Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

PREEKLAMPSIA RINGAN

Oleh :

Rahayu Mustafa
(2012730080)

Pembimbing:

dr. Rusmaniah, Sp.OG

STASE OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT ISLAM JAKKARTA SUKAPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016
BAB I

A. Identitas pasien
Nama : Ny. L
Umur : 28 tahun
Suku : Sunda
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl Kalibaru Timur RT 03/01 Kalibaru Cilincing
Tanggal Masuk RS : 4/11/2016

Identitas suami pasien


Nama suami : Tn. B
Umur : 32 tahun
Suku : Sunda
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl Kalibaru Timur RT 03/01 Kalibaru Cilincing

- Tanggal Masuk RS : 4/11/2016


- Cara Masuk Rumah Sakit : Unit Emergensi
B. Keluhan Utama
Os merasakan perut mulai mulas dan keluar air dari jalan lahir sejak tadi pagi

Anamnesis khusus :
Os mengaku hamil 39 minggu mengeluh keluarnya air-air dari jalan lahir pukul 05.00
pagi sebanyak kurang lebih satu gayung keluar terus menerus dan disertai dengan
lendir dan bercak darah. Os juga merasakan mulas dan perut mengencang. Os
mengaku pusing dan lemas Darah tinggi diakui os muncul hanya saat os hamil,
sebelumnya os tidak ada riwayat hipertensi.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat hamil anggur 2011
2. Pada usia kehamilan 12 minggu pasien mengaku muntah mual berat yang
mengganggu aktifitas
3. DM disangkal
4. Asma disangkal
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu Pasien memiliki riwayat hipertensi

E. Riwayat Menstruasi
Umur Menarche : 13 th
Siklus Haid : 28 hari
Lama haid : 7 hari
Jumlah darah haid : 2x ganti pembalut / Hari
Masalah haid : dismenorea (-), menoragia (-), metroragia (-), PMS (-)
HPHT : 2/2/2016
TP : 9/11/2016

F. Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali, masih menikah, lama perkawinan 5 tahun
G. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas
G3P1A2 Hidup 1
No Tgl. Tempat Umur Jenis Penolong Penyulit Anak Keadaan
Tahun partus hamil persalinan persalinan kel/BB anak
partus sekarang
1 2011 Rumah 3 bln Abortus dokter kuretase - -
Sakit
2 2013 Rumah 9 bln Spontan Bidan tak 3500 Lk
sakit
3 Hamil sekarang

H. Riwayat Hamil Ini


Mual (+), muntah (+), perdarahan (-), Pusing (-), Sakit Kepala (-)
I. Riwayat Keluarga Berencana
Metode KB terakhir yang dipakai : Suntik 3 bulan
Lama : 2 bulan
Komplikasi dari KB : tidak ada keluhan
J. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan Darah : 140/90 mmHg
Nadi : 84 x / menit
Respirasi : 18 x / menit
Suhu : 36,3oC
BB/TB : 88 kg/161 cm

1. Pemeriksaan Fisik Generalis


Mata
- Konjungtiva anemis (-/-)
- Sklera ikterik (-/-)
- Pandangan kabur (-)
- Berkunang-kunang (-)
Dada dan Axylla
- Mammae simetris (+)
- Puting susu menonjol (+)
- Areola hiperpigmentasi (+)
- Tumor (-/-)
- Pengeluaran (-/-)
Jantung dan Paru
- Dispneu (-), orthopneu (-), takipneu (-), wheezing (-), batuk darah (-),
keringat malam (-)
- Nyeri dada (-),
Ekstremitas Bawah
- Tungkai simetris (+)
- Edema (-/-)

2. Pemeriksaan Obstetric dan Ginekologi


Obstetric
- Abdomen
1. Inspeksi
Tidak dilakukan
2. Palpasi
TFU : 37 cm
Leopold I : teraba bagian bulat lunak (prentasi bokong)
Leopold II : teraba bagian keras memanjang disisi kiri ibu
Leopold III : teraba bagian bulat keras (presentasi kepala)
Leopold IV : bagian terbawah janin belum masuk PAP
3. Auskultasi DJJ : 168x/menit ireguler
4. His/ kontraksi : 4 x/10menit, selama 10 detik, kwalita ringan

Gynekologi
Inspeksi : tidak dilakukan
Inspekulo : tidak dilakukan
K. Pemeriksaan penunjang

