Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pediatri berkenaan dengan kesehatan bayi, anak, dan remaja, pertumbuhan dan

perkembangan, dan kesempatannya untuk mencapai potensi penuh sebagai orang dewasa. 1

Pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh oleh berbagai faktor seperti imunisasi,

pemberian makanan, dan pola asuh. Pemberian imunisasi dasar merupakan imunisasi yang

wajib dilakukan. Pemberian makan yang baik harus memerlukan kerja sama antara ibu dan

anak. Hal ini sangat membantu kesehatan emosional bayi dan anak. Apabila faktor-faktor

tersebut tidak terpenuhi maka pertumbuhan dan perkembangan anak akan terganggu. Untuk

mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dilakukan pemeriksaan denver II

dan pemeriksaan antropometri serta pemeriksaan abgar score untuk pemeriksaan pada saat

anak dilahirkan.

2. Tujuan

Untuk mengetahui masalah pediatri sosial

Untuk mengetahui pemeriksaan antropometrik, pemeriksaan Denver II, dan

pemeriksaan abgar score

Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan sampai balita

Untuk mengetahui macam-macam imunisasi dasar

Untuk mengetahui cara pemberian makanan

1
BAB II

ISI

1. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik anak dibagi menjadi 2 macam yaitu:

a. Pemeriksaan Denver II

Uji skrining yang paling sering digunakan adalah development denver screening test

(DDST). DDST memberikan penilaian empat domain perkembangan pribadi-sosial,

penyesuaian motorik halus, bahasa dan motorik kasar sejak lahir sampai umur 6

tahun. Uji ini dilakukan dalam waktu 20-30 menit tanpa pelatihan yang luas dan

peralatan yang mahal.1,2

Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, DDST secara efektif dapat

menidentifikasikan antara 85-100 % bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami

keterlambatan perkembangan dan pada follow up selanjutnya ternyata 89% dari

kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di sekolah 5-6 tahun kemudian.

DDST telah dikritik karena kurang mengidentifikasi anak dengan ketidakmampuan

perkembangan anak khususnya masalah bahasa. Uji ini bukan untuk meramalkan

akan tetapi untuk mendeteksi kemampuan anak di bawah normal dengan umur

sebayanya. Selain itu DDST bukan pula tes diagnostik atau tes IQ.2 Uji ini kemudian

diterbitkan kembali sebagai DDST-II dengan seksi bahasa yang sangat dipetluas.

DDST-II dilaporkan mempunyai sensitivitas yang lebih besar terutama untuk

keterlambatan bahasa.

2
Frankenburg melalui DDST mengemukakan empat parameter perkembangan yang

dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu:

Personal social

Aspek ini berhubungan dengan kemandirian, bersosialisasi, dan berinterraksi

dengan lingkungannya.

Fine motor adaptive

Aspek ini berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu,

melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan

dilakukan otot-otot kecil saja tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.

Misalnya kemampuan untuk menggambar, memegang suatu benda, dan lain-

lain.

Language

Kemampuan untuk memberikan respon pada suara, mengikuti perintah, dan

berbicara spontan

Gross motor

Aspek ini berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

Sektor-sektor ini dapat dijabarkan pada tabel 2.1.1.

3
Tabel 2.1.1. DDST II

Personal sosial Fine motor adaptive Language Grass motor


0 bulan Menatap muka - Suara vokal Mengangkat kepala
Bereaksi pada suara Gerakan merata
1 bulan Membalas senyum Mengikuti sampai garis tengah Suara vokal (>90%) Mengangkat kepala
(80%) (85%) (>90%)

Memandang muka Bereaksi pada bel


(90%) (>90%)

2 bulan Tersenyum spontan Mengikuti dan melewati garis Bersuara "Ooo atau Kepala terangkat 450
(85%) tengah (75%) Aaa" (80%) (80%)
Membalas senyum
(80%)
Memandang muka
(90%)
3 bulan Memandang tangan Kedua tangan bersentuhan atau Memekik (80%) Duduk: kepala mantap
sendiri (75%) bersatu (80%) (75%)
Tersenyum spontan Mengikuti melewati garis Tertawa (90%) Kepala terangkat 90o
(>90%) tengah (>90%) (80%)
Bersuara "Ooo atau
Aaa" (>90%)
4 bulan Memangang tangan Mengikuti 1800 (80%) Memekik (85%) Dada terangkat lengan
sendiri (90%) menumpu (75%)

Kedua tangan bersentuhan atau Tertawa (90%) Menumpu berat badan


bersatu (90%) kaki (80%)

Menggenggam sedikit-sedikit
(>90%)
5 bulan Mencoba mengambil Meraih benda (<75%) Menoleh ke bunyi
mainan (<75%) menderik (80%)
Memandang tangan Memandang manik-manik Berbalik (85%)
sendiri (>90%) (85%)

Mengikuti 180o (>90%)


6 bulan Makan sendiri (75%) Mencari benang wol (<75%) Menirukan Duduk tanpa ditumpu
bunyi/bicara (75%) (<75%)
Mencoba mengambil Meraih benda (>95%) Suku kata tunggal Ditarik untuk duduk :
mainan (>90%) (>75%) Kepala tidak tertinggal
(>85%)
Menoleh ke bunyi Berbalik (>90%)
suara (80%)

7 bulan Tangan melambai Mengambil 2 kubus (<75%) Da da mama non Duduk tanpa ditumpu
dag dag (<75%) spesifik (<75%) (>90%)

Makan sendiri (>90%) Memindahkan kubus (75%) Menirukan


bunyi/bicara (80%)
Mengambil manik-manik Suku kata tunggal
dengan gerakan menggaruk (80%)
(80%)

Mencari benang wol (85%) Menoleh ke bunyi


suara (>90%)
4
8 bulan Tangan melambai Mengambil 2 kubus (80%) Mengoce (<75%) Berdiri, berpegangan
dag dag (<75%) (80%)
Tepuk tangan / pok Memindahkan kubus (>90%) Da da mama non
ame ame / ciluk ba spesifik (80%)
(<75%)
Menirukan
bunyi/bicara (85%
Suku kata tunggal
(>90%)
9 bulan Tangan melambai Membenturkan 2 kubus Mengoce (80%) Duduk sendiri (<75%)
dag dag (<75%) (<75%)
Tepuk tangan / pok Menggenggam pinset (<75%) Da da mama non Bangkit untuk berdiri
ame ame / ciluk ba spesifik (85%) (<75%)
(<75%)
Mengambil 2 kubus (85%) Menirukan Bangkit untuk berdiri
bunyi/bicara (90%) (<75%)

10 bulan Bermain bola dengan Membenturkan 2 kubus Da da mama Berdiri 2 detik (<75%)
pemeriksa (<75%) (<75%) spesifik (<75%)

Dag dag dengan Menggenggam pinset (85%) Mengoce (80%) Duduk sendiri (85%)
tangan (80%)

Menyatakan Mengambil 2 kubus (>90%) Mengkombinasi suku Bangkit untuk berdiri


keinginan (<75%) kata-suku kata (85%) (90%)

Tepuk tangan / pok Menirukan Berdiri, berpegangan


ame ame / ciluk ba bunyi/bicara (>90%) (>90%)
(<75%)
Da da mama non
spesifik (>90%)
11 bulan Bermain bola dengan Membenturkan 2 kubus (85%) Da da mama Berdiri 2 detik (75%)
pemeriksa (<75%) spesifik (<75%)

Dag dag dengan Menggenggam pinset (>90%) Mengoce (85%) Duduk sendiri (>90%)
tangan (80%)

Menyatakan Mengkombinasi suku Bangkit untuk berdiri


keinginan (75%) kata-suku kata (>90%)
(>90%)
Tepuk tangan / pok
ame ame / ciluk ba
(85%)

2 tahun Mengenakan baju Menara 6 kubus (75%) Menunjuk 4 gambar Melempar bola tangan
(<75%) (<75%) ke atas (<75%)

Menyuapi boneka Menara 4 kubus (>90%) Berbicara sebagian Menendang bola ke


(90%) dimengerti (<75%) depan (>90%)

Membuka pakaian Bagian badan 6 (80%)


(90%)
Menyebut 1 gambar
(75%)

Mengkombinasi kata
(85%)
Menunjuk 2 gambar
(>90%)

3 tahun Mengenakan T shirt Menara 8 kubus (80%) Mengetahui dua nama Berdiri pada satu kaki 1
(75%) sifat (75%) detik (80%)
Menyebut nama teman Meniru garis vertikal (85%) Mengetahui dua kegiatan Lompatan lebar (75%)
(85%) (85%)

Mencuci dan Menara 4 kubus (>90%) Menyebut 4 gambar Melempar bola tangan ke
mengeringkan tangan (>90%) atas (>90%)
(85%)

