Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menjelaskan mengenai hasil dari analisis hubungan antara pengetahuan
pasien, dukungan keluarga pasien dan kepatuhan minum obat pasien terhadap kualitas
hidup pasien DM tipe 2 di puskesmas kemaraya kota kendari.

1. Gambaran Umum Wilayah penelitian


Puskesmas Kemaraya kota kendari terletak dalam wilayah kecamatan kendari
barat merupakan suatu organisasi fungsional yang berfungsi dalam pengembangan
kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan
pelyanan menyeluruh dan terpadu melalui kegiatan pokok yang ada. Pelyanan kesehatan
menyeluruh dan terpadu melalui kegiatan pokok yang ada. Pelayanan kesehatan
menyeluruh yang dimaksud mencakup pelayanan kuratif (pengobatan), preventif (upaya
pencegahan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Sedang pelayanan kesehatan
terpadu yang dimaksud adalah mencakup pelayanan kesehatan dalam suatu kecamatan
terdiri dari balai pengobatan, usaha hygine sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit
menular, KIA dan sebagainya.
Puskesmas kemaraya sebagai unit pelaksana teknis Dinas kesehatan kota kendari
bertanggung jawab bagi penyelenggaraan pembangunan kesehatan wilayah kerjanya.
Kedudukan puskesmas sebagai tertuang dalam system kesehatan nasional adalah sebagai
sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bertanggung jawab menyelenggarakan
upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat.
Salah satu dari beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan
puskesmas, terdapat 6 basis program di puskesmas kemaraya, yakni :
1. Promosi kesehatan/PKM
2. Kesehatan Lingkungan
3. Kesehatan Ibu dan Anak serta keluarga berencana
4. Perbaikan Gizi masyarakat
5. Pencegahan dan Pemberantasan penyakit menular (P2M)
6. Pengobatan
Puskesmas kemaraya yang berada di tengah-tengah kota kendari menjadi sangat gampang
dan mudah untuk dijangkau oleh elemen masyarakat yang berdomisili di daerah tersebut
hingga memudahkan pasien untuk mengontrol gula darah maupun kesehatan lainnya.

2. Hasil Penelitian
a. Analisis Univariate
Tabel 4. Distribusi responden pasien DM di Puskesmas Kemaraya
Variabel Kategori Frekuensi Presentase (%)
Pengetahuan Kurang 15 22,7
Cukup 18 27,3
Baik 33 50
Total 66 100
Kepatuhan Kurang 0 0
Minum Obat Cukup 35 53
Baik 31 47
Total 66 100
Dukungan Kurang 7 10,6
Keluarga Cukup 20 30,3
Baik 39 59,1
Total 66 100
Kualitas Hidup Kurang 23 34,8
Baik 43 65,2
Total 66 100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pasien yang memiliki


kualitas hidup kurang baik berjumlah 23 orang (34,8%) dan yang memiliki
kualitas hidup baik berjumlah 43 orang (65,2%). Dari data tersebut dapat
disimpulkan mayoritas pasien diabtetes melitus di puskesmas kemaraya memiliki
kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian lebih dalam
untuk mengetahui penyebab baiknya kualitas hidup pasien DM di puskesmas
Kemaraya agar dapat senantiasa dipelihara dan ditingkatkan sehingga jumlah
kualitas hidup pasien yang kurang baik dapat selalu ditekan.

b. Analisis Bivariat
a) Analisis hubungan Pengetahuan dengan Kualitas Hidup Pasien DM
Analisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan dengan Kualitas
Hidup pasien Diabetes Melitus dapat dilihat ada tabel 5;
Tabel 5. Hubungan Pengetahuan dengan Kualitas Hidup Pasien DM
Pengetahuan Kualitas Hidup
Derajat
Kategori Kurang % Baik % Total
Keeratan
Kurang 10 15,1 5 7,6 15
Cukup 11 16,7 7 10,6 18
0,562 0,000
Baik 2 3,1 31 49,6 33
Total 23 34,2 43 65,2 66

