Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tubuh manusia sangat peka terhadap sentuhan dan kenikmatan seksual. Sejumlah
penelitian dan artikel mencoba memaparkan berapa banyak zona erotis yang dimiliki oleh
manusia. Meskipun sejumlah organ dapat diidentifikasi sebagai zona erotis, namun zona ini
bersifat individual. Menurut Susan (2015) stimulus yang dirasakan pada setiap orang akan
diterima berbeda, sehingga apa yang dirasakan membangkitkan gairah seksual untuk satu
orang mungkin akan menjengkelkan bagi orang lain. Gairah seksual dan respons seksual pada
manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: kemampuan otak kita untuk menciptakan
gambaran dan fantasi, emosi, berbagai proses sensoris, hormon, tingkat keintiman dengan
pasangan, dan sejumlah pengaruh lainnya (Crooks, 2017).
Crooks (2017) menambahkan bahwa ekspresi seksualitas manusia ditentukan oleh
interaksi yang kompleks antara faktor sosial, emosional, kognitif, hormon, neuron otak, dan
refleks spinal. Interaksi kompleks tersebut menyebabkan beberapa organ menjadi sensitif
terhadap stimulus yang ada. Dalam tulisannya, Susan (2015) menyatakan ketika berbicara
tentang zona sensitif, yang terlintas dalam pikiran adalah organ bagian tubuh yang jelas,
seperti payudara, puting, klitoris dan penis. Organ - organ ini adalah area seksual pada tubuh
dan lebih sensitif daripada yang lain karena terdapat sejumlah ujung saraf. Organ organ
tersebut menjalani proses yang disebut vasokotoksik, yang menyebabkan peningkatan aliran
darah sehungga membuatnya sangat sensitif saat terstimulasi dan tersentuh.
Tetapi selain alat kelamin ternyata ada banyak area yang memiliki ujung saraf lebih
sedikit namun tetap bisa bersifat erotis. Hal ini bergantung pada cara terstimulasi oleh
rangsangan. Menurut Susan (2015) beberapa daerah tersebut seperti : kelopak mata, lengan
bawah, perut dan kepala yang bisa menimbulkan respons seksual. Hal ini dikarenakan otak
memainkan peran penting dalam membangkitkan sensasi seksual, baik cara berpikir, emosi
dan memori. Seluruhnya dimediasi oleh mekanisme yang kompleks di otak.
Memahami bagian tubuh mana saja yang dapat menimbulkan gairah seksual serta
mempelajari mekanisme terjadinya rangsangan seksual membantu para magister kesehatan
reproduksi untuk memberikan konseling terkait kesehatan seksualitas. Dalam makalah ini
akan dijabarkan hal hal tergait zona erotis dan mekanisme terjadinya rangsangan seksual.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud Erogenous Zone atau zona erotis?
2. Organ apa saja yang menjadi bagian zona erotis?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjabarkan dan menjelaskan maksud dari zona erotis pada pria maupun wanita.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Menjabarkan arti dari zona erotis.
2. Menyebutkan organ yang termasuk dalam zona erotis wanita.
3. Menyebutkan organ yang termasuk dalam zona erotis pria

1.4 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat menjadi refrensi pengembangan ilmu pengetahuan yang
berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Erotigenous Zone (Zona Erotis)


