Anda di halaman 1dari 14

PERENCANAAN TAPAK DAN LINGKUNGAN

BERKELANJUTAN

Disusun oleh:

Livia Amanda C (052 001600 034)

Muhammad Angky S (052 001600 044)

Novita Y Saragih (052 001600 048)

Reiza Haudina (052 001600 056)

Ryan Juan Harefa (052 001600 058)

JURUSAN ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS TRISAKTI

2017
PELAYANAN DAN KEWENANGAN PENERBITAN IMB.
o Penerimaan berkas Permohonan IMB Rumah Tinggal, kecuali terletak di kompleks (Real Estat) adalah di Loket PTSP di
kantor Kecamatan setempat.
o Penerimaan berkas dan proses penerbitan IMB Bangunan Rumah Tinggal yang terletak di Kompleks / Real Estat dan
Bangunan Umum dengan ketinggian sampai dengan 8 lantai adalah di Loket PTSP di kantor Walikota Kota Administrasi
setempat.
o Penerimaan berkas dan proses penerbitan IMB Bangunan Umum dengan ketinggian 9 lantai atau lebih, adalah di loket
BPTSP Provinsi DKI Jakarta.

I. PERMOHONAN IMB RUMAH TINGGAL


1. TATACARA PENGAJUAN PERMOHONAN IMB (PIMB) RUMAH TINGGAL :
o Pengajuan Permohonan IMB (PIMB) Rumah Tinggal diajukan ke Loket PTSP di kantor Kecamatan setempat.
o Pengajuan PIMB, harus dilengkapi dengan kelengkapan persyaratan sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Gubernur
No.129 Tahun 2012, tentang Tatacara Pemberian Pelayanan Bidang Perizinan Bangunan.
o Setelah berkas diteliti administratip dan dinilai teknis serta diperiksa lapangan, maka petugas penilai akan menghitung
besarnya retribusi IMB.
o Penilai akan membuat Surat Ketetapan Retribusi (SKRD) IMB untuk Pemohon.
o Pemohon IMB harus segera membayar Retribusi IMB ke Kas Daerah/ Bank DKI di Kecamatan, dan akan menerima bukti
pembayaran berupa SKRD yang telah di print Tanda Lunas.
o Dengan menyerahkan Bukti Pembayaran SKRD tersebut keloket PTSP, maka berkas Permohonan IMB diproses untuk
penerbitan IMB oleh PTSP Kecamatan.
o IMB Rumah Tinggal yang telah diterbitkan dapat diambil oleh Pemohon/ Kuasa di Loket PTSP Kecamatan.

2. KELENGKAPAN PERSYARATAN PERMOHONAN IMB (PIMB) RUMAH TINGGAL :


o Mengisi Formulir PIMB dan menandatangani (+cap perusahaan, bila pemohon a/n perusahaan/ pengembang), 1 set,
o Fotocopy Akte Perusahaan (bila pemohon a/n perusahaan), 1 set,
o Fotocopy KTP Pemilik tanah/ Pemohon, 1 lbr,
o Fotocopy NPWP Pemohon, 1 lbr.
o Fotocopy surat kepemilikan tanah, berupa sertifikat tanah dari BPN yang dilegalisir Notaris atau Kartu Kapling dari
Pemerintah Daerah/ Pusat (yang dilegalisir Pemerintah Kotamadya/ Instansi Pusat penerbit Kartu Kapling),
o Fotocopy Surat Tagihan dan Bukti Pembayaran PBB tahun berjalan, 1 set,
o Ketetapan Rencana Kota (KRK) dari PTSP, 5 lbr,
o Rencana Tata Letak Bangunan (RTLB), apabila pada lokasi dimaksud karena peruntukannya, disyaratkan RTLB, dari PTSP, 5
lbr,
o Fotocopy SIPPT dari Gub. bila luas tanah 5.000 M2 atau lebih (spt : untuk Real Estat, dsb.), 1 set,
o Gambar Rencana Arsitektur (khusus pada zonasi R.5 / Rumah Besar atau R.9 / Rumah KDB Rendah atau di lokasi yang
termasuk gol.Pemugaran, gambar hrs di tandatangani Perencana pemilik IPTB), 5 set,
o Rekomendasi TPAK untuk perencanaan arsitektur bangunan, bila lokasi bangunan termasuk golongan pemugaran A/ B atau
C (Menteng atau Kebayoran Baru), 1 set,
o Perhitungan dan Gambar Rencana Konstruksi yang ditandatangani perencana konstruksi pemilik IPTB (untuk bangunan
bertingkat dengan bentang lebih dari 5 meter), 4 set.

