Anda di halaman 1dari 10

LI.1.

Memahami dan Menjelaskan Trauma Kepala Pada gambaran radiologis akan terlihat suatu area double density lebih radio opaque karena ada bagian
Epidemiologi tulang yang tumpang tindih.
1) Orang
Menurut Data CDC (1997), di Amerika Serikat penderita trauma kapitis untuk laki-laki kira-kira dua kali lebih 2) Basilar
tinggi daripada perempuan dengan IR penderita laki-laki 91,9 per 100.000 penduduk dan IR perempuan 47,7 Yaitu fraktur yang terjadi pada tulang yang membentuk dasar tengkorak
per 100.000 penduduk.27 Menurut Miller (2004) anak-anak < 15 tahun berisiko untuk mengalami trauma a. Fraktur Basis Cranii Fossa Anterior
kapitis (33%) dan berumur > 65 tahun 70-88%.28 Angka kematian pada pasien yang berusia 15-24 tahun yaitu Bagian posteriornya dibatasi oleh os. sphenoid, prosessus clinoidalis anterior dan jugum sphenoidalis.
32,8 kasus per 100.000 orang dan tingkat kematian pada pasien yang sudah berusia lanjut ( 65 tahun) adalah Manifestasi klinisnya: Ekimosis periorbita bisa bilateral dan disebut brill hematoma atau racoon eyes,
sekitar 31,4 orang per 100.000 orang.11 Menurut penelitian Junandar Siahaan (2000) di RS. Santa Elisabeth anosmia jika cedera melibatkan N. Olfctorius, Rhinorrea.
Medan, proporsi penderita trauma kapitis terbanyak pada kelompok umur 17-24 tahun (23,8%).29 b. Fraktur basis cranii Foss Media
2) Tempat Bagian anteriornya langsung berbatasan dengan fossa anterior sedangkan bagian posteriornya dibatasi
Penelitian Tagliaferri et al di Eropa (2006), rata-rata kematian akibat trauma kapitis sekitar 15 kasus per oleh yamida os petrosus, os tempoalis, prosesus clinoidalis posterior dan dorsum sella. Manifestasi
100.000 dan CFR yaitu 11 per 100.30 Penelitian Kleiven di Swedia (1987-2000) terdapat 22.000 pasien trauma klinisnya: ecchimosis pada mastoid (battle sign), otorrhea, hemotympanum (bila membran tympaninya
kapitis menunjukkan IR tahunan sebesar 229 per 100.000 penduduk.31. Di Norwegia IR trauma kapitis pada robek), kelumpuhan N.VII dan N. VIII (terutama jika garis frakturnya transversal terhadap aksis
tahun 2005-2006 mengalami penurunan menjadi 83,3 per 100.000 penduduk. Penurunan ini dapat dilihat mulai pyramida petrosus). Carotid-cavernosusfistula (CCF) yang ditandai dengan chymosis, sakit kepala,
dari tahun 1974 IR trauma kapitis yaitu 236 per 100.000 penduduk menjadi 200 per 100.000 pada tahun 1979 adanya bruit, exophtalmus yang berdenyut.
1980, dan menjadi 169 per 100.000 penduduk pada tahun 1993. Di Australia pada tahun 1996-1997 terdapat c. Fraktur Basis Cranii Fossa posterior
IR penderita trauma kapitis sebesar 149 per 100.000 penduduk. Kelompok umur yang berisiko tinggi Merupakan dasar ari kompartment infratentorial. Sering tidak disertai gejala dan tanda yang jelas, tetapi
mengalami trauma kapitis yaitu 15-19 tahun (284 per 100.000) dan anak-anak pada umur 0-4 tahun (244 per dapat segera menyebabkan kematian karena penekanan terhadap batang otak. Kadang-kadang terdapat
100.000). Kelompok umur yang berisiko rendah untuk terkena trauma kapitis yaitu 45-64 tahun (69 per battles sign
100.000). Menurut penelitian Arifin di RS. dr. Hasan Sadikin Bandung (februari-April 2008) terdapat 120
kasus trauma kapitis. Dari seluruh kasus terdapat 95 orang (79,2%) dengan trauma kapitis sedang dan 25 orang 2. Lesi Intrakranial
(20,8%) dengan trauma kapitis berat. 1)Fokal
3) Waktu Merupakan kerusakan yang melibatkan bagian-bagian tertentu dari otak, bergantung pada mekanisme
Di Inggris, menurut Thornhill S dkk (2000) terdapat 71% penderita trauma kapitis yang berumur > 14 tahun.35 cedera yang terjadi.
Di Amerika Serikat, menurut Centers for Disease Control and Prevention (2002-2006) terdapat 1,7 juta orang a. Epidural Hematom (EDH)
yang mengalami trauma kapitis setiap tahunnya dengan CFR 3,1%, dan dirawat dirumah sakit sebesar 16,2%. Relatif jarang ( 0,5 %) dari semua cedera otak dan 9 % dari penderita yang mengalami koma. EDH
Trauma kapitis adalah faktor penyumbang ketiga (30,5%) dari semua kematian terkait trauma di Amerika terletak di luar dura tetapi di dalam rongga tengkorak dan cirinya berbentuk bikonveks atau
Serikat. Menurut Dawodu (2004), IR trauma kapitis ringan di Amerika Serikat yaitu 131 kasus per 100.000 menyerupai lensa cembung. Sering terletak di area temporal atau temporoparietal yang dan biasanya
penduduk, IR trauma kapitis sedang 15 kasus per 100.000 penduduk, dan IR trauma kapitis berat 14 kasus per disebabkan oleh robeknya a. Meningea media akibat fraktur tulang tengkorak. A. Meningea media ini
100.000 penduduk.11 Di Indonesia, menurut Depkes RI tahun 2007 cedera menempati urutan ke-7 pada 10 masuk dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara duramater dan tulang di
penyakit utama penyebab kematian terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit dengan CFR 2,94% dan permukaan dalam os temporale. Pada fase awal biasanya penderita tidak menunjukkan gejala dan
pada tahun 2008 menempati urutan ke-6 dengan CFR 2,99%.1 Menurut penelitian Lusiyawati di Rumah Sakit tanda. Baru setelah hematom bertambah besar akan terlihat tanda pendesakan dan peningkatan
Pandan Arang Boyolali (2009), dari sepuluh kasus penyakit yang terbanyak terdapat 32,28% trauma kapitis, tekanan intrakranial.
yang terbagi menjadi 20,05% trauma kapitis ringan, 9,12% trauma kapitis sedang, 2,11% trauma kapitis berat. Penderita akan mengalami sakit kepala, mual dan muntah diikuti dengan penurunan kesadaran. Gejala
neurologik yang terpenting adalah pupil anisokor, bahkan pelebaran pupil unilateral akan mencapai
Klasifikasi maksimal dan reaksi cahaya akan menjadi negatif. Pada tahap akhir, kesadaran akan menurun sampai
A. Berdasarkan Morfologi koma dalam, pupil kontralateral juga mengalami pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak
1. Fraktur Kranium menunjkkan reaksi cahaya lagi yang merupakan tanda kematian. Ciri khas hematom epidural murni
Tanda, seperti ekimosis periorbital (racoon eyes sign), ekimosis retroeurikuler (battle sign), kebocoran CSS adalah adanya lucid interval. Tapi jika disertai cedera pada otak, lucid interval tidak akan terlihat.
(rhinorrhea, otorrhea), paresis N. VII dan kehilangan pendengaran yang dapat timbul segera atau beberapa Lucid interval adalah hilangya kesadaran pada awal trauma, kemudian pasien sadar lagi (tenang) dan
hari pascatrauma. disusul dgn koma. EDH ini merupakan emergensi bedah saraf. Terapinya hanya dengan operasi.
Klasifikasinya:
1) Kalvaria b. Subdural Hematom
a. Fraktur linear (garis) Hematom ini disebabkan oleh trauma otak yang menyebabkan robeknya vena didalam ruang arachnoid
Merupakan garis fraktur tunggal pada tulang tengkorak yang meliputi seluruh ketebalan tulang. Bila (vena-vena kecil di permukaan korteks serebri). Pembesaran hematom akibat robeknya vena
fraktur linear melibatkan rongga udara perinasal maka ada kemungkinan untuk timbulnya rinorea atau memerlukan waktu yang lama. Lebih sering terjadi (30 % cedera kepala berat) akibat robeknya.
otau otorea LCS. Biasanya perdarahan menutupi seluruh permukaan hemisfer otak. Hemtom subdural dibagi menjadi
b. Fraktur Diastase hematom subdural akut bila gejala timbul pada hari pertama sampai hari ketiga, subakut bila timbul
Adalah fraktur yang terjai pada sutura sehingga terjadi pemisahan sutura kranial. Sering terjadi pada antara hari ketiga hingga minggu ketiga, dan kronik bila timbul sesudah minggu ketiga. Hematom
anak dibawah usia 3 tahun. subdural akut dan kronik memberikan gambaran klinis suatu proses desak ruang (space occupying
c. Fraktur communited lession) yangprogresif sehingga tidak jarang diangap sebagai neoplasma atau demensia.
Fraktur dengan dua atau lebih fragmen fraktur Penanggulangannya terdiri atas trepanasi dan evekuasi hematom. Biasanya kerusakan otak di bawahnya
d. Fraktur Depressed lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk dari EDH.
Adalah fraktur dengan tabula eksterna pada satu atau lebih tepi fraktur tergeer dibawah tingkat dari
tabula interna tulang tengkorak utuh sekelilingnya. Fraktur jenis ini terjadi bila energi benturan relatif
besar terhadap area benturan yang relatif kecil, misalnya benturan oleh kayu, batu, pipa besi, martil.

