Anda di halaman 1dari 5

LI.1 Memahami dan Menjelaskan Intususepsi B.

Kausal
LO. 1.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Intususepsi Pada penderita intususepsi yang lebih besar (lebih dua tahun), adanya kelainan usus dapat menjadi penyebab intususepsi atau lead
Intususepsi adalah proses dimana suatu segmen usus bagian proksimal masuk ke dalam lumen usus bagian distalnya sehingga point seperti: inverted Meckels diverticulum, polip usus, leiomioma, leiosarkoma, hemangioma, blue rubber blep nevi, lymphoma
menyebabkan obstruksi usus dan dapat berakhir dengan strangulasi. Umumnya bagian yang proksimal (intususeptum) masuk ke bagian dan duplikasi usus. Divertikulum Meckel adalah penyebab paling utama, diikuti dengan polip seperti Peutz-Jeghers syndrome dan
distal (intussussipien). duplikasi intestinal. Lead point lain diantaranya lymphangiectasias, perdarahan submukosa dengan Henoch-Schnlein purpura,
Intussusception adalah masuknya salah satu bagian ke bagian yang lain atau invaginatio dari salah satu bagian usus kedalam lumen dan trichobezoars dengan Rapunzel syndrome, caseating granulomas yang berhubungan dengan tuberkulosis abdominal.
bergabung dengan bagian tersebut. Biasanya bagian proksimal masuk ke distal, jarang terjadi sebaliknya. Bagian usus yang masuk Lymphosarcoma sering dijumpai sebagai penyebab intususepsi pada anak yang berusia di atas enam tahun. Intususepsi dapat juga
(menginvaginasi) disebut intussusceptum dan bagian yang menerima intussusceptum (diinvaginasi) disebut intussuscipiens. Sinonim dari terjadi setelah laparotomi, yang biasanya timbul setelah dua minggu pasca bedah, hal ini terjadi akibat gangguan peristaltik usus,
intussusception adalah telescoping usus dan invaginasi usus. Intususepsi diklasifikasikan berdasarkan lokasi dari traktus alimentary yaitu: disebabkan manipulasi usus yang kasar dan lama, diseksi retroperitoneal yang luas dan hipoksia lokal
ileoocolic, cecocolic, enteroenteric, duodenogastric dan gastroesophageal.
Intususepsi merupakan salah satu penyebab spesifik dari obstruksi usus. Obstruksi usus disebabkan oleh adanya objek dalam lumen, LO. 1.4. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Intususepsi
intramural thickening atau stenosis dan tekanan extramural. Penyebab yang spesifik yang lain antara lain benda asing, volvulus. torsio Faktor Risiko
usus, terkurungnya usus besar karena hernia (termasuk semua tipe hernia abdominal, hernia diafragmatika), adhesi (post trauma atau post Penyakit ini sering terjadi pada umur 3-12 bulan, dimana pada saat itu terjadi perubahan diet makanan dari cair ke padat, perubahan
operasi), abses, granuloma atau hematoma, malformasi congenital (stenosis atau atresia) dan neoplasia usus. Obstruksi bisa terjadi pemberian makanan ini dicurigai sebagai penyebab terjadi intususepsi. Intususepsi kadang-kadang terjadi setelah/selama enteritis akut,
proksimal atau distal. Obstruksi proximal dan komplit, biasanya akut dan menunjukkan gejala klinis yang berat seperti dehidrasi, sehingga dicurigai akibat peningkatan peristaltik usus. Gastroenteritis akut yang dijumpai pada bayi, ternyata ditemukan kuman rotavirus
ketidakseimbangan elektrolit dan shock. Dapat juga memicu muntah yang tetap, kurangnya sekresi lambung (asam hidroklorat) serta menjadi agen penyebabnya, dimana pengamatan 30 kasus intususepsi bayi ditemukan virus ini dalam feses sebanyak 37%. Pada beberapa
alkalosis metabolis sedangkan obstruksi distal disebabkan oleh beberapa tingkatan asidosis metabolis. Obstruksi distal dan tidak komplit penelitian terakhir ini didapati peninggian insidens adenovirus dalam feses penderita intususepsi.
biasanya dengan gejala klinis yang kurang jelas.
Jenis Intususepsi