4 tahun Berpakaian tanpa Mencontohkan + (<75%) Mengetahui tiga kata Berdiri pada satu kaki 3
bantuan (80%) sifat (80%) detik (80%)

Mengenakan T shirt Memilih garis yang lebih panjang Mengetahui empat kata Melompat dengan satu kaki
(>90%) (75%) depan (80%) (85%)

Mencontohkan O (85%) Berbicara seluruhnya Berdiri di atas satu kaki 2


dimengerti (85%) detik (90%)

Mengetahui empat
kegiatan (85%)
Kegunaan 3 benda (85%)
Menghitung 1 kubus
(>90%)
5 tahun Mengambil makanan Menggambar orang 6 bagian Lawan kata 2 (25%) Berjalan tumit ke jari kaki
(85%) (>25%) (<25%)

Menggosok gigi tanpa Mencontohkan (<25%) Menghitung 5 kubus Berdiri pada satu kaki 5
bantuan (90%) (25%) detik (80%)

Bermain ular tangga Memilih garis yang lebih panjang Mengetahui 3 kata sifat Berdiri pada satu kaki 4
(>90%) (85%) (85%) detik (90%)

Mencontohkan + (>90%) Mengartikan 5 kata


(85%)

Menyebutkan 4 warna
(>90%)
(Dikutip sesuai dengan aslinyadari kepustakaan no.1 )

6
Gambar 2.1.1. Grafik development denver screening test yang terdiri atas 4 komponen yaitu

personal social, fine motor-adaptive, language, dan gross motor

Alat yang digunakan dalam test ini adalah:

Alat peraga

Benang wol merah, kismis atau manik-manik, kubus warna merah, kuning, hijau, biru,

permainan anak, botol kecil, bola tenis, bel kecil, kertas, dan pensil.

Lembar formulir DDST

Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara

penilaiannya
7

Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap yaitu:2

Tahap pertama

Secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia antara 3 bulan sampai 5 tahun

yaitu:

3-6 bulan

9-12 bulan

18-24 bulan

3 tahun

4 tahun

5 tahun

Tahap kedua

Tahap ini dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada

tahap pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.

Interpretasi test denver adalah:

Normal

Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan

Suspect

Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak kewaspadaan

Untestable

Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih

dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai 90%

Beberapa macam keterlambatan pada perkembangan anak yaitu:

Delay (keterlambatan)

Keterlambatan bermakna di bawah rata-rata dalam suatu sektor perkembangan

(DQ<75 U). Keterlambatan ini dapat terjadi dalam satu atau lebih sektor

perkembangan.
8

Delay dibagi menjadi 2 macam yaitu:

Moderate delay

Delay yang usia perkembangan 2/3 dari usia kronologisnya (DQ 66,6 U).

Severe delay

Delay yang usia perkembangan dari usia kronologisnya (DO 50 U).

Global Delayed Development (GDD)

Adanya keterlambatan yang bermakna dalam dua atau lebih sektor-sektor

perkembangan.

Dissociation (disosiasi)

Perbedaan bermakna dari derajat maturasi perkembangan di antara 2 atau lebih sektor

perkembangan

Deviancy (deviansi)

Delay yang terjadi dalam satu sektor perkembangan dimana gugus tugas dalam sektor

tersebut diselesaikan tidak sesuai dengan urutan yang seharusnya.


9

b. Pemeriksaan antropometrik

Pengertian istilah nutritional anthropometry mula-mula muncul dalam Body

measurements and Human Nutrition yang ditulis oleh Brozek pada tahun yang telah

didefinisikan oleh Jelliffe yaitu pengukuran pada variasi dimensi fisik dan komposisi

besaran tubuh manusia pada tingkat usia dan derajad nutrisi yang berbeda.

Pengukuran antropometri ada 2 tipe yaitu pertumbuhan, dan ukuran komposisi tubuh

yang dibagi menjadi pengukuran lemak tubuh dan massa tubuh yang bebas lemak.

Penilaian pertumbuhan merupakan komponen esensial dalam surveilan kesehatan

anak karena hampir setiap masalah yang berkaitan dengan fisiologi, interpersonal,

dan domain sosial dapat memberikan efek yang buruk pada pertumbuhan anak. Alat

yang sangat penting untuk penilaian pertumbuhan adalah kurva pertumbuhan

(growth chart) pada gambar terlampir, dilengkapi dengan alat timbangan yang

akurat, papan pengukur, stadiometer dan pita pengukur.

Pengukuran antropometrik terdiri atas:

Berat badan

Merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan

pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi

normal atau BBLR.

Berat badan merupakan pilihan utama karena berbagai pertimbangan:

Parameter yang baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat

Memberi gambaran status gizi sekarang dan gambaran yang baik tentang

pertumbuhan

Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan luas.
Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh ketrampilan pengukur

10

Alat yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan:

Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain

Mudah diperoleh dan relatif murah harganya

Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg

Skala mudah dibaca

Cukup aman untuk menimbang anak balita.

Cara penimbangan berat badan untuk usia kurang dari 2 tahun adalah:

Timbang bayi dengan menggunakan timbangan khusus bayi atau anak

Timbangan terdapat di atas permukaan yang keras dan rata

Setiap kali sebelum menggunakan timbangan, timbangan tersebut harus

ditera terlebih dahulu

Menimbang dengan cara tidak langsung dengan cara menimbang berat ibu

dengan bayi atau anaknya kemudian berat ibunya sendiri dikurangi dengan

berat ibunya. Penimbangan dengan cara ini sangatlah tidak akurat

Timbanglah bayi atau anak tanpa baju atau dengan popoknya saja. Popok

tersebut terlebih dahulu ditimbang

Berat badan dicatat dengan ketelitian 0,1 kg

Penimbangan dilakukan sebanyak 2 kali

Cara penimbangan berat badan untuk usia lebih dari 2 tahun adalah:

Lege artis adalah penimbangan sesuadah buang air besar dan sebelum

makan

Timbangan berada di atas permukaan yang rata dan keras


11

Setiap kali sebelum menggunakan jarum timbangan, jarum tersebut

dikembalikan pada titik 0

Subyek berdiri tanpa bantuan di tengah platform, santai tapi diam, melihat

lurus ke muka dalam bidang horizontal Frankfurt

Pakaian subyek dilepas semua kecuali pakaian dalam yang ringan atau

diberi pakaian khusus yang beratnya diketahui dan tanpa alas kaki

Berat badan dicatat denga ketelitian mendekati 0,1 kg

Sebaiknya penimbangan dilakukan 2 kali

Tinggi atau panjang badan

Mengukur tinggi badan dilakukan pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun

atau anak tersebut dapat berdiri dengan sempurna. Pengukuran panjang badan

dilakukan pada bayi atau anak di bawah umur 2 tahun.

Lingkar kepala

Lingkar kepala harus diperiksa selama 2 tahun pertama kehidupan anak.

Pengukuran ini berguna untuk mengetahui pertumbuhan kepala anak. Lingkar

kepala pada bayi dicerminkan pertumbuhan tengkorak dan otak.

Yang diukur adalah lingkaran kepala terbesar. Caranya dengan meletakan pita

yang melingkari kepala melalui glabela pada dahi, bagian atas alis mata, dan

bagian belakanag kepala bayi yang paling menonjol yang disebut protuberantia

ocipitalis.

Ukuran kepala yang kecil dapat disebabkan karena terlalu cepat menutup dutura

atau pada keadaan mikrosefali. Ukuran kepala yang terlalu besar (lebih dari

sembilan puluh tujuh persentil atau 2 SD diatas nilai rata-rata) disebut

makrosefali yang mungkin disebabkan oleh hidrocephalus


12

Lingkar lengan

Cara mengukur lingkar lengan adalah:

Menentukan titik tengah lengan atas

Setelah ditentukan, lengan diturunkan hingga tergantung bebas di samping

tubuh dengan telapak tangan menghadap paha

Pita pengukur titempatkan di sekitar lengan atas kiri atau kanan setinggi

titik tengah.

Ambil ukuran dengan ketelitian mendekati 1 mm.


13

2. Imunisasi Dasar

Imunisasi adalah suatu pemindahan atau transfer antibodi secara pasif. 3 Vaksinasi adalah

pemberian vaksin yang dapat merangsang imunitas dan sistim imun di dalam tubuh.

