Anda di halaman 1dari 31

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN ONSET LAKTASI PADA IBU


POST PARTUM DI MUHAMMAD HOESIN
PALEMBANG 2017

D
I
S
U
S
U
N
Oleh:
Kelompok 7
Erika 10011181419015
Putri Rikillah 10011181419019
Oktin Farisma 10011181419026
Bunga Sriwijaya 10011281419028
Intan Shalehah 10011281419099
Suci Triani 10011281419103
Ranggita Septi R. 10011381419142
Dosen Pembimbing : Feranita, S.KM.,M.Kes

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemberian ASI pada masa-masa awal sangat dianjurkan karena memberikan manfaat
kesehatan untuk ibu dan bayi. Pada masa tersebut, ibu dan bayi belajar menyusui. Pada 1
jam pertama bayi akan belajar menyusui atau membiasakan menghisap puting susu dan
mempersiapkan ibu memproduksi ASI kolostrum. Pemberian ASI hari pertama akan
menyelamatkan 16% kematian neonatal dan menyusui dini 1 jam pertama akan
menyelamatkan 22% kematian balita pertahun. Manfaat pemberian ASI dini adalah
untuk keberlangsungan pemberian ASI eksklusif, kekebalan tubuh, mencegah
hipotermia, refleks isapan puting susu ibu, dan pengeluaran hormon oksitosin akan
merangsang produksi ASI (Hatini 2014).
Proses menyusui awal tidak selalu berjalan dengan baik, ada kalanya ibu dan bayi
mengalami kendala yang dapat menyulitkan pemberian ASI terutama pada ibu
primigravida yang masih muda dengan tingkat pengetahuan yang masih rendah tentang
menyusui sehingga menghambat praktek pemberian ASI (Dewey et al, 2005). Selain
masalah kurangnya tingkat pengetahuan ibu tentang ASI, ada masalah laktasi lain yang
muncul di tengah-tengah tingginya antusias ibu dalam menyusui, masalah tersebut
diantaranya adalah keterlambatan onset laktasi (Dewey et al,2005). Dimana menurut
penelitian di Guatemala keterlambatan onset laktasi secara signifikan berisiko lebih besar
melakukan pemberian ASI secara singkat (Hruschka et al, 2006).
Menurut CIA World Facbook AKB di dunia pada tahun 2012 sebesar 39 per 1000
kelahiran hidup. Afganistan merupakan Negara dengan tingkat AKB tertinggi
dibandingkan dengan 221 negara lainnya didunia yaitu sebesar 121 per 1000 kelahiran
hidup, sementara Indonesia berada pada urutan ke-73 dengan AKB sebesar 27 per 1000
kelahiran hidup. Apabila dibandingkan dengan Negara-negara di kawasan ASIA
Tenggara (ASEAN), Indonesia menduduki peringkat ke-7 setelah singapura (3 per 1000
kelahiran hidup), Brunei Darussalam (8 per 1000 kelahiran hidup), Malaysia (15 per
1000 kelahiran hidup), Thailand (16 per 1000 kelahiran hidup), Filipina (19 per kelahiran
hidup), Vietnam (20 per 1000 kelahiran hidup) (SDKI 2012)
Di Indonesia, berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2012, angka Kematian Neonatus (AKN) pada tahun 2012 sebesar 19 per 1000
kelahiran hidup menurun dari 20 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 dan 23 per
1000 kelahiran hidup berdasarkan hasil SDKI 2012. Perhatian terhadap upaya penurunan
angka kematian neonatal (0-28 hari) menjadi penting karena kematian neonatal memberi
kontribusi terhadap 56% kematian bayi. Komitmen global dalam MDGs menetapkan
target terkait kematian anak yaitu menurunkan angka kematian anak hingga dua per tiga
dalam kurun waktu 1990- 2015 (profil kesehatan Indonesia 2013).
Di Kota Palembang tahun 2015 jumlah kematian bayi sebanyak 25 kasus per 29.091
kelahiran hidup atau 0,86 per 1000 kelahiran hidup. Angka tersebut diperoleh dari
kematian bayi yang terlaporkan pada sarana kesehatan dan masih dibawah target MDGs.
(dinas kesehatan kota Palembang 2015). Sedangkan angka kematian bayi berdasarkan
data SDKI tahun 2012 di Propinsi Sumatera Selatan sebesar 29 per 100.000 kelahiran
hidup (target MDGs sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015). Apabila
melihat angka hasil SDKI 2012 tersebut, maka masalah kematian bayi merupakan hal
yang serius yang harus diupayakan penurunannya agar target MDGs dapat dicapai
(Profil Kesehatan Sumatera Selatan 2012).
Pemberian ASI sangat dianjurkan oleh WHO, UNICEF dan pemerintah Indonesia
karena mengingat fungsi ASI yang memberikan banyak manfaat kesehatan untuk bayi
dan ibu yang menyusui ASI merupakan yang terbaik bagi bayi, karena ASI menyediakan
nutrisi yang optimal dan lengkap untuk bayi baru lahir yang dimana komposisi ASI
sesuai dengan kebutuhan bayi yang memberikan kekebalan pada sistem imun,
perkembangan psikologis dan memberikan manfaat pada pertumbuhan bayi. Berbagai
manfaat ASI bagi bayi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. ASI dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit dan infeksi seperti penyakit
diare, infeksi telinga, infeksi kandung kemih, diabetes, infeksi paru-paru, dan
kegemukan
2. ASI dapat mencegah terjadinya alergi pada bayi, serta mendukung
perkembangan sistem pertahanan tubuhnya
3. Bayi yang memperoleh ASI eksklusif selama lebih dari 3 bulan memiliki IQ
lebih tinggi ketimbang bayi yang diberi susu formula
4. Mengurangi kejadian karies dentis pada bayi
5. Membantu perkembangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi karena
gerakan menghisap mulut bayi pada payudara
6. Memberikan rasa nyaman dan aman pada bayi dan adanya ikatan antara ibu
dan bayi (wulandari, 2010).
Keterlambatan onset laktasi ini sendiri di pengaruhi beberapa faktor menurut
penelitian Rivers et al (2010). Faktor-faktor yang mempengaruhi penundaan onset laktasi
di bagi menjadi 8 yaitu umur, paritas, jenis persalinan, berat badan lahir, IMD,
kecemasan, pijat oksitosin, dan status gizi. Dari kedelapan dimensi diatas status gizi
harus diperhatikan sejak awal sebelum ibu hamil, status gizi ibu di ukur dengan indeks
massa tubuh. Menurut penelitian di bantul ibu yang mempunyai IMT lebih atau obesitas
secara signifikan memiliki rangsangan produksi prolaktin yang sangat rendah akibat
kadar progesteron yang lebih tinggi di banding dengan berat badan normal, hal ini yang
membuat onset laktasi lebih lama (Eni 2012).
Peningkatan program ASI eksklusif merupakan salah satu usaha pemerintah dalam hal
pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2014 mengenai
prevalensi gizi kurang dan gizi buruk. World Health Organization (WHO) dan United
Nations International Childrens Emergency Fund (UNICEF) melalui Baby Friendly
Hospital tentang 10 langkah keberhasilan menyusui yaitu:
1. Mempunyai kebijakan menyusui tertulis yang secara rutin dikomunikasikan
kepada semua staf perawatan kesehatan
2. Melatih keterampilan kepada semua staf perawatan kesehatan dalam
melaksanakan kebijakan ini
3. Memberitahu kepada semua wanita hamil tentang keuntungan dan
penatalaksanaan menyusui
4. Membantu ibu untuk memulai menyusui setengah jam setelah melahirkan;
5. Menunjukkan kepada ibu cara menyusui dan bagaimana memelihara laktasi
meskipun terpisah dengan bayinya
6. Tidak memberikan makanan atau minuman kepada bayi selain ASI jika tidak ada
indikasi medis
7. Mempraktekkan perawatan bersama (rooming-in), izin ibu dan bayi untuk tinggal
bersama selama 24 jam sehari
8. Menganjurkan pemberian ASI sekehendak bayinya
9. Tidak memberikan kempeng atau dot kepada bayi yang menyusui ibu
10. Membantu mengembangkan pembentukan kelompok pendukung ibu menyusui
dan merujuk ibu kepada mereka ketika keluar dari rumah sakit atau klinik.
Indonesia merekomendasikan agar setiap bayi diberikan ASI Ekslusif sampai anak
berusia 2 tahun melalui kepmenkes RI No 450/Menkes/SK/VI/2004 tentang pemberian
ASI Eksklusif pada bayi. UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 Pasal 128 ayat 1 bahwa tiap
bayi yang baru lahir berhak mendapatkan ASI Eksklusif. Permenkes RI No.15 tahun
2003 tentang tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui. Terbaru adalah PP RI
No.33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif (Depkes RI, 2013 ).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai hubungan status gizi dengan onset laktasi pada ibu post partum di RS
Muhammad Husein Palembang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil rumusan masalah penelitian: Adakah
hubungan antara Status gizi dengan onset laktasi pada ibu post partum di Rumah Sakit
Muhammad Hoesin Palembang tahun 2017.