Erogenous berasal dari kata kata erotisous berasal dari bahasa Yunani, eros yang
berarti cinta dan gabungan bahasa Inggris genous berarti memproduksi. Erotigenous zone
atau zona erotis adalah area tubuh manusia yang memiliki sensitivitas tinggi yang apabila
mendapat stimulus dapat menciptakan respon seksual seperti : relaksasi, fantasi, gairah
seksual hingga orgasme (Susan, 2015).
Menurut Croks (2017), zona erotis memiliki arti daerah yang melahirkan sensasi erotis,
dan didefinisikan sebagai area area di tubuh yang lebih responsif terhadap rangsangan
taktil (sentuhan) atau stimulasi seksual. Para ahli membagi zona erotis ke dalam dua kategori,
yaitu zona erotis primer dan zona erotis sekunder.
2.1.1 Zona Erotis Primer
Zona erotis primer adalah area area tubuh yang mengandung konsentrasi ujung-
ujung saraf yang padat. Mencakup genital, pantat, anus, perineum, payudara (terutama
puting), paha bagian dalam, ketiak, pusar, leher, telinga (terutama daun telinga) dan
mulut (bibir, lidah dan seluruh rongga mulut). Tetapi meski area tersebut merupakan
zona erotis, tidak ada jaminan bahwa menstimulasinya akan berhasil membangkitkan
gairah seksual. Apa yang bisa menyalakan gairah seseorang bisa jadi tidak berdampak
apapun pada orang lain, bahkan mungkin dapat menganggu. Hal ini dikarenakan
perbedaan pilihan pada setiap individu.
2.1.2 Zona Erotis Sekunder
Zona erotis sekunder adalah area lain dari tubuh yang memiliki signifikasi erotis
melalui proses belajar dan pengalaman seksual. Zona erotis sekunder mencakup semua
bagian tubuh selain zona erotis primer. Seluruh bagian tubuh dapat menjadi zona erotis
sekunder, karena zona ini muncul akibat adanya unsur belajar. Sehingga setiap area yang
disentuh dan diasosiasikan dengan keintiman seksual bisa menjadi zona erotis sekunder.
Contohnya, seorang wanita dicium punggungnya ketika bercinta, dia mengaitkan
daerah tersebut dengan seks dan jadilah punggung wanita itu sebagai zona erotis
sekunder yang bila dicium lagi akan membangkitkan gairahnya.
Berdasarkan uraian ini, maka dengan eksplorasi, kreativitas dan komunikasi
seksual yang baik adalah kunci untuk mengetahui dimana daerah yang menurut pasangan
3
menjadi daerah yang menggairahkan. Cantumkan potongan fan fiction (Starboard Home,
karya Ezras Persian Kitty) yang dirasa cukup erotis dan dapat menggambarkan
bagaimana mencapai zona erotis daripasangan :
We kissed, who moved first I dont know, doesnt matter, we kissed. The pulsing
strong and hot in our veins. Mouths mating, lips sliding, tongues sweeping teeth, and
breathing of each other like one being. Skin on skin on skin all over, smooth and bare
and it was the most natural thing in the world, like breathing, like singing.

2.2 Organ Organ Erotik


2.2.1 Organ Erotis Wanita
a. Payudara
Payudara adalah ciri seks sekunder pada wanita. Puting menjadi tegak saat otot - otot
kecil berkontraksi karena respons sentuhan, gairah seksual, atau demam. Bagi banyak
wanita, stimulasi puting dan payudara merupakan sumber penting kenikmatan dan
gairah saat melakukan masturbasi atau interaksi seksual. Beberapa menemukan bahwa
stimulasi semacam itu membantu membangun intensitas seksual yang mengarah pada
orgasme,tetapi bagi yang lain menikmatinya demi kepuasan sendiri. Wanita lain
mengemukakan menyentuh payudara dan puting merupakan pengalaman netral atau
tidak menyenangkan.
b. Vulva
Vulva merupakan organ yang terdiri atas beberapa bagian, yakni klitoris, labia
mayora, labia minora dan introitus vagina. Setiap jenis sentuhan genital yang
menyebabkan gairah bervariasi diantara para wanita. Bahkan wanita yang sama
mungkin berbeda dalam pilihannya dari satu saat ke saat berikutnya. Wanita dapat
memilih gerakan lembut atau tegas pada area vulva yang berbeda.
Stimulasi langsung klitoris tidak nyaman bagi beberapa wanita; Sentuhan di atas atau
di sepanjang sisi terkadang lebih disukai. Penyisipan satu atau beberapa jari ke dalam
vagina bisa meningkatkan gairah. Salah satu teknik untuk stimulasi G-spot adalah
agar pasangan memasukkan dua jari dan benar-benar mengelus spons uretra dengan
gerakan "come here" (Taormino, 2011). Kebanyakan wanita yang mendekati orgasme
biasanya membutuhkan ritme yang stabil dan konsisten serta tekanan sentuhan
melalui orgasme (Ellison, 2000). Jaringan vulva yang sensitif, menyebabkan apabila
tidak cukup pelumasan saat intercouse, maka dapat dengan mudah menjadi iritasi.

