Anda di halaman 1dari 27

BAB II

LANDASAN TEORI

II.1 Akuntansi dan Laporan Keuangan

II.1.1 Pengertian Akuntansi

Menurut Abubakar Arif Wibowo (2008:1) Akuntansi (accounting)

merupakan proses identifikasi, pencatatan, dan komunikasi terhadap

transaksi ekonomi dari suatu entitas. Secara umum terdapat tiga aktivitas

dalam akuntansi, yaitu sebagai berikut:

1. Aktivitas identifikasi (identifying). Dalam aktivitas ini akan dilakukan

identifikasi terhadap transaksi yang terjadi dalam suatu entitas. Dari

proses ini akan dapat diklasifikasi apakah suatu transaksi merupakan

transaksi ekonomi/keuangan atau nonekonomi;

2. Aktivitas pencatatan (recording). Dalam aktivitas ini semua transaksi

ekonomi yang telah diidentifikasi pada tahap pertama akan dicatat

secara kronologis dan sistematis dengan ukuran nilai moneter tertentu;

3. Aktivitas komunikasi (communicating). Dalam aktivitas ini akan

dilakukan pelaporan dan distribusi terhadap informasi akuntansi yang

berupa laporan keuangan kepada para pemakai laporan keuangan.


Dalam hal ini pemakai laporan keuangan terdiri atas:

a. Pemakai di dalam perusahaan (internal user): manajemen dan

karyawan;

b. Pemakai di luar perusahaan (external user): kreditur, investor,

fiskus, dan lainnya.

Ada beberapa definisi lain mengenai akuntansi di mana masing-masing

definisi tersebut memandang akuntansi dari sudut yang berbeda. Dalam A

statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT) yang dikutip oleh

Sofyan Syafri Harahap (2011:5) , akuntansi diartikan:

Proses mengidentifikasikan, mengukur, dan menyampaikan

informasi ekonomi sebagai bahan informasi dalam hal

mempertimbangkan berbagai alternatif dalam mengambil

kesimpulan oleh para pemakainya.

Komite istilah American Institute of Certified Public Accounting

(AICPA) mendefinisikan akuntansi sebagai berikut :

Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan

pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter,

transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan

dan termasuk manafsirkan hasil-hasilnya.


Dari beberapa definisi diatas saya menyimpulkan pengertian akuntansi

adalah sebagai berikut:

Akuntansi adalah mengidentifikasi, mengukur, mencatat,

menggolongkan, mengikhtisarkan serta menyampaikan dengan cara

tertentu informasi akuntansi dan kejadian yang bersifat keuangan yang

akan digunakan untuk mengambil keputusan.

II.1.2 Pengertian Laporan Keuangan

Setelah transaksi dicatat dan dirangkum, laporan kemudian

disiapkan bagi para pengguna. Laporan akuntansi yang menyediakan

informasi ini disebut laporan keuangan (financial statements). Menurut

James M. Reeve, et al (2008:22) laporan keuangan utama bagi perusahaan

perseorangan adalah laporan laba rugi, laporan ekuitas pemilik, neraca,

dan laporan arus kas. Urutan laporan yang biasanya disiapkan dan

karakteristik data yang disajikan dalam setiap laporan adalah sebagai

berikut :

a. Laporan laba rugi (income statements) adalah ringkasan dari

pendapatan dan beban untuk suatu periode watu tertentu, seperti satu

bulan atau satu tahun.

b. Laporan ekuitas pemilik (statement of owners equity) adalah

ringkasan perubahan dalam ekuitas pemilik yang terjadi selama

periode waktu tertentu, seperti satu bulan atau satu tahun.


c. Neraca (Statement of Financial Position) adalah daftar aset,

kewajiban, dan ekuitas pemilik pada waktu tertentu, biasanya pada

tanggal terakhir dari bulan atau tahun tertentu.

d. Laporan arus kas (statement of cash flows) adalah ringkasan dari

penerimaan dan pembayaran kas untuk periode waktu tertentu, seperti

satu bulan atau satu tahun.

Tujuan Pelaporan Keuangan

Tujuan pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang:

1. Bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi dan kredit;

2. Membantu penilaian arus kas pada masa yang akan datang;

3. Membantu mengidentifikasi sumber daya perusahaan (aset),

kewajiban, serta perubahan kedua unsur tersebut.

