Anda di halaman 1dari 42

PERATURAN BEBAN INDONESIA

UNTUK GEDUNG & STRUKTUR LAIN


SNI 1727:2013

OLEH :
SURADJIN SUTJIPTO*

TRAINING OF TRAINERS
PENERAPAN SNI BIDANG BAHAN, STRUKTUR & KONSTRUKSI BANGUNAN
BANDUNG - 4 MEI 2015

* PRESIDEN DIREKTUR SURADJIN SUTJIPTO, INC.


* DOSEN JURUSAN TEKNIK SIPIL FTSP UNIVERSITAS TRISAKTI
* TIM PENYUSUN SNI 1727:2013
Latar Belakang
PERATURAN BEBAN INDONESIA

Peraturan Muatan Indonesia 1970 NI-18


Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983
Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan
Gedung
SKBI - 1.3.53.1987
SNI 1727-1989-F

Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan


Struktur Lain - SNI 1727:2013 (ASCE 7-10)
ALASAN PENGGANTIAN SNI 1727 -1989-F

Pemutahiran dan pelengkapan peraturan beban :


Beban Hidup
Beban Air Hujan
Beban Banjir
Beban Angin
Kombinasi Pembebanan: ASD LRFD
Meningkatkan keamanan
Mengikuti perkembangan analisis & desain terkini
Acuan & landasan dari peraturan gedung lainnya :
Peraturan Gempa
Peraturan Struktur Beton
Peraturan Struktur Baja
Peraturan Struktur Kayu
MENGAPA ASCE 7 ?

1. State Of The Art

2. Sumber, acuan & literatur :


Berbahasa Inggris
Mudah diperoleh
Relatif murah

3. Software analisis & design memiliki modulnya

4. Selaras dengan peraturan gedung Indonesia lainnya :


Gempa SNI 1726:2012 - ASCE 7-10
Beton SNI 2847:2013 - ACI 318-11
Baja SNI 1729:2015 - AISC 360-10
Kayu SNI 7974:2013 - ANSI/AWC NDS-2012
Material SNI xxxx - ASTM
Beban Minimum untuk Perancangan
Bangunan Gedung dan Struktur Lain
SNI 1727:2013
ASCE 7-10

31 Bab + 2 Lampiran
PERATURAN BEBAN INDONESIA - SNI 1727:2013

1. Umum
2. Kombinasi Beban
3. Beban Mati, Beban Tanah dan Tekanan Hidrostatis
4. Beban Hidup
5. Beban Banjir
6. Kosong
7. Beban Salju (Dikosongkan)
8. Beban Air Hujan
9. Kosong
10. Beban Es (Dikosongkan)

11 - 25 Beban Gempa - SNI 1726:2012


26. Beban Angin: Persyaratan Umum
27. Beban Angin pada Bangunan Gedung - SPBAU (Prosedur Pengarah)
28. Beban Angin pada Bangunan Gedung - SPBAU (Prosedur Amplop)
29. Beban Angin pada Struktur Lain dan Perlengkapan Bangunan Gedung - SPBAU
30. Beban Angin - Komponen dan Klading (K&K)
31. Prosedur Terowongan Angin
Lampiran A
Lampiran B
HAL-HAL BARU & ISTIMEWA

Reduksi beban hidup berdasarkan tributary area atau


influenced area.

Tabel beban lebih rinci.


Beban air hujan didefinisikan terpisah dari beban hidup dan
memiliki faktor beban tersendiri.

Disediakan persyaratan beban banjir.


Beban angin lebih rinci baik distribusi, besar beban, metode
analisis maupun aplikasinya, dan konsisten tergantung dari
kecepatan angin.

Mendefinisikan istilah-istilah dengan amat jelas.


BEBAN GRAVITASI
BEBAN MATI (BAB3)

Berat seluruh materi konstruksi bangunan gedung yang terpasang


BEBAN TANAH & TEKANAN HIDROSTATIS
BEBAN HIDUP (BAB 4)

Beban dari penghuni dan penggunaan/fungsi


Tidak termasuk beban konstruksi, hujan, angin gempa & banjir
PERBANDINGAN BEBAN HIDUP
SNI 1727 -1989-F & SNI 1727:2013 (1)

SNI 1727-1989-F SNI 1727:2013


No. Penggunaan
(kg/m2) (kN/m2)
1. Rumah Tinggal 200 1.92
2. Apartemen, Asrama, Hotel, dll
Ruang Pribadi 250 1.92
Ruang Publik 300 4.79
3. Gedung Parkir / Garasi
Lantai Dasar 800 11.97
Lantai Lainnya 400 1.92
4. Pertokoan
Lantai Dasar 4.79
Lantai Lainnya 250 3.59
Lantai Grosir 6.00
5. Kantor 250 2.40
PERBANDINGAN BEBAN HIDUP
SNI 1727 -1989-F & SNI 1727:2013 (2)

