Anda di halaman 1dari 21

1. A.

PENGERTIAN POLIMER
Polimer merupakan suatu makromolekul atau disebut juga molekul raksasa yang
tersusun atas beberapa monomer (molekul-molukul kecil yang sederhana). Molekul
kecil/monomer yang menyusun polimer dapat berupa senyawa berikatan rangkap maupun
senyawa yang memiliki gugus fungsional.

B. SIFAT-SIFAT POLIMER
Polimer merupakan makromolekul yang terdiri atas banyak kelas material alami dan
sintetik dengan sifat-sifat yang sangat beragam. Perbedaan kedua material tersebut terletak
pada mudah tidaknya sebuah polimer didegradasi atau dirombak oleh mikroba. Biasanya,
polimer bahan sintetik akan lebih sulit diuraikan oleh mikroorganisme dibanding polimer
bahan alami. Perbedaan sifat-sifat polimer tersebut dipengaruhi oleh struktur polimernya,
yang meliputi:
a. Panjang rantai polimer
Semakin panjang rantai polimer, maka kekuatan dan titik leleh senyawanya semakin tinggi.
b. Gaya antar molekul
Semakin besar gaya antar molekul pada rantai polimer maka polimer akan menjadi kuat
dan sukar meleleh.
c. Percabangan
Rantai polimer yang bercabang banyak memiliki daya tegang rendah dan mudah meleleh.
d. Ikatan silang antar rantai polimer
Semakin banyaknya ikatan silang maka polimer semakin kaku dan rapuh sehingga mudah
patah. Hal tersebut dikarenakan Ikatan silang antar rantai polimer menyebabkan terjadinya
jaringan yang kaku dan membentuk bahan yang keras.
e. Sifat kristalinitas rantai polimer
Semakin tinggi sifat kristalinitas, rantai polimer akan lebih kuat dan lebih tahan terhadap
bahaan-bahan kimia dan enzim. Biasanya yang memiliki sifat kristalinitas tinggi ialah
polimer dengan struktur teratur, sedangkan polimer berstruktur tidak teratur cenderung
memiliki kristanilitas rendah dan bersifat amorf (tidak keras).

Secara umum polimer memiliki beberapa sifat seperti berikut:


a. Sifat Termal
Polimer sebagai isolator memiliki sifat termal yang baik meskipun polimer bukanlah
konduktor. Jika ditinjau dari jenisnya, polimer yang dipanaskan ada yang menjadi lunak
namun ada pulak yang menjadi keras. Perubahan ini penting untuk bahan komponen
tertentu.
b. Sifat Kelenturan
Karena sifatnya lentur, polimer mudah diolah menjadi produk yang diinginkan. Namun,
polimer alam lebih untuk diolah sesuai keinginan dibandingkan polimer sintetis.
c. Sifat Ketahanan Terhadap Mikroorganisme
Sifat ketahanan terhadap mikroorganisme ini biasanya dimiliki oleh polimer sintetis.
Sedangkan polimer alam seperti sutra, wol, dan polimer alam lainnya tidak tahan terhadap
mikroorganisme.

d. Sifat Lainnya
Sifat lain yang dimiliki polimer di antaranya, yaitu:

Ringan, dalam artian rasio bobot/volume kecil;


Tahan korosi dan kerusakan terhadap lingkungan yang agresif;
Dimensinya stabil karena memiliki berat molekul besar; dan lainnya.

C. KLASIFIKASI DAN STRUKTUR POLIMER


Struktur polimer dibedakan berdasarkan penggolongannya. Pada prinsipnya,
penggolongan polimer terdiri atas:
a. Penggolongan Polimer Berdasarkan Asalnya
Berdasarkan asalnya, polimer dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1. Polimer alam, merupakan senyawa yang jumlahnya terbatas dan dihasilkan dari
proses metabolisme mahluk hidup. Sifat polimer ini ialah yang kurang stabil,
mudah menyerap air, tidak stabil karena pemanasan dan sukar dibentuk. Contohnya
dapat berupa protein, amilum, glikogen, selulosa, karet alam (poliisoprena), asam
nukleat.
2. Polimer sintetik, merupakan polimer yang tidak terdapat di alam, tetapi disintesis
dari monomer-monomernya. Polimer ini sengaja dibuat di untuk memenuhi
kebutuhan sekender dan tersier manusia. Contohnya berupa polietena,
polivinilklorida, polipropilena, tetrafloroetilena.

