Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH PRAKTIKUM COMPOUNDING AND DISPENSING

SKRINING RESEP DAN KOMUNIKASI APOTEKER-PASIEN

Oleh:
Profesi Apoteker XXXIV
KelasA2 / Kelompok 12
Imam Choiri 1720343765
Irene Rambu Yety Diki Dongga 1720333766

Dosen Pengampu :
Ismi Rahmawati, M.Si., Apt
Dewi Ekowati, M.Sc., Apt

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2017
BAB I

LATAR BELAKANG

Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat
ke pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan
kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi
menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup dari pasien (Depkes RI 2004). Pelayanan Kefarmasian
(Pharmaceutical Care) adalah suatu tanggung jawab profesi dari apoteker untuk
mengoptimalkan terapi dengan cara mencegah dan memecahkan masalah terkait
obat (Drug Related Problems) (Depkes RI 2006).
Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker dituntut untuk
meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku agar dapat melaksanakan
interaksi langsung dengan pasien (Depkes RI 2004). Salah satu interaksi antara
apoteker dengan pasien melalui konseling obat. Konseling obat sebagai salah satu
metode edukasi pengobatan secara tatap muka atau wawancara merupakan usaha
untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien dalam penggunaan obat
(Depkes RI 2006).
Apoteker dalam melakukan atau memberikan konseling obat kepada pasien
diwajibkan untuk memiliki beberapa sumber informasi. Sumber infomasi yang
digunakan bisa berasal dari pustaka, media cetak, dan internet (Rantucci 2006).
Sumber informasi obat meliputi antara lain dokumen, fasilitas, lembaga dan
manusia. Sedangkan dalam praktiknya sumber informasi obat digolongkan
menjadi tiga macam yaitu sumber informasi primer, sumber informasi sekunder
dan sumber informasi tersier.
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSELING
1. PENGERTIAN
Menurut KEPMENKES RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, konseling adalah suatu
proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk
mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan
pengobatan (Depkes RI 2004). Di dalam prakteknya, konseling obat
melakukan penyampaian dan penyediaan nasehat-nasehat yang berkaitan
dengan obat, yang didalamnya terdapat implikasi diskusi timbal balik dan
tukar menukar opini (Siregar dan Kumolosari 2004). Adanya diskusi timbal-
balik dan tukar menukar opini antara pasien dan apoteker diharapkan dapat
diambil keputusan bersama tentang terapi yang akan dijalani. Prinsip dasar
konseling adalah terjadinya kemitraan atau kolerasi antara pasien dengan
apoteker sehingga terjadi perubahan perilaku pasien secara sukarela.
2. MANFAAT DAN TUJUAN KONSELING
MANFAAT KONSELING:
a. Bagi pasien
Menjamin keamanan dan efektifitas pengobatan
Mendapatkan penjelasan tambahan mengenai penyakitnya
Membantu dalam merawat dan perawatan kesehatan sendiri
Membantu pemecahan masalah terapi dalam situasi tertentu
Menurunkan kesalahan penggunaan obat
Meningkatkan kepatuhan dalam menjalankan terapi
Menghindari reaksi obat yang tidak diinginkan
Meningkatkan efektifitas dan efisiensi biaya kesehatan

b. Bagi Farmasi
Menjaga citra profesi sebagai bagian dari tim pelayan kesehatan
Mewujudkan bentuk pelayanan asuhan kefarmasian sebagai tanggung
jawab profesi Farmasi
Menghindari farmasi dari tuntutan karena kesalaha penggunaan obat
(Medication Error)
Suatu pelayanan tambahan untuk menarik pelanggan sehingga menjadi
upaya dalam memasarkan jasa pelayanan
TUJUAN KONSELING:
- Membina hubungan / komunimasi farmasis dengan pasien dan membangun
kepercayaan pasien kepada farmasi
- Memberikan informasi yang sesuai kondisi dan masalah pasien
- Membantu pasien menggunakan obat sesuai tujuan terapi dengan memberikan
cara/metode yang memudahkan pasien menggunakan obat dengan benar

