Anda di halaman 1dari 38

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I

LAPORAN KASUS PENYAKIT FILARIASIS

Dosen Pengampu :

Mashudi, S. Kep., Ners., M. Kep

Disusun Oleh :

Sukmah Anhdapa

PO.71.20.0.16.4011

Tingkat IIB

Semester III

PRODI DIII KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI
T.A 2017/2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
FILARIASIS. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan
Medikal Bedah I.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.

Jambi 11 Oktober 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI
Halaman
Cover .............................................................................................................................. 1

KATA PENGANTAR ................................................................................................... 2


DAFTAR ISI .................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 4


1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 5
1.3 Tujuan ...................................................................................................................... 5
1.4 Mamfaat ................................................................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP PENYAKIT

2.1 Definisi Filariasis ..................................................................................................... 6


2.2 Etiologi Filariasis ...................................................................................................... 9
2.3 Mekanisme Terjadinya Filariasis .............................................................................. 11
2.4 Cara Penularan Filariasis .......................................................................................... 12
2.5 Patofisiologi Filariasis .............................................................................................. 13
2.6 Manifestasi Klinis Filariasis...................................................................................... 14
2.7 Komplikasi Filariasis ............................................................................................... 16
2.8 Pemeriksaan Diagnostik Filariasis ............................................................................ 16
2.9 Penatalaksanaan/Pencegahan Filariasis .................................................................... 18

3.0 Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis ................................... 19

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

4.0 Pengkajian ................................................................................................................ 20


4.1 Diagnosa Keperawatan ............................................................................................ 21
4.2 Intervensi Keperawatan ........................................................................................... 22
4.3 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan ................................................................ 25

BAB III PEMBAHASAN

C. TINJAUAN KASUS ................................................................................................. 26

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 37
4.2 Saran ........................................................................................................................ 37

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 38

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah penyakit
menular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui
gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga saat ini telah
diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan
Armigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, dan
organ kelamin.
Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya sempat
ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasis khas
ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al, 1997) seperti di
Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelah itu tidak
muncul dan sekarang muncul kembali. Filariasis tersebar luas hampir di seluruh Propinsi di
Indonesia. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak
1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang
endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang.
Untuk memberantas filariasis sampai tuntas, WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global
(The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The
Year 2020) yaitu program pengeliminasian filariasis secara masal. Program ini dilaksanakan
melalui pengobatan masal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun
dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis untuk mencegah kecacatan. WHO sendiri
telah menyatakan filariasis sebagai urutan kedua penyebab cacat permanen di dunia. Di
Indonesia sendiri, telah melaksanakan eliminasi filariasis secara bertahap dimulai pada tahun
2002 di 5 Kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahunnya.
Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata. Masyarakat
juga harus ikut memberantas penyakit ini secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme
penyebaran filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya, diharapkan
program Indonesia Sehat Tahun 2010 dapat terwujud salah satunya adalah terbebas dari
endemi filariasis.

4
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat ditarik suatu rumusan masalah antara lain sebagai berikut.
1.Apa yang dimaksud dengan filariasis?
2.Bagaimana mekanisme terjadinya filariasis?
3.Bagaimana upaya pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi filariasis?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah mengacu pada rumusan masalah di atas
sebagai berikut.
1.Untuk mengetahui yang dimaksud dengan filariasis.
2.Untuk mengetahui mekanisme terjadinya filariasis.
3.Untuk mengetahui upaya pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi filariasis.

1.4 Manfaat
Manfaat penyusunan makalah ini adalah agar masyarakat dapat mengetahui segala sesuatu
tentang filariasis, bagaimana mekanisme terjadinya filariasis, dan bagaimana upaya
pencegahan, pengobatan serta rehabilitasi filariasis. Dengan demikian, diharapkan
masyarakat ikut memberantas penyakit ini secara aktif sehingga tidak menjadi endemi di
masyarakat.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP PENYAKIT
2.1 Defenisi Filariasis
Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi
sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan kelenjar
limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila
tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki,
lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki.
Cacing filaria berasal dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang
menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia
timori (Elmer R. Noble & Glenn A. Noble, 1989). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan
berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks. Anak
dari cacing dewasa disebut mikrofilaria (Gambar 1.).

A B C
Gambar 1. Mikrofilaria Wuchereria bancrofti (A), Brugia malayi (B), dan Brugia timori (C).
(Sumber : Juni Prianto L.A. dkk., 1999)

Pada Wuchereria bancrofti, mikrofilarianya berukuran 250, cacing betina dewasa


berukuran panjang 65 100mm dan cacing jantan dewasa berukuran panjang 40mm (Juni
Prianto L.A. dkk., 1999). Di ujung daerah kepala membesar, mulutnya berupa lubang
sederhana tanpa bibir (Oral stylet) seperti terlihat pada Gambar 2. Sedangkan pada Brugia
malayi dan Brugia timori, mikrofilarianya berukuran 280. Cacing jantan dewasa
panjangnya 23mm dan cacing betina dewasa panjangnya 39mm (Juni Prianto L.A. dkk.,
1999). Mikrofilaria dilindungi oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi tubuhnya.
Aktifitas mikrofilaria lebih banyak terjadi pada malam hari dibandingkan siang hari. Pada
malam hari mikrofilaria dapat ditemukan beredar di dalam sistem pembuluh darah tepi. Hal
ini terjadi karena mikrofilaria memiliki granula-granula flouresen yang peka terhadap sinar
matahari. Bila terdapat sinar matahari maka mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler-
kapiler paru-paru. Ketika tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam

6
sistem pembuluh darah tepi. Mikrofilaria ini muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan
sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 10 tahun.

Gambar 2. Struktur tubuh mikrofilaria Wuchereria bancrofti.


(Sumber : Elmer R. Noble dan Glenn A. Noble, 1989)

Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia. Manusia yang mengandung
parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi orang lain. Pada umumnya laki-laki lebih dmudah
terinfeksi, karena memiliki lebih banyak kesempatan mendapat infeksi (exposure). Hospes
reservoar adalah hewan yang dapat menjadi hospes bagi cacing filaria, misalnya Brugia
malayi yang dapat hidup pada kucing, kera, kuda, dan sapi.
Banyak spesies nyamuk yang ditemukan sebagai vektor filariasis, tergantung pada jenis
cacing filarianya dan habitat nyamuk itu sendiri. Wuchereria bancrofti yang terdapat di
daerah perkotaan ditularkan oleh Culex quinquefasciatus, menggunakan air kotor dan
tercemar sebagai tempat perindukannya. Wuchereria bancrofti yang ada di daerah pedesaan
dapat ditularkan oleh berbagai macam spesies nyamuk. Di Irian Jaya, Wuchereria bancrofti
terutama ditularkan oleh Anopheles farauti yang menggunakan bekas jejak kaki binatang
untuk tempat perindukannya. Di daerah pantai di NTT, Wuchereria bancrofti ditularkan oleh
Anopheles subpictus. Brugia malayi yang hidup pada manusia dan hewan ditularkan oleh
berbagai spesies Mansonia seperti Mansonia uniformis, Mansonia bonneae, dan Mansonia
dives yang berkembang biak di daerah rawa di Sumatera, Kalimantan, dan Maluku. Di daerah
Sulawesi, Brugia malayi ditularkan oleh Anopheles barbirostris yang menggunakan sawah
sebagai tempat perindukannya. Brugia timori ditularkan oleh Anopheles barbirostris yang
berkembang biak di daerah sawah, baik di dekat pantai maupun di daerah pedalaman. Brugia

7
timori hanya ditemukan di daerah NTT dan Timor Timur.
Gejala klinis filariais antara lain adalah berupa :

1. Demam berulang-ulang selama 3 5 hari, demam dapat hilang bila beristirahat dan
muncul kembali setelah bekerja berat.
2. Pembengkakan kelenjar limfe (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak
(lymphadenitis) yang tampak kemerahan. Diikuti dengan radang saluran kelenjar
limfe yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal
lengan ke arah ujung (Retrograde lymphangitis) yang dapat pecah dan mengeluarkan
nanah serta darah.
3. Pembesaran tungkai, buah dada, dan buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan
terasa panas (Early lymphodema). Gejala klinis yang kronis berupa pembesaran yang
menetap pada tungkai, lengan, buah dada, dan buah zakar tersebut.

