Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS ASPEK BIOLOGI (PERTUMBUHAN, REPRODUKSI, DAN KEBIASAAN

MAKANAN) IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Vera A. Dewi*1, Yolanda Stephanie, Faisal Arif

1Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran

Jl. Raya Bandung Sumedang KM.21, Hegarmanah, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa
Barat 45363
*e-mail: veraanggraenidewi@gmail.com

ABSTRAK

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang bisa hidup di perairan
bersalinitas tinggi (euryhalin). Ikan nila sebagai objek praktikum yang diambil dari Waduk
Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Waduk Jatigede merupakan jenis perairan air
tawar. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi dari ikan nila yaitu aspek
pertumbuhan, aspek reproduksi dan aspek kebiasaan makan (food habits). Praktikum ini
dilaksanakan pada hari Rabu, 11 Oktober 2017 pukul 09.30-11.30 WIB dan bertempat di
laboratorium Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran.
Metode penelitian yang digunakan selama praktikum adalah metode observasi, yang juga
berpedoman pada buku penuntun praktikum biologi perikanan dan literatur lain. Praktikum ini
mencakup penghitungan TL, SL, FL, bobot, panjang usus, serta pembahasan pertumbuhan,
reproduksi, dan kebiasaan makannya. Hasilnya pola pertumbuhan ikan nila yang diamati
termasuk ke dalam pola pertumbuhan allometrik negative karena nilai b < 3, pertumbuhan
bobotnya lebih lambat dibandingkan pertumbuhan panjang sehingga ikan cenderung kurus.
Rasio kelamin ikan nila jantan 24 dan betina 13 dengan tingkat kematangan gonad frekuensi
tertinggi pada TKG II. Ikan nila termasuk omnivore dengan pakan utama detritus dan pakan
tambahan fitoplankton dan zooplankton.

Kata kunci : Ikan Nila, Kebiasaan Makanan, Pertumbuhan, Reproduksi

ABSTRACT

Tilapia (Oreochromis niloticus) is a type of freshwater fish that can live in high salinity water
(euryhalin). Tilapia as a practicum object taken from Jatigede Reservoir, Sumedang Regency,
West Java. Jatigede Reservoir is a type of freshwater waters. This practice aims to determine
the biological aspects of tilapia, namely aspects of growth, reproductive aspects and aspects of
eating habits (food habits). This Practicum was held on Wednesday, October 11, 2017 at 09.30-
11.30 WIB and located at the laboratory of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine
Sciences, Padjadjaran University. The research method used during the lab is the observation
method, which is also guided by the guidebook of fisheries biology practicum and other
literature. This practice includes the calculation of TL, SL, FL, weight, length of intestine, as well
as discussion of growth, reproduction, and eating habits. The result of the observed tilapia
growth pattern is included in the negative allometric growth pattern because the value of b <3,
the growth of the weight is slower than the long growth so the fish tends to be thin. The sex ratio
of male tilapia 24 and female 13 with the highest frequency gonad maturity level on II. Tilapia
includes omnivore with main feed detritus and additional feed phytoplankton and zooplankton.