3 BIAYA RETRIBUSI IMB.


o Retribusi IMB Rumah Tinggal, dihitung berdasarkan Rumus Luas Bangunan x Indeks x Harga Satuan
Retribusi, sebagaimana diatur dalam Perda No.3 Tahun 2012,
o Pembayaran Retribusi Rmah Tinggal dapat dilakukan setelah diterbitkan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) dari Seksi
Pelayanan IMB Kecamatan dan pembayaran dilakukan di Kas Daerah.
o Setelah diperoleh Bukti Pembayaran Retribusi dari Kas Daerah/ Bank DKI, maka lembar untuk P2B diserahkan ke Loket
PTSP.

4. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN IMB RUMAH TINGGAL.


o IMB Rumah Tinggal diterbitkan oleh Kepala Seksi Satlak PTSP Kecamatan setempat.
o Penyelesaian IMB Rumah Tinggal, ditetapkan sesuai ketentuan dalam Peraturan Gubernur No. 129 Tahun 2012, adalah 20
hari kerja.
o IMB yang telah diterbitkan akan diberitahukan melalui SMS atau Telpon kepada pemohon/ Kuasa, dan dapat diambil
(dengan membawa bukti pembayaran retribusi IMB dan dengan surat kuasa apabila yang mengambil bukan pemohon) ke
Loket PTSP Kecamatan.

5. PELAKSANAAN BANGUNAN.
o Pelaksanaan Bangunan dapat dimulai setelah IMB diterbitkan.
o Copy IMB (lebih bagus dilaminating) / Papan Kuning IMB harus dipasang dilokasi pembangunan, di tempat yang mudah
dilihat dari jalan.
o Pelaksanaan bangunan harus sesuai dengan IMB yang telah diterbitkan.
o Bila terdapat rencana perubahan atau penambahan, maka sebelum dilaksanakan terlebih dahulu harus diajukan IMB
perubahan/ penambahan.
o Dan selama pelaksanaan IMB ( copynya) harus berada di lokasi bangunan, untuk pedoman dalam pembangunan dan
pemeriksaan dari petugas pengawasan Seksi Penataan Kota Kecamatan.

II. TATACARA PERMOHONAN IMB BANGUNAN


UMUM (NON RUMAH TINGGAL) s/d 8 Lantai dan
BANGUNAN RUMAH TINGGAL Pemugaran Gol.A
dan B, atau Komplek Perumahan.
1. TATACARA PERMOHONAN IMB (PIMB) BANGUNAN BUKAN RUMAH TINGGAL s/d 8 Lantai dan
BANGUNAN RUMAH TINGGAL Pemugaran Gol A dan B atau Komplek Perumahan :
o Pengajuan Permohonan IMB (PIMB) Rumah Tinggal diajukan ke Loket PTSP di kantor Walikota Kota Administrasi setempat.
o Pengajuan IMB, harus dilengkapi dengan kelengkapan persyaratan sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Gubernur
No.129 Tahun 2012, tentang Tatacara Pemberian Pelayanan di Bidang Perizinan Bangunan.
o Setelah berkas diteliti administratip dan dinilai teknis serta diperiksa lapangan, maka petugas penilai akan menghitung
besarnya retribusi IMB.
o Penilai akan membuat Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) IMB untuk Pemohon.
o Pemohon IMB harus segera membayar Retribusi IMB ke Kas Daerah/ Bank DKI di kantor Walikota Kota Administrasi dan
akan menerima bukti pembayaran berupa SLRD yang telah di print Lunas.
o Dengan menyerahkan Bukti Pembayaran tersebut keloket PTSP, maka berkas Permohonan IMB diproses untuk diterbitkan
IMB oleh PTSP Kota Administrasi.
o IMB Rumah Tinggal Pemugaran dan Bangunan Umum yang telah diterbitkan dapat diambil oleh Pemohon di Loket PTSP
Kota Administrasi setempat.
2. KELENGKAPAN PERSYARATAN PERMOHONAN IMB.

a. Mengisi Formulir IMB dan menandatangani (+cap perusahaan/instansi, bila pemohon adalah Badan Hukum),

b. Fotcopy Akte Pendirian Perusahaan (bila pemohon adalah perusahaan),

c. Fotocopy KTP Pemohon,

d. Fotocopy NPWP Pemohon,

e. Fotocopy Sertifikat Tanah, yang dilegalisir Notaris

f. Fotocopy SPT dan Bukti pembayaran PBB tahun berjalan.

