan yang labanya berfluktuasi. Deviden yang lebih rendah akan
lebih mudah untuk dibiayai apabila laba menurun pada masa yang akan
datang.

2.3. Macam-Macam Kebijakan Deviden


1. Kebijakan Deviden Yang Stabil
Artinya jumlah deviden per lembar dibayarkan setiap tahun tetap selama
jangka waktu tertentu meskipun pendapatan perlembar saham per
tahunnya berfluktuasi.
2. Kebijakan Deviden Dengan Penetapan Jumlah Deviden Minimal
Ditambah Jumlah Ekstra Tertentu
Artinya kebijakan ini menentukan jumlah rupiah minimal deviden
perlembar saham setiap tahunnya apabila keuntungan perusahaan lebih
baik, akan membayar deviden ekstra.
3. Kebijakan Deviden Dengan Penetapan Deviden Payout Ratio Yang
Konstan
Artinya kebijakan ini memberikan deviden yang besarnya mengikuti
besarnya laba yang diperoleh oleh perusahaan. Semakin besar laba yang
diperoleh, semakin besar deviden yang dibayarkan dan sebaliknya. Dasar
yang digunakan sering disebut deviden payout ratio.
4. Kebijakan Deviden Yang Fleksibel
Artinya besarnya setiap tahun disesuaikan dengan kondisi finansial dan
kebutuhan finansial dari perusahaan yang bersangkutan.

3
2.4. Kebijakan Stock Deviden
Adalah kebijakan yang pembayaran devidennya kepada pemegang
saham dalam bentuk saham bukan uang tunai. Pemberian deviden tidak akan
mengubah besarnya jumlah modal sendiri, tetapi akan mengubah komposisi
dari modal sendiri perusahaan yang bersangkutan, karena pada dasarnya
pemberian stock deviden ini akan mengurangi pos laba ditahan dan akan
ditambah ke pos modal saham.

2.5. Kebijakan Stock Splits


Merupakan kebijakan untuk meningkatkan jumlah lembar saham
dengan cara pemecahan jumlah lembar saham menjadi jumlah lembar yang
lebih banyak dengan pengurangan nilai nominal saham yang lebih kecil secara
proporsional. Oleh karena itu dengan stock splits harga saham menjadi lebih
murah. Tujuan stock splits adalah untuk menempatkan harga pasar saham
dalam trading range tertentu.

2.6. Teori-Teori Kebijakan Deviden


1. Teori Deviden Tidak Relevan
Modigliani dan Miller (MM) berpendapat nilai suatu perusahaan
tidak ditentukan oleh besar kecilnya Devidend Payout Ratio, tapi
ditentukan oleh laba bersih sebelum pojok dan kelas resiko perusahaan.
Jadi menurut MM, deviden tidak relevan untuk diherpitungkan karena
tidak akan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Menurut MM
kenaikan nilai perusahaan dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk
mendapatkan keuntungan atau earning power dari asset perusahaan.
Pernyataan MM ini didasarkan pada beberapa asumsi seperti :
a. Pasar modal yang sempurna dimana para investor bersikap rasional
b. Tidak ada biaya emisi saham
c. Tidak ada pajak
d. Leverage tidak berpengaruh terhadap biaya modal
e. Para investor dan manajer mempunyai informasi yang sama