Keywords: Food Habits, Growth, Reproduction, Tilapia

1
PENDAHULUAN

Waduk Jatigede dibangun dengan membendung Sungai Cimanuk dan memiliki luas 4.122 ha
serta merupakan waduk multifungsi, salah satu fungsinya yaitu dalam kegiatan perikanan.
Berbagai ikan tumbuh di Waduk Jatigede, salah satunya yaitu ikan nila (Oreochromis niloticus)
Ciri morfologi ikan nila yaitu memiliki sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anal dan sirip
ekor. Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang
(belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis tegak, 7-12 buah.
Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung dengan warna merah
atau kemerahan (atau kekuningan) ketika musim berbiak. Ada garis linea literalis pada bagian
truncus fungsinya adalah untuk alat keseimbangan ikan pada saat berenang. Ikan nila yang
masih kecil belum tampak perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50
gram, dapat diketahui perbedaan antara jantan dan betina. Perbedaan antara ikan jantan dan
betina dapat dilihat pada lubang genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan
jantan, di samping lubang anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing
sebagai saluran pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih
gelap, dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kukuh, sedangkan
yang betina biasanya pada bagian perutnya besar. (Kottelat, M.; A.J. Whitten; S.N. Kartikasari
& S. Wirjoatmodjo,1993.). Ikan nila dilaporkan sebagai pemakan segala (omnivora), pemakan
plankton, sampai pemakan aneka tumbuhan sehingga ikan ini diperkirakan dapat dimanfaatkan
sebagai pengendali gulma air. Ikan Nila merupakan salah satu ikan yang diminati oleh
masyarakat. Dikarenakan jumlah produksi ikan nila meningkat maka kita harus mengetahui dan
mengatur pertumbuhan, reproduksi, dan kebiasaan makan dari ikan nila itu sehingga kita dapat
memprediksi jumlah ikan di ekosistem tersebut. Salah satunya melalui pendekatan biologi
perikanan.

Bahan dan Metode

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan selama praktikum adalah: mikroskop yang berfungsi untuk mengamati
isi usus dan tingkat kematangan telur; petridish sebagai wadah organ saat diamati; counting
chamber berfungsi untuk mengamati organisme yang dimakan ikan; pinset berfungsi untuk
mengambil dan mengeluarkan organ-organ tubuh; gunting bedah sebagai alat untuk membantu
membedah ikan; sonde (penusuk) sebagai alat untuk mematikan ikan dengan menusuk bagian
otaknya; baki sebagai wadah peralatan dan tempat ikan saat dibedah; millimeter blok berfungsi
untuk mengukur panjang tubuh ikan, meliputi TL, SL, FL dan juga panjang usus; sterofoam
sebagai alat bantu untuk mengukur ikan nila; timbangan digital berfungsi untuk menimbang
bobot ikan, gonad, hati. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan selama praktikum adalah:
larutan akuades digunakan untuk mengencerkan isi dari usus; larutan acetokarmin digunakan
untuk membantu agar gonad ikan yang belum matang dapat terlihat antara gonad jantan atau
gonad betina; dan larutan serra digunakan agar gonad tidak mudah menempel dan kering.

Metode
Metode yang digunakan adalah metode observasi dan studi literatur artinya dengan mengamati
dan mengenali langsung objek praktikum dengan mengikuti petunjuk yang terdapat di dalam
buku penuntun praktikum. Kemudian dilakukan pengukuran dan pencatatan ciri morfometrik
(TL, SL, FL) dari setiap objek. Pada praktikum kali praktikan harus memperhatikan aspek
pertumbuhan, reproduksi dan food habits-nya untuk mengetahui aspek biologinya.

Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil praktikum dianalisis dengan cara deskriptif kuantitatif. Data
aspek pertumbuhan dianalisis dengan uji regresi. Data aspek reproduksi dianalisis dengan uji
Chi Square dan data aspek kebiasaan makan atau food habits dianalisis dengan index
propenderan dan tingkat trofik.

2
Hasil dan Pembahasan

Pertumbuhan
Berdasarkan hasil pengukuran panjang dan bobot dari 37 ekor ikan nila (Oreochromis niloticus)
diperoleh distribusi panjang dan bobot ikan sebagai berikut:

Distribusi Panjang Total Ikan Nila


38%
40% 35%
35%

Prsentas (%) 30%


25%
20% 16%
Series1
15%
8%
10%
3%
5% 0%
0%
158-189 190-221 222-253 254-285 286-317 318-349

Interval Panjang Total (mm)

Distribusi Bobot Total Ikan Nila


38%
40%
Presentase (%)

35% 30%
30%
25%
19%
20% Series1
15%
8%
10%
3% 3%
5%
0%
78-136 137-195 196-254 255-313 314-372 373-431

Interval Bobot Total (mm)