g. Ketetapan Rencana Kota (KRK) dan RTLB dari PTSP Kota Adm.,

h. Fotocopy SIPPT dari Gubernur Provinsi DKI Jakarta, apabila luas tanah daerah perencanaan 5.000 M2 atau lebih,

i. Gambar Rencana Arsitektur yang ditanda tangani Perencana/ Arsitek pemegang IPTB,

j. Hasil Penyelidikan Tanah yang dibuat oleh Konsultan,

k. Perhitungan dan Gambar Rencana Struktur yang ditanda tangani oleh Perencana Struktur pemegang IPTB,

l. Persetujuan Hasil Sidang TPKB, apabila bangunan terdapat basement lebih dari 1 lantai, atau bangunan dengan
struktur khusus.

m. Gambar Rencana Instalasi dan Perlengkapan Bangunan, yang ditanda tangani oleh Perencana Instalasi dan
Perlengkapan Bangunan pemegang IPTB, yang meliputi bidang-bidang :

- Instalasi Listrik Arus Kuat,


- Instalasi Listrik Arus Lemah,
- Instalasi Tata Udara dalam Gedung,
- Instalasi Pemipaan (plumbing),
- Instalasi Transportasi dalam Gedung (Elevator/ Lift),
- Design Report.
p. Persetujuan Hasil Sidang TPIB, apabila luas bangunan 800 M2 atau lebih atau bangunan tertentu yang memerlukan
penilaian instalasi khusus.

q. Rekomendasi UKL/UPL dari BPLHD apabila luas bangunan 2.000 sampai dengan 10.000 M2, atau Rekomendasi
AMDAL apabila luas bangunan lebih dari 10.000 M2.

r. Surat Penunjukan Pemborong dan Direksi Pengawas Pelaksanaan Bangunan dari Pemilik Bangunan.

s. Surat Kuasa Pengurusan dari Pemilik/ Pemohon kepada yang mengurus (bila pengurusan oleh bukan
pemilik/pemohon).

3 BIAYA RETRIBUSI IMB.


o Retribusi IMB dihitung berdasarkan Luas Bangunan x Indek Bangunan x Harga Satuan Retribusi sebagaimana diatur
dalam Perda No.3 Tahun 2012,
o Pembayaran Retribusi IMB dapat dilakukan setelah diterbitkan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) dari PTSP Kota
Admionistrasi dan pembayaran dilakukan di Kas Daerah/ Bank DKI.
o Setelah diperoleh Bukti Pembayaran Retribusi dari Kas Daerah/ Bank DKI, maka lembar untuk PTSP diserahkan ke Loket
PTSP

4. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN IMB.


o IMB bangunan Umum s/d 8 Lantai dan Rumah Tinggal Pemugaran, diterbitkan oleh PTSP Kota Administrasi setempat.
o Penyelesaian IMB Bukan Rumah Tinggal s/d 8 Lantai, sesuai ketentuan dalam SK Gubernur No. 85 Tahun 2006, adalah 25
hari kerja, terhitung sejak persetujuan dokumen teknis.
o IMB yang telah diterbitkan akan diberitahukan melalui SMS atau Telpon kepada pemohon/ Kuasa, dan dapat diambil
(dengan membawa bukti pembayaran retribusi IMB dan dengan surat kuasa apabila yang mengambil bukan pemohon) ke
Loket PTSP Kota Administrasi setempat.

5. PELAKSANAAN BANGUNAN.
o Pelaksanaan Bangunan dapat dimulai setelah IMB diterbitkan.
o Papan IMB harus dipasang dilokasi pembangunan, di tempat yang mudah dilihat dari jalan.
o Pelaksanaan bangunan harus sesuai dengan IMB yang telah diterbitkan.
o Bila terdapat rencana perubahan atau penambahan, maka sebelum dilaksanakan terlebih dahulu harus diajukan PIMB
perubahan/ penambahan.
o Dan selama pelaksanaan IMB ( copynya) harus berada di lokasi bangunan, untuk pedoman dalam pembangunan dan
pemeriksaan dari petugas pengawasan Suku Dinas Penataan Kota.

