Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN STUDI LAPANGAN WHOLE OF GOVERNMENT

DI BPMPTSP KOTA PALEMBANG

Oleh:

dr. Raissa Nurwany

NDH : 03

PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAERAH
PELATIHAN DASAR GOLONGAN III ANGKATAN II FORMASI UMUM
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
PALEMBANG
2017
LEMBAR PENYELESAIAN TUGAS

LAPORAN STUDI LAPANGAN INTERNALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS DI


PERWAKILAN BPKP PROVINSI SUMATERA SELATAN

Widyaiswara, Peserta,

Drs. H. A Azis, S.Pd, MM dr. Raissa Nurwany

NIP. 1960020819830310009 NDH 03

Mengetahui,
A.n. KEPALA BPSDMD PROVINSI SUMATERA SELATAN
KEPALA BIDANG PENGEMBANGAN KOMPETENSI MANAJERIAL

Hj. Holijah, S.H., M.H.


Pembina Tk. I
NIP. 196909071996032004
BAB I
DESKRIPSI

1.1. Latar Belakang


Salah satu bentuk Whole of Government adalah pelayanan satu pintu yang kemudian
disebut PTSP. Dari semua Kota yang ada di Indonesia PTSP Kota Palembang berhasil meraih
penghargaan PTSP terbaik tingkat Kota se Indonesia. Penghargaan diterima langsung
Walikota Palembang, Harnojoyo pada bulan mei 2016 lalu. Seperti diketahui, Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memberikan penghargaan kepada PTSP terbaik
untuk tingkat provinsi, kabupaten dan kota terbaik 2016. Penghargaan ini diberikan kepada 3
penyelenggara PTSP terbaik di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Ada 6 kriteria yang
dilakukan terhadap pemilihan PTSP terbaik yang pertama adanya kelembagaan dengan
melalui keputusan pemda, kemudian menerapkan layanan online. Memiliki SOP yang
diverifikasi dan telah dipenuhi yang berikutnya transparansi menyangkut besaran biaya yang
ditetapkan secara terbuka, inovasi layanan, adanya insiatif dari pemda untuk memberikan
insentif ke perusahaan yang mematuhi aturan. Kualifikasi PTSP dilakukan oleh BKPM
bersama Sekretaris Wakil Presiden, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PAN-RB,
Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Bappenas,
Sekretariat Negara, BPKP serta KPPOD.
Pada kurikulum Pelatihan Dasar Calon PNS Golongan III terdapat materi mengenai
Whole of Government. Materi ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada peserta
mengenai salahsatu konsep yang sedang digarap pemerintah Indonesia. WOG sendiri
dimaksudkan agar pelayanan publik dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien demi
meningkatkan kepuaasan masyarakat. Penting bagi peserta sebagai ASN untuk memahami
materi ini dan melihat secara langsung bagaimana mudahnya proses pelayanan satu pintu
tersebut dibandingkan dengan sistem yang lama. Karena itulah studi lapangan ke PTSP kota
Palembang ini dilakukan.

1.2 Gambaran Umum

Pelayanan Terpadu Satu Pintu adalah kegiatan Penyelengaaran Perizinan dan Non
Perizinan berdasarkan Pendelegasian atau Pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi
yang memiliki kewenangan perizinan dan non perizinan yang proses pengelolaannya dimulai
dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen yang dilakukan dalam satu
tempat.

Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) merupakan salah satu program pemerintah
dalam rangka peningkatan pelayanan public, memangkas birokrasi pelayanan perizinan dan
non perizinan dan sebagai upaya mencapai good governance atau kepemerintahan yang baik.

1.3 Visi dan Misi


1.3.1 Visi DPMPTSP Kota Palembang
Terdepan dalam Pelayanan Investasi dan Perizinan

1.3.2 Misi DPMPTSP Kota Palembang


1. Meningkatkan kualitas pengelolaan kelembagaan meliputi profesionalisme aparatur,
sarana, prasarana dan administrasi perkantoran;
2. Meningkatkan kerjasama pengembangan peluang investasi;
3. Meningkatkan pengendalian dan pengawasan investasi;
4. Meningkatkan kualitas pelayanan perizinan dan non perizinan.

