Anda di halaman 1dari 14

WALIKOTA PALOPO

PERATURAN WALIKOTA PALOPO


NOMOR : TAHUN
TENTANG
UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA
PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM WILAYAH KOTA PALOPO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA PALOPO
Menimbang : a. Bahwa untuk melaksanakan pembangunan berwawasan
lingkungan di wilayah Kota Palopo, dianggap perlu
melakukan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pemantauan
Lingkungan Hidup;

b. Bahwa setiap jenis usaha dan / atau kegiatan yang tidak


wajib dilengkapi dengan AMDAL wajib dilengkapi dengan
upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) / Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL) dan usaha yang tidak wajib memilikiu
UKL/UPL wajib memiliki Surat Pernyataan Kesanggupan
Pengelolaan Lingkungan (SPPL);

c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud


huruf a dan huruf b, perlu penetapkan Peraturan Walikota
Palopo tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup /
Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup dan Surat Pernyataan
Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup Dalam Kesanggupan di wilayah Kota Palopo;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2002 tentang


Pembentukan Kabupaten Mamasa dan Kota Palopo di
Propinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 24, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4186);

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah


Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4435); sebagaimana telah diubah dan terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang


Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup ( Lembaran
Negara RI Tahun 1999 No. 59);
4. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11
Tahun 2006 Tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau
Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup;

5. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13


Tahun 2010 Tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup
dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup;

6. Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 494 Tahun


2003 Tentang Jenis Usaha dan atau Kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup
(UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG UPAYA PENGELOLAAN


LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP

BAB I
KETENTUAN UMUM

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :

1. Daerah adalah Daerah Kota Palopo;

2. Walikota adalah Walikota Palopo;

3. Badan Lingkungan Hidup selanjutnya disingkat BLH adalah Badan Lingkungan


Hidup Daerah Kota Palopo;

4. Kepala, adalah Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Palopo;

5. Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi adalah Kepala Badan Lingkungan


Hidup Provinsi Sulawesi Selatan;

6. Analisis Dampak Lingkungan Hidup selanjutnya disingkat AMDAL adalah kajian


mengenai dampak besar dan penting terhadap suatu usaha dan atau kegiatan
yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang pelaksanaan usaha dan / atau kegiatan;

7. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan


Hidup selanjutnya disingkat UKL / UPL adalah upaya yang dilakukan dalam
pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan atau kegunaan yang tidak
berdampak penting terhadap lingkungan hidup oleh penanggung jawab usaha
dan / atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (AMDAL);

8. Surat Pernyatan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup


selanjutnya disingkat SPPL adalah upaya pengelolaan lingkungan yang
dilakukan oleh pemrakarsa yang tidak wajib melakukan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup
dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL / UPL);

9. Pemrakarsa adalah orang atau Badan Hukum yang bertanggung jawab atas
usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan.
BAB II
FUNGSI UKL - UPL
Pasal 2

(1) UKL - UPL merupakan alat / instrumen bagi penanggung jawab suatu usaha /
kegiatan untuk melakukan pengelolaan lingkungan secara terarah, efektif dan
efisien.

(2) UKL - UPL merupakan salah satu syarat memperoleh izin untuk melakukan
usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan.

BAB III
PENYUSUNAN DAN PENGAJUAN UKL - UPL DAN SPPL

Pasal 3

(1) Setiap Usaha dan / atau Kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib
AMDAL wajib memiliki UKL - UPL sebagaimana tercantum dalam lampiran III

(2) Setiap usaha dan / atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan UKL - UPL
wajib membuat SPPL sebagaimana tercantum dalam lampiran II

(3) Setiap usaha dan / kegiatan yang beroperasi tetapo tidak wajib AMDAL dan
belum memiliki UKL - UPL wajib memiliki Dokumen Lingkungan

Pasal 4

(1) UKL - UPL disusun oleh pemrakarsa sesuai dengan format sebagaimana
tercantum dalam lampiran 1

(2) SPPL disusun oleh pemrakarsa sesuai dengan format.

