Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pembangunan kesehatan pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia. Salah satu upaya pembangunan kesehatan yang dilakukan
untuk meningkatkan derajat kesehatan adalah melalui Program Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)
yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan serta mengurangi dampak
sosial dari penyakit menular. Dengan kemajuan teknologi, di negara maju banyak penyakit menular yang
telah mampu diatasi, bahkan ada yang telah dapat dibasmi. Namun, masalah penyakit menular masih
tetap dirasakan oleh sebagian besar penduduk negara berkembang, salah satunya adalah penyakit
meningitis.
Selaput otak terdiri dari tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu durameter, araknoid,
piameter. Durameter adalah membrane putih tebal yang kasar, dan menutupi seluruh otak dan medulla
spinalis. Araknoid merupakan membrane lembut yang bersatu di tempatnya dengan
piameter, diantaranya terdapat ruang subaraknoid di mana terdapat arteri dan vena serebral dan
dipenuhi oleh cairan serebrospinal. Piameter merupakan membrane halus yang kaya akan pemburu
darah kecil yang mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak. Piameter adalah lapisan yang
langsung melekat dengan permukaan otak dan seluruh medulla spinalis.
Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piameter(lapisan dalam
selaput otak) dan arakhnoid serta dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medula
spinalis yang superfisial atau suatu peradangan selaput otak yang biasanya diikuti pula oleh peradangan
otak atau peradangan pada selaput meninges yang menyelubungi otak yang disebabkan oleh bakteri
atau virus.
Penularan kuman dapat terjadi secara kontak langsung dengan penderita dandroplet
infection yaitu terkena percikan ludah, dahak, ingus, cairan bersin dan cairantenggorok penderita.
Saluran nafas merupakan port dentree utama pada penularanpenyakit ini. Kuman-kuman ini disebarkan
pada orang lain melalui pertukaran udara dari pernafasan dan sekresi-sekresi tenggorokan yang masuk
secara hematogen (melalui aliran darah) ke dalam cairan serebrospinal dan memperbanyak diri
didalamnya sehingga menimbulkan peradangan pada selaput otak dan otak.
Meningitis dapat dibedakan oleh berbagai organisme yang bervariasi, tetapi ada tiga tipe utama yaitu :
1
1. Infeksi bakteri, piogenik yang disebabkan oleh bakteri pembentuk pus, terutama
mengikoku, pneumokokus, dan basil influenza.
2. Tuberculosis, yang disebabkan oleh basil tuberkel (M.Tuberculosa)
3. Infeksi virus, yang disebabkan oleh agen-agen virus yang sangat bervariasi.
Oleh sebab latar belakang di atas yang mengungkapkan masalah kompleks dari meningitis, maka
kami membuat makalah mengenai meningitis yang diharapkan mampu memberi pemahaman kepada
masyarakat Indonesia sehingga dapat meminimalisir insiden meningitis.

1.2 BATASAN TOPIK


SLO
1. Definisi meningitis
2. Epidemiologi meningitis
3. Etiologi meningitis
4. Factor resiko meningitis
5. Manifestasi klinis meningitis
6. Pemeriksaan diagnostic meningitis
7. Penatalaksanaan meningitis
8. Pencegahan meningitis
9. Komplikasi meningitis
10. Patofisiologis meningitis
SLO tambahan
1. GCS
2. LCS
3. CT SCAN

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI MENINGITIS

2
Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piameter (lapisan dalam
selaput otak) dan arakhnoid serta dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan
medula spinalis yang superfisial.
Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges,lapisan yang tipis/encer yang
mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung, disebabkan oleh bakteri, virus, riketsia,
atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis. (Harsono., 2003)
KLASIFIKASI
a. Meningitis Bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah haemofilus influenza,
Nersseria,Diplokokus pnemonia, Sterptokokus group A, Stapilokokus Aurens, Eschericia colli,
Klebsiela dan Pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan
berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan
eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan
terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi
tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan
menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.
b. Meningitis Virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai
jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti; gondok, herpez simplek dan herpez zoster.
Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan
tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh koteks
cerebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi
tergantung pada jenis sel yang terlibat
2.2 EPIDEMIOLOGI
Di Negara maju, insidensi meningitis bacteria adalah 5-10 per 100.000 per tahun.
Tiga organism umum yang memiliki pola kejadian khusus:
Meningitis meningokokal yang dapat terjadi pada epidemi.
Haemophilus influenza umumnya mengenai anak di bawah 5 tahun.
Infeksi pneumokokus lebih sering terjadi pada pasien usia lanjut dan juga berhubungan dengan
alkoholisme dan splenektomi. Infeksi dapat menyebar ke meningen dari struktur yang
berdekatan (telinga, nasofaring) atau dari paru-paru melalui aliran darah.

3
Terdapat 3 kasus per 100.000 orang per tahun di Amerika Serikat, median usia 25 tahun.
Factor resiko meliputi usia ekstrem, splenektomi, penyakit sel sabit, alkoholisme, penyakit hepar,
otitis media, sinusitis, pneumonia, diabetes, imunosupresi, pintasan ventrikel, kebocoran cairan
sererospinal (CSS), dan prosedur pembedahan saraf tertentu.
Meningitis yang didapat dari komunitas didahului oleh kolonisasi nasofaring.
Sejak penggunaan vaksin Haemophilus influenza meluas, insidensi meningitis bacterial menurun
dan terdapat pergeseran pada sebagian besar mikroorganisme penyebab yang paling mungkin.
- < 1 bulan: Streptococci grup B
- > 1 bulan ke atas : Streptococcus pneumonia (pneumococcus)
- Neisseria meningitidis (meningococcus) : biada pada usia 2 sampai 18 tahun.
Infeksi streptococcus yang resisten terhadap penisilin sekarang diperkirakan 25% sampai 35% (>
40% pada anak usia 6 tahun) dan yang resisten terhadap cefatoxime adalah 15%.
Staphylococcus dan mikroorganisme gram negative lebih umum pada pasien tua dan pada infeksi
akibat trauma dan pajanan nosokomial.
Listeria monocytogenes menyebabkan sampai 10% infeksi, terutama, pada bayi baru lahir
(kemungkinan bersumber dari GI).
Meningitis bacterial akut hamper selalu fatal jika tidak ditangani, terdapat 10% mortalitas
meskipun telah mendapat terapi.
Distribusi Frekuensi Meningitis
a. Orang/ Manusia
Penyakit meningitis lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan
distribusi terlihat lebih nyata pada bayi. Meningitis purulenta lebih sering terjadi pada bayi dan
anak-anak karena sistem kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna. Puncak insidensi kasus
meningitis karena Haemophilus influenzae di Negara berkembang adalah pada anak usia kurang
dari 6 bulan, sedangkan di Amerika Serikat terjadi pada anak usia 6-12 bulan. Sebelum tahun
1990 atau sebelum adanya vaksin untuk Haemophilus influenzae tipe b di Amerika Serikat, kira-
kira 12.000 kasus meningitis Hib dilaporkan terjadi pada umur < 5 tahun. Insidens Rate pada usia
< 5 tahun sebesar 40-100 per 100.000. Setelah 10 tahun penggunaan vaksin, Insidens Rate
menjadi 2,2 per 100.000. Di Uganda (2001-2002) Insidens Rate meningitis Hib pada usia < 5
tahun sebesar 88 per 100.000.
b. Tempat
Penyakit meningitis banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang dibandingkan
pada negara maju. Insidensi tertinggi terjadi di daerah yang disebut dengan the African

