Anda di halaman 1dari 12

I.

PENGERTIAN IDENTITAS NASIONAL


Istilah identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu
bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain. Berdasarkan
pengertian tersebut, maka setiap bangsa di dunia akan memiliki identitas nasional tersendiri
sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri, serta karakter dari bangsa tersebut. Identitas nasional
tidak dapat dipisahkan dengan jati diri suatu bangsa/kepribadian bangsa. Kepribadian sebagai
identitas nasional suatu bangsa adalah keseluruhan atau totalitas dari kepribadian individu-
individu sebagai unsur yang membentuk bangsa tersebut.

II. POLITIK IDENTITAS NASIONAL

Pembangunan politik yang dilakukan Negara pada upaya menciptakan nation building
(identitas nasional) merupakan kompleksitas dari persoalan budaya politik, sosial politik,
partisipasi politik, stabilitas politik, nasionalisme, institusi politik, pembangunan administrasi,
hukum dan juga demokrasi. Kesemuanya adalah perubahan yang multidimensional dari
keberadaan kelompok-kelompok masyarakat yang ada dengan seperangkat nilai kediriannya
(identitas lokalnya) yang bersifat etnosentris.
Nation building, sebagai proses perubahan multidimensional yang bersifat etnosentris
merupakan sebuah pemaknaan stabilisasi menuju demokratisasi, yang di dalamnya
memungkinkan hadirnya kekuatan-kekuatan politik di luar kekuasaan negara, yakni civil
society. Disini tentu saja mengedepankan tuntutan atas relasi-relasi diantaranya hubungan
Negara dengan masyarakatnya, terutama tentang bentuk partisipasi politik masyarakat.
Hubungan antar kelompok-kelompok sosial yang ada sebagai bingkai pewujudan kesatuan dan
loyalitas kepada kekuasaan Negara, termasuk hubungan masyarakt (civil society) dengan
kekuatan militer. Namun kesemuanya mengarah pada dua aktor politik yang kondusif untuk
berpartisipasi dalam bentuk-bentuk pembangunan politik, sekaligus sebagai dinamika menuju
demokratisasi, yaitu negara (state) dan masyarakat sipil (Civil society).
Identitas nasional mencakup suku bangsa, agama, kebudayaan, dan bahasa. Wilayah
Indonesia merupakan kepulauan yang masing-masing daerahnya memiliki karakteristik yang
khas dan tidak dimiliki oleh daerah lainnya. Dalam hal ini kekhasan tersebut dapat disebut
dengan identitas daerah.

Setiap daerah memiliki bahasa daerah yang sudah mereka gunakan sebelum Indonesia
merdeka. Agama yang berkembang di setiap daerah juga berbeda-beda. Ada daerah yang
masyarakatnya dominan menganut agama Islam atau Kristen. Kebudayaan masing-masing
daerah juga berbeda-beda sesuai dengan adat yang masyarakat setempat anut. Indonesia
memiliki banyak suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah negara. Suku bangsa itu
kebanyakan identik dengan suatu daerah.Adanya identitas nasional menyatukan identitas daerah
yang bermacam-macam tersebut.Pembangunan politik juga memperkuat keberadaan identitas
nasional.
Pembangunan bangsa mengacu pada proses membangun atau penataan identitas nasional
dengan menggunakan kekuasaan negara. Proses ini bertujuan pada penyatuan orang-orang atau
orang-orang dalam Negara sehingga tetap stabil dan layak secara politik dalam jangka panjang.
Pembangunan bangsa dapat melibatkan penggunaan propaganda atau pembangunan infrastruktur
utama untuk mengembangkan harmoni sosial dan pertumbuhan ekonomi.Salah satu upaya paling
mendasar untuk melakukan pembangunan bangsa adalah dengan menciptakan perlengkapan
nasional seperti bendera, lagu kebangsaan, hari nasional, stadion nasional, dan maskapai
penerbangan nasional.

Sedangkan Lucian Pye melihat pembangunan bangsa lebih kepada pembangunan politik.
Menurutnya pembangunan politik diidentifikasikan antara lain: (1) sebagai prasyarat untuk
pembangunan ekonomi, (2) sebagai khas politikmasyarakat industri, (3) modernisasi politik, (4)
administrasi dan pembangunan hukum ,(5) sebagai mobilisasi massa dan partisipasi, (6) sebagai
pembangunan demokrasi, (7) sebagai perubahan stabilitas dan ketertiban nasionalnya.
Identitas kebangsaan (political unity) merujuk pada bangsa dalam pengertian politik, yaitu bangs
anegara. Bisa saja dalam negara hanya ada satu bangsa (homogen), tetapi umumnya terdiri
dari banyak bangsa (heterogen). Karena itu negara perlu menciptakan identitas kebangsaan
atau identitas nasional, yangmerupakan kesepakatan dari banyak bangsa di dalamnya. Identitas
nasional dapat berasal dari identitas satu bangsa yang kemudian disepakati oleh bangsa bangs
a lainnya yang ada dalam negara itu, atau juga dari identitas beberapa bangsa yang ada ke
mudian disepakati untuk dijadikan identitas bersama sebagai identitas bangsa-negara.

