Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah kesehatan jiwa perlu menjadi fokus utama dalam upaya peningkatan
sumber daya manusia, khususnya pada anak dan remaja yang merupakan generasi yang
harus dipersiapkan sebagai sumber kekuatan bangsa. Menurut Hamid A.Y (2008), 7-
14% dari populasi anak dan remaja mengalami gangguan kesehatan jiwa. Pravelensi
gangguan kesehatan jiwa pada anak dan remaja akan cenderung meningkat seiring
dengan permasalahan hidup di masyarakat yang semakin kompleks. (Hamid, A.Y,
2008)

Data Kebijakan Nasional Kesehatan Jiwa (National Health Policy) 2001-2005


menunjukkan bahwa ratio gangguan kesehatan jiwa atau emosional pada kelompok
anak berusia 4-15 tahun adalah 104 per 1000 anak. Dalam studi prevalensi problem
emosional dan perilaku pada anak usia sekolah dasar di wilayah Jakarta Pusat tahun
2003 dengan menggunakan instrumen Child behavior Checklist (Rahadian dan Wiguna,
2003) di dapatkan angka 27%. Prevalensi pada anak laki-laki lebih besar dibandingkan
dengan anak perempuan (30,5% vs 22,6%). Problem internalisasi (cemas, depresi, dan
isolasi diri) lebih besar jika dibandingkan dengan problem ekternalisasi (30% vs
10.2%). Ang dan Wiguna (2007), melakukan studi prevalensi gangguan mental pada
anak sekolah menengah pertama di wilayah Jakarta Pusat dengan menggunakan
instrumen MINI for Kids mendapatkan angka prevalensi sebesar 26,5 %. Gangguan
mental lebih banyak ditemukan pada pelajar perempuan jika dibandingkan dengan
pelajar laki-laki. Jenis gangguan mental yang paling banyak ditemukan adalah
gangguan mood, gangguan cemas, gangguan pemusatan perhatian dan atau
hiperaktivitas (GPPH), serta gangguan perilaku (Departemen Psikiatri FK-UI, 2010).

Salah satu urutan gangguan kesehatan jiwa pertama pada anak yang akan
dibahas adalah autisme. Autisme adalah penyakit gangguan perkembangan yang
mempunyai karakteristik gangguan interaksi sosial dan perkembangan bahasa yang
serius (King, 2009). Autis termasuk ke dalam pervasive developmental disorder, jenis
penyakit yang lain diantaranya adalah Asperger disorder, childhood disintegrative
disorder, dan Rett disorder. Rasio prevalensi dari seluruh pervasive developmental

1|Page
disorder adalah 58,7 per 10.000 anak-anak. Termasuk penyakit Autis (22/10.000),
Asperger Syndrome (11/10.000), tidak specified (24.8/10.000) dan child disintegrative
disorder (0,9/10.000) (Behrman,2007).

Penyandang autisme pada anak (autisme infantile) dalam kurun waktu 10


sampai 20 tahun terakhir semakin meningkat di dunia. Prevalensi anak autis di dunia
pada tahun 1987 diperkirakan 1 berbanding 5.000 kelahiran. Sepuluh tahun kemudian
yaitu tahun 1997, angka itu berubah menjadi 1 berbanding 500 kelahiran. Sedangkan,
pada tahun 2000 prevalensi anak autisme meningkat menjadi 1 banding 150 kelahiran
dan tahun 2001 perbandingannya berubah menjadi 1:100 kelahiran. Secara global
prevalensinya berkisar 4 per 10.000 penduduk, dan pengidap autisme laki-laki lebih
banyak dibandingkan wanita (lebih kurang 4 kalinya). Sedangkan penyandang autis di
Indonesia diperkirakan lebih dari 400.000 anak (Lubis, 2009).

Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta lebih, hingga saat ini belum diketahui
berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakan jumlah anak autisme dapat
mencapai 150-200 ribu orang. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6-4 :
1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat
(Kasran, 2003).

Autisme termasuk kasus yang jarang, biasanya identifikasinya melalui


pemeriksaan yang teliti di rumah sakit, dokter atau sekolah khusus. Dewasa ini terdapat
kecenderungan peningkatan kasus-kasus autisme pada anak (autisme infantil) yang
datang pada praktek neurologi dan praktek dokter lainnya. Umumnya keluhan utama
yang disampaikan oleh orang tua adalah keterlambatan bicara, perilaku aneh dan acuh
tak acuh, atau cemas apakah anaknya tuli (Kasran, 2003).

Mengingat bahwa kasus autisme merupakan salah satu masalah gangguan


kesehatan jiwa pertama pada anak sehingga perlu diketahui oleh mahasiswa
kedokteran, maka penulis akan melakukan tugas pengenalan profesi untuk
mengidentifikasi Kasus Autisme Pada Anak di Bina Autis Mandiri

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa etiologi kasus autisme pada anak?
2. Apa saja tanda dan gejala yang dialami anak autis di Bina Autis Mandiri?

2|Page
3. Bagaimana penatalaksanaan dan terapi yang diberikan pada anak autis di Bina
Autis Mandiri?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari pelaksanaan Tugas Pengenalan Profesi ini adalah agar
mahasiswa dapat melihat langsung keadaan umum pasien autis anak di Bina Autis
Mandiri.

1.3.2 Tujuan Khusus


Adapun tujuan khusus dari pelaksanaan Tugas Pengenalan Profesi ini adalah
1. Untuk mengetahui etiologi kasus autisme pada anak
2. Untuk mengetahui tanda dan gejala yang dialami anak autis di Bina Autis Mandiri
3. Untuk mengetahui penatalaksanaan dan terapi yang diberikan pada anak autis di
Bina Autis Mandiri

1.4 Manfaat Penelitian


1 Menambah ilmu pengetahuan tentang kasus autisme pada anak
2 Menambah pengalaman dalam mengidentifikasi kasus autisme pada anak

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Autisme


Autisme berasal dari kata autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada
diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap
pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada
pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-

3|Page
hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di alamnya
sendiri (Sadock, 2007).
Autisme merupakan salah satu kelompok gangguan pada anak yang ditandai
dengan munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi,
ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya (Sadock, 2007).
Autisme adalah adanya gangguan dalam bidang Interaksi sosial, komunikasi,
perilaku, emosi, dan pola bermain, gangguan sensoris dan perkembangan terlambat atau
tidak normal. Autisme mulai tampak sejak lahir atau saat masi bayi ( biasanya sebelum
usia 3 tahun ) (Maslim, 2001).
Autisme infantil dini atau early infantile autism merupakan sejenis psikosa
fungsional pada anak dengan gejala utama otisme, kegagalan perkembangan cinta-kasih
terhadap ibu, preokupasi dengan benda- benda mati, keinginan akan kesamaan pada
lingkungan dan gangguan fungsi secara umum (Maramis, 2009).

