Anda di halaman 1dari 11

16.

CEKUNGAN SELAT SUNDA

16.1 REGIONAL

Nama dalam Polyhistory Basin : Paleogene Fore Arc - Neogene Intra Arc Basin.

Klasifikasi Cekungan : Cekungan Sedimen Dengan Indikasi Hidrokarbon.

Cekungan Selat Sunda berada diantara Pulau Sumatera dan Jawa, serta dibatasi oleh Gunung Api
di sebelah barat (Gunung Krakatau) dan timurnya. Cekungan yang berbatasan dengannya yakni
Cekungan Ujungkulon di sebelah selatan, Cekungan Sunda di sebelah timur laut dan Cekungan
Bogor di sebelah timur. Secara geografis cekungan ini terletak pada 105o 30 - 105o 50 BT - 6o
00 - 6o 35 LS (Gambar CEKUNGAN SELAT SUNDA.1). Luas cekugan sekitar 1.674 km2
dengan 192,2 km2 luas di daratan dan 1.481,8 km2 luas di daerah lepas pantai.

1
Gambar CEKUNGAN SELAT SUNDA.1 Peta lokasi cekungan dan isopach.

Penarikan batas cekungan didasarkan pada deliniasi garis isopach pada nilai 2.500 m. Meskipun
dalam peta regional dari anomali gaya berat (Gambar CEKUNGAN SELAT SUNDA.2)
menunjukkan suatu anomali positif yang menunjukkan tinggian, namun berdasarkan data
seismik menunjukkan adanya bentukan trough, serta dari beberapa sumur pemboran yang ada
mendapatkan endapan tebal sedimen vulkaniklastik yang berumur Plio-Plistosen.

2
Gambar CEKUNGAN SELAT SUNDA.2 Peta anomali gaya berat (Pusat Survey Geologi, 2000).

Menurut Katili (1990), Cekungan Selat Sunda merupakan cekungan fore arc yang berasosiasi
dengan subduksi miring (oblique) dari lempeng samudera dibawah busur kepulauan, dan tidak
terlalu dipengaruhi oleh tumbukan yang terjadi antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia.

3
16.2 TEKTONIK DAN STRUKTUR REGIONAL

Cekungan Selat Sunda berada berada diantara Pulau Jawa dan Sumatera, sehingga secara prinsip
memiliki aspek yang merupakan daerah dengan perubahan tiba-tiba dari trend/arah longitudinal,
dimana Pulau Jawa memiliki trend berarah barat-timur dan Pulau Sumatera yang berarah
baratlaut-tenggara, serta offset dari trend longitudinal. Selat Sunda juga merupakan area dengan
melimpahnya sesar mendatar yang berarah utaratimurlaut-selatantenggara.

Merupakan daerah transisi perbedaan pada aktifitas vulkanisme dan kedalaman pusat gempa;
dimana tinggi untuk daerah Jawa dan rendah di Sumatera. Aspek selanjutnya ialah munculnya
Gunung Api Krakatau di tengah-tengah dari Selat Sunda, perbedaan pada dip dari zona subduksi,
dip curam untuk daerah Jawa dan dip yang landai di Sumatera, serta diperkirakan merupakan
daerah ujung dari Sesar Semangko.

Data-data yang didapatkan oleh Anugrahadi dkk. (2004) yaitu kecepatan subduksi sekitar 60
mm/tahun di Sumatera dan sekitar 78 mm/tahun di Jawa (diujung dari Sunda Trench).
Kedalaman Zona Benioff hanya sekitar 300 km untuk Sumatera sedangkan Jawa mencapai 700
km (Ghose dkk., 1990 op cit. Anugrahadi dkk., 2004). Juga terdapat perbedaan dalam kondisi
batuan dan proses geologi antara Jawa dan Sumatera.

Kedalaman lantai samudra sekitar 3.000 m di lepas pantai Jawa dan sekitar 2.000 m di Selat
Sunda dan selatan Sumatra. Selanjutnya di Pantai Selatan Jawa Barat dan sekitarnya
mengandung lempung lebih banyak dan lapisan debu vulkanik seperti juga kandungan karbonat
sekitar 10-15% dibandingkan di lepas pantai Sumatera.

Separasi akibat pergerakan sesar mendatar diantara Jawa dan Sumatera adalah sekitar 100 km
panjangnya. Pergerakan kearah baratlaut blok baratdaya dari Sumatera sepanjang sesar mendatar
Semangko (migrasi pecahan dari daerah depan busur) dan bertanggungjawab terhadap ekstensi
yang berarah baratlaut-tenggara dan pembentukan dari Cekungan Selat Sunda.

Pembukaan dimulai pada 5 Juta tahun yang lalu, diakhir dari umur Miosen. Pergerakan sesar
mendatar ini membentuk pull apart basin, dengan penurunan dasar cekungan yang sangat cepat,
proses transtensional, vulkanisme dan aktifitas seismik kegempaan yang menyebabkan

4
pemecahan Selat Sunda menjadi half graben. Menurut Huchon dan Le Pichon (1984), Selat
Sunda dideskripsikan sebagai pull apart basin dengan ekstensi yang berarah barat-timur.

5
16.3 STRATIGRAFI

Pengisian cekungan oleh sedimen di kontrol oleh cepatnya penurunan dasar cekungan yang
terjadi di Cekungan Selat Sunda. Lebih dari 5.000 m dari sedimen Plio-Plistosen terendapkan di
dalam cekungan ini. Beberapa sumur pemboran (yang dilakukan oleh Aminoil, Sumur B1, C1,
dan D1) menembus serpih, lanau tufaan, dan batupasir, serta aliran lava yang berumur Plio-
Plistosen. Sumur B1 dengan TD 1.526 m, Sumur C1 dengan TD 3.005 m, dan Sumur D1 dengan
TD 2.448 m.

Batuan yang ditembus oleh sumur C-1-SX merupakan sikuen yang berumur Kuarter hingga
Pliosen Atas. Batuan umumnya terdiri atas batulempung yang kaya akan foraminifera dan
terendapkan di lingkungan yang bervariasi, dari sublitoral hingga bathyal atas.

Hal yang tidak umum dari sumur C1 ialah didapatkannya sikuen yang sangat tebal dari endapan
Pliosen Atas (di kedalaman 1.820 9.860 kaki). Bukti adanya vulkanisme yang seumur
didapatkan dari sebaran debris vulkanik pada batulempung dan beberapa bed tufa. Jelasnya
sumur ini berada di daerah struktural dan aktivitas vulkanik yang berumur Plio-Plistosen. Sumur
ini menembus section batuan marine yang umumnya terdiri dari batulempung yang berseling
dengan lapisan tipis batupasir kuarsa, lanau, dan klastik. Klastik disini berasal dari material
vulkanik. Sisanya kemungkinan adalah re-worked dari endapan teresterial, dan dibeberapa
bagian ditemukan material piroklastik dari udara yang masuk kedalam lautan. Sangat sedikit
sekali variasi yang ditemukan pada keseluruhan unit batulempung.

Fosil marine dan foram lebih melimpah pada batuan Kuarter, fosilnya didominasi oleh foram
bentonik, foram plankton hanya sekitar 25% dari total fauna. Batuan yang sedang ataupun kaya
akan fosil foraminifera berumur Pliosen Atas. Umur batuan pada bagian atas hingga kedalaman
1.820 kaki yakni Plistosen hingga Resen, sedangkan dari kedalamn 1.820 kaki hingga ke bawah
berumur Pliosen Atas. Berdasarkan studi palinologi yang dilakukan pada conto batuan di
kedalaman 7.000 8.000 kaki, ditemukan adanya beberapa material tumbuhan yang telah
terkarbonasi, namun karena temperatur yang tinggi, tidak ada palynomorph yang dapat
ditemukan.

6
Hal-hal diatas mengindikasikan hampir keseluruhan dari endapan sedimen yang mengisi half
graben Selat Sunda terdiri vulkaniklastik sedimen dari Pliosen hingga Plistosen, serta buruk
sebagai reservoir dan batuan induk. Bagian terdalam dari cekungan, mungkin saja mengandung
endapan vulkaniklastik yang berumur Miosen Tengah Atas, seperti yang terdapat di Cekungan
Jawa Barat.

Berdasarkan data seismik (Gambar 16.3) bentuk dari cekungan ini secara umum merupakan
half graben yang bertingkat-tingkat (steps). Dari hasil interpretasi tersebut, didapatkan endapan
Pliosen yang sangat tebal diatas batuan dasar dan merupakan endapan syn-rift yang terdiri dari
sedimen vulkaniklastik, serta dilanjutkan dengan endapan Plistosen yang masih berupa endapan
vulkaniklastik. Ditengah-tengah dari cekungan ini diintrusi oleh vulkanik yang berumur Plio-
Plistosen. Cekungan ini berbatasan dengan Cekungan Ujungkulon di sebelah selatan yang
diantaranya dibatasi oleh Tinggian Honje.

7
8
Gambar CEKUNGAN SELAT SUNDA.3 Penampang seismik Cekungan Selat Sunda (Penampang crossline dari PERTAMINA-BEICIP 200,
dan penampang inline dari ANADARKO, 2003).

9
16.4 SISTEM PETROLEUM

Tidak ada laporan mengenai show ataupun reservoir yang cukup baik untuk hidrokarbon
ditemukan di dalam sumur-sumur pemboran yang ada. Beberapa gas yang tidak signifikan
ditemukan pada zona rekahan dan pada beberapa endapan vulkaniklastik pada kedalaman lebih
dari 7.850 kaki. Strukturnya berhubungan dengan tektonik wrench, menutupi tinggian batuan
dasar ekonomis (gunung api) dan perangkap yang dikontrol sesar.

10
DAFTAR PUSTAKA

Anugrahadi, A., Koesnadi H.S., Surachman, Y., dan Muljawan, D., 2004, Geological Condition
Of The Convergent Margin System Off West Java And Southern Sumatra,
Indonesian Petroleum Association Proceedings, Deepwater And Frontier
Exploration In Asia & Australasia Symposium.

Katili, J.A., Prasetyo, H., Indriastomo, D., Samuel, L., dan Kusuma, I., 1990, Geology and
petroleum potential of the Indonesian fore-arc basins, AAPG Bulletin (American
Association of Petroleum Geologists), Vol/Issue: 74:5, Annual convention and
exposition of the American Association of Petroleum Geologists.

Noujaim , Alfred K., 1976, Drilling In A High Temperature And Overpressured Area Sunda
Straits, Indonesia, Proceedings Indonesian Petroleum Association, Fifth Annual
Convention, hal. 211-214.

PERTAMINA-BEICIP, 1992, Global Geodynamics, Basin Classification and Exploration Play-


types in Indonesia.

A.C. Bowles, Jr., 1986, Structural And Stratigraphic Evolution Of The Southwest Sumatran
Bengkulu Shelf, Proceedings Indonesian Petroleum Association Fifteenth Annual
Convention, hal. 215 243.

Huchon, P. dan Le Pichon, X., 1984, Sunda Strait and Central Sumatra Fault, Geology, v. 12,
hal. 668 672.

PERTAMINA-BEICIP, 1992, Global Geodynamics, Basin Classification and Exploration Play-


types in Indonesia.

11