Elemen-elemen Laporan Keuangan

Elemen-elemen laporan keuangan terdiri atas:

1. Harta (assets),

2. Kewajiban (liabilities),

3. Modal pemilik (net assets),

4. Investasi oleh pemilik (investment by owners),

5. Distribusi kepada pemilik (distribution to owners),


6. Pendapatan (revenue),

7. Biaya (expense),

8. Laba komprehensif (comprehensive income),

9. Laba (gain),

10. Rugi (loss).

II.2 Pengertian Sewa (Lease)

Menurut IAS 17 yang dikutip oleh Nelson (2009

:74) mendefinisikan sewa sebagai suatu perjanjian dimana lessor menyampaikan

kepada lessee dengan imbalan pembayaran atau serangkaian pembayaran hak

untuk menggunakan aset untuk jangka waktu yang disepakati.

Suatu entitas wajib menerapkan IAS 17 dalam akuntansi untuk semua sewa

selain berikut :

1. Sewa untuk mengeksplorasi atau menggunaka mineral, minyak, gas alam dan

yang sejenis non-regeneratif sumber daya, dan

2. Perjanjian lisensi untuk barang-barang seperti film-film, rekaman video,

drama,naskah, paten dan hak cipta.

Beberapa sewa harus diklasifikasikan sesuai dengan IAS 17, tapi mereka

tidak diukur sesuai dengan IAS 17. Dengan kata lain, IAS 17 tidak diterapkan

sebagai dasar pengukuran untuk sewa ini, termasuk yang berikut :


1. Properti yang dimiliki oleh lessee yang dicatat sebagai properti investasi

dengan IAS 40 Properti Investasi.

2. Invertasi properti yang disediakan oleh lessor sewa operasi yang akan dicatat

dengan IAS 40.

3. Aset Biologik yang dimiliki oleh penyewa melalui sewa pembiayaan.

4. Aset biologik yang disediakan oleh lessor sewa operasi.

IAS 17 berlaku untuk perjanjian yang mengalihkan hak untuk

menggunakan aset meskipun layanan sustantial oleh lessor dapat disebut untuk

sehubungan dengan operasi atau pemeliharaan aset tersebut. Bagaimanapun,

tidak berlaku untuk perjanjian yang kontrak untuk layanan yang tidak

mengalihkan hak untuk menggunakan aset dari satu pihak kontraktor dengan

pesanan.

Perkiraan perkiraan yang timbul apabila terjadinya transaksi leasing adalah:

a. Aset

Aset secara umum dapat merupakan sesuatu yang mempunyai bentuk fisik

atau dapat merupakan sesuatu hak menurut hukum, kedua-duanya

mempunyai nilai uang.

Aset mempunyai tiga sifat dasar yaitu:

1. Kemungkinan manfaat ekonomis masa depan

2. Dikendalikan oleh perusahaan


3. Sebagai akibat transaksi atau peristiwa-peristiwa masa lalu.

Jenis aset yang timbul pada saat terjadinya transaksi leasing adalah aset

tetap dan aktiva lancar. Aset tetap disini adalah berang atau peralatan yang

dileasing oleh penyewa, sedangkan aset lancar adalah berupa antara lain

biaya yang dibayar dimuka, yaitu untuk asuransi dibayar dimuka.

b. Kewajiban

Kewajiban adalah hutang perusahaan yang harus dipenuhi kepada kreditur.

Penyelesaian dilakukan perusahaan dimasa yang akan datang dalam bentuk

penyerahan aset atau pemberian jasa kewajiban timbul dari transaksi atau

peristiwa masa lalu. Kewajiban yang terjadi akibat transaksi leasing antara

lain hutang lease bagi lessee.

c. Pendapatan

Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa dan

pendapatan ini dikenal dengan sebutan yang berbeda-beda seperti

penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen, royalty, dan sewa.

Didalam transaksi leasing pendapatan dari transaksi tersebut diperoleh

perusahaan sewa (lessor) berupa pendapatan bunga lease.

d. Beban

Istilah beban dapat dinyatakan sebagai biaya yang secara langsung atau

tidak langsung telah dimanfaatkan dalam usaha menghasilkan pendapatan

dalam suatu periode atau yang sudah tidak memberikan manfaat ekonomis
untuk kegiatan masa berikutnya. Yang dimaksud dengan biaya adalah

pengorbanan ekonomis yang diperlukan untuk memperoleh barang dan

jasa. Beban mencakupi baik kerugian maupun beban yang timbul dalam

pelaksanaan aktivitas perusahaan yang bisa meliputi harga pokok

penjualan, gaji dan penyusutan. Dalam transaksi leasing beban yang timbul

antara lain beban pelasanaan lease dan beban asuransi yang ditanggung

oleh penyewa (lessee)

II.3 Klasifikasi Sewa

Entitas diperlukan untuk mengklasifikasikan sewa ke dalam sewa pembiayaan

atau sewa operasi. Definisi sewa yang dikutip Nelson (2009:75) adalah sebagai

berikut :

a. Sewa pembiayaan adalah sewa yang mengalihkan secara substantial seluruh

risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Mungkin atau tidak

mungkin akhirnya ditransfer.

b. Sewa operasi adalah sewa selain sewa pembiayaan.

