Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami sampaikan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas
berkat dan karuniaNyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Batuan Andesit ini dengan baik.
Makalah ini dibuat agar dapat menjadi referensi pengetahuan bagi kita
tentang beberapa hal mengenai batuan andesit itu sendiri. Selain itu makalah ini
juga sebagai salah satu persyaratan nilai dalam mata kuliah Rekayasa Bahan Galian
Industri.
Seperti kata pepatah tiada gading yang tak retak, begitu pula dengan keadaan
makalah ini yang jauh dari sempurna. Untuk itu, kritik, saran serta masukkan yang
membangun dari setiap pembaca sangat kami harapkan.
Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam proses penyusunan makalah ini.

Yogyakarta, Oktober 2017

Penulis
Kelompok IV

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 4
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan . 4
BAB II GENESA BAHAN GALIAN
2.1 Genesa Pembentukan 5
2.2 Penyebaran di Indonesia .. 5
BAB III EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI
3.1 Eksplorasi . 7
3.2 Eksploitasi .. 8
BAB IV PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN
4.1 Pengolahan . 12
4.2 Pemanfaatan 15
BAB V LINGKUNGAN DAN PROSPEK
5.1 Lingkungan 17

2
5.2 Prospek 17
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan. 19
6.2Saran . 19
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Nama andesit disadur dari pegunungan andes. Ini dikarenakan batuan andesit banyak
ditemukan di sekitar pegunungan Andes. Batuan andesit di pegunungan Andes terbentuk sebagai
lava interbeded bersamaan dengan deposit abu vulkanik (ash) dan tuff di sisi-sisi stratovulcano
yang curam. Batuan Andesit atau disebut juga dengan lavastone adalah batuan beku yang
tersusunatas mineral yang halus (fine-grained),dan merupakan hasil dari pembekuan magma
yang bersifat intermedier sampai basa di permukaan bumi. Jenis batuan ini berwarna gelap,
umumnya abu-abu sampai hitam, tahan terhadap air hujan, berat jenis 2,3-2,7, dan mempunyai
kuat tekan 600-2400 kg/cm2.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana genesa pembentukan batuan andesit ?


Bagaimana penyebaran batuan andesit di Indonesia ?
Apa saja metode eksplorasi dan eksploitasi yang digunakan dalam pertambangan
batuan andesit ?
Bagaimana pengolahan dan pemanfaatan batuan andesit ?
Apa saja pengaruh terhadap lingkungan akibat dari proses penambangan batuan
andesit ?
Bagiamana prospek dari batuan andesit ?

1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui :

Genesa pembentukan batuan andesit


Penyebaran batuan andesit di Indonesia
Metode eksplorasi dan eksploitasi yang digunakan dalam pertambangan batuan
andesit
Pengolahan dan pemanfaatan batuan andesit
Prospek dari batuan andesit

4
BAB II

GENESA BAHAN GALIAN


2.1 Genesa Pembentukan

Proses pembentukan batuan andesit secara letusan (vulkanologi) agak mirip dengan
proses pembentukan batuan diorit. Batuan andosit biasanya ditemukan dalam aliran lava yang
dihasilkan stratovulkano. Lava yang naik ke permukaan bumi akan mengalami proses
pendinginan dengan sangat cepat, karena itu tekstur batuan andesit sangat halus.
Ada banyak situasi yang mendorong terbentuknya batuan andesit. Salah satuanya adalah
terbentuk setelah proses melting (pelelehan/pencairan) lempeng samudra akibat subduksi.
Subduksi yang menyebabkan pelelehan itu merupakan sumber magma yang naik dan membeku
menjadi batuan andesit. Karena itu biasanya batuan andosit terletak diatas zona subdiksi yang
jadi batuan umum penyusun kerak benua.
Selain karena subdiksi, batuan andesit juga bisa terbentuk jauh dari zona subdiksi.
Misalnya, batuan andesit juga bisa terbentuk pada ocean ridges dan oceanic hotspot yang
dihasilkan dari pelelehan sebagian (partial melting) batuan basalt. Batuan andesit juga bisa
terbentuk saat terjadi letusan pada struktur dalam lempeng benua yang menyebabkan magma
yang meleleh keluar menuju kerak benua (lava) bercampur dengan lempeng benua