Imunitas pasif dapat diperoleh dari pemberian dua macam bentuk yaitu imunoglobulin

yang non-spesifik atau gamaglobulin dan imunoglobulin yang spesifik yang berasal dari

plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu atau baru saja mendapatkan

vaksinasi penyakit tertentu.3 Imunoglobulin non-spesifik digunakan pada anak dengan

defisiensi imunoglobulin sehingga memberikan perlindungan dengan segera dan cepat

yang seringkali dapat terhindar dari kematian. Imunoglobulin ini hanya memberikan

perlindungan sementara yaitu beberapa minggu saja. Imunoglobulin yang non-spesifik

selain mahal, memungkinkan anak menjadi sakit karena secara kebetulan atau

kecelakaan memasukkan serum yang tidak bersih dan masih mengandung kuman yang

aktif. Imunoglobulin yang spesifik diberikan pada anak yang belum terlindung karena

belum pernah mendapatkan vaksinasi dan kemudian terserang misalnya penyakit difteria.

Imunisasi dasar terdiri atas:

a. BCG

Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 3 bulan. Namun untuk mencapai

cakupan yang lebih luas, Departemen Kesehatan menganjurkan pemberian imunisasi

BCG pada umur antara 0-12 bulan.3 Imunisasi BCG ulangan tidak dianjurkan.

Dosis 0.05 ml untuk bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml untuk anak lebih dari 1

tahun.3 Vaksinasi BCG diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas pada

insersio Musculus deltoideus sesuai anjuran WHO dan tidak diberikan ditempat lain.

14
Hal ini mengingat penyuntikan secara intradermal di daerah deltoid lebih mudah

dilakukan, ulkus yang terbentuk tidak mengganggu struktur otot setempat

dibandingkan pemberian di daerah glueus lateral, dan sebagai tanda baku untuk

keperluan diagnosis apabila diperlukan.3

Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi tuberculosis (TB), namun dapat

mencegah komplokasinya. Para pakar menyatakan bahwa efektivitas vaksin untuk

perlindungan penyakit hanya 40% dan sekitar 70% kasus tuberculosis berat

(meningitis) ternyata mempunyai parut BCG, dan kasus dewasa dengan bakteri

tahan asam (BTA) positif di Indonesia cukup tinggi yaitu sekitar 25%-36%

walaupun mereka telah mendapat BCG pada masa kanak-kanak.3 Oleh karena itu,

saat ini WHO sedang mengembangkan vaksin BCG baru yang lebih efektif.

Vaksin BCG merupakan vaksin hidup sehingga tidak dapat diberikan pada pasien

imunokompromais seperti leukimia, anak yang sedang mendapatkan steroid jangka

panjang, atau menderita infeksi HIV.

Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji

tuberkulin terlebih dahulu. Vaksin ini diberikan apabila uji tuberkulin negatif.

b. Hepatitis B

Vaksin Hepatitis B harus segera diberikan setelah lahir, mengingat vaksinasi

Hepatitis B merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif untuk memutuskan

rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu ke anaknya.

15
Jadwal imunisasi Hepatitis B yaitu:3

Imunisasi Hepatitis B-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah

lahir, mengingat paling tidak 3,9% ibu hamil menginap Hepatitis B aktif dengan

resiko penularan kepada bayinya sebesar 45%.

Imunisasi Hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan (4minggu) dari imunisasi

hepatitits B-1 yaitu pada saat bayi berumur 1 bulan. Untuk mendapat respon

imun optimal, interval imunisasi Hepatitis B-2 dengan Hepatitis B-3 minimal 2

bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi Hepatitis B-3 diberikan pada umur 3-6

bulan.

Jadwal dan dosis Hepatitis B-1 saat lahir dibuat berdasarkan status HBsAG ibu

saat melahirkan yaitu ibu dengan status HBsAG yang tidak diketahui, ibu

dengan HBsAG positif, dan ibu dengan HBsAG negatif

Departemen Kesehatan mulai tahun 2005 memberikan vaksin Hepatitis B-0

monovalen saat lahir yang kemudian dilanjutkan dengan vaksin kombinasi

DTwP atau Hepatitis B pada umur 2-4 bulan. Tujuan vaksin Hepatitis B

diberikan dalam kombinasi DTwP untuk mempermudah pemberian dan

meningkatkan cakupan hepatitits B-3 yang masih rendah.

Hepatitis B saat bayi lahir tergantung status HBsAG ibu karena terdapat 2 faktor

yaitu:3

Bayi lahir dari ibu dengan status HBsAG yang tidak diketahui: Hepatitis B-I

harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan dilanjutkan pada umur 1

bulan dan 3-6 bulan. Apabila status HBsAG ibu tidak diketahui dan dalam

perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HBsAG positif maka ditambahkan

Hepatitis B imunoglobulin (HBIg) 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.

16
Bayi lahir dari ibu dengan status HBsAG positif diberikan vaksin Hepatitis B-1

dan HBIg 0,5 secara bersamaan dalam waktu 12 jam setelah lahir.

Ulangan imunisasi Hepatitis B yaitu:3

Telah dilakukan penelitian multisenter di Thailand dan Taiwan terhadap anak

dari ibu pengidap Hepatitis B yang telah memperoleh imunisasi dasar 3 kali

pada masa bayi. Pada umur 5 tahun, 90,7% diantaranya masih memiliki titer

antibodi anti HBs protektif (kadar anti HBs lebih dari 10 g/ml). Mengingat

pola epidemiologi Hepatitis B di Indonesia mirip dengan pola epidemiologi di

Thailand, maka dapat disimpulkan bahwa imunisasi ulang (booster) pada usia 5

tahun belum diperlukan. Idealnya, pada usia 5 tahun dilakukan pemeriksaan

kadar anti HBs.

Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi

Hepatitis B maka secepatnya diberikan imunisasi Hepatitis B dengan jadwal 3

kali pemberian.

Ulangan imunisasi Hepatitis B (Hepatitis B-4) dapat dipertimbangkan pada

umur 10-12 tahun apabila kadar pencegahan belum tercapai (anti HBs kurang

dari 10 g/ml).

Cakupan imunisasi Hepatitis B-3 di Indonesia sangat rendah apabila dibandingkan

dengan DTP-3. Untuk mengatasi hal tersebut, sejak tahun 2006 imunisasi

Hepatitis-B pada jadwal Departemen Kesehatan dapat dikombinasikan dengan

DTwP pada tabel 2.2.1. Jadwal Departemen Kesehatan dapat dipergunakan bersama

dengan jadwal imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

17
Tabel 2.2.1. Pemberian imunisasi hepatitis B*

Umur Imunisasi Kemasan


Saat lahir HepB-0 Uniject (HepB-monovalen)
Kombinasi DTwP atau HepB-
2 bulan DTwP dan HepB-1 1
Kombinasi DTwP atau HepB-
3 bulan DTwP dan HepB-2 2
Kombinasi DTwP atau HepB-
4 bulan DTwP dan HepB-3 3
* Jadwal Departemen Kesehatan

(Dikutip sesuai dengan kepustakaan no.3)

Vaksin Hepatitis B terdiri atas partikel antigen permukaan Hepatitis B yang

diinaktifkan (HBsAg) dan diabsorpsi dengan tawas, dimurnikan dari plasma manusia

atau karier hepatitis. Vaksin ini sudah diganti dengan vaksin rekombinan. 4 Vaksin

rekombinan HBsAG (rHBsAG) diproduksi dengan rekayasa genetika galur

Saccharomyces cerevisiae yang mengandung plasmid atau gen untuk antigen

HBsAG. Produksi vaksin Hepatitis B dari jamur dengan teknik rekombinan

merupakan cara yang lebih mudah untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar

dan aman dibanding dengan yang diproduksi dari serum.

c. DPT

DPT adalah produk polivalen yang mengandung toksoid Korinebakteri difteri,

Bordetela pertusis, dan Clostridium tetani yang dimatikan.4

Vaksin DPT terdiri atas DPT dengan komponen acelluler (DTaP) dan DPT dengan

komponen whole (DTwP). DTaP merupakan vaksin DPT yang baru ditemukan.

Kedua vaksin DPT dapat dipergunakan secara bersamaan dalam jadwal imunisasi.

Imunisasi DPT primer diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan interval 4-8

minggu. DPT tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu. Interval terbaik

diberikan 8 minggu.

18
Jadi DPT-1 diberikan pada umur 2 bulan, DPT-2 pada umur 4 bulan, dan DPT-3

diberikan pada umur 6 bulan.

Ulangan booster DTP selanjutnya diberikan 1 tahun setelah DPT-3 yaitu pada umur

18-24 bulan dan DPT-5 pada saat masuk sekolah umur 5 tahun.

Vaksinasi ulangan pada program BIAS adalah:3

Pada booster umur 5 tahun harus tetap diberikan vaksin dengan komponen

pertusis dan DTaP untuk mengurangi demam pasca imunisasi. Penambahan

komponen pertusis ini diberikan mengingat kejadian pertusis pada dewasa muda

meningkat akibat ambang proteksi telah sangat rendah sehingga dapat menjadi

sumber penularan pada bayi dan anak.

