Anda di halaman 1dari 4

Cerpen:

Wanita Senja Baya, Jojo, dan Aku


Oleh: Lisda Ariani Simabur
Seperti biasa setelah kuliah selesai aku menuju halte di jalan raya menunggu angkot untuk pulang
kerumah.Siang ini sangat terik.Matahari seakan sedang menari-nari di atas sana. Menunjukkan
kalau dialah sang kuasa langit di siang hari. Keringat dikepalaku terus mengucur. Jilbab putihku
sudah basah.Gerah.Ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah.Meminum air yang tersedia di
kulkas.

Sambil menunggu angkot, aku memerhatikan keadaan di sekelilingku. Di hadapanku terlihat


seorang wanita senjabayamemegangkarungkumal yang berisi kaleng dan botol bekas telah ia
kumpulkan dari tadi. Tak hanya karung kumal yang di genggam, tapi ia juga menggendong anak
kecil berusia dua tahun yang diam. Sepertinya anak itua dalah cucunya.Wanita senja baya dan
cucunya telah menarik perhatianku, mataku terus mengawasi gerak tangannya, kulitnya kusam,
tubuhnya kurus, dan rambutnya sudah ubanan.Sketsa rupa yang keriput tidak menghalanginya
untuk terus mengais sampah.Bisa kutaksir usianya sudah seperdua abad, 50-an. Dia terus
mengumpulkan kaleng dan botol bekas.Lalu memasukkan kedalam karung kumal yang terus
dibawanya.Aku terbuai memerhatikan tingkahnya sehingga ketiggalan angkot.Mau tak mau aku
harus menunggu angkot berikutnya. Heee! NenekTua..!!!! kasimi cepat karungmu sama saya!
bentak seorang lelaki berbadan besar dan berkulit hitam kearah wanita senja baya itu. Lelaki
berkulit hitam itu juga pemulung. Sama seperti wanita senja baya itu.Tanpa perlawanan atau sikap
protes, wanita senja baya menyerahkan karung kumal kepadanya. Lelaki berbadan besar dan
berkulit hitam pun pergi meninggalkan wanita senja baya itu dan cucunya. Lelaki hitam itu menjauh
tanpa rasa salah. Dia telah merampas hasil kerja orang lain. Aku yang sedari tadi memerhatikan
mereka, merasa kesal terhadap sikap dan perilaku lelaki itu. Kenapa wanita senja baya itu tidak
melawan? Apa ia takut pada lelaki itu, karena ia wanita yang sudah senja baya yang tak ada lagi
daya dan upaya untuk member perlawanan?

AssalamuAllaikum. Salam terdengar dari suara seorang pengemis wanita muda yang menghampiri
wanita senja baya itu.

Waalaikum Salam jawab wanita senja baya.

Bu, saya pinjam dulu di cucuta Jojo setengah jam. Nanti saya kembalikan sekalian sama uang
setorannya 5000 rupiah, ucap wanita muda itu.

Tanpa banyak bicara, sang wanita tua menyerahkan cucunya, Jojo. Jojo tampak sedih dan menangis
ketika terlepas dari gendongan neneknya.

Ya Allah! Apakah benar aku lihat ini?

Kini mataku berbalik arah untuk memerhatikan wanita tadi yang sekarang menggendong jojo. Aku
menjadi penasaran apa yang bakalan ia lakukan. Dia membawa jojo kejalan yang kini dipenuhi
kendaraan. Lampu merah menyala tanda berhenti. Mataku terus mengawasi apa yang terpikirkan
olehku ternyata benar. Tak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta yang setiap harinya terekam di
layar Tv , pengemis yang menggendong anak dan meminta-minta dari kendaraan kekendaraan yang
lain juga ada di kotaku.

Ketika rasio tak lagi digunakan oleh manusia mencari uang demi sesuap nasi, maka akan hadir
kepalsuan. Jojo, anak belia itu jadi korban ganasnya kehidupan. Wanita muda itu telah menyusuri
lalu lintas yang berwarna merah. Diaberaksi dari angkot satu keangkot yang lain. Menyodorkan
gelas plastic bekas air minum mineral. Sambil memelas dengan ucapnya.

Pa! Bu! Uangta kodong, seratus rupiah mo! Kasian anakku dari tadi pagi belumpi makan
sampaisekarang, Tuturnya. Tentu dengan wajah yang sengaja dipermak sendu. Salah satu dari
penumpang angkot mengambil uang 1000 rupiah dari tas dan menaruhnya kedalam gelasplastik
Makasih di kembali suara pengemis itu terucap. Wanita muda itu pun pergi melanjutkan untuk
meminta-minta di angkot yang lain. Aku bersyukur kepada Allah, karena masih ada yang mau
memberikan uang kepada pengemis itu.Masih ada yang punya nurani. Masih ada yang tidak tega
melihat anak kecil mengelilingi lampu lalu lintas di siang hari yang terik.Jujur, aku kadang jengkel
dengan para pengemis yang kerjanya hanya meminta-minta. Kalau dilihat dari fisik, mereka
sebenarnya tidak layak mengemis bukankah Rasulullah tidak pernah ingin umat dan para
sahabatnya meminta-minta? Bukankah meminta-minta bukankah akan membuat seseorang malas
bekerja dan hanya mengharapkan belas kasih orang lain? Dan yang paling aku ingat adalah kata
guru agamaku. Beliau sering bilang kalau tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah. Ah..! yang
jelas aku bersyukur. Bukan karena pengemis itu berhasil mendapatkan uang, tapi karena jojo bias
cepat kembali kepelukan neneknya.

