Anda di halaman 1dari 15

LABORATORIUM PENGENDALIAN KOROSI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2017/2018

Modul : Indikator Korosi


Pembimbing : Ir. Gatot Subianto, MT

Praktikum : 18 September 2017


Laporan : 25 September 2017

Oleh :
Kelompok : IV
Nama : Ilham Januari (151411045)
Latifa Dawa P (151411046)
Lora Trismigo (151411047)
Miranti Agustina (1511411048)
Kelas : 3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penggunaan indikator dilakukan untuk menerangkan daerah-daerah logam yang
mana yang bersifat anodik dan mana yang bersifat katodik, serta untuk melihat suatu
keberhasilan untuk dikurangi laju korosinya dengan proteksi katodik. Elektrolit agar agar
digunakan supaya laju perpindahan produk reaksi yang terbentuk pada permukaan logam
dapat dihambat.. Percobaan ini dilakukan untu menambah penjelasan tentang mekanisme
korosi galvanikdan mekanisme terbentuknya sel elektrokimia logam homogen.

1.2 Tujuan Percobaan


1. Mengidentifikasi korosi logam berdasarkan indikator dengan menunjukkan
daerah yang bersifat anodik dan katodik pada logam yang homogen.
2. Menuliskan reaksi anodik dan katodiknya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Korosi pada Berbagai Logam


Korosi adalah suatu proses elektrokimia dimana atom-atom akan bereaksi dengan zat asam
dan membentuk ion-ion positif (kation). Hal ini akan menyebabkan timbulnya aliran-aliran
elektron dari suatu tempat ke tempat yang lain pada permukaan metal. Korosi dapat terjadi pada
semua logam namun dengan laju korosi yang berbeda-beda. Laju korosi adalah kecepatan
rambatan atau kecepatan penurunan kualitas bahan terhadap waktu. Laju korosi ini dipengaruhi
oleh potensial logam dan juga nilai rapat arus dari lingkungan/logam itu sendiri.
Aluminium adalah logam yang ringan dan cukup penting dalam kehidupan manusia. Sering
digunakan untuk kontruksi pesawat terbang dan berbagai macam alat-alat industri. Aluminium
murni mempunyai kekuatan tegangan yang rendah, tetapi mempunyai kemampuan untuk
membentuk alloy bersama dengan banyak unsur seperti tembaga, seng, magnesium, mangan dan
silikon. Dibandingkan dengan logam seperti tembaga, besi, atau seng, aluminium memiliki
kelebihan yaitu tahan terhadap korosi, ringan dan mudah dibentuk. Aluminium mempunyai lapisan
Al2O3 yang bisa melindungi logam terhadap pengkorosi pada pH antara 4 s/d 9 diluar kisaran itu
aluminium bisa terkorosi, baik pada suasana asam maupun basa.
Korosi yang umumnya terjadi pada logam aluminium adalah korosi sumuran (Jones 1992)
. Korosi sumuran membentuk lubang-lubang kecil yang kasat mata pada awalnya. Korosi ini
berlangsung ketika logam aluminium bereaksi dengan udara lembab. Karena itu korosi pada
aluminium ini bisa berkibat pada kebocoran pada material tanpa diketahui sebelumnya, yang
artinya fatal jika terjadi pada material industri yang membutuhkan kepresisian tinggi.
Seng merupakan logam yang berwarna putih kebiruan, berkilau, dan bersifat diamagnetik.
Walau demikian, kebanyakan seng mutu komersial tidak berkilau. Seng sedikit kurang padat
daripada besi dan berstruktur kristal heksagonal. Logam ini keras dan rapuh pada kebanyakan
suhu, namun menjadi dapat ditempa antara 100 sampai dengan 150 C. Di atas 210 C, logam ini
kembali menjadi rapuh dan dapat dihancurkan menjadi bubuk dengan memukul-mukulnya. Seng
juga mampu menghantarkan listrik. Dibandingkan dengan logam-logam lainnya, seng memiliki
titik lebur (420 C) dan tidik didih (900 C) yang relatif rendah. Dan sebenarnya pun, titik lebur
seng merupakan yang terendah di antara semua logam-logam transisi selain raksa dan kadmium.
Seng (Zn) merupakan yang lebih tahan korosi daripada baja di atmosfer, pengecualian
kondisi ini jika atmosfer dalam ruangan dimana lingkungannya korosi baik baja dan seng sangat
rentan terkena korosi. Melapisi logam dengan seng umumnya dianggap sebagai cara yang paling
ekonomis untuk melindungi logam terhadap korosi. Tujuh metode menerapkan lapisan seng untuk
besi dan baja dalam penggunaan umum: hot dip galvanizing, continuous-line galvanizing, electro-
galvanizing, zinc plating, mechanical plating, zinc spraying, and painting with zinc-bearing paints.

