Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

PRAKTIKUM FARMASI PRAKTIS

Kelompok A2-4

Anggota:

Elvasyana Nada Tiram (1720343749)

Erfa Kamelial Hasanah (1720343750)

PROGRAM PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS SETIA BUDI

SURAKARTA

2017
1) Kasus 4

Anda (retno), seorang ibu datang ke apotek untuk membelikan obat buat anaknya yang
berumur 1 tahun 6 bulan dengan keluhan gatal-gatal dan lecet pada daerah lipatan paha dan
disebabkan penggunaan pempers, sebelumnya belum pernah mengalami penyakit ini, tidak
memiliki penyakit lain, memiliki berat badan berlebih, tidak memiliki alergi.

2) Dermatitis diapers / Ruam popok

Ruam popok/ dermatitis diapers merupakan peradangan kulit didaerah yang tertutup popok
yang paling sering dialami oleh bayi atau anak-anak. Biasanya terjadi di sekitar bokong, kemaluan,
dan perineum memang lebih sensitif dan lembut. Selain itu ruam popok dapat pula diakibatkan
oleh jamur, serta dapat dilihat dengan munculnya keadaan memerah di bagian kulit yang tertutup
popok. Daerah merah ini bisa disertai dengan bintik-bintik merah, bisa juga tidak (Anonim, 2008).

Kontak yang lama antara kulit dan popok/diapers yang basah mempengaruhi beberapa
bagian kulit. Gesekan yang lebih sering dan lama menimbulkan kerusakan/iritasi pada kulit yang
dapat meningkatkan permeabilitas kulit dan jumlah mikroorganisme. Dengan demikian, kulit
menjadi sensitif dan mudah mengalamai iritasi (Nursalam, 2005).

Gangguan tersebut sering terjadi akibat kurang terjaganya kebersihan bayi dan
lingkungannya atau rendahnya pengetahuan orang tua mengenai dermatitis diapers/ ruam popok.
Anak dari orang tua dengan tingkat pengetahuan sosial ekonomi yang rendah maupun yang tinggi
dapat mengalami gangguan ruam popok ini, apabila orang tuanya tidak mengetahui terjadinya
ruam popok/ dermatitis diapers pada anaknya (Nursalam, 2005).

Pengetahuan ibu dalam pemakaian popok dan perawatan daerah yang tertutup popok pada
bayi di Indonesia ternyata masih rendah. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa sebagian besar
responden memiliki pengetahuan cukup sebanyak 30 orang (45,5%), terdapat tindakan yang salah
dalam perawatan daerah-daerah yang tertutup popok terhadap pencegahan terajadinya dermatitis
diapers/ ruam popok pada neonatus yaitu sebanyak 30 orang (45,5%) (Manulang, 2010).
Kurangnya pengetahuan ibu saat terjadi ruam popok pada bayi, mengakibatkan ibu merasa gugup,
ketakutan, dan merasa bersalah atas keteloderannya terhadap bayinya. Seolah-olah ibu
beranggapan bahwa kurang memperhatikan bayinya tersebut. Sering kali ibu dalam penggunaan
popok sekali pakai tidak melihat jenis popoknya atau kualitas popok tersebut. Biasanya ibu-ibu
menganggap bahwa popok sekali pakai itu aman sehingga ibu-ibu tidak memperhatikan daya
tampung dan daya serat popok. Ibu biasanya mengganti popok sekali pakai tidak sesuai dengan
aturan penggunaan popok sekali pakai secara benar. Ruam popok juga bisa disebabkan karena
kulit yang terkena urin atau feses yang berlangsung lama, bisa juga disebabkan oleh infeksi jamur
candida, biasanya menyebabkan ruam merah terang pada lipatan kulit dan bercak kecil merah
(Muftahah, 2007).

