Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kegawatdaruratan urologi merupakan kegawatan di bidang urologi yang

bisa disebabkan oleh karena trauma maupun bukan trauma. Pada trauma

urogenitalia, biasanya dokter cepat memberikan pertolongan dan jika fasilitas

yang tersedia tidak memadai, biasanya langsung merujuk ke tempat yang lebih

lengkap. Berbeda halnya dengan kedaruratan urogenitalia non trauma, yang sering

kali tidak terdiagnosis dengan benar, menyebabkan kesalahan penanganan

maupun keterlambatan dalam melakukan rujukan ke tempat yang lebih lengkap,

sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan organ dan bahkan ancaman terhadap

jiwa pasien.1

Kegawatdaruratan urologi dibagi menjadi dua yaitu, trauma dan non

truma.

Beberapa keduratan urologi trauma adalah sebagai berikut:1

1. Trauma (ruptur) ginjal

2. Trauma buli-buli

3. Trauma penis

Beberapa kedaruratan urologi non trauma tersebut diantaranya adalah:1

1. Urosepsis

2. Sumbatan aliran urine akut (retensi urine, anuria, kolik)

3. Hematuria

4. Strangulasi (torsio testis, priapismus, parafimosis).

1
Dengan diagnosis yang benar maka dapat dilakukan penanganan yang cepat dan

mengurangi komplikasi yang ditimbulkan dari penyakit tersebut.

2
BAB II

ANATOMI DAN FISIOLOGI TRAKTUS URINARIUS

1. Anatomi Traktus Urinarius

Traktus urinarius atau yang sering disebut dengan saluran kemih terdiri dari

dua buah ginjal, dua buah ureter, satu buah kandung kemih ( vesika urinaria ) dan

satu buah uretra.

1.1. Ginjal

Ginjal manusia berjumlah 2 buah, terletak dipinggang, sedikit dibawah tulang

rusuk bagian belakang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibanding ginjal kiri.

Mempunyai ukuran panjang 7 cm dan tebal 3 cm. Terbungkus dalam kapsul yang

terbuka kebawah. Diantara ginjal dan kapsul terdapat jaringan lemak yang 5

membantu melindungi ginjal terhadap goncangan. Ginjal mempunyai nefron yang

tiap tiap tubulus dan glomerulusnya adalah satu unit. Ukuran ginjal ditentukan

oleh sejumlah nefron yang dimilikinya. Kira kira terdapat 1,3 juta nefron dalam

tiap tiap ginjal manusia. 1,2

Gambar 1.1. Ginjal

3
Berikut ini adalah fungsi dari Ginjal, antara lain : 2

a. Menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh.

b. Mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan

c. Reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian

tubulus ginjal

d. Menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh

e. Menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel

darah merah (SDM) di sumsum tulang

f. Hemostasis Ginjal, mengatur pH, konsentrasi ion mineral, dan komposisi air

dalam darah

1.2 Ureter

Ureter merupakan dua saluran dengan panjang sekitar 25 sampai 30 cm,

terbentang dari ginjal sampai vesika urinaria. Fungsi satu satunya adalah

menyalurkan urin ke vesika urinaria. 2

Gambar 1.2. Ureter

4
1. 3. Vesika Urinaria

Vesika urinaria adalah kantong berotot yang dapat mengempis, terletak 3

sampai 4 cm dibelakang simpisis pubis ( tulang kemaluan ). Vesika urinaria

mempunyai dua fungsi yaitu : 2

a. Sebagai tempat penyimpanan urin sebelum meninggalkan tubuh.

b. Dibantu uretra vesika urinaria berfungsi mendorong urin keluar tubuh.

Didalam vesika urinaria mampu menampung urin antara 170 230 ml.

Gambar 1.3. Vesika urinaria

1.4. Uretra

Uretra adalah saluran kecil dan dapat mengembang, berjalan dari kandung

kemih sampai keluar tubuh. Pada wanita uretra pendek dan terletak didekat

vagina. Pada uretra laki laki mempunyai panjang 15 20 cm.2

5
Gambar 1.4 uretra

2. Pembentukan Urin

Urin merupakan larutan kompleks yang terdiri dari sebagian besar air

(96%) air dan sebagian kecil zat terlarut ( 4%) yang dihasilkan oleh ginjal,

disimpan sementara dalam kandung kemih dan dibuang melalui proses mikturisi.2

Proses pembentukan urin, yaitu : 5

a. Filtrasi (penyaringan) : capsula bowman dari badan malpighi menyaring

darah dalam glomerulus yang mengandung air, garam, gula, urea dan zat

bermolekul besar (protein dan sel darah) sehingga dihasilkan filtrat

glomerulus (urin primer). Di dalam filtrat ini terlarut zat seperti glukosa,

asam amino dan garam-garam.

6
b. Reabsorbsi (penyerapan kembali) : dalam tubulus kontortus proksimal

zat dalam urin primer yang masih berguna akan direabsorbsi yang

dihasilkan filtrat tubulus (urin sekunder) dengan kadar urea yang tinggi.

c. Sekresi (pengeluaran) : dalam tubulus kontortus distal, pembuluh darah

menambahkan zat lain yang tidak digunakan dan terjadi reabsorbsi aktif

ion Na+ dan Cl- dan sekresi H+ dan K+. Selanjutnya akan disalurkan ke

tubulus kolektifus ke pelvis renalis.

3. Pengambilan Urin

Jumlah urin sangat berbeda dari seseorang ke orang lain, banyak faktor

yang berpengaruh, maka penting artinya untuk memilih contoh urin menurut

tujuan pemeriksaan.3

1. Syarat syarat Penampung Urin

Botol penampung urin harus bersih dan kering, adanya air dan kotoran

dalam wadah berarti adanya kuman kuman yang kelak berkembang biak dalam

urin dan mengubah susunannya. Wadah urin yang terbaik adalah yang bermulut

lebar dapat disumbat rapat dan terbuat dari gelas. Sebuah wadah yang volumenya

300 ml, mencukupi untuk urin sewaktu tetapi jika hendak mengumpulkan urin,

dipakai yang lebih besar. Untuk pemeriksaan ini wadah tidak perlu steril tetapi

harus bersih dan kering.3

7
2. Macam macam Contoh Urin.

a. Urin Sewaktu. Urin sewaktu adalah urin yang dikeluarkan pada satu waktu

yang tidak ditentukan dengan khusus. Urin ini cukup baik untuk

pemeriksaan rutin yang menyertai pemeriksaan badan tanpa tanda khusus.

b. Urin Pagi Urin pagi adalah urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi

hari setelah bangun tidur. Urin ini lebih pekat dari urin yang dikeluarkan

pada siang hari, jadi baik untuk pemeriksaan sedimen, berat jenis, dan

protein

c. Urin 24 Jam Urin 24 jam adalah urin yang dikeluarkan dan dikumpulkan

selama 24 jam. Untuk pengumpulan urin ini diperlukan botol yang besar

dan dapat ditutup rapat, botol ini harus bersih dan biasanya memerlukan

pengawet.

d. Urin Postprandial Urin Postprandial yaitu urin yang pertama kali

dikeluarkan 1,5 sampai 3 jam setelah makan, sangat baik untuk

pemeriksaan terhadap reduksi dan kelainan sedimen.

e. Urin 2 Gelas dan urin 3 Gelas pada Orang Lelaki. Penampungan ini

dipakai pada pemeriksaan urologis dan dimaksudkan untuk mendapatkan

gambaran tentang letaknya lesi atau radang lain yang mengakibatkan

adanya nanah atau darah dalam urin seorang laki- laki.

8
Penderita harus berkemih langsung ke dalam gelas gelas itu tanpa menghentikan

aliran urinnya.

a. Pada Gelas pertama ditampung 20 40 ml urin yang mula mula keluar.

b. Ke dalam gelas kedua dimasukkan urin berikutnya, kecuali beberapa ml

terakhir dikeluarkan.Urin ini berisi unsur unsur dari kantong kencing.

c. Beberapa ml urin terakhir ditampung dalam gelas ketiga dan urin ini

diharapkan akan mengandung unsur unsur khusus dari pars prostatica

uretra serta getah yang terperas keluar dari akhir berkemih.5,6

9
BAB III

KEGAWATDARURATAN UROLOGI

3.1. KEDARURATAN UROLOGI NON TRAUMA

3.1.1. Urosepsis

Urosepsis adalah infeksi sistemik yang berasal dari fokus infeksi di traktus

urinarius sehingga menyebabkan bakteremia dan syok septik.1 Insiden urosepsis

20-30 % dari seluruh kejadian septikemia dan lebih sering berasal dari komplikasi

infeksi di traktus urinarius. Pasien yang beresiko tinggi urosepsis adalah pasien

berusia lanjut, diabetes dan immunosupresif seperti penerima transplantasi, pasien

dengan AIDS, pasien yang menerima obat-obatan antikanker dan imunosupresan.2

Tabel 2.1. Kelainan struktur dan fungsi traktus urinarius yang

berhubungan dengan sepsis2

Obstruksi Kongenital: striktur uretra, fimosis, ureterokel,

policystic kidney disease

Didapat: calkulus, hipertrofi prostat, tumor traktus

urinarius, trauma, kehamilan, radioterapi

Instrumentasi Kateter ureter, stent ureter, nephrostomy tube,

prosedur urologik.

Impaired voiding Neurogenic bladder, sistokel, refluk vesikoureteral

Abnormalitas metabolik Nefrokalsinosis, diabetes, azotemia

Imunodefisiensi Pasien dengan obat-obatan imunosupresif,

neutropenia.

10
Mortalitasnya mencapai 20-49 % bila disertai dengan syok. Oleh karena

itu pertolongan harus cepat dan adekuat untuk mencegah kegagalan organ dan

komplikasi lebih lanjut. Karena merupakan penyebaran infeksi, maka kuman

penyebabnya sama dengan kuman penyebab infeksi primer di traktus urinarius

yaitu golongan kuman coliform gram negatif seperti Eschericia

coli(50%), Proteus spp (15%), Klebsiella dan Enterobacter (15%),

danPseudomonas aeruginosa (5%). Bakteri gram positif juga terlibat tetapi

frekuensinya lebih kecil yaitu sekitar 15%. Penelitian TheEuropean Study Group

on Nosocomial Infections (ESGNI-004study) dengan membandingkan antara

pasien yang menggunakan kateter dan non-kateter ditemukan

bahwa E.coli sebanyak 30,6% pada pasien dengan kateter dan 40,5% pada non-

kateter, Candida spp 12,9% pada pasien dengan kateter dan 6,6% pada non-

kateter,P.aeruginosa 8,2% pada pasien dengan kateter dan 4,1% pada non-

kateter.5

Patogenesis

Patogenesis dari gejala klinis urosepsis adalah akibat dari masuknya

endotoksin, suatu komponen lipopolisakarida dari dinding sel bakteri yang masuk

ke dalam sirkulasi darah. Lipopolisakarida ini terdiri dari komponen lipid yang

akan menyebabkan: 2,4

1. Aktivasi sel-sel makrofag atau monosit sehingga menghasilkan beberapa

sitokin, antara lain tumor necrosis factor alfa (TNF ) dan interleukin I (IL

11
I). Sitokin inilah yang memacu reaksi berantai yang akhirnya dapat

menimbulkan sepsis dan jika tidak segera dikendalikan akan mengarah

pada sepsis berat, syok sepsis, dan akhirnya mengakibatkan disfungsi

multiorgan atau multi organs dysfunction syndrome (MODS).

2. Rangsangan terhadap sistem komplemen C3a dan C5a menyebabkan

terjadinya agregasi trombosit dan produksi radikal bebas, serta

mengaktifkan faktor-faktor koagulasi.

3. Perubahan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, protein, dan oksigen.

Karena terdapatnya resistensi sel terhadap insulin maka glukosa dalam

darah tidak dapat masuk ke dalam jaringan sehingga untuk memenuhi

kebutuhan sel akan glukosa terjadi proses glukoneogenesis yang bahannya

berasal dari asam lemak dan asam amino yang dihasilkan dari katabolisme

lemak berupa lipolisis dan katabolisme protein.

Diagnosis

Diagnosis dari urosepsis dibuat berdasarkan dari anamnesa, pemeriksaan

fisik, laboratorium dan rontgenologik. Dari anamnesa, data yang positif adalah

adanya demam, panas badan dan menggigil dengan didahului atau disertai gejala

dan tanda obstruksi aliran urin seperti nyeri pinggang, kolik dan atau benjolan

diperut atau pinggang. Hanya 1/3 pasien yang mengeluh demam dan menggigil

dengan hipotensi. Keluhan febris yang terjadi setelah gejala infeksi saluran

kencing bagian bawah yaitu polakisuria dan disuria juga sangat mencurigakan

12
terjadinya urosepsis. Demikian pula febris yang menyertai suatu manipulasi

urologik. 4,5

Pada pemeriksaan fisik yang ditemukan dapat sangat bervariasi berupa

takipneu, takikardi, dan demam kemerahan dengan gangguan status mental. Pada

keadaan yang dini, keadaan umum penderita masih baik, tekanan darah masih

normal, nadi biasanya meningkat dan temperatur biasanya meningkat antara 38-

40C.5

Sepsis yang telah lanjut memberikan gejala atau tanda-tanda berupa

gangguan beberapa fungsi organ tubuh, antara lain gangguan pada fungsi

kardiovaskuler, ginjal, pencernaan, pernapasan dan susunan saraf pusat.5

13
Tabel 2.2. Definisi Sepsis. 6

Keadaan Kriteria

SIRS (Systemic Terdapat paling sedikit dua dari beberapa kriteria

Inflammatory dibawah ini :

Respond Syndrome) 1. suhu tubuh > 38 C atau <>

2. Denyut nadi > 90 x/

3. Frekuensi nafas > 20 x/ atau PaCO2 <>

4. Leukosit > 12000/mm3 atau <4000/mm3 atau

lekosit muda > 10%

MODS (Multiple SIRS dengan disfungsi organ dan hemostasis tidak dapat

Organ Dysfunction dipertahankan tanpa adanya intervensi

Sydrome)

Sepsis SIRS dengan tanda-tanda infeksi

Sepsis Berat Sepsis disertai dengan hipotensi (sistole <>

Syok Septik Sepsis disertai dengan hipotensi dan hipoperfusi

Pemeriksaan status lokalis daerah abdomen sepanjang traktus urinarius

penting untuk menentukan pre eksisting anomalinya dan yang diketemukan sangat

bervariasi tergantung kelainan primernya. Dilakukan palpasi pada daerah

costophrenikus, abdomen bawah, regio pubis, kelenjar limfe inguinal, genital,

serta pemeriksaan transvaginal dan transrektal. Pemeriksaan laboratorium yang

mendukung diagnosa urosepsis adalah adanya lekositosis dengan hitung

deferensial ke kiri, lekosituria dan bakteriuria.12,14

14
Untuk menegakkan diagnosis urosepsis harus dibuktikan bahwa bakteri

yang berada dalam darah (kultur darah) sama dengan bakteri yang ada dalam

saluran kemih (kultur urin). Kultur urin disertai dengan test kepekaan antibiotika

sangat penting untuk menentukan jenis antibiotika yang diberikan. Pemeriksaan

roentgen yang sederhana yang dapat dikerjakan adalah foto polos abdomen.

Pemeriksaan ini membantu menunjukkan adanya kalsifikasi, perubahan posisi dan

ukuran dari batu saluran kemih yang mungkin merupakan fokus infeksi. Yang

diperhatikan pada hasil foto adalah adanya bayangan radio opak sepanjang traktus

urinarius, kontur ginjal dan bayangan/garis batas muskulus psoas. Pemeriksaan

pyelografi intravena (IVP) dapat memberikan data yang penting dari kaliks,

ureter, dan pelvis yang penting untuk menentukan diagnosis adanya refluk

nefropati dan nekrosis papilar. Bila pemeriksaan IVP tidak dapat dikerjakan

karena kreatinin serum terlalu meningkat, maka pemeriksaan ultrasonografi akan

sangat membantu menentukan adanya obstruksi dan juga dapat untuk

membedakan antara hidro dan pyelonefrosis. Selain pemeriksaan tersebut juga

dapat dilakukan pemeriksaan CT scan dan MRI.6

Penatalaksanaan

Penanganan penderita urosepsis harus cepat dan adekuat. Pada prinsipnya

penanganan terdiri dari:2

1. Penanganan gawat (syok) ; resusitasi ABC

2. Pemberian antibiotika

3. Resusitasi cairan dan elektrolit

15
4. Tindakan definitif (penyebab urologik)

Pemberian antibiotik sebagai penanganan infeksi ditujukan unuk eradikasi

kuman penyebab infeksi serta menghilangkan sumber infeksi. Pemberian

antibiotik harus cepat dan efektif sehingga antibiotika yang diberikan adalah yang

berspektrum luas dan mencakup semua kuman yang sering menyebabkan

urosepsis yaitu golongan aminoglikosida (gentamisin, tobramisin atau amikasin)

golongan ampicilin yang dikombinasi dengan asam klavulanat atau sulbaktam,

golongan sefalosforin generasi ke III atau golongan florokuinolon. Sefalosforin

generasi ke-3 dianjurkan diberikan 2 gr dengan interval 6-8 jam dan untuk

golongan cefoperazone dan ceftriaxone dengan interval 12 jam. Penelitian oleh

Naber et al membuktikan bahwa pemberian antibiotik injeksi golongan

florokuinolon dan piperacillin/tazobaktam direkomendasikan untuk terapi

urosepsis. Penelitian selanjutnya oleh Concia dan Azzini terhadap levofloksasin

membuktikan bahwa levofloksasin sebagai terapi tambahan memiliki efek pada

ekskresi renal dan tersedia dalam bentuk injeksi intravena dan oral.6

Resusitasi cairan, elektrolit dan asam basa adalah mengembalikan keadaan

tersebut menjadi normal. Urosepsis adalah penyakit yang cukup berat sehingga

biasanya oral intake menurun. Keadaan demam/febris juga memerlukan cairan

ekstra. Kebutuhan cairan dan terapinya dapat dipantau dari tekanan darah, tekanan

vena sentral dan produksi urine. Bila penderita dengan hipotensi atau syok (tensi

<>2O dan diberikan larutan kristaloid dengan kecepatan 15-20 ml/menit.14

16
Bila terdapat gangguan elektrolit juga harus dikoreksi. Bila K serum 7

meq/L atau lebih perlu dilakukan hemodialisa. Hemodialisa juga diperlukan bila

terdapat Kreatinin serum > 10 mg%, BUN > 100 mg% atau terdapat edema paru.

Drainase yang segera perlu dikerjakan bila terdapat timbunan nanah misalnya

pyonefrosis atau hidronefrosis berat (derajat IV). Pyonefrosis dan hidronefrosis

yang berat menyebabkan terjadinya iskemia sehingga mengurangi penetrasi

antibiotika. Drainase dapat dikerjakan secara perkutan atau dengan operasi biasa

(lumbotomi). Penderita yang telah melewati masa kritis dari septikemia maka

harus secepatnya dilakukan tindakan definitif untuk kelainan urologi primernya.

3.1.2. Fournier Gangren2

Penyakit Fournier adalah bentuk dari fascitis nekrotikan yang

terdapat di sekitar genitalia eksterna pria. Penyakit ini merupakan

kedaruratan di bidang urologi karena mula penyakitnya

(onset) berlangsung sangat mendadak, cepat berkembang, bisa menjadi

gangrene yang luas, dan menyebabkan septikemia.

Etiologi

Fournier yang pertama kali melaporkan kejadian penyakit ini pada tahun

1883 terhadap 5 pria yang menderita gangrene skrotum, menyebutkan

bahwa sebabnya adalah idiopatik. Saat ini penyebab penyakit ini dapat

diungkapkan, di antaranya 13-50% adalah infeksi dari kolorektal dan 17-

87% sumber infeksi dari urogenitalia, sedang yang lain dari trauma lokal

atau infeksi kulit di sekitar genitalia.

17
Kelainan kolorektal yang dilaporkan sering menyebabkan penyakit ini di

antaranya adalah abses pada perianal, perirektal, atau isiorektal, dan perforasi

karena kanker kolon, instrumentasi, atau divertikulitis. Sumber dari

urogenitalia adalah: striktura uretra yang menyebabkan ekstravasasi urine,

balanitis, dan instrumentasi uretra. Diabetes mellitus, alkoholisme, higiene

skrotum yang kurang baik, serta penurunan imunitas tubuh seperti pada

pasien AIDS memudahkan terjadinya penjalaran gangrene Fournier.

Gambaran Klinis

Pada awalnya terdapat demam yang dapat berkembang menjadi demam

tinggi sampai toksemia, syok, dan delirium. Keadaan lokal pada penis,

skrotum dan kulit sekitarnya tampak bengkak, nyeri, teraba hangat, dan

eritematous. Jika teraba krepitasi menandakan adanya infeksi kuman

pembentuk gas, di antaranya adalah Clostridium spp. Pada fase lanjut, terjadi

gangrene dengan nekrosis luas, plak berwarna hitam dan hijau, dan sekret

sangat berbau.

Mikroorganisme penyebab infeksi seringkali tidak hanya satu macam,

melainkan merupakan infeksi polimikroba dari enterik gram negatif, gram

positif Stafilokokus atau Streptokokus, dan bakteri anerobik (Clostridium

spp). E coli, Bakteroides, Klebsiella spp, Proteus spp, Pseudomonas spp, dan

Enterokoki disebut sebagai bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi

ini.

18
Terapi

Prinsip terapi pada gangrene Fournier adalah terapi suportif memperbaiki

keadaan umum pasien, pemberian antibiotika, dan debridement dengan

membuang jaringan nekrosis. Antibiotika yang dipilih adalah yang sesuai

dengan hasil sensitifitas kultur kuman atau jika belum ada hasil kultur,

dipilih antibiotika yang berspektrum luas, yaitu golongan penisilin,

klindamisin, atau aminoglikosida.

Tujuan debridement adalah mengangkat seluruh jaringan nekrosis

(devitalized tissue). Sebelum dilakukan debridement sebaiknya dicari sumber

infeksi dari uretra atau dari kolorektal dengan melakukan uretroskopi atau

proktoskopi. Kadang-kadang perlu dilakukan diversi urine melalui sistostomi

atau diversi feses dengan melakukan kolostomi. Setelah nekrotomi,

dilakukan perawatan terbuka dan kalau perlu pemasangan pipa drainase.

Setelah 12 dan 24 jam lagi dilakukan evaluasi untuk menilai demarkasi

jaringan nekrosis dan kalau perlu dilakukan operasi ulang. Debridement yang

kurang sempurna seringkali membutuhkan operasi ulang bahkan dilaporkan

dapat terjadi dua atau empat kali harus masuk kamar operasi.

Pemberian oksigen hiperbarik masih kontroversi. Terapi ini bermanfaat pada

infeksi kuman anerobik. Perawatan luka pasca operasi dengan hidroterapi

dengan kombinasi rendam duduk hangat, dan pemberian hidrogen

19
peroksida. Pemberian madu yang belum diproses berguna dalam

membersihkan jaringan nekrosis secara enzimatik, mengurangi bau, mampu

mensterilkan luka, menyerap air dari luka, memperbaiki oksigenasi jaringan,

dan memingkatkan re-epitelialisasi. Angka mortalitas gangrene Fournier

berkisar dari 7-75% dengan rerata 20%. Berbagai faktor yang mempengaruhi

terjadinya mortalitas adalah: usia lanjut, penyakit yang sudah menjalar luas,

syok atau sepsis, kultur darah menunjukkan bakteriemia, dan uremia.

3.1.3. Sumbatan Aliran Urine Akut

Retensi Urine

Retensi urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk

mengeluarkan urin yang terkumpul didalam buli-buli sehingga kapasitas

maksimal dari buli-buli terlampaui. Adapun kapasitas maksimal pada

dewasa adalah 400-500 cc, sedangkan anak-anak : (umur + 2) x 30 ml.2

Adapun penyebab retensi urine antara lain:2

A. Kelemahan detrusor

Cedera/gangguan pada medula spinalis atau kerusakan saraf perifer

(misalnya diabetes melitus), detrusor yang mengalami

peregangan/dilatasi yang berlebihan untuk waktu yang lama.

B. Gangguan koordinasi detrusor-sfingter (dis-sinergi) :

Cedera/gangguan sumsum tulang belakang di daerah cauda equina.

20
C. Hambatan/obstruksi uretra :

kelainan kelenjar prostat (BPH, Ca), striktura uretra, batu uretra,

kerusakan uretra (trauma), fimosis, parafimosis, gumpalan darah di

dalam buli-buli (clot retention) dll.

Akibat retensi urin tersebut akan menyebabkan:2

o Buli-buli akan mengembang melebihi kapasitas maksimal sehingga

tekanan didalam lumennya dan tegangan dari dindingnya akan

meningkat.

o Bila keadaan ini dibiarkan berlanjut, tekanan yang meningkat

didalam lumen akan menghambat aliran urin dari ginjal dan ureter

sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis dan lambat laun terjadi

gagal ginjal.

o Bila tekanan didalam buli-buli meningkat dan melebihi besarnya

hambatan didaerah uretra, urin akan memancar berulang-ulang

(dalam jumlah sedikit) tanpa bisa ditahan oleh penderita, sementara

itu buli-buli tetap penuh dengan urin. Keadaan ini disebut

inkontinensia paradoksa atau overflow incontinence

o Tegangan dari dinding buli-buli terus meningkat sampai tercapai

batas toleransi dan setelah batas ini dilewati, otot buli-buli akan

mengalami dilatasi sehingga kapasitas buli-buli melebihi kapasitas

maksimumnya, dengan akibat kekuatan kontraksi otot buli-buli akan

menyusut.

21
o Retensi urine merupakan predileksi untuk terjadinya infeksi saluran

kemih (ISK) dan bila ini terjadi, dapat menimbulkan keadaan gawat

darurat yang serius seperti pielonefritis, urosepsis, khususnya pada

penderita usia lanjut.

Gambaran klinis

Pasien mengeluh tertahan kencing atau kencing keluar sedikit-

sedikit. Keadaan ini harus dibedakan dengan inkontinensia paradoksa,

yaitu keluarnya urin secara menetes, tanpa disadari dan tidak mampu

ditahan oleh pasien. Selain itu, tampak benjolan kistus pada perut bagian

bawah disertai dengan rasa nyeri yang hebat.2

Pemeriksaan pada genitalia eksterna mungkin teraba batu di uretra

anterior, terlihat batu di meatus uretra eksternum, teraba spongiofibrosis di

sepanjang uretra anterior, terlihat fistel atau abses di uretra,

fimosis/parafimosis, atau terlihat darah keluar dari uretra akibat cedera

uretra. Pemeriksaan colok dubur setelah buli-buli dikososngkan ditujukan

untuk mencari adanya hiperplasia prostat/karsinoma prostat, dan

pemeriksaan refleks bulbokavernosus untuk mendeteksi adanya buli-buli

neurogenik.2,8

Pemeriksaan foto polos perut menunjukkan bayangan buli-buli

penuh, mungkin terlihat bayangan batu opak pada uretra atau pada buli-

buli. Pada pemeriksaan uretrografi tampak adanya striktur uretra.12

22
Penatalaksanaan

Urin yang tertahan lama dalam buli-buli secepatnya harus

dikeluarkan karena jika dibiarkan akan menimbulkan beberapa masalah

yaitu, infeksi saluran kemih, kontraksi otot buli-buli menjadi lemah, dan

timbul hidroureter dan hidronefrosis yang selanjutnya dapat menimbulkan

gagal ginjal. Urin dapat dikeluarkan dengan cara kateterisasi, sistotomi,

atau pungsi suprapubik. Tindakan penyakit primer penyebab retensi urin

dikerjakan setelah keadaan pasien stabil.2,8

Anuria

Anuria adalah tidak adanya produksi urin tetapi dalam praktek

klinik didefinisikan sebagai produksi urin kurang dari 100 mL dalam 24

jam. Anuria sering dihubungkan dengan obstruksi total dari saluran kemih

bagian bawah dengan diagnosis banding yang terbatas. Secara umum

penyebab dari anuria sendiri bisa bersifat prerenal, intrarenal atau

postrenal.2,8

Gambaran klinis

Pada anamnesis pasien mengeluh tidak kencing atau kencing hanya

sedikit, yang kadang kala didahului oleh keluhan obstruksi yang lain yaitu

nyeri di daerah pinggang atau kolik, dan tidak jarang diikuti dengan

demam. Jika didapatkan riwayat adanya kehilangan cairan, asupan cairan

yang berkurang, atau riwayat menderita penyakit jantung, harus

23
diwaspadai adanya faktor penyebab pre renal. Perlu ditanyakan

kemungkinan pemakaian obat-obat nefrotoksik, pemakaian bahan kontras

untuk foto radiologi, setelah menjalani radiasi di daerah perut sebelah atas,

riwayat reaksi tranfusi hemolitik, atau riwayat penyakit ginjal sebelumnya.

Semuanya untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab intrarenal.

Diperiksa keadaan hidrasi pasien dengan mengukur tekanan darah, nadi

dan perfusinya. Lebih baik jika dapat dipasang manometer tekanan vena

sentral atau CVP sehingga dapat diketahui keadaan hidrasi pasien dengan

tepat dan mudah. Pemeriksaan laboratorium sedimen urine menunjukkan

lekosituria atau hematuria. Pemeriksaan darah rutin diketemukan

leukositosis, terdapatnya gangguan faal ginjal, tanda asidosis atau

hiperkalemia. Foto polos abdomen ditujukan untuk mencari adanya batu

opak pada saluran kemih, atau bayangan pembesaran ginjal. Pemeriksaan

ultrasonografi abdomen penting karena dapat mengetahui adanya

hidronefrosis atau pionefrosis, dan dengan tuntunan USG dapat dilakukan

pemasangan kateter nefrostomi.2,8

Penatalaksanaan

Jika tidak segera diatasi, maka akan menimbulkan penyulit berupa

uremia, infeksi dan terjadi SIRS yang berakhir dengan kematian. Oleh

karena itu sambil memperbaiki keadaan pasien, secepatnya dilakukan

diversi/pengeluaran urine. Pengeluaran urine dapat dilakukan melalui

pemasangan kateter nefrostomi atau mungkin dilakukan pemasangan

24
kateter double J. Pemasangan kateter nefrostomi dapat dilakukan perkutan

yaitu dengan tuntunan ultrasonografi atau dengan operasi terbuka, yaitu

memasang kateter yang diletakkan di kaliks ginjal agar urine atau nanah

yang berada pada sistem pelvikalises ginjal dapat dikeluarkan. Kadang-

kadang pasien membutuhkan bantuan hemodialisa untuk mengatasi

penyulit akibat uremia.

Kolik Ureter atau Kolik Ginjal2

Kolik ureter atau kolik ginjal adalah nyeri pinggang hebat yang

datangnya mendadak, hilang timbul (intermiten) yang terjadi akibat

spasme otot polos untuk melawan suatu hambatan. Keluhan nyeri ini

bersifat gawat darurat sehingga harus didiagnosis dengan cepat dan

penatalaksanaan yang tepat. Perasaan nyeri bermula di daerah pinggang

dan dapat menjalar ke seluruh perut, ke daerah inguinal, testis atau labium

disertai dengan atau tanpa keluhan mual, muntah, disuria atau hematuria.

Nyeri ini biasanya disebabkan oleh obstruksi saluran kemih akibat

urolitiasis, bekuan darah, infark renal, pielonefritis akut, nyeri pada

kegawatan abdomen lain seperti divertikulitis, apendisitis, dan ruptur

aneurisma aorta abdominal.

25
Gambaran klinis

Pasien tampak gelisah, nyeri pinggang, selalu ingin berganti posisi

dari duduk, tidur, kemudian berdiri guna memperoleh posisi yang

dianggap tidak nyeri. Denyut nadi meningkat karena gelisah dan tekanan

darah meningkat pada pasien yang sebelumnya normotensi. Tidak jarang

dijumpai adanya pernapasan cepat dan grunting terutama pada saat puncak

nyeri. Jika disertai demam harus diwaspadai terhadap adanya infeksi yang

serius atau urosepsis. Dalam keadaan ini pasien harus secepatnya dirujuk

karena mungkin memerlukan tindakan drainase urine. Palpasi pada

abdomen dan perkusi pada daerah pinggang akan terasa nyeri. Keluhan

kolik pada urolitiasis jika batu kecil yang turun ke pertengahan ureter pada

umumnya menyebabkan penjalaran nyeri ke pinggang sebelah lateral dan

seluruh perut. Jika batu turun mendekati buli-buli biasanya disertai dengan

keluhan lain berupa sering kencing dan urgensi.

Laboratorium

Pemeriksaan sedimen urine sering menunjukkan adanya sel-sel

darah merah. Tetapi pada sumbatan total saluran kemih tidak didapatkan

sel-sel darah merah, yaitu kurang lebih terdapat pada 10 % kasus.

Ditemukannya piuria perlu dicurigai kemungkinan adanya infeksi,

sedangkan didapatkannya kristal-kristal pembentuk batu (urat, kalsium

oksalat, atau sistin) dapat diperkirakan jenis batu yang menyumbat saluran

kemih.

26
Pencitraan

Pemeriksaan foto polos perut ditujukan untuk mencari adanya batu

opak di saluran kemih, tetapi hal ini seringkali tidak tampak karena tidak

disertai persiapan pembuatan foto yang baik. Ultrasonografi dapat menilai

adanya sumbatan pada ginjal berupa hidronefrosis. Sekitar 70% kasus

kolik renal dapat didiagnosis dengan cepat menggunakan USG selain

untuk menyingkirkan kegawatan abdomen yang lain. USG memiliki

sensitivitas 90% tetapi spesifisitasnya sekitar 65-84% untuk mendeteksi

adanya obstruksi. Setelah episode kolik berlalu dilanjutkan dengan

pemeriksaan foto PIV. Foto PIV atau CT scan merupakan gold standard

untuk menentukan derajat obstruksi, ukuran batu dan akibat obstruksi

terhadap fungsi ekskresi renal.2,7

Penatalaksanaan

Serangan kolik harus segera diatasi dengan medikamentosa

ataupun dengan tindakan lain. Obat-obat yang sering dipakai untuk

mengatasi serangan kolik adalah antispasmodik dan analgetik. Namun

terapi konservatif dengan analgetik tidak dianjurkan untuk pasien dengan

resiko urosepsis, obstruksi lama, nyeri persisten, atau adanya

infeksi.12 Jika pasien mengalami episode kolik yang sulit ditanggulangi,

ditawarkan untuk pemasangan kateter ureter double J (DJ stent) yaitu

suatu kateter yang ditinggalkan mulai dari pelvis renalis, ureter hingga

buli-buli. Pasien yang menunjukkan gejala-gejala gangguan sistem saluran

cerna (muntah-muntah atau ileus) sebaiknya dimasukkan ke rumah sakit

27
agar hidrasi pasien tetap terjaga. Diuresis pasien harus diperbanyak karena

peningkatan diuresis akan mengurangi frekuensi serangan kolik. Tindakan

penyakit primer penyebab retensi urin dikerjakan setelah keadaan pasien

stabil.2

3.1.4. Hematuria

Hematuria berarti didapatkannya sel darah merah pada urine, pada

umumnya dikategorikan baik gross maupun mikroskopik. Untuk mikroskopik

hematuria dikatakan apabila didapatkan >3 s/d 5 sel darah merah/lapang

pandang.12

Gross hematuria jika didapatkan darah atau bekuan darah berwarna merah atau

kecoklatan yang dapat berasal dari perdarahan di ureter/ginjal, buli-buli dan

prostat.

Beberapa jenis hematuria berdasarkan penyebab yaitu:2,5

1. Inisial hematuria: penyebabnya ada pada proksimal urethra atau di

leher/dasar buli-buli.

2. Total hematuria: penyebabnya ada di buli-buli, ureter atau ginjal.

3. Idiopatic hematuria adalah hematuria dimana penyebabnya tidak dapat

ditentukan.

4. False/pseudohematuria: adalah diskolorasi dari urine karena pigmen dari

pewarna makanan dan myoglobin.

Hematuria dapat disebabkan oleh faktor renal (infeksi, kongenital anomali,

tumor, trauma, batu), buli (infeksi, batu, tumor, trauma), urethra (penyakit

28
menular seksual, trauma, benda asing, instrumentasi), prostat (infeksi, BPH,

kanker prostat), atau bleeding disorder. Adapun sebanyak 20 % dari penderita

tidak diketahui penyebabnya meskipun telah dilakukan pemeriksaan urologi lebih

lanjut.2,5

Diagnosis

Diagnosis pada saat awal adalah dengan memastikan adanya sel darah

merah pada urine. Hal ini penting oleh karena warna darah pada urine bisa

disebabkan oleh: hemoglobinuria, myoglobinuria, pigmen makanan, zat pewarna

makanan, obat-obatan seperti phenothiazine, phenazopyridine, porphyrin,

phenolptalein.2,5

Dari anamnesis dicari penyebab hematuria perlu digali data yang terjadi pada saat

episode hematuri, antara lain : bagaimanakah warna urine yang keluar?, apakah

diikuti dengan keluarnya bekuan-bekuan darah?, dibagian manakah pada saat

miksi urine berwarna merah?, apakah diikuti dengan perasaan sakit?.5

Pemeriksaan fisik2

Pada pemeriksaan fisik tanda vital diperhatikan terutama tekanan darah

dan suhu badan. Perlu diperhatikan adanya hipertensi yang mungkin merupakan

manifestasi dari penyakit ginjal. Syok hipovolemik dan anemia mungkin

disebabkan karena banyak darah yang keluar. Palpasi bimanual pada ginjal perlu

diperhatikan adanya pembesaran ginjal akibat tumor, obstruksi, ataupun infeksi

ginjal. Massa pada suprasimfisis mungkin disebabkan karena retensi bekuan darah

29
pada buli-buli. Colok dubur dapat memberikan informasi adanya pembesaran

prostat benigna maupun karsinoma prostat.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan urinalisis dapat mengarahkan kita kepada hematuria yang

disebabkan oleh faktor glomeruler ataupun non glomeruler. Pada pemeriksaan pH

urine yang sangat alkalis menandakan adanya infeksi organisme pemecah urea di

dalam saluran kemih, sedangkan pH urine yang sangat asam mungkin

berhubungan dengan batu asam urat. Sitologi urine diperlukan untuk mencari

kemungkinan adanya keganasan sel-sel urotelial. IVP dapat mengungkapkan

adanya batu saluran kemih, kelainan bawaan saluran kemih, tumor-tumor

urotelium, trauma saluran kemih, serta beberapa penyakit infeksi saluran kemih.

Pemeriksaan USG berguna untuk melihat adanya massa yang solid atau kistus,

adanya batu non opak, bekuan darah pada buli-buli/pielum, dan untuk mengetahui

adanya metastasis tumor di hepar. Sistoskopi atau sisto-uretero-renoskopi

dikerjakan jika pemeriksaan penunjang di atas belum dapat menyimpulkan

penyebab hematuria. Tindakan ini biasa dilakukan setelah bekuan darah yang ada

di dalam buli-buli dibersihkan sehingga dapat diketahui asal perdarahan.

Penatalaksanaan

Jika terdapat gumpalan darah pada buli-buli yang menimbulkan retensi urine,

dicoba dilakukan kateterisasi dan pembilasan buli-buli dengan memakai cairan

garam fisiologis, tetapi jika tindakan ini tidak berhasil, pasien secepatnya dirujuk

30
untuk menjalani evakuasi bekuan darah transuretra dan sekaligus menghentikan

sumber perdarahan. Jika terjadi eksanguinasi yang menyebabkan anemia, harus

dipikirkan pemberian transfusi darah, demikian juga jika terjadi infeksi harus

diberikan antibiotika. Setelah hematuria dapat ditanggulangi, tindakan selanjutnya

adalah mencari penyebabnya dan selanjutnya menyelesaikan masalah primer

penyebab hematuria.

3.1.5. Akut Skrotum

Akut skrotum adalah keadaan-keadaan dimana didapatkan adanya

nyeri mendadak yang hebat didalam skrotum dan seringkali disertai

pembengkakan dari isi skrotum dan gejala umum lainnya. Keadaan ini

memerlukan penanganan yang cepat dan tepat karena beberapa penyebab

dari akut skrotum ini adalah problem vaskular sehingga prognosanya

sangat dipengaruhi oleh lamanya gangguan vaskular tersebut berlangsung.

Akut skrotum ini sering terjadi pada remaja, dewasa muda dan atlet.2,4

Adapun diferensial diagnosis yang harus dipertimbangkan dalam

menangani akut skrotum adalah:2,4

1. Torsio testis

2. Epididimitis

3. Hernia inkarserata

4. Torsio apendik testis

5. Torsio apendik epididimis

6. Tumor testis

31
Torsio Testis

Torsio testis terjadi karena testis terputar di dalam skrotum

sehingga terjadi obstruksi aliran darah arteri dan vena testis.15Angka

kejadiannya 1 diantara 4000 pria yang berumur kurang dari 25 tahun dan

paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun). Ada 2

puncak insiden torsio testis, yaitu tahun pertama dan pubertas. Insiden

torsio testis pada 24 jam pertama kelahiran cukup tinggi dan mungkin

sebagian besar darinya terjadi intrauterin sehingga pada saat lahir

penderita ini mempunyai massa intraskrotal padat, dan akhirnya

kehilangan testis karena orchidektomi atau atropi. Pada masa pubertas

resiko meningkat karena mereka mempunyai deformitas yang disebut

dengan bell-clapper. Bentuk deformitas ini berupa perlekatan testis pada

tunica vaginalis yang tidak kuat sehingga testis menggantung bebas dalam

skrotum. Perlekatan yang tidak kuat ini menyebabkan testis mudah

bergerak dan terputar.2

Secara fisiologis otot kremaster berfungsi untuk menggerakkan

testis mendekati dan menjauhi rongga abdomen untuk mempertahankan

suhu ideal untuk testis. Adanya kelainan sistem penyangga testis

menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara

berlebihan. Beberapa keadaaan yang menyebabkan pergerakan berlebihan

dari testis yaitu adalah perubahan suhu yang mendadak (saat berenang),

ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk, celana yang terlalu ketat,

defekasi, atau trauma yang mengenai skrotum.2

32
Gambar 2.9. Torsio testis

Terputarnya funikulus spermatikus menyebabkan obstruksi aliran

darah testis sehingga testis mengalami hipoksia, edema testis, dan iskemia.

Pada akhirnya testis akan mengalami nekrosis.2

Gambaran Klinis

Gejala utama dari torsio testis adalah nyeri testis yang hebat dan

biasanya mendadak diikuti pembengkakan pada testis. Nyeri ini biasanya

terbatas pada skrotum tetapi bisa juga menjalar sepanjang perjalanan

funikulus spermatikus yakni ke inguinal dan perut bagian bawah. Pada

beberapa penderita nyeri terutama dirasakan di perut bagian bawah

ipsilateral bahkan di perut bagian atas atau di pinggang. Testis yang

membengkak letaknya lebih tinggi dan horisontal dengan funikulus

spermatikus yang menebal, kadang-kadang bisa diraba adanya lilitan

funikulus spermatikus. Pada saat permulaan epididimis masih teraba tetapi

33
tidak pada posisi yang normal. Penderita mengalami mual, muntah dan

panas badan.2

Torsio testis sering mengalami reposisi spontan, hal ini dapat dibuktikan

dengan banyaknya penderita yang mempunyai riwayat serangan yang

sama pada masa sebelumnya dan sembuh dengan sendirinya. Kesalahan

diagnosa yang seringkali dibuat adalah epididimitis dan merupakan

penyebab utama keterlambatan pengobatan dan rendahnya angka viabilitas

testis. Tanda dari Prehn adalah berkurang atau hilangnya nyeri pada

epididimitis apabila testis diangkat, sedangkan pada torsio testis nyerinya

tidak akan berkurang. Akan tetapi banyak ahli yang berpendapat bahwa

tanda dari Prehn ini tidak bisa dijadikan pegangan.2

Penatalaksanaan2

Evaluasi dan penatalaksanaan harus secepat mungkin karena torsio testis

menyebabkan iskemia dan jarang bertahan lebih dari 12

jam.Penatalaksanaan torsio testis dapat dilakukan dengan:

1. Detorsi Manual

Detorsi manual yaitu mengembalikan posisi testis ke asalnya,yaitu

dengan jalan memutar testis ke arah berlawanan dengan arah torsio.

Karena arah torsio biasanya ke medial maka dianjurkan untuk memutar

testis ke arah lateral dahulu. Kemudian jika tidak terjadi perubahan

dicoba detorsi ke arah medial. Hilangnya nyeri setelah detorsi

34
menandakan bahwa detorsi telah berhasil. Keberhasilan detorsi manual

tidak menghilangkan indikasi untuk melakukan eksplorasi oleh karena

reposisi manual testis tidak menjamin bisa mengembalikan testis ke

posisinya yang normal.

2. Operasi

Pembedahan eksplorasi dilakukan dengan tujuan, yaitu memperbaiki

viabilitas testis, reposisi testis kearah yang benar dan fiksasi testis

kontralateral untuk mencegah berulangnya torsio. Jika testis masih

viable maka dilakukan orchidektomi atau orchidopeksi (fiksasi testis)

pada tunika dartos dan dianjurkan orchidopeksi pada testis

kontralateral.

Cara orchidopeksi adalah dengan memasang 3 jahitan antara tunika

albuginea dan tunika dartos dengan mempergunakan bahan yang tidak

diserap misalnya sutera. Tamil melaporkan terjadinya torsio testis

kontra lateral 5 tahun setelah orchidopeksi mempergunakan chromic

catgut. Sedangkan Kuntze melaporkan 2 kasus torsio pada testis yang

telah difiksasi dengan chromic catgut.

3.1.6. Kedaruratan Penis

Anatomi penis

Penis terdiri dari 3 jaringan erektil yaitu 2 buah korpora kavernosa

dan 1 korpus spongiosum yang membungkus urethra anterior dan berakhir

35
disebelah distal sebagai glans penis. Korpora kavernosa dibungkus oleh

tunika albuginea yang merupakan jaringan elastis dan kolagen yang

memiliki kemampuan untukmenyesuaikan diri pada saat ereksi atau

flaksid. Ketiga korpora ini secara bersama-sama dibungkus oleh fasia dari

colles. Tiap-tiap korpus terdiri dari jaringan berongga yang berupa

lakunae atau trabekel dan terdiri atas endotel dan lapisan otot polos.

Korpora akan menjadi tegang dan mengeras bila lakuna-lakuna tersebut

penuh berisi darah (saat ereksi) dan jika darah sudah dipompa keluar maka

penis akan melemah (flaksid).2

Ereksi

Yang memegang peranan penting pada proses ereksi adalah jaringan

erektil penis yaitu : otot-otot polos kavernosus, arteriolar dan arteri. Pada

keadaan flaksid (rangsangan simpatik) terjadi peningkatan tonus dari otot-

otot polos tersebut sehingga darah tidak dapat mengisi rongga-rongga

sinusoid. Sebaliknya rangsangan parasimpatik akan menyebabkan

relaksasi sinusoid, dilatasi arterial dan kompresi vena sehingga rongga

sinusoid akan terisi darah dan korpora menjadi tegang/keras.2

Priapismus

Priapismus adalah ereksi berkepanjangan tanpa disertai hasrat

seksual dan sering disertai rasa nyeri. Istilah priapismus berasal dari kata

Yunani Priapus yaitu nama dewa kejantanan. Menurut etiologinya,

36
priapismus dibedakan menjadi primer (idiopatik) dan sekunder. Priapismus

sekunder dapat disebabkan oleh kelainan pembekuan darah (anemia bulan

sabit, leukemi dan emboli lemak), trauma perineum/genitalia, nerogen

(anestesi regional), keganasan, obat-obatan (alkohol, psikotropik,

antihipertensi) dan injeksi intrakavernosa dengan zat vasoaktif yang saat

ini mulai banyak dilakukan oleh para dokter sebagai salah satu cara

diagnosis dan terapi impotensia.2

Gambar 2.6. Priapismus

Kegagalan penis untuk melemas kembali ini dapat terjadi karena :

gangguan mekanisme veno-oklusi (outflow) sehingga darah tak dapat

keluar dari jaringan erektil, atau akibat peningkatan aliran darah ke

jaringan erektil (inflow), sehingga dibedakan 2 jenis priapismus yaitu:13

1. Low-flow Priapismus (statis=Ischemic) yaitu berupa ereksi

berkepanjangan dan diikuti rasa nyeri.

2. High-Flow Priapismus (non-ischemic) yang sering tanpa rasa nyeri

dan prognosanya baik.

37
Keduanya dengan mengukur tekanan dan memeriksa gas darah

intrakavernosa. Ereksi berkepanjangan 4-6 jam harus dicurigai priapismus.

Nyeri biasanya terjadi 6-8 jam. Kegagalan hemodinamik pada korpora

kavernosa pertama-tama akan terjadi edem jaringan pada interstitiel

trabekula, yang kemudian setelah 24 jam terjadi kerusakan dan nekrosis

sel-sel yang luas. > 48 jam terjadi pembekuan darah dalam kaverne dan

destruksi endotel sehingga jaringan-jaringan trabekel kehilangan daya

elastisitasnya.13

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,

laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Dari anamnesis dan

pemeriksaan fisik yang teliti diharapkan dapat diketahui penyebab

priapismus. Pemeriksaan lokal akan dijumpai batang penis yang tegang

tanpa disertai ketegangan pada glans penis. Adanya pulsasi a.kavernosa

dengan bantuan Doppler Sonografi dan analisa gas darah yang diambil

intrakavernosa dapat membedakan jenis ischemic atau non ischemic.13

Penatalaksanaan

Prinsipnya adalah sesegera mungkin mengeluarkan darah yang ada di

korpora kavernosa karena akan memperberat kerusakan jaringan erektil

yang amat menentukan reversibilitas potensi seksual penderita. Terapi

priapismus tidak spesifik, yaitu:13

38
1. Konservatif, dilakukan pada priapismus sekunder sambil mengobati

penyakit primernya. Meliputi pemberian hidrasi yang baik, sedativa,

enema dengan es saline, kompres pada skrotum atau penis, masase prostat

dan epidural anestesi

2. Aspirasi dan irigasi intrakavernosa, aspirasi darah intrakavernosa saja

atau kemudian disusul irigasi (instilasi) zat adrenergik yang diencerkan,

memberi respon yang sangat baik pada priapismus akibat injeksi

vasodilator intrakavernosal. Cara ini dapat pula dicobakan pada priapismus

spontanea non iskemik atau iskemia derajat ringan dengan hasil yang

cukup baik.

3. Jalan pintas (shunting) dari kavernosa, tindakan ini harus segera

diperkirakan terutama pada priapismus veno-oklusive (static) atau yang

gagal dengan terapi medikamentosa/aspirasi. Hal ini untuk mencegah

timbulnya sindrom kompartemen yang akan menekan a.kavernosa yang

berakibat iskemi korporal.

- Pintas Korporo-Granular, melakukan pintas korpora kavernosa

dengan glans penis sehingga aliran darah vena akan keluar dari korpora

kavernosa dan diharapkan aliran darah arterial akan kembali normal.13

- Pintas Korporo-Spongiosum, pada priapismus yang terjadi

beberapa hari bagian distal kavernosum sering menjadi fibrotik sehingga

tak mungkin mengalirkan darah dari kavernosum ke spongiosum secara

adekuat, sehingga perlu dilakukan pintas disebelah proksimal.13

39
- Pintas Safeno-Kavernosum, dengan anestesi dibuat 2 insisi yaitu

diatas v. Safena dan pada lateral basis penis. V. Safena dibebaskan dari

insersinya kedalam vena femoralis. Dibuat terowongan subkutan antara v.

Safena dengan basis penis. V. Safena ditarik melalui terowongan tersebut

kemudian di anastomosekan dengan jendela yang sudah dibuat pada tunika

albuginea korpus kavernosum dan dijahit jelujur 2 semisirkuler.13

3.1.7. Strangulasi Penis

Strangulasi penis adalah terjeratnya penis oleh benda yang melingkar pada

penis sehingga menimbulkan gangguan hemodinamik disebelah distal jeratan,

berupa bendungan aliran darah vena yang berakibat edem, hipoksemia sampai

nekrose jaringan. Merril membedakan strangulasi penis menjadi dua, yaitu yang

menimpa orang dewasa dan yang menimpa anak-anak/bayi. Pada dewasa biasanya

karena kesengajaan memasukkan benda berongga atau menjerat penisnya pada

saat ereksi. Benda yang dimasukkan bisa cincin karet/logam, pipa, botol atau tali.

Sedang pada anak/bayi dapat disebabkan oleh kelalaian orang tua misalkan

melingkarkan tali pada batang penis anaknya dengan tujuan mencegah enuresis,

atau karena terjerat seutas rambut yang terdapat pada popok bayi, ataupun karena

sengaja anak yang lebih besar bermain-main dengan melingkarkan tali pada

penis.2

Karena strangulasi penis adalah kedaruratan vaskular pada penis maka pada

pemeriksaan fisik harus diperhatikan suhu, warna, sensibilitas, denyut nadi (dapat

dibantu dengan Doppler Sonografi) dan miksi. Kelainan yang ditemukan

40
tergantung pada lamanya strangulasi, mulai dari edem sampai nekrose penis

bagian distal jeratan.2

Gambar 2.7. Strangulasi Penis

Penatalaksanaan

Pada prinsipnya benda yang menjerat penis harus segera dikeluarkan.

Caranya tergantung pada bahan, ukuran dan lama jeratan. Jeratan oleh cincin baja

sulit dikeluarkan apalagi bila ada edem hebat disebelah distal jeratan. Bila edem

belum terlalu besar, pelepasan dapat dilakukan seperti melepaskan cincin dari jari

tangan. Seutas pita kecil atau nylon dilewatkan dibawah cincin dengan bantuan

klem bengkok yang telah diberi pelicin sampai ke proksimal cincin. Disebelah

distal cincin, pita dililitkan pada penis yang sebelumnya telah pula diberi pelicin

2-3 cm. Ujung proksimal pita ditarik ke distal dengan sudut 95 sampai cincin

melewati lilitan pita. Prosedur ini diulangi sampai cincin keluar. Diameter penis

yang amat besar dan ketegangan penis yang hebat dapat dikurangi dengan

41
menusuk glans dan kulit penis hingga cairan edem beserta darah dapat

dikeluarkan dan akan memperkecil diameter penis. Cincin baja dapat pula

dikeluarkan dengan memotongnya dengan gerinda baja berkecepatan tinggi.

Tetapi alat ini belum tentu tersedia dan sering menimbulkan panas yang dapat

merusak jaringan penis, karena itu selama digerinda harus selalu ditetesi air.

Pengambilan jeratan hanya merupakan awal pengobatan strangulasi penis,

perawatan selanjutnya tergantung derajat kerusakannya. Uretrografi perlu

dilakukan bila ada kecurigaan lesi uretra. Kerusakan kulit yang luas memerlukan

debridemen dan tandur kulit.2

Fimosis2

Fimosis adalah prepusium penis yang tidak dapat diretraksi (ditarik) ke

proksimal sampai ke korona glandis. Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi

baru lahir karen terdapat adesi alamiah antara prepusium dengan glans penis.

Hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, dan debris yang dihasilkan

oleh prepusium (smegma) mengumpul di dalam prepusium dan perlahan-lahan

memisahkan prepusium dari glans penis. Ereksi enis yang terjadi secara berkala

membuat preputium berdilatasi perlahan-lahan sehingga prepusium menjadi

retraktil dan dapat ditarik ke proksimal. Pada saat usia 3 tahun, 90% prepusium

sudah dapat diretraksi.

Gambaran klinis

Fimosis menyebabkan gangguan aliran urin berupa sulit kencing, pancara

kencing mengecil, menggelembungnya ujung prepusium penis saat miksi, dan

42
menimbulkan retensi urine. Higiene yang kurang bersih menyebabkan terjadinya

infeksi pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi

pada glans dan prepusium penis (balanopostitis).

Kadangkala pasien dibawa berobat oleh orang tuanya karena ada benjolan

lunak diujung penis yang tak lain adalah korpus smegma yaitu timbunan smegma

di dalam sakus prepusium penis. Smegma terjadi dari sel-sel mukosa prepusium

dan glans penis yang mengalami deskuamasi oleh bakteri yang ada didalamnya.

Tindakan

Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada

fimosis, karena menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung prepusium

sebagai fimosis sekunder. Fimosisi yang disertai balanitis xerotika obliterans

dapat dicoba diberikan salep deksametasone 0,1% yang di oleskan 3 atau 4 kali.

Diharapkan setelah pemberian selama 6 minggu, prepusium dapat diretraksi

spontan.

Pada fimosis yang menimbulkan keluhan miksi, menggelembungnya

ujung prepusium pada saat miksi, atau fimosis yang disertai dengan infeksi

postitis merupakan indikasi dilakukan sirkumsisi. Terntunya pada balanitis atau

postitis harus diberi antibiotika dahulu sebelum sirkumsisi.

Parafimosis

Parafimosis adalah prepusium penis yang diretraksi sampai di sulkus

koronarius tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada

penis dibelakang sulkus koronarius. Menarik (retraksi) prepusium ke proksimal

43
biasanya dilakukan pada saat bersenggama/masturbasi atau sehabis pemasangan

kateter. Jika prepusium tidak secepatnya dikembalikan ke tempat semula,

menyebabkan gangguan aliran balik vena superfisial sedangkan aliran arteri tetap

berjalan normal. Hal ini menyebabkan edema glans penis dan dirasakan nyeri.

Jika dibiarkan bagian penis disebelah distal jeratan makin membengkak yang

akhirnya bisa mengalami nekrosis glans penis.2

Gambar 2.8. Parafimosis

Penatalaksanaan

Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik

memijat glans selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secara

perlahan-lahan prepusium dikembalikan pada tempatnya. Jika usaha ini tidak

berhasil, dilakukan dorsum insisi pada jeratan sehingga prepusium dapat

dikembalikan pada tempatnya. Setelah edema dan proses inflamasi menghilang,

pasien dianjurkan untuk menjalani sirkumsisi.2,5

44
BAB IV

PENUTUP

Kegawatdaruratan urologi dibagi menjadi dua yaitu kedaruratan urologi

trauma dan kedudaratan non trauma, untuk keduratan urologi trauma dokter

mudah untuk mendiagnosa dan memberi penanganan berbeda halnya denga

kedaruratan non trauma butuh anamnesis dan pemeriksaan fisik bahkan

pemeriksaan penunjang lebih teliti lagi.

Untuk kedaruratan urologi trauma paling sering disebakan oleh kecelakaan

lalu lintas sedangkan kedarutan urologi non taruma bisa didapatkan oleh kelainan

kongenital atau infeksi. Kedaruratan urologi trauma antara lain trauma ginjal,

trauma ureter dan trauma penis sedangkan kedaruratan urologi non trauma adalah

urosepsis, retensi urin, anuria, hematuria, kolik ginjal, torsio testis, strangulasi

penis, priapismus dan parafimosis.

45
DAFTAR PUSTAKA

1. Sabiston, David C. 1994. Sistem Urogenital, Buku Ajar Bedah Bagian 2,

hal.488. EGC. Jakarta.

2. Purnomo, Basuki. 2011. Dasar-Dasar Urologi, Edisi 3. Malang

3. Smith, Kevin, J., Schauberger, Scott, J. Kidney Trauma-Overview. (online)

21 Februari 2007. (Cited) 30 juni 2017.

4. Jong, Wim De, R. Sjamsuhidayat. 2010. Saluran Kemih Dan Alat Kelamin

Lelaki, Buku Ajar Ilmu Bedah hal.75-763. EGC. Jakarta.

5. Sudoyo Aru W., Setiyohadi Bambang, 2010, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2.

Edisi V, Balai Penerbit FK-UI. Jakarta.

6. Sabiston, David C. 1994.Sistem Urogenital, Buku Ajar Bedah Bagian 2,

hal.463-471. EGC. Jakarta

7. Budjang, Nurlela. Traktus Urinaria in: Radiologi diagnostik. Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 2006. p.283-293.

8. Faiz, Omar., Moffat, David. Anatomy At A Glance. Blackwell Science.

United Kingdom: 2002. p.48

9. Hayashi Yutaro, Kojima Yoshiyuki, Kentaro Mizuno. 2011. Prepuce :

Phimosis, Paraphimosis, and Circumcision, Japan: The Scientific World

Journal, Departement of Nephro-Urolog, Nayoya University Graduate School

of Medical Science. Vol. 11, No. 289-301.

10. Roosita Katrin, 2014 Sistem Urinari. Diambil dari:

http://kroosita2.staff.ipb.ac.id/files/2014/09/URINARYSYSTEM_desember2

014.pdf (30 juni 2017)

46
11. RSU Dr. Saiful Anwar, 2010. Pedoman Diagnosis dan Terapi, SMF Urologi

Laboratorium Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran Universitas Barwijaya,

Malang

12. Al-Suwailem Aber, http://ksumsc.com/download_center/Archive/3rd

/431/Teams/Surgery/1st%20semester/1-

%20Emergencies%20in%20Urology%20 (2nd%20 edition).pdf Diakses pada

30 Juni 2017

13. Hohenfellner Markus, Santucci Richard A. 2007. Emergencies in Urology.

Springer. New York.

14. Dawson Chris, Hugh Whitfield, 1996, Urological Emergencies in General

Practice, ABC of Urology, vol 312. BMJ

15. American Urological Association. Medical Student Curriculum : Hematuria.

Diakses pada 30 Juni 2017 dari : file:///

American%20Urological%20Association%20-%20Medical%20Student%

20Curriculum%20%20Hematuria.htm

47