4
Pelumas seperti Astroglide, lotion tanpa alkohol atau parfum, atau air liur bisa
digunakan untuk melembabkan jari dan vulva agar sentuhan dirasa lebih nyaman.
c. Klitoris
Lebih mudah bagi seorang wanita untuk menemukan klitorisnya dengan sentuhan
daripada penglihatan karena ujung sarafnya yang sensitif. Kelenjar klitoris sangat
sensitif, dan wanita biasanya merangsang area ini pada tudung yang menutupinya
untuk menghindari stimulasi langsung yang mungkin terlalu kuat. Penelitian pola
masturbasi wanita telah menemukan bahwa rangsangan klitoris, dibanding dengan
penyisipan vagina, lebih sering membuat wanita mencapai gairah dan orgasme saat
melakukan masturbasi. Satu-satunya manfaat klitoris adalah kenikmatan seksual dan
gairah.
Terdapat berbagai kontroversi seputar peran klitoris dalam gairah seksual dan
orgasme. Perdebatan pengetahuan ilmiah tentang ujung saraf yang sangat
terkonsentrasi di klitoris, namun stimulasi vagina dianggap lebih bertanggung jawab
untuk gairah seksual dan orgasme wanita. Padahal klitoris jauh lebih sensitif terhadap
sentuhan daripada vagina dan kebanyakan wanita cenderung mengalami orgasme
tidak hanya dari masturbasi tetapi juga dari rangsangan pasangan manual dan oral
pada klitoris daripada dari penetrasi vagina (Brewer & Hendrie , 2011).
d. Vagina
Bagian dalam vagina memang mengandung ujung saraf, tapi bukan tipe yang
merespons sentuhan ringan (Pauls et al., 2006). (Inilah sebabnya mengapa wanita
tidak merasa tampon atau diafragma saat mereka berada di tempat yang benar).
Namun demikian, banyak wanita menemukan tekanan internal dan sensasi peregangan
di dalam vagina saat rangsangan manual atau intercouse yang sangat menyenangkan.
Beberapa wanita mengalami gairah yang lebih intens dari rangsangan vagina daripada
stimulasi klitoris, terutama setelah mereka terangsang dan jaringan vagina benar-benar
membesar. Penelitian menggunakan teknologi pencitraan otak telah menemukan
bahwa wanita (dengan dan tanpa cedera tulang belakang) dapat mengalami orgasme
dengan menggunakan rangsangan pada serviks (Whipple & Komisaruk, 2006).
Seiring semakin banyak penelitian ilmiah dilakukan, variasi pada tiap individu yang
lebih luas menjadi jelas (Ellison, 2000).
Selama gairah seksual, cairan yang jelas dan licin mulai muncul di mukosa vagina
dalam waktu 10 sampai 30 detik setelah stimulasi fisik atau psikologis yang efektif
dimulai. Pelumasan ini adalah hasil dari vasokotoksik, yang disebabkan oleh jaringan
5
luas sel darah di jaringan yang mengelilingi vagina yang membesar dengan darah.
Cairan bening merembes dari jaringan yang tersumbat ke bagian dalam dinding
vagina untuk membentuk lapisan licin khas vagina yang terangsang secara seksual.
Selama seks oral-genital, beberapa pasangan wanita menikmati aroma erotis dan rasa
pelumasan vagina. Saat melakukan hubungan intim, pelumasan vagina membuat
dinding vagina licin, yang memudahkan masuknya penis ke dalam vagina. Pelumasan
juga menjadikan intercouse menyenangkan. Tanpa pelumasan yang memadai,
masuknya penis dan dorongan berikutnya bisa jadi tidak nyaman bagi wanita dan
seringkali juga pada pasangan. Iritasi dan luka kecil dari jaringan vagina bisa terjadi.
e. G-Spot
Grafenberg Spot atau yang lebih dikenal dengan G-Spot, adalah area di dinding
anterior (atau depan) vagina, sekitar 1 sentimeter dari permukaan kulit dan sepertiga
sampai setengah jarak dari lubang vagina ke bagian belakang vagina. Area ini terdiri
dari sistem kelenjar (kelenjar Skene) dan saluran yang mengelilingi uretra. Daerah ini
diyakini sebagai analog kelenjar prostat pada pria karena berkembang dari jaringan
embrio yang sama. G-Spot telah menghasilkan banyak minat karena laporan bahwa
beberapa wanita mengalami gairah seksual, orgasme, dan ejakulasi cairan saat
dirangsang di sana (Darling et al., 1990), walaupun banyak wanita tidak memiliki area
sensasi yang meningkat.