1.4 Struktur Organisasi

Berdasarkan Peraturan Walikota Palembang no 15 Tahun 2010, tentang pembentukan


susunan organisasi dan tata kerja kantor perijinan terpadu kota Palembang, dalam
menjalankan fungsinya, DPMPTSP Kota Palembang memiliki susunan organisasi sebagai
berikut :
Gambar 1. Struktur Organisasi DPMPTSP Palembang

Gambar 2. Struktur Organisasi DPMPTSP Palembang saat ini


1.5 Landasan Perundang-undangan

a. Permendagri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan


Terpadu Satu Pintu ( PTSP )
b. Permendagri Nomor 20 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Unit
Pelayanan Perijinan Terpadu di Daerah
c. Surat Kementrian Dalam Negeri- Dirjen Bina Bangda tentang Percepatan Pelimpahan
Kewenangan Penerbitan Izin dan Non Izin Bidang Penanaman Modal Kepada PTSP
dan Penetapan serta Optimalisasi Pemanfaatan SPIPISE Kepada Lembaga PTSP
d. Surat Mentrian Dalam Negeri, Nomor 061/3023SJ, Tanggal 9 Agustus 2012 tentang
Percepatan Pelimpahan Kewenangan Perizinan dan Non Perizinan Berusaha di
Daerah Kepada Lembaga PTSP
e. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas
Peraturan Daerah Kota Palembang No.10 Tahun 2008 tentang Pembentukan, Susunan
Organisasi dan Tata kerja Lembaga Teknis Daerah Kota Palembang
f. Peraturan Walikota Palembang Nomor 31 Tahun 2010 tentang Tugas Pokok, Fungsi
dan Uraian Tugas Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Palembang (Berita
Daerah Kota Palembang Tahun 2010 Nomor 31)
g. Peraturan Walikota Palembang No.21 Tahun 2012 tentang Standar Operasional
Prosedur Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Palembang
h. Peraturan Walikota Palembang No.61 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan
Walikota Palembang Nomor 30 Tahun 2010 Tentang Pelimpahan Sebagian
Kewenangan di Bidang Perijinan dan Non Perijinan Kepada Kepala Kantor Pelayanan
Perijinan Terpadu Kota Palembang
i. Peraturan Walikota Palembang No.61 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan
Walikota Palembang Nomor 30 Tahun 2010 Tentang Pelimpahan Sebagian
Kewenangan di Bidang Perijinan dan Non Perijinan Kepada Kepala Kantor Pelayanan
Perijinan Terpadu Kota Palembang
j. Peraturan Walikota Palembang No. 23 Tahun 2012 tentang Pendelegasian
Kewenangan Perijinan dan Non Perijinan di Bidang Penanaman Modal Kepada
Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Palembang
k. Surat Keputusan Walikota Palembang Nomor 767a Tahun 2011 Tanggal 24 Agustus
2011 tentang Pembentukan Tim Teknis Pelayanan Perijinan Terpadu Kota
Palembang
l. Surat Keputusan Walikota Palembang Nomor 767b Tahun 2011 Tanggal 24 Agustus
2011 tentang Pembentukan Tim Pembina Pelayanan Perijinan Terpadu Kota
Palembang
m. Surat Keputusan Walikota Palembang No. 19 Tahun 2011, Tanggal 05 Januari 2011 -
Penetapan Besaran Tambahan Penghasilan Pegawai Kantor Pelayanan Perijinan
Terpadu Kota Palembang
n. Surat Keputusan Walikota Palembang No. 189 Tahun 2012, Tanggal 03 April 2012 -
Pakaian Dinas Pegawai Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Palembang
o. Surat Keputusan Kepala KPPT Kota Palembang Nomor 21 Tahun 2012 - Standar
Pelayanan Minimal (SPM) Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Palembang
p. Surat Keputusan Kepala KPPT Kota Palembang Nomor 22 Tahun 2012 Standar
Operasional Prosedur (SOP) Perijinan di Bidang Penanaman Modal

1.6 Jenis Pelayanan

Perijinan Tanpa Retribusi (Rp. 0,-)

1. Ijin Penyelenggaraan Reklame


2. Ijin Jasa Usaha Kepariwisataan
3. Ijin Penyelenggaraan Optika
4. Ijin Pelayanan Kesehatan Swasta Di Bid. Medik
5. Ijin Penyelenggaraan Apotik
6. Ijin Penyelenggaraan Toko Obat
7. Ijin Praktik Apoteker
8. Ijin Tenaga Teknis Kefarmasiaan
9. Ijin Praktik Bidan
10. Ijin Praktik Perawat
11. Ijin Praktik Perawat Gigi
12. Keterangan Hygiene dan Sanitasi.
13. Ijin Pemanfaatan Rawa
14. Ijin Usaha Jasa Konstruksi
15. Ijin Pertambangan Bahan Galian Golongan C
16. Ijin Bidang Industri
17. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
18. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP)
19. Ijin Pembuangan Limbah Cair
20. SPPL
21. Pemasangan Plakat Makam, Pengabuan Jenazah, Penyimpanan Abu Jenazah dan
Penggunaan Rumah Duka
22. Ijin Praktik Dokter dan Dokter Gigi
23. Ijin Operasional Salon Kecantikan dan Pemangkas Rambut
24. Ijin Operasional PPUT dan PPUM
25. Ijin Pemanfaatan Jalan Kota Utilitas