2.2 Indikator Fenolftalein


Fenolftalein adalah senyawa kimia dengan rumus C20H14O4 dan sering ditulis sebagai
"HIn" atau "phph" dalam notasi steno. Sering digunakan dalam titrasi, tidak berwarna dalam
larutan asam dan merah muda di larutan basa. Jika konsentrasi indikator sangat kuat, dapat
berwarna ungu. Dalam larutan sangat basa, warna merah muda fenolftalein ini mengalami reaksi
agak lambat memudar dan menjadi tidak berwarna lagi. Molekul ini memiliki empat bentuk:

Fenolftalein tidak larut dalam air dan biasanya dilarutkan dalam alkohol untuk digunakan
dalam eksperimen. Fenolftalein sendiri merupakan asam lemah, yang dapat kehilangan ion H+
dalam larutan. Molekul fenolftalein tidak berwarna. Namun, ion fenolftalein adalah merah muda.
Ketika basa ditambahkan ke fenolftalein, kesetimbangan molekul ion bergeser ke kanan,
menyebabkan ionisasi lebih sebagai ion H+ yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan prinsip Le
Chatelier.
Prinsip kerja Fenolftalein
Fenolftalein adalah indikator titrasi yang sering digunakan, dan fenolftalein ini merupakan
bentuk asam lemah yang lain.
Pada kasus ini, asam lemah tidak berwarna dan ion-nya berwarna merah muda terang.
Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri, dan mengubah
indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari
kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk menggantikannya mengubah indikator menjadi
merah muda.
Setengah tingkat terjadi pada pH 9.3. Karena pencampuran warna merah muda dan tak
berwarna menghasilkan warna merah muda yang pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya dengan
akurat. Pada titrasi asidimetri antara asam - basa kuat, warna yang paling sering muncul adalah
dari tak berwarna hingga rosa kemudian menjadi ungu kompleks. Ternyata PP sendiri memiliki
warna yang berbeda pada pH < 0 atau pH > 12.
Rentang pH fenolftalein:

2.3 Penggunaan Indikator Fenolftalein Untuk Studi Korosi Logam


Indikator penolphtalein akan mengindikasikan pembentukkan OH- pada katoda dengan
warna pink, sedangkan Ferrocyanida menunjukkan pembebasan Fe2+ di anoda dengan warna biru.
Logam baja karbon rendah yang mengalami perlakuan mekanik akan terjadi dua fungsi yaitu
sebagai anoda di daerah Fe yang berwarna biru tua, dan sebagai katoda pada daerah Fe yang
berwarna pink. Daerah yang berwarna biru sebagai anoda terjadi reaksi oksidasi menurut:
Fe Fe2+ + 2e- (oksidasi)
Sedangkan pada daerah yang berwarna pink sebagai katoda akan terjadi pembentukkan OH-
(reduksi air) menurut reaksi :
H2O + O2 + 4e- 4OH- (reduksi)
Jadi reaksi keseluruhan yang berlangsung pada hasil percobaan sebagai berikut :
3Fe + K4[Fe(CN)6] 3Fe2[Fe(CN)6] + 4K (warna biru tua)
Indikasi pada dua logam yang berbeda potensial sebagai contoh baja karbon rendah dengan
Zn. Jika kedua logam tersebut dihubungkan dengan kawat tembaga dan ditempatkan dalam cawan
petri yang berisi larutan yang akan dijelaskan pada bahan dan alat maka terlihat indikasi-indikasi
sebagai berikut :
Pada logam baja karbon rendah terbentuk warna pink sehingga pada baja karbon rendah terjadi
reaksi pembentukkan OH-. Menurut reaksi :
2H2O + O2 + 4e- 4OH- (reduksi)
Sedangkan pada logam Zeng terbentuk warna putih, artinya terjadi reaksi oksidasi:
Zn Zn2+ + 2e- (oksidasi)
Reaksi keseluruhan yang terjadi pada hasil percobaan adalah :
2Zn + K2[Fe(CN)6] Zn2[Fe(CN)6] + 2K (warna putih)
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
No. Alat Bahan
1. Gelas Kimia 250 ml 2 buah 2 gram agar agar
2. Hot plate 0.06 gram Kalium Ferricyanida
3. Cawan petri 0.06 gram Kalium Ferrocyanida
4. Thermometer 0.1 gram garam NaCl
5. Magnetik stirer Phenolpthalein
6. Pipet ukur
7. Neraca Analitik
8. Logam Fe dan Zn

