Anda di halaman 1dari 5

Sindrom Cri du Chat

Pendahuluan

Sindrom cri du chat yang juga dikenal sebagai sindrom 5p- (5p minus) adalah suatu
kelainan genetik yang terjadi akibat hilangnya bagian dari lengan kromosom 5. Sindrom
ini pertama kali ditemukan oleh seorang geneticist Jerome Lejeune pada tahun 1963,
dimana nama cri du chat tersebut berasal dari bahasa Prancis yang berarti cry of the cat
atau tangisan kucing, merujuk pada tangisan khas anak-anak dengan sindrom cri du chat.
Tangisan khas tersebut disebabkan oleh perkembangan laring yang abnormal yang terjadi
pada anak-anak dengan sindrom tersebut. Setelah beberapa tahun pertama, tangisan khas
tersebut dapat menghilang, sehingga menyulitkan kecurigaan diagnosis cri du chat
sindrom pada anak yang lebih besar.1 Gejala sindrom cri du chat dapat berbeda pada satu
individu dengan individu lain. Variasi gejala klinik dan derajat retardasi mental yang
terjadi sesuai dengan besar bagian kromosom 5 yang hilang.
Prevalens sindrom cri du chat dikatakan berkisar antara 1 : 15.000 hingga 1 : 50.000
kelahiran hidup. Dahulu, penyakit genetik ini dikatakan memiliki prognosis yang buruk
dimana para penderitanya sering diprediksi tidak dapat berjalan, tidak dapat bermain, dan
bahkan tidak dapat melewati 5 tahun pertama. Namun, dengan perkembangan waktu dan
teknologi kedokteran yang ada, banyak anak dengan kondisi sindrom cri du chat
memiliki kualitas hidup yang baik walaupun harus bergantung kepada pengasuh.
Penderita cri du chat pun bahkan dapat memiliki anak dengan angka harapan hidup sudah
mencapai umur 50 tahun.

Gambar 1. Profil para penderita cri du chat

Secara garis besar, konseling genetik merupakan suatu proses komunikasi (counselling)
yang dilakukan oleh dokter dengan pasien dan/atau keluarganya, yang memiliki penyakit
genetik atau riwayat penyakit genetik seperti sindrom cri du chat. Proses tersebut
memiliki beberapa tujuan, terutama untuk membantu pasien/keluarga mengambil
keputusan bagi masa depannya. Setelah proses konseling, diharapkan keluarga dapat
memahami dan beradaptasi terhadap implikasi medis, psikologis dan familial yang
disebabkan kelainan/penyakit genetik. Lebih lanjut, proses konseling ini juga dilakukan
untuk mengetauhui risiko keturunan selanjutnya memiliki penyakit serupa sehingga bisa
dilakukan pengambilan keputusan sejak awal untuk keturunan berikutnya.
Langkah konseling genetik terdiri dari beberapa aspek antara lain sebagai berikut:

1. Penegakan diagnosis penyakit dengan akurat, termasuk prognosis dan tata


laksana
Sindrom cri du chat biasanya dapat dikenali pada beberapa hari kehidupan, walaupun
pada beberapa bayi membutuhkan waktu lebih lama untuk penegakan diagnosis
akibat adanya variasi klinis yang berbeda-beda, sesuai dengan bagian yang hilang
dari kromosom 5. Sindrom tersebut dapat dikenali dan didiagnosis melalui
kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan akhirnya oleh
tes genetik.

Gejala dan temuan pada pemeriksaan fisik pasien yang perlu digali untuk
kecurigaan terhadap sindrom cri du chat
menangis yang biasa bernada tinggi dan suara seperti kucing
berat badan lahir rendah dan pertumbuhan yang lambat
diseabilitas intelektual / retardasi mental
perkembangan keterampilan motorik yang lambat
infeksi saluran napas berulang
kepala kecil (microcephaly)
rahang kecil (micrognathia)
mata lebar (wide-set eyes)
mata miring ke bawah untuk mata (downward slant)
lipatan ekstra kulit di sudut dalam mata (Epicanthal fold)
telinga rendah (low-set ear) atau berbentuk tidak normal
tag kulit hanya berada di depan telinga (preauricular tag)
webbing parsial atau fusi jari-jari tangan atau kaki
tonus otot yang rendah (low muscle tone)
masalah yang diakibat oleh hipotonia seperti gagal tumbuh karena kesulitan
makan
hernia inguinal
pemisahan otot di daerah sekitar perut (diastasis recti)

