Anda di halaman 1dari 11

ABSTRAK

Energi terbarukan merupakan sumber energi alam yang dapat langsung dimanfaatkan dengan bebas.
Selain itu, ketersediaan energi terbarukan ini tak terbatas dan bisa dimanfaatkan secara terus
menerus. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan sampah yang berpotensi dapat dikonversi
menjadi energi listrik. Fakta menunjukkan bahwa potensi pemanfaatan sampah kota untuk
pembangkit listrik sangatlah besar, baik dengan metode Thermal atau metode biologis . Di
Indonesia, sampah yang dihasilkan sangat berpotensi sebagai bahan bakar pembangkit. Selama ini
sampah belum dimanfaatkan, hanya di tumpuk di TPA. Mengidentifikasi dan mengukur potensi
sampah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit, baik dengan teknologi Biologis
atau dengan teknologi thermal sebagai sumber energi listrik alternatif berbasis renewable energy.
Menghitung energi listrik yang dapat dimanfaatkan dari potensi yang ada dari metode biologis dan
metode thermal. Serta melihat peluang pemanfaatan sampah dari potensi yang tersedia selain
dimanfaatkan sebagai pembangkit. Potensi energi listrik yang mampu dibangkitkan sebagai bahan
baku Pembangkit Listrik Tenaga sampah (PLTSa) di Indonesia sebagai sumber energi alternatif
berbasis renewable energy adalah 9 MW.

Kata Kunci: Sampah, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), konversi


Konversi Energi Sampah Menjadi Listrik

Berdasarkan UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan sampah


adalah sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat
berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah
tidak berguna lagi dan dibuang kelingkungan.
Pengelolaan Sampah sampai saat ini masih menganut metode lama dimana sampah masih
dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna, tak bernilai ekonomis dan sangat menjijikkan.
Manusia sebagai sumber sampah tak pernah menyadari bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah
yang dihasilkan menjadi tanggung jawab dirinya sendiri. Apabila sampah - sampah yang luar biasa
ini mulai menjadi masalah bagi manusia, barulah manusia menyadari ketidak perduliannya selama
ini terhadap sampah dan mulai menimbulkan kepanikan dan menghantui di mana - mana tanpa tahu
apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya .
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia, karena setiap aktifitas
manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan
tingkat konsumsi kita terhadap barang material yang kita gunakan sehari-hari. Sehari setiap warga
kota menghasilkan rata-rata 900 gram sampah, dengan komposisi, 70 % sampah organik dan 30%
sampah anorganik. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume
sampah. Sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-
sampah yang di buang ke tempat sampah walaupun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-
sampah yang dihasilkandari proses pertambangan dan industri, tetapi merupakan sampah
yang selalu menjadi bahan pemikiran bagi manusia.
Tujuan dari Konversi Energi ini untuk mengkonversi sampah menjadi energi. Pada dasarnya
ada dua alternatif proses pengolahan sampah menjadi energi, yaitu proses biologis yang
menghasilkan gas-bio dan proses thermal yang menghasilkan panas.

Adapun jenis-jenis sampah dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :

Berdasarkan sifatnya sampah ada 2 yaitu :

1. Sampah Organik ( Sampah Basah )


Yaitu sampah yang berasal dari sisa-sisa makhluk hidup (material biologis) yang
mudah membusuk dan bisa diurai. Misalnya sisa makanan, dedaunan yang kering, buah dan
sayuran.

2. Sampah Anorganik ( Sampah Kering )


Sampah jenis ini berasal dari bahan baku non biologis dan sulit terurai, sehingga
seringkali menumpuk di lingkungan. Sampah anorganik atau disebut juga sampah kering
sulit diuraikan secara alamiah, sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut. Yang tergolong
sampah anorganik yaitu plastik dalam bentuk botol,kantong, kertas, Styrofoam, dan lain-
lain.
Berdasarkan Sumbernya ada 7 yaitu :

1. Sampah alam: sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur
ulang alami, seperti daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah.
2. Sampah manusia: hasil-hasil dari pencernaan manusia, seperti feses dan urin.
3. Sampah rumah tangga: sampah dari kegiatan di dalam rumah tangga, sampah yang
dihasilkan oleh kebanyakan rumah tangga adalah kertas dan plastik.
4. Sampah konsumsi: sampah yang dihasilkan oleh manusia dari proses penggunaan barang
seperti kulit makanan dan sisa makanan.
5. Sampah perkantoran: sampah yang berasal dari lingkungan perkantoran dan pusat
perbelanjaan seperti sampah organik, kertas, tekstil, plastik dan logam.
6. Sampah industri: sampah yang berasal dari daerah industri yang terdiri dari sampah umum
dan limbah berbahaya cair atau padat.
7. Sampah nuklir: sampah yang dihasilkan dari fusi dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium
dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan juga manusia.

Berdasarkan Bentuknya ada 2, yaitu :

1. Sampah padat: segala bahan buangan selain kotoran manusia, urin dan sampah cair.
2. Sampah cair: bahan cairan yang telah digunakan lalu tidak diperlukan kembali dan dibuang
ke tempat pembuangan sampah.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus eksploratori yaitu memetapkan kelayakan
sampah untuk dijadikan bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Metoda dalam
penelitian ini adalah dengan melakukan penelitian langsung di lapangan berupa pengukuran serta
melakukan wawancara terhadap lembaga yang menangani persampahan untuk memperoleh data
baik data primer maupun data sekunder.
Pengambilan sampling dilakukan dengan teknik penempatan sebanyak 100 kg sampah. Data
intensitas sampah, sampah yang masuk di TPA ditimbang di jembatan timbang. Data sekunder yang
diperlukan meliputi data kondisi wilayah, kependudukan, data mengenai TPA, data kelembagaan
dinas pengelola sampah, data pengelolaan sampah, data kondisi fisik alam serta data-data mengenai
peraturan dan kebijakan daerah.

Lokasi penelitian hanya terpusat Pada TPA didaerah surabaya, karena sampah untuk kota Surabaya
menurut saya sangat banyak.

Metode Pengumpulan Data

1. Wawancara

Dilakukan akan dilakukan baik wawancara mendalam maupun wawancara tertutup. Instrumen
wawancara akan digunakan untuk menjawab semua variabel penelitian yang mana akan di turunkan
dari teori-teori dan di sesuaikan dengan tujuan penelitian. Sejumlah informan berdasarkan acuan
kualitatif agar tercapai tujuan penelitian akan diwawancarai. Pembuatan format daftar wawancara
dilakukan dengan tiga tahapan yaitu :

1. Variabel dipilah menjadi subvariabel;

2. Subvariabel dipilah menjadi indikator;

3. Setiap indikator akan memiliki sejumlah item pertanyaan tergantung kebutuhan untuk menjawab
sejumlah variabel penelitian.

2. Dokumentasi

Dokumentasi, untuk mendukung jalannya penelitian ini maka studi dokumentasi atau
memanfaatkan informasi, dokumen, buku-buku, dan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan
topik penelitian juga akan digunakan.
Metode Analisis Data

Dalam Penelitian ini analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif yaitu untuk melihat
bagaimana potensi dari sampah yang ada bisa digunakan untuk sumber pembangkit energi
terbarukan dan pemanfaatan potensi sampah yang lainnya

A. Proses Konversi Thermal


Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi,
pirolisa, dan grasifikasi.
Insinerasi yaitu proses oksidasi bahan-bahn organic menjadi bahan anorganik. Prosesnya
sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat antara bahan organic dengan oksigen. Apabila
berlangsung secara sempurna, kandungan bahan organic (H dan C) dalam sampah akan
dikonversi menjadi gas karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Unsur-unsur penyusun
sampah lainnya seperti belerang (S) dan nitrogen (N) akan dioksidasikan menjadi oksida-
oksida dalam fasa gas (SOx, NOx) yang terbawa di gas produk. Contoh Insinerator yaitu
Open burning, Single Chamber, Open Pit dan lain-lain.
Pirolisa merupakan proses konversi bahan organic padat melalui pemanasan tanpa
kehadiran oksigen. Dengan adanya proses pemanasan dengan temperature tinggi, molekul-
molekul organik yang berukuran besar akan terurai menjadi molekul organic yang kecil dan
lebih sederhana. Hasil pirolisa dapat berupa air, larutan asam asetat,methanol,padhatan
char,dan produk gas.
Gasifikasi merupakan proses konversi termokimia padatan organic menjadi gas. Gasifikasi
melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada temperature yang
relatif tinggi (sekitar 900-1100C). Seperti halnya pirolisa, proses grasifikasi menghasilkan
gas yang dapat dibakar dengan niali kalor sekitar 4000kl/Nm3.
Salah satu contoh Pembangkit Listrik Tenaga Sampah saat ini yang banyak
digunakan yaitu proses insenerasi. Sampah dibongkar dari truk pengangkut sampah san
diumpamakan ke inserator. Didalam inserator sampah dibakar, paans yang dihasilkan dari
hasil pembakaran digunakan untuk merubah air menjadi uap bertekanan tinggi. Uap dari
boiler langsung ke turbin. Sisa pembakaran seperti debu diproses lebih lanjut agar tidak
mencemari lingkungan 9truk mengangkut sisa proses pembakaran). Teknologi pengolahan
sampah ini memang lebih menuntungkan dari pembangkit listrik lainnya. Ilustrasinya missal
: 100.000 ton sampah sebanding dengan 10.000 ton batu bara. Selain mengatasi masalah
polusi bisa juga untuk menghasilkan energy berbahan bakar gratis juga bisa menghemat
devisa.

B. Proses Konversi Biologis


Proses konversi biologis dapat dicapai dengan cara digestion secara anaerobik
(biogas) atau tanah urug (landfill).
Biogas adalah teknologi konversi biomassa (sampah) menjadi gas dengan bantuan
mikorba anaerob. Proses biogas menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry. Gas
methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry
dapat digunakan sebagai kompos. Produk dari digester tersebut berupa gas methane yang
dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3.
Landfill ialah pengelolaan sampah dengan cara menimbunnya di dalam tanah.
Penimbunan ini dilakukan secara berulang-ulang seperti kue lapis yang terdiri atas
penimbunan sampah yang ditutup tanah. Tanah yang semula berlekuk menjadi rata oleh
sanitary landfill sehingga harga tanahnya bisa naik berlipat-lipat karena bisa dipakai untuk
berbagai keperluan, Sistem Sanitary LandFill adalah pengolahan sampah dengan mendisain
agar air yang terkandung pada sampah (air lindi) tidak sampai kedalam tanah. Di dasar TPA
dipasangkan clay linear dan geomenlbarane yang berfungsi untuk mencegah merembesnya
air lindi tersebut kedalam tanah. Di Tempat Pemungutan Akhir, sampah akan mengalami
dekomposisi oleh mikroba yang mengakibatkan terjanya perubahan fisik kimia biologis
secara simultan, dengan menghasilkan air lindi. Faktor-faktor yang mempengaruhi air lindi
adalah komposisi sampah, umur landfill. Secara Umum, konsentrasi polutan yang
terkandung pada tahun pertama lebih rendah dibandingkan pada tahun-tahun berikutnya,
dan memcapai puncak setelah beberapa tahun. Setelah itu kwalitas lindi juga dipengaruhi
oleh temperatur, yang mempengaruhi pertumbahan bakteri dan reaksi-reaksi kimia yang
berlangsung.
Didalam lahan landfill, limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam
tanah menjadi senyawa-senyawa gas dan cair. Senyawa-senyawa ini berinteraksi dengan air
yang dikandung oleh limbah dan air hujan yang masuk kedalam tanah dan membentuk
bahan cair yang disebut lindi (leachate). Jika landfill tidak didesain dengan baik, leachate
akan mencemari tanah dan masuk ke dalam badan-badan air di dalam tanah. Karena itu,
tanah di landfill harus mempunyai permeabilitas yang rendah. Aktifias mikroba dalam
landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2 ('pada tahap awal - proses aerobic) dan
menghasilkan gas methane (pada proses anaerobiknya). Gas landfill tersebut mempunyai
nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. Sistem pengambilangan gas hasil biasanya terdiri dari
sejumlah sumur-sumur dalam pipa-pipa yang dipasang lateral dan dihubungkan dengan
pompa vakum sentral. Selain itu terdapat juga sistem pengambilan gas dengan pompa
desentralisasi.
Proses
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

Pembangkit listrik tenaga sampah merupakan pembangkit listrik yang memanfaatkan sampah
sebagai bahan bakar. Sampah ini nantinya akan digunakan untuk memanaskan air dalam boiler. Uap
panas yang dihasikan boiler ini dimasukkan ke turbin uap yang akan memutar generator sehingga
menghasilkan energi listrik.

Agar dapat diketahui besarnya daya listrik yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
(PLTSa) ada beberapa hal yang harus dilakukan :

1. Penghitungan Jumlah Timbulan Sampah

Jumlah timbulan sampah ini perlu diketahui untuk menghitung jumlah stok sampah yang kelak
nantinya dijadikan bahan bakar dan akan berhubungan dengan kelangsungan pasokan daya listrik
dan jumlah energi yang akan dihasilkan (kWh).

2. Pengujian kalor

Sampah yang diperoleh dari pasar, pemukiman, pertokoan, jalan raya dan lain sebagainya nantinya
akan menyatu di Tempat Pengumpulan Sementara (TPS) ataupun di Tempat Pengumpulan Akhir
(TPA). Sampel sampah yang diambil akan diuji kalor dan kandungan gas yang dihasikannya.

3. Perhitungan Jumlah Kalor

Dari hasil uji kalor sampah yang dilakukan, maka akan dihitung jumlah kalor total yang dihasilkan
timbulan sampah.

4. Perhitungan Kapasitas Boiler

Kalor total yang dihasilkan ini akan digunakan untuk menentukan kapasitas boiler dan jumlah air
yang akan dipanaskan untuk dijadikan uap.

5. Perhitungan Kapasitas Turbin

Setelah kapasitas boiler diperoleh selanjutnya akan dapat dihitung kapasitas turbin yang akan
digunakan untuk memutar generator.
6. Perhitungan Kapasitas Generator

Dari data turbin yang diperoleh dapat ditentukan jenis dan kapasitas generator, apakah akan
digunakan beberapa unit kecil atau satu unit besar.

7. Perhitungan Ekonomis

Perhitungan ekonomis in dilakukan untuk melihat total biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan
PLTSa ini, waktu pengembalian, nilai sekarang serta tarif listrik.

Berikut diberikan Secara sederhana dapat diilustrasikan pengolahan sampah dengan metode
pembakaran :

Gambar 2.2 Proses sederhana PLTSa

Kesimpulannya
Penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah merupakan upaya paling ideal yang dapat dilakukan
untuk mengurangi volume sampah yang ditimbun di tempat pembuangan akhir dan
mengkonversinya menjadi sebuah energi yang tidak pernah mati dan selalu dibutuhkan yakni energi
listrik .
Mengingat masih banyaknya bahan pembangkit tenaga listrik yang masih menggunakan bahan
bakar fosil dan bahan bakar fosilpun pasti akan habis terobosan konversi energi berbahan sampah
ini bisa menjadi solusi alternatif jika bahan bakar fosil telah habis .
Konversi sampah menjadi energi listrik ini dapat dilakukan dengan dua cara melalui proses thermal
ataupun proses biologis perbedaan terletak dari pemanfaatan dari sampah yang akan diubah menjadi
energi listrik selain menggunakan bantuan hewan mikroba proses thermal ini nantinya akan
merubah sampah menjadi sebuah gas yang nanti akan menggerakkan turbin gas generator yang
menghasilkan listrik sedangkan melalui proses thermal sampah diolah terlebih dahulu agar menjadi
uap melalui boiler yang nantinya uap itu akan menggerakkan turbin generator yang akan
menghasilkan listrik.

Saran
Dalam penerapannya, harus diperhatikan upaya pengolahan limbah yang dihasilkan dari proses
konversi energi sampah menjadi energi listrik.