B. INSUFIENSI GINJAL KRONIK


1. PENGERTIAN
Insufiensi ginjal atau yang dikenal dengan gagal ginjal adalah kondisi
dimana terjadi penurunan kemampuan ginjal dalam melakukan proses
penyaringan, pembuangan elektrolit tubuh serta dalam menjaga
keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam
darah serta terjadinya produksi urin yang berkurang atau merupakan kondisi
dimana ginjal sudah tidak mampu bekerja sama sekali. Insufiensi ginjal
ditandai dengan terjadinya penurunan nilai GFR (Gromerular Filtratration
Rate) serta terjadinya peningkatan konsentrasi kreatinin serum.
Insufiensi ginjal ada 2 tipe, yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal
kronik. Gagal ginjal akut terjadi secara tiba-tiba, bersifat reversible, dpat
terjadi karena infeksi, penggunaan obat, luka trauma, pembedahan, racun
nefrotoksik dan lain-lain. Ditandai dengan oligouria serta terjadi gangguan
cairan dan elektrolit didalam tubuh. Sedangkan, gagal ginjal kronik adalah
ganggan fungsi ginjal menahun yang bersifat progresif dan irreversible.
Kondisi ini ditandai dengan kemampuan tubuh yang gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,
menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
2. ETIOLOGI DAN PATOFISIOOGI
Kerusakan ginjal dapat diakibatkan dari sebab yang beraneka ragam.
Misalnya, diabetes nefropati yang ditandai dengan perkembangan mesangial
glomerulus; pada nefrosklerosis hipertensi, ginjal arteriol memiliki arteriol
hyalinosis; dan kista ginjal yang ada pada penyakit ginjal polikistik. Oleh
karena itu, kerusakan struktural awal mungkin tergantung pada penyakit
utama yang mempengaruhi ginjal.
- Faktor kerentanan (Susceptibility factors) meningkatkan risiko penyakit
ginjal tapi tidak secara langsung menyebabkan kerusakan ginjal. Mereka
termasuk usia lanjut, berkurangnya massa ginjal dan berat badan lahir
rendah, minoritas ras atau etnis, riwayat keluarga, pendapatan rendah atau
pendidikan, peradangan sistemik, dan dislipidemia.
- Faktor inisiasi (Initiation factors) secara langsung yang mengawali
kerusakan ginjal dan dapat dimodifikasi dengan obat. Faktor inisiasi
diantaranya DM, hipertensi, penyakit autoimun, penyakit ginjal pycystic
dan toksisitas obat.
- Faktor perkembangan (Progression factors) dapat mempercepat penurunan
fungsi ginjal setelah inisiasi kerusakan ginjal. Faktor-faktor tersebut
diantaranya glikemia, pada diabetes, hipertensi, proteinuria dan merokok.

3. PENATALAKSAAN TERAPI
Tujuan yang diharapkan dari terapi gagal ginjal kronik/insufiensi ginjal
kronik adalah memperlambat perkembangan penyakit, minimalisasi
perkembangan atau keparahan komplikasi. Penanganan gagal ginjal
kronik/insufiensi ginjal kronik dapat dilakukan melalui terapi farmakologi dan
non-farmakologi. Strategi terapi yang digunakan dipilih berdasarkan ada atau
tidak adanya diabetes pada pasien.
1. Terapi Non-farmakologi
Diet rendah protein (0,6 sampai 0,75 g/kg/hari) dapat membantu
memperlambat perkembangan gagal ginjal kronik/insufiensi ginjal kronik
pada pasien dengan atau tanpa diabetes, meskipun efeknya cenderung
kecil.
2. Terapi Farmakologi
Terapi farmakologi untuk gagal ginjal kronik/insufiensi ginjal kronik
bergantung pada penyakit penyertanya, diantaranya:
Pada Hiperglikemia
Terapi intensif pada pasien dengan DM tipe 1 dan 2 dapat mengurangi
komplikasi mikrovaskular, termasuk nefropati. Terapi intensif dapat
termasuk insulin atau obat oral dan melibatkan pengukuran kadar gula
darah setidaknya tiga kali sehari.
Pada Penderita Hipertensi
Terapi antihipertensi untuk pasien insufiensi ginjal kronik dengan
diabetes atau tanpa diabetes sebaiknya diawali dengan pemberian
inhibitar ACE (angiotensin-converting enzyme) atau bloker reseptor
angiotensin II. Bloker kanal kalsium nondihidropiridin biasanya
digunakan sebagai obat antiproteinuria lini kedua apabila penggunaan
inhibitor ACE atau ARB tidak dapat ditoleransi.
Klirens inhibitor ACE menurun pada kondisi CKD, sehingga
sebaiknya terapi dimulai dengan pemberian dosis terendah.
Hiperlipidemia
Pembatasan asupan protein, penggunaan obat-obatan penurun
kolesterol, penghentian kebiasaan merokok, dan manajement anemia
dapat membantu memperlanbat laju perkembangan penyakit insufiensi
ginjal kronik.
Tujuan utama penggunaan obat-obatan penurun kolesterol pada
kondisi CKD adalah untuk menurunkan risiko perkembangan penyakit
kardiovaskular aterosklerosis. Tujuan kedua adalah mengurangi
terjadinya proteinuria dan penurunan fungsi ginjal, yang terlihat pada
penggunaan statin (inhibitor 3-hidroksi-3-metilglutaril koenzim A
reduktase/Inhibitor HMG A reduktase).