Pasal 5

Pemrakarsa mengajukan UKL - UPL atau SPPL kepada :

a. Kepala BLH, apabila usaha dan / atau kegiatan berlokasi pada 1 (satu) wilayah
kota;

b. Kepala Instansi Lingkungan Hidup Propinsi, apabila usaha dan / atau kegiatan
berlokasi:
1. lebih dari 1 (satu) wilayah kota dalam provinsi;
2. di instansi kabupaten / kota; dan / atau
3. di wilayah laut paling jauh 12 (dua belas ) mil dari garis pantai kearah
perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah
kewenangan propinsi untuk kabupaten / kota; atau

c. Deputi Menteri, apabila usaha dan / atau kegiatan berlokasi :


1. Lebih dari 1 (satu) wilayah propinsi;
2. Diwilayah sengketa dengan negara lain;
3. di wilayah laut lebih dari 12 (dua belas ) mil laut diukur dari garis pantai
kearah laut lepas; dan / atau
4. dilihat batas Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain.
Pasal 6

(1) Pemrakarsa mengajukan UKL - UPL atau SPPL kepada kepala BLH Instansi dan
Deputi Menteri sebagaimana dimaksud dalam pasal 5.
(2) Kepala BLH memberika tanda bukti penerimaan UKL - UPL atau SPPL
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pemrakarsa yang telah memenuhi
format penyusunan UKL - UPL atau SPPL.

(3) Kepala BLH setelah menerima UKL - UPL atau SPPL yang memenuhi format
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 melakukan pemeriksaan UKL - UPL atau
Pemeriksaan SPPL yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh bidang yang
menangani pemeriksaan UKL - UPL atau pemeriksaan SPPL.

Pasal 7
(1) Kepala BLH :
a. Melakukan pemeriksaan UKL - UPL berkoordinasi dengan instansi
membidangi usaha dan / atau kegiatan dan menerbitkan rekomendasi UKL-
UPL paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya UKL - UPL;
atau

b. Melakukan pemeriksaan SPPL dan memberikan persetujuan SPPL paling


lama 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya SPPL.

(2) Dalam hal terdapat kekurangan data dan / atau informasi dalam UKL - UPL
atau SPPL serta memerlukan tambahan dan / atau perbaikan, pemrakarsa
wajib menyempurnakan dan / atau melengkapinya sesuai hasil pemeriksaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Kepala BLH wajib :


a. Menerbitkan rekomendasi UKL - UPL paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak
diterimanya UKL - UPL yang telah disempurnakan oleh pemrakarsa; atau

b. Memberikan persetujuan SPPL paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak


diterimanya SPPL yang telah disempurnakan oleh pemrakarsa.

Pasal 8

(1) Rekomendasi UKL - UPL sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (3) huruf
a. Digunakan sebagai dasar untuk ;
b. Memperoleh izin lingkungan; dan
c. Melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

(2) Kepala BLH dalam memberi izin wajib mencantumkan persyaratan dan
kewajiban dalam rekomendasi UKL - UPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
kedalam izin lingkungan

BAB IV
PELAPORAN

Pasal 9

Pemrakarsa / penanggung jawab usaha dan / atau kegiatan wajib melaporkan hasil
Pelaksanaan Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan secara berkala kepada
walikota melalui Badan Lingkungan Hidup sesuai dengan UKL - UPL yang
direkomendasikan.
BAB V
PEMBIAYAAN

Pasal 10

(1) Biaya penyusunan dan pemeriksaan UKL - UPL atau SPPL dibebankan kepada
penanggung jawab usaha dan / atau kegiatan.

(2) Biaya administrasi dan persuratan, pengadaan peralatan kantor untuk


menunjang proses pelaksanaan pemeriksaan UKL - UPL atau SPPL, penerbitan
rekomendasi UKl - UPL atau persetujuan SPPL, pelaksanaan pembinaan dan
pengawasan, dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
untuk pemeriksaan UKL - UPL atau persetujuan SPPL yang dilakukan di
instansi lingkungan hidup propinsi atau instansi lingkungan hidup kabupaten /
kota.

BAB VI
KADALUARSA DAN PEMBATALASAN

Pasal 11
(1) UKL - UPL yang telah direkomendasikan dinyatakan kadaluarsa apabila rencana
usaha dan / atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga)
tahun sejak diterbitkannya rekomendasi.

(2) Apabila dokumen UKL-UPL dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud ayat


(1) maka untuk melaksanakan rencana Usaha dan / atau kegiatannya wajib
mengajukan permohonan persetujuan atas Dokumen UKL-UPL kepada BLH.

(3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) :


a. Dokumen UKL-UPL yang pernah disetujui dapat sepenuhnya digunakan
kembali
b. Pemrakarsa wajib membuat Dokumen UKL-UPL baru sesuai dengan
ketentuan peraturan walikota ini.

Pasal 12

UKL - UPL yang direkomendasikan batal atau tidak berlaku karena salah satu hal
sebagai berikut :
(1) Izin Usaha dan atau / kegiatan untuk UKL-UPL yang direkomendasikan dicabut
atau tidak berlaku lagi.