4
Meningitis belt, yang luas wilayahnya membentang dari Senegal sampai ke Ethiopia meliputi 21
negara. Kejadian penyakit ini terjadi secara sporadis dengan Insidens Rate 1-20 per 100.000
penduduk dan diselingi dengan KLB besar secara periodic. Di daerah Malawi, Afrika pada tahun
2002 Insidens Rate meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae 20-40 per 100.000
penduduk.
c. Waktu
Kejadian meningitis lebih sering terjadi pada musim panas karena kasus-kasus infeksi
saluran pernafasan juga meningkat. Di Eropa dan Amerika utara insidensi infeksi Meningococcus
lebih tinggi pada musim dingin dan musim semi sedangkan di daerah Sub-Sahara puncaknya
terjadi pada musim kering. Meningitis karena virus berhubungan dengan musim, di Amerika
sering terjadi selama musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen
pengantar virus. Di Amerika Serikat pada tahun 1981 Insidens Rate meningitis virus sebesar 10,9
per 100.000 Penduduk dan sebagian besar kasus terjadi pada musim panas.
Determinan Meningitis
a. Host/ Pejamu
Meningitis yang disebabkan oleh Pneumococcus paling sering menyerang bayi di bawah
usia 2 tahun. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus 3,4 kali lebih besar pada
anak kulit hitam dibandingkan yang berkulit putih. Meningitis Tuberkulosa dapat terjadi pada
setiap kelompok umur tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak usia 6 bulan sampai 5 tahun
dan jarang pada usia di bawah 6 bulan kecuali bila angka kejadian Tuberkulosa paru sangat
tinggi. Diagnosa pada anak-anak ditandai dengan test Mantoux positif dan terjadinya gejala
meningitis setelah beberapa hari mendapat suntikan BCG.
Penelitian yang dilakukan oleh Nofareni(1997-2000) di RSUP H.Adam Malik menemukan
odds ratio anak yang sudah mendapat imunisasi BCG untuk menderita meningitis Tuberculosis
sebesar 0,2. Penelitian yang dilakukan oleh Ainur Rofiq (2000) di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (RSCM) mengenai daya lindung vaksin TBC terhadap meningitis Tuberculosis
pada anak menunjukkan penurunan resiko terjadinya meningitis Tb pada anak sebanyak 0,72
kali bila penderita diberi BCG dibanding dengan penderita yang tidak pernah diberikan BCG.
Meningitis serosa dengan penyebab virus terutama menyerang anak-anak dan dewasa
muda (12-18 tahun). Meningitis virus dapat terjadi waktu orang menderita campak, Gondongan
(Mumps) atau penyakit infeksi virus lainnya. Meningitis Mumpsvirus sering terjadi pada
5
kelompok umur 5-15 tahun dan lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan.
Penelitian yang dilakukan di Korea (Lee,2005) , menunjukkan resiko laki-laki untuk menderita
meningitis dua kali lebih besar dibanding perempuan.
b. Agent
Penyebab meningitis secara umum adalah bakteri dan virus. Meningitis purulenta paling
sering disebabkan oleh Meningococcus, Pneumococcus dan Haemophilus influenzae sedangkan
meningitis serosa disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa dan virus. Bakteri
Pneumococcus adalah salah satu penyebab meningitis terparah. Sebanyak 20-30 % pasien
meninggal akibat meningitis hanya dalam waktu 24 jam. Angka kematian terbanyak pada bayi
dan orang lanjut usia.
Meningitis Meningococcus yang sering mewabah di kalangan jemaah haji dan dapat
menyebabkan karier disebabkan oleh Neisseria meningitidis serogrup A,B,C,X,Y,Z dan W 135.
Grup A,B dan C sebagai penyebab 90% dari penderita. Di Eropa dan Amerika Latin, grup B dan C
sebagai penyebab utama sedangkan di Afrika dan Asia penyebabnya adalah grup A. Wabah
meningitis Meningococcus yang terjadi di Arab Saudi selama ibadah haji tahun 2000
menunjukkan bahwa 64% merupakan serogroup W135 dan 36% serogroup A. Hal ini merupakan
wabah meningitis Meningococcus terbesar pertama di dunia yang disebabkan oleh serogroup
W135. Secara epidemiologi serogrup A,B,dan C paling banyak menimbulkan penyakit.
Meningitis karena virus termasuk penyakit yang ringan. Gejalanya mirip sakit flu biasa
dan umumnya penderita dapat sembuh sendiri. Pada waktu terjadi KLB Mumps, virus ini
diketahui sebagai penyebab dari 25 % kasus meningitis aseptik pada orang yang tidak
diimunisasi. Virus Coxsackie grup B merupakan penyebab dari 33% kasus meningitis aseptik,
Echovirus dan Enterovirus merupakan penyebab dari 50% kasus. Resiko untuk terkena aseptik
meningitis pada laki-laki 2 kali lebih sering dibanding perempuan.
c. Lingkungan
Faktor Lingkungan (Environment) yang mempengaruhi terjadinya meningitis bakteri yang
disebabkan oleh Haemophilus influenzae tipe b adalah lingkungan dengan kebersihan yang
buruk dan padat dimana terjadi kontak atau hidup serumah dengan penderita infeksi saluran
pernafasan. Risiko penularan meningitis Meningococcus juga meningkat pada lingkungan yang
padat seperti asrama, kampkamp tentara dan jemaah haji.