C. ASAM URAT
1. PENGERTIAN
Asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan
hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu salah
satu komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel-sel tubuh. Secara
alamiah, purin terdapat dalam tubuh kita dan dijumpai pada semua makanan
dari sel hidup, yakni makanan dari tanaman (sayur, buah, kacang-kacangan)
atau pun hewan (daging, jeroan, ikan sarden) (indriawan 2009).
Asam urat adalah produk akhir atau produk buangan yangdihasilkan
dari metabolisme atau pemecahan purin. Asam urat sebenarnya merupakan
antioksidan dari manusia dan hewan, tetapi bila dalam jumlah berlebihan
dalam darah akan mengalami pengkristalan dan dapat menimbulkan gout.
Asam urat mempunyai peran sebagai antioksidan bila kadarnya tidak
berlebihan dalam darah, namun bila kadarnya berlebih asam urat akan
berperan sebagai prooksidan (McCrudden Francis H 2000).

2. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


Penyebab utama terjadinya asam urat adalah karena adanya
deposit/penimbunan kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat
sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan
kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang
kurang dari ginjal.Beberapa factor lain yang mendukung, seperti:
a. Faktor genetik seperti gangguan metabolisme purin yang menyebabkan
asam urat berlebihan (hiperuricemia), retensi asam urat, atau keduanya.
b. Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus, hipertensi,
gangguan ginjal yang akan menyebabkan pemecahan asam yang dapat
menyebabkan hiperuricemia.
c. Karena penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asam urat
sepertiaspirin, diuretic, levodopa, diazoksid, asam nikotinat, aseta zolamid
dan etambutol.
d. Mengkomsumsi makanan yang mengandung kadar purin yang tinggi
adalah jeroan yang dapat ditemukan pada hewan misalnya sapi, kambing
dan kerbau.

Gambar 1. Patofisiologi Asam urat

3. PENATALAKSANAAN TERAPI
a. Terapi non-Farmakologi
Ada berbagai langkah upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah asam
urat yaitu :
- Mengatur pola hidup dengan baik dan teratur.
- Menggurangi kebiasaan buruk yaitu bagi perokok aktif.
- Menghindari konsumsi yang mengandung lemak jenuh.
- Jangan mandi pada malam hari.
- Berolahraga yang rutin minimal 2-3 kali dalam seminggu.
b. Terapi Farmakologi
1) Allopurinol
- Komposisi : tiap tablet menggandung Allopurinol 100 mg
- Indikasi : asam urat dan hiperurisemia
- Kontra indikasi : alergi dan penyakit hati
- Cara kerja obat
Allopurinol adalah obat penyakit pria yang dapat menurunkan
kadar asam urat dalam darah. Allopurinol bekerja dengan
menghambat xantin oksidase yaitu enzim yang dapat mengubah
hipoxantin menjadi xantin, selanjutnya mengubah xantin menjadi
asam urat. Dalam tubuh Allopurinol mengalami metabolisme
menjadi oksipurinol yang juga bekerja sebagai penghambat enzim
xantin oksidase. Mekanisme kerja senyawa ini berdasarkan
katabolisme purin dan mengurangi produksi asam urat, tanpa
mengganggu biosintesa purin.
- Dosis dewasa : Dosis awal 100 mg sehari dan ditingkatkan setiap
minggu sebesar 100 mg sampai dicapai dosis optimal. Pasien
dengan gangguan ginjal 100-200 mg sehari
2) Prednisone
- Indikasi :
Artritis reumatoid, asma bronkhial, lupus eritematosus sistemik,
demam reumatik yang berhubungan dengan karditis.
- Kontra indikasi :
Tukak lambung, osteoporosis, diabetes melitus, penyakit infeksi
sistemik, gagal ginjal, kronis, uremia, hamil, turberkulosa aktif dan
hipersensitif.
- Dosis :
tablet 5 mg/hari setelah makan dan sebelum tidur.
- Interaksi obat :
Rifampisin, barbiturat.
- Perhatian :
Tidak untuk terapi awal artritis reumatoid, dan menyusui
- Efek samping :
Mual, kehilangan nafsu makan, nyeri otot, gelisah, edema,
hipokalemia dan iritasi lambung
3) Natrium diklofenak
- Indikasi:
Penyakit rheumatoid arthritis, osteoasthritis, ankylosing apondylitis,
rematik non artikular, dan serangan akut dari gout.
- Kontra indikasi :
Natrium diklofenak tidak boleh dikonsumsi oleh pasien yang
memiliki riwayat tukak lambung.
- Dosis:
a. Pengobatan osteoarthritis 100 150 mg per hari dalam dosis
terbagi.
b. Pengobatan Rheumatoid arthritis 150-200 mg per hari dalam
dosis terbagi.
c. Pengobatan Ankylosing spondylitis 100-125 mg per hari. Dosis
untuk kondisi ini sering diberikan sebelum pasien tidur malam.
- Efek samping :
Gangguan pencernaan, sakit perut, mata terasa pedas, mengantuk,
pusing, sakit kepala, diare, penggunaan jangka panjang
menyebabkan terjadinya anemia sekunder, retensi cairan, dan
kenaikan tekanan darah.
- Mekanisme kerja:
Na Diklfenak bekerja dengan cara melakukan penghambatan
sintesa prostaglandin. Natrium diklofenak diabsorbsi secara cepat
dan lengkap setelah pemberian peroral dan kadar puncak dalam
plasma dicapai dalam 2 - 3 jam. obat ini 99% terikat pada protein
plasma. metabolisme sebagian besar terjadi di dalam hati dan
metebolit-metabolitnya diekskresikan dalam urin sebesar 65% dan
di dalam empedu sebesar 35%.

