Anda di halaman 1dari 3

KASUS KEMATIAN IBU

1. PROBLEM

Seorang pasien perempuan G1POA0 Ny. MM, usia 35 tahun, alamat Semail RT 03
Bangunharjo Sewon, pekerjaan ibu rumah tangga, datang ke posyandu untuk kontrol
kehamilan, lalu bidan yang ada diposyandu menyarankan pasien untuk melahirkan di RS
Panembahan Senopati Bantul.
Satu minggu sebelum melahirkan pasien mengeluh batuk, pilek dan demam. Tekanan
darah pasien 140/105 mmHg dan mengeluarkan cairan ketuban. Satu minggu kemudian
pasien pergi ke RSGM pada pemeriksaan fisik di temukan TD 170/100 mmHg, dan pada
pemeriksaan USG ditemukan air ketuban sudah habis, sehingga pasien dilakukan operasi SC
dan pengambilan kista. Pasien tidak merasakan mulas-mulas setelah ari-ari dilahirkan, pasien
mengeluh adanya nyeri kepala, pandangan mata kabur. Pasien sempat drop dan kejang
dengan Hb 6,2 gr%. 6 jam setelah operasi pasien mengeluh badannya tidak enak, perut
membesar, kembung dan gelisah. 10 jam setelah SC pasien dilakukan histerectomi dan
kemudian pasien di rawat intens di ICU karena kondisi pasien tidak sadarkan diri. Pada saat
di rawat intens di ICU kondisi pasien semakin memburuk dan kemudian pasien meninggal.
Pada riwayat penyakit dahulu, pasien sering mengeluh mimisan, sering batuk & pilek,
sering sesak dan demam ketika saat hamil. Pada saat mengeluh keluhan tersebut pasien beli
obat sendiri, yaitu asam mefenamat dan paramex.
Pada riwayat penyakit keluarga, tidak ditemukan preeklamsi, atonia uteri.
Pada riwayat personal sosial, pasien terlambat mencari bantuan dimana 1 minggu
sebelumnya sudah keluar air ketuban namun ibu tidak tahu kalau air ketuban sudah pecah.
Status sosial ekonomi pasien rendah, hubungan pasien dengan masyarakat dan petugas
kesehatan baik.

2. HIPOTESIS : kematian ibu dengan perdarahan karena atonia uteri.

3. MEKANISME :
Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam uterus masih
terbuka. Pelepasan plasenta memutuskan pembuluh darah dalam stratum spongiosum
sehingga sinus-sinus maternalis ditempat insersinya plasenta terbuka. Pada waktu uterus
berkontraksi, pembuluh darah yang terbuka tersebut akan menutup, kemudian pembuluh
darah tersumbat oleh bekuan darah sehingga perdarahan akan terhenti. Adanya gangguan
retraksi dan kontraksi otot uterus, akan menghambat penutupan pembuluh darah dan

1
menyebabkan perdarahan yang banyak. Keadaan demikian menjadi faktor utama penyebab
perdarahan pasca persalinan.
Perlukaan yang luas akan menambah perdarahan seperti robekan servix, vagina dan
perineum. Diagnosis yang dapat ditegakkan terhadap perdarahan pasca persalinan ditandai
dengan :
a. Perdarahan banyak yang terus-menerus setelah bayi lahir.
b. Pada perdarahan melebihi 20% volume total, timbul gejala penurunan tekanan darah, nadi,
dan napas cepat, pucat, ekstremitas dingin sampai terjadi syok.
c. Perdarahan sebelum plasenta lahir biasanya disebabkan retensio plasenta atau laserasi jalan
lahir.
d. Perdarahan setelah plasenta lahir. Perlu dibedakan sebabnya antara atonia uteri, sisa
plasenta, atau trauma jalan lahir.
e. Riwayat partus lama, partus presipitatus, perdarahan antepartum atau penyebab lain.
Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana myometrium tidak dapat berkontraksi dan
bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak
terkendali. Pada kehamilan cukup bulan aliran darah ke uterus sebanyak 500-800 cc/menit.
Jika uterus tidak berkontraksi dengan segera setelah kelahiran plasenta, maka ibu dapat
mengalami perdarahan sekitar 350-500 cc/menit dari bekas tempat melekatnya plasenta. Bila
uterus berkontraksi maka miometrium akan menjepit anyaman pembuluh darah yang
berjalan diantara serabut otot tadi.
Seorang ibu dapat meninggal karena perdarahan pasca persalinan dalam waktu kurang
dari 1 jam. Atonia uteri menjadi penyebab lebih dari 90% perdarahan pasca persalinan yang
terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi. Perdarahan yang terjadi lebih dari 500 cc maka
akan menyebabkan berkurangnya eritrosit yang akan menyebabkan syok hipovolemik. Jika
syok hipovolemik tidak teratasi maka akan terjadi kerusakan seluruh organ vital karena tidak
mendapatkan suplai darah, sehingga organ vital tidak dapat berfungsi normal. Ketika organ
vital organ-organ vital tidak dapat berfungsi maka tanda-tanda vital akan mengalami
penurunan yang signifikan yang dapat menyebabkan kematian pada ibu.

4. MORE INFO
Beberapa faktor predisposisi yang terkait dengan perdarahan pasca persalinan yang
disebabkan oleh atonia uteri adalah :
a) uterus membesar lebih dari normal selama kehamilan.
b) Kala I atau II yang memanjang.

2
c) Persalinan cepat (partus presipitatus).
d) Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan oksitosin (augmentasi).
e) Infeksi intrapartum.
f) Multiparitas tinggi.
g) Magnesium sulfat digunakan untuk mengendalikan kejang pada preeklampsia /
eklampsia.

5. DONT KNOW
Program penanggulangan kematian pada ibu hamil di puskesmas Sewon II.
Prevalensi terjadi angkan kematian ibu di puskesmas Sewon II tahun 2017.
Prevalensi ibu hamil yang kontrol rutin dan tidak rutin di puskesmas Sewon II.
Faktor penyebab pasien ibu hamil tidak kontrol rutin di Puskesmas Sewon II.
Komplikasi ibu hamil apa saja yang pernah ditemukan di puskesmas Sewon II.

6. LEARNING ISSUES
Semua ibu hamil dilingkungan sekitar puskesmas Sewon II kontrol rutin minimal 4
kali skrining, pemberian obat-obatan, imunisasai tetanus Toxoid (TT), pemberian tablet
besi (Fe) monitoring dan evaluasi.

7. PROBLEM SOLVING
Sering melaksanakan penyuluhan terkait Resiko-resiko pada ibu hamil.
Edukasi pada ibu hamil yang beresiko yang datang pada puskesmas Sewon II.
Pengobatan : pemberian obat-obatan, imunisasai tetanus Toxoid (TT), pemberian
tablet besi (Fe).