b. Penggolongan Polimer Berdasarkan Jenis Monomernya


Berdasarkan jenis monomernya, polimer dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

Homopolimer, merupakan polimer yang terdiri dari monomer-monomer sejenis


dengan struktur A A A A A . Contohnya dapt berupa
polietilena, polistirena, polipropilena, PVC, amilum, teflon, selulosa dan
poliisoprena.
Kopolimer, merupakan polimer yang terdiri dari dua atau lebih monomer yang tidak
sejenis dengan struktur A B A B A B . Polimer jenis ini sendiri terdiri
atas 4 jenis, yaitu:
1. Kopolimer bergantian, merupakan kopolimer yang memiliki beberapa
kesatuan ulang yang berbeda berselang-seling adanya dalam rantai polimer.
Strukturnya meliputi ...-A-B-A-B-A-...
2. Kopolimer balok, merupakan kopolimer yang memiliki suatu kesatuan
berulang berselang-seling dengan kesatuan berulang lainnya dalam rantai
polimer. Strukturnya berupa ...-A-A-AA-B-B-B-B-A-A-A-A-...
3. Kopolimer tidak beraturan, merupakan dengan jumlah satuan berulang yang
berbeda dan tersusunsecara acak dalam rantai polimer. Strukturnya berupa
...-A-B-A-A-B-B-A-A...
4. Kopolimer tempel/grafit, yaitu kopolimer yang memiliki satu macam
kesatuan berulang menempel pada polimer tulang punggung lurus yang
mengandung hanya satu maca kesatuan berulang dari satu jenis monomer.
Strukturnya yakni ...A-A-A-A-A-A...

c. Penggolongan Polimer berdasarkan sifat kekenyalannya


Berdasarkan sifat kekenyalannya, polimer dibedakan menjadi:

1. Polimer Termoplastik, yaitu polimer yang tidak tahan panas sehingga akan meliat
jika dipanaskan dan dapat dibentuk sesuai dengan keinginan.
2. Polimer Termoset, yaitu polimer tahan panas yang tidak akan meliat (melelleh) jika
dipanaskan. Berbeda dengan polimer termoplastik, polimer ini sangah mudah
dibentuk sesuai keinginan.
3. Elastomer, yaitu polimer yang elastis; bentuknya dapat diregangkan, namun dapat kembali
ke bentuk semula setelah gaya tariknya dihilangkan. Elastisitas ini disebabkan oleh struktur
elastomer yang terdiri dari rantai-rantai yang saling tumpang tindih dengan adanya ikatan
silang (cross-link) yang akan menarik kembali rantai-rantai tersebut kembali ke susunan
tumpang tindihnya. Contoh elastomer adalah karet alam (poliisoprena) dan karet sintetis
SBR.
d. Penggolongan Polimer berdasarkan bentuk susunan rantainya
Berdasarkan bentuk susunan rantainya, polimer dibedakan menjadi:

1. Polimer Linier, yaitu polimer yang tersusun satu sama lain melalui unit ulang yang
sama sehingga membentuk rantai polimer yang panjang. Polimer ini biasanya
bersifat padat pada temperatur normal dan dapat larut dalam beberapa pelarut.
Contohnya PVC, polietelena, nylon 66, dsb.
2. Polimer Bercabang, yaitu polimer yang terbentuk jika polimer linier membentuk
cabang.
3. Polimer Berikatan Silang (Cross-linking), yaitu polimer yang terbentuk
karena beberapa rantai polimer saling berikatan satu sama lain pada rantai
utamanya. Jika sambungan silang polimer terjadi dengan ikatan kimia antara
rantainya akan terbentuk sambung silang tiga dimensi yang sering disebut polimer
jaringan tiga dimensi (three-dimension network).

http://www.softilmu.com/2015/12/pengertian-sifat-klasifikasi-struktur-polimer.html

2. Plastik

Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari
kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk
meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alami yang termasuk plastik. Plastik
dapat dibentuk menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal dari fakta bahwa banyak dari
mereka "malleable", memiliki properti keplastikan. Plastik didesain dengan variasi yang sangat
banyak dalam properti yang dapat menoleransi panas, keras, "reliency" dan lain-lain. Digabungkan
dengan kemampuan adaptasinya, komposisi yang umum dan beratnya yang ringan memastikan
plastik digunakan hampir di seluruh bidang industri.
Plastik dapat juga menuju ke setiap barang yang memiliki karakter yang deformasi atau gagal
karena shear stress, lihat keplastikan (fisika) dan ductile.