I. RESEP ASLI

dr. HERLINO Sp. PD


Spesialis Penyakit Dalam (Internist)
SIP. 0123.DS.9.11.II.2012

Praktek:
Jl. Yosodipuro No.148-Solo Telp. 712352
Sore : Jam 17.00-19.00

Solo, 29/09/2015

R/ Prorenal Cap No XC
S 3 dd II

R/ Allopurinol 100 mg No XX
S 0-0-1

R/ Lanabal Cap No LX
S 1-0-1

Nama : Ny Tiyu Umur :

Obat tidak boleh diganti tanpa sepengetahuan dokter


II. SKRINING RESEP
a. SkriningAdministratif
Nama, IzinPraktik, AlamatDokter
Nama Dokter Ada
Izin Praktik Dokter Ada
Alamat dan Nomor Telp. Dokter Ada

Inscriptio (TanggalPenulisanResep)
Tgl. Penulisan Resep Ada
Invocation (Tanda R/)
Tanda R/ pada tiap resep Ada
Prasecriptio (Namasetiapobatdankomposisi)
Nama setiap obat dan komposisi Tidak Ada
Hanya nama obat Prorenal,
Allopurinol, dan Lanabal
Signatura (AturanPakai)
Aturan Pakai Ada
Subscriptio
Paraf Dokter Ada
IdentitasPasien
Nama dan Jenis Kelamin Pasien Ada
Umur Pasien Tidak ada
Alamat dan Nomor Telp. Pasien Tidak ada

b. Skrining Farmasetis
-
c. Skrining Klinis
No Nama obat Komposisi Indikasi Kontra indikasi Interaksi Obat Efek samping
1. Prorenal DL-3-metil-2-okso-asam Insufiensi ginjal kronik Hiperkalesmia, - Hiperkalesemia
valerat 101 mg, 2-okso-3-fenil- dalam hubungan gangguan
asam propionat 68 mg, 3-metil- dengan diet tinggi metabolisme asam
2-okso-asam barbiturat 86 mg, kalori rendah protein amino, kehamilan,
DL-2-hidroksi-4-metiltio-asam pada retensi yang anak
barbiturat 59 mg, L-lisin terkompensasi dan tidak
monoasetat 105 mg, L-treonin terkompensasi
52 mg, L-triptofan 23 mg, L-
histidin 38 mg, L-tirosin 30 mg
2. Allopurinol Allopurinol 100 mg Gouth artritis Hipersensitivitas, - Ruam, pruritus,
penderita gangguan dermatitis
hati
3. Lanabal Mekobalamin 500 mcg Neuropati perifer - - Mual, penurunan
nafsu makan,
diare
III. SEDIAAN LAZIM
No Nama Obat Bentuk Sediaan Sediaan Lazim Dosis Aturan Pakai
DL DM
1. Prorenal Tablet salut selaput Dewasa BB 70 Kg : 4-8 tablet - Sehari 3 x 4-8
Maximal 50 tablet/hari tablet dc
2. Allopurinol Tablet 100 mg & 300 mg Dewasa : - 1 x sehari 1
- Awal = 100-200 mg/hari tablet pc hora
- Pemeliharaan = 200-600 mg/hari somni
3. Lanabal Kapsul 250 mcg & 500 mcg Dewasa : 50-6000 mcg - 3 x 1 tablet

PERMASALAHAN:
1. Bentuk sediaan dari obat Prorenal adalah tablet salut selaput bukan kapsul serta dosis pemberian untuk Prorenal ialah sehari 3 x 4-8
tablet dengan maksimal 50 tablet per harinya untuk pasien dewasa dengan berat badan 70 kg, sedangkan pada resep hanya diberikan
sehari 3 x 2 tablet.
2. Dosis pemberian untuk obat Lanabal adalah 3 x 1 tablet sedangkan pada resep hanya diberikan 2 x 1 tablet.

