Anda di halaman 1dari 26

TUGAS KELOMPOK

PENDANAAN PENDIDIKAN

Mata Kuliah: Hukum dalam Pendidikan

Dosen Pengampu: Ary Bayu, M.Pd

Disusun oleh:

Kelompok 8 Kelas A 2016

DINI RIZQI LESTARI 1445160722

GABRIELLA AYU SINGGYA 1445160006

KHUMAIRA 1445163730

MUHAMMAD ARIF 1445161878

Progam Studi Manajemen Pendidikan

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN - UNJ

April 2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan karunia Nya, kami dapat menyusun dan menyelesaikan
makalah yang dalam hal ini kami mendapatkan materi Pendanaan Pendidikan.
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas
dari dosen kami yaitu, Pak Ary Bayu, M.Pd.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah. Dengan
itu kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Ary Bayu, M.Pd sebagai Dosen
Pengampu, dan pihak pihak yang terkait yang membantu dalam proses
pembuatan makalah ini.

Dengan segala kerendahan hati, kami menyadari sepenuhnya bahwa


makalah ini masih ada kekurangan baik segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca
yang sekiranya dapat membangun. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat, khusunya bagi semua pihak yang membaca makalah
ini.

Jakarta, 05 April 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Cover ................................................................................................................i

Kata Pengantar ................................................................................................ ii

Daftar Isi..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan ................................................................................................ 2
D. Manfaat .............................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 4

1. Pendanaan Pendidikan .................................................................. 4


2. Konsep Dasar Dalam Pembiayaan Pendidikan ............................. 6
3. Landasan Hukum Pembiayan Pendidikan .................................... 10
4. Sumber Pendanaan Pendidikan .................................................... 14
5. Pengelolaan Dana Pendidikan ...................................................... 17
6. Pengalokasian Dana Pendidikan .................................................. 17
7. Permasalahan Pembiayaan Pendidikan di Indonesia ................... 18

BAB III PENUTUP ....................................................................................... 22

A. Kesimpulan ........................................................................................ 22
B. Saran ................................................................................................... 22

Daftar Pustaka ................................................................................................ 23

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak tahun 1970-an, saat awal Pelita I terdapat empat pokok
permasalahan dalam pendidikan nasional di antaranya: permasalahan yang
berhubungan dengan pemerataan pendidikan, relevansi pendidikan, mutu
pendidikan, dan efisiensi dan efektivitass pendidikan1. Keempat pokok
masalah ini dijadikan acuan dalam perbaikan, pembaharuan, dan
pengembangan pendidikan di Indonesia. Secara konseptual dapat
dijelaskan secara terpisah, tetapi pada kenyataannya keempat pokok
permasalahan tersebuh saling berkaitan. Dan dalam upaya pengembangan
yang berporos pada asas-asas empat masalah pokok ini jika dikaitkan
dengan tujuan dan cita-cita pendidikan Indonesia kenyataannya
menghadapi seperangkat masalah yang perlu dikaji, direnungkan, dan
dibahas baik secara pemikiran teoritis maupun pengamatan empirik.
Masalah efisien dan relevansi di pendidikan memiliki kaitan
dengan konsep pembiayaan yang dilihat bukan hanya jumlah tetapi juga
dilihat dari segi kualitas dimana setiap upaya dan pengorbanan yang
diberikan untuk suatu tindakan yang dapat memberikan hasil yang lebih
tinggi dan bermutu. Dengan kata lain, pengupayaan dan pengorbanan
suatu sistem pendidikan secara ekonomis dengan pengorbanan yang kecil
tetapi mendatangkan hasil yang maksimal. Pengelolaan pendidikan harus
dapat mengklasifikasikan unsur-unsur biaya pendidikan yang perlu
diprioritaskan secara langsung dapat meningkatkan mutu pendidikan dan
pengeluaran pendidikan mana yang harus dihindari. Sehingga, secara
transparan dapat dihitung jumlah uang untuk pendidikan yang sebenarnya
yang berlangsung selama proses pendidikan.
Oleh karena itu, masalah efisiensi dan relevansi pendidikan
berhubungan langsung dengan kemampuan pengelola pendidikan untuk

1
Moch Idochi Anwar. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan (Teori Konsep
dan Isu), (Bandung: Alfabeta, 2003), h: 102

1
2

memanfaatkan dana yang tersedia semaksimal mungkin sesuai kebutuhan.


Jadi mengenai masalah efisiensi dan relevansi antara biaya dan mutu
pendidikan menempatkan variabel produktivitas selaku parameter utama
untuk menjelaskan sejauh mana suatu pengorbanan pendidikan secara
langsung dapat memberikan hasil yang maksimal.
Pembiayaan merupakan salah satu komponen sistem pendidikan
yang memerlukan kajian pemikiran yang lebih mendalam dan penelitian
yang lebih cepat, upaya untuk menggunakan dana yang tersedia secara
tepat untuk suatu pengeluaran pendidikan yang tidak dapat dihindarkan.
Sehingga akan terlihat secara langsung pengaruhnya terhadap kualitas
ataupun kuantitas hasil pendidikan.
Dalam upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan,
studi pembiayaan itu sangat penting. Ini ditergaskan oleh Koe L. John dan
L. Morphet (1997, h.14), yaitu:
When the quantity or the quality of education increased, financial
generally needs to be increased. When the financial support is restricted,
the quantity and quality of education are likely to be limited2
Hal ini berarti bahwa dalam kondisi yang ideal, ketersediaan biaya
yang memadai dengan manajemen pembiayaan yang lebih baik dapat
menyumbangkan peningkatan hasil pendidikan, baik dilihat dari jumlah
ataupun mutunya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pendanaan pendidikan?
2. Bagaimana konsep dasar dalam pembiayaan pendidikan?
3. Apa landasan hukum pembiayaan pendidikan?
4. Bagaimana sumber pendanaan pendidikan diperoleh?
5. Bagaimana dana pendidikan tersebut dikelola?
6. Bagaiman dana pendidikan tersebut dialokasikan?
7. Bagaimana permasalahan pembiayaan pendidikan di Indonesia?