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)


c. Kontusio dan Hematom Intraserebral (ICH) Tingkat kesadaran dinilai dengan Glasgow Coma Scale (GCS). Penilaian ini harus dilakukan secara
Hematom Intraserebral Adalah hematom yang terbentk pada jaringan otak (parenkim) sebagai akibat periodik untuk menilai perbaikan atau perburukan keadaan pasien. Tingkat kesadaran tidak akan terganggu
dari adanya robekan pembuluh darah. Terutama melibatkan lobus frotal dan temporal (80-90%) tetapi jika cedera hanya terbatas pada satu hemisfer otak, tetapi menjadi progresif memburuk jika kedua hemisfer
juga dapat melibatkan korpus callosum, batang otak, dan ganglia basalis. Gejala dan tanda tergantung mulai terlibat, atau jika ada proses patologis akibat penekanan atau cedera pada batang otak.
ukuran dan lokasi hematom. Pada CT-Scan terlihat gambaran hiperdens yang homogen dan berbatas Respon
tegas. Disekitar lesi akan disertai edem perifokal. Jika hematom tersebut berdiameter kurang dari 2/3 5 tahun 2-5 tahun 0-2 tahun
Verbal
diameter lesi,maka keadaan tersebut kontusio. Kontusio ini terjadi (20-30% dari cedera otak berat) dan
sebagian besar terjadi di lobus frontal dan lobus temporal. Kontusio serebri dapat dalam beberapa jam Orientasi baik dan mampu Meyebutkan kata-kata yang
5 Menangis kuat
atau hari berubah menjadi ICH yang membutuhkan tindakan operasi. Hal ini timbul pada lebih kurang berkomunikasi sesuai
20% dari penderita dan cara mendeteksi terbaik adalah dengan mengulang CT-Scan dalam 12-24 am Disorientasi tapi mampu Menyebutkan kata-kata yang
4 Menangis lemah
setelah CT-Scan pertama. Jika ICH ini disertai dengan SDH dan kontusio atau laserasi pada daerah yang berkomunikasi tidak sesuai
sama maka disebut burs lobe. Menyebutkan kata-kata yang Kadang-kadang
3 Menangis dan menjerit
tidak sesuai (kasar, jorok) menangis atau menjerit
2)Difusa Mengeluarkan suara
2 Mengeluarkan suara Mengeluarkan suara lemah
Merupakan suatu keadaan patologis penderita koma (penderita yang tidak sadar sejak benturan kepala dan lemah
tidak mengalami suatu interval lucid) tanpa gambaran SOL (space-occupying lession) pada CT-Scan atau 1 Tidak ada respon Tidak ada respon Tidak ada respon
MRI. Paling sering disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi sehingga terjadi
mekanisme akselerasi dan deselerasi. Angulasi, rotsi dan peregangan yang timbul menyebabkan robekan (2) Pupil dan Pergerakan Bola Mata, Termasuk Saraf Kranial
seraut saraf pada bebagai tempat yang sifatnya menyeluruh (difus). Penilaian pupil menunjukkan fungsi mesensefalon dan sangat penting pada cedera kepala, karena:
a. Konkusi Yaitu a. Bagian kepala yang mengendaikan kesadaran seara antomis terletak berdekatan dengan pusat yang
Hilangnya kesadaran sementara setelah trauma kepala dan terjadi tanpa kerusakan struktur otak. mengatur reaksi pupil.
Konkusi ini berlangsung bbrp menit sampai beberapa jam, Setelah sadar pasien pusing dan bingung. b. Saraf yang mengendalikan reaksi pupil relatif resisten terhadap gangguan metabolik, sehingga bisa
Dapat terjadi hilangnya kesadaran yaitu: membedakan koma-metabolik atau koma struktural.
Hilangnya daya ingat setelah kejadian Amnesia post traumatic Reaksi okulosefalik (Dolls head eye phenomenon) dan reaksi terhadap tes kalori (okulovestibuler)
Hilangnya daya ingat sebelum kejadian Amnesia anterograde menunjukkan fungsi medula oblongata dan pons. Jangan melakukan pemeriksaan okulosefalik jika cedera
servikal beum dapat disingkirkan. Reaksi okulovestibuler lebih superior daripada reaksi okulosefalik.
b. Cedera Aksonal Difusa atau Diffuse axonal Injury (DAI) (3) Reaksi Motorik Berbagai Rangsang Dari Luar
Adanya kerusakan axon yang difus dalam hemisfer serebri, korpus callosum, batang otak, dan Kekuatan rangsangan yang dibutuhkan untuk memicu reaksi dari penderita (spontan, rangsangan
serebelum (pedenkulus). suara, nyeri atau tanpa respon) berbanding lurus dengan dalamnya penurunan kesadaran.
Awalnya kekuatan renggang pada saat benturan melebihi level ketahanan akson sehingga terjadi (4) Reaksi Motorik Terbaik
sobekan atau fagmentasi aksolemma, keteraturan susunan sitoskeleton akson menjadi rusak. Terjadi Gerakan bertujuan jelas
pada saat benturan, tetap ada yang memberi batas waktu dala 60 menit sejak kejadian. Kekuatan gerakan harus dinilai menjadi:
Aksolemma dan susunan membran pada awalnya masih utuh, walaupun susunan sistoskeleton o +5: kekuatan gerakan normal
terganggu. Penghantaran aksosplasma akan terbendung pada sistoskeleton yang menjadi kerusakan o +4: kekuatan gerakan mendekati normal
sehingga terjadi pembengkakan akson (retraction ball) yang pada akhirnya akan menyebabkan o +3: mampu melawan gravitasi
putusnya akson. o +2: dapat bergeser, tidak dapat melawan gravitasi
Gambaran DAI secara klinis ditandai dengan koma sejak kejadian. o +1: tampak gerakan otot, tapi belum bergeser
Klasifikasi: Gerakan bertujuan tidak adekuat
o Ringan: koma 6-24 jam. Jarang. Postur fleksor
o Sedang: koma > 24 jam. Paling sering. 45%. Tanpa tanda-tanda batang otak menonjol. Postur ekstensor
o Berat: koma > 24 jam. Mematikan. 36%. Diffise muscle flaccidity
(5) Pola Pernapasan
Patofisiologi Pernapasan merupakan suatu kegiatan sensorimotor terintegrasi dari keterlibatan berbagai saraf yang
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan O2 dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan dalam terletak pada hampir semua tingkat otak dan bagian atas spinal cord. Kerusakan pada berbagai tingkat
sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan O2, Jadi kekurangan aliran pada SSP akan memberikan gambaran pola pernapasan yang berbeda.
darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa.
Sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. b) Pemeriksaan penunjang
Kebutuhan glukosa 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 1. CT-Scan (dengan atau tanpa kontras)
75% akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral. Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha Mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan :
memenuhi kebutuhan melalui proses metabolic anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah pada Untuk mengetahui adanya infark/iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72 jam setelah injuri.
komosio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam. Lalu hal ini akan menyebaban asidosis 2. MRI
metabolic. Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
3. Cerebral Angiography
Diagnosis Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi edema,
a) Pemeriksaan fisik perdarahan dan trauma.
1. Neurologis 4. EEG (Elektroencepalograf)
(1) Tingkat Kesadaran Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)


5. X-Ray: Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis (perdarahan/edema), A. Primary Survey
fragmen tulang. 1. Airway
6. BAER: Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil Membersihkan jalan nafas dengan memperhatikan kontrol servikal. Pasang servikal collar untuk
7. PET: Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak immobilisasi servikal sampai terbukti tidak ada cedera servikal. Intubasi endotrakeal dini harus segera
8. CSF, Lumbal Pungsi: Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid dan untuk dilakukan pada penderita koma.
mengevaluasi/mencatat peningkatan tekanan cairan serebrospinal. 2. Breathing
9. ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenisasi) jika terjadi peningkatan Penderita diberikan ventilasi dengan oksigen 100 % sampai diperoleh hasil pemeriksaan analisis gas darah
tekanan intrakranial dan dapat dilakukan penyesuaian yang tepat terhadap FiO2. Penggunaan pulse oksimeter sangat bermanfaat
10. Kadar Elektrolit untuk memonitor saturasi O2 (target > 98%).
Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrkranial 3. Circulation
11. Screen Toxicologi Hipotensi merupakan petunjuk adanya kehilangan darah yang cukup berat, walaupun tidak selalu tampak
Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran jelas. Pada penderita yang hipotensi, harus segera distabiisasi untuk mencapai euvolemia, segera lakukan
pemberian cairan untuk mengganti volume yang hilang dengan perbandigan 3:1 (300 ml RL/100 mL darah
Tatalaksana yang hilang).
(Skema Triase) (1) Disability (Penilaian neurologis cepat)
A. Tatalaksana pasien dalam keadaan sadar (SKG=15) Tingkat kesadaran cara AVPU/GCS:
Simple Head Injury (SHI) A = alert.
Pada pasien ini, biasanya tidak ada riwayat penurunan kesadaran sama sekalidan tidak ada defisit neurologik, V = respon terhadap rangsangan verbal.
dan tidakada muntah. Tindakan hanya perawatanluka. Pemeriksaan radiologik hanya atasindikasi.Umumnya P = respon terhadap rangsangan nyeri.
pasien SHI boleh pulang dengan nasihat dan keluarga diminta mengobservasi kesadaran. Bila dicurigai U = tidak ada respon.
kesadaran menurun saat diobservasi, misalnya terlihat seperti mengantuk dan sulit dibangunkan, pasien harus Pupil:
segera dibawa kembali ke rumah sakit. 1. Ukuran.
Penderita mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah trauma kranioserebral dan saat diperiksa sudah 2. Reaksi cahaya.
sadar kembali. Pasien ini kemungkinan mengalami cedera kranioserebral ringan (CKR). (2) Exposure
Untuk mencari tanda-tanda trauma di tempat lain.
B. Tatalaksana pasien dengan penurunan kesadaran
Cedera kepala ringan (SKG = 13-15) B. Secondary Survey
Dilakukan pemeriksaan fi sik, perawatan luka, foto kepala, istirahat baring dengan mobilisasi bertahap sesuai 1. Cedera Kepala Ringan
dengan kondisi pasien disertai terapi simptomatis. Observasi minimal 24 jam di rumah sakit untuk menilai (1) Riwayat:
kemungkinan hematoma intrakranial, misalnya riwayat lucid interval, nyeri kepala, muntah-muntah, Nama, umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan
kesadaran menurun, dan gejala-gejala lateralisasi (pupil anisokor, refleksi patologis positif). Jika dicurigai Mekanisme cedera, waktu cedera, kesadaran setelah cedera, tingkat kewaspadaan
ada hematoma, dilakukan CT scan. Amnesia (Retrograde/antegrade), Sakit kepala (Ringan, sedang atau berat)
Cedera kepala sedang (SKG = 9-13) (2) Pemeriksaan Umum untuk menyingkirkan cedera sistemik
Urutan tindakan: (3) Pemeriksaan neurologis
a. Periksa dan atasi gangguan jalan napas (Airway), pernapasan (Breathing), dan sirkulasi(Circulation) (4) Radiografi tengkorak, servikal, dll sesuai indikasi
b. Pemeriksaan singkat kesadaran, pupil, tanda fokal serebral, dan cedera organ lain. Jika dicurigai fraktur (5) Pemeriksaan kadar alkohol darah dan zat toksik dalam urin
tulang servikal dan atau tulang ekstremitas lakukan fiksasi leher dengan pemasangan kerah leher dan atau (6) CT-Scan
fiksasi tulang ekstremitas bersangkutan (7) Kriteria Rawat:
c. Foto kepala, dan bila perlu foto bagian tubuh lainnya Amnesia post traumatika jelas (> 1jam )
d. CT scan otak bila dicurigai ada hematoma intrakranial Riwayat kehilangan kesadaran
e. Observasi fungsi vital, kesadaran, pupil, dan defisit fokal serebral lainnya. Penurunan tingkat kesadaran
Cederakepalaberat (SKG 3-8) Nyeri kepala sedang hingga berat
Pasien dalam kategori ini, biasanya disertai cedera multipel. Bila didapatkan fraktur servikal, segera pasang Intoksikasi alkohol atau obat
kerah fiksasi leher, bila ada luka terbuka dan ada perdarahan, dihentikan dengan balut tekan untuk Fraktur tengkorak
pertolongan pertama. Tindakan sama dengan cedera kranioserebral sedang dengan pengawasan lebih ketat Kebocoran CSS, Otorrhea, atau rinorrhea
dan dirawat di ICU.
Cedera penyerta yang jelas
Tidak punya orang serumah yang dapat bertanggung jawab
(Resiko Cedera Kepala)
RENDAH MODERAT TINGGI CT-Scan Abnormal atau tidak ada
Semua cedera tembus
Perubahan kesadaran (8) Kriteria pemulangan
Kesadaran rendah
Asimptomatis Sakit kepala progresif Tidak memenuhi kriteria rawat
Gejala fokal
Dizziness Intoksikasi alkohol/obat Diskusikan kemungkinan kembali kerumah sakit bila keadaan memburuk dan berikan lembaran
Penurunan kesadaran
Laserasi skalp Riwayat tidak sesuai observasi
Cedera penetrasi
Abrasi skalp perforasi tengkorak / fraktur depress Jadwalkan untuk kontrol ulang (1 minggu)
Fraktura depress
cedera wajah serius

