Anda di halaman 1dari 17

A.

JUDUL PERCOBAAN
Ikatan Kimia
B. HARI/TANGGAL PERCOBAAN
1. Mulai: jumat/23 nopember 2012 pukul 07.00 WIB
2. Selesai: jumat/23 nopember 2012 pukul 09.40 WIB
C. TUJUAN
1. Membandingkan ikatan kovalen dengan ikatan ionik
2. Mengamati perubahan kimia unsur klor dalam suatu senyawa, dari
yang berikatan kovalen menjadi ionik.
D. DASAR TEORI
Ikatan kimia adalah daya tarik menarik antara atom yang
menyebabkan suatu senyawa kimia dapat bersatu. Kekuatan daya tarik
menarik ini menentukan sifat sifat kimia dari suatu zat dan cara ikatan
kimia berubah jika suatu zat bereaksi digunakan untuk mengetahui jumlah
energi yang dilepas atau diabsorbsi selama terjadinya reaksi.
Ikatan kimia dapat dibagi menjadi dua kategori besar : ikatan ion
dan ikatan kovalen. Disebut terbentuk ikatan ion jika terjadinya
perpindahan elektron diantara atom untuk membentuk partikel yang
bermuatan listrik dan mempunyai daya tarik menarik. Daya tarik
menarik diantara ion ion yang bermuatan berlawanan merupakan suatu
ikatan ion. Ikatan kovalen terbentuk dari terbaginya elektron diantara atom
atom. Dengan kata lain, daya tarik menarik inti atom pada elektron yang
terbagi diantara elektron itu merupakan suatu ikatan kovalen. (James
E.Brady,1999).

1. Ikatan Ion
Ikatan ion adalah ikatan yang terbentuk akibat gaya tarik
listrik (gaya Coulomb) antara ion yang berbeda. Ikatan ion juga
dikenal sebagai ikatan elektrovalen. Ciri ciri ikatan ion (Ralph H.
Petrucci,1996)
a) Ikatan ion terbentuk karena adanya perpidahan elektron
antara sebuah atom logam dan sebuah atom non logam.
b) Dalam perpindahan ini atom logam menjadi ion yang
bermuatan positif (kation) dan atom non logam menjadi ion
bermuatan negatif (anion).
c) Atom non logam memperoleh sebuah elektron yang cukup
untuk menghasilkan anion dengan konfigurasi elektron gas
mulia.
d) Kecuali dalam keadaan gas, senyawa ion tidak tersusun dari
pasangan ion sederhana atau sekelompk kecil ion.
e) Dalam keadaan padat setiap ion dikelilingi oleh ion ion
yang muatannya berlawanan, membentuk suatu susunan
yang disebut Kristal. Yang disebut satuan rumus suatu
senyawa ion ialah sekelompok terkecil ion ion yang
bermuatan listrik netral.
2. Pembentukan Ikatan Ion
Telah diketahui sebelumnya bahwa ikatan antara natrium
dan klorin dalam narium klorida terjadi karena adanya serah terima
elektron. Natrium merupakan logam dengan reaktivitas tinggi
karena mudah melepas elektron dengan energi ionisasi rendah
sedangkan klorin merupakan nonlogam dengan afinitas atau daya
penangkapan elektron yang tinggi. Apabila terjadi reaksi antara
natrium dan klorin maka atom klorin akan menarik satu elektron
natrium. Akibatnya natrium menjadi ion positif dan klorin menjadi
ion negatif. Adanya ion positif dan negatif memungkinkan
terjadinya gaya tarik antara atom sehingga terbentuk natrium
klorida. Pembentukan natrium klorida dapat digambarkan
menggunakan penulisan Lewis sebagai berikut:

Pembentukan NaCl dengan lambang Lewis

Ikatan ion hanya dapat tebentuk apabila unsur-unsur yang


bereaksi mempunyai perbedaan daya tarik electron
keeelektronegatifan) cukup besar. Perbedaan keelektronegatifan
yang besar ini memungkinkan terjadinya serah terima elektron.
Senyawa biner logam alkali dengan golongan halogen
semuanya bersifat ionik. Senyawa logam alkali tanah juga bersifat
ionik, kecuali untuk beberapa senyawa yang terbentuk dari
Berilium.

3. Ikatan kovalen
Ikatan kovalen dapat terjadi karena adanya penggunaan
elektron secara bersama. Apabila ikatan kovalen terjadi maka
kedua atom yang berikatan tertarik pada pasangan elektron
yang sama. Molekul hidrogen H2 merupakan contoh pembentukan
ikatan kovalen.