C. Tujuan

2
Moch Idochi Anwar. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan (Teori Konsep
dan Isu), (Bandung: Alfabeta, 2003), h: 105
3

1. Mengetahui tentang pendanaan pendidikan


2. Mengetahui tentang konsep dasar dalam pembiayaan pendidikan
3. Mengetahui tentang landasan hukum pembiayan pendidikan
4. Mengetahui sumber pendanaan pendidikan
5. Mengetahui pengelolaan dana pendidikan
6. Mengetahui pengalokasian dana pendidikan
7. Mengetahui permasalahan pembiayaan pendidikan di Indonesia

D. Manfaat
Bagi Mahasiswa
Dapat menambah wawasan mahawasiswa tentang pembiayaan
pendidikan di Indonesia, sumber-sumber dana pendidikan,
pengalokasian dana pendidikan, permasalahan pembiayaan
pendidikan di Indonesia, serta pengelolaan dana pendidikan
Bagi Masyarakat
Dapat mengetahui perihal tentang pendanaan pendidikan, cara
pengelolaan dana pendidikan, pembagiaan dana pendidikan, serta
mengetahui darimana sumber-sumber dana untuk pendidikan.
Bagi Pemerintah
Dapat dijadikan sebagai referensi untuk pemerintah agar
pengelolaan pendanaan pendidikan menjadi lebih baik lagi dan
supaya pengalokasian dana untuk pendidikan dapat merata di
seluruh daerah.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pendanaan Pendidikan
1. Esensi perlunya pembiayaan pendidikan
Dalam mengkaji mengapa pembiayaan pendidikan itu
diperlukan, hal ini tidak dapat lepas dari pembahasan mengenai hal-
hal mendasar tentang kedudukan pendidikan dihubungkan dengan
sektor kehidupan manusia secara keseluruhan. Sering diungkapkan
bahwa pendidikan mempunyai kedudukan yang penting dan sangat
menentukan. Namun hal tersebut masih memerlukan pengkajian
sehingga bener dapat ditunjukan sehingga memberikan keyakinan
mengenai kedudukan sektor pendidikan dalam kehidupan manusia
secara keseluruhan.
Pendidikan berperan dan berfungsi dalam mengkontribusi
pengembangan atau peningkatan sektor-sektor kehidupan manusia
lainnya. Permasalahn selanjutnya ialah bagaimana berfungsinya
pendidikan itu seoptimal mungkin dalam mengkontribusi sektor
lainnya. Dengan kata lain bagaimana meningkatkan produktivitas
sistem pendidikan itu agar benar-benar dapat dirasakan dan
diidentifikasikan manfatnya terhadap sektornya. Kedudukan
pendidikan dapat dipandang sebagai subjek dan objek pembangunan
sektor lainnya. Hal ini dapat berkonotasi bahwa pendidikan benar
dapat menyapkan manusia yang diperlukan baik dan segi jumlah
maupun dari segi mutu.
Berperannya pendidikan baik sebagai subjek maupun sebagai
objek pendidikan tidak lepas dari adanya sejumlah kegiatan yang
dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang dikhendaki. Dalam proses
pelaksanaan kegiatan inilah muncul permasalahan mengenai
pembiayaan pendidikan.
2. Tujuan Pendidikan Sebagai Pemberi Arah Sekaligus Pembatas
Terhadap Pembiayaan Pendidikan

4
5

Ada kecenderungan bahwa tujuan pendidikan yang hendak


dicapai pada setiap negara mempunyai perbedaan satu sama lain,
sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi tujuan pendidikan
tidak boleh lepas dari ruang dan waktu. Faktor kondisional dan
situasional itulah yang menetukan keragaaman jenis tujuan yang
hendak dicapai dalam setiap aktivitas pendidikan dan selajutnya akan
ditentukan oleh sasaran peserta didik.
Tujuan pendidikan yang dirumuskan dengan jelas akan
berfungsi sebagai pemberi arah. Maksudnya bahwa kegunaan
pembiayaan pendidikan yang dialokasi akan dapat diperjelas. Hal ini
bermanfaat untuk menjawab pertanyaan untuk apa pembiayaan
pendidikan itu juga hal ini sangat bermanfaat dalam rangka
penyediaan dana yang diperlukan untuk pembiayaan pendidikan.
Kelayakan suatu program pendidikan ditunjukan oleh benefit
program tersebut.
Hal ini dapat terlihat pada program pendidikan formal, dimana
setiap lembaga pendidikan formal merumuskan tujuan lembaga secara
jelas. Pada satu pihak hal tersebut sangat membantu dalam rangka
memperjelas kegiatan yang dijabarkan, namun pada pihak lain
merupakan suatu tantangan terutama dikaitkan dengan konsep euality
of educational opportunity. Dikatakan demikian karena kesempatan
yang sama dalam mendapatkan atau mengikuti pendidikan dengan
sendirinya dibatasi oleh aturan formal yang diberlakukan pada sistem
pndidikan.
Kemampuan warga negara untuk membayar pendidikan yang
masih rendah disebabkan adanya pendapat perkapita yang rendah serta
kemampuan pemerintah dalam memberikan subsidi untuk pendidikan
yang rendah menyebabkan penyediaan dana untuk biaya pendidikan
formal itu menjadi rendah3. Sehubungan dengan itu Achmad Sanusi
(1986, h.3) mempertanyakan antara lain:

3
Moch Idochi Anwar. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan (Teori Konsep
dan Isu), (Bandung: Alfabeta, 2003), h: 114-115
6

Dengan biaya demikian rendah, layanan-layanan pendidikan


apa dan berapa banyak dan baik dapat dibeli? Umpamannya tentang
proses belajar mengajar,tentang layanan bimbingan konseling, tentang
layanan supervisi, tentang layanan perpustakaan, tentang layanan
evaluasi dan administrasi akademis. Jika mengajar masih dianggap
sebagai kegiatan yang sentral dalam layanan pendidikan itu, maka
perlu dihitung jumlah jam mengajar guru, instruktur dan dosen
perbulan dan tahunya dengan tentunya memperhatikan mutunya pula.
Tingkat layanan pendidikan inipun dibatasi oleh keformalan
kehadiran guru, dosen yang diwujudkan dalam abseinteisme yang
relatif tinggi dengan mengenyampingkan mutu layanan pendidikan
yang diberikan.
Di masa sekarang, penigkatan mutu pendidikan menjadi tujuan
yang diperiotaskan. Program-program kegiatan yang mengarah
kepada tujuan peningkatan mutu pendidikan telah ditetapkan seperti
peningkatan kualitas personil, pendidikan, fasilitas ataupun
kurikulum, metode belajar dan lain sebagainya. Namun, kegiatan ini
bisa tidak berjalan mulus karena adanya keterbatasan dalam
pencapaian tujuan pendidikan yang diantaranya adalah oleh
persediaan dana.

B. Konsep Dasar Dalam Pembiayaan Pendidikan


Pembiayaan pendidikan sebagai sesuatu yang seharusnya ada
tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya.
Ada anggapan bahwa membicarakan pembiayaan pendidikan tidak lepas
dari persoalan ekonomi pendidikan. Bahkan secara tegas Mark Blaugh
(1970, hal.15) mengemukan bahwa the economics of education is a
branch of economics bahwa pada dasarnya pembiayaan pendidikan itu
merupakan bagian atau cabang dari ilmu ekonomi, sebab pembiayaan
pendidikan merupakan bagian permasalahan ekonomi pendidikan4.

4
Moch Idochi Anwar. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan (Teori Konsep
dan Isu), (Bandung: Alfabeta, 2003), h: 121
7

Johns dan Morphel (1970, hal.85 dalam Anwar hal. 122)


mengemukakan bahwa pendidikan itu mempunyai peran vital terhadap
ekonomi dan negara modern bahkan dikemukakannya bahwa hasil
penelitian akhir-akhir ini menunjukan bahwa pendidikan merupakan a
major contributor terhadap pertumbuhan ekonomi
Dari pandangan-pandangan atau pertimbangan-pertimbangan yang
telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa dalam membahas
pembiayaan pendidikan, perlu memperhatikan konsep-konsep ekonomi
yang telah ada. Konsep ekonomi tersebut digunakan agar prinsip ekonomi
dalam hal pembiayaan pendidikan tidak diabaikan.
Konsep-konsep pendidika perlu juga dibahas dalam hubungannya
dengan masalah pembiayaan pendidikan. Konsep tersebut diperlukan
dalam mengkaji untuk apa pendidikan itu dilaksanakan dan bentuk
pendidikan yang bagaimanakah yang akan dilaksanakan dan memerlukan
biaya. Berbicara mengenai bentuk pendidikan tentu tidak lepas dari
persoalan proses pendidikan itu sendiri. Dalam kenyataannya ditemukan
bahwa proses pendidikan, oleh para ekonomi sering diabaikan, dengan
anggapan bahwa cukup hanya mengkaji bahan-bahan masukan dan hasil
dengan anggapan ini terdapat kecenderungan bahwa proses pendidikan
dipandang sebagai sesuatu yang disebut black box. Kenyatannya tidaklah
demikian karena pendidikan itu mempunyai situasi yang menuntut
pengkajian secara konsepsional pula.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, terdapat beberapa
konsep-konsep ekonomi yang melandasi dalam dunia pendidikan terutama
dalam pembahasan tentang konsep-konsep ekonomi yang melandasi
pembiayaan pendidikan, seperti:
1. Konsep Supply-Demand
Konsep ini tidak dapat dilepaskan dari teori keseimbangan.
Penerapan konsep ini dalam pembiayaan pendidikan terutama
dalam hubungannya dengan mengkaji program pendidikan
terutama berkenaan dengan analisis kemungkinan adanya surpluses
ataupun shortages yang terlalu besar. Analisis mengenai supply
8