Gambar 2.1 Lokasi G-Spot


Sumber : Crooks, 2017

6
2.2.2 Organ Erotis Pada Pria
a. Penis
Saat pria bergairah secara seksual, corpus cavernosum membesar dan terisi penuh
dengan darah yang menyebabkan ereksi penis. Selama gairah seksual kelenjar corpus
spongiosum bisa menonjol sebagai alas dan badan yang berbeda di sepanjang sisi
bawah penis. Seluruh bagian penis bersifat sensitif terhadap sentuhan, namun
konsentrasi ujung saraf terbesar ditemukan di glans penis. Meskipun seluruh area
glans sangat sensitif, banyak pria menyatakan bahwa dua lokasi spesifik sangat
responsif terhadap stimulasi. Salah satunya adalah bagian corona atau mahkota dari
penis, yang meruapakan penanda daerah di mana glans naik tiba-tiba dari poros.
Bagian lainnya adalah frenulum, lapisan tipis kulit yang menghubungkan kelenjar ke
poros di bagian bawah penis.
Kebanyakan pria menikmati glans yang dirangsang, terutama dua area tersebut,
namun setiap individu berbeda dalam preferensi mereka. Beberapa pria kadang-
kadang atau secara rutin lebih suka distimulasi di daerah genital selain kelenjar penis.
Modus rangsangan, baik manual (sendiri atau pasangan) atau oral, dapat
mempengaruhi pilihan lokasi pilihan. Pria juga memiliki pilihan individu untuk
stimulasi manual seperti wanita, mereka mungkin menginginkan sentuhan yang lebih
kencang atau lembut - dan goresan yang lebih cepat atau lebih lambat - saat gairah
mereka meningkat. Mengencangkan lembut batang penis dan kelopak penis dan
sentuhan ringan atau menarik pada skrotum mungkin diinginkan. Beberapa pria
menemukan bahwa pelumasan dengan minyak, lotion, atau air liur meningkatkan
kenikmatan. Segera setelah orgasme, kelenjar penis mungkin terlalu sensitif untuk
merangsang.

Gambar 2.2 Struktur Penis


Sumber : Crooks, 2017

7
b. Prostat
G-spot bagi pria adalah kelenjar prostat, saat prostat mendapat stimulus atau dengan
dipijat dengan benar, pria akan mengalami orgasme yang berbeda. Kelenjar berukuran
kenari ini dapat dipijat dengan ujung jari atau pijat prostat saat penisnya dinyatakan
tidak terstimulasi. Cara yang efektif untuk dapat memijat prostat adalah melalui
anusnya; dengan jari yang dilumasi dengan baik, berikan tekanan pada dinding depan
kolonnya sekitar 2 inci. Cara lain untuk dapat memberi rangsangan prostat sedikit
kurang efektif, namun dapat dilakukan. Bila penis telah terangsang, baik oral maupun
manual, saat pria mulai mendekati klimaks berikan pijatan jari pada perineumnya,
area antara skrotum dan anusnya. Karena prostat terletak secara internal di antara
pangkal penis dan anus sehingga menyentuh bagian tersebut secara eksternal dapat
merangsang kelenjar prostat.
c. Skrotum
Selain karena pengaruh sushu, rangsangan lain yang menyebabkan skrotum mendekat
ke tubuh adalah gairah seksual. Salah satu indikasi eksternal yang paling jelas ketika
seorang pria akan mengalami orgasme ialah penarikan testis ke posisi ketinggian
maksimum. Otot skrotum utama yang terlibat dalam respons ini adalah otot
kremaster.
d. Lipatan Gluteal
Lipatan yang terletak di bagian atas pahanya dan mengisi bagian pantat adalah titik
gairah yang pasti. Daerah tersebut bersifat sensitif dan menjadi alasan mengapa
beberapa orang suka dipukul di bagian pantat saat melakukan intercouse