Plastik dapat dikategorisasikan dengan banyak cara tapi paling umum dengan melihat tulang-
belakang polimernya (vinyl{chloride}, polyethylene, acrylic, silicone, urethane, dll.). Klasifikasi
lainnya juga umum.

Plastik adalah polimer; rantai panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk
banyak unit molekul berulang, atau "monomer". Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon
saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang belakang. (beberapa minat
komersial juga berdasar silikon). Tulang-belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang
menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler
berlainan "bergantung" dari tulang-belakang (biasanya "digantung" sebagai bagian dari monomer
sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini
oleh grup "pendant" telah membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan abad 21
dengan memperbaiki properti dari polimer tersebut.

Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet, "shellac")
sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami, "nitrocellulose")
dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene).

Sejarah

Plastik merupakan material yang baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20
yang berkembang secara luar biasa penggunaannya dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-
an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. Saat
ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60kg/orang/tahun, di
Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun.[1]
Jenis plastik

Plastik dapat digolongkan berdasarkan:

Sifat fisikanya
Termoplastik. Merupakan jenis plastik yang bisa didaur-ulang/dicetak lagi dengan proses
pemanasan ulang. Contoh: polietilen (PE), polistiren (PS), ABS, polikarbonat (PC)
Termoset. Merupakan jenis plastik yang tidak bisa didaur-ulang/dicetak lagi. Pemanasan
ulang akan menyebabkan kerusakan molekul-molekulnya. Contoh: resin epoksi, bakelit, resin
melamin, urea-formaldehida
Kinerja dan penggunaanya:
Plastik komoditas
sifat mekanik tidak terlalu bagus, tidak tahan panas
Contohnya: PE, PS, ABS, PMMA, SAN
Aplikasi: barang-barang elektronik, pembungkus makanan, botol minuman.
Plastik teknik
Tahan panas, temperatur operasi di atas 100 C, Sifat mekanik bagus.
Contohnya: PA, POM, PC, PBT.
Aplikasi: komponen otomotif dan elektronik
Plastik teknik khusus
Temperatur operasi di atas 150 C, Sifat mekanik sangat bagus (kekuatan tarik di atas 500
Kgf/cm).
Contohnya: PSF, PES, PAI, PAR
Aplikasi: komponen pesawat
Berdasarkan jumlah rantai karbonnya
1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)
5 ~ 11 Cair (bensin)
9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah
16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)
25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)
1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll).
Berdasarkan sumbernya
Polimer alami : kayu, kulit binatang, kapas, karet alam, rambut
Polimer sintetis:
Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester, polipropilen, polistiren
Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan: karet sintetis
Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane (bahan dasarnya dari selulosa tetapi
telah mengalami modifikasi secara radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya)

Proses manufaktur plastic.