Dalam pengetahuan kebersihan bayi, hingga saat ini memberikan popok sekali pakai pada
bayi merupakan cara yang paling praktis untuk menampung urin dan feses yang di sebabkan oleh
pemakaian popok sekali pakai. Dalam artikel yang berjudul Dispoable Diaper Potential Health
Hazards, Cathy Allison menyatakan kalau pocer dan gamble (produsen pampers dan Huggens)
melalui penelitian memperoleh data yang mencengangkan. Angka pada bayi yang menggunakan
dispoasbel diapar meningkat dari 7,1% hingga 61%, sedangkan Mark Fearer dalam artikelnya yang
berjudul Diaper Debate-Not Over Yet menyatakan beberapa hasil medis menunjukan angka
peningkatan ruam popok dari 7% pada tahun 1953 sampai 78% pada tahun 1991 (Diena, 2009).
Insiden ruam popok di Indonesia mencapai 7-35%, yang menimpa bayi laki-laki dan perempuan
berusia dibawah tiga tahun (Kabarbisnis, 2010). Jumlah Balita di Jatim 2011 kurang lebih 3,2 juta
jiwa (Pusat Data Dan Informasi Departemen Kesehatan RI, 2009). Setidaknya 50% bayi yang
menggunakan popok mengalami hal ini. Mulai terjadi pada usia beberapa minggu hingga 18 bulan
(terbanyak terjadi di usia bayi 6-9 bulan) (Rahmat hidayat, 2011). Gangguan kulit ini biasanya
menyerang bagian tubuh bayi yang tertutup popok. Daerah yang terserang biasanya area genetalia,
area sekitar anus, lipatan paha, dan pantat (Wahyuni, 2013)

Meskipun urin dan feses merupakan penyebab utama, kombinasi faktor lainnya juga
memberikan kontribusi terhadap terjadinya ruam popok. Amonia juga dipandang sebagai
penyebab ruam popok, meskipun amonia tidak berdiri sendiri. Peningkatan Ph urin mengakibatkan
peningkatan enzim fecal, yaitu protease dan lipose, sehingga memudahkan terjadinya iritasi pada
daerah bokong. Enzim fecal juga meningkatkan permeabilitas kulit akibat garam empedu yang
terkandung pada feses, terutama pada saat diare, sehingga juga mengakibatkan iritasi pada daerah
peranal. Gejala ruam popok sangat bervariasi, mulai dari adanya macula eritemateus pada kulit
yang tertutrup popok, seperti luka bakar, sampai adanya papula vesikel, pustula, dan erosi
superfisial. Apabila keadaan ini dibiarkan lebih dari 3 hari, maka bagian yang terkena ruam popok
akan ditumbuhi jamur candida albicans (Nursalam, 2005).

Pengetahuan ibu dalam menjaga kesehatan kulit bayi sangat diperlukan. Kebanyakan ibu
lebih memilih diapers dari pada memilih popok kain, dengan alasan diapers bayi lebih praktis
karena tidak perlu sering mengganti popok yang basah akibat buang air, selain itu membuat rumah
lebih bersih tidak terkena air kencing bayi. Diapers juga membuat pekerjaan ibu lebih ringan
karena tidak perlu mencuci, menjemur, menyetrika setumpuk popok. Pada sisi buruknya
penggunaan diapers dapat menyebabkan terjadinya dermatitis diapers/ ruam popok. Kesalahan
dalam pemakaian popok bisa menjadi ancaman terhadap bayi. Dampak terburuk dari pemakaian
dan perawatan daerah yang tertutup popok yang salah selain mengganggu kesehatan kulit juga
dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan bayi. Bayi yang mengalami dermatitis
diapers/ruam popok akan mengalami gangguan seperti rewel dan sulit tidur, selain itu proses
menyusui menjadi terganggu karena bayi merasa tidak nyaman sehingga berat badan tidak
meningkat (Handy, 2011). Pengetahuan ibu dalam perawatan daerah yang tertutup popok sama
halnya dengan mengetahui cara merawat kulit bayi dari kegiatan sehari-hari, misalnya seperti
memandikan secara teratur, mengganti popok atau baju pada saat yang tepat, memilih bahan
pakaian yang lembut, memilih kosmetik berupa sabun mandi, sampo dan minyak khusus bayi
dipilih dengan tepat dan disesuaikan dengan keadaan kulit bayi (Sudilarsih, 2010)

