Anda di halaman 1dari 2

Aku adalah seorang pemuda yang berasal dari kampung Gandaria, kab. Cianjur.

Pemuda yang
dimimpikan oleh ibu-bapaknya sebagai penerus sekaligus pewujud mimpi dan keinginannya, yaitu,
seseorang yang mampu menaikkan derajat keluarga. Pemuda yang digadang-gadang menjadi sosok yang
bisa mengguncangkan dunia sesuai dengan asumsi Bung Karno. Tapi jangan terlalu yakin, sebab
kehidupan kadang mampu mengubah angan malah menjadi angin, meski telah dipadatkan dengan
beribu amin.

Aku pernah merasakan bagaimana bahagianya ketika angan-angan terwujud. Aku bisa berkuliah atau
lebih tepatnya seorang anak kampung bisa berkuliah di Universitas Negeri. Anak kampung bisa
merantau ke kota. Pada saat itu, aku bisa melihat kebahagiaan bukan hanya terpancar dari wajahku, tapi
dari wajah ibu-bapakku juga. Mereka percaya bahwa aku nantinya akan menjadi pemuda yang berguna.
Tapi, entahlah, berguna yang dimaksudkan mereka, berguna bagi Indonesia atau berguna bagi keluarga?
Ketika banyak pemuda kampungku hanya sampai tamatan SMA bahkan SMP, dan mereka sulit
mendapat kerja yang layak.

Paradigma yang mengungkapkan bahwa lulusan kuliah bisa mendapat kerja yang layak, akhirnya muncul
di pikiranku dan keluarga. Kita percaya ketika lulus, aku akan mudah mendapat kerja dan dapat gaji yang
tinggi. Alhasil, ketika aku lulus ternyata segalanya menjadi lain. Kuliah sedikit pun tak menentukan
kesuksesan seseorang. Cari kerja tetap susah, apalagi dengan keyakinan mendapat gaji tinggi. Selain itu
dengan gelar sarjana begini, aku tak mau kerja di tempat yang gajinya rendah. Mindset-ku telah
didoktrin secara tidak langsung bahwa pekerjaanku gajinya harus lebih dari gaji teman-temanku yang di
kampung, yang hanya lulusan SMA. Orangtuaku juga memiliki harapan yang sama denganku, apalagi
mereka selalu menyuruh agar aku cepat kerja, agar orang-orang di kampung tidak meremehkan atau
menganggap bahwa kuliah 4 tahun sama saja dengan yang tak kuliah.

Aku pernah menjadi guru di beberapa sekolah, tapi selalu kecewa karena gajinya tidak sesuai dengan
harapan, bahkan jauh dari kata layak. Selain itu, orangtua kerap kali membandingkan aku dengan yang
lain, yang tidak berkuliah. Mereka selalu bilang, Cari kerja tuh yang gajinya tinggi, karena kamu
sarjana. Saat itu, aku yakin bahwa orangtua memang kadang tak mau peduli pada kenyataan
sebenarnya, mereka selalu yakin apa yang dipikirkannya itu paling benar.

Alhasil setelah lulus, sebisa mungkin aku tidak minta uang lagi pada orangtua. Selain karena malu,
orangtua pun pasti ganjil dengan hal itu. Aku pun tak mau bekerja di kampung, sebab kesejahteraan sulit
didaptkan. Di kota saja sulit, apalagi di kampung. Aku selalu berusaha bertahan dengan uang hasil
mengajar yang tak seberapa. Namun, aku tak pernah bilang bahwa gajiku kecil kepada ibu-bapakku,
yang aku bilang, gajinya lumayan.

Aku resign dari mengajar karena tak sanggup dengan gaji kecil tapi pekerjaannya melelahkan. Aku pun
mencoba melamar di Bank, perusahaan dan lembaga, tapi hasilnya nihil. Bacground kuliahku yang
pendidikan tidak sesuai dengan hal tersebut. Lamaranku mungkin hanya cocok untuk menjadi guru atau
kerja di dunia pendidikan. Aku tak pernah bilang bahwa aku menganggur, aku selalu bilang aku bekerja
di suatu sekolah besar.
Lama tak kerja, aku pun akhirnya mendaftar ojek online, sebab kerja di sana tak memerlukan latar
belakang pendidikan. Yang penting, punya motor. Beberapa temanku bilang bahwa mereka bisa
mendapatkan 300 ribu sehari dengan mengojek. Aku pun membayangkan jika itu terjadi padaku, sehari
300x30 hari hasilnya lumayan juga. Meskipun aku berbohong bekerja di sekolah besar tapi dengan gaji
segitu mereka akan percaya. Aku tak mau bilang ke orangtua bahwa aku kerja sebagai ojek online sebab
aku yakin, mereka akan bilang bahwa pekerjaan ojek online bukan pekerjaan seorang sarjana, bukan
pekerjaan terhormat atau dengan kata lain bukan perkerjaan yang bisa menaikkan derajat keluarga.
Selain itu, tetangga-tetangga pun akan meremehkanku.

Hingga sekarang aku masih mengojek di jalan, dan harapan-harapan yang diinginkan keluarga masih
macet di angan-angan.