Pembentukan ikatan kovalen atom-atom hidogen :


Masing-masing atom hidrogen mempunyai 1 elektron dan
untuk mencapai konfigurasi oktet yang stabil seperti unsur
golongan gas mulia maka masing-masing atom hidrogen
memerlukan tambahan 1 elektron. Tambahan 1 elektron untuk
masing-masing atom hidrogen tidak mungkin didapat dengan
proses serah terima elektron karena keelekronegatifan yang sama.
Sehingga konfigurasi oktet yang stabil dapat dicapai dengan
pemakaian elektron secara bersama. Proses pemakaian elektron
secara bersama terjadi dengan penyumbangan masing-masing 1
elektron ari atom hidrogen untuk menjadi pasangan elektron milik
bersama. Pasangan elektron bersama ditarik oleh kedua inti atom
hidrogen yang berikatan.

4. Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian
pasangan elektron secara bersama oleh 2 atom yang berikatan.
a) Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan salah 1 atom
yang akan berikatan untuk melepaskan elektron (terjadi
pada atom-atom non logam).
b) Ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur yang
memiliki afinitas elektron tinggi serta beda
keelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan ikatan ion.
c) Atom non logam cenderung untuk menerima elektron
sehingga jika tiap-tiap atom non logam berikatan maka
ikatan yang terbentuk dapat dilakukan dengan cara
mempersekutukan elektronnya dan akhirnya terbentuk
pasangan elektron yang dipakai secara bersama.
d) Pembentukan ikatan kovalen dengan cara pemakaian
bersama pasangan elektron tersebut harus sesuai dengan
konfigurasi elektron pada unsur gas mulia yaitu 8 elektron
(kecuali He berjumlah 2 elektron).
Hidrogen klorida merupakan contoh lazim
pembentukan ikatan kovalen dari atom hidrogen dan
atom klorin. Hidrogen dan klorin merupakan unsur
nonlogam dengan harga keelektronegatifan masing
-masing 2,1 dan 3,0. Konfigurasi elektron atom hidrogen
dan atom klorin adalah
H :1)
Cl :2)8)7)
Berdasarkan aturan oktet yang telah diketahui maka
atom hidrogen kekurangan 1 elektron dan atom klorin
memerlukan 1 elektron untuk membentuk konfigurasi stabil
golongan gas mulia. Apabila dilihat dari segi
keelektronegatifan, klorin mempunyai harga
keelektronegatifan yang lebih besar dari hidrogen tetapi
hal ini tidak serta merta membuat klorin mampu menarik
elektron hidrogen karena hidrogen juga mempunyai harga
keelektronegatifan yang tidak kecil. Konfigurasi
stabil dapat tercapai dengan pemakaian electron
bersama. Atom hidrogen dan atom klorin masing - masing
menyumbangkan satu elektron untuk membentuk pasangan
elektron milik bersama. Seperti gambar yang tertera di
bawah ini :

Pembentukan HCl
5. Ikatan Kovalen Rangkap dan Rangkap Tiga
Dua atom dapat berpasangan dengan mengguna-kan
satu pasang, dua pasang atau tiga pasang elektron yang tergantung
pada jenis unsur yang berikatan. Ikatan dengan sepasang elektron
disebut ikatan tunggal sedangkan ikatan yang menggu-nakan
dua pasang elektron disebut ikatan rangkap dan ikatan dengan
tiga pasang elektron disebut ikatan rangkap tiga. Ikatan rangkap
misalnya dapat dijumpai pada molekul oksigen (O 2) dan molekul
karbondiksida (CO2) sedangkan ikaran rangkap tiga misalnya dapat
dilihat untuk molekul nitrogen (N2) dan etuna (C2H2).
6. Ikatan Kovalen Polar dan Ikatan Kovalen Nonpolar
Berdasarkan pengetahuan keelektronegatifan yang telah
diketahui maka salah satu akibat adanya perbedaan
keelektronegatifan antar dua atom unsur berbeda adalah terjadinya
polarisasi ikatan kovalen. Adanya polarisasi menyebabkan ikatan
kovalen dapat dibagi menjaadi ikatan kovalen polar dan ikatan
kovalen nonpolar. Ikatan kovalen polar dapat dijumpai pada
molekul hidrogen klorida sedangkan ikatan kovalen nonpolar dapat
dilihat pada molekul hidrogen. Seperti yang tertera pada gambar di
bawah ini :

