Anda di halaman 1dari 24

Laporan Praktikum

SIFAT-SIFAT UNSUR

MASYKUR

H041 17 1318

LABORATORIUM KIMIA DASAR


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1

SIFAT-SIFAT UNSUR

Disusun oleh

MASYKUR

H041 17 1318

Laporan ini telah diperiksa oleh:

Asisten

SALMIYAH
H311 14 032
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Alam semesta ini kaya akan kadungan unsur-unsur kimia. Hingga unsur-unsur

tersebut dikelompokkan berdasarkan kesamaan sifatnya ke dalam beberapa

golongan, yaitu golongan A (utama) dan golongan B (transisi). Selain itu, unsur-

unsur kimia dapat dikelompokkan menjadi unsur logam, nonlogam, semilogam, dan

gas mulia.Beberapa usur logam dan nonlogam, dalam bentuk unsur maupun

senyawa, banyak dimanfaatkan didalam kehidupan sehari-hari (Prasojo, 2012).

Unsur Logam yang sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari diantaranya

adalah, besi, tembaga, atau perak. Ternyata unsur natrium pun bersifat logam.

Namun, karena tak stabil dalam keadaan unsurnya, ia lebih banyak kita temui dalam

bentuk senyawanya. Keberadaan unsur-unsur kimia di alam sangat melipah. Unsur-

unsur kimia yang terdapat di alam dalam bentuk unsur bebasnya (tidak bersenyawa

dengan unsur lainnya), diantaranya logam platina (Pt), emas (Au), karbon (C), gas

nitrogen (N2), oksigen (O2), dan gas-gas mulia. Adapun unsur-unsur lainnya

ditemukan dalam bentuk bijih logam. Mineral-mineral tersebut berbentuk senyawa

oksida, halida, fosfat, silikat, karbonat, sulfat, dan sulfida. Logam platina (Pt) dan

emas (Au) disebut logam mulia. Sumber logam mulia dan mineral-mineral dapat

ditemukan di kerak bumi, sedangkan sumber gas oksigen, nitrogen, dan gas mulia

(kecuali He) terdapat di lapisan atmosfer (Takeuchi, 2004).

Unsur-unsur yang terdapat pada golongan periodik terletak pada lajur paling

kiri. Unsur-unsur alkali merupakan unsur-unsur logam dengan satu elektron pada

elektron terluarnya sehingga merupakan reduktor kuat. Unsur-unsur yang terletak


dalam logam alkali adalah Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb),

Cesium (Cs), dan Fransium (Fr). Reaktivitas unsur-unsur tersebut bertambah dari

atas ke bawah, hal ini dapat pada reaksinya dengan air (H2O). Litium (Li) dalam

golongan IA terletak paling atas bereaksi lambat dengan air (H2O), sedangkan logam

alkali lainnya bereaksi sangat cepat dan eksoterm (Brady, 1998).

Dalam sistem periodik panjang unsur-unsur alkali tanah terletak pada golongan

II A. Unsur golongan II A berisi Berilium (Be), Magnesium (Mg), Calsium (Ca),

Stronsium (Sr), Barium (Ba) dan Radium. Unsur ini bersifat logam karena cenderung

melepaskan elektron. Unsur ini disebut logam alkali tanah karena oksidasinya

bersifat basa (alkalis) dan senyawa banyak terdapat pada kerak bumi. Seperti halnya

dengan unsur alkali, unsur alkali tanah sangat reaktif walaupun tidak sereaktif unsur

alkali, karena unsur golongan ini mudah melepaskan elektron valensinya

menandakan bahwa unsur alkali tanah sangat bersifat elektropositif. Maka unsur

alkali tanah merupakan pereduksi yang baik, walaupun tidak sebaik sifat pereduksi

unsur alkali yang seperiode. Sesuai dengan sifat keperiodikan unsur-unsur dalam

golongannya maka unsur-unsur alkali tanah makin ke bawah letaknya dalam susuan

berkala makin elektropositif. Karena makin ke bawah letaknya makin banyak pula

jumlah lintasannya sehingga jari-jarinya makin besar pula. Sifat pereduksi logam

alkali tanah lebih kecil dari logam alkali dan jari-jari ion logam tanah lebih kecil dari

alkali (Surakkiti, 1989).

Terdapat perbedaan antara logam alkali dan logam alkali tanah jika bareaksi

dengan air. Logam yang spesifik mudah kehilangan elektron dan mudah dioksidasi.

Untuk mengenal lebih jelas sifat oksidasi dan reduksi bahan kimia dan kereaktifan

logam alkali tanah, maka dilakukan percobaan ini.


1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan sifat-sifat unsur kimia adalah untuk mengetahui dan

mempelajari beberapa sifat unsur golongan alkali (IA) dan alkali tanah (IIA).

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan ini yaitu sebagai berikut:

1. Mempelajari reaktifitas unsur golongan alkali (IA) dan golongan alkali tanah

(IIA) dengan air.

2. Mempelajari kelarutan golongan alkali (IA) dan golongan alkali tanah (IIA)

dalam garam sulfat (H2SO4).

3. Mempelajari kelarutan golongan alkali (IA) dan golongan alkali tanah (IIA)

dalam garam hidroksida (NaOH).

1.3 Prinsip Percobaan

Prinsip pada percobaan ini adalah mereaksikan logam alkali dan alkali tanah

dengan air dingin, pemanasan dan penambahan indikator PP (phenolptalein) sebagai

indikator warna. Mereaksikan larutan alkali tanah dengan asam sulfat(H2SO4) dan

natrium hidroksida (NaOH).

.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Golongan Alkali

Golongan logam alkali merupakan golongan dari logam yang aktif (paling

aktif). Logam tersebut menunjukkan energi ionisasi yang rendah, potensi

elektrodenya besar dan negatif.. Logam alkali tanah memiliki jari-jari atom yang

besar dan energy ionisasi yang kecil. Berarti unsure-unsur logam alkali tanah mudah

melepaskan electron. Mudah melepaskan electron artinya mudah mengalami oksidasi

sehingga unsure ini bersifat pereduksi kuat akan tetapi karena electron valensinya

terdiri dari dua electron, sifat pereduksinya tidak sekuat golongan alkali yang

memiliki satu electron valensi. Hal ini dapat dilihat dari gejala reaksinya dengan air

yang tidak sehebat unsur golongan alkali (Sutresna, 2006).

Logam-logam alkali pada golongan I, memiliki elektron tunggal di orbital

terluarnya. Oleh karena itu, dengan melepaskan satu elektron tersebut mereka dapat

membentuk konfigurasi gas mulia. Ukuran kecencerungan melepaskan elektron

disebut dengan Energi Ionisasi dengan satuan kilokalori per mol (kcal/mol). Logam

alkali memiliki energi ionisasi rendah, sehingga dapat dikatakan bersifat

elektropositif. Atom-atom pada bagian tengah dan kanan dalam tabel periodik

memiliki kecenderungan yang lemah untuk melepaskan elektron, artinya memiliki

energi ionisasi yang tinggi (Prasojo, 2012).

Unsur-unsur yang terdapat pada golongan IA disebut juga unsur alkali karena

sifat logam ini membentuk basa-basa yang kuat. Dalam sistem periodik terletak pada

lajur paling kiri. Unsur-unsur alkali merupakan unsur-unsur logam dengan satu

elektron pada elektron terluarnya sehingga merupakan reduktor kuat. Unsur-unsur


yang terletak dalam logam alkali adalah Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K),

Rubidium (Rb), Cesium (Cs), dan Fransium (Fr). Reaktivitas unsur-unsur tersebut

bertambah dari atas ke bawah, hal ini dapat pada reaksinya dengan air (H2O). Litium

(Li) dalam golongan IA terletak paling atas bereaksi lambat dengan air (H2O),

sedangkan logam alkali lainnya bereaksi sangat cepat dan eksoterm (Brady, 1998).

Energi hidrasi ion alkali tanah lebih besar dari alkali. Karena energi itu

bergantung pada jari-jari ion dan besarnya muatan. Muatan ion alkali tanah lebih

besar dari ion alkali, maka daya tarik tersebut lebih kuat pada logam alkali tanah

dibandingkan dengan logam alkali (Syukri, 1999).

Pada saat unsur-unsur alkali di panaskan (diberi energy), electron dalam atom

alkali dan alkali tanah akan mengalami eksitasi, dan pada saat kembali ke keadaan

stabil, setiap electron akan melepas energy radiasi elektromagnetik berupa pancaran

cahaya. Nyala setiap atom berbeda-beda dan sangat khas pada setiap unsur

(Wilcox, 1995).

2.2 Golongan Alkali Tanah

Dalam sistem periodik panjang unsur-unsur alkali tanah terletak pada

golongan II A, yaitu satu lajur disebelah kanan golongan logam alkali. Unsur

golongan II A berisi Berilium (Be), Magnesium (Mg), Calsium (Ca), Stronsium (Sr),

Barium (Ba) dan Radium. Unsur ini bersifat logam karena cenderung melepaskan

elektron. Unsur ini disebut logam alkali tanah karena oksidasinya bersifat biasa

(alkalis) dan senyawa banyak terdapat pada kerak bumi. Seperti halnya dengan unsur

alkali, unsur alkali tanah sangat reaktif walaupun tidak sereaktif unsur alkali. Unsur

alkali tanah dengan dua elektron valensinya yang sangat mudah dilepaskan

menandakan bahwa unsur alkali tanah sangat bersifat elektropositif, karena unsur
golongan ini mudah melepaskan elektron valensinya. Maka unsur alkali tanah

merupakan pereduksi yang baik, walaupun tidak sebaik sifat pereduksi unsur alkali

yang seperiode. Sesuai dengan sifat keperiodikan unsur-unsur dalam golongannya

maka unsur-unsur alkali tanah makin ke bawah letaknya dalam susuan berkala makin

elektropositif. Karena makin ke bawah letaknya makin banyak pula jumlah

lintasannya sehingga jari-jarinya makin besar pula. Sifat pereduksi logam alkali

tanah lebih kecil dari logam alkali dan jari-jari ion logam tanah lebih kecil dari alkali

(Surakkiti,1989).

Logam alkali tanah terdiri atas berilium, magnesium, kalsium, stronsium,

barium, dan radium.Unsur-unsur dalam golongan alkali tanah mempunyai banyak

kemiripan sifat dengan golongan alkali, yaitu sama-sama dapat membentuk

basa.Namun, basa yang dihasilkan oleh logam alkali tanah lebih lemah dibandingkan

dengan basa dari logam alkali. Anggota unsur alkali tanah yang terdiri dari berelium

(Be), magnesium (Mg), kalsium (Ca), stronsium (Sr), barium (Ba), dan unsur

radioaktif radium (Ra). Di antara unsur-unsur ini Mg dan Ca yang terbanyak terdapat

di kerak bumi. Atom-atom golongan ini memiliki konfigurasi elektron np6(n + 1)s2

kecuali Be. Kerapatan unsur-unsur golongan ini lebih besar dari unsur alkali dalam

satu periode.Unsur-unsur ini mempunyai dua elektron valensi yang terlibat dalam

ikatan logam. Oleh karena itu dibandingkan dengan unsur golongan IA, unsurunsur

ini lebih keras, energi kohesinya lebih besar, dan titik lelehnya lebih tinggi.Titik leleh

unsur-unsur alkali tanah tidak berubah secara teratur karena mempunyai struktur

kristal yang berbeda. Misal unsur Be dan Mg memiliki struktur kristal heksagonal

terjejal, sedangkan struktur kristal unsur Sr berbentuk kubus berpusat muka dan

struktur kristal unsur Ba berbentuk kubus berpusat badan

(Sutresna, 2006).
Kecenderungan tiap unsur dalam menarik electron berbeda-beda.Besarnya

kecenderungan suatu atom untuk menarik electron disebut dengan

keelektronegatifan. Nilai keelektronegatifan berkaitan dengan afinitas electron dan

energy ionisasi (Wilcox, 1995).

2.3 Pemanfaatan Golongan Alkali dan Alkali Tanah

Davy segera mengikuti dan dengan sukses mengisolasi logam alkali dan

alkali tanah. Bahkan hingga kini elektrolisis digunakan untuk menghasilkan berbagai

logam. Elektrolisis khususnya bermanfaat untuk produksi logam dengan

kecenderungan ionisasi tinggi (misalnya aluminum). Produksi aluminum di industri

dengan elektrolisis dicapai tahun 1886 secara independen oleh penemu Amerika

Charles Martin Hall (1863-1914) dan penemu Perancis Paul Louis Toussaint Hroult

(1863-1914) pada waktu yang sama. Sukses elektrolisis ini karena penggunaan

lelehan Na3AlF6 sebagai pelarut bijih (aluminum oksida; alumina Al2O3)

(Takeuchi, 2006)

Ekstraksi bermanfaat untuk memisahkan campuran senyawa dengan berbagai

sifat kimia yang berbeda. Contoh yang baik adalah campuran fenol C6H5OH, anilin

C6H5NH2 dan toluen C6H5CH3, yang semuanya larut dalam dietil eter. Pertama anilin

diekstraksi dengan asam encer. Kemudian fenol diekstraksi dengan basa encer.

Toluen dapat dipisahkan dengan menguapkan pelarutnya. Asam yang digunakan

untuk mengekstrak anilin ditambahi basa untuk mendapatkan kembali anilinnya, dan

alkali yang digunakan mengekstrak fenol diasamkan untuk mendapatkan kembali

fenolnya (Takeuchi, 2006).


Mineral zeolit adalah suatu kelompok mineral alumunium silikat terhidrasi

dari logam alkali dan alkali tanah (terutama Ca, dan Na), dengan rumus umum

LmAlxSiyOz _ nH2O dimana L adalah logam. Zeolit sintetis adalah suatu senyawa

kimia yang mempunyai sifat fisik dan kimia yang sama dengan zeolit yang ada di

alam, zeolit sintetis ini dibuat dari bahan lain dengan proses sintetis, yang dibuat

sedemikian rupa sehingga menyerupai zeolit yang ada di alam. Karena secara umum,

zeolit mempunyai kemampuan untuk menyerap, menukar ion, dan menjadi katalis,

membuat zeolit sintetis ini dapat dikembangkan untuk keperluan industri, seperti

yang akan dibahas dalam tulisan ini yaitu zeolit sintetis sebagai bahan alternatif

pengolah limbah (Saputra, 2006).


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaaan.

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain logam Mg, Li,

Na dan Ca, larutan MgCl2, CaCl2, SrCl2, BaCl2 masing-masing 0,5 M, 1 mL H2SO4, 1

mL NaOH, indikator phenolptalein (PP), akuades, kertas saring, dan tissue.

3.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini, antara lain tabung reaksi, gelas

piala, cawan, pipet tetes, pinset, gegep, rak tabung, sikat tabung, korek api dan

bunsen.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Reaktifitas Unsur

Prosedur kerja dalam percobaan reaktifitas unsur yaitu dimasukkan

masing-masing air sebanyak 2 mL ke dalam dua tabung reaksi, dimasukkan logam

Ca pada tabung pertama dengan menggunakan sendok tandu, dan diberi label pada

tabung, dimasukkan logam Mg pada tabung kedua, amati reaksi yang terjadi diantara

keduanya. Dimasukkan air ke dalam gelas reaksi, dan di masak dengan

menggunakan kaki tiga dan bunsen. Dimasukkannya tabung reaksi yang berisi Ca

dan Mg ke dalam gelas reaksi yang berisi air panas, secara bersamaan, diamati reaksi

yang terjadi (Hal ini ditandai dengan adanya gelembung-gelembung gas). Setelah itu

diangkatnya tabung reaksi yang sudah menunjukkan reaksi terhadap air panas, lalu
dimasukkan pada masing-masing kedua tabung reaksi tersebut 2 mL

phenolphthalein, diamati perubahan warna yang terjadi. Kemudian untuk logam Na

diapungkan secarik kertas saring di atas permukaan air dalam cawan petridish

dengan menggunakan pinset. Diletakkan sepotong logam Na di atas kertas.Dibiarkan

hingga terjadi ledakan kecil-kecil (jangan terlalu dekat). Diteteskan indikator PP dan

catat perubahan warna.

3.3.2 Kelarutan dalam garam sulfat

Prosedur kerja dalam percobaan kelarutan garam sulfat yatu disiapkan tabung

reaksi sebanyak 4 buah, dimasukkan ke dalam tabung reaksi pertama dengan MgCl2,

tabung reaksi kedua dengan CaCl2, tabung reaksi ketiga dengan SrCl2, tabung reaksi

keempat dengan BaCl2, masing-masing sebanyak 1 mL dengan konsentrasi larutan

0,5 M. Ditambahkannya 1 mL H2SO40,5 M ke dalam masing-masing tabung reaksi.

Diamati endapan yang terbentuk pada keempattabung tersebut.

3.3.3 Kelarutan dalam garam Hidroksida

Prosedur kerja dalam percobaan kelarutan dalam garam hidroksida yaitu

disiapkan tabung reaksi sebanyak 4 buah, dimasukkan ke dalam tabung reaksi

pertama dengan MgCl2, tabung reaksi kedua dengan CaCl2, tabung reaksi ketiga

dengan SrCl2, pada tabung reaksi keempat dengan BaCl2, masing-masing sebanyak 1

mL dengan konsentrasi larutan 0,5 M. Ditambahkannya 1 mL NaOH 0,5 M ke dalam

masing-masing tabung reaksi. Diamati endapan yang terbentuk pada keempat tabung

tersebut.
BAB IV

HASIL DAN PENGAMATAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Reaktivitas Unsur

Tabel 1. Reakstivitas Unsur

Ditambah air Ditambah air Ditambah


Unsur
dingin panas phenolptalin (PP)

Na Terjadi Ledakan - Ungu

lambat

Mg Tidak bereaksi menghasilkan Ungu bening

gelembung H2

Lebih cepat

Ca Tidak bereaksi menghasilkan Ungu pekat/keruh

gelembung H2

Percobaan kereaktifan logam alkali tanah akan menggunakan logam

Magnesium dan Kalsium. Percobaan dimulai dengan memasukkan serbuk logam Mg

dan Ca ke masing-masing tabung reaksi yang kering dan bersih. Kemudian kedalam

tabung ditambahkan 5 mL air lalu dipanaskan. Pada saat dipanaskan terjadi

gelembung-gelembung gas yang menandakan bahwa terjadi reaksi pada larutan.


Gelembung gas pada Ca lebih banyak daripada Mg yang menunjukkan bahwa logam

Ca lebih reaktif daripada Mg. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan tersebut

dapat dilihat bahwa logam Ca lebih reaktif daripada logam Mg. Pada percobaan

kereaktifan alkali akan digunakan logam Na. Percobaan dimulai dengan mengisi

cawan petri dengan air secukupnya kemudian diapungkan potongan kertas saring

diatas permukaan air pada cawan petri, penggunaan kertas saring bertujuan agar

setelah penambahan indikator warna larutan dapat dilihat dengan jelas. Selanjutnya

diambil potongan kecil Natrium yang disimpan didalam minyak tanah kemudian

diletakkan diatas permukaan kertas saring dalam cawan petri. Dari percobaan yang

dilakukan dapat dilihat bahwa logam Natrium yang bereaksi dengan air akan

menimbulkan nyala api yang kemudian akan meletup. Karena sifat logam Natrium

yang sangat reaktif terhadap air inilah maka logam Natrium harus disimpan didalam

minyak tanah dan dalam percobaan ini hanya menggunakan potongan kecil Natrium

karena semakin besar potongannya maka semakin besar pula nyala api dan letupan

yang terjadi. Setelah Natrium meletup, ditambahkan indikator PP untuk mengetahui

apakah reaksi Natrium dengan air akan menghasilkan basa atau tidak. Dari

perubahan warna larutan yang berubah menjadi ungu dapat diketahui bahwa reaksi

kedua campuran tersebut menghasilkan basa.

4.1.2 Pengendapan Garam Sulfat

Tabel 2. Pengendapan Garam Sulfat

Larutan Ditambah H2SO4 0,5 M Keterangan

MgCl2 0,5 M Tidak mengendap -

CaCl2 0,5 M Terjadi sedikit pengendapan ++


SrCl2 0,5 M Terjadi lebih banyak pengendapan + + +

BaCl2 0,5 M Tidak mengendap -

Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa pada percobaan kelarutan

garam sulfat, apabila BaCl2 ditambahkan H2SO4 didapatkan endapan yang banyak

berwarna putih susu pekat, dan apabila CaCl 2 ditambahkan H2SO4 didapatkan

endapat yang sedikit berwarna putih susu. Apabila MgCl2 ditambahkan H2SO4maka

tidak ada terjadi endapan karena H2SO4larut sempurna dalam MgCl2 . Apabila SrCl2

ditambahkanH2SO4maka akan terbentuk lumayan banyak endapan. Hal ini

dikarenakan semakin kecil endapan, maka semakin besar kelarutan garam tersebut,

sehingga dapat disimpulkan bahwa garam sulfat dalam satu golongan semakin

kebawah kelarutannya semakin kecil. Garam sulfat adalah hasil reaksi dari asam

sulfat dengan larutan basa. Jadi, endapan larutan SrCl2 >CaCl2> MgCl2=BaCl2.

4.1.3 Pengendapan Garam Hidroksida

Tabel 2. Pengendapan Garam Hidroksida

Larutan Ditambah NaOH 0,5 M Keterangan

MgCl2 0,5 M Terdapat sedikit endapan +

CaCl2 0,5 M Terdapat banyak endapan +++

SrCl2 0,5 M Terdapat endapan ++

BaCl2 0,5 M Terdapat endapan ++

Percobaan kelarutan garam hidroksida, apabila BaCl2 ditambah NaOH

dihasilkan endapan yang banyak dan berwarna putih yang membentuk larutan koloid,

dan apabila CaCl2 ditambahkan NaOH didapatkan endapan yang banyak berwarna
putih susu yang membentuk larutan koloid. Apabila MgCl2 ditambah NaOh

dihasilkan endapan cukup banyak. Apabila SrCl2 ditambah NaOH dihasilkan sedikit

endapan.

Jadi hasil kelarutannya, semakin besar dari atas kebawah dalam satu

golongan, garam hidroksida adalah hasil reaksi dari natrium hidroksida dengan suatu

asam lemah. Dengan kata lain, endapan larutan BaCl2 > MgCl2 > CaCl2 > SrCl2.

4.2 Reaksi

4.2.1 Reaksi reaktivitas unsur

1. Na + H2O Na(OH)2 + H2

2. Mg + H2O Mg(OH)2 + H2

3. Ca + H2O Ca(OH)2 + H2

4.2.2 Reaksi dengan garam sulfat

1. MgCl2 + H2SO4 MgSO4 + 2 HCl

2. CaCl2 + H2SO4 CaSO4 + 2 HCl

3. BaCl2 + H2SO4 BaSO4 + 2 HCl

4. SrCl2 + H2SO4 SrSO4 + 2 HCl

4.2.3 Reaksi dengan garam hidroksida

1. MgCl2 + 2NaOH Mg(OH)2 + 2NaCl

2. CaCl2 + 2NaOH Ca(OH)2 + 2NaCl

3. BaCl2 + 2NaOH Ba(OH)2 + 2NaCl

4. SrCl2 + 2NaOH Sr(OH)2 + 2NaCl


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa :

1. Kereaktifan untuk unsur logam alkali dan alkali tanah semua sama, yaitu

kereaktifan dari unsur-unsurnya bertambah dari atas ke bawah dan pada

dasarnya kereaktifan lagam alkali dan alkali tanah berkaitan dengan energi

ionisasinya yang rendah, sehingga mudah melepaskan elektron.

2. Kelarutan garam sulfat dalam satu golongan dari atas ke bawah semakin kecil,

sedangkan kelarutan garam hidroksida, dalam satu golongan dari atas kebawah

semakin besar.

3. Sifat unsur golongan alkali yaitu: konfigurasi elektron valensi adalah ns1, energi

ionisasi relatif rendah, serta dalam satu golongan energi ionisasi, titik didih dan

titik leleh, dari ats ke bawah semakin kecil. Sedangkan sifat unsur golongan

alkali tanah yaitu: jari-jari atom lebih kecil dari golongan alkali, merupakan

logam yang lunak dan dapat menghantarkan listrik dan panas yang baik serta

konfigurasi elektron valensinya ns2.

5.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan harus lebih berhati-hati dalam

menggunakan alat dan bahan laboratorium agar tidak menimbulkan kecelakaan kerja

yang dapat berdampak buruk bagi praktikan sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, E. J., 1998, Kimia Universitas Asas dan Struktur, Jakarta Barat,
Binarupa Ak.

Prasojo, S. L., 2012, Kimia Organik I: Buku Pegangan Kuliah Untuk Mahasiswa
Farmasi Jilid 1, Yogyakarta.
Saputra, R., 2006, Pemanfaatan Zeolit Sintetis Sebagai Alternatif Pengolahan
Limbah Industri, Jurnal Sains, 1(1): 1-8.
Surakkiti, 1989, Kimia 3, Jakarta: Intan.
Syukri, S., 1999, Kimia Dasar 3, Bandung : Penerbit ITB.
Takeuchi, Y., 2004, Buku Teks Kimia Organik Online (terjemahan oleh Ismunandar),
Tokyo: Kanagawa University.
Wilcox, Charles F.,1995, Experimental Chemistry A Small- Scale Approach,
Chemistry Jurnal, 1(5): 5-10.
LAMPIRAN

BAGAN KERJA

A. Reaktifitas Unsur

Logam alkali(Mg)

- Dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi air 2 ml.

- Dicatat dan diamati reaksi yang terjadi.

- Dipanaskan jika tidak terjadi reaksi (sampai terbentuk gelembung gas).

- Diteteskan indikator PP.

- Diamati dan dicatat perubahan warna yang terjadi.

Hasil

Logam Alkali(Ca)

- Dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi air 2 mL

- Dicatat dan diamati reaksi yang terjadi.

- Dipanaskan jika tidak terjadi reaksi(sampai terbentuk gelembung gas).


- Diteteskan indikator PP.

- Diamati dan dicatat perubahan warna yang terjadi.

Hasil

Logam alkali(Na)

- Diapungkan secarik kertas saring di atas permukaan air dalam cawan

petridish dengan menggunakan pinset.

- Diletakkan sepotong logam Na di atas kertas.

- Dibiarkan hingga terjadi ledakan kecil-kecil (jangan terlalu dekat)

- Diteteskan indicator PP

- Dicatat perubahan warna.

Hasil

B. Kelarutan dalam Garam Sulfat

MgCl2

- Disiapkan 1 tabung reaksi

- Diisi tabung dengan MgCl2

- Ditambahkan 1 mL H2SO4 0,5 M.


- Diperhatikan endapan yang terbentuk pada tabung.

Hasil

BaCl2

- Disiapkan 1 tabung reaksi

- Diisi tabung dengan BaCl2

- Ditambahkan 1 mL H2SO4 0,5 M.

- Diperhatikan endapan yang terbentuk pada tabung.

Hasil

SrCl2

- Disiapkan 1 tabung reaksi

- Diisi tabung dengan SrCl2

- Ditambahkan 1 mL H2SO4 0,5 M.

- Diperhatikan endapan yang terbentuk pada tabung.

Hasil

CaCl2
- Disiapkan 1 tabung reaksi

- Diisi tabung dengan CaCl2

- Ditambahkan 1 mL H2SO4 0,5 M.

- Diperhatikan endapan yang terbentuk pada tabung.

Hasil

C. Kelarutan dalam Garam Hidroksida

MgCl2

- Disiapkan 1 tabung reaksi

- Diisi tabung dengan MgCl2

- Ditambahkan 1 mL NaOH 0,5 M.

- Diperhatikan endapan yang terbentuk pada tabung.

Hasil

BaCl2

- Disiapkan 1 tabung reaksi

- kmDiisi tabung dengan BaCl2

- Ditambahkan 1 mL NaOH 0,5 M.

- Diperhatikan endapan yang terbentuk pada tabung.

Hasil
SrCl2

- Disiapkan 1 tabung reaksi

- Diisi tabung dengan SrCl2

- Ditambahkan 1 mL NaOH0,5 M.

- Diperhatikan endapan yang terbentuk pada tabung.

Hasil

CaCl2

- Disiapkan 1 tabung reaksi

- Diisi tabung dengan CaCl2

- Ditambahkan 1 mLNaOH 0,5 M.

- Diperhatikan endapan yang terbentuk pada tabung.

Hasil
DOKUMENTASI HASIL PERCOBAAN