Pelayanan Perijinan
Sejumlah 59 ( lima puluh sembilan ) terdiri dari :

1. Ijin Prinsip.
2. Ijin Lokasi
3. Ijin Mendirikan Bangunan
4. Ijin Gangguan ( HO ) dan Ijin Tempat Usaha ( ITU )
5. Ijin Usaha Perdagangan
6. Ijin Usaha Industri
7. Tanda Daftar Perusahaan ( TDP )
8. Tanda Daftar Industri ( TDI )
9. Ijin Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum
10. Ijin Usaha Rumah Makan
11. Ijin Usaha Salon Kecantikan
12. Ijin Usaha Hotel
13. Biro Agen Perjalanan Wisata
14. Ijin Pondok Wisata
15. Ijin Penutupan Jalan
16. Pajak Reklame
17. Ijin Usaha Huller
18. Ijin Praktek Bersama Dokter Umum dan Gigi
19. Ijin Pendirian Rumah Bersalin
20. Ijin Pendirian Balai Pengobatan
21. Ijin Praktek Dokter Spesialis
22. Ijin Praktek Dokter Umum/Gigi
23. Ijin Praktek Bidan
24. Ijin Praktek Perawat
25. Ijin Pendirian Apotik
26. Ijin Pendirian Optik
27. Ijin Praktek Tukang Gigi
28. Ijin Pendirian Toko Obat
29. Ijin Pengobatan Tradisionil
30. Ijin Produksi Makanan dan Minuman
31. Rekomendasi Pendirian Rumah Sakit swasta
32. Rekomendasi Pendirian Pusat Kebugaran
33. Rekomendasi Pendirian Salon Kecantikan
34. Rekomendasi Pendirian Lembaga Pendidikan
35. Rekomendasi Praktek Bersama Dokter Spesialis
36. Ijin Praktek Perawat Gigi
37. Ijin Praktek Asisten Apoteker
38. Ijin Praktek Fisioterapi
39. Ijin Praktek Refraksionis Optision
40. Ijin Pendirian Rumah Sakit swasta
41. Ijin Penyelenggaraan Laboratorium Kesehatan
42. IjinOperasional Depot Air Minum Isi Ulang
43. Tanda Daftar Gudang ( TDG )
44. Perijinan Penggunaan Ketel Uap, Minyk untuk setiap ketel
45. Perijinan Penggunaan Bejana Uap/ Pemanas Air atau Ekonomiser yang berdiri
sendiri/Penguapan
46. Perijinan Penggunaan Bejana Tekan
47. Perijinan Botol Baja
48. Perijinan Penggunaan Pesawat Angkat dan Angkut
49. Perijinan Penggunaan Pesawat Tenaga dan Produksi
50. Perijinan Penggunaan Instalasi Kebakaran
51. Perijinan Penggunaan Instalasi Listrik
52. Perijinan Penggunaan Instalasi Penyalur Petir
53. Ijin Trayek Tetap
54. Ijin Usaha Angkutan
55. Ijin Kursus
56. Ijin Usaha Peternakan
57. Ijin Pemotongan Hewan
58. Ijin Pendirian Keramba Apung
59. Ijin Usaha Jasa Kunstruksi
BAB II
Whole of Government

2.1 Pengertian Whole of Government


Whole of government adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang
menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang
lingkup kordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan kebijakan,
manajemen program dan pelayanan publik. Whole of government juga dikenal sebagai
pendekatan interagency, yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang
terkait dengan urusan-urusan yang relevan.
Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan mengapa WoG menjadi penting dan
tumbuh sebagai penedekatan yang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pertama adalah
adanya faktor-faktor eksternal seperti dorongan publik dalam mewujudkan integrasi
kebijakan, program pembangunan dan pelayanan agar tercipta penyelenggaraan pemerintah
yang lebih baik. Kedua, terkait faktor-faktor internal dengan adanya fenomena penyimpangan
kapasitas sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetisi antar sektor dalam
pembangunan. Ketiga, khususnya dalam konteks Indonesia, keberagaman latar belakang
nilai, budaya, adat istiadat, serta bentuk latar belakang lainnya mendorong adanya potensi
disintegrasi bangsa.