Injection molding.
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas diinjeksikan
ke dalam cetakan.
Ekstrusi
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas secara
kontinyu ditekan melalui sebuah orifice sehingga menghasilkan penampang yang kontinyu.
Thermoforming
Lembaran plastik yang dipanaskan ditekan ke dalam suatu cetakan.
Blow molding
Biji plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas secara kontinyu
diekstrusi membentuk pipa (parison) kemudian ditiup di dalam cetakan.
Sifat polimer konduktif
Polimer semikonduktif dan konduktif adalah polimer terkonjugasi yang menunjukkan perubahan
ikatan tunggal dan ganda antara atom-atom karbon pada rantai utama polimer. Ikatan ganda
diperoleh dari karbon yang memiliki empat elektron valensi, namun pada molekul terkonjugasi
hanya memiliki tiga (kadang-kadang dua) atom lain. Elektron yang tersisa membentuk ikatan ,
elektron yang terdelokalisasi pada seluruh molekul. Suatu zat dapat bersifat polimer konduktif jika
mempunyai ikatan rangkap yang terkonjugasi. Contoh dari polimer terkonjugasi adalah plastik
tradisonal (polyethylen), sedangkan polimer konduktif antara lain : polyacetilen, polpyrol,
polytiopen, polyaniline dan lain lain. Indonesia merupakan salah satu penghasil biji plastik untuk
jenis Polypropylene atau PP dan High Density PolyEthylene atau HDPE.
Pembuatan Polyacetilen
Polimer konduktif dapat dibuat dari polyacetilen. Polyacetilen merupakan polimer
terkonjugasi sederhana yang mempunyai dua bentuk: yaitu bentuk cis dan trans polyacetilen.
Sedangkan pembuatan polyacetilen dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
1. cara pemanasan
2. cara dopping.
Polyacetilen bentuk trans dibuat dengan kondisi temperatur yang berbeda. Katalis Ti(O-n-
C4H9)4-(C2H5)3Al.
Temperatur yang menunjukan proses isomerisasi irreversibel dengan bentuk cis terjadi
pada temperatur yang lebih tinggi pada 145 oC menghasilkan bentuk trans. Bentuk cis secara
termodinamika kurang stabil dibandingkan dengan bentuk trans. Pada temperatur tinggi, dan
secara spontan isomer cis dapat berubah menjadi trans.
Konduktifitas polyacetilen dapat ditingkatkan dengan proses halogenasi. Struktur
polyacetilen dapat mengalami resonansi sehingga konduktifitasnya menjadi lebih besar. Adanya
resonansi pada poliasetilen menyebabkan material dapat menghantarkan arus listrik.
Bila klorin ditambahkan pada film, ternyata tidak menghasilkan spektrum garis, tetapi
reaksi adisi klorin menghasilkan spektrum polyacetilen yang jelas. Sekarang dikenal doping-
induced pita IR yang disusun dari 3 pita yaitu pada 1397, 1288 dan 888 cm-1, absorbsi kuat jelas
dibanding undoped polymer.
Industri
Sekarang ini utamanya ada enam komoditas polimer yang banyak digunakan, mereka
adalah polyethylene, polypropylene, polyvinyl chloride, polyethylene terephthalate, polystyrene,
dan polycarbonate. Mereka membentuk 98% dari seluruh polimer dan plastik yang ditemukan
dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing dari polimer tersebut memiliki sifat degradasi dan
ketahanan panas, cahaya, dan kimia.
Sekilas
Meskipun istilah polimer lebih populer menunjuk kepada plastik, tetapi polimer
sebenarnya terdiri dari banyak kelas material alami dan sintetik dengan sifat dan kegunaan yang
beragam. Bahan polimer alami seperti shellac dan amber telah digunakan selama beberapa abad.
Kertas diproduksi dari selulosa, sebuah polisakarida yang terjadi secara alami yang ditemukan
dalam tumbuhan. Biopolimer seperti protein dan asam nukleat memainkan peranan penting dalam
proses biologi.

Dalam kehidupan Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan yang namanya plastik
bahkan setiap hari kita pasti melihatnya dan mungkin menggunakannya untuk membawa sesuatu,
mungkin tidak banyak dari kita yang tau jenis-jenis plastik yang baik atau yang kurang baik untuk
kesehatan,.

Asal pengembangan plastik adalah dari penggunaan material alami (seperti: permen karet,
shellac) sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami,
nitrocellulose) dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride,
polyethylene)
Macam-Macam Jenis Plastik

a. PETE (Polyethylene Terephthalate)

PETE atau PET adalah salah satu plastik yang digunakan untuk wadah makanan. Plastik
PETE sering kita temukan di hampir semua botol air mineral dan beberapa pembungkus lainnya.
Plastik ini dirancang hanya untuk satu kali pemakaian saja. Jadi, jika digunakan berulang kali bisa
meningkatkan resiko ikut terkonsumsinya bahan plastik dan bakteri yang berkembang pada
bahan plastik tersebut. Hal ini disebabkan jenis plastik PETE ini sulit untuk dibersihkan dari
bakteri dan bahan plastik PETE dapat bersifat racun. Plastik ini sebaiknya didaur ulang dan tidak
digunakan kembali.
b. HDPE (High-Density Polyethylene)