6
Pada umumnya frekuensi Mycobacterium tuberculosa selalu sebanding dengan frekuensi
infeksi Tuberculosa paru. Jadi dipengaruhi keadaan sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Penyakit ini kebanyakan terdapat pada penduduk dengan keadaan sosial ekonomi rendah,
lingkungan kumuh dan padat, serta tidak mendapat imunisasi.
Meningitis karena virus berhubungan dengan musim, di Amerika sering terjadi selama
musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Lebih sering
dijumpai pada anak-anak daripada orang dewasa. Kebanyakan kasus dijumpai setelah infeksi
saluran pernafasan bagian atas.
2.3 ETIOLOGI MENINGITIS
Menurut Arif Muttaqin (2008), penyebab-penyebab dari meningitis meliputi :
a. Bakteri patogenik yang disebabkan oleh bakteri pembentukan pus, terutama meningokokus,
pneumokokus, dan basil influenza.
a. Virus yang disebabkan oleh agen-agen virus yang sangat bervariasi.
b. Organisme jamur
Menurut Sylvia Price dan Lorraine M. Wilson (2006) , virus-virus pada umumnya menggandakan
dirinya sendiri pada bagian infeksi awal (misalnya, system nasofaringeal atau GI) dan kemudian
menyebar ke SSP melalui system vascular. Berlawanan dengan pemikiran yang terdahulu, sawar darah
otak tidak memberikan perlindungan yang sempurna dalam melawan serangan virus. Virus penyebab
infeksi saraf pusat adalah :
1. Enterovirus :
- Poliovirus
- Virus coxsackie (coxsacklevirus) tipe A dan tipe B
- Echovirus
2. Herpesvirus :
- Virus herpes simpleks tipe 1 dan 2
- Sitomegalovirus
3. Miksovirus :
- Virus campak
- Virus parotitis
- Virus influenza
Aziz Alimul Hidayat (2008) mengklasifikasikan bakteri penyebab meningitis bacterial tersering menurut
usia, yaitu sebagai berikut :
Bakteri pathogen < 3 bulan 3 bulan - < 18 tahun 18 50 tahun >50 tahun
Streptococcus grup B +
Escheria Coli +
Listeria monocytogenes + +

7
Neisseria meningitides + +
Streptococcus pneumonia + + +
Haemophillus influenza +

2.4 FAKTOR RESIKO


Faktor risiko utama untuk meningitis adalah respon imunologi terhadap pathogen spesifik yang
lemah terkaitdengan umur muda. Risiko terbesar pada bayi antara umur 1 dan 12 bulan ; 95 % kasus
terjadi antara umur 1 bulan dan 5 tahun, tetapi meningitis dapat terjadi pada semua umur.
Risiko tambahan untuk meningitis adalah adanya kolonisasi baru dengan bakteri pathogen,
kontak erat dengan individu yang menderita penyakit invasive (rumah, pusat perawatan harian, sekolah,
asrama tentara), penuh sesak, kemiskinan, ras kulit hitam, jenis kelamin laki-laki dan kemungkinan tidak
mendapatkan ASI pada bayi umur 2 sampai 5 bulan.
Risiko meningitis bertambah pada penderita dengan dugaan bakterimia tersembunyi, rasio odd
lebih besar pada meningokukus (85 kali) dari Haemophillus influenza tipe B (12 kali) relative terhadap
meningitis, seperti ditunjukkan oleh hubungan meningitis dengan selulitis fasial karena Haemophillus
influenza tipe B pada anak di bawah umur 4 tahun.
Cacat pada pertahanan hospes spesifik karena produksi immunoglobulin yang berubah dalam
responnya terhadap pathogen berkapsul dapat menyebabkan pertambahan risiko meningitis bakteri.
Trauma tembus cranium dan infeksi shunt CSS menaikkan risiko meningitis karena stafilokokus (terutama
spesies koagulase-negatif) dan bakteri kulit lain.
Risiko pada anak juga sangat bertambah pada kontak keluarga atau pusat perawatan harian
penderita dengan Haemophillus influenza tipe B. Otitis media karena infeksi kebocoran CSS dan
bakterimia tersembunyi juga menaikkan risiko meningitis. Risiko meningitis adalah 5 samapi 36 kali lebih
besar pada anak kulit hitam daripada kulit putih. Pada anak kulit hitam dengan anemia sel sabit, insiden
akan bertmabah sampai lebih dari 300 kali insiden anak dengan kulit putih. Sekitar 4% anak dengan
anemia sel sabit akan mengembangkan meningitis pneumokokus sebelum usi 5 tahun jika mereka tidak
diberi antibiotic profilaksis.
Faktor risiko tambahan untuk menderita meningitis pneumokokus adalah bersama otitis media,
sinusitis, pneumonia, otorrhea, ataurhinorrea CSS, splenoktomi, dan penyakit cangkok lawan-hospes
kronis pasca transplantasi sumsum tulang. (George Dewanto, 2009)
Menurut Berhman, dkk (2008) factor risiko meningitis meliputi usia ekstrem, splenoktomi,
penyakit sel sabit, alkoholisme, penyakit hepar, otitis media, sinusitis, pneumonia, diabetes,
8
imunosupresi, pintasan ventrikel, kebocoran cairan serebrospinal (CSS), dan prosedur pembedahan saraf
terbaru.
2.5 MANIFESTASI KLINIS MENINGITIS
Umum:
1. Aktivitas / istirahat : Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter,
kelemahan, hipotonia
2. Sirkulasi ;Riwayat endokarditis, abses otak, TD , nadi , tekanan nadi berat, takikardi
dan disritmia pada fase akut
3. Eliminasi ; Adanya inkontinensia atau retensi urin
4. Makanan / cairan ; Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering
5. Higiene: Tidak mampu merawat diri
6. Neurosensori: Sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensasi, Hiperalgesiameningkatnya
rasa nyeri, kejang, gangguan penglihatan, diplopia, fotofobia, ketulian, halusinasi
penciuman, kehilangan memori, sulit mengambil keputusan, afasia, pupil anisokor,
hemiparese, hemiplegia, tandaBrudzinskipositif, rigiditas nukal, refleks babinski posistif,
refkleks abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada laki-laki
7. Nyeri / kenyamanan: Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler,
fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh
8. Pernafasan: Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas , letargi dan gelisah
Khusus (berdasarkan usia)
a. Neonatus
1) Gejala tidak khas
2) Panak (+)
3) Anak tampak malas, lemah, tidak mau minum, muntah dan kesadaran menurun.
4) Ubun-ubun besar kadang kadang cembung.
5) Pernafasan tidak teratur.
b. Anak Umur 2 Bulan Sampai Dengan 2 Tahun yaitu:
1) Gambaran klasik (-).
2) Hanya panas, muntah, gelisah, kejang berulang.
3) Kadang-kadang High Pitched Ery.
c. Anak Umur Lebih 2 Tahun
9
1) Panas, menggigil, muntah, nyeri kepala.
2) Kejang
3) Gangguan kesadaran.
4)Tanda-tanda rangsang meninggal, kaku kuduk, tanda brudzinski&
kernig (+).
(Japardi,Iskandar, 2002)
2.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC MENINGITIS
A. Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein cairan cerebrospinal,
dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
a. Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel darah putih
meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (-).
b. Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh, jumlah sel darah putih dan
protein meningkat, glukosa menurun, kultur (+) beberapa jenis bakteri.