2.2 Praktik Whole of Government


Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik dari sisi
penataan fungsi-fungsi formal maupun informal. Cara ini pernah dipraktekkan oleh beberapa
negara, termasuk Indonesia dalam level-level tertentu.
1. Penguatan koordinasi antar lembaga
Penguatan koordinasi dapat dilakukan jika jumlah lembaga-lembaga yang
dikoordinasikan masih terjangkau dan managable
2. Membentuk lembaga koordinasi khusus
Pembentukan lembaga terpisah dan permanen yang bertugas dalam
mengkoordinasikan sektor atau kementrian adalah salah satu cara melakukan WoG.
3. Membentuk gugus tugas
Gugus tugas merupakan bentuk pelembagaan koordinasi yang dilakukan di luar
struktur formal, yang sifatnya tidak permanen.
4. Koalisi sosial
Koalisi sosial ini merupakan bentuk informal dari penyatuan koordinasi antar sektor
atau lembaga, tanpa perlu membentuk kelembagaan khusus dalam koordinasi ini.

2.3 Tantangan dalam Praktik WoG


Tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan WoG di tataran praktik antara lain:
1. Kapasitas SDM dan institusi
Kapasitas SDM dan institusi-institusi yang terlibat dalam WoG tidaklah sama.
Perbedaan kapasitas ini bisa menjadi kendala serius ketika pendekatan WoG,
misalnya mendorong terjadinya merger atau akuisisi kelembagaan, dimana terjadi
penggabungan SDM dengan kualifikasi yang berbeda.
2. Nilai dan budaya organisasi
Nilai dan budaya organisasi menjadi kendala manakala terjadi upaya kolaborasi
sampai dengan penyatuan kelembagaan.
3. Kepemimpinan
Kepemimpinanyang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu mengakomodasi
perubahan nilai dan budaya organisasi serta meramu SDM yang tersedia guna
mencapai tujuan yang diharapkan.

2.4 Praktik WoG dalam Pelayanan Publik


Jenis pelayanan publik dengan pendekatan WoG adalah:
1. Pelayanan yang bersifat administratif, yaitu pelayanan publik yang menghasilkan
berbagai produk dokumen resmi yang dibutuhkan masyarakat. Dokumen yang
dihasilkan bisa berupa KTP, Status Kewarganegaraan, Status Usaha, Surat
Kepemilikan atau Penguasaan Atas Barang.
2. Pelayanan jasa, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang
dibutuhkan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perhubungan
dan sebagainya.
3. Pelayanan barang, yaitu pelayanan yang menghasilkan jenis barang yang dibutuhkan
masyarakat, seperti jalan, perumahan, jaringan telepon, listrik dan air bersih.
4. Pelayanan regulatif, yaitu pelayanan melalui penegakan hukuman dan peraturan
perundang-undangan maupun kebijakan publik yang mengatur sendi-sendi kehidupan
masyarakat.
Berdasarkan pola pelayanan publik, WoG dapat dibedakan dalam 5 macam pola
pelayanan, yaitu:
1. Pola pelayanan teknis fungsional, yaitu pola pelayanan publik yang diberikan oleh
suatu instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas, fungsi dan kewenangannya.
2. Pola pelayanan satu atap, yaitu pola pelayanan yang dilakukan secara terpadu pada
satu instansi pemerintah yang bersangkutan sesuai kewenangan masing-masing
3. Pola pelayanan satu pintu, yaitu pola pelayanan masyarakat yang diberikan secara
tunggal oleh suatu unit kerja pemerintah berdasarkan pelimpahan wewenang dari unit
kerja pemerintah terkait.
4. Pola pelayanan terpusat, yaitu pola pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh suatu
instansi pemerintah yang bertindak selaku koordinator terhadap pelayanan instansi
pemerintah lainnya yang terkait dengan bidang pelayanan masyarakat yang
bersangkutan.
5. Pola pelayanan elektronik, yaitu pola pelayanan yang menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi berupa pelayanan elektronik, sehingga dapat menyesuaikan
diri dengan keinginan dan kapasitas masyarakat pengguna.
BAB III
PEMBAHASAN LESSON LEARNED