terutama berkaitan erat dengan kemampuan penyediaan tenaga


oleh lembaga pendidikan. Sedangkan analisis demand berkaitan
dengan besarnya kebutuhan atau perminatan tenaga yang
dihasilkan oleh lembaga pendidikan melalui program-program
tertentu.
Konsep ini dalam hubungannya dengan pembiayaan
pendidikan terutama nampak dalam analisis mengenai
keseimbangan antara besarnya perminatan terhadap hasil-hasil
pendidikan. Dengan mengetahui betapa besar tingkat elastisitas
implikasinya ialah administrator pendidikan dapat memperkirakan
berapa besar output yang harus diusahakan agar dapat memenuhi
perminatan. Lebih lanjut, dengan dasar analisis in dapat pula
diprediksi berapa input yang seharusnya diproses untuk
mendapatkan hasil (output) yang dibutuhkan. Dengan demikian
pertimbangan-pertimbangan ini akan menjadi masukan dalam
merumuskan kebijakan-kebijakan pendidikan yang pada akhirnya
akan berhubungan dengan pembiayaan pendidikan.
2. Konsep Biaya Untuk Pengabilan Keputusan
Dengan mengetahui biaya sebagai nilai yang diwujudkan
dengan uang atas faktor-faktor produksi merupakan prasyaratan
untuk mengetahui laba atau efisiensi pada gilirannya dapat
dijelaskan untuk mengetahui perilaku organisasi itu sendiri ataupun
para pengambil keputusan.
Seorang ahli ekonomi mungkin membicarakan tingkah laku
ini berdasarkan berbagai alasan:

a) Untuk menjelaskan tingkah laku yang sesungguhnya dari satu


perusahaan.
b) Meramalkan bagaimana tingkah laku perusahaan itu
menghadapi perubahan-perubahan yang dihadapinya.
c) Untuk membantu perusahaan mengambil keputusan-keputusan
yang terbaik yang dapat dilakukannya untuk mencapai
tujuannya, dan
9

d) Untuk menilai hingga berapa jauh perusahan-perusahan


menggunakan sumber-sumber yang langka dengan sebaiknya
(Richard G. Lipsey, dkk.,1984 :381)
Dalam menentukan ketepatan dan kecermatan dalam
menghitung biaya diambil suatu langkash dengan membuat
kategori-kategori biaya terlebih dahulu. Dengan mengkategorikan
biaya, didapatkan unsur-unsur biaya seperti: bahan baku dan bahan
penolong, pemakaian tenaga kerja manusia, penghapusan alat-alat
produksi tahan lama, jasa tanah, jasa pihak ketiga, pajak-pajak. Di
samping itu perlu dibedakan menurut langsung tidaknya biaya itu
dalam proses produksi:
a. Biaya-biaya yang secara langsung dalam proses produksi menjadi
satuan output disebut biaya langsung
b. Biaya-biaya yang secara tidak langsung dalam proses produksi
sehingga tidak terlihat langsung dalam output sering disebut biaya
overhead.
Dengan menghitung biaya secara tepat, maka dapat
menampilkan biaya apakah yang seharusnya ada untuk pembuatan
produksi dan hal ini merupakan suatu perhitungan biaya standar.
Biaya standar merupaan subjek terhadap perbaikan, apabila
terdapat satu perubahan dalam tingkat harga bahan ataupun upah.
Biaya standar memberikan kepada manajemen ukuran yang paling
baik tentang pelaksanaan kerja dalam proses produksi yang paling
efisien. Untuk menghitung biaya standar dilakukan langkah-
langkah sebagai berikut:
a) Menentukan katagori biaya: pada langkah ini dihitung berapa
jumlah biaya yang masuk dalam unsur-unsur biaya yang
seharusnya ada.
b) Menghitung ketidakefisienan: pengeluaran yang tidak
termasuk dalamkatagori unsur biaya dimasukkan dalam
pemborosan akan menghasilkan biaya standar.
10

Dengan ikut campurnya para ekonomi mengkaji dunia


pendidikan melahirkan berbagai pandangan serta berlakunya
konsep-konsep ekonomi seperti yang diuraikan di muka dalam
bidang pendidikan.

Beberapa Pandangan Tentang Biaya Pendidikan

Schultz misalnya, melihat bahwa pendidikan merupakan kedudukannya


oleh kepesatan teknologi itu. Karena segala sesuatu keputusannya akhirnya
terletak pada manusianya. Beberapa penelitian telah menyimpulkan bahwa
penggunaan teknologi modern dalam pendidikan tidak menunjukan adanya
peningkatan produktivitas guru justru keberlakuan falsafah lama yang
memandang bahwa proses pendidikan merupakan proses pribadi yang unik yang
merupakan interaksi antara guru dengan murid secara lebih luas akan selalu
menjadi dasar pijakan yang kokoh dalam pemanfaatkan sumber daya manusia.

C. Landasan Hukum Pembiayaan Pendidikan


Pembiayaan pendidikan jelas tidak boleh lepas dan kebijaksanaan
tersebut. Kegiatan-kegiatan pendidikan yang dapat dibiayai oleh
pemerintah ataupun oleh masyarakat pada umunya adalah kegiatan-
kegiatan yang sesuai dan tidak menyimpang dan niali-nilai, undang-
undang atau peraturan yang berlaku pada suatu negara. Kegiatan tersebut
hendaknya didasarkan pada landasan-landasan yang baik yang bersifat
norma atau nilai maupun yang sudah berbentuk hukum yang diterima dan
berlaku untuk suatu negara.
Sumber landasan hukum pembiayaan pendidikan itu cukup banyak.
Jelas bahwa landasan hukum bagi pembiayaan pendidikan ditemukan
mulai dan nilai-nilai dasar yang ada pada suatu negara ataupun yang
dimiliki oleh pemimpin sampai pada peraturan perundang-undangan yang
diberlakukan pada suatu negara. Ketentuan-ketentuan-ketentuan hukum
yang terdapat dinegaranya misalnya pada undang-undang dasar negara,
undang-undang hasil legislatif, keputusan-keputusan pengadian, peraturan-
11

peraturan serta ketentuan-ketentuan yang diambil oleh pejabat-pejabat


negara tersebut.
Khususnya dalam negara Republik Indonesia dapat ditemukan
landasan-landasan hukum bagi pembiayaan pendidikan, yaitu:

1. Landasan Ideal Pembiayaan Pendidikan di Indonesia


Landasan ideal ini memberi keputusan terhadap
pembiayaan pendidikan di indonesia, tentu didasarkan pada jiwa
dan prinsip yang terdapat dalam pancasila tersebut. Dan landasan
ini jelas bahwa pertanyaan untuk apa pembiayaan pendidikan
itu,dan bagaimana pembiayaan pendidikan itu diatur, dengan
sendirinya telah terjawab.
2. Landasan Konsitusional
Secara konsitusional maka kehidupan bernegara telah diatur
dalam suatu Undang-Undang Dasar Dalam Negara Republik
Indonesia. Maka landasan konsitusionalnya jelas adalah Undang-
Undang Dasar 1945. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 tersebut
dapat dikemukakakan beberapa bagian yang dapat menjadi rujukan
khususnya dalam hubungannya dengan pembiayaan pendidikan di
Indonesia.

a. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dalam alinea


ke empat dikemukakan mengenai Tujuan Nasional Bangsa
Indonesia sebagai berikut:
Untuk membentuk pemerintah negara yang
melingdungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskankehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial.
Dalam tujuan ini dapat dilihat baik secara implist
maupun eksplisit mengenai pentingnya fungsi pendidikan.
12

Jelas fungsinya dalam menunjang terbentuknya pemerintah


negara, usaha memajukan kesejahteraan umum dan
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan kesejakteraan sosial.
Bahwa tidak mungkin akan diperoleh orang-orang yang dapat
membentuk negara dengan baik, tanpa adanya kontribusi
kegiatan pendidikan. Upaya mencerdaskan hidup bangsa hanya
akan dicapai melalui pendidikan dalam segala bentuk dan
aktivitasnya.
b. Di dalam Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945 tertera
hal yang secara eksplisit akan berkaitan dengan pembiayaan
pendidikan.
Dalam Bab VIII pasal 23 dan Undang-Undang Dasar
1945, dikemukakan mengenai anggaran pendapatan dan
belanja negara sebagai berikut:
Anggaran pendapatan atau belanja negara ditetapkan
tiap tahun denagn Undang-Undang. Apabila Dewan
Perwakilan Rakyat tidak menyetujui anggaran yang diusulkan
pemerintah, maka pemerintah menjalankan anggaran tahun
lalu.
Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan
Undang-Undang. Macam dan harga mata uang ditetapkan
dengan Undang-Undang. Hal keuangan negara selanjutnya
diatur dengan Undang-Undang.
Untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan
Negara diadakan suatu Badan Pemeriksan Keuangan, yang
peraturannya ditetapkan dengan Undang-Undang. Hasil
pemeriksa itu di beritahukan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat
Bab ini dapat dipandanng sebagai landasan
konsitusional pembiayaan pendidikan dengan asumsi bahwa
pembiayaan pendidikan tidak boleh lepas dari kebijaksanaan
13

keuangan negara. Juga asumsi yang lain ialah bahwa kegiatan-


kegiatan pendidikan itu adalah dalam rangka pencapaian
tujuan Nasional.
a. Landasan dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 pada BAB
XIII tentang Pendanaan Pendidikan pasal 46 49 sebagai berikut:
Pasal 465
(1) Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat.
(2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab
menyediakan anggaran pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal
31 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
(3) Ketentuan mengenai tanggung jawab pendanaan pendidikan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 47
(1) Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip
keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan.
(2) Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat mengerahkan
sumber daya yang ada sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
(3) Ketentuan mengenai sumber pendanaan pendidikan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 48
(1) Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip
keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.

5
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
14

(2) Ketentuan mengenai pengelolaan dana pendidikan sebagaimana


dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah.

Pasal 49
(1) Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan
kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal
20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
(2) Gaji guru dan dosen yang diangkat oleh Pemerintah
dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN).
(3) Dana pendidikan dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk
satuan pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4) Dana pendidikan dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah
diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
(5) Ketentuan mengenai pengalokasian dana pendidikan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat
(4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Serta dalam Peraturan Pemerintah No. 48 tahun 2008 tentang
Pendanaan Pendidikan sangat jelas dijelaskan secara detail tentang
Pendanaan Pendidikan.
1.