4
f. Distribusi pendapatan diantara deviden dengan laba ditahan tidak
berpegnaruh terhadap biaya ekuitas
g. Kebijakan capital budgeting terlepas dari kebijakan deviden
Beberapa ahli menentang pendapat MM tentang deviden tidak
relevan dengan menunjukkan adanya biaya emisi saham baru yang akan
mempengaruhi nilai perusahaan. Modal sendiri dapat berasal dari laba
ditahan dan menerbitkan saham biasa baru. Jika modal sendiri berasal dari
laba ditahan, biaya modal sendiri sebesar Ks (biaya modal sendiri dari laba
ditahan). Tapi bila berasal dari saham biasa baru biaya modal sendiri
adalah Ke (biaya modal sendiri dari saham biasa baru). Jika ada pajak
maka penghasilan investor dari deviden dan dari capital gains (kenaikan
harga saham) akan dikenai pajak. Seandainya tingkat pajak untuk deviden
dan capital gains adalah sama, investor cenderung lebih suka menerima
capital gains daripada deviden karena pajak pada capital gains baru
dibayar saat saham dijual dan keuntungan diakui.
2. Teori The Bird in The Hand
a. Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri (Ks)
perusahaan akan naik jika DPR rendah karena investor lebih suka
menerima deviden daripada capital gains. Menurut mereka, investor
memandang deviden yield (D1/Po) lebih pasti daripada capital gains
yield (9). Perlu diingat bahwa dilihat dari sisi investor, Ks adalah
tingkat keuntungan yang disyaratkan investor pada saham. Ks adalah
keuntungan dari deviden (deviden yield) ditambah keuntungan dari
capital gains (capital gains yield).
b. Modiglioni dan Miller menganggap bahwa argumen Gordon dan
Lintner ini merupakan suatu kesalahan (MM menggunakan istilah
The Bird in The Hand Fallacy). Menurut MM pada akhirnya investor
akan kembali menginvestasikan deviden yang diterima pada
perusahaan yang sama atau perusahaan yang memiliki resiko yang
hampir sama.

5
3. Teori Perbedaan Pajak
a. Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Mereka
menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan deviden
dan capital gains, para investor lebih menyukai capital gains karena
dapat menunda pembayaran pajak. Oleh karena itu investor
mensyaratkan suatu tingkat keuntungan yang lebih tinggi pada saham
yang diberikan deviden yield tinggi, capital gains yield rendah dari
pada saham dengan deviden yield rendah, capital gains yield tinggi.
Jika pajak atas deviden lebih besar dari pajak atas capital gains,
perbedaan ini akan makin terasa.
b. Jika manajemen percaya bahwa teori Deviden tidak relevan dari MM
adalah benar, maka perusahaan tidak perlu memperdulikan berapa
besar deviden yang harus dibagi. Jika mereka menganut teori The
Bird in The Hand, mereka harus membagi seluruh EAT dalam bentuk
deviden. Dan bila manajemen cenderung mempercayai teori perbedaan
pajak (Tax Differential Theory), mereka harus menahan seluruh EAT
atau DPR = 0%. Jadi ketiga teori yang telah dibahas mewakili kutub-
kutub ekstrim dari teori tentang kebijakan deviden. Sayangnya test
secara empiris belum memberikan jawaban yang pasti tentang teori
mana yang paling benar.
4. Teori Signaling Hypothesis
a. Ada bukti empiris bahwa jika ada kenaikan
deviden, sering diikuti dengan kenaikan harga saham. Sebaliknya
penurunan deviden pada umumnya menyebabkan harga saham turun.
Fenomena ini dapat dianggap sebagai bukti bahwa para investor lebih
menyukai deviden daripada capital gains. Tapi MM berpendapat
bahwa suatu kenaikan deviden yang diatas biasanya merupakan suatu
sinyal kepada para investor bahwa manajer perusahaan meramalkan
suatu penghasilan yang lebih dimasa mendatang. Sebaliknya, suatu
penurunan deviden atau kenaikan deviden yang dibawahi kenaikan

6
normal (biasanya) diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa
perusahaan menghadapi masa sulit diwaktu mendatang.
b. Seperti teori deviden yang lebih, teori
signaling hypothesis ini juga sulit dibuktikan secara empiris. Adalah
nyata bahwa perubahan deviden mengandung beberapa informasi. Tapi
sulit dikatakan apakah kenaikan dan penurunan harga setelah adanya
kenaikan dan penurunan deviden semata-mata disebabkan oleh efek
sinyal atau disebabkan karena efek sinyal dan preferensi terhadap
deviden.
5. Teori Clientele Effect
a. Teori ini menyatakan bahwa kelompok
(clientele) pemegang saham yang berada akan memiliki preferensi
yang berbeda terhadap kebijakan deviden perusahaan.
b. Kelompok pemegang saham yang
membutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu deviden
payout ratio yang tinggi. Sebaliknya kelompok pemegang saham yang
tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan
menahan sebagian besar laba bersih perusahaan.
c. Jika ada perbedaan pajak bagi individu
(misalnya orang lanjut usia dienai pajak lebih ringan) maka kelompok
pemegang saham yang dikenai pajak tinggi lebih menyukai capital
gains karena dapat menunda pembayaran pajak. Kelompok ini lebih
senang jika perusahaan membagi deviden yang kecil. Sebaliknya
kelompok pemegang saham yang dikenai pajak relatif rendah
cenderung menyukai deviden yang besar.
6. Pengujian Empiris
a. Sejumlah besar studi empiris telah
melakukan untuk memecahkan kontroversi tentang apakah kebijakan
deviden mempengarui kemakmuran (wealth) pemegang saham.
b. Bukti empiris menunjukkan bahwa pada
umumnya perusahaan di Amerika Serikat cenderung memberikan