LO. 1.2. Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi Intususepsi Jenis intususepsi dapat dibagi menurut lokasinya pada bagian usus mana yang terlibat, pada ileum dikenal sebagai jenis ileo-ileal.
Estimasi insidensi akurat dari intususepsi tidak tersedia untuk sebagian besar negara berkembang, demikian juga di banyak negara Pada kolon dikenal dengan jenis colo-colica dan sekitar ileo-caecal disebut ileocaecal, jenis-jenis yang disebutkan di atas dikenal dengan
maju. Di Afrika, tidak ada penelitian yang melaporkan angka kejadian dari intususepsi. Di Asia dalam hal ini Taiwan dan Cina, dilaporkan intususepsi tunggal dimana dindingnya terdiri dari tiga lapisan.
insidens dari intususepsi adalah 0,77 per 1000 kelahiran hidup. Di India, angka kejadiannya dilaporkan berkisar 1,9-54,4 per tahun. Tidak
Jika dijumpai dinding yang terdiri dari lima lapisan, hal ini sering pada keadaan yang lebih lanjut disebut jenis intususepsi ganda,
ada data yang menyebutkan tentang insidensi per kelahiran hidup. Di Malaysia lebih kurang 10,4 bayi dan anak dirawat di RS Umum Kuala
sebagai contoh adalah jenis ileo-ileo-colica atau colo-colica. Suwandi J.Wijayanto E. di Semarang selama 3 tahun (1981-1983) pada
Lumpur karena intususepsi per tahun. Di Indonesia, angka kejadian intususepsi di RS wilayah pedesaan dan perkotaan didapatkan angka
yang berbeda, yaitu masing-masing 5,8 dan 17,2 per tahun. Irish (2011) menyebutkan insiden intususepsi adalah 1,5-4 kasus per 1000 pengamatannya mendapatkan jenis intususepsi sebagai berikut: Ileo-ileal 25%, ileo-colica 22,5%, ileo-ileo-colica 50% dan colo-colica
kelahiran hidup. 22,5%.
Intususepsi umumnya ditemukan pada anak-anak di bawah 1 tahun dan frekuensinya menurun dengan bertambahnya usia anak. Di
Afrika, insiden puncak intususepsi muncul antara usia 3-8 bulan. Di Asia, insiden puncak antara usia 4-8 bulan. Umumnya intususepsi
ditemukan lebih sering pada anak laki-laki. Di Afrika, tepatnya di Tunisia, rasio laki-laki dibandingkan perempuan adalah 8:1. Di Asia,
rasio perbandingannya adalah 9:1. Di Timur Tengah, perbandingan antara laki-laki dan perempuan berkisar antara 1,4:1 sampai 4:1.
Berdasarkan keterkaitan kejadian intususepsi dengan musim, didapatkan hasil penelitian yang bervariasi di masing-masing wilayah di
dunia. Intususepsi dilaporkan sebagai suatu kejadian musiman dengan puncak pada musim semi, musim panas, dan pertengahan musim
dingin. Periode ini berhubungan dengan puncak munculnya gastroenteritis musiman dan infeksi saluran napas atas. Di Afrika, insidens
intususepsi meningkat pada 2 musim yaitu akhir musim panas dan akhir musim dingin. Hal ini bersamaan dengan puncak insidens dari
infeksi saluran napas dan diare. Di Asia, salah satunya India, insidens intususepsi dilaporkan meningkat pada musim panas. Di Thailand
insidens intususepsi meningkat antara bulan September dan Januari dan kemudian April. Peningkatan ini bersamaan dengan musim dingin
dan panas yang merupakan puncak dari insidens infeksi saluran napas atas dan gastroenteritis. Di Malaysia tidak ditemukan adanya
perbedaan musim terkait dengan intususepsi.
Berdasarkan penelitian ORyan et al, dari kasus intususepsi di RS Santiago tahun 2000-2001 ditemukan bahwa insidens invaginasi
pada pasien berusia kurang dari 12 bulan sebanyak 55 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan untuk usia 0-24 bulan sebanyak 35 per
100.000 kelahiran hidup. Insiden puncaknya pada umur 4-9 bulan terjadi perubahan diet makanan dari cair ke padat, perubahan pola makan
bulan, Hampir 70% terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun dimana laki-laki lebih sering dari wanita perbandingan 4:1 LO. 1.5. Memahami dan Menjelaskan Patogenesis Intususepsi
kemungkinan karena peristaltic lebih kuat. Patogenesis dari intususepsi diyakini akibat sekunder dari ketidakseimbangan pada dorongan longitudinal sepanjang dinding intestinal.