Indikasi pungsi lumbal :


Setiap pasien dengan kejang atau twitching baik yg diketahui dari anamnesis atau yg dilihat
sendri.
Adanya peresis atau paralysis dalam hal ini termasuk strabismus karena paresis.
Koma
Ubun-ubun besar menonjol
Kaku kuduk dan kesadaran menurun
Tuberkulosis miliaris dan spondilitis tuberculosis
B. Pemeriksaan darah
Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju Endap Darah (LED), kadar glukosa,
kadar ureum, elektrolit dan kultur.
a. Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Disamping itu pada Meningitis
Tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED.
b. Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit.
c. AL normal atau meningkat tergantung etiologi
d. Hitung jenis didominasi sel polimorfonukleus atau limfosit
e. Kultur 890% (+), untuk TBC 2% (+)
C. Pemeriksaan Radiologis
a. Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin
dilakukan CT Scan.

10
b. Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid, sinus
paranasal, gigi geligi) dan foto dada.
D. Cairan serebrospinalis : lengkap dan kultur
Pada meningitis purulenta, di peroleh hasil pemeriksan cairan serebrospinal yang keruh karenaq
mengandung pus, nanah yang merupakan campuran leukosit yang hidup dan mati, jaringan yang
mati dan bakteri.
E. Cairan otak: periksa lenkap termasuk pemeriksaan mikrobiologis
Pada meningitis serosa di eroleh hasil emeriksaan cairan serebrospinal yang jernih meskipun
mengandung sel dan jumlah protein yang meninggi.
Pemeriksaan penunjang lain :
1. Kultur swab hidung dan tenggorokan (suriadi dkk, asuhan keperawatan pada anak, ed.2006).
2. Mikroskopik : bikan dan sensitivitas ; darah, tinja, usap tenggorokan, urin rapid antigen
screen.
3. LP untuk CSS : merupakan kontra indikasi jika dicurigai tanda neurologis fokal atau TIK
meningkat.
4. CSS pada meningitis bakteri : netrofil, protein meningkat (1-5g/L), glukosa menurun ( kadar
serum <50% ).
5. CSS pada meningitis virus : limfosit (pada mulanya netrofil) protein normal/meningkat ringan,
glukosa normal, PCR untuk diagnosis.
6. CSS mikroskopik ( pulasan gram misalnya, untuk basil tahan asam pada meningitis TB ), biakan
dan sensitivitas.

Pemeriksaan pelengkap
CRP darah dan cairan cerebrospinal
Peningkatan kadar laktat cairan cerebrospinal
Penurunan pH cairan cerebrospinal
LDK, CPK, GOT
Khusus untuk kasus TBC:
Kurasan lambung
Takahashi, PAP, Imuzim
Uji PPD, BCG, Ro thorak
CT scan kepala
Funduskopi untuk melihat tuberkel di retina

11
2.7 PENATALAKSANAAN
Infeksi Intrakranial Lapisan yang menutupi otak dan medulla spinalis (Meningitis). Sumber
penyebab dapat berupa bakteri, virus atau jamur (fungi) dan hasilnya / penyembuhannya dapat komplet
(sembuh total) sampai pada menimbulkan penurunan neurologis dan juga sampai terjadi kematian.
MEDIS
1. PEMBERIAN ANTIBIOTIK
Pemberian antibiotic harus tepat dan cepat sesuai dengan bakteri penyebabnya dan dalam dosis
yang cukup tinggi. Sambil menunggu hasil biakan sebaiknya diberikan antibiotic dengan spektrum luas.
Antibiotik diberikan selama 10 14 hari atau sekurang-kurangnya 7 hari setelah demam bebas.
Pemberian antibiotik sebaiknya secara parental.
Kadang kadang pada pemberian antibiotic selama 4 hari, tiba-tiba suhu meningkat lagi.
Keadaan demikian ini dapat disebabkan oleh flebitis di tempat pemberian cairan parental atau intravena.
Sementara itu, suhu yang tetap tinggi dapat disebabkan oleh pemberian antibiotic yang tidak tepat atau
dosis yang tidak cukup atau telah terjadi efusi subdural,empiema, atau abses otak.
Penisilin G diberikan untuk mengatasi infeksi pneumokok, streptokok dan meningokok dengan
dosis 1-2 juta unit setiap 2 jam. Terhadap infeksi hemofilus sebaiknya diberikan kloramfenikol 4 x 1
gram/24 jam atau ampisilin 4 x 3 gram setiap 24 jam intravena. Untuk meningkok dipakai sulfadiazine
sampai 12 x 500 mg dalam 24 jam selama kurang lebih 10 hari. Gentamisin dipergunakan untuk
memberantas Escheria coli, klebsiela, proteus, dan kuman-kuman gram negatif.
2. MANAJEMEN TERAPI
1. Isolasi
2. Terapi antimikroba: antibiotik yang diberikan berdasarkan pada hasil kultru, diberikan dengan
dosis tinggi melalui intravena.
3. Mempertahankan hidrasi optimum: mengatasi kekurangan cairan dan mencegah kelebihan
cairan yang dapat menyebabkan edema.
4. Mencegah dan mengobati komplikasi: aspirasi efusi subdural (pada bayi), terapi heparin pada
anak yang mengalami DIC,
5. Mengontrol kejang: pemberian terapi antiepilepsi
6. Mempertahankan ventilasi
7. Mengurangi meningkatnya tekanan intra cranial
8. Penatalaksanaan syok bacterial
9. Mengontrol perubahan suhu lingkungan yang ekstrim
10. Memperbaiki anemia
2.8 PENCEGAHAN MENINGITIS
12
Meningitis, terutama disebabkan oleh bakteri dan virus, tertentu dapat dicegah dengan vaksinasi dan
profilaksis atau dicegah antibiotik dan obat-obatan antara mereka yang telah terkena infeksi.