(2) Terjadi perubahan kegiatan, lokasi atau pembatalan lebih dari atau sama
dengan 30% (tiga puluh persen) kapasitas usaha dan / atau kegiatan yang
diizinkan.

BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 13

UKL-UPL yang telah dibuat dan disahkan sebelum peraturan ini berlaku
dinyatakan masih tetap berlaku.
BAB VIII
PENUTUP
Pasal 14
Pada saat peraturan Walikota ini mulai berlaku, Keputusan Walikota Palopo Nomor
256 Tahun 2004 tentang Jenis Usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan
UKL / UPL, SPPL dan DKL, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 15
Peraturan Walikota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini


dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kota Palopo.

Ditetapkan di : Palopo
Pada Tanggal :
Walikota Palopo

................................
LAMPIRAN I PERATURAN WALIKOTA PALOPO
Nomor : Tanggal :

FORMAT PENYUSUNAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN


UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (UKL - UPL)

UKL - UPL minimal berisi hal-hal sebagai berikut :


I. IDENTITAS PEMRAKARSA
1. Nama Perusahaan :
2. Nama Pemrakarsa :
3. Alamat Kantor,
nomor telepon / Fax :

II. RENCANA USAHA DAN / ATAU KEGIATAN


1. Nama rencana usaha
dan / atau kegiatan :
2. Lokasi rencana usaha
dan atau / kegiatan :
3. Skala Usaha dan
atau kegiatan : Satuan
4. Gari Besar Komponen Rencana usaha dan / atau kegiatan

Uraikan komponen-komponen rencana usaha dan / atau kegiatan yang diyakini


akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.

Teknik penulisan dapat menggunakan uraian kegiatan pada tahap pelaksanaan


proyek yakni tahap prakonstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi atau
dengan menguraikan komponen kegiatan produksi, sampai dengan penanganan
pasca produksi.

III. DAMPAK LINGKUNGAN YANG AKAN TERJADI


Uraikan secara singkat dan jelas mengenai :
1. Kegiatan yang menjadi sumber dampak terhadap lingkungan hidup;
2. Jenis dampak lingkungan hidup yang terjadi;
3. ukuran yang menyatakan besaran dampak; dan
4. hal-hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak lingkungan
yang akan terjadi terhadap lingkungan hidup;
5. ringkasan dampak dalam bentuk tabulasi seperti dibawah ini

IV. PROGRAM PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


Uraikan secara singkat dan jelas :
1. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah dan mengelola
dampak termasuk upaya untuk menangani dan menanggulangi keadaan
darurat;

2. Kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas


pengelolaan dampak dan ketaatan terhadap peraturan dibidang
lingkungan hidup;

3. Tolak ukur yang digunakan untuk mengukur efektifitas pengelolaan


lingkungan hidup dan ketaatan terhadap peraturan dibidang lingkungan
hidup.
V. TANDA TANGAN DAN CAP
Setelah UKL - UPL disusun dengan lengkap, pemrakarsa wajib menandatangani
dan membubuhkan cap usaha dan / atau kegiatan yang bersangkutan.

Ditetapkan di : Palopo
Pada Tanggal :

Walikota Palopo

......................................
LAMPIRAN II PERATURAN WALIKOTA PALOPO
Nomor : Tanggal :

SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN


LINGKUNGAN HIDUP (SPPL)

Kami yang bertanda tangan dibawah ini :