Ketidakseimbangan ini dapat disebabkan oleh adanya massa yang bertindak sebagai lead point atau oleh pola yang tidak teratur dari
LO. 1.3. Memahami dan Menjelaskan Etiologi Intususepsi peristalsis (contohnya ileus pasca operasi). Gangguan elektrolit berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan yang dapat
Etiologi dari intususepsi terbagi menjadi dua, yaitu idiopatik dan kausal: mengakibatkan motilitas intestinal yang abnormal dan mengarah pada terjadinya invaginasi. Beberapa penelitian terbaru pada binatang
A. Idiopatik menunjukkan pelepasan nitrit oksida pada usus, suatu neurotransmitter penghambat, menyebabkan relaksasi dari katup ileocaecal dan
Menurut kepustakaan, 90-95% intususepsi pada anak di bawah umur satu tahun tidak dijumpai penyebab yang spesifik sehingga mempredisposisi intususepsi ileocaecal. Penelitian lain telah mendemonstrasikan bahwa penggunaan dari beberapa antibiotik tertentu dapat
digolongkan sebagai infantile idiophatic intussusceptions. Kepustakaan lain menyebutkan di Asia, etiologi idiopatik dari menyebabkan hiperplasia limfoid ileal dan dismotilitas intestinal dengan intususepsi.
intususepsi berkisar antara 42-100%. Definisi dari istilah intususepsi idiopatik bervariasi di antara penelitian terkait intususepsi. Sebagai hasil dari ketidakseimbangan, area dari dinding usus terinvaginasi ke dalam lumen. Proses ini terus berjalan, dengan diikuti
Sebagian besar peneliti menggunakan istilah idiopatik untuk menggambarkan kasus dimana tidak ada abnormalitas spesifik dari area proximal dari intestinal, dan mengakibatkan intususeptum berproses sepanjang lumen dari intususipiens. Apabila terjadi obstruksi
usus yang diketahui dapat menyebabkan intususepsi seperti diverticulum meckel atau polip yang dapat diidentifikasi saat sistem limfatik dan vena mesenterial, akibat penyakit berjalan progresif dimana ileum dan mesenterium masuk ke dalam caecum dan colon,
pembedahan. Dalam kasus idiopatik, pemeriksaan yang teliti dapat mengungkapkan hipertrofi jaringan limfoid mural (Peyer patch), akan dijumpai mukosa intussusseptum menjadi oedem dan kaku. Mengakibatkan obstruksi yang pada akhirnya akan dijumpai keadaan
yang disebabkan oleh infeksi adenovirus atau rotavirus. Pada waktu operasi hanya ditemukan penebalan dari dinding ileum terminal strangulasi dan perforasi usus.
berupa hyperplasia jaringan follikel submukosa yang diduga sebagai akibat infeksi virus. Penebalan ini merupakan titik awal (lead Pembuluh darah mesenterium dari bagian yang terjepit mengakibatkan gangguan venous return sehingga terjadi kongesti, oedem,
point) terjadinya invaginasi. hiperfungsi Sel Goblet serta laserasi mukosa usus. Hal inilah yang mendasari terjadinya salah satu manifestasi klinis intususepsi yaitu BAB
Intususepsi idiopatik memiliki etiologi yang tidak jelas. Salah satu teori untuk menjelaskan kemungkinan etiologi intususepsi darah lendir yang disebut juga red currant jelly stool.
idiopatik adalah bahwa hal itu terjadi karena Peyer patch yang membesar; hipotesis ini berasal dari 3 pengamatan: (1) penyakit ini
sering didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas, (2) wilayah ileokolika memiliki konsentrasi tertinggi dari kelenjar getah bening Proses terjadinya invaginasi dimulai dengan hiperplastik usus bagian proksimal yang lebih mobil menyebabkan usus masuk kedalam
di mesenterium, dan (3) pembesaran kelenjar getah bening sering dijumpai pada pasien yang memerlukan operasi. Apakah Peyer lumen usus distal berkontraksi terjadi edema mengakibatkan perlekatan yang tidak dapat kembali normal sehingga terjadi
patch yang membesar adalah reaksi terhadap intususepsi atau sebagai penyebab intususepsi, masih tidak jelas. invaginasi.