2.3 Otak dan Gairah Seksual


Meskipun sejumlah organ dapat diidentifikasi sebagai zona erotis, namun zona ini
bersifat individual. Stimulus yang diterima pada setiap orang akan diterjemahkan berbeda,
sehingga apa yang dirasakan membangkitkan gairah seksual untuk satu orang mungkin
menjengkelkan bagi orang lain. Beberapa area tubuh yang berbeda juga dapat menjadi zona
erotis pada orang yang berbeda. Hal ini dikarenakan otak memainkan peran penting dalam
membangkitkan sensasi seksual, baik cara berpikir, emosi dan memori. Seluruhnya dimediasi
oleh mekanisme yang kompleks di otak.
Gairah seksual dapat muncul tanpa adanya stimulus sensori karena dapat dihasilkan
dari berfantasi (sebagai contoh, memikirkan gambar erotis atau selingan seksual). Beberapa
8
individu dapat mencapai orgasme selama ia berfantasi tanpa ada stimulasi fisik. Berbagai
macam stimulus dapat membangkitkan gairah seksual jika otak menginterpretasinya
demikian. Stimulus berupa sentuhan merupakan stimulus yang dominan dalam aktivitas
keintiman seksual di antara stimulus stimilus lainnya. Sentuhan pada berbagai area
permukaan kulit merupakan sumber yang paling sering membangkitkan gairah seksual.
Beberapa kejadian spesifik dapat menyebabkan bangkitan seksual, namun hal yang
kurang jelas adalah peran pengalaman individu dan pengaruh budaya, dimana keduanya
dimediasi oleh otak. Setiap individu tidak memberikan respons yang sama terhadap bentuk
rangsangan yang sama. Beberapa individu bisa menjadi sangat terangsang jika pasangan
mereka menggunakan bahasa seksual eksplisit, sedangkan individu lain merasa hal tersebut
sebagai sebuah ancaman untuk tindakan seksual. Pengaruh budaya memainkan peran penting.
Misalnya, bau sekresi genital mungkin lebih membangkitkan banyak orang Eropa daripada
anggota masyarakat sadar deodoran sendiri.
Otak adalah pusat penyimpanan memori dan nilai budaya, sehingga memiliki
pengaruh terhadap hasrat seksual manusia. Peristiwa mental yang berat, seperti fantasi,
adalah produk dari korteks serebral, lapisan luar otak serebral yang bertanggung jawab untuk
proses mental yang lebih tinggi. Korteks serebral hanya mewakili satu tingkat fungsi dimana
otak mempengaruhi gairah dan respons seksual manusia. Pada tingkat subkortikal, sistem
limbik tampaknya memainkan peran penting dalam menentukan perilaku seksual, baik pada
manusia maupun hewan lainnya. Ini termasuk gyrus cingulate, amigdala, hippocampus, dan
bagian hipotalamus, yang memainkan peran pengaturan. Penelitian menghubungkan berbagai
situs dalam sistem limbik dengan perilaku seksual (Arnow et al., 2002; Karama et al., 2002;
Stark, 2005).