C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya Hubungan antara Status gizi dengan onset laktasi ibu post partum di
Rumah Sakit Muhammat Hoesin Palembang tahun 2017.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya Status gizi ibu post partum di Rumah Muhammad Hoesin
Palembang tahun 2017.
b. Diketahuinya kemampuan Onset laktasi ibu post partum di Rumah Sakit
Muhammad Hoesin Palembang tahun 2017.
c. Diketahuinya keeratan hubungan Status gizi dengan kemampuan Onset Laktasi
pada ibu post partum di Rumah sakit Muhammad Hoesin Palembang tahun
2017.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Menambah pengetahuan dan memberi pengalaman langsung dalam mengaplikasikan
ilmu pengetahuan yang dimiliki.
2. Bagi ilmu pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat melengkapi penelitian-penelitian terdahulu
sehubungan dengan onset laktasi dan memberikan informasi tentang Status gizi ibu
terhadap kejadian onset laktasi pada ibu post partum di Rumah Muhammat Husein
Palembang tahun 2017
3. Institusi
a. Sebagai bahan bacaan diperpustakaan atau sumber data bagi peneliti lain yang
memerlukan masukan berupa data atau pengembangan penelitian dengan judul
yang sama demi kesempurnaan penelitian ini
b. Sebagai sumber informasi pada institusi Universitas Sriwijaya khususnya
Fakultas Kesehatan Masyarakat agar dijadikan dokumen ilmiah untuk
merangsang minat peneliti selanjutnya.
c. Bagi Rumah Sakit Rumah Muhammat Husein Palembang Dapat menjadi sumber
informasi tentang hubungan antara Status gizi dengan onset laktasi ibu post
partum.

E. Ruang Lingkup Penelitian


a. Lingkup Materi
Penelitian ini dibatasi pada materi tentang Onset Laktasi dan Status gizi ibu post
partum.
b. Lingkup Responden
Responden dalam penelitian ini adalah semua ibu post partum Rumah Sakit
muhammad Husein Palembang
c. Lingkup Waktu
Waktu yang digunakan untuk penelitian ini mulai dari pembuatan proposal
sampai pengumpulan hasil skripsi ini mulai bulan januari 2017- agustus 2017
d. Lingkup Tempat
Penelitian ini Dilakukan Rumah Sakit Muhammad Hoesin Palembang karena
merupakan rumah sakit rujukan yang ada di pusat kota Palembang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Laktasi
Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses
bayi menghisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus
reproduksi mamalia termasuk manusia (Depkes, 2005). Air Susu Ibu (ASI) adalah
makanan bayi yang mengandung zat gizi yang optimal yang dapat meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan bayi, terutama pada bulan pertama kehidupan bayi. Para
ahli telah meneliti bahwa kadar zat gizi makro dan mikro dalam ASI sangat baik untuk
bayi disbanding susu sapi (Lawrence, 1994). Pemberian ASI mempunyai pengaruh
biologis dan emosional yang luar biasa terhadap kesehatan ibu dan anak serta terhadap
hubungan yang erat antara menyusui ekslusif dan penjarangan kelahiran (Suradi, 2001).
ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa makanan dan minuman lain
kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat dan vitamin (Depkes,
2003). Menurut WHO-UNICEF (2001) pemberian ASI eksklusif mencakup hal-hal
berikut ini: hanya ASI 4-6 bulan, menyusui dimulai <30 menit setelah bayi lahir, tidak
memberikan makanan prelaktal seperti air tajin, air gula, madu, dsb kepada bayi baru
lahir. Memberikan kolostrum / ASI pada hari-hari pertama yang bernilai gizi tinggi
kepada bayi, menyusui sesering mungkin, termasuk pemberian ASI pada malam hari dan
cairan yang diperbolehkan adalah hanya vitamin, mineral dan obat-obatan dalam bentuk
tetes atau syrup.

2.2 Onset Laktasi


a. Definisi Onset Laktasi
Onset laktasi adalah waktu pertama kali keluarnya ASI setelah melahirkan. atau
persepsi ibu kapan air susunya keluar (come in) yang ditandai payudara terasa keras,
berat, bengkak sampai air susu atau kolostrum keluar (Hruschka, et al, 2005). Onset
laktasi merupakan inisiasi produksi susu yang berlebihan dalam kelenjar susu antara
beberapa jam hingga 7 hari setelah melahirkan. Tertundanya onset laktasi cenderung
memiliki implikasi besar untuk nutrisi bayi karena secara negatif dapat mempengaruhi
perilaku menyusui (Grajeda 2005).
Onset laktasi yang tertunda adalah apabila dalam waktu lebih dari 72 jam setelah
melahirkan payudara tidak mengalami kepenuhan atau belum terasa berat (Rivers et
al , 2010). Penentuan dasar klinis 72 jam menurut MacDonald adalah karena waktu
rata-rata penurunan berat badan maksimum bayi baru lahir adalah 2,7 hari dan juga
waktu 72 jam merupakan waktu yang ideal untuk menentukan screening resiko
penurunan berat badan pada bayi baru lahir (Nommsen et al, 2008)