ANINDYA ANJAS PUTRIAVI/1102014027 SKENARIO 3 BLOK EMERGENSI 1


Proses selanjutnya adalah proses obstruksi usus strangulasi. Proses strangulasi tersirat oleh adanya rasa sakit dan perdarahan per rektal. Adanya gambaran dari invaginasi usus, dimana setidaknya tercakup hal-hal berikut ini: massa abdomen, massa rectum atau prolaps
Serangan rasa sakit mula-mula hilang timbul kemudian menetap dan sering disertai rangsangan muntah. Darah yang keluar melalui anal rectum, terlihat pada gambaran foto abdomen, USG maupun CT Scan.
merupakan darah segar yang bercampur lendir. Proses obstruksi usus sebenarnya sudah mulai sejak invaginasi terjadi tetapi penampilan Bukti adanya gangguan vaskularisasi usus dengan manifestasi perdarahan rectum atau gambaran feses red currant jelly pada
klinik obstruksi memerlukan waktu. Umumnya setelah 10-12 jam sampai menjelang 24 jam gejala-gejala seperti abdomen kembung dan pemeriksaan Rectal Toucher.
muntah hijau atau fekal telah terjadi.
B. Kriteria Minor
LO. 1.6. Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Intususepsi Bayi laki-laki kurang dari 1 tahun
Anak atau bayi yang semula sehat dan biasanya dengan keadaan gizi yang baik, tiba-tiba menangis kesakitan, terlihat kedua Nyeri abdomen
kakinya terangkat ke atas, penderita tampak seperti kejang dan pucat menahan sakit, serangan nyeri perut seperti ini berlangsung dalam Muntah
beberapa menit. Di luar serangan, anak/bayi kelihatan seperti normal kembali. Pada waktu itu sudah terjadi proses intususepsi. Lethargy
Serangan nyeri perut datangnya berulang-ulang dengan jarak waktu 15-20 menit dengan lama serangan 2-3 menit. Pada umumnya Pucat
selama serangan nyeri perut itu diikuti dengan muntah berisi cairan dan makanan yang ada di lambung. Syok hipovolemi
Sesudah beberapa kali serangan dan setiap kalinya memerlukan tenaga, maka di luar serangan si penderita terlihat lelah dan lesu Foto abdomen yang menunjukkan abnormalitas tidak spesifik.
dan tertidur sampai datang serangan kembali. Proses intususepsi pada mulanya belum terjadi gangguan pasase isi usus secara total,
anak masih dapat defekasi berupa feses biasa, kemudian feses bercampur darah segar dan lendir, kemudian defekasi hanya berupa Berikut ini adalah pengelompokkan berdasarkan tingkat pembuktian, yaitu:
darah segar bercampur lendir tanpa feses. BAB darah dan lendir (red current jelly stool) baru dijumpai sesudah 6-8 jam serangan sakit A. Level 1 Definite (ditemukannya satu kriteria di bawah ini)
yang pertama kali, kadang-kadang sesudah 12 jam. BAB darah lendir ini bervariasi jumlahnya dari kasus per kasus, ada juga yang Kriteria Pembedahan Invaginasi usus yang ditemukan saat pembedahan
dijumpai hanya pada saat melakukan colok dubur. Kriteria Radiologi Air enema atau liquid contrast enema menunjukkan invaginasi dengan manifestasi spesifik yang bisa dibuktikan
Karena sumbatan belum total, perut belum kembung dan tidak tegang, dengan demikian mudah teraba gumpalan usus yang dapat direduksi olehenema tersebut.
terlibat intususepsi sebagai suatu massa tumor berbentuk curved sausage di dalam perut di bagian kanan atas, kanan bawah, atas tengah Kriteria Autopsi Invagination dari usus
atau kiri bawah. Tumor lebih mudah teraba pada waktu terdapat peristaltik, sedangkan pada perut bagian kanan bawah teraba kosong
yang disebut dances sign. Hal ini akibat caecum dan kolon naik ke atas, ikut proses intususepsi. B. Level 2 Probable (salah satu kriteria di bawah)
Sesudah 18-24 jam serangan sakit yang pertama, usus yang tadinya tersumbat partial berubah menjadi sumbatan total, diikuti Dua kriteria mayor
proses oedem yang semakin bertambah, sehingga pada pasien dijumpai tanda-tanda obstruksi, seperti perut kembung dengan gambaran Satu kriteria mayor dan tiga kriteria minor
peristaltik usus yang jelas, muntah warna hijau dan dehidrasi.
Oleh karena perut kembung maka massa tumor tidak dapat diraba lagi dan defekasi hanya berupa darah dan lendir. Apabila C. Level 3 Possible
keadaan ini berlanjut terus akan dijumpai muntah feses, dengan demam tinggi, asidosis, toksis dan terganggunya aliran pembuluh Empat atau lebih kriteria minor
darah arteri. Pada segmen yang terlibat menyebabkan nekrosis usus, gangrene, perforasi, peritonitis umum, syok dan kematian.
Pada pemeriksaan colok dubur didapati:
Tonus sphincter melemah, mungkin invaginat dapat diraba berupa massa seperti portio. Bila jari ditarik, keluar darah bercampur PEMERIKSAAN PENUNJANG
lendir. A. Pemeriksaan Laboratorium
Perlu perhatian bahwa untuk penderita malnutrisi, gejala-gejala intususepsi tidak khas. Tanda-tanda obstruksi usus baru timbul Meskipun hasil laboratorium tidak spesifik untuk menegakkan diagnosis intususepsi, sebagai proses dari progresivitas, akan didapatkan
dalam beberapa hari. Pada penderita ini tidak jelas tanda adanya sakit berat. Pada defekasi tidak ada darah. Intususepsi dapat abnormalitas elektrolit yang berhubungan dengan dehidrasi, anemia dan atau peningkatan jumlah leukosit (leukositosis >10.000/mm3).
mengalami prolaps melewati anus. Hal ini mungkin disebabkan pada pasien malnutrisi, memiliki tonus yang melemah, sehingga
obstruksi tidak cepat timbul. B. Pemeriksaan Radiologi
Selain yang telah disebutkan di atas, dikenal juga suatu keadaan yang disebut dengan intususepsi atipikal yaitu bila dalam kasus 1. Foto polos abdomen
tersebut gagal dibuat diagnosis yang tepat oleh seorang ahli bedah, meskipun keadaan ini kebanyakan terjadi karena ketidaktahuan Didapatkan distribusi udara di dalam usus tidak merata, usus terdesak ke kiri atas, bila telah lanjut terlihat tanda-tanda obstruksi usus
dokter dibandingkan dengan gejala tidak lazim pada penderita. dengan gambaran air fluid level. Dapat terlihat free air bila terjadi perforasi.