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)


2. Cedera Kepala Sedang Dilakukan dengan menurunkan PCO2 dan akan menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah otak.
(1) Pemeriksan Awal: Sebaiknya dilakukan secara selektif dan hanya pada waktu tertentu. Umumnya, PCO 2 dipertahankan pada
(2) Sama dengan cedera kepala ringan tapi ditambah pemeriksaan darah sederhana dan EKG 35 mmHg atau lebih, karena PCO2 < 30 mmHg akan menyebabkan vasokonstriksi serebri berat dan akhirnya
(3) Pemerksaan CT-Scan untuk semua kasus dirawat untuk observasi iskemia otak. Hiperventilasi dalam waktu singkat (25-30 mmHg) dapat diterima pada keadaan deteriorasi
(4) Setelah dirawat: neurologis akut.
Pemeriksan neurologis periodik (tiap setengah jam) 3. Manitol
CT-Scan ulang pada hari ke-3 atau lebih awal bila ada perburukan atau akan dipulangkan Merupakan diuretik osmotik yang poten, digunakan untuk menurunkan TIK yang meningkat. Sediaan yang
Bila kondisi membaik (90%), dipulangkan dan kontrol dipoliklinik biasanya 2 minggu, 3 bulan, 6 tersedia adalah cairan dengan konsentrasi 20%. Dosis yang diberikan adalah 1 g/kg BB intravena. Jangan
bulan, dan bila perlu 1 tahun setelah cedera diberikan pada pasien yang hipotensi. Indikasinya adalah deteriorasi neurologis yang akut seperti terjadinya
Bila keadaan memburuk segera lakukan CT-Scan ulang dan penatalaksanaan sesuai protokol cedera dilatasi pupil, hemiparesis atau kehilangan kesadaran saat pasien observasi. Pada keadaan ini, berikan bolus
kepala berat manitol dengan cepat (dalam 5 menit) dan penderita langsung dibawa ke CT-Scan atau kamar operasi (bila
sebab telah diketahui dengan CT-Scan).
3. Cedera Kepala Berat 4. Furosemid
(1) Riwayat: Diberikan bersama manitol, dosis yang biasa diberikan adalah 0,3-0,5 mg/kgBB diberikan secara intravena,
Usia, jenis, dan saat kecelakaan. tapi jangan diberikan pada pasien hipovolemik.
Penggunaan alkohol dan obat-obatan. 5. Steroid
Pemberiannya tidak dianjurkan karena menurut beberapa penelitian tidak menunjukkan manfaat.
Perjalanan neurologis.
6. Barbiturat
Perjalanan tanda-tanda vital.
Bermanfaat menurunkan TIK yang refrakter terhadap obat-obatan lain. Tapi jangan diberikan pada keadaan
Muntah, aspirasi, anoksia, kejang. hipotensi dan hipovolemi
Riwayat peyakit sebelumnya, termasuk obat yang dipakai dan alergi. 7. Antikonvulsan
(2) Stabilisasi kardiopulmoner Epilepsi pascatrauma kadang terjadi, diduga berkaitan dengan kejang awal yang terjadi pada minggu
Jalan napas, intubasi dini pertama, perdarahan intrakranial, atau fraktur depresi. Fenitoin adalah obat yang biasa diberikan pada fase
Tekanan darah, normalkan segera dengan salin normal atau darah. akut. Dosis dewasa awalnya adalah 1 g intravena dengan kecepatan pemberian < 50 mg/menit dan dosis
Kateter Folley, NGT. pemeliharaannya adalah 100 mg/8 jam, dengan titrasi untuk mencapai kadar terapeutik serum. Pada pasien
Film diagnostik: Servikal, Abdomen, Perlvis, Tengkorak, dan Ekstremitas. dengan kejang lama, diazepam atau lorazepam digunakan digunakan sebagai tambahan sampai kejang
(3) Pemeriksaan Umum berhenti.
(4) Tindakan emergensi untuk cedera yang menyertai
Trakeostomi D. Tatalaksana Bedah (Tidak berlaku bila mati batang otak)
Tube dada Dilakukan bila ada:
Stabilisasi leher : kolar kaku, tong Gardner-Wells, dan traksi Interval lucid (bila CT tak tersedia segera)
Parasentesis abdominal Herniasi unkal (pupil/motor tidak ekual)
(5) Pemeriksaan neurologis Fraktura depress terbuka
Kemampuan membuka mata Fraktura depress tertutup > 1 tabula/1 cm
Respon motor Massa intrakranial dengan pergeseran garis tengah 5 mm
Respon verbal Massa ekstra aksial 5 mm, uni / bilateral
Reflek pupil #5 & #6 (<5 mm), tapi mengalami perburukan/sisterna basal terkompres
Okulosefalik (dolls) Massa lobus temporal 30 ml
Okulovestibuler (kalorik)
(6) Obat-obat terapeutik 1. Lesi Kulit Kepala
Na Bikarbonat Perdarahan dapat diatasi dengan penekanan, kauterisasi, atau ligasi pembuluh darah. Penjahitan, pemasangan
Manitol klips atau staples dapat dilakukan kemudian. Inspeksi secara cermat dilakukan untuk menemukan adanya fraktur
(7) Tes Diagnostik tengkorak atau benda asing. Adanya LCS menunjukkan robekan Dura.
CT-Scan 2. Fraktur Depresi Tengkorak
Ventrikulogram udara Fraktur ini mebutuhkan koreksi operatif bila tebal depresi lebih tebal dari ketebalan tulang di sekitarnya. CT-
Angiogram Scan berguna untuk menentukan dalamnya depresi tulang, ada-tidaknya perdarahan intrakranial atau kontusi.
3. Lesi Massa Intrakranial
C. Terapi Medikamentosa Cedera Otak Lesi harus dikeluarkan atau dirawat oleh seorang ahli bedah saraf. Tindakan kraniotomi darurat dilakukan pada
Tujuan utamanya adalah mencegah terjadinya kerusakan sekunder terhadap otak yang telah mengalami cedera. keadaan perdarahan intrakranial yang membesar dengan cepat dan mengancam jiwa.
1. Cairan Intravena
Diberikan secukupnya untuk resusitasi agar penderita tetap dalam keadaan normovolemia. Jangan Kompliksasi
memberikan cairan hipotonik. Penggunaan cairan yang mengandung glukosa dapat menyebabkan A. Komplikasi bedah
hiperglikemia yang berakibat buruk pada otak yang cedera. Karena itu, cairan yang dianjurkan adalah larutan 1. Hematoma Intrakranial
garam fisiologis atau Ringers Lactate. Dapat terjadi pada keadaan akut setelah cedera kepala atau delayed setelah beberapa waktu. Keberhasilan
2. Hiperventilasi pengobatan tergantung pada cepatnya diagnosis dan operasi evakuasi sesegera mungkin.
2. Hidrosefalus

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)


