Anda di halaman 1dari 13

IMMUNOSUPPRESSIVE

oleh Sub grup 3 :

1. Indra Gani (1602101020093)


2. Nurul Ala (1602101020146 )
3. Sri Rahmila Indris (1602101020057)
4. Rizka Triwulandari (1602101020084)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTERHEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2017
IMUNOSUPRESI PADA UNGGAS

Pengertian

Immunosuppression atau imunosupresi dapat dimaknai sebagai suatu


perubahan reaksi kekebalan dalam keadaan negatif sehingga respon tubuh ternak
terhadap masuknya benda asing menjadi berkurang atau bisa menjadi pemicu
serangan berbagai penyakit ke dalam tubuh ternak. Ketika imunosupresi
menyerang ayam maka akan menyebabkan 2 kerugian sekaligus, yaitu kerugian
karena faktor/agen immunosuppressive yang disebut immunosuppressant dan agen
penyakit lainnya yang menjadi lebih mudah masuk ke dalam tubuh ayam
(Medion, 2008).

Mekanisme Imunosupresi
Terjadinya imunosupresi akan ditunjukkan dengan adanya hambatan atau
gangguan pada satu atau lebih komponen sistem kekebalan tubuh. Mekanisme
terjadinya imunosupresi biasanya terjadi melalui 3 mekanisme yaitu :
1. Secara langsung mengganggu fungsi sistem kekebalan atau merusak
organ dan kelenjar limfoid primer (bursa Fabricius , thymus dan
Brown marrow) sekaligus organ/kelenjar limfoid sekunder (limfa,
proventrikulus, seka tonsil dll). Mekanisme ini biasanya disebabkan
serangan Gumboro, Mareks, reovirus, limfoid leukosis dan
aspergilosis
2. Merusak atau mengganggu fungsi dan sistem pertahanan yang bersifat
sekunder (limfa, proventrikulus, seka tonsil, sel harderian) karena
serangan penyakit swolen head syndrome, kolera, ILT dan snot
(korisa)
3. Menguras antibodi yang telah terbentuk dari hasil vaksinasi, biasa
disebabkan oleh serangan koksidiosis

Gambar 1. Ukuran normal dan atropi dari bursa Fabricius

Bursa Fabricius (salah satu organ limfoid primer) yang mengecil (atropi)
akibat terinfeksi virus Gumboro merupakan salah satu gejala spesifik adanya
kasus imunosupresi secara umum adanya imunosupresi ditunjukkan dari adanya :
Gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti adanya kegagalan vaksinasi
(meskipun vaksin yang digunakan berkualitas dan tata laksana vaksinasi
telah dilakukan dengan tepat), reaksi post vaksinasi meningkat (contoh
ayam nampak bersin-bersin dan muncul gejala gangguan lainnya setelah
vaksinasi ND), turun atau hilangnya keampuhan pengobatan bahkan
meningkatnya kasus penyakit yang tidak umum, seperti gangrenous
dermatitis, aplastic anemia atau inclusion body hepatitis
Meningkatnya penyakit yang menyerang saluran/sistem pernapasan yang
diikuti infeksi sekunder oleh bakteri

Gejala spesifik atau khusus dari munculnya imunosupresi ditunjukkan


dengan adanya kerusakan atau gangguan fungsi sel atau organ yang penting dalam
sistem kekebalan (sistem imunologi) tubuh. Organ tubuh yang penting dalam
sistem imunologi ialah bursa Fabricius dan thymus. Kerusakan kedua organ ini
akan mengakibatkan menipisnya atau hilangnya sel limfoid. Selain itu, jaringan
dan organ yang meliputi hati, limfa, sumsum tulang, kumpulan sel limfoid
mempunyai peranan yang penting dalam memelihara respon sistem kekebalan
tubuh ayam. Oleh karena itulah, saat terserang imunosupresi daya tahan tubuh
ayam terhadap serangan penyakit menjadi lemah dan respon vaksinasi menjadi
kurang optimal.
Secara keseluruhan, saat ayam terserang imunosupresi produktivitas ayam
menjadi tidak optimal, yaitu :
Berat badan rendah (di bawah standar) dan pertumbuhan tidak merata
Produksi telur cenderung berfluktuasi dan sulit mencapai puncak
produksi
Mortalitas cenderung tinggi bila terjadi infeksi penyakit
Feed conversion ratio (FCR) mengalami peningkatan