Sejak tahun 1998, DT-5 diberikan pada kegiatan imunisasi di sekolah dasar

yaitu pada bulan imunisasi anak sekolah atau BIAS. Ulangan DT-6 diberikan

pada usia 12 tahun karena mengingat masih dijumpai kasus dfteria pada umur

lebih dari 10 tahun.

Ulangan DT-6 pada umur 12 tahun direncanakan oleh Departemen Kesehatan

untuk diubah ke vaksin Dt (adult dose), buatan PT Bio Farma Indonesia.

Dosis DTwP atau DTaP adalah 0,5 ml, diberikan secara intramuskular baik untuk

imunisasi dasar maupun ulangan.

Pemberian DPT dapat dikombinasikan dengan vaksin lain yaitu DTwP/Hepatitis B,

DTaP/Hib, DTwP/Hib, DTaP/IPV, DTaP/Hib/IPV sesuai jadwal.

19
d. Polio

Terdapat 2 kemasan vaksin polio yang berisi virus polio-1, 2, dan 3 yaitu:

Oral Polio Vaccine (OPV)

OPV merupakan vaksin yang berasal dari virus polio yang dilemahkan. OPV

diberikan dengan cara ditetes atau peroral. OPV telah berhasil membebaskan

negara dari polio. Negara-negara itu adalah Amerika, Pasifik Barat, dan Eropa.

Akan tetapi telah dilaporkan bahwa OPV dapat menimbulkan efek samping

berupa poliomielitis paralitik. Atas dasar hal itu telah dikembangkan perbaikan

delam produksi vaksin yang dimatikan dari galur Sabin yang lebih baik

dibanding dengan IPV konvensional yang diproduksi dari virus virulen.

Sabin Inactivated Polio Vaccine (S-IPV)

Efek samping dari S-IPV yang dilaporkan hanya berupa reaksi lokal. Oleh

karena itu, banyak yang menganjurkan untuk memberikan vaksinasi IPV-OPV

secara berurutan.

Kedua vaksin polio tersebut dapat dipakai secara bergantian. Vaksin IPV dapat

diberikan pada anak sehat maupun anak yang menderita imunokompromais dan

dapat diberikan sebagai imunisasi dasar maupun ulangan. Vaksin IPV dapat juga

diberikan bersamaan dengan vaksin DPT baik secara kombinasi atau terpisah.

Jadwal vaksin polio adalah:3

Polio-0 diberikan saat bayi lahir sesuai pedoman PPI sebagai tambahan untuk

mendapatkan cakupan imunisasi yang tinggi. Hal ini diperlukan karena

Indonesia rentan terhadap transmisi virus polio liar dari daerah endemik polio.

20
Negara tersebut adalah India, Afganistan, dan Sudan. Mengingat OPV berisi

virus polio maka diberikan saat bayi meninggalkan rumah sakit atau rumah

bersalin agar tidak mencemari bayi lain karena vaksin virus polio dapat

dieksresi melalui tinja. Untuk inilah, IPV dapat menjadi alternatif.

Untuk imunisasi dasar (Polio-2,3, dan4) diberikan pada umur 2 bulan, 4 bulan,

dan 6 bulan dengan interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu.

Dalam rangka Eradikasi Polio (Erapo), masih diperlukan Pekan Imunisasi Polio

yang dianjurkan oleh Departemen Kesehatan. Pada PIN semua balita harus

mendapat imunisasi OPV tanpa memandang status imunisasinya kecuali pasien

imunokompromais diberikan IPV untuk memperkuat kekebalan di saluran cerna

dan memutuskan transmisi polio liar.

Dosis imunisasi polio yaitu:3

OPV diberikan 2 tetes peroral

IPV dalam kemasan 0,5 ml, intramuskular. Vaksin IPV dapat diberikan

tersendiri atau dalam kemasan kombinasi. Yaitu DTaP/IPV, DTaP/Hib/IPV)

Imunisasi Polio ulangan diberikan satu tahun sejak imunisasi polio-4 dan

selanjutnya saat masuk sekolah yaitu pada usia 5-6 tahun.

e. Campak

Vaksin campak rutin diberikan dalam satu dosis 0,5 mlsecara sub-kutan dalam pada

umur 9 bulan. Departemen Kesehatan mengubah strategi reduksi dan eliminasi

campak yaitu:3

Imunisasi campak pertama kali diberikan pada usia 9 bulan

Diberikan imunisasi campak kesempatan kedua pada umur 5-59 bulan dan SD

kelas 1-6

21
Crash progam campak telah dilakukan secara bertahap yaitu 5 tahap di semua

provinsi pada tahun 2006-2007

Imunisasi campak dosis kedua diberikan pada program school based catch-up

campaign yaitu secara rutin pada anak sekolah SD kelas 1 dalam program BIAS.

Apanila telah mendapat imunisasi MMR pada usia 15-18 bulan dan ulangan umur 6

tahun, ulangan campak SD kelas I tidak diperlukan.

Untuk lebih mudah mengetahui jadwal pemberian imunisasi dapat dilihat pada tabel

2.2.2.

Tabel 2.2.2. Jadwal Pemberian Imunisasi

(Sesuai dengan kepustakaan no.5)

22
3. Tumbuh Kembang Anak

i. Usia 0-2 bulan

a. Perkembangan Fisik
Berat badan bayi baru lahir dapat turun 10% dibawah berat badan lahir pada

minggu pertama. Hal ini disebabkan oleh ekskresi cairan ekstravaskuler yang

berlebihan dan masuknya makanan yang kurang. Masukan makanan membaik

ketika colostrum diganti dengan susu yang lebih berlemak. Bayi harus

bertambah lagi dan melebihi berat badan lahir pada saat umur 2 minggu serta

harus tumbuh sekitar 30gram (1 oz) per hari selama bulan pertama. Gerakan-

gerakan sering kali tidak terkontrol, kecuali pandangan mata, gerakan kepala,

dan penghisapan. Senyum terjadi tampak keinginan sendiri. Menangis terjadi

dalam responnya dalam rangsangan, seperti popoknya yang basah tetapi

kebanyakan tidak jelas. Puncak menangis secara normal sekitar usia 6 minggu.

Bayi sehat menangis sampai 3 jam per hari, kemudian berkurang menjadi 1 jam

atau kurang dari 1 jam setelah 3 bulan.


Pada awalnya, tidur dan bangun dibagi secara rata-rata selama 24 jam.

Pendewasaan syaraf menyebabkan penggabungan periode-periode tidur menjadi

blok-blok yang makin lama makin panjang. Bayi-bayi yang mempunyai orang

tua yang secara konsisten lebih interaktif dan memberikan rangsangan pada

siang hari, belajar mengkonsentrasikan tidurnya pada malam hari. Pada usia 2

bulan, hampir semua bayi bangun 2-3 kali secara singkat untuk makan (minum

susu).

23
b. Perkembangan kognitif bayi
Kegiatan asuh menyediakan rangsangan penglihatan, perabaan, penciuman, dan

pendengaran. Semua rangsangan ini memegang peranan penting dalam


perkembangan kognitif anak. Menurut penelitian, kebiasaan dan pilihan dalam

memandang memberikan pengertian tentang bagaimana bayi memahami

rangsangan-rangsangan tersebut. Bayi terbiasa dengan hal-hal yang dikenalnya.

Semakin mengurang perhatiannya pada rangsangan yang berulang-ulang, dan

kemudian menambah perhatiannya ketika rangsangan tersebut berubah.

Eksperimen yang menggunakan kebiasaan dan perhatian yang diprebaharui

sebagai hasil menunjukkan bahwa bayi dapat membedakan antara pola-pola,

warna, dan konsonan-konsonan yang serupa. Mereka dapat mengenali ekspresi

wajah dan senyum sebagai suatu hal yang sama. Walaupun senyum itu berasal

dari wajah yang berbeda. Mereka juga dapat menyesuaikan rangsangan benda

abstrak seperti garis bentuk atau kontur, intensitas, atau pola sementara ia

melewati cara sensorik. Misalnya, bayi yang berusia 3 minggu dapat

membedakan apakah pembicaraan cocok dengan gerakan bibir dalam kaset

video. Bila mata bayi ditutup dengan kain dan diberikan sebuah dot yang tidak

rata untuk dihisap, mereka kemudian memandang dot yang tidak rata tersebut

lebih lama daripada dot yang lembut jika dihadirkan bersamaan.


Penelitian demikian memberikan kesan bahwa bayi dapat merasakan objek dan

kejadian sebagai satu kesatuan, walaupun dalam beberapa aspek mereka tidak

sesuai. Kemampuan seperti ini memungkinkan bayi memisahkan rangsangan

menjadi bagian yang penuh arti. Bayi tampak mencari rangsangan secara aktif

seolah-olah memuaskan kebutuhan bawaan bayi untuk merasakan dunia.