Diagnosisnya mutlak membutuhkan CT-Scan kepala, akan tampak pelebaran sistem ventrikel, termasuk 4) Pencegahan Tersier
pelebaran temporal horn, dan adanya periventrikular edema (terutama pada anterior horn). Jika terdiagnosis, Pencegahan tersier yaitu upaya mencegah terjadi komplikasi trauma kapitis yang lebih berat atau kematian.
maka harus dirujuk ke ahli bedah saraf untuk operasi diversi CSS (VP-shunt). Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan melakukan rehabilitasi yang tepat, pemberian pendidikan kesehatan
(1) Komunikan, timbul karena adanya gangguan penyerapan CSS pada rongga subarachnoid terutama pada sekaligus konseling yang bertujuan untuk mengubah perilaku (terutama perilaku berlalu lintas) dan gaya hidup
granulasi arachnoid. Gangguan timbul akibat adanya darah dalam rongga subarachnoid yang penderita. Rehabilitasi adalah bagian penting dari proses pemulihan penderita trauma kapitis. Tujuan dari
mengganggu aliran dan penyerapan CSS. rehabilitasi setelah trauma kapitis yaitu untuk meningkatkan kemampuan penderita untuk melaksanakan
(2) Nonkomunikan, timbul akibat penekanan oleh efek massa perdarahan yang terjadi, terhadap jalur aliran fungsinya di dalam keluarga dan di dalam masyarakat. Contoh dari rehabilitasi yaitu terapi peningkatan
CSS dalam sistem ventrikel, sehingga aliran CSS terbendung. kemampuan penderita untuk berjalan dan membantu penderita yang cacat akibat trauma kapitis untuk beradaptasi
3. Subdural Hematoma Kronis terhadap lingkungannya dengan cara memodifikasi lingkungan tempat tinggal sehingga penderita dapat
4. Cedera kepala terbuka melakukan kegiatan sehari-hari dengan mudah. Terapi kejiwaan juga diberikan kepada penderita yang mengalami
5. Kebocoran CSS gangguan psikologis, selain itu dukungan keluarga juga membantu proses penyembuhan psikis penderita.
Terutama menyertai fraktur basis. Pada proses penyembuhan luka, umumnya kebocoran tersebut akan
berhenti. Jika robekan durameter terjepit pada garis fraktur dan menyebabkan kebocoran terus-menerus, LI.2 Memahami dan Menjelaskan Fraktur Basis Cranii
maka perlu tindakan operatif. Fossa crania anterior : Melindungi lobus frontal cerebri, dibatasi di anterior oleh permukaan dalam os frontale,
batas superior adalah ala minor ossis spenoidalis. Dasar fossa dibentuk oleh pars orbitalis ossis frontale di lateral
B. Komplikasi non bedah dan oleh lamina cribiformis os etmoidalis di media. Permukaan atas lamina cribiformis menyokong bulbus
1. Kejang post traumatika olfaktorius, dan lubang-lubang halus pada lamini cribrosa dilalui oleh nervus olfaktorius. Pada fraktur fossa
Merupakan tanda cedera kortikal yang dapat timbul, baik secara dini, maupun lambat, dan biasanya terjadi Cranii anterior, lamina cribrosa os etmoidalis dapat cedera. Keadaan ini dapat menyebabkan robeknya meningeal
karena cedera vertikal atau kerusakan pada lobus frontal, temporal ataupun parietal. yang menutupi mukoperiostium. Pasien dapat mengalami epistaksis dan terjadi rhinnore atau kebocoran CSF
2. Infeksi yang merembes ke dalam hidung. Fraktur yang mengenai pars orbita os frontal mengakibatkan perdarahan
Infeksi pada cedera kepala umumnya disebabkan oleh kuman komensal yang berada di kulit (scalp). subkonjungtiva (raccoon eyes atau periorbital ekimosis) yang merupakan salah satu tanda klinis dari fraktur basis
Penggunaan antibiotika harus disesuaikan dengan dugaan empiris kuman penyebab. cranii fossa anterior
3. Gangguan Keseimbangan cairan dan elektrolit
Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan aksis hipotalamus-hipofise, sehingga produksi ADH Fossa Cranii media : Terdiri dari bagian medial yang dibentuk oleh corpus os sphenoidalis dan bagian lateral
berkurang, ditandai denganproduksi urin menjadi berlebihan (dewasa > 250 cc/jam, anak > 3 cc/kgBB/jam), yang luas membentuk cekungan kanan dan kiri yang menampung lobus temporalis cerebri. Di anterior dibatasi
osmolaritas urin yang rendah (50-150 Osm/L), berat jenis urin rendah (1.001-1,005), kadar natrium serum oleh ala minor os sphenoidalis dan terdapat canalis opticus yang dilalui oleh n.opticus dan a.oftalmica, sementara
normal atau meningkat, osmolaritas plasma meningkat, dengan fungsi adrenal yang normal bagian posterior dibatasi oleh batas atas pars petrosa os temporal. Dilateral terdapat pars squamous pars os
4. Gangguan Gastrointestinal temporal. Fissura orbitalis superior, yang merupakan celah antara ala mayor dan minor os sphenoidalis dilalui
Penderita cedera kepala akan mengalami peningkatan rangsang simpatik yang mengakibatkan gangguan oleh n.lacrimalis, n.frontale, n.trochlearis, n.occulomotorius dan n.abducens. Fraktur pada basis cranii fossa
fungsi pertahanan mukosa sehingga mudah terjadi erosi. Anisipasinya adalah dengan pemberian obat media sering terjadi, karena daerah ini merupakan tempat yang paling lemah dari basis Cranii. Secara anatomi
antagonis H-2 reseptor dan inhibitor pompa proton, seperti simetidin, ranitidin, dan omeprazole. kelemahan ini disebabkan oleh banyaknya foramen dan canalis di daerah ini. Cavum timpani dan sinus
5. Neurogenic Pulmonary Edema (NPE) sphenoidalis merupakan daerah yang paling sering terkena cedera. Bocornya CSF dan keluarnya darah dari
Jarang terjadi, umumnya menyertai cedera kepala yang berat. Mekanismenya: canalis acusticus externus sering terjadi (otorrhea). N. craniais VII dan VIII dapat cedera pada saat terjadi cedera
Peningkatan TIK yang cepat atau cedera langsung pada hipotalamus menyebabkan pelepasan rangsangan pada pars perrosus os temporal. N. cranialis III, IV dan VI dapat cedera bila dinding lateral sinus cavernosus
simpatik sehingga terjadi aliran darah yang meningkat ke paru-paru dengan peningkatan PCWP robek.
(Pulmonary Capillary Wedge Pressure) dan peningkatan permeabilitas kapiler di paru.
Pelepasan katekolamin yang akan mempengaruhi endotel kapiler (peningkatan permeabiitas alveolar) Fossa Cranii posterior melindungi otak otak belakang, yaitu cerebellum, pons dan medulla oblongata. Di
anterior fossa di batasi oleh pinggir superior pars petrosa os temporal dan di posterior dibatasi oleh permukaan
1) Pencegahan Primordial dalam pars squamosa os occipital. Dasar fossa Cranii posterior dibentuk oleh pars basilaris, condylaris, dan
Pencegahan Primordial ialah pencegahan yang dilakukan kepada orang-orang yang belum terkena faktor risiko squamosa os occipital dan pars mastoiddeus os temporal. Foramen magnum menempati daerah pusat dari dasar
yaitu berupa safety facilities: koridor (sidewalk), jembatan penyeberangan (over head bridge), rambu jalanan fossa dan dilalui oleh medulla oblongata dengan meningens yang meliputinya, pars spinalis assendens n.
(traffic signal); dan peraturan (law enforcement). accessories dan kedua a.vertebralis. Pada fraktur fossa Cranii posterior darah dapat merembes ke tengkuk di
bawah otot-otot postvertebralis. Beberapa hari kemudian, darah ditemukan dan muncul di otot otot trigonu
2) Pencegahan Primer posterior, dekat prosesus mastoideus. Membrane mukosa atap nasofaring dapat robek, dan darah mengalir keluar.
Pencegahan primer yaitu, upaya pencegahan sebelum peristiwa terjadi yang dirancang untuk mencegah faktor- Pada fraktur yang mengenai foramen jugularis n.IX, X dan XI dapat cedera.
faktor yang menunjang tejadinya trauma, seperti:\
a. Tidak mengemudi di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan. Epidemiologi
b. Penggunaan helm, sabuk pengaman (seat belt) Cedera pada susunan saraf pusat masih merupakan penyebab utama tingginya angka morbiditas dan mortalitas
c. Pengendalian/ pembatasan kecepatan kendaraan pada usia muda di seluruh dunia. Pada tahun 1998 sebanyak 148.000 orang di Amerika meninggal akibat berbagai
d. Membuat lingkungan yang lebih aman bagi manula dan anak-anak, seperti: meningkatkan penerangan seluruh jenis cedera. Trauma kapitis menyebabkan 50.000 kematian. Insiden rata-rata (gabungan jumlah masuk rumah sakit
rumah, lantai tidak licin, membuat pegangan pada kedua sisi tangga. dan tingkat mortalitas) adalah 95 kasus per 100.000 penduduk. Sebanyak 22% pasien trauma kapitis meninggal
akibat cederanya. Sekitar 10.000-20.000 kejadian cedera medulla spinalis setiap tahunnya. 5
3) Pencegahan Sekunder Lebih dari 60% dari kasus fraktur tulang tengkorak merupakan kasus fraktur linear sederhana, yang merupakan
Pencegahan sekunder yaitu upaya pencegahan saat peristiwa terjadi yang dirancang untuk mengurangi atau jenis yang paling umum, terutama pada anak usia dibawah 5 tahun. Fraktur tulang temporal sebanyak 15-48% dari
meminimalkan beratnya trauma yang terjadi. Pada pencegahan sekunder dilakukan diagnosis yang berupa seluruh kejadian fraktur tulang tengkorak, dan fraktur basis cranii sebesar 19-21%. Fraktur depresi antara lain
anamnesis, pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan neurologis, dan pemeriksaan radiologis frontoparietal (75%), temporal (10%), occipital (5%), dan pada daerah-daerah lain (10%). Sebagian besar fraktur
depresi merupakan fraktur terbuka (75-90%). Insiden fraktur tulang tengkorak rata-rata 1 dari 6.413 penduduk

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)