Seseorang yang menderita filariasis dapat didiagnosis secara klinis dengan cara sebagai
berikut.

1. Deteksi parasit yaitu menemukan mikrofilaria di dalam darah pada pemeriksaan


sediaan darah tebal. Pengambilan darah dilakukan pada malam hari karena
mikrofilaria aktif pada malam hari dan banyak beredar dalam sistem pembuluh darah.
Setelah membuat sedian darah maka dilakukan pemeriksaan sedian tersebut. Jika pada
sediaan ditemukan mikrofilaria, maka orang tersebut telah terinfeksi cacing filaria.
2. Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum.

Gambar 1. Penderita filariasis pada buah zakar


Gambar 2. Penderita filariasis pada kaki.
Gambar 3. Filariasis pada hewan.

2.2 Etiologi filariasis

8
Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi,
Brugia Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia terutama
dalam kelenjar getah bening dan darah. Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar getah bening
manusia selama 4-6 tahun dan dalam tubuh manusia cacing dewasa betina menghasilkan
jutaan anak cacing (microfilaria) yang beredar dalam darah terutama malam hari.

Penyebarannya diseluruh Indoensia baik di pedesaan maupun diperkotaan. Nyamuk


merupakan vektor filariasis Di Indonesia ada 23 spesies nyamuk yang diketahui bertindak
sebagai vektor dari genus: mansonia, culex, anopheles, aedes dan armigeres.

W. bancrofti perkotaan vektornya culex quinquefasciatus


W. bancrofti pedesaan: anopheles, aedes dan armigeres
B. malayi : mansonia spp, an.barbirostris.
B. timori : an. barbirostris.

Mikrofilaria mempunyai periodisitas tertentu tergantung dari spesies dan tipenya. Di


Indonesia semuanya nokturna kecuali type non periodic Secara umum daur hidup ketiga
spesies sama Tersebar luas di seluruh Indonesia sesuai dengan keadaan lingkungan
habitatnya. ( Got, sawah, rawa, hutan ).

2.2.1 Cacing Dewasa atau Makrofilaria


Berbentuk silindris, halus seperti benang, putih dan hidup di dalam sisitem limfe.
Ukuran 55 100 mm x 0,16 mm
Cacing jantan lebih kecil: 55 mm x 0,09 mm
Berkembang secara ovovivipar

2.2.2 Mikrofilaria
Merupakan larva dari makrofilaria sekali keluar jumlahnya puluhan ribu.
Mempunyai sarung. 200 600 X 8 um
Didalam tubuh nyamuk mikrofilaria yang diisap nyamuk akan berkembang dalam otot
nyamuk.Setelah 3 hari menjadi larva L1, 6 hari menjadi larva L2, 8-10 hari untuk brugia atau
10 14 hari untuk wuchereria akan menjadi larva L3. Larva L3 sangat aktif dan merupakan
larva infektif.ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk (tetapi tidak seperti
malaria). Manusia merupakan hospes definitive Hampir semua dapat tertular terutama

9
pendatang dari daerah non-endemik Beberapa hewan dapat bertindak sebagai hospes
reservoir

Faktor yang mempengaruhi :


Lingkungan fisik : Iklim, Geografis, Air dan lainnnya,
Lingkungan biologik: lingkungan Hayati yang mempengaruhi penularan; hutan, reservoir,
vector.
lingkungan social ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan perilaku, adat Istiadat,
Kebiasaan dsb,
Ekonomi: Cara Bertani, Mencari Rotan, Petik Cengkeh dan Coklat Dsb
Penularan dapat terjadi apabila ada 5 unsur yaitu sumber penular (manusia dan hewan),
Parasit , Vektor, Manusia yang rentan, Lingkungan (fisik, biologik dan sosial-ekonomi
budaya)

2.2.3Siklus Hidup Cacing Filaria


Siklus hidup cacing filaria dapat terjadi dalam tubuh nyamuk apabila nyamuk tersebut
menggit dan menghisap darah orang yang terserang filariasis, sehingga mikro filaria yang
terdapat ditubuh penderita ikut terhisap kedalam tubuh nyamuk. Mikrofiaria tersebut
masuk kedalam paskan pembungkus pada tubuh nyamuk, kemudian menembus dinding
lambung dan bersarang diantara otot otot dada (Toraksi).
Bentuk mikrofilaria menyerupai sosis yang disebut larva stadium I. Dalam waktu kurang
lebih satu minggu larva ini berganti kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang yang
yang disebut larva stadiun II. Pada hari kesepuluh dan seterusnya larva berganti kulit untuk
kedua kalinya, sehingga menjadi lebih panjang dan kurus, ini adalah larva stadium III. Gerak
larva stadium III ini sangat aktif, sehingga larva mulai bermigrasi mula mula ke rongga
perut (Abdomen) kemudian pindah ke kepala dan alat tusuk nyamuk.
Apabila nyamuk mikrofilaria ini menggigit manusia maka mikrofilaria yang sudah berbentuk
larva infektif (Larva stadium III) secara aktif ikut masuk kedalam tubuh manusia
(Hospes),bersama sama dengan aliran darah dalam tubuh manusia.Larva keluar dari
pembuluh darah dan masuk ke pembuluh limfe. Didalam pembuluh limfe larva
mengalamidua kali pergantian kulit dan tumbuh menjadi dewasa yang sering disebut larva
stadium IV dan larva stadium V. Cacing filaria yang sudah dewasa bertempat di pembuluh
limfe, sehingga akan menyumbat pembuluh limfe dan akan terjadi pembengkakan.

10
Cacing filaria sendiri memiliki ciri sebagai berikut :
Cacing dewasa (makrofilaria) berbentuk seperti benang berwarna putih kekuningan.
Sedangkan larva cacing filaria (kirofilaria berbentuk seperti benang berwarna putih susu.
Makrofilaria yang betina memiliki panjang kurang lebih 65-100mm dan ekornya lurus
berujung tumpul. Untuk makro filaria yang jantan memiliki panjang kurang lebih 40mm dan
ekor melingkar.Sedangkan mikrofilaria memilki panjang kurang labih 250 mikron, bersarung
pucat
Tempat hidup makrofilaria jantan dan betina di saluran limfe. Tetapi pada malam hari
mikrofilaria terdapat didalam darah tepi sedangkan pada siang hari mikrofilaria terdapat di
kapiler alat- alat dalam seperti paru- paru, jantung, dan hati.

2.3 Mekanisme Terjadinya Filariasis


Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang
infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk tersebut
mendapatkan mikrofilaria sewaktu menghisap darah penderita atau binatang reservoar yang
mengandung mikrofilaria. Siklus penularan filariasis ini melalui dua tahap (Gambar 3.), yaitu
mosquito satges atau tahap perkembangan dalam tubuh nyamuk (vektor) dan human stages
atau tahap perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) atau binatang (hospes reservoar).

Gambar 3. Siklus penularan filariasis Wuchereria bancrofti.