Identitas nasional tidak terlepas dari pengembangan budaya yang ada di indonesia yang bisa
mengganggu/menghambat ataupun bisa mendukung pembsngunan politik.seputar identitas di
tengah serbuan globalisasi memang sangat valid. Namun hal lain yang kerap menantang hidup
publik yang makin global adalah isu seputar budaya dan pengembangan masyarakat. Itulah
sebabnya di tengah kemajemukan budaya, dunia tampak memasuki sebuah ajang politik identitas
dengan pertanyaan besar seputar identitas dan bagaimana identitas itu terus dipegang atau
dibiarkan beradaptasi dengan konteks hidup tertentu.Adakah hubungan antara identitas
nasionaldan pembangunan politik? Perlukah identitas dipertimbangkan dalam sebuah proses
pembangunan politik? Apakah yang bakal terjadi bila identitas dilekatkan pada kebijakan-
kebijakan penting menyangkut pembangunan dan pengembangan masyarakat? Apakah yang
terjadi bila pembangunan politik menelantarkan aspek identitas nasional sebuah masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan ini selalu saja menarik perhatian para pengamat, peminat dan pengambil
keputusan dalam pembangunan masyarakat.
Dengan demikian dalam makalah ini kami dapat mengambil suatu pernyataan bahwa dalam
suatu Negara identitas nasional itu sangat diperlukan dalam pengembangan budaya,karana secara
tidak langsung akan berkaitan dengan pembangunan politik.
Identitas nasional suatu bangsa dikatakan mendukung pembangunan politik di suatu Negara
jika tetap utuh dan terjaga karena menyatukan orang-orang atau orang-orang dalam Negara
sehingga tetap stabil dan layak secara politik dalam jangka panjang.Identitas nasional dikatakan
dapat mengganggu pembangunan politik jika timbul berbagai permasalahan yang mengancam
identitas nasional dengan kata lain identitas nasional yang melambangkan jati diri bangsa sudah
mulai terkikis dari kehidupan masyarakat Indonesia dengan demikian akan mengganggu
pembangunan politik Indonesia.