b. Proses laktasi
Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi, disekresi,
dan pengeluaran ASI sampai pada proses bayi menghisap dan menelan (Marni,2014).
Sejak dimulainya kehamilan, payudara pu mulai mengalami serangkaian proses
perubahan. Perubahan ini merupakan proses persiapan dari payudara untuk
memproduksi ASI. Proses pembentukan ASI atau disebut juga laktogenesis
dirangsang oleh hormone prolactin yang diproduksi oleh kelenjar hipofise anterior.
Kadar hormone prolactin ini terus meningkat sesuai dengan usia kehamilan.
Laktogenesis selama kehamilan juga dipengaruhi oleh hormone yang dihasilkan oleh
plasenta yaitu Human Chorionic Somatomammotropin. Meskipun hormon-hormon
tersebut sudah bekerja sejak kehamilan tetapi sekresinya ditekan oleh hormone
estrogen dan progesterone sehingga selama kehamilan payudara hanya mensekresikan
beberapa militer cairan setiap harinya (Guyton dan Hall, 2007).
Proses pembentukan laktogen melalui tahap-tahap berikut :
1) Laktogenesis I
Merupakan fase penambahan dan pembahasan lobules-alveolus. Terjadi pada fase
akhir kehamilan. Pada fase ini, payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa
cairan kental kekuningan dan tingkat progesteron tinggi sehingga mencegah
produksiASI. Pengeluaran kolostrum pada saat hamil atau sebelum bayi lahir,
tidak menjadi masalah medis. Hal ini juga merupakan bukan indikasi sedikit atau
bahkan produksi ASI (Marni 2014).
2) Laktogenesis II
Pengeluaran plasenta pada saat melahirkan menyebabkan menurunnya kadar
hormon progesteron dan esterogen, sedangkan hormon prolaktin tetap tinggi, hal
ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran. Apabila payudara dirangsang, level
prolaktin dalam darah meningkat, memuncak dalam periode 45 menit, dan
kemudian kembali ke level sebelum rangsangan 3 (tiga) jam kemudian. Keluarnya
hormon prolaktin menstimulasi sel didalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan
hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengemukakan bahwa
level prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu
sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi, namun level prolaktin rendah saat payudara
terasa penuh.
Hormon lainnya seperti insulin, tiroksin, dan kortisol, juga terdapat dalam
proses ini, namun peran hormon tersebut belum diketahui. Penanda biokimiawi
mengindikasikan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah
melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar
50-73 jam (2-3 hari) setelah melahirkan. Artinya, memang prosuksi ASI
sebenarnya tidak langsung keluar setelah melahirkan.
Kolostrum dikonsumsi bayi sebelum ASI sebenarnya. Kolostrum mengandung
sel darah putih dan antibody yang tinggi dari pada ASI sebenarnya, khususnya
tinggi dalam level immunoglobulin A(IgA), yang membantu melapisi usus bayi
yang masi rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. Iga in juga mencegah
elergi makanan. Dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, kolostrum pelan-
pelan hilang dan tergantikan oleh ASI Sebenarnya (Marni 2014).
3) Laktogenesis III
Sistem control hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan
dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil,
sistem control autokrin dimulai. Pada tahap ini, apabila ASI banyak
dikeluarkanproduksi ASI akan memproduksi ASI lebih banayk penelitia
berkesinambungan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga
akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat di
pengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, dan juga seberapa
sering payudara dikosongkan (Marni 2014).

c. Fisiologi laktasi
Kemampuan laktasi setiap ibu berbeda-beda sehingga mempunyai
kemampuan yang lebih besar dibanding dengan yang lain. Laktasi atau menyusui
merupakan proses yang cukup kompleks (Ariani, 2010). Dua tahun masa bayi adalah
fase dimana seorang anak membutuhkan kedekatan emosi dengan ibunya dan ASI
mengandung nutrisi yang mempunyai fungsi yang spesifik untuk pertumbuhan otak
antara lain DHA,AA, taurin, laktosa, koline yang baik untuk pertumbuhan anak
(Mufdillah,dkk, 2012).
Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek antara
rangsangan mekanik, saraf, dan hormon Ada 2 reflek yang secara langsung
mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran ASI yaitu: reflek prolaktin dan let
down reflex atau milk ejection reflex.
1) Reflex prolactin
Menjelang akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peran untuk
membuat kolustrrum, namun jumlah kolustrum terbatas karena aktifitas prolaktin
dihambat oleh esterogen yang kadarnya masih tinggi. Setelah melahirkan
berhubung plasenta sudah lepas dan kurang berfungsinya corpus luteum maka
menyebabkan kadar esterogen dan progesterone menurun. Rangsangan ini
dilanjutkan ke hypothalamus melalui medulla spinalis dan mensesephalon.
Hypothalamus akan menekan pengeluaran factor-faktor yang menghambat sekresi
prolaktin dan akan merangsang factor-faktor yang memacu sekresi prolaktin.
Factor-faktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang adenohypophysis
(hopofiseanterior atau anterior pituitary) sehinggga keluar prolaktin. Sekresi
prolaktin meningkat sehingga merangsang selsel alveoli untuk memproduksi air
susu ibu (Eglan et al, 2008). Kadar prolaktin akan meningkat setelah 30 menit
setelah menyusui dimulai. Selama minggu pertama bayi akan menghisap
dan menstimulasi putting payudara yang dimana isapan bayi akan merangsang
ujung ujung saraf sensori yang berfungsi sebagai reseptor mekanik sehingga
pengeluaran prolaktin lebih banyak dan akan menghasilkan air susu yang lebih
banyak pula. Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan
setelah melahirkan sampai penyapihan anak, namun pengeluaran air susu tetap
berlangsung. Pada ibu yang melahirkan akan tetapi tidak menyusui, kadar
prolaktin akan menjadi normal pada hari ke 7 setelah melahirkan. Produksi
prolaktin pada malam hari lebih banyak sehingga menyusui pada malam hari
penting dilakukan untuk menjaga suplay ASI, selain itu membuat perasaan ibu
menjadi relaks dan tidur lebin nyeyak (WHO 2009)
2) Reflek let down (milk ejection reflex)
Bersamaan dengan pembentukan prolaktin, rangsangan isapan
bayi, sentuhan dan tangisan bayi serta perasaan cinta ibu kepada bayinya
dilanjutkan ke neurohypopysis (hipofise posterior atau posterior pituitary) yang
kemudian dikelurkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormone ini diangkut
menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi
involusi dari organ tersebut. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan
mempengaruhi sel mioepitelium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu keluar
dari alveoli dan masuk ke sistem duktus yang selanjutnya mengalir melalui duktus
laktiferus masuk ke mulut bayi. Reflek let down dapat dirasakan sebagai sensasi
seperti kesemutan. Oksitosin di produksi lebih cepat dari prolaktin yang akan
menyiapkan air susu untuk menyusui berikutnya. Reflek let
down ini akan meningkat jika ibu melihat bayi, mendengar suara bayi, mencium
bayi dan memikirkan untuk menyusui bayi, dan faktor yang menghambat reflek
let down adalah keadaan tidak ada isapan bayi, bingung, takut, dan cemas
(Ambarwati, 2010).

d. Jenis-jenis ASI menurut Wenis Kristianingsih (2009)


1) Kolostrum
ASI yang dikeluarkan dari hari pertama sampai hari ketiga setelah bayi lahir.
Kolostrum merupakan cairan yang agak kental berwarna kekuning-kuningan,
lebih kuning di banding dengan ASI mature, bentuknya sedikit kasar karena
mengandung butiran lemak, kasiat kolostrum sebagai berikut:
a) Sebagai pembersih selaput usus bayi baru lahir sehingga saluran pencernaan
siap untuk menerima makanan.
b) Mengandung kadar protein yang tinggi terutama gama globulin sehingga dapat
memberikan perlindungan tubuh terhadap infeksi.
c) Mengandung zat antibody sehingga mampu melindungi tubuh bayi dari
berbagai penyakit infeksi unruk jangka waktu sampai dengan 6 bulan.
2) ASI transisi
ASI yang dihasilkan mulai dari keempat sampai hari kesepuluh.
3) ASI Mature
Asi yang dihasilkan mulai dari hari kesepuluh sampai seterusnya.