SOLUSI:
1. Menanyakan berat badan pasien untuk mengetahui jumlah tablet Prorenal yang harus diberikan.
2. Melakukan pertimbangan berdasarkan kondisi pasien dan jika perlu melakukan komunikasi dengan dokter terkait dengan frekuensi
pemberian obat Lanabal serta jumlah tablet Prorenal.
IV. PERHITUNGAN DOSIS LAZIM
1. Prorenal
- DL= 4 8 Tab 3x/Hari
- Dosis dalam resep BB pasien 57 Kg
1 x Pakai = 2 tablet
1 hari = 3 x 2 tablet
= 6 tablet (Dosis sesuai)
2. Allopurinol
- DL = 200 mg 600 mg
- Dosis dalam resep
1 x pakai = 100 mg
1 hari = 1 x 100 mg
= 100 mg (Dosis sesuai)
3. Lanabal
- DL = 50-6000 mcg/hari
- Dosisl dalam resep
1xp = 500 mcg
1 hari = 2 x 500 mcg
= 1000 mcg (Dosis sesuai)

V. PENGAMBILAN BAHAN
1. Prorenal yang diambil sebanyak 90 tablet
2. Allopurinol yang diambil sebanyak 20 tablet
3. Lanabal yang diambil sebanyak 60 tablet
Tetapi pada dialog pasien hanya ingin mengambil sebagian prorenal dan
lanabal tetapi allopurinol diambil semuanya sehingga pengambilan bahan
yang diberikan atau diambil ialah :
1. Prorenal sebanyak 48 tablet
2. Allopurinol sebanyak 20 tablet
3. Lanabal sebanyak 30 tablet
VI. ETIKET
Apotek Sehat Farma Apotek Sehat Farma
APA : Imam Choiri, S. Farm., Apt APA : Imam Choiri, S. Farm., Apt
SIPA : 01234567/A/7890 SIPA : 01234567/A/7890
Jl. Mawar No. 05- Surakarta Jl. Mawar No. 05- Surakarta
Telp. 098765 Telp. 098765

No. 1A Solo, No. 1B Solo, 29/09/2015


29/09/2015
Ny Tiyu
Ny Tiyu 1 x sehari 1 tablet malam
3 x sehari 2 tablet Sesudah makan
Pada saat makan
Allopurinol 20 tab
Prorenal 48 tab

PUTIH PUTIH

Apotek Sehat Farma


APA : Imam Choiri, S. Farm., Apt
SIPA : 01234567/A/7890
Jl. Mawar No. 05- Surakarta
Telp. 098765

No. 1C Solo, 29/09/2015

Ny Tiyu
2 x sehari 1 tablet
Sesudah makan

Lanabal 30 tab

PUTIH
VII. COPY RESEP
Apotek Sehat Farma
APA : Imam Choiri, S. Farm., Apt
SIPA : 01234567/A/7890
Jl. Mawar No. 05- Surakarta
Telp. 098765
Copy resep
Nama dokter : dr. Herlino Sp. PD Nama pasien : Ny Tiyu
Alamat dokter : JL. Yosodipuro No.148-Solo Umur/Jk : -
Telp. 712352 Sore : Jam 17.00-19.00 Alamat Pasien : -
Tgl dibuat r/ : 29/09/2015
Tgl ditulis r/ : 29/09/2015
No. :1