24
Perkembangan emosional
Kepercayaan dasar merupakan urutan pertama dalam psikososial Erikson dan

berkembang ketika bayi belajar bahwa kebutuhan mendesaknya dipenuhi secara

terus menerus. Keberadaan konsisten orang dewasa yang dapat dipercaya

menciptakan kondisi rasa aman. Bayi yang secara konsisten yang


mempertahankan dan mengambil respon keadaan bahaya dengan menangis

berkurang pada usia 1 tahun dan menunjukkan berkurangnya keagresifan

tingkah lakunya pada usia 2 tahun.


Kepentingan emosional dalam setiap pengalaman tergantung pada perangai

anak itu sendiri dan respon orang tua. Pertimbangakan jadwal pemberian makan

yang berbeda. Rasa lapar menimbulkan ketegangan karena puncak desakannya

membuat bayi menangis sehingga orang tua datang dengan sebuah botol atau

ASI dan akibatnya ketegangan tersebut menghilang. Bayi diberi makan sesuai

kebutuhannya secara konsisten. Pengalaman ini menghubungkan dengan rasa

tidak nyaman mereka sehingga kedatangan orang tua membuat perasaan lega

dari rasa lapar. Hampir semua bayi yang diberi makan sesuai jadwal dengan

cepat mengadaptasi siklus rasa laparnya dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Mereka yang tidak bisa beradaptasi karena mereka berperangai cenderung pada

periode pengalaman ritme biologi lapar yang tidak teratur dan juga tidak ingin

makan karena mereka sedang kenyang.


Demikian juga, bayi yang makan pada waktu orang tua senggang dengan tidak

memperhatikan tanda-tanda rasa lapar bayi dan juga tidak menyiapkan jadwal

tidak dapat secara konsisten menjadi pengalaman pemberian makan sebagai

penurunan ketegangan pemberian makan yang menyenangkan.

25

ii. Usia 2-6 bulan

a. Perkembangan fisik
Antara usia 3- 4 bulan rata-rata pertumbuhan lambat, sampai kira-kira 20 gram

perhari pada tabel 2.3.1. Reflek awal yang membatasi gerak secara sukarela

berkurang. Hilangnya reflek tonus asimetris berarti bahwa bayi dapat berguling

dan juga mulai meneliti benda-benda pada garis tengahnya dan memainkan
dengan kedua tangannya. Penyusutan reflek genggaman awal memungkinkan

mereka memegang benda-benda dan dengan keinginan sendiri untuk

melepaskannya. Benda baru dapat datang dengan penuh arti walau

pencapainnya tidak efisien. Peningkatan pengendalian reflek truncus

memungkinkan dapat berguling. Perbaikan pengendalian kepala meungkinkan

bayi memandang silang pada benda bukan hanya memandang saya dan mulai

mengambil makanan dengan sendok. Pada saat yang sama, pendewasaan sistem

penglihatan memungkinkan memandang kedalaman bidang.


Kebutuhan tidur total 14-16 jam per hari, sekitar 9-10 jam terkonsentrasi pada

malam hari. Sekitar 70% bayi tidur selama 6-8 jam secara terus menerus ketika

usia 6 bulan. Pada usia 4-6 bulan, elektroensefalogram saat tidur

memperlihatkan pola dewasa dengan pembatasan (demarkasi) gerak mata cepat

dan 4 fase tidur non-trapid eyes movement (RAM). Siklus tidurnya tetap

pendek, hanya 50-60 menit dibandingkan dengan siklus dewasa kira-kira 90

menit. Sebagai akibatnya, bayi-bayi bangun tidur dari waktu yang sebentar atau

sering bangun pada malam hari.

26
b. Perkembangan kognitif
Pengaruh menyeluruh perkembangan ini merupakan pengaruh kualitatif pada

bayi. Bayi usia 4 bulan disebut sebagai penatasan secara sosial, menjadi lebih

tertarik pada dunia yang lebih luas. Selama pemberian makan, bayi tidak lagi

berfokus semata-mata pada ibunya tapi menjadi membingungkan. Digendongan

ibunya, bayi tidak bisa diam dan lebih suka melihat keluar.
Bayi pada usia ini juga mempelajari badan mereka sendiri mulai dari

memandang tangannya dengan serius, berbicara, meniup gelembung, memegang

telinga, pipi, dan alat kelaminnya. Pengenalan ini memperlihatkan tingkat awal

dalam pemahamana sebab dan pengaruh seperti yang dipelajari bayi bahwa
gerakan otot dengan kemauan sendiri menghasilkan rabaan yang diperkiraan

dan sensai penglihatan. Mereka juga memegang peranan dalam munculnya

pengertian diri sendiri. Melalui pengulangan terus menerus, bayi bergabung

dengan sensasi tertentu. Perasaan memegang tangan dan menggoyang jari-jari

tangan selalu mengikuti gerakan jari-jari. Sensasi diri (self) tersebut secara

konsisten terkait dan dapat meniru sungguh-sungguh. Sebaliknya, sensasi yang

dikelompokkan sebagai sensasi bukan diri (non-self) terjadi secara intermiten

dan dalam berbagai kombinasi. Suara, bau, dan rasa dari ibu kadang-kadang

muncul dengan cepat dalam responnya terhadap menangis tetapi kadang-kadang

tidak.
c. Perkembangan emosi dan komunikasi
Penglihatan keluar seorang bayi berinteraksi dengan meningkatnya pengalaman

yang bersifat duniawi dan luasnya pengalaman tersebut.


27
Emosi utama seperti marah,senang, rasa tertarik, takut, jijik, terkejut muncul

pada konteks yang cocok karena ekspresi wajah yang berbeda. Saling

memandang dengan orang dewasa yang dapat dipercaya, bayi dan orang dewasa

mencocokan ekspresi afektifnya sekitar 30% dari waktunya. Intensitas senyum,

pelebaran mata, dan pengerutan bibir mereka lakukan naik turun secara

bersamaan. Setiap beberapa detik ketika rasa senang timbul bayi mengalihkan

pandangan, menyudahi, dan kemudian kembali dengan interaksi tadi. Jika orang

tua berpaling, bayi bersandar kedepan, menggapai, atau dengan cara mencoba

orang dewasa tersebut berinteraksi lagi. Jika gagal, bayi akan menangis karena

marah.
Bayi-bayi dari orang tua depresi menunjukkan pola-pola yang berbeda,

menggunakan sedikit waktu dalam gerakan yang terkoordinasi dengan orang tua

mereka dan kurang berusaha untuk menyatu. Selain marah, mereka

menunjukkan kesedihan dan kehilangan energi ketika orang tua tidak ada.
Tingkah laku saling memandang menunjukkan kemampuan bayi membagi

emosi. Itu merupakan langkah pertama pengembangan komunikasi dan juga

mengembangkan harapan bayi (orang tua) tentang hubungan-hubungan sosial.

28

iii. Usia 6-12 bulan

a. Perkembangan fisik
Pertumbuhan lebih lambat. Kemampuan untuk duduk tanpa dukungan (sekitar 7

bulan) dan berputar ketika duduk ( sekitar 9-10 bulan) memperlihatkan

peningkatan kesempatan-kesempatan untuk memainkan beberapa benda pada

satu saat dan untuk bereksperimen dengan benda-benda yang baru. Titik

pengenalan ini dibantu dengan timbulnya kemampuan menggenggam pada

sekitar usia 9 bulan. Banyak bayi mulai merangkak dan mencoba berdiri sekitar

usia 8 bulan dan berjalan sebelum ulang tahun pertama mereka. Pencapaian

motorik berhubungan dengan peningkatan myelinisasi dan pertumbuhan

serebelum. Pencapaian perjalanan-perjalanan ini memperluas jangkauan

pengenalan bayi dan menciptakan bahaya fisik dan juga kesempatan-

kesempatan untuk belajar. Erupsi gigi berlangsung dan biasanya dengan gigi

susu (incisivus) mandibula tengah. Perkembangan gigi juga menggambarkan

sebagian pematangan kerangka dan usia tulang.


b. Perkembangan kognitif
Pada tahap awal, semuanya masuk ke dalam mulut. Kadang-kadang benda-

benda baru diambil oleh anak, diperiksa, dipindahkan dari tangan ke tangan,

dibanting, dijatuhkan, dan kemudian dimasukkan ke dalam mulut. Setiap aksi


memperlihatkan ide non-verbal tentang benda-benda tersebut. Kompleksitas

bermain bayi merupakan indeks perkembangan kognitif yang baik pada usia ini.

Kesenangan, ketekunan, energi yang dipakai untuk melakukan tantangan-

tantangan menggambarkan gerak intrinsik atau motivasi penguasaan.