Gambar 1. Distribusi Panjang dan Bobot

Distribusi panjang tubuh ikan nila interval panjang total tertinggi di interval 222-253 sebanyak 14
ikan untuk distribusi ikan nila dan interval panjang total terendah pada interval 318-419
sebanyak 1 ekor. Distribusi bobot ikan nila interval bobot ikan tertinggi pada interval 196-254
sebanyak 14 dan interval terendah pada interval 314-372 dan 373-431 sebanyak 1 ekor.
Pola pertumbuhan ikan berkaitan dengan hubungan panjang dan bobot ikan tersebut,
Perbedaan tipe pertumbuhan dari ikan tersebut bisa dipengaruhi faktor luar maupun faktor
dalam. Faktor dalam umumnya sukar dikontrol, antara lain keturunan dan umur ikan. Faktor luar
yang utama mempengaruhi pertumbuhan ialah makanan, suhu perairan dan faktor-faktor kimia
perairan (Effendie 2002).

HUBUNGAN PANJANG DAN BERAT IKAN NILA

2.5

2
berat

1.5

1 y = 1.8141x - 1.9659
R = 0.5636
0.5

0
2.15 2.2 2.25 2.3 2.35 2.4 2.45 2.5 2.55 2.6

panjang

Gambar 2. Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

3
Berdasarkan grafik diatas, ikan nila memiliki nilai b sebesar 1.8141, yang menunjukkan bahwa
pola pertumbuhan ikan nila yang diamati termasuk ke dalam pola pertumbuhan allometrik
negative karena karena nilai b < 3 maka pertumbuhan panjang lebih cepat lebih cepat
dibandingkan pertumbuhan berat ikan (Effendi 2002). Pertumbuhan ikan berbeda setiap
individu karena dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Termasuk faktor dalam adalah faktor
genetik, kesehatan serta keseragaman ukuran ikan tersebut. Sedangkan faktor luar meliputi
kondisi kualitas air, serangan hama dan penyakit serta kondisi pakan ikan. Nilai regresi (R2)
ikan nila sebesar 0,5636 atau sebesar 56,36%. Artinya, 56,36% panjang ikan nila
mempengaruhi bobotnya.

Faktor Kondisi Ikan Nila


1.2 0.9836533151.0293238861.0364093761.0240176511.001780783
1 0.858788888
Faktor Kondisi

0.8
0.6
0.4
0.2
0
158-188 189-219 220-250 251-281 282-312 313-343
Interval Panjang Total (mm)

Gambar 3. Faktor Kondisi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Faktor kondisi dihitung untuk menilai kesehatan ikan secara umum, produktvitas, dan kondisi
fisiologi dari populasi ikan (Ritcher 2007). Berdasarkan grafik di atas faktor kondisi ikan nila
tertinggi terdapat pada interval panjang total 251-281, sedangkan faktor kondisi ikan nila
terendah terdapat pada interval panjang total 158-188. Faktor kondisi yang tinggi menunjukkan
ikan dalam perkembangan gonad, sedangkan faktor kondisi rendah menunjukan ikan kurang
mendapat asupan makanan. Faktor kondisi juga akan berbeda tergantung jenis kelamin ikan,
musim atau lokasi, penangkapan, serta faktor kondisi juga dipengaruhi oleh tingkat kematan
gonad dan kelimpahan makanan (King 1995).

Reproduksi
Rasio kelamin adalah perbandingan antara jantan dan betina dalam suatu populasi (Herawati,
2017).

Rasio Kelamin Ikan Nila

13
24

betina jantan

Gambar 4. Rasio Kelamin Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Rasio kelamin dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan jantan dan betina yang
diperoleh yang disajikan dalam grafik di atas (Gambar 4) dimana jumlah ikan jantan ada 24
ekor dan ikan betina ada 13 ekor dari total ikan yang ada yaitu 37 ekor. Dalam
mempertahankan kelestarian populasi diharapkan perbandingan ikan jantan dan betina berada
dalam kondisi seimbang (1:1) atau setidaknya ikan betina lebih banyak (Sulistiono 2011). Hal ini
menunjukkan bahwa nisbah kelamin ikan nila jantan betina di Waduk Jatigede seimbang.