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi onset laktasi


1) Umur ibu
Umur adalah lama hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan. Usia yang
aman dalam mengatur kesuburan untuk proses kehamilan, persalinan dan
menyusui serta mendapat bayi sehat untuk hamil yaitu 20-35 tahun (Prawiroharjo,
2008). Umur adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan
dalam satuan tahun) (Wiknjosastro, 2008).
2) Paritas
Paritas kecil hubunganya dengan produksi ASI yang diukur sebagai intake
bayi terhadap ASI. Hal ini karena pemenuhan gizi bayi dan ibu setiap orang
berbeda-beda. Apabila seorang ibu dengan pola hidupdan kebiasaan makan yang
bergizi walaupun umurnya bisa dikatakan tua makan akan menghasilkan ASI yang
bagus juga dibanding dengan wanita muda yang menyusui tanpa diimbangi
dengan sistem kebiasaan makan yang baik (Atikah dan Siti, 2009). Semakin
banyak jumlah kehamilan, baik bayi yang dilahirkan hidup maupun mati dapat
mempengaruhi status gizi ibu postpartum. (Istianty, 2014) Pada ibu menyusui usia
remaja dengan gizi baik, intake ASI mencukupi berdasarkan pengukuran
pertumbuhan bayi. Pada ibu yang melahirkan lebih dari satu kali, produksi ASI
pada hari keempat setelah melahirkan lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan
pertama kali (Nugroho, 2011).
3) Metode persalinan
Pada beberapa persalinan kadang-kadang perlu tindakan bedah sesar misalnya
panggul sempit, plasenta previa dan lainlain. Persalinan dengan cara ini dapat
menimbulkan masalah menyusui baik terhadap ibu maupun anak. Ibu yang
mengalami bedah sesar dengan pembiusan umum tidak mungkin segera dapat
menyusui bayinya karena ibu belum sadar akibat pembiusan. Bayipun mengalami
akibat yang serupa dengan ibu apabila tindakan tersebut menggunakan pembiusan
umum. Karena pembiusan umum yang diterima ibu dapat sampai ke bayi melalui
plasenta, sehingga bayi yang masih lemah akibat pembiusan juga akan mendapat
tambahan narkose yang terkandung dalam ASI, sementara ibu masih belum sadar
(Sidi, 2009).
4) Berat badan lahir
Hubungan berat lahir bayi dengan volume ASI, hal ini berkaitan dengan
kekuatan untuk menghisap, frekuensi dan lama penyusuan dibanding bayi yang
lebih besar. Berat bayi pada hari kedua dan usia satu bulan sangat erat
berhubungan dengan kekuatan menghisap yang mengakibatkan perbedaan intake
yang besar dibanding bayi yang mendapat formula. Bayi berat lahir rendah
(BBLR) mempunyai kemampuan menghisap ASI lebih rendah di banding bayi
yang berat lahir normal (>2500gr). Kemampuan menghisap ASI yang lebih
rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah dibanding
bayi berta lahir normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan
oksitosin dalam memproduksi ASI (Nugroho, 2011).
5) Status gizi
Status gizi adalah keadaan tingkat kecukupan dan penggunaan satu nutrien
atau lebih yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Status gizi seseorang pada
hakekatnya merupakan hasil keseimbangan antara konsumsi zat-zat makanan
dengan kebutuhan dari orang tersebut. Status gizi ibu hamil sangat mempengaruhi
pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu normal pada masa
kehamilanmaka kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup
bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan
sangat tergantung pada keadaan gizi ibu selama hamil (Atikah, dkk 2009).
6) Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Inisiasi menyusu dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah
dilahirkan dengan cara membiarkan bayi mencari puting susu ibunya sendiri
(Khasanah, 2011). Berdasarkan sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 69%
bayi yang disusui segera setelah lahir akan bertahan menyusu sampai 3 bulan,
dibandingkan bayi yang disusui dalam 6 jam setelah melahirkan yang angkanya
hanya mencapai 47%. Pemberian ASI pertama kali pada bayi baru lahir hendaklah
sesegera mungkin dan kebutuhan ASI secara on demand (memberikan ASI setiap
bayi meminta dan tidak berdasarkan jam) harus terpenuhi agar produksi ASI
tercapai seoptimal mungkin (Ginandjar, 2012).
7) Kecemasan
Ibu yang cemas dan stress dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi
produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI akan
berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan nyaman (Proverawati, 2009).
8) Pijat oksitosin
Pijat oksitosin dilakukan untuk merangsang reflek oksitosin atau reflek let
down. Pijat oksitosin ini dilakukan dengan cara memijat pada daerah punggung
sepanjang kedua sisi tulang belakang sehingga diharapkan dengan dilakukan
pemijatan ini, ibu akan merasa rileks dan tidak kelelahandapat membantu
merangsang pengeluaran hormon oksitosin. Manfaat pijat oksitosin yaitu untuk
mengurangi bengkak (engorgement), mengurangi sumbatan ASI, merangsang
pelepasan hormone oksitosin, mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi
sakit (Depkes RI, 2007).

2.3 Status Gizi


a. Definisi Status Gizi
Ilmu gizi didefiniskan sebagai suatu cabang ilmu yang mempelajari hubungan
antara makanan yang dimakan dengan kesehatan tubuh yang diakibatkan, serta faktor-
faktor yang mempengaruhinya.sedangkan gizi adalah suatu proses penggunaan makan
yang di komsumsi secara normal oleh suatu organisme melalui proses digesti,
absobsi, transportasi penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak
digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari
organ-organ, serta menghasilkan energi (Proverawati Dkk 2009). Status gizi adalah
keadaan tingkat kecukupan dan penggunaan satu nutrien atau lebih yang
mempengaruhi kesehatan seseorang.
Status gizi seseorang pada hakekatnya merupakan hasil keseimbangan antara
konsumsi zat-zat makanan dengan kebutuhan dari orang tersebut. Status gizi ibu
hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status
gizi ibu normal pada masa kehamilan maka kemungkinan besar akan melahirkan bayi
yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi
yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu selama hamil (Proverawati
Dkk 2009).