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Persiapan Spesimen

Penyimpanan kedua
logam pada cawan
Logam Fe dan Cu
Pengamplasan logam petri ditambah satu
dihubungkan dengan
Fe dan Zn logam Fe yang tidak
kawat
dihubungkan dengan
kawat
3.2.2 Pembuatan Agar - agar

0,06 gram 0,06 gram


kalium kalium
ferrycyanida ferrocyanida

2 gram serbuk
0,1 gram NaCl
agar-agar
250 ml
aquadest

3.2.3 Pelaksanaan Proses Indikator

Spesimen (logam) diletakan dalam cawan petri yang kering dan bersih

Larutan dipanaskan sampai mendidih sambil diaduk dengan stirer

Dinginkan sampai dengan suhu 60C lalu ditambahkan dengan indikaktor PP

Tuangkan larutan ke dalam cawan petri sampai spesimen terbenam

Larutan didiamkan hingga membeku kemudian cawan petri ditutup


BAB IV

KESELAMATAN KERJA

Potensi bahaya yang ditimbulkan secara langsung pada percobaan ini boleh dikatakan tidak
ada, sebab bahan kimia yang digunakan tidak ada yang berbahaya. Namun yang perlu diperhatikan
adalah bekas bahan percobaan, tidak boleh dibuang ke dalam saluran air karena agar-agar dapat
menyumbat saluran tersebut. Bekas bahan percobaan harus dibuang ke dalam tempat sampah.
Bersihkan segera jika ada zat kimia yang tertumpah ke lantai sebab sebagian zat yang digunakan
bersifat korosif.
BAB V

PENGOLAHAN DATA

5.1 Penyajian Data

Data Pengamatan

Hasil Pemotretan

Hari pertama Hari kedua

Hari ketiga
Reaksi Reduksi

Fe2+ + 2e Fe

Reaksi Oksidasi

Zn Zn2+ + 2e

Reaksi Sel

Fe2+ +2e Fe Eosel = -0.440 V


Zn Zn2+ + 2e Eosel = -0,763 V
Fe2+ + Zn Fe + Zn2+ Eosel = +0,323 V
BAB VI

PEMBAHASAN

Pada percobaan penggunaan indikator untuk studi korosi logam dilakukan pengamplasan
pada media logam Fe dan Zn tanpa mendapat perlakukan mekanik. Pengamplasan dilakukan untuk
membersihkan logam tersebut agar pada saat terjadi reaksi korosi, kedua logam tidak terhalangi
oleh kotoran. Kedua logam ini disambungkan dengan menggunakan kawat dan disimpan ke dalam
cawan petri. Pengamatan kedua logam ini dilakukan setelah penambahan agar-agar yang
mengandung 2 gram serbuk agar-agar, 0.06 gram Kalium Ferricyanida, 0.06 gram Kalium
Ferrocyanida, dan 0.1 gram NaCl yang sebelumnya didihkan terlebih dahulu agar cepat larut dan
menjadi agar-agar karena agar-agar tidak larut dalam air dingin yang kemudian ditambah dengan
indikator pp ( 600C ) yang menyebabkan adanya warna pink dengan adanya OH-, warna merah
muda dalam gel menunjukkan tempat terjadinya reduksi. Penambahan agar-agar ini berfungsi
sebagai medium indikator juga untuk mengetahui tempat-tempat reaksi anoda dan katoda terjadi.
Penambahan NaCl berfungsi sebagai jembatan garam yang dapat dinetralkan. Penambahan
K3Fe(CN)6 yang bertujuan untuk menunjukkan tempat dimana Fe teroksidasi yang ditandai dengan
adanya warna biru tua.