2.2 Penyebaran di Indonesia


Terdapat disepanjang jalur gunung api baik yang masih aktif ataupun yang sudah mati.
Penyebaran terdapat di:
Daerah Istimewa Aceh: Daerah Rikit Gaib, Kab. Aceh Tenggara; Krueng Raya Kab.
Aceh Besar; Pantai Calang, Kab. Aceh Barat; Lhokruet, Kab. Aceh Selatan; Pantai
Lamno, Kab. Aceh Barat.
Sumatera Utara: Daerah Aik Puli, Kab. Tapanuli Utara
Sumatera Barat: Kota Baru dan S. Sirah Paminan Kab. Pesisir Selatan.
Jambi: S. Tutung Kec. Air Hangat Kab. Kerinci; Pulau Pandain Kec. Danau Kerinci;
Rantau Keloyang Kab. Muarabungo; Maliki dan Baru Kab. Sarko; P. Sangkar Kab.
Kerinci; Bukit Baru, Kec. Pelepat, Kab. Bungalebo Tebo.
Bengkulu: G. Kandis dan G. Beringin Kab. Bengkulu Utara.
Lampung: Langkapura, Tanjungkarang; Kedatuan Bandar Lampung; G. Merbabu; G.
Lubukitik; G. Batuserampuk.

5
Jawa Barat: Ujung Berung, Kab. Bandung; Lagadar Kab. Bandung; G. Bejong, Cililin
Kab. Bandung; G. Kromong Kab. Bandung; Jelekong Kab. Bandung; Kebon Tunggul
Kab. Bandung; Selakaso Kab. Bandung; Kec. Pacet, Kab. Bandung; Majalaya Kab.
Bandung; G. Sidanglengis, Kec. Plered, Kab. Purwakarta; Ciarok Kab. Garut; G. Sugih,
Anyer Kab. Serang; G. Gede; Parung panjang Bogor, Ciomas, Parung Panjang, Kab.
Bogor.
Jawa Tengah: Selogiri Bendokerep Kab. Wonogiri; G. Mergi Kab. Semarang; Beringin,
Suruh Kab. Salatiga; Kandangan, Bawean, Slawi Kec. Balapulang Kab. Tegal; Kec.
Belik Kab. Pemalang.
Daerah Istimewa Yogyakarta: G. Merapi; G. Gajah; G. Ijo, Kulon Progo.
Jawa Timur: G. Gajah Mungkur Kab. Pasuruan; Ketapang-Lawang Kab. Malang, Prigen
Kab. Pasuruan; Lumang, Kab. Pasuruan; Polaman Lawang Kab. Malang; Gamang,
Gading, Paiton, Bogo, Kab. Probolinggo; Pasir Putih Besuki Kab. Panarukan; G.
Kapuran; Sumbersuko Padaan; G. Pandan Saradan Kab. Madiun; Pacet Wetan,
Kambengan, Barakan, Pelak, Ngemplak, Kesiman, Tengah Wiyu, Slawe, Briti. dan Padi
Kab. Mojokerto; Bantal, Belik, Sumberejo, dan Sukorame Kab. Mojokerto.
Kalimantan Selatan: Jimban, Tamban, Ulang, Pleihan Kab. Tanah Laut, Ujung Batu, P.
Laut Kab. Kotabaru.
Nusa Tenggara Timur: Lekebai, Kec. Paga Kab. Sikka; Ae Baru dan Kelisamba, Kab.
Flores.
Sulawesi Utara: Lilang Kab. Minahasa; Noongan dan Mokupa.
Sulawesi Selatan: Bilibili Kec. Botonompo Kab. Gowa, Lena Kec. Parangloe.
Maluku: G. Mede Kab, Halmahera Utara; Takome, Tugato, Ternate; Bobo, Dukiri;
Sandora; Tidore; Kab. Maluku Tengah; Babang dan G. Sayoding, P. Bacan; Pantai
Itawlaka, P. Saparua, Hitu Barat, P. Ambon; G. Lana, Lei Timur.
Irian Jaya: Rumba, Bukit, Cendrawasih Kab. Sorong.