b. Penilaian status gizi


Penilaian status gizi merupakan suatu interpretasi dari sebuah pengetahuan
yang berasal dari study informasi makanan (dietary), biokimia, antropologi, dan klinik
(Proverawati Dkk 2009).
1) Survey gizi adalah bentuk survey croos sectional yang dilakukan pada kelompok
masyarakat. Populasi dengan survey gizi dapat diketahui status gizi dasarnya dan
atau status gizi secara keseluruhan.
2) Surveilanss gizi adalah monitorin terus menerus dari status gizi kelompok
tertentu. Tujuan dari survailans ini menurut WHO (1976) adalah meningkatkan
pengambilan keputusan oleh pemerintah mengenai prioritas dalam pengeluaran
dana, memformulasi dari suatu prediksi dengan dasar hasil yang diperoleh
terakhir, dan juga mengevaluasi efektif tidaknya suatu program gizi. Pada
survalens gizi, data yang diperoleh akan dikumpulkan, dianalisa dan kemudian
digunakan pada waktu yang panjang.
3) Skrining gizi adalah untuk mengidentifikasi individu yang mengalami malnutrisi,
dan membutuhkan suatu intervensi yang dapat dilakukan dan membutuhkan suatu
intervensi yang dapat dilakukan melalui skrining.

c. Pengukuran Status gizi


Ada beberapa tata cara dalam pengukuran status gizi yaitu:
1) Pengukuran secara langsung
a) Antropometri
Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari
sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh
dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Proverawati Dkk
2009).
b) Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai
status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang
terjadi yang dihubungkan dengan ketidak cukupan zat gizi. Hal ini dapat
dilihat pada jaringan epitel (superficial epithelial tissues) seperti kulit, mata,
rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan
tubuh seperti kelenjar tiroid (proverawati Dkk 2009).
c) Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen
yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan
tubuh.jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah, urine, tinja, dan juga
beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot (proverawati Dkk 2009).
d) Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penemuan
status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya
jaringan) dan melihat perubahan srtuktur dari jaringan.
e) Body Mass Index (Index Massa Tubuh)
Indeks massa tubuh (IMT) adalah berat badan seseorang dalam
kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi dalam meter merupakan alat ukur
sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan
dengan kekurangan dan kelebihan berat badan (National obesity obsevatory,
2009). IMT merupakan rumus Matematis yang berkaitan dengan lemak tubuh
orang dewasa dan dinyatakan sebagai berat badan (dalam kilogram) dibagi
dengan kwadrat tinggi badan (dalam ukuran meter). Penggunaan IMT hanya
untuk orang dewasa berumur diantara 19-70 tahun. IMT tidak dapat
diterapkan pada bayi, anak, remeja, ibu hamil dan olahragawan. Disamping itu
pula IMT tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus (penyakit) lainya seperti
edema (Arisman 2010). Status gizi pada ibu post partum dapat pula dihitung
dengan menggunakan IMT ( Indeks Massa Tubuh). Penilaian Status Gizi atau
dalam kategori IMT untuk mengetahui status gizi ibu post partum, dengan
menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai istrumen. Rumus
penghitungan IMT menurut WHO (2006) adalah sebagai berikut :

Namun karena tingginya metabolisme ibu post partum maka Institute of


Medicine di Amerika Serikat mengestimasi rumus indeks massa tubuh untuk
awal post partum (rivers et al, 2009). Berikut rumus indeks massa tubuh yang
digunakan awal post partum :

Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan Food and


Agriculture organization (FAO) dan World Health Organization (WHO),
yang berdasarkan batas ambang laki-laki dan perempuan. normal laki-laki
adalah 20,1-25,0 dan perempuan 18,7-23,8.
2) Pengukuran secara tidak langsung
Menurut Proverawati, dkk 2009, penilaian status gizi secara tidak langsung
dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Survey komsumsi
Survey komsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang di komsumsi,
pengumpulan data komsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang
komsusmsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini
dapat mengidintifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi
(proverawati Dkk 2009).
b. Status vital
Pengukuran status gizi dengan vital adalah dengan
menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka
kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat
penyebab tertentu dan data lainya berhubungan dengan gizi,
penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator
tidak langsung pengukuran status gizi.
c. Faktor ekologi
Ekologi adalah malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi
multi faktor lingkungan fisik, biologi, ekonomi, politik, dan budaya. Jumlah
makan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah,
irigasi dan sebagainya. Untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu
masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi
gizi.
d. Konsep Gizi Seimbang
Setiap orang dalam menjalani kehidupan yang seimbang memerlukan adanya
kebutuhan yang seimbang pula. Untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup
yang baik diperlukan lima kelompok zat gizi yaitu karbohidrat, protein, lemak,
mineral dan vitamin dalam jumlah yang cukup tidak berlebihan dan tidak
kekurangan (Atikah.P 2009).
Dalam beberapa kondisi, gizi seimbang antara ibu normal, ibu hamil dan ibu
menyusui bisa berbeda karena adanya berbagai kebutuhan tambahan terutama
bagi kandungan ibu hamil dan yang paling penting untuk persiapan produksi ASI
pada ibu menyusui.
Ketika ibu sedang menyusui, sebagian tubuh ibu dapat mengimbangi
permintaan tambahan pada nutrisi dengan menggunakan energi lebih besar dan
biasanya ada peningkatan nafsu makan. Ibu dapat memperoleh energi ekstra dan
nutrisi yang dibutuhkan dengan makan sedikit lebih banyak makanan
yang sama untuk ibu normal yang biasanya dikomsumsi ( Joy anderson, 2013).

3) Overweight
Overweight atau kelebihan berat badan adalah suatu keadaan terjadinya
penimbungan lemak secara berlebihan, hingga berat badan mencapai 10%-20% dari
bedan badan ideal menurut (Dedi subardja 2006) mengatakan overweight dan obesitas
adalah suatu keadaan yang terjadi bila kuatitas jaringan lemak tubuh dibandingkan
berat badan total lebih besar dari pada kondisi normal. Kondisi individu yang
overweight dan obesitas pada ibu postpartum beresiko terjadi keterlambatan onset
laktasi yang mengakibatkan penurunan durasi menyusui ASI secara eksklusif (Rivers
et al, 2009). Ibu yang memiliki status gizi overweight menyebabkan kadar
progesteron yang tinggi, yang dimana setelah melahirkan kadar progesteron
seharusnya menurun untuk merangsang sekresi prolaktin dalam memproduksi ASI.
Namun karena kadar progesteron pada ibu yang memiliki status gizi overweight lebih
tinggi sehingga dapat menghambat rangsangan produksi prolaktin, hal ini yang
membuat pengeluaran onset laktasi lebih lama, dimana indeks massa tubuh
mempunyai hubungan negative dengan waktu laktogenesis II yaitu waktu sekresi
onset laktasi. (Rasmussen. 2005) Tingginya konsentrasi progesteron dalam
postpartum dini pada ibu yang mempunyai status gizi yang lebih atau obesitas
disebabkan oleh jaringan adiposa (lemak) yang dimana jaringan adiposa merupakan
sumber extraplacental dari hormone progesterone. (Rasmussen 2005 dkk) inilah yang
menyebabkan ibu postpartum status gizi overweight berisiko meningkatkan terjadinya
keterlambatan onset laktasi dibandingkan dengan ibu postpartum dengan status gizi
normal.