7
deviden yang tepat jumlahnya atau meningkat 1 secara konstan dari
waktu ke waktu. Jarang sekali mereka memotong atua meniadakan
pembayaran deviden. Penemuan ini mendukung teori signaling
hypothesis.

2.7. Kebijakan Deviden Dalam Praktek


1. Pada prakteknya perusahaan cenderung memberikan deviden dengan
jumlah yang relatif atau meningkat secara teratur, kebijakan ini
kemungkinan besar disebabkan oleh asumsi bahwa : investor melihat
kenaikan deviden sebagai suatu tanda baik bahwa perusahaan memiliki
prospek cerah demikian sebaliknya. Hal ini membuat perusahaan lebih
senang mengambil jalan aman yaitu tidak menurunkan pembayaran
deviden dan investor cenderung lebih menyukai deviden yang tidak
berfluktuasi (deviden yang stabil).
2. Pada prakteknya, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi manajemen
dalam menentukan kebijakan deviden, antara lain :
a. Perjanjian hutang
Pada umumnya perjanjian hutang antara perusahaan dengan kreditor
membatasi pembayaran deviden.
b. Pembatasan dari saham proferen
Tidak ada pembayaran deviden untuk saham biasa jika deviden saham
preferen belum dibayar.
c. Tersedianya kas
Deviden berupa uang tunai (cash devidend) hanya dapat dibayar jika
tersedia uang tunai yang cukup. Jika likuiditas baik, perusahaan dapat
membayar deviden.
d. Pengendalian
Jika manajemen ingin mempertahankan kontrol terhadap perusahaan,
ia cenderung untuk segan menjual saham baru sehingga lebih suka
menahan laba guna memenuhi kebutuhan dana/baru.
e. Kebutuhan dana untuk investasi

8
Perusahaan yang berkembang selalu membutuhkan dana baru untuk
diinvestasikan pada proyek-proyek yang menguntungkan. Sumber
dana baru yang merupakan modal sendiri (equity) dapat berupa
penjualan saham baru dan laba ditahan.
f. Fluktuasi laba
Jika laba perusahaan cenderung stabil, perusahaan dapat membagikan
deviden yang relatif besar tanpa takut harus menurunkan deviden jika
laba tiba-tiba merosot, sebaliknya jika laba perusahaan berfluktuasi,
deviden sebaiknya kecil agar kestabilannya terjaga.

2.8. Menentukan Kebijakan Deviden


1. Tidak benar bahwa perusahaan seharusnya membagikan deviden sebesar-
besarnya. Apabila dana yang diperoleh oleh operasi perusahaan bisa
digunakan dengan menguntungkan deviden tidak perlu dibagikan terlalu
besar.
2. Karena ada keengganan untuk menurunkan pembayaran deviden per
lembar saham ada baiknya kalau perusahaan menentukan deviden dalam
jumlah (dan rasio payout) yang tidak terllau besar. Dengan demikian
memudahkan perusahaan untuk meningkatkan pembayaran deviden kalau
laba perusahaan meningkat dan tidak perlu segera menurunkan
pembayaran deviden kalau laba menurun.
3. Apabila memang perusahaan menghadapi kesempatan investasi yang
menguntungkan, lebih baik perusahaan mengurangi pembayaran deviden
daripada menerbitkan saham baru. Penurunan pembayaran deviden
mungkin diikuti dengan penurunan harga saham, tetapi apabila pasar
modal efisien harga akan menyesuaikan kembali dengan informasi yang
sebenarnya (yaitu adanya investasi yang menguntungkan).