29

Penguasaan tingkah laku terjadi ketika bayi merasa aman. Mereka yang tidak

merasa aman menunjukkan keterbatasan latihan dan kurang kemampuan.


Suatu kejadian utama adalah pencapaian kekonstanan benda, pemahaman benda

akan terus ada walaupun benda tidak terlihat. Pada usia 4-7 bulan, bayi melihat

bola yang telah dijatuhkan tetapi cepat menyerah jika bola tidak kelihatan.

Dengan benda yang konstan, bayi terus mencari dan menemukan benda yang

disembunyikan di balik baju dan di belakang pengamat.


c. Perkembangan emosi
Kedatangan benda yang secara konstan dapat disamakan dengan perubahan

kualitatif dalam perkembangan sosial dan komunikasi. Bayi melihat ke belakang

atau kedepan diantara pertemuan orang-orang asing dan orang tua. Dan hal itu

dilakukan untuk membedakan dari seseorang yang tidak dikenal ke orang yang

dikenal, biasanya diam atau menangis cemas. Perpisahan sering kali

menyulitkan. Bayi yang tidur sepanjang malam secara berbulan-bulan mulai

bangun terus dan menangis seolah-olah mengingat bahwa orang tua berada di

kamar sebelah.
Pada saat yang sama, ada permintaan baru kemunculan autonomi. Bayi tidak

mau lagi diberi makan tetapi memalingkan muka ketika berhadapan dengan

sendok atau bersikeras untuk memegangnya sendiri. Makan sendiri dengan

menggunakan jari tangan memungkinkan bayi melatih kemampuan motorik

halusnya (penggenggaman). Kemarahan membuat keberadaan mereka pertama


sebagai gerak otonom dan penguasaan menjadi konflik dalam kontrol orang tua

dan keterbatasan bayi.

30
d. Komunikasi
Bayi pada usia 7 bulan menguasai komunikasi non-verbal, mengekspresikan

kisaran emosi,dan berespon terhadap nada suara dan ekspresi muka. Sekitar usia

9 bulan, bayi menjadi paham bahwa emosi dapat dibagi-bagi, dia menunjukkan

mainan ke orangtuanya dengan riang. Usia antara 8-10 bulan, ocehannya

merupakan suatu kompleksitas baru dengan macam-macam suku kata (ba-da-

ma) dan perubahan nada suara yang meniru bahasa asli. Pada saat yang sama,

bayi kehilangan kemampuan untuk membedakan antara suara vokal yang tidak

bisa dibedakan dengan bahasa asli. Kata pertama yang benar adalah suara yang

digunakan secara konsisten untuk menjukkan pada objek tertentu atau orang.
Pada usia ini, buku-buku bergambar menyediakan konteks yang ideal untuk

penguasaan bahasa verbal.

31

iv. Usia 12-18 bulan

a. Perkembangan fisik
Tingkat pertumbuhan lebih lambat pada usia tahun ke-2 dan nafsu makan

menurun. lemak bayi dibakar oleh gerakan yang bertambah. Otak terus

tumbuh dengan myelinisasi sepanjang tahun ke-2.


Sebagian besar anak mulai berjalan sendiri mendekati usia 1 tahun. Sebagian

lagi tidak dapat berjalan sampai usia 15 bulan. Bayi yang sangat aktif dan berani

cenderung berjalan lebih awal. Bayi yang kurang aktif, lebih penakut, dan

terikat dengan menyelidiki objek-objek secara terperinci berjalan lebih lambat.

Berjalan lebih awal tidak terkait dengan perkembangan di bidang yang lain.
Pertama: bayi berjalan tertatih-tatih, lutut membengkok dan lengan difleksi ke

siku, seluruh batang tubuh berputar pada setiap langkah, jari kaki mungkin

menunjuk ke luar dan kedalam, dan kaki menempel ke lantai. Kemudian,

perbaikan menuju kemantapan yang lebih besar dan efisiensi tenaga. Setelah

beberapa bulan latihan, pusat gravitasi bergeser ke belakang dan batang tubuh

lebih stabil. Sementara lutut ekstensi dan lengan mengayun ke samping untuk

keseimbangan. Jari-jari kaki ditahan sejajar dan anak itu dapat berhenti,

membungkuk tanpa jatuh.


b. Perkembangan kognitif
Penjelajahan benda mempercepat jalannya perkembangan kognitif karena

pendekatan, pemegangan, dan pelepasan hampir sepenuhnya matang dan

bertambah ke hal-hal yang menarik. Anak yang baru belajar berjalan

menggabungkan objek-objek dengan cara-cara baru untuk menciptakan hal-hal

yang menarik.
32
c. Perkembangan emosi
Bayi-bayi yang berkembang mendekati kejadian penting dari langkah-langkah

pertama mereka mungkin mudah marah. Bila mereka mulai berjalan, perubahan

suasana hati mereka nyata sekali. Anak yang baru belajar berjalan digambarkan

seperti orang disenangi oleh kemampuan mereka yang baru dan kekuatan untuk

mengatur jarak antara mereka dan orang tua mereka. Mereka sering berputar

mengelilingi orang tua, menoleh kebelakang, bergerak lebih jauh dan kemudian
kembali untuk mendapatkan sentuhan yang menenangkan dari orang tua

mereka.
Kemampuan anak untuk menggunakan orang tua sebagai tempat aman untuk

penjelajahan tergantung pada hubungan kasih sayang ibu dan anak. Kasih

sayang dapat dinilai orang tua meninggalkan anak-anak pada ruang bermain

yang tidak dikenal. Ketika orang tua mereka pergi, sebagian anak berhenti

bermain, menangis, dan mencoba untuk ikut. Namun akibat yang terbesar

adalah ketika orang tua mereka kembali. Anak dengan perasaan kasih sayang

bertentangan pergi ke orang tua mereka tetapi kemudian menolak dihibur dan

mungkin memukul orang tua mereka karena marah. Anak-anak yang

dikategorikan sebagai penghindar mungkin tidak protes ketika orang tua mereka

pergi dan mungkin tidak menyambut saat mereka kembali. Pola tanggapan yang

tampak gelisah mewakili perkembangan bayi,mengembangkan strategi untuk

menanggulangi sifat orang tua yang suka menghukum atau tidak bertanggung

jawab. Persengketaan berlajut tentang bagaimana bayi bertabiat dan pengalaman

perpisahan sebelumnya mempengaruhi tafsiran dari akibat situasi tersebut.

33
d. Perkembangan bahasa

Penerimaan bahasa mendahului perasaan. Ketika bayi mulai mengucapkan kata-

kata pertamanya, yaitu kira-kira 12 bulan, mereka mulai menanggapi dengan

tepat beberapa contoh pernyataan sederhana seperti tidak. Pada usia 15 bulan,

rata-rata anak menunjuk pada bagian utama tubuh dan menggunakan 4-6 kata

secara spontan dan benar termasuk nama. Anak yang baru belajar berjalan juga

menikmati kata-kata dengan suku kata yang banyak. Tetapi tidak tampak marah

ketika tidak ada yang dimengerti. Sebagian besar komunikasi seperti keinginan

dan ide berlanjut menjadi non-verbal.


Tabel 2.3.1. Pertumbuhan dan Kebutuhan Kalori

Umur Kira-kira Kira-kira Pertumbuhan Pertumbuhan Pemberian


0-3 bulan penambahan
30 penambahan
2 lb berat panjang
3,5 lingkaran
2,00kepala harian
115yang
3-6 bulan 20 11/4 lb 2,0 1,00 110
6-9 bulan 15 1 lb 1,5 0,50 100
9-12
bulan 12 13 oz 1,2 0,50 100
1-3 tahun 8 6 oz 1,0 0,25 100

(Sesuai dengan kepustakaan no1)

34

4. Masalah Pemberian Makanan

Pemberian makan bayi yang berhasil memerlukan kerja sama antara ibu dan bayinya,

mulai dari pengalaman pemberian makanan awal dan berlanjut ters selama anak masih

dalam masa ketergantungan. Dengan segera membina praktek-praktek pemberian

makanan yang menyenangkan dan memuaskan sangat membantu kesehatan emosional

bayi dan anak. Waktu makan harus dapat menyenangkan ibu maupun bayinya dan

sebagian besar menentukan keadaan emosionalnya selama terjadi pemberian makanan.

Ketegangan, kecemasan, iritabel, mudah kecewa atau ibu secara emosional labil, akan

lebih mungkin mengalami kesukaran hubungan selama pemberian makan.

