Anda di halaman 1dari 2

Ekstraksi cair-cair merupakan suatu cara, pemisahan komponen yang larut dalam zat cair dengan

solven yang tak bercampur dengan zat cair tersebut tetapi dapat melarutkan komponen yang
dimaksud dan bersifat selektif (Sajima, 2007).
Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke
dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut
kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi
dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven
pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam
pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya (Utami,
2011)

Sajima, 2007, Pembuatan Larutan Umpan Proses Pengendapan Zr(OH)4 Menggunakan Metode
Re-ekstraksi, Jurnal Seminar Nasional III, Vol 1, No 2, Hal 2.

Ekstraksi didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut dimana
perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi ke dalam pelarut dan
setelah pelarut diuapkan maka zat aktifnya akan diperoleh (Adrian, 2000).
Tujuan Ekstraksi yaitu penyarian komponen kimia atau zat-zat aktif dari bagian tanaman obat,
hewan dan beberapa jenis hewan termasuk biota laut. Komponen kimia yang terdapat pada
tanaman, hewan dan beberapa jenis ikan pada umumnya mengandung senyawa-senyawa yang
mudah larut dalam pelarut organik (Adrian, 2000).

Jenis-jenis Ekstraksi
Jenis ekstraksi bahan alam yang sering dilakukan adalah (Tobo,2001) :
a.Secara panas seperti refluks dan destilasi uap air karena sampel langsung dipanaskan dengan
pelarut; dimana umumnya digunakan untuk sampel yang mempunyai bentuk dan dinding sel yang
tebal.
b.Secara dingin misalnya maserasi, perkolasi, dan soxhlet. Dimana untuk maserasi dilakukan
dengan cara merendam simplisia, sedangkan soxhlet dengan cara cairam penyari dipanaskan dan
uap cairan penyari naik ke kondensor kemudian terjadi kondensasi dan turun menyari simplisia.

Adrian, peyne, 2000. Analisa EkstraktifTumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat. Pusat Penelitian.
Universitas Negeri Andalas.
Tobo, Fachruddin, (2001), "Buku Pegangan Laboratorium Fitokimia I", LaboratoriumFitokimia
Jurusan Farmasi Unhas, Makassar.

Beberapa cara dapat mengklasifikasikan sistem ekstraksi. Cara klasik adalah mengklasifikasi
berdasarkan sifat zat yang diekstraksi, sebagai khelat atau sistem ion berasosiasi, akan tetapi
klasifikasi sekarang didasarkan pada hal yang lebih ilmiah, yaitu proses ekstraksi. Bila ekstraksi
ion logam berlangsung, maka proses ekstraksi berlangsung pada mekanisme tertentu. Berarti jika
ekstraksi berlangsung melalui pembentukan khelat atau struktur cincin, ekstraksi dapat
diklasifikasikan sebagai ekstraksi khelat (Khopkar, 2008, hal: 91-92).
Khopkar, SM. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press, 2008.
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari
bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Diantara berbagai jenis metode pemisahan,
ekstraksi pelarut atau disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik
dan populer. Alasan utama adalah bahwa pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam tingkat makro
ataupun mikro (Khopkar, 2008, hal: 90).
Alimin, dkk. Kimia Analitik. Makassar: Alauddin Press, 2007.

Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut diantara dua fase cair yang tidak saling
bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan bersih baik untuk
zat organik maupun zat anorganik. Cara ini juga dapat digunakan untuk analisis makro maupun
mikro. Selain untuk kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk pekerjaan-
pekerjaan preparatif dalam bidang kimia organik, biokimia dan anorganik di laboratorium
(Alimin, 2007, hal: 51)