Gambar 2.3 Struktur Otak


Sumber : Crooks, 2017

9
Robert Heath (1972) bereksperimen dengan stimulasi sistem limbik pada pasien yang
menderita berbagai gangguan. Dia berteori bahwa kenikmatan akibat stimulasi akan terbukti
memiliki beberapa nilai terapeutik. Pasiennya, seorang pria dengan gangguan emosional,
diberi alat stimulasi diri yang digunakan sampai 1.500 kali per jam untuk memberikan
stimulasi ke area dalam sistem limbiknya. Dia menggambarkan stimulasi tersebut karena
menghasilkan kesenangan seksual yang intens. Pasien lain, seorang wanita dengan gangguan
epilepsi, melaporkan adanya pleura seksual yang intens dan mengalami banyak respons
orgasme sebagai akibat langsung stimulasi otak.
Beberapa penelitian lain menggambarkan hipotalamus dalam fungsi seksual. Ketika
beberapa bagian hipotalamus dihancurkan melalui operasi, perilaku seksual laki-laki dan
perempuan pada beberapa spesies akan berkurang dramatis (Paredes & Baum, 1997). Satu
wilayah hipotalamus yakni daerah preoptik medial (MPOA), terbukti terlibat dalam gairah
seksual dan perilaku seksual. Stimulasi listrik MPOA meningkatkan perilaku seksual, dan
kerusakan pada area ini mengurangi atau menghilangkan aktivitas seksual pada laki-laki pada
berbagai spesies (Stark, 2005). Obat opioid, seperti heroin dan morfin, memiliki efek penekan
pada MPOA dan diketahui menghambat kinerja seksual pada kedua jenis kelamin (Argiolas,
1999).
Substansi alami tertentu pada otak yang disebut neurotransmitter (bahan kimia yang
mengirimkan pesan ke sistem saraf) diketahui mempengaruhi gairah dan respons seksual,
yakni memiliki efek pada MPOA. Salah satu bentuk transmitter ini, yakni dopamin, yang
dapat menginduksi aktivitas saraf di MPOA dan memfasilitasi gairah dan respons seksual
pada laki-laki pada banyak spesies (Giargiari et al., 2005; Wilson, 2003). Selanjutnya,
testosteron diketahui dapat merangsang pelepasan dopamin di MPOA pada laki-laki dan
perempuan (Wilson, 2003). Temuan ini menunjukkan bahwa testosteron dapat merangsang
libido pada kedua jenis kelamin.
Berbeda efek dopamin terhadap perilaku seksual, serotonin tampaknya menghambat
aktivitas seksual. Pada saat ejakulasi terjadi pelepasan serotonin baik pada MPOA dan
hipotalamus lateral. Serotonin yang dilepaskan ini untuk sementara mengurangi dorongan
dan perilaku seks dengan menghambat pelepasan dopamin (Hull et al., 1999). Serotonin juga
menekan gairah seksual dengan cara memblokir aksi oksitosin (Wilson, 2003). Seseorang
yang menderita depresi, sering diberi obat antidepresan Selective Serotonin Reupres Inhibitor
(SSRI). Obat ini meningkatkan kadar serotonin di otak dan efek samping yang timbul adalah
gangguan libido dan respon seksual.
10
Secara kolektif berbagai temuan ini memberikan bukti bahwa dopamin memfasilitasi
gairah dan aktivitas seksual pada wanita dan pria, sementara serotonin tampaknya
menghambat pada kedua jenis kelamin. Sangat sulit bahwa peneliti akan menemukan satu
"pusat seks" yang spesifik di otak. Namun, jelas bahwa baik korteks serebral dan sistem
limbik memainkan peran penting dalam memulai, mengatur, dan mengendalikan gairah dan
respons seksual manusia. Selain itu, otak menafsirkan berbagai input sensorik yang sering
memberikan pengaruh mendalam pada gairah seksual.
Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa otak adalah organ paling penting untuk
gairah seksual manusia. Pengamatan ini menyiratkan bahwa setiap peristiwa sensorik, setelah
ditafsirkan oleh otak, dapat menjadi rangsangan seksual yang efektif. Variasi yang dihasilkan
pada sumber stimulasi erotis membantu menjelaskan kompleksitas seksual manusia yang luar
biasa. Berasal dari indra utama, sentuhan cenderung mendominasi selama keintiman seksual.
Namun, semua indera memiliki potensi untuk terlibat; visual, bau, suara, dan rasa semuan
dapat menjadi kontributor penting dalam gairah erotis. Tidak ada blue print yang
menjelaskan untuk apa dan bagaimana stimulasi sensorik. Setiap individu unik; setiap orang
memiliki pemicu gairah individu yang berbeda - beda.
2.2.1 Stimulasi Sentuhan
Zona erotis tubuh sangat responsif terhadap sentuhan. Hasil penelitian melaporkan
bahwa sekitar 81% wanita dan 51% pria melaporkan bahwa stimulasi pada payudara dan
puting mereka menyebabkan peningkatan gairah seksual (Levin & Meston, 2006). Namun,
sentuhan tidak perlu hanya diarahkan ke daerah yang sensitif seksual atau zona erotis primer.
Seluruh permukaan tubuh adalah organ sensori dan dengan menyentuh hampir di mana saja,
dapat meningkatkan keintiman dan gairah seksual. Orang yang berbeda menyukai jenis dan
intensitas sentuhan yang berbeda, dan orang yang sama dapat menemukan sentuhan tertentu
yang sangat membangkitkan satu waktu dan tidak menyenangkan berikutnya. Oleh karena itu
komunikasi secara terbuka dapat membantu pasangan mengerti apa yang diinginkan tentang
sentuhan.
2.2.2 Stimulasi Visual
Dalam masyarakat kita, rangsangan visual tampak sangat penting. Bukti utama adalah
penekanan yang sering kita lakukan pada penampilan fisik, termasuk aktivitas seperti :
perawatan tubuh, memakai pakaian yang tepat, dan penggunaan kosmetik yang ekstensif.
Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa visualisasi adalah cara kedua untuk
membangkitkan gairah seksual. Popularitas majalah pria yang eksplisit secara seksual di