1. Nama :
2. Jabatan :
3. Alamat :
4. Nomor Telepon :
Selaku penanggung jawab atas pengelolaan lingkungan dari :
1. Nama Perusahaan / Usaha :
2. Alamat Perusahaan / Usaha :
3. Nomor Telepon Perusahaan :
4. Jenis Usaha / Sifat USaha :
5. Kapasitas Produksi :
6. Perizinan yang dimiliki :
7. Keperluan :
8. Besarnya Modal :
Dengan ini menyatakan bahwa kami sanggup untuk :
1. Melaksanakan ketertiban umum dan senantiasa membina hubungan baik
dengan tetangga sekitar,
2. Menjaga kesehatan, kebersihan dan keindahan di lingkungan usaha,
3. Bertanggung jawab terhadap kerusakan dan / atau pencemaran lingkungan
yang diakibatkan oleh usaha dan / atau kegiatan tersebut,
4. Bersedia dipantau dampak lingkungan dari usaha dan / atau kegiatannya oleh
pejabat yang berwenang,
5. Menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup dilokasi dan
disekitar tempat usaha dan / atau kegiatan,
6. Bersedia membuat dan menyusun Dokumen Upaya Pengelolaan (UKL) dan
Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) dalam waktu paling lama 3 (tiga) bulan,
7. Apabila kami lalai untuk melaksanakn pernyataan pada angka 1 sampai angka 6
diatas, kami bersedia bertanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Keterangan :
a. Dampak Lingkungan yang terjadi :
1.
2.
3.
4.
b. Pengelolaan dampak lingkungan yang dilakukan :
1.
2.
3.
4.
5.
SPPL ini berlaku sejak tanggal ditetapkan sampai dengan berakhirnya usaha dan /
atau kegiatan atau mengalami perubahan lokasi, desain, proses, bahan baku dan /
atau bahan penolong.
Menyetujui Tanggal, Bulan, Tahun
Kepala Instansi Lingkungan Hidup Yang Menyatakan
Provinsi / Kabupaten / Kota
Materai 6000

.......................................... ..........................................
NIP. NIP.
LAMPIRAN III PERATURAN WALIKOTA PALOPO
Nomor : Tanggal :
DAFTAR JENIS KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI SPPL
NO JENIS USAHA KETERANGAN
1 SALON KECANTIKAN Semua kegiatan yang tidak
2 APOTEK DAN TOKO OBAT-OBATAN Wajib UKL - UPL
3 TRADISIONAL
4 PERTUKANGAN / JUAL BELI KAYU
JUAL MEUBEL,
5
BENGKEL LAS, MOBIL / MOTOR, DINAMO.
6 DICO, KETOG MAGIC
7 JUAL ONDERDIL MOBIL / MOTOR
RUMAH MAKAN / WARUNG MAKAN / KEDAI
8
CAFE
PEMBUATAN LEMARI ALUMINIUM
9
JUAL BELI HASIL BUMI ( BERAS, COKLAT,
10 CENGKEH, RUMPUT LAUT)
11 JUAL BELI EMAS
12 DEPOT AIR MINUM ISI ULANG
13 PENGGILINGAN PADI
14 PERCETAKAN / SABLON
15 JUAL BELI MINYAK PELUMAS
16 JUAL BELI BAHAN BANGUNAN
17 JUAL PUPUK, PESTISIDA, SAPRODI DLL
18 PENCUCIAN DAN VARIASI MOBIL / MOTOR
19 JUAL KOSMETIK / PARFUM
20 PABRIK MIE, ROTI, KUE, TAHU DAN TEMPE
21 PEMBUATAN DAN PENAMPUNGAN BATU
22 MERAH
23 RUMAH PEMOTONGAN HEWAN
24 CATERING
25 PANGKALAN GAS ELPIJI / MINYAK TANAH
26 USAHA KONVEKSI
27 DISTRIBUTOR BARANG CAMPURAN
28 USAHA SARANG BURUNG WALET
29 JUAL BELI HASIL LAUT
30 JUAL ALAT-ALAT NELAYAN
JUAL BARANG PECAH BELAH
31 SERVICE HP / AC / KULKAS DAN ALAT-ALAT
32 ELEKTRONIK LAINNYA
DEALER MOBIL / MOTOR
TAMBANG GALIAN
Ditetapkan di : Palopo
Pada Tanggal :
Walikota Palopo
LAMPIRAN IV PERATURAN WALIKOTA PALOPO
Nomor : Tanggal :
A. BIDANG PERTANIAN
NO JENIS USAHA / KEGIATAN SATUAN SKALA / BESARAN
Luas 100 s/d 1000
1 Percetakan sawah pada kawasan hutan Ha terletak pada satu
hamparan lokasi
Luas 100 s/d 500
2 Percetakan sawah diluar kawasan hutan Ha terletak pada satu
hamparan lokasi
Budidaya Tanaman Pangan dan
Holtikultura Tahunan dengan atau
3 Ha Luas 100 s/d 2000
tanpa unit pengolahannya yang terletak
pada satu hamparan lokasi dengan luas
Budidaya Tanaman Pangan dan
Holtikultura semusim dengan atau
4 Ha Luas 100 s/d < 5000
tanpa unit pengolahannya yang terletak
pada satu hamparan lokasi dengan luas
Ton beras Kapasitas terpasang
5 Penggilingan Padi dan Penyosohan Beras
/ jam > 0,3
Bila lahan yang didalamnya terdapat
kegiatan terpadu seperti butir 1 s/d 5
tersebut diatas yaitu kegiatan
Semua besaran
6 pencetakan sawah dan atau budidaya
tersebut diatas
tanaman pangan holtikultura semusim
dan atau tahunan dengan atau tanpa
unit pengolahannya