Definisi sewa pembiayaan menyiratkan bahwa sewa diklasifikasikan sebagai

sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substantial seluruh

risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Jika sewa tidak

diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan, diklasifikasikan sebagai sewa

operasi karena tidak mengalihkan secara substantial seluruh risiko dan

manfaat yang terkait dengan kepemilikan.


Dari pengertian diatas, dapat dikatakan bahwa dasar utama

mengklasifikasikan lease adalah adanya transfer hak dan risiko pengguanaan

suatu aset. Apabila perjanjian dalam lease tersebut menyebutkan adanya

transfer hak ini, maka lessee akan menganggapnya sebagai sewa yang

sebenarnya melainkan sebagai penjualan dari harta dan ini dinamakan

financial lease/capital lease. Dan apabila dalam perjanjian lease tersebut

tidak menyebutkan adanya transfer hak ini, maka lessee dan lessor akan

mencatatnya sebagai operating lease, dan ini baru dianggap sebagai sewa

yang seharusnya.

Pada perkembangan selanjutnya dari klasifikasi leasing adalah semakin

rumit dan bermacam-macam, sehingga para ahli ekonomi/akuntansi merasa

perlu untuk mengadakan klasifikasi yang lebih lengkap dan terinci. Dalam

Financial Accounting Standar Board (FASB) No. 13 yang diterbitkan oleh

American Institute of Certified Public Accountants (AICPA)

mengklasifikasikan leasing untuk tujuan akuntansinya sebagai berikut:

Ditinjau dari segi lessor:

1. Capital Lease yang dibagi menjadi tiga tipe, yaitu :

a. Sales Type Lease

b. Direct Financing Lease

c. Leveraged Lease
2. Operating Lease

Ditinjau dari segi lessee:

1. Capital Lease (Financial Lease)

2. Operating Lease (True Lease)

Sales Type Lease

Merupakan financial lease juga tetapi dalam hal ini leased

property pada saat permulaan lease mempunyai nilai yang berbeda dengan

cost yang ditanggung oleh lessor, yaitu adanya perbedaan antara harga

pasar aset dengan harga perolehan nilai bukunya dan ini akan berakibat

dalam perhitungan laba atau rugi.

Lessor dalam hal ini biasanya merupakan suatu pabrikan

(produsen) atau dealer yang menggunakan lease sebagai salah satu jalur

pemasarannya. Dengan demikian selain biaya-biaya dan keuntungan-

keuntungan, maka terdapat pula unsur sales/dealer/manifacturers profit

sebagai hasil transaksi penjualan aset yang bersangkutan.

Direct Finance Lease

Merupakan salah satu bentuk dari finance leaseyang dibiayai

langsung oleh lessor. Ditinjau mengenai tarifnya, tiap pembayaran lease

terdiri dari bagian pengembalian investasi lessor dalam leased

propertytersebut ditambah dengan komponen ncome(keuntungan) yang


diharapkan. Dalam lease ini nilai wajar dari aset yang dilease pada

permulaan sewa sama besar dengan biaya untuk memperolehnya.

Leveraged Lease

Bentuk lease ini melibatkan tiga pihak yang berdiri sendiri, yakni

lessor, lessee dan credit provider atau debt paticipant atau disebut

juga equity participant yang menyediakan sumber pembaiayaan dalam

jumlah yang lebih besar dari dana yang merupakan bagian lessor sehingga

lebih mirip suatu pinjaman kepada lessee. Dalam hal ini lessor, tidak

bertanggung jawab atas dana dari pihak equity participant (bersifat non

recourse) apabila terjadi kelalaian atau kemacetan yang dilakukan oleh

pihak lessee, sehingga equity participant tersebut harus berupaya sendiri

terhadap lessee atau aset yang dilease itu sendiri untuk pelunasan

pembayaran pinjaman.