2.9. Contoh Soal-Soal Kebijakan Deviden


1. PT. Sejahtera saat ini memiliki earning per share sebesar 4800. tingkat
keuntungan yang disyaratkan oleh pemegang saham Ks adalah 12% dan

9
harga saham saat ini adalah 40.000,-. Perusahaan mengalami pertumbuhan
sebesar 5% pada pendapatan (earning), deviden dan nilai pasar dari waktu
ke waktu pada masa lalu, dan berharap bahwa tingkat pertumbuhan
tersebut dapat bertahan. Menggunakan model penilaian saham hitunglah
deviden tahun depan yang diantisipasi.
Berapa deviden payout ratio yang diantisipasi ?
Jawab :
Menggunakan rumus Gordon Model
D1
Po =
Ks g

Po = Rr 40.000
g = 5%
Ks = 12%
D1
Maka = 40.000 =
0,12 0,05

D1 = 2.800
EPS1 = EPSo x (1 + g)
= 4800 x (1 + 0,05)
= 5.040
Deviden payout ratio tahun depan adalah :
D1 2.800
= = 55,55%
EPS1 5.040

2. PT. Abadi mengalami pertumbuhan yang baik selama 10 tahun terakhir.


Namun demikian, penjualan dan pendapatan saat ini telah menurun akibat
persaingan yang keras. Rata-rata EPS (earning per share) dimasa silam
adalah 500,- per saham dan deviden payout ratio sekitar 40%. Saham
dijual seharga 2.500,- saat untuk tahun 1993. Pendapatann menurun
menjadi 300,- per saham. Penurunan ini dianggap bersifat sementara
sehingga deviden tetap dibagikan sebesar 200,- jumlah saham beredar 1
juta.

10
Informasi baru telah mengubah penilaian terhadap prospek pendapatan
untuk 1994. sekarang diyakini bahwa pendapatan akan menurun menjadi
150,- per saham dan nilai menjadi 160,- per lembar pada 1995.
Manajemen sedang mempertimbangkan untuk mempertahankan deviden
sebesar 200,- untuk 1994 dan 1995. Neraca perusahaan saat ini adalah :
Neraca
31 Desember 1993
(dalam jutaan)
Kas 100 Piutang Dagang 200
Persediaan 400 Hutang Wesel 250
Piutang 500
Hutang Lancar 4.500
Aktiva Lancar 1.000
Hitang Jangka Panjang 480
Aktiva Tetap 1.000 Saham Biasa 1.000
(nom : 1000)
Laba Ditahan 70
Total Aktiva 2.000 Total Pasiva 2.000
1) Apakah mungkin perusahaan mempertahankan deviden sebesar 200,-
per saham?
2) Dapatkah perusahaan mengganti deviden berupa kas dengan 10%
stock deviden?
Jawab :
1) Diasumsikan bahwa perusahaan memperoleh pendapatan 150,- per
saham pada 1994 dan 160,- per saham pada 1995. Posisi laba ditahan
untuk 1994 dan 1995.
1994 1995
Laba ditahan awal 70 juta 20 juta
Tambah : Pendapatan (1 juta saham) 150 juta 160 juta
Kurangi : Deviden (200/lembar) 200 juta 200 juta
Laba ditahan akhir 20 juta -20 juta
Pada tahun 1994, perusahaan masih dapat membagikan deviden
sebesar 200/lembar, tapi tidak untuk 1995. Pada tahun 1995 laba
ditahan plus pendapatan hanya 180 juta. Sedangkan pembayaran
deviden 200/lembar memerlukan dana 200 juta.

11
2) Pemberian stock deviden sebsar 10% memerlukan kopitulasi dari laba
ditahan berdasarkan harga pasar saham. Artinya sejumlah dana harus
ditransfer dari rekening laba ditanahan ke rekening modal saham dan
agro saham, 10% stock deviden artinya perusahaan harus menerbitkan
10% x 1 juta saham beredar = 100.000 saham baru.
Harga pasar saham pada 1994 adalah 2500 dan mungkin lebih pada
1995. ini berarti perusahaan memerlukan dana sebesar 100.000 x
2.500 = 250 juta, karena kebutuhan dana 250 juta ini melebihi dana
yang tersedia pada 1994 (laba ditahan diawal dan pendapatan) sebesar
220 juta, proposal ini tidak dapat dilaksanakan, demikian pula halnya
untuk tahun 1995.