2.2 Etiologi
Etiologi pasti dari autis belum sepenuhnya jelas. Beberapa teori yang
menjelaskan tentang autisme infantil yaitu:
1. Teori psikoanalitik
Teori yang dikemukakan oleh Bruto Bettelheim (1967) menyatakan bahwa
autisme terjadi karena penolakan orangtua terhadap anaknya. Anak menolak orang
tuanya dan mampu merasakan persaan negatif mereka. Anak tersebut meyakini
bahwa dia tidak memiliki dampak apapun pada dunia sehingga menciptakan
benteng kekosongan untuk melindungi dirinya dari penderitaan dan kekecewaan
(Lubis, 2009).

2. Genetik
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki 3-4 kali beresiko lebih
tinggi dari wanita. Sementara risiko autis jika memiliki saudara kandung yang
juga autis sekitar 3%. Kelainan dari gen pembentuk metalotianin juga
berpengaruh pada kejadian autis. Metalotianin adalah kelompok protein yang
merupakan mekanisme kontrol tubuh terhadap tembaga dan seng. Fungsi lainnya
yaitu perkembangan sel saraf, detoksifikasi logam berat, pematangan saluran
cerna, dan penguat sistem imun. Disfungsi metalotianin akan menyebabkan
penurunan produksi asam lambung, ketidakmampuan tubuh untuk membuang
logam berat dan kelainan sisten imun yang sering ditemukan pada orang autis.
Teori ini juga dapat menerangkan penyebab lebih berisikonya laki-laki dibanding

4|Page
perempuan. Hal ini disebabkan karena sintesis metalotianin ditingkatkan oleh
estrogen dan progesteron (Kasran, 2003).
Penyebab autism adalah spekulatif. Sebab-sebab genetic telah dilibatkan.
Ada 80% angka persesuaian untuk kembar monozigot dan 20% angka
persesuaian untuk kembar dizigot. Apa yang sebenarnya diwariskan tidak
separuhnya jelas; abnormalitas kognitif dan kemampuan berbicara lebih lazim
pada sanak keluarga anak autistic daripada pada populasi umum. Kelainan
kromosom, terutama sindrom X yang mudah pecah (fragile), juga lebih lazim
pada keluarga dengan autism. Kelainan temuan-temuan neurokimia telah terkait
dengan autism. Meskipun fungsi dopamine diperkirakan normal pada autism,
baru-baru ini kelainan ditunjukkan dalam jumlah jalur katekolamin. Peningkatan
kadar serotonin juga ditemukan (Behrman, 1999).

3. Studi biokimia dan riset neurologis


Pemeriksaan post-mortem otak dari beberapa penderita autistik
menunjukkan adanya dua daerah di dalam sistem limbik yang kurang
berkembang yaitu amygdala dan hippocampus. Kedua daerah ini bertanggung
jawab atas emosi, agresi, sensory input, dan belajar. Penelitian ini juga
menemukan adanya defisiensi sel Purkinye di serebelum. Dengan menggunakan
Magnetic Resonance Imaging (MRI), telah ditemukan dua daerah di serebelum,
lobulus VI dan VII, yang pada individu autistik secara nyata lebih kecil dari pada
orang normal. Satu dari kedua daerah ini dipahami sebagai pusat yang
bertanggung jawab atas perhatian. Dari segi biokimia jaringan otak, banyak
penderita-penderita autistik menunjukkan kenaikan dari serotonin dalam darah
dan cairan serebrospinal dibandingkan dengan orang normal (Kasran, 2003).

Teori-teori tentang penyebab telah juga dipusatkan pada berbagai


kemungkinan lain, meliputi cedera otak, kerentanan utama, berkembang aphasia,
deficit pada system pengaktif reticulum, keadaan yang saling tidak
menguntungkan antara factor-faktor psikogenik dan perkembangan saraf,
perubahan struktur serebellumm, dan lesi hipokampus otak depan. Berlawanan
dengan pengertian yang popular pada masa lalu, autism tidak diimbat oleh orang
tua (Behrman, 1999).

2.3 Manifestasi Klinis

5|Page
Diantara gejala-gejala dan tanda-tanda yang paling penting adalah kemampuan
komunikasi verbal dan non-verbal yang tidak atau kurang berkembang, kalainan pada
pola berbicara, gangguan kemampuan mempertahankan percakapan, permainan social
yang abnormal, tiadanya empati, dan ketidakmampuan untuk berteman. Sering juga
memperlihatkan gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat
yang sangat sempit, dan keasyikan dengan bagian-bagian tubuh. Anak autistic menarik
diri dan sering menghabiskan waktunya untuk bermain sendiri. Muncul perilaku
ritualistic, yang mencerminkan kebutuhan anak untuk memelihara lingkungan yang
tetap dan dapat diramalkan. Ledakan amarah dapat menyertai gangguan rutin. Kontak
mata minimal atau tidak ada. Pengamatan visual terhadap gerakan jari dan tangan,
pengunyahan benda, dan menggosok permukaan dapat menunjukkan penguatan
kesadaran dan sensitivitas terhadap beberapa rangsangan, sedangkan hilangnya respon
terhadap nyeri dan kurangnya respon terkejut terhadap suara-suara keras yang
mendadak menunjukkan menurunnya sensitivitas pada rangsangan lain. Jika berbicara
memperlihatkan echolalia, pembalikan kata ganti (pronominal), berpuisi yang tak
berujung pangkal, dan bentuk bahasa-bahasa aneh lainnya dapat menonjol (Behrman,
1999)

Intelegensi dengan uji psikologi konvensional biasanya jatuh pada kisaran


retardasi secara fungsional; namun, deficit dalam kemampuan berbicara dan
besosialisasi membuatnya sulit memperoleh estimasi yang tepat dari potensi intelektual
anak autistic. Dalam tes nonverbal yang dilakukan beberapa anak autistic hasilnya
cukup memadai, dan mereka yang kemampuan bicaranya berkembang dapat
memperagakan kapasitas intelektual yang memadai. Adakalanya anak autistic mungkin
terisolasi, berbakat luar biasa, analog dengan bakat orang dewasa terpelajar yang idiot
(Behrman, 1999).

Meskipun mula-mula digambarkan sebagai penyakit social, kebanyakan riset


telah memfokuskan pada deficit kognitif dan komunikatif pada autism, dan terutama
pada tipe-tipe deficit pemprosesan kognitif yang paling nampak pada situasi emosional.
Ciri khas anak autistic adalah deficit dalam keteraturan verbal abstraksi, memori rutin,
dan pertukaran verbal timbale balik. Anak autistic juga menunjukkan deficit dalam
pemahamannya mengenai apa yang mungkin dirasakan atau dipikirkan orang lain, apa
yang disebut kekurangan teori berpikir (Behrman, 1999).