(0.02%), atau 42.409 orang setiap tahunnya. Sejauh ini fraktur linear adalah jenis yang banyak, terutama pada anak melibatkan banyak struktur neurovaskuler pada basis cranii, tenaga benturan yang besar, dandapat menyebabkan
usia dibawah 5 tahun di Amerika Serikat. kebocoran cairan serebrospinal melalui hidung dan telinga danmenjadi indikasi untuk evaluasi segera di bidang
bedah saraf.
Klasifikasi
Fraktur Temporal, dijumpai pada 75% dari semua fraktur basis Cranii. Terdapat 3 suptipe dari fraktur temporal Pemeriksaan Laboratorium
berupa longitudinal, transversal dan mixed. Tipe transversal dari fraktur temporal dan type longitudinal fraktur Sebagai tambahan pada suatu pemeriksaan neurologis lengkap, pemeriksaan darah rutin, dan pemberian tetanus
temporal ditunjukkan di bawah ini. toxoid (yang sesuai seperti pada fraktur terbuka tulang tengkorak), pemeriksaan yang paling menunjang untuk
(A)Transverse temporal bone fracture and (B)Longitudinal temporal bone fracture (courtesy of Adam Flanders, diagnosa satu fraktur adalah pemeriksaan radiologi.
MD, Thomas Jefferson University, Philadelphia, Pennsylvania)
Pemeriksaan Radiologi
1. Foto Rontgen: Sejak ditemukannya CT-scan, maka penggunaan foto Rontgen cranium dianggap kurang optimal.
Dengan pengecualian untuk kasus-kasus tertentu seperti fraktur pada vertex yang mungkin lolos dari CT-can dan
dapat dideteksi dengan foto polos maka CT-scan dianggap lebih menguntungkan daripada foto Rontgen kepala.
Di daerah pedalaman dimana CT-scan tidak tersedia, maka foto polos x-ray dapat memberikan informasi yang
bermanfaat. Diperlukan foto posisi AP, lateral, Townes view dan tangensial terhadap bagian yang mengalami
benturan untuk menunjukkan suatu fraktur depresi. Foto polos cranium dapat menunjukkan adanya fraktur, lesi
osteolitik atau osteoblastik, atau pneumosefal. Foto polos tulang belakang digunakan untuk menilai adanya
fraktur, pembengkakan jaringan lunak, deformitas tulang belakang, dan proses-proses osteolitik atau osteoblastik.
2. CT scan: CT scan adalah kriteria modalitas standar untuk menunjang diagnosa fraktur pada cranium. Potongan
slice tipis pada bone windows hingga ketebalan 1-1,5 mm, dengan rekonstruksi sagital berguna dalam menilai
cedera yang terjadi. CT scan Helical sangat membantu untuk penilaian fraktur condylar occipital, tetapi biasanya
A B
rekonstruksi tiga dimensi tidak diperlukan.
Fraktur longitudinal terjadi pada regio temporoparietal dan melibatkan bagian squamousa pada os temporal,
3. MRI (Magnetic Resonance Angiography): bernilai sebagai pemeriksaan penunjang tambahan terutama untuk
dinding superior dari canalis acusticus externus dan tegmen timpani. Tipe fraktur ini dapat berjalan dari salah
kecurigaan adanya cedera ligamentum dan vaskular. Cedera pada tulang jauh lebih baik diperiksa dengan
satu bagian anterior atau posterior menuju cochlea dan labyrinthine capsule, berakhir pada fossa Cranii media
menggunakan CT scan. MRI memberikan pencitraan jaringan lunak yang lebih baik dibanding CT scan.
dekat foramen spinosum atau pada mastoid air cells. Fraktur longitudinal merupakan yang paling umum dari tiga
suptipe (70-90%). Fraktur transversal dimulai dari foramen magnum dan memperpanjang melalui cochlea dan
Pemeriksaan Penunjang Lain
labyrinth, berakhir pada fossa cranial media (5-30%). Fraktur mixed memiliki unsur unsur dari kedua fraktur
Perdarahan melalui telinga dan hidung pada kasus-kasus yang dicurigai adanya kebocoran CSF, bila di dab dengan
longitudinal dan transversal. Namun sistem lain untuk klasifikasi fraktur os temporal telah diusulkan. Sistem ini
menggunakan kertas tissu akan menunjukkan adanya suatu cincin jernih pada tissu yang telah basah diluar dari
membagi fraktur os temporal kedalam petrous fraktur dan nonpetrous fraktur, yang terakhir termasuk fraktur
noda darah yang kemudian disebut suatu halo atau ring sign. Suatu kebocoran CSF juga dapat diketahui dengan
yang melibatkan mastoid air cells. Fraktur tersebut tidak disertai dengan deficit nervus cranialis.
menganalisa kadar glukosa dan mengukur tau-transferrin, suatu polipeptida yang berperan dalam transport ion Fe.
Fraktur condylar occipital (Posterior), adalah hasil dari trauma tumpul energi tinggi dengan kompresi aksial,
lateral bending, atau cedera rotational pada pada ligamentum Alar. Fraktur tipe ini dibagi menjadi 3 jenis
LI.3. Memahami dan Menjelaskan Fraktur Os. Nasal
berdasarkan morfologi dan mekanisme cedera. Klasifikasi alternative membagi fraktur ini menjadi displaced dan
Fungsi Hidung
stable, yaitu, dengan dan tanpa cedera ligamen. Tipe I fraktur sekunder akibat kompresi aksial yang akibatkan
1. Fungsi Respirasi
kombinasi dari kondilus oksipital. Ini merupakan jenis cedera stabil. Tipe II fraktur yang dihasilkan dari pukulan
Udara inspirasi masuk ke hidung menuju sistem respirasi melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka
langsung meskipun fraktur basioccipital lebih luas, fraktur tipe II diklasifikasikan sebagai fraktur yang stabil
media dan kemudian turun ke bawah kea rah nasofaring. Aliran udara di hidung ini berbentuk lengkungan atau
karena ligament alar dan membrane tectorial tidak mengalami kerusakan. Tipe III adalah cedera avulsi sebagai
arkus. Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hampir jenuh
akibat rotasi paksa dan lateral bending. Hal ini berpotensi menjadi fraktur tidak stabil.
oleh uap air, sehingga terjadi sedikit penguapan udara nspirasi oleh palut lendir, sedangkan pada musim dingin
akan terjadi sebaliknya. Suhu udara yang melalui hidung diatur sehingga berkisar 37C. Fungsi pengatur suhu
Patofisiologi
ini dimungkinkan oleh banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum
Suatu fraktur tulang tengkorak berarti patahnya tulang tengkorak dan biasanya terjadiakibat benturan langsung.
yang luas. Partikel debu, virus, bateri, dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring di hidung oleh : a)
Tulang tengkorak mengalami deformitas akibat benturan terlokalisir yang dapat merusak isi bagian dalam meski
rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, b) silia, c) palut lendir. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir
tanpa fraktur tulang tengkorak. Suatu fraktur menunjukkan adanya sejumlah besar gaya yang terjadi padakepala
dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin.
dan kemungkinan besar menyebabkan kerusakan pada bagian dalam dari isi cranium. Fraktur tulang tengkorak
dapat terjadi tanpa disertai kerusakan neurologis,dan sebaliknya, cedera yang fatal pada membran, pembuluh-
2. Fungsi Penghidu
pembuluh darah, dan otak mungkin terjadi tanpa fraktur. Otak dikelilingi oleh cairan serebrospinal,diselubungi oleh
Hidung juga bekerja sebagai indera penghidu dan pengecap dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga
penutup meningeal, dan terlindung di dalam tulang tengkorak.Selain itu, fascia dan otot-otot tulang tengkorak
hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara
manjadi bantalan tambahan untuk jaringan otak. Hasil uji coba telah menunjukkan bahwa diperlukan kekuatan
difusi dengan palut lendir atau bila menarik napas dengan kuat.Fungsi hidung untuk membantu indra pengecap
sepuluhkali lebih besar untuk menimbulkan fraktur pada tulang tengkorak kadaver dengankulit kepala utuh
adalah untuk membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai macam bahan, seperti perbedaan rasa manis
dibanding yang tanpa kulit kepala.Fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan hematom, kerusakan nervus
strawberi, jeruk, pisang, atau coklat. Juga untuk membedakan rasa asam yang berasal dari cuka dan asam jawa.
cranialis,kebocoran cairan serebrospinal (CSF) dan meningitis, kejang dan cedera jaringan(parenkim) otak. Angka
3. Fungsi Fonetik
kejadian fraktur linear mencapai 80% dari seluruh fraktur tulang tengkorak. Fraktur ini terjadi pada titik kontak dan
Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung kan
dapat meluas jauh dari titik tersebut. Sebagian besar sembuh tanpa komplikasi atau intervensi. Fraktur
menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau (rinolalia). Hidung membantu
depresimelibatkan pergeseran tulang tengkorak atau fragmennya ke bagian lebih dalam danmemerlukan tindakan
proses pembentukan kata-kata. Kata dibentuk oleh lidah, bibir, dan palatum mole. Pada pembentukan konsonan
bedah saraf segera terutama bila bersifat terbuka dimana fraktur depresi yang terjadi melebihi ketebalan tulang
nasal (m, n, ng) rongga mulut tertutup dan hidung terbuka, palatum mole turun untuk aliran udara.
tengkorak. Fraktur basis cranii merupakan fraktur yang terjadi pada dasar tulang tengkorak yang bisa
4. Refleks Nasal

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)


Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskular dan Fraktur nasal ditandai dengan laserasi pada hidung, epistaksis akibat robeknya membran mukosa. Jaringan lunak
pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan reflek bersin dan napas berhenti. Rangsangan bau tertentu hidung akan nampak ekimosis dan udem yang terjadi dalam waktu singkat beberapa jam setelah trauma dan
akan menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung, dan pankreas. cenderung nampak di bawah tulang hidung dan kemudian menyebar ke kelopak mata atas dan bawah. Deformitas
hidung seperti deviasi septum atau depresi dorsum nasal yang sangat khas, deformitas yang terjadi sebelum
Klasifikasi trauma sering menyebabkan kekeliruan pada trauma baru. Pemeriksaan yang teliti pada septum nasal sangatlah
Fraktur hidung dapat dibedakan menurut: penting untuk menentukan antara deviasi septum dan hematom septi, yang merupakan indikasi absolut untuk
1. Lokasi: tulang nasal (os nasale), septum nasi, ala nasi, dan tulang rawan triangularis. drainase bedah segera. Sangatlah penting untuk memastikan diagnosa pasien dengan fraktur, terutama yang
2. Arah datangnya trauma: meliputi tulang ethmoid. Fraktur tulang ethmoid biasanya terjadi pada pasien dengan fraktur nasal fragmental
- Dari lateral: kekuatan terbatas dapat menyebabkan fraktur impresi dari salah satu tulang nasal. Pukulan lebih berat dengan tulang piramid hidung telah terdorong ke belakang ke dalam labirin ethmoid, disertai remuk dan
besar mematahkan kedua belah tulang nasal dan septum nasi dengan akibat terjadi deviasi yang tampak dari melebar, menghasilkan telekantus, sering dengan rusaknya ligamen kantus medial, apparatus lakrimalis dan
luar. lamina kribriformis, yang menyebabkan rhinorrhea cerebrospinalis. Pada pemeriksaan fisis dengan palpasi
- Dari frontal: cederanya bisa terbatas hanya sampai bagian distal hidung atau kedua tulang nasal bisa patah ditemukan krepitasi akibat emfisema subkutan, teraba lekukan tulang hidung dan tulang menjadi irregular. Pada
dengan akibat tulang hidung jadi pesek dan melebar. Bahkan kerangka hidung luar dapat terdesak ke dalam pasien dengan hematom septi tampak area berwarna putih mengkilat atau ungu yang nampak berubah-ubah pada
dengan akibat cedera pada kompleks etmoid. satu atau kedua sisi septum nasal. Keterlambatan dalam mengidentifikasi dan penanganan akan menyebabkan
- Datang dari arah kaudal: relatif jarang deformitas bentuk pelana, yang membutuhkan penanganan bedah segera. Pemeriksaan dalam harus didukung
dengan pencahayaan, anestesi, dan semprot hidung vasokonstriktor. Spekulum hidung dan lampu kepala akan
Jenis memperluas lapangan pandang. Pada pemeriksaan dalam akan nampak bekuan darah dan/atau deformitas septum
1. Fraktur hidung sederhana nasal.
Jika hanya terjadi fraktur tulang hidung saja dapat dilakukan reposisi fraktur dengan analgesia lokal. Akan tetapi b. Pemeriksaan radiologis
pada anak-anak atau orang dewasa yang tidak kooperatif tindakan reposisi dilakukan dalam keadaan narkose Jika tidak dicurigai adanya fraktur nasal komplikasi, radiografi jarang diindikasikan. Karena pada kenyataannya
umum. Analgesia lokal dapat dilakukan dengan pemasangan tampon lidokain 1-2% yang dicampur dengan kurang sensitif dan spesifik, sehingga hanya diindikasikan jika ditemukan keraguan dalam mendiagnosa.
epinefrin 1: 1000. Tampon kapas yang berisi obat analgesia lokal ini dipasang masing-masing 3 buah pada setiap Radiografi tidak mampu untuk mengidentifikasi kelainan pada kartilago dan ahli klinis sering salah dalam
lubang hidung. Tampon pertama diletakkan pada meatus superior tepat di bawah tulang hidung, tampon kedua menginterpretasikan sutura normal sebagi fraktur yang disertai dengan pemindahan posisi. Bagaimanapun, ketika
diletakkan di antara konka media dan septum dan bagian distal dari tampon tersebut terletak dalam foramen ditemukan gejala klinis seperti rhinorrhea cerebrospinalis, gangguan pergerakan ekstraokular atau maloklusi. CT-
sfenopalatina. Tampon ketiga ditempatkan antara konka inferior dan septum nasi. Ketiga tampon tersebut scan dapat diindikasikan untuk menilai fraktur wajah atau mandibular.
dipertahankan selama 10 menit. Kadang kadang diperlukan penambahan penyemprotan oxymethazoline spray
beberapa kali, melalui rinoskopi anterior untuk memperoleh efek anestesi dan efek vasokonstriksi yang baik. Penatalaksanaan
2. Fraktur nasal kominunitiva Tujuan Penangananan:
Fraktur nasal dengan fragmentasi tulang hidung ditandai dengan batang hidung nampak rata (pesek); tulang a. Mengembalikan penampilan secara memuaskan
hidung mungkin dinaikkan ke posisi yang aman tetapi beberapa fragmen tulang tetap hilang. Bidai digunakan b. Mengembalikan patensi jalan nafas hidung
untuk memindahkan fragmen tulang ke posisi yang sebenarnya. Untuk tujuan tersebut beberapa kasa vaselin c. Menempatkan kembali septum pada garis tengah
dimasukkan ke dalam lubang hidung. d. Menjaga keutuhan rongga hidung
3. Fraktur tulang hidung terbuka e. Mencegah sumbatan setelah operasi, perforasi septum, retraksi kolumela, perubahan bentuk punggung hidung
Fraktur tulang hidung terbuka menyebabkan perubahan tempat dari tulang hidung tersebut yang juga disertai f. Mencegah gangguan pertumbuhan hidung
laserasi pada kulit atau mukoperiosteum rongga hidung. Kerusakan atau kelainan pada kulit dari hidung
diusahakan untuk diperbaiki atau direkonstruksi pada saat tindakan. Konservatif
4. Fraktur tulang nasoorbitoetmoid kompleks Penatalaksanaan fraktur nasal berdasarkan atas gejala klinis, perubahan fungsional dan bentuk hidung, oleh
Jika nasal piramid rusak karena tekanan atau pukulan dengan beban berat akan menimbulkan fraktur hebat pada karena itu pemeriksaan fisik dengan dekongestan nasal dibutuhkan. Dekongestan berguna untuk mengurangi
tulang hidung, lakrimal, etmoid, maksila dan frontal. Tulang hidung bersambungan dengan prossesus frontalis os pembengkakan mukosa. Pasien dengan perdarahan hebat, biasanya dikontrol dengan pemberian vasokonstriktor
maksila dan prossesus nasalis os frontal. Bagian dari nasal piramid yang terletak antara dua bola mata akan topikal. Jika tidak berhasil bebat kasa tipis, kateterisasi balon, atau prosedur lain dibutuhkan tetapi ligasi
terdorong ke belakang. Terjadilah fraktur nasoetmoid, fraktur nasomaksila dan fraktur nasoorbita. Fraktur ini pembuluh darah jarang dilakukan. Bebat kasa tipis merupakan prosedur untuk mengontrol perdarahan setelah
dapat menimbulkan komplikasi atau sekuele di kemudian hari. Komplikasi yang terjadi tersebut ialah: vasokonstriktor topikal. Biasanya diletakkan dihidung selama 2-5 hari sampai perdarahan berhenti. Pada kasus
akut, pasien harus diberi es pada hidungnya dan kepala sedikit ditinggikan untuk mengurangi pembengkakan.
Diagnosis Antibiotik diberikan untuk mengurangi resiko infeksi, komplikasi dan kematian. Analgetik berperan simptomatis
a. Anamnesis untuk mengurangi nyeri dan memberikan rasa nyaman pada pasien.
Rentang waktu antara trauma dan konsultasi dengan dokter sangatlah penting untuk penatalaksanaan pasien. Fraktur nasal merupakan fraktur wajah yang tersering dijumpai. Jika dibiarkan tanpa dikoreksi, akan
Sangatlah penting untuk menentukan waktu trauma dan menentukan arah dan besarnya kekuatan dari benturan. menyebabkan perubahan struktur hidung dan jaringan lunak sehingga akan terjadi perubahan bentuk dan fungsi.
Sebagai contoh, trauma dari arah frontal bisa menekan dorsum nasal, dan menyebabkan fraktur nasal. Pada Karena itu, ketepatan waktu terapi akan menurunkan resiko kematian pasien dengan fraktur nasal. Terdapat
kebanyakan pasien yang mengalami trauma akibat olahraga, trauma nasal yang terjadi berulang dan terus banyak silang pendapat mengenai kapan seharusnya penatalaksanaan dilakukan. Penatalaksanaan terbaik
menerus, dan deformitas hidung akan menyebabkan sulit menilai antara trauma lama dan trauma baru sehingga seharusnya dilakukan segera setelah fraktur terjadi, sebelum terjadi pembengkakan pada hidung. Sayangnya,
akan mempengaruhi terapi yang diberikan. Informasi mengenai keluhan hidung sebelumnya dan bentuk hidung jarang pasien dievaluasi secara cepat. Pembengkakan pada jaringan lunak dapat mengaburkan apakah patah yang
sebelumnya juga sangat berguna. Keluhan utama yang sering dijumpai adalah epistaksis, deformitas hidung, terjadi ringan atau berat dan membuat tindakan reduksi tertutup menjadi sulit dilakukan. Sebab dari itu pasien
obstruksi hidung dan anosmia. dievaluasi setelah 3-4 hari berikutnya. Tindakan reduksi tertutup dilakukan 7-10 hari setelahnya dapat dilakukan
b. Pemeriksaan fisik dengan anestesi lokal. Jika tindakan ditunda setelah 7-10 hari maka akan terjadi kalsifikasi.
Kebanyakan fraktur nasal adalah pelengkap trauma seperti trauma akibat dihantam atau terdorong. Sepanjang Setelah memastikan bahwa saluran napas dalam kondisi baik, pernapasan optimal dan keadaan pasien cenderung
penilaian awal dokter harus menjamin bahwa jalan napas pasien aman dan ventilasi terbuka dengan sewajarnya. stabil, dokter baru melakukan penatalaksaan terhadap fraktur. Penatalaksanaan dimulai dari cedera luar pada
Fraktur nasal sering dihubungkan dengan trauma pada kepala dan leher yang bisa mempengaruhi patennya trakea. jaringan lunak. Jika terjadi luka terbuka dan kemungkinan kontaminasi dari benda asing, maka irigasi diperlukan.

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)