Suara jojo terus mengusikku. Seolah ia ingin memberitahu kalau ia tak sanggup lagi menantang
mentari yang panasnya makin garang. Emosiku tak tertahan. Tangisan jojo yang semakin menjadi-
jadi membuatku nekat melangkah. Kakiku bergerak menyebrang jalan menuju lampu lalu lintas.
Entahapa yang aku perbuat sekarang. Aku terkejut ketika mendekati pengemisitu. Bayi mungil yang
digendongnya terus histeris, jojo, bayi keci litu memekakkan telingaku. Keringatku semakin lancar.
Jilbab dan bajuku basah. Panas matahari tanpa ampun menghembaskan sinarnya. Sementara jojo,
anak berusia dua tahun itu seketika terdiam, tak ada lagi suara tangisannya. Akuburu-buru
mendekat, memegang tubuh mungil jojo. Tanganku menyentuh lehernya. Meyakinkan diri kalau jojo
tidak apa-apa. Aku takut sekali. Takut jika terjadi sesuatu pada Jojo. Tanpa berpikir panjang aku
merenggut jojo dari gendongan wanita muda itu ingin kumenyerahkan jojo kepada wanita senja
baya yang sedang berada di seberang jalan. Mataku memburu segala arah, mencari wanita senja
baya itu.

De Mauki apakan cucuku? Kenapa kita ambil dia dari wanita tadi? suaraku pelan itu terdengar
persis dibelakangku. Aku terkejut dengan pertanyaannya sebelum menjawab, aku menyerahkan jojo
yang lemas kepadanya.

Bu kita sadarkan apa yang kita lakukan sekarang? Kita tega sebagai nenek, biarkan cucuta
dibawa keliling dari angkot keangkot dengan cuaca sepanas ini? kali ini aku berbalik bertanya.
Wanita senja baya itu terdiam dan menatapku, tanpa berkedip. Aku heran dengan tatapan yang
penuh kesusahan. Maafbu! Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku tadi? ucapku dengan nada
bersalah. Kali ini bukan saja menatapku tapi wanita senja baya itu mengeluarkan air mata.
Memeluk jojo erat dan menciumnya jojo semakin lemah tak berdaya. Kasih saying wanita senja baya
itu terlihat jelas. Dia juga tidak tega jika jojo diarak dengan alas an mendapatkan uang. Cinta
seorang nenek yang kini mengharapkan cucunya untuk bias membuka mata terlihat jelas, wanita
senja itu memekik.

Jojo maafkan nenek. Nenek saying sama jojo tangan kanan ku bergerak menghentikan taksi yang
melintas aku menarik wanita senja baya itu yang terus memeluk Jojo.

Pak tolong antarkan kami kerumah sakit! pintaku kepada sopir taksi jalanan macet. Membuat aku
tak kuasa melihat adegan nenek dan cucu disampingku. Mengharukan! Aku tidak ingin tenggelam
dalam linang air mata. Sepasang mata wanita tua itu tatap lekat-lekat. Kutemu kan peta kesedihan
yang mirip dasar sebuah sumur yang keruh. Ada genangan lumpur, bongkahan karang di di sorot
mata wanita senja baya yang tajam menatap cucunya. Ahh! Seperti mengundangku untuk basah
kuyup air mata. Mentari yang sedari tadi memancarkan sinar teriknya, seakan lenyap dengan
sekejap. Diluar hujan merembes deras. Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat.
Kilat menjilat sambung-menyambung seperti ingin membakar langit. Halilintar bersahut-sahutan
tiada henti bagai ingin membelah dunia. Jojo yang tadinya pucat pasih tanpa membuka mata, kini
mulai siuman. Wajahnya menoleh kea rah wanita senja baya. Kini bibir kecil itu menyunggingkan
senyuman manis terakhirnya. Seakan memberitahukan kebahagiaan selama dua tahun bersama
neneknya. Sebentuk ucapan terima kasih yang telah mau merawatnya. Senyum terakhir yang terukir
itu kini telah pergi selamanya dan abadi menemui Rabb.

Penulis adalah mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Angkatan 2006, KOSMIK (Korps mahasiwa ilmu
komunikasi)
Puisi

Renungan di Akhir Malam


Getaran irama waktu, telah sampai di penghujung malam
Yang sesak oleh bintang-bintang pucat dan awan-awan hitam
Nada-nada selanjutnya membawakanku dalam sepotong lirik kelam
tentang mimpi buruk di tengah kemarau siang tadi
ketika gagak-gagak hitam dan tikus-tikus kotor berlari
berebut menggerogoti seonggot bangkai basi
namun benarkah itu mimpi?
Atau hanya merasa bahwa aku telah bermimpi?
Dan jika aku telah benar-benar bermimpi,
mengapa ia lebih nyata dari kenyataan yang telah benar-benar nyata?
Awan-awan hitam itupun menguap dilemanya telah terlelap
namun aku kembali terjebak dalam simpul kusut sang malam
dalam tumpukan garis-garis kelam lalu kucoba tuk kembali
melihat kea rah dalam dari dalam diriku
yang paling dalam dan kutemukan hatiku telah hampa nuraninya
telah tiada lalu apa artinya hidup tanpa nurani?
Bukankah maut akan lebih berarti?
Awan-awan hitam itupun kembali menguap.
Menyisakan sehelai garis putih pada simpul kusut
yang ikut terlelap kurentangkan ia dengan seribu harap
hingga terurai sebentuk jalan kebenaran
ingin kuukir ia di pasir ketaatan namun kutahu,
segera ia kan kembali pupus oleh jilatan ombak-ombak rakus
maka biarlah ia kembali menguap bersama awan-awan hitam
yang kan turun sebagai hujan di akhir malam

Rahmatan Idul
Penulis adalah Mahasiswa sastra Inggris Angkatan 2006