Laboratorium

Tanggal: 4/11/2016
Pemeriksaan Hasil Rujukan

Hemoglobin 8,30 g/dL 12- 16 g/dL

Hematokrit 27,0 % 37- 47 %

Leukosit 10,9 10^6/L 4.8- 10.8 10^3/L

Trombosit 264 10^3/L 150- 450 10^3/L

Protein urine Positif (+) mg/dL Negatif mg/dL

Masa perdarahan 200 1-3 menit

Masa pembekuan 400 2-6 menit

L. Resume

Seorang wanita G3P1A1 mengaku hamil 39 minggumengeluh keluarnya air-


air dari jalan lahir pukul 05.00 pagi sebanyak kurang lebih satu gayung keluar terus
menerus dan disertai dengan lendir dan bercak darah. Os juga merasakan mulas dan
perut mengencang. Os mengaku pusing dan lemas Darah tinggi diakui os muncul
hanya saat os hamil, sebelumnya os tidak ada riwayat hipertensi.
Pemeriksaan luar: TFU = 37 cm, leopold I: bokong, Leopold II: punggung
kanan, Leopold III: kepala, Leopold IV: divergen, BJA : 168 kali/menit, ireguler.
Tanggal 4/11/2016 Hemoglobin 8,30 g/dL, Hematokrit 27,0 %, Leukosit 10,9
10^6/L, Trombosit 264 10^3/L, Protein urine Positif (+) mg/dL. Protein urine
positif (+) mg/dL.

M. Diagnosa Kebidanan dan Masalah


Diagnosa Prabedah : G3P1A1 Gravid 39 minggu dengan PER+KPD+CPD
N. Rencana Tindakan
Observasi TTV, DJJ, dan Cek lab lengkap
Terapi oral : Nifedipin 10 mg, cefriaxon 1 gr inj, ivfd RL per 8 jam
Rencana USG
Seksio caesaria

O. LEMBAR OPERASI

Tindakan :Operasi SC

Tanggal : 4/11/2016

Pukul : 08.00-09.00

Dokter bedah : dr Rumaniah Sp.OG

Dokter Anestesi : dr Nazarudi Sp.An

Assisten : Waliyo, Nafiah

Diagnosa Prabedah : G3P1A1 Gravid 39 minggu dengan PER+KPD+CPD

Uraian Pembedahan
Pasien berbaring terlentang
Asepsis dan antisepsis
Insisi pfannensteil 10 cm
Perlekatan antara uterus dengan peritonium dilakukan insisi eidusi
Lahir bayi pukul 08.17 perempuan dengan BB=3670 gr PB= 50 cm A/S= 9/10
Lahir plasenta dengan lengkap
Kedua adneksa dalam batas normal
Jahit dinding abdomen
Operasi selesai
FOLLOW UP
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pendahuluan

Preeklampsia adalah suatu gangguan multisistem, bersifat spesifik pada kehamilan


dan mempunyai ciri khas yaitu terdapatnya hipertensi dan proteinuria setelah umur kehamilan
mencapai 20 minggu. Gangguan ini terdapat pada setidaknya 5-7% pada seluruh kehamilan
dengan insidensi 23.6 kasus pada 1000 kelahiran bayi di Amerika Serikat1. Komplikasi dari
hipertensi adalah penyebab ketiga terbesar setelah perdarahan dan embolisme yang
menyebabkan kematian pada kehamilan. Preeklampsia dikaitkan dengan peningkatan resiko
dari abruptio plasenta, gagal ginjal akut, komplikasi serebrovaskular dan kardiovaskular,
pembekuan intravaskular meluas ( disseminated intravaskular coagulation ) dan kematian ibu
hamil. Preeklampsia dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu preeklampsia ringan dan berat.
Angka kejadian rekurensi preeklamsia kategori berat lebih kurang 20-25% pada kehamilan
selanjutnya2. Karena itu, diagnosa dini dan penanganan tepat dari preeklampsia berat menjadi
hal yang sangat penting dan tidak dapat dielakkan lagi, dengan tentunya tidak
mengesampingkan diagnosis dan penanganan preeklampsia ringan.