Penyebab Imunosupresi
Penyakit imunosupresi yang menyerang ayam dapat disebabkan oleh
bebeberapa faktor yaitu :
1. Agen penyakit (infeksius): Agen penyakit yang bersifat imunosupresi
antara lain mareks, avian leukosis, Gumboro, viral arthritis, avian
reticuloendotheliosis, chicken anemia dan adenovirosis.
a. Mareks
Mareks atau fowl paralysis, neurolymphomatosis, acute leukosis
merupakan suatu penyakit limfoproliferatif pada ayam yang sangat mudah
menular dan tersifat oleh adanya pembengkakan atau tumor limfoid pada berbagai
organ visceral, kulit, dan otot (Tabbu, 2000). Penyebabnya ialah virus herpes yang
memiliki struktur DNA. Sebagai penyakit imunosupresi, virus mareks
mempunyai target utama merusak sel limfosit T pembantu (Th), sel limfosit T
sitotoksik dan sebagian kecil sel limfosit B. Selain itu, terjadi pengecilan bursa
Fabricius, thymus dan limpa yang merupakan pabrik sel limfosit T dan B. Kasus
serangan mareks yang berat bisa menyebabkan degenerasi sumsum tulang
belakang yang menjadi awal pembentukan sel bakal bagi sel limfosit.
Gambar 2. Gambaran patologi anatomi pada penderita Mareks. a) dan h)
pembesaran syaraf, b) tumor pada paru, c dan d) pembesaran dan
tumor pada Bursa Fabricius, e) tumor pada hati, f) tumor pada otot,
g) tumor pada ginjal.

Gambar 3. Gejala klinis ayam yang berupa penderita Mareks. a) Neuritis pada
syaraf yang menyebabkan kelumpuhan spastik (unilateral),
b) dan c) lesi pada mata.

Seperti halnya mareks, avian leukosis merupakan penyakit tumor yang


menyebabkan kerusakan pada organ limfoid primer. Avian leukosis disebabkan
infeksi virus retrovirus yang mempunyai target utama merusak sel limfosit B
matang yang telah mempunyai Ig M terikat membran. Selain itu, adanya replikasi
retrovirus pada bursa Fabricius dan limpa menyebabkan kedua organ limfoid ini
menjadi kisut (atropi). Kerusakan kedua organ limfoid tersebut sekaligus
kerusakan sel limfosit B matang akan menyebabkan respon kekebalan humoral
menjadi terganggu.

b. Gumboro
Penyakit yang pertama kali terjadi di wilayah Gumboro, Delaware Amerika
Serikat ini menjadikan sel limfosit B dan makrofag serta organ limfoidnya sebagai
target utama infeksi. Sel limfosit B matang dan makrofag di jaringan usus menjadi
sel yang terlebih dahulu terinfeksi virus Gumboro. Kemudian virus Gumboro
secara sistematik menyebar sampai ke berbagai organ, terutama bursa Fabricius.

Gambar 4. Bursa Fabricius membesar dan disertai bintik-bintik perdarahan


menunjukkan adanya kerusakan jaringan yang parah sehingga respon
imun humoral terganggu

Gambar 5. Gejala klinis pada ayam. a) ayam tampak depresi, b) bulu di daerah
kloaka tampak kotor.

Virus Gumboro yang berkembang biak (replikasi) di bursa Fabricius akan


mengakibatkan rusaknya sel-sel limfosit B, terutama sel limfosit B matang,
bahkan pada kasus yang parah bisa juga merusak sel B prekursor. Akibatnya
proses pembentukan antibodi menjadi terhambat bahkan terhenti. Tidak hanya sel
limfosit B di bursa Fabricius yang terinfeksi virus Gumboro, makrofag juga
terinfeksi. Akibatnya makrofag akan mengalami perubahan sifat yang cenderung
bersifat detrimental (merugikan tubuh) seperti perdarahan berbagai jaringan dalam
tubuh ayam. Limpa terlihat sedikit membesar dan kongesti, sering ditemukan
bercak putih keabuan pada permukaanya. Pada organ timus terjadi perubahan
yang konsisten seperti pada bursa yaitu pada kasus awal umumnya membengkak
dan sangat kongesti atau seperti daging rebus, menebal serta terdapat jaringan ikat
gelatinous yang menutup permukaan, selanjutnya mengalami atropi.