6|Page
2.4 Patogenesis Autisme

Penyebab terjadinya autisme sangat beraneka ragam dan tidak ada satupun yang
spesifik sebagai penyebab utama dari autisme. Ada indikasi bahwa faktor genetik
berperan dalam kejadian autisme. Dalam suatu studi yang melibatkan anak kembar
terlihat bahwa dua kembar monozygot (kembar identik) kemungkinan 90% akan sama-
sama mengalami autisme; kemungkinan pada dua kembar dizygot (kembar fraternal)
hanya sekitar 5-10% saja (Kasran, 2003).
Sampai sejauh ini tidak ada gen spesifik autisme yang teridentifikasi meskipun
baru-baru ini telah dikemukakan terdapat keterkaitan antara gen serotonin-transporter.
Selain itu adanya teori opioid yang mengemukakan bahwa autisme timbul dari beban
yang berlebihan pada susunan saraf pusat oleh opioid pada saat usia dini. Opioid
kemungkinan besar adalah eksogen dan opioid merupakan perombakan yang tidak
lengkap dari gluten dan casein makanan. Meskipun kebenarannya diragukan, teori ini
menarik banyak perhatian. Pada dasarnya, teori ini mengemukakan adanya barrier
yang defisien di dalam mukosa usus, di darah-otak (blood-brain) atau oleh karena
adanya kegagalan peptida usus dan peptida yang beredar dalam darah untuk mengubah
opioid menjadi metabolit yang tidak bersifat racun dan menimbulkan penyakit (Kasran,
2003). Barrier yang defektif ini mungkin diwarisi (inherited) atau sekunder karena
suatu kelainan. Berbagai uraian tentang abnormalitas neural pada autisme telah
menimbulkan banyak spekulasi mengenai penyakit ini. Namun, hingga saat ini tidak
ada satupun, baik teori anatomis yang sesuai maupun teori patofisiologi autisme atau
tes diagnostik biologik yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang sebab utama
autisme. Beberapa peneliti telah mengamati beberapa abnormalitas jaringan otak pada
individu yang mengalami autisme, tetapi sebab dari abnormalitas ini belum diketahui,
demikian juga pengaruhnya terhadap perilaku (Kasran, 2003).
Kelainan yang dapat dilihat terbagi menjadi dua tipe, disfungsi dalam stuktur
neural dari jaringan otak dan abnormalitas biokimia jaringan otak. Dalam kaitannya
dengan struktur otak, pemeriksaan post-mortem otak dari beberapa penderita autistik
menunjukkan adanya dua daerah di dalam sistem limbik yang kurang berkembang yaitu
amygdala dan hippocampus. Kedua daerah ini bertanggung jawab atas emosi, agresi,
sensory input, dan belajar. Peneliti ini juga menemukan adanya defisiensi sel Purkinye
di serebelum. Dengan menggunakan magnetic resonance imaging, telah ditemukan dua

7|Page
daerah di serebelum, lobulus VI dan VII, yang pada individu autistik secara nyata lebih
kecil dari pada orang normal. Satu dari kedua daerah ini dipahami sebagai pusat yang
bertanggung jawab atas perhatian. Didukung oleh studi empiris neurofarmakologis dan
neurokimia pada autisme, perhatian banyak dipusatkan pada neurotransmitter dan
neuromodulator, pertama sistem dopamine mesolimbik, kemudian sistem opioid
endogen dan oksitosin, selanjutnya pada serotonin, dan ditemukan adanya hubungan
antara autisme dengan kelainan-kelainan pada sistem tersebut (Kasran, 2003).
Sedangkan dari segi biokimia jaringan otak, banyak penderita-penderita autistik
menunjukkan kenaikan dari serotonin dalam darah dan cairan serebrospinal
dibandingkan dengan orang normal. Perlu disinggung bahwa abnormalitas serotonin ini
juga tampak pada penderita down syndrome, kelainan hiperaktivirtas, dan depresi
unipoler. Juga terbukti bahwa pada individu autistik terdapat kenaikan dari beta-
endorphins, suatu substansi di dalam badan yang mirip opiat. Diperkirakan adanya
ketidakpekaan individu autistik terhadap rasa sakit disebabkan oleh karena peningkatan
kadar betaendorphins ini (Kasran, 2003).

2.5 Kriteria Diagnosis Gangguan Autisme

Menurut DSM IV-TR (APA, 2000) kriteria diagnosis gangguan autisme adalah:
A. Sejumlah enam hal atau lebih dari 1, 2, dan 3, paling sedikit dua dari 1 dan satu
masing-masing dari 2 dan 3:
1. Secara kualitatif terdapat hendaya dalam interaksi social sebagai manifestasi
paling sedikit dua dari yang berikut:
a. Hendaya di dalam perilaku non verbal seperti pandangan mata ke mata,
ekspresi wajah, sikap tubuh, dan gerak terhadap rutinitas dalam interaksi
social.
b. Kegagalan dalam membentuk hubungan pertemanan sesuai tingkat
perkembangannya.
c. Kurang kespontanan dalalm membagi kesenangan, daya pikat atau
pencapaian akan orang lain, seperti kurang memperlihatkan, mengatakan
atau menunjukkan objek yang menarik.
d. Kurang sosialisasi atau emosi yang labil.

2. Secara fluktuatif terdapat hendaya dalam komunikasi sebagai menifestasi


paling sedikit satu dari yang berikut:

8|Page
a. Keterlambatan atau berkurangnya perkembangan berbicara (tidak
menyertai usaha mengimbangi cara komunikasialternatif seperti gerak
isyarat atau gerak meniru-niru)
b. Individu berbicara secara adekuat, hendaya dalam menilai atau
meneruskan oembicaraan orang lain.
c. Menggunakan kata berulang kali dan stereotip dan kata-kata aneh.
d. Kurang memvariasikan gerakan spontan yang seolah-olah atau pura-pura
bermain seuai tingkat perkembangan.

3. Tingkah laku berulang dan terbatas, tertarik dan aktif sebagai manifestasi
paling sedikit satu dari yang berikut:
a. Keasyikan yang meliputi satu atau lebih stereotip atau kelainan dalam
intensitas maupun focus perhatian akan sesuatu yang terbatas.
b. Ketaatan terhadap hal-hal tertentu tampak kaku, rutinitas atau ritual pun
tidak fungsional.
c. Gerakan stereotip dan berulang misalnya memukul, memutar arah jari dan
tangannya serta meruwetkan gerakan seluruh tubuhnya.
d. Keasyikan terhadap bagian-bagian objek yang stereotip.

