Anda di halaman 1dari 7

Laporan Pendahuluan Asuhan

Keperawatan
Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Medical, Bedah, Maternitas, Jiwa

Home
Disclaimer
Privacy Policy
TOS
Contact Us

Kamis, 29 September 2016


LP & ASKEP JIWA ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN MASALAH


KEPERAWATAN UTAMA ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI

By : Lutfy Nooraini

KONSEP DASAR
A. PENGERTIAN
Isolasi sosial adalah keadaan kesepian yang dialami seseorang karena orang
lain dianggap menyatakan sikap negatif dan mengancam bagi dirinya (Townsend,
M.C, 1998 : 152)

Isolasi sosial merupakan keadaan dimana individu atau kelompok megalami


atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan
orang lain tapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenitto, L.J, 1998 : 381).
Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. (Rawlins. 1993,
dikutip dari Budi Anna, K).

B. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI


Stressor yang dapat mengakibatkan terjadinya isolasi sosial dapat
ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal meliputi :
1. Stressor Sosial Budaya
Stressor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan,
terjadinya penurunan stabilitas keluarga seperti : perceraian, perpisahan
dengan orang tercinta, kesepia karena ditinggal jauh, dirawat dirumah
sakit atau penjara.
2. Stressor Biokimik
Teori Dopamin : kelebihan dopamin pada mesokortisol dan mesolimbik
serta saraf dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.
3. Stressor Biologis dan Lingkungan Sosial
Beberapa penelitian membuktikan bahwa kasus skizofrenia sering
terjadi akibat interaksi antara individu, lingkungan maupun biologis
4. Kecemasan yang tertinggi akan menyebabkan turunnya kemampuan
individu untuk berhubungan dengan orang lain.
Ego pada klien psikotik mempunyai kemampuan terbatas untuk
mengatasi stres. Hal ini berkaitan dengan adanya masalah serius ibu dan
anak pada fase gimbiotik, sehingga perkembangan psikologis individu
terhambat.
5. Hubungan Ibu dan Anak
Ibu dengan kecemasan tinggi akan mengkomunikasikan
kecemasannya pada anak.
6. Dependen Versus interdependen
Hal ini sering membatasi anak dapat menimbulkan konflik, disatu sisi
ingin mandiri.

C. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Townsend, M.C ( 1998 : 152-153 ) dan Carpenitto, L.J ( 1998 : 382 )
Isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut
:
1. Data Subjektif
Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data
subjektifnya adalah menjawab pertanyaan dengan singkat seperti kata
iya dan tidak
2. Data Objektif
a. Tampak menyendiri dalam ruangan.
b. Tidak berkomunikasi, menarik diri.
c. Tidak melakukan kontak mata.
d. Tampak sedih, afek datar.
e. Posisi meringkuk ditempat tidur dengan punggung menghadap kepintu.
f. Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan
perkembangan usianya.
g. Kegagalan untuk berinteraksi dengan orang lain di dekatnya.
h. Kurang aktivitas fisik dan verbal.
i. Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi.
j. Mengekspresikan perasaan kesepiaan dan penolakan diwajahnya.

D. POHON MASALAH
E. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan perindividu : melatih interaksi dengan orang lain.
2. Farmakoterapi :
a. Noprenia 2 mg 2x1
b. Thryhexilphemidye 2 mg 2x1
c. Chlorpromazine 100 mg 1x1

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi
2. Isolasi Sosial : Menarik Diri
3. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

G. FOKUS INTERVENSI
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria Hasil : Ekspresi wajah bersahabat, mau berkenalan, ada kontak
mata, bersedia menceritakan perasaan.
Intervensi :
a. Bina hubungan saling percaya dengan klien menggunakan komunikasi
terapeutik.
b. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya.
c. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien.
2. Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri.
Kriteria Hasil : Klien mampu menyebutkan minimal satu penyebab menarik
diri.
Intervensi :
a. Tanyakan pada klien tentang orang yang paling dekat dengan klien.
b. Tanyakan pada klien apa yang membuat klien tidak dekat dengan
orang tersebut.
c. Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul.
d. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaan.
3. Klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian
menarik diri.
Kriteria hasil : Klien mampu menyebutkan keuntungan berhubungan
sosial.
Intervensi :
a. Tanyakan pada klien tentang manfaat hubungan sosial dan kerugian
menarik diri.
b. Diskusikan bersama klien manfaat berhubunga sosial dan kerugian
menarik diri.
c. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap dengan
perawat, klien.
Kriteria Hasil : Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara
bertahap dengan perawat, klien.
Intervensi :
a. Observasi perilaku klien saat berhubungan sosial
b. Beri motivasi dan bantu klien untuk berkomunikasi dengan perawat dan
klien.
c. Libatkan klien dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi.
d. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan klien berkomunikasi.
e. Beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai jadwal yang telah
dibuat.
f. Beri reinforement positif terhadap kemampuan klien memperluas
pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan.
5. Klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial.
Kriteria Hasil : Klien dapat menjelaskan perasaannya setelah
berhubungan sosial dengan orang lain.
Intervensi :
a. Diskusikan dengan klien tentang perasaannya setelah berhubungan
sosial dengan orang lain, kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa : Yasmin
Asih, Edisi 6, EGC, Jakarta, 1998

Keliat, B. A., Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC, Jakarta, 1999

Rawlins, R.P. & Patricia Evans Heacock, Clinical Manual of Psychiatric Nursing, 2 nd
Edition, Mosby Year Book, St. Louis, 1993

Towsend, Mary C., Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri Untuk Pembuatan
Rencana Keperawatan, Alih Bahasa : Novy Helena C.D., Edisi 3, EGC, Jakarta,
1998

Diposting oleh Lutfy Nooraini di 00.49


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Arsip Blog
2016 (12)
o Oktober (2)
o September (10)
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) DEFISIT / KURANG
PERAWAT...
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) PERILAKU KEKERASAN
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) HALUSINASI
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) ISOLASI SOSIAL - MENARIK...
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) HARGA DIRI RENDAH
LP & ASKEP JIWA DEFISIT PERAWATAN DIRI (DPD)
LP & ASKEP JIWA RESIKO PERILAKU KEKERASAN (RPK)
LP & ASKEP JIWA HALUSINASI
LP & ASKEP JIWA ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI
LP & ASKEP JIWA HARGA DIRI RENDAH (HDR)