11
masyarakat, menunjukkan bahwa pria lebih terangsang oleh rangsangan visual daripada
wanita.
Penelitian awal nampaknya mendukung kesimpulan ini. Kinsey menemukan bahwa
lebih banyak pria daripada wanita yang dilaporkan tertarik secara seksual dengan rangsangan
visual (Kinsey et al., 1948, 1953). Sedangkan pada wanita, pengaruh budaya membuat wanita
enggan mengakui bahwa ia terangsang oleh stimulasi visual. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa wanita memiliki kesulitan lebih besar daripada pria untuk mengungkapkan tanda-
tanda gairah seksual di tubuh mereka.
2.2.3 Stimulasi Bau
Riwayat seksual dan pengkondisian budaya seseorang akan mempengaruhi repon
seseorang terhadap bau hingga menimbulkan rangsangan seksual. Seseorang akan belajar
melalui pengalaman untuk merasa bau tertentu sebagai rangsangan erotis sedangkan sesorang
lainnya mungkin membencinya. Dari perspektif ini mungkin tidak ada hal khusus tentang
ketertarikan sesorang pada keharuman sekresi genital dan menyebabkannya sebagai sesuatu
yang membangkitkan atau tidak menyenangkan. Faktanya bahwa beberapa orang secara
terbuka mengenali nilai bau kelamin sebagai stimulan seksual. Misalnya, di daerah-daerah di
Eropa di mana industri deodoran tidak terlalu luas, beberapa wanita menggunakan sekresi
genital mereka dan ditempatkan secara strategis di belakang telinga atau di tengkuk leher,
untuk membangkitkan pasangan seksual mereka.
Kebanyakan orang di masyarakat menyamarkan bau alami tubuh, sehingga
membuatnya sulit untuk mempelajari efek dari bau ini. Bau alami apapun yang bisa memicu
gairah cenderung disamarkan dengan sering mandi, parfum, deodoran, dan antiperspirant.
Betina dari berbagai spesies mengeluarkan zat tertentu, yang disebut feromon (pheromones),
selama masa subur (Rako & Friebely, 2004; Wyatt, 2003). Dua titik berbeda secara anatomis
di hidung manusia mungkin terlibat dalam penerimaan feromon (Shah & Breedlove, 2007).
Kedua titik tersebut adalah vomeronasal organ (VNO) dan olfactory epithelium (OE), dimana
keduanya mengirimkan pesan saraf ke otak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa situs-
situs ini dalam hidung manusia dapat mendeteksi dan merespons feromon (Rako & Friebely,
2004; Savic et al., 2005; Touhara & Vosshall, 2009).
Seorang peneliti Swedia mengisolasi dua zat yang diduga merupakan feromon
manusia: Estratetraenol (EST), bahan kimia mirip estrogen yang ditemukan pada urine
wanita, dan androstadienone (AND), turunan testosteron yang ditemukan pada keringat pria.
Ia mendapatkan hasil bahwa paparan EST mengaktifkan ("menyala") hipotalamus pria
heteroseksual tetapi tidak pada wanita heteroseksual. Sedangkan AND mengaktifkan struktur
12
otak pada wanita tetapi tidak pada pria. Satu temuan tambahan yang menarik dalam
penelitian ini adalah pada otak pria gay, hipotalamus mereka merespons AND dan EST
dengan cara yang serupa dengan subjek wanita heteroseksual (Savic et al., 2005).
Meskipun sejumlah bukti menunjukkan bahwa manusia memang mengeluarkan
feromon, tidak cukup bukti untuk menentukan apakah zat ini bertindak sebagai penarik
seksual. Namun, sejumlah perusahaan Amerika dan internasional telah berinvestasi dalam
pengembangan komersial dan pemasaran parfum dan cologne yang diduga mengandung zat
yang memiliki sifat feromon manusia (Cutler, 1999; Kohl, 2002). tetapi belum dapat