2.4 Post Partum/Nifas


a. Definisi post partum
Post partum adalah masa nifas atau puerperium dimulai sejak satu jam setelah
lahirnya plasenta sampe dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu (R.Soerjo H. 2009).
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6
minggu dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum
hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. Masa nifas merupakan masa selama
persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya
pasa waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. Masa
nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang di pergunakan untuk
memulihkan kesehatan kembali yang umumnya memerlukan waktu 6-12 minggu
(Marni 2014).

b. Tujuan Asuhan masa nifas


Pada masa nifas ini terjadi perubahan-perubahan fisik maupun psikis berupa
organ reproduksi, terjadinya proses laktasi, terbentuknya hubungan antara orang tua
dan bayi dengan memberikan dukungan. Atas dasar tersebut perlu dilakukan suatu
pendekatan antara ibu dan keluarga dalam manajemen kebidanan. Ada tujuan dari
pemberian asuhan pada masa nifas :
1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis
2) Melaksanakan skrining secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau
merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi
3) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, kb,
cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
4) Memberikan pelayanan keluarga berencana
5) Mendapatkan kesehatan emosi

c. Tahapan Masa Nifas


Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan yaitu:
1) Puerperium dini
Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.
2) Puerperium intermedial
Suatu masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ reproduksi selama kurang
lebih enam sampai delapan minggu.
3) Remote puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam keadaan sempurna
terutama ibu apabila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami
komplikasi.

2.5 Hubungan status gizi dengan Onset laktasi


Berdasarkan penelitian, Status gizi yang diukur berdasarkan indeks massa tubuh
(IMT) yang lebih dari 25 kg/m2 (overweight dan obesitas), mengalami keterlambatan
onset laktasi dibanding dengan ibu yang memiliki IMT kurang dari 25 kg/m2 ( Rivers et
al,2010). Hal ini disebabkan karena ibu yang memiliki indeks massa tubuh yang lebih
atau obesitas mempunyai kadar progesteron yang lebih tinggi. Sehingga menghambat
rangsangan produksi prolaktin, hal ini yang membuat pengeluaran progesteron lama.
Tingginya konsentrasi progesteron dalam postpartum dini pada ibu yang mempunyai
indeks massa tubuh yang lebih atau obesitas karena jaringan adipose merupakan sumber
extraplacental dari hormon progesteron (Rassmussen 2005).
BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Teori

Faktor yang mempengaruhi:


Status Gizi Ibu:
Umur IMT normal
Paritas
IMT overweight
Jenis persalinan

Post Partum

Proses Pembentukan ASI:


Laktogenesis I
Laktogenesis II Onset Laktasi
Laktogenesis III

Gambar 2.2 Kerangka teori hubungan status gizi dengan onset Laktasi pada ibu post
partum. (Arisman 2010). ariani, (2010). Depkes RI, (2011). Hruschka,et al, (2006).
Marni (2014). Eglan et al, (2008). Prawiroharjo, (2008). Nugroho (2011). Sidi (2009).
Proverawati (2009)

3.2 Kerangka Konsep/ kerangka pikir

Variabel Independen Variabel Dependen

Status Gizi Ibu Onset Laktasi

Gambar 3.2. Kerangka konsep hubungan status gizi dengan onset laktasi pada ibu
postpartum di RSMH Palembang

3.3 Definisi Operaional/ Istilah

Definisi Skala
No Variabel Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur
1 Status Status gizi Pengukuran Kuesioner 1. Normal Nominal
Gizi adalah ekspresi Antropometri 2. Overweight
dari
keseimbangan
dalam bentuk
variabel-
variabel
tertentu
(Gozali, 2010).

2 IMT IMT Normal Pengukuran Timbang Nilai numerik Rasio


Normal adalah suatu Antropometri an berat IMT normal
keadaan gizi badan (18,50 24,99)
dimana hasil Meteran dalam kg/m2
pengukuran tinggi
indeks massa badan
tubuhnya
adalah 18,50
24,99 kg/m2
(WHO, 1995,
dalam Harahap
dkk, 2005)
3 IMT IMT Pengukuran Timbang Nilai numerik Rasio
Overwei Overweight Antropometri an berat IMT
ght adalah kondisi badan overweight (
berat badan Meteran 25) dalam
2
melebihi berat tinggi kg/m
badan badan
Normal
(Karimah,
2014).
4 Onset Onset laktasi Observasi Stopwat 1. Cepat Nominal
Laktasi merupakan Pengukuran ch 2. Lambat
masa waktu Kuesion
permulaan er
untuk
memperbanyak
air susu sampai
air susu keluar
pertama kali
atau persepsi
ibu kapan air
susunya keluar
(come in) yang
ditandai
dengan
payudara
terasa keras,
berat, bengkak
sampai air susu
atau kolostrum
keluar
(Hruschka et
al, 2006 dalam
Nurjanah dan
Retno, 2015).
5 Post Post partum Wawancara Kuesioner 1. Mengalami Nominal
Partum didefinisikan post partum
sebagai 2. Tidak
kehilangan mengalami
darah lebih post partum
dari 500 mL
setelah
persalinan
vaginam atau
lebih dari
1.000 mL
setelah
persalinan
abdominal
(Londok,
Lengkong, dan
Suparman,
2013 : 614-
620).

3.4 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara status gizi dengan onset
laktasi pada ibu postpartum di RSMH Palembang.
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian


Adapun Desain Penelitian pada studi ini yaitu menggunakan observasi analitik dengan
rancangan penelitian kohort prospektif dengan pendekatan kuantitatif untuk melihat
hubungan status gizi ibu dengan Onset laktasi ibu postpartum.

Onset Laktasi Cepat


IMT Ibu postpartum normal
Onset Laktasi Lambat
Ibu postpartum

Onset Laktasi Cepat


IMT Ibu postpartum Overweight
Onset Laktasi Lambat

Gambar 3.1 Rancangan penelitian kohort prospektif

4.2 Variabel Penelitian


a. Variabel Independent : Status Gizi
b. Variabel Dependent : Onset Laktasi pada ibu postpartum

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian


a. Populasi
Menurut Sugiyono (2008), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari
obyek atau subyek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam
penelitian ini, populasi adalah seluruh ibu post partum yang berada di RS
Muhammad Hosien Palembang dari 09 Januari 01 April tahun 2017.
Seluruh populasi seluruh ibu post partum yang berada di RS Muhammad Hosien
Palembang dari 09 Januari 01 April tahun 2017 berjumlah 53 ibu postpartum.

b. Sampel
Menurut Kleinbaurn et.al., 1982; Hennekens and Buring, 1987; Mercer,1991;
Last,2001, sebagaimana dikutip oleh Sulistyaningsih bahwa sampel adalah subset
yang dicuplik dari populasi, yang akan diamati dan diukur peneliti. Besaran sampel
yang akan diteliti harus benar-benar mewakili populasi yang ada, agar dapat
menggambarkan keadaan sebenarnya dengan tepat. Penentuan teknik sampling yang
akan digunakan dalam pengambilan sampel akan bergantung pada tujuan penelitian
dan karakteristik populasinya (Isgiyanto,2009).
Jumlah populasi dalam penelitian ini yaitu < 10.000, maka dapat digunakan
formula yang sederhana sebagai berikut (Sulistyaningsih : 2011) :

N
=
1+N(d)
Keterangan :
N = besarnya populasi
n = besarnya sampel
d = tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan yaitu 95% (0,05)