(Sumber : http://www.filariasis.org)

Di dalam tubuh nyamuk, mikrofilaria berselubung (yang didapatkannya ketika menggigit

11
penderita filariasis), akan melepaskan selubung tubuhnya yang kemudian bergerak
menembus perut tengah lalu berpindah tempat menuju otot dada nyamuk. Larva ini disebut
larva stadium I (L1). L1 kemudian berkembang hingga menjadi L3 yang membutuhkan
waktu 12 14 hari. L3 kemudian bergerak menuju probisis nyamuk. Ketika nyamuk yang
mengandung L3 tersebut menggigit manusia, maka terjadi infeksi mikrofilaria dalam tubuh
orang tersebut. Setelah tertular L3, pada tahap selanjutnya di dalam tubuh manusia, L3
memasuki pembuluh limfe dimana L3 akan tumbuh menjadi cacing dewasa, dan
berkembangbiak menghasilkan mikrofilaria baru sehingga bertambah banyak. Kumpulan
cacing filaria dewasa ini menjadi penyebab penyumbatan pembuluh limfe. Aliran sekresi
kelenjar limfe menjadi terhambat dan menumpuk di suatu lokasi. Akibatnya terjadi
pembengkakan kelenjar limfe terutama pada daerah kaki, lengan maupun alat kelamin yang
biasanya disertai infeksi sekunder dengan fungi dan bakteri karena kurang terawatnya bagian
lipatan-lipatan kulit yang mengalami pembengkakan tersebut.

2.4 Cara Penularan Filariasis


Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit
nyamuk yang sudah terinfeksi, yaitu nyamuk yang dalam tubuhnya mengandung larva (L3).
Nyamuk sendiri mendapat mikro filarial karena menghisap darah penderita atau dari hewan
yang mengandung mikrofolaria. Nyamuk sebagai vector menghisap darah penderita
(mikrofilaremia) dan pada saat itu beberapa microfilaria ikut terhisap bersama darah dan
masuk dalam lambung nyamuk. Dalam tubuh nyamuk microfilaria tidak berkembang biak
tetapi hanya berubah bentuk dalam beberapa hari dari larva 1 sampai menjadi larva 3,
karenanya diperlukan gigitan berulang kali untuk terjadinya infeksi. Didalam tubuh manusia
larva 3 menuju sistem limfe dan selanjutnya tumbuh menjadi cacing dewasa jantan atau
betina serta bekembang biak

12
2.5 Patofisiologi

Parasit

Menuju pemb. Limfa

Perubahan dari larva
Stadium3

Parasit Dewasa

Berkembang biak Menyebabkan antigen


Meyebabkan dilatasi Parasit
Kumpulan Pemb. Limfa Mengangktifkan
Cacing filaria Mengaktifkan Sel T Dewasa
Penyebab Pembengkakan pemb. Limfa
Penyumbatan Pemb. Limfa

Kerusakan struktur IgE berikatan


NYERI

KERUSAKAN INTEGRITAS Mediator Inflamasi
KULIT
Kelenjar getah bening
Adanya inflamasi pada kulit
HIPERTERMI
HARGA DIRI RENDAH

Ahli parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Saleha


Sungkar, menjelaskan, mikrofilaria masuk ke tubuh manusia lewat nyamuk. Lebih dari 20
species nyamuk menjadi vektor (penyebar penyakit) filiriasis. Nyamuk Culex
quinquefasciatus sebagai vektor (penyebar penyakit) untuk wuchereria bancrofti di daerah

13
perkotaan. Di pedesaan vektor umumnya Anopheles, Culez, Aedes, dan Mansonia. Spesies
nyamuk vektor bisa berbeda dari daerah satu dengan daerah lain.
Cacing yang diisap nyamuk tidak begitu saja dipindahkan, tetapi sebelumnya tumbuh
di dalam tubuh nyamuk. Makhluk mini itu berkembang dalam otot nyamuk. Sekitar 3
minggu, pada stadium 3, larva mulai bergerak aktif dan berpindah ke alat tusuk nyamuk.
Nyamuk pembawa mikrofilaria itu lalu gentayangan menggigit manusia dan memindahkan
larva infektif tersebut.
Bersama aliran darah, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke pembuluh
limfe. Uniknya, cacing terdeteksi dalam darah tepi pada malam hari, selebihnya bersembunyi
di organ dalam tubuh. Pemeriksaan darah ada-tidaknya cacing biasa dilakukan malam hari.
Selain manusia, untuk brugia malayi, sumber penularan penyakit juga bisa binatang liar,
seperti kera dan kucing (hospes reservoir).
Setelah dewasa, cacing menyumbat pembuluh limfe dan menghalangi cairan limfe
sehingga terjadi pembengkakan. Selain di kaki, pembengkakan bisa terjadi di tangan,
payudara, atau buah zakar. Di tubuh manusia cacing itu menumpang makan dan hidup.
Ketika menyumbat pembuluh limfe di selangkangan, misalnya, cairan limfe dari
bawah tubuh tidak bisa mengalir sehingga kaki membesar. Dapat terjadi penyumbatan di
ketiak, mengakibatkan pembesaran tangan.

2.6 Manifestasi Klinis


Umumnya, filariasis akan bersifat mikrofilaremia subklinis. Apalagi kebanyakan
penderita penyakit ini merupakan masyarakat pedesaan hingga sama sekali tidak terdeteksi
oleh pranata kesehatan yang berada di lingkungan tersebut. Namun demikian, jika telah parah
dan kronis dapat menimbulkan hidrokel, acute adenolymphangytis (ADL), serta kelainan
pembuluh limfe yang kronis. Di daerah-daerah yang endemis W.bancrofti juga sudah banyak
orang yang kebal sehingga jika ada satu atau dua orang yang skrotumnya tiba-tiba sudah
besar, kemungkinan sudah banyak sekali laki-laki yang terinfeksi parasit ini. Meski demikian,
jika ingin mendeteksi secara dini, dalam fase subklinis penderita filariasis bancrofti akan
mengalami hematuria dan atau proteinuria mikroskopik, pembuluh limfe yang melebar dan
berkelok-kelok dideteksi dengan flebografi- , serta limfangiektasis skrotum dideteksi
dengan USG. Namun tentu saja gejala-gejala yang disebutkan terakhir jarang sekali (kalau
bisa dibilang tidak pernah) terdeteksi karena terjadi di pedalaman-pedalaman desa.
ADL ditandai dengan demam tinggi, peradangan limfe (limfangitis dan limfadenitis),
serta edema lokal yang bersifat sementara. Limfangitis ini bersifat retrograd, menyebar secara

14
perifer dari KGB menuju arah sentral. Sepanjang perjalanan ini, KGB regional akan ikut
membesar atau sekedar memerah dan meradang. Bisa juga terjadi tromboflebitis di sepanjang
jalur limfe tersebut. Limfadenitis dan limfangitis dapat terjadi pada KGB ekstremitas bawah
dan atas akibat infeksi W.bancrofti dan Brugia. Namun khas untuk W.bancrofti, biasanya
akan terjadi lesi di daerah genital terlebih dahulu. Lesi di derah genital ini meliputi
funikulitis, epididimitis, dan rasa sakit pada skrotum. Nantinya lesi ini juga bisa menjadi
limfedema hingga menjadi elefantiasis skrotalis yang sangat khas akibat infeksi W.bancrofti.
Lebih jauh, edema ini juga bisa mendesak rongga peritoneal hingga menyebabkan ruptur
limfe di daerah renal dan menyebabkan chiluria, terutama waktu pagi.
Pada daerah yang endemis infeksi filaria, terdapat tipe onset penyakit akut yang
dinamakan dermatolymphangioadenitis (DLA). Agak sedikit berbeda dengan ADL, DLA
merupakan sindrom yang meliputi demam tinggi, menggigil, myalgia, serta sakit kepala. Plak
edem akibat peradangan membentuk demarkasi yang jelas dari kulit yang normal. Pada
sindrom ini juga terdapat vesikel, ulkus, serta hiperpigmentasi. Kadang-kadang dapat ditemui
riwayat trauma, gigitan serangga, terbakar, radiasi, lesi akibat pungsi, serta kecelakaan akibat
bahan kimia. Biasanya port dentre dari filaria tersebut terletak di daerah interdigital. Karena
bentuknya yang tidak terlalu khas, sindrom ini sering juga didiagnosis sebagai selulitis.

