Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
1. Menurut WHO, diare adalah buang air besar yang lebih dari 3 kali dalam
24 jam dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair dari biasanya.
Dimana biasanya merupakan gejala infeksi gastrointestinal, yang dapat
disebabkan oleh berbagai organisme bakteri, virus dan parasit. Infeksi
menyebar melalui makanan atau air minum, yang terkontaminasi atau dari
orang ke orang sebagai akibat dari kebersihan yang buruk.
2. Diare atau mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan feses tidak
berbentuk (unformed stools) atau cair dengan frekuensi lebih dari 3 kali
dalam 24 jam. Bila diare berlangsung kurang dari 2 minggu, disebut
sebagai diare akut. Apabila diare berlangsung 2 minggu atau lebih,
digolongkan pada diare kronik. Feses dapat dengan atau tanpa lendir, darah,
atau pus. Gejala penyerta dapat berupa mual, muntah, nyeri abdominal,
mulas, tenesmus, demam, dan tanda-tanda dehidrasi (Amin, 2015).
3. Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak
atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam.
Sementara untuk bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai
pengeluaran tinja >10 g/kg/24 jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja
normal bayi sebesar 5-10 g/kg/ 24 jam (Juffrie, 2010).

B. Klasifikasi
Berdasarkan jenisnya dibagi menjadi empat yaitu
1. Diare Akut
Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya
kurang dari 7 hari). Akibatnya adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi
merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.
2. Disentri
Disentri yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri
adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat dan kemungkinan
terjadinnya komplikasi pada mukosa.
3. Diare persisten
Diare persisten yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus
menerus. Akibat diare presisten adalah penurunan berat badan dan
gannguan gangguan metabolisme.
4. Diare Dengan Masalah Lain Anak yang menderita diare (diare akut dan
diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti
demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
Klasifikasi lain berdasarkan organ yang terkena infeksi :
1. Diare infeksi enteal atau diare karena infeksi di usus (bakteri, virus,
parasit)
2. Diare infeksi pareteral atau diare karena infeksi di luar usus (otitis media,
infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran urine dan lainnya)
(Suharyono, 2008)

C. Etiologi
Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada
anak. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain:
1. Virus merupakan penyebab diare akut terbanyak pada anak (70-80%).
Beberapa jenis virus penyebab diare akut antara lain Rotavirus serotype 1,
2, 8, dan 9 pada manusia, Norwalk virus, Astrovirus, Adenovirus (tipe 40,
41), Small bowel structured virus, Cytomegalovirus.
2. Bakteri Enterotoxigenic E. coli (ETEC), Enteropathogenic E. coli (EPEC),
Enteroaggregative E. coli (EAggEC), Enteroinvasive E. coli (EIEC),
Enterohemorrhagic E. coli (EHEC), Shigella spp., Campylobacter jejuni
(Helicobacter jejuni), Vibrio cholerae 01, dan V. choleare 0139,
Salmonella (non-thypoid).
3. Protozoa Giardia lamblia, Entamoeba histolytica, Cryptosporidium,
Microsporidium spp., Isospora belli, Cyclospora cayatanensis.
4. Helminths Strongyloides stercoralis, Schistosoma spp., Capilaria
philippinensis, Trichuris trichuria.
(Amin, 2015)

D. Patofisiologi
Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi/patomekanisme
dibawah ini:
1. Diare sekretorik Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air
dan elektrolit dari usus, menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini
yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak
sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa
makan/minum.
2. Diare osmotik Diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik
intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang
hiperosmotik (antara lain MgSO4, Mg(OH)2), malabsorpsi umum dan
defek dalam absorpsi mukosa usus missal pada defisiensi disakaridase,
malabsorpsi glukosa/galaktosa.
3. Malabsorpsi asam empedu dan lemak Diare tipe ini didapatkan pada
gangguan pembentukan/produksi micelle empedu dan penyakit-penyakit
saluran bilier dan hati.
4. Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit Diare
tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif
NA+K+ATPase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal.
5. Motilitas dan waktu transit usus yang abnormal Diare tipe ini disebabkan
hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan
absorpsi yang abnormal di usus halus. Penyebabnya antara lain: diabetes
mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid.
6. Gangguan permeabilitas usus Diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus
yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi membran epitel
spesifik pada usus halus.
7. Diare infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari
sudut kelainan usus, diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif dan invasif
(merusak mukosa). Bakteri non-invasif menyebabkan diare karena toksin
yang disekresikan oleh bakteri tersebut.
(Simadibrata, 2006)
8. Diare inflamasi Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan
diare pada beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan
tight junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik
menyebabkan air, elektrolit, mukus, protein dan seringkali sel darah merah
dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat
inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik dan
diare sekretorik (Juffrie, 2010).

E. Komplikasi
Sebagai akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut
1. Kehilangan air (dehidrasi) Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output)
lebih banyak dari pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya
kematian pada diare.
2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis) Hal ini terjadi
karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak
sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya
penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk
metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan
oleh ginjal (terjadi oliguria atau anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na
dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler.
3. Hipoglikemia Hipoglikemia terjadi pada 23 % anak yang menderita
diare, lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita
Kekurangan Kalori Protein (KKP). Hal ini terjadi karena adanya gangguan
penyimpanan atau penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan
etabol glukosa. Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah
menurun hingga 40 % pada bayi dan 50 % pada anak anak. d. Gangguan
gizi Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini
disebabkan oleh makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut
diare atau muntah yang bertambah hebat, walaupun susu diteruskan sering
diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu
lama, makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi
dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
4. Gangguan sirkulasi Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock)
hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia,
asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak,
kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.
(Maryunani, 2010)

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Lukman Zulkifli. 2015. Tatalaksana Diare Akut. CDK-230/ vol. 42 no.7th.
Juffrie, M., et al, 2010. Buku Ajar Gastroenterologi - Hepatologi Jilid 1. Balai
Penerbit IDAI . Jakarta.
Maryunani, Anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak dalam Kebidanan. CV. Trans Info.
Jakarta.
Simadibrata, M., Daldiyono. 2006. Diare Akut. In: Sudoyo, Aru W, et al, ed. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 408-413. Jakarta.
Suharyono. 2008. Diare Akut, Klinik dan Laboratorik Cetakan Kedua. Rineka
Cipta. Jakarta ,