2. Diagnosis Kriteria Preeklampsia Ringan

Preeklampsia ringan dapat ditegakkan diagnosisnya dengan kriteria yaitu :

Desakan darah : 140/90 mmHg -- < 160/110 mmHg


Kenaikan desakan sistolik 30 mmHg dan kenaikan diastolik 15 mmHg tidak
dimasukkan dalam kriteria diagnostik preeklampsia tetapi perlu observasi yang
cermat

Proteinuria 300 mg/24 jam jumlah urine atau dipstick 1 +


Edema : lokal pada tungkai tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostik kecuali
anasarka3

3. Preeklampsia Berat
3.1. Kriteria Diagnosis
Terdapat banyak versi kriteria diagnosis dari pre eklampsia berat yang beredar di
lingkungan petugas kesehatan termasuk dokter. Royal College of Obstetricians and
Gynaecologists di UK4 mendeskripsikan preeklampsia berat dengan adanya gejala klinis
yaitu :

Nyeri kepala yang hebat


Gangguan pada visus
Nyeri epigastrik dan/atau muntah
Tanda akan kejang
Papilloedema
Terabanya hati
Penurunan hitung jumlah trombosit hingga dibawah 100x106/l
Enzim liver yang abnormal ( peningkatan ALT/AST > 70 iu/l )
Terdapat sindroma HELLP

Sedangkan Himpunan Kedokteran Feto-Maternal POGI dalam Pedoman Pengelolaan


Hipertensi pada Kehamilan di Indonesia menyatakan bahwa termasuk ke dalam preeklampsia
berat adalah preklampsia dengan salah satu atau lebih gejala dan tanda dibawah 3:

Desakan darah : pasien dalam keadaan istirahat desakan sistolik 160 mmHg dan
desakan diastolik 90 mmHg
Proteinuria : 5 gr/jumlah urine selama 24 jam. Atau dispstick 4 +
Oliguria : produksi urine < 400 500 cc/24 jam
Kenaikan kreatinin serum
Edema paru dan cyanosis
Nyeri epigastrium dan nyeri kuadran atas kanan abdomen : disebabkan teregangnya
kapsula Glisoni. Nyeri dapat sebagai gejala awal ruptur hepar dan biasanya diikuti dengan
peningkatan enzim hepar dalam serum, menunjukkan tanda untuk terminasi kehamilan5
Gangguan otak dan visus : perubahan kesadaran nyeri kepala, scotomata, dan pandangan
kabur
Gangguan fungsi hepar : peningkatan alanine atau aspartate amino transferase
Hemolisis makroangiopatik
Tombositopenia < 100.000 sel/mm3
Sindroma HELLP

3.2. Pembagian Preeklampsia Berat

Preeklampsia berat dapat dibagi dalam dua kategori yaitu :

a. Preeklampsia berat tanpa Impending Eklampsia

b. Preeklampsia berat dengan Impending Eklampsia, dengan gejala-gejala Impending yaitu :


nyeri kepala, mata kabur, mual dan muntah, nyeri epigastrium dan nyeri kuadran kanan atas
abdomen3.

3.3. Pengelolaan Preeklampsia Berat

Tujuan pengelolaan preeklampsia6 ialah :

Mencegah terjadinya eklampsi


Anak harus lahir dengan kemungkinan hidup yang besar
Persalinan harus dengan trauma yang sedikit-sedikitnya dan jangan sampai
menyebabkan penyakit pada kehamilan dan persalinan berikutnya (sectio
caesarea menambah bahaya pada perhamilan dan persalinan berikutnya)
Mencegah hipertensi yang menetap

Pengelolaan preeklampsia dapat berupa pengobatan jalan dan di Rumah Sakit.


Pengobatan jalan hanya mempunyai tempat kalau preeklampsia ringan sekali misalnya kalau
tensi kurang dari 140/90 mmHg dan edema serta proteinuria tidak ada atau ringan sekali.
Anjuran diberikan pada pasien semacam ini adalah :

Istirahat sebanyak mungkin di rumah


Penggunaan garam dikurangi
Pemeriksaan kehamilan harus 2 kali seminggu
Dapat juga diberikan sedativa dan obat-obat antihipertensi
Mengetahui tanda-tanda bahaya

Pengobatan di Rumah Sakit indikasinya ialah :

Tensi 140/90 atau lebih


Proteinuria positif kuat ( ++ )
Tambah berat 1 kg atau lebih dalam seminggu

Di Rumah Sakit harus dilakukan pemeriksaan dan observasi yang teliti :