Opertaing Lease

Merupakan suatu kontrak, yaitu barang leasenya tidak

diamortisasikan sampai habis selama primary lease period, dan lessor

tidak mengharapkan profit semata-mata dari rental lease tersebut, tetapi

mengharapkan adanya recovery dari hasil penjualan barang itu atau

dengan menyewakan kembali barang itu kepada pihak yang berikutnya.


II.4 Dokumen-Dokumen yang Dipergunakan dalam Kontrak Sewa.

Dokumen-dokumen yang sering dipergunakan tersebut antara lain:

1. Surat Penawaran

Yaitu surat penawaran resmi yang dikirim lessor kepada lesse. Isi surat

penawaran antara lain mengenai jenis dan besarnya fasilitas, jangka waktu

penawaran, besarnya bunga, besarnya komisi, bentuk rental, dokumen-

dokumen yang dibutuhkan dan hal-hal lain yang dianggap perlu.

2. Pesanan Pembelian yang Dikonfirmasi

Yaitu surat pemesanan barang yang ditujukan kepada supplier, dibuat oleh

lessor dan ditandatangani oleh lessee.

3. Bukti Pengiriman dan Penerimaan

Yaitu surat tanda terima yang menyatakan bahwa lessee sudah menerima

barang dari supplier dalam kondisi yang baik dan sesuai dengan yang

dipesan.

4. Perjanjian Sewa

Yaitu dokumen-dokumen resmi dari perjanjian leasing antara lessor dan

lessee, berisi pasal-pasal mengenai hal-hal yang berhubungan dengan

kontrak leasing.
5. Sertifikat Pemilikan

Yaitu surat bukti kepemilikan atas aset yang menjadi obyek sewa dan

disimpan oleh lessor, karena secara hukum lessor adalah pemiliknya.

6. Surat Garansi

Yaitu surat jaminan yang berisi oleh pihak ketiga atas kredit yang diberikan

kepada lessee.

7. Polis Asuransi

Yaitu surat jaminan yang berisi jenis pertanggungan, masa berlaku polis,

pihak yang menerima ganti rugi dan nilai pertanggungan dari barang yang

diasuransikan. Dalam kontrak leasing disebutkan bahwa lessee adalah pihak

yang bertanggung jawab atas biaya asuransi.

8. Garansi Pembelian Kembali

Jaminan yang diberikan oleh supplier bahwa ia akan membeli kembali aset

lease apabila lease tidak bisa menyelesaikan kontrak leasingnya hingga

akhir masa kontrak.

9. Garansi Penjualan Kembali

Yaitu jaminan dari supplier bahwa ia sanggup menjualkan kembali barang

yang dilease jika kontrak leasing tidak dapat berlangsung sampai masa

kontraknya selesai.
10. Faktur

Yaitu surat tagihan yang dikirimkan pada lessee setiap bulan berisi besarnya

sewa yang harus dibayar dan tanggal jatuh temponya.

II.5 Keuntungan dan Kerugian Leasing

II.5.1 Keuntungan Leasing

Pembiayaan melalui leasing merupakan pembiayaan yang sangat

sederhana dalam prosedur dan pelaksanaannya dan oleh karena itu leasing

sebagai pembiayaan alternatif nampak lebih menarik. Sebagai suatu alternatif

sumber pembiayaan modal bagi perusahaan-perusahaan, maka leasing didukung

oleh keuntungan-keuntungan sebagai berikut :

1. Flexible, artinya struktur kontrak dapat disesuaikan dengan kebutuhan

perusahaan yaitu besarnya pembayaran atau periode lease dapat diatur

sedemikian rupa sesuai kondisi perusahaan;

2. Tidak diperlukan jaminan (agunan), karena hak kepemilikan sah atas aktiva

yang di lease serta pengaturan pemabayaran lease sesuai dengan

pendapatan yang dihasilkan oleh aktiva yang di lease sudah merupakan

jaminan bagi lease itu sendiri. Dengan demikian harta yang telah dijaminkan

untuk pinjaman tetap dapat menjamin pinjaman yang sudah ada;

3. On/Off Balance Sheet artinya barang modal dapat ditampilkan atau tidak

ditampilkan dalam neraca perusahaan, jadi seandainya merupakan

pembiayaan Off-balance sheet, maka pembayaran angsuran lease dapat


dianggap sebagai biaya operasi dan perbandingan hutang dengan modal

sendiri tidak terpengaruh sama sekali;