III. TATACARA PERMOHONAN IMB BANGUNAN


UMUM (NON RUMAH TINGGAL) 9 Lantai atau lebih.
1. TATACARA PENGAJUAN PERMOHONAN IMB (PIMB)

Pengajuan Permohonan IMB diajukan ke Loket Badan PTSP (BPTSP) Propinsi DKI Jakarta.
Pengajuan IMB, harus dilengkapi dengan kelengkapan persyaratan sebagaimana telah diatur dalam Peraturan
Gubernur No.129 Tahun 2012, tentang Tatacara Pemberian Pelayanan di Bidang Perizinan Bangunan..
Setelah berkas diteliti administratip dan dinilai teknis lengkap, maka Gambar Rencana Arsitektur diajukan untuk
disidangkan terlebih dahulu di TPAK (Tim Penasehat Arsitektur Kota)
Setelah lulus sidang TPAK maka selanjutnya akan disidangkan Perncanaan Struktur ke TPKB dan Perencanaan
Instalasi dan M&E ke TPIB
untuk proses IP/ IMB akan diperiksa lapangan untuk mencek apakah bangunan sdh dilaksanakan atau belum,
Selanjutnya petugas penilai akan menghitung besarnya retribusi IMB.
Penilai akan membuat Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) IMB untuk Pemohon.
Pemohon IMB harus segera membayar Retribusi IMB ke Kas Daerah/ Bank DKI, dan pemohon akan menerima
bukti pembayaran berupa SKRD yang telah di print Lunas.
Dengan menyerahkan Bukti Pembayaran tersebut keloket BPTSP, maka berkas Permohonan IP/ IMB diproses
untuk diterbitkan IP/ IMB
Catatan :
Bila diperlukan untuk segera membangun, maka Setelah Perencanaan Struktur Bawaah lulus TPKB, maka dapat
diterbitkan IP Pondasi, dan
setelah Perencanaan Struktur Atas lulus TPKB maka dapat diterbitkan IP Struktur Menyeluruh.
Setelah Perncanaan Instalasi lulus TPIB, maka IMB dapat diterbitkan.
IMB yang telah diterbitkan akan diinformasikan melalui SMS atau Telpon kepada Pemohon/Kuasa, dan
IMB dapat diambil oleh Pemohon/ Kuasa di Loket BPTSP dan Pemohon dapat membeli atau membuat sendiri
Papan Kuning dengan diisi data-data bangunan dan IMB untuk dipasang di lokasi proyek.
2. KELENGKAPAN PERSYARATAN PERMOHONAN IMB.

a. Mengisi Formulir dan Surat Pernyataan untuk IMB dan menandatangani (+cap perusahaan/instansi, bila pemohon
adalah Badan Hukum),

b. Fotcopy Akte Pendirian Perusahaan dan Akte Perubahan terakhir serta Pengesahan Kemenkumham (bila pemohon
adalah perusahaan),

c. Fotocopy KTP Pemohon,

d. Fotocopy NPWP Pemohon/ Perusahaan,

e. Fotocopy Sertifikat Tanah, yang telah dilegalisir Notaris,

f. Fotocopy SPT dan Bukti pembayaran PBB tahun berjalan.

g. Ketetapan Rencana Kota (KRK) dan Rencana Tata Letak Bangunan (RTLB/ Blokplan) dari BPTSP,

i. Fotocopy SIPPT dari Gubernur Provinsi DKI Jakarta, apabila luas tanah daerah perencanaan 5.000 M2 atau lebih,

j. Gambar Rencana Arsitektur yang ditanda tangani Perencana/ Arsitek pemegang IPTB,

k. Rekomendasi hasil persetujuan TPAK, apabila luas bangunan 9 Lantai atau lebih,

l. Hasil Penyelidikan Tanah yang dibuat oleh Konsultan,

m. Perhitungan dan Gambar Rencana Struktur yang ditanda tangani oleh Perencana Struktur pemegang IPTB,

n. Persetujuan Hasil Sidang TPKB, apabila ketinggian bangunan 9 lantai atau lebih dan atau bangunan dengan basement
lebih dari 1 lantai, atau bangunan dengan struktur khusus.

o. Gambar Rencana Instalasi dan Perlengkapan Bangunan, yang ditanda tangani oleh Perencana Instalasi dan
Perlengkapan Bangunan pemegang IPTB, yang meliputi bidang-bidang :

- Instalasi Listrik Arus Kuat,


- Instalasi Listrik Arus Lemah,
- Instalasi Tata Udara dalam Gedung,
- Instalasi Pemipaan (plumbing),
- Instalasi Transportasi dalam Gedung (Elevator/ Lift),
- Design Report.

p. Rekomendasi UKL/UPL dari BPLHD apabila luas bangunan 2.000 sampai dengan 10.000 M2, atau Rekomendasi
AMDAL apabila luas bangunan lebih dari 10.000 M2.

q. Surat Penunjukan Pemborong dan Direksi Pengawas Pelaksanaan Bangunan dari Pemilik Bangunan.

r. Surat Kuasa Pengurusan dari Pemilik/ Pemohon kepada yang mengurus (bila pengurusan oleh bukan
pemilik/pemohon).