Sakit kepala, gangguan penglihatan dan edema jaringan dan kelopak mata harus
ditanyakan dan dicari, karena merupakan tanda akan terjadinya impending
Eklampsia
Berat badan ditimbang sekali dalam dua hari untuk mengetahui ada atau tidak
perubahan berat badan yang abnormal
Tekanan darah diukur sekali tiap empat jam kecuali pada malam hari kalau
pasien tidur
Cairan yang keluar dan masuk diukur dan dicatat untuk mengetahui terjadinya
retensi urine atau tidak
Pemeriksaan urine tiap hari; proteinuria ditentukan kuantitatif, dari hasil yang
didapat kita akan bisa menentukan seberapa parah kerusakan filtrasi glomerulus
ginjal ( berbanding lurus dengan kenaikan kreatin plasma )5
Pemeriksaan retina
Pemeriksaan darah

Selanjutnya perawatan dan pengobatan dilakukan sebagai berikut :

Istirahat rebah dalam kamar yang tenang dan tidak silau


Makanan yang sedikit mengandung garam (3 Gram sehari); protein harus cukup
Cairan yang diberikan 3000 cc
Berikan sedasi kuat selama 24 jam untuk mencegah kejang-kejang, misalnya
dengan menyuntikkan morphine 20 mg disusul dengan barbiturat (luminal
sodium 100 mg tiap 6 jam), walau tindakan ini sudah ditinggalkan karena ikut
menimbulkan efek sedasi pada janin.

Pada kehamilan dengan penyulit apapun pada ibunya, dilakukan pengelolaan dasar
sebagai berikut :

1) Pertama adalah rencana terapi pada penyulitnya : yaitu terapi medikamentosa


dengan pemberian obat-obatan untuk penyulitnya

2) Kedua baru menentukan rencana sikap terhadap kehamilannya yang tergantung


umur kehamilan. Sikap terhadap kehamilannya dibagi dua, yaitu :
a. Ekspektatif; Konservatif : bila umur kehamilan < 37 minggu artinya : kehamilan
dipertahankan selama mungkin sambil memberikan terapi medikamentosa.
b. Aktif; Agresif, dengan indikasi
1) bila umur kehamilan 37 minggu artinya kehamilan diakhiri setelah mendapat
terapi medikamentosa untuk stabilisasi ibu.
2) Adanya gejala impending eklamsi
3) Laboratorik :
Adanya HELLP syndrome: kenaikan SGOT, SGPT, LDH, Trombositopenia
150.000/ml.

4) Janin :
i. Adanya tanda tanda gawat janin
ii. Adanya tanda tanda hipoksia

3.4. Terapi Aktif


3.4.1. Pengobatan medisinal
3.4.1.1.Infus larutan Ringer Laktat

3.4.1.2.Pemberian MgSO4
Cara pemberian MgSO4 :
1. Pemberian melalui intravena secara kontinyu ( dengan menggunakan infusion pump)
Dosis awal :

4 gram ( 20 cc MgSO4 20 % ) dilarutkan kedalam 100 cc ringer laktat, diberikan


selama 15 20 menit

Dosis pemeliharaan :

10 gram ( 50cc MgSO4 20% ) dalam 500 cc cairan RL, diberikan dengan
kecepatan 1 2 gram/jam ( 20 30 tetes per menit )
2. Pemberian melalui intramuskuler secara berkala :
Dosis awal :

4 gram MgSO4 ( 20 cc MgSO4 20% ) diberikan secara i.v. dengan kecepatan 1


gram/ menit
Dosis pemeliharaan

Selanjutnya diberikan MgSO4 4 gram ( 10 cc MgSO4 40% ) i.m. setiap 4 jam


tambahkan 1 cc lidokain 2% pada setiap pemberian i.m. untuk mengurangi
perasaan nyeri dan panas.

Syarat syarat pemberian MgSO4


1. Harus tersedia antidotum MgSO4, yaitu kalsium glukonas 10 % ( 1 gram dalam 10 cc )
diberikan i.v. dalam waktu 3 5 menit

2. Refleks patella ( + ) kuat

3. Frekuensi pernafasan 16 kali per menit

4. Produksi urin 30 cc dalam 1 jam sebelumnya ( 0,5 cc/Kg bb/jam )

Syarat-syarat penghentian MgSO4


1. Ada tanda tanda intoksikasi
2. Setelah 24 jam pasca salin
3. Dalam 6 jam pasca salin sudah terjadi perbaikan tekanan darah (normotensif)

3.4.1.3. Diuretikum
Salah satu diuretik yang dapat dipakai adalah golongan thiazid yaitu diazoxide yang
merupakan vasodilator arteiolar yang poten7

Diuretikum tidak dibenarkan kecuali bila ada :

a. Edem paru

b. Payah jantung kongestif

c. Edema anasarka

Tidak dibenarkan diberikan secara rutin karena dapat memperberat penurunan perfusi
plasenta, memperberat hipovolemia, dan meningkatkan hemokonsentrasi.