Plastik HDPE adalah jenis plastik yang digunakan untuk membuat botol susu, botol
deterjen, botol shampo, botol pelembab, botol minyak, mainan, dan beberapa tas plastik. HDPE
ialah plastik yang paling sering didaur ulang dan dianggap plastik paling aman.Tekstur plastik
jenis ini sangat keras dan tidak mudah rusak karna sinar matahari.

c. PVC (Polyvinyl Chloride)

Plastik PVC mempunyai sifat lembut dan fleksibel. Plastik jenis ini sering dipakai untuk
membuat plastik pembungkus makanan, botol minyak sayur, dan mainan anak-anak seperti
pelampung renang. Selain itu juga digunakan untuk membuat pipa plastik, dan komponen kabel
komputer. PVC dikhawatirkan sebagai plastik beracun karena mengandung berbagai racun yang
dapat mencemari makanan. Plastik ini juga sukar didaur ulang.
d. LDPE (Low-Density Polyethylene)

LDPE sering kita temukan pada pembungkus baju, kantung pada layanan cuci kering,
pembungkus buah-buahan agar tetap segar, dan pada botol pelumas. LDPE memiliki tingkat racun
yang cukup rendah daripada plastik yang lain. LDPE tidak umum untuk didaur ulang, jika didaur
ulang plastik LDPE biasanya digunakan sebagai bahan pembuat ubin lantai.

e. PP (Polypropylene)
Plastik PP memilliki tekstur yang kuat, ringan, dan tahan terhadap panas. Plastik PP bisa
menjaga bahan yang ada di dalamnya dari kelembaban, minyak dan senyawa kimia lain. PP sering
dipakai untuk pembungkus pada produk sereal sehingga tetap kering dan segar. PP juga digunakan
untuk membuat ember, kotak margarin dan yogurt, sedotan, tali, isolasi, dan kaleng plastik cat.
Plastik jenis PP dianggap aman jika digunakan kembali dan dapat didaur ulang.

f. PS (Polystyrene)

Polystyrene atau styrofoam yaitu plastik yang murah, ringan, dan mudah dibentuk. Plastik
ini sering dipakai di berbagai kebutuhan. Biasanya plastik PS digunakan sebagai botol minuman
ringan, karton telor, kotak makanan, dan pembungkus bahan yang akan dikirim dalam jarak jauh.
Plastik PS ini mudah rusak dan rapuh, sehingga mudah terpotong-potong menjadi kecil dan mudah
mencemari lingkungan. Sebaiknya tidak membungkus makanan dengan plastik jenis ini.
g. Bahan Plastik Lain (BPA, Polycarbonate, dan LEXAN)

Kategori plastik BPA Polycarbonate, dan LEXAN sering digunakan untuk membuat
aksesoris kendaraan, namun ada juga pabrik yang menggunakan plastik ini sebagai bahan baku
botol minuman bayi dan pembungkus makanan. Penggunaan plastik ini sebagai botol minuman
dan pembungkus makanan sangat tidak dianjurkan, karena salah satu zat penyusun plastik ini
misalnya BPA (Bisphenol A) merupakan senyawa yang dapat mengganggu kerja hormon-hormon
tubuh.

3. A. Polimer termoplastik
Polimer termoplastik adalah polimer yang mempunyai sifat tidak tahan terhadap panas. Jika
polimer jenis ini dipanaskan, maka akan menjadi lunak dan didinginkan akan mengeras. Proses
tersebut dapat terjadi berulang kali, sehingga dapat dibentuk ulang dalam berbagai bentuk
melalui cetakan yang berbeda untuk mendapatkan produk polimer yang baru.

Polimer yang termasuk polimer termoplastik adalah jenis polimer plastik. Jenis plastik ini tidak
memiliki ikatan silang antar rantai polimernya, melainkan dengan struktur molekul linear atau
bercabang. Bentuk struktur termoplastik sebagai berikut.
Bentuk struktur bercabang termoplastik.

Polimer termoplastik memiliki sifat sifat khusus sebagai berikut.

- Berat molekul kecil

- Tidak tahan terhadap panas.

- Jika dipanaskan akan melunak.

- Jika didinginkan akan mengeras.

- Mudah untuk diregangkan.

- Fleksibel.

- Titik leleh rendah.

- Dapat dibentuk ulang (daur ulang).

- Mudah larut dalam pelarut yang sesuai.

- Memiliki struktur molekul linear/bercabang.


Contoh plastik termoplastik sebagai berikut.