R/ Prorenal Cap No XC
S 3 dd II Det 48

R/ Allopurinol 100 mg No XX
S 0-0-1 Det

R/ Lanabal Cap No LX
S 1-0-1 Det 30

PCC

Imam Choiri
PERCAKAPAN

Disuatu malam seorang ibu-ibu datang ke Apotek Sehat Farma bersama dengan
anaknya dengan membawa resep dari dokter penyakit dalam, sampai didalam
Apotek:
Apoteker : Selamat malam bu, perkenalkan nama saya Imam Choiri Apoteker
di Apotek Sehat Farma ini, ada yang bisa saya bantu bu?
Pasien : Iya selamat malam pak, ini saya mau nebus obat (sambil
memberikan resep).
Apoteker : (mengambil resep) Ooh iya..maaf bu ini sama Ny Tiyue-nya
sendiri?
Pasien : Iya pak, saya Ny Tiyue.
Apoteker : Tadi ibu baru memeriksakan diri ke dr. Herlino spesialis penyakit
dalam ya bu?
Pasien : Iya pak benar, saya ini tadi baru pulang dari dr. Herlino dan
langsung disuruh ke Apotek ini untuk menebus obatnya.
Apoteker : Maaf bu sebelumnya, ini ibu mendapatkan 3 obat dari dokternya,
ada Prorenal yang berjumlah 90 tablet, Allopurinol 20 tablet dan
Lanabal 60 tablet. Semua obat yang diresep ini apa mau langsung
diambil semuanya atau mau diambil setengahnya bu?
Pasien : Kalau misalkan saya mau ambil semuanya, total yang harus saya
bayar berapa ya pak?
Apoteker : Sebentar saya hitung dulu ya bu totalnya.
Beberapa saat kemudian setelah menghitung total harga resep..
Apoteker : Bu untuk obat Prorenalnya yang berjumlah 90 tablet harganya
Rp 756.000, untuk Allopurinol nya yang berjumlah 20 tablet
harganya Rp 4.300 dan untuk Lanabal yang berjumlah 60 tablet
harganya Rp 165.000 jadi semua totalnya Rp 925.300 bu.
Pasien : Kalau misalkan saya ambil obat yang Prorenal dan Lanabal
setengahnya saja tapi obat yang lainnya itu saya ambil
semuanya, apa boleh pak?
Apoteker : Iya boleh bu, kalau begitu berarti ini totalnya semuanya Rp
490.000.
Pasien : Iya pak, saya ambil setengahnya saja dulu.
Apoteker : Baik bu, ini obatnyan saya cek dulu ya bu. Ibu silahkan tunggu
disebelah sana (sambil menunjuk tempat tunggu). Nanti saya
panggil lagi ya bu.
Pasien : Iya pak.
Apoteker masuk ke dalam ruangan dan melakukan skrining resep pasien Ny
Tiyue, setelah melakukan skrining dan menyiapkan obat, apoteker kembali keluar
dan memangil pasien..
Apoteker : Atas nama Ny Tiyue.
Pasien : Iya pak...
Apoteker : Ini obatnya sudah siap bu, tapi sebelumnya apa ibu memiliki
waktu untuk melakukan konseling bersama saya? Waktunya
sekitar cuman 10-15 menit saja kok bu.
Pasien : Ooh iya pak bisa. Tapi boleh saya ajak anak saya juga pak?
Apoteker : Iya boleh bu. Kalau begitu mari bu kita ke ruang konseling saya.
Setelah berada didalam ruang konseling..
Apoteker : Silahkan duduk bu.
Pasien : Iya pak, terimakasih.
Apoteker : Ibu maaf apa saya boleh meminta alamat lengkap dan nomor
telfon ibu? Soalnya mau saya masukkan dalam dokumen saya bu.
Pasien : Iya pak, saya alamatnya di Jl. Setia No 05-Mojosongo, No
telponnya 09876544344.
Apoteker : Ibu sekarang usinya berapa ya bu? dan untuk berat badannya
berapa?
Pasien : Saat ini saya berusia 49 tahun mau 50 tahun pak dan untuk berat
badannya saya sekarang 57 Kg pak.
Apoteker : Oke bu. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kita akan
melakukan konseling ya bu, harapannya setelah melakukan
konseling ini ibu bisa lebih mengetahui cara penggunaan obat
yang ibu dapatkan dari dokter ibu tadi.
Pasien : Ooh iya pak.
Apoteker : Ibu maaf, tadi pada saat memeriksakan diri ke dokter apakah
sekalian melakukan cek laboratorium?
Pasien : Iya pak, tadi saya disuruh untuk melakukan tes laboratorium.
Apoteker : Boleh saya lihat hasil pemeriksaannya bu?
Pasien : Iya pak ini silahkan dilihat.
Apoteker : (Membaca hasil lab) Ibu maaf, apa sebelumnya ibu memiliki
riwayat penyakit ginjal atau penyakit yang lain?
Pasien : Sebelumnya sih saya tidak punya penyakit ginjal pak sama saya
juga tidak menderita penyakit apapun. Didalam keluarga saya
juga tidak pernah ada yang sakit ginjal.
Apoteker : Oo iya bu, terus untuk beberapa hari belakangan ini apa ibu
merasakan lemas, cepat capek dan kalau misalkan buang air kecil
yang keluar cuman sedikit saja?