3.4.1.4. Anti Hipertensi diberikan bila :

1. Tekanan darah : Bila tensi 180/110 atau MAP 126.

2. Obat-obat anti hipertensi yang diperlukan:

Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5mg i.v pelan-pelan selama 5 menit.
Dosis dapat diulang dalam waktu 15-20 menit sampai tercapai tekanan darah yang
diinginkan.
Apabila hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan:

Nifedipin : 10mg, dan dapat diulangi setiap 30 menit (max 120mg/24 jam) sampai
terjadi penurunan tekanan darah.

Labetalol 10mg i.v. Apabila belum terjadi penurunan tekanan darah, maka dapat
diulangi pemberian 20mg setelah 10 menit, 40mg pada 10 menit berikutnya, diulangi
40mg setelah 10 menit kemudian dan sampai 80mg pada 10 menit berikutnya.

Bila tidak tersedia, maka dapat diberikan Klonidin 1 ampul dilarutkan dalam 10cc
larutan garam faal atau air untuk suntikan. Disuntikkan mula-mula 5cc i.v perlahan-
lahan selama 5 menit. 5 menit kemudian tekanan darah diukur, bila belum ada
penurunan maka diberikan lagi sisanya 5 cc i.v selama 5 menit. Kemudian diikuti
dengan pemberian secara tetes sebanyak 7 ampul dalam 500 cc dextrose 5% atau
martos 10%. Jumlah tetesan dititrasi untuk mencapai tekanan darah yang diinginkan,
yaitu penurunan MAP sebanyak 20% dari awal. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan
setiap 10 menit sampai tercapai tekanan darah yang diinginkan, kemudian setiap jam
sampai tekanan darah stabil.

3.4.1.5. Kardiotonika

Indikasi : tanda-tanda payah jantung.

Jenis kardiotonik yang diberikan cedilanid-D.

Perawatan dilakukan dengan subbagian penyakit jantung.

3.4.1.6. Lain-lain
Obat-obat antipiretik:
Diberikan bila suhu rektal > 38,5 c.

Dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol.


Antibiotika
Diberikan atas indikasi.

Anti nyeri
Bila pasien karena kontraksi rahim dapat diberikan 50-75 mg 1x saja.

Diet
Diberikan secara seimbang, hindari protein dan kalori yang berlebih

3.4.2. Pengelolaan Obstetrik

Cara terminasi kehamilan :

A. Belum Inpartu :

1. Induksi persalinan: amniotomi+tetes oksitosin dengan syarat skor bishop 8.

Bila perlu dilakukan pematangan serviks dengan mesoprostol. Induksi persalinan harus
sudah mencapai kala II dalam waktu 24 jam. Bila tidak, induksi persalinan dianggap
gagal dan harus disusul dengan pembedahan sesar.

2. Sectio Caesaria

Bila:

i. Tidak ada indikasi untuk persalinan per vaginam


ii. Induksi persalinan gagal
iii. Terjadi maternal distres
iv. Terjadi fetal distres
v. Bila umur kehamilan < 33 minggu

B. Sudah Inpartu

a) Perjalanan persalinan diikuti dengan Grafik Friedman


b) Memperpendek kala II

c) Pembedahan cesar dilakukan bila terdapat maternal distres dan fetal distres

d) Primigravida direkomendasikan pembedahan cesar

e) Anestesia : regional anestesia, epidural anestesia. Tidak dianjurkan anestesia umum

Kala I

Fase Laten :

Amniotomi + tetes oksitosin dengan syarat skor bishop 6

Fase Aktif :

Amnoiotomi
Bila his tidak adekuat, diberikan tetes oksitosin
Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap, pertimbangkan S.C.
Catatan : amniotomi dan tetes oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 15 menit
setelah pemberian pengobatan medisinal

Kala II

Pada persalinan pervaginam diselesaikan dengan partus buatan.