3 BIAYA RETRIBUSI IMB.


o Retribusi IMB, dihitung berdasarkan Luas Bangunan x Indek x Harga Satuan Retribusi (sebagaimana diatur dalam
Perda No.3 Tahun 2012),
o Pembayaran Retribusi IMB dapat dilakukan setelah diterbitkan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) dari BPTSP Provinsi
dan pembayaran dapat dilakukan di Kas Daerah/ Bank DKI.
o Setelah diperoleh Bukti Pembayaran Retribusi dari Kas Daerah/ Bank DKI, maka lembar untuk BPTSP diserahkan ke Loket
BPTSP

4. JANGKA WAKTU PENYELESAIAN IMB.


o IMB diterbitkan oleh Kepala BPTSP Propinsi DKI Jakarta.
o Penyelesaian IMB, sesuai ketentuan dalam SK Gubernur No. 129 Tahun 2012, adalah 25 hari kerja, terhitung sejak
persetujuan dokumen teknis.
o IMB yang telah diterbitkan akan diberitahukan melalui SMS atau Telpon kepada pemohon, dan dapat diambil (dengan
membawa bukti pembayaran retribusi IMB dan dengan surat kuasa apabila yang mengambil bukan pemohon) ke Loket
BPTSP.
5. PELAKSANAAN BANGUNAN.
o Pelaksanaan Bangunan dapat dimulai setelah IP/ IMB diterbitkan.
o Papan IMB harus dipasang dilokasi pembangunan, di tempat yang mudah dilihat dari jalan.
o Pelaksanaan bangunan harus sesuai dengan IP/ IMB yang telah diterbitkan.
o Bila terdapat rencana perubahan atau penambahan, maka sebelum dilaksanakan terlebih dahulu harus diajukan PIMB
perubahan/ penambahan.
o Dan selama pelaksanaan IMB ( copynya) harus berada di lokasi bangunan, untuk pedoman dalam pembangunan dan
pemeriksaan dari petugas pengawasan dari Dinas Penataan Kota.
No. Kriteria Regulasi / SNI / Isi Standar / Persyaratan
Kondisi Eksisting Masalah Solusi
Keandalan Regulasi lain Teknis
KESELAMATAN
1. SNI 03 1736 - TEMPAT PARKIR MOBIL Tempat
2000 , Tata cara TERBUKA parkir
perencanaan Parkir mobil yang semua berada
sistem protekasi bagian tingkat parkirnya diluar
pasif untuk mempunyai ventilasi yang dengan
pencegahan permanen dari bukaan, yang bukaan
bahaya tidak terhalang melalui lebar
kebakaran pada sekurang-kurangnya dari 2 sisi dibagian
Struktur
bangunan rumah berlawanan atau hampir depan.
bangunan
dan gedung berlawanan, dan :
a. tiap sisi mempunyai
ventilasi tidak kurang 1/6 luas
dari sisi yang lain, dan
b. bukaan tidak kurang dari
luas dinding dari sisi yang
dimaksud