III. IDENTITAS NASIONAL SEBAGAI KARAKTER BANGSA


Setiap bangsa didunia ini akan memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan,
sifat, ciri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut. Berdasarkan hakikatnya identitas nasional suatu
bangsa tidak dapat dipisahkan dengan kepribadian dan karakter bangsa itu sediri. Bangsa adalah
sekelompok besar manusia yang mempunyai persamaan nasib dalam proses sejarahnya, sehingga
mempunyai persamaan watak atau karakter yang kuat untuk bersatu dan hidup bersama serta
mendiami suatu wilayah tertentu sebagai suatu kesatuan nasional. Berdasarkan pengertian diatas
maka identitas nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri / kepribadian/
karakter suatu bangsa.(sumber : Anonim. Identitas Nasional Sebagai Karakter Bangsa
-internet)
Identitas Nasional merupakan suatu konsep kebangsaan yang tidak pernah ada padanan
sebelumnya. Perlu dirumuskan oleh suku-suku tersebut. Istilah Identitas Nasional secara
terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis
membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain. Eksistensi suatu bangsa pada era globalisasi
yang sangat kuat terutama karena pengaruh kekuasaan internasional. Menurut Berger dalam The
Capitalist Revolution, eraglobalisasi dewasa ini, ideology kapitalisme yang akan menguasai
dunia. Kapitalisme telah mengubah masyarakat satu persatu dan menjadi sistem internasional
yang menentukan nasib ekonomi sebagian besar bangsa-bangsa di dunia, dan secara
tidak langsung juga nasib, social, politik dan kebudayaan.
Perubahan global ini menurut Fakuyama membawa perubahan suatu ideologi, yaitu dari
ideologi partikular kearah ideology universal dan dalam kondisi seperti ini kapitalismelah yang
akan menguasainya. Dalam kondisi seperti ini, negara nasional akan dikuasai oleh negara
transnasional yang lazimnya didasari oleh negara-negara dengan prinsip kapitalisme.
Konsekuensinya,negara-negara kebangsaan lambat laun akan semakin terdesak. Namun
demikian, dalam menghadapi proses perubahan tersebut sangat tergantung kepada kemampuan
bangsa itu sendiri.
Menurut Toyenbee, ciri khas suatu bangsa yang merupakan local genius dalam menghadapi
pengaruh budaya asing akan menghadapi Challence dan response. Jika Challence cukup besar
sementara response kecil maka bangsa tersebut akan punah dan hal ini sebagaimana terjadi pada
bangsa Aborigin di Australia dan bangsa Indian di Amerika. Namun demikian jika Challance
kecil sementara response besar maka bangsa tersebut tidak akan berkembang menjadi bangsa
yang kreatif.
Oleh karena itu agar suatu bangsa tetap eksis dalam menghadapi globalisasi maka harus
tetap meletakkan jati diri dan identitas nasional yang merupakan kepribadian dan karakter bangsa
sebagai dasar pengembangan kreatifitas budaya globalisasi. Sebagaimana terjadi di berbagai
negara di dunia, justru dalam era globalisasi dengan penuh tantangan yangcenderung
menghancurkan nasionalisme, munculah kebangkitan kembali kesadaran nasional. (sumber :
Anonim. Pendidikan Kewarganegaraan Identitas Nasional -internet)
Dengan memahami identitas bangsa diharapkan akan memahami jati diri bangsa sehingga
menumbuhkan kebanggaan terhadap bangsanya sendiri. Karakter berasal dari bahasa latin
kharakter, kharassein atau kharax, dalam bahasa Prancis caractere dalam bahasa Inggris
character. Dalam arti luas karakter berarti sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti, tabiat, watak
yang membedakan seseorang dengan orang lain (Tim Nasional Dosen Pendidikan
Kewarganegaraan, 2011: 67). Sehingga karakter bangsa dapat diartikan tabiat atau watak khas
bangsa Indonesia yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Menurut Max Weber
(dikutip Darmaputra, 1988: 3) cara yang terbaik untuk memahami suatu masyarakat adalah
dengan memahami tingkah laku anggotanya. Dan cara memahami tingkah laku anggota adalah
dengan memahami kebudayaan mereka yaitu sistem makna mereka.
Identitas dan modernitas sering kali mengalami tarik menarik, beberapa orang lebih
menutup diri dari modernisasi untuk melindungi identitasnya, mereka khawatir identitas yang
selama ini dibangun akan hilang karena terhapus terpaan modernitas. Identitas sendiri dalam
perkembangannya tidak hanya suatu hal yang harus dipertahankan, tetapi juga harus
dikembangkan namun masih mempertahankan hal-hal fundamental yang terdapat di dalamnya.
Contohnya saja Indonesia yang memiliki beribu etnis, Indonesia harus mampu menyatukan diri
membentuk suatu identitas, yaitu Bangsa Indonesia. Dahulu Indonesia terdiri atas kerajaan-
kerajaan yang memiliki wilayah dan pemerintahannya masing-masing, namun seiring
perkembangan masyarakat Indonesia, mereka dengan lapang dada bersedia dipersatukan dengan
sistem pemerintahan baru yang modern yaitu demokrasi presidensial.
Dalam konteks upaya penguatan jati diri dan karakter bangsadan Negara, setidaknya ada
tiga hal pokok yangmenjadi pilar utama penyangga kekuatanbangsa dan Negara sebagai identitas
nasional :
1. Kedaulatan politik : Suatu kesetiaan dan keberanian untukmempertahankan hak dan
mencapai tujuan dalam konteks upaya penguatan jati diri bangsadan Negara, setidaknya ada tiga
hal pokok yangmenjadi pilar utama penyangga kekuatan bangsa dan Negara secara mandiri tanpa
intervensi pihak-pihakasing.
2. Kekuatan ekonomi : Ditujukan untuk upaya menghidupi diri sendiridan memberi
penghidupan secara wajar danmanusiawi bagi seluruh rakyat
3. Kekuatan budaya : Merupakan tujuan akhir dari pembangunankekuatan dan jati diri
bangsa, karena entisitasdan karakter dari suatu bangsa dipengaruhioleh budaya, baik lokal
maupun nasional.
Unsur Pembentuk Identitas Nasional sebagai Karakter Bangsa :
1. Suku Bangsa : Suku bangsa adalah golongan sosial yang khususbersifat askriptif ( ada
sejak lahir), yang samacoraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin
2. Agama : Istilah resmi agama dihapuskan (pemerintahanAbdurrahman Wahid)
3. Bahasa : Sistem perlambangan yang secara arbitrer dibentukatas unsur-unsur bunyi
ucapan manusia, dan yangdigunakan sebagai sarana berinteraksi antarmanusia. Bahasa nasional
merupakan salah satuwujud rill persatuan dari berbagai suku yang ada disuatu negara.
4. Kebudayaan : Kebudayaan..adalah kompleks keseluruhandari pengetahuan, keyakinan,
kesenian, moral,hukum, adat istiadat dan semua kemampuandan kebiasaan yang lain yang
diperoleh olehseseorang sebagai anggota masyarakt (SirEdward Taylor, Sosiologi, Jilid 1, hal
58).