Orbital H2 dan HCl, polarisasi ikatan kovalen


Pada hidrogen klorida terlihat bahwa pasangan elektron
bersama lebih tertarik ke arah atom klorin karena elektronegatifitas
atom klorin lebih besar dari pada elektronegatifitas atom hidrogen.
Akibat hal ini adalah terjadinya polarisasi pada hidrogen klorida
menuju atom klorin. Ikatan jenis ini disebut ikatan kovalen polar.
Hal yang berbeda terlihat pada molekul hidrogen. Pada molekul
hidrogen, pasangan elektron bersama berada ditempat yang
berjarak sama diantara dua inti atom hidrogen (simetris). Ikatan
yang demikian ini dikenal sebagai ikatan kovalen nonpolar.
7. Molekul Polar dan Molekul Nonpolar
Molekul yang berikatan secara kovalen nonpolar seperti H2,
Cl2 dan N2 sudah tentu bersifat nonpolar. Akan tetapi molekul
denganikatan kovalen polar dapat bersifat polar dan nonpolar
yang bergantung pada bentuk geometri molekulnya. Molekul dapat
bersifat nonpolar apabila molekul tersebut simetris walaupun ikatan
yang digunakan adalah ikatan kovalen polar.
Molekul H2O dan NH3 bersifat polar karena ikatan O-H dan
N-H bersifat polar. Sifat polar ini disebabkan adanya perbedaan
keelektronegatifan dan bentuk molekul yang tidak simetris atau
elektron tidak tersebar merata. Dalam H2O, pusat muatan negatif
terletak pada atom oksigen
sedangkan pusat muatan positif pada kedua atom hidrogen. Dalam
molekul NH3, pusat muatan negatif pada atom nitogen dan pusat
muatan positif pada ketiga atom hidrogen. Molekul BeCl2dan
BF3 bersifat polar karena molekul berbentuk simetris dan elektron
tersebar merata walupun juga terdapat perbedaan
keelektronegatifan.
Kepolaran suatu molekul dapat diduga dengan
menggambarkan ikatan menggunakan suatu vektor dengan arah
anak panah dari atom yang bermuatan positif menuju ke arah atom
yang bermuatan negatif. Molekul dikatakan bersifat nonpolar
apabila resultan vektor sama dengan nol. Sedangkan molekul
bersifat polar apabila hal yang sebaliknya terjadi, resultan tidak
sama dengan nol.
Pada molekul CCl4, yang mempunyai bentuk molekul
tetrahedaral dengan C sebagai atom pusat dan dikelilingi oleh 4
atom Cl seperti pada Gambar di bawah ini.

Perbedaan keelektronegatifan C dan Cl adalah sebesar 3-2,5


= 0,5. Jadi ikatan CCl termasuk ikatan kovalen (tepatnya ikatan
kovalen polar) karena perbedaan keeltronegatifan lebih kecil 1,7.
Walaupun ikatan CCl berupa ikatan kovalen polar tetapi
molekulnya bersifat nonpolar.
Hal ini disebabkan, bentuk tetrahedral dari molekul
CCl4 dapat dikatakan simetrism karena memiliki pusat simetri pada
atom C ditengah, sehingga jumlah momen ikatan yang sama
dengan nol. Atau dapat dikatan tarikan elektron akibat adanya
perbedaan keelektronegatifan saling meniadakan atau saling
menguatkan (perhatikan tanda panah pada strutur). Hal ini dapat
diandaikan, suatu benda yang berada di tengah-tengah ditarik dari
empat sudut dengan kekuatan sama, maka benda tersebut tidak
akan bergerak. Karena hal inilah molekul CCl4 bersifat nonpolar.
Jika CCl4 salah satu atom Cl diganti oleh atom lain misalnya H,
maka sifat molekul yang awalnya nonpolar berubah menjadi polar.
Hal ini disebabkan kepolaran ikatan C-H berbeda dengan kepolaran
ikatan C-Cl, sehingga momen dipol yang terbentuk tidak saling
meniadakan. Tetapi apabila semua atom C diganti oleh atom H
maka molekulnya bersifat nonpolar karena kepolaran semua ikatan
CH sama besar sehingga mpmen ikatan yang terbentuk saling
meniadakan.