2. KepMen PU No. UKURAN DAN PENEMPATAN APAR Seharusnya


10/KPTS/2000, APAR UNTUK BAHAYA sangat disediakannnya
Ketentuan Teknis KEBAKARAN KELAS C penting APAR di rumah
Pengamanan APAR untuk untuk
thdp Bahaya kelas C harus disyaratkan disediakan mengantisipasi
Kebakaran pada apabila ada peralatan listrik di rumah, jika terjadinya
Bangunan bermuatan. terutama kebakaran
Gedung dan Persyaratan ini berlaku untuk di dapur.
Lingkungan situasi apabila terjadi Namun,
Proteksi
kebakaran baik pada
kebakaran
langsung atau sekeliling rumah ini
peralatan listrik. Karena tidak
kebakarannya sendiri terdapat
adalah bahaya kebakaran APAR
kelas A atau kelas B, maka
APAR harus
ditentukan ukurannya dan
ditempatkan untuk
mengantisipasi bahaya
kebakaran kelas A atau B
3. SNI 03-7015- SAMBARAN PETIR LANGSUNG Seharusnya Pada kost ini,
2004, Sistem Sambaran petir yang diberikan tidak terdapat
proteksi petir menyambar langsung penangkal penangkal petir
pada bangunan bangunan atau sistem proteksi petir, yang sangat
petir (SPP)-nya untuk membahayakan
keselamata bangunan itu
n sendiri dan
bangunan penghuni
Penangkal
dan kostnya
Petir
penghuni
beserta
harta
benda,
untuk
menghinda
ri hal-hal
yang tidak
diinginkan
KESELAMATAN
4. SNI 04-0225- INSTALASI LISTRIK DI DALAM Pada Seharusnya stop
2000, KAMAR MANDI westafel di kontak
Persyaratan Persyaratan dalam pasal ini kost ini, diletakkan di
Umum Instalasi meliputi persyaratan untuk terdapat tempat yang
Listrik 2000 instalasi listrik yang dipasang stopkontak jauh dari
di dalam kamar mandi, yang dapat jangkauan
dimana dimungkinkan memicu percikan air
Instalasi terdapat bak rendam (bath arus listrik
Listrik tub), pancuran air untuk bila
mandi dan daerah di terkena air
sekelilingnya, dimana terdapat
bahaya terkena kejut listrik
yang lebih tinggi disebabkan
oleh turunnya resistan tubuh
manusia dan kontak tubuh
dengan potensial bumi
5. SNI 03-7015- SISTEM PEMBUMIAN Pada
2004, Sistem BERSAMA rumah ini
proteksi petir Semua instalasi logam tidak
pada bangunan bangunan gedung yang terdapat
disalinghubungkan, termasuk penangkal
sistem proteksi petir, maka
petir (SPP), dihubungkan dari itu
dengan sistem terminasi bumi untuk
Sistem
sistem
Pembumi
- pembumia -
an
n tidak ada
karena
penangkal
petir dan
sistem
pembumia
n saling
berhubung
an
No. Kriteria Regulasi / SNI / Isi Standar / Persyaratan
Kondisi Eksisting Masalah Solusi
Keandalan Regulasi lain Teknis
KESEHATAN
1. ventilasi ruangan Ventilasi alami yang Ventilasi
alami disediakan harus terdiri dari ruangan
bukaan permanen, jendela, alami
SNI 03-6572- pintu atau sarana lain yang sudah
2001 tentang dapat dibuka, dengan : a). mencuupi
Tata cara jumlah bukaan ventilasi tidak sebanyak
perancangan kurang dari 5% terhadap luas 5%
sistem ventilasi lantai ruangan yang
dan membutuhkan ventilasi; dan
pengkondisian b). arah yang menghadap ke :
udara pada 1). halaman berdinding
bangunan dengan ukuran yang sesuai,
gedung no 4.3.2 atau daerah yang terbuka
keatas. 2). teras terbuka,
pelataran parkir, atau sejenis;
atau 3). ruang yang
bersebelahan seperti
termaksud di butir 4.3.3.
2. Ventilasi ruangan Persyaratan Teknis. a) Sistem Tidak Harusnya ada
buatan ventilasi mekanis harus terdapat hexos didalam
diberikan jika ventilasi alami hexos di kamar yang
SNI 03-6572- yang memenuhi syarat tidak dalam tidak memiliki
2001 tentang memadai. b). Penempatan Fan kamar yang jendela atau
Tata cara harus memungkinkan tertutup ventilasi
perancangan pelepasan udara secara atau tidak
sistem ventilasi maksimal dan juga memilikive
dan memungkinkan masuknya ntilasi
pengkondisian udara segar atau sebaliknya.
udara pada c). Sistem ventilasi mekanis
bangunan bekerja terus menerus selama
gedung no 4.4.1 ruang tersebut dihuni. d).
Bangunan atau ruang parkir
tertutup harus dilengkapi
sistem ventilasi mekanis untuk
membuang udara kotor dari
dalam dan minimal 2/3
volume udara ruang harus
terdapat pada ketinggian
maksimal 0,6 meter dari
lantai.
No. Kriteria Regulasi / SNI / Isi Standar / Persyaratan
Kondisi Eksisting Masalah Solusi
Keandalan Regulasi lain Teknis
KESELAMATAN
1. Pencahayaan Pencahayaan alami siang hari tidak Harusnya ada
alami harus memenuhi ketentuan memiliki ventilasi cahaya
sebagai berikut pencahaya pada semua
SNI 03-6197- a) cahaya alami siang hari an alami kamar yang ada
2000 tentang harus dimanfaatkan sebaik- pada
Konservasi baiknya; beberapa
energi pada b) dalam pemanfaatan cahaya kamar di
sistem alami, masuknya radiasi kost ini,
pencahayaan no matahari langsung ke dalam sehingga
4.2 bangunan harus dibuat susah
seminimal mungkin. Cahaya membedak
langit harus diutamakan dari an waktu
pada pagi siang
cahaya matahari langsung; dan malam
c) pencahayaan alami siang jika lampu
hari dalam bangunan gedung dipadamka
harus memenuhi ketentuan n
SNI 03-2396-1991 tentang
"Tata cara perancangan
pencahayaan alami siang hari
untuk rumah dan gedung"