Mekanisme terjadinya dermatitis popok

Terdapat beragam etiologi yang saling berpengaruh. Terdapat hubungan erat antara
keparahan dermatitis popok dan kondisi kulit basah berlebihan, sehingga menimbulkan maserasi
kulit. Kulit lembap akan lebih mudah mengalami abrasi oleh gesekan bahan popok ketika bayi
bergerak. Abrasi yang berkelanjutan merusak stratum korneum, sehingga akan lebih mudah
ditembus oleh iritan, seperti amonia yang berasal dari pemecahan urea oleh urease feses.
Kelembapan berlebih juga memberikan lingkungan yang baik untuk berkembangnya infeksi
bakteri serta jamur. Infeksi bakteri dan amonia meningkatkan pH sekitar lesi, sehingga akan
meningkatkan aktivitas iritasi dari enzim protease, lipase, dan urease dari feses. Enzim-enzim
tersebut akan mendegradasi protein di stratum korneum, juga meningkatkan permeabilitas garam
empedu dan iritan lainnya. Peningkatan pH juga makin meningkatkan risiko kolonisasi patogen
dan infeksi sekunder. Infeksi oportunistik Candida albicans menunjukkan lesi kronis dan lebih
parah, dengan lesi eritematosa atau pustul satelit di area perifer lesi. 3-5,9,13

Studi menunjukkan bahwa urin saja tidak selalu mencetuskan dermatitis popok. Terdapat
kontributor utama, yaitu kombinasi urin dan feses bersama pH tinggi. Enzim feses dapat menjadi
lebih aktif pada pH tinggi. pH tinggi dapat dipengaruhi oleh oklusi karena pemakaian popok dan
peningkatan permeabilitas kulit karena kerusakan stratum korneum. Kadar pH kulit tinggi juga
dapat ditemui pada bayi prematur atau yang memiliki bakat atopi.

Selain itu, status nutrisi/ diet dapat mempengaruhi komposisi feses seperti penggunaan
obat-obatan tertentu seperti antibiotik, serta kondisi medis seperti diare, turut berkontribusi
memicu dermatitis popok. Kejadian dermatitis popok berulang dikaitkan dengan pertambahan
usia, kurangnya penggunaan krim pelindung, kejadian dermatitis popok saat ini, dan rendahnya
frekuensi pergantian popok.

Tujuan pemberian formulasi topikal pada dermatitis popok terutama untuk pencegahan dengan
meningkatkan perlindungan pada kulit. Selanjutnya, apabila sudah terjadi, formulasi topikal
berperan mempertahankan, mengembalikan fungsi barrier stratum korneum, serta regenerasi kulit,
dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Formulasi topikal yang ideal adalah:

1. Menciptakan perlindungan antara kulit dan iritan


2. Membentuk lapisan atau film pada kulit yang rusak, sehingga dapat memfasilitasi
perbaikan dan regenerasi pada stratum korneum, serta mendukung proteksi alami kulit
3. Menetap di kulit dan tidak hilang oleh feses dan urin
4. Mudah dibersihkan
5. Mempertahankan kelembapan optimum
6. Mengandung bahan-bahan yang terdaftar, aman, dan bermanfaat. Tidak mengandung
bahan yang dapat memicu sensitivitas, seperti parfum, antiseptik. Antiseptik terdiri dari
alkohol, fenol, halogen, zat pengoksidasi, senyawa logam berat. Zat lainnya yang dihindari
pada formulasi topikal adalah pewarna dan pengawet
7. Tidak mengandung zat yang tidak perlu dan berpotensi toksik
8. Nyaman digunakan
3) Monografi Obat
Nama Obat : MOMILEN Baby Care Diaper Rash Cream

Deskripsi : Momilen Diaper Rash 15g melindungi dan merawat kulit lembut bayi dari
kemerahan dan gatal karena ruam popok.

Komposisi : D-panthenol, Vitamin E, dan Zinc Oxide

Kategori : Kulit

Indikasi : Melindungi dan merawat kulit lembut bayi dari kemerahan dan gatal
karena ruam popok.