Gambar 6. Patologi anatomi ayam yang terinfeksi virus IBD. a) dan b)


pembengkakan dan pembesaran bursa fabricious, c) pembengkakan
ginjaldisertai timbunan asam urat, d) perdarahan pada otot paha dan
dada.

c. Viral arthritis, avian reticuloendotheliosis dan chicken anemia

Gambar 7. Gejala klinis penderita VA. a) pembengkakan pada tendon fleksor


digitalis, b dan c) pembengkakan dan pembentukan jaringan fibrosis
pada telapak kaki.
Viral arthritis dan avian reticuloendotheliosis menyebabkan pengecilan
dan tidak berfungsinya bursa Fabricius maupun thymus terutama pada ayam
muda. Chicken anemia tidak secara spesifik merusak sel limfosit tetapi
mengakibatkan pengecilan atau kisutnya sumsum tulang dan organ limfoid maka
pembentukan sel awal dan sel yang berperan dalam kekebalan tubuh menjadi
terganggu.

d. Agen kimia
Agen kimia yang dapat mengakibatkan imunosupresi adalah toksin
atau racun jamur dan kandungan nutrisi yang kurang.
a. Mikotoksin
Mikotoksin atau racun jamur akan sangat mudah ditemukan
saat kondisi lingkungan lembab, terutama saat musim
penghujan. Selain itu ransum atau bahan baku ransum dengan
kadar air yang tinggi akan memicu tumbuhnya jamur yang
menghasilkan racun atau toksin. Jamur yang tumbuh pada
ransum dan bahan baku ransum dapat dengan mudah
dimatikan, namun tidak demikian dengan racun jamur yang
terbentuk. Racun itu sangat sulit untuk dihilangkan.