Hasil uji analisis korelasi Bivariat Pearson pada tabel output didapatkan
bahwa nilai Sig = 0,000 karena nilai <0,05 disimpulkan terdapat hubungan
antara tingkat pengetahuan dengan kualitas hidup pasien diabetes mellitus di
puskesmas Kemaraya Kendari. Dan berdasarkan analisis data didapatkan
hubungan antara variabel cukup kuat (r=0,562)
b) Analisis hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Kualitas Hidup
Pasien DM
Analisis hubungan antara variabel kepatuhan minum obat dengan Kualitas
Hidup pasien Diabetes Melitus dapat dilihat ada tabel 6;
Tabel 6. Hubungan kepatuhan minum obat dengan Kualitas Hidup Pasien DM
Kepatuhan Kualitas Hidup

Kategori Kurang % Baik % Total


Derajat
Keeratan
Kurang 0 0 0 0 0
Cukup 23 34,8 12 18,2 35
0,688 0,000
Baik 0 0 31 47 31
Total 23 34,8 43 65,2 66
Hasil uji analisis korelasi Bivariat Pearson pada tabel output didapatkan
bahwa nilai Sig = 0,000 karena nilai <0,05 disimpulkan terdapat hubungan
antara kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup pasien diabetes mellitus di
puskesmas Kemaraya Kendari. Dan berdasarkan analisis data didapatkan
hubungan antara variabel kuat (r=0,688)
c) Analisis hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien
DM
Analisis hubungan antara variabel dukungan keluarga dengan Kualitas
Hidup pasien Diabetes Melitus dapat dilihat ada tabel 7;
Tabel 7. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien DM
Dukungan Kualitas Hidup

Kategori Kurang % Baik % Total


Derajat
Keeratan
Kurang 6 9,1 1 1,5 0
Cukup 17 25,7 3 4,5 35
0,802 0,000
Baik 0 0 39 59,2 31
Total 23 34,8 43 65,2 66

Hasil uji analisis korelasi Bivariat Pearson pada tabel output didapatkan
bahwa nilai Sig = 0,000 karena nilai <0,05 disimpulkan terdapat hubungan
antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien diabetes mellitus di
puskesmas Kemaraya Kendari. Dan berdasarkan analisis data didapatkan
hubungan antara variabel sangat kuat (r=0,802)
c. Analisis Multivariat
Analisis multivariate yaitu analisis yang digunakan untuk menerangkan
hubungan pengetahuan pasien, dukungan keluarga pasien, kepatuhan minum obat
pasien dengan kualitas hidup pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang yang ada
di Puskesmas Kemaraya, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Data yang telah
didapat kemudian dianalisa dengan menggunakan komputer SPSS for Windows.
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda, hal
ini karena data dengan sampel besar ( 50) dan skala datanya berbentuk numerik
serta variabel independennya lebih dari satu (Dahlan, 2010).

Variabel B Beta F R
Constant -0,130 49.881 0,707
Pengetahuan 0,102 0,173 0,037
Kepatuhan 0,250 0,262 0,006
Dukungan 0,357 0,535 0,000

Tabel 8. Hasil analisis regresi linear berganda antara variabel yang mempengaruhi
kualitas hidup pasien DM

Hasil analisis multivariat dari faktor-faktor yang berhubungan dengan


Kualitas hidup pasien DM menunjukkan bahwa semua variabel mempengaruhi
kualitas hidup dari pasein DM. Dan tabel 8 menunjukkan nilai konstan sebesar -
0,130. Hasil analisiss regresi linear didapatkan variabel pengetahuan mempunyai
nilai : 0,037<0,05, sedangkan kepatuhan mempunyai nilai : 0,006<0,05 dan
dukungan keluarga mempunyai nilai : 0,000<0,05. Sehingga bisa disimpulkan
bahwa variabel independent mempunyai hubungan secara simultan dengan
kualitas hidup pasien DM di Puskesmas Kemaraya, namun dari semua variabel
Dukungan keluargalah yang paling mempengaruhi kualitas hidup pasien DM
karena mempunyai nilai paling kecil : 0,000. Dari hasil analisis juga
didapatkan nilai Fhitung : 49,881 dan nilai Ftabel : 2,76 dimana nilai Fhitung > Ftabel
sehingga dapat disimpulkan variabel independent berhubungan secara simultan
dengan variabel dependent (kualitas hidup). Didapatkan pula nilai R sebesar 0,707
yang menunjukkan bahwa seluruh variabel independent berpengaruh sebesar 70%
(0,707 x 100%) terhadap variabel dependent (kualitas hidup).