2.10. Analisis Voluasi Saham


Perusahaan ditentukan oleh perubahan dari laba perusahaan yang
tercermin dalam kinerja perusahaan, hal tersebut menyebabkan nilai intriks
perusahaan menjadi ukuran yang sangat penting bagi investor untuk
mengambil keputusan dalam membeli saham suatu perusahaan. Untuk itula
perlu melakukan voluasi sebelum mengambil keputusan investasi voluasi
saham adalah mengestimasi nilai saham yang sebenarnya (intrinsik volup)
berdasarkan data fundamentalnya, hasil dari voluasi saham nantinya akan
menjadi informasi yang sangat berharga bagi investasi yang tidak menyukai
resiko sebelum mengambil keputusan investasi. Pada saat penawaran saham
yang ke 2 kalinya dengan mengaplikasikan metode pendekatan arus kas
terdiskonto dan perbandingan data pasar. Walaupun harga saham berubah
setiap waktu, namun dengan mengetahui nilai wajarnya, kita akan lebih
tenang dalam menghadapi gejolak pasar. Selain itu sebelum membeli saham,
investasi disarankan untuk memilik saham-saham perusahaan yang memiliki
kinerja yang baik.

12
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Kebijakan deviden merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dengan keputusan pendanaan perusahaan. Kebijakan deviden adalah
keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan
dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk deviden atau akan ditahan
untuk menambah modal guna pembiayaan investasi dimasa yang akan datang.
Pembagian deviden hanya akan mempengaruhi harga saham apabila
dengan pembagian tersebut para pemodal berubah pengharapan mereka
terhadap prospek dan resiko perusahaan. Dalam situasi seperti itu, pembagian
deviden dapat menaikkan atau menurunkan harga saham. Tetapi kalau para
pemodal tidak berubah pengharapan mereka, maka kebijakan deviden tidak
akan mempengaruhi harga saham.
Deviden juga mungkin dibagikan dalam bentuk saham. Perusahaan
juga dapat membagikan dana dengan cara membeli kembali sebagian saham.
Kedua cara tersebut tidak akan mempengaruhi kemakmuran para pemegang
saham apabila pasar modal tidak berubah pengharapan mereka dan pembelian
saham dilakukan dengan harga yang wajar. Disamping kedua cara tersebut,
perusahaan kadang-kadang memecah saham dengan maksud agar saham yang
bersangkutan menjadi lebih likuid diperdagangkan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti. 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan.


Yogyakarta

Lukas Setia Atmaja Ph.D. 2008. Teori dan Praktek Manajemen Keuangan, Ardi :
Yogyakarta.

www.google.com

14
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat
dan hidayahNya kami dapat menyelesaikan tugas Manajemen Keuangan. Kami
mengucapkan terima kasihi kepada Bapak Abd. Rokim, SE, M.Si selaku Dosen
Pengampuh yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini.
Tugas ini berjudul Kebijakan Dividen, kami mengharapkan tugas paper
ini dapat menunjang kegiatan perkuliahan sesuai dengan maksud dan tujuan bagi
Dosen Pengampuh sebagaimana mestinya. Serta dapat bermanfaat untuk kita
semua serta dapat digunakan sebagai acuan untuk kegiatan mata perkuliahan.
Demikian tguas paper ini yang dapat kami sajikan kepada Dosen
Pengampuh. Kami menyadari bahwa penyusunan paper ini masih belum
sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik sehubungan
dengan penyusunan paper ini demi kebaikan bersama.

Jombang, 2 Juni 2014

Penyusun

15
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................................i
KATA PENGANTAR........................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..............................................................................1
1.2. Rumusan Masalah.........................................................................1
1.3. Tujuan............................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Kebijakan Deviden.....................................................2
2.2. Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Deviden.........................2
2.3. Macam-Macam Kebijakan Deviden.............................................3
2.4. Kebijakan Stock Deviden.............................................................4
2.5. Kebijakan Stock Splits.................................................................4
2.6. Teori-Teori Kebijakan Deviden....................................................4
2.7. Kebijakan Deviden Dalam Praktek..............................................8
2.8. Menentukan Kebijakan Deviden..................................................9
2.9. Contoh soal-Soal Kebijakan Deviden..........................................9
2.10.......................................................................................................Ana
lisis Voluasi Saham.......................................................................12

BAB III PENUTUP


3.1.........................................................................................................Kes
impulan ..........................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA

16