Tes genetik
Pemeriksaan genetik merupakan baku emas untuk mengetahui secara pasti. Untuk
pemeriksaan genetik, pasien dan keluarga perlu diberi edukasi mengenai upaya
diagnosis yang dapat dilakukan di Jakarta, dan kemungkinan biaya relatif mahal serta
durasi pemeriksaan genetik yang memerlukan waktu agak lama (terutama FISH).
Pengambilan spesimen untuk pemeriksaan kromosom umumnya tidak invasif,
sampel dapat diambil dari darah atau mukosa mulut bagian dalam.
Setelah menegakkan diagnosis sindrom cri du chat, pasien dan keluarga perlu diberitahu
prognosis dan tata laksana yang tersedia hingga saat ini. Angka kematian pasien sindrom
cri du chat paling tinggi terjadi pada masa neonatus, yakni 75%, dan sebanyak 90%
pasien meninggal dalam usia 1 tahun akibat komplikasi berupa pneumonia, aspirasi,
penyakit jantung bawaan, dan respiratory distress syndrome. Pasien sindrom cri du chat
dapat memiliki angka harapan hidup yang tinggi mencapai 50 tahun, dan dapat memiliki
keturunan. Namun demikian, pasien dapat memiliki retardasi mental dan psikomotor
berat, yang membutuhkan pengasuh seumur hidupnya. Selain itu, dapat terjadi gangguan
belajar dan bahasa.

Jenis dan lokasi delesi pada pasien dapat menentukan prognosis, terutama perkembangan
mental dan psikomotor. Sindrom cri du chat yang tipikal umumnya memiliki delesi pada
lokasi kritis sehingga mengalami kesulitan lebih dalam proses belajar dan
perkembangannya. Selain itu, angka kematian pasien sindrom tipikal lebih tinggi
daripada pasien sindrom cri du chat atipikal.

Gambar 2. Hubungan lokasi delesi dengan fenotip pasien sindrom cri du chat

Selain gejala akibat dari sindrom cri du chat itu sendiri, perlu digarisbawahi juga
bahwa seperti kelainan kongenital lainnya, sindrom cri du chat dapat diiringi oleh
malformasi kongenital lainnya. Malformasi kardiovaskular dapat berupa tetralogi
Fallot, ventricular septal defect, atrial septal defect, dan hemangioma kutan.
Malformasi urogenital berupa kriptorkidismus pada remaja yang dapat melanjut
menjadi hipogonadisme, serta periode menstruasi ireguler pada pasien perempuan,
kelainan ginjal berupa agenesis atau ginjal tapal kuda. Kelainan metabolik dapat
berupa defek sintesis nukleotida purin serta hiperglisinemia. Oleh karena itu,
keluarga pasien juga perlu dijelaskan bahwa pasien akan menjalani pemeriksaan
lanjutan untuk mencari kemungkinan kelainan bawaan yang menyertai, seperti
ekokardiografi, fungsi pendengaran, penglihatan, dan kelainan urogenital.
Tata laksana sindrom cri du chat biasanya berupa tindakan operasi atau koreksi pada
malformasi kongenital yang menyertai, misalnya kelainan jantung, atau operasi
orofasial atau kraniofasial. Tindakan tersebut umumnya memiliki manfaat lebih
tinggi jika dilakukan sedini mungkin, termasuk program rehabilitasi untuk membantu
perkembangan motorik dan perilaku pasien, termasuk adaptasi sosial dan
kemandirian. Oleh karena itu, penting untuk menegakkan diagnosis sindrom cri du
chat sedini mungkin, agar pasien mendapat tata laksana lebih dini dan memiliki
prognosis lebih baik.