Vaksinasi mungkin terhadap infeksi rutin sebagai bagian dari program imunisasi anak atau mereka
mungkin usia dan imunitas spesifik dan spesifik bagi wisatawan untuk daerah dengan tinggi kejadian
infeksi tertentu.

1. Vaksinasi rutin untuk anak-anak

Vaksin yang terkenal untuk anak-anak antara penyebab dapat dicegah meningitis meliputi:

Vaksin mengingococcal terhadap tipe C meningococcus


Konjugat vaksin pneumokokus (PCV) yang melindungi terhadap infeksi pneumokokus. Vaksin
pneumokokus polisakarida mencakup lebih dari 23 strain.

virus penyebab seperti campak dan gondok oleh campak, gondok dan vaksin Rubela

DTaP/IPV/Hib vaksinasi yang melindungi terhadap Hemophilus influenza tipe b, difteri, batuk
rejan, tetanus dan polio

Vaksinasi masa kanak-kanak dengan Bacillus Calmette-Gurin atau BCG telah dilaporkan secara
signifikan mengurangi tingkat tuberculous meningitis

Semua anak harus menerima vaksin ini sebagai bagian dari program vaksinasi masa kanak-kanak mereka.

2. Vaksin untuk orang tua dan orang-orang dengan kekebalan ditekan

Orang-orang lebih dari 65 dan orang-orang dengan penyakit yang mengurangi kekebalan yang
membutuhkan untuk cakupan melawan organisme tertentu yang dapat menyebabkan meningitis.

Prestasi paling mengagumkan adalah vaksin pneumokokus yang melindungi terhadap meningitis
pneumokokus. PCV diberikan secara khusus dalam kelompok-kelompok tertentu (misalnya mereka yang
memiliki splenectomy, operasi pengangkatan limpa)
13
3. Vaksin untuk tunggal

Mereka yang bepergian ke daerah dengan tinggi kejadian infeksi menuju meningitis perlu divaksinasi
sebelum mereka bepergian. Vaksin mereka perlu menyertakan mereka terhadap kelompok-kelompok A,
C, W135 dan Y meningococcal bakteri dan vaksin pneumokokus terhadap infeksi pneumokokus.

Daerah berisiko tinggi termasuk Afrika terutama jika orang berencana untuk perjalanan lebih dari
sebulan, memutuskan untuk pergi hiking atau backpacking, mengunjungi daerah pedesaan lokal, atau
menghadiri ziarah Haji atau Umrah di Arab Saudi.

4. Antibiotik untuk pencegahan meningitis

Antibiotik seperti Rifampicin yang diberikan untuk jangka pendek di antara semua orang yang terkena
meningococcal meningitis. Dalam kasus meningococcal meningitis, perawatan profilaksis kontak dekat
dengan antibiotik (misalnya rifampicin, siprofloksasin atau ceftriaxone) dapat mengurangi risiko tertular
kondisi.

Tidak seperti vaksin, antibiotik tidak melindungi terhadap infeksi masa depan pada pemaparan terhadap
infeksi.

Pencegahan menurut Smeltzer, et.all (2002)

Individu yang kontak langsung dengan pasien harus dipertimbangkan akan menerima
antimikroba profilaksis (rifampin)
Kontak langsung diobservasi dan diperiksa secara langsung bila demam atau tanda dan gejala
meningitis lain yang berkembang.
Vaksin berguna bagi beberapa yang mengunjungi daerah yang mengalami epidemik penyakit
meningokokkus, vaksinasi juga harus dipertimbangkan sebagai tambahan antibiotik
kemoprofilaksis untuk beberapa orang yang tinggal dengan pasien yang mengalami infeksi
meningococcus.
Vaksin polisakarida (Haemophilus b polysaccharide vaccine) melawan masuknya Haemophilus
Influenza type b.
2.9 KOMPLIKASI MENINGITIS
Komplikasi mayor meningitis bakteri
1. Cerebral - Edema otak dengan resiko herniasi
14
2. Komplikasi pembuluh darah arteri: arteritis vasopasme, fokal kortikal hiperperfusi, gannguan
serebrovaskular autoregulasi
3. Septik sinus/ trombosis venous terutama sinus sagitalis superior, tromboflebitis kortikal
4. Hidrosefalus
5. Serebritis
6. Subdural efusi (pada bayi dan anak)
7. Abses otak, subdural empiemi

Komplikasi ekstrakranial
1. Septik shock
2. DIC
3. Respiratory distress sindrom
4. Arteritis (septik atau reaktif)
5. Ggn elektrolit: hiponatremi, SIADH,
6. central diabetes insipidus (jarang)
7. Komplikasi spinal :mielitis, infark
8. Ketulian
9. Gangguan mental

2.11 SLO TAMBAHAN


1. GCS
Kesadaran adalah istilah yang digunakan untuk berbagai aspek hubungan antara pikiran dan
dunia dimana ia berinteraksi. Seperti subjekif; kewaspadaan; kemampuan merasakan; keterjagaan;
memiliki rasa selfhood; atau sistem kontrol pikiran. Kesadaran dapat dinilai secara kuantitas, lain dengan
fungsi luhur yang merupakan nilai kualitatif kesadaran seseorang. Derajat kesadaran secara kuantitas
dapat dinilai yaitu dengan menggunakan Glasgow Coma Scale.
Glasgow Coma Scale (GCS) adalah skala yang menilai tiga fungsi , yaitu mata (E=eyes), verbal (V), dan
gerak motorik (M). Ketiga fungsi masing-masing dinilai dan pada akhirnya dijumlahkan dan hasilnya
merupakan derajat kesadaran. Semakin tinggi nilai menunjukkan semakin baik nilai kesadaran. Nilai
terendah adalah 3 (koma dalam atau meninggal), dan yang tertinggi adalah nilai 15 (kesadaran penuh).