3. Pembahasan
a. Terdapat hubungan antara Pengetahuan pasien terhadap kulitas hidup pasien
Penelitian tentang hubungan antara pengetahuan pasien terhadap kualitas hidup
menunjukkan hubungan yang positif, dimana hal ini dapat dibuktikan dari beberapa
responden yang menjawab pertanyaan dengan baik dan menghasilkan nilai tinggi.
Beberapa responden juga memiliki tingkat pendidikan tinggi dan lingkungan yang
memiliki banyak kemudahan untuk mendapatkan informasi tentang penyakit diabetes
miletus. Tingkat pendidikan responden berada pada ketegori tinggi dimana mayoritas
responden memiliki tingkat pendidikan setingkat Perguruan Tinggi (59,1% ) dan SMA
(25,7%). Sejalan dengan studi yang dilakukan Hensarling (2009), bahwa responden DM
tipe 2 pada penelitiannya berada pada kategori pendidikan tertinggi.
Asumsi peneliti, seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan memiliki
pengetahuan yang baik, juga akan matang terhadap perubahan pada dirinya, sehingga
lebih mudah menerima pengaruh luar yang positif, obyektif dan terbuka terhadap
berbagai informasi termasuk informasi tentang kesehatan. Hal ini dapat dibuktikan
dengan melihat hasil kuesioner pasien, dimana mayoritas nilai tinggi diperoleh oleh
golongan responden dengan tingkat pendidikan tinggi (S1). Tingkat pengetahuan yang
baik dapat membuat pasien lebih paham dengan penyakitnya, sehingga mereka akan lebih
waspada dengan hal-hal yang dapat memperburuk kondisinya. Mereka juga akan
senantiasa berusaha memperbaiki gaya hidupnya dan mencari cara agar kondisi
penyakitnya menuju kearah yang lebih baik. Keadaan ini didukung pula oleh hasil
analisis data dimana Hasil uji analisis korelasi Bivariat Pearson didapatkan bahwa nilai
Sig = 0,001 karena nilai <0,05 disimpulkan terdapat hubungan antara tingkat
pengetahuan dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus di puskesmas Kemaraya
Kendari.

b. Terdapat hubungan antara Dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien


Penelitian tentang hubungan antara dukungan keluarga pasien terhadap kualitas
hidup pasien menunjukkan hubungan yang positif, dimana hal ini dapat dibuktikan dari
beberapa responden yang menjawab pertanyaan dengan baik dan dari hasil uji bivariate
didapatkan Sig = 0,001, karena nilai <0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien diabetes mellitus di
puskesmas Kemaraya Kendari. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Coffman, MJ (2008) tentang efek dukungan sosial dan depresi terhadap
self efikasi DM tipe 2 di spanyol. Penelitian ini menemukan, umumnya dukungan yang
diterima oleh pasien DM tipe 2 adalah keluarga. Selain itu didapatkan dukungan dari
teman dan petugas kesehatan. Dukungan keluarga juga dilihat dari segi emosional,
penghargaan, intrumental dan informasi. Hal ini sesuai dengan penelitian Hensarling
(2009) dan Sarafino (2004) bahwa dukungan keluarga yang di dapatkan pasien DM tipe 2
terdiri dari dimensi emosiomal, penghargaan, instrumental dan informasi.
Berikutnya pada penelitian ini diketahui bahwa dimensi emosional yang diberikan
keluarga antara lain keluarga mengerti dengan masalah yang dialami oleh responden,
mendengarkan keluhan responden tentang penyakit yang dirasakan, serta memberikan
kenyamanan kepada responden dalam mengatasi masalahnya. Sedangkan dimensi
penghargaan yang diperoleh responden antara lain dorongan keluarga untuk mengontrol
gula dara, mematuhi diet, pengobatan serta kontrol kesehatan. Dimensi instrumentral
yang diperoleh responden antara lain keluarga membantu mengingatkan. Kondisi pasien
yang telah terdiagnosis DM pada umumnya mengalami penurunan, sebagian besar pasien
tidak bisa menerima kenyataan ketika mereka harus minum obat seumur hidup dan tidak
bisa mengkonsumsi makanan pada umumnya. Peran orang terdekat sangatlah berperan
penting pada kondisi seperti ini, merekalah yang seharusnya harus mensuport pasien agar
senantiasa mau untuk berobat.
c. Terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat pasien terhadap Kualitas
hidup pasien
Penelitian tentang hubungan antara kepatuhan minum obat pasien terhadap
kualitas hidup pasien menunjukkan hasil yang positif, dimana hal ini dapat dibuktikan
dari beberapa responden yang menjawab pertanyaan dengan baik dan dari hasil uji
bivariate didapatkan Sig = 0,001, karena nilai <0,05 dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien diabetes
mellitus di puskesmas Kemaraya Kendari.
Perilaku keteraturan konsumsi obat anti diabetes responden menjadi salah satu
upaya untuk pengendalian glukosa darah ataupun komplikasi yang dapat ditimbulkan.
Bila penderita Diabetes Melitus tidak patuh dalam melaksanakan program pengobatan
yang telah dianjurkan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya maka akan dapat
memperburuk kondisi penyakitnya. Keberhasilan dari pengobatan Diabetes Melitus ini
selain dengan pengobatan secara medik, dalam bentuk pemberian obat juga dipengaruhi
dengan pola diet dan olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh. Kepatuhan penderita
adalah perilaku penderita dalam mengambil suatu tindakan untuk pengobatan seperti diet,
kebiasaan hidup sehat dan ketepatan berobat. Hal ini berkenaan dengan kemauan dan
kemampuan penderita untuk mengikuti cara hidup sehat yang berkaitan dengan nasehat,
aturan pengobatan yang ditetapkan, mengikuti jadwal pemeriksaan. Sangat sulit menilai
tingkat kepatuhan penderita dalam mengikuti anjuran dokter untuk dapat mengendalikan
kadar glukosa darah, baik menyangkut jadwal minum obat dan dosis, maupun pola hidup
(pola makan, olahraga, dan lain-lain).
Pada penelitian ini, tingkat kepatuhan pasien sudah cukup baik, sehingga kualitas
hidup pasien DM di puskesmas kemaraya lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan
kualitas hidup yang kurang baik. Hal ini berkaitan dengan karakteristik usia responden,
dimana sebagian besar penderita DM adalah responden dengan usia dewasa. Usia dewasa
pada umumnya memiliki pengalaman yang lebih dan lebih banyak memperoleh
informasi. Oleh karena DM adalah penyakit yang yang memerlukan penanganan madiri,
oleh karena itu pasien DM harus mempunyai pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk
dapat menyesuaikan diri dengan penatalaksanaan DM sehari-hari.
d. Terdapat hubungan antara pengetahuan pasien, dukungan keluarga pasien dan
kepatuhan minum obat pasien terhadap Kualitas hidup pasien
Ketiga variabel bebas memiliki pengaruh/hubungan positif terhadap kualitas
hidup artinya jika pengetahuan semakin baik, dukungan keluarga semakin baik, dan
kepatuhan minum obat semakin baik maka meningkatkan kualitas hidup dan sebaliknya.
Diantara ketiga variabel bebas tersebut yang paling besar pengaruhnya atau hubungannya
adalah dukungan keluarga terhadap kualitas hidup, hal ini dikarenakan pada hasil output
uji multivariat nilai paling kecil adalah nilai variabel dukungan keluarga ( : 0,001),
hal ini dikarenakan semakin kecil nilai maka semakin besar pula hubungannya.