E. RANCANGAN PERCOBAAN
1. Alat dan Bahan
a) Alat-alat
Tabung reaksi
Rak tabung reaksi
Pengaduk gelas
Pipet tetes
Cawan porselin
b) Bahan-bahan
Larutan NaCl-etanol
Kloroform
CCl4
Larutan AgNO3
CaO
Benzena
HNO3 pekat
Asam oksalat
Gula pasir
Aseton
2. Langkah Percobaan
Membandingkan ikatan kovalen dengan ikatan ion
a) Pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyiapkan 2
tabung reaksi, tabung reaksi 1 diisi dengan 1 ml akuades
dan 5 tetes larutan NaCl, tabung reaksi 2 diisi dengan 1ml
CCl4
b) Kedalam masing-masing tabung reaksi ditambahkan 2 tetes
AgNO3. Lalu mengamati perubahan yang terjadi dan
mencatat waktu untuk terbentuknya reaksi.
Perubahan ikatan kimia suatu unsur dari ikatan kovalen menjadi
ionik
a) Menyiapkan tabung reaksi pyrex yang kering dan bersih.
b) Memasukkan seujung pengaduk serbuk CaO
c) Memanaskan dengan api . melakukan pemanasan tersebut
secara terus-menerus selama 10 menit.
d) Memindahkan tabung menjauhi api, kemudian meneteskan
2 tetes CCl4. Memanaskan lagi tabung reaksi kemudian
menjauhkannya lagi dan menetesinya dengan 3 tetes CCl4.
Memanaskannya lagi.
e) Mendinginkannya dan menambahkan 1mL HNO3 pekat.
f) Memanaskan tabung reaksi sampai endapan larut dan gas-
gas yang terbentuk hilang. Mendinginkan dan
menambahkan AgNO3 lalu mengamati perubahannya.
Reaksi pemanasan senyawa organik
a) Menyiapkan cawan porselin lalu mengisinya dengan
sedikit kristal asam oksalat. Meletakkannya di atas kaki
tiga dan memanaskannya.
b) Mencatat perubahan yang terjadi meliputi bau,
pembentukan kristal dsb.
c) Mengulangi prosedur a-c dengan mengganti asam oksalat
dengan gula pasir.
3. Alur Kerja

20 tetes aquades
+
5 tetes NaCl

Dimasukkan kedalam tabung reaksi 1


Dimasukkan 2 tetes AgNO3
Diamati perubahannya mulai dari tetesan
pertama

Hasil

20 tetes CCl4

Dimasukkan kedalam tabung reaksi 2


Dimasukkan 2 tetes AgNO3
Diamati perubahannya mulai dari tetesan
pertama

Hasil
Seujung spatula CaO

Dimasukkan kedalam tabung reaksi

Dipanaskan selama 10 menit


Dijauhkan dari api

Ditetesi 2 tetes CCl4

Hasil

(endapan CaCl2)

Dipanaskan 3 menit
Didinginkan

Ditambahkan 20 tetes HNO3 pekat


Dipanaskan

Hasil

(endapan larut)

Didinginkan
Dimasukkan 2 tetes AgNO3

Hasil

(terdapat endapan AgCl warna putih)

Seujung spatula Kristal


asam oksalat

dimasukkan ke dalam cawan porselin

dipanaskan
HASIL

(bau, terbentuk kristal)