2. Pencahayaan Pencahayaan buatan Pencahaya


buatan Pencahayaan buatan harus n di koridor
memenuhi: kostan
SNI 03-6197- Tingkat pencahayaan minimal sudah baik
2000 tentang yang direkomendasikan tidak
Konservasi boleh kurang dari tingkat
energi pada pencahayaan pada tabel 1.
sistem
pencahayaan no
4.1.1

3. SNI 03-7065- 1. Ukuran pipa minim


2005 tentang pipa cabang
tata cara mendatar, harus
perencanaan mempunyai ukuran
sistem plambing minimal sama dengan
diameter terbesa.
2. Ukuran minimum pipa
tegak, ukuran minimal
sama dengan
diameter terbesar
cabang mendatar
3. Pengecualian hanya
pada kloset, dimana
pada lobang kluarnya
dengan diameter
100mm dipasang
pengecilan pipa
100x75 mm. Cabang
mendatar harus
mempunyai diameter
minimal 75mm
1. Struktur Peraturan i. Bahan bangunan gedung Bahan
bangunan Menteri yang digunakan harus aman bangunan
Pekerjaan Umum bagi kesehatan pengguna yang
nomor : bangunan gedung dan tidak digunanaka
SNI 03-1740- menimbulkan dampak negatif n sudah
1989 paduan terhadap lingkungan. memenuhi
pengujian bakar persyarata
bahan bangunan ii. Penggunaan bahan n.
untuk bangunan yang aman bagi
pencegahan kesehatan pengguna
bahaya bangunan gedung harus tidak
kebakaran pda mengandung bahanbahan
bangunan rumah berbahaya/ beracun bagi
dan gedung. kesehatan, aman bagi
pengguna bangunan gedung.
iii. Penggunaan bahan
bangunan yang tidak
berdampak negatif terhadap
lingkungan harus:
menghindari
timbulnya efek silau
dan pantulan bagi
pengguna bangunan
gedung lain,
masyarakat, dan
lingkungan sekitarnya;
menghindari
timbulnya efek
peningkatan
temperatur
lingkungan di
sekitarnya;
mempertimbangkan
prinsip-prinsip
konservasi energi; dan
Menggunakan bahan-
bahan bangunan yang
ramah lingkungan.
iv. Harus menggunakan bahan
bangunan yang menunjang
pelestarian lingkungan.
Dalam hal masih ada
persyaratan lainnya yang
belum tertampung, atau yang
belum mempunyai SNI,
digunakan standar baku
dan/atau pedoman teknis.
No. Kriteria Regulasi / SNI / Isi Standar / Persyaratan
Kondisi Eksisting Masalah Solusi
Keandalan Regulasi lain Teknis
KENYAMANAN
1. SNI 03-0675- Ukuran kayu untuk kusen tidak ada
1989 tentang pintu dan jendela harus sesuai masalah
spesifikasi dengan Spesifikasi Ukuran pada
ukuran kusen Kayu untuk Bangunan Rumah pergerakan
pintu kayu, dan Gedung Dasar. antar
jendela kayu, pintu : 60x100, 60x120, ruang,
Pergeraka daun pintu kayu, 60x130, 60x150, 80x100, dikarenaka
n Antar dan daun jendela 80x120, 80x150, 100x120, n akses
Ruang kayu. 100x150. antar
jendela : 60x130, 60x150, ruangnya
80x100, 80x120, 80x150, memiliki
100x120, 100x150. kusen dan
pintu yang
sudah
sesuai
dengan sni
2. SNI 03-6572- a). Perancangan sistem Mutu Harusnya ada
2001 Tentang ventilasi mekanis dilakukan udara dari ventilasi
tata cara sebagai berikut : kost ini disetiap kamar
perancangan 1). tentukan kebutuhan udara kurang baik seperti yang
sistem ventilasi ventilasi yang diperlukan pada terpasang pada
dan sesuai fungsi ruangan. beberapa beberapa kamar
pengkondisian 2). tentukan kapasitas fan. kamar yang ada
udara pada 3). rancang sistem distribusi karena ada
bangunan udara, baik menggunakan beberapa
gedung. cerobong udara (ducting) atau kamar yang
fan yang dipasang pada tidak
dinding/atap. memiliki
Mutu b). Jumlah laju aliran udara jendela
Udara yang perlu disediakan oleh atau
dalam sistem ventilasi mengikuti ventilasi
Gedung persyaratan pada tabel 4.4.2.
Rumah tinggal :
a. Ruang duduk.
(m3/min)/kamar 0,30