SNI 1727-1989-F SNI 1727:2013


No. Penggunaan
(kg/m2) (kN/m2)
6. Ruang Pertemuan 400 4.79
7. Perpustakaan
Ruang Baca 2.87
400
Ruang Buku 7.18
8. Restoran 250 4.79
9. Rumah sakit
Ruang Operasi & Laboratorium 2.87
250
Ruang Pasien 1.92
10. Sekolah 250 1.92
11. Atap 100 0.96
PERBANDINGAN BEBAN HIDUP
SNI 1727 -1989-F & SNI 1727:2013 (3)

SNI 1727-1989-F SNI 1727:2013


No. Penggunaan
(kg/m2) (kN/m2)
12. Tempat Pertunjukan (Theater) / Bioskop
Tempat duduk tetap 400 2.87
Tempat duduk tidak tetap 500 4.79
13. Ruang dansa 500 4.79
14. Gimnasium 400 4.79
15. Pabrik
Ringan 6.00
400
Berat 11.97
REDUKSI BEBAN HIDUP

L = beban hidup desain tereduksi


L0 = beban hidup desain tanpa reduksi
KLL = faktor elemen beban hidup (Tabel 4-2)
AT = luas tributari

L 0.50 L0 - Komponen Struktur Penyangga 1 Lantai

L 0.40 L0 - Komponen Struktur Penyangga 2 Lantai


REDUKSI BEBAN HIDUP PADA ATAP

Lr = L0 R1 R2

Lr = beban hidup atap tereduksi dari proyeksi horizontal


L0 = beban hidup atap desain tanpa reduksi dari
proyeksi horizontal
R1, R2 = faktor reduksi - sesuai luas tributari
BEBAN AIR HUJAN (BAB 8)

R = 0.0098 (ds + dh)

R = beban air hujan pada atap yang tidak melendut


ds = kedalaman air pada sistem saluran sekunder
apabila saluran primer tertutup
dh = tambahan kedalaman air pada saluran sekunder
BEBAN ANGIN (BAB 26 31)
METODE ANALISIS BEBAN ANGIN

Metode 1 - Prosedur Pengarah (Directional Procedure)


(Bab 27)

Metode 2 - Prosedur Amplop (Envelope Procedure)


(Bab 28)

Metode 3 - Terowongan Angin (Wind Tunnel)


(Bab 31)
TEKANAN ANGIN

p=qGC

Koefisien tekanan

Faktor efek tiup (gust)

Tekanan velositas
TEKANAN VELOSITAS

qz = 0.613 Kz Kzt Kd V2

qz = tekanan velositas
Kz = koefisien eksposur tekanan velositas
Kzt = faktor topografi (Pasal 26.8.2)
Kd = faktor arah angin (Pasal 26.6)
V = kecepatan angin dasar (Pasal 26.5)
BEBAN ANGIN DESAIN MINIMUM

SNI 1727-1989-F :
p = 0.25 kN/m2
p = 0.40 kN/m2 (area 5 km dari pantai)

SNI 1727:2013 :
p = 0.77 kN/m2 (dinding & struktur lain)
p = 0.38 kN/m2 (atap)
TEKANAN ANGIN

Tekanan Angin Tekanan Internal


METODE 1 - PROSEDUR PENGARAH

Untuk 2 tipe gedung :


Semua ketinggian - Bagian 1 (Pasal 27.2 27.4)
h 48.8 m - Bagian 2 (Pasal 27.5 27.6)

Berbentuk teratur
Tidak memiliki karaketeristik respons yang menyebabkan
anomali pembebanan angin
Mencakup :
Bangunan gedung kaku tertutup dan tertutup sebagian
Bangunan gedung fleksibel tertutup dan tertutup sebagian
Bangunan gedung terbuka dengan atap bebas miring sepihak,
berbubung, atau cekung
METODE 1 - PROSEDUR PENGARAH
BANGUNAN GEDUNG KAKU TERTUTUP & TERTUTUP SEBAGIAN

p = q G Cp - qi (GCpi)

Koefisien tekanan internal


(Tabel 26.11-1)

Tekanan angin internal

Koefisien tekanan eksternal


(Gbr. 27.4-1 s/d 27.4-3)

Faktor efek tiup (Pasal 26.9)