N
=
1+N(d)

53
=
1+53(0,05)
53
=
1.1325

= 47
Jadi, jumlah sampel yang diperlukan dalam penelitian ini berjumlah 47 responden.

c. Kriteria Sampel Penelitian


Adapun kriteria responden penelitian dalam hal ini ibu yang melahirkan di RS
Muhammad Hoesin Palembang yakni
a. Kriteria Inklusi
Ibu post partum yang bersedia menjadi responden
Ibu post partum dengan semua jenis persalinan kecuali ibu yang
melahirkan dengan induksi misoprostol.
Bayi lahir dengan sehat.
BBL 2500 - 4000 gram
Ibu yang berusia 20 - 35 tahun
Bayi yang tidak melakukan IMD dan pijat oksitosin
Ibu yang berdomisili di kota Yogyakarta dan mempunyai alat
komunikasi (handphone)
b. Kriteria eksklusi
Ibu yang mengeluarkan ASI sebelum bersalin
Ibu postpartum atau bayinya yang tiba-tiba sakit
Ibu dengan kelainan payudara
Bayi yang mengalami kognenital
Mengalami depresi postpartum
Ibu yang kehilangan kontak komunikasi

d. Teknik pengambilan sampel


Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling
atau disebut juga judgement sampling

4.4 Etika Penelitian


Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari
pihak institusi atas pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi
tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan
menekankan masalah etika penelitian yang meliputi :
a. Informed consent
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden tujuannya adalah supaya
subyek mengetahui maksud dan tujuan penelitian, serta memiliki hak untuk bebas
berpartisipasi atau menolak menjadi responden pada informed consent juga perlu
dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya dipergunakan untuk
pengembangan ilmu
b. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyektif, maka tidak dicantumkan nama
subyek pada lembar pengumpulan data yang diisi subyek. Lembar tersebut hanya
diberi nomor kode tertentu pada masing-masing lembar tersebut
c. Confidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan tidak disampaikan ke
pihak lain yang tidak terkait dengan penelitian
d. Sukarela
Responden pada penelitian tersebut bersifat sukarela, jadi tidak ada usur
pemaksaan untuk menjadi responden

4.5 Alat dan Metode Pengumpulan Data


a. Alat pengumpulan data
1. Untuk mendapatkan data indeks massa tubuh peneliti melakukan
pengukuran tinggi badan (TB) secara langsung dengan menggunakan alat
ukur meteran yang telah ditera dengan ketelitian 0,1 cm, sedangkan untuk
pengukuran berat badan (BB) ibu di ukur oleh peneliti pada hari ke-1 pasca
melahirkan dengan menggunakan timbangan injak yang telah di kalibrasi
dengan ketelitian 0,1 kg. Hasil pengukuran kemudian dilakukan
penghitungan IMT dengan rumus : BB pasca melahirkan dalam kilogram
(kg) dibagi TB dalam meter dikuadratkan (m2). Hasil pengukuran ini ditulis
dalam lembar kuisioner dan mengisi salah satu dari dua kategori yaitu
apakah ibu termasuk ke dalam IMT normal atau IMT overweight.
2. Untuk mengukur onset laktasi peneliti menggunakan lembar kuesioner
melalui hasil dari observasi onset laktasi yang telah dibuat sendiri oleh
peneliti. Onset laktasi dipantau setiap 12 jam selama 3 hari atau 72 jam
pasca melahirkan. Pada lembar kuesioner terdapat keterangan yang berisi
cara penulisan onset laktasi. Bila onset laktasi telah terjadi dapat diberi
dengan tanda (), jika onset laktasi belum terjadi ditandai dengan tanda (-).
Kemudian ditulis pula berapa lama waktu dari pasca melahirkan hingga
onset laktasi tersebut terjadi.
3. Untuk mengetahui identitas, pekerjaan, pendidikan, umur, paritas, jenis
persalinan, dan berat badan bayi dengan menggunakan lembar kuesioner.

b. Metode pengumpulan data


Metode pengumpulan data dari penelitian ini dimulai dengan menentukan
calon responden sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang sebelumnya
telah ditetapkan oleh peneliti dengan melihat catatan data rekam medis (RM)
responden. Sebelum penelitian ini dilakukan peneliti telah memperkenalkan diri
kepada calon responden dan menanyakan kembali nama responden. Selesai
memperkenalkan diri kemudian peneliti menjelaskan maksud, tujuan dan alur
penelitian yang akan dilakukan kepada calon responden. Selain itu peneliti juga
menjelaskan tentang onset laktasi yang dimaksud oleh peneliti.
Hal ini dimaksudkan agar calon responden mengetahui tentang penelitian yang
akan dilakukan kepadanya dan tidak terjadi persepsi antara responden dan
peneliti, tentang onset laktasi. Sehingga akan meminimalisir terjadinya loss to
follow up di tengah-tengah penelitian dan data yang di dapatkan lebih akurat.
Jika calon responden sudah mengetahui dan bersedia menjadi responden,
maka dilakukan pengukuran tinggi badan (TB) dan berat badan (BB). Setelah
dilakukan pengukuran BB dan TB maka peneliti melakukan penghitungan IMT
sesuai dengan rumus yang ditetapkan oleh peneliti. Setelah penghitungan IMT
selesai peneliti melanjutkan dengan melakukan observasi onset laktasi ibu yang
dipantau tiap 12 jam selama 3 hari atau 72 jam pasca melahirkan. Apabila onset
laktasi sudah terjadi sebelum 72 jam maka penelitian ini akan dihentikan hanya
sampai terjadinya onset laktasi, sedangkan jika onset laktasi terjadi lebih dari 72
jam dan ibu sudah pulang dari rumah sakit maka akan dilakukan wawancara via
telepon sampai onset laktasi ibu terjadi. Namun sebelum pulang kerumah ibu
diberi penyuluhan terlebih dahulu untuk mengigatkan ibu tentang onset
laktasinya.

4.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data


a. Metode pengolahan.
Setelah data diperoleh kemudian dilakukan pengolahan dengan tahap-tahap sebagai
berikut:
1. Editing / memeriksa. Memeriksa data yang telah terkumpul, kelengkapan,
kebenaran pengisian data, menghindari perhitungan yang salah dan
memperjelas data yang diperoleh. Penelitian hanya memilih data yang sesuai
dengan kriteria yang dibutuhkan dalam penelitian ini. obyektif atau tidak bias.
2. Coding / memberikan tanda kode. Setelah data terkumpul, tahap selanjutnya
adalah memberi kode terhadap data-data yang telah terkumpul dan selesai
diedit berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Kode berbentuk angka
karena hanya angka yang dapat diolah dengan bantuan software SPSS 20 pada
komputer. Data yang berskala ukur interval dan ratio tidak perlu dikoding
karena data tersebut sudah dalam bentuk angka. Dalam penelitian ini kode
yang digunakan untuk onset laktasi yaitu 1. onset laktasi cepat dan 2. onset
laktasi lambat. Sedangkan untuk status gizi yaitu 1. bila normal dan 2. bila
overweight.
3. Entry Data. Memasukan data yang telah dikoding ke dalam software SPSS 20
pada komputer. Dalam melakukan entry data perlu ketelitian dan kecermatan
peneliti dalam memasukan data tersebut. Karena apabila salah melakukan
entry maka berpengaruh pada kebenaran data selanjutnya, berpengaruh pada
hasil analisis serta pengambilan kesimpulan hasil penelitian.
4. Tabulasi Data. Setelah data tersebut masuk kedalam software SPSS 20
kemudian direkam dan disusun dalam bentuk penyajian tabel agar dapat
dibaca dengan jelas kemudian dilakukan analisis data secara univariat dan
bivariat.