LO. 1.7. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Intususepsi
ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK
Gejala klinis yang menonjol dari intususepsi adalah suatu trias gejala yang terdiri dari:
Nyeri perut yang datangnya secara tiba-tiba, nyeri bersifat hilang timbul. Nyeri menghilang selama 10-20 menit, kemudian timbul lagi
serangan baru.
Teraba massa tumor di perut bentuk curved sausage pada bagian kanan atas, kanan bawah, atas tengah, kiri bawah atau kiri atas.
Buang air besar campur darah dan lendir yang disebut red currant jelly stool.

Bila penderita terlambat memeriksakan diri, maka sukar untuk meraba adanya tumor, oleh karena itu untuk kepentingan diagnosis harus
berpegang kepada gejala trias intususepsi. Mengingat intususepsi sering terjadi pada anak berumur di bawah satu tahun, sedangkan
penyakit disentri umumnya terjadi pada anak-anak yang mulai berjalan dan mulai bermain sendiri maka apabila ada pasien datang berumur
di bawah satu tahun, sakit perut yang bersifat kolik sehingga anak menjadi rewel sepanjang hari/malam, ada muntah, buang air besar campur
darah dan lendir maka pikirkanlah kemungkinan intususepsi.

The Brighton Collaboration Intussuseption Working Group mendirikan sebuah diagnosis klinis menggunakan campuran dari kriteria minor
dan mayor. Strasifikasi ini membantu untuk membuat keputusan berdasarkan tiga level dari pembuktian untuk membuktikan apakah kasus
tersebut adalah intususepsi:

A. Kriteria Mayor
Adanya bukti dari obstruksi usus berupa adanya riwayat muntah hijau, diikuti dengan distensi abdomen dan bising usus yang
abnormal atau tidak ada sama sekali.

ANINDYA ANJAS PUTRIAVI/1102014027 SKENARIO 3 BLOK EMERGENSI 2


Literatur lain menyebutkan bahwa foto polos hanya memiliki akurasi diagnostik 45% untuk menegakkan diagnosis intususepsi
sehingga penggunaannya tidak diindikasikan jika ada fasilitas USG. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hooker et al tahun 2008
dalam Radiographic Evaluation of Intussusception, tampilan foto polos abdomen dengan posisi left side down decubitus meningkatkan
kemampuan untuk diagnosis atau menyingkirkan intususepsi.

2. Barium enema
Dikerjakan untuk tujuan diagnosis dan terapi, untuk diagnosis dikerjakan bila gejala-gejala klinik meragukan. Pada barium enema
akan tampak gambaran cupping, coiled spring appearance.