Pasien : Iya pak, saya belakangan ini bergerak sedikit saja sudah langsung
capek dan badannya terasa sangat lemas dan kalau misalkan
buang air kecil juga tidak seperti biasa banyaknya, hanya sedikit
saja yang keluar.
Apoteker : Terus apakah ibu juga merasakan nyeri diperut bagian bawah bu?
Pasien : Iya pak saya merasakan sakit diperut bagian bawah tapi hilang
timbul.
Apoteker : Ibu suka minum air putih tidak? Maksudnya kalau selesai makan
atau setelah beraktifitas apakah ibu selalu mengkonsumsi air
putih?
Pasien : Saya sih kalau selesai makan atau setelah melakukan suatu
kegiatan saya lebih suka minum es teh atau minuman bersoda
pak, lebih segar rasanya kalau dibandingkan minum air putih.
Apoteker : Ibu suka minum kopi?
Pasien : Iya setiap pagi saya selalu minum kopi pak supaya jangan
ngantuk pas kerja.
Apoteker : Oo begitu ya bu. Ibu.. ini berdasarkan hasil labnya kadar asam
urat ibu juga sedikit tinggi, hasilnya 8 mg/dL sedangkan
normalnya untuk wanita adalah 2,8 7,3 mg/dL. Ibu apa suka
merasakan keram dan nyeri ditubuhnya? Misalnya di kaki atau
tangan?
Pasien : Iya kadang-kadang saya merasa keram tapi ya rada sering juga sih
pak keramnya itu. Saya juga sering mengalami nyeri pak apalagi
kalau misalkan duduk dan mau langsung berdiri.
Apoteker : Untuk saat ini apakah ibu sedang rutin mengkonsumsi suatu obat?
Pasien : Tidak pak, saya sedang tidak mengkonsumsi obat apapun
sekarang.
Apoteker : Baik bu, dari informasi dan hasil pemeriksaan laboratorium ibu ini
hasilnya memang mengindikasikan bahwa ada sedikit masalah
dengan ginjal ibu dan asam urat ibu juga sedikit tinggi ya seperti
yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Kemungkinan terbesar
yang menjadi faktor pemicu gangguan tersebut adalah karena ibu
kurang mengkonsumi air putih dan lebih suka mengkonsumsi
minuman bersoda, kopi serta es teh. Sakit ginjal yang diderita
oleh seseorang juga dapat menjadi faktor pemicu terjadinya asam
urat bu soalnya ketika terjadi gangguan ginjal, fungsi ginjal ibu
untuk mengeluarkan hasil-hasil metabolisme tubuh seperti asam
urat menjadi berkurang sehingga kadar asam urat ibu menjadi
tertimbun didalam tubuh selain itu minuman bersoda juga bisa
meningkatkan kemungkinan seseorang terkena asam urat bu.
Apalagi kalau ibu suka makan jeroan dan makan makanan yang
termasuk dalam kelompok kacang-kacangan.
Pasien : Ooo begitu ya pak. Iya saya sukanya makan emping.
Apoteker : Iya begitu bu makanya mulai sekarang harus dikurangi kebiasaan
kebiasaan itu ya bu. Terus dari resep dokter, ibu mendapatkan 3
obat yaitu Prorenal, Allopurinol dan Lanabal. Sebelumnya apakah
ibu sudah pernah menggunakan obat ini?
Pasien : Ini baru pertama kalinya saya minum obat itu pak.
Apoteker : Ooo begitu..tadi pada saat di dokter apa yang dokter katakan
tentang kegunaan obat-obatan ini bu?
Pasien : Tadi dokter mengatakan obat-obatan ini itu bisa digunakan untuk
ginjal saya dan untuk menurunkan asam urat saya yang tinggi
pak.
Apoteker : Apakah dokter juga sudah menginformasikan kepada ibu cara
penggunaan obatnya bu?
Pasien : Iya tadi dokter menjelaskan pak, tapi saya lupa mana-mana saja
yang diminum 3 kali sama yang 2 kali.
Apoteker : (mengangguk) terus apa yang dikatakan dokter tentang harapan
terhadap pengobatan ibu?
Pasien : Tadi dokter mengatakan harapannya saya bisa segera sembuh dari
sakit saya ini pak.
Apoteker : Iya bu itu semuanya benar, disini saya akan melengkapi apa yang
telah diinformasikan oleh dokter kepada ibu ya. Kalau semisalkan
didalam penjelasan saya nanti ibu ada yang tidak dimengerti, ibu
boleh langsung tanyakan kepada saya.
Pasien : Baik pak.
Apoteker : Untuk obat yang pertama ini (menunjukkan Prorenal) memiliki
kandungannya adalah vitamin yang merupakan multivitamin
untuk ginjal ibu agar ginjalnya dapat berfungsi dengan baik lagi,
kalau buang kecil bisa normal lagi dan tidak cepat-capek kalau
beraktifitas. Ini diminum 3 x sehari 2 tablet pada saat makan
soalnya penyerapan dari obat ini lebih bagus digunakan saat
diminum bersama dengan makanan. Obat ini memiliki efek