Tindakan pembersihan (debridement) juga dapat dilakukan. Namun pada tindakan debridement harus dan ketidaksadaran yang terjadi dari saat terjadinya cedera. Sakit kepala yang sangat sakit biasa terjadi, karena
diperhatikan dengan bijak agar tidak terlalu banyak bagian yang dibuang karena lapisan kulit diperlukan untuk terbukanya jalan dura dari bagian dalam cranium, dan biasanya progresif bila terdapat interval lucid. Interval
melapisi kartilago yang terbuka. lucid dapat terjadi pada kerusakan parenkimal yang minimal. Interval ini menggambarkan waktu yang lalu
antara ketidak sadaran yang pertama diderita karena trauma dan dimulainya kekacauan pada diencephalic
Operatif karena herniasi transtentorial. Panjang dari interval lucid yang pendek memungkinkan adanya perdarahan yang
Untuk fraktur nasal yang tidak disertai dengan perpindahan fragmen tulang, penanganan bedah tidak dibutuhkan dimungkinkan berasal dari arteri.
karena akan sembuh dengan spontan. Deformitas akibat fraktur nasal sering dijumpai dan membutuhkan reduksi 2. Hemiparesis
dengan fiksasi adekuat untuk memperbaiki posisi hidung. Gangguan neurologis biasanya collateral hemipareis, tergantung dari efek pembesaran massa pada daerah
A. Teknik reduksi tertutup corticispinal. Ipsilateral hemiparesis sampai penjendalan dapat juga menyebabkan tekanan pada cerebral
Reduksi tertutup adalah tindakan yang dianjurkan pada fraktur hidung akut yang sederhana dan unilateral. kontralateral peduncle pada permukaan tentorial.
Teknik ini merupakan satu teknik pengobatan yang digunakan untuk mengurangi fraktur nasal yang baru 3. Anisokor pupil
terjadi. Namun, pada kasus tertentu tindakan reduksi terbuka di ruang operasi kadang diperlukan. Penggunaan Yaitu pupil ipsilateral melebar. Pada perjalananya, pelebaran pupil akan mencapai maksimal dan reaksi cahaya
analgesia lokal yang baik, dapat memberikan hasil yang sempurna pada tindakan reduksi fraktur tulang hidung. yang pada permulaan masih positif akan menjadi negatif. Terjadi pula kenaikan tekanan darah dan
Jika tindakan reduksi tidak sempurna maka fraktur tulang hidung tetap saja pada posisi yang tidak normal. bradikardi.pada tahap ahir, kesadaran menurun sampai koma yang dalam, pupil kontralateral juga mengalami
Tindakan reduksi ini dikerjakan 1-2 jam sesudah trauma, dimana pada waktu tersebut edema yang terjadi pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjukkan reaksi cahaya lagi yang merupakan tanda kematian.
mungkin sangat sedikit. Namun demikian tindakan reduksi secara lokal masih dapat dilakukan sampai 14 hari
sesudah trauma. Setelah waktu tersebut tindakan reduksi mungkin sulit dikerjakan karena sudah terbentuk Diagnosis
proses kalsifikasi pada tulang hidung sehingga perlu dilakukan tindakan rinoplasti estetomi. Deformitas hidung Dibawah tulang kranium terletak dura mater, yang terletak diatas struktur leptomeningeal, arachnoid, dan pia
yang minimal akibat fraktur dapat direposisi dengan tindakan yang sederhana. Reposisi dilakukan dengan mater, yang pada gilirannya, terletak diatas otak. Dura mater terdiri atas 2 lapisan, dengan lapisan terluar
cunam Walsham. Pada penggunaan cunam Walsham ini, satu sisinya dimasukkan ke dalam kavum nasi bertindak sebagai lapisan periosteal bagi permukaan dalam kranium. Seiring bertambahnya usia seseorang, dura
sedangkan sisi yang lain di luar hidung dia atas kulit yang diproteksi dengan selang karet. Tindakan manipulasi menjadi penyokong pada kranium, mengurangi frekuensi pembentukan perdarahan epidural. Pada bayi baru lahir,
dilakukan dengan kontrol palpasi jari. Jika terdapat deviasi piramid hidung karena dislokasi karena dislokasi kranium lebih lembut dan lebih kecil kemungkinan terjadinya fraktur. Perdarahan epidural dapat terjadi ketika
tulang hidung, cunam Asch digunakan dengan cara memasukkan masing-masing sisi (blade) ke dalam kedua dura terkupas dari kranium saat terjadi benturan. Dura paling menyokong sutura, yang menghubungkan berbagai
rongga hidung sambil menekan septum dengan kedua sisi forsep. Sesudah fraktur dikembalikan pada posisi tulang pada kranium. Sutura mayor merupakan sutura coronalis (tulang-tulang frontal dan parietal), sutura
semula dilakukan pemasangan tampon di dalam rongga hidung. Tampon yang dipasang dapat ditambah dengan sagitalis (kedua tulang parietal), dan sutura lambdoidea (tulang-tulang parietal dan oksipital). Perdarahan epidural
antibiotika. Perdarahan yang timbul selama tindakan akan berhenti, sesudah pemasangan tampon pada kedua jarang meluas keluar sutura. Regio yang paling sering terlibat dengan perdarahan epidural adalah regio temporal
rongga hidung. Fiksasi luar (gips) dilakukan dengan menggunakan beberapa lapis gips yang dibentuk dari huruf (70-80%). Pada regio temporal, tulangnya relatif tipis dan arteri meningea media dekat dengan skema bagian
T dan dipertahankan hingga 10-14 hari. dalam kranium. Insiden perdarahan epidural pada regio temporal lebih rendah pada pasien pediatri karena arteri
meningea media belum membentuk alur dalam skema bagian dalam kranium. Perdarahan epidural muncul pada
B. Teknik reduksi terbuka frontal, oksipital, dan regio fossa posterior kira-kira pada frekuensi yang sama. Perdarahan epidural muncul
Fraktur nasal reduksi terbuka cenderung tidak memberikan keuntungan. Pada daerah dimana fraktur berada kurang begitu sering pada vertex atau daerah para-sagital. Berdasarkan studi anatomi terbaru oleh Fishpool dkk,
sangat beresiko mengalami infeksi sampai ke dalam tulang. Masalah pada hidung menjadi kecil karena hidung laserasi arteri ini mungkin menyebabkan campuran perdarahan arteri dan vena. Perdarahan epidural jika tidak
mempunyai banyak suplai aliran darah bahkan pada masa sebelum adanya antibiotik, komplikasi infeksi setelah ditangani dengan observasi atau pembedahan yang hati-hati, akan mengakibatkan herniasi serebral dan kompresi
fraktur nasal dan rhinoplasti sangat jarang terjadi. Indikasi: batang otak pada akhirnya, dengan infark serebral atau kematian sebagai konsekuensinya. Karenanya, mengenali
1. Ketika operasi telah ditunda selama lebih dari 3 minggu setelah trauma. perdarahan epidural sangat penting.
2. Fraktur nasal berat yang meluas sampai ethmoid. Disini, sangat nyata adanya fragmentasi tulang sering
dengan kerusakan ligamentum kantus medial dan apparatus lakrimalis. Reposisi dan perbaikan hanya Pemerikaan Laboratorium
mungkin dengan reduksi terbuka, dan sayangnya hal ini harus segera dilakukan. Level hematokrit, kimia, dan profil koagulasi (termasuk hitung trombosit) penting dalam penilaian pasien dengan
3. Reduksi terbuka juga dapat dilakukan pada kasus dimana teknik manipulasi reduksi tertutup telah dilakukan perdarahan epidural, baik spontan maupun trauma. Cedera kepala berat dapat menyebabkan pelepasan
dan gagal. Pada teknik reduksi terbuka harus dilakukan insisi pada interkartilago. Gunting Knapp disisipkan tromboplastin jaringan, yang mengakibatkan DIC. Pengetahuan utama akan koagulopati dibutuhkan jika
di antara insisi interkartilago dan lapisan kulit beserta jaringan subkutan yang terpisah dari permukaan luar pembedahan akan dilakukan. Jika dibutuhkan, faktor-faktor yang tepat diberikan pre-operatif dan intra-operatif.
dari kartilago lateral atas, dengan melalui kombinasi antara gerakan memperluas dan memotong. Pada orang dewasa, perdarahan epidural jarang menyebabkan penurunan yang signifikan pada level hematokrit
dalam rongga kranium kaku. Pada bayi, yang volume darahnya terbatas, perdarahan epidural dalam kranium
LI.4. Memahami dan Menjelaskan Perrdarahan Intracranial meluas dengan sutura terbuka yang menyebabkan kehilangan darah yang berarti. Perdarahan yang demikian
Pada trauma kapitis dapat terjadi perdarahan intrakranial / hematom intrakranial yang dibagi menjadi hematom mengakibatkan ketidakstabilan hemodinamik; karenanya dibutuhkan pengawasan berhati-hati dan sering
yang terletak diluar duramater yaitu hematom epidural, dan yang terletak didalam duramater yaitu hematom terhadap level hematokrit.
subdural dan hematom intraserebral; dimana masing-masing dapat terjadi sendiri ataupun besamaan. Pencitraan
1. Epidural Hematoma Radiografi
Patofisiologi o Radiografi kranium selalu mengungkap fraktur menyilang bayangan vaskular cabang arteri meningea media.
Hematom epidural terjadi karena cedera kepala benda tumpul dan dalam waktu yang lambat, seperti jatuh atau Fraktur oksipital, frontal atau vertex juga mungkin diamati.
tertimpa sesuatu, dan ini hampir selalu berhubungan dengan fraktur cranial linier. Pada kebanyakan pasien,
perdarahan terjadi pada arteri meningeal tengah, vena atau keduanya. Pembuluh darah meningeal tengah cedera
o Kemunculan sebuah fraktur tidak selalu menjamin adanya perdarahan epidural. Namun, > 90% kasus
perdarahan epidural berhubungan dengan fraktur kranium. Pada anak-anak, jumlah ini berkurang karena
ketika terjadi garis fraktur melewati lekukan minengeal pada squama temporal.
kecacatan kranium yang lebih besar.
Gejala klinis
1. Interval lusid (interval bebas) CT-scan
Setelah periode pendek ketidaksadaran, ada interval lucid yang diikuti dengan perkembangan yang merugikan o CT-scan merupakan metode yang paling akurat dan sensitif dalam mendiagnosa perdarahan epidural akut.
pada kesadaran dan hemisphere contralateral. Lebih dari 50% pasien tidak ditemukan adanya interval lucid, Temuan ini khas. Ruang yang ditempati perdarahan epidural dibatasi oleh perlekatan dura ke skema bagian

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)