4
Tingkat Kematangan Gonad (TKG)
Proses perkembangan kematangan gonad ikan meliputi belum berkembang (TKG I),
perkembangan awal (TKG II), sedang berkembang (TKG III), matang (TKG IV) dan pasca
pemijahan (TKG V) (Minggawati, et al 2015).

TKG terhadap Panjang Interval Ikan Nila

78-136 137-195 196-254 255-313 314-372 373-431

TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V

Gambar 5. Tingkat Kematangan Gonad (TKG)

Berdasarkan grafik tingkat kematangan gonad di atas menunjukkan bahwa frekuensi ikan nila
tertinggi ada pada TKG II dengan kisaran panjang tubuh total 196-254. Hal ini menunjukkan
bahwa sebagian besar ikan nila pada bulan September belum siap untuk memijah atau masih
dalam tahap perkembangan awal.

IKG per TKG Ikan Nila


2

1.5
Persentase IKG (%)

0.5

0
I II III IV V
TKG

Gambar 6. Indeks Kematangan Gonad (IKG)

Indeks Kematangan Gonad (IKG)


Indeks Kematangan Gonad adalah suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan bobot
gonad dengan bobot tubuh ikan dikalikan 100%. Nilai IKG meningkat dengan meningkatnya
kematangan gonad (Effendi 1997). Hal tersebut sesuai dengan grafik indeks kematangan
gonad ikan nila diatas yang menunjukkan bahwa IKG meningkat sampai pada TKG IV yaitu
18,4% kemudian menurun di TKG V yaitu 3,2%. Hal ini terjadi akibat proses pemijahan yang
menyebabkan berat gonad berkurang. Tamsil (2000) menyatakan bahwa umumnya gonad ikan
akan terus berkembangdan akan mencapai nilai maksimum pada TKG IV, kemudian menurun
saat memasuki TKG V, karena ikan telah melakukan pemijahan.

HSI per IKG Ikan Nila

2
1.793125
1.5848
Presentase (%)

1.5

1
0.876166667 0.9725
0.5 0.529916667 0.56
0.5
0.3553 0.293916667 0.2884
0
I II III IV V
TKG

IKG HSI

Gambar 7. Grafik Hepatosomatik Indeks

5
Nilai HSI ikan nila meningkat sampai TKG IV dan berbanding lurus dengan IKG. Kenaikan nilai
HSI terlihat berbanding lurus dengan kenaikan nilai GSI (Rovara 2008). Gonado Somatic Index
(GSI) erat kaitannya dengan vitellogenesis yang terjadi di hati. Proses terbentuknya vitelogenin
dimulai dari adanya isyarat-isyarat lingkungan yang semuanya merangsang hipotalamus untuk
mensekresikan Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH). GnRH yang disekresikan ke dalam
darah akan merangsang hipofisis untuk mensekresikan hormon-hormon gonadotropin/GtH.
Nilai HSI mulai menurun pada TKG V. Pada TKG V, IKG menurun karena berat gonad
berkurang akibat pemijahan dan HSI pun akan menurun karena HSI berbanding lurus dengan
IKG/GSI.

Tingkat Kematangan Telur


Tingkat kematangan telur ditentukan berdasarkan kriteria pergeseran posisi inti telur menuju ke
kutub animal dan peluruhan atau penghancuran membran telur. Berdasarkan data hasil
praktikum TKG II yang tertinggi, tingkat kematangan telur pada TKG II posisi inti telur berada
ditengah. Hal ini menunjukan bahwa tingkat kematangan telur pada TKG II memasuki fase II
oosit nucleolus kromatin. Pada fase ini terdapat sedikit sitoplasma, dan posisi inti sudah mulai
nampak atau central germinal vesicle (cGV) yaitu tahap inti ditengah (Herawati 2017). Hal ini
menunjukkan bahwa ikan nila di Waduk Jatigede belum siap untuk memijah.