3. Ultrasonografi Abdomen
Penggunaan USG abdomen untuk evaluasi intususepsi pertama kali digambarkan pada tahun 1977. Sejak itu, banyak institusi
yang mengadopsi penggunaannya sebagai alat skrining karena tidak adanya paparan radiasi dan rendah biaya. Intususepsi biasanya
ditemukan di sisi kanan abdomen.
Pada tampilan transversal USG, tampak konfigurasi usus berbentuk target atau donat yang terdiri dari dua
cincin echogenisitas rendah yang dipisahkan oleh cincin hiperekoik, tidak ada gerakan pada donat tersebut dan ketebalan tepi lebih DIAGNOSIS BANDING
dari 0,6 cm. Ketebalan tepi luar lebih dari 1,6 cm menunjukkan perlunya intervensi pembedahan. Pada tampilan logitudinal Gastroenteritis, bila diikuti dengan intususepsi dapat ditandai jika dijumpai perubahan rasa sakit, muntah dan perdarahan.
tampak pseudokidney sign yang timbul sebagai tumpukan lapisan hipoekoik dan hiperekoik. Divertikulum Meckel, dengan perdarahan, biasanya tidak ada rasa nyeri.
Pemeriksaan USG selain sebagai diagnostik, juga dapat digunakan untuk membantu mendiferensiasikan tipe dari intususepsi. Disentri amoeba, disini diare mengandung lendir dan darah, serta adanya obstipasi, bila disentri berat disertai adanya nyeri di perut,
Park et al (2007) melaporkan bahwa intususepsi transien dari usus kecil lebih sering terlokalisir pada kuadran kanan bawah atau region tenesmus dan demam.
periumbilikal, memiliki diameter anteroposterior yang lebih kecil (1,38 cm vs 2,53 cm), memiliki garis luar yang lebih tipis (0,26 cm Enterokolitis, tidak dijumpai adanya nyeri di perut yang hebat.
vs 0,53 cm), dan tidak memiliki nodus limfatikus, dimana berbanding terbalik dengan intususepsi ileocolic(2). Prolapsus recti atau Rectal prolaps, dimana biasanya terjadi berulang kali dan pada colok dubur didapati hubungan antara mukosa dengan
Sebuah studi oleh Munden et al (2007) mendukung penemuan ini, dengan diameter anteroposterior rata-rata adalah 1,5 cm pada kulit perianal, sedangkan pada intususepsi didapati adanya celah.
intususepsi ileoileal dan 3,7 cm pada intususepsi ileocolic dan panjang rata-ratanya berkisar 2,5 cm dan 8,2 cm secara respektif.
Sebagian besar penderita yang datang berobat sudah dalam fase lanjut dengan keluhan nyeri perut kanan atas. Sifat nyeri ialah nyeri
4. CT Scan tumpul, terus-menerus, kadang-kadang terasa hebat apabila bergerak. Di samping keluhan nyeri perut ada pula keluhan seperti benjolan
Intususepsi yang digambarkan pada CT scan merupakan gambaran klasik seperti pada USG yaitutarget sign. Intususepsi temporer di perut kanan atas tanpa atau dengan nyeri, perut membuncit karena adanya asites. Dan keluhan yang paling umum yaitu merasa badan
dari usus halus dapat terlihat pada CT maupun USG, dimana sebagian besar kasus ini secara klinis tidak signifikan. semakin lemah, anoreksia, perasaan lekas kenyang.

LO. 1.8. Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana Intususepsi


Pada bayi maupun anak yang dicurigai intususepsi atau invaginasi, penatalaksanaan lini pertama sangat penting dilakukan untuk mencegah
komplikasi yang lebih lanjut. Selang lambung (Nasogastric tube) harus dipasang sebagai tindakan kompresi pada pasien dengan distensi
abdomen sehingga bisa dievaluasi produksi cairannya. Setelah itu, rehidrasi cairan yang adekuat dilakukan untuk menghindari kondisi
dehidrasi dan pemasangan selang catheter untuk memantau ouput dari cairan. Pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit darah dapat

ANINDYA ANJAS PUTRIAVI/1102014027 SKENARIO 3 BLOK EMERGENSI 3


dilakukan. Pneumatic atau kontras enema masih menjadi pilihan utama untuk diagnosa maupun terapi reduksi lini pertama pada Diseksi
intususepsi di banyak pusat kesehatan. Namun untuk meminimalisir komplikasi, tindakan ini harus dilakukan dengan memperhatikan Teknik pemisahan otot dimulai dari eksternal, obliqus internus, dan fascia
beberapa panduan. Salah satunya adalah menyingkirkan kemungkinan adanya peritonitis, perforasi ataupun gangrene pada usus. Semakin transversalis. Usus yang mengalami intususepsi secara hati-hati dijangkau
lama riwayat perjalanan penyakitnya, semakin besar kemungkinan kegagalan dari terapi reduksi tersebut. dari luka operasi dan reduksi dilakukan dengan lembut, meremas usus distal
ke apex bersamaan dengan tarikan lembut dari usus proksimal untuk
TINDAKAN NON OPERATIF membantu reduksi (Gambar 13). Traksi yang kuat atau menarik usus
Hydrostatic Reduction intususeptum dari intususipien harus dihindari, karena ini dapat dengan
Metode reduksi hidrostatik tidak mengalami perubahan signifikan sejak dideskripsikan pertama kali pada tahun 1876. Meskipun mudah mengakibatkan cedera lebih lanjut pada usus besar.
reduksi hidrostatik dengan menggunakan barium di bawah panduan fluoroskopi telah menjadi metode yang dikenal sejak pertengahan
1980-an, kebanyakan pusat pediatrik menggunakan kontras cairan saline (isootonik) karena barium memiliki potensi peritonitis yang
berbahaya pada perforasi intestinal.