4. Capital Saving, yaitu tidak perlu menyediakan dana yang besar, maksimum

hanya down payment yang biasanya jumlahnya tidak terlalu besar, jadi

dalam hal ini merupakan suatu penghematan modal bagi pihak lessee, yaitu

lessee dapat menggunakan modal yang tersedia untuk keperluan lain, karena

leasing umumnya membiayai 100% barang modal yang dibutuhkan;

5. Keuntungan Cashflow, artinya besarnya pembayaran lease serta saat

pembyaran dapat disesuaikan dengan kondisi Cashflow perusahaan;

6. Cepat dalam pelayanan, artinya secara prosedur leasing lebih sederhana dan

relatif lebih cepat dalam realisasi pembiayaan bila dibandingkan dengan

kredit investasi dari bank. Jadi tanpa prosedur yang rumit itu memberikan

kemudahan bagi para pengusaha untuk memperoleh mesin-mesin dan

peralatan yang mutakhir untuk memungkinkan dibukanya suatu bidang

usaha produksi yang baru atau untuk memodernisasi perusahaan/pabrik yang

telah dimilikinya;

7. Pembayaran angsuran lease diperlukan sebagai biaya operasional, artinya

pembayaran lease langsung dihitung sebagai biaya dalam penentuan

laba/rugi perusahaan. Jadi, pembayarannya dihitung dari pendapatan

sebelum pajak, bukan dari laba yang telah terkena pajak;

8 Sebagai pelindung terhadap inflasi, artinya terhindar dari risiko penurunan

nilai uang yang disebabkan oleh insflasi, yaitu lessee sampai kapan pun akan
etap membayar dengan satuan moneter yang lalu terhadap sisa

kewajibannya;

9. Biaya-biaya tambahan selain harga perolehan dapat dianggap sebagai biaya

modal dan dapat disusutkan berdasarkan lamanya masa lease;

10. Dapat mengatasi kekhawatiran terhadap risiko tidak memadai, artinya dalam

keadaan yang serba tidak menentu, lessee tidak perlu mempertimbangkan

risiko pada tahap dini yang mungkin terjadi pada aktiva yang dilease;

11. Kemudahan dalam penyusunan anggaran tahunan bagi lessee, yaitu karena

adanya pembayaran lease berkala yang relatif tetap selama peroide leasing,

maka lessee dapat mengetahui dengan pasti jumlah lease rentalnya dan

dengan demikian menghindari risiko atas turun naiknya tingkat bunga;

12. Masa laku lease lebih lama dibandingkan dengan cara pembiayaan lainnya

dan masa lakunya kerapkali mendekati masa daya guna alat perlengkapan

yang bersangkutan, sehingga memungkinkan perusahaan dapat membiayai

peralatan sesuai dengan usia ekonominya;

13. Adanya hak opsi bagi lessee pada akhir masa lease;

14. Hak kepemilikan tetap pada lessor sampai lessee mempergunakan hak

opsinya;

15. Dapat diatur pembiayaannya, baik untuk proyek besar maupun kecil, artinya

baik untuk mendapatkan satu, atau dua truk maupun untuk melengkapi suatu

pabrik dalam keseluruhannya;


II.5.2 Kerugian Leasing

Tentunya, disamping keuntungan-keuntungan yang dapat dimanfaatkan

oleh para pihak, baik untuk pihak lesssor maupun untuk pihak lessee, maka

leasing juga mempunyai segi kerugian/kelemahan yang antara lain adalah

sebagai berikut:

1. Pembiayaan secara leasing merupakan sumber pembiayaan yang relatif

mahal apabila dibandingkan dengan kredit investasi dari bank. Hal ini terjadi

karena sumber dana lessor pada umumnya berasal dari bank atau lembaga

keuangan bukan bank;

2. Barang modal yang di lease tidak dapat dicantumkan sebagai untuk aktiva

lessee untuk tujuan collateral credit dari bank, yaitu trade creditor

mungkin akan menilai perusahaan tersebut memiliki posisi keuangan yang

lemah;

3. Bagi para pengusaha tertentu kadang-kadang timbul masalah prestise antara

memiliki sendiri barang modal atau lease;