Tanda dan Gejala Penyakit Kaki Gajah


Seseorang yang terinfeksi penyakit kaki gajah umumnya terjadi pada usia kanak-kanak,
dimana dalam waktu yang cukup lama (bertahun-tahun) mulai dirasakan perkembangannya.
Adapun gejala akut yang dapat terjadi antara lain :
Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi
setelah bekerja berat.
Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak
(lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit.
Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari
pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis).
Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat
pecah dan mengeluarkan nanah serta darah.
Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan
terasa panas (early lymphodema).
Gejala dan tanda klinis kronis :

15
Limfedema : Infeksi Wuchereria mengenai kaki dan lengan, skrotum, penis, vulva vagina
dan payudara, Infeksi Brugia dapat mengenai kaki dan lengan dibawah lutut / siku lutut dan
siku masih normal.
Hidrokel : Pelebaran kantung buah zakar yang berisi cairan limfe, dapat sebagai indikator
endemisitas filariasis bancrofti.
Kiluria : Kencing seperti susu kebocoran sel limfe di ginjal, jarang ditemukan

2.7 Komplikasi
a. Cacat menetap pada bagian tubuh yang terkena
b. Elephantiasis tungkai
c. Limfedema : Infeksi Wuchereria mengenai kaki dan lengan, skrotum, penis,vulva
vagina dan payudara,
d. Hidrokel (40-50% kasus), adenolimfangitis pada saluran limfe testis berulang:
pecahnya tunika vaginalisHidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di
antaralapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang
berada di dalam rongga itu memang adadan berada dalam keseimbangan antara produksi dan
reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.
e. Kiluria : kencing seperti susu karena bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh cacing
dewasa yang menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih.

2.8 Pemeriksaan diagnostic


a. Diagnosis Klinik
Diagnosis klinik ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Diagnosis klinik
penting dalam menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute and Chronic Disease
Rate).
Pada keadaan amikrofilaremik, gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis filariasis
adalah gejala dan tanda limfadenitis retrograd, limfadenitis berulang dan gejala menahun.

b. Diagnosis Parasitologik
Diagnosis parasitologik ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria pada pemeriksaan
darah kapiler jari pada malam hari. Pemeriksaan dapat dilakukan siang hari, 30 menit setelah
diberi DEC 100 mg. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat ditentukan species cacing
filaria.

16
c. Radiodiagnosis
Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar limfe inguinal
penderita akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dance sign).
Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang dilabel dengan
radioaktif akan menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik, sekalipun pada penderita
yang mikrofilaremia asimtomatik.

d. Diagnosis Immunologi
Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten, inkubasi, amikrofilaremia
dengan gejala menahun, occult filariasis, maka deteksi antibodi dan/atau antigen dengan cara
immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis.
Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan mikrofilaremia, tidak
membedakan infeksi dini dan infeksi lama. Deteksi antigen merupakan deteksi metabolit,
ekskresi dan sekresi parasit tersebut, sehingga lebih mendekati diagnosis parasitologik. Gib
13, antibodi monoklonal terhadap O. gibsoni menunjukkan korelasi yang cukup baik dengan
mikrofilaremia W. bancrofti di Papua New Guinea.

2.9 Penatalaksanaan / Pencegahan


Penatalaksanaan
Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang ampuh, baik untuk filariasis
bancrofti maupun brugia, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini ampuh,
aman dan murah, tidak ada resistensi obat, tetapi memberikan reaksi samping sistemik
dan lokal yang bersifat sementara. Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam, berupa
sakit kepala, sakit pada berbagai bagian tubuh, persendian, pusing, anoreksia, kelemahan,
hematuria transien, alergi, muntah dan serangan asma. Reaksi lokal dengan atau tanpa
demam, berupa limfadenitis, abses, ulserasi, limfedema transien, hidrokel, funikulitis dan
epididimitis. Reaksi samping sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama, hilang
spontan setelah 2-5 hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik. Reaksi
samping lokal terjadi beberapa hari setelah pemberian dosis pertama, hilang spontan
setelah beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering ditemukan pada penderita
dengan gejala klinis. Reaksi sampingan ini dapat diatasi dengan obat simtomatik.

Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas:


1. Pemberantasan nyamuk dewasa

17
a. Anopheles : residual indoor spraying
b. Aedes : aerial spraying
2. Pemberantasan jentik nyamuk
a. Anopheles : Abate 1%
b. Culex : minyak tanah
c. Mansonia : melenyapkan tanaman air tempat perindukan, mengeringkan rawa dan
saluran air
3. Mencegah gigitan nyamuk
a. Menggunakan kawat nyamuk/kelambu
b. Menggunakan repellent
Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu dilaksanakan
sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk menunjang penanggulangan
filariasis.
Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan seluruh penduduk
daerah endemis, dengan harapan bahwa penderita dengan gejala klinik filariasis segera
memeriksakan diri ke Puskesmas, bersedia diperiksa darah kapiler jari dan minum obat
DEC secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk.. Evaluasi
hasil pemberantasan dilakukan setelah 5 tahun, dengan melakukan pemeriksaan vektor
dan pemeriksaan darah tepi untuk deteksi mikrofilaria.

Pencegahan
Pencegahan terhadap penyakit filariasis / kaki gajah dapat dilakukan dengan jalan :
Berusaha menghindari diri dari gigitan nyamuk
Membersihkan air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk
Mengeringkan / genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk
Membakar sisa-sisa sampah (berupa kertas dan plastik)
Minimal melakukan penyemprotan sebulan sekali
Pencegahan penyakit kaki gajah / filasiasis bagi penderita penyakit filariasis diharapkan
untuk memeriksakan kedokter agar mendapatkan penanganan obat obatan sehingga tidak
menyebabkan penularan kepada masyarakat lainnya.
Perlu adanya pendidikan dan pencegahan serta pengenalan penyakit kaki gajah / filariasis di
wilayah masing masing sangatlah penting untuk memutus mata rantai penularan penyakit

18
ini. Membersihkan lingkinggan sekitar adalah hal terpenting untuk mencegah terjadinya
perkembangan nyamuk diwilayah tersebut.

3.0 Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis


3.0.1 Upaya Pencegahan Filariasis
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk (mengurangi
kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi
dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti
nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian
berwarna gelap karena dapat menarik nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan
Albendazol) secara berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari
semua cara diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk
itu sendiri dengan cara 3M.
3.0.2 Upaya Pengobatan Filariasis
Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan
menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat membunuh mikrofilaria
dan cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC adalah satu-
satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis akibat Wuchereria
bankrofti, dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk
filariasis akibat Brugia malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg berat
badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, sakit
kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis yang disebabkan oleh Brugia malayi
dan Brugia timori, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk
pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi pengobatan dilakukan dalam waktu
yang lebih lama. Pengobatan kombinasi dapat juga dilakukan dengan dosis tunggal DEC dan
Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun. Pengobatan kombinasi
meningkatkan efek filarisida DEC.
Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari
golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat
ini hanya membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding
DEC. Terapi suportif berupa pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian DEC dan
antibiotika, khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga
dilakukan pembedahan.