D. Sumber-Sumber Pendanaan Pendidikan


Pengelolaan keuangan sekolah bukan tugas yang ringan melainkan
tugas ini mempunyai perbedaan yang nyata dari tugas lainnya. Untuk itu
orang yang mengelolanya seperti kepala sekolah sebagai unit terkecil dari
lembaga pendidikan harus mempunyai kepribadian dan dapat dipercaya
serta mempunyai kesadaran sesuai dengan semangat otonomi daerah dan
15

otonomi pendidikan. Ada pun sumber-sumber keuangan sekolah dapat


diklasifikasikan ke dalam beberapa bagian diantaranya adalah sebagai
berikut :
1. Penerimaan dari masyarakat
Sumbangan pendidikan yang berasal dari masyarakat
merupakan perwujudan dari rasa tanggung jawab masyarakat
terhadap pentingnya pendidikan. Sumbangan yang diberikan
masyarakat dapat secara langsung dipergunakan oleh lembaga
pendidikan itu sendiri dan jenis sumbangan ini tidak termasuk
pendapatan negara. Secara umum pembayaran dilaksanakan setiap
tahun, setengah tahun atau tiap bulan, dengan batasan dan tanggal
yang ditetapkan sekolah bersangkutan serta pembayarannya
mempunyai bukti, biasanya dalam bentuk kartu yang telah
disahkan.
Dalam hal mendapatkan bentuan dana dari masyarakat,
setiap sekolah mempunyai strategi dan cara yang berlainan utnuk
menghadapi masyarakat. Hal ini sangat tergantung pada
kemampuan kepala sekolah dengan para guru untuk meyakinkan
masyarakat bahwa program pendidikan yang ditawarkan betul-
betul rasional untuk kemajuan proses belajar mengajar di sekolah.
Oleh sebab itu sekolah harus dapat menawarkan program-
program yang jelas kepada masyarakat, tentunya yang terkait
dengan kebutuhannya dan sekaligus program tersebut dapat
memperbaiki mutu lulusannya agar dapat lebih berdaya guna dan
berhasil guna dalam masyarakat.

2. Penerimaan dari Siswa atau Orang tua Siswa


Penerimaan uang sekolah merupakan partisipasi kerja sama
antara sekolah dengan komite sekolah, sesuai dengan tujuan
komite sekolah yaitu menjamin kerjasama dalam usaha mencapai
tujuan pendidikan. Penerimaan yang telah diberikan kepada
sekolah biasanya digunakan untuk kegiatan dan program untuk
16

kegiatan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Dana


yang berasal dari orang tua siswa atau komite sekolah berbeda-
beda setiap tahun tergantung dimana sekolah itu berada dan begitu
juga dengan sekolah yang lainnya, ini disebabkan: pertama,
kesadaran orang tua siswa tentang pentingnya pendidikan bagi
anak-anak mereka. Kedua, tingkat status ekonomi keluarga. Dan
ketiga, pertumbuhan ekonomi daerah.

3. Penerimaan dari Pemerintah


APBN pada dasarnya adalah tanggung jawab Presiden,
namun Presiden mendelegasikan tugas tersebut kepada Menteru
atau Keuangan sampai akhirnya pada kepala sekolah. Pembiayaan
pendidikan yang berasal dari bantuan pemerintah merupakan
pengalokasian anggaran oleh pemerintah yang berasal dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pembiayaan
pendidikan ini termasuk ke dalam belanja rutin dan belanja
pembangunan. Belanja rutin merupakan biaya yang digunakan
untuk membiayai kebutuhan rutin yang harus dipenuhi, dan apabila
tidak dipenuhi maka kegiatan tidak berjalan sebagaimana yang
diharapkan. Sedangkan belanja pembangunan merupakan biaya
yang dikeluarkan dari APBN untuk membiayai proyek-proyek
pembangunan dalam rangka memenuhi kebutuhan yang sifatnya
sewaktu-waktu. Dalam era otonomi daerah dan otonomi
pendidikan pengalokasian anggaran rutin di sekolah didasarkan
pada kebutuhan sekolah dari waktu kewaktu. Kebutuhan sekolah
tersebut bervariasi antara sekolah yang satu dengan sekolah yang
lain.

4. Penerimaan dari Pengusaha


Sumber anggaran pendidikan yang keempat adalah
didapatkan dari dunia usaha yang punya perhatian terhadap
pendidikan, biasanya setiap dunia usaha memberikan distribusi
17

kepada sekolah-sekolah yang berada dilingkungan usahanya,


misalnnya orang tua siswa sebagian besar adalah karyawan
perusahaan tersebut. Kadang kala perusahaan mempunyai tujuan
dan maksud tertentu kepada sekolah, hal ini dalam rangka
memenuhi kebutuhan perusahaan akan tenaga kerja yang diambil
dari lulusan lembaga pendidikan. Dengan adanya kerjasama yang
baik antara lembaga sekolah atau lembaga pendidikan dengan
perusahaan, akan dapat meningkat anggaran pendapatan sekolah
dari sektor perusahaan, dan tentunya akan dapat mempertinggi
biaya program sekolah di samping bantuan yang diterima dari
pemerintah, masyarakat, dan orang tua.

E. Pengelolaan Pendanaan Pendidikan


Pengelolaan dana pendidikan memiliki prinsip-prinsip yaitu Prinsip
keadilan, Prinsip efisiensi, Prinsip transparansi, Prinsip akuntabilitas
publik6, yaitu:
1. Prinsip keadilan. dilakukan dengan memberikan akses pelayanan
pendidikan yang seluas-luasnya dan merata kepada peserta didik atau
calon peserta didik, tanpa membedakan latar belakang suku, ras,
agama, jenis kelamin, dan kemampuan atau status.
2. Prinsip efisiensi. dilakukan dengan mengoptimalkan akses, mutu,
relevansi, dan daya saing pelayanan pendidikan.
3. Prinsip transparansi. dilakukan dengan memenuhi asas kepatutan dan
tata kelola yang baik oleh Pemerintah, pemerintah daerah,
penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat, dan satuan
pendidikan sehingga:
a) dapat diaudit atas dasar standar audit yang berlaku, dan
menghasilkan opini audit wajar tanpa perkecualian; dan
b) dapat dipertanggungjawabkan secara transparan kepada
pemangku kepentingan pendidikan.