4. Risiko yang lebih besar pada lessor, artinya adanya tanggung jawab atas

tuntutan pihak ketiga jika terjadi kecelakaan atau kerusakan atas barang

orang lain yang disebabkan oleh lease property tersebut, dan juga lessor

belum tentu yakin bahwa barang lease tersebut bebas dari berbagai ikatan

seperti liens (gadai), priorities, charges atau kepentingan-kepentingan

lainnya.
II.6 Sejarah SAK ETAP

Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 17 Juli 2009 yang lalu, telah

menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas

Publik (SAK-ETAP) atau atau The Indonesian Accounting Standards for Non-

Publicly-Accountable Entities, dan telah disahkan oleh DSAK IAI pada tanggal

19 Mei 2009. Dewan tandar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia

(DSAK IAI) sendiri beranggotakan 17 orang mewakili: Akuntan Publik,

Akademisi, Akuntan Sektor Publik, dan Akuntan Manajemen. Alasan IAI

menerbitkan standar ini adalah untuk mempermudah perusahaan kecil dan

menengah (UKM) (yang jumlahnya hampir dari 90% dari total perusahaan di

Indonesia) dalam menyusun laporan keuangan mereka. Dimana jikalau standar

ini tidak diterbitkan mereka juga harus mengikuti SAK baru (yang merupakan

SAK yang sedang dalam tahap pengadopsian IFRS konvergensi penuh tahun

2012) untuk menyusun laporan keuangan mereka. SAK berbasis IFRS ini relatif

lebih kompleks dan sangat mahal bagi perusahaan kecil dan menengah untuk

menerapkannya.

SAK-ETAP mengadopsi sebagian IFRS (International Financial

Reporting Standards) untuk usaha kecil-menengah (IFRS for Small-Medium-

sized Entities/SMEs).

Penetapan ini sehingga berdampak dikenalnya empat pilar akuntansi di

Indonesia:

1. Standar Akuntansi Keuangan yang diadaptasi IFRS

2. SAK-ETAP
3. Standar Akuntansi Syariah

4. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), PP 24 tahun 2005 yang direvisi

dalam PP 71 tahun 2010 berbasis akrual

Dalam definisi IFRS Small and Medium Entities atau Usaha Kecil

Menengah (SMEs) menurut IFRS (International Financial Reporting

Standards) diartikan sebagai :

a. Perusahaan kecil dan menengah adalah perusahaan yang tidak memiliki

akuntabilitas publik, dan

b. Menerbitkan laporan keuangan tujuan umum untuk pengguna eksternal.

Contoh pengguna eksternal termasuk pemilik yang tidak terlibat dalam

pengelolaan bisnis, dan potensi yang ada kreditur, dan lembaga pemeringkat

kredit.

SAK ETAP ini berlaku secara efektif untuk penyusunan laporan

keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011 namun penerapan dini

diperkenankan. Apabila SAK-ETAP ini telah berlaku efektif, maka perusahaan

kecil seperti UKM tidak perlu membuat laporan keuangan dengan menggunakan

PSAK umum yang berlaku. Di dalam beberapa hal SAK ETAP memberikan

banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan dengan PSAK dengan

ketentuan pelaporan yang lebih kompleks. Perbedaan secara kasat mata dapat

dilihat dari ketebalan SAK-ETAP yang hanya sekitar seratus halaman dengan

menyajikan 182 halaman dan 30 bab.


II.7 SAK ETAP tentang Sewa

RUANG LINGKUP

Pada bab 17 paragraf 1 dijelaskan apa saja yang mencakup akuntansi untuk

semua sewa, kecuali :

(a) Sewa untuk mengeksplorasi atau menggunakan mineral, minyak bumi, gas

alam dan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui lainnya;

(b) perjanjian lisensi seperti film, rekaman video, karya panggung, manuskrip

(karya tulis), hak paten, dan hak cipta (lihat Bab 16 Aset Tidak Berwujud);

KLASIFIKASI SEWA

Pada bab 17 paragraf 2 sampai dengan 4 dijelaskan mengenai klasifikasi sewa,

sebagai berikut:

Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa mengalihkan

secara substantial seluruh manfaat dan risiko kepemilikan aset. Suatu sewa

diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan secara

substantial seluruh manfaat dan risiko kepemilikan aset.

Suatu sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi tergantung pada

substansi transaksi daripada bentuk kontrak.

Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika memenuhi salah satu

hal berikut ini :

(a) Sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa sewa;
(b) Lessee mempunyai opsi untuk membeli aset pada harga yang cukup rendah

dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanaan,

sehingga pada awal sewa dapat dipastikan bahwa opsi memang akan

dilaksanakan;

(c) Masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomis aset meskipun hak

milik tidak dialihkan yaitu masa sewa sama atau lebih dari 75% umur

ekonomis aset sewaan;

(d) Pada awal masa sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum

secara substantial mendekati nilai wajar aset sewaan yaitu pembayaran sewa

minimum sama atau lebih dari 90% nilai wajar aset sewaan;

(e) Aset sewaan bersifat khusus dan dimana hanya lessee yang dapat

menggunakannya tanpa perlu modifikasi secara material.