Cara Pakai : Bersihkan terlebih dahulu daerah yang akan diolesi dari kotoran yang
menempel dan oleskan krim ruam popok secukupnya pada lipatan kulit
yang sering kali mengalami kemerahan.

Cara penyimpanan : Simpan ditempat sejuk dan kering

Kemasan : 1 Tube

Pabrik : PT. FIRST MEDIPHARMA

Harga : Tube 30 g Rp. 21.500 ; Tube 15g Rp. 16.200

4) KONSELING
Apoteker Erfa : Selamat sore bu

Ny. Retno : Sore mbak

Apoteker Erfa : Saya Erfa apoteker di apotek ini ada yang bisa saya bantu bu ?

Ny. Retno : Begini mbak, anak saya itu selangkangan pahanya merah-merah, gatal-
gatal terus lecet. Obatnya apa ya mbak?

Apoteker Erfa : Itu mulai gatal-gatal sejak kapan ya bu?

Ny. Retno : Baru 2 hari ini mbak, anak saya jadi rewel karena gatel.

Apoteker Efa : Apa anak ibu pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya? Atau
pernah ada alergi?

Ny.Retno : Baru kali ini saja mbak, anak saya juga belum pernah mengalami alergi
atau semacamnya

Apoteker Erfa : Apa anak ibu masih sering menggunakan pempers?

Ny. Retno : Iya mbak, memangnya kenapa mbak ?

Apoteker Erfa : Usia anak ibuk berapa?

Ny. Retno : 1 tahun 6 bulan

Apoteker Erfa : Begini buk, mungkin anak ibuk terkena ruam popok, ibuk berapa kali
dalam sehari ibuk mengganti popoknya?

Ny. Retno : Kalau popoknya penuh atau anaknya sudah rewel mbak, memang ruam
popok itu apa ? berbahaya atau tidak mbak untuk anak saya?

Apoteker Erfa : Begini buk ruam popok itu peradangan kulit didaerah yang tertutup popok
yang paling sering dialami oleh bayi atau anak-anak bu, biasanya di area
bokong atau lipatan paha, untuk peradangan ini tidak berbahaya buk asal
cepat di tangani di area peradangan itu bu biar tidak makin parah
Ny. Retno : Oalah begitu mbak, pantesan kok anak saya itu rewel terus, itu obatnya
apa ya mbk ?

Apoteker Erfa : Ini buk obatnya momilen harganya Rp.25.000,- gimana bu?

Ny. Retno : Ada kemasan yang lebih kecil gak mba?

Apoteker Erfa : Ada buk yang ini Rp.16.000,- , bagaimana buk mau yang ini atau ini
(menunjukkan pilihan obat)?

Ny. Retno : Itu saja mbak (menunjuk obat yang berukuran kecil)

Apoteker Erfa : Baik bu, ini nanti penggunaannya dioleskan diarea yang merah-merah
gatal, diusahakan area tersebut dalam kondisi kering ya bu

Ny. Retno : Dioleskannya pada waktu kapan ya mbak?

Apoteker Erfa : Setelah mandi dan sebelum tidur bu

Ny. Retno : Ini nanti kalo kambuh lagi bagaimana ya mbak ?

Apoteker Erfa : Begini bu kalo boleh tahu anak ibuk itu gemuk atau tidak ya bu ? kalo
misalkan anak ibu gemuk nanti diusahakan memakai popok nya yang
sesuai ukuran biar tidak terlalu ketat dan bahan yang lembut, soalnya kalau
popoknya terlalu ketat nanti bokong atau lipatan pahanya jadi lembab nanti
iritasi lagi

Ny. Retno : Ohh begitu mbak , iyaa nanti saya cari popok yang sesuai

Apoteker Erfa : Oh iya bu, untuk mengganti popoknya kalo bisa jangan terlalu lama, itu
juga bisa menyebabkan iritasi soalnya, karena bokong dan lipatan paha bayi
bersentuhan lama dengan pipis atau pupnya buk

Ny. Retno : Iya mbak trimakasih atas sarannya

Apoteker Erfa : Sama-sama bu, silahkan membayar obatnya di kasir bu, semoga anak ibu
lekas sembuh

Ny.Retno : iya mbak