19
3.0.3 Upaya Rehabilitasi Filariasis
Penderita filariasis yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total. Namun, kondisi
mereka tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian tubuh yang membesar
tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh yang membesar tersebut
dapat dilakukan dengan jalan operasi.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


Landasan Teoritis Keperawatan

A. Pengakajian
Riwayat kesehatan
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Cacing
filariasis menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk infektif yang mengandung larva
stadium III. Gejala yang timbul berupa demam berulang-ulang 3-5 hari, demam ini dapat
hilang pada saat istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat.

Pemeriksaan fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)


- Aktifitas / Istirahat
Gejala : Mudah lelah, intoleransi aktivitas, perubahan pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktivitas ( Perubahan TD,
frekuensi jantung).
- Sirkulasi
Tanda : Perubahan TD, menurunnya volume nadi perifer, perpanjangan pengisian kapiler.
- Integritas dan Ego
Gejala : Stress berhubungan dengan perubahan fisik, mengkuatirkan penampilan, putus asa,
dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah.
- Integumen
Tanda : Kering, gatal, lesi, bernanah, bengkak, turgor jelek.
- Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, permeabilitas cairan.
Tanda : Turgor kulit buruk, edema.
- Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
20
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
- Neurosensoris
Gejala : Pusing, perubahan status mental, kerusakan status indera peraba, kelemahan otot.
Tanda : Ansietas, refleks tidak normal
- Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala.
Tanda : Bengkak, penurunan rentang gerak.
- Keamanan
Gejala : Riwayat jatuh, panas dan perih, luka, penyakit defisiensi imun, demam berulang,
berkeringat malam.
Tanda : Perubahan integritas kulit, pelebaran kelenjar limfe.
- Seksualitas
Gejala : Menurunnya libido
Tanda : Pembengkakan daerah skrotalis
- Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian.
Tanda : Perubahan interaksi, harga diri rendah, menarik diri.
Pemeriksaan diagnostic
Menggunakan sediaan darah malam, diagnosis praktis juga dapat menggunakan ELISA
dan rapid test dengan teknik imunokromatografik assay. Jika pasien sudah terdeteksi kuat
telah mengalami filariasis limfatik, penggunaan USG Doppler diperlukan untuk mendeteksi
pengerakan cacing dewasa di tali sperma pria atau kelenjer mammae wanita.

B. Diagnosa keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening
2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe
3. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik
4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit

21
C. Intervensi keperawatan
1. Diagnosa Keperawatan : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada
kelenjar getah bening
Hasil yang diharapkan : Suhu tubuh pasien dalam batas normal.
No. Intervensi Rasional
1. Berikan kompres pada daerah frontalis dan axial
2. Monitor vital sign, terutama suhu tubuh
3. Pantau suhu lingkungan dan modifikasi lingkungan sesuai kebutuhan, misalnya sediakan
selimut yang tipis
4. Anjurkan kien untuk banyak minum air putih
5. Anjurkan klien memakai pakaian tipis dan menyerap keringat jika panas tinggi
6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (anti piretik).
Rasionalisai :
1. Mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus, mengurangi panas tubuh yang
mengakibatkan darah vasokonstriksi sehingga pengeluaran panas secara konduksi
2. Untuk mengetahui kemungkinan perubahan tanda-tanda vital
3. Dapat membantu dalam mempertahankan / menstabilkan suhu tubuh pasien.
4. Diharapkan keseimbangan cairan tubuh dapat terpenuhi
5. Dengan pakaian tipis dan menyerap keringat maka akan mengurangi penguapan
6. Diharapkan dapat menurunkan panas dan mengurangi infeksi

2. Diagnosa Keperawatan : Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe


Hasil yang diharapkan : Nyeri hilang
Intervensi :
1. Berikan tindakan kenyamanan (pijatan / atur posisi), ajarkan teknik relaksasi.
2. Observasi nyeri (kualitas, intensitas, durasi dan frekuensi nyeri).
3. Anjurkan pasien untuk melaporkan dengan segera apabila ada nyeri.
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (obat anelgetik).
Rasional :
1. Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dapat meningkatkan koping.
2. Menentukan intervensi selanjutnya dalam mengatasi nyeri
3. Nyeri berat dapat menyebabkan syok dengan merangsang sistem syaraf simpatis,
mengakibatkan kerusakan lanjutan
4. Diberikan untuk menghilangkan nyeri.

22
3. Diagnosa keperawatan : Harga Diri Rendah berhubungan dengan perubahan fisik
Hasil yang diharapkan :
- Menyatakan gambaran diri lebih nyata
- Menunjukan beberapa penerimaan diri daripada pandangan idealism
- Mengakui diri sebagai individu yang mempunyai tanggung jawab sendiri
Intervensi :
1. Akui kenormalan perasaan
2. Dengarkan keluhan pasien dan tanggapan tanggapannya mengenai keadaan yang dialami
3. Perhatikan perilaku menarik diri, menganggap diri negatif, penggunaan penolakan atau
tudak terlalu menpermasalahkan perubahan actual
4. Anjurkan kepada orang terdekat untuk memperlakukan pasien secara normal (bercerita
tentang keluarga)
5. Terima keadaan pasien, perlihatkan perhatian kepada pasien sebagai individu
6. Berikan informasi yang akurat. Diskusikan pengobatan dan prognosa dengan jujur jika
pasien sudah berada pada fase menerima
Kolaborasi :
Rujuk untuk berkonsultasi atau psikoterapi sesuai dengan indikasi Pengenalan perasaan
tersebut diharapkan membantu pasien untuk menerima dan mengatasinya secara efektif.
Rasional
1. Memberi petunjuk bagi pasien dalam memandang dirinya, adanya perubahan peran dan
kebutuhan, dan berguna untuk memberikan informasi pada saat tahap penerimaan
2. Mengidentifikasi tahap kehilangan / kebutuhan intervensi.
3. Melihat pasien dalam kluarga, mengurangi perasaan tidak berguna, tidak berdaya, dan
persaan terisolasi dari lingkungan dan dapat pula memberikan kesempatan pada orang
terdekat untuk meningkatkan kesejahteraan.
4. Membina suasana teraupetik pada pasien untuk memulai penerimaan diri
5. Fokus informasi harus diberikan pada kebutuhan kebutuhan sekarang dan segera lebih
dulu, dan dimasukkan dalam tujuan rehabilitasi jangka panjang.
6. Mungkin diperlukan sebagai tambahan untuk menyesuaikan pada perubahan gambaran diri.
4. Diagnosa keperawatan : Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan
pada anggota tubuh
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan perilaku yang mampu kembali melakukan aktivitas
Intervensi :

23
1. Lakukan Retang Pergerakan Sendi (RPS)
2. Tingkatkan tirah baring / duduk
3. Berikan lingkungan yang tenang
4. Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi
5. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas
Rasionalisi
1. Meningkatkan kekuatan otot dan mencegah kekakuan sendi
2. Meningkatkan istirahat dan ketenangan, menyediakan enegi untuk penyembuhan
3. tirah baring lama dapat meningkatkan kemampuan
4. Menetapkan kemampuan / kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi
5. kelelahan dan membantu keseimbangan
6. Diagnosa Keperawatan : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit
imun, lesi pada kulit
Hasil yang diharapkan : Mempertahankan keutuhan kulit, lesi pada kulit dapat hilang.
Intervensi:
1. Ubah posisi di tempat tidur dan kursi sesering mungkin (tiap 2 jam sekali).
Gunakan pelindung kaki, bantalan busa/air pada waktu berada di tempat tidur dan pada waktu
duduk di kursi.
2. Periksa permukaan kulit kaki yang bengkak secara rutin.
3. Anjurkan pasien untuk melakukan rentang gerak.
4. Kolaborasi : Rujuk pada ahli kulit. Meningkatkan sirkulasi, dan mencegah terjadinya
dekubitus.
Rasionalisasai ;
1. Mengurangi resiko abrasi kulit dan penurunan tekanan yang dapat menyebabkan kerusakan
aliran darah seluler.
2. Tingkatkan sirkulasi udara pada permukaan kulit untuk mengurangi panas/ kelembaban.
3. Kerusakan kulit dapat terjadi dengan cepat pada daerah daerah yang beresiko terinfeksi
dan nekrotik.
4. Meningkatkan sirkulasi, dan meningkatkan partisipasi pasien.
5. Mungkin membutuhkan perawatan profesional untuk masalah kulit yang dialami.