dipastikan apakah produk ini mengandung feromon penarik seksual asli.
2.2.4 Stimulasi Ciuman
Berciuman bisa menjadi pengalaman intens, erotis dan mendalam. Bibir dan mulut
mengandung banyak ujung - ujung saraf yang sensitif, sehingga berciuman menjadi hal yang
menyenangkan. terdapat berbagai macam variasi berciuman bahkan tak terbatas. Teks India
klasik mengenai erotisme, Kama Sutra, menggambarkan 17 jenis ciuman (Ards, 2000).
Berciuman juga bisa menjalankan keseluruhan aktivitas oral, seperti menjilati, mengisap, dan
menggigit ringan. Semua area tubuh memungkinkan untuk diberikan ciuman.
2.2.5 Stimulasi Suara
Pada sebagian orang akan membuat suara pada saat beraktivitas seksualyang memicu
orgasme dan membangkitkan semangat pasangannya. Tetapi bagi beberapa orang lebih suka
pasangan mereka tetap diam saat beraktivitas seks. Beberapa orang karena takut atau malu
melakukan upaya menekan suara secara spontan selama interaksi seksual. Karena bagi
banyak pria mungkin sangat sulit untuk berbicara, menanggis, atau mengeluh saat sedang
bergairah. Dilain pihak, keengganan wanita bersuara saat aktivitas seksual mungkin
dipengaruhi oleh anggapan bahwa wanita yang baik tidak seharusnya sangat bersemangat
hingga menimbulkan suara.
Selain membangkitkan gairah seksual, berbicara satu sama lain selama selingan
seksual dapat menjadi informatif dan bermanfaat. Pembicaraan tersebut dapat berupa
ungkapan senang jika pasangan melakukan sentuhan tertentu. Tetapi bila seseorang tidak
menyukai obrolan atau verbalisasi saat aktivitas seks, ia dapat membicarakan dengan
pasangannya sebelumnya.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penyusunan makalah ini, diperoleh kesimpulan :
1. Zona erotis adalah area tubuh manusia yang memiliki sensitivitas tinggi yang apabila
mendapat stimulus dapat menciptakan respon seksual seperti : relaksasi, fantasi,
gairah seksual hingga orgasme. Zona erotis terbagi menjadi dua jenis yakni zona
erotis primer dan zona erotis sekunder. Dimana peranan otak sebagai intepretator
stimulus menanggapi rangsangan sebagai rangsangan seksual atau tidak.
2. Organ yang termasuk dalam zona erotis pria dan wanita sebenarnya sama. Hanya
pada bagian genital saja yang membedakan diantara keduanya. Organ organ tersebut
antara lain : genital (vulva, klitoris, vagina, G-spot), pantat, anus, perineum, payudara
(terutama puting), paha bagian dalam, ketiak, pusar, leher, telinga (terutama daun
telinga) dan mulut (bibir, lidah dan seluruh rongga mulut)
3. Selain organ genital, organ organ lain memiliki fungsi yang sama sebagai organ
erotis. Sedangkan bagian genital pada pria antara lain : penis (frenulum dan glans
penis), prostat, skrotum dan lipatan gluteal.

3.2 Saran
Sebagai seorang magister kesehatan reproduksi, mahasiswa diharapkan dapat
memahami pengertian dan fungsi zona erotis. Mekanisme menanggipi stimulus hingga
terjadinya gairah seksual juga dapat membantu mahasiswa mendeteksi kelainan yang
mungkin terjadi pada dysfungsi seksual.

14
DAFTAR PUSTAKA

Crooks, Robert and Karla Baur. 2017. Our sexuality, 13th Edition. Canada : Cengage
Learning

Evans, Samantha. 2015. The Lesser Known Erotisous Zones and How To find Them.
http://www.independent.co.uk/life-style/love-sex/the-lesser-known-erotisous-zones-
and-how-to-find-them-10419267.html

LeVay, Simon, Sharon M. Valente. 2006. Human Sexuality 2nd Edition. USA : Sinauer
Associates

15