2. Melakukan estimasi risiko penyakit (recurrence risk)


Penghitungan estimasi risiko penyakit genetik secara umum dilakukan melalui
pembuatan silsilah keluarga (family pedigree) minimal 3 generasi dan perhitungan
risiko (Mendelian atau non-Mendelian). Risiko kekambuhan untuk kasus sindrom cri
du chat secara praktis dapat diabaikan untuk kasus de novo deletion, yang merupakan
mekanisme penyebab yang paling sering. Bagaimanapun juga, kemungkinan
mosaicism pada sel gamet orangtua tidak dapat dikesampingkan, bahkan meski
sampai sekarang belum ada data rekurensi pada mekanisme tersebut. Data
kekambuhan ditemukan lebih tinggi untuk kasus translokasi familial yang seimbang.
Risiko reproduksi untuk pembawa translokasi melibatkan 5p yang telah ditentukan
melalui evaluasi data pribadi dan pencarian silsilah hingga 54 silsilah. Risiko hasil
keturunan yang tidak seimbang dari proses translokasi familial seimbang berkisar
dari 8.7% hingga 18.8%. Risiko untuk carrier pria dan wanita adalah sama. Dalam
kasus ini, dapat dipertimbangkan untuk dilakukan prenatal diagnosis.

3. Melakukan konseling
Langkah utama dalam melakukan konseling adalah menegakkan diagnosis pasti yang
saat ini sudah dapat dilakukan di Jakarta, walaupun belum ada terapi definitif yang
tersedia untuk sindrom cri du chat. Setelah menegakkan diagnosis dan jenis delesi
kromosom 5p, pasien dapat dievaluasi untuk tindakan operasi sedini mungkin (jika
ada), serta dimulai terapi rehabilitasi agar pasien dapat hidup lebih berkualitas. Tidak
ketinggalan pula diperhatikan sisi nutrisi dan stimulasi dini untuk memaksimalkan
potensi yang dimiliki oleh anak. Dalam hal pemantauan tumbuh kembang, terdapat
chart tumbuh kembang spesifik yang dapat digunakan untuk pasien cri du chat.
Untuk konseling risiko penurunan sifat, keluarga diberikan cukup waktu untuk
berpikir dan membuat keputusan, terutama bagi pasangan yang memiliki translokasi
imbang (balanced), apakah mereka mau menerima risiko memiliki anak selanjutnya
dengan sindrom cri du chat, atau mencegah kehamilan. Seandainya keluarga memilih
untuk menerima risiko, mereka dapat ditawarkan untuk melakukan diagnosis
prenatal, atau mencari alternatif seperti donor gamet atau adopsi. Setelah lahir,
keturunan selanjutnya dapat disarankan untuk melakukan analisis kromosom segera
untuk mencari kemungkinan delesi kromosom 5p.
Dalam proses konseling, pasien diberikan pilihan pencegahan atau pengobatan yang
dapat dilakukan, menghitung risiko penurunan sifat, memberikan informasi
mengenai perkembangan terkini, perjalanan penyakit, dan tata laksana yang tersedia
hingga saat konseling.

4. Pengambilan keputusan
Setelah mendapat penjelasan mengenai informasi penyakit, pasien dan/atau keluarga
harus dipastikan sudah mengerti dan dapat mengambil keputusan tanpa paksaan atau
bujukan dari dokter. Pasien dapat disarankan untuk berhubungan dengan organisasi
pasien terkait, seperti asosiasi penyakit genetik atau pasien lain dengan sindrom cri
du chat. Dokter menghormati keputusan yang telah diambil oleh pasien dan
keluarganya, dan membantu pasien/keluarga untuk menjalani konsekuensi dari
pilihan yang mereka ambil. Pengambilan keputusan perlu mempertimbangkan
pilihan alternatif terapi maupun pencegahan yang tersedia saat ini, pandangan
keluarga (termasuk keluarga besar kedua orang tua), agama dan kepercayaan, status
sosial, status ekonomi, dan stigma sosial atau masyarakat. Pasien sindrom cri du chat
yang diberi tata laksana sedini mungkin dapat hidup lebih berkualitas.

Referensi:
1. Mainardi PC. Cri du chat syndrome. Orphanet J Rare Dis. 2006;1:33.
2. Caballero AR, Lagares DT, Perez AR, Figallo MAS, Guisado JMH, Portillo GM.
Cri du chat syndrome: a critical review. Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2010;
15:473-8.
3. Nandhagopal R, Udayakumar AM. Cri du chat syndrome. Indian J Med Res 2014;
140:570-1.
4. Bennett RL, Hampel HL, Mandell JB, Marks JH. Genetic counselors: translating
genomic science into clinical practice. J Clin Invest 2003;112:1274-9.