Ketika bayi dapat dengan aman menerima nutrisi enteral setelah dilahirkan, pemberian

makan harus dimulai untuk mempertahankan metabolisme dan pertumbuhan normal


selama transisi dari kehidupan janin ke kehidupan ekstrauterin. Pemasukan cairan yang

tidak cukup menyebabkan bayi mengalami demam dehidrasi. Kebanyakan bayi dapat

mulai minum air susu ibu (ASI) segera setelah lahir. Bila timbul masalah mengenai

toleransi pemberian makanan karena status fisik atau neurologis, pemberian makanan

harus dihentikan dan cairan pariental harus ditambahkan. Ibu yang ingin mulai menyusui

di ruang bersalin dan terus ingin menyusui atas dasar kebutuhan selanjutnya, keluarga

harus dukung.

Pemberian makan bayi memerlukan interpretasi praktis kebutuhan nutrisi spesifik dan

berbagai batas napsu makan bayi normal serta prilaku mengenai makan secara luas.

Waktu yang diperlukan bayi untuk mengosongkan lambungnya dapat bervariasi yaitu

dari 1 sampai 4 jam atau lebih. Skema pemberian makanan harus didasrkan pada

pengaturan sendiri yang masuk akal.

35

Waktu antara pemberian makan dan jumlah yang diambil bervariasi dan berharap

dilakukan pada beberapa minggu pertama selama penyusunan rencana pengaturan

dirinya. Pada akhir bulan pertama, lebih dari 90% bayi telah memperlihakan jadwal

teratur yang cocok dan pantas.

Pada bayi sehat yang diberi susu botol, akan menginginkan 6-9 kali minum per 24 jam

pada akhir minggu pertama. Bayi-bayi tersebut akan puas sekitar 4 jam. Bayi yang lebih

kecil atau bayi yang meiliki pengosongan lambung lebih cepat, menginginkan susu

formula sekitar 2-3 jam. Kebanyakan bayi yang cukup bulan akan cepat menaikkan

pemasukkan susu formula dari 30 mL sampai 80-90 mL, setiap 3-4 jam pada usia 4-5

hari. Beberapa bayi tidak akan bangun tengah malam untuk minum susu setelah usia 3-6

minggu. Setelah usia 4 dan 8 bulan, banyak bayi tidak ingin makan pada sore hari dan

akan puas dengan 3 kali makan/hari pada usia 9-12 bulan. Tangisan bayi merupakan hal
yang penting karena lapar. Akantetapi, orangtua tidak perlu memberi makan setiap kali

menangis. Beberapa bayi memiliki sifat tenang, ada yang hiperaktif, dan ada yang mudah

terangsang. Ketika bayi sakit, mereka tidak ingin makan. Bayi yang bangun dan

menangis terus menerus pada interval pendek disebabkan karena tidak cukup mendapat

susu pada setiap kali pemberian susu. Selain itu juga disebabkan karena terlalul banyak

pakaian basah, kotor, atau popok yang tidak enak dipakai, tertelan udara (gas),

lingkungan yang terlalu panas atau dingin, dan sakit. Beberapa bayi menangis untuk

mencari perhatian yang lebih. Adapula bayi yang bersifat acuh ketika perawatannya tidak

terlalu cukup. Bayi yang hanya digendong baru bisa berhenti menangis biasanya tidak

memerlukan makanan di tangannya. Pemberian makanan pada saat menggendong setika

menangis harus dihentikan.

36

Jenis-jenis makanan yang dapat diberikan yaitu:

a. ASI

ASI direkomendasikan sebagai makanan eksklusif pada semua bayi aterm (cukup

bulan) selama 6 bulan pertama kehidupan. Setelah itu, dianjurkan untuk beralih ke

makanan padat. ASI juga direkomendasikan untuk bayi preterm (kurang bulan).

Semua ibu harus didorong dan didukung untuk menyusui, Konseling harus sudah

dimulai pada awal kehamilan dan ibu harus dibantu oleh perawat maupun spesialis

laktasi. Pilihan pemberian ASI secara langsung atau melalui botol merupakan pilihan

pribadi.

Manfaat pemberian ASI untuk bayi yaitu:6

Meningkatkan ikatan antara ibu dan anak

Memiliki komposisinutrisi yang idesl


Mengandung faktor imun (IgA sekretorik)

Mengurangi gastroenteritis

Intoleransi makanan lebih sedikit

Mengurangi insiden enterkolitis nekrotikans pada bayi preterm

Meningkatkan produksi keron sebagai substrat energi alternatif pengganti

glukosa pada hari-hari pertama kehidupan

Dapt menurunkan insiden dan keparahan eksim dan asma

Kejadian obesitas dan diabetes melitus tergantung imsulin dan penyakit

inflamasi usus yaitu penyakit Chron dan kolitis ulseratif relatif kecil.

IQ meningkat 6-8 poin

37

Manfaat pemberian ASI untuk ibu yaitu:6

Memperkuat ikatan ibu dan bayi

Penurunan berat badan postpartum lebih cepat

Menurunkan risiko osteoporosis

Menurunkan risiko kanker payudara dan ovarium

Memperpanjang jarak antarkehamilan yang sangat penting di nnegara

berkembang.

Komplikasi pemberian ASI pada bayi yaitu:6

Dehidrasi dapat terjadi jika jumlah susu tidak cukup atau teknik menyusui yang

salah dan udara panas

Ikterus yang terkait dengan ASI umum dijumpai.


Vitamin K yang mempunyai kadar rendah dalam ASI dapat menjadi predisposisi

penyakit perdarahan pada bayi baru lahir

Komplikasi pemberian ASI pada ibu yaitu:6

Perasaan yang marah ketika ibu tidak berhasil memberikan ASI

Pembengkakkan payudara, puting pecah-pecah

Mastitis

Kontradiksi pemberian ASI yaitu:6

Infeksi HIV maternal

Infeksi Tuberculosis maternal

Kelainan metabolisme bawaan seperti galaktosemia

38

b. Susu formula

Foemula merupakan susu yang dihumanisasi yaitu dimanipulasi sehingga

menyerupai ASI. Namun demikian, masih terdapat perbedaan dalam komposisi yang

dapat dilihat pada tabel 2.4.1. Susu formula tidak mengandung sifat anti-infeksi.

Formula kedelai kadang digunakan untuk mencegah gangguan alergi seperti eksim

dan asma. Sekitar 10-30% bayi dengan intoleransi protein susu sapi menjadi sensitif

terhadap kedelai.6

Tabel 2.4.1. Komposisi Zat Gizi dalam ASI dan Air Susu Berbagai Jenis Hewan

(g/100g)*

ASI Sapi Kerbau Kambing


Protein 1,4 3,2 6,3 4,3
Lemak 3,7 3,5 12,3 2.3
Karbohidrat 7,2 4,3 7,1 6,6
Vitamin A 60 SI 130 SI 80 SI 125 SI
0,03 0,03 0,04
Thiamin mg mg mg 0,06 mg
Ca 30 mg 143 mg 216 mg 98 mg
Fe 1,7 mg 0,2 mg 2,7 mg
Kalori 68 61 160 64
* Disusun dari daftar analisa makanan, Departemen Kesehatan R.I tahun 1964
(Disusun sesuai kepustakaan no. 7)

Apabila terjadi masalah dalam pemberian makanan maka pertumbuhan dan

perkembangan anak akan terganggu. Sistim kekebalan imun yang harusnya

diperoleh dari ASI akan menjadi kurang sehingga si anak akan sering terkena sakit.

Hubungan anatara ibu dan anak tidak kuat. Intoleransi terhadap berbagai makanan

terutama laktosa akan semakin besar mengingat banyak bahan-bahan nutrisi yang

sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan si anak.

39

5. Masalah Pediatrik Sosial

a. Pekerjaan atau pendapatan keluarga

Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena

orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer dan sekunder.

Apabila pendapatan orangtua tidak memadai maka akan terjadi masalah seperti

tumbuh kembang yang terhambat dan tidak optimal

b. Pendidikan ayah atau ibu

Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh

kembang anak. Karena dengan pendidikan yang baik, orang tua dapat menerima

segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik,

bagaiman menjaga kesehatan anak, pendidikan, dan sebagainya.


40

6. Pemeriksaan Abgar Score

Skor apgar digunakan untuk menggambarkan kondisi bayi selama beberapa menit

partama kehidupan pada tabel 2.6.1. Skor ini dinilai pada menit pertama dan kelima

kehidupan. Jika skor masih di bawah 7 atau bayi memrlukan resusitasi maka penilaian ini

diteruskan setiap 5 menit sampai normal atau sampai 20 menit

Tabel 2.6.1. Skor Apgar

Skor apgar
0 1 2
Lambat ( kurang dari 100 Lebih dari 100
Denyut jantung Tidak ada kali/menit) kali/menit
Pernapasan Tidak ada Lambat, irregular Bagus, menangis
Tonus otot Lemah Sedikit fleksi pada ekstremitas Gerakan aktif
Kepekaan refleks Tidak ada Meringis Batuk, bersin, menangis
Biru atau
Warna pucat Badan merah muda, ekstermitas biru Merah muda
(Sesuai dengan kepustakaan no. 6 dan 8)

Bayi preterm (kurang bulan) sangat berbeda dengan bayi aterm baik dalam ukuran,

penampilan, dan perkembangan. Beberapa perbedaan ini ditunjukkan secara sistematik

pada tabel 2.6.2.