dalam kranium, khususnya pada garis sutura, memberi tampilan lentikular atau bikonveks. Hidrosefalus yang cepat. Saat ini, dengan teknik scan-cepat, eksplorasi jenis ini jarang dibutuhkan. Saat ini, pengeboran
mungkin muncul pada pasien dengan perdarahan epidural fossa posterior yang besar mendesak efek massa eksplorasi burholes disediakan bagi pasien berikut ini:
dan menghambat ventrikel keempat. Pasien dengan tanda-tanda lokalisasi menetap dan bukti klinis hipertensi intrakranial yang tidak mampu
o CSF tidak biasanya menyatu dengan perdarahan epidural; karena itu hematom kurang densitasnya dan mentolerir CT-scan karena instabilitas hemodinamik yang berat.
homogen. Kuantitas hemoglobin dalam hematom menentukan jumlah radiasi yang diserap. Pasien yang menuntut intervensi bedah segera untuk cedera sistemiknya.
o Tanda densitas hematom dibandingkan dengan perubahan parenkim otak dari waktu ke waktu setelah cedera. Hematom epidural adalah tindakan pembedahan untuk evakuasi secepat mungkin, dekompresi jaringan otak
Fase akut memperlihatkan hiperdensitas (yaitu tanda terang pada CT-scan). Hematom kemudian menjadi di bawahnya dan mengatasi sumber perdarahan. Biasanya pasca operasi dipasang drainase selama 2 x 24 jam
isodensitas dalam 2-4 minggu, lalu menjadi hipodensitas (yaitu tanda gelap) setelahnya. Darah hiperakut untuk menghindari terjadinya pengumpulan darah yamg baru.
mungkin diamati sebagai isodensitas atau area densitas-rendah, yang mungkin mengindikasikan perdarahan - Trepanasi kraniotomi, evakuasi hematom
yang sedang berlangsung atau level hemoglobin serum yang rendah. - Kraniotomi-evakuasi hematom
o Area lain yang kurang sering terlibat adalah vertex, sebuah area dimana konfirmasi diagnosis CT-scan
mungkin sulit. Perdarahan epidural vertex dapat disalahtafsirkan sebagai artefak dalam potongan CT-scan 2. Subdural Hematoma
aksial tradisional. Bahkan ketika terdeteksi dengan benar, volume dan efek massa dapat dengan mudah Klasifikasi
disalahartikan. Pada beberapa kasus, rekonstruksi coronal dan sagital dapat digunakan untuk mengevaluasi 1. Perdarahan akut
hematom pada lempengan coronal. Gejala yang timbul segera hingga berjam - jam setelah trauma.Biasanya terjadi pada cedera kepala yang cukup
o Kira-kira 10-15% kasus perdarahan epidural berhubungan dengan lesi intrakranial lainnya. Lesi-lesi ini berat yang dapat mengakibatkan perburukan lebih lanjut pada pasien yang biasanya sudah terganggu kesadaran
termasuk perdarahan subdural, kontusio serebral, dan hematom intraserebral dan tanda vitalnya. Perdarahan dapat kurang dari 5 mm tebalnya tetapi melebar luas. Pada gambaran skening
tomografinya, didapatkan lesi hiperdens.
MRI: perdarahan akut pada MRI terlihat isointense, menjadikan cara ini kurang tepat untuk mendeteksi
2. Perdarahan sub akut
perdarahan pada trauma akut. Efek massa, bagaimanapun, dapat diamati ketika meluas. (1)
Berkembang dalam beberapa hari biasanya sekitar 2 - 14 hari sesudah trauma. Pada subdural sub akut ini didapati
campuran dari bekuan darah dan cairan darah. Perdarahan dapat lebih tebal tetapi belum ada pembentukan
Terapi
kapsula di sekitarnya. Pada gambaran skening tomografinya didapatkan lesi isodens atau hipodens.Lesi isodens
Obat-obatan
didapatkan karena terjadinya lisis dari sel darah merah dan resorbsi dari hemoglobin.
Pengobatan perdarahan epidural bergantung pada berbagai faktor. Efek yang kurang baik pada jaringan otak
3. Perdarahan kronik
terutama dari efek massa yang menyebabkan distorsi struktural, herniasi otak yang mengancam-jiwa, dan
Biasanya terjadi setelah 14 hari setelah trauma bahkan bisa lebih.Perdarahan kronik subdural, gejalanya bisa
peningkatan tekanan intrakranial. Dua pilihan pengobatan pada pasien ini adalah:
muncul dalam waktu berminggu- minggu ataupun bulan setelah trauma yang ringan atau trauma yang tidak jelas,
(1) Intervensi bedah segera
bahkan hanya terbentur ringan saja bisa mengakibatkan perdarahan subdural apabila pasien juga mengalami
(2) Pengamatan klinis ketat, di awal dan secara konservatif dengan evakuasi tertunda yang memungkinkan.
gangguan vaskular atau gangguan pembekuan darah. Pada perdarahan subdural kronik, kita harus berhati hati
karena hematoma ini lama kelamaan bisa menjadi membesar secara perlahan-lahan sehingga mengakibatkan
Catatan bahwa perdarahan epidural cenderung meluas dalam hal volume lebih cepat dibandingkan dengan
penekanan dan herniasi. Pada subdural kronik, didapati kapsula jaringan ikat terbentuk mengelilingi hematoma,
perdarahan subdural, dan pasien membutuhkan pengamatan yang sangat ketat jika diambil rute konservatif. Tidak
pada yang lebih baru, kapsula masih belum terbentuk atau tipis di daerah permukaan arachnoidea. Kapsula
semua kasus perdarahan epidural akut membutuhkan evakuasi bedah segera. Jika lesinya kecil dan pasien berada
melekat pada araknoidea bila terjadi robekan pada selaput otak ini. Kapsula ini mengandung pembuluh darah
pada kondisi neurologis yang baik, mengamati pasien dengan pemeriksaan neurologis berkala cukup masuk akal.
yang tipis dindingnya terutama pada sisi duramater. Karena dinding yang tipis ini protein dari plasma darah dapat
Meskipun manajemen konservatif sering ditinggalkan dibandingkan dengan penilaian klinis, publikasi terbaru
menembusnya dan meningkatkan volume dari hematoma. Pembuluh darah ini dapat pecah dan menimbulkan
Guidelines for the Surgical Management of Traumatic Brain Injury merekomendasikan bahwa pasien yang
perdarahan baru yang menyebabkan menggembungnya hematoma. Darah di dalam kapsula akan membentuk
memperlihatkan perdarahan epidural < 30 ml, < 15 mm tebalnya, dan < 5 mm midline shift, tanpa defisit
cairan kental yang dapat menghisap cairan dari ruangan subaraknoidea. Hematoma akan membesar dan
neurologis fokal dan GCS > 8 dapat ditangani secara non-operatif. Scanning follow-up dini harus digunakan
menimbulkan gejala seprti pada tumor serebri. Sebagaian besar hematoma subdural kronik dijumpai pada pasien
untukmenilai meningkatnya ukuran hematom nantinya sebelum terjadi perburukan. Terbentuknya perdarahan
yang berusia di atas 50 tahun. Pada gambaran skening tomografinya didapatkan lesi hipodens
epidural terhambat telah dilaporkan. Jika meningkatnya ukuran dengan cepat tercatat dan/atau pasien
memperlihatkan anisokoria atau defisit neurologis, maka pembedahan harus diindikasikan. Embolisasi arteri
Patofisiologi
meningea media telah diuraikan pada stadium awal perdarahan epidural, khususnya ketika pewarnaan
Vena cortical menuju dura atau sinus dural pecahdan mengalami memar atau laserasi, adalah lokasi umum
ekstravasasi angiografis telah diamati. Ketika mengobati pasien dengan perdarahan epidural spontan, proses
terjadinya perdarahan. Hal ini sangat berhubungan dengan comtusio serebral dan oedem otak. CT Scan
penyakit primer yang mendasarinya harus dialamatkan sebagai tambahan prinsip fundamental yang telah
menunjukkan effect massa dan pergeseran garis tengah dalam exsess dari ketebalan hematom yamg berhubungan
didiskusikan diatas.
dengan trauma otak.
Terapi Bedah
3. Intraserebral Hematom
Berdasarkan pada Guidelines for the Management of Traumatic Brain Injury, perdarahan epidural dengan
Patofisiologi
volume > 30 ml, harus dilakukan intervensi bedah, tanpa mempertimbangkan GCS. Kriteria ini menjadi sangat
Hematom intraserebral biasanta 80%-90% berlokasi di frontotemporal atau di daerah ganglia basalis, dan kerap
penting ketika perdarahan epidural memperlihatkan ketebalan 15 mm atau lebih, dan pergeseran dari garis tengah
disertai dengan lesi neuronal primer lainnya serta fraktur kalvaria.
diatas 5 mm. Kebanyakan pasien dengan perdarahan epidural seperti itu mengalami perburukan status kesadaran
dan/atau memperlihatkan tanda-tanda lateralisasi. Lokasi juga merupakan faktor penting dalam menentukan
LI.5. Memahami dan Menjelaskan Trias Cushing
pembedahan. Hematom temporal, jika cukup besar atau meluas, dapat mengarah pada herniasi uncal dan
Patogenesis dan Patofisiologi
perburukan lebih cepat. Perdarahan epidural pada fossa posterior yang sering berhubungan dengan gangguan
Otak adalah pusat kendali tubuh. Itu juga dilindungi oleh tulang yang membentuk kubah tengkorak. Perlindungan
sinus venosus lateralis, sering membutuhkan evakuasi yang tepat karena ruang yang tersedia terbatas
ini, bagaimanapun, adalah pedang bermata dua. Meskipun tengkorak membantu melindungi otak dari cedera, juga
dibandingkan dengan ruang supratentorial. Sebelum adanya CT-scan, pengeboran eksplorasi burholes
bisa melukai otak dengan membatasi ekspansi jaringan setelah cedera. Semua jaringan menanggapi cedera dengan
merupakan hal yang biasa, khususnya ketika pasien memperlihatkan tanda-tanda lateralisasi atau perburukan
pembengkakan dan pendarahan. Sebagian besar perdarahan ini mikroskopis dan terjadi relatif lambat. Jaringan otak
tidak berbeda. Setelah cedera, otak akan membengkak. Namun, tidak seperti jaringan tubuh lainnya, otak terbatas

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)


dalam jumlah pembengkakan mungkin karena pembatasan fisik kubah tengkorak. Saat otak mulai membengkak,
bahkan hanya di wilayah sekitar saja, pada akhirnya akan mulai mengisi semua ruang yang tersedia dalam kubah
tengkorak. Ketika ini terjadi, tekanan dalam tengkorak mulai meningkat (TIK normal berkisar 5-15 mmHg). Edema
otak biasanya terjadi akibat tekanan kapiler meningkat atau kerusakan yang sebenarnya untuk dinding kapiler yang
memungkinkan mereka bocor. Bersamaan dengan membengkaknya otak, dua hal mulai terjadi.
1. Edema mulai menekan pembuluh darah yang mensuplai otak. Hasil kompresi ini dalam aliran darah berkurang
ke otak dan iskemia otak. Iskemia kemudian akan menyebabkan arteri yang menuju ke otak membesar,
menyebabkan peningkatan tambahan dalam tekanan kapiler dan peningkatan lebih lanjut dalam tekanan
intrakranial. Tekanan kapiler meningkat memperburuk edema
2. Penurunan aliran darah otak ke otak kemudian akan menurunkan pengiriman oksigen ke jaringan otak. Hal ini
akan mengurangi kemampuan kapiler di otak untuk berfungsi secara normal dan menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler dan kebocoran. Ketika sel-sel otak kehilangan pasokan energi mereka, pompa intraseluler
(pompa natrium/kalium) mulai gagal. Hal ini memungkinkan natrium untuk memasuki sel-sel otak, menyebabkan
edema seluler dan akhirnya kematian sel.
3. Aliran darah ke otak secara langsung berkaitan dengan tekanan perfusi serebral (CPP), yang dapat didefinisikan
sebagai berikut: Cerebral Perfusi Tekanan (CPP) = Tekanan Arteri Rata-rata (MAP) Tekanan intrak

LI.6. Memahami dan Menjelaskan Fraktur Le Fort III

DAFTAR PUSTAKA

Bates, B. 1997. Buku Saku Pemeriksaan Klinik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
De Jong, W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Efiaty A S, Nurbaiti I, Jenny B, dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok Kepala
dan Leher. Edisi ke-6. Cetakan ke-1. Jakarta: FKUI
Adam T.R et al. Nasal and Septal Fractures. Diunduh dari: http: //emedicine.medscape.com/article/878595.
19 September 2017.
Guyton. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC
Japardi I. 2004. Cedera Kepala. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer
Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika
Porth CM, Gaspard KJ. 2004. Essential of Pathophysiology. Philadelphia: Liipincott Williams & Wilkins
Price. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Penyakit Volume 1 dan 2. Jakarta: EGC

PBL Skenario 2 Anindya Anjas Putriavi (1102014027)