B. Keterlambatan atau kelainan fungsi paling sedikit satu dari yang berikut ini
dengan serangan sebelum sampai usia 3 tahun :
1. Interaksi sosial
2. Bahasa yang dipergunakan dalam komunikasi sosial
3. Permainan simbol atau imaginatif.

C. Gangguan ini tidak disebabkan oleh gangguan Rett atau gangguan disintegrasi
masa anak.

Autisme infantil berdasarkan pedoman diagnostik PPDGJ III, antara lain:


a. Biasanya tidak ada riwayat perkembangan abnormal yang jelas, tetapi jika
dijumpai, abnormalitas tampak sebelum usia 3 tahun (Maslim, 2001).
b. Selalu dijumpai hendaya kualitatif dalam interaksi sosialnya. Ini berbentuk tidak
adanya apresiasi adekuat terhadap isyarat sosio emosional yang tampak bagai
kurangnya respon terhadap emosi orang lain dan/atau kurangnya modulasi

9|Page
terhadap perilaku dalam konteks sosial; buruk dalam menggunakan isyarat social
dan lemah dalam integrasi perilaku sosial, emosional dan komunikatif; dan
khususnya, kurangnya respon timbal balik sosial emosional (Maslim, 2001).
c. Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk
kurangnya penggunaan sosial dari kemampuan bahasa yang ada; hendaya dalam
permainan imaginatif dan imitasi sosial; buruknya keserasian dan kurangnya
interaksi timbal balik dalam percakapan; buruknya fleksibilitas dalam bahasa
ekspresif dan relatif kurang dalam kreativitas dan fantasi dalam proses pikir;
kurangnya respons emosional terhadap ungkapan verbal dan nonverbal orang
lain; hendaya dalam menggunakan variasi irama atau tekanan modulasi
komunikatif; dan kurangnya isyarat tubuh untuk menekankan atau mengartikan
komunikasi lisan (Maslim, 2001).
d. Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas,
pengulangan dan stereotipik. Ini berbentuk kecendrungan untuk bersikap kaku
dan rutin dalam aspek kehidupan sehari-hari; ini biasanya berlaku untuk kegiatan
baru atau kebiasaan sehari-hari yang rutin dan pola bermain. Terutama sekali
dalam masa kanak, terdapat kelekatan yang aneh terhadap benda yang tak
lembut. Anak dapat memaksa suatu kegiatan rutin seperti upacara dari kegiatan
yang sebetulnya tidak perlu; dapat menjadi preokupasi yang stereotipik dengan
perhatian pada tanggal, rute atau jadwal; sering terdapat stereotipik motorik;
sering menunjukkan perhatian yang khusus terhadap unsur sampingan dari benda
(seperti bau dan rasa); dan terdapat penolakan terhadap perubahan dari rutinitas
atau dalam tata ruang dari lingkungan pribadi (seperti perpindahan dari hiasan
dalam rumah). (Maslim, 2001).
e. Anak autisme sering menunjukkan beberapa masalah yang tak khas seperti
ketakutan/fobia, gangguan tidur dan makan, mengadat (terpertantrum) dan
agresivitas. Mencederai diri sendiri (seperti menggigit tangan) sering kali terjadi,
khususnya jika terkait dengan retardasi mental. Kebanyakan individu dengan
autis kurang dalam spontanitas, inisiatif dan kreativitas dalam mengatur waktu
luang dan mempunyai kesulitan dalam melaksanakan konsep untuk menuliskan
sesuatu dalam pekerjaan (meskipun tugas mereka tetap dilaksanakan baik)
(Maslim, 2001).

10 | P a g e
Abnormalitas perkembangan harus tampak dalam usia 3 tahun untuk dapat
menegakkan diagnosis, tetapi sindrom ini dapat didiagnosis pada semua usia
(Maslim, 2001).

2.6 Diagnosis Banding


Beberapa diagnosis banding autisme infantil, antara lain:
a. Gangguan perkembangan pervasif yang lainnya
Beberapa kelainan yang dimasukkan dalam kelompok ini adalah anak-anak
yang mempunyai ciri-ciri autisme, yaitu gangguan perkembangan sosial, bahasa,
dan perilaku, namun cirri lainnya berbeda dengan autism infantil. Gangguan ini
adalah sebagai berikut:
1) Sindroma Rett
Sindroma Rett adalah penyakit otak yang progresif tapi khusus
mengenai anak perempuan. Perkembangan anak sampai usia 5 bulan normal,
namun setelah itu mundur. Umumnya kemunduran yang terjadi sangat parah
meliputi perkembangan bahasa, interaksi social maupun motoriknya (Kasran,
2003)
2) Sindroma Asperger
Pada sindroma Asperger mempunyai ketiga ciri autism namun masih
memiliki intelegensia yang baik dan kemampuan bahasanya juga hanya
terganggu dalam derajat ringan. Oleh karena itu, sindroma Asperger sering
disebut sebagai high functioning autism (Kasran, 2003)
Gangguan Asperger berbeda berbeda dengan autism infantil. Onset usia
autisme infantile terjadi lebih awal dan tingkat keparahannya lebih parah
dibandingkan gangguan Asperger. Pasien autisme infantil menunjukkan
penundaan dan penyimpangan dalam kemahiran berbahasa serta adanya
gangguan kognitif. Oral vocabulary test menunjukkan keadaan yang lebih
baik pada gangguan Asperger. Defisit sosial dan komunikasi lebih berat pada
autisme. Selain itu ditemukan adanya manerisme motorik sedangkan pada
gangguan Asperger yang menonjol adalah perhatian terbatas dan motorik
yang canggung, serta gagal mengerti isyarat nonverbal. Lebih sulit
membedakan gangguan Asperger dengan autisme infantil tanpa retardasi
mental. Gangguan Asperger biasanya memperlihatkan gambaran IQ yang
lebih baik daripada autisme infantil, kecuali autisme infantil high functioning.
Batas antara gangguan Asperger dan high functioning autism untuk gangguan

11 | P a g e
berbahasa dan gangguan belajar sangat kabur. Gangguan Asperger
mempunyai verbal intelligence yang normal sedangkan autisme infantil
mempunyai verbal intelligence yang kurang. Gangguan Asperger mempunyai
empati yang lebih baik dibandingkan dengan autisme infantil, sekalipun
keduanya mengalami kesulitan berempati (Kasran, 2003)
3) Sindroma Disintegratif
Sindroma ini ditandai dengan kemunduran dari apa yang telah dicapai
setelah umur 2 tahun, paling sering sekitar umur 3-4 tahun. Gangguan ini
sangat jarang terjadi dan paling sering mengenai anak laki-laki dibanding
perempuan (Kasran, 2003)

b. Gangguan perkembangan bahasa (disfasia)