Racun jamur yang terkonsumsi oleh ayam biasanya tidak langsung


dikeluarkan dari tubuh, namun akan terakumulasi dan saat kadarnya telah
mencapai titik tertentu (batas normal) maka ayam akan mulai menunjukkan
gejala. Salah satunya ialah melemahnya sistem pertahanan tubuh ayam atau sering
disebut imunosupresi. Imunosupresi yang disebabkan oleh mikotoksin bersifat
kronis. Namun jika konsentrasi tinggi akan bersifat akut.Imunosupresi merupakan
gejala awal saat kadar mikotoksin relatif rendah, selanjutnya terjadi gangguan
metabolisme, timbul gejala klinis dan akhirnya timbul kematian.
Dari sekitar 300 jenis mikotoksin yang telah terdeteksi dari 100.000
spesies jamur, setidaknya ada 4 jenis mikotoksin yang bersifat imunosupresi pada
ayam, yaitu aflatoksin, ochratoksin, fumonisin dan trichothecenes (T2).
Aflatoksin dapat menyebabkan pengecilan bursa Fabricius, limpa maupun
thymus. Aflatoksin juga dapat merusak sel limfosit B, mengganggu fungsi fagosit
sel-sel fagositik serta menurunkan aktivitas fungsional dari komplemen.
Ocratoksin mengakibatkan atropi thymus, menghambat fungsi fagositosis sel-sel
heterofil fagositik dan menyebabkan penipisan sel limfosit T dan B. Atropi organ
limfoid dan kerusakan makrofag juga diakibatkan oleh adanya fumonisin
sedangkan trichothecenes mengakibatkan nekrose jaringan limfoid dan sumsum
tulang belakang.
Jagung merupakan bahan baku ransum yang rentan terkontaminasi
aflatoksin. Kadar aflatoksin di atas 50 pbb dapat menimbulkan efek imunosupresi.
Pastikan kadar air jagung < 14% dan simpan pada tempat yang tidak lembab.
Defisiensi nutrisi
Zat nutrisi yang terkandung dalam ransum, seperti energi, protein, vitamin dan
mineral memiliki peranan penting dalam sistem kekebalan (imunitas). Protein
sangat diperlukan untuk perkembangan organ limfoid. Bahkan beberapa asam
amino memiliki peranan langsung terhadap sistem kekebalan. Contohnya
metionin yang berperan meningkatkan aktivitas kerja thymus dan bursa Fabricius.
Kekurangan metionin akan mengakibatkan ayam kekurangan sel darah putih dan
ukuran bursa Fabricius menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran normalnya.
Ketersediaan lisin yang cukup dapat meningkatkan level Ig M dan Ig G yang
menentukan level/titer antibodi. Selain itu lisin juga digunakan untuk memelihara
sistem kekebalan dan sintesa imunoglobulin yang disekresikan lewat mukosa
usus. Arginin dan sistin juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh ayam.
Vitamin juga berperan sebagai kofaktor dalam alur proses pembentukan
antibodi. Vitamin C berfungsi memelihara stabilitas membran sel leukosit dan
mengoptimalkan aktivitas fagosit dari sel neutrofil. Vitamin yang spesifik
berperan dalam sistem kekebalan yaitu vitamin A yang berperan menjaga fungsi
normal membran mukosa dan perkembangan sel limfosit B; vitamin B6 berfungsi
dalam perkembangan dan pemeli-haraan jaringan limfoid; vitamin D3 diperlukan
untuk aktivitas makrofag dan level perlindungan cellular mediated immunity
(CMI) dan vitamin E melindungi struktur lipoprotein membran sel dan ikut dalam
proses pembentukan humoral mediated immunity (HMI) dan CMI.
Antibiotik over dosis
Beberapa antibiotik diduga bisa menyebabkan imunosupresi, diantaranya
tetrasiklin, sulfonamid, penisilin, chlorampenicol dan streptomisin. Guna
membuktikan hal tersebut Medion telah melakukan trial pengaruh pemberian
Sulfamix (sulfadimetilpirimidin) dan Medoxy-L (oksitetrasiklin) terhadap
pembentukan titer antibodi ND hasil vaksinasi menggunakan Medivac ND La
Sota.
Trial ini dilakukan pada ayam specific pathogen free (SPF) umur 9 minggu di
kandang SPF. Obat diberikan secara suntikan intramuskuler selama 5 hari
berturut-turut sebelum dilakukan vaksinasi ND. Dosis Sulfamix ialah 0,4 ml tiap
kg berat badan, sedangkan Medoxy-L diberikan dengan dosis 0,75-1 ml tiap 1-1,5
kg berat badan ayam. Vaksinasi ND dilakukan secara suntikan intramuskuler
dengan dosis 0,5 ml tiap ekor (1 dosis). Setelah vaksinasi dilakukan monitoring
titer antibodi ND pada 7, 13, 21, 27 dan 34 hari setelah vaksinasi.

Grafik 1 menunjukkan pemberian Sulfamix dan Medoxy-L tidak


menghambat pembentukan antibodi ND. Titer antibodi ND pada kelompok yang
diberi Sulfamix dan Medoxy-L lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang
tidak diobati dan divaksin. Pemberian obat sebelum vaksinasi ND akan
mengurangi jumlah bibit penyakit yang terdapat dalam tubuh ayam sehingga saat
divaksin ND reaksi pembentukan antibodinya menjadi lebih optimal.

e. Respon fisiologis
Ayam yang mengalami stres panas (heat stress) yang ditunjukkan ayam
melakukan panting menjadi salah satu penyebab melemahnya sistem kekebalan
tubuh sehingga lebih mudah terserang penyakit. Stres merupakan salah satu
bentuk respon fisiologis yang bersifat imunosupresi. Stres dingin atau panas (heat
stress), jumlah air minum yang terbatas, keramaian, pindah kandang, potong
paruh maupun ventilasi yang buruk melalui beberapa mekanisme yang berbeda
dapat menurunkan respon imun. Saat stres tubuh ayam akan merespon dengan
disekresikannya adeno corticotropin hormone (ACTH) oleh hipofisa anterior
dalam jumlah yang berlebihan. Peningkatan kadar ACTH ini akan memicu
korteks adrenalis untuk meningkatkan hormon kortisol sehingga mengakibatkan
penurunan jumlah maupun perubahan jenis leukosit, yaitu sel eosinofil, basofil
dan limfosit. Kondisi ini dapat diartikan saat stres sistem imun (kekebalan)
mengalami gangguan.