6
Undang-Undang Nomor 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan
18

4. Prinsip akuntabilitas publik. dilakukan dengan memberikan


pertanggungjawaban atas kegiatan yang dijalankan oleh
penyelenggara atau satuan pendidikan kepada pemangku kepentingan
pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

F. Pengalokasian Pendanaan Pendidikan


Anggaran belanja untuk melaksanakan fungsi pendidikan pada
sektor pendidikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara/daerah
setiap tahun anggaran sekurang-kurangnya dialokasikan 20% (dua puluh
perseratus) dari belanja negara/daerah dana pendidikan yang
pemerintah/pemda dalam bentuk hibah, antara lain: dana dekosentrasi,
dana tugas pembantuan, dan dana alokasi khusus bidang pendidikan.
Dalam proses penyaluran dana pendidikan dari Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah ke satuan pendidikan, petugas dan/atau
lembaga yang terlibat dalam penyaluran dana harus sudah menyalurkan
dana tersebut secara langsung kepada satuan pendidikan dalam waktu
paling lama 5 (lima) hari kerja setelah terbitnya surat perintah membayar
dari kantor pelayanan perbendaharaan negara atau kantor pelayanan
perbendaharaan daerah7. Biaya penyaluran dana tidak boleh dibebankan
kepada satuan pendidikan. Penerima hibah dari perseorangan, lembaga,
dan/atau, pemerintah negara lain wajib melaporkan jumlah dana yang
diterima dan penggunaannya kepada Menteri atau Menteri Agama, dan
Menteri Keuangan.

G. Permasalahan Pembiayaan Pendidikan di Indonesia


Tahun 2014 saat tahun ajaran dimulai, siswa senang karena akan
naik kelas, yaitu mahasiswa. Tapi terkadang ini menjadi dilema bagi
sebagian orangtua. Bagaimana tidak, menurut sumber dari Kompas, biaya
pendidikan di Indonesia rata-rata naik sebesar 15% per tahun.
Bayangkan untuk tingkatan Taman Kanak-Kanak Anda telah
mengeluarkan dana hingga belasan juta, apalagi jika sekolah anak umur 5

7
Undang-Undang Nomor 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan
19

tahun itu merupakan bertaraf internasional, tentu biayanya akan sangat


berbanding jauh. Harganya sudah pasti akan berbeda dengan Sekolah
Dasar, Menengah Pertama, Atas, hingga Universitas.
Orangtua mana yang tidak bangga melihat anaknya menuntut ilmu
di sekolah favorit. Tidak sedikit dari mereka yang berutang, agar
kebutuhan anak buah hati mereka untuk belajar terpenuhi. Stigma
masyarakat adalah sekolah favorit dapat menjamin kualitas pendidikan
anaknya. Dari data yang diperoleh dari Mommiesdaily, ada sumber yang
menyebutkan bahwa biaya termahal untuk siswa sekolah dasar adalah SD
Swasta Global Jaya Bintaro dengan uang pangkal yang mencapai
Rp75.000.000,00
Sedihnya lagi, kebanyakan dari para orang tua tidak mengetahui
keuntungan dari asuransi pendidikan yang dapat menyelamatkan aset
keluarga dan masa depan sang anak. Karena seyogyanya asuransi itu sama
dengan investasi, dan menabung.
Menurut riset QM Financial memaparkan, dari 40 sekolah di
Jabodetabek, kenaikan uang pangkal SD pada 2009 hingga 2013 antara
lima persen sampai 50 persen per tahun. Sungguh angka yang
mengagetkan, bukan? Hal ini berbeda sekali dengan era 90an, ketika itu
biaya masuk Sekolah Dasar hanyalah puluhan ribu rupiah. Zaman tentu
berubah, teknologi semakin maju, dan segala kebutuhan hidup turut naik.
Biaya pendidikan memang tidak murah, menurut data yang dilansir
dari Biaya Pendidikan, biaya untuk masuk perguruan tinggi program
Sarjana di Indonesia dapat mencapai Rp35.000.000,00. Sedangkan, rata-
rata income orangtua di Indonesia selama satu tahun hanyalah
Rp36.000.000,00. Bisa Anda bayangkan penghasilan saat kita bekerja
nanti, ternyata tidak sebanding dengan biaya pendidikan yang telah kita
keluarkan. Suka atau tidak, itulah Negara kita. Kebanyakan dari
masyarakat kita untuk dapat menyekolahkan anak-cucu kita setidaknya
harus ngutang ke bank, gadai BPKB, dll.
Perbandingan biaya pendidikan dengan negara tetangga
20