Disfasia terjadi karena gangguan perkembangan otak hemisfer kiri, sebagai
daerah pusat berbahasa. Ada beberapa subtipe gangguan ini yang menyerupai
dengan autism infantil khususnya ditinjau dari perkembangan bahasa wicaranya.
Bedanya pada disfasia tidak terdapat perilaku repetitive maupun obsesif (Kasran,
2003)

Kriteria Autisme Infantil Disfasia


Insidensi 2-5 dalam 10.000 5 dalam 10.000
Ratio jenis kelamin 3-4 : 1 sama atau hampir sama
(Laki-laki:Perempuan)
Riwayat keluarga adanya 25 % kasus 25 % kasus
keterlambatan bicara /
gangguan bahasa
Ketulian yang berhubungan sangat jarang tidak jarang
Komunikasi nonverbal tidak ada/rudimenter Ada
Kelainan bahasa (misalnya lebih sering lebih jarang
ekolalia, frasa stereotipik di
luar konteks)
Gangguan artikulasi lebih jarang lebih sering
Tingkat intelegensia sering terganggu walaupun mungkin
parah terganggu, seringkali
kurang parah
Pola test IQ tidak rata, rendah pada lebih rata, walaupun IQ
skor verbal, rendah verbal lebih rendah dari

12 | P a g e
pada sub test IQ kinerja
pemahaman
Perilaku autistik, gangguan lebih sering dan lebih tidak ada atau jika ada,
kehuidupan sosial, aktivitas parah kurang parah
stereotipik dan ritualistik
Permainan imaginatif tidak ada/rudimenter biasanya ada

c. Skizofrenia dengan onset masa anak-anak


Skizofrenia jarang pada anak-anak di bawah 5 tahun. Skizofrenia disertai
dengan halusinasi atau waham, dengan insidensi kejang dan retardasi mental
yang lebih rendah dan dengan IQ yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak
autistik (Kasran, 2003)

Kriteria Autisme Infantil Skizofrenia dengan onset


masa anak-anak
Usia onset <36 bulan >5 tahun
Insidensi 2-5 dalam 10.000 Tidak diketahui,
kemungkinan sama atau
bahkan lebih jarang
Rasio jenis kelamin 3-4:1 1,67:1
(Laki-laki:Perempuan)
Status sosioekonomi Lebih sering pada Lebih sering pada
sosioekonomi tinggi sosioekonomi rendah
Penyulit prenatal dan Lebih sering pada Lebih jarang pada
perinatal dan disfungsi otak gangguan skizofrenia
autistik
Karakteristik perilaku Gagal untuk Halusinasi dan waham,
mengembangkan gangguan pikiran
hubungan : tidak ada
bicara (ekolalia); frasa
stereotipik; tidak ada
atau buruknya
pemahaman bahasa;
kegigihan atas
kesamaan dan

13 | P a g e
stereotipik.
Fungsi adaptif Biasanya selalu Pemburukan fungsi
terganggu
Tingkat inteligensi Pada sebagian besar Dalam rentang normal
kasus
subnormal, sering
terganggu parah
(70%)
Kejang grand mal 4-32% Tidak ada atau insidensi
rendah

d. Retardasi Mental (RM)


Hal yang tidak mudah untuk membedakan autisme infantil dengan retardasi
mental, sebab autisme juga sering disertai retardasi mental. Kira-kira 40% anak
autistik adalah teretardasi sedang, berat atau sangat berat, dan anak yang
teretardasi mungkin memiliki gejala perilaku yang termasuk ciri autistik. Pada
retardasi mental tidak terdapat 3 ciri pokok autism secara lengkap. Retardasi
mental adalah gangguan intelegensi, biasanya diketahui setelah anak sekolah
karena ketidaksanggupan anak mengikuti pelajaran formal. Pembagian retardasi
mental mental dilihat dari kemampuan Intelligent Quetient (IQ), retardasi mental
ringan IQ 55-70, RM sedang IQ 40-55, RM berat 25-40, RM sangat berat IQ <
25 (Kasran, 2003)
Ciri utama yang membedakan antara gangguan autistik dan retardasi mental
adalah:
1) Anak teretardasi mental biasanya berhubungan dengan orang tua atau anak-
anak lain dengan cara yang sesuai dengan umur mentalnya.
2) Mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain.
3) Mereka memilki sifat gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan fungsi

e. Afasia didapat dengan kejang


Afasia didapat dengan kejang adalah kondisi yang jarang yang kadang sulit
dibedakan dari gangguan autistik dan gangguan disintegratif masa anak-anak.
Anak-anak dengan kondisi ini normal untuk beberapa tahun sebelum kehilangan
bahasa reseptif dan ekspresifnya selama periode beberapa minggu atau beberapa
bulan. Sebagian akan mengalami kejang dan kelainan EEG menyeluruh pada saat

14 | P a g e
onset, tetapi tanda tersebut biasanya tidak menetap. Suatu gangguan yang jelas
dalam pemahaman bahasa yang terjadi kemudian, ditandai oleh pola berbicara
yang menyimpang dan gangguan bicara. Beberapa anak pulih tetapi dengan
gangguan bahasa residual yang cukup besar (Kasran, 2003)

f. Ketulian kongenital atau gangguan pendengaraan parah


Anak-anak autistik sering kali dianggap tuli oleh karena anak-anak tersebut
sering membisu atau menunjukkan tidak adanya minat secara selektif terhadap
bahasa ucapan. Ciri-ciri yang membedakan yaitu bayi autistik mungkin jarang
berceloteh sedangkan bayi yang tuli memiliki riwayat celoteh yang relatif normal
dan selanjutnya secara bertahap menghilang dan berhenti pada usia 6 bulan-1
tahun ( Kasran, 2003)
Anak yang tuli berespon hanya terhadap suara yang keras, sedangkan anak
autistik mungkin mengabaikan suara keras atau normal dan berespon hanya
terhadap suara lunak atau lemah. Hal yang terpenting, audiogram atau potensial
cetusan auditorik menyatakan kehilangan yang bermakna pada anak yang tuli.
Tidak seperti anak-anak autistik, anak-anak tuli biasanya dekat dengan orang
tuanya, mencari kasih sayang orang tua dan sebagai bayi senang digendong
(Kasran, 2003)

g. Pemutusan psikososial
Gangguan parah dalam lingkungan fisik dan emosional (seperti pemisahan
dari ibu, kekerdilan psikososial, perawatan di rumah sakit, dan gagal tumbuh)
dapat menyebabkan anak tampak apatis, menarik diri, dan terasing. Keterampilan
bahasa dan motorik dapat terlambat. Anak-anak dengan tanda tersebut hamper
selalu membaik dengan cepat jika ditempatkan dalam lingkungan psikososial
yang menyenangkan dan diperkaya, yang tidak terjadi pada anak autistik
(Kasran, 2003)