LAPORAN KEUANGAN LESSOR

Sewa Pembiayaan

Pada bab 17 paragraf 16 sampai dengan 20 menguraikan bagaimana

pengungkapan sewa dengan metode sewa pembiayaan, sebagai berikut:

Penanaman neto dalam aset yang disewakan harus diperlakukan sebagai

penanaman neto sewa. Jumlah penanaman neto tersebut terdiri dari jumlah

piutang sewa ditambah nilai residu yang akan diterima oleh lessor pada akhir

masa sewa dikurangi dengan pendapatan sewa yang belum diakui (unearned

lease income), dan simpanan jaminan.


Selisih antara piutang sewa ditambah nilai residu dengan harga perolehan aset

yang disewakan diakui sebagai pendapatan sewa yang belum diakui.

Pendapatan sewa yang belum diakui harus dialokasikan secara konsisten sebagai

pendapatan tahun berjalan berdasarkan suatu tingkat pengembalian berkala atas

penanaman neto sewa.

Jika aset yang disewakan dijual kepada lessee sebelum berakhirnya masa sewa,

maka perbedaan antara harga jual dengan penanaman neto sewa pada saat

penjualan dilakukan harus diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada periode

terjadinya.

Lessor mengungkapkan hal-hal berikut:

(a) Kebijakan akuntansi penting yang digunakan sehubungan dengan transaksi

sewa;

(b) Jumlah pembayaran sewa selama masa sewa;

(c) Sifat dari simpanan jaminan yang merupakan kewajiban lessor kepada

lessee;

(d) Piutang sewa yang dijaminkan kepada pihak ketiga.

Sewa Operasi

Pada bab 17 paragraf 21 sampai dengan 24 menguraikan bagaimana

pengungkapan sewa dengan metode sewa operasi, sebagai berikut:


Pembayaran sewa selama tahun berjalan dari lessee harus diakui sebagai

pendapatan sewa. Pendapatan sewa harus diakui dan diukur berdasarkan metode

garis lurus sepanjang masa sewa, meskipun pembayaran sewa mungkin

dilakukan dalam jumlah yang tidak sama setiap periode.

Aset sewaan harus disusutkan atau diamortisasikan sesuai dengan Bab 15 Aset

Tetap atau Bab 16 Aset Tidak Berwujud.

Jika aset yang disewakan dijual, maka perbedaan antara nilai tercatat dan harga

jual harus diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada periode terjadinya.

Lessor mengungkapkan hal-hal berikut:

(a) Kebijakan akuntansi penting yang digunakan sehubungan dengan transaksi

sewa;

(b) Jumlah pembayaran sewa selama masa sewa;

(c) Sifat dari simpanan jaminan (jika ada);

(d) Aset yang disewakan yang dijaminkan kepada pihak ketiga.

II.8 Definisi Istilah-Istilah yang Digunakan Dalam Transaksi Leasing

Dlam transaksi leasing, terdapat istilah-istilah yang berbeda dengan

istilah-isltilah yang dipakai pada isnustri lainnya. Beberapa istilah yang sering

muncul dalam transaksi leasing adalah:

1. Lease adalah suatu kontrak sewa atas penggunaan harta untuk suatu periode

tertentu dengan sewa tertentu.


2. Lessee adalah pemakai aset yang di lease, perusahaan atau perorangan yang

menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari pihak perusahaan sewa

(lessor).

3. Lessor adalah pemilik dari aset yang akan di lease.

4. Net Cost adalah Net Investment atau jumlah yang dibayar untuk peralatan

yang disewakan, yang merupakan selisih antara Lease Receivable (L/R)

dengan Unearned Lease Income (ULI).

5. Lease Receivable (L/R) adalah jumlah pembayaran sewa yang akan diterima

oleh perusahaan selama periode lease.

6. Unearned Lease Income adalah pendapatan sewa yang belum direalisasi,

sebagai selisih antara Lease Receivale (L/R) dan Net Cost (NC).

7. Residual Value adalah nilai leased asset yang diperkirakan dapat

direalisasikan pada akhir periode sewa.