Berikut ini adalah tahapan pelaksanaannya:


Masukkan kateter yang telah dilubrikasi ke dalam rectum dan difiksasi kuat diantara pertengahan bokong.
Pengembangan balon kateter kebanyakan dihindari oleh para radiologis sehubungan dengan risiko perforasi dan obstruksi loop
tertutup.
Pelaksanaannya memperhatikan Rule of three yang terdiri atas: (1) reduksi hidrostatik dilakukan setinggi 3 kaki di atas pasien; Setelah reduksi, kondisi umum ileum terminal yang mengalami intususepsi harus dinilai dengan hati-hati (Gambar 14).
(2) tidak boleh lebih dari 3 kali percobaan; (3) tiap percobaan masing-masing tidak boleh lebih dari 3 menit.
Pengisian dari usus dipantau dengan fluoroskopi dan tekanan hidrostatik konstan dipertahankan sepanjang reduksi berlangsung.
Reduksi hidrostatik telah sempurna jika media kontras mengalir bebas melalui katup ileocaecal ke ileum terminal. Reduksi berhasil
pada rentang 45-95% dengan kasus tanpa komplikasi.

Selain penggunaan fluoroskopi sebagai pemandu, saat ini juga dikenal reduksi menggunakan air (dilusi antara air dan kontras soluble
dengan perbandingan 9:1) dengan panduan USG. Keberhasilannya mencapai 90%, namun sangat tergantung pada kemampuan
expertise USG dari pelakunya. Teknik non pembedahan ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan reduksi secara
operatif. Diantaranya yaitu: penurunan angka morbiditas, biaya, dan waktu perawatan di rumah sakit.

Pneumatic Reduction
Reduksi udara pada intususepsi pertama kali diperkenalkan pada tahun 1897 dan cara tersebut telah diadopsi secara luas hingga akhir
tahun 1980. Prosedur ini dimonitor secara fluroskopi sejak udara dimasukkan ke dalam rectum. Tekanan udara maksimum yang aman
adalah 80 mmHg untuk bayi dan 110-120 mmHg untuk anak. Penganut dari model reduksi ini meyakini bahwa metode ini lebih cepat,
lebih aman dan menurunkan waktu paparan dari radiasi. Pengukuran tekanan yang akurat dapat dilakukan, dan tingkat reduksi lebih
tinggi daripada reduksi hidrostatik. Berikut ini adalah langkah-langkah pemeriksaannya: Kadang-kadang, reseksi usus segmental diperlukan jika reduksi tidak dapat dicapai
Sebuah kateter yang telah dilubrikasi ditempatkan ke dalam rectum dan direkatkan dengan kuat. atau usus nekrotik diidentifikasi setelah reduksi. Umumnya, ileum terminal yang
Sebuah manometer dan manset tekanan darah dihubungkan dengan kateter, dan udara dinaikkan perlahan hingga mencapai tekanan direduksi muncul kehitaman dan menebal pada palpasi. Penempatan spons yang
70-80 mmHg (maksimum 120 mmHg) dan diikuti dengan fluoroskopi. Kolum udara akan berhenti pada bagian intususepsi, dan hangat dan lembab selama beberapa menit dapat meningkatkan perfusi jaringan lokal,
dilakukan sebuah foto polos. sehingga, berpotensi menghindari reseksi bedah yang tidak perlu. Appendektomi
Jika tidak terdapat intususepsi atau reduksinya berhasil, udara akan teramati melewati usus kecil dengan cepat. Foto lain selanjutnya standar dilakukan jika dinding cecal berdekatan adalah normal (Gambar 15).
dibuat pada sesi ini, dan udara akan dikeluarkan duluan sebelum kateter dilepas.
Untuk melengkapi prosedur ini, foto post reduksi (supine dan decubitus/upright views) harus dilakukan untuk mengkonfirmasi Menutup
ketiadaan udara bebas. Setelah reduksi dicapai atau reseksi dilakukan (jika diperlukan) dan hemostasis
Reduksi yang sulit membutuhkan beberapa usaha lebih. Penggunaan glucagon (0.5 mg/kg) untuk memfasilitasi relaksasi dari usus dipastikan, penutupan fasia perut dilakukan di lapisan menggunakan benang
memiliki hasil yang beragam dan tidak rutin dikerjakan. absorbable 3-0. Kulit reapproximated dengan jahitan subcuticular 5-0 yang diserap.