Polietilena (PE) = Botol plastik, mainan, bahan cetakan, ember, drum, pipa saluran, isolasi
kawat dan kabel, kantong plastik dan jas hujan.
Polivinilklorida (PVC) = pipa air, pipa plastik, pipa kabel listrik, kulit sintetis, ubin
plastik, piringan hitam, bungkus makanan, sol sepatu, sarung tangan dan botol detergen.
Polipropena (PP) = karung, tali, botol minuman, serat, bak air, insulator, kursi plastik,
alat-alat rumah sakit, komponen mesin cuci, pembungkus tekstil, dan permadani.
Polistirena = Insulator, sol sepatu, penggaris, gantungan baju.

Perilaku Thermoplastik Saat Dideformasi


Perilaku mekanika polimer thermoplastik sebagai respon terhadap pembebanan secara
umum dapat dijelaskan dengan mempelajari hubungan antara struktur rantai molekulnya dan
fenomena yang teramati.
Perilaku thermoplastik secara umum adalah elastik non-linear yang tergantung pada waktu
(time-dependent). Hal ini dapat dijelaskan dari 2 mekanisme yang terjadi pada daerah elastis, yaitu:
(1) distorsi keseluruhan bagian yang mengalami deformasi, dan (2) regangan dan distorsi ikatan-
ikatan kovalennya. Perilaku elastik non-inear atau non-proporsional pada daerah elastis terutama
berhubungan dengan mekanisme distorsi dari keseluruhan rantai molekulnya yang linear atau
linear dengan cabang.

Perilaku plastis pada polimer thermoplastik pada umumnya dapat dijelaskan dengan
mekanisme gelinciran rantai (chain sliding). Ikatan sekunder sangat berperan dalam mekanisme
ini sebagaimana diilustrasikan dalam gambar. Mula-mula akan terjadi pelurusan rantai liner
molekul polimer yang keadaannya dapat diilustrasikan seperti mie dengan ikatan sekunder dan
saling kunci mekanik. Selanjutnya akan terjadi gelinciran antar rantai molekul yang telah lurus
pada arah garis gaya. Ikatan sekunder dalam hal ini akan berperan sebagai semacam tahanan
dalam proses gelincir atau deformasi geser (shear) antar rantai molekul yang sejajar searah dengan
arah garis gaya. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa ikatan sekunder sangat menentukan
ketahanan polimer thermoplastik terhadap deformasi plastik atau yang selama ini kita kenal
dengan kekuatan (strength) dari polimer.
Gelinciran rantai molekul polimer thermoplastik dapat pula dilihat sebagai aliran viskos
dari suatu fluida. Kemudahan molekul polimer untuk dideformasi secara permanen dalam hal ini
berbanding lurus dengan viskositas dari polimer. Dari persamaan umum dapat dilihat bahwa
tegangan geser akan menyebabkan gradien kecepatan antar rantai molekul yang dapat
menyebabkan deformasi permanen tergantung pada viskositasnya.
Perilaku penciutan (necking) dari polimer thermoplastik amorphous agak sedikit berbeda
dengan perilaku penciutan logam pada umumnya. Hal ini disebabkan karena pada saat terjadi
penciutan akan terjadi kristalisasi yang menyebabkan penguatan lokal pada daerah tersebut dan
penurunan laju deformasi.
Visko-elastisitas berhubungan dengan perilaku polimer thermoplastik saat dideformasi
yang terjadi dengan deformasi elastis dan aliran viskos ketika beban diaplikasikan pada bahan. Hal
ini berhubungan dengan ketergantungan perilaku bahan terhadap waktu pada saat deformasi elastis
dan plastis. Secara sederhana perilaku viskoelastis dapat disimulasikan dengan mengkombinasikan
persamaan Pegas Hooke dan Dashspot. Regangan, misalnya, dapat diasumsikan seri atau paralel,
menggunakan Elemen Maxwell dan Elemen Voight-Kelvin.