24
D. Implementasi
1. melakukan kompres pada daerah frontalis dan axial
2. menganjurkan klien untuk banyak minum air putih
3. melakukan tindakan kenyamanan (pijatan / atur posisi), ajarkan teknik relaksasi.
4. melakukan Retang Pergerakan Sendi (RPS)
5. mengevaluasi respon pasien terhadap aktivitas
6. memeriksa permukaan kulit kaki yang bengkak secara rutin.

E. Evaluasi
Setelah melakukan tidakan keperawatan diharapkan klien akan mendapatkan perubahan yang
lebih baik, jika tidak ada hasil yang didapatkan maka tindakan akan dihentikan dan mengkaji
kembali keadaan klien dengan membuat intervensi baru.

25
BAB III
PEMBAHASAN

C. TINJAUAN KASUS

KASUS PEMICU FILARIASIS

Ibu T. Usia 39 tahun, agama Islam, alamat tinggal lorong ANGGREK no 09 Jambi, pekerjaan
Ibu Rumah Tangga. Masuk RS pada tanggal 22/01/2011, diruang perawatan penyakit dalam
kelas III/A. dengan keluhan demam berulang-ulang selama 4 hari, demam hilang bila istirahat
dan demam akan muncul kembali ketika bekerja berat. Klien selalu bertanya kepada perawat
tentang penyakit yang dideritanya.Klien tampak cemas.Klien juga mengatakan terasa panas
dan sakit menjalar dari pangkal kaki kearah ujung kaki dan klien mengatakan nyeri semakin
terasa jika kaki yang sakit dibawa bergerak. Klien mengatakan kakinya yang sakit tampak
lebih besar dari yang satunya. Saat pengkajian didapat klien masih mengeluh demam dan
Wajah klien tampak memerah, klien juga mengeluh terasa panas dan sakit yang menjalar dari
pangkal kaki keujung kaki, skala nyeri 7. Nyeri terasa berulang-ulang, nyeri tekan (+), non
piting oedema (+), klien tampak meringis ketika berjalan. data yang di dapat ukuran tungkai
kaki klien 30cm.Dari pemeriksaan TTV TD : 130/60 mmHg, RR : 24 x/i, N : 110 x/i, S :
38,5C. Dari hasil pemeriksaan darah diperoleh data Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9500/mm3;.Dari
pemeriksaan darah jari kaki ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung ekor
runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.

2.3.1 Pengkajian
Unit : perawatan penyakit dalam
Tanggal masuk : 13 maret 2011

Ruang /kamar : III / A


1. Identitas klien
a. Nama : Ibu T
b. Umur : 39 tahun
c. Jenis kelamin : perempuan
d. Agama : islam
e. Suku/bangsa : Indonesia
f. Alamat : Lrg. ANGGREK

Penanggung Jawab
a. Nama : Tn. D

26
b. Alamat ruma :Lrg. Mawar
c. Hubungan dengan klien : suami

2. Data medik
Diagnosa Medik
Saat masuk : Filariasis
Saat pengkajian : Filariasis

3. Alasan masuk rumah sakit


Klien masuk rumah sakit dengan keluhan demam berulang-ulang selama 4 hari, demam
hilang bila istirahat dan demam akan muncul lagi ketika bekerja berat.

4. Riwayat kesehatan saat ini : Klien merasakan nyeri, panas, dan sakit yang menjalar dari
pangkal kaki kearah ujung kaki dengan skala nyeri , nyeri terasa berulang-ulang

5. Riwayat kesehatan masa lalu


1. penyakit yang pernah diderita : tidak ada
2. pernah dirawat : tidak
3. pernah dioperasi : tidak
4. alergi terhadaap obat : tidak ada

6. Riwayat kesehatan keluarga


1. Genogram :tidak ada
2. Penyakit yang pernah diderita : tidak ada
3. Kesehatan orang tua : baik
4. Saudara kandung : baik
5. Hubungan keluarga dengan klien : baik

7. Faktor resiko penyakit tertentu dalam keluarga (kanker, hipertensi, diabetes mellitus,
penyakit jantung, epilepsy, TBC) : tidak ada

8. Kebiasaan Sehari-hari
1. Nutrisi-Cairan
a. Keadaan sejak sakit
a) Nafsu makan : baik
b) Frekuensi makan : 3x/sehari
c) Jumlah makan yang masuk : satu piring
d) Diet : tidak ada
e) Ketaatan terhadap diet tertentu : tidak ada
f) Mual/enek : tidak ada
g) Muntah : tidak ada
h) Nyeri ulu hati : tidak ada
i) Jumlah minum/24 jam : 600 ml/24 jam
j) Jenis minum : susu formula, air putih

27
k) Keluhan makan dan minum : tidak ada

2. Eliminasi
a. Keadaan sejak sakit
a) Frekuensi BAB/24 jak : 1x/24 jam
b) Waktu BAB : pagi
c) Warna feses : kuning
d) Konsistensi : semi solid
e) Bentuk feses : lunak
f) Penggunaaan pencahar : tidak ada
g) Keluhan BAB : tidak ada
h) Frekuensi BAK/24 jam : 4-6x/24 jam
i) Warna urine : kuning
j) Volume urine : 200-300 ml
k) Bau urine : khas
l) Melena : tidak ada
m) Konstipasi : tidak ada
n) Kolostomi : tidak ada
o) Sering menahan BAK : tidak
p) Keluhan BAK : tidak ada

3. Tidur istirahat
a. keadaan sejak sakit
1) Tidur siang : tidak ada
2) Bila ya berapa jam :-
3) Tidur malam : 4 jam
4) Kebisaan sebelum tidur : minum susu
5) Keluhan tidur : sering terbangun(nyeri)
6) Ekspresi wajah mengantuk : ada
7) Banyak menguap : ada

4. Data Psikologis
1. Persepsi tentang penyakit : tidak mengetahui penyakit
2. Suasana hati : sedih
3. Daya konsentrasi : kurang
4. Koping : baik
5. Konsep diri : baik

5. Data sosial
1. tempat tinggal : Lrg. mawar
2. hubungan dengan keluarga : baik
3. hubungan dengan klien : baik
4. hubungan dengan perawat : baik.

