Anda di halaman 1dari 5

61

BAB V
PEMBAHASAN DAN REKOMENDASI TERAPI

A. Pasien RSUP Fatmawati Jakarta


Pasien Ny. RS (55 tahun) masuk Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati dengan
keluhan BAB cair sejak 2 hari SMRS, frekuensi BAB lebih dari 10 kali perhari yang
tidak disertai darah dan tidak demam. Pasien tersebut juga memiliki riwayat penyakit
hipertensi semenjak 2 tahun SMRS dan tidak rutin kontrol. Diagnosis terhadap
keluhan tersebut adalah Diare akut dan hipokalemia. Hipokalemia yang diderita
pasien disebabkan karena diare akut yang menyebabkan pasien kehilangan banyak
kalium yang keluar melalui feses pasien.
Selama perawatan diamati tanda-tanda vital dari pasien tersebut setiap harinya,
tanda-tanda vital tersebut berupa Suhu, Nadi, Laju pernafasan dan tekanan darah.,
dari tanda-tanda vital tersebut rata-rata menunjukkan kondisi yang normal kecuali
tekanan darah yang cenderung naik turun dan kebanyakan berada diatas nilai normal
tekanan darah, hal ini disebabkan karena pasien memang memiliki riwayat penyakit
Hipertensi.
Obat-obatan yang digunakan pasien pada masa perawatan berupa New Diatab
yang mengandung attalpugit dengan indikasi antidiare, obat ini diminum dua kali
sehari 2 tablet jika diare, obat dihentikan jika pasien sudah tidak diare lagi, pada
pasien Ny. RS New diatab dihentikan setelah 5 hari karena diare pasien sudah
negatif. Obat selanjutnya adalah Kalipar yang merupakan suplemen kalium, obat ini
digunakan karena pasien didiagnosa mengalami hipokalemia, pemberian obat
dihentikan setelah dua hari karena kadar kalium dalam darah pasien sudah normal
dilihat dari hasil pemeriksaan laboratorium pasien. Selanjutnya obat yang digunakan
adalah parasetamol sebagai antipiretik, obat ini seharusnya diberikan jika demam
saja namun saat dalam masa perawatannya pasien tetap mendapat parasetamol
walaupun sudah tidak demam, ini dikarenakan adanya kesalahan dalam penulisan di
cardeks pasien namun masalah segera terselesaikan dengan dilakukannya pemberian
62

informasi kepada perawat yang bertanggung jawab terhadap pemberian obat pasien.
Pada hari kelima masa perawatann pasien mengalami batuk berdahak dan sesak
nafas sehingga diberikan Fluimucil yang berisi Asetilsistein sebagai pengencer darah
serta diberikan obat inhalasi berupa combivent dan fulmicort. Pasien juga
mendapatkan Amlodipin sebagai obat antihipertensinya.
Pasien juga mendapatkan obat antibiotik yang diberikan secara parenteral,
antibiotik yang digunakan adalah Ciprofloxacin drip 400 mg dan Ceftriaxone 2
gram. Penggunaan kedua antibiotik tersebut dirasa belum pas karena melihat dari
hasil uji sensitivitas pasien terhadap antibiotik, pasien Ny. RS resisten terhadap
kedua antibiotik tersebut. Setelah lebih dari sepuluh hari masa perawatan pasien Ny.
RS diperbolehkan pulang, dokter meresepkan obat pulang berupa cefixime 2200
mg sebagai antibiotik, Fluimucil 3200 mg sebagai pengencer dahak dan dua obat
antihipertensi Amlodipin 110 mg dan Ramipril 15 mg. Pada obat pulang, cefixime
juga kurang tepat diberikan karena pasien Ny. RS juga resisten terhadap Cefixime.

Rekomendasi terapi yang sebaiknya diberikan:


1. Pemilihan antibiotik untuk pasien selain didasari dengan penyakit yang diderita
pasien juga harus melihat dari hasil uji sensitivitas pasien terhadap antibiotik,
karena dalam perawatannya pasien mendapatkan antibiotik Ceftriaxone dan
Ciprofloxacin padahal pasien itu sendiri resisten terhadap kedua antibiotik ini.
Untuk obat pulang juga pasien mendapatkan antibiotik Cefixime, kenyataannya
dari hasil uji sensitivitas pasien juga resisten terhadap Cefixime dan golongan
Cephalosporin lainnya. Dipertimbangkan untuk penggantian antibiotik menjadi
Cotrimoxazole, Tetracyclin, Chloramphenicol atau Fosfomycin.

B. Pasien RSU Tangerang


Pasien Ny. UH (76 tahun) masuk RSU Tangerang dengan keluhan BAB cair sejak 2
hari SMRS dengan frekuensi BAB lebih dari 10 kali dalam sehari yang disertai
63

dengan nyeri perut. Pasien Ny. UH memiliki riwayat penyakit Hipertensi.