Fekunditas
Fekunditas adalah jumlah telur yang matang yang akan dikeluarkan pada saat memijah.
Fekunditas yang tertinggi yaitu 2220 butir ada pada TKG IV sedangkan fekunditas terendah
yaitu 103 butir ada pada TKG 1. Menurut Nikolsky (1963) menentukan fekunditas dianjurkan
pada saat ovary ikan dalam tahap kematangan yang ke IV dan yang paling baik sesaat
sebelum pemijahan.

Diameter Telur
Diameter telur adalah garis tengah dari suatu telur yang diukur dengan mikrometer berskala
yang sudah ditera. Diameter telur terkecil yaitu 20 m sedangkan diameter telur terbesar yaitu
375 m. Diameter telur hubungannya dengan kematangan gonad. Apabila tingkat kematangan
gonadnya rendah, diameternya pun rendah (kecil). Hal ini sesuai dengan pendapat Effendie
(2002) bahwa semakin berkembang gonad maka semakin besar pula garis tengah telurnya
sebagai hasil daripada pengendapan butir-butir minyak yang berjalan seiring dengan
perkembangan tingkat kematangan gonad.

Food Habits
Indeks Preponderan digunakan untuk mengetahui organisme apa yang menjadi pakan utama
dan pakan tambahan ikan. Apabila IP lebih besar dari 25% maka termasuk pakan utama,
sedangkan pakan pelengkap apabila 5% IP 25% dan pakan tambahan apabila IP kurang
dari 5% (Nikolsky 1963)

.
80 72.62569832
70
60
Indeks Preponderan (%)

50
40
30 21.86751796
20
10 2.71348763 0.239425379 2.55387071
0
fitoplankton Zooplankton BH BT Detritus
Komposisi Makanan Ikan Nila (%)

Gambar 8. Indeks Preponderan (IP)

Berdasarkan grafik di atas, pakan utama ikan nila sampel yang digunakan dalam praktikum ini
adalah Detritus karena memiliki IP > 25%, sedangkan pakan pelengkap fitoplankton dan

6
zooplankton sedangkan pakan tambahannya adalah bagian hewan, bagian tumbuhan, ikan dan
benthos karena makanan tersebut hanya ada dibawah 5%. Hal ini menunjukkan bahwa ikan
nila termasuk omnivora atau pemakan segala baik organisme hewan maupun tumbuhan.

Indeks Pilihan
Indeks pilihan merupakan perbandingan antara organisme pakan ikan yang terdapat dalam
lambung dengan organisme pakan ikan yang terdapat dalam perairan

Gambar 9. Indeks Pilihan Ikan Nila

Berdasarkan gambar dapat dilihat bahwa pakan yang disukai ikan nila di Waduk Jatigede yaitu
fitoplankton, zooplankton, bagian hewan, bagian tumbuhan dan detritus, pakan yang tidak
disukai yaitu zooplankton, tidak ada seleksi terhadap ikan dan benthos. Nilai indeks pilihan ini
berkisar antara +1 sampai -1, apabila 0<E<1 berartoi pakan digemari, dan jika nilai -1<E<0
berarti pakan tersebut tidak digemari oleh ikan. Jika nilai E=0 tidak ada seleksi oleh ikan
terhadap pakannya (Herawati 2017)