28
6. Data spritual
1. Agama yang dianut : islam
2. Apakah agama sangat penting : ya
3. Kegiatan keagamaan selama dirawat : berdoa
4. Apakah berdoa untuk kesembuhan : ya

7. Pemeriksaan fisik
1. Keadan sakit : klien tampak sakit pada kaki
Alasan : klien masih dapat berinteraksi dengan baik,hanya terkadang tampak meringis saat
nyeri pada kakinya kembali dirasakan.
2. Tanda tanda vital :
a. Kesadaran
1) Kualitatif : kompos mentis
2) Kuantitatif : Glaslow coma scale
Respon motorik ( M ) :6
Respon verbal ( V ) :5
Respon eyes ( E ) :4
Jumlah : : 15
Kesimpulan : Composmentis
b. Nadi
Frekuensi : 110 x/menit
Irama : Teratur
c. Suhu :38,50C daerah Axila

3. Kepala
a. Bentuk kepala : simetris asimetris
b. Cephalon hematome : tidak ada
c. Warna rambut : hitam
d. Keadaan rambut : baik
e. Kulit kepala : kotor dan bau
f. Lesi : bersih ketombe
g. Bengkak/benjolan : tidak ada
h. Nyeri/pusing : tidak ada
i. Keluhan lain : tidak ada

4. Mata/Penglihatan
a. Ketajaman penglihatan : baik
b. Alis : tebal dan lebat
c. Simetris : ya
d. Sclera : putih dan jernih kebiruan kuning/ikterik
e. Pupil : baik
f. Konjungtiva : an anemis

29
g. Bola mata : baik
h. Gerakan bola mata : baik
i. Lapang pandang : baik
j. Kornea dan iris : baik
k. Peradangan : tidak ada
l. Keluhan penglihatan : tidak ada

5. Hidung/penciuman
a. Ukuran : kecil
b. Bentuk : mancung
c. Kesimetrisan : simestris
d. Warna : kemerahan
e. Fungsi penciuman : baik
f. Perdarahan : tidak ada

6. Telinga pendengaran
a. Warna : merah muda
b. Lesi : tidak ada
c. Cerumen : dalam batas normal
d. Membran timpani : baik
e. Fungsi pendengaran : baik
f. Nyeri : tidak ada

7. Pengecapan
a. Warna lidah : merah muda
b. Kelembapan lidah : lembab
c. Keadaan lidah : normal
d. Caries : tidak ada
e. Keadaan gusi : normal
f. Fungsi pengunyah : belum sempurna
g. Fungsi mengecap : normal
h. Fungsi bicara : normal
i. Bau mulut : normal
j. Reflek menelan : baik

8. Dada/pernafasan
a. bentuk : simetris
b. suara nafas : tidak ada bunyi tambahan
c. perkusi dada : bronkovesikuler
d. ekspansi paru : baik
e. batuk : tidak ada
f. sputum : tidak ada
g. nyeri dada : tidak ada
h. pergerakan ronggga dada : retraksi

30
9. kardiovaskuler
a. Ukuran jantung : normal
b. Bunyi jantung I : normal (lup)
c. Bunyi jantung II : normal (dup)
d. Bunyi jantung tambahan : tidak ada
e. Nyeri dada : tidak ada
f. Palpitasi : tidak ada
g. Edema : tidak ada
h. Jari-jari tabuh : tidak ada

10. Abdomen/pencernaan
a. bising usus : 10X/menit
b. keadaan hepar : normal
c. keadaan limfa : normal
d. nyeri tekan : tidak ada
e. benjolan-benjolan : tidak ada
f. ascietas : tidak ada

11. Muskuloskeletal
a. Kekuatan otot :2
b. Tonus otot : buruk
c. Kaku sendi : ada
d. Atropi : tidak ada
e. Trauma/lesi : tidak ada
f. Nyeri : panas dan sakit pada bagian pangkal sampai ujung kaki
g. Kecacatan/deformitas : tidak ada
h. Eksermitas atas : baik
i. Ekstermitas bawah : kaki klien tampak besar sebelah, nyeri tekan (+), non piting
edema (+), klien mengatakan panas dan sakit yang menjalar dari pangkal hingga ujung kaki.
Klien tampak meringis ketika berjalan, nyeri bertambah saat kaki klien bergerak.

12. Keadaan neurologi


a. Tingkat kesadaran : komposmetis
b. Koordinasi : baik
c. Memory/daya ingat : baik
d. Orientasi ( tempat, orang, waktu ) : baik
e. Tremor : tidak ada
f. Gangguan motorik/ lumpuh : tidak ada
g. Kejang : tidak ada

13. Sensasi terhadap ransangan


a. Rasa Nyeri : baik

31
b. Rasa suhu : baik
c. Rasa raba : baik
14. Integumen kulit
a. Warna : normal
b. Tekstur : halus / licin, fleksibel, lunak
c. Kelembapan : baik
d. Suhu kulit : hangat normal
e. kelainan warna : tidak ada
f. Pucat : tidak
g. Bau kulit : khas
h. Pigmentasi : normal
i. keadaan kuku : panjang
j. kebersihan kuku : baik

15. hasil laboratorium


a. pemeriksaan darah
Hb 10,8 gr/dl, leukosit 12.000/mm3, Ht 36,80%, trombosit 423.000/mm3, eosinofil 20%,
basofil 4%, netrofil batang 40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.

i. Interpretasi laboratorium
Nilai Normal Kasus Keterangan
Hb 12-16 g/dl 10,8 g/dl
Ht 37-47 % 36,80 %
Leukosit 5.000-10.000/mm 12.000/mm naik
Trombosit 150-450 x 103/mm 423.000/mm Normal

ii. Interpretasi hasil kajian leukosit


Diftel Nilai Normal Kasus Keterangan
Eosinofil 1-3 20
Basofil 0-1 4
Neutrofil batang 2-6 40
Neutrofil segmen 50-70 20
Limfosit 20-40 15
Monosit 2-8 1

Dari pemeriksaan darah jari ditemukan Parasit Mikrofilaria : inti tubuh teratur, ujung ekor
runcinng, tidak berinti, dan seluruh tubuh (W. bancrofti) transparan.

2.3.2 Klasifikasi Data

Data Subjektif / DS :
Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung
kaki.
Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya

32
Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak
Klien mengatakan demam berulang selama 4 hari
Demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali bekerja berat.
klien mengatakan kakinya yang sakit tampak besar sebelah
Klien selalu bertanya kepada perawat tentang penyakit yang dideritanya.

Data objektif / DO :
Klien tampak meringis ketika berjalan.
Skala nyeri 7
nyeri tekan (+)
non pitting oedema (+)
Nadi: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHgSuhu 38,5c
Obstruksi kelenjar getah bening pada daerah tungkai
Data yang di dapat ukuran tungkai kaki klien 30cm.
Wajah klien tampak memerah
Kulit klien teraba hangat Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening
Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya.
Adanya pembengkakan pada kelenjar limfe di daerah tungkai (inguinal)
Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/ Hitung jenis: eosinofil 20%, basofil 4%, netrofil batang
40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.
Dari pemeriksaan darah jari kaki ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur,
ujung ekor runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.
kaki klien tampak besar sebelah Pemajanan penularan melalui vektor
Klien tampak cemas.

2.3.3 Analisa Data


Nama : Ny. S
Umur : 39 tahun
1.Syimptom :
DS:
Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung
kaki.
Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya
Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak
DO:
Klien tampak meringis ketika berjalan.
Skala nyeri 7
nyeri tekan (+)
non pitting oedema (+)
N: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHg
Suhu 38,5c
Leukosit 9500/mm

33
Etiologi :
Parasite dewasa

Berkembang biak

Kumpulan cacing Filaria dewasa penyebab penyumbatan pemb.limfa

Nyeri

Problem :
Nyeri

2. Syimptom
DS:
Klien mengatakan demam berulang selama 4 hari
Demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali bekerja berat.
Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung
kaki.