Respon Mata (Eyes)


1. Tidak dapat membuka mata
2. Mata membuka dengan rangsang nyeri. Biasanya rangsang nyeri pada dasar kuku-kuku jari; atau
tekanan pada supraorbita, atau tulang dada, atau tulang iga

15
3. Mata membuka dengan rangsang suara. (jangan keliru dengan pasien yang baru terbangun dari
tidur, pasien seperti demikian mendapat nilai 4 bukan 3)
4. Mata membuka spontan
Respon Verbal (V)
1. Tidak ada respon suara
2. Suara-suara tak berarti (mengerang/mengeluh dan tidak berbentuk kata-kata)
3. Kata-kata tidak berhubungan (Berkata-kata acak atau berseru-seru, namun tidak sesuai
percakapan
4. Bingung atau disorientasi (pasien merespon pertanyaan tapi terdapat kebingungan dan
disorientasi)
5. Orientasi baik (pasien merespon dengan baik dan benar terhadap pernyataan, seperti nama,
umur, posisi sekarang dimana dan mengapa, bulan, tahun, dsb)

Respon Motorik (M)


1. Tidak ada respon gerakan 20
2. Ekstensi terhadap rangsang nyeri (abduksi jari tangan, bahu rotasi interna, pronasi lengan
bawah,ekstensi pergelangan tangan)
3. Fleksi abnormal terhadap rangsang nyeri (adduksi jari-jari tangan, bahu rotasi interna, pronasi
lengan bawah, flexi pergelangan tangan)
4. Flexi/penarikan terhadap rangsang nyeri (fleksi siku, supinasi lengan bawah, fleksi pergelangan
tangan saat ditekan daerah supraorbita; menarik bagian tubuh saat dasar kuku ditekan)
5. Dapat melokalisasi nyeri (gerakan terarah dan bertujuan ke arah rangsang nyeri; misal tangan
menyilang dan mengarah ke atas klavikula saat area supraorbita ditekan
6. Dapat bergerak mengikuti perintah (melakukan gerakan sederhana seperti yang diminta)

CARA PENILAIAN

no Jenis pemeriksaan Nilai Respon

1 Eye (mata)

a. spontan 4 Mata terbuka secara spontan

16
b. rangsangan suara 3 Mata terbuka terhadap perintah verbal

c. rangsangan nyeri 2 Mata terbuka terhadap rangsangan nyeri

d. tidak ada 1 Tidak membuka mata terhadap rangsangan


apapun

2 Respon verbal

a. orientasi baik 5 Orientasi baik dan mampu berbicara

b. bingung 4 Disorientasi dan bingung

c. mengucapkan kata yang tidak tepat 3 Mengulang kata-kata yang tidak tepat
secara acak

d. mengucapkan kata-kata yang tidak jelas 2 Mengeram atau merintih 21


e. tidak ada 1 Tidak ada respon

3 Respon motorik

a. mematuhi perintah 6 Dapat bergerak mengikuti perintah

b. melokalisasi 5 Dapat melokalisasi nyeri (gerakan terarah


dan bertujuan ke arah rangsang nyeri)

c. menarik 4 Fleksi atau menarik saat di rangsang nyeri


contoh: menarik tangan saat kuku di tekan

d. fleksi abnormal 3 Membentuk posisi dekortikasi. Contoh:


fleksi pergelangan tangan

e. ekstensi abnormal 2 Membentuk posisi deserebrasi.contoh :


ekstensi pergelangan tangan

f. tidak ada 1 Tidak ada respon, hanya berbaring lemah,


saat di rangsang apapun

17
Interpretasi

Nilai masing-masing elemen dan jumlah keseluruhan sangatlah penting, sehingga nilai ditulis
dalam bentuk, misalnya GCS 9 = E2 V4 M3 pada 07:35. Secara umum, cedera otak diklasifikasikan
sebagai berikut :

Berat, dengan GCS 8

Sedang, GCS 9 12

Ringan, GCS 13.

Intubasi trakea dan pembengkakan atau kerusakan wajah/mata yang berat membuat penilaian
verbal dan mata menjadi sulit. Pada kasus seperti ini, nilai adalah 1 dengan tambahan keterangan,
misalnya E1c dimana c= closed/tertutup, atau V1t dimana t = tube. Sebaliknya dapat juga ditulis
GCS 5ct, hal ini berarti, mata tertutup karena pembengkakak=1, intubasi=1, dan sisanya nilai motot=3
(misal pasien dengan fleksi abnormal). Sering juga ditulis tanpa nilai 1, sehingga ditulis Ec atau Vt.
GCS tidak sesuai digunakan pada anak, terutama di bawah usia 36 bulan (dimana kemampuan
verbal sulit dinilai). Sehingga untuk anak terdapat Pediatric Glasgow Coma Scale, dengan penilaian yang
hampir sama, namun disesuaikan dengan pertumbuhan anak yang lebih kecil.

2. LCS
LCS adalah suatu cairan yang menyerupai cairan limfe yang terdapat di dalam otak. Cairan ini
memiliki komposisi yang hampir sama dengan plasma darah, yaitu Natrium, Kalium, Urea, Asam laktat
dan Sulfonamid, serta 12 zat lain yang komposisinya berbeda dengan plasma darah. Komposisi LCS dapat
berubah-ubah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya :
1. Perubahan jumlah dan zat dalam darah danplasma darah
2. Perubahan permeabilitas pembuluh darah dan selaput otak
3. Eksudat inflamasi pada selaput meningeal
4. Perubahan permeabilitas dari flexus meningeal
LCS memiliki 4 fungsi yaitu :
1. Menerima hasil metabolisme otak dan susunan saraf pusat
2. Memberi nutrisi pada susunan saraf pusat
3. Sebagai bantalan yang dapat mencegah terjadinya kerusakan otak akibat benturan