B. Polimer termoseting
Polimer termoseting adalah polimer yang mempunyai sifat tahan terhadap panas. Jika
polimer ini dipanaskan, maka tidak dapat meleleh. Sehingga tidak dapat dibentuk ulang kembali.
Susunan polimer ini bersifat permanen pada bentuk cetak pertama kali (pada saat pembuatan). Bila
polimer ini rusak/pecah, maka tidak dapat disambung atau diperbaiki lagi.

termoseting memiliki ikatan ikatan silang yang mudah dibentuk pada waktu dipanaskan.
Hal ini membuat polimer menjadi kaku dan keras. Semakin banyak ikatan silang pada polimer ini,
maka semakin kaku dan mudah patah. Bila polimer ini dipanaskan untuk kedua kalinya, maka
akan menyebabkan rusak atau lepasnya ikatan silang antar rantai polimer.
Bentuk struktur ikatan silang sebagai berikut.

Sifat polimer termoseting sebagai berikut.

Keras dan kaku (tidak fleksibel)


Jika dipanaskan akan mengeras.
Tidak dapat dibentuk ulang (sukar didaur ulang).
Tidak dapat larut dalam pelarut apapun.
Jika dipanaskan akan meleleh.
Tahan terhadap asam basa.
Mempunyai ikatan silang antarrantai molekul.

Contoh plastik termoseting :

Bakelit = asbak, fitting lampu listrik, steker listrik, peralatan fotografi, radio, perekat plywood.

Perilaku Thermoset Saat Dideformasi


Polimer Thermoset memiliki perilaku sebagaimana logam getas, gelas, atau keramik
sebagai akibat dari struktur rantai molekulnya yang kaku dengan ikatan kovalen membentuk
jejaring 3 dimensi. Pada saat polimerisasi jejaring terbentuk lengkap dan terbentuk kaitan silang
tiga dimensi secara permanen. Proses pembentukan tidak bersifat irreversible. Tidak seperti halnya
polimer thermoplastik, thermoset tidak memiliki Tg (temperatur transisi gelas yang jelas.
Kekuatan dan kekerasan dari thermoset pun tidak banyak dipengaruhi oleh kenaikan temperatur
dan laju deformasi.
C. Polimer Elastomer
Polimer elastomer, misalnya karet alam, adalah salah satu jenis polimer yang memiliki
daerah elastis nonlinear yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya sambungan-sambungan
antar rantai (cross links) yang berfungsi sebagai pengingat bentuk (shape memory) sehingga
karet dapat kembali ke bentuknya semula, pada saat beban eksternal dihilangkan.
Bentuk struktur elastomer :

Perilaku Elastomer Saat Dideformasi


elastomer adalah salah satu jenis polimer yang memiliki perilaku khas yaitu memiliki
daerah elastis non-linear yag sangat besar. Perilaku tersebut ada kaitannya dengan struktur molekul
karet yang memiliki ikatan silang (cross link) antar rantai molekul. Ikatan silang ini berfungsi
sebagai pengingat bentuk (shape memory) sehingga karet dapat kembali ke bentuk dan dimensi
asalnya pada saat mengalami deformasi dalam jumlah yang sangat besar (hingga 800%).
Perilaku karet yang terlihat hampir seluruhnya elastis dengan modulus elastisitas yang
bervariasi dengan bertambahnya regangan. Mekanisme dasar yang terjadi pada proses deformasi
elastis karet adalah (1) pelurusan dari gulungan rantai molekul, serta (2) peregangan dari ikatan-
ikatan kovalennya. Sebagian memperlihatkan fenomena histerisis yang menunjukkan perbedaan
lintasan regangan pada saat beban diberikan dan dilepaskan. Kaitan silang sangat berperan di
dalam menentukan perilaku elastik dari karet atau elastomer. Kaitan silang berfungsi sebagai
pengingat bentuk (shape memory) yang memungkinkan terjadinya deformasi elastis dalam jumlah
sangat besar, tanpa adanya kaitan silang deformasi plastis akan mudah terjadi.
Adanya kaitan silang juga akan berpengaruh terhadap perilaku elastis dari karet atau
elastomer sebagaimana diilustrasikan dalam gambar berikut. Karet alam yang telah divulkanisasi
misalnya, akan memiliki jumlah kaitan silang lebih banyak sehingga modulus elastisitas atau
kekakuannya lebih besar daripada karet alam yang belum divulkanisasi.
Seperti halnya thermoplastik perilaku elastomer berbeda pula dengan kenaikan temperatur.
Transisi sifat mekanik terjadi terutama pada temperatur transisi gelas, Tg di mana ikatan sekunder
mulai melebur.