samping sembelit dan bisa sering buang air kecil ya bu tapi efek
samping ini tidak selalu muncul. Saya sarankan ibu mulai
sekarang harus sering mengkonsumsi air putih ya bu. Jangan
minum es teh terus.
Pasien : Ooo jadi pada saat makan saya minum obat juga?
Apoteker : Iya benar sekali bu. Saya lanjutkan ke obat kedua ya bu. Ini
obatnya namanya Allopurinol, obat ini untuk mengatasi asam urat
ibu tadi yang sedikit tinggi, harapannya setelah menggunakan
obat ini kadar asam urat ibu bisa kembali normal. Ini diminum 1 x
sehari 1 tablet pada malam hari sebelum ibu tidur. Obat ini
memiliki efek samping bisa menyebabkan ruam atau merah-
merah pada kulit tapi ibu tidak usah khawatir, kalau misalkan
merah-merahnya semakin memburuk baru ibu konsultasikan lagi
ke dokter.
Pasien : Oh iya pak, Baik.
Apoteker : Terus untuk obat yang ketiga ini (menunjukkan Lanabal)
mengandung mecobalamin, ini merupakan vitamin juga, diminum
2 x sehari 1 tablet pada pagi dan malam hari sesudah ibu makan.
Obat ini berfungsi untuk mengatasi keram-keram yang biasa ibu
rasakan. Efek sampingnya bisa menyebabkan mual dan diare.
Pasien : Ooo iya pak, baik kalau begitu.
Apoteker : Apa ada yang ingin ditanyakan lagi bu terkait dengan obatnya?
Pasien : Saya rasanya sudah mengerti pak.
Apoteker : Kalau begitu apa ibu bisa mengulang lagi penjelasan saya tadi?
Pasien : Iya bisa pak..obat yang pertama tadi (menunjukkan Prorenal)
diminum 3 x sehari 2 tablet saat saya makan, efek sampingnya
bisa membuat saya sembelit dan buar air kecil terus. Untuk yang
ini (menunjukkan Allopurinol) diminum 1 x sehari 1 tablet ketika
saya mau tidur dan efek sampingnya bisa membuat kulit saya
merah, kalau misalkan merah-merahnya sudah sangat parah baru
saya ke dokter lagi. Untuk obat yang ketiga (menunjukkan
Lanabal) saya minum 2 x sehari pada pagi dan malam hari
sesudah makan. Efek sampingnya bisa membuat saya mual dan
diare.
Apoteker : Iya betul bu..saya juga menyarankan untuk ibu mulai sekarang
sering-sering minum air putih yang banyak, jangan terlalu makan
makanan yang termasuk kacang-kacangan dan jeroan termasuk
menghindari makan emping. Dan untuk kebiasaan ibu yang sering
mengkonsumsi minuman bersoda dan es teh setelah makan itu
sebaiknya dihentikan dan diganti dengan minum air putih saja.
Kalau untuk kebiasaan minum kopinya bisa dikurangi juga ya bu
supaya ibu bisa cepat sembuh.
Pasien : Iya pak..akan saya usahakan.
Apoteker : Ooh iya bu, tadikan ibu cuman mengambil setengah dari obat ini
jadi setalah 5 hari ibu mengkonsumsi obat ini, ibu harus kembali
ke Apotek ini untuk mengambil sisanya ya bu. Jangan ditunggu
habis dulu baru diambil sisanya supaya ibu mengkonsumsi
obatnya tidak terputus-putus. Dan jangan lupa bu untuk kembali
melakukan tes laboratorium setelah 5 hari penggunaan obatnya.
Pasien : Baik pak.
Apoteker : Untuk penyimpanan obatnya harus disimpan ditempat yang
kering dan terhindar dari sinar matahari dan jangkauan anak-anak
ya bu.
Pasien : Iya pak. Ini saya bayarnya nanti dimana pak?
Apoteker : Untuk pembayarannya nanti langsung ke kasir depan saja ya bu.
Pasien : Baik pak..terimakasih banyak untuk informasinya ya pak.
Apoteker : Iya bu sama-sama..semoga cepat sembuh ya bu.
Pasien : Iya pak..saya permisi dulu kalau begitu ya pak.
Apoteker : Iya bu hati-hati dijalan (Bersalaman)
DAFTAR PUSTAKA

[Depertemen Kesehatan RI]. 2006. Pelayanan Kefarmasian. Badan POM RI.


Gramedia, Jakarta.

Dipiro, J.T., Talbert, R.L. et al. 2015. Pharmacotherapy a Pathophysiologic


Approach. Ninth Edition. Copyright The McGraw-Hill Companies

Raka I.G. 2012. Insufisensi Gagal Ginjal Kronik Vol.27 No.2. departemen internal
medicine, fakultas UGM: Jogjakarta.
Rantucci, M. J., 2009, Komunikasi Apoteker-Pasien: Panduan Konseling Pasien,
diterjemahkan oleh Sani, A. N., Edisi kedua, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.

Sylvia A & Lorraine M. Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses


Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Vitahealth. 2005. Konsep Klinis Asam Urat. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.