B. BIDANG PETERNAKAN
NO JENIS USAHA / KEGIATAN SATUAN SKALA / BESARAN
Populasi > 25.000
Budidaya Burung Puyuh atau Burung
1. Ekor Terletak pada suatu
Dara
hamparan lokasi
Ekor Jumlah produksi >
2. Budidaya Ayam Ras Pedaging
persiklus 15.000
Populasi > 15000
3. Budidaya itik atau angsa dan Enthonk Ekor Terletak pada suatu
hamparan lokasi
Jumlah induk >
10.000 Terletak pada
4. Budidaya Ayam Ras Petelur Ekor
suatu hamparan
lokasi
Jumlah induk >
10.000 Terletak pada
5. Budidaya Kalkun Ekor
suatu hamparan
lokasi
Jumlah induk > 1.500
6. Budidaya Kelinci Ekor Terletak pada suatu
hamparan lokasi
Populasi > 300
7. Budidaya Kambing dan atau Domba Ekor Terletak pada suatu
hamparan lokasi
Populasi > 300
8. Budidaya Rusa Ekor Terletak pada suatu
hamparan lokasi
Populasi > 125
9. Budidaya Babi Ekor Terletak pada suatu
hamparan lokasi
Populasi > 100
10. Budidaya Sapi Potong Ekor Terletak pada suatu
hamparan lokasi
Populasi > 75 Terletak
11. Budidaya Kerbau Ekor pada suatu hamparan
lokasi
Populasi > 20 Terletak
12. Budidaya Sapi Perah Ekor pada suatu hamparan
lokasi
Populasi > 50 Terletak
13. Budidaya Kuda Ekor pada suatu hamparan
lokasi
14. Semua Pembibitan Ternak Semua Besaran
Populasi > 100
15. Budidaya Burung Unta Ekor Terletak pada suatu
hamparan lokasi
Rumah pemotongan hewan yang
digunakan paling sedikit untuk
16. Semua Besaran
memenuhi kebutuhan lokal Daerah
Tingkat II
Rumah pemotongan unggas yang
digunakan paling sedikit memenuhi
17. Semua Besaran
kebutuhan lokal Daerah Tingkat II
(Kabupaten / Kotamadya)
18. Stasiun Karantina Hewan Semua Besaran
19. Stasiun Karantina Hewan Semua Besaran
20. Pasar Hewan di Perkotaan Semua Besaran
Semua Budidaya hewan dan atau
21. Semua Besaran
ternak yang didatangkan dari luar
Budidaya ternak secara terpadu (lebih
22. dari satu jenis ternak) yang terletak Semua Besaran
pada suatu hamparan lokasi
Bila terdapat kegiatan terpadu (dua
kegiatan atau lebih) diantara kegiatan Semua Besaran
23.
dari nomor 1 s/d 21 tersebut diatas tersebut diatas
dan terletak dalam satu hamparan

C. BIDANG PERIKANAN
SKALA /
NO JENIS USAHA / KEGIATAN SATUAN
BESARAN
I. Perikanan Tangkap
Pembangunan pelabuhan
perikanan dengan salah satu
fasilitas berikut :
1 M Panjang <200
a. Dermaga
M Panjang < 200
b. Penahan Gelombang;
ha Luas < 15
c. Kawasan Industri Perikanan
Penanganan / Pengolahan Hasil
II.
Perikanan (P2HP)
Usaha penanganan / pengolahan :
Ton / hari / unit
a.Usaha pengolahan tradisional
(perebusan, penggaraman,
pengeringan, pengasapan dan /
atau fermentai)
Unit pengolahan
ikan/UPI
1 (Penghasil tepung
b. Usaha penanganan /
ikan, minyak ikan,
pengolahan modern/maju
khitin-khitosan,
seperti :
gelatine, ATC
- Pembekuan / cold storage;
Karageenan, Agar-
- Penggalengan ikan;
agar, produk berbasis
- Pengekstrasian ikan atau
surimi
rumput laut.
III. Perikanan Budidaya
Usaha budidaya tambak udang /
ikan tingkat teknologi maju dan
madya dengan atau tanpa unit
pengolahannya.
1.
a. Budidaya tiram mutiara
b. Budidaya rumput laut
c. Budidaya ikan air laut dengan
jaring apung