Identitas Nasional merupakan sesuatu yang terbuka untuk diberi makna baru agar tetap
relevan dan fungsional dalam kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat.Diletakkan
dalam konteks Indonesia, maka Identitas Nasional itu merupakan manifestasi nilai-nilai budaya
yang sudah tumbuh dan berkembang sebelum masuknya agama-agama besar di bumi nusantara
ini dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang kemudian dihimpun dalam satu
kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan Nasional dengan acuan Pancasila dan roh Bhinneka
Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.

IV. IDENTITAS NASIONAL BANGSA INDONESIA


Identitas nasional Indonesia merupakan ciri-ciri yang dapat membedakan negara Indonesia
dengan negara lain. Identitas nasional Indonesia dibuat dan disepakati oleh para pendiri negara
Indonesia. Identitas nasional Indonesia tercantum dalam konstitusi Indonesia yaitu Undang-
Undang Dasar 1945 dalam pasal 35-36C. Identitas nasional yang menunjukkan jati diri Indonesia
diantaranya adalah sebagai berikut:
Identitas Nasional Bangsa Indonesia :

1. Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia

2. Bendera negara yaitu Sang Merah Putih

3. Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya

4. Lambang Negara yaitu Pancasila

5. Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika

6. Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila

7. Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945

8. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat

9. Konsepsi Wawasan Nusantara

10. Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional

1) Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia


Bahasa merupakan unsur pendukung Identitas Nasonal yang lain. Bahasa dipahami sebagai
system perlambang yang secara arbiter dibentuk atas unsur-unsur ucapan manusia dan yang
digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia. Dan di Indonesia menggunakan Bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional.
2) Bendera negara yaitu Sang Merah Putih
Bendera adalah sebagai salah satu identitas nasional, karena bendera merupakan simbol
suatu negara agar berbeda dengan negara lain. Seperti yang sudah tertera dalam UUD 1945 pasal
35 yang menyebutkan bahwa Bendera Negara Indonesia adalah Sang Merah Putih.
3) Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya
Lagu Indonesia Raya (diciptakan tahun 1924) pertama kali dimainkan pada kongres
pemuda (Sumpah pemuda) tanggal 28 Oktober 1928. Setelah proklamasi Kemerdekaan
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, lagu yang dikarang oleh Wage Rudolf Soepratman ini
dijadikan lagu kebangsaan. Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, wage Rudolf
Soepratman dengan jelas menuliskan lagu kebangsaan di bawah judul Indonesia Raya. Teks
lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh surat kabar Sin Po. Setelah
dikumandangkan tahun 1928, pemerintah colonial Hindia Belanda segera melarang penyebutkan
lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya.
Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka ganti lagu itu dengan mengucapkan
Mulai, Mulai !, bukan Merdeka, Merdeka! pada refrain. Akan tetapi, tetap saja mereka
menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan. Sekanjutnya lagu Indonesia Raya selalu
dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah indeonesia merdeka, lagu itu
ditetapkan sebagai lagu kebangsaan perlambang persatuan bangsa.
4) Lambang Negara yaitu Pancasila
Seperti yang dijelaskan pada Undang-Undang Dasar 1945 dalam pasal 36A bahwa lambang
negara Indonesia adalah Garuda Pancasila. garuda Pancasila disini yang dimaksud adalah burung
garuda yang melambangkan kekuatan bangsa Indonesia. Burung garuda sebagai lambang negara
Indonesia memiliki warna emas yang melambangkan kejayaan Indonesia. sedangkan perisai di
tengah melambangkan pertahanan bangsa Indonesia. Simbol di dalam perisai masing-masing
melambangkan sila-sila dalam pancasila,yaitu:

1. Bintang melambangkan sila ketuhanan Yang Maha Esa (sila ke-1)

2. Rantai melmbangkan sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (sila ke-2)

3. Pohon Beringin melambangkan Sila Persatuan Indonesia (Sila ke-3)

4. Kepala Banteng melambangkan Sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat


Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan (Sila ke-4)

5. Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (sila
ke-5).

Warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia. Merah berarti berani
dan Putih berarti suci. Garis hitam tebal yang melintang di dalam perisai melambangkan wilayah
Indonesia yang dilintasi Garis Khatulistiwa. Jumlah bulu melambangkan hari proklamasi
kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), antara lain:

1. Jumlah Bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17

2. Jumlah Bulu pada ekor berjumlah 8

3. Jumlah Bulu pada di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19

4. Jumlah bulu di leher berjumlah 45

Pita yang dicengkeram oleh burung garuda bertuliskan semboyan Negara Indonesia, yaitu
Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.
5) Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika
Bhineka Tnggal Ika berisi konsep pluralistik dan multikulturalistik dalam kehidupan yang
terikat dalam suatu kesatuan. Pluralistik bukan pluralisme, suatu paham yang membiarkan
keanekaragaman seperti apa adanya. Dengan paham pluralisme tidak perlu adanya konsep yang
mensubtitusi keanekaragaman demikian pula halnya dengan faham multikulturalisme.
6) Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila
Pancasila adalah kumpulan nilai atau norma yang meliputi sila-sila Pancasila sebagaimana
yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, alenia IV yang telah ditetapkan pada tanggal 18
Agustus 1945. Pada hakikatnya pengertian Pancasila dapat dikembalikan kepada dua pengertian,
yakni Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dan Pancasila sebagai dasar Negara
Republik Indonesia.
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia Dalam hal ini Pancasila digunakan
sebagai pancaran dari sila Pancasila karena Pancasila sebagai weltanschauung merupakan
kesatuan, tidak bisa dipisah-pisahkan, keseluruhan sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan
organis. Pancasila sebagai norma fundamental sehingga berfungsi sebagai cita-cita atau ide. Oleh
karena itu, dapat dikemukakan bahwa Pancasila sebagai pegangan hidup bangsa.
Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, dalam hal ini Pancasila mempunyai
kedudukan istimewa dalam hidup kenegaraan dan hukum bangsa Indonesia. fungsi pokok
Pancasila adalah sebagai dasar negara, sesuai dengan pembukaan UUD 1945,, sebagai sumber
dari segala sumber hukum atau sumber dari tertib hukum, sebagaimana tertuang dalam
Ketetapan MPRS No.XX/-MPRS/1966 (Darji, 1991:16).
7) Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945
Undang-Undang Dasar adalah peraturan perundang-undangan yang tetinggi dalam negara
dan merupakan hukum dasar tertulis yang mengikat berisi aturan yang harus ditaati. Undang-
Undang Dasar merupakan suatu hal yang sangat penting dan vital dalam suatu pemerintahan.
Dengan adanya konstitusi dalam suatu negara yang merdeka menandakan bahwa negara ini
sebagai negara konstitusional yang menjamin kebebasan rakyat Indonesia untuk memerintah diri
sendiri.
8) Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
9) Konsepsi Wawasan Nusantara
Wawasan nusantara dapat diartikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan
lingkungannya berdasarkan ide nasionalnya yang dilandasi Pancasila dan UUD 1945, yang
merupakan aspirasi bangsa yang merdeka, berdaulat, berrmartabat, serta menjiwai tata hidup
dan tindak kebijaksanaannya dalam mencapai tujuan nasional. Wawasan nusantara adalah cara
pandang, cara memahami, cara menghayati, cara bersikap, cara berpikir, cara bertingkah laku
bangsa Indonesia sebagai interaksi proses psikologis, sosiokultural, dengan aspek astagatra
(kondisi geografis, kekayaan alam, dan kemampuan alam serta ipoleksosbud hankam)
10) Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional
Kebudayaan dapat pula berbentuk kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional.
Kebudayaan daerah yaitu suatu budaya asli setiap suku atau daerah yang diwarisi dari nenek
moyang secara turun-temurun. Kebudayaan daerah kita pelihara dan kita kembangkan menjadi
kebudayaan nasional yang dinikmati oleh seluruh bangsa. Jadi, kebudayaan nasional yaitu suatu
perpaduan dan pengembangan berbagai macam kebudayaan daerah yang terus menerus dibina
dan dilestarikan keberadaannya, sehingga menjadi milik bersama.