2.7 Anamnesis dan Pemeriksaan Psikiatri Autisme pada Anak

1. Anamnesis
Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada
sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Ada
beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia:

15 | P a g e
a. Usia 0-6 bulan
1) Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
2) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
3) Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi
4) Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
5) Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
6) Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal

b. Usia 6-12 bulan


1) Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
2) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
3) Gerakan tangan dan kaki berlebihan
4) Sulit bila digendong
5) Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan
6) Tidak ditemukan senyum sosial
7) Tidak ada kontak mata
8) Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
c. Usia 1-2 tahun
1) Kaku bila digendong
2) Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da)
3) Tidak mengeluarkan kata
4) Tidak tertarik pada boneka
5) Memperhatikan tangannya sendiri
6) Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus
7) Mungkin tidak dapat menerima makanan cair
d. Usia 2-3 tahun
1) Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain
2) Melihat orang sebagai benda
3) Kontak mata terbatas
4) Tertarik pada benda tertentu
5) Kaku bila digendong
e. Usia 4-5 tahun
1) Sering didapatkan ekolalia (membeo)
2) Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)

16 | P a g e
3) Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
4) Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
5) Temperamen tantrum atau agresif

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat
anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu (Sartika, Dinda. 2011):
a. Interaksi sosial
1) tidak tertarik bermain bersama teman
2) lebih suka menyendiri
3) tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan
4) senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia
inginkan
b. Komunikasi
1) perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada
2) senang meniru atau membeo (ekolali)
3) anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi kemudian
sirna
4) mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak dapat
dimengerti orang lain
5) bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa
mengerti artinya
6) sebagian dari anak ini tidak berbicara (nonverbal) atau sedikit bicara (kurang
verbal) sampai usia dewasa
c. Pola bermain
1) tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya
2) senang akan benda-benda yang berputar seperti kipas angin, roda sepeda,
gasing.
3) tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik atau rodanya
diputar-putar.
4) dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan
dibawa kemana-mana.
d. Gangguan sensoris
1) bila mendengar suara keras langsung menutup telinga
2) sering menggunakan indera pencium dan perasanya, seperti senang
mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda.
3) dapat sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.
4) dapat sangat sensitif terhadap rasa takut dan rasa sakit.
e. Perkembangan terlambat atau tidak normal
1) perkembangan tidak sesuai seperti pada anak normal, khususnya dalam
keterampilan sosial, komunikasi, dan kognisi.
2) dapat mempunyai perkembangan yang normal pada awalnya, kemusian
menurun atau bahkan sirna, misalnya pernah dapat bicara kemudian hilang.
f. Penampakan gejala

17 | P a g e
1) gejala di atas dapat mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil. Biasanya
sebelum usia 3 tahun gejala sudah ada.
2) pada beberapa anak sekitar umur 5-6 tahun, gejala tampak agak berkurang.
Gejala yang juga sering tampak adalah dalam bidang :
a. Perilaku
1) memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang,
mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke
TV, lari/berjalan bolak-balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang.
2) tidak suka pada perubahan
3) dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong
b. Emosi
1) sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa
alasan.
2) kadang suka menyerang dan merusak.
3) kadang berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri
4) tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain.

2. Pemeriksaan Psikiatri
a. Kesan Umum : tampak sakit jiwa
b. Kesadaran : compos mentis
c. Sikap : hipoaktif
d. Tingkah laku : senyum sendiri, bicara sendiri, stereotipi
e. Orientasi : baik/buruk
f. Bentuk pikir : autistik
g. Isi pikir : waham bizarre
h. Progresi pikir : neologisme, ekolali, inkoherensi, irrelevansi
i. Roman muka : sedikit mimik
j. Afek : inappropiate
k. Persepsi : halusinasi (+)
l. Perhatian : sulit ditarik, sulit dicantum
m. Hubungan jiwa : sulit
n. Insigth : buruk

2.8 Penatalaksanaan Autisme

Berbagai pendekatan terapeutik telah dianjurkan untuk menangani dan


menatalaksana anak-anak autistic, namun keberhasilannya terbatas. Terapi perilaku
dengan pemanfaatan keadaan yang sedang berlaku dilaporkan meningkatkan kemahiran

18 | P a g e
berbicara. Perilaku destruktif dan agresi sering dapat diubah dengan menejemen
perilaku mencelakakan diri sendiri, yang kelihatannya mengarah kepada perilaku
agresi, stereotipik, dan penarikan diri dari pergaulan social. Antagonis opiate yang kuat,
baru-baru ini terbukti mengubah masalah-masalah perilaku, penarikan diri dan
stereotipik. Model penanganan harian dengan menggunakan permainan, terapi
kemampuan berbicara dan latihan antarperorangan terstruktur juga menampakkan
harapan (Behrman, 1999).

Sampai saat ini tidak ada obat-obatan atau cara lain yang dapat menyembuhkan
autisme. Meskipun demikian, obat-obat antidepresan yang bersifat seratogenik dapat
mengendalikan gejala-gejala stereotipi dan perubahan-perubahan iklim perasaan, tetapi
masih diperlukan suatu penelitian klinis lebih lanjut dan lebih terkendali dari obat-obat
ini (Kasran, 2003).

Dalam tatalaksana gangguan autisme, terapi perilaku merupakan yang paling


penting. Metode yang digunakan adalah metode Lovaas. Metode Lovaas adalah metode
modifikasi tingkah laku yang disebut dengan Applied Behavior Analysis (ABA).
Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat dibedakan menjadi
enam kemampuan dasar, yaitu:
1. Kemampuan memperhatikan
Program ini terdapat dua prosedur. Pertama melatih anak untuk bisa
memfokuskan pandangan mata pada orang yang ada di depannya atau disebut
dengan kontak mata. Yang kedua melatih anak untuk memperhatikan keadaan atau
objek yang ada disekelilingnya.
2. Kemampuan menirukan
Pada kemampuan imitasi anak diajarkan untuk meniru gerakan motorik kasar
dan halus. Selanjutnya, urutan gerakan, meniru gambar sederhana atau meniru
tindakan yang disertai bunyi-bunyian.
3. Bahasa reseptif
Melatih anak agar mempunyai kemampuan mengenal dan bereaksi terhadap
seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan
nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata.
4. Bahasa ekspresif
Melatih kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya, dimulai dari
komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekspresi
wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau
berkomunikasi verbal.
5. Kemampuan praakademis

19 | P a g e
Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan permainan yang
mengajarkan anak tentang emosi, hubungan ketidakteraturan, dan stimulus-stimulus
di lingkungannya seperti bunyi-bunyian serta melatih anak untuk mengembangkan
imajinasinya lewat media seni seperti menggambar benda-benda yang ada di
sekitarnya.
6. Kemampuan mengurus diri sendiri
Program ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa memenuhi kebutuhan
dirinya sendiri. Pertama anak dilatih untuk bisa makan sendiri. Yang kedua, anak
dilatih untuk bisa buang air kecil atau yang disebut toilet traning. Kemudian tahap
selanjutnya melatih mengenakan pakaian, menyisir rambut, dan menggosok gigi.