8. Security Deposit (SD) adalah jaminan kas yang diminta lessori dari lessee

untuk menjamin pembayaran sewa atau kewajiban sewa lainnya.

9. Lease Rental Payment adalah jumlah yang dibayar lessee secara periodik

kepada lessor untuk penggunaan leased asset. Pembayaran dapat dibayar

dimuka atau dibelakang.

10. Bargain Purchase Option adalah hak opsi yang diberikan pada lessee untuk

membeli atau menolak leased asset setelah habis masa kontrak yang

biasanya dinilai sebesar nilai residu.


11. Early Termination adalah pembuatan kontrak sewa yang disetujui oleh kedua

belah pihak dan lessee akan membayar suatu jumlah tertentu yang

disepakati.

12. Pay-Off adalah kontrak sewa yang telah habis masanya dan dilakukan hak

opsi oleh lessee.

13. Lease Income Earned adalah pengakuan lease income dari tiap peneriman

pembayaran sewa.

14. Awal Sewa (Inception of the lease) adalah tanggal yang lebih awal antara

tanggal perjanjian sewa dan tanggal pihak-pihak menyatakan komitmen

terhadap ketentuan-ketentuan pokok sewa. Pada tanggal ini :

a. Sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi atau sewa pembiayaan; dan

b. Untuk sewa pembiayaan, jumlah yang diakui pada awal masa sewa

ditentukan.

15. Executory Cost adalah biaya-biaya yang terjadi pada lessor selama masa

lease, misalnya biaya pemeliharaan, biaya asuransi dan pajak. Umumnya

Executory Cost ini ditanggung oleh lessee dan dibayar kepada lessor

secara periodik bersamaan dengan pembayaran berkala dan biaya ini

merupakan Perod Cost.

16. Bargain Renewal Option adalah hak pilih (optie) yang diberikan kepada

lessee untuk memperbarui lease dengan pembayaran sewa yang rendah


daripada sewa wajar yang ditaksir untuk aktiva yang bersangkutan pada saat

hak pilih tersebut dijamin secara layak permulaan masa lease.

17. Estimated Residual Value of Leased Property adalah taksiran nilai wajar aset

yang dilease pada akhir masa sewa, biasanya sebesar 10 (sepuluh) persen

dari harga pembelian.

18. Certified of Delivery Acceptance adalah suatu dokumen yaitu lessee

mengakui bahwa barang yang akan dilease telah diserahkan dan diterima

dengan baik oleh lessee.

19. Fair Value of Leased Property adalah jumlah yang dipakai untuk

mempertukarkan aset atau menyelesaikan kewajiban, antara pihak-pihak

yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu

transaksi yang wajar.

20. Estimated Economic Life of Leased Property adalah taksiran umur ekonomis

dari barang yang akan dilease, yang dapat digunakan oleh satu atau lebih

pemakai (user) dengan pemeliharaan/perbaikan yang normal dan dengan

tujuan penggunaan sebagaimana ditentukan pada tanggal penandatanganan

kontrak leasing.

21. Incremental Borrowing rate adalah tingkat bunga yang berlaku pada

permulaan lease bila lessee meminjam uang untuk membeli aset yang sama

dengan yang dilease, dan jangka waktu pinjam sama dengan masa lease.
22. Implicit Rate of Interest in the Lease adalah tingkat bunga diskonto yang bila

diterapkan pada pembayaran sewa lease minimum (minimum rental

payment), menghasilkan nilai tunai sekarang (ipresent value) yang sama

dengan nilai wajar dari aset yang dileasedkan pada permulaan lease.

23. Floating Rental Rate adalah pembayaran cicilan (rental rate payment)

disesuaikan dengan tingkat suku bunga yang berlaku di pasar uang selam

periode perjanjian leasing.

24. Fixed Rental Rate adalah pembayaran cicilan (rental payment) ditetapkan

pada saat permulaan lease dan tetap selama masa lease.

25. Contingent Rental adalah kenaikan (penurunan) yang terjadi dalam

pembayaran sewa sebagai akibat dari berubahnya faktor-faktor yang menjadi

dasar penetapan sewa tersebut sesudah tanggal lease dimulai, seperti

misalnya pembayaran sewa berdasarkan indeks harga konsumen.

26. Initial Direct Cost adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lessor dalam

hubungannya secara langsung denga negosiasi dan penyelesaian kontrak

lease, msalnya komisi, biaya notaris, dan biaya pengurusan dokumen-

dokumen serta biaya langsung lainnya.