2.2 Strategi Mempertahankan Identitas Nasional


Dalam arus globalisasi ada begitu banyak tantangan yang di hadapi oleh berbagai negara, maka
ada begitu banyak pula tuntutan untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi tersebut. Termasuk
juga tantangan dalam mempertahankan jati diri bangsa. Untuk menghadapi hal ini perlu adanya
strategi untuk mempertahankan identitas nasional yang merupakan jati diri bangsa, diantaranya
dengan mengembangkan nasionalisme, pendidikan, budaya dan Bela Negara.
a. Mengembangkan Nasionalisme
Nasionalisme telah menjadi pemicu kebangkitan kembali dari budaya yang telah memberi
identitas sebagai anggota dari suatu masyarakat bangsa-bangsa . Secara umum, nasionalisme
dipahami sebagai kecintaan terhadap tanah air, termasuk segala aspek yang terdapat didalamnya.
Dari pengertian tersebut ada beberapa sikap yang bisa mencerminkan sikap nasionalisme, yaitu :
1. Menggunakan barang-barang hasil bangsa sendiri, karena bisa menambah rasa cinta dan
bangga akan hal yang di buat oleh tangan-tangan kreatif penduduknya.
2. Menghargai perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan bangsa ini, bisa dilakukan
dengan beberapa perbuatan misalkan membaca, menonton, mengunjungi hal-hal yang berkaitan
tentang sejarah bangsa ini lahir. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme yang
sudah ada dari masing-masing individu.
3. Berprestasi dalam semua bidang misalkan dari bidang olah raga, akademik, teknologi dan lain-
lain. Hal ini bertujuan untuk menambahkan rasa bangga dan sikap rela berkorban demi bangsa.
Ada tiga aspek penting yang tidak dapat dilepaskan dalam konteks nasionalisme yaitu :
1. Politik. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghilangkan dominasi politik bangsa asing dan
menggantikannya dengan sistem pemerintahan yang berkedaulatan rakyat.
2. Sosial ekonomi. Nasionalisme Indonesia muncul untuk menghentyikan eksploitasi ekonomi
asing dan membangun masyarakat baru yang bebas dari kemeralatan dan kesengsaraan.
3. Budaya. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghidupkan kembali kepribadian bangsa yang
harus diselaraskan dengan perubahan zaman.
Dengan demikian, mengembangkan sikap nasionalisme (cinta tanah air), akan dengan sendirinya
telah mempertahankan dan melestarikan keaslian dari bangsanya, termasuk budaya atau
kebiasaan, karakter, sifat-sifat, produk dalam negeri dan adat istiadat masing-masing suku.
Dengan demikian, hal ini merupakan sikap yang menjadi salah satu faktor penentu dalam
mempertahankan identitas nasional.
b. Pendidikan
Pembinaan jati diri bangsa indonesia dapat dilaksanakan melalui jalur formal maupun informal .
Melalui jalur formal jati diri bangsa Indonesia dapat dikembangkan melalui pendidikan.
Pendidikan nasional mempunyai peran yang sangat besar didalam pembentukan jati diri bangsa
Indonesia. Salah satu kenyataan bangsa Indonesia ialah memiliki kekayaan budaya yang
beraneka ragam dengan jumlah suku bangsa yang ratusan dengan budayanya masing-masing
merupakan kekayaan yang sangat berharga didalam pembentukan bangsa Indonesia yang
multikultural. Didalam upaya pembentukan dan mempertahankan jati diri bangsa, peran
pendidikan sangat efektif untuk menimbulkan rasa memiliki dan keinginan untuk
mengembangkan kekayaan nasional dari masing-masing budaya lokal .
Hal ini sejalan dengan penuturan Syamhalim dalam tulisannya yang ditampilkan di blog-nya
bahwa salah satu upaya untuk mengembalikan dan mengembangkan identitas nasional adalah
melalui bidang pendidikan. Socrates menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses
pengembangan manusia kearah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge), dan etika
(conduct), (Zaim. 2007). Ada dua fenomena mengapa pendidikan adalah yang pertama dan
utama .
Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yang pertama Sputnic pada 4
Oktober 1957, Amerika Serikat meradang. Amerika adalah negara besar dengan kemampuan
teknologi yang paling maju merasa didahului oleh Uni Sovyet. Presiden AS ketika itu
memerintahkan untuk membentuk special unit. Tim ini tidak berkeinginan untuk menandingi Uni
Sovyet, tetapi tugasnya adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang
Pendidikan Dasar sampai tingkat Perguruan Tinggi. Dengan bekerja keras dalam waktu yang
singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum
pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi.