18
4. Sebagai regulator tekanan volume intracranial

LCS diperoleh melalui punksi. Punksi bertujuan untuk membantu diagnosa seperti mencari penyebab
keracunan otak, untuk therapi dan juga untuk evaluasi hasil therapi. Punksi ada 5 macam, yaitu :
1. Lumbal Punksi
yaitu pengambilan punksi pada vertebra lumbal dan systerna lumbal IV dan V. Cara ini sering
dikerjakan di laboratorium karena mudah dan tidak berbahaya.
22
2. Thoraco Punksi
yaitu punksi yang dilakukan pada vertebra thorakalis
3. Systernal Punksi
Punksi yang dilakukan pada daerah tengkuk yang menuju langsung ke arah systerna magna. Punksi
ini memiliki lebih mudah dikerjakan karena lubang yang terjadi lebih besar, tetapi juga lebih
berbahaya. Karena di depan systerna magna terdapat medula colongata yang akan terluka jika
tertusuk.
4. Ventrikulo Punksi
Punksi yang dilakukan pada ventrikel lateralis.
5. Fontanella punksi
Punksi yang dilakukan pada fontanella capitis. Biasanya dilakukan pada bayi yang bagian tulang
tengkoraknya belum tertutup.
Penampungan LCS hampir sama dengan penampungan transudat-eksudat. Hanya yang berbeda adalah
jumlah botol yang digunakan, yaitu :
Botol I : dibuang karena banyak mngandung sel-sel
Botol II : untuk pemeriksaan kimia
Botol III : untuk pemeriksaan mikrobiologi
Botol IV : untuk pemeriksaan rutin (dengan anticoagulant plasma citrat 1:9)
Pemeriksaan LCS harus dilakukan dalam waktu <30 menit. Karena bila waktunya >30 menit maka jumlah
sel akan berkurang yang disebabkan karena :
a. Sel-sel mengalami cytolisis
b. Sel-sel mengendap sehingga sulit mendapatkan sampel yang homogen
c. Sel-sel terperangkap dalam bekuan
d. Sel-sel mengalami perubahan morfologi
19
Indikasi
a. Koma yang tidak diketahui jelas penyebabnya
b. Iritasi pada selaput meningeal
c. Tanda-tanda pendarahan subarachnoid
d. Gejala poliomyelitis
e. Diagnosa neurolues (syphillis stadium IV) 23
f. Tanda-tanda meningitis bacterial
g. Penurunan tekanan intracranial

Kontra indikasi
a. Kenaikan tekanan intracranial
b. Deformitas columna vertebrals pada daerah tusukan
c. Septichemia
d. Tumor cerebrum
e. Infeksi/decubitas pada daerah tusukan

Parameter Nilai normal

Tekanan Intrakranial Bayi :8-10 mmHg

anak dan dewasa : < 15 mmHg


Jumlah sel Preterm: 0-25 (PMN 57%)

WBC count/L Aterm 0-30 hari: 7,3 13,9 (0-130) PMN 61-84%

Anak: 0-7 (PMN 5%)


Glukosa Preterm 24-63 mg/dL (1,3-3,5 mmol/L)

Term 51,2 12,9 mg/dL

Anak 40-80 mg/dL (2,2-4,4 mmol/L)


Perbandingan Preterm 55-105%

20
CSF Glucose Term 44-128%

Blood Glucose Anak 50%


Lactic Acid Dehidrogenase 5-30 U/L (sekitar 10% kadar serum)
Myelin Basic Protein <4 ng/mL
Opening Pressure Newborn 8-11 cmH2O 24

lateral recumbent position Infant/child <20 cmH2O

Variasi napas 0,5-1 cmH2O


Protein Preterm 65-150 mg/dL (0,65-1,5 g/L)

Term 64,2 24,2 mg/dL

Anak 5-40mg/dL (0,05-0,4 g/L)

Pemeriksaan Bakterial Viral Fungal Tubercular


Opening Meningkat Biasanya Bervariasi Bervariasi
pressure normal
3
Hitung sel>1000/mm <100/mm3 Bervariasi Bervariasi
(WBC)
Hitung jenis Predominan Predominan Predominan Predominan
PMN limfosit limfosit limfosit
Protein Meningkat Normal sampaiMeningkat Meningkat
ringan sampaidengan
sedang meningkat
Rasio glukosaNormal sampaiBiasanya Rendah Rendah
CSS/serum menurun normal

3. CT SCAN
Deskripsi
CT scan adalah test diagnostik yang memiliki informasi yang sangat tinggi. Tujuan utama penggunaan
ct scan adalah mendeteksi perdarahan intra cranial, lesi yang memenuhi rongga otak (space
occupying lesions/ SOL), edema serebral dan adanya perubahan struktur otak. Selain itu Ct scan juga

21
25
dapat digunakan dalam mengidentikasi infark , hidrosefalus dan atrofi otak. Bagian basilar dan
posterior tidak begitu baik diperlihatkan oleh Ct Scan.
Ct Scan mulai dipergunakan sejak tahun 1970 dalam alat bantu dalam proses diagnosa dan
pengobatan pada pasien neurologis. Gambaran Ct Scan adalah hasil rekonstruksi komputer terhadap
gambar X-Ray. Gambaran dari berbagai lapisan secara multiple dilakukan dengan cara mengukur
densitas dari substansi yang dilalui oleh sinar X
Prinsip kerja
Pada alat konvensional ube sinar X berputar secara fisik dalam bentuk sirkuler.Sedangkan pada alat
elektron beam tomography (EBT) yang berputar adalah aliran elektronnya saja. Data yang dihasilkan
akan memperlihatkan densitas dari berbagai lapisan. Pada saat sinar X melalui sebuah lapisan maka
lapisan tersebut akan mengabsorbsi sinar dan sisanya akan melalui lapisan tersebut yang akan
ditangkap oleh detektor yang sensitive terhadap elektron. Jumlah radiasi yang diabsorbsi akan
tergantung pada densitas jaringan yang dilaluinya. Pada tulang energi yang melalui (penterasi)
jaringan itu lebih sedikit maka akan muncul gambaran berwarna putih atau abu-abu yang terang.
Sedangkan pada cairan serebrospinal dan udara akan menghasilkan gambaran lebih gelap. Ct Scan
dapat memberikan gambaran pada potongan 0,5 -11,3 cm dan memberikan gambaran akurat pada
abnormalitas yang sangat kecil. CT Scan digunakan di dalam kedokteran sebagai alat diagnostik dan
sebagai pemandu untuk prosedur intervensi. Kadang-kadang membandingkan material seperti
kontras yang diodinasi kedalam pembuluh darah . Ini berguna bagi menyoroti struktur seperti
pembuluh darah yang jika tidak akan sukar untuk menggambarkan jaringan sekitarnya. Penggunaan
material kontras dapat juga membantu ke arah memperoleh informasi fungsional tentang
jaringan/tisu. Ukuran gambar (piksel) yang didapat pada CT scan adalah radiodensitas. Ukuran
tersebut berkisar antara skala -1024 to +3071 pada skala housfield unit. Hounsfileds sendiri adalah
pengukuran densitas dari jaringan. Peningkatan teknologi CT Scan adalah menurunkan dosis radiasi
yang diberikan, menurunkan lamanya waktu dalam pelaksanaan scaning dan peningkatan
kemampuan merekonstruksi gambar. sebagai contoh, untuk lihat di penempatan yang sama dari
suatu penjuru/sudut berbeda) telah meningkat dari waktu ke waktu. Meski demikian, dosis radiasi
dari CT meneliti beberapa kali lebih tinggi dibanding penyinaran konvensional meneliti. Sinar-X
adalah suatu format radiasi pengion dan tentunya berbahaya.
Gambaran jaringan pada CT Scan
Jaringan Housefield Unit warna abu-abu 26
22
udara -1000 Hitam ()
lemak -100 Hitam ()
Cairan cerebrospinal 0 Hitam ()
Otak 30 Abu-abu (-)
Darah 100 Putih ()
tulang 1000 Putih ()
.