Pencegahan dan Penanganan


Teknik yang tepat untuk mencegah dan menangani munculnya
imunosupresi tergantung dari agen imunosupresannya. Namun pada intinya ialah
menghilangkan atau menekan agen imunosupresan yang ada disekitar ayam,
melalui :

Menerapkan konsep biosecurity secara ketat dan tepat. Lakukan desinfeksi


kandang secara rutin, minimal sekali seminggu. Cuci tempat ransum dan
air minum setiap hari dan lakukan desinfeksi setiap 3-4 hari dengan cara
direndam dalam larutan Medisep selama 30 menit. Desinfeksi air minum
dengan memakai Antisep, Neo Antisep atau Medisep
Terapkan tata laksana pemeliharaan yang baik. Pastikan kondisi kandang
nyaman untuk ditempati ayam. Perhatikan kondisi ventilasi udara, suhu
maupun kelembaban kandang. Atur kepadatan kandang dan pastikan
distribusi dan jumlah tempat ransum dan air minum sesuai dengan
populasi ayam
Lakukan vaksinasi sesuai dengan kasus penyakit yang menyerang.
Sesuaikan waktu vaksinasi dengan waktu serangan penyakit. Berikan
perhatian lebih pada penyakit-penyakit yang menimbulkan imunosupresi,
seperti Gumboro (Medivac Gumboro A, Medivac Gumboro B atau
Medivac Gumboro Emulsion). Perhatikan kualitas vaksin dan lakukan
tata laksana vaksinasi secara tepat. Berikan Medivac Gumboro A jika
serangan Gumboro terjadi pada umur 3 minggu dan jika serangan terjadi
umur lebih dari 3 minggu berikan Medivac Gumboro A atau Medivac
Gumboro B. Jika wabah disebabkan oleh virus Gumboro yang sangat
ganas (kematian > 5%) gunakan Medivac Gumboro A
Sebelum vaksinasi, bisa diberikan obat. Hanya saja yang perlu
diperhatikan ialah obat diberikan sesuai dosis dan aturan pakai.
Berikan ransum dan air minum yang berkualitas. Pastikan ransum tidak
menggumpal atau ditumbuhi jamur. Simpan ransum pada tempat yang
tidak lembab dan berikan alas pada tumpukan ransum. Lakukan uji kualias
secara rutin atau saat terjadi pergantian suplier. Berikan feed supplement
dengan kandungan vitamin, mineral dan asam amino (Fortevit, Vita
Stress) untuk mendukung stamina tubuh ayam tetap optimal

Saat terjadi serangan penyakit imunosupresi, beberapa hal yang dapat


dilakukan :

Hilangkan atau tekan faktor yang menyebabkan imunosupresi


Berikan vitamin, elektrolit dan asam amino (Fortevit, Vita Stress, Vita
Strong) untuk meningkatkan stamina tubuh ayam. Pada kasus Gumboro
berikan air minum plus gula (2-5%) untuk meningkatkan stamina tubuh
ayam
Jika diperlukan dapat diberikan obat untuk menekan adanya infeksi
sekunder oleh bakteri. Hanya saja yang perlu kita ingat bersama, dosis dan
aturan pakai pemberian obat harus disesuaikan dengan yang tertera di
kemasan produk Imunosupresi dapat menimbulkan kerugian yang besar,
baik yang disebabkan oleh agen imunosupresan maupun agen penyakit
lain yang menjadi lebih mudah menyerang ayam.
DAFTAR PUSTAKA

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN. dan KESWAN. 2014. Manual


penyakit unggas. penerbit Subdit pengamatan penyakit hewan direktorat
keswan, Jakarta.
Medion. 2008. Info Medion Edisi Juni : Immunosuppressive.
http://info.medion.co.id/artikel.html?catid=0&id=86. [22 Agustus 2017].
Medion. 2014. Info Medion Edisi Agustus: Imunosupresi pada Ayam Broiler.
https://info.medion.co.id/component/content/article.html?id=1324:imunos
upresi-pada-ayam-broiler. [22 Agustus 2017].
Tabbu, C.R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya : Penyakit Bakterial,
Mikal, dan Viral Volume 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.