Tingkat Trofik ikan dikategorikan menjadi 3 yaitu tingkat trofik 2 untuk ikan yang bersifat
herbivora, tingkat 2,5 untuk ikan yang bersifat omnivora dan tingkat trofik 3 atau lebih untuk ikan
yang bersifat karnivora (Herawati 2006). Menurut Mudjiman (2001), Ikan Nila (Oreochormis
niloticus) adalah termasuk ikan pemakan campuran (omnivora).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum mengenai aspek pertumbuhan, reproduksi, cara makan dan
kebiasaan makan ikan nila, didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Pola pertumbuhan ikan nila yang diamati termasuk ke dalam pola pertumbuhan allometrik
negative karena karena nilai b < 3 maka pertumbuhan panjang lebih cepat lebih cepat
dibandingkan pertumbuhan berat ikan.
2. Rasio kelamin jantan dan betina 1:1,8, hal itu sesuai dengan rasio yang diharapkan untuk
mempertahankan kelestarian populasi ikan nila.
3. Ikan nila merupakan ikan omnivora (ikan pemakan campuran) karena bahwa pakan yang
disukai ikan nila di Waduk Jatigede yaitu fitoplankton, zooplankton, bagian hewan, bagian
tumbuhan dan detritus, pakan yang tidak disukai yaitu zooplankton, tidak ada seleksi terhadap
ikan dan benthos

SARAN

Saat praktikum biologi perikanan, diantaranya pada pengamatan food habits sebaiknya diamati
dengan sangat teliti dan benar-benar mengacu pada buku planktonologi, serta alat yang
digunakan juga memenuhi sehingga tidak terhambat oleh waktu dan mendapatkan hasil
spesies yang benar.

7
DAFTAR PUSTAKA

Effendi, M. I. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Penerbit Yayasan Dewi Sri. Bogor.

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan.Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.

Effendi, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Penerbit Yayasan Pustaka Utama. Yogyakarta.

Herawati, Titin. 2006. Metode Biologi Perikanan. Unpad Press. Jatinangor.

Herawati, Titin. 2017. Metode Biologi Perikanan : Pedoman Kerja Laboratorium. Unpad Press,
Bandung.

Kottelat, M.; A.J. Whitten; S.N. Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of
Western Indonesia and Sulawesi. Periplus, Jakarta.

Minggawati, I., Sukoso., Bijaksana U., and Hakim.,L. 2015. Gonad maturity level of catfish
Ompok hypopthalmus caught in a flooding swamp area of Rungan river Central
Kalimantan related to water depth. Global Journal of Fisheries and Aquaculture.

Mudjiman, A. 2001. Makanan Ikan. Cetakan IX. Penebar Swadaya. Jakarta.

Nikolsky, G. V. 1963. The Ecology of Fishes. Academic Press. London.

Ritcher, T. J. 2007. Development and Evaluation of Standard Weight Equations for Bridgelip
Sucker and Largerscale Sucker. North American Journal of Fisheries Management,

Rovara O. 2007. Karakteristik Reproduksi, Upaya Maskulinisasi Dan Pematangan Gonad Ikan
Sidat Betina (Anguilla bicolor bicolor) Melalui Penyuntikan Ekstrak Hipofisis. Disertasi.
Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor.

Sulistiono. 2011. Reproduksi Ikan Rejung (Sillago Sihama Forsskal) di Perairan Mayangan,
Subang, Jawa Barat. Jurnal Ikhtiologi Indonesia 11

Tamsil,A. 2000. Studi Beberapa Karakteristik Reproduksi Pra Pemijahan Buatan Ikan Bongo
(G. aureus) Di Danai Tempe Dan Danau Sidenreng Sulawesi Selatan. Disertasi Program
Pasca Sarjana IPB Bogor

Watanabe, T.1998. Nutrition and Mariculture. JICA Textbook. The General Aquaculture Course.
Departement of Aquatic Bioscience. Tokyo Universityof Fisheries. Tokyo

LAMPIRAN

Lampiran 1. Alat dan bahan

8
Ikan, Cawan Petri, Gunting, Pisau Bedah, Milimeter Block
Sonde, Pinset

Lampiran 2. Kegiatan Praktikum

Menimbang Bobot Ikan Membedah Ikan

9
Mengeluarkan Organ Dalam Tubuh Ikan Mengukur Panjang Usus

Memisahkan Gonad Menimbang Bobot Gonad


.

10