Tapi, Anda jangan kaget karena ternyata bukan hanya Indonesia


yang mempunyai masalah harga selangit untuk biaya pendidikan. Karena
di beberapa Negara tetangga, seperti Malaysia mampu menghabiskan dana
RM25.000 atau sekitar Rp90.000.000,00. Kemudian ada Singapura dengan
uang pangkal yang mencapai SINS15.000 atau sekitar Rp140.000.000,00.
Namun, ada bedanya. Ya, penghasilan tiap-tiap negara yang membedakan.
Tapi, 2 Negara terdekat Indonesia tersebut sudah jauh lebih mapan dan
mendapatkan gaji yang layak.
Lalu, bagaimana dengan biaya pendidikan di sejumlah kampus
favorit di Indonesia? Sistemnya sendiri terbagi menjadi beberapa kelas,
program, pilihan. Ada juga yang dinamakan dengan subsidi silang. Jadi,
orang yang mampu akan membayar lebih, agar membantu para orangtua
yang tidak mampu. Ada beberapa Universitas Negeri; contohnya
Universitas Indonesia yang membebaskan uang pangkal bagi
mahasiswanya, ini dilakukan tak lain supaya tidak membebankan kepada
masyarakat yang berniat untuk menuntut ilmu.
Ada beberapa program yang menggratiskan uang pangkal tersebut,
diantaranya adalah S1 Reguler, SIMAK, SBMPTN, SNMPTN.
Universitas Indonesia (UI) membebaskan uang pangkal bagi mahasiswa
baru program pendidikan S1 Reguler tahun akademik 2014/2015.
Pembebasan uang pangkal bagi mahasiswa program pendidikan S1
Reguler dimungkinkan karena kebijakan UI untuk mengalokasikan beban
biaya uang pangkal dari dana BOPTN (Bantuan Operasional Perguruan
Tinggi Negeri) yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan RI.
Pada tahun akademik 2014/2015, seluruh mahasiswa baru
program pendidikan S1 Reguler hanya akan dikenai Biaya Operasional
Pendidikan Berkeadilan (BOP B) yang dibayar per semester minimal
Rp100.000,00 dengan maksimal Rp5.000.000,00 untuk program studi
kelompok IPS, atau minimal Rp100.000,00 dengan maksimal
Rp7.500.000,00 untuk program studi kelompok IPA. Jumlah BOP B
21

disesuaikan dengan kemampuan orang tua/wali mahasiswa sebagai


penanggung biaya.
Tak hanya UI, Institut Teknologi Bandung (ITB) turut
menghapuskan uang pangkal bagi mereka yang ingin melanjutkan studi di
kampus yang terletak di Ganesha, Bandung tersebut. Institut Teknologi
Bandung memberlakukan ketentuan baru tentang biaya kuliah mahasiswa
baru tahun 2013. Rektor ITB Akhmaloka mengatakan, uang pangkal
Rp55.000.000,00 akan dihapus. Sedangkan biaya kuliah per semester yang
tahun ini Rp5.000.000,00, ditetapkan Rp0 hingga paling mahal
Rp10.000.000,00 atau Rp20.000.000,00 per tahun.
ITB sendiri mengalokasikan 20% kursinya bagi mahasiswa tidak
mampu yang ditopang dana Bidik Misi. Selain gratis uang kuliah, ITB
memberikan tambahan biaya hidup sebesar Rp1.000.000,00 per bulan. Tak
hanya itu, Ikatan Alumni turut membantu kalangan mahasiswa menengah
ke bawah dengan beasiswa. Bantuan itu berasal dari penjaringan dana ke
perusahaan dan donatur pribadi. Untuk tahun 2012, jumlah beasiswanya
mencapai Rp3 miliar.
Jadi, bagi para orangtua jangan terlalu khawatir tentang dana untuk
menyekolahkan anak, karena seperti pepatah bilang, "Ada banyak jalan
menuju Roma." Ya, kesempatan akan selalu datang, asalkan kita mau
berusaha demi mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang lebih
layak.Pemerintah menyediakan beasiswa, tak ketinggalan berbagai
perusahaan swasta pun ikut menawarkan. Rektorat memberi Anda pilihan
antara S1 Reguler, SIMAK, SBMPTN, SNMPTN. Bagaimana, apa yang
akan Anda pilih untuk anak?
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendanaan Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara
Pemerintah, Pemerintah daerah, dan masyarakat. Pendanaan pendidikan
telah diatur dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pada BAB XIII
tentang Pendanaan Pendidikan serta juga diatur dalam Peraturan
Pemerintah No. 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan dimana
semuanya telah diatur dalam landasan-landasan hukum mulai dari
pengelolaan sampai pengalokasian dana pendidikan dari mulai tingkat
dasar sampau tingkat perguruan tinggi. Permasalahan pendanan
pendidikan terjadi pada pengalokasian dana yang tidak merata. Dimana
pengalokasian ini tidak sesuai dengan apa yang telah diatur pada Undang-
Undang Dasar 1945 pasal 23 dimana anggaran untuk pendidikan
dialokasikan sebesar 20% setiap tahun dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah karena ini telah diatur oleh Mentri Keuangan.

B. Saran
Berdasarkan materi yang terkandung dalam makalah ini tentang
Pendanaan Pendidikan, maka ada hal-hal penting yang tersirat dan
tersurat dalam makalah ini. Sehingga disaran agar pembaca dapat
membaca dengan seksama dan teliti makalah ini. Karena hal-hal penting
itu lah yang dapat memberikan keterang lebih lanjut terhadap materi yang
disampaikan.

22
DAFTAR PUSTAKA
Mukhneri. 2002. Manajemen Keuangan Pendidikan. Padang: FR Monicha Press.
Anwar, M. I. 2003. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan
(Teori Konsep dan Isu). Bandung: Alfabeta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan
Pendidikan. 2008. Jakarta
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. 2014. Jakarta: Pustaka Sandro
Jaya.
Iqbal, D. G. 7 Juli 2014. Waduh Biaya Pendidikan di Indonesia Naik 15% Tiap
Tahun!, (KreditGoGo Online), (http://kreditgogo/com/artikel/Keuangan-dan
Anda/Waduh-Biaya-Pendidikan-di-Indonesia-Naik-15-Tiap-Tahun.html,
diakses 5 April 2017)

23