b. Ruang tidur.
(m3/min)/kamar 0,75 0,30
c. Dapur (m3/min)/kamar 0,75
3,00 d. Toilet.
(m3/min)/kamar 0,30 1,50
e. Garasi (Rumah)
(m3/min)/mobil - 3,00
f. Garasi bersama
(m3/min)/m2 1,50 0,45
No. Kriteria Regulasi / SNI / Isi Standar / Persyaratan
Kondisi Eksisting Masalah Solusi
Keandalan Regulasi lain Teknis
KESELAMATAN
1. SNI 03-6572- 4.1.2.10 pencahayaan untuk Tidak ada Pencahayaan
2001 Tentang lampu tanda arah bangunan masalah pada kostan ini
tata cara gedung; karena sudah sesuai
perancangan 4.1.3 Pengunaan energi yang pada dengan standar
sistem sehemat mungkin dengan bagian
pencahayaan mengurangi daya terpasang, tangga
dan melalui yang dekat
pengkondisian 4.1.3.1 pemilihan lampu dapur ada
udara pada yang mempunyai efikasi jendela
bangunan lebih tinggi dan menghindari yang
gedung. pemakaian memberika
lampu dengan efikasi n
rendah. Dianjurkan pencahaya
Kenyaman
menggunakan lampu an alami
an Visual
fluoresen dan lampu sehingga
pelepasan gas lainnya. lebih enak
4.1.3.2 pemilihan armatur dpandang
yang mempunyai
karakteristik distribusi
pencahayaan sesuai
dengan penggunaannya,
mempunyai efisiensi yang
tinggi dan tidak
mengakibatkan silau
atau refleksi yang
mengganggu.
4.1.3.3 pemanfaatan cahaya
alami siang hari
2. Peraturan Getaran Bangunan Bangunan di
menteri (1) Persyaratan ini berada mundurkan
pekerjaan umum menyangkut paparan manusia tepat di beberapa meter
29/PRT/M/2006. terhadap getaran dan kejut samping kebelakang yang
tentang dari seluruh badan pada jalanan dimana bagian
Kebisinga pedoman bangunan gedung berkenaan utama depannya bias
n& persyaratan dengan kenyamanan dan (main di fungsikan
Getaran teknis bangunan gangguan terhadap road) yang sebagai parker
gedung. penghuninya. menyebab motor
(2) Respon dasar manusia kan tingkat
terhadap getaran dalam kebisingan
bangunan gedung adalah nya tinggi
keluhan.
No. Kriteria Regulasi / SNI / Isi Standar / Persyaratan
Kondisi Eksisting Masalah Solusi
Keandalan Regulasi lain Teknis
KESELAMATAN
1. SNI 03 1746 5.2.2.1. Tangga-tangga
2000 Tangga standar. Tangga harus
yang digunakan memenuhi sebagai berikut :
sebagai suatu a. Tangga baru Lebar
komponen jalan bersih dari segala
ke luar, harus rintangan, kecuali
sesuai dengan tonjolan pada atau
persyaratan dibawah tinggi
umum pada pegangan tangan
bagian/pasal 4 pada tiap sisinya tidak
dan persyaratan lebih dari 9 cm ( 3 ).
khusus dari sub 110 cm ( 44 inci), 90
bagiannya. cm ( 36 inci ), apabila
total beban hunian
dari semua lantai-
lantai yang dilayani
oleh jalur tangga
kurang dari 50.
b. Maksimum ketinggian
anak tangga 18 cm ( 7
inci ) Minimum
ketinggian anak
Akses
tangga. 10 cm ( 4 inci
Evakuasi
).
c. Minimum kedalaman
anak tangga. 28 cm (
11 inci ). Tinggi
ruangan minimum.
200 cm ( 6 ft, 8 inci ).
Ketinggian maksimum
antar bordes tangga.
3,7 m ( 12 ft )
Rel pegangan tangan. Tangga
dan ram harus mempunyai rel
pegangan tangan pada kedua
sisinya. Di dalam
penambahan, rel pegangan
tangan harus disediakan di
dalam jarak 75 cm ( 30 inci )
dari semua bagian lebar jalan
ke luar yang dipersyaratkan
oleh tangga. Lebar jalan ke
luar yang dipersyaratkan
harus sepanjang jalur dasar
dari lintasan

2. SNI 03 1746 Sebuah pintu yang dirancang tidak ada


2000 Peralatan dalam keadaan normal selalu masalah,
yang menutup tertutup pada suatu sarana karena
Akses
sendiri. jalan ke luar dari pintu yang pintu
Pemanfaa
menutup sendiri dan harus sudah
tan
tidak diperkenankan dalam memenuhi
posisi terbuka setiap saat. standar