Amerika pun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya.
Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai pada sistem
evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar
biasa. Pada tanggal 14 Juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan
bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet.
Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai
jenjang perguruan tinggi. (C. Winfield dan Scoot dalam Zaim. 2007).
Kedua, kejadian yang hampir serupa ketika Jepang telah kalah dalam perang dunia II dengan
dijatuhi bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Jepang
praktis lumpuh dalam segala sendi kehidupan. Bahkan Kaisar Jepang waktu itu menyatakan
bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Namun sang Kaisar
langsung memanggil pucuk pimpinan dan bertanya: berapa orang guru yang masih hidup?.
Sebuah pertanyaan sederhana tapi mengandung makna bahwa pendidikan adalah awal segalanya.
Dua fenomena diatas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami
dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah
membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan
bangsa manapun di dunia ini yang mengabaikan pendidikan maka akan mengalami kehancuran
dari bangsanya.
Di Indonesia, jauh sebelum Bung Karno menggagas konsep kemerdekaan Indonesia, elemen
bangsa yang berbasis pendidikan seperti R.A. Kartini, HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo, Cipto
Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara, sudah memikirkan bangsa ini lewat pendidikan. Tidak
lama berselang giliran KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi sosial dan kependidikan
dengan nama Muhammadiyah. Lewat satu Dekade berikutnya KH. Hasyim Asyari ikut
mencerdaskan bangsa dengan NUnya. Semua bermuara pada pendidikan. Hasilnya, semua orang
terdidik mulai memikirkan bangsa dan berusaha lepas dari penjajahan .
Dari uraian di atas nampak adanya keterkaitan antara pendidikan dengan kemajuan suatu bangsa.
Warna pendidikan adalah warna suatu bangsa. Identitas nasional yang dikembangkan melalui
pendidikan diharapkan akan memberi harapan positif bagi kemajuan bangsa ini untuk
mempertahankan karakteristiknya sebagai sebuah bangsa yang beradab, bangsa yang santun,
bangsa yang toleran, bangsa yang menghargai perbedaan dan bangsa yang menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan.
Pemantapan identitas nasional melalui dunia pendidikan hendaknya tidak dilakukan setengah
hati dan parsial. Transformasi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang memacu tumbuhnya
identitas dan jatiri bangsa perlu sinergi dari pihak-pihak yang berkompeten di dunia pendidikan
terutama guru yang bersentuhan langsung dengan siswa, dan yang perlu diperhatikan adalah
bahwa tugas ini tidak hanya menjadi tugas guru mata pelajaran tertentu saja misalnya Pendidikan
Kewarganegaraan, tetapi juga semua guru mata pelajaran dengan pendekatan sesuai karakteristik
mata pelajaran yang diampuh. Melalui dunia pendidikan dapat ditanamkan identitas nasional
kepada generasi muda yang merupakan miniatur masyarakat masa depan.
c. Pelestarian Budaya
Seseorang yang di sebut berbudaya adalah seorang yang menguasai dan berperilaku sesuai
dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etis dan moral yang hidup di dalam kebudayaan
tersebut . Budaya merupakan salah faktor penentu jati diri bangsa. Pada pengertiannya, budaya
adalah hasil karya cipta manusia yang dihasilkan dan telah dipakai sebagai bagian dari tata
kehidupan sehari-hari . Suatu budaya yang dipakai dan diterapkan dalam kehidupan dalam waktu
yang lama, akan mempengaruhi pembentukan pola kehidupan masyarakat, seperti kebiasaan
rajin bekerja. Kebiasaan ini berpengaruh secara jangka panjang, sehingga sudah melekat dan
terpatri dalam diri masyarakat. Namun pada kenyataannya budaya indonesia sekarang ini mulai
menghilang karena pengaruh budaya asing yang masuk ke indonesia, untuk itulah perlu adanya
pembangunan kembali jati diri dan budaya bangsa dan Negara, ada dua hal utama yang harus
dilakukan :
1. Merevitalisasi kedaulatan politik, ekonomi dan budaya agar berada pada jalur yang benar
sesuai dengan hakikat bangsa yang merdeka sehingga bangsa kita mampu mandiri dan
bermartabat.
2. Mendorong political will penyelenggaraan Negara, baik eksekutif maupun legislatif untuk
membangun dan menjabarkan kembali nilai-nilai dan semangat kebangsaan di setiap hati nurani
rakyat.