Seujung spatula gula


pasir

Dimasukkan kedalam cawan porselin


dipanaskan

HASIL

Bau, terbentuk karamel


F. HASIL PENGAMATAN
G. ANALISIS DATA
1. Pada percobaan pertama, 5 tetes NaCl direaksikan dengan 1 mL air
didalam tabung reaksi 1. Kemudian ditambahkan 2 tetes AgNO 3
sesuai dengan persamaan:
NaCl(aq) + AgNO3(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq)
Sebelum bereaksi ketiga larutan tersebut berupa larutan yang jernih
dan tidak berwarna. Setelah bereaksi, terbentuk larutan berwarna
putih dan keruh. Kemudian dimasukkan 20 tetes CCl 4 kedalam
tabung reaksi 2. Setelah itu direaksikan dengan 2 tetes AgNO 3
sesuai dengan persamaan:
CCl4(aq) + AgNO3(aq)
Sebelum keduanya bereaksi, CCl4 dan AgNO3 berupa larutan yang
jernih dan tidak berwarna. Setelah bereaksi terbentuk larutan yang
tetap jernih dan tidak berwarna.
2. Pada percobaan kedua, seujung spatula CaO yang dimasukkan
dalam tabung reaksi dipanaskan selama 10menit. Sebelum
dipanaskan CaO berupa serbuk berwarna putih. Kemudian
dijauhkan dari api, setelah dipanaskan CaO berubah menjadi
menggumpal. Setelah itu ditetesi dengan 2 tetes larutan CCl 4 yang
jernih dan tidak berwarna. Setelah bereaksi dengan CCl 4 terbentuk
padatan yang semakin menggumpal. Kemudian ditambahkan
HNO3 pekat yang jernih dan tidak berwarna. Setelah proses
penambahan HNO3 terbentuk larutan berwarna kuning. Kemudian
kedalam larutan tersebut ditambahkan 2 tetes larutan AgNO3 yang
jernih dan tidak berwarna. Setelah bereaksi, larutan berubah
menjadi keruh dan terdapat endapan AgCl berwarna putih.
3. Pada percobaan ketiga, 5 sendok spatula kristal H2C2O4 yang
berwarna putih dan tidak berbau dimasukkan kedalam cawan
porselin. Kemudian dipanaskan diatas kaki tiga dan H2C2O4
berubah menjadi larutan, berwarna putih dan berbau sengak.
Setelah itu padatan H2C2O4 digantikan dengan kristal gula pasir
yang diberi perlakuan yang sama dengan H2C2O4. Setelah
dipanaskan gula berubah menjadi karamel yang berwarna coklat
dan berbau harum.
H. PEMBAHASAN
I. KESIMPULAN
Ikatan ion terbentuk karena terjadinya perpindahan suatu elektron
dari atom ke atom yang lain sehingga terbentuk ion positif dan ion negatif.
Ikatan ini terjadi antar unsur-unsur dengan potensial ionisasi rendah
dengan unsur yang berafinitas elekton tinggi. Sedangkan, Ikatan kovalen
terbentuk karena terjadinya pemakaian bersama pasangan elektron valensi
antara dua atom atau lebih. Ikatan ini terjadi antara atom-atom yang sukar
diganti oleh atom lain.
J. JAWABAN PERTANYAAN

1. Reaksi antara senyawa ion umumnya berlangsung cepat. Hal ini


disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara ion - ion yang muatannya
berlawanan. Selain itu, pada senyawa ion titik leleh dan titik
didihnya lebih tinggi daripada senyawa kovalen, lelehan dan
larutannya menghantarkan arus listrik. Sedangakan, reaksi antara
senyawa kovalen umumnya berlangsung lambat. Hal ini disebabkan
karena untuk berlangsungnya reaksi tersebut dibutuhkan energy untuk
memutuskan ikatan-ikatan kovalen yang terdapat dalam molekul zat yang
bereaksi.

2. Struktur molekul gula pasir


Struktur molekul asam oksalat

3. Kelarutan berkurang seiring dengan bertambahnya panjang rantai


hidrokarbon dalam alkohol. Apabila atom karbonnya mencapai
empat atau lebih, penurunan kelarutannya sangat jelas terlihat, dan
campuran kemungkinan tidak menyatu. Kelarutan gas amoniak
dalam air sangat besar yaitu 1.145 l/l air pada suhu 0 oC dan
tekanan 1 atmosfer, gas ini juga larut dalam alkohol dan eter. Bila
uap amonia bercampur dengan uap asam klorida maka akan
terbentuk kabut putih yang mengendap. Endapan putih tersebut
adalah NH4Cl padat yang disebut salmiak. Dalam dunia
perdagangan dapat dijumpai larutan amonia pekat yang
mengandung 25% gas NH3.
K. DAFTAR PUSTAKA

Brady, J. E. (1999). Kimia Universitas Asas & Struktur. Jakarta Barat:


Binarupa Aksara.

Tim Kimia Dasar. (2012). Petunjuk Praktikum KIMIA DASAR 1.


Surabaya: Unipress.

Anonim. 2008. Ikatan Kimia. From: www.IkatanKovalenChem-Is-


Try.Org. Diakses tanggal 26 November 2012 pukul 20.00 WIB
Anonim. 2008. Ikatan Kimia. From: www.IkatanIonChem-Is-Try.Org,
tanggal. Diakses tanggal 26 November 2012 pukul 20.00 WIB

Surabaya, 28 Nopember 2012

Mengetahui,

Dosen / Asisten Pembimbing Praktikan

( .. ) ( )