Bab ini mengelaborasi poin-poin pembelajaran yang diperoleh di lokus (BPM-PTSP)


selama kegiatan field-study. Badan Penanaman Model dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(BPM-PTSP) mempunyai tugas pokok melaksanakan perumusan kebijakan teknis, fasilitas,
koordinasi, pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan penanaman modal dan pelayanan
perijinan terpadu secara terintegrasi, sinkronisasi, simplikasi, transparan dan kepastian. Untuk
melaksanakan tugas tersebut, BPM-PTSP mendapat pelimpahan wewenang dari berbagai
instansi terkait untuk menjalankan fungsi promosi dan kerjasama investasi, pengembangan
potensi daerah, perijinan usaha, kesehatan dan kesejahteraan rakyat, perijinan perindustrian,
perdagangan, koperasi dan pariwisata, perijinan konstruksi dan perbuhungan, perijinan
pembangunan, reklame dan lingkungan, data, informasi dan pelayanan pengaduan,
pengawasan dan pengendalian, UPTD, dan tim teknis.

Reformasi pelayanan publik diwujudkan dengan memangkas rantai birokrasi dengan


pelimpahan wewenang, koordinasi, kolaborasi, dan integrasi sehingga pelayanan publik
menjadi mudah, murah, efisien dan tepat sasaran sebagai asas dari good governance.

BPM-PTSP menciptakan aplikasi pengelolaan sistem informasi manajemen


administrasi perijinan dan non perijinan yang terintegrasi dengan SKPD teknis terkait.

Untuk memenuhi aparatur yang memiliki kompetensi, berkualitas dan profesional


dibidang perijinan yang mementingkan kepentingan umum, berkepastian hukum, berasaskan
kesamaan hak, keseimbangan hak dan kewajiban, partisipatif, tidak diskriminatif,
akuntabilitas, ketepatan waktu, kecepatan, kemudahan dan keterjangkauan.

Terkait pelayanan perijinan kepada masyarakat, BPM-PTSP menyediakan sarana dan


prasarana misalnya mobil perijinan keliling.

BPM-PTSP menciptakan inovasi baru dalam perijinan dan non perijinan berupa SOP
yang disebar ke SKPD teknis sehingga segala pelayanan dapat diselesaikan selambat-
lambatnya 15 hari. Jenis perijinan dan non perijinan yang dilayani juga terus ditingkatkan,
saat ini ada 50 jenis perijinan yang dilayani oleh BPM-PTSP. Persyaratan dan alur perijinan
dan non-perijinan disederhanakan sehingga tujuan pemangkasan alur birokrasi dapat dicapai.
Gambar 3.
Sarana dan prasarana BPMPTSP
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Whole of Government atau disingkat WoG adalah sebuah pendekatan


penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan
dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai
tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. Pola
WoG sendiri dibagi menjadi 5 pola yaitu pola pelayanan teknis fungsional, pelayanan satu
atap, pelayanan satu pintu, pelayanan terpusat, dan pelayanan elektronik. Kegiatan studi
lapangan ini merupakan observasi pembentukan pengetahuan PNS dalam menganalisis
best practice penerapan WoG dalam pemberian layanan yang terintegrasi di Badan
Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. WoG ini termasuk dalam kategori
pola pelayanan satu pintu, yaitu merupakan pola pelayanan yang diberikan secara tunggal
oleh suatu unit kerja pemerintah berdasarkan pelimpahan wewenang dari unit kerja
pemerintah terkait lainnya yang bersangkutan.

Unsur-unsur utama yang menjadi pendorong di Badan Penanaman Modal dan


Pelayanan Terpadu Satu Pintu ini yaitu adanya dasar hukum pembentukan PTSP berupa
peraturan daerah, peraturan gubernur, dan peraturan walikota. Pelimpahan kewenangan
diberikan dari Gubernur dan Walikota kepada PTSP untuk menandatangani dan
melagalisasi surat perizinan. Dalam PTSP Palembang ini juga sudah menggunakan sistem
informasi secara online dalam memberikan pelayan perizinan

B. SARAN
Dengan adanya studi lapangan ini dapat menjadi contoh bagi ASN di institusi lain
khususnya Perguruan Tinggi Negeri dalam menginternalisasi dan mengaktualisasikan
penerapan layanan WoG di instansi masing-masing. Dengan demikian diharapkan akan
terwujud ASN yang profesional dan inovatif sehingga dapat menciptakan layanan-
layanan positif bagi upaya peningkatan kinerja di bidang pelayanan publik melalui
pendidikan di perguruan tinggi. Hal ini tentunya akan mewujudkan sistem pendidikan
yang memegang teguh prinsip-prinsip good government and clean governance.