Berdasarkan keluhan dan hasil pemeriksaan pasien didiagnosis GEA (Gastroenteritis
Akut), Hipertensi dan Dispepsia.
Selama masa perawatan diamati tanda-tanda vital dari pasien berupa suhu,
denyut nadi, laju pernafasan dan tekanan darah. Pada awal masuk RSUD Tangerang
denyut nadi, laju pernafasan dan tekanan darah pasien berada diatas kondisi normal
namun setelah dalam masa perawatannya tanda-tanda vital pasien mnunjukkan
keadaan normal kembali, hal ini dikarenakan terapi obat yang diterima oleh pasien.
Obat-obatan yang diterima pasien berupa oral, injeksi dan infus. Obat oral yang
diterima pasien adalah parasetamol dengan dosis 500 mg dan frekuensi penggunaan
tiga kali sehari, parasetamol diberikan sehubungan dengan nyeri perut yang
dirasakan oleh pasien, penggunan parasetamol dihentikan jika paien tidak merasakan
nyeri lagi. Selanjutnya obat yang diterima pasien adalah Amlodipin 10 mg satu kali
sehari, obat ini diberikan karena riwayat hipertensi pasien dan didukung oleh hasil
pengukuran tekanan darah pasien pada saat masuk Rumah Sakit yang menunjukkan
jauh dari tekanan darah normal. Obat diare yang diterima pasien adalah New diatab
yang mengandung Attalpugit 1200 mg tiga kali sehari, obat ini termasuk dalam
golongan adsorben yang bekerja menjerap cairan sehingga konsistensi feses akan
meningkat. Untuk pasien geriatrik penggunaan attalpugit sebenarnya kurang tepat
karena dapat meningkatkan dehidrasi.
Selain obat-obatan oral, pasien Ny. UH juga mendapatkan obat injeksi yaitu
Omeprazole IV untuk indikasi dispepsia, Ceftriaxone IV sebagai antibiotik dan
ondansentron IV sebagai antimual dan muntah. Cairan Infus yang diterima pasien
adalah Asering yang befungsi sebagai pengganti cairan tubuh agar pasien tidak
mengalami dehidrasi.
Rekomendasi Terapi yang harus diberikan:
1. Pemberian attapulgit sebaiknya tidak digunakan pada pasien geriatri, sehingga
apabila diperlukan adsorben untuk terapi dapat diganti dengan Bismut
Subsalicylate atau Kaolin Pectin.
64

2. Penggunaan antibiotik pada kasus diare sebaiknya didukung oleh hasil


laboratorium pemeriksaan feses yang menunjukan adanya infeksi bakteri,
sehingga penggunaan antibiotik Ceftriaxone sebaiknya dihentikan.

C. Pasien RS Medistra Jakarta


Pasien Anak AKM (4 tahun) masuk RS Medistra dengan keluhan BAB cair sejak 2
hari SMRS, pasien sudah berobat ke UGD dan poli namun pasien muntah setiap
setelah minum susu sehingga pasien tidak dapat menelan obat, diare disertai batuk
flu dan demam. Riwayat penyakit terdahulu pasien adalah GEA dan ISPA. Dari
keluhan tersebut pasien didiagnosa GEA (Gastroenteritis Akut).
Pemeriksaan tanda-tanda vital pasien dilakukan mulai dari awal pasien masuk
dan selama masa perawatan, tanda-tanda vital yang diukur berupa Suhu, denyut nadi,
laju pernafasan dan tekanan darah. Pada awal masuk suhu, frekuensi nadi dan laju
pernafasan pasien meningkat namun tekanan darah pasien cenderung rendah.
Obat-obatan yang diterima pasien berupa Imodium yang mengandung loperamid
sebagai antidiare yang termasuk didalam golongan antimotilitas yang bekerja
meurunkan kontraksi usus besar sehingga meningkatkan konsistensi feses, Imodium
hanya diberikan sekali pada pasien. Obat selanjutnya adalah probiokid yang terdiri
dari Lactobacillus dan Bifi dobacteria atau Saccharomyces boulardii, bila meningkat
jumlahnya di saluran cerna akan memiliki efek positif karena berkompetisi untuk
nutrisi dan reseptor saluran cerna. Obat injeksi yang diberikan kepada pasien adalah
starxon yang mengandung ceftriaxone sebagai antibiotik, sanmol yang mengandung
parasetamol sebagai anatipiretik, injeksi opigran yang mengandung granisentron
sebagai obat anti mual dan muntah, pasien juga diberi farmadol yang kandungannya
sama dengan sanmol yaitu parasetamol sebagai antipiretik, untuk mencegah
dehidrasi pasien anak AKM diberi infus Asering yang berisi ion-ion yang diperukan
tubuh.

Rekomendasi Terapi yang harus diberikan:


65

1. Penggunaan antibiotik pada kasus diare sebaiknya didukung oleh hasil


laboratorium pemeriksaan feses yang menunjukan adanya infeksi bakteri,
sehingga penggunaan antibiotik Ceftriaxone sebaiknya dihentikan.
2. Dilihat dari data riwayat pasien yang menunjukkan kekambuhan penyakit setiap
tahunnya, disarankan pemberian edukasi terhadap orang tua pasien mengenai
hand hygiene, personal hygiene, kebersihan makanan dan prosedur pemberian
obat-obatan.