3.5. Pengelolaan Konservatif

3.5.1. Indikasi :

Kehamilan preterm (< 37 minggu) tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsi


dengan keadaan janin baik.

3.5.2.Pengobatan medisinal :
Sama dengan perawatan medisinal pengelolaan secara aktif. Hanya dosis awal Mg SO4
tidak diberikan i.v cukup i.m saja (MgSO4 40% 8 gram i.m). Pemberian MgSO4
dihentikan bila sudah mencapai tanda-tanda preeklamsi ringan, selambat-lambatnya
dalam waktu 24 jam.

3.5.3. Pengelolaan Obstetrik

1. Selama perawatan konservatif, tindakan observasi dan evaluasi sama seperti


perawatan aktif, termasuk pemeriksaan tes tanpa kontraksi dan USG untuk memantau
kesejahteraan janin7 , pemeriksaan air ketuban dengan amniocentesis dan amnioskopi
(dilakukan setelah minggu ke 32 diilangi tiap 2 hari, cephalometri mengukur diameter
biparietalis sehingga induksi persalinan pada anak yang terlalu kecil dapat
dihindarkan ( >9 cm), kardiografi, dan penentuan estrogen dalam urine6
2. Bila setelah 2 x 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai
kegagalan pengobatan medisinal dan harus diterminasi. Cara terminasi sesuai dengan
pengelolaan aktif.6

Proses terminasi kehamilan aktif diatas masih menuai kontroversi dikalangan praktikan.
Penelitian di Bangladesh membuktikan bahwa pada kasus tertentu dengan pengawasan dan
observasi yang teliti dan ketat, kehamilan pada preeklampsia berat dan eklampsia dapat
dilanjutkan dengan tujuan untuk mencapai kematuran janin tanpa meningkatkan resiko pada
ibu janin. Dengan rata-rata mempertahankan kehamilan dalam kurun waktu 13,27 hari
(cakupan 3-35 hari), dari 51 bumil yang diteliti terdapat 32 bayi lahir dengan selamat dengan
prosentase 62.75% dan hanya 1 yang meninggal 5 menit setelah lahir9.

DAFTAR PUSTAKA
1. Wagner, K Lana. Diagnosis and Management of Preeclampsia. diambil dari situs
http://www.aafp.org/afp/20041215/2317.html diterbitkan pada 15 December 2004 diakses
pada 3 November 2006

2.Tucker, D. Pre-eclampsia and Eclampsia. diambil dari situs


http://www.hon.ch/Dossier/MotherChild/complications/complicate_eclampsia.html
diterbitkan pada 25 Juni 2002, diakses pada 3 November 2006

3. Kelompok Kerja Penyusunan Pedoman Pengelolaan Hipertensi Dalam Kehamilan di


Indonesia. Pedoman Pengelolaan Hipertensi Dalam Kehamilan di Indonesia. Edisi kedua.
Himpunan Kedokteran Feto Maternal POGI, 2005

4. Tuffnell, DJ. Shennan, AH. Waugh JJS dkk. The management of Severe preeclampsia /
eclampsia diambil dari situs http://www.rcog.org.uk/
resources/Public/pdf/management_pre_eclampsia_ mar06.pdf diterbitkan pada Maret 2006
dan berlaku hingga Maret 2009. diakses pada 3 November 2006

5. Cunningham, F.G et al: Williams Obstetrics 21st Editions. McGraw-Hill Medical


Publishing Divisions.

6. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. 2005: Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan


Reproduksi Edisi 2. Editor: Prof.Sulaiman S, dr.,SpOG (K); Prof.DR.Djamhoer M,
dr.,MSPH,SpOG(K); Prof.DR.Firman F W, dr.,SpOG(K). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

7. Krisnadi, S.R., dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit
dr. Hasan Sadikin. Edisi pertama. Bagian Obstetri Ginekologi FK UNPAD/RS. Dr. Hasan
Sadikin. Bandung, 2005.
8. Barron, William M, Leindheimer D Marshall, Medical Disorders During Pregnancy :
Mosby Year Book, 1991 : 19

9. Begum, Mosammat Rashida. Akhter, Sayeba. Begum, Anowara dkk. Conservative


management of Eclampsia and Severe pre-eclampsia A Bangladesh Experience. Diambil
dari situs http:// www.medscape.com /viewarticle/415127.htm diakses pada 3 Nov 2006