Tekanan angin pada suatu ketinggian


METODE 1 - PROSEDUR PENGARAH
BANGUNAN GEDUNG FLEKSIBEL TERTUTUP & TERTUTUP SEBAGIAN

p = q Gf Cp - qi (GCpi)

Koefisien tekanan internal


(Tabel 26.11-1)

Tekanan angin internal

Koefisien tekanan eksternal


(Gbr. 27.4-1 s/d 27.4-3)

Faktor efek tiup (Pasal 26.9.5)

Tekanan angin pada suatu ketinggian


METODE 1 - PROSEDUR PENGARAH
GEDUNG TERBUKA - ATAP BEBAS MIRING SEPIHAK, BERBUBUNG/CEKUNG

p = q h G CN

Koefisien tekanan neto


(Gbr. 27.4-4 s/d 27.4-7)

Faktor efek tiupan angin (Pasal 26.9)

Tekanan velositas
METODE 1 - PROSEDUR PENGARAH
PARAPET

pp = qp (GCpn)

Kombinasi koefisien tekanan neto


(Pasal 27.4.5)

Tekanan velositas pada bagian atas


parapet
METODE 2 - PROSEDUR AMPLOP

Untuk 2 tipe gedung :


Bangunan bertingkat rendah - Bagian 1
(Pasal 28.2 28.4)
Bangunan bertingkat rendah khusus - Bagian 2
(Pasal 28.5 28.6)

Berbentuk teratur
Tidak memiliki karaketeristik respons yang menyebabkan
anomali pembebanan angin
APLIKASI TEKANAN ANGIN - SNI 1727-1989-F

Berlaku Merata di seluruh bidang


APLIKASI TEKANAN ANGIN - SNI 1727:2013 - METODE 2
ARAH TEGAK LURUS GEDUNG

G
F
E

C
B

A
APLIKASI TEKANAN ANGIN - SNI 1727:2013 - METODE 2
ARAH MEMANJANG GEDUNG

H
H
F
G GF
GF
E

A
SNI 1727:2013 - METODE 2 - PROSEDUR AMPLOP
TEKANAN ANGIN DESAIN
METODE 2 - PROSEDUR AMPLOP
TEKANAN ANGIN DESAIN

ps = Kzt ps30

Tekanan pada h = 30 ft (9.1 m), Eksposur B,


(Gambar 28.6-1)

Faktor Topografi (Pasal 26.8)

Faktor Penyesuai untuk Tinggi Gedung dan


Eksposur (Gambar 28.6-1)
METODE 2 - PROSEDUR AMPLOP
TEKANAN ANGIN DESAIN - BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT RENDAH

p = qh [(GCpf) - (GCpi)]

Koefisien tekanan internal


(Tabel 26.11-1)

Koefisien tekanan eksternal


(Gbr. 28.4-1)

Tekanan Velositas pada ketinggian atap


rata-rata (Pasal 26.3)
METODE 2 - PROSEDUR AMPLOP
PARAPET

pp = qp (GCpn )

Kombinasi koefisien tekanan neto


(Pasal 28.4.2)

Tekanan velositas pada bagian atas


parapet
METODE 3 TEROWONGAN ANGIN
KOMBINASI BEBAN (BAB 2)

Desain Faktor Beban dan Ketahanan (DFBK - LRFD) - Pasal 2.3


1.4D
1.2D + 1.6L + 0.5(Lr atau R atau S)
1.2D + 1.6(Lr atau R atau S) + (L atau 0.5W)
1.2D + 1.0W + L + 0.5(Lr atau R atau S)
1.2D + 1.0E + L + 0.2S
0.9D + 1.0W
0.9D + 1.0E

Desain Tegangan Izin (DTI - ASD) - Pasal 2.4


D
D+L
D + (Lr atau R atau S)
D + 0.75L + 0.75(Lr atau R atau S)
D + (0.6W atau 0.7E)
D + 0.75L + 0.75(0.6W) + 0.75(Lr atau R atau S)
D + 0.75L + 0.75(0.7E) + 0.75S
0.6D + 0.6W
0.6D + 0.7E
KATEGORI RISIKO BANGUNAN GEDUNG &
FAKTOR KEUTAMAAN GEDUNG
KESIMPULAN

Peraturan Beban Indonesia SNI 1727:2013 sudah


merupakan sebuah produk State of the Art.

Prosedur analisis, desain dan aplikasi sudah terinci dengan


jelas.

Kualitas & kehandalan struktur bangunan di Indonesia akan


meningkat, mencapai level standar international.
Terima Kasih
Atas Perhatian Anda