b. Analisis data
1. Analisis univariat
Analisis univariat dengan tujuan yaitu mendistribusikan frekuensi
karakteristik dari tiap variabel status gizi dan onset laktasi. Dimana didapatkan
hasil responden status gizi normal sebanyak 7 responden dan overweight
sebanyak 7 responden.
2. Analisis bivariat
Analisa bivariat pada penelitian ini diketahui adanya hubungan antara status
gizi dengan onset laktasi pada ibu post partum di RS Muhammadiyah
Palembang. Pada saat analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi
Square (X2), dengan tingkat kemaknaan p<0.05 dengan confidence interval (CI)
95%. Uji Chi Square merupakan teknik teknik uji statistik yang digunakan
untuk menguji hipotesis bila dalam populasi terdiri atas dua atau lebih kelas
dengan data berbentuk nominal dan sampelnya besar (Sugiono, 2007 dalam
Hajerah, 2015).
Keeratan hubungan antara status gizi dengan onset laktasi pada ibu post
partum di RS Muhammadiyah Palembang diketahui dengan menggunakan
rumus Coeffisien Configency, yang mana digunakan bila datanya berbentuk
nominal (kategorikal) dan sampel atau kelompok saling independen. Teknik ini
mempunyai kaitan erat dengan rumus Chi Kuadrat (X2). Keeratan hubungan
yang dianalisis dengan menggunakan nilai coefficient contigency ditentukan
dengan berpedoman pada kekuatan tabel.

Tabel
Pedoman pemberian interpretasi terhadap coefficient contingency
Interval koefisien Tingkat hubungan
0,800-1,000 Sangat kuat
0,600 - 0,799 Kuat
0,400 - 0,599 Cukup kuat
0,200 - 0,399 Lemah
0,000 - 0,199 Sangat lemah
Daftar Pustaka

Achmad Gozali. 2010. Hubungan Antara Status Gizi dengan Klasifikasi Pneumonia pada
Balita di Puskesmas Gilingan Kecamatan Banjarsari. Surakarta : Fakultas
Kedokteran, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ambarwati,wulandari (2010) Asuhan kebidanan Masa Nifas. Yogyakarta : pustaka Rihana

Ambarwati,wulandari (2010) Asuhan kebidanan Masa Nifas. Yogyakarta : pustaka Rihana

Arisman, M.B (2010). Buku Ajar Ilmu Gizi, Gizi Dalam Daur Kehidupan (Ed 2). Jakarta :
EGC

Depkes RI. (2003). Ibu bekerja tetap memberikan Air Susu Ibu, Jakarta

Depkes RI. (2005). Manajemen Laktasi, 2005

Depkes (2013) Profil kesehatn Indonesia tahun 2013

Dewey, Kathryn(2005) Risk factor for subobtimal infant breasfeeding behavior, delayed
onset of lactation and excess neonatal weight loss. Pediatrics, 112:607-619.

Eni (2012), Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Onset laktasi,Yogyakarta

Erina eka hatini Dkk (2014). Pengaruh Onset laktasi terhadap praktik pemberian ASI pada
neonates di palangka Raya. Jurnal Teknologi Kesehatan volume 10hlm 22-27

Ginanjar, P dan saraswati, LD. (2012). Gambaran inisiasi menyusui dini kabupaten brebes.
Seminar nasional world fit for children. Semarang fakultas kesehatan masyarakat
universitas diponogoro

Grajeda and Escamilla (2005) stress during labour and Delivery Is Associated with Delayed
Onset of Laktation among urban Guatemala Women. The journal Of Nutrition,
132:3055-3060

Harahap, Heryudarini, Yekti Widodo, dan Sri Mulyati. 2005. Penggunaan Berbagai Cut-Off
Indeks Massa Tubuh Sebagai Indikator Obesitas Terkait Penyakit Degeneratif Di
Indonesia. Jurnal Gizi Indonesia, Volume 2, Nomor 28. Depkes : Pusat Penelitian
dan Pengembangan Gizi dan Makanan, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan.
Hruschka, et al. (2005). Delayed Onset Laktasion And Of Ending Full breastfeeding Early In
rutal Guatemala. The journal Of Nutrition , 133,2592- 2599.

Hruschka, et al. (2005). Delayed Onset Laktasion And Of Ending Full breastfeeding Early In
rutal Guatemala. The journal Of Nutrition , 133,2592- 2599.
Karimah, Ima. 2014. Aktivitas Fisik, Kebugaran, dan Prestasi Belajar pada Anak Sekolah
Dasar Normal dan Kegemukan di Bogor. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Khasanah. N. (2011) ASI Atau susu formula YA? : Panduan lengkap sekitar ASI dan susu
formula. Yogyakarta : flesh box

Kristianingsih, Weni. 2009. ASI, Menyusui dan sadari. Nuha medika .yogyakarta

Lawrence et al, (2008) Approach-fedding-dalam dugan, C (Eds) Nutrition in padiatrics. 4th


edition.Hamilton, Ontario Canda: BC decker inc

Laporan SDKI (2012) Provinsi Sumatera Selatan

Laporan data Dinas Kesehatan Kota Palembang (2015)

Londok, Lengkong, dan Suparman. 2013. Karakteristik Perdarahan Antepartum dan


Perdarahan Postpartum. Jurnal e-Biomedik (eBM), Volume 1, Nomor 1, Maret
2013, hlm : 614-620. Manado : Fakultas Kedokteran, Universitas Sam Ratulangi
Manado.

Marni (2014) Asuhan kebidanan pada masa nifas. Yogyakarta:pustaka pelajar

National Obesity obsevatory,(2009) body mass index as a measure of obesity association of


public health,London

Nugroho. (2011). ASI dan tumor payudara. Yogyakarta: Nuhamedia

Nurjanah, Putri, dan Retno Mawarti. 2015. Hubungan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dengan
Onset Laktasi pada Ibu PostPartum di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta. Yogyakarta : Stikes Aisyiyah Yogyakarta.

Prawiraharjo, sarwono (2008) ilmu kebidanan. Jakarta: bina pustaka sarwono

Profil kesehatan Indonesia (2013)

Profil Kesehatan Sumatera Selatan (2012)

Proverawati, atikah. Erna kusumawati. 2011. Ilmu Gizi untuk keperawatan & gizi
Proverawati,Atika (2009) Gizi untuk kebidanan.

Rasmussen K.M & Kjolhede C.L (2005). Prepregnant overweight and obesity diminish the
plrolactin response to suckling in the firs week postpartum.american academy
pediatrics,113,e465

Rivers, L.A.N., Chantry, C.J., Person, J.M., Cohen, R.J. & Dewey, K.G. (2010)

WHO/UNICEF (2006). Breasfeeding Definitions and Data Collection Periods Canada.


WHO and UNICEF.