41

Tabel 2.6.2. Perubahan-Perubahan Maturasional Dalam Tampilan dan Perkembangan

Sesuai Usia

Gestasi 23-25 minggu 29-31 minggu 37-42 minggu


Pada usia 24 minggu: Pada usia 30 minggu: Pada usia 40 minggu:
Berat lahir
(persentil ke-50) Laki-laki = 700 g Laki-laki = 1,5 kg Laki-laki = 3,55 kg

Perempuan = 620 g Perempuan = 1,4 kg Perempuan - 3,4 kg


Sangat tipis, bergelatin Ketebalan medium Kulit tebal dan pecah-
pecah pada tangan dan
kaki
Kulit Berwarna merah gelap di Merah muda pucat, merah
seluruh tubuh Merah muda muda di seluruh tubuh
Telinga, bibir, telapak
tangan, dan telapak kaik
Daun telinga lembut Kartilago daun telinga
Terdapat kartilago pada keras pada tepi daun
Telinga tepi daun telinga telinga

Tidak ada rekoil Mulai ada rekoil Mengalami rekoil segera


Satu atau kedua
payudara membentuk Satu atau kedua payudara
Payudara Jaringan payudara tidak nodul berukuran 0,5-1,0 membentuk nodul lebih
teraba cm dari 1,0 cm

Laki-laki: Skrotum rata, testis Pria: skrotum = Laki-laki: skrotum =


tidak teraba beberapa rugae, rugae, testis = di skrotum

Perempuan: klitoris menonjol, testis = di kanalis Perempuan: di labia minor


Genitalia labia mayor terpisah jauh ingunalis dan klitoris tertutup
Perempuan = labia
minor dan klitoris
Labia minor terpisah jauh sebagian tertutup

Ekstensi, tidak teratur, tidak Sedikit fleksi pada Fleksi, pergerakan


Postur terkoordinasi tungkai bawah ekstremitas halus

Kelopak mata dapat tertutup Pupil bereaksi terhadap Melihat wajah.Mengikuti


atau sebagian terbuka cahaya wajah, garis melengkung
Penglihatan
Tidak ada atau sedikit dan kontras terang/gelap
pergerakan mata pada semua arah

42

Memutar kepala dan mata


Terkejut oleh suara bising ke sumber suara
Pendengaran
Lebih menyukai kata-kata
dan suara ibu
Kadang-kadang Kebutuhan bantuan
Membutuhkan bantuan membutuhkan bantuan pernapasan umum tidak
Pernapasan pernapasan pernapasan terjadi

Apnea belum terjadi Apnea belum terjadi Apnea jarang terjadi

Menghisap Terkoordinasi pada usia


Isapan tidak terkoordinasi gestasi 34-35 minggu
dan menelan

Biasanya membutuhkan TPN Makan lewat selang Pada cukup bulan,


(Total parenteral nutrition) (nasogastrik) menangis ketika lapar

Pemberian Kadang-kadang
makan membutuhkan TPN Makan sesuai kebutuhan
Bernapas, menghisap, dan
menelan secara
terkoordinasi
Membedakan manis,
Pengecapan Bereaksi terhadap rasa pahit asam , pahit

Lebih menyukai manis


Membuat kontak mata
Jarang bisa berinteraksi dan waspada penuh
Interaksi
Mudah terbebani oleh
stimulus sensorik
Menangis Sangat pelan Keras
Status tidur dan bangun
Siklus Status tidur intermediat sangat jelas
bangun tidur
(Sesuai dengan kepustakaan no. 6)

43

BAB III
PENUTUP
Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat tergantung pada pola pemberian

makanan, imunisasi yang cukup dan faktor pendidikan dan pekerjaan orang tua.

Imunisasi yang lengkap membuat anak melindungi anak dari penyakit berbahaya.

Terdapat imunisasi dasar yang harus dilakukan oleh bayi setelah melahirkan yaitu BCG,

Hepatitis B, DPT, Polio, dan Campak. BCG dilakukan 1 kali dan pada usia sebelum 3 bulan.

Hepatitis B dilakukan 4 kali dengan jangka waktu pada saat lahir, 2 bulan, 3 bulan, dan 4

bulan. DPT diberikan 3 kali yaitu 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Polio diberikan sebanyak 3

kali yaitu 2, 4, 6 bulan. Campak diberikan sebanyak 1 kali pada umur 9 bulan.

Faktor pendidikan dan pekerjaan orangtua juga mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan anak. Pendidikan orang tua yang kurang membuat mereka kurang untuk
menerima informasi yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pekerjaan orang tua menyangkut dalam pemberian nutrisi bagi anak. Jika pendapatan orang

tua kecil maka pemberiaan nutrisi akan sangat kurang.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan

perkembangan anak adalah Development Denver Screening Test (DDST). DDST dilakukan

untuk pemeriksaan perkembangan anak baik dari personal sociality, fine motor adaptive,

language, dan grass motor. Pemeriksaan untuk mengetahui pertumbuhan anak adalah

pemeriksaan antropometri. Pemeriksaan ini mengukur berat badan, tinggi badan (usia lebih

dari 2 tahun) atau panjang badan (kurang dari 2 tahun), lingkar kepala, dan lingkar lengan.

Pemeriksaan abgar score digunakan pada saat bayi baru lahir. Pemeriksaan ini

mengukur denyut jantung, pernapasan, tonus otot, dan kepekaan refleks.

44

DAFTAR PUSTAKA
1. Stephen SA. Ilmu kesehatan anak Nelson. Dalam: Samik W, penyunting. Pertumbuhan

dan perkembangan. Edisi ke-15. Jakarta: EGC; 2000.p.45-85.

2. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Edisi ke-1. Jakarta: EGC; 1995.p.10,71-2.

3. Sukman TP. Pedoman imunisasi di Indonesia. Edisi ke-3. Jakarta: Ikatan Dokter Anak

Indonesia; 2008.p.98-105.

4. Karen GB, Iris R. Imunologi dasar. Edisi ke-8. Jakarta: FKUI; 2009.p.582-3.

5. Stephen G, Kathleen B. At a Glance mikrobiologi medis dan infeksi. Dalam: Rina A,

Amalia S, penyunting. Vaksinasi. Edisi ke-3. Jakarta: Erlangga; 2008.p.29.

6. Tom L, Avroy F. At a Glance neonatologi. Dalam: Amalia S, penyunting. Neonatologi:

Kedokteran perianatal, bayi baru lahir yang normal, dan bayi preterm. Jakarta: Erlangga;

2009.p.33,52-3,68.
7. Achmad DS. Ilmu gizi untuk mahasiswa dan profesi jilid II. Edisi ke-5. Jakarta: Dian

Rakyat; 2006.p.133.

8. Scoot N. Obstetri-ginekologi: referensi singkat. Dalam: Dewi A, Prifitasari, Joko S,

penynting. Neonatus. Jakarta: EGC; 2005.p.54.

45

DAFTAR ISI
1. Kata pengantar..................................................................................................... v
2. Daftar isi.............................................................................................................. vi
3. Pendahuluan........................................................................................................ 1
4. Isi
1. Pemeriksaan Fisik.......................................................................................... 2
2. Imunisasi Dasar............................................................................................. 13
3. Tumbuh Kembang......................................................................................... 23
4. Masalah Pemberian Makanan....................................................................... 35
5. Pediatri Sosial............................................................................................... 40
6. Pemeriksaan Abgar Score............................................................................. 41
5. Penutup.............................................................................................................. 44
6. Daftar pustaka.................................................................................................... 45
vi

KATA PENGANTAR
Makalah ini dirancang untuk memberikan ringkasan mengenai pemeriksaan fisik,
imunisasi dasar, tumbuh kembang, masalah pemberian makanan, pediatri sosial, pemeriksaan
abgar score. Dalam menulis makalah ini, penulis menggunakan bukti-bukti yang autentik
yang telah dicantumkan dalam daftar pustaka.
Penulis banyak berhutang budi pada mereka yang membantu dalam penulisan
makalah ini. Penulis pun minta maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan
dalam kata atau kalimat.

Jakarta, 17 Januari 2011


Penulis

Bayi Prematur, Tumbuh Kembang yang


Tidak Sesuai dengan Umur, Imunisasi
Tidak Lengkap, Masalah Sosial
Dinna Mulyani (10-2009-046)

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Ukrida

Fakultas Kedokteran Ukrida

Jalan Terusan Arjuna No.6, Jakarta