2.9 Prognosis
Prognosis anak autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Berat ringannya gejala atau kelainan otak.
2. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat
dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
3. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
4. Bicara dan bahasa, 20 % anak autis tidak mampu berbicara seumur hidup,
sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang
berbeda-beda.
5. Terapi yang intensif dan terpadu.
Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus dilakukan dengan intensif
dan terpadu. Seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak.
Penanganan anak autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari
berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog, neurolog, dokter anak, terapis
bicara dan pendidik (Kasran, 2003).
Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan autisme,
anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa
mempunyai prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada otak, autisme tidak dapat
sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah ke arah positif
dengan berbagai terapi (Kasran, 2003).
Beberapa anak, terutama mereka yang mengalami gangguan bicara, dapat
tumbuh pada kehidupan yang marginal, dapat berdiri sendiri, sekalipun terisolasi hidup
dalam masyarakat, namun untuk beberapa anak, penempatan lama pada institusi
merupakan hasil akhir. Hubungan antara autism dan skizofrenia tidak jelas. Kasus
dimana anak autistic kemudian berkembang menjadi skizofrenia telah dilaporkan,
namun jarang. Prognosis yang lebih baik adalah berkaitan dengan intelegensia yang

20 | P a g e
lebih tinggi, kemampuan berbicara fungsional, dan kurangnya gejala-gejala dan
perilaku aneh. Gejala-gejala sering berubah karena anak-anak tumbuh semakin tua.
Kejang-kejang dan mencelakakan diri sendiri semakin lazim dengan perkembangan
usia (Behrman, 1999).

2.10 Kompetensi Dokter Umum


Tingkat Kemampuan 2
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium
sederhana atau X-ray). Dokter mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang
relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya

3b. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan


pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan
laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi
pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).

BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1 Tempat Pelaksanaan

Bina Autis Mandiri Palembang

3.2 Waktu Pelaksanaan

Hari/ Tanggal : Desember 2012

Pukul :

3.3 Subjek Tugas Mandiri

Kasus Autisme Pada Anak (Bina Autis Mandiri)

21 | P a g e
3.4 Langkah Kerja
1. Membuat proposal
2. Melakukan konsultasi kepada pembimbing Tugas Pengenalan Profesi
3. Meminta surat jalan dari kampus untuk melaksanakan TPP di Puskesmas
4. Mengidentifikasi penyakit katarak di Puskesmas
5. Mengumpulkan hasil kerja lapangan untuk mendapatkan suatu kesimpulan
6. Membuat laporan hasil Tugas Pengenalan Profesi dari data yang sudah didapatkan

3.5 Pengumpulan data


Melakukan identifikasi langsung terhadap pasien autis anak di Bina Autis Mandiri

3.6 Pengolahan data

Analisis deskriptif yaitu pengolahan data yang dilakukan dengan cara


membandingkan teori dan data di lapangan

Palembang, Desember 2012

Mahasiswa Blok XVI Kelompok 1

Diketahui dan Disetujui

Pembimbing,

dr. Patricia Wulandari

22 | P a g e
BAB IV

PENUTUP

Proposal ini disusun sebagai usaha melakukan penyelenggaraan kegiatan Tugas


Pengenalan Profesi supaya mahasiswa dapat mengamati lebih awal dan melihat secara
langsung pasien autis anak di Bina Autis Mandiri.

Demikianlah proposal kami, semoga proposal ini menjadi bahan pertimbangan dan
perhatian dr. Patricia Wulandari, selaku pembimbing Kelompok Tutorial 1 dalam
mendukung kegiatan Tugas Pengenalan Profesi yang kami laksanakan dalam rangka
meningkatkan Sumber Daya Manusia sekaligus untuk memenuhi tugas pada blok XVI ini.

23 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Richard E, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol I. Jakarta: EGC

Bertrand, J., Mars, A., Boyle, C., Bove, F., Yeargin-Allsop, M., Decoufle, P. 2001.
Prevalence of autism in a United States Population. Pediatrics, 108; 1155-61.
Departemen Psikiatrik FK-UI. Deteksi Dini Gangguan Jiwa pada Anak. Jakarta.

Fombonne, Eric. 2009. Epidemiology of Pervasive Developmental Disorders. Pediatrics


Research, 6 (65); 591-8.
Hamid A.Y (2008). Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC

Kasran, Suharko. 2003. Autisme: Konsep yang Sedang Berkembang. Bagian Ilmu Kesehatan
Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Jurnal Kedokteran Trisakti, Vol. 22
No. 1; 24-30.
King, A. Laura. 2009 . The Science of Psychology. Edisi 1. University of Missouri at
Columbia

24 | P a g e
Lubis, Misbah. 2009. Penyesuaian Diri Orang Tua yang Memiliki Anak Autis. Diambil dari:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14528/1/09E01232.pdf. Diakses
tanggal: 20 Desember 2012.
Maslim, rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosa Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari PPDGJ
III. Jakarta : Nuh Jaya

Rapin, I. 1997. Autism. New Journal English Medicine, Vol 337; 97-104.
Sadock, B. J dan Alcot, V. 2007. Kaplan and Sadocks Synopsis of Psychiatry Behavioural
Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Edition. University School of Medicine New York;
Chapter 42.
Sartika, Dinda. 2011. Karakteristik Anak Autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI)
Medan. Skripsi: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

LAMPIRAN

KUESIONER

Kuesioner Tahap Pengenalan Profesi Kasus Autisme Pada Anak

Identitas:
Nama anak:
Umur:
Nama Ayah:
Umur:
Pekerjaan:
Nama Ibu:
Umur:
Pekerjaan:
Alamat:
Etiologi:

25 | P a g e
Riwayat kehamilan Penyakit yang diderita ibu saat hamil?
Konsumsi obat-obatan saat hamil?
Konsumsi makanan saat hamil?
Memelihara hewan peliharaan saat hamil?
Emosional saat hamil?
Riwayat kelahiran Lahir secara spontan / tindakan / sesar?
Cukup minggu? (38 42 minggu)
BBL? (2500 4000 gram)
Riwayat Keluarga Di keluarga ada yang menderita keluhan yang
sama?
Riwayat pernikahan Apakah orang tua melakukan pernikahan sedarah
orang tua (Consanguineous Marriages)
Teori psikoanalitik Penolakan orangtua terhadap anaknya?
Studi biokimia dan emosi, agresi, sensory input, dan belajar
riset neurologis
3. Gejala dan tanda 1. Isolasi Sosial
(Gangguan dalam bidang interaksi sosial,
seperti menghindar kontak mata, tidak
melihat jika dipanggil, menolak untuk
dipeluk, lebih suka bermain sendiri.)
2. Kelemahan kognitif (IQ<70)
3. Kekurangan dalam berbahasa
(tidak dapat berbicara, yang lainnya hanya
mengoceh, merengek, menjerit, atau
menunjukkan ekolali)
4. Tingkah laku stereotip
impulsif, hiperaktif, repetitive
pandangan mata kosong, melakukan
permainan yang sama dan monoton
gerakan yang berulang-ulang secara terus
menerus tanpa tujuan yang jelas. Sering
berputar-putar, berjingkat-jingkat
menarik-narik rambut dan menggigit jari

26 | P a g e
Riwayat Tumbuh a. Usia 0-6 bulan
Kembang 1) Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
Anamnesis dan 2) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
Pemeriksaan 3) Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama
Psikiatri Autisme bila mandi
Infantil 4) Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10
minggu
5) Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
6) Perkembangan motor kasar/halus sering
tampak normal

b. Usia 6-12 bulan


1) Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
2) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
3) Gerakan tangan dan kaki berlebihan
4) Sulit bila digendong
5) Menggigit tangan dan badan orang lain secara
berlebihan
6) Tidak ditemukan senyum sosial
7) Tidak ada kontak mata
8) Perkembangan motor kasar/halus sering
tampak normal

c. Usia 1-2 tahun


1) Kaku bila digendong
2) Tidak mau bermain permainan sederhana
(ciluk ba, da-da)
3) Tidak mengeluarkan kata
4) Tidak tertarik pada boneka
5) Memperhatikan tangannya sendiri
6) Terdapat keterlambatan dalam perkembangan
motor kasar/halus
7) Mungkin tidak dapat menerima makanan cair

27 | P a g e
d. Usia 2-3 tahun
1) Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan
anak lain
2) Melihat orang sebagai benda
3) Kontak mata terbatas
4) Tertarik pada benda tertentu
5) Kaku bila digendong

e. Usia 4-5 tahun


1) Sering didapatkan ekolalia (membeo)
2) Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi
atau datar)
3) Marah bila rutinitas yang seharusnya
berubah
4) Menyakiti diri sendiri (membenturkan
kepala)
5) Temperamen tantrum atau agresif

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang


akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai
usia 3 tahun, yaitu (Sartika, Dinda. 2011):
a. Interaksi sosial
1) tidak tertarik bermain bersama teman
2) lebih suka menyendiri
3) tidak ada atau sedikit kontak mata, atau
menghindar untuk bertatapan
4) senang menarik-narik tangan orang lain
untuk melakukan apa yang ia inginkan

b. Komunikasi
1) perkembangan bahasa lambat atau sama
sekali tidak ada
2) senang meniru atau membeo (ekolali)
3) anak tampak seperti tuli, sulit berbicara,
atau pernah berbicara tapi kemudian sirna
4) mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan
bahasa yang tidak dapat dimengerti orang
lain
28 | P a g e
5) bila senang meniru, dapat hafal betul kata-
kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti
artinya
6) sebagian dari anak ini tidak berbicara
(nonverbal) atau sedikit bicara (kurang
verbal) sampai usia dewasa

c. Pola bermain
1) tidak bermain seperti anak-anak pada
umumnya
2) senang akan benda-benda yang berputar seperti
kipas angin, roda sepeda, gasing.
3) tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya
sepeda dibalik atau rodanya diputar-putar.
4) dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu
yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.

d. Gangguan sensoris
1) bila mendengar suara keras langsung menutup
telinga
2) sering menggunakan indera pencium dan
perasanya, seperti senang mencium-cium,
menjilat mainan atau benda-benda.
3) dapat sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti
tidak suka dipeluk.
4) dapat sangat sensitif terhadap rasa takut dan rasa
sakit.

e. Perkembangan terlambat atau tidak normal


1) perkembangan tidak sesuai seperti pada anak
normal, khususnya dalam keterampilan sosial,
komunikasi, dan kognisi.
2) dapat mempunyai perkembangan yang normal
pada awalnya, kemusian menurun atau bahkan
sirna, misalnya pernah dapat bicara kemudian
hilang.

f. Penampakan gejala
1) gejala di atas dapat mulai tampak sejak lahir
atau saat masih kecil. Biasanya sebelum usia

29 | P a g e
3 tahun gejala sudah ada.
2) pada beberapa anak sekitar umur 5-6 tahun,
gejala tampak agak berkurang.

Gejala yang juga sering tampak adalah dalam


bidang :
a. Perilaku
1) memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti
bergoyang-goyang, mengepakkan tangan
seperti burung, berputar-putar, mendekatkan
mata ke TV, lari/berjalan bolak-balik,
melakukan gerakan yang diulang-ulang.
2) tidak suka pada perubahan
3) dapat pula duduk bengong dengan tatapan
kosong

b. Emosi
1) sering marah-marah tanpa alasan yang jelas,
tertawa-tawa, menangis tanpa alasan.
2) kadang suka menyerang dan merusak.
3) kadang berperilaku yang menyakiti dirinya
sendiri
4) tidak memiliki empati dan tidak mengerti
perasaan orang lain.

3. Pemeriksaan Psikiatri
a. Kesan Umum : tampak sakit jiwa
b. Kesadaran : compos mentis
c. Sikap : hipoaktif
d. Tingkah laku : senyum sendiri, bicara
sendiri, stereotipi
e. Orientasi : baik/buruk
f. Bentuk pikir : autistik
g. Isi pikir : waham bizarre
h. Progresi pikir : neologisme, ekolali,
inkoherensi, irrelevansi
i. Roman muka : sedikit mimik
j. Afek : inappropiate
30 | P a g e
k. Persepsi : halusinasi (+)
l. Perhatian : sulit ditarik, sulit dicantum
m. Hubungan jiwa : sulit
n. Insigth : buruk

Pengobatan dan 1. obat-obat antidepresan yang bersifat


Terapi teratogenik
2. metode modifikasi tingkah laku yang
disebut dengan Applied Behavior Analysis
(ABA).
Kemampuan memperhatikan
Kemampuan menirukan
Bahasa reseptif
Bahasa ekspresif
Kemampuan praakademis
Kemampuan mengurus diri sendiri
Harapan Orang tua

31 | P a g e