TINDAKAN OPERATIF
Apabila diagnosis intususepsi yang telah dikonfirmasi oleh x-ray, mengalami kegagalan dengan terapi reduksi hidrostatik maupun PERAWATAN PASCA OPERASI
pneumatik, ataupun ada bukti nyata akan peritonitis difusa, maka penanganan operatif harus segera dilakukan. Pada kasus tanpa reseksi, Nasogastric tube berguna sebagai dekompresi pada saluran cerna selama 1-2 hari dan penderita tetap dengan
infus. Setelah oedem dari intestine menghilang, pasase dan peristaltik akan segera terdengar. Kembalinya fungsi intestine ditandai
Prosedur operatif: dengan menghilangnya cairan kehijauan dari nasogastric tube. Abdomen menjadi lunak, tidak distensi. Dapat juga didapati peningkatan
Insisi suhu tubuh pasca operasi yang akan turun secara perlahan. Antibiotika dapat diberikan satu kali pemberian pada kasus dengan reduksi.
Antibiotik intravena preoperatif profilaksis harus diberikan 30 menit sebelum insisi kulit. Pada kasus dengan reseksi perawatan menjadi lebih lama.
Pasien diposisikan terlentang dan sayatan kulit sisi kanan perut melintang dibuat sedikit lebih
rendah daripada umbilikus (Gambar 12). Sayatan bisa dibuat sejajar, di bawah atau di atas LO. 1.9. Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Intususepsi
umbilikus, tergantung pada derajat intususepsi. Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan ialah dengan tidak memberikan makanan padat selain asi pada bayi dibawah 6 bulan karena
sistem pencernaan dan daya tahan tubuh bayi belum sempurna. Vaksin rotavirus generasi lama diketahui dapat menimbulkan intususepsi
pada bayi/anak yang mendapatkannya. Akibatnya pemakaian vaksin ini kemudian dilarang. Vaksin rotavirus generasi yang baru telah
diantisipasi untuk tidak menyebabkan hal yang sama sebelum dipakai secara massal pada bayi dan anak. Tidak ada obat atau cara untuk
mencegah terjadinya intususepsi yang diketahui sampai saat ini.

ANINDYA ANJAS PUTRIAVI/1102014027 SKENARIO 3 BLOK EMERGENSI 4


LO. 1.10. Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Intususepsi DAFTAR PUSTAKA
Intususepsi dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah dehidrasi dan aspirasi dari emesis
yang terjadi. Iskemia dan nekrosis usus dapat menyebabkan perforasi dan sepsis. Nekrosis yang signifikan pada usus dapat menyebabkan Bines J, Ivanoff B. 2002. Acute Intussusception in Infants and Children: Incidence, Clinical Presentation and Management: A Global
komplikasi yang berhubungan dengan short bowel syndrome. Meskipun diterapi dengan reduksi operatif maupun radiografik, striktur Perspective. Geneva: World Health Organization
dapat muncul dalam 4-8 minggu pada usus yang terlibat. Blanco FC. Intussusception. Medscape Reference [serial online] Available from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/930708-
overview#showall
LO. 1.11. Memahami dan Menjelaskan Prognosis Intususepsi Chung DH. 2010. Intussusception in: Atlas of General Surgical Techniques. Philadelphia: Elsevier
Kematian disebabkan oleh intususepsi idiopatik akut pada bayi dan anak-anak sekarang jarang di negara maju. Sebaliknya, kematian terkait Fallan ME. 2005. Intussusception in Pediatric Surgery 4th ed. Philadelphia: WB Saunders Company
dengan intususepsi tetap tinggi di beberapa negara berkembang. Pasien di negara berkembang cenderung untuk datang ke pusat kesehatan Ignacio RC, Fallat ME. 2010. Intussusception. Philadelphia: Elsevier
terlambat, yaitu lebih dari 24 jam setelah timbulnya gejala, dan memiliki tingkat intervensi bedah, reseksi usus dan mortalitas lebih tinggi. International Child Health Review Collaboration. 2016. http://www.ichrc.org/943-obstruksi-usus-pada-bayi-dan-anak
Mortalitas secara signifikan lebih tinggi (lebih dari sepuluh kali lipat dalam kebanyakan studi) pada bayi yang ditangani 48 jam setelah Irish MS. Pediatric intussusception surgery. Medscape Reference [serial online] Available from: URL: http://emedicine.medscape.com/
timbulnya gejala daripada bayi yang ditangani dalam waktu 24 jam setelah onset pertama. Angka rekurensi dari intususepsi untuk reduksi article/937730-overview#showall
nonoperatif dan operatif masing-masing rata-rata 5% dan 1-4% Kartono D. 2003. Invaginasi in Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Tangerang: Binarupa Aksara
Ramachandran P. 2009. Intussusception in pediatric surgery diagnosis and management. Spinger: Dordrecht Heidelberg
Santoso MIJ, Yosodiharjo A dan Erfan F. 2011. Hubungan Antara Lama Timbulnya Gejala Klinis Awal Hingga Tindakan Operasi
Dengan Lama Rawatan Pada Penderita Invaginasi yang Dirawat di RSUP. H. Adam Malik Medan. Medan: Universitas Sumatera
Utara
Wyllie R. 1999. Ileus, adhesi, insusepsi dan obstruksi lingkar tertutup in Nelson Ilmu Kesehatan Anak 15th ed. Vol 2. Jakarta: EGC

ANINDYA ANJAS PUTRIAVI/1102014027 SKENARIO 3 BLOK EMERGENSI 5