Anda di halaman 1dari 9

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Tengadak

Klasifikasi ikan Tengadak (Berbonymus scwanenfeldii) Kalimantan Barat

menurut Nelson (1994) adalah sebagai berikut :

Fhylum : Chordata
Sub Fhylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub class : Neopterygii
Ordo : Cypiniformes
Family : Cyprinidae https://pukate.blogspot.co.id
Genus : Barbonymus
Species : Berbonymus scwanenfeldii

Ikan tengadak memiliki kepala yang kecil, tubuh pipih dan badan tinggi

seperti ikan tawes, sisik kecil-kecil, warna tubuh seperti perak, dengan punggung

yang lebih gelap atau abu-abu kecoklatan dan perut putih mengkilat (Gaffar dan

Nasution, 1990). Pada ikan muda, ujung sirip warna merah menguning, tetapi pada

ikan dewasa seluruh siripnya berwarna merah, sirip punggung di dukung oleh 3

jari-jari keras dan 8-9 jari-jari lunak, sirip dubur didukung oleh 3 jari-jari keras dan

lima jari-jari lunak. Sirip perut mempunyai 2 jari keras dan 8 jari-jari lunak. Sirip

dada mempunyai 1 jari-jari sirip keras dan 14-15 jari-jari lunak Kottelat et al.,

(1993).
2.2. Habitat Dan Penyebaran

Kusmini et al., (2010), menyatakan ikan tengadak biasa hidup di rawa-rawa

daerah genagan air pada saat banjir. Di Indonesia ikan ini tersebar di sungai-sungai

besar di pulau Sumatra dan kalimantan (Djuhanda,1981). Dari identifikasi yang

dilakukan terhadap jenis-jenis ikan air tawar di sungai Batang Hari, Jambi, di

jumpai 162 jenis ikan yang termasuk dalam 14 ordo, 30 famili dan 73 genus,

sedangkan di daerah Kalimantan barat menurut Setiawan (2007), ikan tengadak di

kalimantan barat ikan tengadak terdapat diberbagai daerah di antaranya di sungai

melawi, sekadau, sungai Kapuas dan danau sentarum. Dibagian daerah asia

tenggara ikan tengadak dapat ditemukan malaysia, Thailand, Vietnam, dan

Myanmar (Djuhanda, 1981).

2.3. Pakan dan Kebiasaan Makan

Menurut Nikolsky (1963), pakan mempunyai tingkatan paling penting

dalam kehidupan organisme terutama untuk hidup, tumbuh dan berkembang biak

karena adanya nutrien dan energi yang berasal dari pakan. Pakan yang dimakan

ikan digunakan untuk memelihara tubuh, setelah itu jika ada kelebihan baru

digunakan untuk pertumbuhan dan reproduksi (Huet, 1971).

Kebiasaan makan ikan tengadak saat benih cenderung omnivore dan setelah

dewasa ikan tengadak memakan tumbuhan air (herbivore), dalam budidaya ikan di

Kalimantan timur tengadak yang dipelihara selama 12 bulan memakan pakan

komersil seperti yang di kemukakan oleh (Gaffar dan Nusation, 1990).


2.4. Pertumbuhan Ikan
Menurut Mudjiman (1998), pertumbuhan didefinisikan sebagai perubahan

berat, ukuran, maupun volume ikan seiring dengan berubahnya waktu. Adapun

faktor yang mempengaruhi dalam pertumbuhan adalah factor internal yaitu

keturunan (genetic), jenis kelamin, parasit dan penyakit. Serta umur dan maturitas

(Moyle and Cech 2004). Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan baik

faktor dari dalam maupun dari luar, faktor dari dalam meliputi keturunan, umur,

ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan dalam pemanfaatkan pakan,

sedangkan faktor dari luar diantaranya suhu, kimia lingkungan air, dan kualitas dan

kuantitas pakan yang tersedia (Wibowo et al., 2009). Pertumbuhan akan terjadi

bahwa jumalah pakan yang akan dikonsumsi ikan lebih banyak dari pada jumlah

yang diperlukan untuk pemeliharaan tubuh dan menggantikan sel-sel yang rusak.

2.5. Klasifikasi dan Morfologi Bawang Merah

Menurut Suriani (2011), klasifikasi bawang merah adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Liliales
Famili : Liliaceae
Genus : Allium
Spesies : Allium Cepa. Sumber : http://www.manfaatbuahan.com

Secara morfologi, bagian tanaman bawang merah dibedakan atas

akar,batang, daun, bunga, buah dan biji. Akar tanaman bawang merah terdiri atas

akar pokok (primary root) yang berfungsi sebagai tempat tumbuh akar adventif
(adventitious root) dan bulu akar yang berfungsi untuk menopang berdirinya

tanaman serta menyerap air dan zat-zat hara dari dalam tanah. Akar dapat tumbuh

hingga kedalaman 30 cm, berwarna putih, dan jika diremas berbau menyengat

seperti bau bawang merah (Pitojo, 2003).

2.6. Kandungan yang Terdapat dalam Bawang Merah

Menurut Ambarwati dan Yudono (2003), bawang merah Allium cepa L.

mengandung senyawa allin dan allisin yang bersifat bakterisida. Pendapat yang

sama dari Wibowo (2009), mengatakan bahwa bawang merah mengandung

senyawa allicin dan minyak atsiri yang bersifat bakterisida dan fungisida terhadap

bakteri dan cendawan. Bahan aktif minyak atsiri terdiri dari sikloaliin, metilaliin,

kaemferol, kuersetin, dan floroglusin (Muhlizah dan Hening, 2000).

Umbi bawang merah Allium cepa L. juga mengandung allisin, flavonol,

kuersetin, dan kuersetin glikosida yang bersifat antibakteri, anticendawan,

antikoagulan serta menunjukkan aktivitas enzim antikanker (Rubatzky dan

Yamaguchi, 1998). Bawang merah mengandung protein 1,5 g, lemak 0,3 g, kalsium

36 mg, fosfor 40 mg vitamin C 2 g, kalori 39 kkal, dan air 88 g, serta bahan yang

dapat dimakan sebanyak 90%. Komponen lain berupa minyak atsiri yang dapat

menimbulkan aroma khas dan memberikan citarasa gurih pada makanan (Wibowo,

2005).

2.7. Kualitas Air

Kualitas air secara luas dapat diartikan sebagai faktor fisik, kimia, dan

biologi yang mempunyai manfaat bagi organisme hidup (Cholik et al., 1986).

Rochdianto (1995), menyatakan bahwa agar ikan yang dibudidayakan dapat


tumbuh optimal dan memiliki daya kelangsungan hidup yang tinggi, maka kualitas

air di perairan yang dipilih memenuhi syarat bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan.

Kualitas air yang dimaksud adalah setiap variable yang mempengaruhi pengelolaan

kualitas tersebut meliputi : fisika, kimia, dan biologi yang dinyatakan dengan

angka.

2.7.1. Suhu Air

Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan terpenting karena

mempengaruhui organisme air, konsumsi oksigen, pertumbuhan, kelangsungan

hidup, serta mempengaruhi nafsu makan ikan (Kanagu et al., 2010 dalam Hapsari

2013). Hasil penelitian Susianti (2014), menunjukan pada suhu perlakuan 28oC,

untuk ikan tengadak diperoleh pertumbuhan panjang mutlak yang tinggi yaitu 1,78

cm, sedangkan pada perlakuan suhu 26oC merupakan pertumbuhan terendah yaitu

1,56 cm, sehingga dapat dinyatakan bahwa pada suhu 28oC media pemeliharaan

baik untuk kinerja pertumbuhan ikan tengadak. Sedangkan dalam penelitian

Prakoso et al., (2010) mengatakan, pada suhu air yang rendah yaitu kisaran 20-

24oC mengakibatkan ikan tengadak mengalami pertumbuhan yang rendah.

Menurut Affandi dan Tang (2002), peningkatan suhu pada batas tertentu

dapat merangsang proses metabolisme ikan dan meningkatkan laju konsumsi

pakan sehingga mempercepat pertumbuhan.

2.7.2. Derajat Keasaman (pH)

Menurut Pulungan (1987), ikan tengadak dijumpai di perairan dengan

kisaran pH 5 -7 kisaran ini masih sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan

ikan tengadak. Novotny dan Olem (1994), menyatakan sebagian besar biota akuatik
sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 8,5. nilai pH

sangat mempengaruhi proses biokomia perairan, sedangkan menurut Sukarti et al.,

(2012) dalam Hapsari (2013), pH melebihi 9 dapat mengurangi nafsu makan ikan.

Boyd (1982) dalam Susianti (2014), menyatakan bahwa nilai pH yang rendah

dengan nilai 4 dan pH yang terlalu tinggi 11 dapat mematikan ikan.

2.7.3. Oksigen Terlarut

Menurut Ekubo dan Abowei (2011) dalam Hapsari (2013), kadar oksigen

terlarut didalam perairan sangat penting bagi organisme air, karena Do berpengaruh

terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, distribusi, tingkah laku dan fisiologi

organisme perairan. Yazwar (2008), mengatakan bahwa nilai DO yang berkisar

diantara 5-7 mg/l cukup baik bagi proses kehidupan biota perairan sedangkan kadar

oksigen 0,3-1,01 mg/l dapat mematikan ikan jika berlangsung cukup lama.

2.7.4. Amoniak (NH3)

Amoniak merupakan hasil akhir dari proses metabolisme. Pada sistem

budidaya ikan, sisa pakan yang berlebih merupakan sumber penyebab naiknya

kadar amoniak. Amoniak dalam bentuk tidak terionisasi merupakan racun bagi

ikan, walaupun biasanya ikan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi amoniak

akan tetapi perubahan mendadak akan menyebabkan kerusakan jaringan insang

(Sucipto dan Prihartono, 2005).

Boyd (1990), Keberadaan amoniak dalam air dapat menyebabkan

berkurangnya daya ikatan oksigen oleh butir-butir darah, hal ini akan menyebabkan

nafsu makan ikan menurun dan penurunan pertumbuhan. Pada periran air tawar
sebaiknya NH3 tidak lebih dari 0.02 mg/l, karena perairan bersifat racun bagi

beberapa jenis ikan (Effendi, 2003).


DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, E, P. Yudono. 2003. Keragaman Stabilitas Hasil Bawang Merah. Ilmu.


10(2):1-10.
Boyd, C. E. 1990. Water Quality Management in Aquaculture and
Fisheries Science. Elsevier Scientific Publishing Company Amsterdam.
3125p.
Boyd,. C.E. 1982. Water Quality Manajemen in Warmwataer Fish Ponds. Alabama
(US): Auburn University Agriculture Experiment Station.
Cholik F., Artati dan R.Arifudin., 1986. Pengelolaan kualitas air kolam. INFIS
Manual seri nomor 26. Dirjen Perikanan. Jakarta. 52 hal
Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan.
Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius. Halaman.168-169 .
Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan . Institut Pertanian Bogor. Bogor
Ekubo., A. A., & Abowei, J. F. N. (2011). Review of Some Water Quality
Management Principles in Culture Fisheries. Research Journal of Applied
Sciences, Engineering Technology, 3 (12), 1342-1357.
Gaffar, A.K. Dan Z. Nasution. 1990. Upaya Domestikasi Ikan Periaran Indonesia.
Jurnal Litbang Pertanian, Ix (4): 69-75
Hapsari., A.D. 2013. Dinamika Kualitas Air pada Kolam Pemeliharaan Ikan
Tengadak (Barbonymus Schawanenfeldii Bleeker, 1854). Departemen
Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan Dan Ilmu
Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
http://www.manfaatbuahan.com/2016/03/manfaat-bawang-merah.html
https://pukate.blogspot.co.id/2016/11/contoh-karya-tulis-ilmiah-bab-2.html

Huet, M. 1971. Textbook of Fish Culture.Breeding and Cultivation of Fish. Ryre &
Spottiswoode Ltd, at the Press Margate. England
Kottelat., M. Whitten AJ. Kartikasari SN. Wirjoatmajo S. 1993. Fresh Water Fish
Of Western Indonesia and Sulawesi . Periplus Editions Limited,
Singapura.
Kusmini, I.I., Rudi, G., dan Mulyasari. (2010). Karakteristik Truss Morfometrik
Ikan Tengadak (Barnonymus schawanenfeldii) Asal Kalimantan Barat
dengan Ikan Tengadak Albino Asal jawa Barat. Prosiding Forum Inovasi
Akuakultur 2010.
Moyle dan Cech. 2004. Fises An Intoduction to Icthylogy. Prentice Hall, Upper
Saddle River.
Muhlisah, F dan Sapta Hening S. 2000. Sayur dan Bumbu Dapur Berkhasiat Obat.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Nelson, J. S. 1994. Fishes of the world. Third Edition. John Wiley and Sons, Inc.
NY. Chichester, Brisbane, Toronto, singapure.
Nikolsky, G.V. 1963. The Ecology of Fishes. Academy Press. New York. 35 2.
Pitojo, S. 2003. Benih Bawang Merah. Kansius. Yogyakarta.
Prakoso V.A., Huwoyon G.H. 2012. Pembesaran Ikan Tengadak Albino dan Hitam
(Barbonymus schwanenfeldii). Prosiding Forum Inovasi Teknologi
Akuakultur 2012. Pusat Riset Perikanan Budidaya. ISBN 978-979-789-
041-4.
Pulungan., C., P. 1987. Potensi Budidaya Ikan Kaprek Dari Sungai Kampar Riau.
Pusat Penelitian Universitas Riau. Pekan Baru. 73 Hlm.
Rubatzky, V. E. Dan M. Yamaguchi. 1998. Sayuran Dunia 2: Prinsip, Produksi dan
Gizi. Penerbit ITB. Bandung.
Setiawan, B. 2007. Biologi Reproduksi dan Kebiasaan Makan Ikan Lampan
(Barbonymus schwanenfeldii) di sungai musi, Sumatra selatan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor. 177 Hal.
Sucipto., A. dan Prihartono, R. Eko. 2005. Pembesaran Nila Merah Bangkok.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sukarti., K. Bratawinata AA., Sidik AS., dan Matius P. 2012. Kelayakan Kualitas
Air untuk Kelangsungan Hidup Ikan Di Sungai Separi Kabupaten Kutai
Kartanegara. Proinsi Kalimantan Timur. Prosiding seminar nasional
perikanan indonesia. Jakarta (ID). Sekolah Tinggi Perikanan.
Suriani, N. 2011. Bawang Bawa Untung. Budidaya Bawang Merah dan Bawang
Merah. Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta
Susianti., N. 2014. Peranan Suhu Dan Penambahan Magnesium Dalam
Meningkatkan Kinerja Pertumbuhan Pada Pendederan Benih Ikan
Tengadak (Barbonymus Schawanenfeldii). Skripsi. Sekolah Pasca Serjana.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Vahl, O. 1979. An Hipotesis on the Control of Food In Take In Fish. Aquaculture,
17 : 220-229.
Wibowo, S. 2009. Budidaya Bawang Putih, Bawang Merah dan Bawang Bombay.
Cetakan 1. Penebar Swadaya, Jakarta.