BAB III
PENUTUP 27
3.1. KESIMPULAN
Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges,lapisan yang tipis/encer yang
mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung, disebabkan oleh bakteri, virus,
riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis. (Harsono., 2003)
Faktor risiko utama untuk meningitis adalah respon imunologi terhadap pathogen
spesifik yang lemah terkaitdengan umur muda. Risiko terbesar pada bayi antara umur 1 dan 12

23
bulan ; 95 % kasus terjadi antara umur 1 bulan dan 5 tahun, tetapi meningitis dapat terjadi pada
semua umur.
Risiko tambahan untuk meningitis adalah adanya kolonisasi baru dengan bakteri
pathogen, kontak erat dengan individu yang menderita penyakit invasive (rumah, pusat
perawatan harian, sekolah, asrama tentara), penuh sesak, kemiskinan, ras kulit hitam, jenis
kelamin laki-laki dan kemungkinan tidak mendapatkan ASI pada bayi umur 2 sampai 5 bulan.
Terdapat 3 kasus per 100.000 orang per tahun di Amerika Serikat, median usia 25 tahun.
Factor resiko meliputi usia ekstrem, splenektomi, penyakit sel sabit, alkoholisme, penyakit hepar,
otitis media, sinusitis, pneumonia, diabetes, imunosupresi, pintasan ventrikel, kebocoran cairan
sererospinal (CSS), dan prosedur pembedahan saraf tertentu.
3.2. SARAN
1. Mengetahui secara dini tentang gejala gejala klinis yang timbul karena penyakit
meningitis
2. Penatalaksanaan yang tepat pada pasien dapat memberikan efek yang maksimal dalam
proses penyembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA
28
Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi Volume 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistim Persarafan. Jakarta : Salemba
Medika
Hidayat, Aziz Alimul. 2008. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Salemba Medika
Dewanto, George dkk. 2009. Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf. Jkaarta : Buku Kedokteran EGC
Berhman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Ginsberg, Lionel (2008) Lecture Notes: Neurologi Edisi 8. Jakarta: Erlangga
Brashers, Valentina L. (2007) Aplikasi Klinis Patofisiologi Pemeriksaan & Manajemen. Jakarta:EGC
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23705/4/Chapter%20II.pdf diakses pada tanggal 14
November 2013
Japardi,Iskandar, (2002).Meningitis Meningokokkus.Fakultas Kedokteran bagian bedah: Fakultas
Kedokteran USU.
Anonim. 2007. Apa Itu Meningitis. Ellenby, Miles., Tegtmeyer, Ken., Lai, Susanna., and Braner, Dana.
2006. Lumbar Puncture. The New England Journal of Medicine.
Harsono. 2003. Meningitis. Kapita Selekta Neurologi. 2
24
Japardi, Iskandar. 2002. Meningitis Meningococcus. USU digital library
Quagliarello, Vincent J., Scheld W. 1997. Treatment of Bacterial Meningitis. The New England Journal of
Medicine.
Yayasan Spiritia. 2006. Meningitis Kriptokokus. Lembaran Informasi 503.
Dr Ananya Mandal, MD. Available in http://www.news-medical.net/health/Meningitis-Prevention-
%28Indonesian%29.aspx
Smeltzer, S. C., Bare, B. G. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 3. Penerbit Buku
Kedokteran: 2002
Weinstock, doris (2010). Rujukan cepat di ruang ICU/ CCU.Jakarta:EGC
Seehusen DA, Reeves MM, Fomin DA. Cerebrospinal fluid analysis. Am Fam Phys. 2003;68(6):1103-8
Suarez J I, Eccer M, Cerebral Oedem and Intrakranial Dynamics : Pemantauan and management of
intrakranial pressure, In : Critical Care Neurology and Neurosurgery, ed. Suarez J I, New Jersey :
2004, 100-47
Lemone P, Burke K.(2004). Medical Surgical Nursing : clinical thinking in client care.ed-3 . New Jersey :
Pearson 29
Computed Tomography, diambil dari http :/en wiki/wikipedia/computed tomography.html diambil
tanggal 10 Februari 2006
Harsono, 1996. Buku Ajar Neurologi Klinis. Edisi Pertama. Yokyakarta : Gajah Mada University Press.
Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs Approach,J.B. Lippincott
Company, London.
Mariam, Siti .2010. Perbandingan Respon. Jakarta : FMIPA Universitas Indonesia
Nadler JP. Antiretroviral resistance testing and therapeutic drug monitoring [homepage on the Internet].
No date [cited 2006 Jun 8]. Available from:
http://www.faetc.org/PDF/Primary_Care_Guide/Chapter_08-Antiteroviral-Resistence-
Testing.pdf.
Nursalam, 2007, Manajemen Keperawatan dan Aplikasinya. Jakarta : Salemba Medika
Nursalam.2005. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS.Jakarta : Salemba Medika
Phipps, Wilma. et al, 1991, Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice, 4th edition, Mosby
Year Book, Toronto
Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, cetakan kedua, EGC, Jakarta.
Sadun AA, Pepose JS, Madigan MC, Laycock KA, Tenhula WN, Freeman WR. AIDS-related optic
neuropathy: a histological, virological and ultrastructural study. Graefes Arch Clin Exp
Ophthalmol. 1995 Jul;233(7):387-98.
Sahoo S. HIV- and AIDS-related Ocular Manifestations in Tanzanian Patients. Malaysian J Med Sci.
2010;17(1):5.
Swearingen. 2000. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 2, Jakarta: EGC.
Umar Zein, 100 Pertanyaan Seputar HIV / AIDS Yang Anda Ketahui, USU Press, Medan, 2006.
UNAIDS, WHO. Overview of the global AIDS epidemic2006.
25
Vrabec TR. Posterior segment manifestations of HIV/AIDS. Surv Ophthalmol. 2004 Mar-Apr;49(2):131-57.
Working group on antiretroviral therapy and medical management of HIV-infected children. Adverse
drug reaction [homepage on the Internet]. No date [cited 2006 Jun 20]. Available from:
http://aidsinfo.nih.gov/ContentFiles/PediatricGL_SupIIIPDA. pdf.

30

31

26