DO:
Suhu 38,5c
RR 24x/i
N 110x/
TD 130/60 mmHg
Wajah klien tampak memerah
Kulit klien teraba hangat
Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/ Hitung jenis: eosinofil 20%, basofil 4%, netrofil batang
40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.
IgE berikatan dengan parasite

Mediator inflamasi

Adanya inflamasi pada kelenjar getah bening

Hipertermi
Hipertermi
DS:
Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke ujung kaki
Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak.

34
DO:
Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya.
Klien tampak meringis saat berjalan.
N 110x/i
RR 24x/i
Data yang di dapat ukuran tungkai kaki klien 30cm.

Etiologi :
Parasit dewasa

Berkembang biak

Kumpulan cacing Filaria dewasa

Gangguan mobilitas Fisik


Problem :Gangguan mobilitas fisik

3. Symptom
DS:
Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya
klien mengatakan kakinya yang sakit tampak besar sebelah
DO:
Kulit klien teraba hangat Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening
Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya.
Adanya pembengkakan pada kelenjar limfe di daerah tungkai (inguinal)
Dari pemeriksaan darah jari kaki ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur,
ujung ekor runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.
kaki klien tampak besar sebelah Pemajanan penularan melalui vektor

Etiologi :
Parasite dewasa

Menyebabkan dilatasi pembuluh limfa

Pembengkakan pemb. Limfa

Kerusakan struktur

Kerusakan Integritas Kulit

Problem : Kerusakan integritas kulit

35
4. Symptom
DS:
Klien selalu bertanya kepada perawat tentang penyakit yang dideritanya.
DO:
Klien tampak cemas.
Inefektif Informasi
Kurangnya pengetahuan

2.3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri b.d cacing Firaria penyebab penyumbatan pemb. Limfa d.d Klien mengatakan
terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung kaki, klien mengatakan kaki
nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya, klien mengatakan nyeri bertambah jika
kaki yang sakit dibawa bergerak, klien tampak meringis ketika berjalan, Skala nyeri 7, nyeri
tekan (+), non pitting oedema (+), N: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHg, Suhu 38,5c,
Leukosit 9500/mm.

2. Hipertermi b.d Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening d.d Klien mengatakan
demam berulang selama 4 hari, demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali
bekerja berat, klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah
ujung kaki, Suhu 38,5c, RR 24x/I, N 110x/I, TD 130/60 mmHg, wajah klien tampak
memerah, kulit klien teraba hangat.Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/ Hitung jenis: eosinofil
20%, basofil 4%, netrofil batang 40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.

3. Gangguan mobilitas fisik b.dcacing Firaria penyebab penyumbatan pemb. Limfa d.d
Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke ujung kaki, klien
mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak, kaki klien tampak lebih
besar dari yang satunya, klien tampak meringis saat berjalan, N 110x/I, RR 24x/i.data yang di
dapat ukuran tungkai kaki klien 30cm.

4. Kerusakan integritas kulit b.d Pembengkakan menyebabkan kerusakan struktur d.d Klien
mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya, klien mengatakan
kakinya yang sakit tampak besar sebelah, Kulit klien teraba hangat Adanya Inflamasi pada
kelenjar getah bening, Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya, Adanya
pembengkakan pada kelenjar limfe di daerah tungkai (inguinal), Dari pemeriksaan darah jari
kaki ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung ekor runcing dan tidak berinti
dan selubung tubuh transparan, kaki klien tampak besar sebelah Pemajanan penularan melalui
vektor
5. Kurangnya pengetahuan b.d Inefektif Informasi d.d Klien selalu bertanya kepada perawat
tentang penyakit yang dideritanya, Klien tampak cemas.

36
BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam
sistem limfe dan ditularkan oleh nyamuk. Bersifat menahun dan menimbulkan cacat
menetap. Gejala klinis berupa demam berulang 3-5 hari, pembengkakan kelenjar
limfe, pembesaran tungkai, buah dada, dan skrotum. Dapat didiagnosis dengan cara
deteksi parasit dan pemeriksaan USG pada skrotum.
2. Mekanisme penularan yaitu ketika nyamuk yang mengandung larva infektif
menggigit manusia, maka terjadi infeksi mikrofilaria. Tahap selanjutnya di dalam
tubuh manusia, larva memasuki sistem limfe dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
Kumpulan cacing filaria dewasa ini menjadi penyebab penyumbatan pembuluh limfe.
Akibatnya terjadi pembengkakan kelenjar limfe, tungkai, dan alat kelamin.
3. Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk dan
melakukan 3M. Pengobatan menggunakan DEC dikombinasikan dengan Albendazol
dan Ivermektin selain dilakukan pemijatan dan pembedahan. Upaya rehabilitasi dapat
dilakukan dengan operasi.

3.2 Saran
Diharapkan pemerintah dan masyarakat lebih serius menangani kasus filariasis karena
penyakit ini dapat membuat penderitanya mengalami cacat fisik sehingga akan menjadi
beban keluarga, masyarakat dan Negara. Dengan penanganan kasus filariasis ini pula,
diharapkan Indonesia mampu mewujudkan program Indonesia Sehat Tahun 2010.

37
DAFTAR PUSTAKA

1. Abercrombie, et al. 1997. Kamus Lengkap Biologi. Jakarta : Erlangga.


2. Anonim. How is LF contracted? Diakses dari situs http://www.filariasis.org pada
tanggal 30 Maret 2008.
3. Dadang. 2006. Subang Daerah Endemis Filariasis. Diakses dari situs
http://www.subang.go.id. pada tanggal 30 Maret 2008.
4. Dedidwitagama. 2008. Filariasis = Kaki Gajah. Diakses dari situs
http://dedidwitagama.-wordpress.com pada tanggal 30 Maret 2008.
5. Eka. 2008. Pengobatan Massal Penyakit Filariasis Secara Gratis. Diakses dari situs
http://www.enrekangkab.go.id. pada tanggal 30 Maret 2008.
6. Entjang, Indan. 1982. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung : Penerbit Alumni.
7. Noble, Elmer R. & Glenn A. Noble. 1989. Parasitologi Biologi Parasit Hewan Edisi
Kelima. Yogyakarta :Gajah Mada University Press.
8. Notoatmodjo, Soekidjo. 2006. Konsep Dasar Terjadinya Penyakit Menular. Diakses
dari situs http://www.geocities.com pada tanggal 30 Maret 2008.
9. Prianto, Juni L.A., dkk. 1999. Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama.
10. Roche, John P. 2002. Lymphatic Filariasis. Diakses dari situs
http://images.google.co.id/-imgres?imgurl. pada tanggal 30 Maret 2008.
11. Saidurrohman. Banyak Kaki Gajah di Jagabita. Diakses dari situs
http://images.google.co.id-/imgresimgurl=http://www.rumahzakat.org pada tanggal
30 Maret 2008.
12. Schnurrenberger, Paul R., William T. Hubbert. 1991. Ikhtisar Zoonosis. Bandung :
Penerbit ITB Bandung.
13. Sofyan, Iyan. 2007. Cegah Penyakit Kaki Gajah, Sembilan Ratus Ribu Warga Bogor
Diharuskan Minum Obat Cacing. Diakses dari situs http://www.kotabogor.go.id. pada
tanggal 30 Maret 2008.
14. Sudomo, Mohammad. 2008. Penyakit Parasitik yang Kurang Diperhatikan di
Indonesia. Diakses dari situs http://www.litbang.depkes.go.id pada tanggal 30 Maret
2008.
15. Muttaqin,Arif dan Kumala Sari.2010.Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Integumen. Jakarta:Salemba Medika.

38