6
Gambar 2.1 Peta Penyebaran Batuan Andesit di Indonesia

7
BAB III

EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI


3.1 Eksplorasi

Metode Geolistrik
Metode geolistrik ini biasanya digunakan untuk menyelidiki kondisi bawah permukaan,
yaitu dengan mempelajari sifat aliran listrik pada batuan di bawah permukaan bumi.
Penyelidikan ini meliputi pendeteksian besarnya medan potensial, medan elektromagnetik dan
arus listrik yang mengalir di dalam bumi baik secara alamiah (metoda pasif) maupun akibat
injeksi arus ke dalam bumi (metoda aktif) dari permukaan. Proses diawali dengan persiapan
segala peralatan yang akan dipakai, yang terdiri atas main unit, kabel, elektroda, HT, palu, dan
multimeter analog, kemudian dilanjutkan dengan penancapan elektroda yang telah dihubungkan
dengan main unit menggunakan kabel ke dalam tanah, dan akhirnya proses penginduksian listrik
untuk mengetahui struktur tanah tersebut dapat dilakukan. Selanjutnya data hasil pengukuran
dimasukkan ke dalam software seperti RES2DINV yang kemudian menghasilkan gambar
penampang. Hasil interpretasi disajikan dalam bentuk penampang geologi yang didasarkan
kepada hasil pengolahan data pengukuran geolistrik dengan menghubungkan setiap titik duga
satu dengan yang lainya. Keadaan geologi ini akan memperlihatkan penyebaran

Gambar 3.1 Peralatan yang Digunakan

8
Gambar 3.2 Penginduksian Listrik ke dalam Tanah

Gambar 3.3 Contoh Penampang Akhir

3.2 Eksploitasi

Eksploitasi batuan andesit dimulai dari proses pembongkaran, penggalian,


pemuatan, dan pengangkutan.

A. Pembongkaran

Pekerjaan ini dimaksudkan untuk membongkar andesit dari batuan induknya


sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Untuk
melaksanakan pekerjaan ini dilakukan dengan cara pemboran dan peledakan. Dalam
kegiatan pemboran perlu ditentukan geometri lubang tembak yang meliputi berden,
kedalaman, pemampat, subdrilling dan spasi. Peralatan yang digunakan untuk

9
kegiatan pemboran adalah crawler rock drill (CRD) dan kompresor. Sedangkan untuk
kegiatan peledakan digunakan bahan peledak ANFO. Dalam kegiatan peledakan ini,
untuk mendapatkan ukuran produk yang diinginkan ditentukan melalui perubahan
spasi lubang ledak; makin rapat ukuran semakin kecil ukuran produknya.

Gambar 3.4 Crawler Rock Drill (CRD)

Gambar 3.5 Anfo


B. Pemuatan (loading).
Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan alat muat mekanis untuk memuat hasil
kegiatan pembongkaran seperti backhoe, showel ataupun bulldozerke dalam alat angkut yaitu
truk.

10
Gambar 3.6 Backhoe

Gambar 3.7 Bulldozer

11
C. Pengangkutan (transporting)

Bongkahan andesit diangkut ke lokasi unit peremukan menggunakan dump truck.

Gambar 3.8 Dump Truck

12
BAB IV
PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN
4.1 Pengolahan
Bongkahan hasil peledakan yang ukurannya belum sesuai dengan ukuran konsumen dapat
dipecah lagi dengan palu atau alat mekanis (breaker/crusher) untuk disesuaikan dengan
aturannya. Batu yang sudah sesuai ukurannya dimuat dengan alat muat dan diangkut dengan
truck ke konsumen.
Secara umum, kegiatan peremukan terdiri dari 3 kegiatan utama yaitu peremukan,
pengayakan, dan pengangkutan. Hasil dari pengolahan ini berupa batu pecah yang terdiri dari
berbagai ukuran, misal 10 , 10-20 , 20-30 , 30-50 dan sebagainya.

Gambar 4.1 Diagram Alir Pengolahan Batuan Andesit

13
Gambar 4.2 Jaw Crusher

Gambar 4.3 Cone Crusher

Gambar 4.4 Gryatory Crusher

14
Gambar 4.5 Pemecahan Batu Menggunakan Palu

Gambar 4.6 Pengolahan Menggunakan Gergaji Batu


Umumnya proses crushing batuan andesit terbagi menjadi dua tahap, yaitu primary
crushing yang menggunakan jaw crusher dan secondary crushing yang menggunakan cone
crusher. Proses pengolahan menggunakan palu dan gergaji dipakai jika target hasil produksi
merupakan bongkahan batu yang digunakan untuk fondasi rumah dan sebagai hiasan bangunan.

15
4.2 Pemanfaatan

Bentuk bongkah batuan andesit dengan ukuran yang masih dapat diangkat oleh manusia,
dapat dimanfaatkan untuk fondasi rumah. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk batuan candi,
hiasan gedung, dan patung. Sedangkan ukuran dalam bentuk pasir, andesit baik digunakan untuk
bahan adukan beton, dam ukuran split umumnya digunakan untuk campuran beton dan aspal.

Pemanfaatan Batuan Andesit Sebagai Hiasan Gedung

Batu Andesit kini telah menjadi tren yang diterapkan pada bangunan-bangunan yang
minimalis karena batu jenis ini akan mampu membuat struktur bangunan menjadi lebih kokoh
dan akan menimbulkan kesan dingin yang sangat kuat. Batu berjenis andesit ini kini juga banyak
digunakan pada bangunan hotel-hotel berbintang serta pada bangunan yang mewah dengan
diaplikasikan atau diterapkan untuk dinding, pagar, lantai pada taman, bibir kolam sampai pada
carport. Karena berbagai alasan andesit kini banyak digunakan, antara lain karena warna abu-abu
pada batu andesit jika dipadukan dengan hijaunya tumbuhan bisa memberikan nuansa sejuk dan
alami.

16
Gambar 4.7 Proses Pembuatan Hiasan Bangunan

17
BAB V

LINGKUNGAN DAN PROSPEK


5.1 Lingkungan
Industri Pertambangan batuan andesit di dalam kerjanya juga menimbulkan dampak
terhadap lingkungan sekitar. Dampak terhadap lingkungan sekitar ini dapat dilihat dari proses
eksploitasi, dimana dilakukannya proses peledakan untuk mendapatkan ukuran batu yang sesuai
dengan kebutuhan konsumen. Dampak terhadap yang ditimbulkan antara lain:

1. Polusi Udara
Polusi udara disebabkan oleh naiknya abu hasil peledakan yang dapat mempengaruhi
kualitas udara bersih di daerah sekitar pertambangan
2. Getaran Tanah
Getaran tanah yang timbul akibat dari aktifitas peledakan tersebut dapat mengganggu
saluran air yang dimiliki warga sekitar, selain itu dinding dan kaca rumah warga sekitar
juga bias retak bahkan runtuh. Selain itu, tanah longsor juga dapat terjadi sebagai hasil
dari getaran tersebut.
3. Kebisingan
Kebisingan juga dapat menjadi salah satu dampak dari proses peledakan. Kebisingan ini
sebagai hasil suara dari bahan peledak yang digunakan untuk meledakan batuan juga dari
mesin pengolahan yang digunakan yaitu crusher dan proses penggergajian.

5.2 Prospek
Cadangan andesit di Indonesia berjumlah milyaran ton, tersebar merata di seluruh daerah
Indonesia. Dari kenyataan itu, untuk masa mendatang diperkirakan pengusahaan andesit di
Indonesia akan mengalami peningkatan sejalan dengan terus dilakukannya pembangunan
perumahan, juga pembangunan sektor konstruksi lainnya seperti jalan, jembatan dsb. Identifikasi
faktor yang mempengaruhi pasar, baik itu sektor pendukung maupun penghambat
pengembangan usaha pertambangan andesit adalah :

Cadangan; potensi andesit di Indonesia jelas memungkinkan dengan jumlah cadangan


yang besar dan lokasinya tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia;
Tenaga kerja; cukup melimpah, biaya operasi tenaga kerja murah adalah faktor yang
menguntungkan baik bagi perusahaan maupun pemerintah;
Konsumen; perkembangan sektor kontruksi (jalan dan perumahan) dan sektor industri
yang mulai membaik merupakan indikator akan meningkatnya tingkat kebutuhan andesit
di sektor ini. Oleh karena itu pengembangan pertambangan andesit dengan berorientasi
kepada pemenuhan kebutuhan sektor ini cukup memberikan harapan.

18
Di sektor konstruksi, konsumsi andesit sebagai indikatornya adalah pemakaian di sub
sektor perumahan.

Menurut data dari BPS, dalam kurun waktu tahun 1987 1996 melalui Perumnas telah
dibangun sebanyak 328.425 unit yang terdiri dari 127.023 unit Perumahan Sederhana, 190.442
unit Perumahan Inti, dan 10.960 unit Rumah Susun (Rusun). Dalam kurun waktu yang sama
telah dibangun sebanyak 163.247 unit melalui KPR-BTN yang terdiri dari 143.940 unit melalui
developer swasta dan 19.307 unit melalui developer Perumnas. Adapun melalui REI dalam
kurun waktu tersebut jumlah terbesar yang dicapai adalah sebanyak 268.432 unit.

Khusus untuk KPR-BTN, Rumah Sederhana (RS) dan Rumah Sangat Sederhana (RSS),
pada 2000 BTN mentargetkan sekitar 100.000 unit rumah. Hal ini diperkuat pula oleh perkiraan
pemerintah bahwa pada tahun 2000 menyediakan dana sebesar Rp. 1,2 triliun untuk program
pembangunan perumahan bagi masyarakat golongan penghasilan rendah.

Perekonomian Indonesia yang cenderung membaik diperkirakan kebutuhan akan


perumahan terutama tipe yang dibangun melalui KPR-BTN akan semakin meningkat di masa
mendatang, dan ini berarti kebutuhan akan andesit juga akan meningkat. Demikian juga halnya
dalam pembangun gedung-gedung pusat pertokoan, pusat perkantoran swasta ataupun
pemerintahan, pembangunan dan pemeliharaan jalan, jembatan serta sarana irigasi yang setiap
tahun diperkirakan akan terus meningkat merupakan peluang bagi pertambangan andesit.

Berikut ini kisaran harga batuan andesit sesuai dengan kegunaannya

Batuan andesit untuk konstruksi:

Batu belah : Rp.250.000/M3


Kerikil : Rp.255.000/M3

Batuan andesit untuk hiasan bangunan:

Batu andesit hitam polos, abu-abu, dan alur, : Rp.75.000-Rp.145.000/M2


(tergantung ukuran yang dipilih)
Batu andesit lempeng : Rp.60.000-Rp.80.000/M2(tergantung ukuran yang dipilih)
Batu andesit lempeng random : Rp.40.000/M2
Batu andesit trotol : Rp.75.000-Rp.145.000/M2(tergantung ukuran yang dipilih)
Batu andesit poles : Rp.265.000-Rp.310.000/M2(tergantung ukuran yang dipilih)

19
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Batuan Andesit merupakan batuan yang terbentuk dari pendinginan lava hasil letusan
gunung api.
2. Penyebaran batuan andesit merata di Indonesia, mengingat seluruh pulau di Indonesia
memiliki gunung berapi baik yang masih aktif ataupun sudah mati.
3. Metode geolistrik merupakan salah satu metode eksplorasi yang dapat digunakan dalam
rangkaian proses pertambangan batuan andesit.
4. Batuan andesit dapat dimanfaatkan sebagai hiasan dinding, bahan konstruksi bangunan,
patung, batuan candi, ataupun campuran aspal dan beton, tergantung pada ukuran batuan
tersebut.
5. Prospek dari batuan andesit kedepannya masih sangat baik, mengingat pembangunan
baik gedung maupun infrastruktur seperti jalan dan jembatan masih terus berlangsung.

6.2 Saran
Saran yang dapat kami berikan adalah: untuk mengatasi dampak kerusakan lingkungan pada
saat eksplorasi, setelah proses peledakan dilakukan perlu dilakukan smoke clearing serta
penyiraman air pada daerah sekitar pertambangan untuk menghilangkan debu, serta sebaiknya
proses peledakan dilakukan jauh dari permukiman warga agar tidak dapat mengganggu aktifitas
mereka sehari-hari.

20
DAFTAR PUSTAKA
Sukandarrumidi. 1998. Bahan Galian Industri. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/18735/12028
https://achmadinblog.wordpress.com/2010/11/30/andesit/
http://wawasanpertambangan.blogspot.co.id/2014/05/metoda-geolistrik.html
http://geografiupi2010.blogspot.co.id/2012/11/pemanfaatan-batu-andesit.html
http://batuandesit.info/pemanfaatan-batu-andesit/
http://batuandesit.info/pemanfaatan-batu-andesit/
http://rizto-mining.blogspot.co.id/2011/12/bahan-galian-industri-yang-berkaitan_11.html

21