Berdasarkan hasil pengamatan, pada hari pertama sampai hari ketiga dapat dilihat bahwa
pada rangkaian logam Fe-Zn terdapat lapiran berwarna pink pada Fe dan lapisan berwarna putih
pada Zn. Pada lapisan sekitar Fe menjadi berwarna pink, hal tersebut menunjukkan bahwa Fe
bertindak sebagai katoda dan terjadi pembentukan OH- (reduksi air) menurut reaksi berikut:

H2O + O2 + 4e 4OH-

Lalu pada logam Zn terbentuk lapisan warna putih (seperti lilin). Pembentukan lapisan
berwarna putih pada Zn terjadi pada rangkaian logam Fe-Zn pada lapisan atas. Reaksi keseluruhan
pada hasil percobaan dapat ditunjukkan dengan persamaan reaksi berikut:

2Zn + K2[Fe(CN)6] Zn2[Fe(CN)6] (warna putih) + 2K


Pada hari kedua dan ketiga, kedua logam memiliki kondisi yang hampir sama dengan hari
pertama. Hanya saja, perbedaan warna yang terjadi pada kedua logam semakin mencolok.
Begitupun seterusnya hingga pengamatan dihentikan pada hari ketiga dimana warna pada kedua
logam tersebut semakin mencolok sehingga dapat diketahui Zn yang bertindak sebagai anoda
dengan warna pink dan Fe sebagai katoda dengan biru serta mana yang mengalami oksidasi dan
reduksi.

Berdasarkan literatur, jika dilihat dari potensial reduksi standar (Eo) dari logam Fe dan Zn
(Fe2+=-0,440 dan Zn =-0,763). Semakin positif Eo semakin besar kecenderungan logam untuk
mengalami reduksi, dan semakin negatif Eo semakin besar kecenderungan logam untuk
mengalami oksidasi. Berdasarkan harga Eo tersebut, logam seng (Zn) dapat melindungi besi (Fe)
dari korosi. Logam Zn bertindak sebagai anoda dan Fe bertindak sebagai katoda. Hasil percobaan
yang dilakukan sudah sesuai dengan literatur yakni pada Fe terjadi reaksi reduksi (Fe bertindak
sebagai katoda) yang ditunjukkan dengan warna pink pada daerah logam Fe dan pada Zn terjadi
reaksi oksidasi (Zn bertindak sebagai anoda) yang ditunjukkan dengan terbentuknya lapisan
berwarna putih
BAB VII

SIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa :

1. Pada logam Zn lebih dulu muncul warna biru tua, sehingga terjadi reaksi oksidasi (daerah
oksida)
2. Pada logam Fe muncul warna merah muda yang lambat, sehingga terjadi reaksi reduksi
(daerah katoda)
3. Penghambatan korosi logam Fe dapat dilakukan dengan mengorbankan logam lain (anoda
korban) agar terkorosi
4. Logam Zn bertindak sebagai anoda korban untuk melindungi Fe (proteksi katoda).
DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet Pengendalian Korosi Modul Penggunaan Indikator Kororsi untuk Studi Korosi
Logam. Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung. Bandung : 2010
Ngatin Agustinus, Yunus Tonapa, Retno Indiarti,. 2002. Teknik Pengendalian Korosi. Jurusan
Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung. Bandung
Anonim. 2012. Tersedia : http://en.wikipedia.org/wiki/Phenolphthalein[Diakses tanggal 18
September 2017]
Anonim. 2012. Indikator Asama Basa. Tersedia : http://www.chem-is-
try.org/indikator_asam_basa /[Diakses tanggal 18 September 2016]