Selain pembangunan diatas, pembangunan dalam bangunan-bangunan budaya seperti rumah


adat, dan lain sebagainya juga perlu diperhatikan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang
ada di Indonesia. Dengan demikian, jelaslah bahwa dengan melestarikan budaya bangsa, dapat
memperkokoh identitas nasional itu sendiri karena dalam setiap pelaksanaan nilai-nilai budaya,
masyarakat akan lebih cenderung melekat dan menyatu dengan budaya yang dianutnya, selain itu
juga dengan adanya keeratan dari buday ayang ada dapat membawa nama bangsa indonesia
menjadi harum, dalam arti membawa budaya indonesia ke mancanegara atau memperkenalkan
budaya yang ada ke negara luar.

d. Bela Negara
Pasal 27 ayat 3 UUD 1945 berbunyi : setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
upaya pembelaan negara. Dari bunyi pasal tersebut menunjukkan bahwa bela negara merupakan
hak dan sekaligus kewajiban bagi setiap warga negara, ini membuktikan bahwa bela negara juga
menjadi suatu aturan agar setiap warga negara harus melakukan tindakan bela negara demi
ketahanan dan eksistensi sebuah negara. Pada zaman penjajahan bela negara diartikan dengan
cara mengikuti wajib milter agar dapat membertahankan negara indonesia. Namun, seiring
berjalannya waktu ketika bangsa indonesia berhasil mengalahkan para penjajah dan merdeka,
konsep bela negara berbuah dalam arti tidak tertapaku lagi harus mengikuti wajib iliter. Zaman
sekarang ini, setiap orang dapat melakukan bela negara dengan caranya masing-masing, menurut
profesinya atau pekerjaannya. Dalam konsep bela negara diinterpretasikan secara labih luas lagi
sehingga meliputi segala bidang dalam kehidupan bernegara. Dalam upaya pembelaan negara
ini, dilakukan secara terpadu dan disadasarkan atas kecintaan terhadap tanah air dan bangsa.
Misalnya, dalam bidang kesehatan seorang dokter menekuni preofesinya dengan sungguh
sehingga dapat membuat ia menjadi dokter yang handal bukkan hanya di Indonesia namun juga
di luar negeri. Adapun contoh yang lain dala dunia pendidikan siswa belajar dengan rajin dan
kemudian mengikuti lomba di tingkat internasional dan dapat meraih juara. Dari berbagai sikap
yang dilakukan oleh warga negara sebagai rasa cinta terhadap negara dan pembelaan negara ini
dapat mengharumkan nama bangsa indonesia. Dengan sendirinya juga setiap warga negara sudah
memberikan sumbangsi terhadap ketahanan nasional dan eksistensi dari pada identitas nasional.
2.3. Pentingnya Mempertahankan Identitas Nasional
Identitas Nasional Indonesia meliputi apa yang dimiliki bangsa Indonesia yang membedakannya
dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber kekayaan alam Indonesia, kependudukan
Indonesia, ideologi, agama, politik negara, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Menghadapi
identitas nasional, bangsa Indonesia sendiri masih kesulitan dalam menghadapi masalah
bagaimana untuk menyatukan negara yang mempunyai banyak sekali kelompok etnis, yang
memiliki pengalaman yang berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Namun saat ini
masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Karena kebiasaan atau pun
budaya masyarakat kita telah bercampur dengan kebiasaan dan kebudayaan negara-negara lain.
Indikator identitas nasional itu antara lain pola perilaku yang nampak dalam kegiatan masyarakat
seperti adat-istiadat, tata kelakuan, kebiasaan. Lambang-lambang yang menjadi ciri bangsa dan
negara seperti bendera, bahasa, dan lagu kebangsaan. .
Arus globalisasi yang demikian pesatnya, ternyata telah mampu mempengaruhi identitas
nasional dan berpotensi merosotnya nilai-nilai budaya bangsa. Masyarakat budaya tidak lagi
memperhatikan budayanya sendiri apalagi punya keinginan dan dorongan untuk melestarikan.
Mereka cenderung mengadopsi dan menerapkan budaya asing dan mengabaikan budaya sendiri.
Budaya yang asli dianggap kuno dibandingkan dengan budaya asing yang dianggap lebih
modern.
Pemikiran dan pemahaman seperti inilah yang membuat menurunnya nilai-nilai kebudayaan asli
bangsa dan berpotensi hilangnya identitas bangsa yang sebenarnya. Menyikapi hal ini maka
dianggap penting untuk mempertahankan identitas nasional demi eksistensi bangsa. Salah satu
alasan pentingnya mepertahankan nilai-nilai budaya sendiri adalah karena nilai-nilai budaya
suatu negara adalah identitas negara tersebut didepan dunia internasional . Jika kita sebagai
masyarakat Indonesia tidak mengahargai dan mempertahankan budaya kita sendiri, siapa yang
akan mempertahankannya? Jika kita tidak mempertahankan budaya kita sendiri sama saja
dengan kita membuang identitas negeri kita didepan dunia internasional yang akan membuat
negara kita tidak terpandang didepan negara-negara lain. Dengan kita lebih menghargai dan
mempertahankan budaya kita, akan lebih banyak lagi negara-negara yang akan tahu tentang
bangsa kita dan dapat mendatangkan berbagai keuntungan dalam hal moneter ataupun hal non-
moneter seperti nama Indonesia yang terpandang sebagai negara dengan berbagai keunikan dan
keindahan alam.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka kami kelompok 2 menyimpulkan :
1. Identitas nasional dalam era globalisasi sekarang ini sudah mengalami kemerosotan dari nilai-
nilainya yang merupakan akibat dari lajunya arus globalisasi sehingga proses masuknya budaya
asing kedalam budaya asli bangsa sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Akibatnya budaya asiang
dan buday asli bangsa bercampur baur.
2. Untuk menyikapi hal diatas perlu adanya strategi untuk mempertahankan identitas nasional.
Strategi untuk mempertahankan identitas nasional dapat dilakukan dengan mengembangkan
nasionalisme, melestarikan budaya, pendidikan, dan bela negara.
3. Identitas nasioanal dianggap penting untuk dipertahankan karena alasan berikut:
a. Identitas nasional merupakan jati diri bangsa.
b. Identitas nasional menjadi faktor yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain.